cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
INFORMASI
ISSN : 01260650     EISSN : 25023837     DOI : -
Core Subject : Science, Education,
INFORMASI is an academic journal that centered in communication, is open and welcoming to contributions from the many disciplines and approaches that meet at the crossroads that is communication study. We are interested in scholarship that crosses disciplinary lines and speaks to readers from a range of theoretical and methodological perspectives. In other words, INFORMASI will be a forum for scholars when they address the wider audiences of our many sub-fields and specialties, rather than the location for the narrower conversations more appropriately conducted within more specialized journals. INFORMASI published twice a year (June and December) in Bahasa Indonesia or English.
Arjuna Subject : -
Articles 302 Documents
MENGENAL FILSAFAT EKSISTENSIALISME JEAN-PAUL SARTRE SERTA IMPLEMENTASINYA DALAM PENDIDIKAN Sunarso Sunarso
Informasi Vol 36, No 1 (2010): INFORMASI
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (81.408 KB) | DOI: 10.21831/informasi.v1i1.5659

Abstract

Pendidikan dan filsafat tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya. Filsafat bagi pendidikan berperan sebagai pedoman yang memberikan arahan dan tujuan  pendidikan. Sedangkan pendidikan bagi filsafat merupakan suatu ‘ruang’ yang selalu memberinya tempat untuk hidup dan terus berkembang melalui kegiatan-kegiatan teoritis maupun praktis dalam pendidikan. Filsafat eksistensialisme Jean Paul Sartre dapat digunakan sebagai dasar pijakan  dalam kegiatan belajar mengajar di kelas. Menurut Sartre, manusia adalah individu yang bebas. Namun kebebasan yang dimilikinya selalu terbatasi dengan fakta akan adanya kebebasan individu lain. Manusia adalah bebas untuk melakukan dan mendefinisikan dirinya sendiri secara individual.  Manusia tidak lain adalah bagaimana ia menjadikan dirinya sendiri.  Belajar adalah menjadikan dirinya sendiri otonom dan menyadari adanya orang lain sehingga dapat menciptakan dunianya sendiri yang berarti bagi dirinya dan bagi kehidupan orang lain atau lingkungannya. Namun demikian, kita tetap harus selektif terhadap pemikiran Sartre tentang peniadaan Tuhan. Dalam merumuskan konsep kebebasan individu, Sartre mengasumsikan bahwa tanpa bantuan Tuhan, manusia dapat bebas mendefinisikan dirinya sendiri untuk mencapai tujuan hidupnya. Pandangan ini jelas bertentangan dengan falsafah dasar negara kita yaitu Pancasila sila Ketuhanan Yang Maha Esa.
Menakar Kesejahteraan Buruh: Memperjuangkan Kesejahteraan Buruh diantara Kepentingan Negara dan Korporasi Hendrastomo, Grendi
Informasi Vol 36, No 2 (2010): INFORMASI
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/informasi.v2i2.6205

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk menganalisis ketimpangan antara kesejahteraan dengan peluh kerja buruh, melihat hubungan antara negara, pengusaha dan buruh, serta mengajukan solusi untuk meningkatkan kesejahteraan buruh. Kesejahteraan buruh mutlak diperjuangkan untuk lebih memanusiakan buruh. Kebijakan yang diambil negara selayaknya tidak mengorbankan kaum buruh. Isu tentang perburuhan sampai saat ini merupakan salah satu isu sexi yang sering kali dijadikan alat tawar politik maupun obyek pencitraan. Buruh menjadi komoditas jualan parpol yang disatu sisi penopang dan menjadi tulang punggung perekonomian nasional tetapi disatu sisi dipandang sebelah mata, terlihat dari kehidupan kaum buruh yang tak kunjung membaik. Desakan dari serikat pekerja maupun perundingan antara pengusaha, pemerintah dan buruh selalu berujung pada kegagalan. Outsourcing, Pemutusan hubungan kerja (PHK), Upah minimum regional (UMR), upah yang tak kunjung dibayar hingga kemiskinan yang menghinggapi kaum buruh menjadi permasalahan akut yang tak kunjung ada jalan keluarnya. Satu kesamaan diantara semua masalah, buruhlah yang harus menanggung semuanya. Peningkatan kesejahteraan menjadi dorongan buruh untuk terus berjuang.   Kata kunci: Kesejahteraan, Buruh, Kemiskinan, Marginalisasi
PERLINDUNGAN HUKUM BAGI KORBAN PERKOSAAN DITINJAU DARI ASPEK KEBIJAKAN LEGISLATIF Sri Hartini
Informasi Vol 31, No 1 (2005): INFORMASI
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3641.87 KB) | DOI: 10.21831/informasi.v1i1.6744

