cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Inspirasi Manajemen Pendidikan
  • inspirasi-manajemen-pendidikan
  • Website
ISSN : -     EISSN : 22528253     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 381 Documents
PENGARUH KEGIATAN EKSTRAKULIKULER TERHADAP PRESTASI SISWA DI SEKOLAH MENENGAH ATAS NEGERI 9 SURABAYA TISTHAMALA Y, YOLANDA
Inspirasi Manajemen Pendidikan Vol 5, No 1 (2017): Inspirasi Manajemen Pendidikan
Publisher : Inspirasi Manajemen Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adakah korelasi positif antara kegiatan ekstrakulikuler dengan prestasi siswa. Objek penelitian ini adalah Sekolah Menengah Atas Negeri 9 Surabaya. Pada penelitian ini menggunakan metode yaitu uji validitas, uji reabilitas dan korelasi. Untuk menjawab hasil dari hipotesis dari penelitian ini “apakah kegiatan ekstrakulikuler ini berpengaruh terhadap prestasi siswa.Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan yang positif antara kegiatan ekstrakulikuler dengan prestasi siswa. Pada uji validitas menunjukkan hasil kurang dari 0,50 pada 20 item yang artinya valid pada semua pernyataan. Sedangkan hasil uji reabilitas menunjukkan sebesar  16,2> 0,695 hal ini dapat dinyatakan reliable untuk dipakai dalam penelitian. Pengaruh antara kegiatan Ekstrakulikuler dengan prestasi siswa di SMA N 9 Surabaya sangat berpengaruh. Maka hipotesis (Ha) diterima dengan pernyataan kegiatan ekstrakulikuler berkorelasi positif dengan prestasi siswa, artinya semakin baik ikut berpartisipasi kegiatan ekstrakulikuler maka semakin tinggi prestasi siswa. Kata kunci: Kegiatan Ekstrakulikuler, Prestasi siswa     ABSTRACT This study aims to determine whether there is a positive correlation between extracurricular activities with student achievement. The object of this research is State Senior High School 9 Surabaya.In this study using the method of validity test, reliability and correlation test. To answer the results of the hypothesis of this study "whether this extracurricular activity has an effect on student achievement.The results showed that there is a positive relationship between extracurricular activities with student achievement. In the validity test shows less than 0.50 results on 20 items which means valid on all statements. While the results of reliability tests showed that 16.2> 0.695 this can be declared reliable for use in research. The influence of extracurricular activities with student achievement in SMA N 9 Surabaya is very influential. Hence the hypothesis (Ha) is accepted with statement of extracurricular activity correlated positively with student achievement, it means the better participate in extracurricular activity hence the higher of student achievement.   Keywords: Extracurricular Activities, Student Achievement
MANAJEMEN HUBUNGAN MASYARAKAT  DALAM MENINGKATKAN CITRA SEKOLAH DI SMK MUHAMMADIYAH 1 PRAMBON NGANJUK Ansorudin Zuhri, Muhamad
Inspirasi Manajemen Pendidikan Vol 5, No 1 (2017): Inspirasi Manajemen Pendidikan
Publisher : Inspirasi Manajemen Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

MANAJEMEN HUBUNGAN MASYARAKAT  DALAM MENINGKATKAN CITRA SEKOLAH DI SMK MUHAMMADIYAH 1 PRAMBON NGANJUK   Muhammad Ansorudin Zuhri 10010714209 (Manajemen Pendidikan, FIP, UNESA, g-mail:zuhrikribo@gmail.com)   Nunuk Hariyati S.Pd, M.Pd (Manajemen Pendidikan, FIP, UNESA,e-mail: nunukhariyati@unesa.ac.id)             ABSTRAK Sebagai institusi pendidikan, sekolah membutuhkan kepercayaan dari masyarakat untuk mencapai tujuan pendidikan mereka. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui implementasi kehumasan dalam rangka meningkatkan citra positif sekolah di SMK Muhammadiyah 1 Prambon Nganjuk. Jenis penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Pengumpulan data menggunakan metode wawancara, observasi, dan dokumentasi. Subyek penelitian Kepala Sekolah,  Wakasek Kehumasan serta warga sekitar sekolah. Data yang terkumpul kemudian dianalisis melalui reduksi data, penyajian data, dan menarik kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa implementasi humas dalam meningkatkan citra positif sekolah di SMK Muhammadiyah 1 Prambon Nganjuk dilaksanakan sesuai prosedur yang ditetapkan, akan tetapi dalam pelaksanaannya belum dapat dilakukan secara terstruktur. Hal ini dapat di lihat dari beberapa peran humas yaitu : peran humas sebagai komunikator, peran humas sebagai pembina hubungan, dan peran humas sebagai pembentuk citra (corporate image). Media humas yang digunakan SMK Muhammadiyah 1 Prambon Nganjuk masih dalam bentuk kalimat yang sifatnya informatif saja dan belum adanya unsur persuasif yang terdapat pada brosur SMK Muhammadiyah 1 Prambon Nganjuk. Kemudian kendala yang dihadapi humas dalam rangka meningkatkan citra sekolah SMK Muhammadiyah 1 Prambon Nganjuk yaitu : 1 )Humas belum berfungsi secara maksimal karena pengurus humas mempunyai fungsi ganda yaitu merangkap sebagai guru mata pelajaran, 2) Keterbatasan waktu yang dimiliki pengurus humas yang kadang tidak dapat melayani publik eksternal secara maksimal, 3) ketidakpuasan publik internal dengan hasil kerja humas. . Kesimpulan dari penelitian ini adalah humas yang belum berfungsi dengan baik karena pengurus humas mempunyai fungsi ganda yaitu merangkap sebagai guru mata pelajaran. Untuk mengatasi kendala tersebut dilakukan pembuatan agenda pada setiap pengurus humas agar pengurus humas dapat menjalankan dengan baik tugas sebagai humas dan peran sebagai guru. Kata Kunci : Manajemen hubungan masyarakat, Citra sekolah   MANAGEMENT OF PUBLIC RELATIONS IN IMPROVING SCHOOL IMAGERY AT SMK MUHAMMADIYAH 1 PRAMBON NGANJUK   Muhammad Ansorudin Zuhri 10010714209 (Manajemen Pendidikan, FIP, UNESA, g-mail:zuhrikribo@gmail.com)   Nunuk Hariyati S.Pd, M.Pd (Manajemen Pendidikan, FIP, UNESA,e-mail: nunukhariyati@unesa.ac.id)           ABSTRACT Educational institution need the trust of the community to achieve their educational goals. The main purpose of this research are determine the implementation of public relations in order to improve the positive image of school in SMK Muhammadiyah 1 Prambon Nganjuk. This type of research is descriptive qualitative research. Data collection using interview method, observation, and documentation. The research subjects Head of School, vice principal and residents around the school. The collected data is then analyzed by data reduction, data presentation, and conclusion. The results of this research indicate that the implementation of public relations in improving the positive image of school in SMK Muhammadiyah 1 Prambon Nganjuk implemented  according to established procedures, but in its implementation can not be done in a structured. This can be seen from several public relations roles are: public relations role as a communicator, public relations role as a Builder relationships, and the role of public relations as image formers (corporate image). Public relations media used SMK Muhammadiyah 1 Prambon Nganjuk still in the form of sentences that are informative only and there is no persuasive element contained in the SMK Muhammadiyah 1 Prambon Nganjuk brochure. Then the obstacles faced by public relations in order to improve the image of SMK Muhammadiyah 1 Prambon Nganjuk school are : ( 1 ) Public relations has not functioned optimally because the public relations manager has a double function  that  as a teacher, ( 2 ) The limited time by public relations managers who sometimes can not serve the external public maximally, ( 3 ) The interal public dissatisfaction with the work of  public relations This is a public relations that has not functioned well because the public relations manager has a double function that doubles as a subject teacher.To overcome these obstacles is done making the agenda on every public relations manager so public relations managers can run well the job as public relations and the role of teacher. Keywords: Public relations management,  School image   PENDAHULUAN Pendidikan merupakan bagian penting dari kehidupan yang sekaligus  memberikan perbedaan antara manusia dengan makhluk hidup lainnya. Pada hakikatnya pendidikan alah suatu usaha manusia untuk meningkatkan ilmu pengetahuan yang didapat dari lembaga formal maupun non formal. Pendidikan juga merupakan tanggungjawab bersama antara pemerintah, orangtua, dan masyarakat. Sebagaimana dalam permendiknas no. 19 tahun 2007 tentang standar pengelolaan satuan pendidikan dasar dan menengah disebutkan pada poin pelaksanaan rencana kerja yang di dalamnya tentang peran serta masyarakat dan kemitraan sekolah, sekolah/madrasah melibatkan warga dan masyarakat pendukung sekolah dalam mengelola pendidikan, warga skolah,madrasah dilibatkan dalam pengelolaan akademik, masyarakat pendukung sekolah/madrasah dan masyarakat  dalam pengelolaan dibatasi pada sebuah kegiatan tertentu yang telah ditetapkan, setiap sekolah/madrasah menjalin kemitraan dengan lembagalain yang relevan, berkaitan dengan input,proses,output dan pemanfaatan lulusan. Menurut Arikunto dan Yuliana (2012:275) mengemukakan bahwa humas merupakan suatu kegiatan yang sangat diperlukan dalam semua pelaksanaan pekerjaan dan memiliki sarana untuk mengenalkan diri kepada masyarakat luas tentang apa yang sedang dan akan dikerjakan. Adanya permasalahan yang terjadi pada kebanyakan SMK di Kabupaten Nganjuk dari dulu hingga sekarang adalah adanya anggapan masyarakat yang meyakini bahwa SMK merupakan pilihan kedua setelah mendaftarkan calon peserta didik ke SMA, karena kebanyakan para calon peserta didik yang tidak diterima oleh SMA Negeri kemudian menjadikan SMK sebagai pilihan mereka untuk melanjutkan sekolah. Selain itu, SMK dianggap sebagai sekolah bagi anak-anak yang memiliki kemampuan belajar yang kurang serta memiliki kondisi ekonomi yang kurang pula, sehingga banyak orang tua dan calon peserta didik yang merasa gengsinya akan menurun apabila bersekolah di SMK. Hal tersebut tentu berdampak negative bagi sekolah-sekolah SMK di daerah Nganjuk, tidak terkecuali SMK Muhammadiyah 1 Prambon, Nganjuk. Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan oleh peneliti, diperoleh informasi bahwa di SMK Muhammadiyah 1 Prambon mempunyai fungsi bagian humas meski belum berfungsi secara optimal. Hal tersebut disebabkan oleh beberapa factor, diantaranya pengurus humas yang mepunyai fungsi ganda seperti merangkap sebagai guru mata pelajaran dan kurikulum, kurangnya kegiatan promosi mengenai sekolah juga menjadi faktor yang membuat belum maksimalnya kinerja humas di SMK Muhammadiyah 1 Prambon ini. Maka dari itu, dibutuhkan sebuah implementasi humas yang tepat untuk membangun citra positif sekolah untuk membangkitkan kepercayaan masyarakat terhadap sekolah. Menurut Rosady Ruslan (2004: 80) “secara garis besar citra adalah seperangkat keyakinan, ide, dan kesan seseorang terhadap suatu obyek tertentu.”   Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka peneliti menentukan fokus penelitian sebagai berikut: Implementasi humas sebagai communicator dalam meningkatkan citra sekolah di SMK Muhammadiyah 1 Prambon Nganjuk,   Implementasi humas sebagai pembina hubungan dalam meningkatkan citra sekolah di SMK Muhammadiyah 1 Prambon Nganjuk, Implementasi humas sebagai pembentuk citra dalam  meningkatkan citra sekolah di SMK Muhammadiyah 1 Prambon Nganjuk. Kendala Humas Dalam Rangka Meningkatkan Citra SMK Muhammadiyah 1 Prambon Nganjuk Penelitian ini memiliki beberapa manfaat yakni secara teoritis dan praktis. Pertama, manfaat teoritis  dari penelitian ini adalah dapat menjadi pengembangan ilmu dan referensi dalam bidang humas. Dan juga dapat dimanfaatkan oleh sekolah lainnya dengan diperolehnya informasi tentang humas dari penelitian ini. Kedua, manfaat praktis yakni: (1) Bagi Kepala Sekolah,apat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam meningkatkan kinerja humas di SMK Muhammadiyah 1 Prambon, Nganjuk. (2) Bagi jurusan manajemen Pendidikan, untuk menambah koleksi pustaka dan bahan bacaan bagi mahasiswa Jurusan Manajemen Pendidikan pada khususnya dan mahasiswa UNESA pada umumnya.