cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Avatara
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
E-Journal AVATARA terbit sebanyak tiga kali dalam satu tahun, dengan menyesuaikan jadwal Yudisium Universitas Negeri Surabaya. E-Jounal AVATARA diprioritaskan untuk mengunggah karya ilmiah Mahasiswa sebagai syarat mengikuti Yudisium. Jurnal Online Program Studi S-1 Pendidikan Sejarah - Fakultas Ilmu Sosial UNESA
Arjuna Subject : -
Articles 456 Documents
PERANAN MANGKUNEGARA VII DALAM MENGEMBANGKAN KEBUDAYAAN JAWA 1918 – 1942 NUR HIDAYA FERDIYANAH, SERLY
Avatara Vol 5, No 2 (2017): Vol 5 Nomer 2 (Juli 2017)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Mangkunegara VII merupakan seorang adipati yang memerintah di kadipaten Mangkunegaran tahun 1916-1944. Mangkunegara VII sebagai seorang adipati yang merupakan salah satu generasi penerus kerajaan Mataram Islam memiliki tanggung jawab untuk melestarikan kebudayaan Jawa dan hal tersebut dilakukan Mangkunegara VII ketika memerintah di Mangkunegaran melalui peranannya dalam mengembangkan kebudayaan Jawa. Permasalahan yang diteliti dalam penelitian ini, antara lain (1) bagaimana latar belakang Mangkunegara VII mengembangkan kebudayaan Jawa? ; (2) bagaimana peran Mangkunegara VII dalam mengembangkan kebudayaan Jawa?; dan (3) bagaimana karya Mangkunegara VII dalam mengembangkan kebudayaan Jawa?. Tujuan penelitian ini antara lain mendeskripsikan latar belakang Mangkunegara VII ingin mengembangkan kebudayaan Jawa, menganalisis peran Mangkunegara VII dalam mengembangan kebudayaan Jawa, menganalisis Karya Mangkunegara VII dalam mengembangan kebudayaan Jawa. Adapun metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode sejarah dengan empat tahap, antara lain tahap pertama heuristik, yang merupakan tahapan untuk mengumpulkan sumber; tahap kedua kritik, tahap kritik menggunakan kritik interen dengan melakukan kritik terhadap isi sumber; ketiga tahap intepretasi, tahap melakukan perangkaian terhadap fakta yang ada berdasarkan intepretasi dalam memahami data sejarah yang telah melalui proses kritik sebelumnya; keempat historiografi, setelah melalui tahap-tahap sebelumnya, pada tahap ini peneliti melakukan penulisan terhadap sejarah. Hasil penelitian ini menunjukkan peranan Mangkunegara VII dalam mengembangkan kebudayaan Jawa yang dilakukan ketika Mangkunegara VII memerintah di Mangkunegaran antara tahun 1918 hingga 1942.Kata Kunci : Kebudayaan Jawa, Mangkunegara VII, Peranan.
EKSISTENSI KETOPRAK GAYA BARU SISWO BUDOYO, DI TULUNGAGUNG, TAHUN 1958-2002 Anwar, Khoirul
Avatara Vol 5, No 2 (2017): Vol 5 Nomer 2 (Juli 2017)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kesenian ketoprak merupakan warisan budaya nenek moyang yang seharusnya terus dilestarikan, namun dewasa ini generasi muda seakan enggan dan tidak tertarik dengan kesenian tradisional. Modernisasi membuat kebudayaan barat seakan menjadi kebudayaan yang harus dicontoh daripada kebudayaan asli Indonesia oleh generasi muda saat ini, bahkan generasi muda saat ini tidak mengerti apa itu kesenian ketoprak. Ketoprak berasal dari Jawa Tengah dan berkembang di Jawa Timur, kesenian ketoprak dinilai sebagai kesenian yang cukup kompleks, mencakup seni peran, seni tari, seni musik, serta terdapat adegan lawak yang sangat menghibur. Salah satu grup ketoprak yang terkenal adalah ketoprak Siswo Budoyo.Rumusan masalah pada penelitian ini yaitu, 1) Apa yang melatar belakangi terbentuknya ketoprak Siswo Budoyo?, 2) Bagaimana cara ketoprak Siswo Budoyo dapat mencapai puncak ketenaran pada tahun 1980?, 3) Mengapa ketoprak Siswo Budoyo mengalami kemunduran pada tahun 1998?.Metode penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah, langkah awal yaitu heuristik, dengan mengumpulkan sumber-sumber terkait tentang kesenian ketoprak Siswo Budoyo di Tulungagung, sumber primer