cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
BAPALA
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Jurnal berkala ilmiah mahasiswa yang diterbitkan oleh Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Jur. Bahasa dan Sastra Indonesia, FBS, Unesa. Jurnal ini berisikan publikasi kependidikan, kesastraan, dan kebahasaan.
Arjuna Subject : -
Articles 369 Documents
DIKSI DAN GAYA BAHASA PEMBAWA BERITA REDAKSIANA TRANS7 DESTRIA PERMATASARI, HENDRYTA
BAPALA Vol 5, No 2 (2018)
Publisher : BAPALA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Sebuah informasi yang dapat diperoleh oleh masyarakat dapat dalam bentuk sebuah berita. Berita yang disajikan dapat melalui surat kabar, radio, televisi, maupun media online. Berita merupakan sebuah informasi tentang suatu kejadian atau peristiwa yang sedang terjadi dan terbaru yang masih hangat diperbincangkan oleh masyarakat. Pada penelitian ini peneliti lebih memilih menggunakan media informasi, yakni televisi yang mampu menghadirkan berita-berita terupdate dengan cepat dan yang tidak hanya mengahadirkan suara, tetapi juga menghadirkan video cuplikan pendek atau ilustrasi dari sebuah peristiwa yang sedang dibicarakan saat itu. Serta adanya musik sebagai hiburan yang lirik lagunya disesuaikan dengan berita yang sedang dibawakan guna mendukung informasi isi berita yang terkait tersebut. Sehingga peneliti memilih berita Redaksiana Trans7 sebagai objek penelitian yang digunakan. Berita Redaksianan ini mengandung sindiran yang membangun kepada masyarakat dari peristiwa-peristiwa yang disajikan tersebut. Hal tersebut menarik perhatian peneliti untuk mengkaji lebih lanjut dalam penggunaan diksi dan gaya bahasa yang dituturkan pembawa berita dalam acara Redaksiana Trans7 yang unik dan menarik kerena memiliki ciri khas tersendiri dalam setiap pembawaan beritanya. Dengan mengetahui tentang diksi dan gaya bahasa maka setiap orang dapat untuk memahami makna yang disampaikan dari setiap berita yang disajikan tersebut dengan mudah. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori Gorys Keraf tentang diksi dan gaya bahasa menyangkut sebuah makna bahasa. Serta teori Abdul Chaer tentang fungsi bahasa. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif berupa kata-kata atau kalimat yang terdapat dalam penyampaian berita oleh pembawa berita Redaksiana Trans7. Teknik yang digunakan dalam pengumpulan data yang dilakukan peneliti adalah dengan teknik simak bebas libat cakap dan teknik catat. Hasil dari penelitian ini berupa bentuk diksi yang dominan ditemukan dalam 10 berita Redaksiana adalah bentuk diksi umum. Untuk gaya bahasa yang sering digunakan adalah gaya bahasa retoris jenis gaya bahasa Erotesis dan gaya bahasa kiasan yang sering digunakan oleh pembawa berita Redaksiana Trans7 adalah gaya bahasa simile. Sedangkan untuk fungsi bahasanya yang dominan ditemukan adalah fungsi segi topik ujaran. Kata Kunci: Berita, Diksi, Gaya Bahasa, dan Fungsi Bahasa
IMPLIKATUR DALAM AKUN MEME POLITIK INDONESIA Fahmi Rosyidul Haq, Ahmad
BAPALA Vol 5, No 2 (2018)
Publisher : BAPALA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakPenelitian ini mengaji tentang implikatur dalam meme pada akun @memepolitikindonesia di instagram. Rumusan masalah pada penelitian adalah jenis implikatur meme dan fungsi meme. Teori yang digunakan untuk menganalisis masalah tersebut adalah teori implikatur dari Stephen C. Levinson dan teori fungsi bahasa dari Jakobson. Sumber data dalam penelitian ini terdapat sebanyak 44 meme dari akun @memepolitikindonesia. Metode dan teknik pengumpulan data yang digunakan adalah simak dengan teknik simak bebas libat cakap, catat, dan teknik dokumentasi. Metode dan teknik yang digunakan dalam tahap analisis data adalah metode padan dan teknik Hubung Banding Menyamakan hal pokok (HBSP). Hasil penelitian ini diuraikan sebagai berikut. Tuturan dalam meme ditemukan dalam dua jenis, yaitu tuturan meme yang berjenis implikatur umum dan tuturan meme yang berjenis implikatur khusus. Tuturan yang berjenis implikatur khusus lebih banyak ditemukan daripada tuturan yang berjenis implikatur umum. Hal ini sesuai dengan hakikat meme itu sendiri yang untuk menyatakan maksud dari suatu tuturan lebih bersifat tersirat dengan disertai gambar. Fungsi meme ditemukan empat fungsi, yaitu fungsi emotif, fungsi konatif, fungsi representatif, dan fungsi puitik. Secara teoretis fungsi meme seharusnya memiliki enam fungsi, yaitu empat fungsi di atas ditambah fungsi patik dan fungsi metalingual. Fungsi meme yang tidak ditemukan adalah fungsi fatik dan fungsi metalingual. Hal ini dikarenakan fungsi fatik dan fungsi metalingual tidak dapat digunakan dalam meme. Kata kunci: meme, implikatur, fungsi bahasa AbstractThis study reviews the implicatures in memes on the @memepolitikindonesia account on Instagram. The formulation of the problem in the study is the type of meme implicature and meme function. The theory used to analyze the problem is the implicature theory of Stephen C. Levinson and the language function theory of Jakobson.The data sources in this study are 