cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
LenteraBio
ISSN : 22523979     EISSN : 26857871     DOI : -
Arjuna Subject : -
Articles 281 Documents
KEANEKARAGAMAN GASTROPODA DAN PERANANNYA SEBAGAI BIOINDIKATOR LOGAM BERAT TIMBAL (PB) DI PANTAI KENJERAN, KECAMATAN BULAK, KOTA SURABAYA Wulansari, Diana Fitri; Kuntjoro, Sunu
LenteraBio: Berkala Ilmiah Biologi Vol 7, No 3 (2018): Vol 7 No 3 (2018)
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pantai Kenjeran Surabaya adalah kawasan pesisir yang padat pemukiman penduduk dan muaranya sungai-sungai besar di Surabaya, sehingga berpotensi terjadinya pencemaran logam timbal (Pb), yang dapat memengaruhi kualitas lingkungan dan kelestarian biota. Gastropoda merupakan organisme bioindikator yang tepat untuk pencemaran logam timbal (Pb) karena termasuk detritus feeder dan dapat mengakumulasi senyawa kimia dalam jaringan tubuhnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi keanekaragaman Gastropoda dan hubungan kadar timbal (Pb) pada Gastropoda dengan kadar timbal (Pb) air dan sedimen di Pantai Kenjeran Surabaya. Pengambilan sampel Gastropoda, air dan sedimen dilakukan dalam keadaan air laut surut menggunakan teknik sampling metode transek, dengan sebelas stasiun yang terdiri atas 8 buah plot setiap stasiun dengan ukuran 1 x 1 m. Kadar logam timbal (Pb) dianalisis menggunakan AAS (Atomic Absoption Spectrophotometer). Indeks keanekaragaman dihitung menggunakan indeks keanekaragaman Shannon-Wiener. Hubungan kadar logam timbal (Pb) air, sedimen dengan kadar logam timbal (Pb) pada Gastropoda dianalisis secara statistik menggunakan uji korelasi Pearson dengan alat bantu SPSS Ver.21.00. Hasil penelitian menunjukkan Indeks keanekaragaman Gastropoda di Pantai Kenjeran Surabaya memiliki keanekaragaman sedang yaitu sebesar 1,515 dan kelimpahan relatif (KR) tertinggi yaitu Cerithidea cingulata sebesar 35,81%. Hubungan antara kadar logam timbal (Pb) pada Gastropoda dengan kadar logam timbal (Pb) pada air dan sedimen tidak signifikan.
KEANEKARAGAMAN BIVALVIA DAN PERANANNYA SEBAGAI BIOINDIKATOR LOGAM BERAT TIMBAL (PB) DI PANTAI KENJERAN SURABAYA Tyas, Annisa Wahyuning; Kuntjoro, Sunu
LenteraBio: Berkala Ilmiah Biologi Vol 7, No 3 (2018): Vol 7 No 3 (2018)
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pantai Kenjeran digunakan sebagai salah satu tempat wisata di Surabaya. Pantai Kenjeran juga merupakan muara dari sungai-sungai besar di Surabaya, sehingga memiliki potensi terjadinya pencemaran yang lebih besar. Bivalvia merupakan salah satu organisme akuatik yang dapat menyerap logam di perairan sehingga dapat digunakan sebagai bioindikator. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan keanekaragaman Bivalvia dan menganalisis hubungan kadar logam berat timbal (Pb) di Pantai Kenjeran. Pengambilan sampel dilakukan di Pantai Kenjeran menggunakan metode transek, dengan 11 stasiun yang masing-masing terdiri atas 8 plot berukuran 1m2. Analisis kadar logam dilakukan pada sampel air, sedimen, dan Bivalvia menggunakan Atomic Absorption Spectrophotometry (AAS), kemudian dianalisis dengan uji statistik korelasi Pearson pada SPSS Ver. 21 untuk mengetahui hubungan kadar logam Pb dalam sampel tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa indeks keanekaragaman Bivalvia termasuk dalam katagori keanekaragaman sedang, dan hubungan antara kadar logam Pb air dan sedimen dengan kadar logam Pb Bivalvia tidak signifikan.
