cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Avatara
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
E-Journal AVATARA terbit sebanyak tiga kali dalam satu tahun, dengan menyesuaikan jadwal Yudisium Universitas Negeri Surabaya. E-Jounal AVATARA diprioritaskan untuk mengunggah karya ilmiah Mahasiswa sebagai syarat mengikuti Yudisium. Jurnal Online Program Studi S-1 Pendidikan Sejarah - Fakultas Ilmu Sosial UNESA
Arjuna Subject : -
Articles 456 Documents
HARMONISASI HUBUNGAN ANTARA ETNIS TIONGHOA DENGAN ETNIS LAINNYA DI SURABAYA PADA MASA KERUSUHAN MEI 1998 ANDRE ALAMSYAH, DEA; MASTUTI PURWANINGSIH, SRI
Avatara Vol 7, No 1 (2019)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kerusuhan pada bulan Mei 1998 menjadi puncak dari aksi anti Tionghoa, kerusuhan Mei 1998 terjadi di kota-kota besar yang ada di Indonesia seperti di Padang, Medan, Palembang, Jakarta, Semarang, Yogyakarta, Solo, Surabaya, dll. Di Surabaya awalnya massa yang terdiri dari sebagian besar mahasiswa dan ada juga warga melakukan aksi turun ke jalan yang tujuannya untuk menuntut adanya reformasi, namun karena masa yang turun ke jalan jumlahnya mencapai ratusan ribu sehingga sulit mengendalikan. Kondisi di Kota Surabaya tergolong aman, sebab hampir tidak ada aksi penjarahan, pemerkosaan, dan kekerasan terhadap etnis Tionghoa Surabaya. Ini menjadi perbedaan antara Surabaya dengan kota-kota lainnya, perlakuan warga Surabaya terhadap orang etnis Tionghoa membuat kondisi Surabaya tetap aman sehingga hampir tidak ada aksi penjarahan, pemerkosaan dan kekerasan terhadap orang etnis Tionghoa.Rumusan masalah dalam penelitian ini sebagai berikut: (1) Mengapa Etnis Tionghoa di Surabaya mendapatkan perlakuan yang baik dari warga Surabaya. (2) Mengapa warga Surabaya memiliki toleransi besar terhadap orang etnis Tionghoa.Hasil penelitian ini dapat diperoleh kesimpulan sebagai berikut, perlakuan yang baik sekali warga Surabaya terhadap orang etnis Tionghoa di Surabaya karena sejak masa kolonial hubungan antara warga Surabaya, Madura, Arab, dan Tionghoa sudah terjalin dengan sangat baik sekali. Mereka saling berampingan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga dampak yang ditimbulkan adalah antara etnis Jawa, Arab, Madura, dan Tionghoa saling memiliki rasa toleransi satu sama lainnya. Bahkan ketika masa Orde Baru, etnis Tionghoa yang terpaksa harus menghilangkan ketionghoaannya kemudian mempelajari budaya warga Surabaya justru semakin memperkuat rasa toleransi antara warga Surabaya dan etnis Tionghoa.Sikap toleransi warga Surabaya terhadap orang etnis Tonghoa begitu besar sehingga orang etnis Tionghoa pada saat terjadinya kerusuhan Mei 1998, warga Surabaya memberikan perlindungan terhadap orang etnis Tionghoa agar tidak dijadikan objek sasaran masa. Sikap toleransi dari warga Surabaya ini dikarenakan warga Surabaya sendiri tidak menganggap orang etnis Tionghoa sebagai orang asing, warga Surabaya menganggap orang etnis Tionghoa merupakan warga Surabaya juga sehingga mereka etnis Tionghoa juga berhak mendapatkan apa yang didaptkan oleh warga Surabaya pada umumnya. Kemudian toleransi warga Surabaya begitu besar terhadap orang etnis Tionghoa karena hubungan keduanya sudah berjalan sangat lama sekali dan tidak jarang antara warga Surabaya dan etnis Tionghoa ada yang memiliki kedekatan emosional.Kata Kunci : Etnis Tionghoa, Surabaya, Kerusuhan Mei 1998, Toleransi
PERKEMBANGAN PERGURUAN PENCAK SILAT JOKOTOLE DI MADURA, 1976-1982 BAGUS SAPUTRA, ADI; , WISNU
