cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Avatara
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
E-Journal AVATARA terbit sebanyak tiga kali dalam satu tahun, dengan menyesuaikan jadwal Yudisium Universitas Negeri Surabaya. E-Jounal AVATARA diprioritaskan untuk mengunggah karya ilmiah Mahasiswa sebagai syarat mengikuti Yudisium. Jurnal Online Program Studi S-1 Pendidikan Sejarah - Fakultas Ilmu Sosial UNESA
Arjuna Subject : -
Articles 456 Documents
PUSKESMAS KELILING DI SURABAYA TAHUN 1981-1985 AZIF BILLAH, MUHAMMAD
Avatara Vol 5, No 3 (2017): Vol 5 Nomer 3 (Oktober 2017)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Surabaya merupakan kota besar di lingkup Negara Indonesia yang menjadi lokasi diterapkannya program pembangunan nasional yaitu Pembangunan Lima Tahun (Pelita). Upaya  pembangunan nasional dalam bidang pembangunan kesehatan di Surabaya terus mengalami peningkatan. Demi terwujudnya keadilan sosial bagi seluruh masyarakat. Salah satu upaya pada bidang kesehatan adalah dengan peyediaan puskesmas keliling. Sejak tahun 1977 Puskesmas keliling sudah diadakan oleh pemerintah melalui dana bantuan Inpres no. 4 dan ditambah lagi pengadaannya pada tahun 1979 melalui Inpres no. 13. Hal ini dimaksudkan agar layanan kesehatan di  seluruh wilayah Indonesia termasuk Kota Surabaya menjadi wadah pelayanan kesehatan pertama dan terpadu dalam memberikan pelayanan kesehatan secara prevetif maupun kuratif. Dari uraian latar belakang tersebut, maka permasalahan dalam penulisan adalah (1) Bagaimana aktivitas puskesmas keliling di Surabaya tahun 1981 – 1985?? (2) Bagaimana hasil pukesmas keliling di Surabaya tahun 1979-1984? (3) Apa kendala diadakannya puskesmas keliling di Surabaya? Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian sejarah meliputi (1) Heuristik, pengumpulan data berupa arsip, koran, buku penunjang, jurnal dan wawancara; (2) Kritik terhadap sumber-sumber yang sudah terkumpul; (3) Interpretasi, menganalisis fakta-fakta yang di temukan dan mencari keterkaitan antara fakta-fakta tersebut; (4) Historiografi sesuai dengan dengan tema yang dipilih yaitu puskesmas keliling di Surabaya tahun 1981-1985. Hasil penelitian menunjukkan aktivitas puskesmas keliling  melakukan penyuluhan kesehatan pada masyarakat, layanan kesehatan ibu dan anak dan penyuluhan layanan keluarga berancana. Hasil dari aktivtas puskesmas keliling angka kematian di Kota Surabaya mengalami penurunan, pemakai fasilitas kesehatan mengalami peningkatan ke puskesmas, angka kelahiran dapat di kontrol dan angka harapan hidup anak lebih meningkat dari tahun 1981-1985, peran dalam layanan KB mendapatkan respon yang kurang dari masyarakat akan tetapi jumlah peserta KB aktif terus mengalami peningkatan. Kendala puskesmas keliling yaitu: tenaga medis dan para medis tidak sebanding dengan jumlah penduduk Surabaya, pemahaman masyarakat surabaya tentang kesehatan yang tergolong acuh tidak responsif, peralatan dan perobatan yang minim dan harga obat yang naik mengakibatkan masyarakat enggan untuk berobat.   Kata Kunci : Pelayanan Kesehatan, Puskesmas Keliling, Surabaya
IMPLEMENTASI KEPMENPEN (KEPUTUSAN MENTERI PENERANGAN) NO 111 TAHUN 1990 PADA PROGRAM HIBURAN STASIUN RAJAWALI CITRA TELEVISI (RCTI) TAHUN 1990-1998 Nur Witasari, Rina
Avatara Vol 6, No 1 (2018): Vol 6 Nomer 1 (Maret 2018)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Stasiun televisi pertama yang dimiliki Indonesia adalah stasiun televisi TVRI, merupakan saluran program acara milik pemeritah. RCTI adalah stasiun televisi milik swasta pertama di Indonesia. Berdirinya RCTI memberikan nuansa baru dalam program acara televisi, RCTI memberikan inovasi baru dalam menyuguhkan acara di televisi yakni melalui program hiburan yang ditayangkan. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah (1) bagaimana latar belakang berdirinya stasiun televisi RCTI? (2) bagaimana latar belakang dikeluarkannya KEPMENPEN (Keputusan Menteri Penerangan) no 111 tahun 1990? (3) bagaimana stasiun televisi RCTI mengimplementasikan KEPMENPEN Keputusan Menteri Penerangan) no 111 tahun 1990?. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menjelaskan secara praktis terkait latar belakang dikeluarkanya KEPMENPEN (Keputusan Menteri Penerangan) no 111 tahun 1990 dan implementasi stasiun  televisi RCTI terhadap keluarnya Keputusan Menteri Penerangan no 111 tahun 1990. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode pendekatan sejarah (historical approach) yang meliputi empat tahapan proses yakni, heuristik, kritik, interpretasi dan historiografi. Hasil dari penelitian menunjukkan latar belakang berdirinya stasiun televisi RCTI karena keluarnya keputusan menteri penerangan Nomor 190 A/KEP/MENPEN pada tahun 1987, RCTI berperan sebagai mitra TVRI untuk menyiarkan program acaranya dalam menyelaksanakan pembangunan nasional.  Keluarnya Keputusan menteri penerangan no 111 tahun 1990 sebagai deregulasi penyiaran di Indonesia, berdasarkan adanya kebijakan open sky policy yang dikeluarkan pemerintah untuk berpartisipasi dalam menyelenggarakan free flow information (yakni globalisasi informasi) yang mulai berkembang di Indonesia. mengimplentasikan Keputusan Menteri Penerangan no 111 tahun 1990 melalui program acara yang ditayangkan, yakni program acara untuk anak-anak, remaja dan usia dewasa.   Kata kunci : RCTI, Hiburan, KEPMENPEN
AKULTURASI BUDAYA PADA KOMPLEKS MASJID AL-MUBAROK DI DESA KACANGAN KECAMATAN BERBEK KABUPATEN NGANJUK FITRI MUTIATUN, AISAH
Avatara Vol 6, No 1 (2018): Vol 6 Nomer 1 (Maret 2018)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Masjid Al-Mubarok yang terletak di Desa Kacangan Kecamatan Berbek Kabupaten Nganjuk merupakan salah satu bukti sejarah perkembangan Islam di wilayah Nganjuk. Arsitektur masjid Al-Mubarok merupakan percampuran dari berbagai unsur budaya, mulai dari bangunan utama menggunakan tiang soko guru, atap tumpang, adanya berbagai ornamen khas Hindu, Islam, China, adanya peninggalan yoni yang dipadukan dengan bencet untuk menentukan datangnya waktu sholad sampai konsep masjid dan makam para pendiri kabupaten Berbek yang masih bisa kita saksikan hingga saat ini. Penelitian ini membahas mengenai (1) Tata letak dan arsitektur pada masjid Al-Mubarok; (2) Ornamentasi di kompleks masjid Al-Mubarok; (3) Aspek-aspek akulturasi di kompleks masjid Al-Mubarok Berbek, Nganjuk. Adapun metode penulisan yang digunakan adalah metode pendekatan sejarah, yang mencakup empat tahapan yaitu pengumpulan sumber (heuristik), pengujian data yang diperoleh (kritik), Penafsiran terhadap fakta (interpretasi) dan penulisan laporan sejarah (historiografi). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tata letak masjid Al-Mubarok menggunakan pola candi Panataran yaitu bangunan membujur dalam poros barat laut-tenggara, yang menggunakan pola susunan linier berurutan langgam Jawa timur. Pola bangunan pada masjid Al-Mubarok terdiri dari halaman depan terdiri dari bangunan serambi, pada halaman tengah terdapat bangunan masjid Al-Mubarok dan halaman belakang (halaman tersakral) adalah makam Kyai Kanjeng Djimat. Arsitektur masjid Al-Mubarok juga dibagi atas tiga bagian yang terdiri dari bangunan kaki masjid atau bagian bawah (soubasement), bagian tubuh masjid dan bagian atap masjid atau bagian atas. Masjid Al-Mubarok memiliki beragam ornamen yang memperindah bangunan masjid. Beberapa ornamen yang menghiasi masjid antara lain ornamen hasil akukturasi kebudayaan prasejarah, Kebudayaan Hindu dan Budha dan kebudayaan Islam. Salah satu ornamen tersebut adalah ragam hias flora, ragam hias fauna yang distilisasi, ragam hias geometris dan ragam hias kombinasi. Ragam hias fauna diantaranya adalah patung singa putih dan elang. Ragam hias flora misalnya pohon hayat, bunga teratai (padma), bunga melati dan lunglungan. Aspek-aspek akulturasi di kompleks masjid Al-Mubarok, kompleks Giri, kompleks Sendang Duwur dan kompleks Bonang antara lain meliputi aspek pemujaan (leluri) arwah leluhur, aspek tata letak, aspek arsitektur, aspek ornamentasi dan aspek tradisi. Aspek pemujaan (leluri) arwah leluhur masyarakat Jawa mengalami keberlanjutan dari zaman megalitik yang digambarkan dalam bentuk menhir. Menhir kemudian menjadi prototipe batu-batu prasasti, juga berfungsi sebagai gejala pendahuluan dalam penciptaan patung-patung leluhur, patung-patung dewa-dewa dan lingga pada zaman Hindu. Pada periode berikutnya, tradisi pembuatan instrumen ritual pada masa Islam dalam bentuk batu-batu nisan pada makam-makam Islam.