MOTILITAS SPERMATOZOA SAPI LIMOUSIN DALAM PENGENCER CEP-D DENGAN PENAMBAHAN SERUM DARAH SAPI SEBAGAI ALTERNATIF PENGGANTI BOVINE SERUM ALBUMIN Puspitasari, Rina Aisyah; Ducha, Nur; Purnama, Erlix Rakhmad
LenteraBio: Berkala Ilmiah Biologi Vol 7, No 3 (2018): Vol 7 No 3 (2018)
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penyimpanan semen pada nitrogen cair dapat menyebabkan penurunan motilitas spermatozoa yang disebabkan oleh cold shock atau radikal bebas, oleh karena itu dalam pengencer dibutuhkan krioprotektan untuk melindungi spermatozoa, salah satunya adalah serum darah sapi. Tujuan penelitian ini adalah membuktikan bahwa serum darah sapi dapat menggantikan fungsi BSA sebagai krioprotektan dalam pengencer CEP-D untuk mempertahankan motilitas spermatozoa. Desain penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap yang terdiri atas 6 perlakuan dan 4 pengulangan, yaitu K (serum darah 0%), P1 (serum darah 2%), P2 (serum darah 3%), P3 (serum darah 5%), P4 (serum darah 7%), dan perlakuan (BSA) sebagai kontrol positif. Semen segar dengan motilitas >70% diencerkan, kemudian dilakukan proses filling and sealing, prefreezing, freezing, dan thawing. Parameter yang diukur adalah persentase motilitas spermatozoa dengan melihat pergerakan spermatozoa progresif. Motilitas spermatozoa diamati menggunakan mikroskop cahaya dengan perbesaran 400x pada slide warmer bersuhu 37?C oleh 2 orang. Data dianalisis menggunakan uji Anova satu arah dan uji Duncan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan P3 (serum 5%) tidak berbeda nyata dengan kontrol positif. Persentase motilitas P3 before freezing dan pasca thawing adalah 58,13%+1,39 dan 33,13%+2,32. Simpulan dari penelitian ini adalah serum darah sapi 5% dalam pengencer CEP-D dapat menggantikan fungsi BSA untuk mempertahankan motilitas spermatozoa sapi Limousin (Bos taurus).
KEMAMPUAN TAPAK DARA AIR (LUDWIGIA ADSCENDENS) SEBAGAI FITOREMEDIATOR DALAM MENURUNKAN LOGAM BERAT KADMIUM (CD) PADA PERAIRAN YANG TERCEMAR LUMPUR LAPINDO, SIDOARJO Rosyada, Amrina; Purnomo, Tarzan
LenteraBio: Berkala Ilmiah Biologi Vol 7, No 3 (2018): Vol 7 No 3 (2018)
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perairan yang dialiri lumpur lapindo mengandung logam berat kadmium (Cd) dapat memengaruhi ekosistem perairan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pengaruh biomassa, waktu detensi serta interaksi biomassa dan waktu detensi terhadap persentase penyerapan Cd dalam akar, penurunan Cd pada media tanam, dan pertumbuhan tapak dara air (Ludwigia adscendens). Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan tiga kali pengulangan. Penelitian ini memiliki dua faktor perlakuan yaitu biomassa tapak dara air 0 gram, 50 gram, 100 gram, 150 gram dan waktu detensi 7 dan 14 hari. Parameter yang diamati meliputi persentase penyerapan Cd dalam akar, penurunan Cd pada media, dan biomassa akhir tapak dara air. Analisis data persentase penyerapan Cd, penurunan Cd, dan biomassa akhir menggunakan Uji Anava dua arah dilanjutkan dengan Uji Duncan?s Multiple Range Test (DMRT). Hasil penelitian menunjukkan bahwa biomassa, waktu detensi serta interaksi antara biomassa dan waktu detensi memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap persentase penyerapan Cd dalam akar, penurunan Cd pada media, dan biomassa tapak dara air. Penyerapan Cd dalam akar tapak dara air  terbaik pada biomassa 150 gram dan waktu detensi 14 hari yaitu sebesar 96%. Penurunan kadar Cd pada media tanam tertinggi terjadi pada biomassa 150 gram dan waktu detensi 14 hari sebesar 95%. Biomassa akhir terbaik pada perlakuan biomassa 150 gram dan waktu detensi 7 hari sebesar 158,67 gram.