didapat dari dokumentasi, wawancara dari narasumber, serta koran sezaman. Sedangkan sumber sekunder didapatkan dari buku-buku dan jurnal terkait dengan ketoprak Siswo Budoyo. Kritik sumber dilakukan untuk memilah sumber baik primer maupun sekunder yang terkait dengan ketoprak Siswo Budoyo. Interpretasi sumber digunakan untuk membandingkan sumber satu dengan sumber lain sehingga diperoleh fakta sejarah mengenai ketoprak Siswo Budoyo. Tahap akhir adalah historiografi yang menjadi hasil tulisan sebagai rekonstruksi sejarah.Hasil penelitian mengenai eksistensi ketoprak Siswo Budoyo dapat dianalisis bahwa yaitu, 1) ketoprak Siswo Budoyo merupakan grup ketoprak yang terbentuk pada tanggal 19 Juni 1958 di Tulungagung, didirikan oleh Ki Siswondho, terbentuk karena jiwa seni Ki Siswondho yang lebih condong dengan kesenian ketoprak, yang mana sebelumnya Ki Siswondho pernah menekuni beberapa kesenian lainnya. 2) Upaya ketoprak Siswo Budoyo untuk tetap eksis diantaranya dengan cara menggunakan unsur gaya baru, namun dengan tidak meninggalkan ciri dari ketoprak itu sendiri. 3) Faktor menurunnya eksistensi ketoprak Siswo Budoyo karena adanya modernisasi yang kian marak, kurangnya kecintaan generasi muda terhadap ketoprak, serta tidak adanya pengganti Ki Siswondho sebagai pemimpin ketoprak setelah wafatnya beliau.Kata Kunci : Eksistensi, Kesenian Ketoprak, Tulungagung.
PERKEMBANGAN PESANTREN MILLENIUM ALFIENA DI DESA LENGKONG KECAMATAN LENGKONG KABUPATEN NGANJUK TAHUN 2001-2015 : SUATU DILEMA Wahyu Rianto, Yoga
Avatara Vol 5, No 2 (2017): Vol 5 Nomer 2 (Juli 2017)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Secara etimologi, pesantren berasal dari kata pesantren. Penyebutan pesantren atau pesantren dalam bahasa sehari-hari memilik makna yang sama. Namun, secara esensi penyebutan pesantren memiliki arti yang berbeda. Penyebutan pesantren digunakan jika siswa atau santri dalam lembaga tersebut tidak memiliki fasilitas asrama atau tempat tinggal biasanya para santri berasal dari daerah sekitar. Sedangkan pesantren para santrinya difasilitasi dengan atau asrama dan fasilitas-fasilitas penunjang lainnya. Terkait dengan hal tersebut peneliti mengangkat dengan rumusan masalah sebagai berikut : 1. Bagaimana Latar belakang berdirinya pesantren Millenium Alfiena Desa Lengkong Kecamatan Lengkong Kabupaten Nganjuktahun 2001-2015 Suatu Dilema? 2. Bagaimana perkembangan pesantren Millenium Alfiena Desa Lengkong Kecamatan Lengkong Kabupaten Nganjuk dibawah kepimimpinan H. Sutrisno, S.H,M.Si tahun 2001 -2015 Suatu Dilema? 3. Bagaimana model pembelajaran pesantren millenium alfiena?. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelusuran pustaka dan wawancara. Adapun kegiatan yang dilakukan dalam penelitian sejarah yaitu 1. Tahapan mencari dan menemukan sumber-sumber (Heuristik), 2. Langkah yang lebih lanjut setelah sumber-sumber sejarah telah terkumpul (Kritik sejarah), 3. Proses penyusunan fakta-fakta secara kronologi (Interpretasi), 4. Tahap akhir untuk menyajikan semua fakta (Historiografi). Berdasarkan penelitian ini dapat diketahui. Pesantren Millenium Alfiena dalam sejarahnya telah mengalami perkembangan dalam sistem pembelajaran diupayakan dari segera hal yang mencakup pendidikan, sarana dan prasarana dan sebagainya. Hal demikian diharapakan para santri dapat mampu berkarya diri, berkembang menuju visi dan misi yang internasional, sealalu berusaha agar hari ini lebih baik dari pada hari kemarin. Dalam perkembangannya, kejayan Pesantren Millenium Alfiena dikaitkan dengan kharisma kepemimpinan kyainya serta adanya dukungan-dukungan besar dari para santri, kerabat serta gurunya yang ada dilingkungan sekitar Pesantren tersebut. Kyai tidak hanya dikategorikan sebagai pemuka agama atau ahli agama, tetapi juga sebagai sebuah elite pesantren.Kata Kunci : Perkembangan, Pesantren, Lengkong.
