cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Avatara
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
E-Journal AVATARA terbit sebanyak tiga kali dalam satu tahun, dengan menyesuaikan jadwal Yudisium Universitas Negeri Surabaya. E-Jounal AVATARA diprioritaskan untuk mengunggah karya ilmiah Mahasiswa sebagai syarat mengikuti Yudisium. Jurnal Online Program Studi S-1 Pendidikan Sejarah - Fakultas Ilmu Sosial UNESA
Arjuna Subject : -
Articles 456 Documents
KEBIJAKAN PENGHAPUSAN IKLAN DI TVRI PADA TAHUN 1981-2002 LEO ANUGRAH, MEMO; , ARTONO
Avatara Vol 6, No 3 (2018)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

TVRI sebagai media penyiar pada awal tahun 1962 dengan tayangan perdana yaitu Asian Games di Indonesia, peran Indonesia sebagai tuan rumah menjadi prioritas utama dalam penyiaran. Peran TVRI di masa kepemimpinan Soeharto terdapat beberapa kebijkan untuk TVRI terutama penutupan iklan. Dalam Skripsi ini penulis mencoba menganalisis tentang politik yang diterapkan oleh Soeharto pada TVRI. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metode sejarah yang digunakan untuk menyusun fakta, mendesikripsikan, dan menarik kesimpulan tentang masa lampau. Adapun kegiatan yang dilakukan dalam metode sejarah yaitu memilih topik, heuristic, kritik,interpretasi, dan historiografi. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa penutupan iklan di TVRI pada tahun 1981, penghapusan tersebut disebabkan karena tidak adanya siaran iklan untuk membantu program pembangunan dalam arti iklan pada saat itu kurang mendidik, dari dampak pelarangan tersebut berkurangnya dana bagi TVRI, kurangnya tantangan bagi warga negara asing untuk bekerja di Indonesia. Alasan lain ditutupnya iklan di TVRI yaitu agar terdapat pemerataan iklan terutama di media cetak atau media lain. TVRI berusaha bertahan dari politik yang dibuat Soeharto dengan pengumpulan dana dari masyarakat setempat dan pendanaan dari pemerintah yang minim. Kata Kunci: TVRI, Kebijakan Politik, Iklan
PERANAN POETRI MARDIKA DALAM MENDUKUNG PENDIDIKAN PEREMPUAN PRIBUMI JAWA 1912-1918 INDAH SARI, NUR; LIANA, CORRY
Avatara Vol 6, No 3 (2018)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Budaya masyarakat Jawa yang sangat memegang kental dengan adat istiadat feodal, perempuan tidak memiliki kebebasan untuk mendapat kebahagiaan dan kemajuan pendidikan. Dengan adanya adat istiadat yang mengikat, kaum perempuan pribumi tidak mendapatkan haknya untuk mengenyam pendidikan yang layak. Karena sebagai perempuan tugas mereka hanya mengurusi dapur (memasak), di sumur (mencuci), dan di kasur (melayani suami). Keadaan ini yang memunculkan semangat kaum perempuan untuk melakukan perubahan nasib kaumnya, terutama kesempatan untuk dapat memperoleh pendidikan yang layak. Pada awal abad ke-20 terjadi banyak perubahan dalam aspek kehidupan masyarakat pribumi yang diupayakan untuk memajukan masyarakat. Dengan terjadinya perubahan,, memunculkan pandangan baru bahwa untuk mencapai kesejahteraan masyarakat, juga meningkatkan derajat kaum perempuan pribumi Jawa salah satunya melalui pendidikan. Hal ini memunculkan gagasan dari perempuan yang duduk di perkunpulan Budi Utomo bagian Betawi untuk mendirikan sebuah organsisa perempuan yaitu Perkumpulan Poetri Mardika. Perkumpulan Poetri Mardika didirikan tahun 1912 di Jakarta, yang dilatar belakangi oleh keadaan pendidikan di sekolah yang begitu mahal dan keadaan kaum perempuan yang masih terikat oleh adat istiadat feodalisme, menyebakan kaum perempuan pribumi kesulitan untuk memasuki dunia pendidikan. Secara umum, penelitian ini , bagaimana usaha kaum perempuan untuk mendapatkan pendidikan. Penelitian ini akan membahas mengenai (1) Mengapa perjuangan Poetri Mardika difokuskan pada bidang pendidikan; (2) Bagaimana peranan Poetri mardika dalam mendukung pendidikan perempuan pribumi 1912-1918. Pada penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah yang terdiri atas empat tahap yaitu tahap Heuristik, Kritik, Interpretasi dan Historiografi. Penelitian ini bertujuan mengetahui sejarah berdirinya perkumpulan Poetri Mardika dan peranan Poetri Mardika dalam bidang pendidikan. Hasil penelitian menjelaskan Poetri Mardika merupakan perkumpulan perempuan pertama di Indonesia awal abad ke-20. Poetri Mardika dalam perkembangannya mengalami perubahan perubahan tujuan yang awalnya untuk memajukan kedudukan perempuan dalam hukum, akibat dari kegagalan mosi yang dilakukannya berubah mernjadi pemberian beasiswa penididikan bagi anak-anak perempuan yang tidak mampu ekonominya baik di Jawa maupun luar Jawa. Kata Kunci : Perempuan, Poetri Mardika, PendidikanAbstr
PENANGANAN KONFLIK ANTAR PENDUDUK DENGAN BROMOCORAH DAN DUKUN SANTET DI JEMBER TAHUN 1980-1981 TIARA DWI NOVIANTI, ADIS; LIANA, CORRY
Avatara Vol 6, No 3 (2018)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Jember adalah sebuah wilayah Kabupaten di Provinsi Jawa Timur. Kabupaten ini berbatasan dengan Kabupaten Probolinggo dan Kabupaten Bondowoso di utara serta Kabupaten Banyuwangi di timur, Samudera Hindia di selatan, dan Kabupaten Lumajang di barat. Kabupaten Jember terdiri dari 31 kecamatan. Dalam konteks regional, Kabupaten Jember mempunyai kedudukan dan peran yang strategis sebagai salah satu Pusat Kegiatan Wilayah (PKW). Mayoritas penduduk Kabupaten Jember terdiri atas suku Jawa dan suku Madura. Jember adalah daerah migrasi dari madura. Wilayah ini relatif baru di buka dan dianggap sebagai daerah perbatasan (frontier area).Kepadatan penduduk dan timbulnya beberapa konflik yang terjadi menumbuhkan beberapa kasus kriminalitas dan kerusuhan di berbagai daerah di Jember.Berdasarkan latar belakang masalah tersebut, maka rumusan masalah penelitian ini sebagai berikut : 1.Bagaimana Latar Belakang terjadinya konflik antar penduduk dengan bromocorah dan dukun santet di Jember tahun 1980-1981? 2.Bagaimana penanganan konflik antar penduduk dengan bromocorah dan dukun santet di Jember tahun 1980-1981? 3.Bagaimana dampak terjadinya kasus konflik antar penduduk dengan bromocorah dan dukun santet di Jember tahun 1980-1981?. Penelitian ini menggunakan metode penelitian Sejarah dengan menggunakan sumber utama berupa arsip dan pemberitaan-pemberitaan media cetak dari surat-surat kabar seperti Surabaya Post dan Majalah Tempo serta menggunakan sumber pendukung berupa buku-buku yang berkaitan dengan penelitian.Hasil analisis penelitian menjelaskan bahwa, ?Konflik Jember? merupakan kasus tindakan main hakim sendiri yang dilakukan massa yang bermotifkan balas dendam. Memuncaknya kemarahan masyarakat Jember kepada sindikat Bromocorah dan Dukun Santet yang sering mengganggu ketenangan masyarakat di beberapa desa di Kabupaten Jember. Peristiwa tersebut umumnya terjadi di pedukuhan atau desa yang jauh dari kota kecamatan sehingga bantuan keamanan sering mengalami hambatan. Di samping jalan menuju ke tempat peristiwa agak jauh dan berat karna kondisi geografis Jember yang sebagian besar masih perkebunan serta terbatasnya sarana komunikasi dan kendaraan sangat mempengaruhi kelancaran pelaksanaan tugas pengamanan. Kadar pengetahuan masyarakat yang terbatas merupakan sasaran yang lunak bagi pihak ketiga untuk memasukkan pengaruh yang sifatnya menghasut.Terdapat dampak terhadap kehidupan politik,dan sosial akibat terjadinya konflik di Jember. Dalam bidang politik, secara keseluruhan memiliki dampak terhadap kegaduhan antar anggota partai politik yang beranggapan bahwa kasus ini ada campur tangan pemerintah yang menjalankan sehingga menimbulkan banyak korban. Dalam bidang sosial, memiliki dampak selain membuat masyarakat resah juga menimbulkan berbagai penanganan yang serius dari pemerintah untuk menyelesaikan konflik yang ada di Jember.Kata Kunci:Jember, Bromocorah, Dukun Santet, Konflik, Kriminalitas.
