cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
INFORMASI
ISSN : 01260650     EISSN : 25023837     DOI : -
Core Subject : Science, Education,
INFORMASI is an academic journal that centered in communication, is open and welcoming to contributions from the many disciplines and approaches that meet at the crossroads that is communication study. We are interested in scholarship that crosses disciplinary lines and speaks to readers from a range of theoretical and methodological perspectives. In other words, INFORMASI will be a forum for scholars when they address the wider audiences of our many sub-fields and specialties, rather than the location for the narrower conversations more appropriately conducted within more specialized journals. INFORMASI published twice a year (June and December) in Bahasa Indonesia or English.
Arjuna Subject : -
Articles 302 Documents
Evaluasi Implementasi Reamicroteaching di FISE dengan Sekolah Mitra Suhadi Purwantara; Muhyadi muhyadi; Abdul Gafur
Informasi Vol 38, No 2 (2012): INFORMASI
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (165.369 KB) | DOI: 10.21831/informasi.v2i2.4452

Abstract

Adanya keluhan dari beberapa tenaga kependidikan dan dosen terkait penambahan beban kerja di waktu libur dan pihak sekolah yang harus mengubah program pendidikan di sekolahnya untuk menyesuaikan program ini. Disamping itu beberapa guru yang terlibat dalam pelaksanaan realmicroteaching menyatakan kesulitan harus mengatur waktu jam mengajar dan mengulang setidaknya satu pertemuan. Berdasarkan beberapa permasalahan  tersebut, peneliti merasa tertarik melakukan kajian terhadap implementasi Realmicroteaching di FISE UNY dengan judul “Evaluasi Implementasi Realmicroteaching FISE UNY dengan Sekolah Mitra” Dalam  penelitian ini populasi mencakup seluruh guru   SMP, SMA, dan SMK di bebrapa sekolah mitra, dosen FISE UNY, mahasiswa, dan staff pendidikan FISE UNY.   Selanjutnya teknik pengambilan sampel dilakukan secara acak yang telaah dikelompokkan (classified random sampling).  Data dalam penelitian diklasifikasikan menjadi dua kelompok yaitu data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari  para dosen, guru, mahasiswa, dan karyawan dengan cara menyebarkan angket untuk diberikan respon. Data sekunder diperoleh dari kajian dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterampilan mahasiswa pada saat PPL sekitar (63 %) menyatakan mahasiswa PPL mengalami peningkatan keterampilan. Sebanyak 22,2% tidak memberikan pilihan jawaban dan sisanya 14,8% menyatakan tidak mengalami peningkatan. Biaya penyelenggaraan realmicroteaching dari fakultas relative besar  sehingga membebani anggaran pengembangan tri dharma perguruan tinggi. Guru menyatakan bahwa sebagian besar (81,4%) siap membantu pelaksanaan realmicroteaching dan sebagian besar (68,1%) merasa senang melaksanakan realmicroteaching. Sekitar (31,9%) saja yang menyatakan bahwa tidak senang melaksanakan realmicroteaching.   Sikap dosen dengan pelaksaanaan realmicroteaching sebagian besar (56,2%) menyatakan tidak senang (keberatan) dengan pelaksanaan realmicroteaching. Sikap  siswa dengan pelaksaanaan realmicroteaching sebagian besar (83,7%) menyatakan senang dengan pelaksanaan realmicroteaching Keywords: realmicroteaching, sekolah mitra
KAJIAN TINGKAT ERODIBILITAS BEBERAPA JENIS TANAH DI PEGUNUNGAN BATURAGUNG DESA PUTAT DAN NGLANGGERAN KECAMATAN PATUK KABUPATEN GUNUNGKIDUL Arif Ashari
Informasi Vol 39, No 2 (2013): INFORMASI
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4624.782 KB) | DOI: 10.21831/informasi.v0i2.4441

