cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Avatara
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
E-Journal AVATARA terbit sebanyak tiga kali dalam satu tahun, dengan menyesuaikan jadwal Yudisium Universitas Negeri Surabaya. E-Jounal AVATARA diprioritaskan untuk mengunggah karya ilmiah Mahasiswa sebagai syarat mengikuti Yudisium. Jurnal Online Program Studi S-1 Pendidikan Sejarah - Fakultas Ilmu Sosial UNESA
Arjuna Subject : -
Articles 456 Documents
MUSIK KENDANG KEMPUL TAHUN 1980-2008 SATRIA PUTRA MAHENDRA, AKBAR; TRILAKSANA, AGUS
Avatara Vol 6, No 3 (2018)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Awal redupnya dunia musik di Banyuwangi disebabkan oleh Stigmastisasi negatif pada kesenian musik Angklung, dimana musik Angklung tersebut telah melahirkan lagu yang digunakan PKI dalam menyuarakan Revolusinya, yakni Genjer-Genjer. Musik Kendang Kempul dinilai sebagai musik populer daerah setelah redupnya dunia musik Banyuwangi. Musik Kendang Kempul mewarnai industri musik Banyuwangi tepat pada masa Orde Baru, dengan membawa semangat kedaerahan namun tetap pada konteks ke-Bhineka an. Namun, Kendang Kempul bukanlah musik yang populer di segala zaman. Musik kendang Kempul juga sempat redup di akhir dekade 1990?an, salah satunya dikarenakan faktor sosial politik pada akhir tahun 1998. Jenis musik Kendang Kempul baru muncul kembali di dekade 2000?an. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah tentang (1) Bagaimana latar belakang lahirnya musik Kendang Kempul di Banyuwangi; (2) Bagaimana sejarah perjalanan musik Kendang Kempul Banyuwangi pada era 1980 ? akhir 90?an; serta (3) Bagaimana perubahan dan pengembangan yang terjadi pada musik Kendang Kempul era reformasi tahun 1998 ? 2008. Metode dalam penelitian yang digunakan adalah metode penelitian sejarah. Heuristik (pengumpulan sumber) didapatkan peneliti di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Jawa Timur berupa CD Album Kendang Kempul. Sumber berupa hasil wawancara dilakukan kepada Narasumber yang berkaitan dengan perkembangan musik Banyuwangi. Kritik sumber dilakukan peneliti agar sumber yang didapatkan oleh peneliti dapat dijadikan sebagai sumber interpretasi data. Interpretasi data yang dilakukan berupa analisis sumber yang dikaitkan dengan kondisi pada saat itu. Historiografi merupakan metode akhir dalam penelitian, yakni dengan menuliskan hasil dari penelitian dalam bentuk tulisan. Hasil penelitian ini adalah tentang proses bagaimana dunia musik di Banyuwangi tumbuh dan berkembang, mulai dari musik yang paling tradisional hingga berubah menjadi musik kontemporer. Pasca kejadian PKI ?65. Banyak dari para musisi Banyuwangi dicurigai berkaitan dengan PKI, hal itulah yang dinamakan labeling atau stigmatisasi. Sampai pada era ?80-an sebuah orkes yang digawangi oleh Sutrisno, dan kawan-kawan dengan nama Arbas (Arek Banyuwangi asli) mulai mempopulerkan kendang kempul namun dengan balutan-balutan musik yang berkembang pada saat itu, atau dengan kata lain mengikuti alur perkembangan zaman. Pembahasan juga mencakup proses perkembangan musik Kendang Kempul yang dinamis, mulai dari kemunculannya, bagaimana musik itu berkembang, sampai terdapat grup pembaharu Kendang Kempul, yakni POB. Peneliti juga menjabarkan bagaimana faktor-faktor redupnya Kendang Kempul Lama dan Kemunculan Kendang Kempul ala POB, sekaligus sejarah dan perjalanan karir POB di dunia musik.
