cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Avatara
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
E-Journal AVATARA terbit sebanyak tiga kali dalam satu tahun, dengan menyesuaikan jadwal Yudisium Universitas Negeri Surabaya. E-Jounal AVATARA diprioritaskan untuk mengunggah karya ilmiah Mahasiswa sebagai syarat mengikuti Yudisium. Jurnal Online Program Studi S-1 Pendidikan Sejarah - Fakultas Ilmu Sosial UNESA
Arjuna Subject : -
Articles 456 Documents
SEJARAH KESENIAN LUDRUK KARYA BUDAYA MOJOKERTO TAHUN 1969 – 2009 S M A W A T I, I
Avatara Vol 5, No 3 (2017): Vol 5 Nomer 3 (Oktober 2017)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kesenian Ludruk Karya Budaya merupakan sebuah kesenian teater tradisional yang lahir di Kabupaten Mojokerto desa Canggu Kecamatan Jetis tepatnya tanggal 29 Mei 1969 oleh seorang anggota Polisi Polsek Jetis yang bernama Cak Bantu. Masyarakat Canggu sendiri menginginkan adanya grup ludruk yang mampu menghibur seperti sebelumnya. Keinginan masyarakat Canggu ini tidak lain merupakan wujud rasa kerinduan masyarakat terhadap pertunjukan Ludruk yang sebelumnya telah vakum selama 2 tahun dikarenakan peristiwa G 30 S/PKI. Berdasarkan latar belakang masalah tersebut maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : 1) Bagaimana sejarah  Ludruk Karya Budaya di Mojokerto?, 2) Bagaimana peran pemerintah orde baru terhadap Ludruk Karya Budaya Mojokerto ? Teknik pengumpulan data dilakukan dengan metode heuristik, kritik dan intepretasi sumber, serta historiografi. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tentang Sejarah Kesenian Ludruk Karya Budaya di Mojokerto Tahun 1969 - 2009 . Penelitian ini menggunakan pendekatan historis. Setting penelitian dilakukan di desa Canggu Kecamatan Kabupaten Mojokerto. Hasil Penelitian ini menunjukan bahwa Kesenian Ludruk telah muncul sebelum tahun 1945 tetapi semenjak pasca G 30 S/PKI tahun 1965 banyak ludruk dibubarkan karena dianggap bagian dari LEKRA. Setelah itu pada tahun 1967 ludruk mulai bangkit, namun berada di bawah naungan ABRI. Salah satu grup Ludruk yang dibawah naungan dan dibina langsung oleh ABRI yaitu Ludruk Karya Budaya yang ada di Mojokerto, kesenian Ludruk Karya Budaya dalam perjalanannya pada tahun 1970-an mengalami pasang surut dalam perjalanan keseniannya.Pada tahun 1979-an Ludruk Karya Budaya mengalami perkembangan yang sangat pesat yang awalnya hanya nobong atau pentas keliling dari desa ke desa diwilayah Mojokerto akhirnya bisa nobong diluar wilayah Mojokerto seperti di wilayah Jombang, pada pemerintahan Orde Baru Ludruk Karya Budaya juga menjadi media pembangunan, dimana di dalam pementasannya banyak menampilkan pesan-pesan pembangunan yang memihak pada pemerintah Orde Baru, peran pemerintah Orde Baru sangat dominan dalam melakukan pemberdayaan pada kesenian Ludruk dengan melakukan pembinaan – pembinaan terhadap grup Ludruk tak terkecuali grup Ludruk Karya Budaya itu sendiri. Di awal tahun 1990an era audiovisual membuat semua grup ludruk harus mempunyai strategi baru untuk mempertahankan eksistensinya. Upaya-upaya dilakukan agar Ludruk Karya Budaya tetap eksis. Seiring berjalannya waktu,masyarakat mulai mengurangi minatnya terhadap kesenian ludruk karena banyaknya aksi-aksi yang lebih memikat minat masyarakat itu sendiri. Kata Kunci : Kesenian, Ludruk, Luduk Karya Budaya, Mojokerto
PENGIBARAN BENDERA MERAH PUTIH OLEH PEMUDA DISEPANJANG JALAN KEMBANG JEPUN SURABAYA PASCA PROKLAMASI TAHUN 1945 Hikam, Nuhairul