Abstract

Erosi sebagai salah satu proses dalam geomorfologi dipengaruhi oleh berbagai faktor salah satunya adalah kepekaan erosi tanah (erodibilitas tanah). Antara satu jenis tanah dengan jenis tanah lainnya memiliki kepekaan yang berbeda, hal ini dipengaruhi oleh kondisi masing-masing jenis tanah selama perkembangannya. Erodibilitas tanah dan laju erosi berkaitan erat dengan kondisi geomorfologi. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengetahui tingkat erodibilitas beberapa jenis tanah di lereng Pegunungan Baturagung, Desa Putat dan Nglanggeran, (2) membuat model prediksi besarnya erosi permukaan pada beberapa jenis tanah tersebut dengan menggunakan metode USLE, (3) menganalisis keterkaitan tingkat erodibilitas tanah dengan kondisi geomorfologi. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif eksploratif. Pengumpulan data melalui survei dengan melakukan pengukuran dan pengamatan variabel erosi pada setiap satuan lahan. Selain data primer yang diperoleh dari survei juga digunakan data sekunder. Tingkat erodibilitas tanah dan prediksi erosi ditentukan dengan perhitungan formula USLE, selanjutnya hasil yang diperoleh dideskripsikan dengan sudut pandang geomorfologi-tanah. Hasil penelitian ini menunjukkan (1) erodibilitas beberapa jenis tanah di di lereng Pegunungan Baturagung, Desa Putat dan Nglanggeran bervariasi dari tingkat rendah hingga sangat tinggi. Faktor utama yang mempengaruhi dan memberikan variasi keruangan erodibilitas tanah adalah tekstur tanah. (2) erodibilitas tanah berpengaruh signifikan terhadap laju erosi permukaan. Semakin tinggi nilai erodibilitas semakin besar erosi permukaan. Laju erosi di daerah penelitian juga dikendalikan oleh faktor lain terutama lereng dan metode konservasi lahan, (3) Keterkaitan antara kondisi geomorfologi dengan erodibilitas tanah dijumpai melalui peristiwa pembentukan dan perkembangan tanah.   Kata Kunci: erodibilitas, erosi, tanah
TIPE MEDIASI IBU RUMAH TANGGA TERHADAP KESELAMATAN INTERNET ANAK DAN REMAJA Widiyastuti, Inasari
Informasi Vol. 47 No. 2 (2017): INFORMASI
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (846.472 KB) | DOI: 10.21831/informasi.v47i2.16548

Abstract

The biggest of internet user is in the productive ages, most of them are children andteenagers. They are the Internet of Things's (IoT) Generation who have the abilityto adapt of technology because of being born in the high technology era. Children'sinternet activities tend to be supported and facilitated by the environment, especiallyfamilies. The aim of this research is to find out the digital literacy and medition typeof housewives. The mediation strategy is an effort that is appropriate to the activitiesof children and teenager using handset and internet. The survey was conducted onhousewives of Internet Safety Online workshop participant in four districts in DI.Yogyakarta. Restrictive mediation is applied to housewives at every level of childhoodeducation from the youngest up to. However, mothers do not apply many types ofmediation in teenagers. Discussion, as a form of active mediation, applied as protectingeffort in the housewives's inability of digital literacy. Co-use mediation and technicalmediation are not overused. Only a small number of housewives accompany childrenwhen using handset or accessing internet.Pengguna internet terbesar berada di usia produktif, sebagian besar di antara mereka adalah anak dan remaja. Mereka adalah generasi IoT yang memiliki kemampuan beradaptasi dengan teknologi karena terlahir dalam paparan teknologi maju. Aktivitas anak berinternet cenderung didukung dan difasilitasi oleh lingkungan, terutama keluarga. Padahal bahaya mengintai anak ketika berinternet yang kerap diabaikan orang tua. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat literasi digital dan upaya perlindungan yang diberikan ibu rumah tangga terhadap aktivitas anak dan remaja menggunakan gadget serta berinternet. Survey dilakukan pada ibu rumah tangga peserta pelatihan Internet Safety Online yang diselenggarakan oleh BPPKI Yogyakarta dan Dinas Kominfo Kab. Kulonprogo serta Kab. Gunung Kidul. Hasil survey menunjukkan, ibu rumah tangga memiliki tingkat literasi digital yang baik. Meski demikian, sebagaian besar menerapkan tipe mediasi restriktif dengan membatasi penggunaan waktu. Tidak banyak yang menerapkan tipe mediasi teknik karena merasa tidak mampu mengoperasikan TIK sebaik anaknya. 
PROFIL USAHA PEMBAKARAN KAPUR TOHOR (TOBONG GAMPING) DI KECAMATAN JETIS BAGIAN TIMUR KABUPATEN BANTUL Nurhadi nurhadi; Nurul Khotimah
Informasi Vol 36, No 1 (2010): INFORMASI
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (65.024 KB) | DOI: 10.21831/informasi.v1i1.5666

