cover
Contact Name
Angga Hadiapurwa
Contact Email
angga@upi.edu
Phone
+6285221282902
Journal Mail Official
jurnal.inovasi.kurikulum@upi.edu
Editorial Address
Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN) d.a Prodi Pengembangan Kurikulum FIP UPI Jl. Dr. Setiabudhi Bandung 40154
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Inovasi Kurikulum
ISSN : 18296750     EISSN : 27981363     DOI : https://doi.org/10.64014/jik
Core Subject :
Inovasi Kurikulum journal (Jurnal Inovasi Kurikulum/JIK) is an open access and peer-reviewed journal published by Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN) in collaboration with Curriculum Development Study Program, Faculty of Education, Universitas Pendidikan Indonesia. The journal includes particular interests in issues related to curriculum development, including curriculum design, implementation, evaluation, and learning development (resources, models, media, and assessment). Inovasi Kurikulum aims to publish research conducted by researcher, teachers, lecturers, and others focusing on research at the levels of Early Childhood, Elementary, Junior High, or Senior High Schools, as well as Higher-Education.
Arjuna Subject : -
Articles 537 Documents
Self-esteem among emerging adult women experiencing fatherlessness Tatan Fathmay Lora; Mochamad Widjanarko
Inovasi Kurikulum Vol. 23 No. 3 (2026): Inovasi Kurikulum, August 2026
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64014/jik.v23i3.335

Abstract

The phenomenon of fatherlessness remains widespread in Indonesia and can impact children’s psychological development, particularly among young adult women. A father’s physical, emotional, or psychological absence has the potential to influence the development of self-esteem. This study aims to analyze aspects of self-esteem among young adult women who have experienced fatherlessness and its impact on learning. This study employed a qualitative method with a phenomenological approach, focusing on three young adult women who grew up without a father. Data were collected through in-depth interviews and analyzed thematically based on aspects of self-esteem, including power, significance, virtue, and competence. The results indicate that all participants experienced obstacles in the development of their self-esteem, characterized by low self-confidence, difficulty establishing a sense of self, doubts about personal abilities, feelings of worthlessness, and difficulty forming interpersonal relationships. This, of course, impacts their motivation and academic achievement. The absence of a father figure contributed to the emergence of various emotional and psychological problems that affected the informants’ lives into early adulthood, including their learning processes. This study concludes that growing up without a father influences the formation of self-esteem in young adult women in terms of self-power, self-significance, self-virtue, and self-competence.   Abstrak Fenomena fatherless masih banyak terjadi di Indonesia dan dapat berdampak pada perkembangan psikologis anak, khususnya perempuan dewasa awal. Ketidakhadiran ayah secara fisik, emosional, maupun psikologis berpotensi memengaruhi pembentukan self-esteem. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis aspek-aspek self-esteem pada perempuan dewasa awal yang mengalami fatherless serta dampaknya dalam pembelajaran. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologis terhadap tiga perempuan dewasa awal yang mengalami fatherless. Data diperoleh melalui wawancara mendalam dan dianalisis secara tematik berdasarkan aspek self-esteem yang meliputi power, significance, virtue, dan competence. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh informan mengalami hambatan dalam perkembangan self-esteem, yang ditandai dengan rendahnya rasa percaya diri, kesulitan membangun identitas diri, keraguan terhadap kemampuan pribadi, perasaan kurang berharga, serta kesulitan menjalin hubungan interpersonal. Hal ini tentunya berdampak pada motivasi dan prestasi belajar mereka. Ketidakhadiran figur ayah berkontribusi terhadap munculnya berbagai permasalahan emosional dan psikologis yang memengaruhi kehidupan informan hingga masa dewasa awal, termasuk dalam proses pembelajaran. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kondisi fatherless berpengaruh terhadap pembentukan self-esteem perempuan dewasa awal pada aspek kekuatan diri, keberartian diri, kebajikan diri, dan kompetensi diri. Kata Kunci: dewasa awal; fatherless; motivasi pembelajaran; self-esteem
Reviewing Japanese writing education at universities in Indonesia, China, and South Korea Via Luviana Dewanty; Juju Juangsih; Ghaida Farisya
Inovasi Kurikulum Vol. 23 No. 3 (2026): Inovasi Kurikulum, August 2026
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64014/jik.v23i3.338