RESTRUKTURISASI PERBANKAN NASIONAL MASA REFORMASI Hanim, Fitriah
Avatara Vol 5, No 2 (2017): Vol 5 Nomer 2 (Juli 2017)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Krisis ekonomi yang terjadi di Indonesia pada tahun 1997/1998 menyebabkan kerugian di beberapa sektor, khususnya pada sektor perbankan. Bank Dagang Negara, Bank Bumi Daya, Bank Ekspor Impor dan Bank Pembangunan Indonesia merupakan bank yang dinilai tidak sehat dari segi keuangannya. Lemahnya permodalan bank dan kredit macet keempat bank menyebabkan keempat bank tersebut tidak dapat memenuhi kewajibannya kepada nasabah. Oleh karena itu, pemerintah mengeluarkan kebijakan restrukturisasi perbankan yang salah satunya adalah melalui program merger bank. Oktober 1998 keempat bank yaitu Bank Dagang Negara, Bank Bumi Daya, Bank Exim, dan Bapindo dimerger menjadi satu menjadi Bank Mandiri.Di dalam penelitian ini, hal yang menjadi perhatian peneliti adalah: 1. Bagaimana perbankan Indonesia sebelum restrukturisasi? 2.Bagaimana dampak program merger? Tujuan dalam penelitian ini adalah menjelaskan perbankan Indonesia sebelum restrukturisasi, dan menganalisis dampak program merger. Metode yang digunakan adalah metode pendekatan sejarah (historical approach), yang meliputi empat tahapan proses yakni heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi.Hasil dari penelitian yang dianalisis dengan menggunakan teori restrukturisasi perbankan yang digunakan untuk melihat perjalanan bank- bank sebelum dimerger, menunjukkan bahwa permodalan keempat bank yang pada tahun 1998 tumbuh negatif di bawah ketentuan permodalan yang ditetapkan BI sebesar 4%. BDN CARnya sebesar -79,30%, BBD CARnya sebesar -39,57%, Bank Exim CARnya sebesar -144,91%, dan Bapindo Carnya sebesar -30,44%. Serta rasio likuiditas (LDR) keempat bank pada tahun 1998 semuanya berada di atas 110%, mencerminkan bahwa Dana Pihak Ketiga (DPK) yang dihimpun bank lebih kecil daripada kredit yang disalurkan, sehingga bank menggunakan dana antar bank untuk membiayai kreditnya.Setelah di merger Bank Mandiri melakukan PHK terhadap 26.000 pegawai menjadi 8.980 pegawai. Sehingga membawa kerugian bagi para pegawai keempat bank yang mendapatkan PHK sebelum waktunya. Selain dampak negatif yang ditimbulkan dari merger Bank Mandiri juga mencetak kinerja yang baik di perbankan Asia. Pada tahun 2000 Bank Mandiri memperoleh posisi tertinggi dengan menduduki peringkat 73. Peringkat tersebut merupakan peringkat tertinggi yang dicapai oleh perbankan Indonesia.Kata Kunci : Krisis Ekonomi, Kredit macet, Restrukturisasi
PERKEMBANGAN MAJELIS KESEHATAN ‘AISYIYAH BABAT TAHUN 1990-2005 DWI PANGESTUTY, NINA
Avatara Vol 5, No 2 (2017): Vol 5 Nomer 2 (Juli 2017)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

‘Aisyiyah adalah organisasi perempuan yang ada di Indonesia, ‘Aisyiyah berdiri di Kecamatan Babat karena masalah masyarakatnya yaitu kaum perempuan dan anak-anak yang sangat memprihatinkan dari segala aspek kehidupan, salah satunya adalah kesehatan, untuk memperbaiki kondisi yang ada maka ‘Aisyiyah mendirikan majelis kesehatan yang focus di bidang kesehatan, hal tersebut bertujuan untuk lebih konsisiten dalam memperbaiki keadaan masyarakat Babat di bidang Kesehatan,dengan menggunakan metode deskriptif analitik menghasilkan bahwasanya ‘Aisyiyah Babat berdiri karena melihat kondisi masyarakat Babat yang jauh dari syari’at agama Islam, upaya perbaikan melalui majelis kesehatan berupapemberian penyuluhan dan pemahaman terhadap ilmu medis sehingga masyarakat Babat mempercayakan kesehatan keluarga mereka kepada dinas kesehatan, selain itu uapaya yang dilakukan adalah pemebrian pelayanan kesehata dengan membantu dinas kesehatan yang berkemabang menjadi amal usaha yang baik bagi perkembangan ‘Aisyiyah dalam pembiayaan organisasi.Kata Kunci: ‘Aisyiyah, Majelis, Kesehatan.