Abstract

Pengolahan kapur tohor tradisional di daerah penelitian mengakibatkan adanya permasalahan lingkungan, baik aspek fisik maupun aspek sosial. Atas dasar kenyataan tersebut penelitian dilakukan untuk memperoleh profil usaha pembakaran kapur tohor yang meliputi: (1) karakteristik usaha; (2) karakteristik dapur pembakaran; (3) karakter kualitas kapur tohor yang dihasilkan; dan (4) persepsi pengusaha dan masyararakat terhadap pencemaran udara akibat pembakaran kapur tohor. Populasi penelitian ini adalah semua pengusaha kapur tohor di daerah penelitian yang berjumlah 20 orang dan kesemuanya dijadikan subyek penelitian. Metode pengumpulan data adalah dengan teknik observasi dan wawancara. Teknik analisis dilakukan secara deskriptif menggunakan tabel frekuensi. Hasil penelitian menujukkan bahwa karakteristik usaha pembakaran kampur tohor berdasarkan modal dan sifat usaha, bersifat mandiri 30%, bersifat kelompok 5%, dan bersifat warisan 65%, di pinggir dusun 25%, dan dipinggir sawah 10%; keberadaan cerobong asap 5%; keberadaan pengendali arah asap 0%; bahan bakar kayu 100%; dan keberadaan dapur yang terletak di permukaan tanah 5%. Kualitas kapur tohor yang dihasilkan memiliki warna putih kecoklatan, tekstur butir kasar, dan tidak pekat maupun lekat. Adapun persepsi pengusaha terhadap pencemaran udara sebagian besar menyadari bahwa aktivitas pembakaran menimbulkan polusi udara baik bau maupun asap dan menyisakan limbah padat dan cair. Sedangkan menurut persepsi masyarakat sekitar aktivitas pembakaran menimbulkan pencemaran udara, menyisakan limbah padat, menimbulkan limbah cair, dan tidak memberikan keuntungan pada masyarakat sekitar.   Kata Kunci: Profil Usaha, Kapur Tohor, Tobong Gamping
KONSTRUKSI MAKNA BISINDO SEBAGAI BUDAYA TULI BAGI ANGGOTA GERKATIN Gilang Gumelar; Hanny Hafiar; Priyo Subekti
Informasi Vol 48, No 1 (2018): INFORMASI
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (783.423 KB) | DOI: 10.21831/informasi.v48i1.17727