Avatara Vol 5, No 3 (2017): Vol 5 Nomer 3 (Oktober 2017)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Zaman kolonial Belanda Surabaya telah berkembang pesat sebagai kota dagang dan indutri. Bukan hanya itu saja Surabaya juga dijadikan sebagai pangkalan utama angkatan laut Belanda. Setelah kekuasaan Berakhir dan digantikan Jepang yang kemudian membawa babak baru bagi kehidupan rakyat Indonesia terutama masyarakat Surabaya. banyak rakyat yang menderita karena tindakan pemerintahan Jepang, Penderitaan ini yang membuat rakyat bersatu menginginkan kemerdekaan. Bulan Agustus 1945 setalah berita kekalahan Jepang tersebar oleh rakyat Surabaya, banyak terjadi peristiwa seperti adanya penyerbuan terhadap tentara Jepang untuk merampas senjata mereka, dan kemudian disusul setelah proklamsi terjadi  aksi pengibaran bendera merah putih di Surabaya. aksi ini dilakukan di beberapa daerah Surabaya seperti di Jalan  Kembang Jepun, Jalan Kampemen, daerah Ngagel. Permasalahan yang akan dibahas dalam penelitian ini diantaranya (1) Mengapa Kembang Jepun dianggap penting sebagai target pengibaran bendera merah putih. (2) Bagaimana peran pemuda dalam pengibaran bendera merah putih di sepanjang jalan Kembang Jepun Surabaya pada tahun 1945. Penelitian ini menggunakan metodologi penelitian sejarah yang terdiri dari heoristik,kritik, interpretasi, dan historiografi. untuk memperoleh hasil yang maksimal dalam penelitian ini maka peneliti menggunakan beberapa sumber primer seperti arsip dokumen Riwayat kesaksian Hsjim Amin pelaku pengibaran bendera merah putih di Kembang Jepun Surabaya, arsip dokumen Riwayat kesaksian Abdul Wahab pelaku pengibaran bendera merah putih di Kembang Jepun Surabaya, dan wawancara dengan beberapa pelaku atau saksi dari periswa. Selain itu juga dibantu dengan buku-buku yang berkaitan pengibaran bendera merah putih oleh pemuda di Kembang Jepun. Dari hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Kembang Jepun dinggap penting sebagai lokasi pengibaran bendera merah putih karena Sebelumnya aksi ini diprioritas utamakan daerah yang terdapat bangunan-bangunan besar dan juga tempat penting lainnya. Diantara daerah-daerah yang terdapat di Surabaya Kembang Jepun merupakan salah satu tempat yang dijadikan sebagai lokasi pengibaran bendera merah putih. Karena lokasi Kembang Jepun pada saat itu merupakan lokasi yang sangat di padati oleh para pedagang dan ditempat tersebut juga terdapat banyak bangunan besar dan toko-toko besar. Peran pemuda dalam mengibarkan bendera merah putih di sepanjang jalan Kembang Jepun. Aksi ini merupakan wujud dari rasa Nasionalisme rakyat indonesia khususnya pemuda Surabaya untuk menunjukkan kepada semua orang bahwa Indonesia telah merdeka. Selain itu pengibaran bendera merah putih juga merupakan bentuk penolakan larangan menggunakan bendera merah putih yang sudah berlaku sejak 1942.  Bagi rakyat Surabaya terutama para pemuda penggunaan bendera merah putih merupakan simbol terpenting bagi mereka, karena para pemuda menganggap bendera merah putih sangat sakral, sehingga mereka berjuang membelanya agar sang merah putih bisa berkibar.   Kata Kunci: Kembang Jepun, pemuda, bendera merah putih 
PERKEMBANGAN MADRASAH ALIYAH MUHAMMADIYAH DI LAMONGAN TAHUN 1979-1984 INDAH DIHAYATI, NUR
Avatara Vol 5, No 3 (2017): Vol 5 Nomer 3 (Oktober 2017)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Madrasah Aliyah Muhammadiyah merupakan jenjang Pendidikan Menengah Keatas yang dibawah lembaga organisasi Muhammadiyah. Muhammadiyah sendiri mendirikan lembaga Pendidikan pada awalnya bertujuan untuk mengusir para penjajah yang menguasi Negara Republik Indonesia, karena melawan penjajah tidak hanya menggunakan otot maupun senjata namun kepintaran juga diperlukan. Dalam pemilihan topik ini bertujuan untuk mengembangkan pendidikan Muhammadiyah khususnya di Lamongan pada tahun 1979-1984, yang mana pendidikan Muhammadiyah di Lamongan pada tahun 1979-1984 merupakan pendidikan yang berkembang pertama kali dengan mata pelajaran berbasis keagmaan yang juga diajarkan tentang pelajaran umumnya juga. Tidak hanya itu alasan dalam pemilihan topik ini juga bertujuan untuk memberi gambaran pembaca bahwa pendidikan Muhammadiyah di Lamongan pada tahun 1979-1984 merupakan pendidikan yang sudah berkembang