cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Avatara
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
E-Journal AVATARA terbit sebanyak tiga kali dalam satu tahun, dengan menyesuaikan jadwal Yudisium Universitas Negeri Surabaya. E-Jounal AVATARA diprioritaskan untuk mengunggah karya ilmiah Mahasiswa sebagai syarat mengikuti Yudisium. Jurnal Online Program Studi S-1 Pendidikan Sejarah - Fakultas Ilmu Sosial UNESA
Arjuna Subject : -
Articles 456 Documents
PAKUNCEN SEBAGAI TANAH PERDIKAN KECAMATAN PATIANROWO NGANJUK 1722-1939 MAHAR DIANSYAH, DIRGA
Avatara Vol 5, No 2 (2017): Vol 5 Nomer 2 (Juli 2017)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pers Bangsa Indonesia merupakan bangsa yang kaya dengan adat, budaya dan lainnya. Salah satunya yaitu tanah, tanah mempunyai peranan yang sangat besar dan penting dalam kehidupan manusia. Pada jaman Majapahit terdapat tanah/ desa perdikan, yaitu desa yang dibebaskan dari kewajiban membayar pajak kepada pemerintah pusat. Desa perdikan di wilayah kabupaten Nganjuk ini digolongkan menjadi 3 yaitu, mijen, keputihan dan pakuncen. Desa pakuncen adalah tanah hadiah karena adanya makam salah satu kerabat keraton sehingga diberikan hak bebas pajak atau sering disebut dengan tanah perdikan. Banyak masyarakat yang menjadikan desa Kauman sering disebut dengan desa Pakuncen karena adanya salah kaprah dari penyebutan nama desa hingga sekarang desa Kauman sering disebut desa Pakuncen kadipaten Kertosono. Maka, rumusan masalah dan tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menjelaskan sejarah awal dijadikannya desa Kauman sebagai desa Pakuncen, untuk mengetahui peninggalan bersejarah dan makam yang berada di dalam masjid yang ada di desa Kauman dan untuk mengidentifikasi adanya dampak politik, ekonomi, sosial dan budaya adanya makam di desa Kauman yang berstatus Pakuncen. Penulisan ini menggunakan metode penelitian serjarah, yakni heuristic, kritik, interpretasi dan historiografi. Berdasarkan sejarahnya, terdapat banyak peninggalan-peninggalan bersejarah di desa tersebut yakni berupa masjid kuno yang didalamnya terdapat makam priyai-priyai agung. Selain itu terdapat dampak dari aspek politik, ekonomi, sosial dan budaya antara lain dampak politik yang terlihat sangat jelas yaitu perangkat desa dipilih secara kekerabatan. Namun hal ini tidak berlangsung lama, ketika tanah perdikan dihapuskan, pemilihan perangkat desa dipilih oleh masyarakat secara langsung. Pengaruh aspek ekonomi yaitu kekayaan masyarakat tidak merata. Hal tersebut dapat dilihat dari dana sumbangan dari keraton sangatlah minim sehingga tidak cukup untuk mensejahterakan masyarakat. Selain itu untuk aspek sosial dan budaya di desa Pakuncen merupakan desa yang kaya oleh tradisinya karena adat istiadat sangatlah dijaga, seperti grebeg mulud, grebeg suro. Kata kunci : Pakuncen, Jejak Sejarah, Dampak
KEBIJAKAN PEMERINTAH KOTA SURABAYA DALAM MENATA PEDAGANG KAKI LIMA PADA MASA WALIKOTA SOENARTO SOEMOPRAWIRO DI SURABAYA TAHUN 1994-2000 FIRMANSYAH, ANUGRAH
Avatara Vol 5, No 2 (2017): Vol 5 Nomer 2 (Juli 2017)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Fenomena PHK massal yang terjadi pascakrisis moneter tahun 1997 semakin meningkatkan jumlah pengangguran di Surabaya. Keadaan seperti ini mendorong kaum urban dan masyarakat kota Surabaya yang kurang kompetitif dalam dunia kerja untuk menciptakan lapangan pekerjaan di sektor informal khususnya Pedagang Kaki Lima (PKL) sebagai solusi. Kemunculan PKL mampu menjadi solusi bagi peningkatan jumlah pengangguran di Surabaya. Namun, keberadaan PKL di Surabaya menimbulkan dilematikan tersendiri, pada satu sisi PKL dapat menjadi solusi bagi keterserapan tenaga kerja yang tidak terserap sektor formal dan manufaktur. Sedangkan pada sisi yang lain PKL dipandang sebagai penghambat utama dalam menciptakan tata ruang kota yang aman, nyaman, bersih dan tertib. Hal ini karena keberadaan mereka yang ilegal, tidak terorganisir, kumuh dan memadati ruang-ruang publik. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan beberapa hal terkait kebijakan penataan PKL di Surabaya pada masa kepemimpinan Walikota Soenarto Soemoprawiro, bagaimana bentuk implementasi kebijakan serta dampak yang ditimbulkan dari kebijakan yang diterapkan. Penelitian ini melalui tahapan metode penelitian sejarah yang meliputi heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Berdasarkan analisis terhadap data dan sumber-sumber, diperoleh hasil bahwa kebijakan penataan PKL di Surabaya pada masa Walikota Soenarto Soemoprawiro menggunakan pendekatan kebijakan publik bersifat konsumtif berbasis subsidi. Kebijakan tersebut dilaksanakan melalui beberapa program yakni program Paket Rombong Gratis, Kawasan PKL Eksklusif Jalan Tunjungan, Pembentukan PKL Binaan, Gerakan Dana Masyarakat dan Lomba Penataan PKL Antar Kecamatan. Kebijakan tersebut berdampak pada munculnya sentra-sentra PKL, Paguyuban PKL dan Koperasi PKL yang secara simultan meningkatkan kualitas PKL di Surabaya baik dalam hal manajemen usaha maupun pendapatan harian PKL. Kata Kunci : PKL, Kebijakan, Penataan, Pemerintah Kota Surabaya
PERKEMBANGAN PONDOK PESANTREN GADINGMANGU DESA GADINGMANGU KECAMATAN PERAK KABUPATEN JOMBANG TAHUN 1963-2006 ULAN TARI, SUMETI
Avatara Vol 5, No 2 (2017): Vol 5 Nomer 2 (Juli 2017)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pondok pesantren Gadingmangu merupakan Pondok Pesantren yang terletak di Desa Gadingmangu Kecamatan Perak Kabupaten Jombang dan salah satu pondok  yang besar di Kota Jombang. Sebelum berdirinya Pondok Pesantren Gadingmangu, Desa Gadingmangu merupakan desa kecil yang berada di pinggiran Kota Jombang yang sangat sepi, jauh dari hiruk pikuk keramaian kota. Di tahun 1952 seorang tokoh Desa Gadingmangu yang kebetulan sebagai Kepala Desa Gadingmangu yaitu Bapak H. Bey Prawironoto, bertemu dengan seorang ulama besar yaitu Haji Nurhasan, maka kemudian dua tokoh tersebut mendirikan Pondok Pesantren Gadingmangu. Permasalahan dalam penelitian ini adalah (1) Apa yang melatar belakangi berdirinya Pondok Pesantren Gadingmangu Desa Gadingmangu Kecamatan Perak Kabupaten Jombang? (2) Bagaimana model pembelajaran Pondok Pesantren Gadingmangu Desa Gadingmangu Kecamatan Perak Kabupaten Jombang mulai tahun 1963-2006? (3) Bagaimana perkembangan Pondok Pesantren Gadingmangu Desa Gadingmangu Kecamatan Perak Kabupaten Jombang di bawah kepemimpinan  K.H. Abdul Syukur pada tahun 1963-2006? . Metode yang digunakan oleh penulis adalah metode penelitian sejarah untuk mengungkap permasalahan yang diteliti yang meliputi metode heuristik, kritik, interpretasi dan historiografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, Desa Gadingmangu sebelum berdirinya Pondok Pesantren Gadingmangu adalah berupa hutan jati yang sangat luas serta banyak dihuni binatang buas. Dengan usaha keras penduduk Desa Gadingmangu yang pada saat itu masih sedikit dan dijadikannya hutan yang penuh dengan kayu jati itu menjadi lahan sawah dan sebagian dijadikan rumah untuk berteduh. Desa Gadingmangu merupakan desa kecil yang berada di pinggiran Kota Jombang yang sangat sepi, jauh dari hiruk pikuk keramaian kota. Di tahun 1952 seorang tokoh Desa Gadingmangu yang kebetulan sebagai Kepala Desa Gadingmangu yaitu Bapak H. Bey Prawironoto, bertemu dengan seorang ulama besar yaitu Haji Nurhasan, maka kemudian dua tokoh tersebut mendirikan Pondok Pesantren Gadingmangu. Berkat peran dan dukungan H. Bey Prawironoto