(3) Bagi peneliti lain, sebagai referensi untuk pengembangan ilmu mengenai manajemen humas berdasarkan bidang dan kajian yang sama. METODE     Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan metode penelitian kualitatif, penelitian kualitatif lebih bersifat memberikan deskripsi dan kategorisasi berdasarkan kondisi di lapangan. Yang dimaksud dengan penelitian kualitatif  menurut Bogdan dan Taylor (Moleong, 2009: 4) yaitu penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang dan perilaku yang dapat diamati. Analisis kualitatif merupakan analisis yang didasari dengan adanya hubungan sematik antar masalah penelitian. Analisis data kualitatif ini dilakukan agar peneliti memperoleh makna data untuk menjawab maslah penelitian, dalam hal ini analisis data kualitatif,  Bogdan (Sugiyono, 2011: 244) menyatakan bahwa: “Data analysis is the process of systematically searching and arranging the interview transcripts, fieldnotes, and othe materials that you acculumate to increase your own understanding of them and to enable you to present what you have discovered to others”. Analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan bahan-bahan lain, sehingga dapat mudah dipahami, dan temuannya dapat diinformasikan kepada norang lain. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan rancangan penelitian studi kasus. Menurut Bogdan dan Biklen (2006:59) bahwa “case study is detailed examination of one setting, or a single subject, a single depository of documents, or one particular event”. Studi kasus adalah pemeriksaan rinci dari satu pengaturan/subjek tunggal, tempat penyimpanan tunggal dari dokumen, atau suatu peristiwa tertentu. Keberadaan peneliti bertindak langsung sebagai instrumen utama karena peneliti terjun langsung di lokasi penelitian untuk mendapatkan hasil yang lebih maksimal dalam mengadakan observasi, wawancara, dan mengumpulkan arsip-arsip yang ada di SMK Muhammadiyah 1 Prambon Nganjuk. Karena peneliti merupakan unsur terpenting dalam sebuah penelitian. Lokasi penelitian tepatnya di SMK Muhammadiyah 1 Prambon yang beralamat di Jl. Raya Warujayeng-Kediri, Ds. Sonoageng Kec. Prambon Kab. Nganjuk telp (0358) 771211.   HASIL DAN PEMBAHASAN 1.         Implementasi humas sebagai penyampai informasi (communicator) SMK Muhammadiyah 1 Prambon Nganjuk selalu mengadakan rapat awal tahun ajaran untuk membuat perencanaan program kegiatan humas. Rapat diadakan menjelang awal tahun ajaran baru dan sebelum kegiatan Praktik Kerja Industri. Informasi yang disampaikan mengenai persiapan penerimaan siswa baru (PSB), pembentukan panitia PSB, rapat kenaikan kelas dan sebagainya. Selain itu rapat juga digunakan untuk menyampaikan kebijakan baru yang dikeluarkan oleh pemerintah pusat maupun oleh Yayasan. Dalam kerjasama dengan institusi pasangan atau DU/DI informasi yang disampaikan biasanya mengenai hal-hal Praktik Keja Industri, selain itu informasi mengenai kunjungan industri yang biasanya menggunakan surat konvensional sebagai media komunikasi. Informasi-informasi yang disampaikan SMK Muhammadiyah 1 Prambon Nganjuk kepada pihak pemerintah misalnya hal-hal yang terkait denganpengajuan proposal untuk meminta bantuan berupa fasilitas guna menunjang kegiatan belajar mengajar, permohonan ijin pelaksanaan Praktik Kerja Industri kepada Pemerintah Daerah dan instansi lainnya sebagai salah satu tempat pelaksanaan Praktik Kerja Industri, laporan kondisi fasilitas yang dimiliki sekolah, dan sebagainya. 2.       Implementasi humas sebagai pembina hubungan (Relationship) Kegiatan humas yang dilaksanakan oleh SMK Muhammadiyah 1 Prambon Nganjuk merupakan kegiatan sosial dan keagamaan. Kegiatan ini dilaksanakan untuk menarik simpatik dan kepercayaan publik sehingga dapat meningkatkan citra positif di mata publik. Kegiatan humas dalam menjalankan perannya sebagai Pembina hubungan dilaksanakan dengan menjalin hubungan kerjasama DU/DI terutama hubungan dalam praktik kerja industri (PRAKERIN). 3.       Implementasi humas sebagai pembentuk citra (corporate image) Pelaksanaan peran humas sebagai pembentuk citra sekolah dilakukan dengan cara menciptakan suasana atau kondisi yang senyaman mungkin dilingkungan sekolah. Kegiatan humas dalam menjalankan perannya sebagai pembentuk citra positif  SMK Muhammadiyah 1 Prambon Nganjuk diwujudkan melalui bakti sosial dengan masyarakat.   4.       Kendala humas dalam  rangka meningkatkan citra         Berdasarkan  hasil temuan peneliti, maka dapat diketahui bahwa kendala humas SMK Muhammadiyah 1 Prambon Nganjuk ialah fungsi humas belum berfungsi dengan baik karena pengurus humas mempunyai fungsi ganda yaitu merangkap sebagai guru mata pelajaran, terbatasnya waktu yang dimiliki pengurus humas yang kadang tidak dapat melayani publik eksternal secara baik, ketidakpuasan publik internal dengan hasil kerja humas. Dari hasil temuan di atas, secara keseluruhan humas di SMK Muhammadiyah 1 Prambon telah melaksanakan fungsi humasnya sebagai communicator dengan baik kepada masyarakat.           Dari hasil temuan peneliti, implementasi humas di SMK Muhammadiyah 1 Prambon di atas sejalan dengan  pernyataan Rosady Ruslan (2005: 19) yang  berpendapat bahwa “public Relations (humas) pada hakekatnya meruapakan bagian dari teknik kegiatan berkomunikasi (technique of communication) dengan ciri khas komunikasi dua arah (two way traffic communications) antara lembaga atau organisasi yang diwakilinya dengan publiknya atau sebaliknya.”     PENUTUP Simpulan Dari penelitian dan pembahasan yang telah dipaparkan, dapat disimpulkan  sebagai berikut : SMK Muhammadiyah 1 Prambon Nganjuk selalu mengadakan rapat awal tahun ajaran untuk membuat perencanaan program kegiatan humas. Rapat diadakan menjelang awal tahun ajaran baru dan sebelum kegiatan Praktik Kerja Industri. Informasi yang disampaikan mengenai persiapan penerimaan siswa baru (PSB), Kegiatan humas yang dilaksanakan oleh SMK Muhammadiyah 1 Prambon Nganjuk merupakan kegiatan sosial dan keagamaan. Kegiatan ini dilaksanakan untuk menarik simpatik dan kepercayaan publik sehingga dapat meningkatkan citra positif di mata publik. Humas SMK Muhammadiyah 1 Prambon Nganjuk ialah humas belum berfungsi dengan baik karena pengurus humas mempunyai fungsi ganda yaitu merangkap sebagai guru mata pelajaran, terbatasnya waktu yang dimiliki pengurus humas yang kadang tidak dapat melayani publik eksternal secara baik,       Saran Setelah dilaksanakannya penelitian tentang pelaksanaan pelaksanaan humas dalam meningkatkan citra SMK Muhammadiyah 1 Prambon Nganjuk, peneliti mempunyai saran sebagai berikut : Hendaknya peran humas dapat terus ditingkatkan dalam membangun citra yang positif SMK Muhammadiyah 1 Prambon Nganjuk dengan cara bagian humas dalam pelayanan publik, baik internal maupun eksternal lebih responsif dan informatif. Hendaknya kendala-kendala yang ada dapat diminimalisir agar tidak menjadi faktor gagalnya peran humas dalam meningkatkan citra SMK Muhammadiyah 1 Prambon Nganjuk dengan cara tenaga bagian humas memiliki staf khusus yang menangani masalah kehumasan, sehingga bagian humas tidak memiliki fungsi ganda seperti sebelumnya. Dengan adanya staf khusus ini diharapkan peran humas menjadi lebih fokus terhadap tugasnya dan dapat berjalan dengan baik dalam meningkatkan citra SMK Muhammadiyah 1 Prambon Nganjuk.   DAFTAR PUSTAKA   MoleongJ, Lexy. 2009. Metodelogi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. Arikunto. S dan Yuliana. L. (2012). Manajemen Pendidikan. Yogyakarta: Aditya Media Yogyakarta. Sugiyono. 2011. Metodelogi Penelitian Kualitatif kuantitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta. Ruslan, Rosady. 2004. Manajemen Public Relation & Media Komunikasi. Jakarata: PT. Raja Grafindo Persada. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 19 Tahun 2007 tentang Standar pengelolaan satuan pendidikan dasar dan menengah    
MANAJEMEN HUBUNGAN MASYARAKAT DALAM UPAYA PENINGKATAN MINAT PESERTA DIDIK BARU DI SMKN 5 BOJONEGORO Lintya Prahastiwi, Nova
Inspirasi Manajemen Pendidikan Vol 5, No 1 (2017): Inspirasi Manajemen Pendidikan
Publisher : Inspirasi Manajemen Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

MANAJEMEN HUBUNGAN MASYARAKAT DALAM UPAYA PENINGKATAN MINAT PESERTA DIDIK BARU DI SMKN 5 BOJONEGORO Nova Lintya Prahastiwi Jurusan Manajemen Pendidikan, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Surabaya Email: novalintya58@gmail.com   Muhamad Sholeh, M. Pd Jurusan Manajemen Pendidikan, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Surabaya Email: muhamadsholeh27@yahoo.co.id Abstrak Humas sekolah berperan dalam membantu sekolah dalam menghubungkan antara pihak sekolah dengan masyarakat,  dimana humas sangat berperan aktif dalam meningkatkan minat peserta didik baru. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui dan menjelaskan; 1) Perencanaan humas dalam meningkatkan minat peserta didik baru, 2) Pelaksanaan humas dalam meningkatkan minat peserta didik baru, 3) Evaluasi humas dalam meningkatkan minat peserta didik baru, 4) Partisipasi masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan, 5) Upaya yang ditempuh dalam mengatasi hambatan manajemen humas. Metode penelitian ini adalah kualitatif dengan rancangan penelitian studi kasus. Pengumpulan data menggunakan teknik wawancara, observasi, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) Perencanaan humas dalam meningkatkan minat peserta didik baru dengan membangun brand sekolah, promosi kepada masyarakat, promosi ke sekolah-sekolah, meningkatkan prestasi siswa, dan membangun jejaring dengan DUDI, (2) Pelaksanaan humas sudah sesuai dengan perencanaan dimana dalam pelaksanaan kegiatan semua unsur yang ada di sekolah ikut serta dalam pelaksanaan pendidikan untuk meningkatkan minat peserta didik baru, (3) Evaluasi humas dalam meningkatkan minat peserta didik baru dilakukan secara berkesinambungan setelah program berlangsung, mengevaluasi kendala kegiatan serta mencari solusi, (4) Partisipasi masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan yaitu masyarakat cukup tertarik untuk mendaftarkan putera-puterinya di SMKN 5 Bojonegoro yaitu pada jurusan Teknik Pemboran Minyak dan Gas (TPMG) serta Teknik Energi Terbarukan (TET). Kesimpulan dari penelitian ini bahwa dengan adanya manajemen hubungan masyarakat di SMKN 5 Bojonegoro dapat meningkatkan citra sekolah serta dapat meningkatkan minat peserta didik baru untuk mendaftarkan diri di SMKN 5 Bojonegoro. Kata kunci: manajemen humas, peningkatan minat peserta didik baru.    PUBLIC RELATION MANAGEMENT IN EFFORT TO IMPROVE NEW STUDENTS’ INTEREST IN SMKN 5 BOJONEGORO  Abstract The role of school’s public relation department is to help school in connecting it to the society that it actively improves interest of new students. This study aims to figure out and explain the following: 1) Public relation planning in improving new students’ interest; 2) The implementation of public relation department in improving new students’ interest; 3) Evaluation of public relation in improving new students’ interest; 4) People’s participation in education; 5) Efforts taken to solve problems in public relation management. The method of this study is qualitative method with case study approach. The data for this study was collected through interviews, observations, and documentation. The result of this study shows that: (1) Public relation planning in improving new students’ interest is by branding the school, promoting the school to people, promoting to other schools, improving students’ achievements, and building network using DUDI; (2) Public relation implementation has fulfilled the plan in which all elements at school join the education implementation in improving new students’ interest; (3) Public relation evaluation in improving new students’ interest was done continuously after the programme was held, evaluating obstacles and finding solutions; (4) From people’s participation in education implementation, it is known that people were quite interested in registering their children at SMKN 5 Bojonegoro for Oil and Gas Drilling Engineering and Renewable Energy Engineering courses. The conclusion from this research is with the existence of public relations management in SMKN 5 Bojonegoro can increase the school image and can increase the student’s interest which enroll in SMKN 5 Bojonegoro Key words: public relation management, new students’ interest improvement. PENDAHULUAN Sekolah sebagai lembaga pendidikan formal yang merupakan suatu sistem terbuka, artinya sekolah merupakan lembaga yang tidak pernah lepas dari pengaruh lingkungan dan masyarakat. Dengan demikian sekolah seharusnya menjalin kerja sama dengan lingkungannya, hal ini agar sekolah bisa tetap eksis dan bertahan di tengah masyarakat yang selalu membutuhkan pendidikan yang berkualitas dan lulusan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Melihat hal tersebut maka dibutuhkan sebuah sistem komunikasi yang dapat menjadi penghubung antara sekolah dengan masyarakat. Komunikasi antara organisasi dan masyarakat ini dapat diwujudkan dalam kegiatan hubungan masyarakat. Partisipasi masyarakat secara  umum merupakan keikutsertaan masyarakat dalam berbagai program yang direalisasikan dalam berbagai aspek. Partisipasi masyarakat dalam pendidikanadalah aktivitas yang dilakukan oleh sekelompok orang dalam bidang pendidikan dengan tujuan untuk memajukan pendidikan dengan cara-cara tertentu. Partisipasi masyarakat dalam pendidikan dapat terwujud dalam berbagai pendekatan dan bentuk sesuai kondisi kultur masyarakat itu sendiri. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2010 Pasal  (1) tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan dinyatakanbahwa peran serta masyarakat dalam pendidikan meliputi, peran serta perseorangan, kelompok, keluarga, organisasi profesi, pengusaha, dan organisasi kemasyarakatan dalam penyelenggaraan dan pengendalian mutu pelayanan pendidikan. Dimana masyarakat menjadi sumber, pelaksana, dan pengguna hasil pendidikan. Dengan demikian partisipasi masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan khususnya sekolah kejuruan negeri merupakan hal yang sangat diperlukan dalam rangka mencapai tujuan pendidikan. Partisipasi masyarakat alam keseluruhan proses diharapkan masyarakat merasa memiliki dan bertanggung jawab atas keterlaksanaannya penyelenggaranan pendidikan. Menurut Abdurahman (Suryosubroto, 2012:13) bahwa hubungan masyarakat adalah kegiatan untuk menanamkan dan memperoleh pengertian, dukungan, kepercayaan, serta penghargaan pada dan dari publik suatu badan pada khususnya dan masyarakat pada umumnya. Pentingnya pendidikan menjadikan kerjasama sekolah dengan masyarakat sebagai kubutuhan dasar. Kerjasama tersebut dimaksudkan demi kelancaran pendidikan di sekolah pada umumnya dan untuk meningkatkan prestasi belajar siswa pada khususnya. Hubungan masyarakat yang efektif memerlukan pengetahuan yang didasarkan pada analisis dan pemahaman situasi masyarakat, melalui faktor yang mempengaruhi presepsi dan sikap masyarakat terhadap organisasi. Hal ini dimaksud untuk menciptakan citra lembaga di mata masyarakat. Ketika lembaga pendidikan tidak lagi mendapat kesan baik di masyarakat, humas menjadi bagian yang penting dan bertanggung jawab atas kondisi tersebut. Hubungan sekolah dengan masyarakat sangat mempengaruhi kepercayaan publik terhadap suatu lembaga. Humas dalam suatu lembaga pendidikan merupakan rangkaian pengelolaan yang berkaitaan dengan kegiatan hubungan lembaga pendidikan dengan masyarakat yang dimaksudkan untuk menunjang proses belajar mengajar di lembaga pendidikan bersangkutan sehingga dapat meningkatkan mutu pembelajaran. Selain itu hubungan masyarakat dan minat peserta didik baru menjadi kebutuhan bersama untuk meningkatkan kualitas sekolah dan terjalinnya komunikasi antara sekolah, peserta didik baru, dan masyarakat. Program sekolah dan kegiatan sekolah yang berhubungan memerlukan dukungan dan peran serta orang tua siswa dan masyarakat untuk mencapai tujuan kegiatan sekolah. Perkembangan persaingan antara sekolah pada saat ini sangat terbuka, kualitas yang dimiliki setiap lembaga pendidikan dibutuhkan untuk mengembangkan segala hal agar sekolah yang dimiliki menjadi lebih unggul serta memiliki kualitas nilai yang tinggi. Lembaga pendidikan wajib untuk bisa membaca sebuah situasi nyata dan jelas di setiap waktu dan suasana. Selain itu sekolah juga harus menjalin kerjasama yang baik dengan masyarakat agar minat peserta didik untuk belajar disekolah menjadi lebih tinggi. Untuk menarik minat peserta didik baru suatu lembaga harus memerlukan berbagai cara untuk menarik minat peserta didik baru, salah satunya yaitu melakukan pemasaran sekolah. Menurut Wijaya (2012:42) pemasaran untuk lembaga pendidikan (terutama sekolah) mutlak diperlukan. Pertama sebagai lembaga nonprofit yang bergerak dalam bidang jasa pendidikan, untuk level apa saja, perlu meyakinkan masyarakat “pelanggan” (peserta didik, orang tua, serta pihak-pihak terkait lainnya) bahwa lembaga pendidikan masih tetap eksis. Kedua, perlu meyakinkan masyarakat dan “pelanggan” bahwa layanan jasa pendidikan sungguh relevan dengan kebutuhan masyarakat. Ketiga, perlu melakukan kegiatan pemasaran agar jenis dan macam pendidikan dapat dikenal dan dimengerti secara luas oleh masyarakat. Keempat, agar eksistensi lembaga pendidikan tidak ditinggalkan oleh masyarakat luas serta “pelanggan potensial”. Kegiatan pemasaran bukan sekedar kegiatan bisnis agar lembaga-lembaga pendidikan mendapat peserta didik, melainkan juga merupakan bentuk tanggung jawab kepada masyarakat luas untuk mengembangkan kualitas pendidikan. Strategi promosi yang baik juga dapat memberikan dampak terhadap minat siswa untuk mendaftarkan diri disekolah. Apalagi bagi sekolah yang baru tentunya kegiatan promosi sangatlah penting guna menarik minat calon peserta didik baru. Pada saat masa penerimaan siswa baru biasanya banyak sekali ditemukaan berbagai media periklanan sekolah yang terlihat hampir di setiap jalan yang berjarak tidak jauh dari sekolah atau tempat-tempat strategis berkumpulnya calon siswa selain itu kegiatan sosialisasi promosi ke sekolah-sekolah, pembagian brosur, serta berbagai kegiatan promosi lain untuk menarik minat peserta didik baru. dalam hal ini peneliti melakukan studi pendahuluan ke beberapa sekolah yang ada di wilayah Bojonegoro untuk mengetahui kegiatan promosi yang ada di sekolah-sekolah tersebut. Studi pendahuluan yang pertama dilakukan di SMKN 4 Bojonegoro. Kegiatan humas di sekolah ini cukup bagus terbukti dengan minat peserta didik baru yang mendaftarkan diri di sekolah ini cukup banyak, karena sekolah ini memiliki image yang bagus dikalangan masyarakat. Strategi promosi yang digunakan di sekolah ini adalah dengan melakukan sosialisasi ke SMP sederajat di wilayah sekitar sekolah saja dengan membagikan brosur kepada siswa-siswi, selain itu pemasangan banner di sekitar sekolah, serta melakukan promosi dengan web sekolah. Studi observasi yang kedua di lakukan di SMK Kesehatan Bojonegoro, sekolah ini termasuk sekolah baru berdiri pada tahun 2010, sekolah ini merupakan satu-satunya sekolah kesehatan di Bojonegoro namun manajemen humas pada sekolah ini kurang berjalan dengan baik.  Dimana kerjasama yang dilakukan antar pihak luar lembaga masih kurang. Selain itu kegiatan promosi yang dilakukan sekolah ini juga kurang menarik masih seperti strategi promosi yang digunakan sekolah pada umumnya yaitu dengan mendatangi sekolah SMP sederajat di dalam kota untuk melakukan sosialisasi promosi sekolah dengan membagikan brosur kepada siswa. Sehingga dalam hal ini masyarakat kurang mengetahui adanya sekolah ini akibatnya jumlah siswa yang mendaftar di sekolah ini sangat minim dan tiap tahunnya kekurangan peserta didik baru. Studi observasi yang ketiga atau yang terahir dilakukan di SMKN 5 Bojonegoro. Peneliti memilih SMKN 5 Bojonegoro ini karena Sekolah ini merupakan sekolah yang baru dibuka sekitar dua tahun yang lalu. Dalam hal ini peran humas sangat mempengaruhi minat peserta didik baru untuk mendaftarkan diri di sekolah ini. Strategi humas yang di lakukan sekolah ini tidak jauh beda dengan sekolah-sekolah lainnya yaitu dengan mendatangi SMP sederajat di dalam maupun di luar kota dengan membagikan brosur kepada siswa, memasang spanduk di sepanjang jalan khususnya di tempat keramaian siswa berkumpul, selain itu melakukan promosi lewat media yaitu di Blog Bojonegoro dan Suara Bojonegoro. Berdasarkan data yang diperoleh dari Dinas Pendidikan Kabupaten Bojonegoro pada Tahun 2015 jumlah sekolah Kejuruan (SMK) di Bojonegoro mencapai 45 sekolah Negeri maupun sekolah Swasta, yaitu 16 SMK Negeri dan 29 Sekolah swasta. Mengingat persaingan antar sekolah semakin ketat maka setiap sekolah memiliki keunggulan masing-masing. Dalam hal ini Bapak Baharudin S.Pd selaku Waka Humas SMKN 5 Bojonegoro mengatakan, bahwa SMKN 5 Bojonegoro didirikan karena faktor kebutuhan dan faktor lingkungan dimana bojonegoro merupakan salah satu kabupaten di Jawa Timur yang memiliki potensi alam yang luar biasa khususnya sumber minyak bumi dan gas. Namun dalam hal ini masyarakat Bojonegoro sendiri tidak memiliki skill atau keterampilan yang memadai untuk mengikuti laju industri di desanya sehingga dalam sistem pengolahannya masih banyak di kuasai pihak luar. Berdasarkan permasalah tersebut maka Bapak Bupati serta Dinas Pendidikan Kab. Bojonegoro ingin mendirikan sekolah yaitu SMKN 5 Bojonegoro ini atau sering juga disebut SMK Migas. SMKN 5 Bojonegoro berdasarkan Surat Keputusan Bupati nomor 188/317/KEP/412.11/2015, tanggal 5 Oktober 2015 mulai beroperasi Tahun Pelajaran 2015/2016 dan seterusnya. Pada saat berdiri sampai dengan sekarang ini memiliki tiga jurusan yaitu, Teknik Pemboran Minyak dan Gas, Teknik Energi Terbarukan, dan Teknik Pengolahan Hasil Pertanian. Peneliti tertarik untuk melaksanakan penelitian di SMKN 5 Bojonegoro ini karena sekolah tersebut merupakan Sekolah Kejuruan Negeri di Kabupaten Bojonegoro yang memiliki dua jurusan permigasan yaitu Teknik Pemboran Minyak dan Gas dan Teknik Energi Terbarukan, dimana dua jurusan tersebut satu-satunya jurusan SMK di Jawa Timur. Peminat peserta didik baru untuk mendaftarkan diri di sekolah ini pada tiap tahunnya meningkat, dimana pada tahun pertama jumlah peminat ada 213 siswa yang diterima ada 187 pada tahun kedua jumlah peminat ada 264 siswa yang diterima ada 189. Hal ini diharapkan sekolah agar peminat pesera didik baru untuk mendaftarkan diri di SMKN 5 Bojonegoro meningkat lebih banyak lagi. Humas di sekolah ini sangat berperan aktif dalam meningkatkan minat peserta didik baru yaitu dengan mempromosikan sekolah. Menurut Bapak Burhanuddin S.Pd, selaku waka humas SMKN 5 Bojonegoro mengatakan bahwa, masyarakat menilai bahwa SMKN 5 Bojonegoro dianggap sekolah yang ilegal karena pada waktu pertama kali pendirian belum memiliki izin resmi dari Dinas Pendidikan. Selain itu terkendala dengan nama dimana SMKN 5 Bojonegoro merupakan sekolah migas namun selama ini masyarakat beranggapan bahwa sekolah migas ada di SMKN 4 Bojonegoro tetapi pada kenyataannya sekolah tersebut hanya memiliki jurusan geologi pertambangan saja. Berdasarkan permasalah tersebut pihak sekolah mampu menafikkan anggapan-anggapan masyarakat bahwa SMKN 5 Bojonegoro adalah sekolah resmi dengan mengadakan berbagai kegiatan dengan mengundang Bapak Bupati, Para pejebat, Ketua DPRD Bojonegoro sebagai narasumber untuk mengisi kegiatan-kegiatan yang diadakan oleh sekolah. Salah satunya kegiatan yang diadakan yaitu kegiatan LDK (Latihan Dasar Kepemimpinan) yang satu-satunya sekolah di Bojonegoro narasumbernya dari anggota DPRD Bojonegoro. Selain itu pihak SMKN 5 Bojonegoro ini memiliki komunitas journalis dimana seluruh lapisan sekolah termasuk siswa dapat menulis berbagai kegiatan setiap harinya yang kemudian diekspose ke media sosial seperti beritabojonegoro, blogbojonegoro.com, suara bojonegoro.com. Komunitas journalis ini di dampingi langsung oleh guru mata pelajaran Bahasa Indonesia yang kedepannya akan dijadikan sebagai ekstrakurikuler dibawah naungan kesiswaan. Hal ini dilakukan untuk mengekspose kepada masyarakat bahwa SMKN 5 Bojonegoro walaupun baru didirikan namun sudah aktif dalam berbagai kegiatan. SMKN 5 Bojonegoro juga telah menjalin kerja sama dengan berbagai lembaga maupun perusahaan untuk menguatkan lembaganya agar mempunyai image yang bagus di masyarakat yaitu MOU dengan Universitas Brawijaya Fakultas teknologi pertanian, Restoran omah pule, BLH (Balai Lingkungan Hidup), Suntory garuda food sidoarjo, PT Sriti satelit,  PTPN XII on progres, BLT (Bahana Multi Teknik) dan Balai besar pelatihan peternakan. MOU dengan berbagai lembaga atau  perusahaan ini dilakukan agar SMKN 5 Boojonegoro  menjadi lebih baik dan para peserta didik baru berminat mendaftarkan diri di SMKN 5 Bojonegoro ini. Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan di atas penulis tertarik untuk meneliti bagaimana peran manajemen hubungan masyarakat untuk meningkatkan minat peserta didik baru sehingga sekolah mampu mendapatkan kepercayaan dari masyarakat untuk mendaftarkan putra-puterinya di SMKN 5 Bojonegoro. Dimana penelitian tersebut tertuang dalam karya ilmiah yang berjudul “Manajemen Hubungan Masyarakat dalan Upaya Peningkatan Minat Peserta Didik Baru di SMKN 5 Bojonegoro”.   METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Menurut Sugiyono (2013:7), metode penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang berdasarkan pada filsafat postpositive, digunakan untuk meneliti pada kondisi objek yang alamiah, (sebagai lawannya adalah eksperimen). Dimana penelitian adalah sebagai instrumen kunci, pengambilan sampel sumber data dilakukan secara purposive dan snowbal, teknik pengumpulan dengan triangulasi (gabungan), analisis data bersifat kualitatif lebih menekankan makna dari pada generalisasi. