cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Avatara
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
E-Journal AVATARA terbit sebanyak tiga kali dalam satu tahun, dengan menyesuaikan jadwal Yudisium Universitas Negeri Surabaya. E-Jounal AVATARA diprioritaskan untuk mengunggah karya ilmiah Mahasiswa sebagai syarat mengikuti Yudisium. Jurnal Online Program Studi S-1 Pendidikan Sejarah - Fakultas Ilmu Sosial UNESA
Arjuna Subject : -
Articles 456 Documents
USAHA-USAHA PENGGAGALAN PEMILIHAN UMUM PERTAMA TAHUN 1955 RIZKY NUR LUTFIANA, WINDA
Avatara Vol 5, No 1 (2017): Vol 5 Nomer 1 (Maret 2017)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pemilihan umum 1955 merupakan pemilihan umum pertama kali Indonesia sebagai bentuk cerminan Negara  Demokrasi. Keinginan atau rencana untuk menyelenggarakan pemilihan umum sebenarnya sudah lama, hampir bersamaan dengan kemerdekaan Indonesia agar terciptanya Negara demokratis. Pada perkembangannya situasi politik Indonesia mengalami berbagai kendala dalam menyelenggarakan pemilihan umum sehingga dalam rencana penyelenggaraannya sampai berganti sebanyak tiga kabinet. Pergantian kabinet menimbulkan muncul beberapa oknum atau gerombolan yang berniat untuk menggagalkan pemilihan umum yang tidak sepakat dengan jalan pelaksanaan pemilihan umum. Permasalahan ini dipicu dari segi perangkat UU yang belum siap, dan segi keamanan yang belum stabil. Permasalahan dalam penelitian ini adalah (1) Bagaimana motif usaha-usaha menggagalkan pemilihan umum pertama tahun 1955? (2) Bagaimana jalannya upaya penggagalan pemilihan umum pertama tahun 1955? (3) Bagaimana reaksi pemerintah dan masyarakat dalam menghadapi adanya usaha-usaha penggagalan pemilihan umum pertama tahun 1955?. Metode yang digunakan oleh penulis adalah metode penelitian sejarah untuk mengungkap permasalahan yang diteliti yang meliputi metode heuristik, kritik, interpretasi dan historiografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, pemilihan umum 1955 merupakan pemilihan umum yang diselenggarakan pemerintah guna kepentingan bersama. Pada pemilihan umum 1955 diikuti oleh partai-partai politik yang membuat  semakin panasnya pertikaian yang terjadi diantara partai-partai politik yang berpengaruh di kalangan masyarakat. Situasi keamanan yang tidak stabil pada saat menjelang pemilihan umum disebabkan oleh pergolakan yang dilakukan oleh oknum-oknum gerombolan di beberapa daerah. Pergolakan tersebut dilakukan untuk menggagalkan jalannya pemilihan umum 1955 yang dilakukan dengan segala cara. Bentuk-bentuk usaha menggagalan pemilihan umum 1955 yang dilakukan dengan bentuk kecurangan seperti melakukan aksi anarkis membakar TPS, melakukan pembunuhan kepada anggota panitia menjelang pemilihan umum. Kecurangan tersebut dilakukan saat kampanye maupun pada saat hari pemungutan suara oleh orang-orang yang berkepentingan. Adanya upaya penggagalan pemilihan umum menyebabkan munculnya reaksi dari pemerintah dan masyarakat yang mana perlu dilakukan pemberantasan bagi oknum yang ingin menggagalkan pemilihan umum. Dapat disimpulkan bahwa pemilihan umum 1955 mampu terselenggara namun dalam penyelenggaraannya masih banyak catatan merah akibat dari adanya intimidasi dan meracuni otak calon pemilih agar tidak datang ke tempat lokasi pemungutan suara dan menggagalkan pemilihan umum 1955. Kata Kunci : Usaha, Penggagalan, Pemilihan Umum 1955.
PERKEMBANGAN PASAR WONOKROMO TAHUN1955-2002 LEONARDO MAIT, YONGKI
Avatara Vol 5, No 1 (2017): Vol 5 Nomer 1 (Maret 2017)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pasar Wonokromo merupakan pasar yang muncul pada tahun 1920 dan disebut pasar krempyeng tepatnya pada masa kolonialisme Belanda dan berkembang sampai saat ini. Dalam perkembangannya pasar Wonokromo mengalami pembangunan pertama kali pada tahun 1955 dan pada tahun 2002 pasar Wonokromo mengalami pembangunan dan perubahan besar sehingga menjadi Darmo Trade Center Kata Kunci : pasar, wonokromo, Perkembangan.  