yang sekaligus sebagai penyandang dana terbesar untuk operasional pondok pesantren saat itu, maka pondok ini bisa berjalan dan berkembang seiring dengan perkembangan zaman. Pondok Pesantren Gadingmangu semula bernama Pondok Pesantren GUPPI (Gabungan Pembaharuan dan Pendidkan Islam) Gadingmangu Perak Jombang namun akhir-akhir ini pada tahun 1993 telah dihapus nama GUPPI. Dan di Desa Gadingmangu hanya ada satu Pondok sehingga lebih baik menggunakan nama desa saja agar mudah orang mengingat nama Pondok sekaligus Desa Gadingmangu. Model pembelajaran yang diterapkan Pondok Pesantren Gadingmangu  Desa Gadingmangu Kecamatan Perak Kabupaten Jombang tahun 1963-2006 adalah model pembelajaran tradisional, model pembelajaran formal dan nonformal, model kurikulum pesantren. KH. Abdul Syukur dalam mengembangkan Pondok Pesantren Gadingmangu mempunyai tujuan untuk mencetak generasi muda dan kader-kader Islam yang mempunyai akhakul karimah serta berpengetahuan luas.  Pengembangan dan usaha KH. Abdul Syukur dalam membimbing dan mengarahkan santri-santri dalam belajar dilakukan dengan usaha sendiri serta dibantu anak-anaknya, dan keluarga besar Gadingmangu.  KH. Abdul Syukur adalah seorang yang kharismatik, berwibawa dalam mengasuh Pondok Pesantren Gadingmangu.   Kata Kunci :Pondok Pesantren Gadingmangu, KH. Abdul Syukur
TARI CAPING NGANCAK SEBAGAI POTENSI KESENIAN KHAS LAMONGAN TAHUN 2008-2012 MUFIDAH, SHOLIHATUL
Avatara Vol 5, No 2 (2017): Vol 5 Nomer 2 (Juli 2017)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tari Caping Ngancak merupakan salah satu kesenian tari kreasi baru yang ada di Lamongan.  Tari caping ngancak di ciptakan oleh seniman berbakat yaitu Tri Kristiani, Ninin Desinta dan Purnomo. Tari Caping Ngancak mempunyai banyak prestasi dan gerakan yang unik sesuai dengan penggambaran dinamika kehidupan masyarakat petani yang ada di Lamongan sehingga tari Caping Ngancak mempunyai potensi sebagai kesenian khas lamongan. Berdasarkan latar belakang tersebut penulis akan mengajukan rumusan masalah sebagai berikut (1) Bagaimana latar belakang diciptakannya tari Caping Ngancak di kabupaten Lamongan? (2) Bagaimana perkembangan tari Caping Ngancak  pada tahun 2008-2012? (3) Mengapa tari Caping Ngancak menjadi potensi kesenian khas Lamongan Tahun 2008-2012? Hasil penelitian dapat diketahui bahwa Tari Caping Ngancak merupakan salah satu seni tari kreasi baru yang berpotensi sebagai kesenian khas Lamongan. Hal tersebut dapat dilihat  dari Banyaknya jumlah masyarakat Lamongan yang bermata pencaharian sebagai petani menjadi inspirasi lahirnya tari Caping Ngancak pada tahun 2008. Perkembangan Tari Caping Ngancak sebagai kesenian khas dilihat dengan adanya berbagai perubahan baik dari segi kostum, penari dan gerak tari Caping Ngancak. Tari Caping juga mempunyai banyak  prestasi yang telah diraih baik di dalam maupun di luar kabupaten Lamongan. Pemerintah lamongan ikut andil dalam kemajuan dan kemunduran tari Caping Ngancak sebagai potensi kesenian khas Lamongan. Kata Kunci: Tari Caping Ngancak, Kesenian Khas, Lamongan
BATIK TULIS SEKAR JATI SEBAGAI IDENTITAS KABUPATEN JOMBANG TAHUN 1993-2008 LAILI FARIDA, LIA
Avatara Vol 5, No 2 (2017): Vol 5 Nomer 2 (Juli 2017)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Daerah Kabupaten Jombang merupakan Kawasan yang terletak di Provinsi Jawa Timur dan termasuk salah satu peninggalan kerajaan Majapahit. Kabupaten Jombang telah menjadi salah satu Kabupaten yang maju dan menjadi pusat industri dalam memproduksi batik tulis dengan motif yang khas dari Jombang dan memang sejak dulu terkenal sebagai daerah penghasil kain batik tulis sejak tahun 1944 ketika ibu-ibu dan para remaja yang tekun membatik dan hasilnya diberi nama batik pacinan, hingga ketika pada masa penjajahan Jepang batik di Jombang sudah menghilang. Kemudian tahun 1993 Potensi batik yang ada di Jombang dibangkitan lagi dan diberi nama batik Jombangan, yang sentra pembuatan batiknya berada di Desa Jatipelem, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang. Namun seiring perkembangannya batik Jombangan diberi nama batik tulis sekar jati oleh masyarakat setempat.Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka penulis mengajukan rumusan masalah sebagai berikut: 1. Bagaimana sejarah perkembangan batik tulis sekar jati tahun 1993-2008? 2. Apa saja macam-macam motif dan makna dari batik tulis sekar jati? 3. Bagaimana proses batik tulis sekar jati dijadikan sebagai identitas Kabupaten Jombang? Tujuan penelitian ini adalah Untuk mengidentifikasi sejarah perkembangan batik tulis sekar jati tahun 1993-2008, Untuk mengidentifikasi macam-macam motif dan makna dari batik tulis sekar jati, Untuk mengidentifikasi proses batik tulis sekar jati dijadikan sebagai identitas Kabupaten JombangPenelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah yang meliputi Heuristik, Kritik, Interpretasi dan Historiografi. Hasil penelitian ini dapat diperoleh kesimpulan bahwa Jombang dengan potensi alam dan lingkungan budaya berupa peninggalan kerajaan Majapahit yang dimiliki dapat memberikan inspirasi bagi masyarakat Jombang untuk menciptakan karya seni dalam bentuk motif batik yang beraneka ragam seperti motif relief Candi Arimbi melambangkan kedewaan, motif daun Jombangan melambangkan kebun tapak liman yang tumbuh di daerah Jombang, motif serumpun melambangakan tanaman yang merakyat, motif tunggorono seto melambangkan shio kuda putih yang merupakan kelahiran Bupati, motif telo rambat melambangkan tanaman merakyat yang dapat dijadikan produk olahan khas Jombang, motif peksi manyar melambangkan burung manyar saat panen telah tiba dan menjadikan Jombang sebagai masyarakat yang agraris, motif kawung cipir merupakan jenis flora tumbuh-tumbuhan yang merakyat dan motif merak melambangkan keindahan atas kedinamisan masyarakat Jombang yang suka berkembang. Berawal dari itulah, batik tulis sekar jati mampu mengangkat ide-ide motif yang mencerminkan potensi yang dimiliki oleh Kabupaten Jombang sebagai bentuk identitas khas Jombang. Kata Kunci :Batik Tulis Sekar Jati, Sebagai Identitas, Jombang
PNI CABANG SURABAYA PADA PEMILIHAN UMUM 1955 DI KOTA SURABAYA AL HAQIQI, ILHAM
Avatara Vol 5, No 2 (2017): Vol 5 Nomer 2 (Juli 2017)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pemilu 1955 dianggap oleh banyak pakar satu-satunya pemilu yang paling dekat dengan kriteria demokrasi. Pemilu 1955 adalah wujud dari keinginan masyarakat Indonesia untuk menerapkan kehidupan yang demokratis. Undang–Undang No 7 tahun 1953 merupakan Undang-Undang Pemilu pertama yang disahkan oleh parlemen Indonesia. UU inilah yang menjadi payung hukum Pemilu 1955 yang diselenggarakan secara langsung, umum, bebas dan rahasia. Pada tahun 1955 pelaksanaan pemilu ini dibagi menjadi 2 tahap yaitu pemilu pertama tanggal 29 september 1955 untuk memilih anggota DPR, dan tanggal 15 desember 1955 untuk memilih anggota konstatituate (dewan pembuat UUD). Pada pemilu kali ini diikuti oleh 28 partai politik.Surabaya sebagai salah satu kota besar di Indonesia juga ikut berpartisipasi dalam pemilihan umum ini. Di Surabaya terdapat 616 tempat pemungutan suara yang tersebar di berbagai wilayah di Surabaya. Surabaya menjadi acuan hasil pemenangan pemilu karena terdapat basis-basis massa yang banyak dari berbagai partai politik mulai dari yang berideologi agama, komunis dan nasionalis. Dari uraian latar belakang tersebut, maka permasalahan dalam penulisan adalah (1) Apa latar belakang terbentuknya PNI cabang Surabaya? (2) Bagaimana strategi PNI cabang Surabaya dalam pemilu 1955? (3) Bagaimana hasil yang dicapai PNI cabang Surabaya pada pemenangan Pemilu 1955?Penelitian ini berpedoman pada metodologi penelitian sejarah yang terdiri dari empat langkah, yaitu Heuristik, Kritik, Interpretasi, dan Historiografi. Heuristik yang digunakan yaitu sumber primer dan sekunder. Sumber-sumber tersebut didapat penulis dari melalui penelusuran di perpustakaan unesa dan perpustakaan daerah. Tahap kedua adalah melakukan kritik intern untuk mengkaji kevalidan suatu sumber yang digunakan.Interpretasi ditetapkan dari sumber yang lebih bermakna antara fakta satu sama lain untuk mengetahui sejarah dari yang berkaitan dengan topik yang dibahas. Historiografi untuk menyajikan hasil dari laporan penelitian dengan teknik penulisan sejarah yang baik dan benar.Pelaksanaan pemilu 1955 dilakukan secara serempak di wilayah Kota Surabaya tanggal 29 September 1955 untuk pemilihan DPR, dan tanggal 15 Desember 1955 untuk pemilihan konstituante. Hasil Pemilu 1955 di Kota Surabaya ada 4 besar partai pemenang adalah PKI, NU, PNI dan Masyumi.PNI mendapatkan suara terbanyak ketiga pada pemilihan untuk DPR dan Konstatituate, PNI Surabaya hanya mendapatkan suara di bawah PKI dan NU. Hal ini disebabkan oleh banyaknya masyarakat Surabaya yang berbasis agama dan para pekerja buruh yang lebih memihak PKI dan daerah-daerah yang bernuansa Agama di Surabaya yang lebih memilih NU dan Masyumi ketimbang PNI Kata Kunci: Pemilu 1955, Surabaya, PNI cabang Surabaya
LELANG BANDENG TRADISIONAL DI KABUPATEN SIDOARJO TAHUN 1969 - 2006 Masyitoh, Kuni
Avatara Vol 5, No 2 (2017): Vol 5 Nomer 2 (Juli 2017)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kabupaten Sidoarjo merupakan salah satu daerah penghasil budidaya tambak bandeng terbesar dan terbaik di Jawa Timur. Budidaya tambak bandeng ini menghasilkan suatu tradisi baru dalam kehidupan beragama masyarakat Sidoarjo. Tradisi itu berupa kegiatan lelang bandeng tradisional yang diadakan untuk peringatan maulid Nabi Muhammad SAW di Sidoarjo. Lelang bandeng ini sangat unik dan berbeda dengan sistem lelang ikan pada umumnya. Kegiatan ini dapat mengumpulkan dana mencapai ratusan juta rupiah dari penawaran empat ekor bandeng kawak.Rumusan masalah penelitian ini yaitu : (1) Mengapa diadakan lelang bandeng di Sidoarjo? (2) Bagaimana proses pelaksanaan lelang bandeng di Sidoarjo Tahun 1969 - 2006? (3) Bagaimana konstribusi lelang bandeng terhadap kehidupan sosial - ekonomi masyarakat Sidoarjo?. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian sejarah yang memiliki beberapa tahapan dalam penelitian, diantaranya: (1) heuristic, (2) kritik, (3) interpretasi, (4) historiografi.Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa lelang bandeng diadakan untuk memperkuat identitas Kabupaten Sidoarjo sebagai penghasil bandeng terbaik di Jawa Timur. Lelang bandeng juga diadakan untuk hiburan bagi masyarakat dan mengumpulkan dana sosial. Proses pelaksanaan lelang bandeng meliputi tahap persiapan, pelaksanaan dan penutupan, serta diikuti oleh beragam kegiatan pendukung seperti pasar rakyat, kirab bandeng dan lainnya. Kontribusi lelang bandeng bagi kehidupan sosial misalnya, adanya festival hasil budidaya tambak, adanya kegiatan untuk peningkatan kualitas budidaya tambak, dan terciptanya dana untuk kegiatan sosial. Kontribusi lelang bandeng bagi kehidupan ekonomi adalah misalnya, peningkatan pendapatan bagi petani tambak dan masyarakat, sebagai sarana pemasaran produk dan pengembangan ekonomi kreatif seperti kerajinan tangan berupa tas, mainan tradisional, dan aneka olahan bandeng.Kata Kunci: Lelang, Bandeng, Sidoarjo.