PERKEMBANGAN TRADISI BUCU KENDHIT DI DESA SOKOGRENJENG KECAMATAN KENDURUAN KABUPATEN TUBAN TAHUN 1971-2013 RATIH WULANDARI, RATNA
Avatara Vol 5, No 3 (2017): Vol 5 Nomer 3 (Oktober 2017)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian tentang tradisi Bucu kendhit ini didesa Sokogrenjeng sangat menarik diteliti karena perkembangan tradisi ini berbeda tidak seperti tradisi lainnya pada umumnya  Perbedaannya terletak saat berganti kepemimpinan kepala desa baru yang tidak melaksanakan tradisi Bucu Kendhit , padahal tradisi tersebut sebelumnya telah lama dilaksanakan sebagai adat kebiaasaan masyarakat desa yang dipimpin oleh kepala desa dahulu. Hal ini menjadi ketertarikan penulis dalam membahas perkembangan tradisi Bucu Kendhit di desa Sokogrenjeng. Penelitian ini membahas, (1) faktor-faktor penyebab munculnya tradisi Bucu Kendhit di Desa Sokogrenjeng, kecamatan Kenduruan, kabupaten Tuban ; (2) makna filosofis tradisi Bucu Kendhit di Desa Sokogrenjeng,kecamatan Kenduruan, kabupaten Tuban ; (3) perkembangan tradisi Bucu Kendhit di desa Sokogrenjeng, kecamatan Kenduruan, kabupaten Tuban. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian sejarah, beberapa tahapannya yaitu, heuristik, kritik, interpretasi sumber dan historiografi. Dari penelitian ini dapat dapat disimpulkan beberapa hal,yaitu (1)faktor-faktor-faktor penyebab munculnya tradisi Bucu Kendhit di desa Sokogrenjeng, kecamatan Kenduruan, kabupaten Tuban diantaranya adanya musibah penyakit kolera yang menyerang desa pada tahun 1971, terjadinya banjir bandang yang menenggelamkan desa pada tahun 1978 dan terjadinya krisis pertanian desa pada tahun 1972 .(2)makna filosofis tradisi Bucu Kendhit di desa Sokogrenjeng, kecamatan Kenduruan, kabupaten Tuban yaitu nasi tumpeng kendhit sebagai simbol penolakan terhadap musibah dan bencana yang terjadi didesa, (3)perkembangan tradisi Bucu Kendhit di desa Sokogrenjeng, kecamatan Kenduruan, kabupaten Tuban dimulai  ketika tahun 1971 pada saat kepemimpinan kepala desa Soepani ,periode selanjutnya oleh kepala desa Sudarso tahun 1990-1999, kemudian oleh kepala desa Soetardjan tahun 1999-2007, dan tahun 2007-2013 yaitu pada masa kepemimpinan kepala desa Kunawi Kata kunci : Tradisi Bucu Kendhit, Perkembangan,Kenduruan
PERKEMBANGAN INDUSTRI MARMER D DESA BESOLE KABUPATEN TULUNGAGUNG TAHUN 1990-1998 Ilma Azizah, Januaryta
Avatara Vol 5, No 3 (2017): Vol 5 Nomer 3 (Oktober 2017)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Di Desa Besole banyak terdapat perbukitan yang mengandung berbagai macam mineral antara lain batu marmer. Dari sinilah sumber dari batu marmer di dapat, inilah salah satu sumber daya alam yang sangat potensial untuk dapat dimanfaatkan. Dari sinilah masyarakat Desa Besole mencoba memulai peruntungan lain selain bergantung pada pertanian yang kadang hasil pertaniannya tidak dapat diandalkan. Desa Besole yang