44 memes from the account @emepolitikindonesia. The methods and techniques of data collection used are refer to the proficient, note-taking and documentation techniques. The methods and techniques used in the data analysis stage are the matching method and the Appeal Connecting technique to equalize the main thing (HBSP). The results of this study are described as follows. Speeches in memes are found in two types, namely utterances of memes of the type of general implicature and utterances of memes of a special type of implicature. Speeches of a special type of implicature are more commonly found than speeches which are types of general implicatures. This is in accordance with the nature of the meme itself to express the intent of a speech more implied with a picture. The meme function is found in four functions, namely emotive function, conative function, representative function, and poetic function. Theoretically the meme function should have six functions, namely the four functions above plus the patik function and the metalingual function. The function of memes that are not found is fatigue and metalingual function. This is because the fatigue function and the metalingual function cannot be used in memes. Keywords : meme, implicature, language function
REGISTER PENGGUNA GAME ONLINE MOBILE LEGEND DI WARUNG KOPI DAERAH LIDAH WETAN SURABAYA KHOLIFAH MAY SARI, NURUL
BAPALA Vol 5, No 2 (2018)
Publisher : BAPALA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Register merupakan daftar bahasa, atau dapat diartikan sebagai rgam bahasa sosial yang digunakan oleh masyarakat tertentu. Dalam penelitian, register pemain game online mobile legend dibatasi pada ciri leksiko-gramatis, yaitu abreviasi, kata makian, kata serapan, kosa kata asing. Sehingga, penelitian ini mendeskripsikan (1) register abreviasi pemain game online mobile legend, (2) register kata makian pemain game online mobile legend, (3) register kata serapan dan kosa kata asing pemain game online mobile legend, dan (4) konteks pemakaian register pemain game online mobile legend. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif karena merupakan penelitian yang penyediaan datanya berhubungan dengan analisis data. Metode pengumpulan data yang digunakan yaitu metode simak, teknik sadap dan rekam, dengan isntrumen human instrumen atau peneliti sendiri. Metode analisis data yang digunakan yaitu deskriptif kualitatif, teknik domain, dan isntruumen berupa tabel klasifikasi. Hasil penelitian dan pembahasan penelitian ini ialah, terdapat abreviasi berbentuk singkatan, akronim, penggalan, dan kontraksi dalam register pemain game online mobile legend sebagai bentuk kebiasaan masyarakat menyukai bahasa yang lebih singkat. Terdapat kata makian berbentuk kata, frasa, dan klausa dalam register pemain game online mobile legend sebagai anggapan bahwa memaki merupakan simbol keakraban. Terdapat kata serapan utuh, sebagian, dan kosa kata asing dalam register pemain game online mobile legend, sebab pemain menirukan suara latar yang ada dalam aplikasi permainan. Terdapat 12 konteks pemakaian dalam register pemain game online mobile legend sesuai dengan leksikal pada saat seperti apa pemain mengucap kata tersebut. Kata Kunci :Register, abreviasi, kata makian, kata serapan, kosa kata asing, dan konteks pemakaian. Abstract Register are list of languages, or can be interpreted as social language codes used by certain societies. In research, the register of mobile legend players is limited to lexicogrammatic features, namely abreviation, invective words, absorption, words, foreign vocabulary. Thus, this study describes (1) abreviations register of mobile legend players, (2) invective words register of mobile legend players, (3) registering absorption words and foreign vocabulary of mobile legend online game players, and (4) usage context register of legendary online game players. This study uses a description qualitative method which provides data related to data analysis. The technique of collecting data is using listening method, tapping and recording techniques, with human instrumen , or the researcher themselves. The data analysis method used is descriptive qualitative, domain tecnique, and instrument in the from of a classification table. The result and discussion of this analysis are, there ar abreviations in the form of abreviations, acronyms, fragments, and contractions in the register of mobile legend players because our habits like shorter languages. There are invective word in the form of word, phrase, and clause in the register of mobile legend players because players assume that crusing is a familliarty. There are complete, partial, and foreign vocabulary absorption words in the mobile legend game palyer register, because player mimicing background sounds in the aplication of the game. There are tweleve contexts usage in the register of mobile legend player according to lexical at what time the player would say the word. Key words : Register, abreviations, invective words, absorption words, foreign vocabulary, and use context register.