Abstract

Mastery of Japanese writing (sakubun) is a crucial aspect of Japanese language learning at the university level. Diverse linguistic backgrounds, cultural contexts, and writing systems pose challenges for Japanese language learners, particularly in Asian countries such as Indonesia, China, and South Korea. This study aims to highlight the problems, differences in learning models, and the use of learning media in sakubun learning in these three countries. The research method used is a systematic literature review conducted by searching academic databases for the terms "sakubun", "university", and the names of the three countries: "Indonesia", "China", and "South Korea". The results show that the difficulties faced by Indonesian, Chinese, and South Korean students in learning sakubun stem from a lack of acquired language knowledge, grammar mastery, and vocabulary mastery. In Indonesia, Sakubun learning uses Padlet to assist students in learning Sakubun, as it offers various features that support writing activities. In sakubun learning in China, the creative response project learning model is used to monitor and evaluate students' writing, thereby maximizing their creativity. Meanwhile, in South Korea, sakubun learning uses the Project-Based Learning (PjBL) model to develop students' creativity based on their individual preferences.    Abstrak Penguasaan penulisan bahasa Jepang (sakubun) merupakan aspek penting dalam pembelajaran bahasa Jepang di tingkat universitas. Keberagaman latar belakang linguistik, konteks budaya, dan sistem penulisan yang berbeda menjadi hambatan dan tantangan bagi para pembelajar bahasa Jepang, khususnya di negara-negara Asia seperti Indonesia, Cina, dan Korea Selatan. Penelitian ini bertujuan untuk menyoroti permasalahan, perbedaan model pembelajaran, serta penggunaan media pembelajaran dalam pembelajaran sakubun di tiga negara tersebut. Metode penelitian yang digunakan adalah systematic literature review dengan melakukan penelusuran pada database akademik yang memuat konteks “sakubun”, “universitas”, dan nama tiga negara, yaitu “Indonesia”, “China”, dan “Korea Selatan”. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesulitan yang dihadapi mahasiswa Indonesia, China, dan Korea Selatan dalam pembelajaran sakubun berasal dari kurangnya pengetahuan bahasa yang diperoleh, kurangnya penguasaan tata bahasa, serta kurangnya penguasaan kosakata. Pembelajaran sakubun di Indonesia menggunakan Padlet untuk membantu mahasiswa mempelajari Sakubun karena memiliki berbagai fitur yang mengakomodasi aktivitas menulis. Dalam pembelajaran sakubun di Cina, model pembelajaran proyek respons kreatif digunakan untuk memantau dan mengevaluasi tulisan mahasiswa agar mereka dapat memaksimalkan kreativitas. Sementara itu, pembelajaran sakubun di Korea Selatan menggunakan model Pembelajaran Berbasis Proyek (PjBL) untuk mengembangkan kreativitas mahasiswa berdasarkan preferensi pribadi masing-masing. Kata Kunci: pembelajaran menulis bahasa Jepang; sakubun; tingkatan universitas 
Self-compassion in Gen Z with body image disorders Deswita Wahyu Anggraeni; Mochamad Widjanarko
Inovasi Kurikulum Vol. 23 No. 3 (2026): Inovasi Kurikulum, August 2026
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64014/jik.v23i3.340

