cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Avatara
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
E-Journal AVATARA terbit sebanyak tiga kali dalam satu tahun, dengan menyesuaikan jadwal Yudisium Universitas Negeri Surabaya. E-Jounal AVATARA diprioritaskan untuk mengunggah karya ilmiah Mahasiswa sebagai syarat mengikuti Yudisium. Jurnal Online Program Studi S-1 Pendidikan Sejarah - Fakultas Ilmu Sosial UNESA
Arjuna Subject : -
Articles 456 Documents
PERAN K.H. MOH. SHOLIH MUSTHOFA DALAM MENGEMBANGKAN PONDOK PESANTREN QOMARUDDIN SAMPURNAN BUNGAH-GRESIK TAHUN 1948-1982 IZZUL IDLOFY, MUHAMMAD
Avatara Vol 4, No 3 (2016): Vol 4 Nomer 3 (Oktober 2016)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

K.H. Moh. Sholih Musthofa adalah pengasuh dan pemimpin keenam dari Pondok Pesantren Qomaruddin yang terletak di Dusun Sampurnan Kecamatan Bungah Kabupaten Gresik. K.H. Moh. Sholih Musthofa merupakan sosok yang sangat penting bagi kemajuan Pondok Pesantren Qomaruddin. Pada awalnya, Pondok Pesantren Qomaruddin dalam sistem pembelajarannya menggunakan sistem tradisional yakni mengkaji kitab-kitab kuning karangan para ulama’, kemudian atas inisiatif K.H. Moh. Sholih Musthofa akhirnya dibuka beberapa pendidikan klasikal/formal mulai dari tingkat dasar hingga menengah atas yang sudah barang tentu secara bertahap. Selain itu K.H. Moh. Sholih Musthofa juga berndil besar dalam perkembangan sarana prasarana di Pondok Pesantren Qomaruddin.Rumusan masalah dalam penelitian ini sebagai berikut: 1) Bagaimana kondisi pondok Pesantren Qomaruddin sebelum K.H. Moh. Sholih Musthofa memimpin 2) Perubahan-perubahan apa saja yang dilakukan oleh K.H. Moh. Sholih Musthofa 3) Bagaimana dampak kepemimpinan K.H. Moh. Sholih Musthofa terhadap pendidikan pesantren. Penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah yang meliputi heuristik, kritik, interpretasi dan historiografi.Hasil penelitian ini dapat diperoleh kesimpulan sebagai berikut, K.H. Moh. Sholih Musthofa adalah pengasuh dan pemimpin keenam Pondok Pesantren Qomaruddin. Pondok Pesantren Qomaruddin didirikan oleh Kiai Qomaruddin pada tahun 1775 M. Pada awalnya nama pesantren ini adalah Pondok Pesantren Sampurnan, kemudian pada tahun 1967 atas inisiatif Kiai Hamim Sholih diberi nama Pondok Pesantren Darul Fiqih, akan tetapi pada pertengahan tahun 70-an berganti nama lagi menjadi Pondok Pesantren Qomaruddin dengan berbagai alasan, salah satunya adalah ingin mendapat berkah dari pendirinya yakni Kiai Qomaruddin. Sosok K.H. Moh. Sholih Musthofa adalah pengasuh yang berandil besar bagi perkembangan Pondok Pesantren Qomaruddin. Pada awalnya Pondok Pesantren Qomaruddin menggunakan model pembelajaran tradisional kemudian seiring berjalannya waktu atas inisiatif K.H. Moh. Sholih Musthofa mulai dibuka pendidikan formal dari tingkat dasar sampai menengah atas, baik yang berafiliasi dengan Departemen Agama maupun Departemen Pendidikan. Perkembangan sarana prasarana pun mengalami perkembangan yang sangat signifikan. Selain itu K.H. Moh. Sholih Musthofa juga berperan besar bagi keberhasilan santri yang telah lulus dari Pondok Pesantren Qomaruddin. Banyak santri alumni yang menjadi tokoh masyarakat. Disisi lain K.H. Moh. Sholih Musthofa juga berperan besar bagi masyarakat sekitar, khususnya dalam bidang agama. Warga masyarakat merasa dididik oleh K.H. Moh. Sholih Musthofa. Kata kunci: Pondok Pesantren Qomaruddin, Peran K.H. Moh. Sholih Musthofa, Perkembangan Pondok Pesantren Qomaruddin
