cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
INFORMASI
ISSN : 01260650     EISSN : 25023837     DOI : -
Core Subject : Science, Education,
INFORMASI is an academic journal that centered in communication, is open and welcoming to contributions from the many disciplines and approaches that meet at the crossroads that is communication study. We are interested in scholarship that crosses disciplinary lines and speaks to readers from a range of theoretical and methodological perspectives. In other words, INFORMASI will be a forum for scholars when they address the wider audiences of our many sub-fields and specialties, rather than the location for the narrower conversations more appropriately conducted within more specialized journals. INFORMASI published twice a year (June and December) in Bahasa Indonesia or English.
Arjuna Subject : -
Articles 302 Documents
Analisis Model Komunikasi Kepala Sekolah Ditinjau Dari Perspektif Gender (Studi Kasus di SMK Islam P.B. Soedirman 2 Jakarta dan SMK Mandiri Bekasi) Giyanti, Sri
Informasi Vol 38, No 2 (2012): INFORMASI
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (364.28 KB) | DOI: 10.21831/informasi.v2i2.4447

Abstract

Analisis Model Komunikasi Kepala Sekolah Ditinjau Dari Perspektif Gender (Studi Kasus Pada SMK Islam P.B. Soedirman 2 Jakarta dan SMK Mandiri Bekasi). Penelitian bertujuan untuk mengetahui perbedaan berkomunikasi kepala sekolah perempuan di SMK Islam P.B. Soedirman 2 Jakarta dengan kepala sekolah laki-laki di SMK Mandiri Bekasi. Penelitian ini adalah studi kasus dengan menggunakan pendekatan kuantitatif. Data dikumpulkan melalui pengamatan/observasi, wawancara mendalam, dan dokumen tentang berbagai model komunikasi yang digunakan yaitu : 1). Model Lasswell; sering memberikan pertanyaan. 2). Model Shannon; berkomunikasi dengan tatap muka, komunikasi lewat telepon, radio dan televisi, memakai otak, anggukan kepala, sentuhan, kontak mata, ingatan dan menetralkan gangguan. 3). Model Schraumn; kesamaan dalam bidang pengalaman, balikan. 4). Model Berlo; faktor keterampilan, sikap, pengetahuan, kebudayaan, sistem sosial dan satu arah. 5). Model Seiler; latar belakang. 6). Model S-R; Isyarat-isyarat, gambar-gambar, tindakan, timbal balik, dan banyak efek. 7). Model Aristoteles; persuasi, klasik, pidato dan sangat sederhana. Kemudian data tersebut dianalisis, analisis yang digunakan ialah dengan  mendeskripsikan secara kualitatif mengenai perbedaan, dan skala ukur yang digunakan ialah skala nominal. Hasil hipotesis komparatif dua sample independen mengungkapkan, bahwa model komunikasi yang dilakukan kepala sekolah perempuan di SMK Islam P.B. Soedirman 2 Jakarta lebih bervariasi, kepala sekolah perempuan lebih banyak menggunakan model komunikasi dibanding model komunikasi yang dilakukan kepala sekolah laki-laki. Karena otak perempuan dirancang untuk lebih bersifat relasional, dan lebih mudah bagi perempuan untuk menyesuaikan gaya komunikasi mereka dengan lawan bicara yang bermacam-macam. Berbicara membantu kepala sekolah perempuan dalam mengklasifikasikan dan menata informasi di kepala. Berbeda dengan model komunikasi  yang dilakukan oleh kepala sekolah laki-laki di SMK Mandiri Bekasi. Karena memang otak mereka dirancang secara berbeda pula. Kepala sekolah laki-laki berkomunikasi lebih untuk bertukar informasi, memecahkan masalah atau bahkan untuk menunjukkan dominasi. Jadi kepala sekolah laki-laki berfikir selalu dalam hati, dan mengungkapkan hasil akhir atau kesimpulannya saja. Mereka tahu jelas apa yang memang perlu diungkapkan.
Women's journalists in the practice of mass media in Semarang city Lusi Setyo Wulandari; Nova Permata Sari
Informasi Vol 49, No 2 (2019): Informasi
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (402.728 KB) | DOI: 10.21831/informasi.v49i2.27854