ORGANISASI POETRA SOERABAJA “POESOERA”: SEJARAH ORGANISASI DAN PERJUANGANNYA Dewi Sartika, Lianda
Avatara Vol 6, No 1 (2018): Vol 6 Nomer 1 (Maret 2018)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Organisasi Poesoera di resmikan oleh kesembilan tokoh penggagas Poesoera, yaitu K.H Mas Mansur, H. Nawawi Amin, H. Hoesein, H. Manan Edris, Koesnan Efendi, dr. Soetomo, , dr. Yahya, dr. Soewandi, dan dr. Samsi pada 26 September 1936. Dalam kurun waktu sebelum kemerdekaan Indonesia, yaitu tahun 1936 (semenjak Organisasi Poesoera berdiri) hingga tahun 1945, Organisasi Poesoera kokoh berdiri dan telah melalui masa-masa kolonialisme serta pendudukan bangsa asing, yaitu kolonialisme Belanda (1936-1942) dan pendudukan Jepang (1942-1945). Lebih lanjut lagi, setelah Indonesia berhasil meraih kemerdekaan, Organisasi Poesoera masih bertahan dan mempunyai eksistensi di Kota Surabaya. Permasalahan yang diteliti dalam penelitian ini, antara lain (1) mengenai sejarah berdirinya Organisasi Poetra Soerabaja “Poesoera” di Surabaya; dan (2) perjuangan Organisasi Poetra Soerabaja “Poesoera” pada masa sebelum dan sesudah kemerdekaan tahun 1936-1957. Tujuan dari penulisan ini adalah untuk mengetahui sejarah berdirinya Organisasi Poetra Soerabaja “Poesoera” dan mengetahui perjuangan Organisasi Poetra Soerabaja Poesoera” tahun 1936-1957. Adapun metode yang digunakan dalam penelitian adalah menggunakan metode penulisan sejarah, yaitu pertama heuristik, merupakan tahapan untuk mengumpulkan sumber; kedua kritik, yaitu menggunakan kritik interen dengan melakukan kritik terhadap isi sumber; ketiga intepretasi, yaitu melakukan perangkaian terhadap fakta yang ada berdasarkan intepretasi dalam memahami data sejarah yang telah melalui proses kritik sebelumnya; keempat historiografi, setelah melalui tahap-tahap sebelumnya, pada tahap ini peneliti melakukan penulisan terhadap sejarah. Penelitian mengenai sejarah berdirinya Organisasi Poesoera, bahwa Organisasi Poesoera ini didirikan oleh para tokoh elit politik, cendekiawan, dan ulama di Surabaya. Bersatunya kesembilan tokoh penggagas Poesoera tersebut  telah melalui proses yang panjang dan keterkaitan antar tokoh yang kompleks. Berbekal visi, misi, dan tujuan yang sama diantara tokoh-tokoh berpengaruh diatas, akhirnya disepakatilah bahwa organisasi ini akan diberikan nama Poetra Soerabaja atau yang disingkat dengan nama Poesoera. Poesoera tumbuh dan berkembang menjadi organisasi sosial kemasyarakatan. Sebagai organisasi sosial kemasyarakatan, maka terdapat berbagai macam program dan kegiatan yang dilaksanakan oleh Organisasi Poesoera yang mencakup pada berbagai bidang, diantaranya bidang agama, sosial, ekonomi, pendidikan, politik dan pemerintahan, serta budaya dan olahraga. Pada masa kolonialisme Belanda perjuangan Poesoera adalah  menumbuhkan jiwa kebangsaan dan nasionalisme, serta mensejahterakan masyarakat Kota Surabaya. Kemudian pada masa pendudukan Jepang, Poesoera seakan vakum dari segala aktivitasnya karena kebijakan Dai Nippon (Pemerintah Militer Jepang) yang sangat ketat dan disusul para penggagas Poesoera yang sibuk berjuang dengan kepentingannya masing-masing. Pasca kemerdekaan, Poesoera diaktifkan kembali oleh Doel Arnowo yang pada saat itu menjabat sebagai ketua Poesoera sekaligus walikota Surabaya pada tahun 1950. Setelah kembali aktif, Poesoera tetap melanjutkan tujuannya untuk mensejahterakan masyarakat kota Surabaya. Kata Kunci : Organisasi Kemasyarakatan, Organisasi Poetra Soerabaja, Perjuangan.  
