cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
APRON
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Arjuna Subject : -
Articles 110 Documents
ANALISA SLOMPRET DALAM MUSIK TARI JARANAN TURONGGO YAKSO PUJI PRASETYO, HENDRA
APRON Jurnal Pemikiran Seni Pertunjukan Vol 2, No 12 (2018)
Publisher : APRON Jurnal Pemikiran Seni Pertunjukan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Jaranan Turonggo Yakso merupakan genre pertunjukan tari yang hidup di Kabupaten Trenggalek Jawa Timur. Keberadaan Jaranan Turonggo Yakso pada awalnya merupakan seni ritual kemudian berkembang menjadi pertunjukan populer yang masih mampu bertahan di tengah arus globalisasi saat ini. Pada setiap pertunjukan Jaranan Turonggo Yakso selalu diiringi menggunakan alat musik gamelan yang sederhana, yaitu slompret, kendang, kethuk, bonang 2 (ro) dan 6 (nem), angklung, dan gong. Secara auditif penampilan slompret sebagai instrumen musik yang paling menonjol dan mendominasi karakter musik tari Jaranan Turonggo Yakso.Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah, (1) bagaimana keberadaan instrumen slompret dalam perspektif ensambel musik Tari Jaranan Turonggo Yakso di Kabupaten Trenggalek, (2) bagaimana struktur dan teknik penyajian slompret dalam ensambel musik Tari Jaranan Turonggo Yakso? Tujuan penelitian adalah, (1) untuk mengetahui keberadaan instrumen slompret dalam perpektif ensambel musik tari Jaranan Turonggo Yakso di Kabupaten Trenggalek, (2) untuk mendeskripsikan struktur dan teknik penyajian slompret dalam Tari Jaranan Turonggo Yakso. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, dengan teknik pengumpulan data melalui studi pustaka, pengamatan, dan wawancara, yang dengan dilengkapi pencatatan.Hasil penelitian menunjukan bahwa, musik tari Jaranan Turonggo Yakso merupakan elemen pertunjukan penting yang berfungsi sebagai pendukung suasana dan karakter gerak tari. Keberadaan instrumen slompret merupakan identitas utama dalam pertunjukan Tari Jaranan Turonggo Yakso di Kabupaten Trenggalek. Secara musikal, keberadaan slompret dalam ensambel musik tari berfungsi sebagai melodi yang utama atau pokok, sedangkan secara struktural penampilan slompret selalu berperan sebagai pembuka gendhing, melodi pokok, dan juga sebagai ?isen-isen?, hingga penutup. Oleh karena keberadaan dan peranannya sangat mendominasi jalannya pertunjukan, maka dapat dikatakan bahwa slompret merupakan identitas utama musik Tari Jaranan Turonggo Yakso di Kabupaten Trenggalek.Kata kunci: slompret, identitas, musik tari, Jaranan Turonggo Yakso.
KARAKTERISTIK TARI BRANYA’ RAMPAK PRAPATAN DALAM PERTUNJUKAN TOPÈNG DHÂLÂNG “RUKUN PERAWAS” DESA SLOPENG RIZKIYAH, KHOZINATUR
APRON Jurnal Pemikiran Seni Pertunjukan Vol 2, No 12 (2018)
Publisher : APRON Jurnal Pemikiran Seni Pertunjukan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana asal-usul Tari Branya? Rampak Prapatan, dan bagaimana karakteristik Tari Branya? Rampak Prapatan. Penelitian ini dilakukan di Desa Slopeng Kecamatan Dasuk Kabupaten Sumenep terhadap objek penelitian, yaitu Tari Branya? Rampak Prapatan. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan berbagai cara, meliputi: studi pustaka, observasi, wawancara, dan dokumentasi.Berdasarkan penelitian yang dilakukan, Tari Branya? Rampak Prapatan merupakan tari gubahan baru yang diciptakan oleh seniman kelompok ?Rukun Perawas? bersama dengan seniman tari bernama Taufickurrahman pada tahun 2002. Tari Branya? Rampak Prapatan ditampilkan sebagai tari pembuka dalam pertunjukan Topèng Dhâlâng kelompok ?Rukun Perawas?, serta sebagai taria lepas yang tidak terikat dengan pertunjukan, seperti tari penyambutan tamu, tari pengiring pengantin, dan sebagainya. Karakteristik Tari Branya? Rampak Prapatan terletak pada karakter gerak dan musik pengiringnya. Karakter gerak dalam Tari Branya? Rampak Prapatan terdapat tiga karakter, yaitu kasar, alosan, dan branya?/têngngaan. Masing-masing karakter gerak tersebut diiringi dengan tiga gending yang berbeda pula, meliputi gending Sawungrono, Miskalan, dan Nang-Nong. Busana yang digunakan juga merupakan busana khas topeng gaya Dasuk. Sedangkan karakter topeng yang digunakan memiliki warna dasar putih. Warna dasar putih, secara universil melambangkan satriya utama (masih muda), kesucian. Bentuk hidung ?pangotan, bentuk mata ?thelengan?, bentuk alis melengkung agak tebal, berkumis tipis, bentuk mulut bibir setengah terbuka dan memakai godek.Kata kunci : Karakteristik Tari Branya? Rampak Prapatan