HUBUNGAN JENIS, KEPADATAN, DAN MORFOMETRI TUBUH CACING TANAH DENGAN LOGAM BERAT TIMBAL (PB) DAN KROMIUM (CR) DALAM TANAH DI KABUPATEN SIDOARJO Akbarirrahman, Siti Nur; Budijastuti, Widowati
LenteraBio: Berkala Ilmiah Biologi Vol 7, No 3 (2018): Vol 7 No 3 (2018)
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Cacing tanah memerankan peran penting dalam ekosistem tanah. Sidoarjo merupakan kabupaten di Jawa Timur yang dikenal sebagai salah satu kawasan industri. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis-jenis cacing tanah dan menganalisis hubungan jenis, kepadatan dan morfometri tubuh cacing tanah dengan adanya kadar logam berat Timbal (Pb) dan Kromium (Cr) dalam tanah di Kabupaten Sidoarjo. Sampel diambil di enam stasiun di Kabupaten Sidoarjo menggunakan metode purposive random sampling. Pengambilan sampel cacing tanah menggunakan metode hand shorting kemudian diidentifikasi sampai tingkatan spesies. Parameter fisik dan kimia yang diamati yaitu pH, suhu, kelembapan, dan kandungan Pb dan Cr dalam tanah. Perhitungan kepadatan cacing tanah menggunakan rumus kepadatan, selanjutnya hubungan antara kepadatan dan kandungan Pb dan Cr dalam tanah dianalisis menggunakan analisis korelasi Spearman. Penelitian dilaksanakan pada Maret-Mei 2017. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di Kabupaten Sidoarjo terdapat tiga jenis cacing tanah, yaitu jenis Metaphire javanica, Amynthas robustus, dan Methaphire posthuma. Kepadatan total cacing tanah pada enam stasiun yaitu Kecamatan Porong, Jabon, Candi 1 dan 2, Tanggulangin dan Waru, masing-masing 20, 12, 16, 24, 32 dan 20 individu/m2. Tidak ada hubungan antara kepadatan dan jenis cacing tanah dengan adanya logam berat Pb dan Cr dalam tanah namun ada hubungan antara morfometri tubuh cacing tanah dengan logam berat Pb dan Cr dalam tanah.
PENGARUH FILTRAT DAUN BUTA-BUTA (EXCOECARIA AGALLOCHA) TERHADAP MORTALITAS DAN AKTIVITAS MAKAN ULAT GRAYAK Rakmawati, Rakmawati; Septyana, Fajar; Suryandari, Lilis; Ahmad, Mahesa
LenteraBio: Berkala Ilmiah Biologi Vol 7, No 3 (2018): Vol 7 No 3 (2018)
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Buta-buta (Excoecaria agallocha) merupakan salah satu tumbuhan mangrove yang berpotensi untuk dijadikan sebagai pengendali hama. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dinamika mortalitas dan aktivitas makan ulat grayak setelah diberi perlakuan menggunakan biopestisida yang berasal dari filtrat daun tanaman mangrove jenis Buta-Buta. Pestisida alami dibuat dengan cara merendam 500 gram daun tumbuhan buta-buta yang sudah dikeringkan dan digiling hingga halus dengan aquades sebanyak delapan liter selama 24 jam. Perlakuan uji menggunakan beberapa konsentrasi filtrat, yaitu 0%, 20%, 40%, 60%, 80% dan 100% dengan pengulangan masing-masing sebanyak tiga kali. Setiap unit uji menggunakan 10 ekor ulat grayak instar dua. Filtrat ini kemudian dimasukkan ke dalam botol dan disemprotkan ke ulat grayak yang merupakan salah satu hama penting pertanian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian filtrat daun tumbuhan buta-buta berpengaruh terhadap mortalitas dan aktivitas makan ulat grayak. Perlakuan filtrat 100% lebih berpengaruh dibandingkan dengan perlakuan yang lain, yaitu menyebabkan mortalitas sebesar 90% serta menyebabkan penurunan aktivitas makan yang paling signifikan selama empat hari pengamatan.