TENTARA REPUBLIK INDONESIA PELAJAR MADIUN TAHUN 1946-1949 SURYADI, AHMAD
Avatara Vol 6, No 1 (2018): Vol 6 Nomer 1 (Maret 2018)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tentara Republik Indonesia Pelajar di Madiun merupakan kesatuan dari TRIP Jawa Timur. Kesatuan TRIP di Madiun lahir pada era perang kemerdekaan tahun 1946 bersamaan dengan terbentuknya Batalion-batalion TRIP Jawa Timur di Mojokerto, Kediri, Besuki dan Malang setelah dilakukannya Kongres Pelajar se-Jawa Timur di kota Malang. Lima Batalion TRIP Jawa Timur diberi nama berdasarkan kode Batalion, diantaraanya Batalion 1000 di Mojokerto, Batalion 2000 di Madiun, Batalion 3000 di Kediri, Batalion 4000 di Besuki dan Batalion 5000 di Malang. Komandan Batalion TRIP di Madiun yang pertama adalah Effendi. Penelitian ini membahas tentang (1) Bagaimana proses terbentuknya Tentara Republik Indonesia Pelajar di Madiuntahun 1946-1949; (2) Bagaimana struktur organisasi dalam Tentara Republik Indonesia Pelajar di Madiun tahun 1946-1949; (3) Bagaimana peran Tentara Republik Indonesia Pelajar di Madiun pada saat Agresi Militer Belanda I dan Agresi Militer Belanda II serta dalam menumpas pemberontakan PKI Madiun tahun 1948. Penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah yang terdiri empat tahap yaitu tahap pengumpulan sumber primer dan sekunder.Sumber penelitian ini berupa literatur-literatur yang didapat dari perpustakaan dan beberapa arsip memoar pejuang TRIP di Madiun. Tahapan kedua yaitu kritik sumber, kritik intern dan ekstern untuk mendapatkan data sejarah yang terpercaya.Tahapan ketiga adalah interpretasi.Berdasarkan sumber literasi yang didapat, diperoleh sebuah penafsiran bahwa TRIP di Madiun muncul setelah dilaksanakannya Kongres Pelajar se-Jawa Timur di Malang. Tahapan yang keempat yaitu historiografi untuk menuliskan kembali peristiwa secara kronologis.                 Hasil penelitian ini menjelaskan bahwa TRIP di Madiunterbentuk pada tanggal 21 Juli 1946. Komandan pertama TRIP di Madiun adalah Effendi. Penunjukkan Effendi sebagaikomandan Batalion 2000 di Madiun berdasarkan atas kecakapannya dalam memimpin sebuah pasukan dalam bertempur, penunjukan Effendi sebagai komandan Batalion 2000 juga berdasarkan peraturan organisasi TRIP. Ketika Mojokerto jatuh, Batalion 1000 yang berada di Mojokerto dimobilisasi ke Madiun digabungkan bersama Batalion 2000 dengan komandan Kusumohadi. Beberapa kali pimpinan TRIP di Madiun berubah karena menyesuaikan dengan kondisi medan pertempuran. Berikut ini adalah orang yang pernah menjadi komandan TRIP di Madiun yaitu; Komandan Effendi, Komandan Kusumohadi, Komandan Sugito Ambon dan Komandan Sudarto.Sebagai Batalion TRIP 2000 yang berkedudukan di Madiun markas komando berada di bekas gedung HCS (Holandch Chinnessch School) yang sampai saat ini menjadi gedung sekolah SMPN 2 Madiun.Struktur organisasi TRIP Madiun terdiri beberapa kompi diantaranya: Kompi SMP, Kompi SMA, Kompi 2100 di Bojonegoro, Kompi SPMA di Surakarta. Sedangkan struktur organisasi TRIP Madiun didalam kesatuan TRIP Jawa Timur sebagai Batalion 1 atau sering disebut TRIP Komando 1.Peran TRIP di Madiun dalam kancah perang kemerdekaan ialah turut serta dalam melawan Agresi Militer Belanda II dan menumpas pemberontakan PKI di Madiun tahun 1948. TRIP di Madiun ketika berhasil digabung bersama Batalion 1000 berubah nama menjadi TRIP Komando I. TRIP Komando I turut serta menumpas pemberontakan PKI di Madiun bersama Kompi Siliwangi yang dipimpin KaptenSunandar dari dalam kota Madiun menuju Ponorogo. Pasukan gerombolan PKI berhasil ditemukan di Sumoroto, Ponorogo dan dapat dilumpuhkan bersama