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian studi kasus yang merupakan bagian dari penelitian deskriptif kualitatif. Berdasarkan penjelasan Sukmadinata (2010:1) menyebutkan bahwa studi kasus merupakan metode untuk menghimpun dan menganalisis data dengan suatu kasus. Pada penelitian ini menggunakan studi kasus karena peneliti sudah menentukan permasalahan atau fokus penelitian yaitu bagaimana manajemen hubungan masyarakat dalam upaya peningkatan minat peserta didik baru. penelitian studi kasus ini tidak hanya berdasarkan suatu permasalahan namun juga berdasarkan keunggulan atau kelebihan yang dimiliki manajemen hubungan masyarakat dalam menarik minat pesera didik baru. Sifat rancangan penelitian kualitatif yang fleksibel dan dapat berubah-ubah, untuk itu perlu mengantisipasi perubahan kondisi dan penyesuaian antara rancangan penelitian dan kondisi lapangan yang diteliti, peneliti memahami jenis rancangan apa yang digunakan dalam penelitian kualitatif. Lokasi penelitian merupakan tempat dan keadaan peneliti diharapkan dapat menangkap keadaan sebenarnya dari objek yang diteliti dalam rangka memperoleh data. Peneliti melakukan penelitian di SMKN 5 Bojonegoro yang berada di Desa Sambiroto, Kecamatan Kapas, Kabupaten Bojonegoro adalah sebuah sekolah kejuruan Negeri dibawah naungan Dinas Pendidikan Kabupaten dan Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur. Pada penelitian ini kehadiran peneliti di lapangan berperan sebagai instrumen kunci. Dimana peneliti berperan sebagai pengumpul data. Penelitian yang dilakukan di SMKN 5 Bojonegoro dimulai dengan mengadakan studi pendahuluan ke lokasi penelitian, setelah mengetahui gambaran umum tentang keadaan sekolah dan  permasalahan/keunikan, maka peneliti menentukan topik permasalahan yang akan diambil. Pada saat penelitian dimulai, peneliti akan menentukan fokus penelitian selain itu untuk mengetahui para informan kunci yang dapat dijadikan sumber informasi terkait dengan penelitian. Pada proses penelitian, pengumpulan data yang dilakukan didukung dengan wawancara, observasi, dan study dokumentasi. Menurut Miles dan Huberman (Sugiyono, 2013:246) bahwa aktifitas dalam analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus menerus sampai tuntas, sehingga datanya sudah jenuh. Aktifitas dalam analisis data yaitu dengan data condentation, data display dan conclutation darawing/verivication. Uji keabsahan data pada penelitian ini menurut Sugiyono (2013:366) dalam pengecekan keabsahan data dapat menggunaka teknik-teknik antara lain: kredibilitas, transferabilitas, depenabilitas, dan konfirmabilitas.   HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil dan pembahasan terhadap temuan penelitian ini dijelaskan tentang manajemen hubungan masyarakat dalam upaya peingkatan minat peserta didik baru di SMKN 5 Bojonegoro, dengan fokus penelitian mengenai: (1) perencanaan humas dalam upaya peningkatan minat peserta didik baru di SMKN 5 Bojonegoro, (2) pelaksanaan humas dalam upaya peningkatan minat peserta didik baru di SMKN 5 Bojonegoro, (3) evaluasi humas dalam upaya peningkatan minat peserta didik baru di SMKN 5 Bojonegoro, (4) Partisipasi masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan di SMKN 5 Bojonegoro, (5) upaya yang ditempuh dalam mengatasi hambatan manajemen humas dalam upaya peningkatan minat peserta didik baru di SMKN 5 Bojonegoro.   1.     Perencanaan humas dalam upaya peningkatan minat peserta didik baru di SMKN 5 Bojonegoro Dalam proses perencanaan kegiatan humas sekolah, semua pihak pengelola sekolah merencanakan program kerja atau kegiatan sekolah yang akan dilaksanakan. Sebelum merencanakan sebuah program kegiatan, sekolah telah mempunyai tujuan yang baik dan jelas. Semua program kegiatan sekolah selalu mempunyai tujuan yang berhubungan dengan semua aspek peningkatan. Dan segala perencanaan program kegiatan di sekolah berhubungan dengan humas sekolah. Kegiatan humas sekolah bertujuan untuk promosi sekolah dan peningkatan minat peserta didik baru. Dengan adanya perencanaan yang baik dan rinci serta memperhatikan kendala apa yang dihadapi dalam perencanaan maka akan mempermudah pelaksanaan dan mencapai tujuan yang diharapkan. Tanpa adanya perencanaan, maka kegiatan humas tidak dapat terlaksana dengan baik. Perencanaan program dilakukan melalui rapat bersama yang dihadiri oleh kepala sekolah dan komite sekolah. Berdasarkan temuan peneiltian di SMKN 5 Bojonegoro menunjukan bahwa (1) perencanaan humas di laksanakan sejak sekolah didirikan yaitu pada tahun 2015. (2) kegiatan perencanaan humas dilaksanakan melalui Perencanaan kegiatan sekolah untuk meningkatkan minat peserta didik baru yaitu dengan membangun brand sekolah, meningkatkan prestasi siswa, membangun jejaring dengan DUDI, melakukan promosi kepada masyarakat dan melakukan promosi ke sekolah-sekolah. (3) dalam perencanaan tidak terlepas dari unsur pendukung di dalamnya yaitu semua pendidik maupun non pendidik, komite sekolah, media yang ada, DUDI, BOS, dll. (4) dalam kegiatan perencanaan humas kendala yang dihadapi yaitu dana yang dimiliki sekolah, dimana dana yang dimiliki seklah sangat kecil namun kebutuhan sekolah sangat besar. Menurut Setyodarmodjo (1997: 110) menyatakan bahwa yang dimaksud dengan planning ialah membuat suatu plan. Plan disini adalah suatu “system’ yang merupakan rangkaian dari keputusan-keputusan mengenai tujuan yang hendak dicapai, cara dan sarana untuk mencapainya, waktu dan biaya, dimana dan oleh siapa dilaksanakannya, dan lain keputusan, yang berorientasikan pada kehendak dan keinginan untuk terjadi di masa yang akan datang”. Dalam hal ini kepala sekolah SMKN 5 Bojonegoro sebagai penggagas perencanaan yang ingin dicapai yaitu untuk meningkatkan minat peserta didik baru melalui program kegiatan yang telah direncanakan dimana perencanaan program kegiatan dibuat sebelum mempunyai peserta didik dengan memperhatikan biaya yang ada. Sependapat dengan Anggoro (2002: 77) perencanaan humas memiliki 6 tahapan, antara lain adalah pengenalan situasi, penetapan tujuan, definisi khalayak, pemilihan media dan teknik-teknik humas, perencanaan anggaran, serta pengukuran hasil. Dalam hal ini pengenalan situasi dilakukan sebelum adanya sekolah, SMKN 5 Bojonegoro didirikan karena melihat faktor potensi daerah yaitu minyak dan pertanian sehingga didiriknalah SMKN 5 Bojonegoro dengan program keahlian Teknik Pemboran minyak dan Gas, Teknik Energi Terbarukan dan Teknik Pengolahan Hasil Pertanian, dengan demikian tujuan didirikannya sekolah ini diharapkan masyarakat mampu mengolah potensi yang dimiliki dengan skill dan pengetahuan yang akan dikembangkan melalui SMKN 5 Bojonegoro melalui teknik-teknik kehumasayan yaitu dengan mempromosikan sekolah melalui berbagai media dan promosi ke sekolah-sekolah dengan mempertimbangkan anggaran yang ada serta hasil yang dicapai. Supaya perencanaan program ini berhasil sesuai dengan apa yang di harapkan, maka menurut Cuplip ,Center & Broom (Ruslan, 2006: 157-158) menjelaskan bahwa perencanaan program PR harus didasarkan kepada analisis lingkungan situasi dan kondisi sebagaai berikut, yaitu : (a) A searching look backword (melihat secara meneliti kejadian-kejadian yang sudah–sudah). (b) A deep look inside (melihat secara mendalam keadaan dan kekuatan organisasi). (c) A wide look around (melihat secara luas keadaan sekelilingnya) (d) A long long look ahead (melihat dari jauh ke depan). Adapun tujuan penyelenggaraan hubungan masyarakat di sekolah menurut Suryosubroto (2012:72) antara lain, (a) meningkatkan pemahaman masyarakat tentang tujuan dan sasaran yang ingin dicapai sekolah, (b) meningkatkan pemahaman sekolah tentang keadaan dan aspirasi masyarakat terhadap sekolah, (c) mengembangkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya peran pendidikan dalam era pembangunan, (d) menjalin kerja sama untuk memenuhi kebutuhan anak didik dalam setiap kegiatan pendidikan di sekolah. Effendy (2002: 100) menyebutkan dalam perencanaan hubungan masyarakat, terlebih dahulu mengiventarisasi masalah untuk selanjutnya mengkorelasikan aspek yang satu dengan lainnya sehingga dalam tahap pelaksanaannya masalah-masalah yang menghambat tujuan dapat diatasi. dalam perencanaan yang telah dibuat sekolah. Dalam merencanakan suatu program untuk meningkatkan minat peserta didik baru pastinya terdapat kendala-kendala yang dihadapi salah satunua yaitu kendala finansial, dimana dana yang dimiliki seklah sangat kecil namun kebutuhan sekolah sangat besar. Berdasarkan paparan diatas dapat diambil kesimpulan bahwa kepala sekolah SMKN 5 Bojonegoro sebagai penggagas perencanaan yang ingin dicapai yaitu untuk meningkatkan minat peserta didik baru melalui program kegiatan yang telah direncanakan, perencanaan program kegiatan seperti membangun brand sekolah, membangun jejaring dengan DUDI, meningkatkan prestasi siswa, melakukan promosi kepada masyarakat serta mengadakan promosi ke sekolah-sekolah.  Dimana perencanaan program kegiatan dibuat sebelum mempunyai peserta didik dengan memperhatikan biaya yang ada. Pengenalan situasi dilakukan sebelum adanya sekolah, SMKN 5 Bojonegoro didirikan karena melihat faktor potensi daerah yaitu minyak dan pertanian sehingga didiriknalah SMKN 5 Bojonegoro dengan program keahlian Teknik Pemboran minyak dan Gas, Teknik Energi Terbarukan dan Teknik Pengolahan Hasil Pertanian, dengan demikian tujuan didirikannya sekolah ini diharapkan masyarakat mampu mengolah potensi yang dimiliki dengan skill dan pengetahuan yang dikembangkan di kembangkan di SMKN 5 Bojonegoro.   2.     Pelaksanaan humas dalam upaya peningkatan minat peserta didik baru di SMKN 5 Bojonegoro Pelaksanaan humas dalam upaya peningkatan minat peserta didik baru merupakan proses kegiatan yang dilakukan sekolah melalui program kegiatan yang telah direncanakan untuk meningkatkan minat peserta didik baru. Di SMKN 5 Bojonegoro ini selama sekolah berdiri telah melaksanakan program kegiatan untuk menarik minat peserta didik baru sepeti membangun brand sekolah, membangun jejaring dengan DUDI, meningkatkan prestasi siswa, promosi kepada masyarakat, dan promosi ke sekolah-sekolah. Keberhasilan pelaksanaan program kegiatan tidak terlepas dari unsur yang terlibat dalam pelaksanaan program seperti media blog bojonegoro dan suara bojonegoro ikut membantu mengexpose sekolah agar dapat dikenali masyarakat. Menurut Effendy (2002: 101) tahap penggiatan adalah pelaksanaan secara aktif terhadap rencana yang telah disusun berdasarkan data faktual yang telah dikerjakan pada tahap sebelumnya. Pelaksanaan program humas dilakukan setelah struktur organisasi dan perencanaan program dibuat. Anne. B Lane (2007:8) mengatakan bahwa “Public  relations  writing  educators  need  to  reconsider  how  they  engage  with  their  students. yang artinya hubungan masyarakat dalam pendidikan perlu mempertimbangkan kembali bagaimana mereka terlibat dengan siswa. Kegiatan humas di dalam sekolah tidak hanya sebatas hubungan antara siswa dengan orang tua saja, tetapi sekolah juga menjalin hubungan dengan masyarakat luas, seperti dengan sekolah lain dan beberapa instansi lainnya. Karena, dalam kegiatan sekolah dibutuhkan jalinan komunikasi yang baik dengan seluruh lapisan masyarakat supaya keberadaan sekolah dapat diterima oleh masyarakat, sehingga pelaksanaan semua kegiatan sekolah dapat berjalan dengan efektif dan efisien. Pada proses pelaksanaan humas di sekolah, adal hal yang penting yang harus ada dalam interaksi antara sekolah dan masyarakat, yaitu komunikasi. Komunikasi memiliki peran penting dalam publik intern maupun ekstern. Oleh karena itu Cultip, Center, dan Broom (Efendy, 2002: 102) bahwa: Communication and interpretation and the communication of ideas from an institution to its public and the communication of informations, ideas and opinions from those publics to the institutions, in a sincere effort to establish a mutuality of interest and this achies the harmonious adjustment of an institution to its community. Cultip, Center dan Broom menjelaskan bahwa komunikasi dan interprestasi dan kegiatan mengkomunikasikan gagasan dari lembaga kepada publik serta kegiatan mengkomunikasikan informasi, gagassan, dan opini dari publik kepada lembaga, dengan upaya yang sungguh-sungguh untuk membina kepentingan bersama demi tercapainya kesesuaian yang harmonis antara lembaga dengan komunitas. Dalam hal ini media komunikasi yang digunakan sekolah untuk mempromosikan kepada masyarakat adalah melalui web sekolah, blogbojonegoro.com dan suara bojonegoro dengan media-media tersebut akan mengexpose kegiatan yang ada di SMKN 5 Bojonegoro mengexpose keunggulan-keunggulan yang dimiliki sekolah, dengan begitu masyakat akan mengetahui adanya SMKN 5 Bojonegoro dan tertarik untuk mendaftarkan putera-puterinya di SMKN 5 Bojonegoro. Dari penjelasan-penjelasan di atas dapat dipahami bahwa pelaksanaan humas dilakukan berdasarkan perencanaan program yang telah dibuat. Proses pelaksanaan humas dilakukan supaya terjalinnya hubungan yang harmonis antara sekolah dengan pihak luar, seperti orang tua dan masyarakat. Untuk membentu terlaksananya program humas diperlukan beberapa media agar program-program dapat berjalan dengan baik, selain itu hal terpenting dalam hubungan dengan masyarakat adalah kmunikasi, personil humas harus menguasai teknik-teknik komunikasi agar dapat menjalin hubungan yang harmonis dengan masyarakat. pelaksanaan humas dalam meningkatkan minat peserta didik baru sudah berjalan dengan baik, sudah sesuai dengan perencanaan . Dalam pelaksanaan program tentunya tidak terlepas dari unsur yang terlibat dalam pelaksanaan progaram seperti media yang di miliki sekolah yaitu blogbojonegoro dan suara bojonegoro sedangkan untuk promosi ke sekolah-sekolah melibatkan guru-guru dan siswa-siswi sebagai narasumber breafing. Dalam pelaksanaan program telah ditentukan waktu yang sesuai dengan perencanaan dalam promosi ke sekolah-sekolah sebelumnya pihak sekolah meminta ijin pada pihak sekolah yang akan didatangi kalau sudah mendapatkan ijin harinya baru melaksanakan kegiatan promosi tersebut.  