cover
Contact Name
Angga Hadiapurwa
Contact Email
angga@upi.edu
Phone
+6285221282902
Journal Mail Official
jurnal.inovasi.kurikulum@upi.edu
Editorial Address
Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN) d.a Prodi Pengembangan Kurikulum FIP UPI Jl. Dr. Setiabudhi Bandung 40154
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Inovasi Kurikulum
ISSN : 18296750     EISSN : 27981363     DOI : https://doi.org/10.64014/jik
Core Subject :
Inovasi Kurikulum journal (Jurnal Inovasi Kurikulum/JIK) is an open access and peer-reviewed journal published by Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN) in collaboration with Curriculum Development Study Program, Faculty of Education, Universitas Pendidikan Indonesia. The journal includes particular interests in issues related to curriculum development, including curriculum design, implementation, evaluation, and learning development (resources, models, media, and assessment). Inovasi Kurikulum aims to publish research conducted by researcher, teachers, lecturers, and others focusing on research at the levels of Early Childhood, Elementary, Junior High, or Senior High Schools, as well as Higher-Education.
Arjuna Subject : -
Articles 537 Documents
Analisis kurikulum: studi komparatif pengembangan kurikulum di Jepang dan Indonesia Dinn Wahyudin
Inovasi Kurikulum Vol. 1 No. 1 (2004): Inovasi Kurikulum, February 2004
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v1i1.35610

Abstract

Setiap negara mempunyai sistem pendidikan nasionalnya yang disesuaikan dengan latar belakang filosofi, kebijakan, dan strategi nasional. Seperti halnya Indonesia dengan Jepang, memiliki perbedaan yang kentara di antaranya: (1) sistem desentralisasi pendidikan di Indonesia baru dimulai tahun 2002 sedangkan di Jepang sudah lama diberlakukan desentralisasi pendidikan; (2) di Indonesia kurikulum berbasis mata pelajaran baru sedang menuju kurikulum berbasis kompetensi, sedangkan di Jepang telah lama berdasarkan standar; (3) di Indonesia pelajaran agama masuk kurikulum sekolah sedangkan di Jepang tidak, kecuali sekolah yang dikelola masyarakat pemeluk agama Shinto; (4) di Indonesia pendidikan usia dini tidak wajib, dan di Jepang pun tidak wajib tetapi sudah menjadi pilihan masyarakat mulai masuk usia 12 tahun; (5) hari belajar per tahun 250 hari, sedangkan di Jepang 200 hari untuk SD, SLTP, SMU; (6) pengembang kurikulum di Indonesia oleh Depdiknas (Puskur) dengan melibatkan berbagai lembaga terkait, sedangkan di Jepang oleh Monbusho, Pemerintah Daerah, Asosiasi Guru, Lembaga Riset, Orang tua dan LSM.
Peranan wilayah dalam pengembangan kurikulum Masriam Bukit
Inovasi Kurikulum Vol. 1 No. 1 (2004): Inovasi Kurikulum, February 2004
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v1i1.35611

Abstract

Desentralisasi terjadi di berbagai bidang termasuk dalam bidang pendidikan. Alasan utama diberlakukannya desentralisasi dalam pendidikan adalah bahwa bila wilayah (provinsi, kabupaten atau kota) mendapat otonomi lebih besar dalam pengambilan keputusan, wilayah berikut kepala sekolah dan guru-guru akan mulai mengontrol kurikulum serta proses pengajaran di sekolah. Desentralisasi membuka ruang yang lebih baik kepada daerah untuk mengontrol pendidikan, serta diharapkan akan semakin besar fleksibilitas dalam pendidikan. Daerah juga memiliki peluang untuk mengembangkan pendidikan sesuai dengan kebutuhan dan potensi daerahnya. Proses desentralisasi pendidikan dibagi ke dalam dua tahap. Tahap pertama, pemindahan kewenangan kebijakan pendidikan dari pemerintah pusat ke pemerintah daerah. Tahap kedua, pemindahan berbagai keputusan dari pemerintah kepada masyarakat.  
Pengembangan kurikulum program studi Diploma III analis kesehatan berbasis standar kompetensi kerja nasional Indonesia Asep Fithri Hilman
Inovasi Kurikulum Vol. 5 No. 1 (2008): Inovasi Kurikulum, February 2008
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v5i1.35618

