cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Avatara
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
E-Journal AVATARA terbit sebanyak tiga kali dalam satu tahun, dengan menyesuaikan jadwal Yudisium Universitas Negeri Surabaya. E-Jounal AVATARA diprioritaskan untuk mengunggah karya ilmiah Mahasiswa sebagai syarat mengikuti Yudisium. Jurnal Online Program Studi S-1 Pendidikan Sejarah - Fakultas Ilmu Sosial UNESA
Arjuna Subject : -
Articles 456 Documents
PELABUHAN KAMBANG PUTIH PADA MASA MAJAPAHIT TAHUN 1350-1389 Ikhlasul Khasanah, Ledya
Avatara Vol 5, No 3 (2017): Vol 5 Nomer 3 (Oktober 2017)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Letak strategis yang dilewati jalur perdagangan antara Cina dan India yang ramai sejak masa kuno membuat Nusantara ramai dikunjungi oleh berbagai saudagar asing, hal ini tentu saja berimplikasi terhadap kebijakan perdagangan maritim Majapahit yang memanfaatkan keadaan tersebut sebagai lahan mencari keuntungan. Dengan adanya perdagangan laut ini tentu saja peran pelabuhan sangat dibutuhkan, karena pelabuhan merupakan suatu tempat dimana keluar masuknya suatu barang, jasa, dan penumpag untuk menyalurkan barang dari satu tempat ke tempat yang lainnya. Sama halnya dengan letak Pelabuhan Kambang Putih Tuban yang dinilai aman untuk dijadikan pelabuhan dan letaknya yang ideal bagi kapal-kapal niaga membuat pelabuhan ini semakin ramai dikunjungi oleh saudagar untuk melakukakan kontak perdagangan. Dengan didukung ikut sertanya Majapahit dalam sistem emporia dalam perdagangan tentu saja mempengaruhi peran pelabuhan Kambang Putih Tuban mengingat pelabuhan inilah yang digunakan sebagai pintu gerbang perdagangan internasional Majapahit, yang mana sistem emporia ini membuat jalur perdagangan yang ditempuh lebih pendek karena sepanjang jalur perdagangan terdapat emporium atau kota-kota pelabuhan yang dilengkapi dengan fasilitas kebutuhan untuk perdagangan pelayaran sekaligus untuk mempermudah para pelaut dan saudagar memperbaki kapal-kapal yang rusak ketika digunakan berlayar juga tempat bertransaksi perdagangan. Tidak ubahnya Pelabuhan Kambang Putih yang digunakan sebagai titik kumpul berbagai komoditas yang laku di pasar internasional seperti merica, kayu wangi, dan juga pala dari Nusantara bagian timur, dengan menjadi pelabuhan emporium maka para saudagar yang singgah akan mengangkut komoditas tersebut hingga ke Malaka kemudian saudagar yang berada di Malaka akan mengangkutnya kembali ke India dan sebagainya, hingga peran pelabuhan kiranya sangat penting dalam perdagangan pelayaran masa kuno. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah (1) Bagaimana kebijakan yang diambil oleh Majapahit masa Hayam Wuruk terhadap pelabuhan Kambang Putih? (2) Bagaimana perkembangan aktivitas pelabuhan Kambang Putih masa Majapahit masa kepemimpinan Hayam Wuruk? Kemudian tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan, menganalisis peran yang dimainkan Pelabuhan Kambang Putih terhadap perdagangan pelayaran dan menganalisis dampak dari Pelabuhan Kambang Putih terhadap perdagangan pelayaran. Penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah yang terdiri dari empat tahap yaitu tahap heuristik dilakukan dengan mengumpulkan sumber yang menunjang penelitian baik berupa data sejaman maupun data sekunder yaitu buku, tahap selanjutnya adalah kritik intern dengan menilai relevan atau tidaknya sumber yang didapatkan, tahap ketiga adalah interpretasi dengan mencari hubungan antar fakta kemudian menganalisisnya dan tahap keempat adalah historiografi yaitu menyajikan hasil penelitian dalam bentuk tertulis. