cover
Contact Name
cecep munir
Contact Email
cecep.munir@trisakti.ac.id
Phone
+6281329205572
Journal Mail Official
jurnalactatrimedika@trisakti.ac.id
Editorial Address
Jl. Kyai Tapa No. 260, RT.5/RW.9, Tomang, Kec. Grogol petamburan, Kota Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Akta Trimedika
Published by Universitas Trisakti
ISSN : -     EISSN : 30465125     DOI : https://doi.org/10.25105/aktatrimedika
Core Subject :
Jurnal Akta Trimedika adalah jurnal kedokteran melalui proses tinjauan sejawat (peer-review) dengan akses terbuka secara online sebagai salah satu jurnal ilmiah resmi Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti yang terbit setahun empat kali (Bulan Januari, April, Juli dan Oktober). Jurnal ini berfokus pada ilmu pengetahuan medis mulai dari ilmu dasar, klinis, dan komunitas. Jurnal ini bertujuan sebagai salah satu media penghubung antara mahasiswa kedokteran, dokter, peneliti dan pemerhati kesehatan untuk berbagi informasi masalah kesehatan terkini dalam usaha meningkatkan pengetahuan dan kesehatan masyarakat Indonesia Jurnal ini menerbitkan original article, article review, dan laporan kasus yang berkontribusi pada pengetahuan kedokteran dan kesehatan. Semua topik ilmu kedokteran diterima untuk dipublikasikan di jurnal ini, antara lain: Ilmu Biologi Ilmu Jantung dan Pembuluh Darah Ilmu Kebidanan dan Kandungan Ilmu Penyakit Paru Ilmu Saraf Ilmu Bedah Ilmu Ortopedi dan Kedokteran Olahraga Ilmu Onkologi Ilmu Hematologi Ilmu Endokrin, Diabetes, Metabolisme Ilmu Nutrisi Ilmu Gastroenterologi dan Hepatopankreatikobilier Ilmu Nefrologi dan Urologi Ilmu Imunologi Ilmu Kesehatan Kulit Ilmu Otolaringologi Ilmu Penyakit Infeksi Ilmu Geriatri dan Penuaan Ilmu Kedokteran Intensif dan Anestesiologi Ilmu Kesehatan Mata Ilmu Kesehatan Anak Ilmu Kesehatan Masyarakat, Lingkungan, dan Kesehatan Kerja Ilmu Farmakologi dan Farmasi Dan topik lainnya yang berhubungan dengan kedokteran dan/atau kesehatan.
Arjuna Subject : -
Articles 119 Documents
KORELASI ANTARA KADAR ASAM URAT DENGAN KREATININ PADA USIA PRODUKTIF Shafa Aulia Ramdhany; Ronald Irwanto Natadidjaja
Jurnal Akta Trimedika Vol. 3 No. 3 (2026): Juli 2026
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25105/aktatrimedika.v3i3.26433

Abstract

Usia produktif merupakan kelompok usia yang memiliki peran penting dalam aktivitas ekonomi dan sosial, namun rentan terhadap gangguan metabolik akibat pola hidup tidak sehat. Peningkatan kadar asam urat diketahui dapat memengaruhi fungsi ginjal melalui berbagai mekanisme, sedangkan kreatinin digunakan sebagai indikator fungsi filtrasi ginjal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui korelasi antara kadar asam urat dan kadar kreatinin pada usia produktif. Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan potong lintang. Data diperoleh dari rekam medis pasien rawat jalan yang menjalani pemeriksaan kadar asam urat dan kreatinin di RSUD Budhi Asih Jakarta pada periode Juli 2023 hingga Maret 2025. Jumlah sampel sebanyak 55 subjek yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat. Uji normalitas menunjukkan data tidak berdistribusi normal sehingga analisis korelasi dilakukan menggunakan uji Spearman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar subjek berada pada kelompok usia 50–64 tahun dan memiliki kadar asam urat serta kreatinin dalam rentang normal, meskipun proporsi kadar tinggi masih cukup signifikan. Analisis korelasi Spearman menunjukkan koefisien korelasi (r = 0,113) dengan nilai signifikansi (p = 0,411), yang menandakan hubungan positif sangat lemah dan tidak bermakna secara statistik antara kadar asam urat dan kreatinin. Hasil ini menunjukkan bahwa pada kelompok usia produktif, peningkatan kadar asam urat tidak selalu disertai dengan peningkatan kadar kreatinin. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat korelasi yang bermakna antara kadar asam urat dan kreatinin pada usia produktif dalam penelitian ini.
HUBUNGAN USIA, KADAR KOLESTEROL, DAN BENIGN PROSTATIC HYPERPLASIA PADA USIA 31–80 TAHUN Zayanda Fitri; Kurniasari Kurniasari
Jurnal Akta Trimedika Vol. 3 No. 3 (2026): Juli 2026
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25105/aktatrimedika.v3i3.26441