GERAKAN PROTES MAHASISWA SURABAYA TERHADAP KEKUASAAN ORDE BARU PADA MEI TAHUN 1998 DI SURABAYA SEPTY PUSPITA, LAYLA; LIANA, CORRY
Avatara Vol 6, No 3 (2018)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gerakan mahasiswa pada 1998 dapat disebut sebagai gerakan yang menjadi pelopor terjadinya sebuah perubahan sosial di Indonesia. Di Surabaya, berbagai perguruan tinggi tidak luput melakukan berbagai aksi menuntut reformasi. Isu-isu yang diangkat sama dengan isu nasional hingga dapat menggulingkan rezim Orde Baru. Pemicu gerakan mahasiswa adalah krisis ekonomi dan krisis politik yang melanda Indonesia mulai dari tahun 1997-1998. Gerakan mahasiswa Indonesia serta gerakan mahasiswa di berbagai daerah memiliki banyak dampak dalam berbagai bidang. Salah satunya adalah kebebasan berpendapat serta berekspresi bagi seluruh rakyat Indonesia yang telah diatur secara konstitusional.Berdasarkan latar belakang masalah tersebut, penelitian ini mengambil rumusan masalah yaitu : (1) bagaimana proses gerakan protes mahasiswa Surabaya pada bulan Mei 1998 yang dianggap lebih aman dan terkendali dalam memperjuangkan reformasi Indonesia? (2) bagaimana dampak yang terjadi setelah peristiwa gerakan mahasiswa Surabaya terhadap organisasi serta kegiatan kemahasiswaan pasca Orde Baru tahun 1998?. Penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah dengan sumber utama yang dipakai adalah Koran Surabaya Post dan wawancara, serta buku-buku pendukung yang berkaitan dengan penelitian.Selanjutnya, hasil yang didapat dari penelitian ini adalah gerakan mahasiswa di Surabaya merupakan aksi solidaritas sesama mahasiswa sebagai kaum intelektual dalam memperjuangkan nasib serta hak?hak rakyat. Terdapat pra aksi, proses aksi, serta dampak yang ditimbulkan oleh gerakan mahasiswa di Surabaya. Pra aksi meliputi persiapan strategi, pembentukan komite aksi, perizinan, penentuan pusat aksi, aksi, hingga evaluasi akhir aksi. Banyak aksi yang dilakukan mahasiswa Surabaya hingga terjadi bentrok dengan aparat namun tidak terdapat korban jiwa karena mahasiswa Surabaya sudah sepakat untuk selalu melakukan aksi damai dalam berbagai demonstrasi yang dilakukannya. Kesepakatan tersebut dibuat dalam rapat konsolidasi yang dilakukan oleh wakil-wakil dari tiap kampus di Surabaya.Terdapat dampak yang terjadi di Surabaya namun tidak terlalu signifikan. Hal yang paling dirasakan oleh kalangan mahasiswa adalah kebebasan mereka dalam berpendapat dan berekspresi seperti pembentukan organisasi baru serta diskusi. kebebasan berpendapat sudah diatur secara konstitusional.Kata Kunci : Gerakan Mahasiswa, Orde Baru, Surabaya
PERUBAHAN SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT SEKITAR KAWASAN LOKALISASI DOLLY WILAYAH PUTAT JAYA PASCA PENUTUPAN 2014 ASHYKIN, SUHENDRIK; TRILAKSANA, AGUS
Avatara Vol 6, No 3 (2018)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Lokalisasi Dolly merupakan wilayah prostitusi terbesar di Asia Tenggara dan sudah sangat terkenal, wilayah ini juga memberikan sumbangan besar bagi pendapatan daerah, perekonomian dan usaha di kelurahan Putat Jaya juga sangat menjanjikan. Namun, keberadaan lokalisasi tentunya memberikan berbagai macam dampak buruk bagi masyarakat, dampak buruk tersebut berupa rusaknya lingkungan, kondisi sosial serta merusak mental anak-anak yang berada di wilayah lokalisasi. Kondisi ini memaksa pemerintah Kota Surabaya untuk segera mengambil keputusan untuk menutup lokalisasi, penutupan lokalisasi akhirnya terlaksana di tanggal 18 juni tahun 2014.Penelitian ini mengambil rumusan masalah yaitu 1) faktor-faktor apa saja yang menyebabkan terjadinya perubahan sosial ekonomi di pasca penutuan ?, 2) bagaimana perubahan sosial ekonomi yang terjadi pada masyarakat sekitar kawasan lokalisasi dolly pasca penutupan ?. Rumusan masalah