Abstract

This study aims to determine the balance between female and male journalists in the mass media, and the subjective experience of women journalists in carrying out their duties. Data collection was carried out by in-depth interviews and interviewees in this study as many as five people from print and electronic media, to determine the sources of researchers using purposive sampling. This research uses the descriptive qualitative method with gender structuration theory which is a combination of structuration theory and feminist analysis. The results of this study indicate that male dominance is still very strong in the mass media, this can be seen in terms of the number of female journalists in each company. In terms of wages, almost all have not received the same wages as male journalists and there is still violence received by women journalists in carrying out their duties. Violence received in the form of verbal and nonverbal violence and women journalists consider the violence that occurs is a risk of work. It is hoped that with this research companies, journalists and the public will become more aware of gender equality. The formation of a special organization for women journalists was also felt to be very important in solving the problems of women journalists.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keseimbangan antara jurnalis perempuan dan laki laki di media massa, dan pengalaman subyektif jurnalis perempuan dalam menjalankan tugasnya. Pengambilan data dilakukan dengan wawancara mendalam dan narasumber dalam penelitian ini sebanyak lima orang dari media cetak dan media elektronik, untuk menentukan narasumber peneliti menggunakan proposive sampling. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan teori strukturasi gender yang merupakan perpaduan antara teori strukturasi dan analisis feminis. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa dominasi laki-laki masih sangat kuat dalam media massa hal ini terlihat dari segi jumlah jurnalis perempuan yang ada dalam setiap perusahaan. Dari segi pengupahan, hampir semua belum mendapatkan upah yang sama dengan jurnalis laki-laki serta masih adanya kekerasan yang diterima para jurnalis perempuan dalam melakukan tugasnya. Kekerasan yang diterima berupa kekerasan verbal dan nonverbal dan para jurnalis perempuan menganggap kekerasan yang terjadi merupakan resiko dari pekerjaan. Diharapkan dengan adanya penelitian ini perusahan, jurnalis dan masyarakat semakin sadar akan kesetaraan gender. Pembentukan organisasi khusus jurnalis perempuan juga dirasa sangat penting dalam menyelesaikan permasalahan jurnalis perempuan.
DAMPAK PSIKOLOGIS MUTASI PEGAWAI AOMINISTRASI 01 UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA Sugi Rahayu
Informasi Vol 31, No 1 (2005): INFORMASI
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4216.928 KB) | DOI: 10.21831/informasi.v1i1.6743

Abstract

Artikel ini ditulis berdasarkan hasil penelitian dengan judul yang sama. Sejak ditetapkannya SK Rektor No. 207 tahun 2000 tentang Mutasi Pegawai Administratif di Lingkungan UNY, sudah beberapa kali kebijakan mutasi dilaksanakan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana dampak psikoiogis mutasi pegawai di lingkungan UNY dan bagaimana mengantisipasi dampak psikologis yang disebabkan oleh mutasi pegawai tersebut. Subyek penelitian adalah Kepala Sub Bagian Tenaga Administratif UNY dan Kepala Bagian Kepegawaian UNY, para pegawai yang mengalami mutasi baik yang menduduki jabatan struktural (Kepala Bagian dan Kepala Sub Bagian) dan staf. Pengambilan sampel dilakukan secara purposif dengan mempertimbangkan jenis pekerjaan, jenis jabatan, dan asal unit kerja. Metode pengumpulan data dengan menggunakan wawancara secara mendalam, pengamatan, dan dokumentasi. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (7) mutasi pegawai di lingkungan UNY memiliki dampak psikologis baik bagi pegawai yang dimutasi maupun bagi pegawai yang tidak dimutasi; (2) setelah beberapa bulan para pegawai yang dimutasi tidak lagi beranggapan bahwa mutasi merupakan sesuatu yang menakutkan dan mereka dimutasi bukan karena telah melakukan kesalahan. Mereka menyadari bahwa sebagai pegawai UNY, mereka harus bersedia ditempatkan di unit kerja mana saja di lingkungan UNY; (3) untuk mengantisipasi dampak psikologis dari mutasi maka kebijakan mutasi pegawai dilaksanakan secara konsekuen dan mempertimbangkan hasil analisis jabatan.
PENGEMBANGAN PERGURUAN TINGGI DALAM RANGKA PENGENTASAN KEMISKINAN Suparmini Suparmini
Informasi Vol 26, No 1 (1998): INFORMASI
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2943.105 KB) | DOI: 10.21831/informasi.v1i1.6760