DJUANDA KARTAWIDJAYA: DARI MENTERI HINGGA PERDANA MENTERI 1946-1959 Bagus Setyawan, Ade
Avatara Vol 5, No 2 (2017): Vol 5 Nomer 2 (Juli 2017)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Djuanda Kartawidjaya merupakan pahlawan yang banyak berjasa dalam pembangunan bangsa Indonesia pasca kemeredekaan. Penelitian ini akan menjawab rumusan masalah, sebagai berikut : Apa yang latar belakangi Ir. H. Djuanda Kartawidjaya diangkat menjadi Menteri dan Perdana Menteri?, bagaimana perjalanan politik Ir. H. Djuanda Kartawidjaya ketika menjadi Menteri tahun 1946 hingga 1957?, Bagaiamana kebijakan politik Ir. H. Djuanda Kartawidjaya dalam memimpin Kabinet Karya tahun 1957-1959?. Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan gambaran latar belakang awal kegiatan politik Ir. H. Djuanda Kartawidjaya. Selanjutnya mendeskripsikan perjalanan politik Ir. H. Djuanda Kartawidjaya selama menjadi Menteri tahun 1946 hingga 1957. Terakhir menganalisis kebijakan politik Ir. H. Djuanda Kartawidjaya dalam memimpin kabinet Karya tahun 1957 hingga 1959. Penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah melalui tahapan heurisristik yaitu mengumpulkan data sejarah berupa koran sejaman dan dokumentasi sejaman, dalam tahapan kritik sumber peneliti hanya melakukan kritik intern sumber diseleksi dan dinilai kredibilitasinya, sehingga memperoleh fakta sejarah. Tahapan interpretasi peniliti mencari keterkaitan antar fakta sejarah yang diperoleh dengan menganalisisnya dan tahapan historiografi menyusun dan menyajikan hasil penelitian dalam bentuk tulisan. Hasil penelitian ini menunjukkan peran kebijakan politik dan ekonomi Ir. Djuanda selama menjadi Menteri dan Perdana Menteri terhadap pembangunan Indonesia tahun 1946 hingga 1959. Kata Kunci: Ir. Djuanda, Kebijakan, Menteri, Perdana Menteri, dan tahun 1946-1959
INDONESIA SEBAGAI TUAN RUMAH KTT GERAKAN NON BLOK X TAHUN 1992 DWIMAWAN W, DIKA
Avatara Vol 5, No 2 (2017): Vol 5 Nomer 2 (Juli 2017)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gerakan Non Blok (GNB) pertama kali dibentuk pada awal tahun 1960-an, yang dipelopori negara-negera merdeka untuk melancarkan aksi politiknya menghadapi situasi dunia dengan memuncaknya perang dingin antara blok Barat dengan blok Timur. Lahirnya Gerakan Non Blok berkaitan dengan Konferensi Asia Afrika (KAA) yang dilaksanakan di Bandung tanggal 18-24 April 1955 yang dihadiri 29 kepala negara dan pemerintahan dari benua Asia dan Afrika yang baru saja merdeka.Presiden Mesir Gamal Abdul Nasser, Presiden Ghana Kwame Nkrumah, Perdana Menteri India Jawaharlal Nehru, Presiden Indonesia Soekarno, Presiden Yugoslavia Joseph Broz Tito, kelima tokoh dunia ini dikenal sebagai pendiri Gerakan Non Blok. Pemikiran-pemikiran kelima kepala negara ini menjadi asal usul Gerakan Non Blok. Indonesia yang termasuk kedalam pendiri GNB sudah sepantasnya menjadi tuan rumah pada acara KTT. Tahun 1992 Indonesia menjadi penyelenggara Konferensi Tingkat Tinggi GNB X yang diadakan di Jakarta tanggal 1-6 September 1992. Persiapan Indonesia menjadi tuan rumah Konferensi Tingkat Tinggi GNB X yang menjadi fokus utama penelitian ini.Rumusan masalah pada penelitian ini adalah 1) Bagaimana persiapan Indonesia saat menjadi tuan rumah Konferensi Tingkat Tinggi ke X ? 