Abstract

Body image disorders are a problem experienced by many people, especially Generation Z, due to the influence of beauty standards and ideal bodies that have developed in society and on social media. This condition can lead to dissatisfaction with physical appearance, low self-confidence, and a tendency to self-criticism. Furthermore, this condition can lead to decreased academic achievement. Therefore, this study aims to analyze aspects of self-compassion in Generation Z with body image disorders and its impact on academic achievement. This study used a qualitative method with a case study approach on three Generation Z informants who experienced body image disorders. Data were obtained through in-depth interviews and observations. The results showed that the third informant possessed aspects of self-compassion, especially self-kindness, common humanity, and mindfulness, although the level of application varied. This can impact academic achievement by increasing learning motivation. On the other hand, negative aspects such as self-judgment, isolation, and over-identification were still found in the third informant. This study concluded that the third informant demonstrated the presence of all aspects of self-compassion in dealing with dissatisfaction with body image, which can impact decreased academic achievement.   Abstrak Gangguan citra tubuh menjadi salah satu permasalahan yang dialami banyak orang, khususnya generasi Z, akibat pengaruh standar kecantikan dan tubuh ideal yang berkembang di masyarakat dan media sosial. Kondisi ini dapat menimbulkan ketidakpuasan terhadap penampilan fisik, rendahnya kepercayaan diri, dan kecenderungan untuk mengkritik diri sendiri. Lebih jauh, kondisi ini dapat menyebabkan penurunan prestasi akademik. Maka dari itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis aspek-aspek self-compassion pada generasi Z dengan gangguan citra tubuh serta dampaknya terhadap prestasi akademik. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus terhadap tiga informan generasi Z yang mengalami gangguan citra tubuh. Data diperoleh melalui wawancara mendalam dan observasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketiga informan memiliki aspek self-compassion, terutama pada self-kindness, common humanity, dan mindfulness, meskipun tingkat penerapannya berbeda. Hal ini dapat berdampak pada pencapaian prestasi akademik melalui peningkatan motivasi belajar. Di sisi lain, aspek negatif seperti self-judgment, isolation, dan overidentification masih ditemukan pada ketiga informan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa ketiga informan menunjukkan adanya seluruh aspek self-compassion dalam menghadapi ketidakpuasan terhadap citra tubuh yang dapat berdampak pada penurunan prestasi akademik. Kata Kunci: gangguan citra tubuh; generasi Z; self-compassion
The integration of deep learning and a Kurikulum Berbasis Cinta in primary education Adhiswar Azizi; Nadlir Nadlir; Achmad Fahmi; Moh. Imam Prasojo
Inovasi Kurikulum Vol. 23 No. 3 (2026): Inovasi Kurikulum, August 2026
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64014/jik.v23i3.344