Abstract

. Pendapatan perkapita Indonesi~ saat ini mencapai 800 US $ ternyata paling rendah dibanding negara di Asia Tenggara lainnya. Disamping itu kemiskinan masih mem-bayangi sebagian penduduknya sehingga merupakan beban pembangunan yang segera memerlukan penyelesaian. Berbagai upaya telah dilakukan untuk menghapuskan kemiskinan selama Orde Baru, namun demikian penduduk miskin masih tetap dapat dijumpai sementara pertumbu­han ekonomi telab mampu melaju pesat. Harapan yang dinantikan oleb bangsa dan negara ini tentu saja peran sertanya kaum Cendikiawan turut memikirkan dalam pemecahan masalah kemiskinan. Sementara itu disinyalir bahwa lulusan dari perguruan tinggi yang diharapkan mampu segera berke­cimpung memajukan kesejahteraan rakyat semakin kesulitan untuk mensejah­terakan dirinya. Solusi yang perlu digencarkan perguruan tinggi berkiprah dalam pengen­tasan kemiskinan adalah menggalang kemitraan antar lembaga diluarnya serta antar Civitas Akademika didalamnya. Memecahkan segala permasala­han di masyarakat yang semakin kompleks dalam era globalisasi diperlukan strategi yang terus dikaji dan diujicoba. Dinamisasi masyarakat akibat derasnya arus informasi disatu sisi sementara masih dijumpai sebagian penduduk yang masih terpuruk dalam kemiskinan merupakan tantangan bagi pengembangan perguruan tinggi untuk menemukan formulasi yang tepat dalam rangka peran sertanya mengentaskan penduduk dari belenggu kemis­kinan.
PETA GERAKAN LITERASI DIGITAL DI INDONESIA: STUDI TENTANG PELAKU, RAGAM KEGIATAN, KELOMPOK SASARAN DAN MITRA YANG DILAKUKAN OLEH JAPELIDI Kurnia, Novi; Astuti, Santi Indra
Informasi Vol. 47 No. 2 (2017): INFORMASI
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1359.237 KB) | DOI: 10.21831/informasi.v47i2.16079