ALIH FUNGSI LAHAN TAMBAK KE SEKTOR INDUSTRI DI DESA BANYUWANGI, KECAMATAN MANYAR, KABUPATEN GRESIK TAHUN 2010-2017 shamsu, nur; , SUMARNO
Avatara Vol 6, No 3 (2018)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Alih fungsi lahan tambak Desa Banyuwangi saat ini sudah mulai mengalami perubahan-perubahan setelah masuknya industrialisasi, dimana industrialisasi ini tidak terlepas dari pembangunan masyarakat desa Banyuwangi. Desa Banyuwangi merupakan salah satu desa yang mengalami pembangunan dimana desa Banyuwangi tadinya merupakan desa biasa kemudian mengalami perubahan setelah terjadi penetapan alih fungsi lahan menjadi industri di gresik. Dampak dari adanya alih fungsi lahan tambak di desa Banyuwangi menjadi industri sangat dirasakan oleh masyarakat desa Banyuwangi, dimana masyarakat Desa Banyuwangi mengalami suatu perubahan dalam kehidupan mereka. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dampak alih fungsi lahan tambak terhadap pola kehidupan masyarakat desa Banyuwangi kecamatan Manyar kabupaten Gresik. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan sumber data utama yang terdiri dari pemerintah daerah dalam hal ini pemerintah gresik, tokoh masyarakat, dan warga masyarakat yang tinggal di Desa banyuwangi. Sumber data sekunder diperoleh melalui dokumentasi. Teknik pengumpulan data yang digunakan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Berdasarkan latar belakang pada penelitian ini, maka penulis merumuskan permasalahan yang akan dibahas dalam penelitian ini, antara lain sebagai berikut: (1) Bagaimana latar belakang dilakukannya alih fungsi lahan tambak menjadi wilayah industri di desa Banyuwangi; (2) Bagaimana pengaruh terjadinya alih fungsi lahan tambak terhadap kehidupan sosial, ekonomi dan budaya masyarakat desa Banyuwangi; (3) Bagaimana dampak terjadinya alih fungsi lahan tambak pada lingkungan di desa Banyuwangi;.Kata Kunci: Alih fungsi lahan, Desa Banyuwangi, Petani Tambak
PERKEMBANGAN TARI TAYUNG RACI SEBAGAI KESENIAN KHAS DESA RACI KULON KECAMATAN SIDAYU KABUPATEN GRESIK TAHUN 2012-2017 SABANIYAH, SYARIFATUS; TRILAKSANA, AGUS
Avatara Vol 6, No 3 (2018)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tari tayung raci merupakan kesenian dari Desa Raci Kulon Kecamatan Sidayu Kabupaten Gresik. Tari tayung raci menggambarkan tentang kisah kepahlawanan yang dilakukan oleh Kanjeng Demang Sindupati dalam memimpin prajurit (para pemuda Desa Raci Kulon) dalam melakukan perlawanan terhadap para penjajah Belanda. Tari tayung raci merupakan ikon budaya masyarakat Desa Raci Kulon sebagai simbol keberanian dalam menegakkan kebenaran. Oleh karena itu peneliti tertarik untuk mengambil rumusan masalah tentang (1) Apa yang melatarbelakangi masyarakat Desa Raci Kulon menghidupkan kembali Tari Tayung Raci? (2) Bagaimana perkembangan Tari Tayung Raci pada tahun 2012-2017? (3) Apakah makna simbolis yang ada pada Tari Tayung Raci?. Metode penelitian yang digunakan adalah metode sejarah, yaitu (1) heuristik, (2) kritik sumber, (3) interpretasi, dan (4) historiografi.Hasil penelitian ini adalah pada masa penjajahan Belanda Desa Raci Kulon dipimpin oleh Demang Sinduh Patih berusaha untuk mengusir para penjajah. Sehingga Demang memerintahkan menciptakan sebuah tari untuk membangkitkan semangat para pemuda Desa Raci Kulon, kemudian kesenian ini berubah fungsi sebagai hiburan dan tradisi di Desa Raci Kulon. Namun, pada tahun 1987 tari tayung ini mulai ditinggalkan dan kembali ditam pilkan pada tahun 2014. Sejak ditampilkan kembali tari tayung Raci mengalami beberapa berkembangan baik dari pemain, tata busana, maupun instrumen pengiring. Selain itu terdapat makna-makna simbolik yang ada didalam tari Tayung Raci yang menggambarkan kegagahan dan kelincahan dari para tayung/ punggawa. Makna simbolis gerak pada tari tayung menggambarkan gerak yang dinamis dan heroik. Untuk makna alat penggiring berfungsi sebagai pemberi semangat dalam mengusir penjajah dengan menjalin kesatuan dan persatuan.