Abstract

In elementary education, the learning strategies used play a crucial role in shaping children’s character and competencies; therefore, teachers need to select learning strategies that align with the children’s interests and talents. This study aims to analyze the integration of deep learning with the Kurikulum Berbasis Cinta to foster holistic learning in elementary education. The study employs a Systematic Literature Review (SLR) approach, guided by the PRISMA guidelines, to identify, select, and analyze relevant literature. Data sources were obtained from national and international scientific articles published between 2021 and 2026 via Google Scholar, Garuda, ERIC, and ScienceDirect. The results indicate that deep learning plays a role in developing critical and reflective thinking skills as well as meaningful learning. At the same time, the Kurikulum Berbasis Cinta helps strengthen students’ empathy, character, and interpersonal relationships. The integration of these two approaches creates a more humanistic, reflective, and holistic learning experience focused on students’ overall development. In addition to enhancing cognitive aspects, this approach also supports students’ emotional and social development in elementary education. This study concludes that integrating deep learning with the Kurikulum Berbasis Cinta can serve as an alternative for developing a more holistic curriculum that is relevant to the needs of 21st-century learning.   Abstrak Pada pendidikan dasar, strategi pembelajaran yang digunakan sangat menentukan karakter dan kompetensi anak. Oleh karena itu, guru perlu memilih strategi pembelajaran yang sesuai dengan minat dan bakat siswa. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis integrasi deep learning dan Kurikulum Berbasis Cinta dalam mewujudkan pembelajaran holistik di pendidikan dasar. Penelitian ini menggunakan pendekatan Systematic Literature Review (SLR) dengan pedoman PRISMA untuk mengidentifikasi, menyeleksi, dan menganalisis berbagai literatur yang relevan. Sumber data diperoleh dari artikel ilmiah nasional dan internasional yang dipublikasikan pada tahun 2021-2026 melalui Google Scholar, Garuda, ERIC, dan ScienceDirect. Hasil penelitian menunjukkan bahwa deep learning berperan dalam mengembangkan kemampuan berpikir kritis, reflektif, dan pembelajaran bermakna, sedangkan Kurikulum Berbasis Cinta berkontribusi dalam memperkuat empati, karakter, dan hubungan interpersonal peserta didik. Integrasi kedua pendekatan tersebut mampu menciptakan pembelajaran yang lebih humanis, reflektif, dan berorientasi pada perkembangan peserta didik secara utuh. Selain meningkatkan aspek kognitif, pendekatan ini juga mendukung perkembangan emosional dan sosial peserta didik dalam pendidikan dasar. Penelitian ini menyimpulkan bahwa integrasi deep learning dan Kurikulum Berbasis Cinta dapat menjadi alternatif pengembangan kurikulum yang lebih holistik dan relevan dengan kebutuhan pembelajaran abad ke-21. Kata Kunci: deep learning; Kurikulum berbasis Cinta; pembelajaran holistik; pendidikan dasar; pendidikan humanistik
Teacher's perspective on how the MBG program affects students' motivation to learn Firman Firman; Hety Diana Septika; Fara Virgianita Pangandongan; Muhlis Muhlis
Inovasi Kurikulum Vol. 23 No. 3 (2026): Inovasi Kurikulum, August 2026
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64014/jik.v23i3.345

Abstract

The Makan Bergizi Gratis (MBG) Program is a government policy aimed at supporting the fulfillment of students' food and nutritional needs so they can carry out their activities well. This study was conducted to address the gap in the literature regarding teachers' roles as implementers and primary observers of MBG's impact on students' learning behavior. This study aims to analyze teachers' perceptions of the MBG program using the Health Belief Model (HBM) and to examine the implications for students' motivation to learn. This study employed a qualitative approach using a transcendental phenomenological design. Data collection techniques included in-depth interviews, observations, and documentation of six (6) class teachers at SDN 015 Samarinda Ulu, SDN 018 Samarinda Ulu, and SD Al-Firdaus. The results showed that teachers viewed MBG as positively impacting the fulfillment of students' food needs, especially for students who are not accustomed to breakfast and come from underprivileged families. The impact of MBG on learning motivation is contextual, positive in underprivileged schools and neutral in schools with independent nutrition ecosystems. The program's implementation still faces obstacles, including menu variations, teacher workload, and coordination. However, teachers continue to support the program's sustainability with notes.   Abstrak Program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan kebijakan pemerintah yang ditujukan untuk mendukung pemenuhan kebutuhan pangan dan gizi murid agar dapat beraktivitas dengan baik. Penelitian ini dilakukan untuk mengisi celah literatur mengenai peran guru sebagai pelaksana sekaligus pengamat utama terhadap dampak MBG pada perilaku belajar murid. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis persepsi guru terhadap program MBG menggunakan teori Health Belief Model (HBM), serta implikasinya terhadap motivasi belajar murid. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan desain fenomenologi transendental. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi terhadap enam (6) guru kelas di SDN 015 Samarinda Ulu, SDN 018 Samarinda Ulu, dan SD Al-Firdaus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru memandang MBG dapat memberikan dampak positif dalam mendukung pemenuhan kebutuhan pangan murid, terutama bagi murid yang tidak terbiasa sarapan dan berasal dari keluarga prasejahtera. Dampak MBG terhadap motivasi belajar bersifat kontekstual, positif pada sekolah prasejahtera dan netral pada sekolah dengan ekosistem nutrisi mandiri. Pelaksanaan program masih menghadapi kendala berupa variasi menu, beban kerja guru, dan koordinasi. Namun, guru tetap mendukung keberlanjutan program dengan catatan. Kata Kunci: health belief model; makan bergizi gratis; motivasi belajar; persepsi guru; sekolah dasar
Implementasi kurikulum dan guru Said Hamid Hasan
Inovasi Kurikulum Vol. 1 No. 1 (2004): Inovasi Kurikulum, February 2004
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v1i1.35593

