cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Avatara
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
E-Journal AVATARA terbit sebanyak tiga kali dalam satu tahun, dengan menyesuaikan jadwal Yudisium Universitas Negeri Surabaya. E-Jounal AVATARA diprioritaskan untuk mengunggah karya ilmiah Mahasiswa sebagai syarat mengikuti Yudisium. Jurnal Online Program Studi S-1 Pendidikan Sejarah - Fakultas Ilmu Sosial UNESA
Arjuna Subject : -
Articles 456 Documents
SEJARAH PERKEMBANGAN TAREKAT QADIRIYAH WA NAQSABANDIYAH DIJAWA TIMUR, PADA MASA KEPEMIMPINAN MURSYID KH MUSTAIN ROMLY 1958-1984 ROKHMAN, MIFTAKHUL
Avatara Vol 5, No 3 (2017): Vol 5 Nomer 3 (Oktober 2017)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Salah satu media yang dipakai awal penyebaran Islam di Indonesia adalah Tarekat. Banyak sekali alirantarekat yang berkembang di Indonesia. Salah satu gerakan tarekat yang berkembang pesat dan mempunyaipengikut terbanyak di Indonesia adalah tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyah. Salah satu basis penyebarantarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyah yaitu di Jawa Timur, khususnya Pondok Pesantren Darul Ulum RejosoJombang.Berdasarkan latar belakang masalah tersebut maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalahsebagai berikut : 1) Apa tarekat dalam Islam?, 2) Bagaimana perkembangan tarekat Qadiriyah waNaqsabandiyah di Jawa Timur ?, 3) Bagaimana perkembangan tarekat Qadariyah wa Naqsabandiyah pada masakepemimpinan KH Mustain Romly 1958-1954? Teknik pengumpulan data dilakukan dengan metode heuristik,kritik dan intepretasi sumber, serta historiografi. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan perkembangantarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyah di Jawa Timur masa kepemimpinan KH Mustain Romly. Penelitian inimenggunakan pendekatan kualitatif. Fokus penelitian terhadap perkembangan tarekat Qadiriyah waNaqsabandiyah di Jawa Timur.Hasil Penelitian ini menunjukan bahwa Tarekat itu artinya jalan, petunjuk dalam melakukan suatuibadah sesuai dengan ajaran yang ditentukan dan dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW dan dikerjakan olehsahabat dan tabi’in, turun menurun sampai kepada guru-guru, sambung menyambung dan rantai-berantai tanpaterputus nasabnya. Dalam pengajaran tarekat, guru-guru yang memberikan petunjuk dan pimpinan dinamakan“Mursyid”, mengajar dan memimpin murid-muridnya sesudah mendapat ijazah dari gurunya pula. Jadi tidakbisa sembarangan dalam mengajarkan ilmu tarekat. Semua bimbingan guru itu dinamakan tarekat, dengantujuan untuk mengenal Allah SWT sebaik-baiknya. Tujuan tarekat sendiri adalah untuk mendekatkan dirikepada Allah SWT.Tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyah adalah sebuah tarekat yang merupakan univikasi dari dua tarekatbesar, yaitu Tarekat Qadiriyah dan Tarekat Naqsabandiyah. Penggabungan kedua tarekat tersebut kemudiandimodifikasi sedemikian rupa, sehingga berbentuk sebuah tarekat yang mandiri, dan berbeda dengan keduatarekat induknya. Tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyah didirikan oleh Syekh Ahmad Khatib Sambas. SyekhAhmad Khatib Sambas memiliki banyak murid dari beberapa daerah di kawasan Nusantara, dan beberapa orangkhalifah. Diantara khalifah-khalifahnya yang terkenal dan kemudian menurunkan murid-murid yang banyaksampai sekarang ini adalah : Syekh Abdul Karim Al-Bantani, Syekh Ahmad Thalhah Al-Cireboni, dan SyekhAhmad Hasbullah Al-Maduri.Untuk wilayah Jawa Timur tarekat ini berkembang melalui Syekh Ahmad Hasbullah Al Maduri.Khalifah Syekh Ahmad Khatib Sambas yang berasal dari pulau Madura. Tetapi beliau tinggal di Mekkah sampaiakhir hayatnya. Tarekat ini kemudian dibawa ke Jombang oleh KH Kholil Djuremi dari Madura juga. Dari sinitarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyah menyebar ke berbagai penjuru Jawa Timur. Salah satu mursyid tarekatQadiriyah wa Naqsabandiyah adalah KH Mustain Romly, pada masa beliau organisasi tarekat yang dipimpinnyamengalami perkembangan pesat dari jumlah anggota sampai manajemen keorganisasian yang lebih modern.Kata Kunci : Tarekat, Jawa Timur, KH Mustain Romly.