Abstract

This research try to investigate the using of language by deaf. The theory used in thisresearch is the theory of Phenomenology Schutz. This research used constructivismparadigm with Phenomenology as the kind of research. Data collection techniques thatused are in-depth interviews, participatory observation, and the study of librarianship,the collecting techniques of key informants by snowball sampling. While the dataanalysis techniques using three stages, the first is reduction, the second is rendering,and the third is the withdrawal of the conclusion. Validity of data uses triangulationtechniques sources and triangulation techniques. The results of this research showthat the meaning of Bisindo as Deaf Culture for the informants who are the memberof DPC Gerkatin Jawa Barat, is categorized as affirmative meaning. The meaning of theaffirmative that is owned by the informants is when the informants consider that Bisindoas Deaf Culture, is an interest and pride. The study also found motifs belonging to theinformants in lifting the existence of Bisindo as Deaf Culture, not only the cause-motifbut also the purpose-motif. The informant’s experience, include the early experience inhow they get interest to Bisindo, the experience of using Bisindo, and the experienceto raise the existence of Bisindo as Deaf Culture that finally those communicationexperiences affect the way informants in conducting follow-up. Penelitian ini mengkaji tentang bahasa yang digunakan kaum tuli. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori fenomenologi Schutz. Penelitian ini menggunakan paradigma konstruktivisme dengan jenis penelitian fenomenologi. Teknik pengumpulan data yang digunakan antara lain wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan studi kepustakaan, dengan teknik pengumpulan key informant dengan cara snowball sampling. Sedangkan teknik analisis data menggunakan tiga tahap, yaitu reduksi, penyajian, serta penarikan kesimpulan. Teknik validitas data menggunakan triangulasi sumber dan triangulasi teknik. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa makna Bisindo sebagai Budaya Tuli bagi para informan yang merupakan anggota Gerkatin DPC Jawa Barat dikategorikan sebagai makna afirmatif. Makna-makna afirmatif yang dimiliki para informan adalah ketika informan menganggap Bisindo sebagai Budaya Tuli adalah sebuah kepentingan dan kebanggaan. Penelitian ini juga menemukan motif-motif yang dimiliki informan dalam mengangkat eksistensi Bisindo sebagai Budaya Tuli, baik itu motif sebab atau motif tujuan. Adapun pengalaman yang dimiliki informan, meliputi pengalaman awal ketertarikan pada Bisindo, pengalaman menggunakan Bisindo, dan pengalaman mengangkat eksistensi Bisindo sebagai Budaya Tuli yang akhirnya pengalaman komunikasi tersebut mempengaruhi cara informan dalam melakukan tindak lanjut
MEMBANGUN INSTITUSI SEKOLAH SEBAGAI ORGANISASI PEMBELAJAR (LEARNING ORGANIZATION) Riyanto Riyanto
Informasi Vol 35, No 2 (2009): Informasi
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (53.76 KB) | DOI: 10.21831/informasi.v2i2.6388

Abstract

Sekolah sebagai insitusi yang menyelenggarakan pembelajaran, ironisnya dalam praktiknya justru belum menempatkan dirinya sebagai organisasi pembelajar (learning organization=LO), yakni yang secara sadar melakukan perubahan mendasar untuk mengatasi disfungsi, yakni mengubah reaksi menjadi kreasi, kompetisi menjadi kooperasi, kompetisi menjadi sinergi. LO mempunyai lima komponen, yakni: keahlian pribadi,  model mental,  visi bersama, pembelajaran oleh tim,  dan berpikir sistemik.  Dengan kelima komponen tersebut suatu organisasi diharapkan dapat berjalan secara harmoni. Membangun sekolah sebagai organisasi pembelajar berarti berusaha menjadikan sekolah sebagai institusi yang mau terus belajar, tanpa terus menggantungkan pada dinas atau pemerintah dalam mengatasi segala permasalahan yang dihadapi sekolah. Hal yang paling mendasar untuk segera dipelajari oleh sekolah dalam rangka membangun watak, perilaku, dan keunggulan kompetitif peserta didik adalah dengan cara membangun kultur sekolah. Kultur sekolah dapat mengubah sekolah sebagai lembaga yang mensinergikan seluruh komponen sekolah dan masyarakat sebagai kekuatan yang harmonis sehingga sekolah memiliki kekhasan dan mampu memiliki keunggulan tertentu. Kata kunci: sekolah, organisasi pembelajar.
MANAGING INTERCULTURAL INTERACTION AND PREJUDICE OF THE INDONESIAN COMMUNITY: AS AN EFFORT TO PREVENT AND MANAGE SARA CONFLICT Ferry Adhi Dharma
Informasi Vol 48, No 2 (2018): INFORMASI
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (328.21 KB) | DOI: 10.21831/informasi.v48i2.22961