Abstract

Makna sempit kurikulum adalah sebagai suatu rencana tentang pengalaman belajar siswa di suatu lembaga pendidikan. Kurikulum dalam arti sempit ini sangat berguna dalam mengembangkan dukungan kurikulum. Dukungan ini yang dijadikan dasar bagi guru dalam mengembangkan proses pendidikan. Kurikulum menjadi jawaban terhadap permasalahan yang dihadapi pada masa sekarang dan tantangan masa depan bagi kehidupan bangsa. Konsep pengembangan kurikulum dalam arti sempit meliputi tiga fase yaitu konstruksi kurikulum (curriculum construction), implementasi kurikulum (curriculum implementation) dan evaluasi kurikulum (curriculum evalution). Fase pertama pengembangan kurikulum dimulai dengan proses pemantapan ide kurikulum dimana para pengembang merumuskan jawaban kurikulum (curricular answer) terhadap masalah pendidikan bangsa. Fase implementasi ini diawali dengan distribusi dokumen kurikulum dan sosialisasi. Distribusi berkenaan dengan kegiatan penyampaian dokumen kurikulum kepada setiap individu guru, administratur, setiap Komite Sekolah dan Dewan Pendidikan. Keberadaan dokumen kurikulum di tangan guru dan pelaksana lain, namun lebih penting dalam memahami, menyetujui dan melaksanakan ide kurikulum
Pengembangan kompetensi pada pendidikan umum Nana Syaodih Sukmadinata
Inovasi Kurikulum Vol. 1 No. 1 (2004): Inovasi Kurikulum, February 2004
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v1i1.35605

Abstract

Kompetensi mempunyai makna yang luas. Minimal dapat dibedakan atas lima macam kompetensi, yaitu kompetensi dasar, kompetensi umum, kompetensi akademis, kompetensi vokasional dan kompetensi profesional. Dalam program pendidikan umum, konsep kompetensi dapat diterapkan namun demikian konsep dan rumusan kompetensinya berbeda dengan yang diterapkan pada program pendidikan vokasional atau kejuruan. Kurikulum dan pembelajarannya diarahkan kepada penguasaan kompetensi atau kemampuan berpikir tingkat tinggi. Proses pembelajaran tidak berhenti pada penguasaan pengetahuan (ingatan) dan pengertian (pemahaman), tetapi dilanjutkan kepada tahapan yang lebih tinggi. Menurut Lorin W. Anderson dan David R. Krathwohl (2001) dilanjutkan kepada tahapan aplikasi, analisis (sintesis), evaluasi dan kreativitas. Karena itu, dalam Pendidikan Umum diharapkan digunakan pendekatan-pendekatan pembelajaran yang lebih mengaktifkan siswa, seperti pembelajaran: diskaveri-inkuiri, bermakna, kontekstual, eksperiensial, komunikatif, pemecahan masalah, pengamatan lingkungan, percobaan, penelitian sederhana, simulasi, bermain peran, praktik langsung, dsb.  
Peranan rintisan dalam pembaruan kurikulum R Ibrahim
Inovasi Kurikulum Vol. 1 No. 1 (2004): Inovasi Kurikulum, February 2004
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v1i1.35606