PEREBUTAN SENJATA JEPANG DI SURABAYA TAHUN 1945 YULISTA, FADMA
Avatara Vol 5, No 3 (2017): Vol 5 Nomer 3 (Oktober 2017)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perebutan Senjata Jepang di Surabaya merupakan langkah perjuangan seluruh elemen masyarakat yang terdiri Barisan Keamanan Rakyat  (BKR), Polisi Republik Indonesia, Pemuda Republik Indonesia (PRI), Laskar-laskar rakyat dan seluruh rakyat Surabaya. Rakyat Surabaya memilih melucuti senjata Jepang karena jumlahnya sangat banyak yang tersebar di beberapa gudang Senjata dan Markas Jepang di Surabaya. Gudang senjata Jepang yang terdapat di Surabaya sangatlah banyak, yakni: Markas Polisi Istimewa, Kompleks Lindeteves, Markas Kohara Butai di Gunungsari, Benteng Kedung Cowek, Markas Kempetai, Markas Kaigun Jepang, dan bahkan di Don Bosco menjadi gudang senjata Jepang yang terbesar di Asia Tenggara. Latar belakang penlitian adalah banyaknya gudang senjata yang tersebar di Surabaya, Jepang sebagai tentara yang memiliki kekuatan militer hebat mampu direbut senjatanya, serta hasil perebutan senjata digunakan untuk mempersenjatai militer Indonesia di Surabaya. Permasalahan yang diteliti dalam penelitian ini adalah (1) mengenai latar belakang perebutan senjata Jepang di Surabaya tahun 1945; (2) proses terjadinya perebutan senjata Jepang di Surabaya tahun 1945. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui proses terjadinya perebutan senjata Jepang di Surabaya tahun 1945, tempat yang menjadi sasaran perebutan senjata serta hasil senjata yang diperoleh. Penelitian ini menggunakan metode penulisan sejarah, yakni: heuristik, kritik, interpretasi dan Heuristik, sehingga mampu menyusun skripsi dengan kronologis. Latar belakang perebutan senjata Jepang di Surabaya tahun 1945 adalah keinginan arek-arek Surabaya mempersenjatai diri untuk menghadapi kemungkinan pertempuran melawan Sekutu dan Belanda. Alasan merebut senjata Jepang karena Jepang sebagai satu-satunya tentara yang memiliki banyak senjata setelah mampu mengalahkan Belanda. Faktor yang mempengaruhi adalah jumlah masa yang banyak yang meliputi berbagai elemen masyarakat yakni, Komite Nasional Indonesia Daerah (KNID) Surabaya, Barisan Keamanan Rakyat (BKR), Pemuda Republik Indonesia (PRI),Polisi Istimewa dan rakyat. Kekalahan Jepang yang menjadi alasan untuk meminta Jepang menyerahkan senjatanya serta sebagai wujud janji Jepang membantu Kemerdekaan Indonesia. Perebutan senjata dilakukan dengan beberapa proses, yakni: (1) Penyerbuan langsung dengan mengepung gudang senjata di Don Bosco, Markas Kempetai, Markas Kaigun Jepang di daerah Gubeng, tempat reparasi tank di daerah Lindeteves, St. Louis dan Kedung Coek. (2) Perundingan dengan komandan Jepang. (3) Perampasan senjata pada tentara Jepang yang sedang berpatroli dijalanan. Berbagai proses perebutan senjata Jepang yang dilakukan arek-arek Surabaya berhasil mendapatkan banyak senjata. Senjata Jepang yang diperoleh terdiri dari berbagai macam senjata, yakni: senapan Arisaka, Karaben, pistol, granat, pelor, tank dan lainnya.   Kata Kunci: Senjata Jepang, Gudang Senjata Jepang 
EKSISTENSI HANSIP DI SURABAYA TAHUN 1962-1982 CHRYSTIANA AGUSTIN, DIAN