KEMAMPUAN CYPERUS ESCULENTUS SEBAGAI FITOREMEDIATOR DALAM MENURUNKAN LOGAM BERAT KADMIUM (CD) PADA SEDIMEN PERAIRAN TERCEMAR LUMPUR LAPINDO, SIDOARJO Nuraini, Siti; Purnomo, Tarzan
LenteraBio: Berkala Ilmiah Biologi Vol 8, No 1 (2019): Vol 8 No 1 (2019)
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Lumpur lapindo memiliki kandungan logam berat kadmium yang berbahaya bagi lingkungan perairan sekitarnya. Logam kadmium pada lingkungan perairan dapat memberikan sumber racun bagi mahluk hidup apabila dalam jumlah tertentu. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh lama pemaparan dan biomassa terhadap pertumbuhan Cyperus esculentus, persentase penurunan Cd pada media dan persentase kadar Cd dalam akar. Penelitian dilakukan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK), dengan dua faktor perlakuan. Faktor pertama adalah lama pemaparan 7 hari dan 14 hari. Faktor kedua adalah biomassa tumbuhan Cyperus esculentus terdiri atas 0 gram, 150 gram, dan 300 gram. Parameter yang diamati adalah kadar Cd pada media tanam, kadar Cd pada akar  Cyperus esculentus, dan biomassa akhir tumbuhan. Analisis kadar Cd pada media tanam dan akar Cyperus esculentus menggunakan AAS. Data dianalisis menggunakan Uji Anava dua arah dan Uji lanjut Duncant Multiple Range Test (DMRT). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh lama pemaparan dan biomassa terhadap persentase penurunan Cd pada media tanam, kadar Cd dalam akar, dan biomassa akhir Cyperus esculentus.  Persentase penurunan kadar Cd pada media tanam  tertinggi terjadi pada perlakuan biomassa 300 gram dan lamapemaparan 14 hari sebesar 81%. Persentase kadar Cd dalam akar Cyperus esculentus terbesar  pada biomassa 300 gram dan lama pemaparan 14 hari sebesar 6,92%. Biomassa akhir terbaik pada perlakuan 300 gram dan lama pemaparan 14 hari sebesar 300,75 gram.
POTENSI TAPAK DARA AIR (LUDWIGIA ADSCENDENS) DALAM MENURUNKAN KANDUNGAN LOGAM BERAT TIMBAL (PB) PADA PERAIRAN YANG TERCEMAR LUMPUR LAPINDO, SIDOARJO Nandra, Lutfi Widya; Purnomo, Tarzan
LenteraBio: Berkala Ilmiah Biologi Vol 8, No 1 (2019): Vol 8 No 1 (2019)
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian ini untuk menganalisis penyerapan timbal (Pb) pada akar, persentase penurunan pada media tanam, dan pertumbuhan tapak dara air (Ludwigia adscendens) pada biomassa dan waktu detensi yangberbeda. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan dua faktor perlakuan. Faktor perlakuan pertama adalah biomassa tumbuhan sebesar 0 gram (tanpa tanaman), 50 gram, 100 gram, 150  gram dan faktor perlakuan yang kedua yaitu waktu detensi selama tujuh hari dan empat belas hari. Parameter pada penelitian ini adalah kandungan timbal pada media tanam, kandungan timbal pada akar tapak dara air dan biomassa basah tapak dara air. Data terkait rata-rata penyerapan timbal oleh akar, penurunan timbal pada media tanam danpertumbuhan tanaman dianalisis menggunakan uji analisis varian (ANAVA) dua arah untuk mengetahui perbedaan pada setiap perlakuan dan dilanjutkan dengan uji Duncan?s untuk mengetahui perlakuan terbaik. Hasil penelitian menunjukkan biomassa dan waktu detensi memberi pengaruh berbeda nyata  terhadap persentase penyerapantimbal pada akar tapak dara air, penurunan timbal pada media tanam dan pertumbuhan tumbuhan. Penyerapan paling optimal yaitu pada biomassa 150 gram dan waktu detensi 14 hari sebesar 83,62% (1,781 ppm). Penurunan timbal pada media tanam tertinggi pada biomassa 50 gram,100 gram, dan 150 gram dan waktu detensi 14 hari sebesar 90% (1,911), 91% (1,939 ppm), 91% (1,934 ppm). Pertumbuhan tertinggi tanaman yaitu pada biomassa 150 gram dan waktu detensi 7 hari sebesar 158,67 gram.