merupakan penghasil batu marmer menarik masyarakatnya untuk melakukan bisnis lain selain pertanian yaitu mengolah batu marmer menjadi berbagai olahan produk. Keinginan untuk mendapatkan suatu kesejahteraan dalam kehidupan itulah yang membuat beberapa masyarakat Desa Besole akhirnya mengubah mata pencaharian yang awalnya menjadi petani berubah menjadi masyarakat yang menekuni industri rumahan. Dari tahun ke tahun pengusaha industri marmer di Desa Besole senantiasa mengalami kenaikan jumlah pengerajin. Keberadaan industri marmer sangat mempengaruhi perekonomian masyarakat sekitar. Hal ini dapat dilihat bahwa sebagian besar masyarakat yang ada di Desa Besole Kabupaten Tulungagung bermata pencaharian sebagai pengrajin batu marmer, baik itu menjadi pemilik industri marmer maupun menjadi pekerja di industri marmer tersebut. Penelitian ini membahas, 1) potensi industri marmer di Desa Besole Kabupaten Tulungagung, 2) perkembangan industri marmer di Desa Besole Kabupaten Tulungagung tahun 1990-1998, 3) kontribusi industri marmer terhadap perekonomian masyarakat Desa Besole Kabupaten Tulungagung tahun 1990-1998. Metode penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah, langkah awal yaitu heuristik, dengan mengumpulkan sumber-sumber terkait tentang industri marmer di Desa Besole, sumber primer didapat dari dokumentasi, wawancara dari narasumber. Sedangkan sumber sekunder didapatkan dari buku-buku dan jurnal yang terkait tentang industri marmer. Kritik sumber dilakukan untuk memilah sumber baik primer maupun sekunder yang terkait dengan industri marmer di Desa Besole. Interpretasi sumber digunakan untuk membandingkan sumber satu dengan sumber lain sehingga diperoleh fakta sejarah mengenai industri marmer di Desa Besole. Tahap akhir adalah historiografi, pada tahap ini serangkaian fakta yang telah ditafsirkan akan disajikan secara tertulis menjadi ceritera sejarah. Hasil penelitian ini menjelaskan bahwa Desa Besole merupakan penghasil kerajinan marmer dan onix terbesar, dengan hasil produksi sebanyak 24.151 unit per bulan. Marmer, onyx dan batu fosil, deposit marmer berada di Desa Besole Kecamatan Besuki, Desa Ngentrong dan Desa Gamping Kecamatan Campurdarat, serta Desa Sukorejo Kecamatan Bandung, dengan jumlah cadangan ± 4.322.500 m³. Usaha industri kerajinan batu marmer sudah sejak lama ditekuni oleh masyarakat Desa Besole Kecamatan Besuki Kabupatenn Tulungagung. Masyarakat Desa Besole memperkirakan bahwa usaha membuat kerajinan marmer di desa tersebut sudah ada sejak tahun 1960-an. Munculnya industri di suatu daerah tentunya akan menimbulkan banyak dampak bagi kehidupan masyarakat setempat. Seperti halnya yang terjadi di Desa Besole setelah banyak berdiri industri marmer telah membawa banyak pengaruh untuk kehidupan sosial masyarakat sekitar. Perubahan tersebut merupakan mengarah pada perubahan yang lebih maju dalam beberapa hal serta kesejahteraan kehidupan masyarakat Desa Besole.   Kata Kunci : Industri, Marmer, Desa Besole
PEMBANGUNAN EKONOMI DALAM SEKTOR PERTANIAN DI SURABAYA MASA WALIKOTA SOEKOTJO TAHUN 1965-1974 FITRIYAH, SHAFAROTUL