Abstract

Oewasa ini kasus perkosaan semakin meningkat sebagaimana yang diberitakan di berbagai mass media, baik cetak maupun elektronik. Sebagai korban perkosaan tentu saja perempuan, baik anak-anak maupun orang dewasa. Pelaku kejlahatan perkosaan tersebut adalah anak-anak dan orang dewasa, baik yang dikenalnya maupun belum dikenal. Akibatnya, korban perkosaan akan menderita secara fisik (rusaknya alat seksual) dan psikis (trauma kengerian dan ketakutan) yang akan berpengaruh terhadap masa depannya. Oi samping itu, timbul rasa berdosa kepada Tuhan, tneskipun terjadinya perkosaan di luar kemauan dan kekuasaannya. Oalam kenyataan peradilan terhadap pelaku kejahatan perkosaan seringkali dirasakan pula sebagai peradilan terhadap korban. Oi samping itu, kebijakan legeslatif di bidang hukum pidana lebih berorientasi pada pelaku kejahatan dengan ancaman pidana, sedangkan perlindungan bagi korban kurang diperhatikan. Hukum pidana positif memeberikan perlindungan pada korban perkosaan lebih menekankan pada perlindungan yang bersifat "ebstrek" dan secara "tidak lengsung", belum memberikan pedoman dan panduan pada hakim dalam penerapan "penggabungan perkara tuntutan ganti ketugien". Pemberian ganti kerugian pada korban perkosaan, yakni pemberian ganti kerugian sebagai "syarat khusus" dalam pidana bersyarat, berupa kewajiban bagi pelaku (terpidana) untuk mengganti segala atau sebagian kerugian yang ditimbulkan oleh tindak pidana dalam waktu tertentu. Oilihat dari pespektif korben, kebijakan legeslatif tersebut kurang adil dan diskriminasi, serta kurang mewujudkan fungsi hukum pidana, yakni tidak saja mengayomi pelaku tetapi juga mengayomi publik dan korban. Oleh karena itu untuk memberi ganti kerugian (restitusi dan kompensasi) pada korban kejahatan dari Resolusi PBB, perlu kiranya pembuat kebijakan legeslatif di bidang hukum pidana mempertimbangkannya untuk diajadikan landasan maupun ketentuan yang dapat melindungi korban kejahatan khususnya korban perkosaan, tentu saja disesuaiakan dengan situasai dan kondisi serta perasaan hukum dan keadilan masyarakat Indonesia.
POSISI HUKUM TRADISIONAL DALAM PERKEMBANGAN MENUJU HUKUM MODERN Priyanto, Ananng
Informasi Vol 29, No 1 (2003): INFORMASI
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4332.693 KB) | DOI: 10.21831/informasi.v1i1.6972

Abstract

Pembicaraan hukum tradisional saat ini menjadi bahan kajian penting karena terkait dengan keberadaan hukum modern yang berkembang sesuai dengan perkembangan masyarakat Namun keberadaan hukum tradisional ini semakin terdesak dengan berkembangnya hukum modern yang dianggap lebih dapat memenuhi kebutuhan hubungan antar bangsa di dunia ketimbang hukum tradisional yang lebih bersifat kolektivitas kuat. Selama upaya pembentukan hukum nasional modern dilakukan, kekosongan hukum yang terjadi diisi dengan hukum kolonial yang masih berkembang yang tentunya kurang sesuai dengan perkembangan masyarakat saat ini. Pada situasi seperti ini hukum tradisional menjadi sangat penting dalam mengupayakan 'p~mbentukan konsep hukum modern guna menampilkan ciri atau identitas bangsa. Kesulitan timbul manakala hukum tradisional yang beraneka ragam jumlah dan jenisnya merupakan bahan kajian dan konsep material dari pembentukan hukum modern yang lebih bersifat universal. . Pelaksanaan hukum modern secara nasional sangat tergantung dari heterogeniias sosial dun politik, strukiur elite, perkembangan birokratis dan kemungkinan penerimaan kebudayaan. Oleh karena itulah tujuan pembentukan sistem hukum nasional Yang modern .. hams mendasarkan pada kepentingan akan rasa persatuan dan' kesatuan bangsa sebagia simbol nasionalitas, serta penghindaran adanya perasaan perbesaan kesukuan dan kedaerahan yang berpotensi sparatisme.
KEEFEKTIFAN MODEL CONNECTED DAN INTEGRATED DALAM PEMBELAJARAN IPS SMP DI KOTA YOGYAKARTA Idrus idrus
Informasi Vol 37, No 1 (2011): INFORMASI
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (296.209 KB) | DOI: 10.21831/informasi.v1i1.4462