PERKEMBANGAN POLITIK ETIS SEKTOR PENDIDIKAN DI SURABAYA PADA MASA PEMERINTAHAN ALEXANDER WILLEM FREDERIK IDENBERG TAHUN 1909-1916 HERI K., NURHAJI
Avatara Vol 5, No 1 (2017): Vol 5 Nomer 1 (Maret 2017)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Politik etis sektor pendidikan mulai diterapkan dengan sungguh-sungguh dan terstruktur pada zaman AWF Idenberg, Surabaya sebagai salah satu kota Hinterland yang mempunyai pelabuhan maju juga industri yang berkembang mulai menjadi jujukan migrasi orang-orang Hindia Belanda terutama kaum Eropa, dengan banyaknya kaum Eropa memaksa secara tidak langsung pemerintah Kolonial Hindia Belanda memperhatikan dengan baik sektor pendidikan di Surabaya pada masa politik etis ini, selain untuk anak-anak orang Eropa, juga salah satu faktornya ialah memenuhi kebutuhan tenaga kerja murah untuk sektor indstri yang maju begitu pesat. Hal ini membuat pendidikan di Surabaya pada masa politik etis ini berkembang dengan baik bahkan bila di bandingkan dengan kota-kota lain yang juga besar waktu itu semisal Batavia dan Semarang. Disini sangat menarik untuk melihat perkembangan politik etis sektor pendidikan di Surabaya ini di masa pemerintahan AWF Idenberg ini. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian sejarah sejarah yang dipakai untuk menyusun fakta, mendeskripsikan, dan menarik kesimpulan tentang masa lampau. Adapun kegiatan yang dilakukan dalam metode sejarah yaitu pemilihan topik, heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi Untuk memperoleh hasil maksimal dalam penelitian ini maka peneliti melakukan penelusuran sumber berupa staatsblad, serta kolonial Verslag tentang politik etis dan pendidikan di Surabaya. Selain itu juga dibantu dengan buku-buku yang berkaitan dengan politik etis dan pendidikan Hasil penelitian menunjukan bahwa yang melatarbelakangi pesat dan berkembangya sektor pendidikan di Surabaya adalah karena adanya aturan bahwa harus didirikannya sekolah-sekolah yang lokasinya terdapat orang-orang Belanda. dan orang-orang Belanda ini pada umumnya banyak tinggal di kota-kota yang terdapat pelabuhan dan kota-kota yang terdapat perkebunan-perkebunan. Dalam bidang pendidikan secara khusus sendiri terdapat perkembangan seperti ELS yang mengalami peningkatan masa studi yang awalnya hanya 3 tahun menjadi 7 tahun. Selain itu dalam kurikulum ELS juga ditambah dan menekankan Bahasa Belanda,Dan juga selain itu terdapat sekolah bersubsidi yang didirikan oleh perkumpulan missionaris gereja yaitu Broederschool Santo Yosef dan ELS Broederschool Santo Yosef. Pendidikan untuk etnis Cina pertama kali didirikan oleh perkumpulan Hok Tjiong Hak Kwan yang mendirikan sekolah bernama THHK (Tiong Hwa Hwee Kwan). Pada tahun 1909 pihak Kolonial mendirikan sekolah HCS untuk anak-anak Cina,   Kata Kunci: Pendidikan , AWF Idenberg, Surabaya
KESENIAN OJHUNG DALAM TRADISI SEDEKAH BUMI DI DESA BUNBARAT KECAMATAN RUBARU KABUPATEN SUMENEP TAHUN 1960-2005 ABBAS, ABDULLAH
Avatara Vol 5, No 1 (2017): Vol 5 Nomer 1 (Maret 2017)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kesenian Ojhung merupakan Kesenian tradisional masyarkat Desa Bunbarat Kecamatan Rubaru Kabupaten Sumenep yang dilaksanakan dalam rangkaian tradisi sedekah Bumi.Kesenian Ojhung di Desa ini bukanlah kesenian ritul memnggil hujan melainkan kesenian trdisional yang diyakini masyarakat dapat menolak segala musibah yang mendekati Desa Bunbarat khususnya musibah Carok.Dalam perkembangannya Kesenian Ojhung tidak mengalami banyak perubahan. Penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang Kesenian Ojhung di Desa Bunbarat disebaban keunikan dari kesenian ini dan juga perbedaan fungsi dari kesenian Ojhung pada umumnya Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah (1) Bagaimana Perkembangan Kesenian Ojhung Di Desa Bunbarat Tahun 1960-2005; (2) Bagaimana hubungan kesenian Ojhung dengan Tradisi Sedekah Bumi di Desa Bunbarat Kecamatan Rubaru Kabupaten Sumenep.Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian sejarah meliputi Heuristik, Kritik, Interpretsi, dan Historiografi. Hasil penelitian ini adalah menjelaskan sejarah lahirnya Kesenian Ojhung yang dilatar belakangi oleh berbagai permasalahan dan maraknya carok.Kesenian ini diciptakan oleh kiai M. Syaqim. Perkembangan Kesenian Ojhung dibagi menjadi empat yaitu sebelum tahun 1960, periode tahun 1960-1969, periode 1969-1998, dan 1998-2005. Sebelum tahun 1960 kesenian Ojhung hanya boleh dipentaskan oleh para jawara-jawara desa.Tahun 1960-1969 Kesenaian Ojhung diperbolehkan dimainkan oleh seluaruh elemen masyarakat.Dan pada tahun ini masyarakat desa Bunbarat menjadikan Kesenian Ojhung sebagai kesenian tradisional masyarakat Bunbarat dan memperbolehkan pemain dari luar Desa Bunbarat Tahun 1969-1998 pada akhir periode kesenian Ojhung dilaksanakan dengan sangat sederhana.Pada periode tidak ada perubahan apapun dalam pementasan Kesenian Ojhung.Tahun 1998-2005 pada periode ini Kesenian Ojhung sempat absen dalam kegiatan sedekah bumi yang disebabkan karena maraknya kampanye dalam pementasannya.pada periode pementasan kesenian Ojhung menggunakan pengeras suara dan iringan musik. Kesenian Ojhung merupakan sebuah ritual yang sangat penting dalam tradisi sedekah Bumi di Desa Bunbarat.kesenian ini dianggap sebagai penolak musibah khususnya carok. Kata kunci : Kesenian Ojhung, Tradisi Sedekah Bumi    
KEMBANG JEPUN (HANDELSTRAAT) SEBAGAI PUSAT EKONOMI ETNIS CHINA DI SURABAYA TAHUN 1906-1930 NIDZAM FAHMI, MIQDAD
Avatara Vol 5, No 1 (2017): Vol 5 Nomer 1 (Maret 2017)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kembang Jepun mulai berkembang pesat sebagai pusat ekonomi dan perdagangan di Surabaya pada saat pemerintahan Belanda di Surabaya, di mana pada tahun 1870 terjadi pergantian sistem tanam paksa dengan ekonomi liberal, hal tersebut membuka era baru bagi perekonomian serta perdagangan di Surabaya, dimana banyak investor di undang untuk menanamkan modalnya di Surabaya,dari dampak semakin ramainya ekspor-import yang terajdi di Surabaya memaksa pemerintah Belanda membangun pelabuhan yang lebih baik di daerah Surabaya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian sejarah yang dipakai untuk menyusun fakta, mendeskripsikan, dan menarik kesimpulan tentang masa lampau. Adapun kegiatan yang dilakukan dalam metode sejarah yaitu pemilihan topik, heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi Untuk memperoleh hasil yang maksimal dalam penelitian ini maka peneliti melakukan penelusuran sumber berupa staatsblad, serta kolonial Verslag tentang ekonomi serta perdagangan di Surabaya. Selain itu juga dibantu dengan buku-buku yang berkaitan dengan ekonomi serta perdagangan Dari hasil penelitn ini menunjukkan bahwa yang melatar belakangi munculnya Kembang Jepun sebagai pusat ekonomi dan perdagangan yang besar di Surabaya adalah kebijakan pemerintah Belanda yang tercantum dalam Regerinas Reglement 1854, yang menjadikan Kembang Jepun sebagi komplek pecinan, dimana hal tersebut memberikan efek yang sangat besar terhadap berkembangnya Kembang Jepun selain Kembang Jepun terletak di tempat yang strategis untuk ekonoi dan perdagangan yaitu di samping sungai Kalimas yang merupakan jalur perdagangan yang ramai pada waktu itu, di dukung dengan pelabuhan yanga sangat maju serta etnis China yang berada di kawasan Kembang Jepun, hal ini tidak dapat di pungkiri bahwa etnis China mempunyai sifat yang ulet dalam berdagang hal tersebut juga berpengaruh terhadap terbentuknya daerah Kembang Jepun menjadi sebuah daerah yang menjadi pusat ekonomi dan perdagangan yang penting di Surabaya,   Kata Kunci: Kembang Jepun , Ekonomi, China