MAKNA SIMBOLIS TATA RIAS, TATA BUSANA DAN PROPERTI TARI JARANAN BUTO DI KABUPATEN BANYUWANGI KUSUMA FIRDAUS, HAVIVA
APRON Jurnal Pemikiran Seni Pertunjukan Vol 2, No 12 (2018)
Publisher : APRON Jurnal Pemikiran Seni Pertunjukan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan makna simbolis Tata Rias, Tata Busana dan Properti dalam Tari Jaranann Buto di Kabupaten Banyuwangi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: 1) bentuk dan makna simbolis tata rias tari jaranan buto di Kabupaten Banyuwangi yakni makna simbolis dalam bentuk objek tata riasnya. Dalam bentuk dan makna simbolisnya ditemukan bahwa tata rias Jaranan Buto meliputi bentuk alis, bentuk mata dan bentuk hidung yang memiliki 3 warna putih, merah dan hitam. 2) bentuk dan makna simbolis tata busana tari jaranan buto di Kabupaten Banyuwangi yakni makna simbolis dalam bentuk objek busananya. Dalam bentuk dan makna simbolisnya ditemukan bahwa tata busana Jaranan Buto meliputi bentuk busana atas, busana badan dan busana bawah yang memiliki 3 warna merah, kuning dan hitam. 3) bentuk dan makna simbolis properti tari jaranan buto di Kabupaten Banyuwangi yakni makna simbolis dalam bentuk objek propertnya. Dalam bentuk dan makna simbolisnya ditemukan bahwa properti Jaranan Buto meliputi jaran berkepala buto yang memiliki 3 karakter yaitu Prenges, Teleng dan Gantengan, Barongan berkepala buto, Celeng, dan Pecut sebagai pusaka. Bentuk dan makna ini akan memberi makna ketika Jaranan Buto melakukan sebuah pertunjukkannuya. Kata kunci: Bentuk, Makna, Simbolis
POPULARITAS JARANAN SENTHEREWE GRUP KUDHA MANGGALA KABUPATEN TULUNGAGUNG ZULFA, INDANA
APRON Jurnal Pemikiran Seni Pertunjukan Vol 1, No 13 (2019)
Publisher : APRON Jurnal Pemikiran Seni Pertunjukan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kudha Manggala merupakan organisasi masyarakat yang bergerak di bidang seni tari khususnya jaranan. Alasan ketertarikan sesuai topik penulisan yaitu terletak pada popularitas Kudha Manggala. Bila dibandingkan dengan grup jaranan lain di Kabupaten Tulungagung, Kudha Manggala termasuk jaranan yang lebih dikenal oleh masyarakat. Kudha Manggala secara organisatoris tergolong organisasi yang sederhana, tetapi dengan kesederhanaan tersebut Kudha Manggala dapat menunjukkan eksistensi dan mampu mempertahankan popularitasnya. Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan organisasi dan popularitas grup Kudha Manggala Kabupaten Tulungagung. Penelitian ini menggunakan metode observasi, wawancara, dokumentasi, dan perekaman dengan validitas data berupa teknik triangulasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Kudha Manggala secara organisatoris menerapkan fungsi lengkap, yaitu strategi organisasi, sumber daya manusia, keuangan, serta produksi yang dikelola oleh anggota pengurus dengan memiliki tugas masing-masing dalam mewujudkan visi, misi hingga tujuan. Kudha Manggala dalam kegiatan berkesenian hanya fokus pada Jaranan Sentherewe. Kudha Manggala dalam popularitasnya dapat diketahui melalui popularitas sosiometrik yang meliputi faktor intern diantaranya pelaku seni, sarana prasarana, dan proses latihan. Selain itu Kudha Manggala dalam popularitasnya dapat dilihat dari popularitas perceived yang meliputi faktor ekstern yaitu masyarakat dan adanya modernisasi.Kata Kunci: Popularitas, Jaranan Sentherewe, Grup Kudha Manggala
SINTONG DI DUSUN BATANG DESA AMBUNTEN TENGAHKECAMATAN AMBUNTEN KABUPATEN SUMENEP (KAJIAN BENTUK DAN FUNGSI) INNA AFIYAH, NUR