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Pelabuhan kambang Putih dari abad ke-12 sudah memainkan perannya sebagai pelabuhan perdagangan yang digunakan untuk bertolak ke Annam-India dan mengalami titik puncak ramai pada abad ke-14 yaitu masa Majapahit yang didukung dengan berbagai kebijakan yang dicanangkan oleh Hayam Wuruk untuk mendorong majunya pelabuhan sebagai pintu gerbang perdagangan pelayaran, hal ini juga berdampak positif terhadap masyarkat sekitar pelabuhan karena hal ini mengakibatkan makmurnya penguasa dan masyarakat pelabuhan akibat dari ikut sertanya masyarakat dalam perdagangan tersebut. Peran pelabuhan terlihat menurun ketika munculnya pelabuhan yang lebih strategis seperti Gresik dan Surabaya pada abad selanjutnya karena banyak faktor yang menyebabkan pelabuhan ini sepi seperti pendangkalan tempat bersandarnya kapal, namun pada masa selanjutnya yaitu masa kolonial peran pelabuhan ini tetap digunakan sebagai pelabuhan pengangkut kayu jati dan tarum sebagai komoditas ekspor yang laku diperjual-belikan. Sedangkan dampak yang terlihat akibat dari aktivitas pelabuhan ini ada 2 hal yaitu dampak ekonomi dan juga dampak sosial, dampa ekonomi yang muncul bukan hanya mempengaruhi besarnya pendapatan Majapahit namun juga pada penguasa kota pelabuhan dan juga masyarakat karena besarnya perdagangan, tidak hanya sebagai tempat mencari keuntungan dalam perdagangan namun juga sebagai tempat bersosialisasi berbagai lapisan masyarakat yang tergabung dalam jaringan perdagangan tersebut sehingga mempengaruhi banyaknya orang asing yang menetap disekitar pelabuhan.   Kata kunci : Pelabuhan Kambang Putih, Majapahit, Tuban
PERKEMBANGAN PEMUKIMAN EROPA DI SURABAYA TAHUN 1910-1930 FANDY A, CHANDRA
Avatara Vol 5, No 3 (2017): Vol 5 Nomer 3 (Oktober 2017)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan kota Surabaya sebagai pusat aktivitas ekonomi menarik kedatangan bangsa asing untuk menetap di Surabaya. Keberadaan bangsa Eropa khususnya Belanda sebagai mayoritas, turut mempengaruhi perkembangan kota Surabaya. Pemukiman merupakan salah satu fasilitas penting sebagai penunjang berkembangnya sebuah kota. Pemerintah kolonial berinisiatif untuk membangun sebuah kawasan kota bergaya Eropa di Surabaya guna menjadikan kota Surabaya sebagai “rumah” kedua bagi masyarakat golongan Eropa.  Penelitian ini mengupas  mengenai perkembangan pemukiman Eropa di Surabaya tahun 1910-1930, serta menganalisis dampak yang ditimbulkan akibat kedatangan bangsa Eropa khususnya Belanda di Surabaya.                 Berdasarkan latar belakang tersebut, penulis mengajukan rumusan masalah berupa, perkembangan pemukiman Eropa beserta kehidupan masyarakat Eropa yang berdampak terhadap kondisi sosial-budaya dan ekonomi bagi  pribumi kota Surabaya. Dalam menjawab permasalahan tersebut, metode penulisan sejarah yang digunakan terdiri dari heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Penulisan ini dilandasi oleh teori perkembangan kota milik Branch yang berisi mengenai kondisi internal sebagai unsur penting berkembangnya sebuah kota. Kondisi internal tersebut berupa keadaan geografis, site, fungsi kota, sejarah dan kebudayaan, unsur-unsur umum. Kota Surabaya secara geografis terletak di posisi strategis yang menjadikannya sebagai pusat aktivitas ekonomi yang sudah terkenal sejak lama. Kota Surabaya dengan fungsi ekonominya mampu berkembang lebih pesat dibandingkan kota berfungsi tunggal.                 