PANDANGAN PRAMOEDYA ANANTA TOER TERHADAP PEREMPUAN JAWA ABAD 19: ANALISIS NOVEL GADIS PANTAI INTAN NUR KHALIFAH, DUFI
Avatara Vol 5, No 1 (2017): Vol 5 Nomer 1 (Maret 2017)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kondisi kaum perempuan pribumi Jawa pada abad 19 sangat termarginalisasikan dalam masyarakat akibat polabudaya patriaki, perempuan dijadikan sebagai manusia kelas dua setelah laki-laki. Posisi tersebut tidak hanya dalamlingkup keluarga, namun juga pada relasi pernikahan. Pada penelitian ini dibahas karya sastra Indonesia yang memuatkehidupan perempuan Jawa pada abad sembilan belas hingga awal abad dua puluh. Perempuan yang dimaksud adalahkondisi perempuan sehingga menempati posisinya sebagai makhluk individu dan sosial yang hidup dalam lingkupkeluarga dan masyarakat. Pedoman utama untuk penyusunan penulisan sejarah ialah mengacu pada metodologiheuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi.Penelitian ini menggunakan kritik intern terhadap sumber yang diperoleh.Penelitian ini menggunakan pendekatan wacana Van Dick serta teori Interseksionalitas dari Collins. Adapun tujuanyang akan dibahas dalam penelitian ini menganalisis pandangan Pramoedya Ananta Toer terhadap kedudukanPerempuan Jawa yang digambarkan dalam novel Gadis Pantai, Menganalisis pandangan Pramoedya Ananta Toerterhadap relasi perkawinan Priyayi Jawa pada novel Gadis Pantai. Historiografi atau penulisan sejarah secara sistematissesuai dengan tema. Hasil penelitian secara ideologi kultural yang diinginkan Pram adalah keadilan bagi kaumperempuan untuk memperoleh hak yang sama dengan laki-laki. Kesetaraan golongan sosial diinginkan Pram dalambudaya Jawa. Masyarakat golongan bawah tidak tertindas. Budaya Patriarki memposisikan seorang perempuanterbelenggu ruang geraknya dan harus patuh terhadap suaminya. Relasi laki-laki dan perempuan pada perkawinanPriyayi Jawa menurut Pramoedya Ananta Toer sangat merugikan perempuan. Kata Kunci : Kedudukan, Perempuan Jawa, Relasi Perkawinan
POLEMIK PELAKSANAAN SISTEM PENDIDIKAN PANTJAWARDHANA TAHUN 1959 - 1965 KURNIAWAN, AANG
Avatara Vol 5, No 1 (2017): Vol 5 Nomer 1 (Maret 2017)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tahun 1959 pendidikan Indonesia sangat dipengaruhi oleh politik. Tekanan politik didapatkan karena keadaan negara berubah dari demokrasi liberal menuju demokrasi terpimpin. Hal tersebut membuat segala sektor harus berlandaskan Manipol termasuk dalam bidang pendidikan. Sistem pendidikan Pantjawardhana adalah implementasi Manipol dan USDEK dalam bidang pendidikan. Gerakan ideologis terjadi diluar pelaksanaan kurikulum. Gerakan ideologis muncul karena disebabkan permasalahan. Silang pendapat penafsiran sistem pendidikan pantjawardhana menjadi penyebab utama gerakan ideologis muncul. Permasalahan yang dijadikan masalah terdapat pada nilai dan asas yang dianggap kurang. Selama pelaksanaan Pantjawardhana, nilai moral Pantjatjinta muncul dan dipaksakan sejalan dengan Pantjawardhana. Alhasil, polemik membuat pendidikan “terpecah” , seperti terjadi di lembaga fital bidang pendidikan PGRI dan rusuh di Dept. P.D & K. Bipolarisasi terjadi di bidang pendidikan. Muncul dua golongan besar pendukung dan penolak Pantjawardhana dan Pantjatjinta. Kata Kunci : sistem pendidikan, pantjawardhana, kekuasaan struktural, polemik
PENANGANAN PEMERINTAH KOTA SURABAYA TERHADAP KEBERADAAN TUNA WISMA DI SURABAYA MASA WALIKOTA MOEHADJI WIDJAJA (1980-1984) ADITYA, AAN