Abstract

Digital society nowadays faces various problems such as hoax or fake news, privacyviolation, cyberbullying, violence and pornography content, digital media addiction.The question is whether such problems are emerging because of there is no adequatedigital literacy in Indonesia? To answer this question, Jaringan Pegiat Literasi Digital(Japelidi, Network of Digital Literacy Activists) conducts a mapping research on digitalliteracy movement in Indonesia. This study involves 56 researchers from 26 universitiesin Indonesia. It maps out 342 digital literacy activities conducted in 9 cities in Indonesia.Some research findings are: universities are the main actor in literacy digital movement inIndonesia, public speaking forums are the most frequent digital literacy activities, maintarget group for digital literacy is the youth and schools are the best partners for digitalliteracy activities. Based on these findings, the study recommends some suggestions:to increase the digital literacy activities conducted by various actors in Indonesia, todevelop various methods of digital literacy programs, to widen the target groups, andto establish relationship with various partners not only schools, but also government,media and corporation. In addition, the study recommend that digital literacy should beimplemented in various levels: family, schools, and the state.Beragam persoalan seperti informasi hoaks, pelanggaran privacy, cyberbullying, konten kekerasan dan pornografi, dan adiksi media digital dianggap sebagai persoalan masyarakat digital terkini. Pertanyaannya, apakah problem tersebut muncul karena rendahnya literasi digital di Indonesia? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, Jaringan Pegiat Literasi Digital (Japelidi) melakukan pemetaan gerakan literasi digital di Indonesia. Dengan metode desk study dan case study, penelitian melibatkan 56 peneliti dari 28 prodi yang berasal dari 26 universitas. Kajian mencakup 342 kegiatan literasi digital di 9 kota di Indonesia memetakan setidaknya 342 kegiatan. Temuan utama penelitian ini antara lain: perguruan tinggi adalah pelaku utama atau motor dalam gerakan literasi digital, sosialisasi adalah kegiatan yang paling sering dilakukan, kaum muda merupakan kelompok sasaran yang paling dominan, dan mitra yang paling adalah sekolah. Penelitian merekomendasikan perlunya lebih banyak pelaku kegiatan yang bukan berasal dari perguruan tinggi, pentingnya mengeksplorasi ragam literasi digital yang bersifat kreatif dan "˜empowerment', perlunya memperluas target sasaran literasi digital supaya tidak hanya tertuju pada kaum muda saja, dan pentingnya kemitraan dengan berbagai pihak diperluas dan diperkuat, khususnya dengan pemerintah, media dan korporasi. Selain itu, peneliti merekomendasikan bahwa literasi digital harus diberikan dalam level keluarga, sekolah, dan negara. 
AN INITIAL EXPLORATION ON TERRORISM ISSUES IN MALAYSIA AND INDONESIA: THE CASE OF THE WALL STREET JOURNAL Fauziah Hassan; Sofia Hayati Yusoff; Siti Zobidah Omar
Informasi Vol 48, No 1 (2018): INFORMASI
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (62.185 KB) | DOI: 10.21831/informasi.v48i1.19741

Abstract

The symbiotic relationship between Islam and media is inevitable. The frequent of media coverage about Islam has been researched by many especially since the remarkable incident of September 11 in 2001. From that moment, Islam has been viewed and labelled as negative by the Western media specifically to the Muslims living in America and those in the Middle East countries. This phenomenon has been contagious to the Muslims in Southeast Asian countries such as Malaysia and Indonesia as these two countries are believed to have a connection with recent terrorist groups such as Islamic State of Iraq and the Levant (ISIL) and Islamic State in Iraq and Syria (ISIS). Therefore, this study was conducted to see the frequent coverage specifically on terrorism issues as reported by the Wall Street Journal (WSJ) and to explore the news themes that emerged in the news reporting. To realize this study, the researchers applied both quantitative and qualitative analysis to analyse the online news articles found in WSJ from year 2012 until 2013. The qualitative software was used in this study namely QSR Nvivo 11 to help and assist the researchers to store, manage and codify the news and also the quantitative software which is SPSS to calculate the frequencies of the reporting. The findings revealed that WSJ reported news related to terrorism in Malaysia and Indonesia frequently but it seems that Indonesia received higher percentage compared to Malaysia. In terms of news themes, the results found four major themes that are very much related to terrorism issues such as terrorist attacks, suspected as terrorist and robbery from both issues happened in Malaysia and Indonesia.
PUBLIC RELATIONS AND EMPLOYEE PERFORMANCE IN NIGERIAN INSTITUTIONS OF HIGHER LEARNING Nguru, Muhammad Nura; Ibrahim, Adamkolo Mohammed
Informasi Vol 48, No 2 (2018): INFORMASI
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (12.924 KB) | DOI: 10.21831/informasi.v48i2.21972