Avatara Vol 5, No 3 (2017): Vol 5 Nomer 3 (Oktober 2017)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hansip merupakan organisasi atau wadah yang menampung partisipasi rakyat dalam rangka pembelaan negara. Kehadiran Hansip Sangat sentral dengan perjalanan hidup bangsa sesuai dengan kontribusi dan peranan yang sangat mendukung terhadap terciptanya ketertiban dan keamanan dalam masyarakat. Dalam perkembanganya Hansip mengalami beberapa proses refungsionalisasi oleh pemerintahan. Berdasarkan latar belakang masalah tersebut maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1) Bagaimana latar belakang lahirnya Hansip di Indonesia? 2) Bagaimana Eksistensi Hansip di Surabaya tahun 1962-1982 ? metode penelitian menggunakan metode penelitian sejarah yang terdiri dari empat tahap yaitu heuristik, kritik, interprestasi serta historiografi.  Sedangkan metode pengumpulan data diperoleh dengan cara studi kepustakaan, kearsipan dan juga wawancara. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan Eksistensi Hansip di Surabaya tahun 1962-1982. Hasil penelitian ini memberikan pengetahuan tentang latar belakang lahirnya Hansip di Indonesia dimana pada waktu itu rakyat bertekad menyelesaikan perjuangan kemerdekaan. Dalam menyelesaikan perjuangan tersebut bukan hanya dibutuhkan pertahanan di barisan depan namun juga di barisan belakang untuk membantu angkatan bersenjata menghadapi serangan dari musuh. Partisipasi rakyat yang sangat tinggi di barisan belakang itulah yang kemudian dibentuklah organisasi Pertahanan Sipil. Tugasnya  mengatur partisipasi rakyat untuk membela negara di bidang kemanusiaan, pemerintahan, penanggulangan bencana dan penyelenggaraan ketertiban umum. Sedangkan keberadaan Hansip di Surabaya mengalami perkembangan dimana pada mulanya rakyat dengan sukarela ikut serta menjadi anggota hansip menjadi semakin terorganisir dengan baik dan memiliki peran-peran penting didalam kehidupan masyarakat juga ketahanan nasional. Kata Kunci: Bela Negara, Pertahanan Sipil, Surabaya
KEHIDUPAN KULI KONTRAK JAWA DI PERKEBUNAN TEMBAKAU SUMATERA TIMUR TAHUN 1929-1942 HERDIANSYAH, ERVIN
Avatara Vol 5, No 3 (2017): Vol 5 Nomer 3 (Oktober 2017)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Diterapkannya politik etis oleh pemerintah kolonial Hindia-Belanda membuat kehidupan rakyat pribumi mengalami perubahan, atas dasar politik etis itulah banyak orang-orang Jawa berbondong-bondong meninggalkan pulau Jawa untuk mencari kehidupan yang lebih baik lagi. Salah satu tempat yang menjadi tujuan emigrasi orang-orang Jawa adalah Sumatra Timur, hal itu dikarenakan di Sumatra Timur terjadi pembukaan perkebunan secara besar-besaran oleh para investor asing. Namun kehidupan para kuli-kuli Jawa ini sangat jauh dari harapan mereka yang berharap dapat merubah nasib di tanah perantauan, para kuli-kuli ini diperlakukan secara tidak manusiawi oleh petinggi-petinggi perkebunan.   Permasalahan yang diteliti dalam penelitian ini, antara lain (1) bagaimana keadaan perkebunan tempat kuli kontrak bekerja; (2) Mengapa banyak orang Jawa yang menjadi kuli kontrak di perkebunan tembakau; dan (3) bagaimana kehidupan kuli kontrak di perkebunan Sumatera Timur. Adapun metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode sejarah dengan empat tahap, antara lain tahap pertama heuristik, yang merupakan tahapan untuk mengumpulkan sumber; tahap kedua kritik; ketiga tahap intepretasi, tahap melakukan perangkaian terhadap fakta yang ada berdasarkan intepretasi dalam memahami data sejarah yang telah melalui proses kritik sebelumnya; keempat historiografi, pada tahap ini peneliti melakukan penulisan sejarah.   Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa kehidupan kuli kontrak Jawa selama bekerja di perkebunan tembakau jauh dari kata makmur, meski sudah dibangun beberapa fasilitas dan perkebunan mempunyai penghasilan terbesar di Hindia-Belanda karena hasil penjualan tembakau. Hal ini dikarenakan berbagai tindakan semena-mena dari para atasan mereka, terlebih lagi beberapa peraturan yang dilanggar oleh petinggi perkebunan. Kehidupan mereka di perkebunan tidak sesuai dengan ekspektasi awal mereka ketika mereka bekerja di perkebunan.   Kata Kunci: Kuli Kontrak, Tembakau, Sumatera Timur.
HENGKY GUN ATLET TINJU PROFESIONAL SASANA SAWUNGGALING SURABAYA TAHUN 1983-1990 SETIASIH, ATIKA
Avatara Vol 5, No 3 (2017): Vol 5 Nomer 3 (Oktober 2017)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hengky Gun merupakan atlet tinju profesional yang berasal dari Ambon, namun besar sebagai petinju Surabaya. Berawal dari Setijadi Laksono yang melirik bakatmya sebagai seorang petinju dan menariknya untuk bergabung di Sasana Sawunggaling, prestasi Hengky Gun melejit sebagai petinju kelas ringan junior versi WBC serta mempertahankan sabuk juara kelas ringan junior OPBF selama lima kali berturut-turut. Hengky Gun adalah salah satu sosok atlet yang menunjukkan bahwa untuk meraih segala sesuatu tidak ada yang instan dan memerlukan kerja keras serta disiplin Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka penulis mengajukan rumusan masalah sebagai berikut: (1) Apa yang melatarbelakangi Hengky Gun menekuni olahraga tinju?; (2) bagaimana prestasi Hengky Gun sebagai atlet tinju professional tahun 1983-1990?. Permasalahan-permasalahan tersebut di berikan penjelasan dengan melakukan analisis terhadap data-data dan sumber-sumber yang didapatkan melalui tahapan metode penelitian sejarah. Tahapan metode penelitian sejarah yang dilakukan meliputi, heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Berdasarkan hasil analisis terhadap data dan sumber-sumber yang didapatkan, diperoleh hasil bahwa Hengky Gun mengeluti dunia tinju untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga mengingat Hengky Gun berasal dari keluarga yang sederhana. Kerja keras Hengky Gun berbuah manis, jatuh bangunnya mengantarkannya menjadi juara dunia Tinju di kancah Asia-Pasifik. Prestasinya tersebut turut membawa nama baik Indonesia di bidang tinju. Diakhir perjalanan karirnya yang panjang kurang lebih satu dekade, Hengky Gun berhasil meraih gelar kelas ringan junior, dilanjutkan dengan kelas ringan junior WBC Internasional, terakhir sebelum gantung sarung Hengky meraih gelar kelas ringan junior versi OPBF.   Kata Kunci: Tinju, Hengky Gun, Biografi
ARSITEKTUR RUMAH DI KAWASAN CAGAR BUDAYA TROWULAN (STUDI PEMUKIMAN MAJAPAHIT ABAD KE-14 M) ARMINTIA SANI, RINA