dan memiliki respon yang baik, sehingga pembaca bisa sadar bahwa pendidikan Muhammadiyah juga memiliki potensi yang baik dalam kemajuan pendidikan. Permasalahan yang diteliti dalam penelitian ini yaitu: (1) Bagaimana latar belakang pergantian nama PGA menjadi sekolah madrasah Aliyah Muhammadiyah, (2) Bagaimana perkembangan sekolah Madrasah Aliyah Muhammadiyah di Lamongan tahun 1979-1984, dan (3) Bagaimana kontribusi perkembangan sekolah Madrasah Aliyah Muhammadiyah terhadap pendidikam di masyarakat Lamongan tahun 1979-1984. Metode yang digunakan oleh peneliti adalah metode penelitian sejarah, yang memiliki beberapa tahapan yaitu : Heuristik, kritik sumber, Interpretasi, Historiografi. Manfaat penelitian dalam penelitian ini adalah untuk menambah khasanah kajian ilmiah terutama dalam pembelajaran sejarah pendidikan yang memberikan pengaruh terhadap pengetahauan umum maupun keagamaan. Hasil dari penelitian ini menjelaskan bahwa pergantian nama PGA (Pendidikan Guru Agama ) menjadi Madrasah Aliyah Muhammadiyah dikarenakan program pemerintah yang menginginkan kemajukan pendidikan di Indonesia yang semakin maju, dan juga mengalami kelemahan dari segi pendidikannya dianggap tidak mampu lagi dalam melahirkan tenaga guru yang professional yang di sebabkan faktor umur mereka yang masih kecil dan dianggap masih belum mampu menjadi sosok seorang guru yang diharapkan, sehingga dalam sistem pengajaran mengalami kemunduran dalam progres yang ingin dicapai setiap lembaga pendidikan. Dalam pergantian nama ini sehingga lembaga pendidikan Madrasah Aliyah Muhammadiyah di Lamongan mengalami kemajuan dan perkembangan yang sangat pesat. Dimana setiap lembaga pendidikan Muhammadiyah menggunakan pedoman-pedoman pengajaran maupun kurikulum yang telah diberlakukan oleh pemerintahan dengan begitu madrasah Aliyah Muhammadiyah di Lamongan menghasilkan peserta didik  yang  cakap akan semua aspek yang telah diajarkan dan siap menjalani kehidupan di masyarakat. Dalam hal ini kontribusi yang dilakukan oleh Madrasah Aliyah terhadap pendidikan di Masyarakat Lamongan mebawakan hasil yang sangatbaik, yang mana masyarakat Lamongan lebih memahami lagi tentang pengetahuan-pengetahuan keagamaan maupun umumnya, yang sebelumnya mereka belum mengerti sehingga mereka mengerti berkat pendidikan Muhammadiyah yang berlangsung di Lamongan.   Kata Kunci : Madrasah Aliyah, Muhammadiyah, Lamongan, perkembangan  
KEPAHLAWANAN DARMOSOEGONDO DALAM MEMPERTAHANKAN KEDAULATAN INDONESIA TAHUN 1945-1958 WILLY BAGUS REINALDY, RIO
Avatara Vol 5, No 3 (2017): Vol 5 Nomer 3 (Oktober 2017)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Indonesia memprokalmasikan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945. Kemerdekaan yang didapat dengan cara yang tidak mudah. Membutuhkan perjuangan dari setiap elemen bangsa. Kedatangan Tentara Sekutu semakin menambah parah kondisi Indonesia yang baru merdeka. Bermaksud melucuti tentara Jepang, namun pada akhirnya memunculkan niat untuk menguasai kembali Indonesia sebagai daerah jajahan. Atas dasar tersebut memunculkan sosok-sosok pejuang dari kalangan masyarakat. Bersatu dan mengkoordinir masa untuk mengusir Tentara Sekutu yang memiliki tujuan menjajah kembali. Terdapat banyak tokoh yang berjasa dalam mengusir Tentara Sekutu, namun hanya beberapa yang namanya dikenang sebagai sosok pahlawan. Permasalahan yang diteliti dalam penelitian ini yaitu: (1) Mengapa Darmosoegondo layak disebut sebagai seorang pahlawan? dan (2) Bagaimana peran dan penerapan sikap kepahlawanan Darmosoegondo bagi Indonesia pada umumnya dan bagi Gresik pada khususnya? Penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah yang terdiri dari empat tahapan yakni: heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa sosok Darmosegondo memiliki peran aktif dalam perjuangan mempertahankan kedaulatan Indonesia pada umumya dan Gresik (Kabupaten