Abstract

Organizations’ internal publics, which generally comprises two categories of personnel, namely management staff and employees constitute some of the key elements that contribute toward realizing the goals and objectives of the organization. However, unlike non-academic organizations, institutions of higher (academic) learning have two additional categories of internal publics — academic staff and students. This makes such institutions a bit unique. Public relations (PR) as a management function and tool is utilized by the management between itself and all categories of internal publics to facilitate smooth information dissemination and communication for enhanced job performance. Hence, a unique type of PR practice capable of addressing the characteristic needs of the academic staff (who are directly involved with the students) in addition to those of the non-academic staff will be required. A critically review of extant literature surrounding the impacts of the practice of PR on job performance among employees of Nigerian institutions of higher learning was performed. Additionally, critical intra-organizational PR media capable of addressing the characteristic and specific needs of the overall and specific internal publics were underscored and some policy recommendations offered. This article concludes that effective PR (a PR practice that addresses both the comprehensive and specific needs of the various classifications of internal publics) enhances job performance and productivity.HUBUNGAN MASYARAKAT DAN KINERJA KARYAWAN DI LEMBAGA PENDIDIKAN TINGGI NIGERIAInternal publik dalam sebuah organisasi yang pada umumnya terdiri dari dua bagian yaitu manajemen staf dan karyawan, merupakan beberapa elemen kunci yang memberikan kontribusi terhadap realisasi sasaran dan tujuan organisasi. Namun, tidak seperti organisasi non-akademik, institusi akademik memiliki dua bagian tambahan lain dalam internal publiknya – staf akademik dan siswa. Hal inilah yang kemudian membuat institusi-instistusi akademik memiliki sedikit keunikan. Public Relations (PR) sebagai fungsi manajemen digunakan oleh institusi untuk memfasilitasi penyampaian informasi dan komunikasi untuk meningkatkan performa kerja antara manajemen dan seluruh bagian publik internalnya. Oleh karena itu, PR yang memiliki keunikan seperti ini harus mampu menganalisa hal-hal apa saja yang menjadi kebutuhan staf akademik (yang secara langsung terlibat dengan siswa) dan juga staf non-akademik yang nantinya akan dibutuhkan. Sebuah tinjauan kritis menghasilkan temuan mengenai dampak praktik PR pada performa kerja para karyawan yang bekerja di institusi-institusi Nigeria. Selain itu, media intra-organisasi PR yang kritis harus mampu menganalisa karakteristik dan kebutuhan-kebutuhan tertentu dari seluruh ataupun sebagian kecil publik internal dan kebijakan-kebijakan yang ditawarkan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa PR yang efektif (praktik PR yang menganalisa secara mendalam ataupun spesifik kebutuhan-kebutuhan berbagai kalangan yang merupakan bagian dari publik internal) dapat meningkatkan performa pekerjaan dan produktivitas.
COMMUNICATION PATTERN BETWEEN FEMALE BREADWINNERS AND THEIR CHILDREN Chatia Hastasari
Informasi Vol 49, No 1 (2019): INFORMASI
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (205.929 KB) | DOI: 10.21831/informasi.v49i1.25432

Abstract

This study examines the communication pattern between female breadwinners and their children and the barriers in that communication process. This qualitative study was carried out among 12 female breadwinners from low-income families in Wedomartani Village, Ngemplak, Sleman, Special Region of Yogyakarta. It is drawn from the study that, first, there is good interpersonal communication between a female breadwinner and her children. It is clearly seen as all factors leading to an effective interpersonal communication are fulfilled, namely a) openness – the mother is actively creating a pleasant conversation so that her children will feel more comfortable in telling her everything that happens to them; b) empathy – the mother instills a sense of independence and respect for others in her children; and c) positive behaviors – the mother has a strong commitment to improve her family’s condition as shown in all her positive behaviors. Second, as the mother and her children can interchangeably be the communicator (sender) or the communicant (recipient) of information, this communication is categorized as direct (face-to-face), either one-way or two-way. Third, the barrier existing in the communication process between a female breadwinner and her children is mainly related to the mother’s limited time available to do her main duties as a mother, causing her housework to become abandoned. Another obstacle in this communication process is due to the children’s psychological condition that is affected by the lack or even the absence of father’s roles in their family, leading to an unstable emotion.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pola komunikasi wanita sebagai kepala keluarga dengan anaknya dan apa saja hambatan yang terjadi pada proses komunikasi antara wanita kepala keluarga dengan sang anak. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan sumber data utama para wanita kepala keluarga miskin di desa Wedomartani, Ngemplak, Sleman yang berjumlah 12 informan. Hasil penelitian ini adalah 1) komunikasi interpersonal yang terjalin antara ibu sebagai wanita kepala keluarga dengan sang anak sudah berjalan dengan baik. Hal itu tampak dari pemenuhan faktor-faktor yang dapat memengaruhi komunikasi interpersonal agar menjadi lebih efektif diantaranya a) Keterbukaan yang ditandai dengan adanya peran aktif sang ibu dalam proses komunikasi agar sang anak merasa nyaman bercerita segala hal; b) Empati yang ditanamkan oleh sang ibu pada diri sang anak adalah kemandirian dan rasa menghargai orang lain terutama orang tua; dan c) Perilaku positif yang ditunjukkan dari komitmen yang kuat sang ibu dalam memperbaiki kondisi keluarga. 2) pola komunikasi interpersonal yang terjadi bersifat langsung (tatap muka) baik satu arah maupun dua arah. Hal ini tampak dari posisi komunikator (pengirim pesan) dan komunikan (penerima pesan) dapat dilakukan oleh ibu maupun anak. Dan 3) hambatan dalam proses komunikasi yang terjalin antara ibu sebagai wanita kepala keluarga dengan anaknya saat berinteraksi adalah minimnya waktu yang dimiliki oleh sang ibu menyebabkan tugas dan kewajiban utamanya sebagai seorang ibu di rumah menjadi terbengkalai dan hambatan lainnya adalah kondisi psikologis anak yang mengalami kekurangan atau bahkan kehilangan sosok ayah dalam keluarga menyebabkan emosinya menjadi tidak stabil. 
DAMPAK PENERAPAN SISTEM TANAM PAKSA BAGI MASYARAKAT Zulkarnain zulkarnain
Informasi Vol 37, No 1 (2011): INFORMASI
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (285.694 KB) | DOI: 10.21831/informasi.v1i1.4463