Abstract

Interaction and conflict have a very close relationship. Besides, can cause conflicts, interactions can also be used to prevent and manage conflict. There are intrigue and prejudice in dynamic social interaction. Therefore, it takes control of that assessment to others, to be honest, and rational. Individually, prejudice can be controlled through one-way and two-way communication within the family. In groups, prejudice control can be done through the establishment of institutions to communicate more transactional. Social institutions can impose sanctions on anyone proven to produce and disseminate prejudices. Moreover, social institutions can also produce and deploy a symbol of harmony through myth or a true story. Interkasi dan konflik memiliki hubungan yang sangat erat. Disamping dapat menyebabkan konflik, interaksi juga dapat digunakan untuk mencegah dan menangani konflik. Ada intrik dan prasangka dalam interaksi sosial yang dinamis.  Oleh karena itu, dibutuhkan pengendalian agar penilaian terhadap orang lain menjadi jujur dan rasional. Secara individu, prasangka dapat dikendalikan melalui komunikasi satu dan dua arah dalam keluarga. Secara kelompok, pengendalian prasangka dapat dilakukan melalui pembentukan institusi yang dalam berkomunikasi lebih transaksional. Institusi sosial dapat memberi sanksi pada siapapun yang terbukti memproduksi dan menyebarkan prasangka. Selain itu, institusi sosial juga dapat memproduksi dan menyebarkan simbol kerukunan melalui mitos atau kisah nyata.
STRATEGI MEMPERTAHANKAN KELANGSUNGAN HIDUP KELUARGA YANG DIKEPALAI WANITA PADA SAAT KRISIS EKONOMI DI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA Endang Mulyani
Informasi Vol 31, No 1 (2005): INFORMASI
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3547.128 KB) | DOI: 10.21831/informasi.v1i1.6750

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui: 1) kondisi sosial ekonomi rumah tangga yang dikepalai wanita, 2) perilaku konsumsi rumah tangga yang dikepalai oleh wanita, 3) strategi yang ditempuh oleh WKRT dalam mempertahankan kelangsungan hidup rumah tangganya. Penelitian ini dilakukan di Daerah Istimewa Yogyakarta. Pemilihan daerah ini dilakukan dengan menggunakan teknik purposive sampling. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh wanita kepala rumah tangga yang tinggal di pedesaan yang termasuk kategori desa miskin di seluruh wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta. Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah multistage random sampling. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik pengamatan, dokumentasi dan interview/wawancara dengan menggunakan kuesioner yang sudah disiapkan sebelumnya. Teknik analilisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis deskriptif dengan menggunakan tabel dan prosestase. Berdasarkan analisis data penelitian, diperoleh hasil sebagai berikut: 1 )dilihat dari umur, rata-rata umur Wanita Kepala Rumah Tangga adalah 54 tahun, 2) rata-rata jumlah jiwa dalam rumah tangga responden adalah 3 jiwa, 3) sebagian besar tahun sukses pendidikannya berkisar antara 0 - 6 tahun (74%), 4) sebagian besar WKRT bekerja di bidang pertanian yaitu sebesar 51 %, 5) dari 200 responden terdapat sebesar 58% yang pendapatan perkapita dalam rumah tangganya dibawah Rp 72.000,00. Apabila dibandingkan dengan ukuran standar garis kemiskinan yang ditetapkan BPS sebesar Rp 72.210,00 per orang per bulan, maka dapat dikatakan bahwa sebagian besar rumah tangga yang dikepalai wan ita di Daerah Istimewa Yogyakarta termasuk dalam kategori miskiti, 6) rata-rata pengeluaran konsumsi per orang per bulan kurang lebih sebesar Rp 71.850,00. 7) dilihat dari keterkaitan antara tingkat pendapatan dengan pengeluaran konsumsi, analisis data hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat pendapatan semakin tinggi pula proporsinya untuk pengeluaran konsumsi. 8) dilihat dari struktur pengeluaran, dari 200 responden yang termasuk kategori miskin, sebesar 32 rumah tangga struktur pengeluaran konsumsinya sebagian besar digunakan untuk memenuhi kebutuhan pangan ( rata-rata sebesar 73 %), 9) dilihat dari strategi mempertahankan kelangsungan hidup yang dipilih wanita kepala rumah tangga, dari 200 responden sebagian besar memilih strategi mempertahankan kelangsungan hidup dengan cara dicukup-cukupkan dalam mengalokasikan pendapatannya yaitu sebesar 56%.
Hermeneutic circle in digital literation and its relevance as an antidote to hoax M. Rodinal Khair Khasri
Informasi Vol 49, No 2 (2019): Informasi
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (441.133 KB) | DOI: 10.21831/informasi.v49i2.27981