Abstract

Penelitian tentang cara menurunkan standar kompetensi menjadi mata kuliah yang sanggup mengakomodir kebutuhan kompetensi pada program studi Diploma III Analis Kesehatan. Temuan yang dihasilkan dari penelitian ini adalah: 1) cara menurunkan standar kompetensi menjadi mata kuliah yang bisa mengakomodir kompetensi, 2) cara menghitung bobot mata kuliah, dan 3) struktur kurikulum Pendidikan Diploma III Analis Kesehatan. Tahapan menurunkan standar kompetensi menjadi mata kuliah adalah: 1) membuat daftar kompetensi yang memuat unit-unit kompetensi yang sesuai digunakan sebagai bahan pengembangan kurikulum pendidikan Diploma III Analis Kesehatan, 2) mengidentifikasi elemen-elemen/subkompetensi, 3) menentukan gatra pembelajaran untuk setiap elemen kompetensi, 4) menurunkan setiap elemen kompetensi ke dalam ranah pembelajaran menurut klasifikasi Bloom, 5) mengidentifikasi kedalaman setiap ranah dan membuat perkiraan mata kuliah, 6) membuat daftar/tabel penjabaran kompetensi dan subkompetensi ke dalam ranah, 7) membuat daftar/tabel mata kuliah yang dihasilkan dari penjabaran kompetensi/subkompetensi, 8) mereduksi ranah pembelajaran dari daftar mata kuliah apabila ada mata kuliah yang memiliki ranah pembelajaran dengan tujuan pembelajaran yang sama/mirip, 9) menghitung bobot mata kuliah, dan 10) membuat struktur mata kuliah. Cara menghitung bobot sks mata kuliah adalah dengan cara membagi yang terbagi menjadi 38 mata kuliah. Dari jumlah tersebut 96 sks bobot mata kuliah yang dimiliki mata kuliah tersebut dengan jumlah bobot total seluruh mata kuliah yang dihasilkan kemudian dikalikan dengan jumlah sks yang akan dibuat. Berdasarkan kedua tahapan ini dihasilkan struktur kurikulum Pendidikan Diploma III Analis Kesehatan dengan jumlah sks sebanyak 110 atau 32 mata kuliah merupakan mata kuliah yang diturunkan dari SKKNI yang pada struktur kurikulum dimasukkan pada kelompok mata kuliah kompetensi dasar sebanyak 19 sks (13 mata kuliah), dan kompetensi utama sebanyak 77 sks (19 mata kuliah), 14 sks lainnya bukan merupakan penurunan dari SKKNI dan dikelompokkan ke dalam mata kuliah kompetensi dasar umum.  
Model kurikulum pendidikan layanan khusus pendidikan non formal untuk daerah konflik Kamin Sumardi
Inovasi Kurikulum Vol. 5 No. 1 (2008): Inovasi Kurikulum, February 2008
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v5i1.35619

Abstract

Curriculum is one important component in education, especially in learning process. Curriculum must support all the student needs, because of it, we need a special curriculum. Every conflict has a different characteristic, but the effect on the child education has the same meaning. Because of that, we have to arrange one of curriculum development and the evaluation more specific by using a special service especially in non formal education. Special service education in non formal education (PLK-PNF) for conflict area, which has a base differentiation in learning process. This special service education has a double mission, for education and to handle the side effect of conflict as physically and also psychologist.  
Implementasi model cooperative learning tipe jigsaw untuk meningkatkan prestasi belajar siswa Samsuri Samsuri
Inovasi Kurikulum Vol. 5 No. 1 (2008): Inovasi Kurikulum, February 2008
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v5i1.35624