APRON Jurnal Pemikiran Seni Pertunjukan Vol 1, No 13 (2019)
Publisher : APRON Jurnal Pemikiran Seni Pertunjukan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sintong merupakan sebuah kesenian yang berasal dari Dusun Batang Desa Ambunten Tengah Kecamatan Ambunten Kabupaten Sumenep. Bentuknya yang unik, terletak pada penyajiannya yang merupakan perpaduan dari beberapa unsur seni yaitu seni musik, tari, dan olah vokal. Kesenian ini mempunyai fungsi awal sebagai sarana keagamaan, yaitu sebagai tasawuf dan dakwah. Penelitian ini bertujuan untuk (1) Mendeskripsikan dan mengkaji bentuk dari kesenian Sintong di Dusun Batang Desa Ambunten Tengah Kecamatan Ambunten Kabupaten Sumenep (2) Mengungkap fungsi kesenian Sintong dalam masyarakat di Dusun Batang Desa Ambunten Tengah Kecamatan Ambunten Kabupaten Sumenep. Penelitian ini dikaji menggunakan metode analisis deskriptif, dengan teori bentuk oleh Djelantik dan Jacqueline Smith, serta teori fungsi oleh Prof. Dr. R. M. Sedarsono sebagai dasarnya. Nilai religi dan nilai karakter selalu tersimbol dalam wujud unsur-unsur pembentuknya. Syair dan busananya menggambarkan ciri sebagai bagian dari kesenian islam, instrumennya menggambarkan ciri kesenian tradisional, dan properti yang dipakai menyiratkan semangat kebangsaan dan cinta tanah air. Mayoritas gerak Sintong merupakan gerak maknawi berupa memberi, menerima, dan memohon, dengan karakter gerak yang lembut dan aksen tangkas. Berdasarkan hasil analisis data yang dilakukan dengan mengacu pada tujuan penelitian, dapat ditarik simpulan bahwa (1) Seni Sintong merupakan salah satu bentuk kesenian tradisional Islami yang geraknya sangat mengacu pada syair vokalnya, dan bentuk gerak yang dipilih merupakan gabungan dari gerak seni-seni yang telah ada sebelumnya, yaitu samman, rudat, tayub, dan pencak silat. (2) Sintong mengalami perkembangan fungsi seiring dengan eksistensi setelah keberadaannya digali kembali. Kata kunci: sintong, bentuk, fungsi, sumenep
BENTUK PERTUNJUKAN PAPERMOON PUPPET THEATRE DALAM CERITA “SECANGKIR KOPI DARI PLAYA” MAYANGSARI, HENI
APRON Jurnal Pemikiran Seni Pertunjukan Vol 1, No 13 (2019)
Publisher : APRON Jurnal Pemikiran Seni Pertunjukan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Papermoon Puppet Theater adalah salah satu Komunitas Teater Boneka yang berdiri pada tahun 2006 di Yogyakarta. Papermoon Puppet Theater memiliki studio atau bengkel yang biasanya digunakan untuk latihan membuat poperti atau setting, melakukan kunjungan terbuka dan workshop bersama. Teater yang berbasis di Yogyakarta ini tidak hanya menunjukkan karyanya didalam negeri, tetapi juga diluar negeri seperti Malaysia, Korea, India, Jepang, Amerika Serikat, Inggris, Singapura, dan Filipina. Biasanya Papermoon Puppet Teater melakukan residensi keluar negeri untuk belajar sekaligus menemukan rekan baru dalam komunitas teater boneka. Untuk menjangkau publik yang lebih luas, Papermoon Puppet Teater tidak hanya melakukan pertumjukan digedung - gedung pertunjukan, namun juga di kereta api, pasar tradisional dan tepi jalan. Tema yang diangkat pun sesuai dengan kehidupan sehari hari yang dikemas secara imajinatif.Rumusan masalah penelitihan adalah bagaimana latar belakang terbentuknya Papermoon Puppet Teater, dan bagaimana bentuk pertunjukan pada cerita ?Secangkir Kopi dari Playa?.Penelitian ini melakukan pendekatan metode kualitatif. Objek penelitihan ini adalah bentuk pertunjukan pepper moon puppet teater dalam cerita ?secangkir kopi dari playa? pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara, catatan lapangan dan dokumentasi, serta menggunakan teknis analisis data dengan reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan.Hasil penelitihan ini menunjukkan bahwa format teater boneka berdasarkan real story mampu membawa penonton dari berbagai kalangan, baik anak anak maupun orang tua untuk turut serta hadir dalam berbagai pertunjukan.Kata kunci : latar belakang, bentuk pertunjukan.
