cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
INFORMASI
ISSN : 01260650     EISSN : 25023837     DOI : -
Core Subject : Science, Education,
INFORMASI is an academic journal that centered in communication, is open and welcoming to contributions from the many disciplines and approaches that meet at the crossroads that is communication study. We are interested in scholarship that crosses disciplinary lines and speaks to readers from a range of theoretical and methodological perspectives. In other words, INFORMASI will be a forum for scholars when they address the wider audiences of our many sub-fields and specialties, rather than the location for the narrower conversations more appropriately conducted within more specialized journals. INFORMASI published twice a year (June and December) in Bahasa Indonesia or English.
Arjuna Subject : -
Articles 302 Documents
RESAPAN BUATAN, SOLUSI MENGATASI PROBLEMA AIR Purwantara, Suhadi
Informasi Vol 39, No 2 (2013): INFORMASI
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (262.641 KB) | DOI: 10.21831/informasi.v0i2.4443

Abstract

Air secara kuantitas menjadi bermasalah ketika jumlahnya lebih, atau kurang. Kelebihan air dapat berdampak pada penggenangan, sedangkan kekurangan air berakibat pada terbatasnya suplai air untuk kecukupan kebutuhan air. Yang pertama berkaitan dengan bahaya banjir, dan yang kedua berkaitan dengan bahaya kekeringan. Banyak penelitian para pakar di dunia menyimpulkan bahwa solusi mengurangi dua masalah tersebut, banjir dan kekeringan, adalah dengan pembuatan resapan buatan. Tulisan ini menyajikan berbagai masalah banjir dan kekeringan hasil penelitian di berbagai belahan benua tentang pentingnya resapan buatan. Kata kunci: air tanah, banjir, resapan buatan
ANCAMAN CAPITAL INFLOW Teguh Sihono; Rohaila Yusof
Informasi Vol 37, No 1 (2011): INFORMASI
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (296.488 KB) | DOI: 10.21831/informasi.v1i1.4466

Abstract

Capital inflow can be interpreted as an increase in the amount of money available from external or foreign sources for the purchase of local capital assets such as securities, houses, buildings, land, machinery. These short-term asset purchase, so if at any time be withdrawn in large quantities, it will endanger the country's economy. The swift flow of foreign funds may be a threat to the country which became the capital inflow in the form of options: pressure of inflation, high cost economy, the defisit Central Bank balance, the economic turbulence, and the threat of economic growth. Improvement of high economic growth accompanied by rising foreign exchange reserves that high also, it turns out is not free from the risk of unbridled inflation and economic cricis, destabilizing the economy during those funds withdrawn by foreign investors. For the avoidance of economic risk, should the government together with the Central Bank made a rule to direct capital inflow into the real sektor. Keywords: capital inflows, global likuiditas
ANALISIS BINGKAI PEMBERITAAN AKSI BELA ISLAM 2 DESEMBER 2016 (AKSI 212) DI MEDIA MASSA BBC (INDONESIA) & REPUBLIKA Abidatu Lintang Pradipta; Nadya Warih Nur Hidayah; Afifah Nafiatun Annisa Haya; Carissa Ervani; Deny Kristanto
Informasi Vol 48, No 1 (2018): INFORMASI
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (313.123 KB) | DOI: 10.21831/informasi.v48i1.20203