Abstract

Benign Prostatic Hyperplasia (BPH) is a disease that can affect men starting at age 30. In Indonesia, the incidence of this disease remains quite high. BPH impacts the quality of life of sufferers. Age and dyslipidemia are two factors that play a role in the occurrence of BPH. The purpose of this study was to analyze the relationship between age, total cholesterol, LDL cholesterol, HDL cholesterol, and the incidence of BPH. This study used a cross-sectional approach. A total of 68 male patients aged 31-80 who visited the Urology Polyclinic at a private hospital in West Jakarta between November and December 2023 were included in this study. Patients with prostate cancer or a family history of BPH were excluded from this study. Data on BPH diagnosis were collected from medical records, while total cholesterol, HDL cholesterol, and LDL cholesterol levels were measured using a cholesterol meter. All collected data were analyzed using the Chi-square test and Fisher's Exact test. The results of the analysis showed a relationship between age and the incidence of BPH (p=0.000), but a relationship between total cholesterol levels (p=0.415), LDL cholesterol levels (p=0.790), and HDL cholesterol (p=0.914) and the incidence of BPH was not found. The incidence of BPH is related to age, but cholesterol levels do not play a direct role in this incidence.
HUBUNGAN INDEKS MASSA TUBUH DAN PENGETAHUAN TENTANG HYGIENE DENGAN INFEKSI SALURAN KEMIH PADA PEREMPUAN DEWASA Anya Sadira Adeline; Fransisca Chondro
Jurnal Akta Trimedika Vol. 3 No. 3 (2026): Juli 2026
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25105/aktatrimedika.v3i3.26520

Abstract

Infeksi Saluran Kemih (ISK) menempati urutan kedua penyakit infeksi yang paling banyak terjadi di dunia. Prevalensi ISK lebih tinggi pada perempuan dibandingkan laki-laki. Terdapat beberapa faktor-faktor resiko untuk ISK seperti indeks massa tubuh (IMT) dan pengetahuan tentang hygiene. Masih terdapat perbedaan pada hasil penelitian pada indeks massa tubuh (IMT) dan pengetahuan tentang hygiene yang dapat menjadi faktor risiko penyebab ISK. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis hubungan indeks massa tubuh dan pengetahuan tentang hygiene dengan infeksi saluran kemih pada perempuan dewasa. Studi cross-sectional dengan sampel yaitu 95 orang anggota TPA Miftahul Jannah. Data primer berupa pengisian kuesioner gejala ISK, dan kuesioner pengetahuan tentang hygiene, serta pengukuran berat badan dan tinggi badan subjek. Data dianalisis menggunakan Chi-Square Test dengan batas kemaknaan statistic p
BAYI DENGAN ATRESIA PULMONAL, VERTICAL DUCT, SINGLE ATRIUM, DAN SINGLE VENTRICLE Tamara Ramadhan Suharto; Tri Yanti Rahayuningsih
Jurnal Akta Trimedika Vol. 3 No. 3 (2026): Juli 2026
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25105/aktatrimedika.v3i3.26584