Avatara Vol 7, No 1 (2019)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk menjelaskan faktor-faktor yang melatarbelakangi terbentuknya Perguruan Pencak Silat Jokotole, kemudian untuk mendeskripsikan perkembangan Perguruan Pencak Silat Jokotole di Madura 1976-1982 dan menganalisis peranan yang diberikan dengan terbentuknya Perguruan Pencak Silat Jokotole di Kecamatan Kamal dalam bidang sosial-budaya dan kemanan. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa berdirinya Perguruan Pencak Silat Jokotole diawali dengan berdirinya Perguruan Pencak Silat Sumber Gaya berdiri tahun 1964. Perguruan Pencak Silat Jokotole dalam jangka waktu 1976-1982 dapat berkembang dengan pesat di Kabupaten Sampang, Kabupaten Pamekasan, Kabupaten Sumenep dan Kodya Surabaya. Perguruan Pencak Silat Jokotole dalam bidang sosial-budaya melestarikan budaya Pencak Silat di kalangan muda-mudi dengan masuknya Perguruan Pencak Silat Jokotole menjadi ektrakulikuler di Sekolah dan muatan lokal. Dalam bidang keamanan Perguruan Pencak Silat Jokotole memberikan rasa aman bagi masyarakat sekitar. Para muda-mudi berbondong-bondong belajar Pencak Silat untuk mempertahankan dari kondisi lingkungan yang ada dan tradisi carok yang ada di Madura.Kata Kunci: Pencak Silat Jokotole, Sosial-budaya dan keamanan, Madura
PENYELESAIAN KONFLIK PILKADA DI KABABUPATEN TUBAN TAHUN 2006 PUSPITASARI, NOVIA; , NASUTION
Avatara Vol 7, No 1 (2019)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Konflik tidak bisa lepas dari kehidupan manusia, selama manusia masih membutuhkan orang lain selama itu pula konflik akan timbul. Di Indonesia khususnya pada masa peralihan dari orde baru ke reformasi banyak terjadi konflik politik. Salah satunya adalah konflik politik di Kabupaten Tuban. Konflik ini terjadi ketika pertama kali dijalankannya kebijakan pilkada langsung. Konflik pilkada yang terjadi di Kabupaten tuban tersebut menimbulkan kerusuhan yang menyebabkan banyak kerusakan. Dalam menyelesaikan konflik dibutuhkan sebuah penyelesaian konflik yang tepat. Beberapa orang lebih banyak mengatakan bahwa konflik menimbulkan banyak hal negatif, akan tetapi Lewis Coser mengatakan bahwa konflik selain mendatangkan dampak negatif juga akan menciptakan dampak positif. Permasalahan dalam penelitian ini yaitu 1) Apa yang melatar belakangi terjadinya konflik pilkada di Kabupaten Tuban tahun 2006? 2) Bagaimana penyelesaian konflik pilkada di Kabupaten Tuban tahun 2006 dari prespektif safety valve Lewis Coser? 3) Bagaimana fungsionalisme konflik yang ditimbulkan oleh konflik pilkada di Kabupaten Tuban tahun 2006? Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah memperoleh penjelasan mengenai latar belakang konflik dan resolusi konflik di Kabupaten Tuban. Penelitian ini juga menjelaskan analisis teori lewis coser terhadap fungsi positif dan negatif yang ditimbulkan konflik. Metode penelitian ini adalah metode penelitian sejarah yang terdiri dari heuristik, kritik, interpretasi dan historiografi. Pada tahap heuristik peneliti mencari dan mengumpulkan sumber-sumber yang terkait dengan objek penelitian, sumber primer didapatkan dari majalah atau koran sezaman dan sumber sekunder didapatkan dari buku-buku dan jurnal online. Selanjutnya pada tahap kritik, sumber-sumber yang sudah ada dikelompokkan dalam sumber primer dan sekuder dan juga dicari kerelevan dari sumber dengan objek penelitian. Kemudian pada tahap interpretasi, mencari hubungan fakta satu dengan lainnya untuk ditafsirkan dengan merujuk beberapa referensi yang ada. Dan yang terakhir tahap historiografi adalah tahap penulisan sejarah berdasarkan fakta-fakta yang telah ditafsirkan. Berdasarkan penelitian yang sudah dilakukan didapatkan hasil bahwa salah satu fungsi negatif konflik pilkada di Kabupaten Tuban berupa kerusakan pada bangunan-bangunan yang telah dibakar oleh para massa sedangkan dari fungsi positifnya yang paling penting adalah adanya beberapa pesan moral yang dapat dijadikan sebagai pembelajaran untuk masyarakat kedepannya. Diantara nilai moral yang dapat dipelajari dari konflik pilkada ini adalah; kejujuran, tanggung jawab, bersahabat atau komunikatif, cinta damai, peduli lingkungan, kerja keras dan demokratis. Kata Kunci: Konflik Pilkada, Pilkada Kabupaten Tuban 2006, Penyelesaian Konflik, Teori Lewis Coser