ANALISIS KARAKTER TOKOH WAYANG THENGUL DALAM LAKON SRI HUNING GUGUR OLEH DALANG KI DARNO ASMORO PADA PAGUYUBAN MARGI UTOMO LARAS BOJONEGORO AYU WAHYUNINGTIYAS, PUTERI
APRON Jurnal Pemikiran Seni Pertunjukan Vol 1, No 13 (2019)
Publisher : APRON Jurnal Pemikiran Seni Pertunjukan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Wayang Thengul adalah salah satu kesenian khas Bojonegoro. Terinspirasi dari berbagai kesenian terutama pada Wayang Golek sehingga terdapat akulturasi di dalamnya. Kesenian tersebut akhirnya ditetapkan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Bojonegoro sehingga menjadi kesenian khas Bojonegoro dengan ciri yang berbeda . Paguyuban Margi Utomo Laras merupakan salah satu perkumpulan pegiat seni tradisi yang melestarikan Wayang Thengul Bojonegoro sejak tahun 1982 hingga kini. Sekian banyak pertunjukan yang dibawakan paguyuban tersebut, terdapat salah satu lakon yang paling ramai di kalangan masyarakat yaitu Sri Huning Gugur. Penyajian pertunjuakan tersebut perlu adanya kajian karakter pada wayang dengan karkakter tokoh. Maka kajian karakter tokoh pada lakon wayang diharapkan masyarakat mengerti bahwa wayang memiliki cerminan karakter manusia.Masalah Penelitian adalah bagaimana latar belakang Paguyuban Margi Utomo Laras, dan bagaimana karakter tokoh Wayang Thengul dalam lakon Sri Huning Gugur oleh Ki Dalang Darno Asmoro pada Paguyuban Margi Utomo Laras. Analisis Kualitatif menjadi penekatan peneliti dalam melakukan penelitian. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, observasi, dokumentasi, dan catatan lapangan serta menggunakan teknis analisis data dengan reduksi data, penyajian data, dan analisis data lapangan.Hasil dari penelitian adalah menemukan keunikan latar belakang Paguyuban Margi Utomo Laras yang di ketuai oleh Ki Darno Asmoro serta menjadi dalang. Salah satunya yaitu visi dan misi yang sederhana namun menjadi daya mereka untuk tetap bertahan tanpa bermodalkan pendidikan yang lebih menjurus pada profesi seniman. Visi utamanya adalah melestarikan kesenian khas Wayang Thengul Bojonegoro dengan misi memenuhi tanggapan masyarakat dan melakukan promosi paguyuban disetiap tahunnya. Salah satu cerita lakon yang dibawakan oleh dalang Ki Darno Asmoro yaitu Sri Huning Gugur. Terdapat 7 tokoh dari 3 kota yaitu Bojonegoro, Lamongan, dan Tuban. Pertama, Sri Huning menjadi tokoh Protagonis yang berani. Kedua, Raden Wiratmoyo termasuk tokoh Protagonis yang gugur bersama Sri Huning. Ketiga, Adipati Surolawe adalah ayah Raden Wiratmoyo, termasuk tokoh Protagonis yang tegas. Keempat, Raden Wiratmoko adalah adik Raden Wiratmoyo, termasuk tokoh Deutragonis yang berani. Kelima, Adipati Sosronegoro termasuk tokoh Deutragonis yang baik dan tidak ingkar. Keenam, Retno Kumolo adalah Anak Adipati Sosronegoro, termasuk tokoh Deutragonis yang cantik dan baik. Ketujuh, Adipati Surolawe termasuk tokoh Antagonis yang egois dan pemarah.Kata Kunci : Margi Utomo Laras, Karakter Tokoh, Wayang Thengul, Sri Huning Gugur
“EKSISTENSI LOREK WIDYA BUDAYA SEKOLAH DASAR NEGERI GEDONGAN 2 KOTA MOJOKERTO” ROSA RALITA SANDRA, MILA
APRON Jurnal Pemikiran Seni Pertunjukan Vol 1, No 13 (2019)