Pemukiman Eropa di Surabaya dibentuk pemerintah kolonial guna memudahkan masyarakat Eropa dalam menjalankan aktivitas sehari-harinya terutama aktivitas perekonomian di kota Surabaya. Menetapnya masyarakat Eropa di Surabaya menimbulkan interaksi sosial dengan pribumi. Interaksi sosial tersebut berdampak baik dari segi ekonomi hingga sosial-budaya pada kehidupan pribumi di kota Surabaya.     Kata Kunci : Perkembangan Kota, Pemukiman, Masyarakat Eropa, Surabaya
BRIGJEN KRETARTO DALAM PERISTIWA REVOLUSI FISIK DI SURABAYA 1945-1950 Cyntia, Dewi
Avatara Vol 5, No 3 (2017): Vol 5 Nomer 3 (Oktober 2017)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Revolusi fisik di Surabaya merupakan masa dimana terjadi pertempuran luar biasa antara rakyat Surabaya dan dibantu oleh rakyat dari berbagai daerah di Jawa Timur dalam melawan kolonialisme. Kedaulatan dan persatuan bangsa Indonesia diuji dengan datangnya orang-orang berkebangsaan Eropa, yaitu Belanda dan Inggris dengan membawa pasukan tentara militer. Peristiwa tersebut membuat Brigjen Kretarto tergerak untuk ikut berjuang melawan penjajah. Mulai dari peristiwa 10 November di Surabaya hingga peristiwa agresi militer Belanda kedua, Brigjen Kretarto senantiasa memiliki peran yang besar. Permasalahan yang diteliti dalam penelitian ini, antara lain (1) mengenai latar belakang kehidupan Brigjen Kretarto; (2) keterlibatan Brigjen Kretarto dalam peristiwa revolusi fisik di Surabaya 1945-1950;  dan (3) strategi militer yang dikembangkan Brigjen Kretarto dalam peristiwa revolusi fisik di Surabaya 1945-1950. Penelitian ini menggunakan metode sejarah yang meliputi, pertama heuristik (mengumpulkan data) yaitu pengumpulan arsip, manuskrip, buku, koran dan sumber lisan tentang Brigjen Kretarto dalam peristiwa Revolusi fisik di Surabaya 1945-1950. Kedua, kritik pada sumber-sumber yang telah diperoleh yaitu berupa arsip, manuskrip, buku, koran, dan sumber lisan Brigjen Kretarto dalam peristiwa Revolusi fisik di Surabaya. Ketiga, interpretasi yaitu menghubungkan fakta-fakta dengan sumber-sumber yang telah diperoleh. Keempat, historiografi menyusun penulisan sejarah sesuai dengan tema yang dipilih. Hasil penelitian ini menjelaskan bahwa Brigjen Kretarto memulai karier kemiliterannya dari mengikuti organisasi seinendan, PETA, hingga menjadi komandan BKR. Pada peristiwa 10 November di Surabaya 1945, Brigjen Kretarto mendapatkan tanggungjawab sebagai komandan sektor tengah bagian barat. Pada peristiwa agresi militer Belanda, Brigjen Kretarto kembali mendapatkan tanggungjawab memegang kekuasaan wilayah, yang meliputi Surabaya, Mojokerto, Jombang dan Gresik. Brigjen Kretarto berhasil mengembangkan beberapa strategi militer dalam melakukan perlawanan.  Mulai dari strategi linier yang merupakan strategi perlawanan secara langsung berhadapan dengan musuh. Strategi wehrkreise, dimana dilakukan pembagian wilayah-wilayah dalam lingkup pertahanan kepada komandan pertahanan dan strategi gerilya.   Kata Kunci : Revolusi fisik di Surabaya, Brigjen Kretarto, Strategi.