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIVE LISTENING TEAM UNTUK MENINGKATKAN KEAKTIFAN BELAJAR SISWA MA DARUL ULUM BARENG KABUPATEN JOMBANG PADA MATA PELAJARAN SEJARAH NURMA LAILA FARIDA, SITI; LIANA, CORRY
Avatara Vol 7, No 1 (2019)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang masalah pada penelitian ini adalah praktik pengajaran sejarah disekolah guru hanya membeberkan fakta-fakta saja dan model serta teknik pengajarannya tidak variatif. Umunya kurang disadari bahwa pembelajaran sejarah memiliki sifat-sifat yang memerlukan ketrampilan untuk mengajarkannya sehingga keaktifan siswa dalam belajar menurun. Tujuan dari penelitian ini adalah (1) mengetahui pengaruh dari penerapan metode Listening Team untuk meningkatkan kekativan belajar siswa di MA Darul Ulum Bareng Jombang; (2)mengetahui peningkatan nilai siswa setelah dilakukannya metode Listening TeamJenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dan subyek pada penelitian ini adalah siswa kelas X ips Ma Darul Ulum Bareng Jombangyang terdiri dari 32 siswa pada semester genap. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penlitian ini adalah test pre-test dan post-test guna untuk melihat perubahan belajar siswa sebelum dan setelah dilakukannya penelitan, lembar observasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis data guru dalam pelaksanaan metode Listening Team, analisis data aktivitas siswa terhadap Metode Listening Team, dan hasil dari pre-test dan post-test.Hasil dari penelittian ini adalah: pembelajaran sejarah di MA Darul Ulum Bareng sudah tepat dan sesuai, hal ini ditunjukan dari kenaikan kegiatan guru dalam proses pembelajaran sebelum dan sesudah dilakuakannya penelitain menggunakan model pembelajaran koopertif tipe Listening Team dan terdapat 76% siswa mendapat kategori baik siswa mampu belajar menggunakan metode Listening Team. Dengan demikian metode Listening Team dapat meningkatkan keaktivan belajar siswa.Kata Kunci : Pembelajaran sejarah, Listening Team, keaktivan siswa
WISATA TELAGA NGEBEL KABUPATEN PONOROGO TAHUN 1993-2000 WAHYU SAPUTRO, AGIL; ALRIANINGRUM, SEPTINA
Avatara Vol 7, No 1 (2019)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pada TAP No. IV/MPR/1978 tentang Garis-Garis Besar Haluan Negara menjadikan Indonesia memulai proses menuju industri pariwisata. Sektor pariwisata menjadi urutan keenam pembangunan setelah pertanian, industri, pertambangan, energi dan prasarana. Pemerintah Daerah Kabupaten Ponorogo belum membuat kebijakan dan khususnya Telaga Ngebel belum terdapat pengelolaan dan pemeliharaan terhadap potensi pariwisata dari Telaga Ngebel. Partisipasi masyarakat dirasa sangat penting dalam proses pengembangan pariwisata Telaga Ngebel dan mulai terlihat tahun 1993. Pengembangan obyek wisata Telaga Ngebel oleh Dinas Pariwisata Kabupaten dimulai tahun 1998. Pengelolaan dan pemeliharaan obyek wisata Telaga Ngebel menjadi berkorelasi antara Dinas Pariwisata Kabupaten. Rumusan penelitian ini adalah 1) Bagaimana pengembangan obyek wisata Telaga Ngebel pada tahun 1993?2000 2) Bagaimana partisipasi masyarakat di sekitar obyek wisata Telaga Ngebel pada tahun 1993?2000. Penelitian sejarah ini menggunakan empat tahap yaitu