BANJIR DI KECAMATAN KALIDAWIR TULUNGAGUNG TAHUN 1986-2015 Istieni, Nofi
Avatara Vol 6, No 2 (2018)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Banjir merupakan permasalahan umum yang sering terjadi sehingga diperlukan penanganan khusus bagidaerah rawan banjir. Kecamatan Kalidawir merupakan salah satu dari beberapa Kecamatan Tulungagung yang rawandengan terjadinya banjir. Topografi dari Kecamatan Kalidawir yang sebagian desanya tergolong dataran rendah.Permasalahan yang dibahas dalam penelitin ini yaitu (1) Bagaimana latar belakang terjadinya banjir di KecamatanKalidawir Tulungagung tahun 1986-2015? (2) Wilayah mana saja yang rawan terjadi banjir dan dampak banjir diKecamatan Kalidawir Tulungagung tahun 1986-2015? (2) Bagaimana penanggulangan banjir di Kecamatan KalidawirTulungagung tahun 1986-2015?. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian sejarah yang memilikibeberapa tahap penelitian, diantaranya (1) heuristik (2) kritik (3) interprestasi dan (4) historiografi.Hasil dari penelitian yang didapat menunjukkan faktor penyebabab banjir adalah wilayah KecamatanKalidawir yang sebagian wilayahnya termasuk dataran rendah dan adanya peristiwa alam seperti tingginya intensitascurah hujan. Wilayah yang rawan terjadi banjir di Kecamatan Kalidawir adalah Desa Tunggangri, Desa Karangtalun,Desa Jabon, dan Desa Kalidawir. Banjir di Kecamatan Kalidawir menyebabkan dampak yang cukup serius, sepertirusaknya sebagian pemukiman warga dan sawah petani menjadi rusak. Melihat kondisi dari desa-desa di KecamatanKalidawir membuat pemerintah melakukan berbagai upaya dalam menanggulanginya, seperti dilakukannya normalisasisungai Kalidawir dan sosialisasi kepada masyarakat.
PERKEMBANGAN KOTA SUMENEP PADA MASA PEMERINTAHAN HINDIA BELANDA TAHUN 1883-1926 MAHMUDAH, INAYATUL; , ARTONO
Avatara Vol 6, No 3 (2018)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kota Sumenep pada awalnya merupakan kota tradisional berupa kota kraton yang terletak di dekat laut. Kota kraton merupakan tempat kediaman para raja dan keluarganya dan berperan sebagai pusat dilakukannya kegitanpemerintahan, kegiatan ekonomi dan kebudayaan. Setelah Sumenep jatuh ketangan VOC tahun 1705, maka mulaimasuklah unsur-unsur asing dalam penataan Kota Sumenep. Orang-orang Eropa membawa pola pemukiman baru yangsedikit demi sedikit menggeser kedudukan Kota Sumenep sebagai Kota Kraton menjadi kota yang bercorak kolonial.Setelah adanya reorganisasi pada tahun 1883, pemerintah mengembangkan Kota Sumenep sebagai pusat pemerintahanatau Daerah Pusat Kota DPK) dan sebagai pusat industri dan distribusi hasil-hasil pertanian dan perdagangan atau CentralBusiness District (CBD). Penelitian ini menggunakan metode penelitian Sejarah yang terdiri dari empat tahap, yaituheuristik, kritik sumber, intepretasi, dan historiografi. Penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui (1)Mengapapemerintah Hindia Belanda mengembangkan kota Sumenep sebagai Daerah Pusat Kota atau (DPK) atau Central BusinessDistrict (CBD); (2)Bagaimana perkembangan Kota Sumenep pada masa pemerintahan Hindia Belanda pada tahun 1883-1926; (3)Bagaimana dampak dari perkembangan Kota Sumenep terhadap kehidupan sosial ekonomi masyarakat padatahun 1883-1926.Kata Kunci: Perkembangan Kota, Pemerintahan Hindia belanda,Sumenep