KONFLIK IDEOLOGI BURUH KERETA API TAHUN 1949-1965 SASTRA ASMARA, NOVIARY
Avatara Vol 4, No 3 (2016): Vol 4 Nomer 3 (Oktober 2016)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Buruh kereta api merupakan indikator penting dalam kelancaran aktivitas perkeretaapian. Untuk itu, diperlukan organisasi sebagai penyalur aspirasi buruh. Organisasi buruh kereta api yang terbentuk setelah masa kemerdekaan adalah Persatuan Buruh Kereta Api (PBKA) dan Serikat Buruh Kereta Api (SBKA). SBKA berafiliasi dengan Sentra Organisasi Buruh Seluruh Indonesia (SOBSI) yang berada di bawah pengaruh Partai Komunis Indonesia (PKI). Sedangkan, PBKA berafiliasi dengan Kongres Buruh Seluruh Indonesia (KBSI) yang berada di bawah pengaruh Partai Sosialis Indonesia (PSI). Dua organisasi buruh tersebut memiliki rasa permusuhan sejak 1949, sehingga terjadi konflik antara PBKA dan SBKA tahun 1949-1965.Rumusan masalah yang akan dibahas adalah 1) bagaimana latar belakang konflik ideologi buruh kereta api tahun 1949-1965, 2) apa dampak konflik ideologi buruh kereta api tahun 1949-1965, 3) bagaimana upaya penyelesaian konflik ideologi buruh kereta api tahun 1949-1965. Dalam penelitian ini digunakan metode sejarah. Tahap pertama adalah heuristik, untuk mengumpulkan sumber-sumber. Tahap kedua adalah kritik, untuk menyeleksi sumber yang valid. Tahap ketiga adalah interpretasi yang dilakukan dengan mengaitkan dan menganalisis sumber. Tahap terakhir adalah historiografi, untuk melakukan penulisan kembali hasil interpretasi dalam bentuk skripsi ini.Berdasarkan hasil analisis sumber menunjukkan bahwa latar belakang konflik ideologi buruh kereta api adalah kondisi politik ekonomi Indonesia yang tidak stabil, berdampak pada perkembangan kondisi perusahaan kereta api, sehingga perusahaan kereta api kurang membangun hubungan baik dengan organisasi buruh kereta api. Selain itu, konflik ideologi juga dilatar belakangi oleh keadaan buruh setelah kemerdekaan dimana buruh dipengaruhi oleh ideologi dan partai politik. Kondisi tersebut juga terjadi pada buruh kereta api. Terdapat pengaruh ideologi sosialisme dan komunisme serta partai politik PKI dan PSI.Dampak konflik ideologi adalah hubungan sekunder antara PBKA dan SBKA, rasa permusuhan yang diungkapkan dengan sikap menyalahkan kelompok lain, dan pengembangan media majalah dan surat organisasi sebagai alternatif ungkapan permusuhan yang terlihat pada konflik gagalnya fusi PBKA dan SBKA, isu pemogokan buruh kereta api, dan tuntutan pembubaran PBKA dan pembubaran SBKA. Dampak-dampak tersebut adalah dampak positif karena ketegangan konflik bersifat rendah dan diungkapkan dengan cara yang tidak mengancam dan tidak merusak. Upaya penyelesaian konflik ideologi buruh kereta api dilakukan dengan keputusan sepihak oleh pemerintah dan perusahaan kereta api, sehingga tidak ada perundingan konflik dari PBKA dan SBKA. Konflik ideologi buruh kereta api tidak menimbulkan dampak negative bagi perusahaan kereta api, hal tersebut dapat dilihat bahwa perusahaan kereta api tetap mempertahankan eksistensinya hingga sekarang. Kata Kunci : Konflik Ideologi, Buruh Kereta Api, SBKA, PBKA