Abstract

This article presents a framing analysis of news about Aksi Bela Islam 2 Desember 2016 (Aksi 212) which were reported by two local media: BBC Indonesia and Republika. Aksi 212 refers to a collective movement of Indonesian Muslim society which demands a lawsuit against the incumbent candidate of the 2017 DKI Jakarta governor election, Basuki Tjahaja Purnama or Ahok. The street demonstration that centered in the capital Jakarta received massive coverage from local and international media, reporting with various news frames. BBC Indonesia and Republika were among the big news houses that covered the event with their own distinctive perspectives. This is the reason that the authors attempt to conduct a framing analysis of the news about the issue reported by the two news organizations. Using Entman’s (1993) framing model, the authors analyzed five news articles from the respective media. The results show that BBC Indonesia which belongs to the international news agency, BBC UK tends to frame the Aksi 212 as a demonstration which has a negative connotation. On the other hand, Republika which is known for its Muslim target audience produces a news frame about the Aksi 212 in a more positive manner. This framing analysis provides a picture on how significant of an event is to be framed in a certain way by news agencies.  Artikel ini mengemukakan analisis pembingkaian (framing) terhadap pemberitaan Aksi Bela Islam 2 Desember 2016 (Aksi 212) yang disiarkan oleh dua media lokal: BBC Indonesia dan Republika. Aksi 212 yang merupakan puncak dari gerakan kolektif masyarakat Muslim Indonesia menuntut calon gubenur petahana Pilkada DKI Jakarta 2017, Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok, atas kasus penistaan agama. Aksi turun ke jalan yang berpusat di Ibu Kota Jakarta ini mendapat liputan meluas baik dari media lokal maupun internasional dengan bingkai pemberitaan (framing) yang berbeda-beda. BBC Indonesia dan Republika termasuk media besar yang menumpukan pemberitaan terhadap aksi tersebut dengan sudut pandang yang berbeda. Ini yang melatarbelakangi penulis untuk melakukan analisis pembingkaian terhadap pemberitaan isu berkenaan dalam dua organisasi berita tersebut. Dengan menggunakan model pembingkaian Entman (1993), tim penulis menganalisis lima artikel berita dari masing-masing media. Hasil analisis menunjukkan bahwa BBC Indonesia yang merupakan rangkaian agensi berita internasional milik BBC Inggris cenderung membingkai Aksi 212 sebagai aksi demonstrasi yang mempunyai konotasi negatif. Di lain pihak, Republika yang dikenal sebagai penerbitan berita untuk masyarakat Muslim menghasilkan pembingkai berita tentang Aksi 212 dalam nada yang lebih positif. Hasil analisis pembingkaian ini memberi gambaran bagaimana signifikansi peristiwa tertentu mendorong agensi berita untuk membentuk perspektif tertentu melalui pembingkaian.
PARIWISATA DAN PELESTARIAN SENI TRADISI MENYONGSONG YOGYAKARTA PUSAT BUDAYA 2020 HY. Agus Murdyastomo
Informasi Vol 36, No 2 (2010): INFORMASI
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (86.016 KB) | DOI: 10.21831/informasi.v2i2.6204

Abstract

Yogyakarta merupakan kota yang mempunyai sejarah panjang terkait dengan keberadaan Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Di kota ini terdapat banyak peninggalan sejarah dan budaya, baik berupa bangunan bersejarah maupun seni tradisi yang  adiluhung.   Namun seni tradisi khususnya tari keberadaannya kini semakin terdesak oleh sarana hiburan modern. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kebijakan pemerintah daerah dalam pelestarian dan pengembangan seni tradisi, mengkaji strategi pemerintah dalam pengembangan pariwisata serta kerjasama kelompok tradisi dengan pengelola pariwisata. Pada penelitian ini akan ditempuh cara penelitian dengan menerapkan prinsip-prinsip metode etnografi, untuk melihat seni tradisi atraksi wisata, dan latar belakang pelakunya. Di samping juga dilakukan studi dokumen untuk melihat kebijakan pemerintah dalam bidang pariwisata, khususnya yang berkaitan dengan atraksi wisata. Hasil penelitian menunjukan bahwa seni tradisi boleh dikata mulai jauh dari masyarakat pendukungnya, sehingga jika tidak ada keberpihakan dari pemertintah terhadap seni tradisi maka dalam satu atau generasi ke depan seni tradisi akan menjadi kebudayaan mati. Berbagai strategi yang ditempuh pemerintah antara lain melalui festival seni, pembukaan sekolah seni baik di tingkat menengah maupun perguruan tinggi, serta peningkatan industri pariwisata. Pelestarian seni tradisi khususnya tari justru muncul dari dunia pariwisata, yang memanfaatkan seni tradisi sebagai sajian wisata. Sayang penghargaan dunia pariwisata terhadap seniman tradisi sebagai pekerja seni masih jauh dari memadai, sehingga terkesan seni tradisi hanya dimanfaatkan dunia pariwisata.   Kata kunci: Budaya, Seni Tradisi, Pariwisata, Yogyakarta
THE NARRATION OF DIGITAL LITERACY MOVEMENT IN INDONESIA Mery Yanti; Yusnaini Yusnaini
Informasi Vol 48, No 2 (2018): INFORMASI
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (208.568 KB) | DOI: 10.21831/informasi.v48i2.21148