Abstract

This research aimed to: (1) analyze the differences in social studies learning achievement between the students using connected and integrated models and those using conventional model; and (2) analyze the hierarchy of the effect of the learning models  among the connected, integrated, and conventional. This experimental research employed a matching post-test comparison group design. The population of this research was National Standardized Schools of Junior Secondary Schools in Yogyakarta. The technique used for sample drawing was multistage sampling. In this research, the independent variable was the learning model which consisted of three categories: integrated, connected, and conventional models. The dependent variable was the mean score of students’ learning achievement in social studies subject. Data collection was done by means of an achievement test. Instrument validation was done by discriminating power and difficulty index, while the reliability was calculated by KR-20. The pre-requisite  test included normality and homogeneity tests. The normality test used Kolmogorov-Smirnov and the homogeneity test used Levene Test. Data were analyzed in one way anova analysis and continued with Scheffe comparison test on the significance level of 0.05. The results of the experiment show that there are  significant difference among the students’ learning achievement who used integrated, connected, and conventional models. The continued test using Scheffe ensured that the integrated model was more effective than the connected and conventional models, while the connected model was more effective in improving the students’ learning achievement in social studies subject compared with the conventional model. Therefore, the hierarchy of the effect of the learning models is first the integrated model followed by connected and conventional models. Key words: Connected, Integrated Models, Social Studies Learning
PENDIDIKAN KARAKTER YANG TERINTEGRASI DALAM PEMBELAJARAN GEOGRAFI Masruri, Muhsinatun Siasah
Informasi Vol 36, No 2 (2010): INFORMASI
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (119.808 KB) | DOI: 10.21831/informasi.v2i2.6199

Abstract

Dewasa ini seolah-olah bangsa Indonesia kehilangan pedoman moral sebagai acuan sikap dan perilaku yang luhur untuk hidup bermasyarakat dan bernegara.  Kasus-kasus tindak pidana korupsi di kalangan pejabat formal, dan penganiayaan keji di kalangan rakyat yang belum dikenal, merupakan sebagian indikator terjadinya kemerosotan moral atau akhlak bangsa Indonesia.  Untuk itu diperlukan upaya oleh segenap pihak, terutama bidang pendidikan untuk menyemai kembali bibit-bibit akhlak mulia sejak anak duduk di Taman Kanak-kanak sampai ke perguruan tinggi.  Disamping itu perlu dipertegas kembali Pancasila sebagai acuan moral bangsa Indonesia yang terbebas dari berbagai kepentingan. Tulisan ini merupakan hasil kajian deduktif  terhadap literatur dan hasil-hasil penelitian tentang Pendidikan Karakter di sekolah.  Hasil pembahasan dapat disimpulkan bahwa: 1) Karakter bangsa Indonesia  adalah sikap dan perilaku yang mengacu kepada Pancasila sebagai idiologi bangsa.   2) Pancasila tidak boleh dilupakan, dan harus tetap dijadikan landasan moral (budi pekerti luhur) bangsa Indonesia.  3) Pendidikan karakter belum tersurat dalam standar isi pendidikan, oleh karena itu pelaksanaannya harus diintegrasikan`ke dalam semua mata pelajaran, sehingga semua guru harus terlibat dan bertanggungjawab terhadap proses dan hasil pendidikan karakter;  4) Geografi merupakan mata pelajaran di tingkat SMA/MA yang sangat tepat sebagai wadah integrasi pendidikan karakter, karena hakikat Geografi merupakan studi tentang alam, manusia dan hubungan timbal-balik antara keduanya.  5) Pendidikan karakter yang terintegrasi ke dalam pembelajaran Geografi dapat menggunakan berbagai strategi, antara lain Value Clarification Tachnique (VCT), karena proses klarifikasi terhadap nilai-nilai terutama yang berkaitan dengan current events akhir-akhir ini.   Kata kunci: Pendidikan karakter, Pancasila, integrasi, VCT, current evens
KONSEP DIRI (SELF CONCEPT) DAN KOMUNIKASI INTERPERSONAL DALAM PENDAMPINGAN PADA SISWA SMP SE KOTA YOGYAKARTA Widiarti, Pratiwi Wahyu
Informasi Vol. 47 No. 1 (2017): INFORMASI
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/informasi.v47i1.15035