KEBIJAKAN EKONOMI BENTENG DAN DAMPAKNYA DI SURABAYA TAHUN 1950-1955 SUKAINAH,
Avatara Vol 4, No 3 (2016): Vol 4 Nomer 3 (Oktober 2016)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perekonomian Indonesia pada awal kemerdekaan sedikit banyak masih dibawah kendali asing. Untuk itu pemerintah ingin mewujudkan perekonomian dengan meningkatkan peran serta rakyat Indonesia atau disebut ekonomi nasional. Untuk mewujudkan ekonomi nasional tersebut, salah satu upaya pemerintah dengan menerapkan kebijakan ekonomi Benteng di seluruh Indonesia, salah satunya di kota Surabaya. Surabaya sebagai kota dagang dan pelabuhan serta kota terbesar kedua Indonesia dengan adanya kebijakan tersebut tentunya akan mempengaruhi kehidupan ekonomi di Surabaya. Adapun rumusan masalah yang diambil dalam penelitian ini adalah (1) Apa yang melatar belakangi dikeluarkannya kebijakan ekonomi Benteng (2) Bagaimana proses pelaksanaan dari kebijakan ekonomi Benteng di Surabaya (3) Bagaimana dampak dari kebijakan ekonomi Benteng terhadap pengusaha pribumi dan non-pribumi di Surabaya. Tujuan dari penelitian ini untuk mengembangkan wawasan keilmuan mengenai pengaruh kebijakan ekonomi Benteng terhadap ekonomi dan perkembangan para pengusaha di Surabaya. Metode yang digunakan oleh penulis dalam penelitian ini adalah metode sejarah, yang terdiri dari heuristik, kritik, interpretasi dan historiografi.Setelah pengakuan kedaulatan, pemerintah menerapkan suatu kebijakan yang disebut dengan kebijakan ekonomi Benteng. Tujuan kebijakan ini adalah dalam rangka menciptakan pengusaha pribumi Indonesia dengan pemberian lisensi impor dan kredit. Para pengusaha di Indonesia tidak berkembang, kedudukannya kurang mampu dalam menyusun kekuatan untuk mempengaruhi jalannya perekonomian. Pengusaha Indonesia umumya berpendidikan rendah sehingga kemajuan dalam mengembangkan usahanya kurang maksimal. Mereka tidak mampu menghadapi kekuatan pengusaha-pengusaha Barat yang modalnya besar dan modern. Karena hal itu pengusaha di Indonesia sangat bergantung pada pemerintah. Kebijakan ekonomi Benteng difokuskan pada sektor perdagangan impor karena lebih mudah dikendalikan oleh pemerintah dan paling cocok untuk memajukan pengusaha pribumi karena membutuhkan modal yang sedikit. Pelaksanaan ekonomi Benteng di Surabaya tidak jauh berbeda dengan nasional. Kebutuhan untuk impor Benteng di Surabaya hanya bisa dilayani di KPUI Jakarta karena pada awal penerapannya jumlah importir Benteng masih sedikit dan agar para importir Benteng bisa lebih mandiri.Pelaksanaan kebijakan ekonomi Benteng di Surabaya tidak sesuai dengan yang diharapkan oleh pemerintah. Para pengusaha pribumi tidak mempunyai banyak pengalaman dan skill serta tidak mampu memanfaatkan dengan baik fasilitas yang diberikan oleh pemerintah akibatnya banyak bermunculan pengusaha aktentas dan muncul sistem Ali-Baba. Kebijakan ini juga menimbulkan diskriminasi terhadap para pengusaha non-pribumi khususnya Tionghoa, mereka kesulitan mengimpor barang karena lisensi impor hanya diberikan kepada pengusaha pribumi. Meski dalam pelaksanaannya terjadi banyak penyimpangan, namun berhasil membentuk pengusaha pribumi yang kuat walupun jumlahnya sedikit Kata kunci: kebijakan ekonomi Benteng, Surabaya, ekonomi