Abstract

This article aims to analyze the digital literacy movement in Indonesia and its determinant using the narrative approach. Empirical research is carried out with qualitative content analysis methods. The primary data of the study came from 255 online news which contained digital literacy keywords that were detected by Google search engines and published in trusted online media. Secondary data collected from publications of government, private, and civil society organizations related to digital literacy. We use an interactive model and Atlas.ti 8 to analyze research data. The results showed that each actor had a variety of views about the definitions and situations that underlie digital literacy problems. The digital literacy movement narrative in Indonesia can be explained using the logic of the problem - solution - results. Problem narratives tend to be based on data from a variety of data sources on the profile and behavior of internet users, the development of e-commerce, digital security and crime, digital radicalism, basic competencies of digital literacy, national competitiveness, and the online mass media industry. Starting from the problem narrative, the actors proposed the same solution, namely strengthening digital literacy of internet users, although they differed in identifying target groups. The goals of this solution are a reduction in digital crime, an increase in the digital economy, knowledge, digital skills, and digital governance, as well as the birth of practices in the use of information and communication technology that refers to three principles, namely: security principle, economic principles, and social-cultural principle. We identified four actors who acted as victims in the digital literacy movement narrative in Indonesia: society as a whole, religious institutions, state institutions, population, economic commodities, and market participants. The criminal's character includes internet users, legal players, government institutions, and politicians. Meanwhile, heroes are all actors acting in the digital literacy movement in Indonesia. Fours factors contributed to digital literacy movement: public participation, commitment and togetherness, shared goals and interests, and a massive, systematic, and synergistic strategy, movement management, and learning process. We discuss the theoretical and practical implications of these findings.NARASI GERAKAN LITERASI DIGITAL DI INDONESIAArtikel ini bertujuan menganalisis gerakan literasi digital di Indonesia dan determinannya dengan pendekatan naratif. Riset empiris dilaksanakan dengan metode analisis isi kualitatif. Data primer penelitian berasal dari 255 berita online yang mengandung kata kunci “literasi digital” yang di deteksi mesin pencari Google dan dipublikasikan di media online terpercaya. Data sekunder dikumpulkan dari publikasi organisasi pemerintah, swasta, dan/atau masyarakat sipil yang berhubungan dengan literasi digital. Analisis data penelitian menggunakan model interaktif dengan bantuan software Atlas.ti 8. Hasil penelitian menunjukkan setiap aktor memiliki keragaman pandangan tentang definisi dan situasi yang melatari masalah literasi digital. Alur cerita gerakan literasi digital di Indonesia bisa dijelaskan menggunakan logika masalah – solusi – hasil. Narasi masalah cenderung berbasis data dari beragam sumber data tentang profil dan perilaku pengguna internet, perkembangan e-commerce, keamanan dan kriminalitas digital, radikalisme digital, kompetensi dasar literasi digital, daya saing bangsa, dan industri media massa daring. Bertolak dari narasi masalah, para aktor mengusulkan solusi yang sama, yakni penguatan literasi digital pengguna internet, meski berbeda dalam identifikasi kelompok sasaran. Hasil akhir solusi ini adalah berkurangnya kriminalitas digital, meningkatnya perekonomian digital, pengetahuan, keterampilan digital, dan digital governance, serta melahirkan praktik-praktik penggunaan teknologi informasi dan komunikasi yang mengacu ke tiga prinsip, yakni: prinsip keamanan, prinsip ekonomi, dan prinsip sosio-kultural. Peneliti mengidentifikasi empat aktor yang berperan sebagai korban dalam narasi gerakan literasi digital di Indonesia, yakni: masyarakat secara keseluruhan, institusi agama, institusi negara, populasi penduduk, komoditas ekonomi, dan para pelaku pasar. Para penjahatnya meliputi pengguna internet, para pelaku pasar berbadan hukum, institusi pemerintah, dan oknum para politisi. Sedangkan, pahlawannya adalah semua aktor yang bertindak nyata dalam gerakan literasi digital di Indonesia. gerakan literasi digital dipengaruhi empat faktor yakni: partisipasi publik, komitmen dan kebersamaan, tujuan dan kepentingan bersama, dan strategi yang masif, sistematis, dan sinergis, manajemen gerakan, dan proses pembelajaran. Peneliti implikasi teoretis dan praktis temuan ini.
EKSISTENSI SEKTOR INFORMAL DAN UPAYA PEMBINAANNYA Wasiti Wasiti
Informasi Vol 35, No 2 (2009): Informasi
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (63.488 KB) | DOI: 10.21831/informasi.v2i2.6394