Sampai saat ini terdapat 10 sekolah yang diatangi untuk melakukan promosi  dimana terdapat sekolah target yang diambil dari kebanyakan siswa yang ada. Dalam pelaksanaan program tentunya terdapat kendala-kendala yang dihadapi seperti kendala pada SDM, kendala terkait jejaring dengan DUDI seringkali pihak sekolah tidak bisa masuk di perusahaan yang di inginkan, kendala terkait promosi ke sekolah-sekolah  ada kalanya sekolah tidak diijinkan masuk untuk melakukan promosi.   3.     Evaluasi humas dalam upaya peningkatan minat peserta didik baru di SMKN 5 Bojonegoro Evaluasi berfungsi sebagai pengawas dan tindak lanjut, yaitu dalam pengawasan pemimpin mengontrol kegiatan yang telah dilakukan atau yang sedang berjalan, sedangkan tindak lanjut adalah tindakan apa yang dilakukan setelah melaksanakan evaluasi, disini biasa dinilai mislnya kegiatan yang belum terlaksana bagaimana ke depannya solusinya bagaiman akan dipecahkan bersama-sama komponen sekolah bukan hanya satu bidang unit saja. Dalam tindak lanjut ini biasa juga dikasih punishment atau reward atas kinerja bidang atau unit sekolah. Effendy (2002: 103) mengemukakan bahwa “penilaian berfungsi mengkaji pelaksanaan suatu rencana yang terdiri atas program-program yang dalam penyusunannya ditunjang oleh hasil penelitian yang dilakukan secara terlaksana”. Menuru Lindenman (Iriantara, 2004: 148) evaluasi PR adalah setiap dan semua penelitian yang dirancang untuk menentukan efektivitas relatif sebuah program, kegiatan atau strategi PR dengan mengukur keluaran (output) atau dampak (outcome) program, kegiatan atau straegi itu berdasarkan sejumlah tujuan (objective) yang sudah ditetapkan sebelumnya. Dalam evaluasi kegiatan pelaksanaan yang telah terlaksana untuk mencapai target dengan 100% sulit tetapi sekolah punya target 100% untuk pencapainnya hasil yang diperoleh sudah tercapai bahwa terpenuhinya pagu pada tahun pertama dan tahun kedua. dimana pada tahun pertama hampir menolak 2 kelas dan pada tahun kedua menolak 2 kelas lebih. Selain itu pendapat dari Menurut Leclair (Iriantara, 2004: 157-158) menjelaskan terdapat 5 hal yang dilakukan dalam mengevaluasi program Public Relations, aitu (a) menyusun objektif program secara cermat, (b) menggunakan evaluator, (c) memastikan kesesuaian metodologi dengan program, (d) mengkoordinasikan waktu evaluasi dengan perencanaan operasional, (e) komitmen untuk bertindak berdasarkan hasil evaluasi. Dalam hal ini evaluasi dilakukan dengan melihat hasil yang telah dilaksanakan, evaluator dilaksanakan oleh semua anggota yang melaksanakan kegiatan dengan pimpinan ketua TIM, menindak lanjuti program yang berhasil dan yang kurang berhasil kemudian mengambil kesimpulan apakah program tersebut dapat dilaksanakan untuk tahun berikutnya. Berdasarkan paparan diatas ditarik kesimpulan kegiatan evaluasi dilakukan sebagai refleksi diri untuk lebih baik ke depan yang mana hasil evaluasi menjadi rekomendasi untuk melakukan kegiatan selanjutnya. Evaluasi berfungsi sebagai pengawas dan tindak lanjut, yaitu dalam pengawasan pemimpin mengontrol kegiatan yang telah dilakukan atau yang sedang berjalan, sedangkan tindak lanjut adalah tindakan apa yang dilakukan setelah melaksanakan evaluasi, disini biasa dinilai mislnya kegiatan yang belum terlaksana bagaimana ke depannya solusinya bagaiman akan dipecahkan bersama-sama komponen sekolah bukan hanya satu bidang unit saja. Evaluasi setelah adanya kegiatan pelaksanaan berlangsung bahwa: (1) Hasil yang diperoleh setelah adanya pelaksanaan program terpenuhnya pagu pada tahun pertama hampir menolak 2 kelas dan pada tahun ke dua menolak 2 kelas lebih dengan demikian sekolah menjadi yakin walaupun sekolah baru berdiri namun minat peserta didik baru untuk mendaftarkan diri di SMKN 5 Bojonegoro lumayan banyak.   4.     Partisipasi masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan di SMKN 5 Bojonegoro Partisipasi masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan merupakan respon masyarakat apakah tertarik untuk mendaftarkan putera-puterinya di SMKN 5 Bojonegoro setalah adanya kegiatan yang dilaksanakan sekolah seperti membangun brand sekolah, meningkatkat prestasi sesolah, membangun jejaring dengan DUDI, melakukan promosi kepada masyarakat, dan melakukan promosi ke  sekolah-sekolah. Partisipasi masyaraka merupakan suatu gejala demokrasi dimana masyarakat dilibatkan dalam perencanaan suatu pelaksanaan pada kepentingannya dan juga ikut memiliki tanggung jawab sesuai dengan tigkat kematangan dan tingkat kewajibannya. Partisipasi masyarakat sangat baik untuk memutuskan kebijakan dalam melaksanakan program. Pengertian partisipasi masyarakat menurut Adi (2007:27) adalah keikutsertaan masyarakat dalam proses mengidentifikasikan masalah dan potensi yang ada di masyarakat, pemilihan dan pengambilan tentang alternatif mengenai masalah, pelaksanaan upaya mengatasi masalah dan keterlibatan dalam proses mengevaluasi perubahan yang terjadi. Sedangkan Eko (Rodliyah, 2013: 33), mengartikan partisipasi sebagai jembatan penghubung antara pemerintah sebagai pemegang kekuasaan, kewenangan, dan kebijakan dengan masyarakat yang memilih hak sipil, politik dan sosial ekonomi masyarakat. Parisipasi masyarakat juga diartikan keikutsertaan masyarakat baik secara aktif maupun pasif dalam peningkatan mutu pendidikan berupa pikiran, tenaga, dana serta mempunyai rasa tanggung jawab guna mencapai tujuan. Partisipasi masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan di SMKN 5 Bojonegoro salah satunya yaitu partisipasi untuk menyekolahkan putera-putrinya di SMKN 5 Bojonegoro, dimana masyarakat cukup tertarik untuk mendaftarkan diri di SMKN 5 Bojonegoro terbukti dengan minat peserta didik yang mendaftar pada tahun pertama hampir menolak 2 kelas dan pada tahun ke dua menolak 2 kelas lebih. Menurut siswa, orang tua, dan masyarakat SMKN 5 Bojonegoro sudah cukup bagus mampu bersaing dengan sekolah lain, namun masyarakat banyak yang tidak tau adanya SMKN 5 Bojonegoro karena sekolah ini baru didirikan. Upaya melibatkan masyarakat dalam peningkatan mutu pendidikan, maka kepala sekolah harus mempunyai strategi guna mendapatkan perhatian dari orang tua, masyarakat, tokoh masyarakat, maupun pemerintah secara bersama-sama berdiskusi dan menyumbangkan sumber dana, tenaga, maupun pikiran dalam memecahkan berbagai permasalahan yang ada di sekolah dalam hal ini motivasi dari pimpinan sangat diperlukan untuk menggerakkan anggotanya dalam meningkatkan partisipasi masyarakat terhadap lembaga pendidikan yang dipimpin.  Hal diatas diperkuat pendapat dari Rodliyah (2013:52) yang menyatakan bahwa untuk meningkatkan partisipasi orang tua dan masyarakat, sekolah harus melakukan hal-hal sebagai berikut: (a) sekolah harus benar-benar menunjukkan keseungguhannya untuk memperoleh, memelihara, meningkatkan, atau mempebaiki citranya dimata orang tua siswa dan masyarakat, (b) sekolah memberikan kesempatan yang seluas-luasnya pada orang tua siswa dan masyarakat untuk berpartisipasi dalam perencanaan sekolah, bahkan mengaur beberapa kegiatan sekolah, (c) sekolah harus terbuka baik dalam hal kondisi keuangan sekalipun. Berkaitan dengan pendapat ahli diatas bahwa strategi yang digunakan kepala sekolah adalah dengan memnfaatkan peluang dan potensi, masyarakat tertarik untuk mendaftarkan diri di SMKN 5 Bojonegoro karena jurusan yang imiliki dimana jurusan Teknik Pemboran Minyak dan Gas (TPMG) serta jurusan Teknik Energi Terbarukan (TET) merupakan jurusan yang peminatnya paling banyak karena dua jurusan tersebut satu-satunya jurusan sejawa timur, masyarakat tertarik mendaftarkan putera-putrinya karena beranggapan bahwa kalau putera-putrinya masuk di SMKN 5 Bojonegoro maka nantinya akan diterima kerja diperusahaan-perusahaan minyak yang gajinya besar. Partisipasi masyarakat secara  umum merupakan keikutsertaan masyarakat dalam berbagai program yang direalisasikan dalam berbagai aspek. Partisipasi masyarakat dalam pendidikanadalah aktivitas yang dilakukan oleh sekelompok orang dalam bidang pendidikan dengan tujuan untuk memajukan pendidikan dengan cara-cara tertentu. Promosi yang paling banyak antusias dari masyarakat adalah dengan web SMKN 5 Bojonegoro, Blog bojonegoro dan suara bojonegoro. Berdasarkan paparan data diatas ditarik kesimpulan bahwa masyarakat cukup tertarik untuk mendaftarkan putera-putrinya di SMKN 5 Bojonegoro setelah adanya program kegiatan yang dilaksanakan sekolah seperti membangun brand sekolah, meningkatkat prestasi sesolah, membangun jejaring dengan DUDI, melakukan promosi kepada masyarakat, dan melakukan promosi ke  sekolah-sekolah. Terbukti dengan minat peserta didik yang mendaftar pada tahun pertama hampir menolak 2 kelas dan pada tahun ke dua menolak 2 kelas lebih. selain itu masyarakat tertarik karena jurusan yang dimiliki Pada awal tahun penerimaan peserta didik baru masyarakat banyak yang tertarik dengan jurusan Teknik Pemboran Minyak dan Gas (TPMG) serta jurusan Teknik Energi Terbarukan (TET) karena berdasarkan potensi alam yang dimiliki Bojonegoro adalah minyak dan gas bumi sehingga masyarakat beranggapan bahwa kalau putera-putrinya masuk di SMKN 5 Bojonegoro maka nantinya akan diterima kerja diperusahaan-perusahaan minyak yang gajinya besar. Kendala yang dihadapi sekolah salah satunya pada jurusan jurusan Teknik Pengolahan Hasil Pertanian (TPHP) masyarakat kurang tertarik untuk mendaftarkan putera-puterinya pada jurusan tersebut karena mereka beranggapan bahwa nantinya siswa akan di suruh kesawah, mencangkul dan lain-lain. Pandangan masyarakat tersebut harus dilakukan dengan memberi pengertian kepada orang tua siswa ataaupun  masyarakat bahwa pada jurusan TPHP mengolah hasil pertanian yang nantinya memiliki nilai jual tinggi.   5.     