dengan pimpinan PKI Muso.Pimpinan TRIP Komando I dalam menumpas gerombolan PKI dipimpin oleh komandan Sudarto. Sedangkan kompi 2200 yang berkedudukan di Bojonegoro bergabung dengan Brigade Ronggolawe untuk mengejar gerombolan PKI ke arah selatan dan utara Bojonegoro. Setelah berakhirnya penumpasan pemberontakan PKI Madiun tahun 1948, TRIP Madiun dimobilisasi ke wilayah Wlingi, Blitar untuk diperbantukan melawan Belanda dalam Agresi Militer Belanda II. Namun, dikarenakan markas komando TRIP JawaTimurdi Wlingi sudah dikuasai Belanda maka markas komando TRIP JawaTimur dipindahkan ke Dawuhan, Trenggalek. Di Dawuhan juga susunan organisasi TRIP JawaTimur dirubah dengan menyesuaikan pasukan di medan tempur. Para  pimpinan TRIP Komando I ketika dilakukan reorganisasi menempati jabatan yang strategis di TRIP JawaTimur seperti Sugito Ambon yang menjadi Kepala Staf dan juga Sudarto yang menjadi Kepala Staf Pertempuran TRIP Jawa Timur. Kata Kunci: Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP), Madiun.
INSTRUMENT MUSIK PADA MASA KERAJAAN MAJAPAHIT AZIZ, FIKRI
Avatara Vol 6, No 1 (2018): Vol 6 Nomer 1 (Maret 2018)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

PERKEMBANGAN KESENIAN GLIPANG DI DESA TEGALRANDU KECAMATAN KLAKAH KABUPATEN LUMAJANG TAHUN 1944-1992 NOVA PRATIWI, LELY
Avatara Vol 6, No 1 (2018): Vol 6 Nomer 1 (Maret 2018)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kesenian Glipang merupakan kesenian asli Kabupaten Lumajang. Kesenian Glipang memiliki keunikan dalam pertunjukannya. Keunikan Glipang terletak pada penyajian seorang pawang dalam membuka acara dengan meniti kawat yang tergantung pada dua tiang. Kesenian Glipang adalah salah satu contoh tarian yang memadukan antara seni beladiri atau pencak silat dengan seni tari. Kesenian Glipang pada masa perjuangan memiliki dua peran yaitu sebagai hiburan masyarakat dan sebagai alat propaganda. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah Apa latar belakang lahirnya Kesenian Glipang di Kabupaten Lumajang? Dan Bagaimana perkembangan Kesenian Glipang di Desa Tegal Randu Kecamatan Klakah Kabupaten Lumajang pada tahun 1944-1992? Metode penelitan yang digunakan adalah metode penelitian sejarah. Langkah penelitian meliputi Heuristik, Heuristik merupakan langkah mencari dan mengumpulkan sumber yang terkait dengan Perkembangan Kesenian Glipang di Desa Tegalrandu Kecamatan Klakah Kabupaten Lumajang tahun 1944-1992, sumber primer didapat dari narasumber berupa hasil wawancara dan dokumentasi. Sedangkan sumber sekunder didapat dari buku-buku tentang kesenian Glipang Kabupaten Probolinggo yang ditulis oleh Suyitno. Kritik merupakan suatu tahapan untuk melakukan pengujian terhadap sumber-sumber baik primer maupun sekunder. Interpretasi merupakan tahap mencari keterkaitan antara satu sumber dengan sumber lainnya, sehingga diperoleh fakta sejarah mengenai Perkembangan Kesenian Glipang di Desa Tegalrandu Kecamatan Klakah Kabupaten Lumajang tahun 1944-1992. Historiografi merupakan tahap penulisan sejarah sesuai dengan data yang telah didapatkan berkaitan dengan kesenian Glipang. Hasil penelitian dapat dianalisis bahwa, kesenian Glipang pada mulanya didirikan oleh Bapak Djojoamidarso dengan menggunakan Dzikir Mulut atau pengajian. Banyak masyarakat Lumajang yang tertarik dengan kesenian Glipang ini, salah satunya Bapak Syahlani yang berasal dari Desa Tegalrandu. Pecahnya Glipang bermula dari perbedaan pendapat antara Bapak Syahlani dan Bapak Djojoamidarso. Bapak Djojoamidarso menggunakan penari perempuan, sedangkan Bapak Syahlani tidak mengikut sertakan penari perempuan dengan alasan keselamatan