2) Bagaimana proses pelaksanaan Konferensi Tingkat Tinggi Gerakan Non Blok X ? 3) Apa hasil dari Konferensi Tingkat Tinggi Gerakan Non Blok ke X ?. Metode yang digunakan adalah penelitian sejarah yaitu, heuristik dilakukan dengan mengumpulkan berbagai sumber koran, jurnal, buku dan wawancara, kritikuntuk menyeleksi sumber yang valid, interpretasi digunakan untuk menghubungkan fakta-fakta sejarah yang dianalisis berdasarkan pengetahuan penulis, dan historiografiyaitu tahapan terakhir untuk merangkai fakta sejarah secara kronologi menjadi sebuah karya tulis sejarah.Hasil yang diperoleh dari penelitian adalah Indonesia melakukan persiapan Konferensi Tingkat TinggiGNB X dengan baik dan menunjukkan Indonesia memang siap menjadi tuan rumah dilihat dari persiapan dari segi fasilitas, keamanan dan penyambutan. Pelaksanaan sidang KTT berjalan sukses dan lancar, meskipun sidang berjalan penuh perdebatan namun konsensus telah dicapai yang melahirkan hasil bernama Pesan Jakarta dan resolusi mengenai masalah Somalia dan resolusi tentang pembentukan HLWG. Pesan Jakarta diharapkan memberikan dampak yang cukup berarti untuk membuat tatanan dunia yang baru, adil dan damai. Kata Kunci : KTT, GNB, Hasil Konferensi
PERAN TRIBHUWANA TUNGGADEWI DALAM MENGEMBALIKAN KEUTUHAN DAN PERKEMBANGAN KERAJAAN MAJAPAHITTAHUN 1328-1350 Nur Fitroh, Anah
Avatara Vol 5, No 2 (2017): Vol 5 Nomer 2 (Juli 2017)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tunggadewi merupakan salah satu raja perempuan ketiga yang berperan penting dalam perubahan kerajaan Majapahit yang sebelumnya banyak mengalami gejolak dan pemberontakan pada masa pemerintahan Raden Wijaya dan Jayanegara. Peran Tribhuwana Tunggadewi nampak pada kebijakan-kebijakan yang dibuat hingga tercetusnya Sumpah Palapa sebagai realisasi perluasan wilayah kerajaan Majapahit. Penelitian ini membahas (1)gejolak yang timbul sebelum masa pemerintahan Tribhuwana Tunggadewi;(2)peran Tribhuwana Tunggadewi dalam mengembalikan keutuhan dan perkembangan kerajaan Majapahit;(3)hasil pemerintahan Tribhuwana Tunggadewi terhadap keutuhan dan perkembangan kerajaan Majapahit. Adapun metode penelitian yang digunakan yaitu metode penelitian sejarah yang terdiri dari empat tahapan yaitu pengumpulan sumber, kritik sumber, interpretasi sumber dan historiografi.Hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa gejolak yang timbul sebelum masa pemerintahan Tribhuwana Tunggadewi disebabkan oleh perebutan kedudukan dalam pemerintahan kerajaan Majapahit dan hubungan genealogi. Peran Tribhuwana Tunggadewi sebagai sosok raja ketiga terlihat dalam membangun kepercayaan, penumpasan pemberontakan dan membangun stabilisasi politik di kerajaan Majapahit. Kebijakan Tribhuwana Tunggadewi juga dimantapkan dengan beberapa prasasti yang berisi tentang susunan birokrasi kerajaan Majapahit. Hasil nyata dari pemerintahan Tribhuwana Tunggadewi berupa penaklukan wilayah Sadeng dan Keta serta perluasan wilayah kerajaan Majapahit yang salah satunya yaitu wilayah Bali dan Sumatra.Kata Kunci :Tribhuwana Tunggadewi, Peran, Kerajaan Majapahit.