Abstract

This study aims to determine, the self-concept of junior high school students in the city of Yogyakarta and description of the mentoring model for junior high school students in Yogyakarta city based on adolescent self concept. The research method used quantitative method, with descriptive statistical technique. The population of this research is all junior high school students in Yogyakarta city from 15 State Junior High School and 42 Private Junior High. The results is first, the self-concept of students is balanced between those who have low self-concept (222 people: 49.4%), with high self-concept (227 people: 50,6%). Second, from the self concept aspects, the results obtained, have: a) high self-concept/academic self as much as 262 students (58.4%); b) family self concept as high as 257 students (57.2%); c) high physical self-concept, ie 250 students (55.7%); d) low self-concept moral ethics there are 220 students (49%); e) low social self-concept there are 220 students (49%); f) Low self-concept personal there are 216 students (48.1%). Third, the low-tendentious concept of self is ethical-moral, social and personal, then approaches are used for the assistance: a) from the side of interpersonal communication:  Self-fulfilling prophecy; opened self; self confidence; and selectivity; b) in terms of interaction style, by developing an enabling interaction style; c) in terms of guidance and counseling services by forming individual guidance and group guidance. Abstrak             Penelitian ini bertujuan untuk  mengetahui konsep diri remaja siswa SMP se kota Yogyakarta dan deskripsi model pendampingan bagi remaja siswa SMP se kota Yogyakarta berdasar konsep diri remaja. Melalui metode kuantitatif, dengan teknik statistik deskriptif.  Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa SMP se kota Yogyakarta dari 15 SMP Negeri dan 42 SMP Swasta.  Hasil penelitian adalah, pertama, konsep diri  siswa berimbang antara yang memiliki konsep diri  yang rendah  (222 orang: 49.4%),  dengan yang memiliki konsep diri yang tinggi (yaitu 227 orang: 50.6%). Kedua, dari aspek-aspek konsep diri, diperoleh hasil, yang memiliki: a) konsep diri kerja/akademik yang tinggi sebanyak 262 siswa (58.4%); b) konsep diri keluarga yang tinggi sebanyak 257 siswa (57.2%); c) konsep diri fisik yang tinggi, yaitu 250 siswa (55.7%); d) konsep diri etik moral yang rendah  ada 220 siswa (49%); e) konsep diri sosial yang rendah ada 220 siswa (49%); f) konsep diri personal yang rendah ada 216 siswa (48.1 persen). Ketiga, konsep diri yang cenderung rendah adalah konsep diri etik-moral, sosial dan personal, maka digunakan pendekatan bagi pendamping: a) dari sisi komunikasi interpersonal: Nubuat yang dipenuhi sendiri; membuka diri; percaya diri; dan selektivitas; b) dari sisi gaya interaksi, dengan mengembangkan gaya interaksi yang mendorong (enabling); c) dari sisi layanan bimbingan dan konseling dengan membentuk  bimbingan kelompok dan  bimbingan individual.
The social harmony of local religious groups Sulistyani, Hapsari Dwiningtyas; Rahardjo, Turnomo; Rahmiaji, Lintang Ratri
Informasi Vol 50, No 1 (2020): Informasi
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/informasi.v50i1.30169