Publisher : APRON Jurnal Pemikiran Seni Pertunjukan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Teater yang yang dipakai di sekolah pada umumnya merupakan teater modern, dalam lingkup intrakurikuler atau ekstrakurikuer. Sedangkan terdapat satu sekolah di Kota Mojokerto yang masih mengadakan teater tradisional ludruk yang dimainkan oleh anak-anak atau biasa disebut dengan lorek atau ludruk arek. Sekolah Dasar Negeri Gedongan 2 Kota Mojokerto memiliki Lorek Widya Budaya yang merupakan kelompok kesenian dipimpin oleh Bu Tanti sebagai Kepala Sekolah. Lorek Widya Budaya merupakan satu-satunya kelompok lorek yang ada di Kota Mojokerto yang berdiri sejak 2 Mei 2011 dan masih bertahan hingga sekarang. Lorek Widya Budaya merupakan gabungan dari ekstrakurikuler tari, ekstrakurikuler teater, dan esktrakurikuler karawitan. Lorek yang awalnya hanya pentas ketika pelepasan kelas VI tersebut sekarang sering menerima undangan untuk pentas diluar sekolah, sehingga Lorek widya Budaya memiliki eksistensi dimata masyarakat.Permasalahan yang di teliti penulis adalah bagaimana latar belakang dan eksistensi Lorek Widya Budaya yang dimiliki oleh Sekolah dasar Negeri Gedongan 2 Kota Mojokerto. Dalam rangka menjawab pertanyaan diatas maka penulis melakukan penelitian ini dengan pendekatan Kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara, observasi, dokumentasi, menganalisis data dan memvaliditas data untuk medapatkan data yang valid kemudian dianalisa sehingga menghasilkan kesimpulan yang akurat dan sesuai dengan data lapangan. .Hasil dari penelitian ini adalah mengetahui eksistensi Lorek Widya Budaya melalui latar belakang yang di miliki, seperti profil sekolah, sejarah dari lorek, pelatihan yang dikukan oleh lorek, kepemimpinan dari lorek, dan keanggotaan dari Lorek Widya Budaya. Tanggapan dari beberapa pihak dan juga prestasi yang pernah diraih merupakan bukti keeksistensian dari Lorek Widya Budaya. Sehingga hasil penelitian ini menunjukan bahwa ludruk tidak hanya berkembang di kalangan dewasa, namun juga anak SD dan penelitian ini bisa di jadikan bahan pertimbangan dalam melestarikan kesenian tradisi ludruk pada pendidikan formal maupun nonformal di kalangan anak-anak. Kata Kunci: Lorek, Eksistensi, Widya Budaya
KAJIAN STRUKTUR PERTUNJUKAN LUDRUK TOBONG DI PONOROGO FATAH JAELANI, ABDUL
APRON Jurnal Pemikiran Seni Pertunjukan Vol 1, No 13 (2019)
Publisher : APRON Jurnal Pemikiran Seni Pertunjukan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ludruk tobong adalah salah satu pertunjukan ludruk yang dipertunjukkan di panggung tertutup. Penonton membeli tiket untuk menyaksikan. Ludruk tobong merupakan kerja seni pertunjukan mandiri dengan penghasilan yang didapatkan dari penjualan tiket. Kelompok ludruk tobong di Jawa Timur sangat minim, di Ponorogo terdapat 3 kelompok Ludruk yang masih melaksanakan tobongan, yakni Ludruk Suromenggolo, Irama Muda, dan Wahyu Budaya. Ludruk tobong di Ponorogo menampilkan pertunjukan dengan mengurangi esensi dagelan dan meniadakan lakon pada struktur pertunjukannya. Sebagai acara utama dalam pertunjukan ludruk tobong ini adalah monosuko, lagu-lagu yang di pesan oleh penonton dan dinyanyikan oleh para tandhak ludruk. Penelitian ini menggunakan struktur pertunjukan ludruk oleh Peacock, Konvensi ludruk oleh Lisbianto, Teater Kitchs dan tandhak oleh Supriyanto. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan sumber data manusia dan non manusia. Teknik pengumpulan data yang digunakan pada penelitian ini adalah wawancara, observasi dan dokumentasi yang divalidasi dengan menggunakan triangulasi sumber dan teknik. Selanjutnya data yang diperoleh dianalisis dengan cara reduksi data, interpretasi data, serta penarikan simpulan. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa ketiga ludruk tobong di Ponorogo melaksanakan tobongan dengan struktur pertunjukan tari remo, bedhayan, lawak, monosuko. Struktur pertunjukan tersebut didasari atas tuntutan pasar hiburan. Dengan demikian Ludruk Suromenggolo, Wahyu Budaya dan Irama Muda dengan sadar bahwa apa yang dipertunjukan adalah Ludruk Campursari. Ketiga ludruk ini tergolong sebagai Teater Kitchs yang menanggapi permintaan sebagai komoditi komersial untuk khalayak penontonnya. Kultur pedesaan dengan campursarian yang di cintai oleh masyarakat menjadi dasar utama peralihan struktur pertunjukan. Permasalahan mengkomersialkan kesenian ludruk tobong dengan baik adalah pengaruh besar yang berpotensi membawa dampak positif bagi keberlangsungan kesenian tradisi.Kata Kunci : Ludruk, Tobong, Ponorogo
PEMBERDAYAAN SENIMAN TARI DAN KARAWITAN SANGGAR PENDOPO OLEH PEMERINTAH KABUPATEN DI BLITAR ARI WAHYUNING TYAS, NURFITRI
APRON Jurnal Pemikiran Seni Pertunjukan Vol 1, No 13 (2019)
Publisher : APRON Jurnal Pemikiran Seni Pertunjukan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh satu kegiatan Pemberdayaan Seniman yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Blitar dalam meningkatkan taraf ekonomi seniman dan menguatkan potensi yang ada. Melalui Pemberdayaan Seniman dapat memperkuat kesenian Blitar yang sudah ada dan mengembangkannya, karena seniman merupakan kunci pelestari budaya. Maka dari itu rumusan masalah penelitian ini adalah 1) Bagaimana Strategi pemberdayaan seniman tari dan karawitan sanggar pendopo oleh pemerintah Kabupaten Blitar, 2) Apakah Faktor pendukung dan penghambat dalam pelaksanaan pemberdayaan seniman tari dan karawitan sanggar pendopo oleh pemerintah Kabupaten Blitar. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif, dan teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara, observasi, dan dokumentasi. Teknik keabsahan data menggunakan triangulasi sumber dan triangulasi teknik. Analisis data menggunakan 1) Reduksi data, 2) Penyajian Data, dan 3) Penarikan simpulan.Hasil yang diperoleh dari penelitian ini : 1) Strategi pemberdayaan seniman tari dan karawitan dilaksanakan melalui pelatihan karawitan dan pelatihan seni tari di Sanggar Pendopo Blitar, strategi juga dilakukan dengan promosi yang dilaksanakan melalui Ajang Promosi Wisata Budaya di Los Angeles Amerika Serikat, selain itu pemerintah menjalin kerjasama dengan pihak-pihak tertentu yang mendukung kegiatan pemberdayaan seniman dan melalui berbagai kegiatan seni. 2) Faktor pendukung dalam pelaksanaan strategi pemberdayaan seniman yaitu swadaya dana pemerintah, adanya cagar budaya sebagai sarana objek wisata yang masih terawat dengan baik hingga saat ini, dan kesadaran pihak pemerintah. Selain itu beberapa faktor yang menghambat yaitu semakin besarnya sifat egosentris yang muncul pada individu seniman untuk memperoleh keuntungan sendiri, dan fasilitas pelaku seniman yang terbatas.Kata Kunci: Pemberdayaan, Seniman tari dan karawitan, Pelatihan.

Page 10 of 11 | Total Record : 110