Abstract

Latar belakang: Penyakit jantung bawaan sianotik kompleks dengan fisiologi single ventricle yaitu kondisi yang jarang dan berisiko tinggi pada bayi. Pada atresia pulmonal, aliran darah menuju paru dapat bergantung pada duktus arteriosus atau sumber aliran sistemik-pulmonal lainnya, yang dikenal sebagai duct-dependent pulmonary circulation. Kondisi ini penting dikenali karena penurunan aliran pulmonal dapat menyebabkan hipoksemia berat. Presentasi kasus: Seorang bayi perempuan berusia 3 bulan datang ke IGD RSUD dr. Chasbullah Abdulmadjid Kota Bekasi dengan keluhan tampak kebiruan terutama setelah menyusu. Saat datang, pasien tampak aktif dengan saturasi oksigen perifer 80% menggunakan suplementasi oksigen melalui kanula nasal 2 L/menit. Berat badan pasien 5,1 kg dan panjang badan 59 cm. Pada pemeriksaan fisik tampak sianosis pada dasar kuku , bibir dan lidah. Pemeriksaan laboratorium menunjukkan peningkatan kadar hemoglobin sebesar 16,5 g/dL, sedangkan foto toraks tampak corakan bronkovaskular paru menurun ( Oligemic Lung ), Apex paru terangkat. Ekokardiografi menunjukkan atresia pulmonal, single atrium, single ventricle, dan vertical duct berukuran 2,5 mm. Diskusi: Pemeriksaan ekokardiografi menunjukkan adanya vertical duct berukuran 2,5 mm berperan sebagai sumber utama aliran darah pulmonal pada pasien dengan atresia pulmonal. Temuan ini mendukung diagnosis duct-dependent pulmonary circulation. Peningkatan kadar hemoglobin kemungkinan merupakan respons kompensasi terhadap hipoksemia kronis akibat penyakit jantung bawaan sianotik kompleks. Mengingat pasien memiliki anatomi single ventricle, tata laksana definitif yang direncanakan prosedur Fontan dengan sebelumnya menjalani operasi bidirectional cavopulmonary shunt (BCPS) karena koreksi biventrikular umumnya tidak memungkinkan pada pasien dengan satu ventrikel fungsional. Kesimpulan: Sianosis setelah menyusu pada bayi perlu dicurigai sebagai manifestasi penyakit jantung bawaan sianotik kompleks, terutama bila disertai saturasi oksigen rendah yang menetap meskipun telah diberikan suplementasi oksigen. Ekokardiografi berperan penting dalam menentukan anatomi jantung, fisiologi sirkulasi, dan rencana tata laksana. Pada kasus ini, vertical duct menjadi sumber utama aliran darah pulmonal, dengan tata laksana definitif yang direncanakan prosedur Fontan dengan sebelumnya menjalani operasi bidirectional cavopulmonary shunt (BCPS) karena koreksi biventrikular umumnya tidak memungkinkan pada pasien dengan satu ventrikel fungsional.
STUDI KASUS HERNIA NUKLEUS PULPOSUS TORAKAL PADA PETUGAS PENGANTAR GALON AIR MINUM Audira Syafana Khadijah; Aurel Diffa Arpy; Ade Dwi Lestari
Jurnal Akta Trimedika Vol. 3 No. 3 (2026): Juli 2026
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25105/aktatrimedika.v3i3.26672