Surabaya) pada khusunya. Perjuangan yang dilakukan Darmosoegondo ketika mempertahankan kedaulatan Indonesia dari Tentara Sekutu maupun dari ancaman disintegrasi (pemberontakan) dalam negeri tidak langsung mengangkat namanya menjadi sosok besar dalam ketentaraan Indonesia. Tujuan utama Darmosoegondo dalam berjuang adalah memperoleh kemerdekaan yang sebenarnya, sehingga lebih penting baginya untuk mengangkat senjata dan terbebas dari penjajahan ketimbang jabatan atau pangkat dalam kemiliteran. Penggunaan nama Darmosoegondo sebagai nama jalan didaerah perjuangannya memunculkan pertanyaan bagi sebagian warga sipil, dikarenakan kurangnya literasi dan keterangan mengenai sosok Darmosoegondo. Dampaknya, seorang warga yang tinggal di daerah Jombang bertanya tentang sosok Darmosoegondo melalui surat kabar Jawa POS bertanggal 27 Agustus 1995. Pertanyaan yang diajukan tersebut menunjukkan bahwa pentingnya penulisan literatur mengenai sosok-sosok pahlawan perjuangan, termasuk Darmosoegondo.   Kata Kunci : Darmosoegondo, Kepahlawanan, Kedaulatan Indonesia
RATU KALINYAMAT PENGUASA WANITA JEPARA TAHUN 1549-1579 SOFIANA, ANAS
Avatara Vol 5, No 3 (2017): Vol 5 Nomer 3 (Oktober 2017)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ratu Kalinyamat adalah putri dari Sultan Trenggana dan merupakan penguasa wanita abad ke-16 di Jepara. Ratu Kalinyamat muncul pada panggung sejarah Indonesia ketika Kerajaan Demak mengalami kemunduran karena konflik politik dan perebutan kekuasaan antara keturunan Raden Patah. Ratu Kalinyamat merupakan tokoh yang mempunyai peranan penting di Jepara. Sikap tegas, berani mengambil keputusan serta kemampuan memimpin yang ada pada diri Ratu Kalinyamat membuatnya berhasil menjadi seorang penguasa besar wanita di pesisir utara Jawa.                 Penelitian ini akan membahas mengenai (1) Apa yang melatarbelakangi Ratu Kalinyamat menjadi penguasa Jepara pada tahun 1549-1579; (2) Bagaimana Ratu Kalinyamat membangun Jepara setelah runtuhnya Demak pada tahun 1549; (3) Bagaimana kondisi Jepara di bawah kekuasaan Ratu Kalinyamat pada tahun 1549-1579. Pada penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah yang terdiri dari empat tahap yaitu tahap pengumpulan sumber primer dan sekunder. Sumber dalam penelitian ini didapat melalui observasi peninggalan Ratu Kalinyamat yang berupa Masjid Mantingan dan Komplek Makam Mantingan, wawancara dengan juru kunci masjid dan kompleks Makam Mantingan beserta literatur pendukung lainnya yang diperoleh dari ANRI. Tahap kedua adalah kritik sumber dengan bentuk kritik intern untuk mendapatkan data sejarah yang kredibel. Tahap ketiga, interpretasi data. Dari berbagai literatur, hasil observasi serta wawancara, dapat diperoleh penafsiran bahwa Ratu Kalinyamat sebagai penguasa wanita yang tegas, berani dan kemampuannya dapat menjadikan Jepara sebagai kota dagang dan pelabuhan besar abad ke-16. Keempat, historiografi untuk menuliskan hasil penelitian karya sejarah secara kronologis sesuai dengan tema penelitian. Hasil penelitian menjelaskan Ratu Kalinyamat merupakan putri Sultan Trenggana yang berhasil mengatasi konflik Kerajaan Demak. Pengangkatan Sunan Prawata sebagai raja Demak menimbulkan kecemburuan Arya Penangsang. Pembunuhan Sunan Prawata oleh Arya Penangsang didasarkan pada dendam masa lalu yaitu pembunuhan Pangeran Seda Lepen (ayah Arya Penangsang). Arya Penangsang juga membunuh Sultan Hadlirin suami Ratu Kalinyamat. Ratu Kalinyamat adalah adik Sunan Prawata yang kemudian menjadi penguasa wanita di Jepara. Ratu Kalinyamat dapat menjadi penguasa karena sistem genealogi dalam pewarisan tahta kerajaan. Sebagai putra dari pewaris Kerajaan Demak, Ratu Kalinyamat mempunyai posisi kuat dalam pemerintahan. Sebagai pewaris kerajaan, mempunyai sikap tegas dan berani dalam mengambil keputusan, Ratu Kalinyamat menggunakan wewenang politiknya untuk mengatasi konflik di