RESPON GURU DAN SISWA SMA DI KABUPATEN TUBAN TERHADAP PENGELOLAAN MUSEUM KAMBANG PUTIH SEBAGAI SUMBER LITERASI SEJARAH DAN BUDAYA SERTA PENGUATAN PENDIDIKAN KARAKTER , INDARTI; SUPRIJONO, AGUS
Avatara Vol 6, No 3 (2018)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dewasa ini masyarakat Indonesia kurang memiliki kesadaranterhadap pentingnya peranan museum sebagai pendidikan, padahal di dalam museum itu sendiri terdapatbenda-benda peninggalan sejarah yang dapat digunakan untuk mengetahui sejarah dan budaya bangsa kita sehinggabisa membentuk karakter yang baik bagi generasi penerus. Hal ini juga berlaku terhadap Museum Kambang PutihTuban yang kurang dimanfaatkan untuk sarana pendidikan, oleh karena itu peneliti ingin mengetahui bagaimanarespon guru dan siswa terhadap pengelolaan Museum Kambang Putih sebagai tempat literasi sejarah dan budayaserta penguatan pendidikan karakter.Penelitian ini termasuk dalam penelitian kulitatif dengan pendekatan deskriptif kuantitatif, karena selainmendeskripsikan bagaimana respon guru dan siswa SMA di Kabupaten Tuban terhadap pengelolaan museum respontersebut juga akan diprosentasikan dalam bentuk angka. Untuk mengetahui bagaimana respon guru dan siswa SMApeneliti menggunakan angket sebagai instrumen serta wawancara dan dokumentasi untuk melengkapi hasilwawancara tersebut.Dari hasil wawancara tersebut 123 siswa dari empat sekolah di Kabupaten tuban 122 siswa diantaranyamengatakan bahwa Museum Kambang Putih dapat digunakan sebagai tempat literasi dan pendidikan karakter,karena di museum sendiri terdapat banyak benda koleksi peninggalan sejarah mulai dari masa pra aksara sampaimasa kolonial. Selain itu juga terdapat koleksi alat musik tradisional dan batik serta alat untuk membuatnya.Sedangkan satu siswa lainnya mengatakan bahwa belajar sejarah bisa dilakukan dimana saja tidak hanya di museum.Untuk fasilitas juga sudah cukup baik, bersih dan penataan koleksi disesuaikan dengan masa untukmemudahkan siswa mempelajari sejarah, ruang pameran benda yang cukup luas. Walaupun belum sepertimuseum-museum di kota tetapi Museum Kambang Putih sudah nyaman jika digunakan sebagai tempat untukpembelajaran.Sedangkan respon daru guru, empat guru yang menjadi responden dua diantaranya memberikan responyang positif pula sedangkan dua lainnya ada yang megatakan kurang baik dan kurang tau bagaimana pengelolaanMuseum Kambang Putih kambang Putih. Untuk respon positif guru tersebut megatakan bahwa museum sudahmemiliki fasilitas yang baik serta koleksi yang mendukung untuk pembelajaran dan literasi. Sedangkan responnegatif karena menurut guru tersebut museum Kambang Putih koleksinya masih sedikit, padahal di museum sendirimemiliki lebih dari 5000 benda koleksi yang dapat dimanfaatkan sebagai pembelajaran karena mewakili dariberbagai priode masa di Indonesia. Kata kunci : pengelolaan museum kambang putih, literasi, pendidikan
PERKEMBANGAN PERWAKOS (PERSATUAN WARIA KOTA MADYA SURABAYA) PADA TAHUN 1978-1999 HARIS NASUTION, MOHAMAD; , WISNU