Abstract

Konsep Cooperative Learning pada dasarnya mengacu pada pendekatan teori konstruktivisme, di mana dalam proses pembelajarannya memfokuskan pada aktivitas siswa secara individual, menemukan dan mentransformatifkan informasi secara kompleks. Jigsaw merupakan salah satu tipe model pembelajaran cooperative learning yang dalam proses pembelajarannya mengutamakan kerja kelompok dan interaksi setiap anggota kelompok. Ciri khas model pembelajaran tipe jigsaw dibentuk kelompok asal dan kelompok atau tim ahli. Untuk mengetahui peningkatan hasil belajar yang diharapkan, pada akhir Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) harus dilakukan tes akhir sebagai tolak ukur kemampuan siswa dalam menyerap bahan ajar dan tolak ukur bagi keberhasilan guru dalam melaksanakan KBM.  
Pengembangan kurikulum berbasis masyarakat di SMP alternatif Qaryah Thayyibah Salatiga Jateng Muchamad Solahudin
Inovasi Kurikulum Vol. 5 No. 1 (2008): Inovasi Kurikulum, February 2008
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v5i1.35625

Abstract

Masyarakat memiliki peran dan tanggung jawab yang sangat besar dalam proses pengembangan kurikulum di satuan pendidikan mengingat sekolah adalah miniatur masyarakat yang kelak menjadi generasi penerus dalam melestarikan warisan budaya. Keterlibatan masyarakat dalam proses pengembangan kurikulum meliputi perumusan desain, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi kurikulum berbasis masyarakat. Fokus dalam tulisan ini meletakkan pola, konsep, strategi dan landasan masyarakat dalam perannya mengembangkan kurikulum di sebuah sekolah alternatif. Sekolah alternatif memiliki latar belakang dan tujuan yang berbeda dengan sekolah konvensional sehingga memiliki karakteristik dan pola pengembangan yang berbeda pula. Meskipun demikian bentuk keterlibatan masyarakat dalam pengembangan kurikulum ini dapat dijadikan sebagai referensi bagi sekolah formal maupun nonformal lainnya.  
Evaluasi implementasi KTSP pada aspek kompetensi pengelolaan pembelajaran di SMK Sunarto Halim Untung
Inovasi Kurikulum Vol. 5 No. 1 (2008): Inovasi Kurikulum, February 2008
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v5i1.35626

Abstract

Kurikulum senantiasa direvisi untuk mewujudkan kurikulum yang sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan masyarakat, guna mengantisipasi perkembangan zaman, serta memberikan guideline atau acuan bagi penyelenggaraan pembelajaran di satuan pendidikan. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dikembangkan sesuai dengan satuan pendidikan, potensi daerah/karakteristik daerah, sosial budaya masyarakat setempat, dan peserta didik. KTSP akan membuat guru semakin kreatif, karena mereka dituntut harus merencanakan sendiri materi pelajarannya untuk mencapai kompetensi yang telah ditetapkan. Pada pelaksanaannya masih timbul hambatan pelaksanaan KTSP di sekolah pada unsur guru. Implementasi KTSP masih diwarnai minimnya sosialisasi dan persiapan guru. Timbul pertanyaan bagaimana mungkin KTSP berhasil diterapkan di sekolah jika para guru masih belum memahami konsep, substansi, dan mekanisme pelaksanaan KTSP. Jika masalah ini dibiarkan maka akan sia-sia apa yang telah dilakukan oleh pemerintah dan penentu kebijakan pendidikan, sehingga dalam konteks ini perlu dipahami bahwa pentingnya sebuah kesiapan yang harus dimiliki guru. Permasalahan di atas, diteliti melalui evaluasi implementasi KTSP pada aspek kompetensi pengelolaan pembelajaran menggunakan model perbandingan antara standar evaluasi dengan hasil observasi (standard vs observe). Subjek penelitian adalah guru Mata Diklat Teknik Gambar Mesin di SMKN 2 Bandung. Instrumen penelitian berupa: observasi, wawancara dan studi dokumentasi yang perangkatnya di-judgment oleh ahlinya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang dibuat kelompok guru dibandingkan dengan rambu-rambu petunjuk penyusunan RPP yang terdapat pada dokumen KTSP, diperoleh ketercapaian 33% dibandingkan standar aspek perencanaan pembelajaran menurut KTSP di SMK. Pelaksanaan pembelajaran diperoleh ketercapaian 52,371%. Sedangkan pengelolaan pembelajaran secara utuh diperoleh ketercapaian 60,175%.  
Pentingnya landasan psikologis dalam pengembangan kurikulum tingkat satuan pendidikan Lilis Yuliawati
Inovasi Kurikulum Vol. 5 No. 1 (2008): Inovasi Kurikulum, February 2008
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v5i1.35627