PENDIDIKAN DALANG PASINAON DHALANG ING SURAKARTA (PADHASUKA) TAHUN 1923-1940 MATUL M, KHARIS
Avatara Vol 5, No 3 (2017): Vol 5 Nomer 3 (Oktober 2017)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Seni pertunjukan wayang merupakan salah satu pertunjukan yang digemari oleh masyarakat Indonesia khusunya masyarakat di Jawa. Kegemaran masyarakat akan seni pertunjukan wayang, ditunjang dengan adanya beberapa faktor pendukung. Salah datu faktor pendukungnya adalah kemampuan dalang dalam mengemas dan menyajikan pertunjukan wayang yang semakin berkualitas. Mencetak dalang berkualitas perlu adanya guru yang memberikan pembelajaran secara profesional dan ahli dalam bidangnya. Alasan inilah yang menyebabkan Paku Buwono X untuk mendirikan sebuah pendidikan dalang dengan guru-guru yang berkualitas dalam bidangnya. Permasalahan yang diteliti dalam penelitian ini, antara lain : mengenai apa yang melatarbelakangi didirikannya pendidikan dalang Pasinaon Dhalang ing Surakarta (Padhasuka) pada tahun 1923 ?. Bagaimana sistem pendidikan dalang Pasinaon Dhalang Ing Surakarta (Padhasuka) di Surakarta ? Adakah  kontribusi pendidikan dalang Pasinaon Dhalang Ing Surakarta (Padhasuka) terhadap perkembangan seni pertunjukan wayang dan dalang di Surakarta?. Penelitian ini menggunakan merode sejarah dengan langkah-langkah sebagai berikut : pertama, heuristik (mengumpulkan data) yaitu mengumpulkan buku, arsip, dan majalah tentang Pasinaon Dhalang Ing Surakarta (Padhasuka). Kedua, kritik pada sumber yang diperoleh seperti buku, arsip dan majalah tentang Pasinaon Dhalang Ing Surakarta (Padhasuka). Ketiga, interpretasi dengan menghubungkan fakta-fakta yang diperoleh dan keempat, historiografi atau penulisan sejarah sesuai dengan tema yang dipilih. Hasil penelitian ini menjelaskan bahwa berdirinya Pasinaon Dhalang Ing Surakarta (Padhasuka) berpengaruh terhadap perkembangan seni pertunjukan wayang dan dalang di Surakarta. Seni pertunjukan wayang dan dalang semakin berkualitas dengan kemampuan mendalang yang mumpuni sesuai dengan tradisi keraton. Lulusan Pasinaon Dhalang Ing Surakarta (Padhasuka) telah menyebarluaskan seni pertunjukan wayang gaya Kasunanan, tidak hanya di wilayah Jawa Tengah melainkan sampai ke sebagian wilayah Jawa Timur. Kehadiran Pasinaon Dhalang Ing Surakarta (Padhasuka) menjadi pemacu berdirinya pendidikan dalang lain seperti Hanindhake Biwara Rancangan Dhalang (Habirandha) di Yogyakarata dan Pasinaon Dalang Mangkunegaran (PDMN) di Mangkunegara.   Kata Kunci : Paku Buwono X, Pendidikan Dalang Surakarta, Pedalangan Gaya Kasunanan.
PENGARUH SANGGAR BATIK RUMPAKA MULYA WRINGINANOM TERHADAP PERKEMBANGAN BATIK LOH BANDENG GRESIK TAHUN 2005-2012 Kharisma Agustina, Tria
Avatara Vol 5, No 3 (2017): Vol 5 Nomer 3 (Oktober 2017)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Batik di Indonesia mengalami perkembangan yang pesat. Hal itu ditandai dengan munculnya motif-motif batik baru diberbagai daerah. Dahulu motif batik hanya terbatas dan digunakan untuk menunjukkan status seseorang. Kini motif batik muncul sesuai dnegan ciri khas daerah tersebut. Munculnya motif batik yang beragam tidak lepas dari peran Sanggar Batik yang memberikan pelatihan tentang batik.                 Penelitian ini membahas (1) latarbelakang  berdirinya Sanggar Batik Rumpaka Mulya Wringinanom Gresik ; (2) pengaruh Sanggar Batik Rumpaka Mulya Wringinanom Gresik terhadap perkembangan batik Loh Bandeng Gresik tahun 2005-2012. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode penelitian sejarah, penelitian tersebut terdiri dari empat tahapan yaitu pengumpulan sumber, kritik sumber, interpretasi sumber dan historiografi.                 