Avatara Vol 5, No 2 (2017): Vol 5 Nomer 2 (Juli 2017)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kondisi Ekonomi Surabaya pasca Kemerdekaan Indonesia masih dalam keadaan yang belum stabil, hal ini dikarenakan pengeluaran yang cukup tinggi selama perang mempertahankan Kemerdekaan di Surabaya. Kondisi Ekonomi tersebut mengakibatkan pemerintah harus mengubah kebijakan dalam bidang ekonomi dan harus melakukan upaya pembangunan di bidang ekonomi. Walikota Soekotjo sebagai Walikota Surabaya (1965-1974) memiliki kewajiban untuk membuat kebijakan-kebijakan baru dalam bidang ekonomi yang diharapkan mampu mengatasi permasalahan ekonomi tersebut. Kebijakan ekonomi yang dikeluarkan oleh Walikota Soekotjo dilakukan dalam berbagai sektor termasuk pada sektor pertanian yang mengacu pada pembangunan pada tingkat nasional yakni program Bimas dan Inmas. Permasalahan yang diteliti dalam penelitian ini yaitu: (1) pelaksanaan program Bimas dan Inmas Lama di Surabaya masa Walikota Soekotjo tahun 1965-1969; (2) pelaksanaan program Bimas dan Inmas Baru di Surabaya masa Walikota Soekotjo tahun 1969-1974. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yakni metode penelitian sejarah yang terdiri dari empat tahap yakni Heuristik, Verivikasi/ Kritik Sumber, Intepretasi, dan Historiografi.Hasil penelitian yang diperoleh adalah pelaksanaan program Bimas dan Inmas masa Orde lama di Surabaya mengalami beberapa hambatan yang membuat pelaksanaan Bimas dan Inmas tidak bisa mencapai hasil yang maksimal. Untuk mengatasi hambatan dalam pelaksanaan Bimas dan Inmas maka di tahun 1969 dalam pelaksanaan program pembangunan Repelita I dilaksanakan juga program Bimas dan Inmas baru, dimana pelaksanaan Bimas dan Inmas baru ini ditujukan untuk mengatasi permasalahan pada Bimas dan Inmas Lama dan untuk meningkatkan produksi beras di Surabaya. Pelaksanaan Bimas dan Inmas baru kemudian mampu memberikan dampak yang positif bagi masyarakat Surabaya termasuk mampu mengatasi permasalahan yang sempat terjadi dalam pelaksanaan Bimas dan Inmas Lama.Kata Kunci: Pembangunan Ekonomi, Pertanian, Bimas dan Inmas, Walikota Soekotjo
ANASIR-ANASIR AKULTURASI PADA CANDI PARI OCTAVYA SARI, DEWI
Avatara Vol 5, No 2 (2017): Vol 5 Nomer 2 (Juli 2017)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Persebaran kebudayaan Hindu di wilayah Asia Tenggara menimbulkan interaksi antar masyarakat yang mendiami wilayah tersebut. Sejalan dengan interaksi yang terjadi maka akulturasi budaya pun ikut terjadi. Akulturasi budaya membawa pengaruh bagi masyarakat yang mendiami wilayah Asia Tenggara. Salah satunya ialah dua kerajaan besar yakni Majapahit dan Campa.Rumusan masalah dalam penelitian ini yakni : (1) Bagaimana hubungan sosial budaya kerajaan Majapahit dengan kerajaan Campa ? (2) Adakah wujud akulturasi antara seni bangunan Candi Pari dengan Candi di Campa ? (3) Adakah wujud akulturasi dalam ornamentasi antara Candi Pari dengan Candi di Campa ?. Metode yang digunakan dalam penelitian ini ialah metode penelitian sejarah yang terdiri dari : (1) heuristik, (2) kritik, (3) interpretasi dan (4) historiografi.Hasil dari penelitian ini adalah sebagai berikut : kerajaan Majapahit benar adanya memiliki hubungan dengan kerajaan Campa di wilayah Asia Tenggara. Keduanya menjalin hubungan sebagai mitreka satata yakni negara sahabat yang menjalin kerjasama dalam bidang ekonomi, politik dan sosial budaya yang memberikan dampak berupa akulturasi budaya pada Candi Pari. Diantaranya ialah bentuk fisik Candi Pari yang secara visual berbentuk tambun seperti Candi di Campa khususnya candi-candi di wilayah Mison. Selanjutnya adalah pahatan deretan medallion yang terlihat pada ambang batas Candi Pari. Kemudian hiasan segitiga sama sisi pada Candi Pari.Kata kunci : Anasir, Akulturasi, Majapahit, Campa, Candi Pari