KESENIAN REYOG SEBAGAI ALAT PROPAGANDA DAN MOBILISASI MASSA PARTAI POLITIK DI PONOROGO TAHUN 1955-1965 ARIS STIAWAN, FERNANDI
Avatara Vol 4, No 3 (2016): Vol 4 Nomer 3 (Oktober 2016)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kesenian Reyog merupakan kesenian yang sudah dikenal oleh nasional maupun intenasional, kesenian yang berasal dari Ponorogo ini mampu dalam mengumpulkan jumlah massa atau penonton yang sangat besar.Digunakannya kesenian Reyog, partai politik dapat dengan mudah mengambil hati masyarakat Ponorogo karena kecintaannya terhadap kesenian ini. Peran Reyog untuk memobilisasi massa semakin besar. Hal ini terbukti dengan banyaknya dukungan, serta perolehan suara terbanyak bagi partai yang mempunyai organisasi kesenian Reyog di Ponorogo. Aktivitas-aktivitas yang ditujukan kepada seni, telah mencapai satu intensitas yang mentakjubkan pada tahun 1955. Kata Kunci : Reyog, Propaganda, Pemilu
PENGARUH PENDEKATAN SAINTIFIK TERHADAP PRESTASI BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN IPS KELAS VIII E DI SMP NEGERI 24 SURABAYA RUSIYANTI, ENI
Avatara Vol 4, No 3 (2016): Vol 4 Nomer 3 (Oktober 2016)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendekatan saintifik adalah model pembelajaran yang dilandasi pendekatan ilmiah yang mengedepankan proses ilmiah pada pembelajaran yang diorientasikan guna membina kemampuan siswa memecahkan masalah melalui serangkaian aktivitas dan fenomena yang terjadi di kehidupan sehari-hari. Pembelajaran ini mendorong siswa agar lebih mampu dalam mengamati, menanya, mencoba atau mengumpulkan data, mengasosiasi dan mengomunikasikan suatu informasi. Perkembangan kurikulum 2013 terjadi sesuai pada perkembangan Kurikulum yang disosialisasikan pada saat ini adalah kurikulum 2013, dengan upaya untuk peningkatan mutu pendidikan yang menghasilkan lulusan yang kreatif dan mampu menghadapi kehidupan di masa yang akan datang. Penggunaan penerapan pendekatan saintifik pada kurikulum 2013 dalam pembelajaran sangat diperlukan dan baik untuk meningkatkan pembelajaran agar peserta didik tetap aktif dan menumbuhkan sikap, pengetahuan, dan keterampilan siswa dalam memecahkan masalah sesuai dengan tujuan pendidikan dalam meningkatkan prestasi belajar siswa.Dalam penelitian ini bertujuan untuk menganalisis berapa besar pengaruh pendekatan saintifik terhadap prestasi belajar siswa dan adakah perbedaan rata-rata prestasi belajar siswa pada kelas eksperimen dengan kelas kontrol pada mata pelajaran IPS di SMP Negeri 24 Surabaya. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen True-ekperimental design atau eksperimen sebenarnya dengan tujuan mencari perbandingan rata-rata prestasi belajar dari kedua kelas yang diberikan perlakuan berbeda yaitu menggunakan kelas eksperimen dengan metode pendekatan saintifik dan kelas kontrol sebagai pembanding dengan metode ceramah. Dengan metode penelitian tersebut sampel diambil secara acak atau dikenal dengan teknik random sampling.Hasil penelitian ini menunjukkan pemakaian pendekatan saintifik pada kelompok kelas eksperimen dan memberikan pengaruh terhadap prestasi belajar siswa sebesar 94,1% sedangkan pemakaian metode ceramah (diskusi ) pada kelompok kelas kontrol dan memberikan terhadap prestasi belajar sebesar 90,5 %. Selain itu, terdapat