karena situasi perang. Pada tahun 1944-1959 kesenian Glipang dijadikan sebagai alat propaganda untuk melawan Jepang. Setelah kemerdekaan Glipang lebih digemari masyarakat. Pada masa ini Glipang mencapai masa keemasan dengan memperoleh gelar juara tingkat provinsi. Glipang tahun 1960-1975 mengalami masa yang suram akibat adanya krisis politik dengan banyaknya terjadi kerusuhan akibat PKI. Pemberontakan tersebut mengakibatkan fakumnya Glipang yang berkepanjangan. Glipang tahun 1977-1992 merupakan masa keemasan yang kedua dengan diraihnya gelar juara kedua di tingkat provinsi namun atas nama kabupaten Lumajang. Rusaknya alat dan kostum yang dipakai serta biaya perbaikan yang mahal dalam pementasan turut serta mendorong meredupnya kesenian Glipang. Hal tersebut didorong dengan hijrahnya Bapak Yunus sebagai pengurus Glipang berhijah pada dunia pariwisata mengakibatkan fakumnya Glipang dari tahun 1992 sampai sekarang. Kata Kunci: Kesenian Glipang, Jepang, Perkembangan, Tegalrandu
PEMAHAMAN GURU SEJARAH ALUMNI PROGRAM STUDI S1 PENDIDIKAN SEJARAH UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA DI SMA MUHAMMADIYAH 4 SURABAYA TERHADAP SOAL BERBASIS HOTS (HIGHER ORDER THINKING SKILL) EKA WULANDARI, DEBBY
Avatara Vol 6, No 1 (2018): Vol 6 Nomer 1 (Maret 2018)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Soal HOTS merupakan salah satu soal untuk mengukur kemampuan berpikir tingkat tinggi peserta didik. Rendahnya kualitas guru juga bisa dilihat dari soal evaluasi  yang dilakukan oleh guru terhadap peserta didik, realita di lapangan menunjukkan bahwa guru-guru masih belum menerapkan menyusun soal berbasis HOTS (Higher Order thinking Skill). Hal ini dapat dibuktikan adanya pemantauan supervisi dan Pembinaan Pasca Evaluasi Hasil Belajar (EHB) SMA yang telah dilakukan oleh Direktorat Pembinaan SMA, yang hasilnya menunjukkan bahwa sebagian besar guru SMA dalam membuat butir soal pada umumnya hanya mengukur kemampuan berpikir tingkat rendah (Low Order Thinking Skills/LOTS) dan soal-soal juga tidak bersifat  kontekstual. Soal-soal yang disusun oleh guru umumnya mengukur proses berpikir mengingat (C1). Penelitian ini bertujuan untuk: 1) menganalisis pemahaman guru sejarah alumni Program Studi S1 Pendidikan Sejarah Universitas Negeri Surabaya di SMA Muhammadiyah 4 Surabaya terhadap soal berbasis HOTS yang merupakan salah satu tuntutan dari Revisi Kurikulum 2013 tahun 2017; 2) menganalisis pemahaman guru sejarah alumni Program Studi S1 Pendidikan Sejarah Universitas Negeri Surabaya di SMA Muhammadiyah 4 Surabaya terhadap soal kategori sulit dan soal berbasis HOTS; dan 3) menganalisis pemahaman guru sejarah alumni Program Studi S1 Pendidikan Sejarah Universitas Negeri Surabaya di SMA Muhammadiyah 4 Surabaya terhadap kemampuan berpikir tingkat tinggi peserta didik. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif melalui pendekatan evaluatif karena penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi dan menganalisis seberapa paham alumni dalam menyusun soal berbasis HOTS dengan menghimpun data yang diperoleh dari lembar penilaian terhadap pemahaman kriteria soal HOTS, wawancara secara mendalam, mengumpulkan dokumen-dokumen alumni, serta melakukan observasi nonpartisipan terhadap pembelajaran guru sejarah di kelas. Subyek dalam penelitian ini terdiri dari dua guru sejarah alumni program studi S1 Pendidikan Sejarah Universitas Negeri Surabaya di SMA Muhammadiyah 4 Surabaya angkatan tahun 2008 dan 2012. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemahaman guru sejarah alumni program studi S1 Pendidikan sejarah Universitas Negeri Surabaya di SMA Muhammadiyah 4 Surabaya terhadap soal berbasis HOTS (Higher Order Thinking Skill) termasuk kategori kurang paham. Selain itu juga, butis soal PTS yang dibuat oleh guru sejarah alumni angkatan 2008 dan 2012 masih belum menunjukkan indikator soal berbasis HOTS. Terdapat 15 butir soal PTS, yang masing-masing sebanyak 5 butir soal PTS dibuat oleh guru sejarah alumni angkatan 2008 kelas XI materi Sejarah Peminatan, sedangkan 10 butir soal PTS yang dibuat oleh guru alumni angkatan tahun 2012 kelas XI materi Sejarah Indonesia. Dari 15 butir soal PTS yang dibuat oleh guru sejarah alumni, belum ada butir soal yang terdapat stimulus, belum ada butir soal yang bersifat kontekstual. Soal PTS yang dibuat menggunakan jenis soal uraian, sedangkan soal yang jawabannya bersifat menalar, memprediksi, serta mencari hubungan antar konsep dan menerapkan proses kognitif revisi taksonomi Bloom mulai C4 (menganalisis), C5 (mengevaluasi), dan C6 (mencipta) hanya terdapat 6 soal dari 15 soal. Jika dipersentase soal yang belum terdapat stimulus dan kontekstual sebanyak 0%, sedangkan soal yang jawabannya menerapkan proses kognitif revisi taksonomi Bloom mulai C4 (menganalisis), C5 (mengevaluasi), dan C6 (mencipta) sebanyak 40%. Kata Kunci: Pemahaman, Soal HOTS, Revisi Kurikulum 2013 Tahun 2017, Guru Sejarah 
PERUBAHAN BUDIDAYA TANAMAN TEBU KE TANAMAN BAWANG MERAH DESA KEDUNG DALEM KECAMATAN DRINGU KABUPATEN PROBOLINGGO TAHUN 1998-2014 RIZAL PURNAMA RIYANTO, M.
Avatara Vol 6, No 1 (2018): Vol 6 Nomer 1 (Maret 2018)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kabupaten Probolinggo merupakan salah satu kabupaten yang terletak di Provinsi Jawa Timur dengan luas wilayah mencapai 1.696,17 . Penggunaan lahan di kabupaten Probolinggo didominasi oleh sektor pertanian dan mayoritas penduduknya pun bermata pencaharian sebagai petani. Kabupaten Probolinggo terdapat lahan pertanian tanaman tebu sejak zaman kolonial Belanda serta pabrik gula yang masih berdiri dan beroperasi sampai sekarang. Sejak zaman kolonial sistem produksi tanaman tebu kurang menguntungkan bagi para petani, dari proses persiapan lahan hingga panen membutuhkan waktu yang cukup lama, lahan yang digunakan pun menggunakan sistem sewa. Salah satu peninggalan pabrik gula yang terletak di Kecamatan Dringu yaitu PG Wonolangan masih menerapkan sistem yang sama. Dengan kondisi tersebut membuat para petani tanaman tebu khususnya di desa Kedung Dalem di tahun 2000-an beralih membudidayakan tanaman bawang merah. Membudiyakan tanaman bawang merah bagi masyarakat desa Kedung Dalem dirasa lebih menguntungkan dibanding tanaman tebu. Berdasarkan latar belakang masalah tersebut, maka penulis mengajukan rumusan masalah sebagai berikut: 1. Bagaimana terjadinya perubahan budidaya tanaman tebu ke bawang merah di Desa Kedung Dalem? 2. Bagaimana produktivitas bawang merah di Desa Kedung Dalem? 3. Bagaimana pengaruh budidaya bawang merah terhadap peningkatan ekonomi petani desa Kedung Dalem? Tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan latar belakang terjadinya perubahan budidaya tanaman tebu ke bawang merah desa Kedung Dalem, untuk mendeskripsikan produktivitas bawang merah desa Kedung Dalem, untuk menganalisis pengaruh budidaya bawang merah terhadap peningkatan ekonomi petani desa Kedung Dalem. Penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah yang meliputi heuristik, kritik, interpretasi dan historiografi. Hasil penelitian ini dapat diperoleh kesimpulan pada perubahan yang terjadi oleh petani tebu beralih ke petani bawang merah produksi tiap tahun mengalami peningkatan dari awal tahun 2001-2004 meningkat 30 ton per