Abstract

Tulisan ini menjelaskan  bahwa sistem tanam paksa adalah  politik imprialisme terhadap tanah jajahan yang dianggap sebagai politik tidak bermoral, tidak humanis, dan tidak dapat dibenarkan dalam situasi apapun. Agar tidak salah kaprah ada baiknya kita perlu memahami perbedaan antara sistem itu sendiri yang dianggap tidak dapat dibenarkan, dengan dampak penerapan tanam paksa secara konkret bagi masyarakat Indonesia khususnya di pulau  Jawa. Para peneliti sejarah juga berpendapat bahwa tanam paksa adalah sistem yang revolusioner dan merupakan cikal bakal perubahan tradisi di masyarakat Jawa. Sistem  ini bermanfaat karena ekonomi uang telah masuk ke desa-desa, yang kemudian menjadi penggerak roda perekonomian, tenaga buruh menjadi murah dan masyarakat pedesaan mengenal sistem permodalan sehingga terjadi perubahan pola transaksi dari pola transaksi tradisional ke arah pengembangan ekonomi moneter. Sementara penelitian tentang sistem ekonomi masa VOC menunjukkan bahwa proses moneterisasi sesungguhnya telah muncul dalam masyarakat Jawa pada masa VOC. Kata kunci : Dampak, Penerapan, Tanam Paksa.
KEEFEKTIFAN SEKOLAH, FUNGSI DAN MODEL Teguh Sihono; Norlia Binti Mat Norwani
Informasi Vol 36, No 2 (2010): INFORMASI
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (155.648 KB) | DOI: 10.21831/informasi.v2i2.6198

Abstract

School functions are created forthe learner’s reproduction of knowledge, attitudes, values, and techniques that have a culture. There are five types of school function: engineering/economic function, political function, human/social function, cultural function, and educational function. Each type of the school function operates at five levels (individual, institution, community, society, and international). The effectiveness of a school is the capacity of the school to maximize its functions or the extent to which the school can perform the functions which consists of five types: technical/economic, human/social, political, cultural, and educational. The effectiveness of the school shows effective school performance in order to improve the quality of education. There are eight models of school effectiveness that places emphasis on each different aspect to the dynamic process of the school in an effective struggle for survival. The models are: the model of destination; input source model; process model; satisfaction model; legitimacy model; ineffectiveness model, organizational learning model, and total quality management (TQM) models. In maximizing the school’s function, school administrators can choose among the eight models of school effectiveness, in accordance with the interests, needs and condition of each school. Keywords: Effectiveness, Function, Model