heuristik, verifikasi, interpretasi, dan historiografi. Tahap pertama yakni heuristik, terdapat dua sumber yang digunakan adalah sumber primer dan sumber sekunder. Kritik intern didapatkan dari heuristik berasal dari semua sumber. Tahap interpretasi, supaya sumber?sumber yang diperoleh menjadi lebih bermakna saling berhubungan atau menunjang. Historiografi merupakan suatu bentuk untuk menyajikan hasil penelitian. Berdasarkan hasil penelitian bahwa pengembangan pariwisata telah memenuhi beberapa unsur kepariwisataan, seperti atraksi, infrastruktur, dan akomodasi. Potensi pariwisata di Kabupaten Ponorogo mulai dioptimalkan, khususnya obyek wisata Telaga Ngebel memiliki keindahan alam, makanan, dan peristiwa budaya yaitu larung sesaji yang diadakan setiap tahun sekali. Pengembangan pariwisata menjadi tolak ukur dari segi pertumbuhan sarana dan prasarana pendukung pariwisata akan mengikuti peningkatan jumlah wisatawan. Potensi pariwisata terus dioptimalkan di obyek wisata Telaga Ngebel sebagai perhatian utama Dinas Pariwisata Kabupaten. Sementara partisipasi masyarakat mulai terlihat tahun 1993 dengan dimulai membuat keramba dan membuka usaha berdagang. Adanya hal ini mulai diikuti masyarakat lain di tahun? tahun berikutnya. Seorang tokoh masyarakat setempat di tahun 1995 dengan berani mengusulkan bahwa mulai ditetapkan harga masuk di obyek wisata Telaga Ngebel. Pada tahun 1998 Dinas Pariwisata Kabupaten mengambil alih pengelolaan dan pemeliharaan obyek wisata Telaga Ngebel dengan tetap terjadi koordinasi dengan masyarakat sekitar obyek wisata Telaga Ngebel. Koordinasi menimbulkan fungsi sebagai hubungan timbal balik yang meliputi aspek sosial dan politis. Kedua pihak bekerja sama dengan memperoleh kesepakatan. Hasil kesepakatan bertujuan untuk menjaga keamanan dan menarik retribusi bagi setiap wisatawan yang datang ke obyek wisata Telaga Ngebel. Kata Kunci: Pariwisata, Telaga Ngebel, Partisipasi Masyarakat
IMPLEMENTASI NILAI SEMANGAT NASIONALISME UNTUK MEWUJUDKAN PENDIDIKAN KARAKTER DALAM PEMBELAJARAN SEJARAH KELAS XI PEMINATAN MA. RAUDLATUL MUTTAQIN RIA INSANI, AFRIDA; ALRIANINGRUM, SEPTINA
Avatara Vol 7, No 1 (2019)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK IMPLEMENTASI NILAI SEMANGAT NASIONALISME UNTUK MEWUJUDKAN PENDIDIKAN KARAKTER DALAM PEMBELAJARAN SEJARAH KELAS XI PEMINATAN MA. RAUDLATUL MUTTAQIN Nama : Afrida Ria Insani NIM : 15040284060 Program Studi : S1 Pendidikan Sejarah Jurusan : Pendidikan Sejarah Fakultas : Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum Nama Lembaga : Universitas Negeri Surabaya Pembimbing : Septina Alrianingrum, S.S, M.Pd Lingkungan pendidikan yang cukup berperan menanamkan nilai-nilai kehidupan sehingga terbentuk sikap nasionalisme bagi peserta didik adalah lembaga sekolah. Implementasi dalam suatu pembelajaran akan menggunakan teori belajar observasional Albert Bandura yang meliputi (Attentional, Retentional, Behavioural Production, dan Motivation) Rumusan masalah yang diangkat adalah 1) Bagaimana Implementasi Nilai Semangat Nasionalisme untuk Mewujudkan Pendidikan Karakter dalam Pembelajaran Sejarah Kelas XI Peminatan MA Raudlatul Muttaqin? dan 2) Bagaimana Hasil Belajar peserta didik dalam Implementasi Nilai Semangat Nasionalisme untuk Mewujudkan Pendidikan Karakter dalam Pembelajaran Sejarah Kelas XI Peminatan MA Raudlatul Muttaqin? Jenis Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif. Teknik Pengumpulan Data yang digunakan yaitu angket persepsi awal peserta didik mengenai nasionalisme, validasi RPP dan Ahli Materi, Pedoman wawancara, Lembar Observasi, dan Dokumentasi selama penelitian. Teknik analisis data menggunakan triangulasi teknik dan