Avatara Vol 6, No 3 (2018)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sebagian dari masyarakat Surabaya terdapat salahsatu kaum yang termarjinalkan dalam masyarakat yakni kaum waria (wanita pria) sebutan lainnya wadam (wanita adam), dan bencong atau banci. Waria merupakan lelaki yang memiliki hasrat seperti perempuan, dalam bahasa pisikologis disebut transeksual atau pinyimpangan seksual yang menganggap diri mereka sebagai seorang perempuan. Seringkali waria melakukan kegiatan prostitusi, sehingga masyarakat terganggu akan perilaku waria tersebut sehingga masyarakat mengnggap waria sebagai salah satu klompok yang menimbulkan keresahan dalam masyarakat. Untuk menanggulangi perilaku negatif itu pada tanggal 13 Nopember 1978 di Surabaya didirikan sebuah organisasi untuk menaungi para waria yakni PERWAKOS (Persatuan Waria Kota Madya Surabaya) yang diketuai oleh Pangky kentut dan disahkan dihadapan notaries M.M Lomanto S.H No 46. Berdasarkan latar belakang masalah tersebut, maka rumusan masalah penelitian ini sebagai berikut: 1). Bagaimana perkembangan dan latar blakang waria di Surabaya sampai tahun 70-an? 2). Bagaimana perkembangan PERWAKOS (Persatuan Waria Kota Madya Surabaya) tahun 1978-1999? Dan, 3). Bagaimana dampak didirikannya PERWAKOS (Persatuan Waria Kota Madya Surabaya) bagi waria di Surabaya?. Tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan perkembangan dan latar blakang waria di Surabaya sampai tahun 70-an, untuk, untuk menjelaskan perkembangan PERWAKOS (Persatuan Waria Kota Madya Surabaya) tahun 1978-1999, daan untuk menjelaskan dampak didirikannya PERWAKOS (Persatuan Waria Kota Madya Surabaya) bagi waria di Surabaya. Berdasarkan analisis penelitian penulis, bahwa perkembangan PERWAKOS yang terjadi pada tahun 1978-1999 mengalmi sebuah perkembangan yang cukup pesat. Dimana sebagai organisasi yang menaungi para waria di Surabaya PERWAKOS menjadi organisasi yang berpengaruh baik bagi waria ataupun masyarakat Surabaya. kegiatan banyak dilakukan oleh organisasi dimana tujuannya untuk memberdayakan para waria baik dari segi moral ataupun ekonomi agar tidak melakukan kegiatan prostitusi. Selain untuk memberdayakan para waria juga PERWAKOS sebagai naungan waria di Surabaya mulai memperjuangkan hak-hak para waria sebagaimana manusia yang lain yang mendapat hak mereka sebagai manusia. Dimana perjuangan tersebut juga dilakukan acara Gay Pride sebagai upaya untuk memperjuangkan hakhak homoseksual maupun waria. Kata Kunci: Waria, PERWAKOS, Surabaya, Gay Pride
DAGELAN POLITIK GUS DUR TAHUN 1999-2001 SYARIF HIDAYATULLOH, NANDA; HANAN PAMUNGKAS, YOHANES
Avatara Vol 6, No 3 (2018)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dagelan adalah humor yang melelehkan bukan melecehkan kebekuan, kekakuan, kesakralan. Jangan menerima dengan logika lurus yang biasa. Secara umum dagelan digunakan untuk menghibur seseorang, namun Gus Dur menggunakan dagelan untuk komunikasi politik di dalam dunia perpolitikkan. Wacana dagelan-dagelan politik Gus Dur tidak dapat dilepaskan dari berbagai peristiwa politik yang menjadi realita politik dan juga Gus Dur yang membawa suasana perubahan politik di Indonesia tahun 1999-2001. Dalam hal ini penulis bermaksud untuk mengambil penelitian terkait komunikasi politik melalui dagelan dan konteks wacana dagelan politik Gus Dur serta dagelan Gus Dur dalam membawa suasana perubahan politik. Penelitian ini mengambil rumusan masalah yaitu (1) Bagaimana komunikasi politik Gus Dur melalui dagelan pada tahun 1999-2001? (2) Bagaimana wacana dagelan politik Gus Dur dalam konteks peristiwa politik dan pengaruh dagelan dalam perubahan politik tahun 1999-2001? Metode penelitian ini adalah metode sejarah dengan langkah-langkah (1) Heuristik; (2) Kritik; (3) Interpretasi; (4) Historiografi. Hasil penelitian menunjukan bahwa (1)Kebiasaan Gus Dur yang membuat pernyataan secara nyeleneh baik dalam acara formal maupun informal dengan komunikasi politik melalui dagelan dalam menanggapi peristiwa politik yang terjadi di Indonesia. (2)Wacana dagelan politik merupakan jargon yang dipakai Gus Dur dalam perpolitikkan di Indonesia pada tahun 1999-2001. Dari wacana-wacana dagelan politik tersebut digunakan oleh Gus Dur untuk meredam peristiwa yang terjadi di Indonesia. Selain itu juga sebenarnya wacana dagelan politik Gus Dur mengandung makna yang menginspirasi bagi setiap orang untuk berfikir secara logis jika orang mampu untuk memahaminya. Selain itu wacana dagelan politik Gus Dur mengundang berbagai konflik yang sering membawa Gus Dur ke masalah-masalah politik. Namun Gus Dur sering menanggapinya dengan santai. (3)Wacana dagelan politik Gus Dur mencairkan situasi politik era reformasi ke arah kebebasan. Kebebasan juga mengarah kepada kebebesan pers yang tidak lagi dibatasi oleh pemerintahan. Wacana dagelan politik juga membawa Gus Dur ke dalam masalah-masalah politik yang dilakukan oleh musuh-musuh politiknya yang sebelumnya mendukungnya untuk menjadi presiden dan pada akhirnya juga yang melengserkan Gus Dur dari kursi kepresidenan. Kata Kunci: Dagelan, Komunikasi Politik, Perubahan politik.
PERKEMBANGAN PARIWISATA DI KABUPATEN LAMONGAN : HISTORISITAS DARI WISATA SEKTORAL KE WISATA TERPADU TAHUN 2000 – 2010 YOGA YULIYANTO, AFIF; SUPRIJONO, AGUS
Avatara Vol 6, No 3 (2018)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kondisi pariwisata sektoral Kabupaten Lamongan yang kurang berkembang pada tahun 1999 ? 2000 membuat sektor ekonomi masyarakat sekitar daerah pariwisata tidak mengalami kenaikan yang signifikan. Dua obyek pariwisata di pesisir pantai utara jawa, yakni Goa Maharani dan Tanjung Kodok merupakan potensi Kabupaten Lamongan dari sektor pariwisata yang seharusnya bisa lebih dikembangkan. Maka melalui Visi Misi Bupati Lamongan, H.Masfuk, salah satu sektor yang dikembangkan adalah pariwisata. Pengembangan sektor pariwisata di Kabupaten Lamongan selama Bupati Masfuk menjabat tahun 2000 ? 2010, membawa dampak secara ekonomi,sosial,dan budaya bagi masyarakat sekitar daerah pariwisata maupun bagi Kabupaten Lamongan pada umumnya.Berangkat dari latar belakang tersebut, dapat dikemukakan rumusan masalah sebagai berikut : (1) Bagaimana historisitas pergeseran dari wisata sektoral menuju ke wisata terpadu tahun 2000 ? 2010 ?; (2) Bagaimana dampak pengembangan wisata terpadu pada Kabupaten Lamongan ?; (3)Bagaimana dampak pengembangan wisata terpadu terhadap kehidupan ekonomi,sosial,dan budaya masyarakat sekitar daerah pariwisata terpadu ? Berdasarkan rumusan masalah yang ada peneliti kemudian melakukan penelitian untuk mencari jawaban dari setiap rumusan masalah yang telah dikemukakan.Kata Kunci: Perkembangan, Pariwisata, Kabupaten Lamongan, Terpadu
MAYOR R. DJAROT SUBIYANTORO DALAM MEMPERTAHANKAN KEMERDEKAAN INDONESIA DI SURABAYA TAHUN 1945-1950 NOVALDI, AINUN; LIANA, CORRY