CAMPUR KODE TUTURAN GURU-SISWA DALAM PEMBELAJARAN BAHASA MANDARIN SMAN 1 CERME GRESIK CHUSNUL CHOTIMAH, BINTI
BAPALA Vol 5, No 2 (2018)
Publisher : BAPALA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bahasa adalah sistem lambang bunyi yang arbriter digunakan suatu masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasi diri. Salah satu wujud nyata dari bahasa adalah serangkaian bunyi bermakna yang diucapkan oleh pemakai bahasa pada saat berbicara. Bahasa dalam bentuk ini dapat diamati dan dianalisis oleh pemakaiannya. Dalam setiap komunikasi interaksi, manusia saling menyampaikan informasi, baik berupa gagasan, maksud, pikiran, perasaan, maupun emosi secara langsung. Hubungannya dengan peristiwa tutur adalah berlangsungnya atau terjadinya interaksi dalam suatu ujaran atau lebih yang melibatkan dua pihak, yakni penutur dan mitra tutur dengan satu pokok tuturan dalam waktu, tempat, dan situasi tertentu. Pemakaian dua bahasa atau lebih dengan variasi dalam bahasa yang dapat mencampurkan beberapa bahasa yang bertujuan untuk fungsi tertentu agar masyarakat memahami tuturan yang telah diucapkan oleh penutur dengan kesantaiannya disebut campur kode. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu tuturan guru-siswa dalam pembellajaran bahasa Mandarin. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu teknik simak bebas libat cakap. Sementara itu, analisis data dalam penelitian ini menggunakan teknik catat.
JARGON YANG DIGUNAKAN OLEH SUPORTER PERSEBAYA PURITA AFRIANTI, PUNGKI
BAPALA Vol 5, No 2 (2018)
Publisher : BAPALA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Salah satu jenis atau hasil dari proses variasi bahasa adalah Jargon. Jargon sendiri merupakan kosakata khusus yang digunakan dalam bidang kehidupan (lingkungan) tertentu. Jargon sering kali digunakan pada komunitas atau kelompok ?kelompok tertentu. Jargon ini bersifat khusus namun masih dapat dipahami oleh masyarakat umum tidak bersifat rahasia. Suporter Persebaya atau yang disebut Bonek mania tentu saja mempunyai berbagai macam jargon yang menjadi ciri khas atau menjadi sebuah sebutan yang sudah tidak asing lagi di telinga sesama Bonek. Bisa jargon yang muncul secara sengaja maupun karena ketidak sengajaan muncul begitu saja atas respon suatu keadaan di lingkungan Bonek. Dalam penelitian ini mempunyai tujuan menghasilkan deskripsi. Bagaimana bentuk dan jenis variasi jargon yang ada di kalangan Bonek, Makna jargon di kalangan Bonek, serta mengetahui Fungsi jargon Bonek yang dominan. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif, Penelitian deskriptif ini akan mendeskripsikan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai faktor-faktor suatau objek. data yang dideskripsikan memaluli metode penganalisisan data penelitian ini adalah metode padan dan metode Agih. Metode padan adalah metode yang dipakai untuk mengkaji atau menentukan identitas satuan lingual penentu dengan memakai alat penentu berada di luar bahasa, terlepas dari bahasa, dan tidak menjadi bagian dari bahasa yang bersangkutan, seperti memperhatikan organ atau alat ucap pembentuk bunyi bahasa Sudaryanto,2015:13?14 ). Kata Kunci: Bonek, Jargon, Makna, Fungsi.