perbedaan rata-rata prestasi belajar siswa antara kelompok kelas eksperimen dan kelompok kelas kontrol. Hal ini ditunjukkan oleh hasil uji t –test dengan ( Independent Sample t-test ) yakni 0,000 yang nilainya lebih kecil dari taraf signifikan 0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara pengaruh pendekatan saintifik dengan prestasi belajar siswa dan terdapat perbedaan rata-rata prestasi belajar siswa antara kelompok kelas eksperimen dan kelompok kelas kontrol. Sedangkan pada perbedaan tersebut dapat terjadi sebab penggunaan pendekatan saintifik dapat mempengaruhi prestasi belajar siswa. Dengan penggunaan pendekatan saintifik ini dapat mengarahkan siswa untuk lebih aktif dalam mengikuti proses pembelajaran dan dapat berinteraksi serta berkomunikasi secara langsung dengan lingkungannya, sehingga memudahkan siswa untuk dapat mengkaji terhadap apa yang sudah dipelajari. Kata Kunci: Pendekatan Saintifik dan Prestasi Belajar Siswa
VORSTENLANDSCHE VOETBAL BOND TAHUN 1923-1942 WIDYATAMA, FERY
Avatara Vol 4, No 3 (2016): Vol 4 Nomer 3 (Oktober 2016)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Permainan sepak bola di Hindia Belanda (Indonesia) diawali dengan kedatangan orang-orang Eropa khususnya Belanda yang awalnya datang untuk bekerja di instansi-instansi pemerintah Hindia Belanda sebagai pegawai dalam perkebunan-perkebunan, kantor-kantor perdagangan, perkapalan dan pertambangan sebagai karyawan. Sepak bola dipilih sebagai sarana untuk menjaga kebugaran dan juga untuk sarana rekreasi. Salah satu klub atau perkumpulan (bond) bentukan orang bumiputera adalah Vorstenlandsche Voetbal Bond (VVB).Penelitian tentang VVB belum ada yang meneliti secara menyeluruh. Oleh karena itu, penelitian tentang Vorstenlandsche Voetbal Bond (VVB) ini merupakan suatu kajian yang sangat menarik. Berdasarkan latar belakang tersebut maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: Bagaimana perkembangan Vorstenlandsche Voetbal Bond (VVB) Solo dalam dunia sepak bola Hindia Belanda tahun 1923-1942 dan Bagaimana nasionalisme yang ditunjukkan oleh sepak bola Vorstenlandsche Voetbal Bond (VVB) Solo tahun 1923-1942.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisa bagaimana perkembangan dan nasionalisme Vorstenlandsche Voetbal Bond (VVB) Solo dalam dunia sepak bola di Hindia Belanda tahun 1923-1942. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode sejarah, yang terdiri dari heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi.Hasil penelitian yang diperoleh adalah pembentukan klub atau bond, Vorstenlandsche Voetbal Bond VVB Solo merupakan suatu perlawanan dari masyarakat bumiputera terhadap orang-orang Belanda, dimana hanya dari sepak bola lah masyarakat bumiputera dapat melawan orang Belanda melalui pertandingan sepak bola. Dalam perkembangannya VVB Solo menunjukkan eksistensi mereka dalam perkembangan sepak bola di Hindia Belanda tahun 1923-1942. Selain itu, VVB Solo turut mendirikan organisasi sepak bola nasional, yaitu PSSI bersama 6 bond lainnya tahun 1930 dan juga menunjukkan rasa nasionalisme sepak bola dalam klub VVB Solo tersebut dengan melakukan perlawanan dan juga pertandingan melawan klub orang-orang Belanda maupun Tionghoa. Kata Kunci : Sepak Bola, Vorstenlandsche Voetbal Bond (VVB) Solo, Nasionalisme.