sumber model analisis mengalir Miles dan Huberman. Penanaman Nasionalisme yang diterapkan dalam proses belajar mengajar di Kelas XI Peminatan MA. Raudlatul Muttaqin, salah satunya adalah implementasi nasionalisme melalui lagu kebangsaan, diskusi kelompok, dan menonton serta mengkaji film dokumenter sejarah yang bertema nasionalis dan membuat opini terkait materi yang disampaikan oleh guru sesuai dengan topik yang nasionalis yaitu Kebangkitan Heroisme dan Semangat Kebangsaan. Hasil Perolehan Skor yang didapat dari Penilaian angket persepsi awal peserta didik mengenai nasionalisme memperoleh persentase 66.7% dengan skala cukup bagus namun perlu diberikan pelatihan dalam pembelajaran di Kelas setelah memperoleh materi dan diajarkan oleh guru maka perolehan skor angket meningkat menjadi 88,33%. Perolehan skor bukan dilihat dari satu aspek pertemuan saja namun dari serangkaian pertemuan dalam pembelajaran disimpulkan mendapatkan hasil angket pembelajaran yang bagus hal ini tertulis pada instrumen angket Poin ke 6 dengan persentase 76.7%, point 7 persentase 62.5%, poin 13 persentase 97.5 %, dan poin 15 dengan persentase 82.5%. Menyebutkan bahwa secara keseluruhan metode, media, dan evaluasi pembelajaran yang diperoleh setelah pelaksanaan pembelajaran mampu mewujudkan nilai semangat nasionalisme dengan perolehan skor 4 yaitu sangat setuju dan juga menyebutkan bahwa konsep agama dan nasionalisme menjadi hal yang fundamental dan tidak bertentangan dengan konsep nasionalisme yang dilakukan oleh MA. Raudlatul Muttaqin. Kata Kunci: Implementasi nilai semangat nasionalisme, Teori Observasional Albert Bandura (Attentional, Retentional, Behavioural Production, dan Motivation)
PERKEMBANGAN PONDOK PESANTREN WALI BAROKAH LEMBAGA DAKWAH ISLAM INDONESIA (LDII) BURENGAN BANJARAN KEDIRI TAHUN 2010-2016 AROFIAH, NANDA; , SUMARNO
Avatara Vol 7, No 1 (2019)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Pada awalnya, lembaga pondok pesantren tidak dapat dikatakan sebagai lembaga pendidikan sekolah atau madrasah seperti yang ada sekarang. Berdirinya sebuah pondok pesantren tidak dapat dipisahkan dari keadaan sosial budaya masyarakat sekitarnya. Dan berdirinya pondok pesantren di Indonesia sering memiliki latar belakang yang sama, dimulai dengan usaha seorang atau beberapa orang secara pribadi atau kolektif, yang berkeinginan mengajarkan ilmu pengetahuan agama kepada masyarakat luas. Terkait dengan hal tersebut peneliti mengangkat dengan rumusan masalah sebagai berikut: 1. Bagaimana latar belakang berdirinya pondok pesantren Wali Barokah Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Burengan Banjaran Kediri Tahun 2010-2016? 2. Bagaimana perkembangan pondok pesantren Wali Barokah sebagai lembaga pendidikan Tahun 2010-2016? 3. Apa dampak keberadaan pondok pesantren Wali Barokah dalam bidang sosial, agama, dan pendidikan bagi masyarakat Burengan, Banjaran dan sekitarnya?. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelusuran pustaka dan wawancara. Adapun kegiatan yang dilakukan dalam penelitian sejarah yaitu 1. Tahapan mencari dan menemukan sumber-sumber (Heuristik), 2. Langkah yang lebih lanjut setelah sumber-sumber sejarah telah terkumpul (Kritik sejarah), 3. Proses penyusunan fakta-fakta secara kronologi (Interpretasi), 4. Tahap akhir untuk menyajikan semua fakta (Historiografi). Berdasarkan penelitian ini dapat diketahui pondok pesantren Wali Barokah dalam sejarahnya telah mengalami perkembangan baik secara fisik maupun non fisik. Secara fisik baik dari bangunan pondok, sarana dan prasarana, fasilitas pondok. Secara non fisik baik dari sistem pendidikan, kurikulum. Hal ini diharapakan para santri dapat