Avatara Vol 5, No 3 (2017): Vol 5 Nomer 3 (Oktober 2017)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pusat kerajaan Majapahit terletak di Trowulan, sebuah kecamatan di Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, Indonesia. Di kecamatan Trowulan terdapat puluhan situs seluas hampir 100 kilometer persegi berupa bangunan, temuan arca, gerabah, dan pemakaman peninggalan Kerajaan Majapahit. Penelitian ini merupakan upaya untuk merekonstruksi arsitektur rumah di kawasan cagar budaya Trowulan sebagai situs Majapahit. Rekonstruksi rumah tersebut adalah rumah pada abad ke-14 M. Kondisi artefak serta situs peninggalan kerajaan Majapahit yang dapat ditemui hingga abad ke-21 sangat memberikan informasi dalam penelitian ini. Akan tetapi, artefak serta situs peninggalan kerajaan Majapahit banyak yang rusak karena alam. Latar Belakang masalah diatas menghasilkan rumusan masalah (1) Bagaimana struktur ibukota Majapahit pada abad ke-14 M, (2) Bagaimana pola pemukiman di Majapahit pada abad ke-14 M, Bagaimana arsitektur banguan rumah di situs Trowulan sebagai situs Majapahit. Langkah yang digunakan pada metode penelitian adalah heuristik yaitu pengumpulan sumber-sumber primer maupun sekunder terkait pemukiman serta arsitektur rumah pada abad ke-14 M, kritik yaitu tahap untuk menelaah sumber yang telah ditemukan, interpretasi yaitu tahap melakukan analisis terhadap fakta-fakta yang ditemukan dari sumber baik primer maupun sekunder, historiografi yaitu tahap penyajian hasil laporan penelitian dalam bentuk tulisan dengan penulisan sejarah. Rumah-rumah yang ada di Kota Majapahit pada masa itu beragam, mungkin keberagaman tersebut berdasarkan status sosial masing-masing pemilik rumah. Pada masa itu rumah-rumah tertata rapi dan indah. Keindahan tersebut karena di halaman rumah terdapat berbagai bunga Keindahan dari rumah-rumah pada masa Majapahit juga terlihat dari kuatnya tiang-tiang rumah, berukir indah dan berwarna-warni. Kakinya berbahan dari batu merah yang bergambar beraneka lukisan. Genting atap rumah-rumah juga menarik perhatian akan keindahannya. Selain itu, beberapa bahan yang digunakan dalam membangun rumah adalah batu berwarna merah, saat ini disebut dengan batu bata. Kata Kunci: Kerajaan Majapahit, arsitektur, dan cagar budaya Trowulan 
PERAN PERSATUAN PERJUANGAN DALAM REVOLUSI INDONESIA TAHUN 1946 ROHMAN, ABDUL
Avatara Vol 5, No 3 (2017): Vol 5 Nomer 3 (Oktober 2017)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pada masa awal kemerdekaan Indonesia tahun 1946, kemerdekaan Indonesia yang baru saja diraih sudah mendapatkan tantangan dengan datangnya Belanda dan Sekutu. Dalam usaha mempertahankan kemerdekaan Indonesia terdapat dua cara yang dilakukan, Pemerintah pusat dibawah Perdana Menteri Sjahrir dengan cara politik diplomasi dan para tokoh politik seperti Tan Malaka yang lebih memilih cara konfrontasi langsung bertempur dengan mengangangkat senjata melawan Belanda dan Sekutunya sesuai dengan semangat rakyat Indonesia dan kaum pemuda. Permasalahan yang dibahas dalam skripsi ini adalah: 1. Bagaimana sejarah berdirinya organisasi Persatuan Perjuangan?, 2. Bagaimana peran organisasi Persatuan Perjuangan dalam revolusi di Indonesia tahun 1946?. Penelitian ini mempunyai tujuan yaitu untuk: 1. mendeskripsikan sejarah berdirinya organisasi Persatuan