Abstract

Herniated Nucleus Pulposus (HNP) is a pathological condition characterized by protrusion of the nucleus pulposus through the annulus fibrosus, resulting in compression of adjacent neural structures and causing back pain and neurological deficits. In the occupational setting, HNP is frequently associated with physically demanding jobs involving repetitive manual handling of heavy loads. Drinking water gallon delivery workers are exposed to a high risk of HNP due to repetitive lifting of loads weighing approximately 19 kg. Non-ergonomic lifting techniques, including bending and twisting movements, increase mechanical stress on the intervertebral discs and may accelerate disc degeneration and herniation. This case report aims to describe the clinical presentation and diagnosis of occupational thoracic HNP in a drinking water gallon delivery worker, identify contributing occupational risk factors, and propose preventive and control measures from an occupational health perspective. The case involved a 44-year-old male drinking water gallon delivery worker diagnosed with thoracic HNP. Evaluation was conducted using the seven-step approach for diagnosing occupational diseases, including medical history taking, physical examination, and assessment of occupational and ergonomic exposures. The patient presented with bilateral lower back pain accompanied by weakness and inability to move both lower extremities. He routinely performed manual lifting of drinking water gallons without the use of assistive devices such as a trolley. Repetitive heavy lifting, improper lifting techniques, non-ergonomic working postures, prolonged working hours, and long-term occupational exposure were identified as the primary contributing factors. Based on the clinical and occupational evaluation, the condition was diagnosed as work-related thoracic HNP. Thoracic HNP in drinking water gallon delivery workers is strongly associated with ergonomic hazards, particularly repetitive manual lifting, prolonged exposure duration, and non-ergonomic working postures. Early diagnosis and appropriate management are essential to prevent disease progression and disability. The implementation of ergonomic interventions, use of assistive devices, and worker education are important preventive strategies.
PEMBERIAN NATRIUM BIKARBONAT SEBELUM HEMODIALISIS PADA PENDERITA GAGAL GINJAL KRONIK DENGAN PH LETAL M. Mahmudy Putra; Nur Hajriya Brahmi; Tandy Chintya Tanaji
Jurnal Akta Trimedika Vol. 3 No. 3 (2026): Juli 2026
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25105/aktatrimedika.v3i3.26676

Abstract

Kondisi pH letal merupakan keadaan gangguan asam basa yang mengancam jiwa. Pasien dengan gagal ginjal kronik terjadi penurunan eksresi H+, HCO3-, NH3 di tubulus proksimal, dan retensi asam organik. Rendahnya kadar bikarbonat tidak dapat menyeimbangkan dalam sistem keseimbangan asam basa (buffer system) yang berakibat pada penurunan pH darah. Selanjutnya terjadi hiperkalemia akibat perpindahkan kalium dari intrasel ke ekstrasel. Gangguan respirasi berupa nafas kusmaul, merupakan bentuk kompensasi dari asidosis metabolik. Laki-laki 59 tahun dengan keluhan sesak disertai dengan WOB, ronki, dan penurunan kesadaran. Pasien terdiagnosis asidosis metabolik, gagal nafas akibat edema paru akut, gagal ginjal kronik, hiperkalemia. Dilakukan intubasi dan ventilator mekanik, lalu diberikan terapi natrium bicarbonate, insulin, calcium glukonas, calcium polystyrene sulfonate, dan natrium zirconium siklosilikat. Setelah dua kali koreksi pasien sadar penuh dan dilanjutkan dengan hemodialisis inisiasi sebanyak tiga kali. Pasien dapat ekstubasi dan pindah ranap biasa. Terapi farmakologis yang tepat dan cepat dapat mencegah kematian sebelum terapi intervensi dilakukan.
LAPORAN KASUS: PSORIASIS VULGARIS YANG DITERAPI DENGAN LASER ULTRAVIOLET B EXCIMER Pinkan Putri Nabila; Hans Utama; Tiar Marina Octyvani
Jurnal Akta Trimedika Vol. 3 No. 3 (2026): Juli 2026
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25105/aktatrimedika.v3i3.26683

Abstract

A 40-year-old man with recurrent psoriasis vulgaris in the lumbosacral region and comorbid obesity. The patient had previously undergone systemic therapy with immunosuppressive drugs at another clinic; however, the psoriatic lesions recurred after treatment was discontinued. Dermatological examination revealed erythematous-hyperpigmented lesions sharply demarcated by a thick, silvery-white plaque. Phototherapy with a 308 nm excimer laser at a dose of 200 mJ/cm² or 1.3 MED—where the minimal erythema dose (MED) is 150 mJ/cm² was administered in three sessions with two-week intervals. Therapeutic efficacy was evaluated based on clinical examination results following the third procedure. There was a reduction in skin lesion thickness and infiltration compared to baseline parameters. This case demonstrates that 308 nm excimer laser therapy is an effective and relatively safe method for treating recurrent localized psoriasis vulgaris. Specifically, three treatment sessions resulted in clinical improvement of the condition.
PENGARUH LATIHAN FISIK TERHADAP GEJALA DEPRESI DAN KECEMASAN PADA ANAK DAN REMAJA: KAJIAN PUSTAKA Muhamad Syahreza Trihatmanto; Raevan Arya Nugraha; Mustika Anggiane Putri
Jurnal Akta Trimedika Vol. 3 No. 3 (2026): Juli 2026
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25105/aktatrimedika.v3i3.26737