tersebut memiliki tujuan menganalisis dari semua rumusan masalah yang di bahas. Metode penelitian yang digunakan peneliti adalah metode penelitian sejarah, yaitu terdiri dari heuristik, kritik, interpretasi dan historiografi. Penelitian ini termasuk penelitian kualitatif karena menggunakan sumber data hasil survey, wawancara dan observasiHasil penelitian ini menunjukan bahwa pasca penutupan lokalisasi Dolly tahun 2014, terjadi perubahan sosial ekonomi faktor penyebab perubahan adalah kesadaran masyarakat untuk hidup lebih baik, berkurangnya perilaku konsumtif, dan pelatihan ketrampilan kerja masyarakat dari dukungan pemerintah Surabaya. Perubahan yang terjadi adalah berkurangny dampak negatif lokalisasi dan majunya wilayah Putat Jaya dalam bidang ekonomi, sosial masyarakat, kebersihan, dan keamanan serta meningkatnya pratisipasi masyarakat dalam pembangunan.Kata Kunci : Lokalisasi Dolly, Perubahan Sosial Ekonomi
DINAMIKA PARTAI ISLAM DI DALAM PEMILU DI REMBANG TAHUN 1998-2015 SYARIFUTHOHIRIN, A; TRILAKSANA, AGUS
Avatara Vol 6, No 3 (2018)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Islam politik di Indonesia sudah berkembang sejak zaman pergerakan nasional. pada saat Sarekat Islam (SI) dipimpin oleh HOS Tjokroaminoto, SI berhasil menjadi organisasi Islam yang memiliki pengaruh luar biasa dan dapat menarik masyarakat. Islam politik pada awal kemerdekaan masih bisa eksis dengan berdirinya partai Islam yakni Masyumi dan pada tahun 1952 partai Islam bertambah yakni NU yang berdiri sebagai partai politik. Pada zaman Orde Baru terdapat kebijakan penyederhanaan partai, dimana hanya ada tiga partai yakni PPP, PDI dan Golkar. Pada tahun 1998 ketika terjadi Reformasi, presiden Soeharto menyatakan mundur dan digantikan oleh B.J Habibie. Salah satu kebijakan Habibie yakni memberikan kebebasan didalam mendirikan partai atau organisasi. hal tersebut sangat dimanfaatkan oleh masyarakat dimana banyak berdiri partai-partai dengan beragam macam ideologi, salah satunya yakni partai yang bercirikan Islam seperti PKB, PAN, PKS, PBB dan PPP yang tetap berdiri setelah Reformasi. Pada masa Reformasi persaingan antar partai semakin terbuka didalam menarik suara rakyat dengan banyaknya partai pada saat pemilu. Kabupaten Rembang merupakan daerah yang mayoritas masyarakatnya memeluk agama Islam dan setiap harinya masih menerapkan nilai-nilai Islam. Selain itu banyaknya pesantren yang ada di Rembang dan keberadaan kyai-kyai kharismatik seperti Gus Mus dan KH.Maimun Zobeir, menarik untuk diteliti suara partai Islam didalam pemilu di Rembang.Permasalah yang diteliti dalam penelitian ini, antara lain (1) Bagaimana kondisi sosial-politik masyarakat Rembang pada masa Reformasi sampai setelah Reformasi? ; (2) Bagaimana kehidupan partai Islam di Rembang pada tahun 1998-2015?; (3) Bagaimana dinamika partai Islam di dalam Pemilu tahun 1998-2015?. Dalam penulisan sebuah penelitian dibutuhkan adanya metode. Karena metode merupakan sebuah proses dan prosedur yang ditempuh untuk memperoleh suatu keabsahan dalam penelitian. Metode penelitian bertujuan untuk menjawab masalah ? masalah yang dihadapi dalam penelitian. Adapun metode yang digunakan dalam penelitian ini ada empat yakni pengumpulan sumber, kritik sumber, interpretasi sumber dan penulisan sejarah berdasarkan sumber yang sesuai dengan fakta. Sumber-sumber yang ditemukan antara lain berupa informasi dari petinggi partai di Rembang dan juga data pemilu dari KPUD.Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa dinamika partai Islam di Rembang didalam pemilu mendapatkan suara yang berbeda dengan apa yang didapat partai Islam di tingkat nasional. Kondisi partai Islam di Rembang juga berbeda dengan apa yang dialami oleh partai Islam di tingkat nasional, apabila ditingkat nasional partai Islam tidak pernah berhasil menjadi partai pemenang pemilu, di Rembang PPP pada pemilu 2014 berhasil menjadi partai pemenang pemilu. Sementara PKB dan PAN memeiliki suara yang stabil di Rembang sehingga didalam pelaksanaan pemilu mendapat suara yang cukup lumayan. PKS di Rembang harus mengeluarkan sebuah kebijakan yang berdampak ke masyarakat apabila masih berkeinginan eksi di Rembang, hal tersebut dikarenakan didalam pemilu 2014 PKS hanya berhasil meloloskan 1 wakilnya ke DPRD. Nasib yang tragis dialami oleh PBB karena pada pemilu 2014 tidak meloloskan wakilnya di DPRD, hal tersebut di perparah dengan di tingkat nasional PBB tidak lolos parlementery threshold. Dimika antar partai di Rembang lebih cair dibanding di tingkat nasional, dimana semua partai selalu berhubungan baik demi kemajuan masyarakat Rembang. Partai Islam harus selalu kreatif didalam mengeluarkan kebijakan yang mengena ke masyarakat dan tentunya selalu hadir didalam momen-momen penting ketika berhubungan dengan hari ?hari penting Islam.Kata Kunci : Partai Islam, Rembang, Pemilu
TRADISI SEDEKAH LAUT MASYARAKAT DESA LABUHAN KECAMATAN BRONDONG KABUPATEN LAMONGAN TAHUN 1990-2015 IHFAN YAHYA, MUHAMAD; , ARTONO
Avatara Vol 6, No 3 (2018)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ritual sedekah laut adalah salah satu ritual yang dilakukan satu kali dalam setahun oleh masyarakat nelayan di desa labuhan, kecamatan Brondong, kabupaten Lamongan yang merupakan bentuk budaya yang memberikan sedekah ke laut yang dilakukan masyarakat untuk menjaga kesimbangan lingkungan pesisir pantai serta melestarikan warisan nenek moyang. Tradisi ritual sedekah laut di desa labuhan merupakan bagian dari tradisi yang juga dilakukan oleh masyarakat nelayan di sepanjang pesisir utara laut jawa.Rumusan masalah penelitian ini yaitu 1) Bagaimana proses perubahan tradisi upacara sedekah laut pada masyarakat desa Labuhan Kecamatan Brondong Kabupaten Lamongan tahun 1990-2015? 2) Mengapa terjadi perubahan tradisi upacara sedekah laut masyarakat desa labuhan Kecamatan Brondong Kabupaten Lamongan tahun 1990-2015? Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui terjadinya perubahan tradisi upacara sedekah laut masyarakat Desa Labuhan. Penelitan ini juga bermanfaat untuk mengetahui perubahan-perubahan apa saja yang terjadi dalam sedekah laut di desa labuhan dan untuk memberikan pengetahuan terhadap etika lingkungan bagi masyarakat LabuhanMetode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian sejarah, dengan beberapa tahap yaitu : Heuristik (mencari dan mengumpulkan jejak-jejak peristiwa Tradisi Sedekah Laut). Kritik sumber yaitu dengan kritik ekstern dan kritik intern. Interpretasi (menghubungkan satu fakta dengan fakta lain). Historiografi (penulisan cerita sejarah), sedangkan yang menjadi sumber dalam penelitian ini adalah kepustakaan dan wawancara terhadap nelayan Labuhan.Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa : (1) Masyarakat nelayan di Desa Labuhan mempunyai tradisi yaitu Sedekah Laut.. (2) Tradisi Sedekah Laut masih berlangsung meskipun masyarakat telah mengalami perubahan tradisi karena masyarakat nelayan labuhan beranggapan pelaksanaan Tradisi Sedekah Laut merupakan suatu kewajiban dan yang harus dilakukan, adanya perasaan takut apabila tidak dilaksanakan tradisi tersebut maka akan dikhawatirkan terjadi bencana dan hasil ikan pun berkurang, (3) Pengaruh Tradisi Sedekah Laut terhadap kehidupan sosial budaya masyarakat Labuhan yaitu kehidupan sosial masyarakat menjadi erat ditandai dengan adanya gotong royong dan saling membantu antar nelayan, adanya solidaritas yang tinggi, dalam kehidupan budaya masyarakat labuhan telah mematuhi norma-norma sosial budaya yang ada dalam masyarakat.Kata Kunci : Tradisi Sedekah Laut Desa Labuhan Kecamatan Brondong Kabupaten Lamongan.