Demak. Penobatan Ratu Kalinyamat menjadi pemimpin di Jepara ditandai  sengkalan “trus karya tataning bumi” yaitu sekitar tahun 1549 Masehi. Ratu Kalinyamat menerapkan kebijakan untuk memajukan dan memulihkan Jepara kembali berjaya yaitu dengan menerapkan sistem commenda dalam perdagangan jalur laut. Perkembangan ekonomi yang cukup pesat selama pemerintahan Ratu Kalinyamat menjadi faktor pendukung pertahanan politik Jepara. Kemajuan ekonomi Jepara membuat Jepara memiliki armada laut yang kuat sehingga perdagangan, pelayaran serta interaksi banyak dilakukan di Pelabuhan Jepara. Ratu Kalinyamat juga bekerja sama dengan wilayah lain seperti Johor, Aceh, dan Hitu untuk menyerang Portugis ketika menguasai Malaka karena politik Portugis yang bertentangan dengan Islam. Ratu Kalinyamat kemudian mengirimkan 4000 tentara dan 40 buah kapal untuk menangkal serangan Portugis di Malaka. Sebagai pemerintahan yang bercorak Islam, Ratu Kalinyamat membangun masjid yang terletak di Desa Mantingan, Kecamatan Tahunan sebagai simbol politik dan kebesaran kekuasaan Ratu Kalinyamat. Kata Kunci: Ratu Kalinyamat, Penguasa Wanita, Jepara
KEPEMIMPINAN GUBERNUR SURYO SELAMA PERTEMPURAN 10 NOVEMBER 1945 DI SURABAYA DANI, ACHMAD
Avatara Vol 5, No 3 (2017): Vol 5 Nomer 3 (Oktober 2017)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh ketidakseimbangan kekuatan persenjataan antara tentara Sekutu dengan rakyat Surabaya selama pertempuran 10 November 1945 di Surabaya yang menciptakan pergerakan revolusioner rakyat Surabaya. Pergerakan revolusioner ini membutuhkan seorang pemimpin pemerintahan yang mampu mengakomodir dan mengarahkan rakyat Surabaya. Gubernur Suryo sebagai pemimpin pemerintahan Jawa Timur memiliki tanggung jawab untuk menentukan sikap dan kebijakan dalam menuntun arah perjuangan rakyat Surabaya. Kepemimpinan Gubernur Suryo dalam pemerintahan ini memiliki keunikan yang khas. Gubernur Suryo bekerja secara kolektif bersama staf pemerintahannya dalam mengerahkan kekuatan gerakan revolusi rakyat Surabaya pasca kemerdekaan Republik Indonesia. Rumusan masalah dalam penelitian ini, antara lain : (1) Bagaimana upaya Gubernur Suryo memimpin pemerintahan dalam berbagai aspek di Jawa Timur? (2) Bagaimana posisi Gubernur Suryo dalam pertempuran 10 November 1945 di Surabaya? Adapun metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian sejarah dengan empat tahap, antara lain: (1) Tahap Heuristik yakni tahapan untuk mengumpulkan berbagai sumber sejarah baik primer maupun sekunder. Sumber primer dalam penelitian ini berupa arsip wawancara pelaku pertempuran 10 November 1945 di Surabaya. (2) Tahap Kritik yakni tahapan untuk membandingkan sumber yang ada untuk memperoleh informasi dan data yang relevan dengan penelitian. Tahap ini menggunakan kritik interen dengan melakukan kritik terhadap isi sumber. (3) Tahap Intepretasi yakni tahapan untuk merangkai fakta sejarah melalui sumber yang diperoleh.  (4) Tahap Historiografi yakni tahapan untuk menulis sejarah secara kronologis berdasarkan analisis data dalam penelitian ini. Hasil dari penelitian ini adalah sebagai berikut: posisi Gubernur Suryo dalam pertempuran 10 November 1945 memiliki keterikatan yang erat dengan pergerakan rakyat Surabaya. Gubernur Suryo memimpin pemerintahan Jawa Timur di Surabaya diantaranya mengatur, mengelola, mengurus, dan bertanggungjawab terhadap segala urusan pemerintahan daerah Indonesia di Jawa Timur khususnya wilayah Surabaya. Gubernur Suryo mampu berperan layaknya seorang agen dalam mengendalikan keadaan rakyat Surabaya yang tidak jelas saat diumumkannya ultimatum Sekutu. Karakter Gubernur Suryo tersebut memberikan dampak berupa kepercayaan rakyat Surabaya sehingga menyebabkan bersatunya rakyat Surabaya tak terkecuali kaum minoritas Tionghoa untuk ikut berjuang melawan tentara Sekutu. Kata Kunci : Gubernur Suryo,  Kepemimpinan, Pertempuran 10 November 1945.