PEMBANGUNAN BIDANG PNDIDIKAN DI SURABAYA PADA MASA REPELITA IV TAHUN 1984-1989 KHOIRUN NISAK, ANA
Avatara Vol 4, No 3 (2016): Vol 4 Nomer 3 (Oktober 2016)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sejak masa Orde baru, Pemerintah telah meletakkan pendidikan sebagai salah satu program pembangunan di Indonesia. Upaya Pemerintah untuk menampung semua anak usia sekolah ke bangku sekolah diwujudkan dengan program Wajib Belajar 6 tahun pada awal dimulainya Repelita IV tahun 1984. Surabaya merupakan kota metropolitan dengan jumlah penduduk yang padat. Kepadatan penduduk ini disebabkan oleh tingginya arus urbanisasi penduduk di kota Surabaya. Kepadatan penduduk yang terus meningkat setiap tahun, menyebabkan beberapa permasalahan seperti pembangunan pendidikan yang belum merata dan belum menjangkau semua lapisan masyarakat, tingginya angka anak putus Sekolah, lokasi sekolah Dasar, SMTP, SLTA belum tersebar merata di seluruh Kecamatan, serta banyak mengelompok di daerah perkotaan.Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini sebagai berikut (1) Bagaimana kebijakan Pemerintah Kota Surabaya dalam bidang pendidikan pada masa Repelita IV tahun 1984-1989 ?, (2) Bagaimana implementasi kebijakan Pemerintah Kota Surabaya dalam bidang pendidikan pada masa Repelita IV tahun 1984-1989 ?, (3) Bagaimana dampak kebijakan tersebut terhadap perkembangan pendidikan di Surabaya pada masa Repelita IV tahun 1984-1989 ?. Permasalahan-permasalahan tersebut diberikan penjelasan dengan melakukan analisis terhadap data-data dan sumber-sumber yang didapatkan melalui tahapan metode penelitian Sejarah. Tahapan metode penelitian Sejarah yang dilakukan meliputi heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Pada tahap heuristik sumber primer diperoleh dari Arsip dan koran sezaman. SK Walikotamadya Surabaya dan Repelita IV di Surabaya diperoleh dari Badan Perpustakaan dan Arsip Kota Surabaya, sedangkan berita sezaman diperoleh dari, Surabaya Post dan Pelita tahun 1984-1989. Adapun sumber sekunder, yaitu buku tentang Repelita dan sejarah pendidikan di Indonesia diperoleh dari perpustakaan. Tahap kedua adalah melakukan kritik terhadap sumber yang diperoleh untuk dilihat kebenarannya. Selanjutnya dilakukan interpretasi fakta-fakta yang diperoleh dari sumber, dan yang terakhir dilakukan historiografi. Fakta-fakta yang telah ditafsirkan kemudian dirangkai dan disajikan dalam tulisan yang kronologis.Kebijakan Pemerintah Kotamadya Surabaya dalam membangun pendidikan di Surabaya bertumpu pada Intruksi Presiden 1 Maret 1983, TAP MPR Nomor II/MPR/1983, serta keputusan Gubernur Kepala Daerah tanggal 4 Desember 1985 Nomor: 421.0/643/210/1985, bahwa daerah Tingkat II pada akhir Pelita IV benar-benar bebas dari Tributa. Sasaran program pembangunan pendidikan di Surabaya meliputi: 1) Usaha pemerataan dan perluasan kesempatan memperoleh Pendidikan, 2) Peningkatan mutu dan relevansi Pendidikan, 3) Efisiensi dan efektivitas pengelolaan pendidikan. Program pembangunan Pendidikan di Surabaya dilaksanakan melalui peningkatan daya tampung Siswa SD, SMTP, dan SLTA dengan cara penambahan/rehabilitasi gedung-gedung sekolah, pemberantasan buta huruf, dan pengadaan sarana dan prasarana penunjang pendidikan seperti buku perpustakaan, serta meningkatkan jumlah dan kualitas tenaga pendidik melalui pengangkatan guru Pegawai Negeri dan penataran-penataran. Kebijakan dan pelaksanaan pembangunan pendidikan memberikan dampak yang positif bagi kondisi pendidikan di Surabaya. Pelaksanaan Wajib Belajar 6 tahun berdampak pada bertambahnya jumlah anak usia sekolah khususnya usia 7-12 tahun dan lokasi Sekolah Dasar Negeri merata pada setiap Kecamatan. Sampai pada tahun terakhir Pelita IV tahun 1988/1989, pembangunan Sekolah Dasar berjumlah 309 sekolah Negeri dan 206 sekolah Swasta. Peningkatan mutu pendidikan berdampak terhadap meningkatnya jumlah guru dan lulusan sekolah. Jumlah guru SD seluruhnya adalah 9.952, dan jumlah guru SMTP seluruhnya 9.651, sedangkan untuk SMTA jumlah guru seluruhnya 9.396. Jumlah siswa lulus EBTA sampai akhir Pelita IV adalah 14.089 untuk SD, 34.638 siswa SMTP, dan 25.612 siswa SMTA. Keberhasilan program Wajib Belajar 6 tahun berdampak pada dicanangkannya program Wajib Belajar 9 tahun bagi anak usia 7-15 tahun oleh Pemerintah. Kata Kunci : Pembangunan Pendidikan, Surabaya, Wajib Belajar