Abstract

Setiap upaya pembaruan, termasuk pembaruan kurikulum, memerlukan fase rintisan di mana kurikulum baru dilaksanakan dalam skala kecil untuk keperluan pembenahan atau pemantapan sebelum disebarluaskan ke dalam skala yang lebih besar sampai akhirnya diberlakukan secara nasional. Fase rintisan kegiatannya meliputi uji coba dalam hal aspek efektivitas, efisiensi, dan kelaikan/keterlaksanaan. Selain itu, selama fase rintisan, peranan evaluasi juga memiliki peranan yang sangat penting, dan paling tidak, ada tiga jenis evaluasi yang perlu dilakukan selama fase rintisan yaitu evaluasi sumber daya, evaluasi proses, dan evaluasi hasil. Melalui ketiga jenis evaluasi tersebut, diharapkan dapat diperoleh informasi yang berguna untuk dijadikan masukan bagi pengambilan keputusan tentang pembenahan atau pemantapan program dalam aspek efektivitas, efisiensi, dan kelaikan selama dan pada akhir fase rintisan tersebut.
Pendidikan kecakapan hidup (life skills) Mulyani Sumantri
Inovasi Kurikulum Vol. 1 No. 1 (2004): Inovasi Kurikulum, February 2004
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v1i1.35608

Abstract

Life skills adalah kemampuan atau kecakapan yang dimiliki seseorang untuk memecahkan problema hidup secara proaktif dan kreatif. Kecakapan hidup dapat berhubungan dengan kecakapan: mengenai diri, berpikir rasional, sosial, akademik, dan vokasional. Secara umum tujuan pembelajaran life skills adalah menyiapkan para siswa dengan pengetahuan, nilai-nilai dan keterampilan untuk memasuki dunia kerja dan kehidupan di masyarakat. Secara khusus life skills bertujuan untuk mengembangkan antara lain: kecakapan komunikasi, sikap dan perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai di masyarakat, kemandirian, pengetahuan tentang sumber daya alam, kemampuan pra-vokasional, dan vokasional, memecahkan masalah, dan pemanfaatan waktu senggang. Model pembelajaran yang dekat dengan pembentukan kecakapan hidup adalah model pembelajaran terpadu (integrated learning) dan model pembelajaran kontekstual (contextual teaching and learning). Model pendidikan realistik merupakan upaya mengatur pendidikan sesuai dengan kebutuhan nyata siswa di tengah masyarakat.
Peran sekolah dalam pengembangan kurikulum Hansiswany Kamarga
Inovasi Kurikulum Vol. 1 No. 1 (2004): Inovasi Kurikulum, February 2004
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v1i1.35609

Abstract

Kurikulum dapat digunakan dalam berbagai makna. Dikaitkan dengan konsep Tanner dan Tanner, pemahaman terhadap pengembangan kurikulum di Indonesia mengacu kepada konsepsi instructional plan yang mempunyai fungsi eklektik. Dari definisi tersebut kurikulum di Indonesia bersifat fleksibel sesuai dengan posisinya sebagai legal formal. Hamid Hasan menyatakan salah satu dimensi dalam prosedur pengembangan kurikulum adalah kurikulum sebagai suatu kegiatan atau proses, dan pelaksanaan kurikulum suatu proses dilakukan atas dasar tuntutan aspek kurikulum yang dikembangkan berdasarkan perumusan ide. Peran sekolah dalam pengembangan kurikulum difokuskan pada implementasi dokumen kurikulum, khususnya yang mengacu kepada proses yang berkaitan antara pedoman pengajaran dengan sistem untuk memprediksi hasil. Dalam lingkup kelas, implementasi kurikulum melibatkan guru sebagai pengembang kurikulum dan siswa sebagai peserta yang memperoleh stimulasi dalam mengubah pola perilaku. Kurikulum berfungsi sebagai alat bantu untuk tugas guru dalam mengembangkan strategi pengajaran.