PELAKSANAAN PROGRAM BIMBINGAN MASSAL (BIMAS) PADIDI KABUPATEN TULUNGAGUNG TAHUN 1984 - 1998 Muamaroh, Lailatul
Avatara Vol 5, No 2 (2017): Vol 5 Nomer 2 (Juli 2017)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pemerintah masa Orde Baru melaksanakan kebijakan pangan yang bertujuan meningkatkan produksi padi untuk dapat mencapai swasembada beras. Kebijakan pangan tersebut adalah program Bimas. Pada tahun 1984, Indonesia menjadi negara swasembada. Pencapaian ini tidak luput dari pelaksanaan program Bimas. Untuk mempertahankan swasembada pelaksanaan program Bimas harus tetap dilakukan. Program Bimas dilaksanakan diseluruh Indonesia terutama Pulau Jawa yang daerahnya agraris termasuk di Kabupaten Tulungagung. Kabupaten Tulungagung adalah sasaran tepat dalam pelaksanaan program Bimas. Wilayahnya yang agraris didukung dengan letaknya di kawasan Hulu Sungai Brantas disebut-sebut memiliki wilayah relatif kecil namun produksi padinya cukup besar, sehingga penelitian mengenai pelaksanaan program Bimas di Kabupaten Tulungagung diperlukan apalagi program Bimas juga sebagai pembaharuan pertanian yang awalnya tradisional menjadi pertanian modern.Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah (1) Bagaimana pelaksanaan program Bimas padi di Kabupaten Tulungagung pada tahun 1984 – 1998? (2) Apa saja kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan program Bimas padi di Kabupaten Tulungagung pada tahun 1984 – 1998? (3) Bagaimana dampak dari pelaksanaan program Bimas terhadap peningkatan produksi padi di Kabupaten Tulungagung pada tahun 1984 – 1998?. Penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah yang terdiri dari empat tahap yaitu tahap heuristik dilakukan dengan mengumpulkan sumber yang menunjang penelitian baik berupa data sejaman maupun data sekunder yaitu buku, tahap selanjutnya adalah kritik intern dengan menilai relevan atau tidaknya sumber yang didapatkan, tahap ketiga adalah interpretasi dengan mencari hubungan antar fakta kemudian menganalisisnya dan tahap keempat adalah historiografi yaitu menyajikan hasil penelitian dalam bentuk tertulis.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pelaksanaan program Bimas tidak hanya sebagai upaya mencapai swasembada beras melainkan juga untuk memperkenalkan inovasi teknologi terbaru bagi petani jika dilihat dari konsep J.W. Schoorl sebagai kerangka dalam analisis penelitian ini. Pelaksanaan program Bimas di Kabupaten Tulungagung setelah tahun 1984 adalah untuk mempertahankan swasembada beras dengan menerapkan pertanian modern namun mendapatkan kendala yang salah satunya adalah pendidikan petani masih minim sehingga sulit menerima perubahan teknologi dari tradisional ke modern. Upaya pengenalan teknologi ditunjang dengan adanya panca usaha tani dan penyuluhan pertanian. Dampak positif pelaksanaan program bimas di Kabupaten Tulungagung adalah produksi padi yang meningkat meskipun pada tahun 1990an mengalami fluktuasi yang disebabkan oleh beberapa faktor sedangkan dampak negatif salah satunya adalah menurunnya kualitas kesuburan tanah yang disebabkan oleh penggunaan pupuk yang berlebihan.Kata kunci : Program Bimas, Padi, Kabupaten Tulungagung