PROGRAM KELUARGA BERENCANA VASEKTOMI DI KOTA SURABAYA TAHUN 2010-2015 LUKIANAH, SYARIFAH
Avatara Vol 5, No 3 (2017): Vol 5 Nomer 3 (Oktober 2017)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Peningkatan jumlah penduduk merupakan masalah serius yang dihadapi bangsa Indonesia. Pemerintah berusaha mengambil suatu langkah antisipasi untuk menekan tingginya laju pertumbuhan  penduduk dengan membuat program Keluarga Berencana. Masyarakat Indonesia selama ini menganggap bahwa program Keluarga Berencana lebih diperuntukkan untuk wanita, namun ada beberapa program Keluarga Berencana yang juga diperuntukkan untuk laki-laki yaitu Vasektomi. Oleh karena itu rumusan masalah dalam penelitian ini adalah (1) Bagaimana minat laki-laki terhadap program Keluarga Berencana Vasektomi di Kota Surabaya tahun 2010-2015. (2) Bagaimana implementasi Keluarga Berencana Vasektomi di Kota Surabaya tahun 2010-2015. (3) Apa saja faktor pendukung dan penghambat program Keluarga Berencana Vasektomi di Kota Surabaya tahun 2010-2015. Penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah yaitu heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Hasil penelitian ini adalah Minat penduduk Kota Surabaya terhadap program Keluarga Berencana Vasektomi masih sangat rendah. Hal ini disebabkan oleh faktor antara lain faktor eksternal dari pandangan  masyarakat tentang program Keluarga Berencana dan faktor internal dari sudut penyelenggara program Keluarga Berencana. Implementasi Program Keluarga Berencana Vasektomi di Kota Surabaya Tahun 2010-2015, melalui Sosialisasi Program Vasektomi pada masyarakat tentang Vasektomi di Kota Surabaya dilakukan dengan berbagai cara seperti penyebaran informasi melalui brosur disetiap Kecamatan. Hambatan-hambatan yang muncul dalam pelaksanaan program Keluarga Berencana Vasektomi karena beberapa faktor antara lain adanya stigma di masyarakat bahwa Vasektomi akan mengurangi kejantanan sehingga tidak bisa memuaskan istri. Faktor budaya Patriarkhi ini menyebabkan munculnya ego dalam diri laki-laki dan menganggap bahwa Keluarga Berencana itu menjadi tanggung jawab istri. Minimnya informasi tentang Vasektomi disebabkan karena kebijakan Keluarga Berencana di Indonesia saat ini masih berfokus pada perempuan.  Akses pelayanan yang sulit karena tindakan Vasektomi ini hanya dapat dilakukan oleh petugas yang telah terlatih sehingga tidak semua unit pelayanan kesehatan menyediakan pelayanan Vasektomi. Kata kunci :Keluarga Berencana, Vasektomi, Surabaya
PERKEMBANGAN KESENIAN REYOG TULUNGAGUNG TAHUN 1970-2016 NGIZUL IRFAN, MOHAMAD
Avatara Vol 5, No 3 (2017): Vol 5 Nomer 3 (Oktober 2017)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Reyog Tulungagung merupakan gubahan tari rakyat, yang berasal dari Kabupaten Tulungagung. Kesenian ini memanfaatkan kendang sebagai alat utamanya. Reyog Tulungagung merupakan tari kendang yang dimainkan oleh 6 orang atau lebih dan diiringi gamelan. Ke-enam orang tersebut menari-nari sambil menabuh kendang yang di bawa masing-masing orang/penari.  Banyak versi mengenai nama dari kesenian ini, ada yang menyebut “Reog Gemblug”, “Reyog Kendhang”, dan “Reog Dhodhog" namun saat ini sudah berganti menjadi “Reyog Tulungagung” setelah pada bulan Maret 2010, telah mendapat pengakuan dari HKI Kementrian Hukum dan HAM Republik Indonesia yang tertuang dalam HKt-2-HI.01.01-08, yang ditandatangani oleh Direktur Hak Cipta Desain Industri Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu dan Rahasia Dagang Ir. Arry Ardanta Sigt MSc. Penerbitan SK HAKI ini bertujuan agar apabila suatu saat berkembang di daerah luar Tulunggung orang selalu mengetahui bahwa kesenian tersebut berasal dari Tulungagung. Penelitian ini membahas, 1) perkembangan kesenian Reyog Tulungagung dari tahun 1970-2016, 2) peran serta pemerintah Kabupaten