mempunyai sikap mandiri, berakhlakul karimah, alim, faqih. Dan tercapainya visi dan misi pondok pesantren Wali Barokah yang internasional. Dalam perkembangannya, kejayaan pondok pesantren Wali Barokah dikaitkan dengan kharisma kepemimpinan kyainya sebagai para pendidik/ guru serta adanya dukungan-dukungan besar dari pemerintah dan masyarakat. Dampak keberadaan pondok pesantren Wali Barokah dalam bidang sosial, agama, dan pendidikan menimbulkan dampak yang baik bagi masyarakat Burengan, Banjaran dan sekitarnya. Dalam bidang sosial terjadi hubungan sosial yang baik dengan masyarakat. Dalam bidang agama yaitu terciptanya sikap toleransi dan menerima agama yang berbeda- beda. Dalam bidang pendidikan, masyarakat yang belum mengenal pendidikan menjadi mengenal pendidikan terutama pendidikan agama. Hal ini dilatar belakangi masyarakat perkotaan yang dikenal dengan sifat heterogen yang artinya terdiri dari banyak penduduk. Dan dalam kehidupan agamanya masyarakat kota itu kurang, cenderung kearah keduniaan saja. Maka dari itulah adanya sebuah pondok pesantren yang hadir ditengah- tengah kota ini, tentu menimbulkan dampak yang baik. Masyarakat yang belum mengenal pendidikan agama menjadi mengenal tentang ilmu agama Al Qur?an dan Al Hadits. Kata Kunci: Perkembangan, Pondok Pesantren, Wali Barokah.
RESIMEN MAHASIWA (MENWA) 804 UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA TAHUN 1994-2000 LAILATUL FAZRIAH, EMALIA; TRILAKSANA, AGUS
Avatara Vol 7, No 1 (2019)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Resimen Mahasiswa atau yang disingkat Menwa merupakan sarana pengembangan diri mahasiswa kearah perluasan wawasan dan peningkatan keikutsertaan dalam upaya bela negara yang disusun, diorganisasikan, dan dibentuk secara kewilayahan pada provinsi daerah tingkat satu dan sebagai satuan resimen mahasiswa (SATMENWA) diperguruan tinggi. Penelitian ini menarik karena membahas tentang pengalihan pembinaan Menwa dari SKB III Menteri ke Perguruan tinggi. Penelitian ini menjawab rumusan masalah yaitu tentang Mengapa terjadi Pengalihan pembinaan Menwa dari SKB III Menteri ke masing- masing perguruan tinggi dan Bagaimana kebijakan Rektor dalam pembinaan Menwa di Universitas Negeri Surabaya dari rumusan masalah ini kita dapat mengetahui lebih dalam tentang organisasi Menwa 804 Universitas Negeri Surabaya.Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan objek penelitian adalah organisasi Menwa 804 Universitas Negeri Surabaya. Penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah yaitu, Heuristik, Kritik, Interpretasi, dan Historiografi. Teknik pengumpulan data dilaksanakan dengan cara pencarian sumber fakta-fakta sejarah dalam bentuk tertulis (arsip, jurnal, buku dll) dan sumber lisan (wawancara). Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, dapat diketahui bahwa pola pembinaan Menwa dari tahun 1994- 2000 mengalami beberapa perubahan. Berdasarkan hasil pemahaman, penulis menyimpulkan fakta dan bukti sesuai sejarah pembinaan dan pemberdayaan Menwa dirubah dan sesuaikan dengan kebutuhan pemerintah akan pengunaan Ratih sebagai komponen dasar keamanan dan pertahanan negara. Pembinaan Menwa tahun 2000 lebih difokuskan pada pembinaan Menwa sebagai UKM khusus yang bergerak di bidang pertahanan dan keamanan negara.KataKunci: Resimen Mahasiswa, Nasionalisme, dan Bela Negara
PELESTARIAN KESENIAN REOG SINGO MANGKU JOYO DI SURABAYA TAHUN 1990-2010 WIDIASTUTI, MEFI; ALRIANINGRUM, SEPTINA