PERKEMBANGAN MUSEUM KERATON SUMENEP SEBAGAI OBJEK PARIWISATA TAHUN 1994-2014 GHALI ABDULLAH, MOHAMMAD; LIANA, CORRY
Avatara Vol 6, No 3 (2018)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sebagai salah satu Kabupaten di Pulau Madura yang kaya akan potensi pariwisata, Kabupaten Sumenep terus menerus berupaya untuk meningkatkan dan melestarikan destinasi-destinasi wisata yang ada di wilayahnya, tak terkecuali Museum Keraton Sumenep. Pengembangan Meseum Keraton Sumenep menjadi salah satu fokus Pemerintah Daerah Kabupaten Sumenep yang setiap tahunnya tercantum dalam Anggaran Pembangunan Daerah. Sebagai bentuk implementasi dari Peraturan Pemerintah Nomor 11/2010 pasal 18, keberadaan Museum Keraton Sumenep wajib untuk dilestarikan dan dijaga dengan baik. Penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang perkembangan Museum Keraton Sumenep sebagai Objek pariwisata disebabkan oleh potensi wisata yang dimiliki oleh Museum Keraton Sumenep.Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah (1) Bagaimana Perkembangan Museum Keraton Sumenep sebagai Objek Wisata Tahun 1994-2014; (2) Bagaimana Pemanfaatan Museum Keraton Sumenep. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian sejarah meliputi Heuristik, Kritik, Interpretsi, dan Historiografi.Hasil penelitian ini menjelaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Sumenep terus menerus berupaya untuk mengembangkan Museum Keraton Sumenep diantaranya melalui penambahan dan pemeliharaan fasilitas, peningkatan sarana dan prasarana, peningkatan kompetensi sumber daya manusia (SDM), serta meningkatkan aktivitas promosi terhadap Museum Keraton Sumenep dengan dana yang diberikan dari APBD sebesar 3% per tahunnya.Pengembangan Museum Keraton Sumenep selain untuk menarik minat wisatawan dan menambah kenyamanan, dapat dimanfaatkan oleh banyak pihak untuk berbagai macam kegiatan positif, seperti sebagai sarana pembelajaran mandiri bagi siswa dan siswi Sekolah Menengah Atas (SMA). Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa koleksi yang ada di Museum Keraton Sumenep mampu mendukung seluruh kompetensi dasar ketiga yang ada pada Kurukulum K13 untuk mata pelajaran Sejarah Sekolah Menengah Atas (SMA).Kata kunci: Museum Keraton Sumenep, Pariwisata, Sumber Belajar.