Upaya yang ditempuh dalam mengatasi hambatan manajemen humas dalam upaya peningkatan minat peserta didik baru di SMKN 5 Bojonegoro Usaha yang dilakukan oleh pengelolah sekolah dalam mengatasi hambatan yang terjadi pada proses manajemen hubungan masyarakat dalam upaya peningkatan minat peserta didik baru. Upaya yang ditempuh dalam mengatasi hambatan merupakan tindak lanjut yang dilakukan setelah mengetahui adnya kendala yang dihadapi pada perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi guna memmperoleh hasil kedepan yang lebih baik lagi. Kendala yang dihadapi dalam perencanaan adalah terkendala pada anggran dana yang dimiliki sekolah, upaya yang ditempuh untuk mengatasi hambatan pada perencanaan adalah dengan pihak sekolah seringkali mengeluarkan uang pribadi utuk memenuhi kebutuhan sekolah. Selain itu Siswa yang bersekolah disini tergolong masyarakat yang ekonominya menengah kebawah mereka ingin sekolah itu gratis semua untuk mengatasi hal tersebut sebaik mungkin pihak sekolah carikan alternatif seperti DAKP dana dari pemkab untuk KTP Bojonegoro, BOS, Dinas Pendidikan. Kendala yanng dihadapi dalam pelaksanaan adalah Kendala pelaksanaan humas dalam upaya peningkatan minat peserta didik baru di SMKN 5 Bojonegoro adalah terkendala pada SDM mereka sering kali malas bekerja, jenuh, dll sehingga pekerjaan mereka akan terhambat untuk mengatasi hambatan tersebut dengan cara optimalisasi semua potensi, jadi semua tenaga disini wajib berpartisipasi dengan begitu mereka akan aktif tidak bermalas-malasan. Selain itu kendala terkait jejaring dengan DUDI seringkali sekolah tidak bisa masuk ke DUDI yang diinginkan upaya yang dilakukan untuk mengatasi hambatan tersebut tetap berusaha masuk diperusahaan-perusahaan tersebut. Selain itu kendala pada promosi sekolah  terkadang tidak diijinkan masuk disekolah-sekolah yang sebelummya belum pernah didatangi solusi pemecahan masalah untuk promosi mencari sekolah lain yang mampu menerima untuk melakukan promosi disekolahan mereka. Kendala yang dihadapi partisipasi masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan di SMKN 5 Bojonegoro  adalah terkendala Dalam jurusan Teknik Pengolahan Hasil Pertanian (TPHP) masyarakat kurang tertarik untuk mendaftarkan putera-puterinya pada jurusan tersebut karena mereka beranggapan bahwa nantinya siswa akan di suruh kesawah, mencangkul dan lain-lain. Pandangan masyarakat tersebut harus dilakukan dengan memberi pengertian kepada orang tua siswa ataupun  masyarakat bahwa pada jurusan TPHP mengolah hasil pertanian yang nantinya memiliki nilai jual tinggi.   PENUTUP A.    Simpulan Berdasarkan temuan penelitian yang telah dipaparkan di bab sebelumnya, maka dapat ditarik simpulan sebagai berikut: Perencanaan humas dalam upaya peningkatan minat peserta didik baru di SMKN 5 Bojonegoro Perencanaan humas untuk meningkatkan minat peserta didik baru yaitu melalui berbagai program kegiatan diantaranya membangun brand sekolah, meningkatkan prestasi siswa, membangun jejaring dengan DUDI, melakukan promosi kepada masyarakat, dan melakukan promosi ke sekolah-sekolah. Pelaksanaan humas dalam upaya peningkatan minat peserta didik baru di SMKN 5 Bojonegoro sudah berjalan dengan baik dalam pelaksanaan program tentunya tidak terlepas dari biaya pelaksanaan yang telah direncanakan, dana yang dimiliki sekolah sangat kecil sehingga dalam pelaksanaannya sering kali dari pihak guru maupun karyawan sering menggunakan dana pribadi, selain itu untuk kegiatanlain yang berhubungan untuk menarik minat peserta didik baru menggunakan dana yang tidak terduga. Evaluasi humas dalam upaya peningkatan minat peserta didik baru di SMKN 5 Bojonegoro, hasil yang diperoleh setelah adanya pelaksanaan program terpenuhnya pagu pada tahun pertama hampir menolak 2 kelas dan pada tahun ke dua menolak 2 kelas lebih dengan demikian sekolah menjadi yakin walaupun sekolah baru berdiri namun minat peserta didik baru untuk mendaftarkan diri di SMKN 5 Bojonegoro lumayan banyak. Partisipasi masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan di SMK N 5 Bojonegoro, masyarakat cukup tertarik untuk mendaftarkan diri di SMKN 5 Bojonegoro yaitu pada jurusan Teknik Pemboran Minyak dan Gas (TPMG) serta jurusan Teknik Energi Terbarukan (TET) karena berdasarkan potensi alam yang dimiliki Bojonegoro adalah minyak dan gas bumi sehingga masyarakat beranggapan bahwa kalau putera-putrinya masuk di SMKN 5 Bojonegoro maka nantinya akan diterima kerja diperusahaan-perusahaan minyak yang gajinya besar. Dalam jurusan Teknik Pengolahan Hasil Pertanian (TPHP) masyarakat kurang tertarik untuk mendaftarkan putera-puterinya pada jurusan tersebut karena mereka beranggapan bahwa nantinya siswa akan di suruh kesawah, mencangkul dan lain-lain.   B.    Saran Saran –saran yang dapat diberikan peneliti berdasarkan pembahasan dari hasil penelitian yaitu: Bagi Sekolah SMKN 5 Bojonegoro dalam penyelenggaraan pendidikan sudah cukup baik namun kendala pada jurusan TPHP masyarakat kurang berminat untuk mendaftar pada jurusan tersebut, dengan demikian seharusnya sekolah memberi pengertian lebih kepada masyarakat melalui media yang dimiliki sekolah tersebut dengan kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan pengolahan hasil pertanian yang tidak guna tersebut yang dikembangkan melalui kegiatan sekolah yang nantinya memiliki nilai jual tinggi. Selain itu kurangan pada anggaran yang dimiliki sekolah menjadi hambatan sekolah, dengan demikian seharusnya sekolah lebih memperhatikan anggaran yang yang dimiliki selain itu mencari bantuan dana baik dari dana pemerintah, perusahaan, maupun dari orang tua siswa. Bagi Pengelola Pendidikan Keberhasilan pendidikan di sekolah merupakan kebutuhan bersama yang  tidak terlepas dari unsur pendidik maupun non pendidik, dengan demikian seharusnya mereka memiliki jiwa inisiatif dan bertanggung jawab atas pekerjaannya. Selain itu terkait promosi ke sekolah-sekolah seharusnya pihak sekolah mencari sekolah yang kualitas pendidikannya bagus dan mau menerima untuk melakukan promosi disekolahannya. Kepala Sekolah Kinerja humas sudah berjalan dengan baik namun seharusnya kepala sekolah mencari anggota kehumasan sesuai bidangnya untuk membantu waka humas dalam menarik minat peserta didik baru untuk mendaftarkan diri di SMKN 5 Bojonegoro. Kepala sekolah diharapkan dapat meningkatkan kinerja SDM yang ada di sekolah dengan pemberian support berupa memberian reward bagi pendidik maupun non pendidik yang kinerjanya bagus demikian juga sebaliknya pemberian punishment kepada pendidik dan non pendidik yang kinerjanya kurang bagus sehingga kegiatan sekolah dapat berjalan sesuai tujuan serta dapat mencapai hasil yang baik. Bagi Waka Humas Hubungan masyarakat sekolah adalah lembaga yang menjadi jembatan komunikasi sekolah yang menyampaikan informasi kepada masyarakat luas mampu meningkatkan manajemen yang baik dan yang teratur. Kinerja humas sudah berjalan baik diharapkan humas mampu mempertahankan kinerja dalam memberikan layanan dan informasi yang saat ini peneliti rasa sudah optimal. Sehingga kineja humas dalam meningkatkan minat peserta didik baru dapat berjalan dengan baik dan layak dijadikan contoh bagi sekolah lain. Selain itu dalam merangkul jejaring dengan DUDI seharusnya humas memiliki anggota kehumasan sesuai dengan bidangnya supaya mempermudah kinerja humas dalam masuk ke DUDI yang diinginkan. Bagi Peneliti lain Diharapkan penulisan ini dapat dijadikan referensi terkait dengan penelitian manajemen hubungan masyarakat dalam upaya peningkatan minat peserta didik baru dengan pendekatan dan setting yang berbeda.   DAFTAR PUSTAKA Adi, Isbandi Rukminto. 2007. Perencanaan Bagi Partisipatoris Berbasis Aset Komunikasi : Dari Pemikiran Menuju Penerapan. Depok: FISIP UI Press. Anggoro, M. Linggar. 2002. Teori dan Profesi Kehumasa. Jakarta: Bumi Aksara. Anne.B Lane, et al. 2017. Briding The Writing Gap Between Student and Professional: Analyzing Writing Education in Public Relations and Journalism. Public Relations Review. Vol: xxx. Pages: xxx-xxx. Effendy, Onong Uchjana. 2002. Hubungan Masyarakat. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. Iriantara, Yosal. 2004. Community Relations Konsep dan Aplikasinya. Bandung: Simbiosa Rekatama Media. Peraturan Pemerintah RI 17 Tahun 2010 Tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan. Rodliyah. 2013. Partisipasi Masyarakat dalam Pengambilan Keputusan dan Perencanaan di Sekolah. Yogakarta: Pustaka Pelajar. Ruslan, Rosady. 2006. Manajemen Public Relation & Media Komunikasi. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada. Setyodarmojo, Soekarno. 1997. Public Relations ( Pengertia, Fungsi, dan Peranannya). Surabaya: Papyrus. Sugiyono. 2013. Metode Penelitian Pendidikan: Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta. Sukmadinata, Nana Syaodih. 2010. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya. Suryosubroto, B. 2012. Hubungan Sekolah dengan Masyarakat (School Public Relation). Jakarta: PT. Rineka Cipta. Wijaya, David. 2012. Pemasaran Jasa Pendidikan. Jakarta: Salemba Empat.    
IMPLEMENTASI SISTEM MOVING CLASS UNTUK MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR SISWA DI SMP NEGERI MODEL TERPADU BOJONEGORO LEORECIA D.J, IRINNE
Inspirasi Manajemen Pendidikan Vol 5, No 1 (2017): Inspirasi Manajemen Pendidikan
Publisher : Inspirasi Manajemen Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

IMPLEMENTASI SISTEM MOVING CLASS UNTUK MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR SISWA DI SMP NEGERI MODEL TERPADU BOJONEGORO  Irinne Leorecia Dwi Jayanti Jurusan Manajemen Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Surabaya irinjaya@gmail.com Rochmawati Jurusan Manajemen Pendidikan Universitas Negeri Surabaya rochmawati@unesa.ac.id   Abstrak Abstrak: Sistem moving class merupakan sistem pembelajaran yang bercirikan siswa mendatangi guru di dalam kelas yang mencirikan mata pelajaran tertentu. Dalam implementasi sistem moving class guru mengelola kelas sesuai dengan mata pelajaran. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan pelaksanaan sistem moving class untuk meningkatkan prestasi belajar siswa di SMP Neger Model terpadu Bojonegoro, melalui: (1) Sistem moving class di SMP Negeri Model Terpadu Bojonegoro; (2) Implementasi sistem moving class untuk meningkatkan prestasi belajar siswa; (3) Hambatan dan upaya dalam implementasi sistem moving class untuk meningkatkan prestasi belajar siswa. Penelitian ini menggunakan metode pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif dan menggunakan rancangan penelitian studi kasus. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara, observasi, dan dokumentasi. Teknik Analisis data dalam penelitian ini menggunakan model interaktif yang berlangsung secara terus menerus sampai tuntas sehingga datanya jenuh. Aktivitas dalam analisis data yaitu:  data condensation, data display, dan conclusions drawing/verifying. Hasil penelitian menunujukan bahwa: (1) SMP Negeri Model Terpadu Bojonegoro menggunakan sistem moving class untuk semua mata pelajaran kecuali Olahraga. Kelas moving di SMP Negeri Model Tepadu Bojonegoro mencirikan mata pelajaran masing-masing (2) Pelaksanaan sistem moving class di SMP Negeri Model Terpadu Bojonegoro dilakukan dengan cara memberikan waktu jeda selama 5 menit saat pergantian kelas. Setiap guru mata pelajaran megelola kelas sesuai dengan karakteristik kelas masing-masing (3) Hambatan dalam pelaksanaan sistem moving class di SMP Negeri Model Terpadu Bojonegoro yaitu (a) masih ada beberapa peserta didik yang terlambat masuk kelas saat pergantian kelas. Upaya yang dilakukan guru adalah dengan memberikan hukuman kepada peserta didik yang terlambat; (b) belum ada loker untuk penyimpanan tas peserta didik; (c) guru yang terlambat masuk kelas karena ada suatu halangan sehingga peserta didik menunggu diluar kelas, untuk itu sekolah menyediakan kunci cadangan kelas di TU dan satpam. Dengan demilkian dapat disimpulkan bahwa implementasi sistem moving class di SMP Negeri Model Terpadu Bojonegoro terlaksana dengan efektif dan dapat memberikan kontribusi untuk meningkatkan prestasi belajar peserta didik.   Kata Kunci: Moving class, Prestasi Belajar   IMPLEMENTATION OF MOVING CLASS’ SYSTEM TO INCREASE THE STUDENTS’ LEARNING ACHIEVEMENT IN SMP NEGERI MODEL TERPADU BOJONEGORO Abstract Abstract: The moving class’ system is a learning system that students come to teachers in class according based on certain subjects. In order to implementing the moving class’ system, teachers manage class according subject. This research has aim to describe implementation of moving class’ system in order to increase students’ learning achievement in SMP Model Terpadu Bojonegoro, with: (1) The moving class’ system in SMP Model Terpadu Bojonegoro; (2) Implementation the moving class’ system in order to increase students’ learning achievement; (3) Obstacles and efforts on Implementation the moving class’ system in order to increase students’ learning achievement. This research used qualitative approach with decriptive method and study case research as its design. The collecting data technique in this research used interview, observation, and documentation. The analyze data technique in this research used interactive model that happen continually until the data being saturated. The activities in this research are: the condensation data, display data, and verifying data. The result of this research were showed that: (1) SMP Model Terpadu Bojonegoro use moving class’ system in all of subjects, except on sport subject. The class in SMP Terpadu Bojonegoro have their characteristic features each other. (2) The Implementation of moving class’ system in SMP Model Terpadu Bojonegoro be done with give a respite time during 5 minutes when class change with another students from another class. Each teachers manage class according characteristic features each class. (3) The obstacles in implementation of moving class’ system in SMP Model Terpadu Bojonegoro are (a) There are some students come late into class when the class change, so the effort that be done by teachers is give a punishment to this students; (b) There are not locker yet for students’ bag storages; (c) Teacher who come late into class because of impediments so students wait outside of class, for that the school management provide reserve keys of class in administration room and security room. This research can be concluded that implementation of moving class’ system in SMP Model Terpadu Bojonegoro have done effectively and can give contribution in order to increase students’ learning achievement.   