tahun hasil produksi dengan luas panen 144 Ha menjadi 165 Ha. Kemudian dari tahun 2004-2012 meningkat 10 ton per tahun hasil produksi dengan luas panen 165 Ha menjadi 65 Ha, serta dari segi ekonomi dari tahun 2000-2014 meningkat kesejahteraannya dilihat dari keuntungan yang diperoleh tiap panen ±5jt-8jt dalam 1 Ha lahan produksi. Ditinjau dari biaya modal awal, pendapatan, tenaga, dan resiko, membudidayakan tanaman bawang merah lebih mudah dibanding tanaman tebu, sehingga petani membudidayakan tanaman bawang merah lebih banyak mendapatkan keuntungan dan lebih sejahtera. Selain itu, bisa dilihat dari jumlah gedung, alat komunikasi, dan kendaraan yang setiap tahun meningkat, bahkan di kecamatan Dringu terdapat pasar bawang sebagai distribusi hasil produksi khusus tanaman bawang para petani yang berada di kecamatan Dringu Kabupaten Probolinggo.   Kata Kunci : Perubahan Budidaya, Tanaman Tebu, Tanaman Bawang Merah, Probolinggo
PERKEMBANGAN TEMBAKAU DI BOJONEGORO PADA TAHUN 1970-1995 Puji Prasetio, Slamet
Avatara Vol 6, No 1 (2018): Vol 6 Nomer 1 (Maret 2018)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tembakau merupakan salah satu tanaman komoditas ekspor yang memerlukan perawatan khusus dari mulai tanam hingga pengolahan. Perawatan tersebut membutuhkan banyak buruh yang ditempatkan berdasarkan bidang-bidang pengolahan. Dalam perawatan tersebut diberlakukan sistem kerja yang mengalami dinamika dari periode ke periode. Permasalahan yang dibahas dalam skripsi ini adalah : (1) Bagaimana perkembangan pertanian Temabakau di Bojonegoro tahun 1970-1995? (2) Bagaimana kontribusi pertanian tembakau terhadap perekonomian masyarakat Bojonegoro?. Penelitian ini mempunyai tujuan yaitu untuk : (1) Mendeskripsikan perkembangan pertanian tembakau di Bojonegoro tahun 1970-1995 (2) Mendeskripsikan konstribusi pertanian tembakau terhadap perekonomian masyarakat Bojonegoro. Metode penelitian yang digunakan dalam penulisan skripsi ini adalah metode sejarah yang terdiri dari empat tahap, yaitu tahap heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Tahap Heuristik kita dapat memperoleh Sumber penelitian berupa arsip, surat kabar, buku, jurnal, dan karya ilmiah lainnya yang dapat mendukung penelitian ini. Hal tersebut digunakan untuk menunjang agar data yang diperoleh dapat mewakili dari obyek yang diteliti. Dalam pengambilan data didukung dengan cara wawancara, observasi, studi pustaka, dan dokumentasi. Hasil  analisa data dapat diperoleh hasil sebagai berikut: Tembakau di Bojonegoro yang menjadi tenanaman primadona bagi masyarakat Bojonegoro mengalami beberapa fase perkembangan, pada tahun 1970 petani tembakau Bojonegoro mulai mengalami kehidupan yang lebih baik, pada tahun tersebut harga jual tembakau membaik sehingga perekonomiannya semakin membaik. Petani tembakau mempunyai kehidupan yang berbeda-beda, hal ini tergantung pada tanah yang mereka miliki. Pada tahun 1970 ekonomi petani mulai membaik upaya ini dilihat dari barang yang mereka miliki, sedangkan petani biasa hanya mampu untuk bertahan hidup demi memenuhi kebutuhan sehari-hari. Pada tahun 1995 petani tembakau mengalami masa yang sulit. Petani mengalami gagal panen akibat tanaman tembakau terserang penyakit yang akhirnya petani trauma dalam menanam kembali tembakau. Petani tembakau banyak yang berpindah menjadi petani padi, interaksi petani dari tahun ke tahun tidak mengalami perubahan yang mendasar. Bagi masyarakat petani aktivitas dan interaksi yang terbentuk selain dalam proses penanaman tembakau juga terlihat dalam tradisi-tradisi yang masih dipercaya. Kata Kunci : Petani Tembakau, Perkembangan , ekonomi