Tulungagung dalam upaya pelestarian kesenian Reyog Tulungagung di Tulungagung dari tahun 1970 – 2016, 3) dampak secara ekonomis kesenian Reyog Tulungagung. Metode penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah, langkah awal yaitu, heuristik dengan mengumpulkan sumber terkait dengan Kesenian Reyog Tulungagung. Data tentang kesennian Reyog Tulungagung yang berada di Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kabupaten Tulungagung. Penulis juga melakukan wawancara dengan narasumber (pelaku seni maupun yang terkait dalam upaya pelestarian kesenian Reyog Tulungagung) sumber sekunder : menggunakan buku,jurnal,koran dan majalah yang memberitakan atau membahas tentang Reyog Tulungagung. Kritik sumber dilakukan untuk memilah sumber baik primer maupun sekunder yang terkait dengan Kesenian Reyog Tulungagung. Interpretasi sumber digunakan untuk membandingkan sumber satu dengan sumber lain sehingga diperoleh fakta sejarah tentang Kesenian Reyog Tulungagung. Terakhir adalah historiografi, serangkaian fakta yang telah ditafsirkan akan disajikan sebagai cerita sejarah. Hasil penelitian ini menjelaskan bahwa Reyog Tulungagung sering mengalami pasang surut dalam perkembanganya. Hal ini di karenakan pemerintah baik daerah maupun pusat masih kurang peduli terhadap kesenian lokal. Reyog Tulungagung memiliki banyak versi cerita, namun yang dianggap merupakan asal-usul kesenian ini adalah cerita dari versi prajurit Bugis dan Dewi Kilisuci. Banyaknya versi cerita ini justru membuktikan bahwa kesenian ini mengalami perkembangan, baik dari unsur cerita maupun dalam bentuk sajiannya. Kesenian Reyog Tulungagung juga pernah mengalami surut dan hampir punah ketika tahun 1965 dengan adanya tragedi gerakan G30s/PKI. Tragedi tersebut membuat para seniman takut untuk memainkan kesenian ini. Ketakutan tersebut lantara para seniman Reyog Tulungagung takut dituduh anggota atau simpatisan PKI. Namun, Surutnya kesenian-kesenian lokal tersebut tidak berlangsung lama. Negara yang mulai memberikan pengontrolan seniman dengan membuatkan Nomor Induk Seniman (NIS) pada kurun waktu tahun 1965-1967. Peran serta pemerintah daerah dan para seniman sangat berarti terhadap perkembangan kesenian ini. Karena tanpa dukungan dari pemerintah daerah mungkin kesenian Reyog Tulungagung tidak dapat berkembang pesat seperti sekarang. Seniman  juga semakin merasakan dampak yang positif dari berkembangnya kesenian Reyog Tulungagung ini. Banyaknya permintaan peralatan reyog, kostum, cindramata dan kebutuhan pelatih memberikan dampak secara ekonomis bagi para senimannya.   Kata Kunci: Kesenian, Reyog, Tulungagung
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN INQUIRY TRAINING TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS SISWA SISWA PADA MATA PELAJARAN SEJARAH SISWA KELAS X DI SMA NEGERI 12 SURABAYA Masruroh, Arifatul
Avatara Vol 5, No 3 (2017): Vol 5 Nomer 3 (Oktober 2017)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang masalah pada penelitian ini adalah proses pembelajaran sejarah yang diterapkan disekolah belum memfasilitasi siswa untuk dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis. Rendahnya kemampuan berpikir kritis siswa dapat disebabkan oleh beberapa faktor, salah satu faktor tersebut adalah lemahnya proses pembelajaran disekolah yang masih menggunakan metode konvensional. Berdasarkan kasus di SMA 12 tersebut peneliti menerapkan salah satu model pembelajaran yang diterapkan pada pembelajaran sejarah untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa yaitu model pembelajaran Inquiry Training. Penelitian ini didesain dengan jenis penelitian True-eksperimental design, subjek penelitian ini adalah kelompok kelas eksperimen siswa kelas X IPS 1 dan kelompok kelas kontrol siswa kelas X IPS 3 di SMAN 12 Surabaya. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah rata-rata nilai kognitif tes hasil belajar berupa posttest dan pretest, lembar penilaian psikomotorik, lembar observasi dan lembar dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis data angket model pembelajaran Inquiry Training dan analisis data hasil belajar berupa pretest dan posttest. Tujuan penelitain  ini adalah (1) untuk menjelaskan pengaruh model pembelajaran Inquiry Training terhadap kemampuan berpikir kritis siswa pada mata pelajaran sejarah; (2) untuk menentukan besar pengaruh  model pembelajaran Inquiry Training terhadap kemampuan berpikir kritis siswa  pada mata pelajaran sejarah. Hasil penelitian dengan menggunakan uji regresi linier sederhana menyatakan bahwa model pembelajaran Inquiry Training digunakan oleh kelompok kelas eksperimen memberikan pengaruh  pada kemampuan berpikir kritis siswa sebesar 66%. Sedangkan metode ceramah dan diskusi kelompok pada kelompok kelas kontrol memberikan pengaruh terhadap kemampuan berpikir kritis siswa sebesar 51%. Terdapat perbedaan rata-rata kemampuan berpikir kritis siswa ditunjukkan oleh kelompok kelas eksperimen dengan menggunakan model pembelajaran Inquiry Training dan kelas kontrol dengan metode ceramah dan diskusi kelompok. Perbedaan tersebut dapat dilihat pada hasil uji t-test dengan (Independent Samples Test) pada hasil kemampuan berpikir kritis siswa dengan nilai probabilitas yang nilainya lebih kecil dari taraf signifikansi 0,05 yang menunjukkan bahwa model pembelajaran Inquiry Training berpengaruh terhadap kemampuan berpikir kritis siswa. Pengaruh ini ditunjukan oleh indikator kemampuan berpikir kritis dari Ennis diantaranya memberikan klarifiasi sederhana, dua dasar unuk keputusan, kesimpulan, membuat dan menilai pertimbangan nilai keputusan, memberikan klarifikasi lebih lanjut, melengkapi asumsi yang tidak dinyatakan, membuat pengandaian dan integrasi. Kata kunci : Pembelajaran  Inquiry Training, Berfikir Kritis, Pembelajaran Sejarah 
PENGARUH TINGKAT KECEMASAN SISWA TERHADAP PRESTASI BELAJAR SEJARAH SISWA KELAS X IPS 2 SMAN 12 SURABAYA Imroatus Solihah, Frinda
Avatara Vol 5, No 3 (2017): Vol 5 Nomer 3 (Oktober 2017)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kecemasan yang terjadi dalam lingkungan sekolah khususnya pada remaja tidak bisa lepas dari masalah-masalah yang dialaminya selama proses pembelajaran, dimana banyak peserta didik yang merasa cemas ketika dihadapkan pada suatu permasalahan yang menyulitkan mereka untuk berfikir, kecemasan yang biasanya dialami ialah kecemasan terhadap materi membosankan, guru killer, serta soal yang dianggap sulit sehingga mereka malas untuk berfikir dan merasa cemas akan nilai-nilai yang mereka dapatkan ketika ulangan harian ataupun disaat ulangan semester Dalam penelitian ini bertujuan untuk menganalisis seberapa besar tingkat kecemasan siswa, seberapa besar prestasi belajar sejarah siswa serta pengaruh yang disebabkan kecemasan siswa terhadap prestasi belajar sejarah dengan menggunakan metode Giving Question and Getting Answer. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata tingkat kecemasan siswa 68.44, dan rata-rata prestasi belajar sejarah sebesar 77, 98. Penelitian tentang kecemasan siswa terhadap prestasi belajar sejarah kelas X IPS 2 SMA Negeri 12 Surabaya dengan hasil uji regresi linear sederhana menunjukkan pengaruh pada prestasi siswa sebesar 4.9% dengan Ftabel sebesar 2.235 dan taraf signifikan 142. Berdasarkan hal tersebut dapat disimpulkan bahwa tingkat kecemasan siswa yang tinggi akan mempengaruhi prestasi siswa yang menyebabkan banyak siswa yang mencontek untuk terus meningkatkan prestasi belajarnya, untuk hal itu diperlukan agar mendapatkan perhatian yang lebih dari guru mata pelajaran Kata kunci: kecemasan Siswa, Prestasi Belajar Siswa