Keywords: MovingClass, Learning Achievement   PENDAHULUAN Pemerintah Indonesia mengupayakan terwujudnya pendidikan berkualitas. Salah satunya pemerintah Indonesia telah menetapkan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah sehingga pengelolaan dan penyelenggaraan sistem pendidikan nasional yang berbentuk desentralisai dapat diwujudkan bersama-sama antara pemerintah pusat dan daerah. Mulyasa (2003:24), menjelaskan program ini merupakan upaya peningkatan mutu pendidikan melalui pendekatan pemberdayaan sekolah dalam mengelola institusinya. Inti kegiatan suatu sekolah atau kelas adalah proses belajar mengajar (PBM). Kualitas belajar siswa ditentukan oleh keberhasilan pelaksanaan PBM tersebut. Dalam proses belajar mengajar (PBM), guru memiliki posisi yang menentukan keberhasilan pembelajaran, karena fungsi utama guru adalah merancang, mengelola, dan mengevaluasi pembelajaran, maka dari itu keberhasilan suatu pembelajaran itu terletak pada kreatifitas dan kompetesi yang dimiliki oleh seorang guru. Hal ini sejalan dengan pendapat Darsono, dkk (2000:24) yang menyatakan bahwa pembelajaran adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh guru sedemikian rupa, sehingga tingkah laku siswa berubah ke arah yang lebih baik. Oleh karena itu, kesadaran untuk melakukan inovasi dari insan pendidikan perlu dikembangkan. Mengajar bukan lagi usaha untuk menyampaikan ilmu pengetahuan, tetapi juga usaha untuk menciptakan lingkungan yang mengajarkan peserta didik agar tujuan pembelajaran dapat tercapai secara opatimal. Lingkungan belajar yang digunakan siswa berdampak pada motivasi siswa untuk melakukan proses pembelajaran. Banyak keluhan yang muncul dari siswa maupun guru berkaitan dengan pelaksanaan PBM (Proses Belajar Mengajar). Keluhan siswa yang tidak nyaman saat berada dalam kelas,   merasa bosan dan tidak bersemagat saat PBM berlangsung sehingga berdampak pada hasil belajar siswa yang kurang optimal. Permasalahan tersebut dapat diminimalkan, apabila semua pihak dapat berperan, terutama guru yang bertangggung jawab di dalam mengembangkan keterampilan pembelajaran dan menajemen kelas. Gasiewski, Eagan, dkk (Olelewe dan Agomuo, 2016:78) menyatakan bahwa “student’s learning is affected by how comfortable they feel in class, in seeking out tutoring, in ayyending supplementary instruction session and in collaborating with other students”. Maka dari itu manajemen kelas sangat berpengaruh pada PBM. Untuk dapat menjalankan manajemen kelas secara maksimal, guru harus dapat mendapatkan ruang kelas tersendiri untuk pelajaran yang diampunya. Dalam kelas setiap guru mata pelajaran harus melakukan berbagai inovasi dan kretifitas dalam pembelajaran, mengelola kelas, menata ruang dan tempat duduk sesuai dengan karakteristik mata pelajaran masing-masing. Guru dapat melakukan semua itu jika guru diberikan wewenang mengelola kelas sesuai dengan mata pelajaran. Sehingga guru dapat memotivasi siswa dalam belajar dan siswa tidak akan jenuh dalam mengikuti proses pembelajaran dikelas karena siswa tidak akan belajar dalam kelas yang monoton tetapi siswa akan mengalami berbagai pengalaman belajar di dalam kelas yang berbeda sesuai dengan karakteristik mata pelajaran terkait. Suparman (2010:98) menyatakan bahwa kebosanan dan kejenuhan menyebabkan anak didik tidak antusias dalam belajar, suasana menjadi kaku dan tidak monoton, dan hilangnnya kehangatan emosional. Sistem moving class di Indonesia mulai diterapkan di Indonesia tahun 2006 dengan Peraturan Menteri Pendidikan Nomor 22 Tahun 2006 Tentang Standar Isi mengenai beban belajar menyebutkan bahwa satuan pendidikan pada semua jenis dan jenjang pendidikan menyelenggarakan program pendidikan dengan menggunakan sistem paket atau sistem kredit semester. Pada sistem kredit semester maka siswa juga di tuntut agar lebih aktif seperti dengan sistem moving class yang menuntut siswa untuk berpindah kelas per mata pelajaran yang diikuti. Salah satu faktor yang dibutuhkan untuk menerapkan sistem kredit semester (SKS) disekolah adalah konsep moving class. Juknis Pelaksanaan Sistem Belajar Moving class di SMA (2010:35) menyatakan moving class merupakan sistem pembelajaran yang bercirikan peserta didik mendatangi guru di kelas. Moving class merupakan kelas yang berkarakter dan memberikan lingkungan yang dinamis sesuai mata pelajaran sehingga siswa tidak akan mudah jenuh dalam mengikuti pembelajaran di kelas. Sistem moving class lebih sesuai pada Sistem Kredit Semester (SKS) namun dapat juga dilaksanakan pada sistem paket. Moving class merupakan sistem pendidikan yang telah lama diterapkan diluar negeri. Namun di Indonesia hanya beberapa sekolah yang telah menerapkan sistem moving class. Hal ini karena penerapan sistem ini secara infrastruktur lebih mahal dari sekolah konvensional. Dalam sekolah konvensional yayasan atau lembaga sekolah cukup menyediakan beberapa kelas dan laboratorium. Tetapi dalam moving class setiap kelas harus dilengkapi dengan fasilitas keilmuan sesuai dengan mata pelajaran terkait. Sistem ini akan membutuhkan banyak fasilitas dan sarana prasarana yang harus di sediakan per ruang kelas. Sekolah Model Terpadu Bojonegoro bediri sejak tahun 2010 dengan dilayangkanya Surat Keputusan Bupati Bojonegoro Nomor: 118/113/KEP/412.11/2010 tanggal 15 April 2010 tentang pendirian Sekolah Model Terpadu kabupaten Bojonegoro dengan status negeri yang meliputi satuan pendidikan Taman Kanak-Kanak (TK), Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), dan Sekolah Menengah Atas (SMA) dengan dikoordinir oleh unit Pelaksana Teknis Dinas Pendidikan Kabupaten Bojonegoro (UPT SMT). Sekolah ini merupakan satu-satunya sekolah model terpadu yang ada di Kabupaten Bojonegoro dengan status negeri. Dan selanjutnya atas dasar Surat Keputusan Bupati Bojonegoro Nomor: 188/297/KEP/412.11/2011 tanggal 5 Oktober 2011 untuk satuan SD, SMP dan SMA dikembangkan menjadi Sekolah bertaraf Internasional. Sebagai sekolah model tentunya dalam penyelenggaraanya tidak terlepas dari berbagai model peningkatan layanan mutu pendidikan. Sehingga SMP Negeri Model Terpadu merupakan salah satu sekolah unggulan di Kabupaten Bojonegoro. SMP Negeri Model Terpadu Bojonegoro, memaparkan bahwa SMP Negeri Model Terpadu Bojonegoro telah melaksanakan sistem moving class dan satu-satunya sekolah yang berada di Bojonegoro yang telah menerapkan sistem moving class. Kegiatan moving class di SMP Negeri Model Terpadu Bojonegoro, dilaksanakan ketika pergantian jam pelajaran, dan diberlakukan kepada semua siswa, baik kelas VII, VIII, dan IX serta diberlakukan untuk semua mata pelajaran, jadi ketika jam pergantian mata pelajaran tiba, maka seluruh siswa bergegas meninggalkan kelas dan menuju kelas mata pelajaran berikutnya sesuai dengan jadwal masing-masing. Total jumlah kelas di SMP Negeri Model Terpadu Bojonegoro adalah 21 kelas setiap mata pelajaran. Setiap kelas mata pelajaran menampilkan ciri khas mata pelajaran. Di dalam kelas terdapat media pembelajaran seperti buku, alat praktek dan poster yang berkaitan dengan mata pelajaran serta LCD proyektor guna mempermudah proses pembelajaran dikelas. Melalui kelas berbasis multimedia, pembelajaran berlangsung secara aktif dan efektif. Pengaturan tempat duduk setiap kelas juga berbeda-beda, hal ini disesuaikan dengan ciri khas setiap mata pelajaran dan untuk mempermudah proses pembelajaran dikelas. Dari hasil wawancara dengan Wakil Kepala Bidang Kurikulum SMP Negeri Model Terpadu Bojonegoro, mengatakan bahwa moving class diterapkan di SMP N Model Terpadu pada tahun 2013, tahun ke tiga sejak sekolah ini berdiri. Tujuan dari dilaksanakan sistem moving class adalah untuk memberikan kesegaran siswa dan guru dalam menjalankan proses pembelajaran yang didukung sarana parasarana guna meningkatkan efesiensi dan efektivitas Proses Belajar Mengajar (PBM) yang akan berdampak pada peningkatan prestasi belajar siswa. Hasil wawancara kepada beberapa siswa SMP Negeri Model Terpadu Bojonegoro mengatakan bahwa dengan diterapkanya moving class, mereka merasa senang dan tidak jenuh dengan pembelajaran di kelas namun mereka juga sedikit mengeluh karena sampai sekarang belum ada loker atau penyimpanan barang sehingga mereka masih kesulitan dan berat untuk membawa barang-barang mereka setiap pergantian kelas. Moving class tidak hanya terbatas pada tempat ruang kelas saja, tetapi dapat dilakukan diluar kelas, di perpustakaan, dan dilaboratorium. Maka dari itu di SMP Negeri Model Terpadu Bojonegoro juga dilengkapi dengan laboratorium yang terdidri dari 2 laboratorium komputer, 1 laboraotrium IPA dan laboratorium Bahasa Inggris. Dengan adanya perpindahan tempat belajar ini dapat mengurangi tingkat kejenuhan dan siswa dapat lebih bersemangat. Keberhasilan pelaksanaan moving class dapat dilihat dari nilai hasil belajar siswa dan juga prestasi belajar siswa. Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) menurut Permendiknas Nomor 20 Tahun 2007 tentang Standar Penilaian Pendidikan, adalah Kriteria Ketuntasan Belajar (KKB) yang ditentukan oleh satuan pendidikan. KKM pada akhir jenjang satuan pendidikan untuk kelompok mata pelajaran selain ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan batas ambang kompetensi. Kriteria ideal ketuntasan untuk masing-masing indikator 75 % (Permendiknas Nomor 22 Tahun 2006). Di SMP Negeri Model Terpadu Bojonegoro Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) per mata pelajaran berbeda, yaitu yang terendah 75 dan yang tertinggi 80. Website online SMP Negeri Model Terpadu, memberitakan bahwa SMP Negeri Model terpadu Bojonegoro terletak pada urutan ke tiga sekabupaten Bojonegoro dalam prestasi siswa. Dalam website tersebut juga memberitakan tentang prestasi yang telah diraih siswa SMP negeri Model Terpadu Bojonegoro, diantaranya adalah Juara II Siswa Prestasi, Juara I Story Telling, dan Juara III LKIR. Paparan tersebut adalah sebagian prestasi yang dimiliki oleh SMP Negeri Model Terpadu Bojonegoro. Ini membuktikan bahwa SMP Negeri Model Terpadu Bojonegoro unggul dalam prestasi akademik maupun non akademik. Paparan di atas, membuat peneliti tertarik membahas dan mengenalisa sistem moving class dalam meningkatkan prestasi siswa, hal itu juga berguna untuk meningkatkan semangat belajar siswa. Oleh karena itu penulis dalam penelitian ini, menetukan kajian dalam judul “Implementasi Sistem Moving class untuk Meningkatan Prestasi Belajar Siswa di SMP Negeri Model Terpadu Bojonegoro”. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan penelitian studi kasus. Sesuai dengan pernyataan yang dikemukakan Yin (2013: 1) bahwa: secara umum, studi merupakan strategi yang lebih cocok bila pokok pertanyaan suatu penelitian berkenaan dengan how atau why, bila peneliti hanya memiliki sedikit peluang untuk mengontrol peristiwa-peristiwa yang akan diselidiki, dan bilamana fokus penelitiannya terletak pada fenomena kontemporer (masa kini) di dalam konteks kehidupan nyata. Lokasi penelitian di SMP Negeri Model Terpadu  Bojonegoro dengan menggunakan teknik pengumpulan data observasi, wawancara dan dokumentasi. Analisis data dalam penelitian kualitatif dilakukan sejak sebelum memasuki lapangan, selama di lapangan dan setelah selesai di lapangan. Dikutip dari pandangan Miles et al berarti  aktivitas dalam analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus menerus sampai tuntas. Dalam pandangan ini analisis data kualitatif  berjalan secara terus menerus, berulang sampai data tersebut jenuh  (Miles, et al, 2014:33) selama dalam kurun waktu 2 bulan. Kehadiran seorang peneliti merupakan kunci utama dalam penelitian kualitatif. Dalam penelitian ini peneliti bertindak sebagai human instrument karena peneliti merupakan instrumen utama dalam penelitian  kualitatif. Uji keabsahan data pada penelitian ini menurut  Sugiyono (2012:224) menggunakan teknik-teknik antara lain: (1) credibility (validitas internal), (2) transferability (validitas eksternal), (3) dependability (reliabilitas) dan (4) confirmability (obyektivitas) . HASIL DAN PEMBAHASAN Fokus dalam penelitian ini yaitu 1) Sistem moving class di SMP Negeri Model Terpadu Bojonegoro. 