Sanggar Batik mempunyai peranan yang penting dalam perkembangan batik. Salah satunya yaitu Sanggar Batik Rumpaka Mulya Wringinanom Gresik yang menunjukkan eksistensinya dan membangkitkan semangat membatik,  sanggar ini  merupakan Sanggar Batik satu-satunya yang ada dikota Gresik yang memperkenalkan tentang batik Gresik.                 Pada tahun 1973 batik di Gresik mengalamai pasang surut, meskipun tidak sepesat di daerah lain, batik Gresik pernah populer dengan motif dan pewarnaan. Sanggar Batik Rumpaka Mulya membangkitkan kembali semangat membatik dengan menciptakan motif batik Loh Bandeng yang merupakan icon dari kota Gresik yaitu ikan bandeng. Sanggar ini juga memberiak pelatihan membatik yang nantinya diharapkan masyarakat mampu menciptakan motif-motif batik.   Kata Kunci : Motif Batik, Sanggar Batik Rumpaka Mulya Wringinanom, Batik Gresik
DINAMIKA STRATEGI DEWAN PIMPINAN DAERAH GOLONGAN KARYA KABUPATEN GRESIK PADA PEMILU 1977 - 1997 SAMBAGUS TRISANTOSO, MURI
Avatara Vol 5, No 3 (2017): Vol 5 Nomer 3 (Oktober 2017)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Golkar mendapat kekuasaan penuh dalam pemerintahan Orde Baru dengan kemenangan Golkar secara berturut-turut pada pemilu era Orde Baru. Hal ini menunjukkan bahwa, tujuan Golkar dalam berpolitik telah tercapai, karena memperoleh kekuasaan merupakan suatu tujuan dalam kehidupan politik. Sejak Golkar ikut dalam pemilu era Orde Baru, perolehan suara Golkar selalu meningkat dan tidak pernah kalah, namun di pemilu 1992 perolehan suara Golkar mengalami penurunan sebanyak 5,06%. Penurunan suara yang dialami oleh Golkar ini terjadi di seluruh daerah di Indonesia, termasuk juga di Kabupaten Gresik. Berdasarkan latar belakang masalah tersebut, rumusan masalah dalam penelitian ini adalah, 1) Bagaimana Kondisi Politik di Kabupaten Gresik Era Orde Baru? 2) Bagaimana Strategi DPD Golkar Kabupaten Gresik dalam Pemilu 1977 - 1997? 3) Mengapa perolehan suara DPD Golkar Kabupaten Gresik dalam Pemilu 1992 dan 1997 mengalami fluktuasi? Metode penelitian yang dipakai adalah metode penelitian sejarah. Langkah pertama yang dilakukan adalah heuristic, data diperoleh berupa arsip atau dokumen, koran sejaman dan data hasil-hasil penelitian terdahulu selain itu juga terdapat data wawancara. Langkah kedua adalah kritik yaitu untuk menguji kredibilitas sumber. Ketiga yakni interpretasi, yaitu menganalisis sumber dari sumber primer dan sekunder yang telah dilakukan kritik sehingga dapat menghasilkan sebuah fakta sejarah.. Keempat yaitu histiografi, pada tahap ini merupakan tahap akhir dari proses penyusunan penulisan skripsi yaitu menyusun fakta-fakta sejarah secara kronologis/historis. Hasil penelitian yang diperoleh adalah sebagai berikut, kondisi politik di kabupaten Gresik pada masa orde baru mengalami kemunduran dengan tidak konduksifnya situasi saat pemilu tahun 1971 dan pemilu 1977. Pada pemilu tersebut Babinsa diterjunkan di setiap Tempat Pemungutan Suara (TPS) untuk mengawal jalannya pemilu dan bertugas memenangkan Golkar dengan cara mengintimidasi para pemilih. Strategi yang dilaksanakan DPD Golkar dalam pemilu 1997 dapat dikatakan berhasil yakni dengan pembentukan Badan Pengendali dan Pemenangan Pemilu 1997, Kaderisasi dan Konsolidasi, Sosialisasi, Memobilisasi Elit Lokal, Kampanye dan Operasi Daftar Masyarakat yang Tergalang. Perolehan suara DPD Golkar Kabupaten Gresik mengalami fluktuasi pada pemilu 1987-1997. Faktor penyebab terjadinya fluktuasi adalah munculnya Khittah NU 1926 pada tahun 1984, perekrutan elit politik oleh Soerjadi dari golongan ABRI, tionghoa,dan putra putri Soekarno,  dan adanya konflik internal di tubuh PDI.   KATA KUNCI: DPD Golkar, Pemilu, Strategi, Kabupaten Gresik.