Perjuangan, 2. mendiskripsikan  peran organisasi Persatuan Perjuangan dalam keberhasilan revolusi di Indonesia tahun 1946. Hasil penelitian ini adalah sebagai berikut, bahwa dalam mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatan Indonesia dari Belanda dan Sekutu, bangsa Indonesia terbagi menjadi dua cara. Pertama pemerintah dibawah Perdana Menteri Sjahrir menggunakan politik diplomasi, Kedua dengana cara konfrontasi langsung sesuai dengan semangat, keberanian rakyat Indonesia dan kaum pemuda. Kebijakan diplomasi yang dijalankan pemerintah menimbulkan kekecewaan, sehingga para tokoh politik yang tidak sejalan mendirikan Persatuan Perjuangan guna menghadapi Belanda dan Sekutunya. Namun seiring berjalannya waktu Persatuan Perjuangan menjadi organisasi oposisi dalam pemerintahan Perdana Menteri Sjahrir. Peran Persatuan Perjuangan terlihat melalui pengiriman delegasi terhadap pemerintah, aksi massa, dan Minimum Progam jelas merupakan bukti nyata untuk dapat berusaha mewujudkan cita-cita rakyat dan kaum pemuda Indonesia yakni merdeka 100%. Perbedaan cara yang dilakukan juga berakibat peran Persatuan Perjuangan hanya bertahan dalam waktu tiga bulan. Persatuan Perjuangan dituduh membahayakan dan mengancam persatuan Indonesia, sehingga mengakibatkan berkurangnya organisasi pendukung Persatuan Perjuangan dan organisasi ini dibubarkan pada tanggal 6 juni 1946. Kata Kunci : Mempertahankan kemerdekaan, Diplomasi, Konfrontasi, Persatuan Perjuangan.
INDONESISCHE VOETBAL BOND MAGELANG (IVBM) : 1925-1942 RAHMAD RAMADHANA, EKO
Avatara Vol 5, No 3 (2017): Vol 5 Nomer 3 (Oktober 2017)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Persebaran permainan sepak bola yang diperkenalkan oleh pemerintah kolonial Belanda di Indonesia ternyata memunculkan sebuah kesenjangan sosial. Dimana pada mulanya hanya kaum kolonial Belanda saja yang boleh memainkannya. Hal ini menimbulkan keinginan kaum bumi putra untuk bisa memainkan permainan sepak bola ini. Lambat laun perkembangan sepak bola sudah menyebar keseluruh pelosok daerah di Indonesia. Salah satu pemuda yang juga menyukai sepak bola, yakni Ir. Soeratin memiliki gagasan untuk memanfaatkan para pemuda yang banyak menggemari permainan sepak bola untuk menjadikan sepak bola sebagai salah satu alat untuk menyebarkan semangat nasionalisme di kalangan pemuda.              Permasalahan yang akan diteliti dalam penelitian ini antara lain : Bagaimana latar belakang pendirian Indonesische Voetbal Bond Magelang (IVBM), Bagaimana Indonesische Voetbal Bond Magelang (IVBM) dalam  relasi sosial masyarakat Magelang dan Bagaimana kontribusi Indonesische Voetbal Bond Magelang (IVBM) dalam usaha perjuangan (nasionalisme). Dalam penelitian ini digunakan metode penelitian sejarah yang terdiri dari empat tahapan yaitu heuristic, kritik, interpretasi dan historiografi.              