MAJALAH PENJEBAR SEMANGAT SEBAGAI MEDIA UNTUK MENYAMPAIKAN PESAN-PESAN PEMBANGUNAN DAN PEMBARUAN DI DESA PURI MOJOKERTO TAHUN 1979-1983 DELLY CORNELIS, TYGOR
Avatara Vol 4, No 3 (2016): Vol 4 Nomer 3 (Oktober 2016)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam upaya mensukseskan program pembangunan nasional pemerintah Orde baru berusaha untuk menghimbau seluruh lapisan masyarakat agar berperan aktif dalam kegiatan pembangunan. Pemerintah sangat menyadari jikas sebagian besar masyarakat Indonesia masih banyak menetap di wilayah pedesaan yang masih buta akan informasi, Oleh karena itu pada tahun 1980 pemerintah orde baru mulai menerapkan program Koran masuk desa (KMD) dari sini berbagai surat kabar termasuk majalah Penjebar Semangat biasa diakses oleh masyarakat desa Puri. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui Bagaimana majalah Penjebar Semangat bias berfungsi sebagai media untuk menyampaikan pesan-pesan pembangunan dan pembaruan.Hasil dari penelitian ini adalah bisa diketahui bahwa majalah Penjebar Semangat merupakan majalah yang paling digemari dan memiliki manfaat dalam menu pemberitaannya bagi masyarakat Puri. Kata Kunci: Majalah Penjebar Semangat, Pembangunan Dan Pembaruan
KEBIJAKAN PEMERINTAH DALAM SOROTAN PERS INDONESIA 1967-1974 ATIKA SHULCHI, LI
Avatara Vol 4, No 3 (2016): Vol 4 Nomer 3 (Oktober 2016)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pers merupakan salah satu permasalahan penting yang harus diperhatikan oleh semua Negara di dunia, khususnya Indonesia. Institusi pers tidak terlepas dari institusi social yang dapat memberikan tempat dan menjamin hak masyarakat untuk mendapatkan informasi, memperoleh berbagai pikiran dan pendapat dari berbagai pihak. Pada era Orde Baru, kehidupan pers ternyata tidak mengalami kebebasan sesuai dengan tuntutan dan aspirasi masyarakat. Hal ini disebabkan adanya pembreidelan pers, dan pers mulai menjadi penghalang bagi rakyat untuk menyampaikan aspirasinya. Awal pemerintahan Orde Baru, program pemerintah hanya diarahkan pada usaha penyelamatan ekonomi nasional terutama usaha untuk memberantas inflasi, penyelamatan keuangan Negara, dan pengamanan kebutuhan pokok rakyat. Untuk itu pemerintah Orde Baru melakukan suatu pembaharuan terhadap kebijakan ekonomi, keuangan, dan pembangunan yang didasari oleh Ketetapan MPRS No.XXIII/MPRS/1966 tentang Pembaharuan Kebijaksanaan Landasan Ekonomi Keuangan dan Pembangunan serta dikeluarkanlah UU No. 1 tahun 1967 tentang Penanaman Modal Asing. Apabila mencermati masalah kebijakan pemerintah dalam sorotan pers Indonesia 1967-1974, maka rumusan masalah pada penelitian ini adalah bagaimana pers menyoroti kebijakan pemerintah dan tanggapan pemerintah tentang sikap pers. Penulisan ini bertujuan untuk menganalisis pers dalam menyoroti kebijakan pemerintah dan tanggapan pemerintah tentang sikap pers. Penulisan ini menggunakan metode penelitian sejarah, yakni heuristic, kritik, interpretasi dan historiografi.Penelitian ini difokuskan pada pemberitaan yang dilakukan oleh media antara lain Indonesia raya, Tempo, Kompas, Sinar Harapan, dan Utusan Indonesia. Kehidupan pers pada masa Orde Baru ini juga sangat mendapat tekanan dan banyak sekali peraturan yang dibuat hanya untuk membungkam pers. Kebijakan pemerintah tentang Penanaman Modal Asing ini juga mulai diragukan manfaatnya oleh banyak kalangan khususnya para mahasiswa pada awal 1970-an. Puncaknya terjadi pada Lima belas Januari 1974 dimana terjadi aksi mahasiswa besar-besaran menentang modal asing. Imbasnya sebanyak 12 penerbitan suratkabar dibredel melalui SIT. Kata Kunci: Kebijakan Ekonomi Orde Baru, Pers Orde Baru, Pembreidelan.