PROGRAM WAJIB BELAJAR DI SURABAYA TAHUN 1984-1985 DALAM PEMBERITAAN MEDIA MASSA CETAK Laras Wati, Nais
Avatara Vol 5, No 3 (2017): Vol 5 Nomer 3 (Oktober 2017)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Media massa dalam perkembangannya dipengaruhi oleh sistem politik pemerintahan yang ada. Fungsi dan peran media massa pada masa Orde Baru banyak terlihat dalam penyampaian berbagai kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah Orde Baru. Wajib belajar menjadi salah satu program kebijakan pendidikan yang memanfaatkan berbagai media yang ada untuk menyebarkan program tersebut. Perlusan kesempatan belajar dan suksesnya pelaksanaan program wajib belajar di Surabaya juga didukung oleh media massa cetak yang menyajikan berbagai artikel mengenai wajib belajar. Permasalahan yang diteliti dalam penelitian ini yaitu: (1) Bagaimana program wajib belajar di Surabaya Tahun 1984-1985 dalam pemberitaan media massa cetak? dan (2) Bagaimana dampak pemberitaan media massa cetak terhadap program wajib belajar di Surabaya Tahun 1984-1985?. Penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah yang terdiri dari empat langkah yakni: heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Surabaya Post merupakan surat kabar yang paling banyak memuat pemberitaan mengenai wajib belajar dibandingkan surat kabar lain, yakni Jawa Pos dan Kompas. Wajib Belajar dalam pemberitaan surat kabar Surabaya Post, Jawa Pos dan Kompas terlihat pada sajian artikel yang memberikan informasi mengenai wajib belajar. Pemberitaan dalam media massa cetak mengenai wajib belajar secara tidak langsung memberikan dampak terhadap wajib belajar di Surabaya. Dampak yang ditimbulkan adalah peningkatan pengetahuan masyarakat Surabaya mengenai wajib belajar dan peningkatan jumlah murid, guru dan gedung Sekolah Dasar.   Kata Kunci: Wajib Belajar, Surabaya, Media Massa Cetak.
IMPLEMENTASI DEMOKRATISASI PANCASILA MELALUI PENATARAN P-4 BAGI MAHASISWA BARU FPIPS IKIP SURABAYA ANGKATAN 1984-1988 LUSDIANA TAMPUBOLON, DINA
Avatara Vol 5, No 3 (2017): Vol 5 Nomer 3 (Oktober 2017)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penataran P-4 didasarkan kepada TAP MPR No. II/MPR/1978 tentang Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P-4) atau Ekaprasetya Pancakarsa. Penataran P-4 diberikan kepada seluruh lapisan masyarakat sebagai upaya pengamalan Pancasila dan UUD 1945 secara murni dan konsekuen. Mahasiswa sebagai penerus bangsa wajib mengamalkan Pancasila. IKIP Surabaya sebagai perguruan tinggi berbasis LPTK bertanggung jawab melahirkan tenaga pendidik yang berjiwa Pancasila. Oleh sebab itu, IKIP Surabaya berkontribusi penuh dalam upaya pengamalan Pancasila melalui penataran P-4. Permasalahan yang diteliti dalam penelitian ini yaitu (1) apa yang melatarbelakangi dilaksanakan penataran P-4 sebagai implementasi demokratisasi Pancasila bagi mahasiswa; dan (2) bagaimana proses implementasi demokratisasi Pancasila melalui penataran P-4 bagi mahasiswa baru FPIPS IKIP Surabaya angkatan 1984-1988. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode penelitian sejarah yang terdiri atas 4 tahap, pertama tahap heuristik, kedua verifikasi, ketiga interpretasi, dan keempat tahap historiografi. Hasil penelitian ini penataran P-4 bagi mahasiswa dilatar belakangi oleh (1) sebagai penyempurnaan kebijakan NKK dan BKK di perguruan tinggi; (2) sebagai upaya penyamaan persepsi mengenai Pancasila dan UUD 1945; dan (3) sebagai kewajiban mengamalkan Pancasila bagi seluruh warga negara Indonesia. Pelaksanaan penataran P-4 di IKIP Surabaya dimulai tahun 1984, bersamaan dengan kegiatan OPSPEK. Proses demokratisasi Pancasila diimplementasikan melalui kegiatan ceramah, diskusi, dan penugasan dengan materi butir-butir P-4 sebagai penekanan, memberikan pembiasaan kepada mahasiswa untuk mengimplementasikan butir-butir P-4 yang mencerminkan ciri-ciri demokrasi Pancasila. Demokratisasi Pancasila berhasil dalam ranah kognitif, namun kurang disertai dengan sikap dan tindakan. Hal tersebut disebabkan kebebasan mahasiswa yang dibatasi serta peran penatar yang tidak memberikan tauladan bagi peserta. Selain itu improvisasi materi dan penyegaran metode dibutuhkan untuk mengatasi kejenuhan mahasiswa. Kata kunci: Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P-4), Demokratisasi, IKIP Surabaya.