Abstract

Pertumbuhan sektor informal di Indonesia terutama pasca krisis ekonomi menunjukkan peningkatan yang cukup tajam. Gejala ini merupakan fenomena yang wajar meskipun sektor informal sering dipandang sebagai usaha pinggiran. Namun dalam perkembangan sektor informal ternyata mampu memberikan kontribusi yang positif dalam mengatasi masalah ketenagakerjaan di Indonesia, terutama dalam masalah antisipasi pengangguran dan kemiskinan. Mengingat karakteristik sektor informal antara lain adalah rendahnya tingkat pendidikan dan keterampilan pelaku usaha terutama dalam manajemen, maka diperlukan upaya pembinaan secara terus menerus. Dengan upaya pembinaan diharapkana sektor informal berkembang menjadi palaku kegiatan ekonomi yang tangguh dalam menghadapi fluktuasi ekonomi dunia yang cukup tajam. Upaya pembinaan dapat dilakukan melalui bantuan permodalan, pendidikan dan pelatihan manajemen, peningkatan keterampilan, peningkatan kualitas produk, kemudahan memperoleh bahan baku, perluasan pasar dan regulasi proteksi terhadap produk lokal. Kata kunci : Sektor Informal, Pembinaan
THE ANALYSIS OF THE SOCIO-POLITICAL FICTION NOVELS UNDER BINARY OPPOSITION (CASE STUDY OF INDONESIAN NOVEL ENTITLED "ORANG-ORANG PROYEK" BY AHMAD TOHARI) Abdul Muqit
Informasi Vol 49, No 1 (2019): INFORMASI
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6.682 KB) | DOI: 10.21831/informasi.v49i1.23728

Abstract

 The socio-political fiction novel is generally realistic and gives an implicit picture of the social environment of a place. This type of reading is less popular because it is difficult to interpret and is also of less interest to readers than other literature. One of the works that can reflect this literary type is the novel entitled “Orang-Orang Proyek” by Ahmad Tohari, which represents the real condition of the Indonesian community under their politic and social circumstances. This paper tries to break down the literary work using the deconstructive-reading method to read a text with multi-interpretation understanding where the version contains many probabilities of meaning. This study will be able to provide insight into the correct reading method according to the purpose and type of literacy used in literary works.  Novel fiksi sosial-politik umumnya realistis dan memberikan gambaran implisit tentang lingkungan sosial suatu tempat. Jenis bacaan ini kurang populer karena sulit untuk ditafsirkan dan juga kurang menarik bagi pembaca daripada literatur lainnya. Salah satu karya yang dapat mencerminkan jenis sastra ini adalah novel berjudul “Orang-Orang Proyek” oleh Ahmad Tohari, yang mewakili kondisi nyata masyarakat Indonesia di bawah kondisi sosial dan politik mereka. Makalah ini mencoba untuk memecah karya sastra menggunakan metode membaca dekonstruktif untuk membaca teks dengan pemahaman multi-interpretasi di mana representasi mengandung banyak kemungkinan makna. Penelitian ini akan dapat memberikan wawasan tentang metode membaca yang benar sesuai dengan tujuan dan jenis literasi yang digunakan dalam karya sastra. 
Peningkatan Sumber Daya Manusia Melalui Pendidikan Agama Islam di IKIP Yogyakarta Saefur Rochmat
Informasi Vol 26, No 1 (1998): INFORMASI
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3801.941 KB) | DOI: 10.21831/informasi.v1i1.6756

Abstract

Pendidikan dalam aneka bentuk dan jenisnya menjadi salah satu instru­men untuk meningkatkan kualitas sumberdaya manusia. Yaitu pendekatan restropektif dan progresif. Pendekatan restropektif dilakukan untuk menye­laraskan dengan nilai-nilai yang menjadi motor penggerak budaya bangsa. Hal ini untuk menentukan strategi dan teknik pembaharuan. Dalam pendeka­tan progresif kita mencari metoda dan teknik penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pendidikan agama berperanan dalam pembentukan jiwa dan pribadi yang utuh. Dalam agama ditekankan pendidikan akhlak untuk merangsang aspek moralitas dan religiusitas. Dengan keimanan itu, mereka tidak mudah tergoncang deng an perubahan sesaat , namun mereka akan meny esuaikan dengan tuntutan zaman. dan lingkungannya. Bagaimanakah pendidikan agama di IKIP Yogyakarta berperanan dalam peningkatan sumber daya manusia? Kedudukan pendidikan agama samg at fundamental dalam pendidikan akhlak, namun hanya diberi bobot 2 sks. Hal ini mendorong jamaah "Ar­Rokhman" menyelenggarakan assistensi agama, bagi mahasiswa semester satu, bekerjasama dengan dosen agama. Hal ini mendapat dukungan dari fakultas-fakultas lain, bahkan Rektor memberikan dukung an moral dan meterial. Para pengelola harus jeli dalam menanamkan nilai-nilai agama karena mahasiswa mempunyai peng etahuan agama dan tingkat keberaga­maan yang tidak sama. Didalam meng ajarkan peng etahuan agama harus mampu merumuskan landasan filosofis berdasarkan warisan peradaban Islam sehingga dapat dihasilkan pemikiran yang asli dan menjadi rekayasa sosial.
PENULISAN SEJARAH SOSIAL HARIANTI Harianti
Informasi Vol 28, No 1 (2000): INFORMASI
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1762.051 KB) | DOI: 10.21831/informasi.v1i1.7191