KEMAMPUAN CYPERUS ESCULENTUS SEBAGAI FITOREMEDIATOR LOGAM BERAT TIMBAL (PB) PADA SEDIMEN PERAIRAN YANG TERCEMAR LUMPUR LAPINDO DI PORONG SIDOARJO Widyaningrum, Lusi; Purnomo, Tarzan; Putri, Eva Kristinawati
LenteraBio: Berkala Ilmiah Biologi Vol 8, No 1 (2019): Vol 8 No 1 (2019)
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Beberapa jenis tumbuhan tertentu memiliki kemampuan hidup pada kondisi lingkungan dengan kandungan logam cukup tinggi sehingga dapat dijadikan sebagai agen fitoremediator. Salah satu jenis tumbuhan yang berpotensi sebagai akumulator logam berat adalah Cyperus esculentus.  Tumbuhan ini mampu bertahan hidup pada sedimen perairan yang tercemar lumpur Lapindo yang  mengandung logam Timbal (Pb) sebesar 2,57 ppm. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan pengaruh biomassa dan waktu detensi tumbuhan C. esculentus terhadap penurunan kadar Pb sedimen perairan yang tercemar lumpur lapindo; dan kadar  Pb yang terkandung pada akar tumbuhan C. esculentus serta pengaruhnya terhadap pertumbuhan C. esculentus. Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok faktorial dengan dua faktor perlakuan, yaitu biomassa tumbuhan C. esculentus  (0 gram, 150 gram dan 300 gram) dan waktu detensi (7 hari dan 14 hari) dengan pengulangan 4 kali. Datapenelitian berupa penurunan kadar Pb sedimen media tanam  maupun kadar Pb pada akar tumbuhan C. esculentus dianalisis menggunakan Analisis Varian (ANAVA) dua arah dan dilanjut  uji Duncan?s Multiple Range Test (DMRT). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan dengan biomassa tumbuhan dan lama waktu detensi memengaruhi penurunan kadar Pb pada sedimen media tanam dan kadar Pb pada akar tumbuhan C. esculentus. Kadar Pb tertinggi pada akar tumbuhan C. esculentus dan penurunan kadar Pb pada sedimen media tanam  ditemukan pada kombinasi perlakuan biomassa 300 gram dan waktu detensi 14 hari dengan nilai berturut-turut 0,79 ppm dan 1,92 ppm.
UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DAN KADAR ASAM LAKTAT YOGHURT TEMPE KEDELAI (GLYCINE MAX) DAN YOGHURT TEMPE KACANG HIJAU (VIGNA RADIATA) Af?idah, Fitrotul; Trimulyono, Guntur
LenteraBio: Berkala Ilmiah Biologi Vol 8, No 1 (2019): Vol 8 No 1 (2019)
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tempe merupakan salah satu produk fermentasi yang memiliki banyak manfaat, salah satunya sebagai antioksidan. Tempe dapat diolah menjadi yoghurt yang dapat meningkatkan kadar antioksidan melalui peningkatankadar asam laktat selama proses fermentasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh jenis susu, jenis starter dan kombinasi jenis susu dan jenis starter terhadap aktivitas antioksidan, kadar asam laktat dan pH. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan variabel manipulasi jenis susu dan jenis starter. Penelitianini memiliki dua faktor perlakuan yang diulang sebanyak empat kali dan diuji pada jam ke 0, 4, 8, 12. Data dianalisis dengan menggunakan Anova dua arah dan dilanjutkan uji Duncan. Pada penelitian ini menunjukkan bahwa jenis susu memengaruhi peningkatan kadar asam laktat dan penurunan pH, sehingga aktivitas antioksidan meningkat. Peningkatan kadar asam laktat dipengaruhi oleh jenis starter bakteri yang digunakan. Kombinasi jenis susu dan jenis starter dapat memengaruhi peningkatan kadar asam laktat dan penurunan pH. Hasil Duncan menunjukkan bahwasusu tempe kedelai dan susu tempe kacang hijau memiliki hasil terbaik terhadap aktivitas antioksidan dan kadar asam laktat, sedangkan interaksi antara jenis susu dan jenis starter menunjukkan susu tempe kacang hijau memiliki nilai terbaik.