LADA HITAM DI KABUPATEN LAMPUNG UTARA TAHUN 2000-2015 SETIYOWATI, HENY; , WISNU
Avatara Vol 6, No 3 (2018)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Komoditas lada merupakan produk unggulan Kabupaten Lampung Utara, lada merupakan rempah-rempah yang telah lama diperjual belikan serata di budidayakan, wilayah Lampung Utara merupakan sentra penghasil lada terbesar di Provinsi lampung, eksistensi komoditas lada tidak lepas dari peran penting masyarakat Lampung Utara yang membudidayakanya secara turun temurun dan juga usaha perdagangan lada yang masih memberikan pendapatan yang tinggi bagi Kabupaten Lampung Utara.Penelitian ini mengambil rumusan masalah tentang 1) Bagaimana Perkembangan lada hitam di Lampung Utara tahun 2000-2015?, 2) Bagaimana Kontribusi perkembangan lada hitam di Lampung Utara terhadap perekembangan lada nasional?. Sehingga dari rumusan masalah tersebut mempunyai tujuan untuk menganalisis dari semua rumusan masalah yang di bahas. Penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah yang memiliki 4 unsur yaitu heuristik, kritik, interpretasi dan historiografi. Penelitian ini termasuk dalam penelitian kualitatif karena menggunakan sumber dari data hasil, wawancara dan observasi.Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa dalam rentan tahun 2000-2015 banyak sekali terjadi kenaikan maupun penurunan perkembangan produktivitas dan perdagangan lada di Lampung Utara, kenaikan tersebut terjadi di tahun 2000-2010 dimana lahan tanam lada meluas menjadi 25.678 hektar dari 19.400hektar dan terjadi penurunan yang dapat dilihat pada tahun 2011-20015, lahan tanam lada menjadi 11.979 hektar yang sebelumnya 19.178 hektar, lahan lada luas wilayah mengalami penurunan di pengaruh beberapa faktor yaitu :1) iklim, 2) Alih fungsi lahan pertanian, 3) konflik, 4) Pola Fikir masyarakat tentang pemberdayaan Lada hitam. Dari hasil penelitian tersebut juga diperoleh fakta bahwa perkembangan produktivitas lada hitam di lampung utara dalam kurun waktu 2005-2015 terus mengalami penurunan jumlah yaitu mencapai 50%, dan terdapat fakta lainya adalah dalam kurun waktu 2000-2015 banyak mempengaruhi perekembangan Lada tingkat Nasional, karena Lampung Utara merupakan Sentra penghasil Lada hitam terbesar di Indonesia.Kata Kunci : Lada Hitam, Lampung Utara, Perkembangan.
PENGGABUNGAN KABUPATEN ADIKARTO DENGAN KABUPATEN KULON PROGO MENJADI KABUPATEN KULON PROGO PADA TAHUN 1951 FATONI, ACHMAD; ALRIANINGRUM, SEPTINA
Avatara Vol 6, No 3 (2018)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kabupaten Kulon Progo merupakan wilayah dari Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dan Kabupaten Adikarto merupakan wilayah dari kadipaten Pakualaman. Pada tahun 1951 kedua wilayah digabung menjadi satu menjadi Kabupaten Kulon Progo. Penggabungan wilayah merupakan yang pertama di Indonesia pada masa itu, dan pada masa itu juga terjadi pemekaran wilayah di Indonesia bahkan sampai sekarang, termasuk berdirinya Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dari Propinsi Jawa Tengah, sehingga menjadikan Yogyakarta menjadi propinsi tertua kedua setelah 8 propinsi pertama milik Indonesia. Berdasarkan dengan latar belakang tersebut, maka diperoleh beberapa rumusan masalah yaitu 1). Apa yang melatarbelakangi adanya penggabungan kabupaten Adikarto dengan Kabupaten Kulon Progo menjadi Kabupaten Kulon Progo pada tahun 1951. 2). Bagaimana perkembangan Kabupaten Kulon Progo pasca integrasi di bidang politik, ekonomi, sosial dan kesehatan tahun 1951-1956. Berdasarkan dengan rumusan masalah tersebut, tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana penggabungan kedua kabupaten dan dampak dari hasil penggabungan kedua kabupaten tersebut dalam berbagai bidang pada masa itu. Penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah yang meliputi heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi.Hasil penelitian ini dapat diperoleh kesimpulan sebagai berikut, penggabungan Kabupaten Adikarto dengan Kabupaten Kulon Progo menjadi Kabupaten Kulon Progo merupakan sebuah kebijakan dari Sri Sultan Hamengku Buwono IX dengan KGPAA Paku Alam VIII. Adanya kebijakan ini untuk mempersiapkan kabupaten-kabupaten di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta menjadi Kabupaten yang mandiri, mengingat akan berlakunya Undang-Undang Otonomi Kabupaten. Dampak negatif dari penggabungan dari segi politik, ekonomi, sosial, dan kesehatan tidak ada bahkan masyarakat menerima dan mendukung serta mengalami peningkatan karena adanya bantuan dari pemerintah propinsi dan pemerintah pusat. Namun dari segi politik terdapat masalah, yakni sampai tahun 1953, DPRD Kabupaten Kulon Progo yang baru masih belum terbentuk, dan nasib anggota DPRD Kabupaten Kulon Progo dan Kabupaten Adikarta masih membingungkan. Namun pada tahun 1955 baru terbentuk anggota DPRD Kabupaten Kulon Progo Baru setelah pemilihan umum.Kata Kunci: Kabupaten Kulon Progo, Kabupaten Adikarto, Kebijakan, Integrasi, Proses dan Dampak