Avatara Vol 5, No 1 (2017): Vol 5 Nomer 1 (Maret 2017)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kota Surabaya sebagai salah satu kota dengan berbagai kemajuan menjadi daya tarik para migran dari berbagai daerah akibat dari kesenjangan pembangunan mengakibatkan peningkatan jumlah penduduk kota Surabaya pada masa Orde Baru. Kepadatan  penduduk di Kota Surabaya dari hasil sensus penduduk pada kurun waktu 1971-1980 menunjukkan kenaikan dari 8.593 jiwa menjadi 10.047 jiwa. Jumlah penduduk di Kota Surabaya kian bertambah jumlahnya diakibatkan adanya arus migrasi kedatangan para migran yang masuk ke Kota Surabaya. Para migran yang bermaksud mencari kehidupan yang layak dengan memiliki pekerjaan, nyatanya mengalami ketidakberuntungan dikarenakan kalah bersaing dengan individu lain yang lebih kompetitif mengenai perebutan perihal pekerjaan di kota yang persaingannya lebih ketat. Permasalahan tersebut merupakan faktor determinan yang memunculkan kaum Tuna Wisma. Masifnya keberadaan Tuna Wisma di Kota Surabaya pada akhirnya menjadi masalah yang menimbulkan kerumitan bagi pihak Pemerintah Kota Surabaya untuk segera diselesaikan. Pemerintah Kota Surabaya yang notabene sebagai garda terdepan pemecah masalah tersebut melakukan berbagai upaya penanganan untuk mengurangi dan mencegah munculnya Tuna Wisma perlu dilakukan Dari uraian latar belakang tersebut, maka permasalahan dalam penulisan adalah (1) Bagaimana latar belakangpenanganan oleh Pemerintah Kota Surabaya terhadap keberadaan Tuna Wisma di Surabaya tahun 1980? (2) Bagaimana upaya penangananPemerintah Kota Surabaya dalam menanganikeberadaan Tuna Wisma di Surabaya tahun 1980-1984? (3) Bagaimana kendala-kendala dan dampak sosial, ekonomi dan psikologis dari penanganan Pemerintah Kota Surabaya terhadap keberadaan Tuna Wisma di Surabaya? Hasil penelitian menunjukkan bahwa pihak Pemerintah Kota Surabaya melakukan upaya berupa upaya preventif, upaya represif dan upaya rehabilitatif. Berbagai upaya tersebut mampu mengurangi keberadaan Tuna Wisma di Kota Surabaya dan mampu memberikan dampak positif berupa kesejahteraan sosial dan ekonomi bagi para Tuna Wisma, sehingga Tuna Wisma mampu menjadi bagian dari suatu masyarakat kota Surabaya yang tidak lagi termarginalisasi.   Kata Kunci: Kota Surabaya, Migrasi, Tuna Wisma, Pemerintah Kota Surabaya 
NILAI NASIONALISME DALAM KOMIK “SEDJARAH REVOLUSI INDONESIA” JILID I DAN II TAHUN 1966 MAULANA, MOHAMAD
Avatara Vol 5, No 1 (2017): Vol 5 Nomer 1 (Maret 2017)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Komik  di Indonesia dikenal masyarakat sebagai cergam, akromin dari cerita bergambar, atau bisa juga diartikan sebagai cerita yang didukuang oleh serangkaian gambar atau lukisan yang disusun secara berurutan dalam sebuah kolom. Sebagian orang lain berpendapat bahwa komik lebih tepat disebut sebagai susunan gambar yang bercerita. Atas jasa F. Lacassin dalam tulisannya pada majalah Pour un neuvieme art yang terbit pada tahun 1971, komik menjadi bagian dari seni. Sebagai seni yang memiliki nilai komirsial, komik banyak diminait oleh masyarakat terutama para remaja. Konten komik yang lebih banyak mengedepankan gambar sebagai sebuah ilustrasi kejadian dan sedikit kata-kata, membuat komik digemari. Komik berkembang dengan mengadopsi berbagai cerita yang berkembang di masyarakat mulai dari cerita legenda, mitos, masa depan hingga cerita sejarah. Di Indonesia di tahun 1960-an komik dengan genre cerita sejarah banyak diproduksi baik cerita fiktif yang mengambil latar sejarah maupun cerita asli sejarah.    