HUBUNGAN PENDIDIKAN PRAMUKA DENGAN PENDIDIKAN SEJARAH KELAS X SMA NEGERI 1 CERME ZULIATI, MEGA
Avatara Vol 4, No 3 (2016): Vol 4 Nomer 3 (Oktober 2016)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dunia pendidikan hingga kini masih dipercaya sebagai media yang sangat ampuh dalam membangun kecerdasan sekaligus kepribadian anak manusia menjadi lebih baik. Oleh karena itu dunia pendidikan secara terus menerus dibangun dan dikembangkan agar dari proses pelaksanannya menghasilkan generasi yang diharapkan. Salah satu tujuan Pendidikan Nasional adalah untuk membentuk watak serta peradaban bangsa. Pada kurikulum 2013, pramuka merupakan kegiatan ekstrakurikuler wajib yang harus diikuti oleh seluruh peserta didik. Karena nilai-nilai dalam kepramukaan tersirat tujuan untuk membentuk karakter bagi anggotanya. Jika, dihubungkan dengan salah satu mata pelajaran di SMA, pendidikan pramuka memiliki tujuan yang sama dengan mata pelajaran sejarah, karena dalam pembelajaran sejarah peserta didik diharapkan memiliki sikap nasionalisme yang tinggi serta memiliki watak dan peradaban bangasa yang baik sesuai dengan moral pancasila.Tujuan penelitian untuk mengetahui adakah hubungan yang positif dan signifikan antara kegiatan pramuka dengan pendidikan sejarah kelas x SMA Negeri 1 Cerme. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif. Lokasi penelitian di SMS Negeri 1 Cerme. Populasi dan sampel dalam penelitian ini adalah siswa-siswi kelas X SMA Negeri 1 Cerme yang mengikuti kegiatan pramuka. Data dikumpulkan dengan menggunakan metode dokumentasi dan observasi.Hasil dari penelitian kuantitatif dengan menggunakan rumus korelasi product moment dengan menggunakan SPSS 16.0 diperoleh koefisien korelasi sebesar 0,865 dengan signifikasi 0,000. Karena signifikasi lebih kecil dari 0,05, maka Ha diterima. Artinya terdapat hubungan antara pendidikan pramuka dengan pendidikan sejarah. Hubungan antara pendidikan pramuka dengan pendidikan sejarah dapat diketahui dari kesamaan konsep keduanya, yaitu sama-sama memiliki konsep nilai. Nilai yang dimaksudkan dalam hal ini adalah nilai dalam bentuk afektif dan keterampilan. Karena hubungannya terletak pada sama-sama mempunyai tujuan untuk membentuk karakter peserta didik. Nilai dalam pendidikan sejarah diketahui dari penialaian afektif dan keterampilan yang dapat diketahui oleh guru dari lembar penilaian afektif dan psikomotorik. Sedangkan penilaian pramuka dapat diketahui dari pengamatan dan penilaian yang dilakukan oleh Pembina pramuka selama melakukan kegiatan pramuka. Kata Kunci: Pramuka, pendidikan sejarah