Abstract

As a multicultural nation, minority groups are embedded in the discourse of nationality and social harmony in Indonesia. The term social harmony signifies that each race, ethnicity, or religion must be placed in an equal standing/position. The research focuses on understanding the identity negotiation strategies, in establishing the social harmony, that are used by adherents of local religions which are considered minorities in a community where the majority of people believe in formal religions. This study uses the Co-Cultural Theory and employs a phenomenology research method to explores the way in which co-cultural groups' members negotiate their cultural differences with the members of dominant groups. The groups that are chosen as the subject of this research are the religious groups that live in a relatively supportive community (Kawruh Jiwa) and the group that has experienced numerous clashes with other groups in the region (Sapta Darma). The result of the research indicates that communication strategies used by local religious believer groups in establishing social harmony are: educating others, self-censoring, and bargaining. Those three communication strategies create different co-cultural positions. Educating others creates an accommodation position, self-censoring produces surface assimilation, and bargaining strategy generates a situation where marginal groups are in a partial separation.Sebagai negara multikultural, kelompok minoritas berada dalam wacana kebangsaan dan keharmonisan sosial di Indonesia. Istilah harmoni sosial menandakan bahwa setiap ras, etnis, atau agama harus ditempatkan dalam posisi/kedudukan yang sama. Penelitian berfokus pada pemahaman strategi negosiasi identitas, dalam membangun sosial harmoni, yang digunakan oleh penganut agama lokal yang dianggap minoritas dalam sebuah komunitas di mana mayoritas orang percaya pada agama formal. Penelitian ini menggunakan teori co-cultural dan menggunakan metode penelitian fenomenologi untuk mengeksplorasi cara anggota kelompok budaya yang berbeda menegosiasikan perbedaan budaya mereka dengan anggota kelompok dominan. Kelompok-kelompok yang dipilih sebagai subjek penelitian ini adalah kelompok agama yang hidup dalam komunitas yang relatif mendukung (Kawruh Jiwa) dan kelompok yang telah mengalami banyak bentrokan dengan kelompok lain di wilayah tersebut (Sapta Dharma). Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi komunikasi yang digunakan oleh kelompok penganut agama setempat dalam membangun kerukunan sosial adalah: mendidik yang lain, menyensor diri sendiri, dan tawar menawar. Ketiga strategi komunikasi itu tercipta posisi co-cultural yang berbeda. Mendidik orang lain menciptakan posisi akomodasi, swasensor menghasilkan asimilasi permukaan, dan strategi perundingan menghasilkan situasi di mana kelompok marginal berada dalam pemisahan parsial.
MALE GENDER ROLE MESSAGES PADA TOKOH "HERO" DALAM EPISODE "CAHAYA HATI" DI PROGRAM "ZERO TO HERO" METRO TV Hidayat, Nisa Imawati
Informasi Vol. 45 No. 1 (2015): INFORMASI
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/informasi.v45i1.7768

Abstract

AbstractThe research purpose is to determine how the television documentary producer "Zero to Hero" program on Metro TV classify male gender role messages in the cast of "hero" in that program. Researcher used social semiotics method Theo van Leeuwen with multimodal analysis procedure and 24 of male gender role theories from Ian M. Harris, that have been categorized into 5 classification: standard bearers, lovers, workers, bosses and rugged individuals. The result of this study revealed that the television documentary producer "Zero to Hero" program, construct the male gender role messages in the cast of "hero" to the category of male gender role messages consist with standard bearers, lovers, bosses and workers, who shows a positive image and dominant as a man who lived in patriarchal culture in Indonesia.AbstrakTujuanpenelitianiniuntukmengetahui bagaimana produsen program dokumenter televisi "Zero to Hero" di Metro TV mengklasifikasikan male gender role messages pada tokoh "hero" di dalam program tersebut. Peneliti menggunakan metode semiotika sosial Theo van Leeuwen dengan prosedur analisis multimodality dan teori 24 male gender role messages Ian M. Harris yang dikategorikan dalam 5 klasifikasi yaitu standar bearers, lovers, workers, bossesdan rugged individuals. Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa produsen program menampilkan tokoh "hero" dengan kategori male gender rolemessages berupastandar bearers, lovers, bosses dan workers yang menunjukkan citra positif dan dominan sebagaimana layaknya pria berperilaku dalam budaya patriaki di Indonesia.Keywords: Male Gender Role Messages, Hero, Documentary
Penutup Editor, Editor
Informasi Vol 45, No 1 (2015): INFORMASI
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/informasi.v45i1.8010

Abstract

Pedoman Penulisan; Cover Belakang