Rumusan Masalah dalam penelitian ini adalah (1) Menganalisis peristiwa sejarah apa saja yang digambarkan pada komik tersebut ?, (2) Bagaimana nilai nasionalisme yang ada pada komik “Sedjarah Revolusi Indonesia” jilid I dan II tersebut ?. Tujuan dalam Penelitian ini adalah Mendeskripsikan peristiwa sejarah perjuangan bangsa yang digambarkan pada komik “Sedjarah Revolusi Indonesia” jilid I dan II. Menganalisis nilai-nilai nasionalisme yang terdapat pada komik “Sedjarah Revolusi Indonesia” jilid I dan II. Metode yang digunakan adalah metode pendektan sejarah, yang meliputi heuristik, kritik, intepretasi, dan historiografi Hasil penelitian menunjukan bahwa, komik “Sedjarah Revolusi Indonesia” jilid I dan II merupakan komik adaptasi dari massa revolusi fisik, dimana isi komik tersebut meliputi pertempuran, diplomasi, dan pembutan ideologi dan undang-undang dalam proses pembentukan negara. Nilai nasionalisme yang terkadung dalam komik “Sedjarah Revolusi Indonesia” jilid I dan II adalah menumbuhkan rasa cinta terhadap tanah air, pantang menyerah dan rela berkorban untuk kepentingan bangsa dan negara, dan bela negara. Nilai-nilai nasionalisme tersebut dapat dilihat dari panel-panel pertempuran antara bangsa Indonesia melawan tentara Belanda, serdadu Jepang, dan tentara Sekutu. Gambar dan teks dalam panel komik tidak memperlihatkan kekalahan bangsa Indonesia ketika berhadapan dengan tentara Belanda, kondisi seperti ini akan membuat pembaca komik “Sedjrah Revolusi Indonesia” jilid I dan II akan lebih memiliki rasa cinta terhadap negara dan bangsanya.   Kata kunci: Komik, Nasionalisme
PERKEMBANGAN BUDI DAYA IKAN BANDENG DI GRESIK TAHUN 1982-1989 DEVI PURWANTI, ANDINI
Avatara Vol 5, No 1 (2017): Vol 5 Nomer 1 (Maret 2017)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tambak ikan adalah salah satu sektor agribisnis yang sudah lama dilakukan oleh penduduk Gresik sejak zaman dahulu hingga sekarang. Gresik pernah menjadi kota yang menarik perhatian Belanda karena hasil perikananya yang berlimpah. Ketika zaman VOC pertambakan Gresik mengalami perkembangan, peruasan tambak dilakukan di daerah pesisir.Ketika zaman Soharto dalam repelita V Gresik berhasil menjadi kota produksi ikan terbesar di Jawa Timur tahun 1984.Penulis mengambil tahun penelitian 1982-1989 karena pada tahun ini terjadi fenomena yang unik, di mana di tahun ini hasil panen dan jumlah petani yang mengambarkan grafik yang fluktuatif. Tahun 1982–1989 produksi ikan tambak di Gresik terus meningkat secara singnifikan, sebaliknya jumlah petani tambak ikan menurun meski tidak banyak. Hal ini tentu menarik untuk diteliti. Berdasarkan latar belakang tersebut di ambil rumusan masalah adalah bagaimanan perkembangan budi daya ikan bandeng di Gresik tahun 1984-1989 dan bagaimana kondisi sosial ekonomi petani ikan bandeng di Gresik seeta bagaimana sektor perikana menyerap tenaga kerja di Gresik .Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode sejarah, yang terdiri dari heuristik, kritik, interpretasi dan historiografi. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah perkembangan budi daya ikan abndeng di Gesik tahun 1984-1989 mengalami peningkatan di hasil hasil ikannya hal ini dikarenakan berhasilnya program intensifikasi serta lahan tambak yang terus meningkat dibeberapa lokasi. Sedangkan menurunnya jumlah petani tambak dikarenakan banyaknya lahan yang dijual kepada orang lain sehingga status pekerjanya berubah mejadi pendega serta beralih fungsinya lahan tambak menjadi sawah. Sedangkan untuk kondisi sosial ekonomi petani tambak bisa dibilang sangat baik karena pendapatan yng didapat dari uasah perikanan ini membeikan hasil yang banyak. Perekonomian yang baik membuat status sosial petani tambak berada di strata pertama dibeberapa daerah dizaman 80-an. Penyerapan tenaga kerja di sektor perikanan di Gresik bis dikatakan tidak beitu banyak karena masih rendahnya SDM serta kurangnya keterarikan masyarakat pada sektor perikanan. Kata Kunci :Tambak, Ikan Bandeng, Petani ikan