Hasil dari penelitian ini adalah sebagai berikut : Permainan sepak bola bagi kalangan bumiputera dijadikan sebagai alat perjuangan bangsa untuk merdeka, hal ini ditunjukkan oleh Indonesische Voetbal Bond Magelang (IVBM) atau PPSM Magelang yang menjadi salah klub  persepak bolaan dikalangan bumi putera. Meskipun Indonesische Voetbal Bond Magelang (IVBM) atau PPSM Magelang bukan klub yang kuat dibandingankan dengan persepakbolaan bumi putera yang lainnya tapi kaya akan nilai historis bahwa Indonesische Voetbal Bond Magelang (IVBM) atau PPSM Magelang juga turut serta dalam pendirian PSSI dan terus untuk menyuarakan tetang Nasionalisme dalam sepak bola, bidang politik, sosial, ekonomi dan budaya ditransformasikan dalam sepak bola dimana aspek tersebut bisa di jadikan satu untuk alat perjuangan bangsa.   Kata kunci : Sepakbola, Nasionalisme, IVBM, Magelang
TRADISI MANGANAN DI DESA CEKALANG KECAMATAN SOKO KABUPATEN TUBAN TAHUN 1991-2016 PRIDHE KAWANA, YHU
Avatara Vol 5, No 3 (2017): Vol 5 Nomer 3 (Oktober 2017)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tuban pada zaman dahulu merupakan  pelabuhan penting sejak masa Airlangga pada pertengahan pertama abad ke 11, ada kemungkinan bahwa  Tuban merupakan pelabuhan tempat orang-orang India berlabuh dan menginjakan kakinya untuk berdagang dan menyebarkan agama Hinduisme serta Budhisme hal ini terlihat ditemukannya prasasti dari penguasa Hindhu serta patung Budha yang telah rusak. Kabupaten Tuban juga memiliki banyak kearifan lokal salah satunya adalah Tradisi Manganan yang ada di Desa Cekalang Kecamatan Soko .Tradisi Manganan adalah tradisi ritual adat yang dilakukan sebagai wujud rasa syukur terhadap Tuhan yang menciptakan bumi dan alam semesta. Tradisi Manganan ini diadakan setahun sekali pada hari rabu pon setelah panin raya padi tradisi ini dilaksanakan dengan harapan nikmat dan rizki masyarakat semakin bertambah. seiring perkembangan zaman serta pengaruh kuatnya islamisasi Tradisi manganan di Desa Cekalang mengalami perkembangan mulai dari proses pelaksanaan sampai dengan makna dalam tradisi ini. Rumusan masalah dalam penelitian ini, antara lain : (1) Bagaimana perubahan Tradisi Manganan di Desa Cekalangtahun 1991-2016?(2) Bagaimana respon Masyarakat Desa Cekalang terhadap pelestarian Tradisi Manganan ? Adapun metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode sejarah dengan empat tahap, antara lain: tahap pertama heuristik, yang merupakan tahapan untuk mengumpulkan berbagai sumber; tahap kedua kritik, tahap kritik menggunakan kritik interen dengan melakukan kritik terhadap isi sumber; ketiga tahap intepretasi, tahap melakukan perangkaian terhadap fakta yang ada berdasarkan intepretasi dalam memahami data sejarah yang telah melalui proses kritik sebelumnya; keempat historiografi, setelah melalui tahap-tahap sebelumnya, pada tahap ini penulis melakukan penulisan terhadap sejarah. Penelitian mengenai Tradisi manganan di Desa Cekalang Kecamatan Soko Kabupaten Tuban Tahun 1991-2016 berhasil menemukan berbagai perubahan dan perkembangan dalam tradisi Manganan. Adapun perkembangan dalam tradisi manganan adalah berubahnya proses tradisi yang awalnya masih orientasinya kepada roh nenek moyang  kemudian berganti kepada Allah SWT hal ini di pengaruhi oleh kuatnya pengaruh ulama islam pada saat itu sehingga berhasil merubah  proses dari tradisi ini. Kemudian hilangnya salah satu dalam proses seperti diadakan hiburan rakyat seperti kesenian wayang, sandur langen tayub diganti dengan tahlil bersama yang merupakan kegiatan yang positif dalam memperingati tradisi Manganan. Perubahan dan