Avatara Vol 7, No 1 (2019)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kesenian Reog Singo Mangku Joyo merupakan salah satu grup kesenian reog di Surabaya. Kesenian ini berdiri pada tahun 1990 dan dianggap sebagai grup kesenian reog tertua di Surabaya. Hal yang menarik untuk diteliti dari kesenian ini yaitu (1) Bagaimana kehidupan seniman dalam mempertahankan kesenian Reog Singo Mangku Joyo di Surabaya tahun 1990-2010?; (2) Bagaimana upaya seniman reog melestarikan kesenian Reog Singo Mangku Joyo di Surabaya tahun 1990-2010? Adapun hasil dari penelitian ini yaitu kesenian Reog Singo Mangku Joyo di Surabaya muncul akibat adanya masyarakat urban. Kehidupan seniman di dalam grup kesenian tradisional ini tidak sebanding dengan penghasilan yang diperoleh, sehingga masih banyak seniman yang harus mencari pekerjaan lain untuk mencukupi kebutuhan hidupnya. Meski kehidupannya kurang sejahtera namun anggota seniman kesenian tradisional ini tetap melestarikan keberadaan Reog Singo Mangku Joyo. Upaya pelestarian kesenian tradisional Reog Singo Mangku Joyo dilakukan oleh pihak dalam dan pihak luar. Upaya pelestarian dari pihak dalam dilakukan dengan cara saling menjaga tali silahturahmi antar anggota, melakukan latihan rutin, hubungan kekerabatan sosial dengan masyarakat, dan melakukan pewarisan tradisi atau regenerasi. Sedangkan upaya pelestarian dari pihak luar adalah pembinaan yang dilakukan oleh TNI Angkatan Darat (Bekangdam V/Brawijaya).Kata Kunci: Pelestarian, Reog Singo Mangku Joyo, Seniman
PERKEMBANGAN PERIKANAN DARI BUDIDAYA TRADISIONAL KE BUDIDAYA MODERN DI KABUPATEN SAMPANG TAHUN 2003–2017 MUHAMMAD RAMADHAN, VICTOR; TRILAKSANA, AGUS
Avatara Vol 7, No 1 (2019)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Laut menjadi sumber penghasilan bagi nelayan dengan kegiatan melaut yang dilakukan untuk mendapatkan hasil berupa ikan tangkapan yang akan dijual ke pasaran. Wilayah Kabupaten Sampang juga memiliki wilayah laut yang cukup luas, dengan adanya wilayah laut yang dimiliki maka hal ini juga berdampak pada sektor perekonomian masyarakat di Kabupaten Sampang. Permintaan hasil perikanan terus mengalami peningkatan sebagai dampak dari pertumbuhan penduduk dari tahun ke tahun dan adanya kesadaran masyarakat akan pentingnya manfaat dari mengkonsumsi ikan permintaan yang terus meningkat kemudian memunculkan inisiatif untuk memperbanyak hasil perikanan dengan cara budidaya perikanan. Diharapkan dengan adanya kegiatan budidaya perikanan ini akan mampu menjadi roda penggerak perekonomian masyarakat yang terlibat di dalamnya. Hasil dari budidaya perikanan akan mendapatkan hasil yang memuaskan apabila terdapat pengawasan secara berkelanjutan. Dari segi spasial budidaya perikanan dapat dilakukan baik di darat ataupun di laut. Kegiatan budidaya perikanan darat memanfaatkan tambak dan kolam, sedangkan budidaya perikanan laut memanfaatkan adanya keramba. Rumusan masalah penelitian ini adalah 1) bagaimana kondisi budidaya perikanan di Kabupaten Sampang, 2) faktor apa yang mendorong perubahan dari budidaya tradisional ke modern, 3) bagaimana dampak budidaya perikanan modern terhadap kondisi sosial dan ekonomi masyarakat di Kabupaten Sampang. Tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan kondisi budidaya perikanan di Kabupaten Sampang, untuk mendeskripsikan faktor yang mendorong perubahan dari budidaya tradisional ke modern, untuk menganalisis dampak budidaya perikanan modern terhadap kondisi sosial dan ekonomi masyarakat di Kabupaten Sampang. Metode yang digunakan adalah metode penelitian sejarah. Metode heuristik dilakukan dengan mengumpulkan berbagai sumber arsip, jurnal, buku, dan wawancara. Kritik untuk menyeleksi sumber yang valid. Interpretasi yaitu menghubungkan sumber dengan fakta untuk membuat analisis dan opini penulis, dan historiografi adalah penulisan. Kata Kunci: Perkembangan, Budidaya, Perikanan, Sampang