KEKUASAAN DALAM NOVEL SEPOHON KAYU DI TENGAH GURUN KARYA HARRY D MOHAN (KAJIAN HEGEMONI ANTONIO GRAMSCI) AMALIYAH, NABILAH
BAPALA Vol 5, No 2 (2018)
Publisher : BAPALA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK KEKUASAAN DALAM NOVEL SEPOHON KAYU DI TENGAH GURUN KARYA HARRY D MOHAN (KAJIAN HEGEMONI ANTONIO GRAMSCI)Kata kunci: Hegemoni, Antonio Gramsci, Konsensus, Kebudayaan, kaum intelektual, negara, novel Sepohon Kayu di Tengah Gurun. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana hegemoni yang terjadi dalam novel Sepohon Kayu di Tengah Gurun karya Harry D Mohan. Menggunakan teori Hegemoni Antonio Gramsci dan mendeskripsikan tentang; a) Hegemoni kebudayaan dalam novel Sepohon Kayu di Tengah Gurun karya Harry D Mohan, b) Peran kaum intelektual dalam novel Sepohon Kayu di Tengah Gurun karya Harry D Mohan, c) Peran negara dalam novel Sepohon Kayu di Tengah Gurun karya Harry D Mohan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif karena penelitian ini berupa menafsirkan karya sastra novel dan data yang diperoleh adalah pemaparan tentang bukti-bukti dari hasil analisis novel Sepohon Kayu di Tengah Gurun karya Harry D Mohan menggunakan teori hegemoni dalam bentuk deskripsi. Dapat disimpulkan hasil dari penelitian ini adalah 1) mekanisme konsensus yang terdapat dalam novel Sepohon Kayu di Tengah Gurun dibentuk oleh penguasa kepada tokoh yang dikuasai, dalam novel kesepakatan yang dibuat oleh penguasa disepakati oleh yang dikuasai sehingga terdapat konsensus. 2) Peristiwa hegemoni kebudayaan yang terdapat dalam novel Sepohon Kayu di Tengah Gurun karya Harry D Mohan meliputi hegemoni budaya berdasarkan kepercayaan masyarakat Jawa. Kebudayaan menjadi kekuatan material bagi masyarakat khusus yang berhasil dilakukan, 3) Peran kaum intelektual yang terdapat dalam novel Sepohon Kayu di Tengah Gurun karya Harry D Mohan dari terdapatnya supremasi kepala sekolah, lembaga sosial atau sekolah. Juga peran guru senior terhadap guru junior yang berhasil dilakukan oleh kaum intelektual, 4) Peran negara dalam novel Sepohon Kayu di Tengah Gurun karya Harry D Mohan terdapat wilayah dari masyarakat sipil, terdapat organisasi dalam formasi sosial yang tidak merupakan didanai oleh negara dan produksi material. ABSTRACT POWER IN THE NOVEL SEPOHON WOOD IN THE MIDDLE WORK OF HARRY D MOHANS WORKS (STUDY OF HEGEMONI ANTONIO GRAMSCI)Keywords: Hegemony, Antonio Gramsci, Consensus, culture, intellectuals, countries, Sepohon Kayu di Tengah Gurun?s novel This study aims to find out how the hegemony that occurred in the novel Sepohon Kayu in Tengah Gurun by Harry D Mohan. Using Antonio Gramscis theory of hegemony and describing about; a)Consensus in the Sepohon Kayu di Tengah Gurun?s novel by Harry D Mohan b) Cultural hegemony in the Sepohon Kayu di Tengah Gurun?s novel by Harry D Mohan, c) The role of intellectuals in the Sepohon Kayu di Tengah Gurun?s novel by Harry D Mohan, d) The role of the state in the Sepohon Kayu di Tengah Gurun?s novel by Harry D Mohan. This research uses descriptive qualitative method because this research is in the form of interpreting novel literature and the data obtained is the presentation of the evidence from the analysis of the Sepohon Kayu di Tengah Gurun?s novel by Harry D Mohan using the theory of hegemony in the form of description. It can be concluded that the results of this study are 1)the consensus mechanism contained in the Sepohon Kayu di Tengah Gurun?s novel by Harry D Mohan was fromed by the ruler to the mastered figure, in the novel the agreement made by the ruler was agreed upon by the masters so that there as consensus. 2)The cultural hegemony events in the Sepohon Kayu di Tengah Gurun?s novel by Harry D Mohan include cultural hegemony based on Javanese peoples beliefs. Culture became a material force for the special community that was successfully carried out, 3) The role of intellectuals in the Sepohon Kayu di Tengah Gurun?s novel by Harry D Mohan from the supremacy of the principal, social institution or school. Also the role of senior teachers towards junior teachers is successfully carried out by intellectuals, 4) The role of the state in the Sepohon Kayu di Tengah Gurun?s novel by Harry D Mohan is a region of civil society, there are organizations in social formation that are not funded by the state and production material.