Avatara Vol 6, No 3 (2018)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Revolusi rakyat mempertahankan kemerdekaan di Surabaya dimulai sejak proklamasi di bacakan pada tanggal 19 Agustus 1945. Semangat nasionalisme anti penjajah dirasakan oleh seluruh rakyat Surabaya pada umumnya. pertahanan rakyat semesta didirkan sebagai jawaban sikap patriotism rakyat Surabaya diantaranya dengan membentuk barisan-barisan penggempur musuh disamping organisasi militer resmi bentukan pemerintah yaitu Badan Keamanan Rakyat (BKR). Salah satu yang tidak banyak dikenal diantara pemimpin barisan penggempur ialah Djarot Subiyantoro, seorang pemuda mantan komandan pasukan Jibakutai atau pasukan berani mati di masa pendudukan Jepang yang memiliki andil besar dalam sejarah perjuangan mempertahankan kota Surabaya di masa revolusi mempertahankan kemerdekaan.Djarot Subiyantoro lahir di Mojokerto pada tanggal 11 Desember 1919 tepatnya di kampong Gedangsari. Kedatangan Inggris dan Belanda di Surabaya dengan senjata-senjata tangguhnya telah menyebabkan jatuhnya banyak korban dari kalangan rakyat, sehingga diperlukan pasukan pemberani untuk melawan. Keberadaan Mayor Djarot cukup membuat pasukan musuh ketakutan, dimulai dari serangan pendadakan yang dilakukan ketika pertempuran 10 November di Surabaya, agresi militer , infiltrasi operasi komando brawijaya, hingga diangkatnya Mayor Djarot menjadi komandan Komando Militer Kota Besar Surabaya sebagai upaya menjaga keamanan kota dimasa peralihan kekuasaan dari tangan Belanda.Dalam penelitian ini diambil tiga macam permasalahan yang diinginkan penulis antara lain (1) Bagaimana keterlibatan Mayor Djarot dalam perang semesta melawan penjajah tahun 1945-1949 ?. (2) Bagaimana peran Mayor Djarot dalam perang rakyat semesta melawan penjajah tahun 1945-1949 ?. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui keterlibatan Mayor Djarot dalam perang rakyat semerta tahun 1945-1949, serta perannya ketika menjabat komandan KMKB Surabaya untuk memulihkan keamanan dan ketertiban kota tahun 1949-1950.Penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah yang meliputi Heuristik, kritik , interpretasi dan historiografi. Untuk mendukung metode tersebut, penulis mengkombinasikan dengan diawali pencarian Sumber baik berupa sumber sekunder berupa buku yang didapatkan dari Museum Brawijaya, Bapersip Jawa Timur, Perpustakaan DHD?45 Jatim, Perpustakaan Nasional RI. Selain itu juga dilakukan wawancara dengan beberapa narasumber sebagai sumber primer antara lain bapak Soewandhi selaku putra tunggal Mayor Djarot Subiyantoro, Ibu Ny.Soebadhina yang merupakan adik kandung Mayor Djarot, serta berbagai veteran pejuang yang salah satu diantaranya merupakan rekan sesama komandan batalyon yaitu Bapak Soetjipto Kertodjojo ( mantan komandan batalyon Tjipto). Hasil dari penelitian ini dipoleh data mengenai latar belakang Mayor Djarot Subiyantoro yang merupakan anak dari delapan bersaudara putera dari pasangan suami istri Ibnu Sa?id Kartowardojo dan Kamiyatin adalah keturunan keraton Jogja yaitu Sultan Hamengku Buwono ke III. Karir militer Mayor Djarot dimulai sejak menjadi komandan Jibakutai, kemudian berubah menjadi komandan batalyon Djarot di masa revolusi fisik, komandan KMKB Surabaya, Komandan Brigade I Ronggolawe, Kepala Badan Kerjasama Buruh, serta masuk dalam struktur Komando pelatihan angkatan darat (KOPLAD) sebelum akhirnya pension dini. Peran Mayor Djarot di kota Surabaya terlihat semakin jelas ketika menjabat sebagai komandan KMKB. Berbagai kasus dihadapinya dimulai ketika upaya penyelidikan dan pengamanan kota dari terror, pemberian kebijakan terhadap rumah rumah dinas, pengamanan demontrasi pembubaran Negara Jawa Timur.Kata Kunci : Mayor Djarot, Perang, KMKB Surabaya