Abstract

This article presents the results of the observations about digital literacy that were studied philosophically through Gadamer's hermeneutic approach. The reason for using this approach is to achieve an understanding of how the subject and its history play a role in the digital literacy process, where ontologically, the content of information has been visualized into the digital world so that a philosophical understanding is needed in understanding the virtual reality. This research is included in the classification of qualitative research with an analysis with three stages, namely reducing data that is very general and broad in a more specific form, and relevant to digital literacy and hermeneutics; then classifies the dimensions of digital literacy so that it is easy to determine the dimensions of the hermeneutics; interpret digital literacy to clarify the dimensions of hermeneutics in it, and concludes and draws relevance to efforts to overcome hoaxes. The results obtained from this study are on a hermeneutical analysis of the process of digital literacy as a catalyst for peace, that equalizing the elimination of discrimination at the historical-ego level can be achieved through the application of hermeneutical digital literacy that is by promoting dialectical historical understanding, where contemporary history dialecticism with the history of the past which is often claimed by certain groups as the heyday and the fruit of their work.Artikel ini mempresentasikan tentang hasil observasi peneliti tentang literasi digital yang dikaji secara filosofis melalui pendekatan hermeneutika Gadamer. Adapun alasan penggunaan pendekatan tersebut yakni untuk mencapai sebuah pemahaman tentang bagaimana subjek dan kesejarahannya berperan di dalam proses literasi digital, di mana secara ontologis, konten informasi telah divisualisasikan ke dalam dunia digital sehingga dibutuhkan pemahaman yang filosofis di dalam memahami realitas virtual tersebut. Penelitian ini masuk ke dalam klasifikasi penelitian kualitatif dengan analisis dengan tiga tahap yaitu mereduksi data yang bersifat sangat umum dan luas ke dalam bentuk yang lebih spesifik, dan relevan dengan literasi digital dan hermeneutika; selanjutnya mengklasifikasikan dimensi literasi digital sehingga mudah untuk ditentukan dimensi hermeneutikanya; menginterpretasikan literasi digital dalam rangka memperjelas dimensi hermeneutika di dalamnya; serta menyimpulkan dan menarik relevansinya dengan upaya menanggulangi hoax. Hasil yang didapatkan dari penelitian ini adalah pada sebuah analisis hermeneutis tentang proses literasi digital sebagai katalis perdamaian, bahwa penyetaraan penghapusan diskriminasi pada tataran ego-historis dapat dicapai melalui penerapan literasi digital yang bersifat hermeneutis yakni dengan mengedepankan pemahaman kesejarahan yang dialektis, di mana sejarah masa kini didialektikakan dengan sejarah masa lampau yang seringkali diklaim oleh kelompok-kelompok tertentu sebagai masa kejayaan dan buah kerja mereka. 
PENGEMBANGAN LIFE SKlLLS EDUCATION PADA KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI ILMU SOSIAL suhadi Purwantara
Informasi Vol 29, No 1 (2003): INFORMASI
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3305.343 KB) | DOI: 10.21831/informasi.v1i1.7176

Abstract

Hasil pembelajaran yang dirasakan selama ini untuk siswa dinilai kurang memberikan bekal hidup para lulusan, baik SD, SLTP, maupun SMU. Peserta didik lebih disibukkan pada kemampuan aspek kognitif saja. Guru juga hanya terpaku memberikan bekal pengetahuan, karena memang materi yang digariskan . dalam kurikulum sangat padat. Akibatnya banyak siswa setelah mendapat pelajaran hanya hafal dan tahu, tetapi tidak terampilmenerapkan dalam kehidupan sehari-hari. Anak SD tahu betul ten tang ciri-ciri anak soleh, tetapi kurang dapat menerapkan dalam kehidupan sehari­hari. ltu sekedar contoh gamlang yang dapat dilihat setiap hari. Untuk itu Kurikulum Berbasis Kompetensi diharapkan dapat menjawab kegalauan masyarakat dengan membekali peserta didik dengan life skills education atau pendidikan kecapakan hidup.

Page 11 of 31 | Total Record : 302