DEIKSIS DALAM RUBRIK "WAWANCARA" PADA MAJALAH AULA EDISI JANUARI-DESEMBER 2018 KHOLIDAH, NURUL
BAPALA Vol 5, No 2 (2018)
Publisher : BAPALA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Deiksis merupakan penunjukan secara langsung sesuatu dalam peristiwa berbahasa dan memiliki referen yang berubah-ubah. Pada penelitian ini difokuskan pada tiga jenis deiksis, yakni deiksis persona, sosial, dan wacana. Objek dari penelitian ini ialah rubrik ?Wawancara? pada majalah AULA edisi Januari-Desember 2018. Objek tersebut dianggap memiliki deiksis yang cukup beragam, sehingga penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan 1) penggunaan deiksis persona dalam rubrik ?Wawancara? pada majalah AULA, 2) penggunaan deiksis sosial dalam rubrik ?Wawancara? pada majalah AULA, 3) penggunaan deiksis wacana dalam rubrik ?Wawancara? pada majalah AULA. Metode pengumpulan data yang digunakan ialah metode dokumentasi. Teknik pengumpulan data yang digunakan ialah teknik baca dan catat. Metode penganalisisan yang digunakan ialah metode padan, sedangkan teknik yang digunakan ialah teknik pilah unsur penentu (PUP). Hasil yang didapatkan pada penelitian ini ialah sebagai berikut. 1) Penggunaan deksis persona ditemukan tiga macam yakni deiksis persona pertama dalam bentuk tunggal (?saya?) dan jamak (?kami? dan ?kita?), deiksis persona kedua dalam bentuk tunggal (?kamu?, ?anda?, dan ?engkau?) dan jamak (?kalian?), deiksis persona ketiga dalam bentuk tunggal (?dia?, ?ia?, dan ?beliau?) dan jamak (?mereka?). Faktor yang mempengaruhi penggunaan deiksis tersebut ialah faktor status sosial dan usia. 2) Penggunaan deiksis sosial ditemukan cukup beragam yang secara umum sesuai dengan fungsinya (?kiai?, ?syekh?, ?gus?, dan sebagainya). Status sosial ialah faktor yang paling berpengaruh dalam penggunaan deiksis sosial, selain itu juga ada faktor usia. 3) Penggunaan deiksis wacana ditemukan dalam lima bentuk. Tiga dari bentuk deiksis wacana tersebut termasuk dalam katafora (?begitu?, ?demikian?, dan ?tersebut?), sedangkan dua dari bentuk wacana tersebut termasuk dalam anafora (?begini? dan ?berikut?). Faktor yang mempengaruhi penggunaan deiksis wacana ialah letak acuan yang dituju oleh deiksis itu sendiri. Kata Kunci: deiksis persona, deiksis sosial, dan deiksis wacana. Abstract Deixis is the direct appointment of something in a language event and has a changing referent. In this study focused on three types of deixis, namely personal, social, and discourse deixis. The object of this research is the "Wawancara" rubric in the AULA magazine edition January-December 2018. The object is considered to have quite diverse deviations, so this research aims to describe 1) the use of person deixis in the "Wawancara" rubric in AULA magazine, 2) the use of social deixis in the "Interview" rubric of AULA magazine, 3) the use of deixis discourse in the "Wawancara" rubric in AULA magazine. Method of data collection used is a method of documentation. Data collection techniques used are reading and writing techniques. The analysis method used is the matching method, whereas the technique used is the determining element (PUP). The results obtained in this study are as follows. 1) The use of personel dexis was found to be three types namely the first person deixis in the singular (saya) and plural (kami and kita), the second person deixis in the singular ( kamu, anda, and engkau/?kau?) and plural (kalian), the third deixis in the singular (dia, ia, and beliau) and plural (mereka). Factors affecting the use of such deixis are social and age status factors. 2) The use of social deixis was found to be quite diverse which generally corresponds to the function (?kiai?, ?syekh?, ?gus?, and etc). Status social is the most influential in the use of social deixis, in addition there is also age factor. 3) The use of deixis discourse found in five forms. The three of the form of the deixis discourse are included in the katafora (begitu, demikian and tersebut), while the two are the other forms included in the anafora (begini and berikut). Factors affecting the use of discourse deixis are the references of the deixis itself. Keywords: personal deixis, social deixis, and discourse deixis.