Abstract

Kurikulum sebagai rancangan dari pendidikan, mempunyai kedudukan yang cukup sentral dalam keseluruhan kegiatan pendidikan, menentukan proses pelaksanaan dan hasil daripada pendidikan. Mengingat begitu pentingnya peranan kurikulum di dalam pendidikan dan di dalam perkembangan kehidupan manusia, maka pengembangan kurikulum tidak dapat sembarangan. Demikian pula dalam pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Pengembangan kurikulum membutuhkan landasan-landasan yang kuat, yang didasarkan atas hasil-hasil pemikiran dan penelitian yang mendalam. Salah satu landasan yang berkaitan dengan peranan anak dalam pengembangan kurikulum adalah landasan psikologis. Implikasi dari psikologis merupakan salah satu landasan pengembangan kurikulum yakni kepada para guru sebagai desainer, developer dan sekaligus sebagai barisan paling depan yakni sebagai implementor kurikulum.  
Pengembangan model pembelajaran sains teknologi masyarakat dalam pembelajaran kimia M. Tohir Karjono
Inovasi Kurikulum Vol. 5 No. 1 (2008): Inovasi Kurikulum, February 2008
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v5i1.35628

Abstract

Penelitian ini ditujukan untuk mengembangkan model pembelajaran yang dapat mengaktifkan siswa dalam pembelajaran dan meningkatkan hasil belajar siswa. Penelitian dilakukan di kelas X SMA sebagai dasar peletakan ilmu untuk pengembangan selanjutnya. Sejalan dengan tujuan yang ingin dicapai, metode penelitian yang digunakan adalah penelitian dan pengembangan. Dari hasil kajian teoritis dan studi lapangan yang diperkuat dengan temuan-temuan dalam uji coba terbatas, dihasilkan pengembangan model pembelajaran sains teknologi masyarakat dalam pembelajaran kimia SMA. Model yang dikembangkan merupakan modifikasi dari model pembelajaran sains teknologi masyarakat dari Prof. Anna Poedjiadi yang terdiri dari lima tahapan pembelajaran, yaitu: 1) Pendahuluan, 2) Pembentukan dan pengembangan konsep, 3) Aplikasi konsep dalam kehidupan, 4) Pemantapan konsep, dan 5) Penilaian. Hasil pengolahan data pada uji coba luas yang dilaksanakan di tiga sekolah menunjukkan 1) baik guru maupun siswa memberikan apresiasi positif terhadap pelaksanaan model pembelajaran sains teknologi masyarakat dalam pembelajaran kimia SMA, 2) terjadi peningkatan yang signifikan pada hasil pascates jika dibandingkan dengan hasil prates, baik pada kelompok kelas eksperimen maupun pada kelompok kelas kontrol, namun demikian pada kelompok kelas eksperimen, peningkatan hasil tes tersebut lebih tinggi jika dibandingkan dengan kelompok kelas kontrol dengan perbedaan yang signifikan.  
Pengembangan model pembelajaran kooperatif untuk meningkatkan nilai-nilai sosial siswa Noererlinda Noererlinda
Inovasi Kurikulum Vol. 6 No. 1 (2009): Inovasi Kurikulum, February 2009
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v6i1.35689

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan suatu model pembelajaran yang mampu meningkatkan nilai-nilai sosial siswa pada mata pelajaran pendidikan Sejarah di Madrasah Aliyah. Menggunakan metode penelitian dan pengembangan yang meliputi studi pendahuluan, pengembangan dan uji coba model. Dengan model diperoleh beberapa temuan pada proses pembelajaran yang indikasinya mengarah pada perbaikan kualitas diri siswa. Melalui penerapan model pembelajaran kooperatif dalam pembelajaran Sejarah, rasa solidaritas dan sosialisasi siswa di antara temannya semakin meningkat. Para siswa lebih bertanggung jawab dalam mengikuti proses pembelajaran.