Abstract

Latar belakang: gejala klinis depresi dan ansietas pada anak dan remaja merupakan isu kesehatan masyarakat yang berpotensi mengganggu pertumbuhan, perkembangan psikososial, serta kualitas hidup hingga usia dewasa. Seiring meningkatnya gaya hidup sedentari, latihan fisik dipandang sebagai pendekatan non farmakologis yang berprospek meningkatkan dan menjaga kesehatan mental. Penelitian ini bertujuan untuk menelaah hubungan antara latihan fisik teratur dengan gejala depresi dan ansietas pada anak dan remaja. Metode yang digunakan: literature review dengan menelaah artikel ilmiah yang relevan dari jurnal internasional yang membahas latihan fisik dan kesehatan mental pada populasi anak dan remaja. Artikel yang dianalisis meliputi studi observasional dan uji intervensi yang menilai dampak latihan fisik terhadap gejala depresi dan ansietas menggunakan instrumen terstandar. Hasil telaah: latihan fisik teratur, khususnya dengan intensitas ringan hingga sedang, berkaitan dengan penurunan gejala depresi yang relatif konsisten pada anak dan remaja, baik pada populasi umum maupun kelompok dengan gejala depresi ringan hingga sedang. Sebaliknya, pengaruh latihan fisik terhadap gejala ansietas menunjukkan hasil yang lebih bervariasi dan dipengaruhi oleh karakteristik individu, jenis latihan, serta konteks psikososial. Kesimpulan: literature review ini menunjukkan bahwa latihan fisik berperan sebagai intervensi pendukung yang aman dan potensial dalam upaya pencegahan dan penanganan depresi pada anak dan remaja, serta memiliki potensi manfaat tambahan terhadap regulasi ansietas meskipun dengan hasil yang lebih bervariasi, dengan manfaat terhadap kesehatan fisik dan kualitas hidup secara keseluruhan.
MORBILI 2026 APAKAH SUATU ENDEMI? SEBUAH LITERATUR REVIEW Meiriani Sari; Firda Fairuza; Dita Setiati; Nathalia Ningrum; Nia Nurul Azizah
Jurnal Akta Trimedika Vol. 3 No. 3 (2026): Juli 2026
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25105/aktatrimedika.v3i3.26808

Abstract

Morbili atau campak tetap menjadi salah satu penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin dengan daya tular sangat tinggi dan masih menimbulkan morbiditas serta mortalitas bermakna, terutama pada anak yang belum atau tidak lengkap imunisasinya. Program imunisasi global telah menurunkan angka kesakitan dan kematian Morbili secara nyata, tetapi periode pascapandemi COVID-19 diikuti oleh penurunan cakupan imunisasi, meluasnya immunity gap, dan munculnya outbreak berulang di berbagai kawasan. Tinjauan pustaka naratif ini bertujuan menggambarkan tren epidemiologi Morbili hingga tahun 2026 dan menilai apakah penyakit ini dapat dianggap kembali bersifat endemik.. Hasil kajian menunjukkan bahwa penularan Morbili pada 2023–2026 meningkat kembali karena cakupan imunisasi dua dosis belum optimal, kekebalan populasi tidak merata, mobilitas internasional tinggi, dan hesitansi vaksin masih ditemukan di banyak tempat. Di beberapa negara, transmisi berkepanjangan muncul lagi setelah eliminasi tercapai. Di wilayah lain, penularan endemik memang belum pernah terputus sepenuhnya. Di Indonesia, Morbili masih relevan secara epidemiologis dan peningkatan kasus terbaru berkaitan dengan imunisasi yang tidak lengkap serta ketimpangan cakupan antarwilayah. Pada tahun 2026, campak lebih tepat dipahami sebagai penyakit yang meningkat kembali dengan risiko kuat membentuk transmisi menetap di sebagian wilayah, bukan sebagai penyakit yang secara seragam kembali endemik di seluruh dunia.

Page 12 of 12 | Total Record : 119