AKTIVITAS PERDAGANGAN DI KESULTANAN BANJAR TAHUN 1800-1860 EKAPUTRI SWARDHANI, RIZKY
Avatara Vol 5, No 3 (2017): Vol 5 Nomer 3 (Oktober 2017)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kesultanan Banjar merupakan kerajaan bercorak islam yang memiliki bandar perdagangan yang paling ramai di Kalimantan. Tujuan penulisan skripsi ini ialah untuk mendeskripsikan aktivitas perdagangan di Kesultanan Banjar tahun 1800-1860. Peneliti menggunakan metode penelitian sejarah yang terdiri dari 4 tahapan, yakni heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi dalam menjawab rumusan-rumusan masalah: 1) bagaimana faktor-faktor alam dapat mempengaruhi aktivitas perdagangan di Kesultanan Banjar tahun 1800-1860, 2) bagaimana aktivitas perdagangan di Kesultanan Banjar tahun 1800-1860, dan 3) bagaimana peranan sultan dan bangsa asing dalam aktivitas perdagangan di Kesultanan Banjar tahun 1800-1860. Hasil yang didapat dari hasil penelitian ialah lokasi Kesultanan Banjar yang terletak ditengah-tengah pelabuhan besar di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Semenanjung Malaka, dan Kep. Sulu (Filipina), serta melimpahnya komoditi lada sebagai primadona di pasaran internasional-lah yang telah membuat pelabuhannya ramai dikunjungi oleh pedagang asing. Agar tidak terjadi perselisihan antargolongan, maka sultan sebagai penguasa tertinggi negeri pun mengeluarkan kebijakan bahwa hanya ada 3 golongan yang berhak memegang kendali ekonomi di wilayah kesultanan, yakni sultan, mantri-mantri, dan bangsawan. Sultan memiliki kuasa penuh atas perdagangan dalam negeri, termasuk menjalin kerjasama politik dan ekonomi dengan para kolonial yang berakibat pada dihapuskannya Kesultanan Banjar dari bumi Kalimantan. Sedangkan tugas para mantri ialah sebagai tengkulak, yakni mengumpulkan hasil-hasil hutan dan industri dari warganya, kemudian mengirimkannya ke Banjarmasin melalui jalur sungai. Sedangkan kegiatan dagang bangsawan sama seperti para pedagang asing yang datang untuk mengimpor dan mengekspor barang hingga ke pedalaman Kalimantan.   Kata Kunci: Banjarmasin, Kesultanan Banjar, Perdagangan.