KEETISAN KELOMPOK ANAK DALAN NOVEL ANAK SERI KECIL-KECIL PUNYA KARYA (KKPK) (PERSPEKTIF KARAKTER JOHN GARMO) ANDREAN PRAKESTAWASTI, VERONICA
BAPALA Vol 5, No 2 (2018)
Publisher : BAPALA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian sastra anak menggunakan sumber data berupa empat novel anak seri Kecil-Kecil Punya Karya (KKPK). Empat novel tersebut berjudul Ambilkan Bulan, The Five Smart Girls, Say No to Bullying, dan The Evergreen. Novel anak tersebut menunjukkan tindakan tokoh anak yang selalu membantu teman dan mengutamakan temannya. Dilihat dari tindakan tokoh tersebut menunjukkan bahwa anak berkarakter. Tindakan perilaku etis sekolompok anak dalam novel menunjukkan perilaku yang sesuai dengan nilai karakter. Nilai-nilai dalam cerita novel dapat diinternalisasinya sebagai pengembangan karakter bagi anak. Sastra anak diciptakan dengan tujuan untuk menginternalisasikan nilai-nilai moral untuk membentuk karakter anak. diteliti dengan teori sistem. Teori sastra anak ini bukan hanya melihat sastra dari tingkat teks itu sendiri, melainkan tindakan otoritas sosial terhadap teks yang cocok untuk anak-anak. Oleh karenanya pembuatan sastra anak digunakan sebagai media untuk menginternalisasi nilai moral untuk membentuk karakter anak. Karakter tersebut menurut John Garmo ada lima, yaiti kesetiaan, keberanian, kerendahan hati, kebaikkan, dan bersyukur bersyukur. Hasil penelitian ini memamaparkan berbagai tindakan anak yang berkarakter sesuai dengan nilai moral. Karkater tersebut yaitu kesetiaan, keberanian, kerendahan hati, kebaikkan, dan bersyukur. Data hasil analisis menunjukkan bahwa, terdapat enam data kesetiaan, tujuh daya keberanian, enam data kerendahan hati, dua belas data kebaikaan, dan dua data bersyukur. Data tersebut menunjukkan analisis terhadap empat novel anak seri Kecil-Kecil Punya Karya (KKPK).
FITUR-FITUR DISTINGTIF PELAFALAN BUNYI BAHASA INDONESIA OLEH YOUTUBER JEPANG (STUDI KASUS: GENKI) , EFENDI
BAPALA Vol 5, No 2 (2018)
Publisher : BAPALA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sebagai negara pengakses internet terbanyak nomor lima di dunia, Indonesia sering dijadikan pangsa pasar oleh pengguna media sosial untuk menghasilkan pundi-pundi materi. Salah satunya adalah lewat media sosial Youtube. Pembuat konten (Youtuber), baik dari dalam maupun luar negeri, saling berlomba dalam membuat konten agar dapat menarik minat netizen di Indonesia. Salah satu Youtuber luar negeri yang melakukan hal tersebut ialah Genki. Genki merupakan seorang public figure dari Jepang yang tinggal di Indonesia. Dalam konten yang dibuat terjadi sebuah fenomena campur kode. Dikatakan demikian karena Genki melafalkan dua bahasa secara bersamaan, yaitu bahasa Indonesia dan bahasa Jepang. Jika diperbandingkan, bahasa Indonesia yang sering digunakan dalam berdialog. Meski tergolong lancar, namun beberapa kali dijumpai perbedaan bunyi dalam bahasa yang dilafalkan.Skripsi yang berjudul Fitur-fitur Distingtif Pelafalan Bunyi Bahasa Indonesia oleh Youtuber Jepang (Studi Kasus: Genki) ini berusaha untuk membedah perbedaan apa saja yang ditemukan dalam pelafalan bahasa Indonesia oleh Genki. Dari penelitian yang sudah dilakukan, perbedaan dibedakan atas tiga jenis, yaitu: (1) perubahan ciri distingtif (bunyi [ u ] menjadi [ ? ], [ ? ] menjadi [ ? ], dan [ ? ] menjadi [ I ], bunyi [ l ] menjadi [ ? ], [ r ] menjadi [ ? ], [ s ] menjadi [ t?s ], dan [ n ] menjadi [ ? ]); (2) pelesapan segmen bunyi (pelesapan bunyi [ ? ], bunyi [ n ], bunyi [ ? ], serta bunyi sertaan [ m ]); dan (3) penambahan segmen bunyi (bunyi [ g ], [ o ], [ ? ], [ I ], dan [ ? ]).Beberapa perbedaan di atas ditemukan di beberapa kondisi. Dalam penelitian ini, perbedaan akan dijelaskan dengan merujuk pada fitur-fitur distingtif yang dimiliki oleh bunyi. Penjabaran fitur-fitur distingtif tersebut nantinya akan berlanjut pada penjelasan perbedaan kondisi antara organ wicara Genki dengan pelafal asli bahasa Indonesia. Tahap selanjutnya perbedaan tersebut akan ditulis dalam bentuk kaidah atau rumus fonologis sesuai dengan prinsip aliran Fonologi Generatif.
IMPLIKATUR DAN PRAANGGAPAN DALAM ACARA WAKTU INDONESIA BERCANDA DI NET TV EPISODE TOURNAMENT APRIL 2018 MAULIDYNA RIYANTO, PUTRI
BAPALA Vol 5, No 2 (2018)
Publisher : BAPALA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKIMPLIKATUR DAN PRAANGGAPAN DALAM ACARA WAKTU INDONESIA BERCANDA DI NET TV EPISODE TOURNAMENT APRIL 2018Nama : Putri Maulidyna RiyantoNIM : 15020074094Program Studi : Pendidikan Bahasa IndonesiaJurusan : Bahasa dan Sastra IndonesiaFakultas : Bahasa dan SeniNama Lembaga : Universitas Negeri SurabayaPembimbing : Dr. Maria Mintowati, M.PdKata Kunci : Tuturan, Implikatur, Praanggapan, HumorTuturan adalah bentuk komunikasi lisan yang diujarkan si penutur kepada mitra tutur untuk menyampaikan sebuah maksud. Tuturan berperan penting dalam membangun komunikasi yang baik dan lancar. Adanya persamaan latar belakang pengetahuan serta pemahaman konteks tuturan antara si penutur dan mitra tutur, merupakan kunci utama dalam berkomunikasi. Komunikasi yang terjalin antara si penutur dan mitra tutur dalam kehidupan sehari-hari dapat memunculkan implikatur dan praanggapan. Begitu pula dalam tuturan dalam acara televisi, pasti ada implikatur dan praanggapan yang muncul. Salah satu acara yang memiliki tuturan berimplikatur dan berpraanggapan adalah Waktu Indonesia Bercanda di Net TV. Penelitian Pragmatik dengan kajian implikatur dan praanggapan ini, dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif. Sumber data yang digunakan adalah tuturan para pemain Waktu Indonesia Bercanda, dengan datanya berupa tuturan yang mengandung implikatur dan praanggapan. Metode dokumentasi dan metode simak dengan teknik SBLC serta teknik catat, digunakan untuk mengumpulkan data penelitian. Peneliti sebagai instrumen utama, menggunakan instrumen bantu berupa tabel untuk mempermudah penelitian yang dilakukan. Tahapan selanjutnya dalam menganalisis data penelitian, digunakan metode padan ekstralingual dengan teknik hubung banding membedakan (HBB).Dari penelitian ini ditemukan beberapa jenis implikatur dan praanggapan serta makna tuturan berdasarkan jenis dan konteks tuturannya dalam acara WIB. Jenis implikatur yang paling banyak ditemukan dalam acara WIB episode tournament yakni Implikatur Percakapan (IP) menegaskan yang memiliki makna untuk memberikan penekanan terhadap maksud yang ingin disampaikan di penutur kepada mitra tutur. Sedangkan jenis praanggapan yang paling dominan yakni Praanggapan Leksikal (PL) yang bermakna memberikan makna lain dari tuturan yang diucapakan oleh si penutur.