perkembangan yang terjadi dalam tradisi manganan disebabkan oleh beberapa faktor seperti modernisasi, perubahan pola fikir masyarakat desa cekalang yang semakin rasional berdasar pada peran tokoh ulama yang ada di desa cekalang. Perubahan dan perkembangan yang terjadi pada tradisi manganan tidak merubah antusias warga desa cekalang untuk tetap melaksanakan tradisi manganan tersebut setiap tahun. Sehingga wujud kerukunan, gotong royong, dan silaturahmi dalam lingkup warga desa cekalang sebagai bentuk kontribusi interaksi sosial dari pelestarian tradisi manganan yang dijaga sampai sekarang. Kata Kunci: Tradisi Manganan, Modernisasi, Islamisasi, Interaksi sosial
PELAKSANAAN INPRES NO. 9/1975 (TRI) DI PG KREMBOONG KABUPATEN SIDOARJO 1975-1991 TANAMA, JOHAN
Avatara Vol 5, No 3 (2017): Vol 5 Nomer 3 (Oktober 2017)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kabupaten Sidorjo merupakan salah satu kabupaten yang berada di Jawa Timur. Kabupaten Sidoarjo berbatasan dengan kota Surabaya dan kabupaten Gresik di utara, selat Madura di timur, Kabupaten Pasuruan di selatan, serta Kabupaten Mojokerto di barat. Dilihat dari letak geografis Kabupaten Sidoarjo memiliki potensi pertanian yang cukup besar.Pertanian di Kabupaten Sidoarjo pada umumnya sebagian besar ditanami padi dan tanaman tebu. Dengan adanya pertanian tebu yang cukup besar di Kabupaten Sidoarjo, tidak terlepas dari adanya pabrik gula di wilayah Kabupaten Sidoarjo.Pabrik gula di Kabupaten Sidoarjo dulu pernah mempunyai 16 pabrik gula yang berkembang begitu pesat sehingga membuat perekonomian Kabupaten Sidoarjo berkembang. Meskipun sekarang hanya ada 4 pabrik gula yang berdiri di Kabupaten Sidoarjo termasuk PG Kremboong yang ada di Kecamatan Krembung. Permasalahan yang terjadi di PG Kremboong seperti latar belakang berdirinya PG Kremboong di kabupaten Sidoarjo, peran INPRES No. 9/1975 (TRI) dalam meningkatkan produktivitas di PG Kremboong kabupaten Sidoarjo 1975-1991 serta pengaruh keberadaan INPRES No. 9/1975 (TRI) terhadap kemakmuran petani tebu dan karyawan di PG Kremboong. Maka diperoleh hasil bahwa latar belakang berdirinya PG Kremboong disebabkan oleh kebutuhan akan gula meningkat sehingga orang Belanda yang bernama N.V. COOY dan COSTER VAN VOOR HOUT pada tahun 1847 di Desa Krembung mendirikan PG Kremboong. Di PG Kremboong bukan hanya digunakan sebagai produksi gula saja, di masa kedudukan Jepang PG Kremboong digunakan untuk pembuatan senjata perang guna membantu kekuasaan Jepang di Indonesia. Peran INPRES No. 9/1975 (TRI) dalam meningkatkan produktivitas di PG Kremboong kabupaten Sidoarjo 1975-1991 adalah adanya rendamen tanaman tebu meliputi jenis tebu dan lahan sawah dan usaha budidaya tebu. Adanya efisiensi pabrik meliputi peralatan pabrik dan proses pengolahan dan adanya sumber daya manusia. Pengaruh keberadaan INPRES No. 9/1975 (TRI) terhadap kemakmuran petani tebu dan karyawan di PG Kremboong adalah membantu pemberian modal usaha tani seperti adanya dukungan kelembagaan perkeriditan dan koperasi unit desa. Adanya hubungan yang baik antara pekerja dan PG Kremboong serta adanya pemberian imbalan untuk para pekerja di PG Kremboong. Kata Kunci: INPRES No. 9/1975, Tebu Rakyat Intensifikasi, PG Kremboong