PERKEMBANGAN INDUSTRI BATIK SENNDANG DUWUR DI DAERAH PACIRAN LAMONGAN TAHUN 1980-2016 Azza, Kamaliatul
Avatara Vol 5, No 3 (2017): Vol 5 Nomer 3 (Oktober 2017)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Batik merupakan ciri khas dari kebudayaan bangsa kita yaitu bangsa Indonesia yang sudah dikenal diberbagai manca Negara,yang selalu berkembang dan berkembang dengan mengikuti trend-trend yang ada. Industri batik merupakan industri yang banyak berkembang di Indonesia. Salah satunya yaitu sentra industri batik Sendang Duwur di Kecamatan Paciran Kabupaten Lamongan. Industri Batik Sendang Duwur merupakan industri batik khas dari daerah Sendang Duwur Kecamatan Paciran Kabupaten Lamongan. Industri ini dilakukan tiap rumah-rumah(home industri) yang ada didesa Sendang Duwur. Desa Sendang Duwur merupakan salah satu desa yang sebagian masyarakatnya masih berusaha untuk melestarikan, meningkatkan proses pembuatan batik, serta mengembangkan batik tulis. Keterampilan membatik kebanyakan diperoleh secara turun-temurun, serta mendapat bimbingan dari Dinas Perindustrian Kabupaten Lamongan. Permasalahan yang dibahas dalam skripsi ini adalah : (1) Bagaimana latar belakang munculnya batik sendang duwur? (2) Bagaimana perkembangan batik sendang duuwur tahun 1980-2016? (3) Bagaimana kontribusi industri batik sendang duwur dalam menyokong perekonomian masyarakat di desa sendang duwur?. Penelitian ini mempunyai tujuan yaitu untuk : (1) mendeskripsikan latar belakang munculnya batik sendang duwur, (2) mendiskripsikan  perkembangan batik sendang duwur mulai tahun 1980-2016, (3) mendiskripsikan batik sendang duwur sebagai penyokong ekonomi masyarakat didesa sendang duwur kecamatan paciran kabupaten lamongan. Metode penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah, langkah awal yaitu heuristik, dengan mengumpulkan sumber-sumber terkait tentang industri batik di Desa Sendang Duwur, sumber primer didapat dari dokumentasi, Koran, wawancara dari narasumber. Sedangkan sumber sekunder didapatkan dari buku-buku dan jurnal yang terkait tentang industri batik. Kritik sumber dilakukan untuk memilah sumber baik primer maupun sekunder yang terkait dengan industri batik di desa Sendang Duwur. Interpretasi sumber digunakan untuk membandingkan sumber satu dengan sumber lain sehingga diperoleh fakta sejarah mengenai industri batik di Desa Sendang Duwur. Tahap akhir adalah historiografi, pada tahap ini serangkaian fakta yang telah ditafsirkan akan disajikan secara tertulis menjadi ceritera sejarah. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Batik Sendang Duwur mulai berkembang pada tahun 1980, pada era ini batik Sendang Duwur mulai berkembang yang dulunya batik pernah mengalami kemudururan di tahun 1965 an yang terjadinya pemberontakan PKI(Gestapu). Pada era 1980 ini para atasan telah mendengar bahwasannya batik sendang duwur telah mengalami keterpurukan yang akhirnya pihak pemda menggapinya dan pada saat itu sekitar tahun 1981 Bupati Lamongan yaitu bapak Syafii Ashari beliau merupakan kerabat dari bapak kepala desa sendang duwur yang pada saat itu bapak kepala desa Sendang Duwur dipimpin oleh bapak H. Mohammad Ishak, dan bapak Bupati Lamongan merupakan orang yang berasal dari Madura, akhirnya batik mulai dibangkitkan. Selanjutnya ditahun 1990an Batik Sendang Duwur batik Sendang Duwur selalu mengalami perkembangan dalam proses pengolahan warna batik sendang duwur yang sudah mulai berubah dengan warna bati pesisiran yang sudah memiliki lumayan banyak warna dan sudah menggunakan pewarnaan yang tidak alami lagi, sudah menggunakan zat pewarna buatan. Adapun warna yang mulai dikenal yaitu warna merah, jingga, kuning, hijau, ungu dan coklat muda sudah mulai marak di tahun 1990an. Pada tahun 2000an ini para pengrajin juga sudah mulai dilakukan pelatihan-pelatihan untuk meningkatkan hasil yang lebih baik, semakin canggihnya tekhnologi dan semakin berimajinasi para pemudanya. Adapun dalam proses pembuatannya masih sama hanya yang dikurangi sekiranya rumit dan sudah terbilang tidak berfungsi sudah ditinggalkan, misalnya dulu dalam proses pembuatan batik masih menggunakan yang namanya ngetel yaitu kain setelah diblat di rendam sehari semalam pada tahun 2000 ini sudah tidak dipakai lagi, karena juga tidak banyak terpengaruh pada hasil pembatikan. Industri Batik Sendang Duwur dapat memberika kontribusi terhadapad perekonomian masyarakat, menjadikan masyarakat sendang duwur juga mengalami peningkatan ekonomi, masyarakatnya yang semakin sejahtera. Kesejahteraan yang didapat yaitu berupa keuntungan dan proses penjualan yang semakin meningkat serta penghasilan para pekerjanya. Yang menjadikan masyarakat desa sendang duwur mempunyai kehidupan yang lebih baik.   Kata kunci : Industri batik sendang duwur, perkembangan, perekonomian.