Abstract

Penulisan sejarah banyak mengalami kemajuan, baik dari segi metodo­logi maupun materinya. Penulisan Sejarah Sosial khususnya mengalami perkembangan pesat, dengan menggunakan pendekatan multidimensional, sebab sejarah sosial memiliki cakupan yang sangat luas. Materi-meteri sejarah sosial meliputi pelaku sejarah, baik seseorang ataupun kelompok manusia seperti: pedagang, buruh, nelayan, petani atau­pun guru. Sejarah Sosial mengungkap struktur-struktur sosial, gerakan so­sial, studi tentang kota perkotaan atau sejarah sosial kota dan sebagainya. Langkah-langkah penulisan sejarah sosial meliputi empat kegiatan pokok yakni : Heuristik, Kritik, lnterpretasi dan Penyajian. Penulisan sejarah sosial tidak ditulis secara diskriptif, melainkan harus disusun secara analisis agar merupakan penulisan sejarah yang bersifat ilmiah.
TRANSFORMASI SELEBRITI MENJADI POLITISI: URGENSI PERSONAL FRONT DALAM RANAH SOSIAL Ni'mah, Manzilatun
Informasi Vol. 45 No. 2 (2015): INFORMASI
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (247.376 KB) | DOI: 10.21831/informasi.v45i2.7989

Abstract

This article aims to analyze the recent phenomenon of celebrities' transformation entering political arena using Bourdieu's habitus, field, and social capital theoritical framework and the role of mass media to shine celebrities as stars in the entertainment field which they use impression management to preserve their position. The subjects are Desy Ratnasari and Angel Lelga, the two phenomenal artists who recently transform to political field. This article is using qualitative approach with descriptive case study. Using Bourdieu's habitus theoritical framework, this article will begin with the explanation of habitus change from Desy Ratnasari and Angel Lelga before entering entertainment field until enter it and their transformation to political field. Within that process, there is mass media which let the society (fans) get to know them. The result is agent with more abundant capital accumulation tend to win the battle and vice versa. It explains how Desy could manage to win the votes to be a member of legislature, while votes for Angel Lelga were insufficient.Artikel ini bertujuan untuk menganalisis fenomena transformasi selebriti menjadi politisi dengan menggunakan kerangka berpikir perubahan habitus, ranah, dan modal sosial dari Bourdieu serta peran media massa dalam membuat selebriti menjadi bintang di dunia entertainment, yang mana dalam ranah entertainment itu selebriti menggunakan impression management untuk melanggengkan posisinya. Yang menjadi subyek penelitian adalah Desy Ratnasari dan Angel Lelga. Dengan menggunakan kerangka berpikir perubahan habitus, artikel ini diawali dengan penjelasan perubahan habitus Desy Ratnasari dan Angel Lelga sebelum memasuki dunia hiburan hingga memasuki dunia hiburan dan transformasinya ke dunia politik. Di tengah proses tersebut ada peran media massa yang membuat mereka menjadi "bintang" sehingga dikenal semua kalangan masyarakat. Hasil analisis artikel ini adalah agen yang memiliki alokasi modal lebih besar dan mampu mengkonversi modalnya dapat memenangkan pertarungan dan sebaliknya. Hal tersebut menjelaskan bagaimana Desy dapat berhasil memenangkan suara masyarakat untuk menjadi anggota legislatif, sedangkan perolehan suara Angel tidak dapat mencukupi.

Page 10 of 31 | Total Record : 302