2) Implementasi sistem moving class untuk meningkatkan prestasi belajar siswa di SMP Negeri Model Terpadu Bojonegoro. 3) Hambatan dan upaya dalam implementasi sistem moving class untuk meningkatkan prestasi belajar siswa di SMP Negeri Model Terpadu Bojonegoro 1.     Sistem moving class di SMP Negeri Model Terpadu Bojonegoro. Hasil penelitian menunjukan bahwa sistem moving class merupakan suatu model pembelajaaaran yang menempatkan siswa sebagai pelaku atau subjek, yaitu siswa yang ditempatkan ke dalam kelas mata pelajaran disesuaikan dengan karakteristik mata pelajaran masing-masing. Seperti dengan pendapat Sumindar (2012:18) bahwa pembelajaran moving class sering disebut juga running class yang berarti pembelajaran yang menempatkan siswa sebagai subjek bukan objek, yaitu siswa dalam proses pelejaran menempati ruangan-ruangan yang telah ditetapkan untuk setiap mata pelajaran. Dengan demikian, ruang kelas di fungsikan seperti laboratorium sehingga siswa akan belajar dengan metode dan media pembelajaran yang bervariasi disesuaikan dengan mata pelajaran yang dipelajarinya. Sistem moving class di SMP Negeri Model terpadu Bojonegoro telah dilaksanakan sejak tahun 2013, dengan jumlah kelas yang mencukupi yaitu terdiri dari tiga kelas per mata pelajaran. Semua mata pelajaran yang diajarkan di kelas VII, VII dan IX menggunakan sistem pembelajaran moving class, kecuali olahraga. Kelas di SMP Negeri Model Terpadu Bojonegoro dibagi menurut mata pelajaran moving yang didesain mencerminkan karakteristik mata pelajaran terkait. Implementasi sistem moving class di SMP Negeri Model Terpadu Bojonegoro terlaksana dengan baik dan efektif. Hal ini dapat dilihat pada ruang kelas yang mencerminkan karakteristik mata pelajaran terkait dengan sarana prasarana yang mendukung. Di dalam moving class SMP Negeri Model Terpadu Bojonegoro terdapat beberapa pajangan dan hasil karya siswa sesuai dengan mata pelajaran yang diajarkan. Untuk kelas IPA terdapat beberapa pajangan dan alat peraga sesuai dengan materi, misalnya kerangka tulang manusia dan organ tubuh manusia. Di dalam kelas juga terdapat seperti taman baca kecil yang menyimpan buku yang terkait dengan mata pelajaran masing-masing. Ketika waktu luang para siswa memanfaatkan media dalam kelas tersebut seperti membaca buku dan membaca hasil karya temanya, sehinggga hal tersebut membantu pemahaman siswa dalam belajar. Penempatan media dan buku yang terkait dengan mata pelajaran tersebut bertujuan agar suasana kelas lebih kondusif dan siswa lebih fokus saat mengikuti proses pembelajaran dikelas. Hal ini sesuai dengan teori yang terdapat di Juknis Pelaksanaan Sistem Belajar Moving class di SMA (2010;38) terdapat beberapa perbedaan karakteristik moving class dengan kelas menetap, antara lain yaitu (a) pendidik menetap dalam kelas, peserta didik yang berpindah-pidah; (b) alat peraga berada dalam ruang kelas; (c) identitas ruang belajar adalah ruang mata pelajaran; (e) setiap pergantian pelajaran tercipta suasana yang berbeda. Hasil penelitian juga menunjukan bahwa pengelolaan kelas di SMP Negeri Model Terpadu Bojonegoro dilakukan oleh guru dan disesuaikan dengan karakteristik mata pelajaran terkait. Sehingga dalam kelas sangat tergambar suasana sesuai dengan setiap mata pelajaran. Hal ini sesuai dengan pendapat Darsonno, dkk (2000:24) pembelajaran adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh guru sedemikian rupa, sehingga tingkah laku siswa berubah kea rah yang lebihh baik. Sistem belajar moving class memiliki banyak kelebihan bagi peserta didik dan guru. Bagi peserta didik, mereka lebih fokus pada materi pelajaran, suasana kelas menyenangkan dan interaksi peserta didik dengan guru lebih intensif. Bagi guru, mempermudah mengelola pembelajaran, lebih kreatif dan inovatif dalam mendesain kelas, guru lebih maksimal dalam menggunakan berbagai media, pemanfaatan waktu belajar lebih efisien dan lebih mudah mengelola kelas (Juknis Pelaksanaan Sistem Belajar Moving class di SMA, 2010:35). Paparan tersebut sesuai dengan hasil penelitian di SMP Negeri Model Terpadu, peserta didik bersemangat dan tidak jenuh saat proses belajar mengajar di dalam kelas. Dalam sistem moving class ini para guru juga lebih mudah untuk mengajar dan menyampaikan materi di dalam kelas, karena media pembelajara yang dibutuhkan sudah tersedia dan tersimpan didalm kelas masing-masing. Banyak tujuan yang ingin dicapai dengan menerapkan sistem moving class hal ini disampaikan oleh Juknis Pelaksanaan Sistem Moving class di SMA (2010:35) bahwa salah satu tujuan menerapkan sistem moving class adalah untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Seperti yang disampaikan oleh  Ibu Siti Nurkasih, S.Pd, M.Pd saat wawancara bahwa tujuan dari sistem moving class di SMP Negeri Model terpadu adalah untuk memfokuskan para siswa ke dalam suasana mata pelajaran yang diajarkan, sehingga dengan sistem moving class ini diharapkan para siswa dapat lebih bersemangat an mudah unntuk memahami materi yang diajarkan dan dapat meningkatkan prestasi belajar siswa. Hasil pennelitian menunjukan bahwa dalam proses pembelajaran di dalam kelas, para guru telah membuat silabus dan RPP sesuai pedoman yang ada dan telah disesuaikan oleh sekolah yang menggunakan sistem pembelajaran moving class. Hal ini dapat mempermudah guru untuk melaksanakan proses pembelajaran di dalam kelas moving dan juga dapat berpengaruh pada pengembangan individu siswa. Siswa dan guru dapat lebih mudah mencapai tujuan dalam proses pembelajaran dalam kelas moving 2.     Implementasi sistem moving class untuk meningkatkan prestasi belajar.    Dalam pelaksanaan sistem belajar moving class kepala sekolah membentuk tim kerja pelaksanaan sistem moving class untuk menuyusun kegiatan dan rambu-rambu pelaksanaan sistem moving class. Tim kerja pelaksanaan sistem moving class terdiri atas guru, wakil kepala bagian kurikulum, kepala sekolah, pengawas sekolah dan komite sekolah (Juknis Pelaksanaan Sistem Belajar Moving class di SMA, 2010:40).  Hasil temuan peneliti menunjukan bahwa SMP Negeri Model Terpadu membentuk tim kerja dalam pelaksanaan sistem moving class. Seperti paparan tersebut, Ibu Siti Nurkasih, S.Pd, M.Pd selaku kepala SMP Negeri Model Terpadu Bojonegoro juga menyampaikan bahwa yang terlibat dalam pelakasanaan sistem moving adalah sarana prasarana yang bekerja sama dengan guru kelas, karena dalam pelaksanaan moving class, guru adalah pengelola dalam kelas maka bagian sarana prasarana bekerja sama dengan guru kelas untuk menyediakan media yang dibutuhkan di dalam kelas. Tim kerja pelaksanaan sistem mocing class di SMP Negeri Model Terpadu Bojonegoro telah melakukan tugasnya dengan baik. Hal ini terlihat dari sarana prasarana di dalam kelas yang lengkap dan sesuai dengan mata pelajaran terkait, serta proses pembelajaran yang dibuat sedemikian rupa sehingga kondisi kelas dan suasana kelas mencerminkan karakteristik maya pelajaran terkait. Dengan sistem moving class maka kelas mata pelajaran dilengkapi dengan kebutuhan sesuai dengan karakteristik setiap mata pelajaran. Juknis Pelaksanaan Sistem Moving class di SMA (2010:30) menjelaskan pengaturan tempat duduk siswa juga dapat divariasikan sesuai dengan ciri khas setiap mata pelajaran. Guru dapat bekerja sama dengan para siswa dalam pengaturan tempat duduk dikelas. Dalam pelaksanaan moving class di SMP Negeri Model Terpadu Bojonegoro, setiap kelas mata pelajaran menggunakan setting tempat duduk yang berbeda-beda, pengaturan tempat duduk tersebut diatur oleh guru disesuaikan dengan materi yang diajarkan, selain tempat duduk yang berbeda-beda, matode dan media yang digunakan di dalam kelas juga berbeda-beda disesuaikan dengan materi yang diajarkan. Setting tempat duduk, diantaranya adalah a) setting tempat duduk mmodel U, b) setting tempat duduk kelompok atauu diskusi, dan c) setting tempat duduk convensional. Media pembelajaran yang digunakan diantaranya adalah a) metode ceramahm digunakan saat guru menjelaskan materi kepada para siswa, b) diskusi kelompok, digunakan saat guru memberikan tugas kelompok kepada siswa, dan c) presentasi, metode ii digunakan saat para siswa diminta untuk mempresentasikan hasil karya yang telah mereka buat. Kemudian metode pembelajaran yang digunakan bermacam-macam, diantaranya adalah LCD, papan tulis, dan alat peraga yang disesuaikan dengan materi. Hal tersebut bertujuan agar siswa tidak jenuh dan bersemangat dalam mengikuti proses pembelajran di dalam kelas sehingga dapat menigkatkan prestasi belajara siswa. 3.     Hambatan dan upaya dalam implementasi sistem moving class untuk meningkatkan prestasi belajar siswa di SMP Negeri Model Terpadu Bojonegoro. Pada pelaksanaan sistem moving class di SMP Negeri Model Terpadu Bojonegoro, memerlukan usaha yang maksimal untuk mencapai tuujuan dan hasil iyang diharapkan, oleh karena itu pelaksanaan sistem moving class ini menemukan beberapa hambatan. Hambatan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2002: 385) adalah halangan atau rintangan. Hambatan memiliki arti yang sangat penting dalam setiap melaksanakan suatu tugas atau pekerjaan. Hambatan dapat menganggu suatu proses kegiatan atau pelaksanaan. Agung (2011:84) menyebutkan bahwa hambatan yang terjadi dalam pelakasanaan sistem moving class meliputi: (a) kondisi kelas belum ditata sempurna, (b) sarana prasarana moving class belum lengkap, (c) keterlambatan siswa memasuki kelas, (d) kebersihan moving class, dan (e) terpotongnya jam pelajaran karena ada proses pergantian kelas. Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat juga beberapa hambatan di dalam pelaksanaan sistem moving class di SMP Negeri Model Terpadu Bojonegoro. Berikut adalah hambatan dalam pelaksanaan sistem moving class untuk meningkatkan prestasi belajar siswa di SMP Negeri Model Terpadu Bojonegoro: Masih ada peserta didik terlambat saat memasuki kelas saat proses moving class. Sehingga hal tersebut dapat mengganggu proses pembelajaran di dalam kelas. Banyak alasan yang digunakan peserta didik, diantaranya yang sering adalah mampir kekantin untuk membeli minum. Beban tas peserta didik yang dibawa setiap berganti kelas. Hal tersebut terkadang membuat siswa merasa lelah untuk berganti kelas. Guru yang terlambat masuk kelas atau berhalangan hadir saat jam pelajaran sehinnga peserta didik harus menunggu diluar kelas. Hal seperti ini juga dapat mengganggu proses pembelajaran di dalam kelas, waktu belajar siswa akan berkurang karena menunggu guru datang diluar kelas. Dari hasil penelitian di atas dapat diketahui bahwa dalam pelaksanaan sistem moving class di SMP Negeri Model Terpadu Bojoengoro masih ditemukan beberapa hambatan yang mengganggu proses pelaksanaan moving class. Untuk itu maka diperlukan adanya upaya untuk mengatasi hambatan tersebut. Menurut Tim Penyusun Departemen Pendidikan Nasional (2008:787) upaya adalah usaha, akal atau ikhtiar untuk mencapai suatu maksud, memecahkan persoalan, mencari jalan keluar, dan sebagainya. Upaya adalah suatu usaha uyang dilakukan dengan maksud agar suatu permasalahan dapat diselesaikan dengan baik dan dapat mencapai tujuan yang diharapkan. Hasil penelitian menunjukan bahwa sekolah dan guru telah melakukan beberapa cara atau upaya untuk mengatasi hambatan tersebut. Berikut adalah upaya yang dilakukan sekolah dan guru untuk mengatasi hambatan dalam pelaksanaan sistem moving class untuk meningkatkan prestasi belajar siswa di SMP Negeri Model Terpadu Bojonegoro: Guru memberikan hukuman kepada peserta didik yang terlambat, seperti memberikan tugas tambahan kepada siswa, menghukum siswa untuk berdiri didepan kelas atau memebersihkan ruangan kelas. Hukuman tersebut bertujuan agar peserta didik jera dan tidak mengulanginya lagi Pihak sekolah telah merencanakan pengadaan loker untuk menyimpan tas atau barang peserta didik. Namun pengadaan loker tersebut masih dalam penyusunan rencana Sekolah telah menyiapkan kunci cadangan yang diserahkan kepada TU dan satpam sehingga peserta didik dapat membuka dan masuk kelas walaupun guru kelas belum hadir. Dengan begitu peserta didik dapat melakukan proses belajar di dalam kelas walaupun tanpa didampingi oleh guru PENUTUP A.    Simpulan Dalam penelitian kali ini, penulis dapat menyimpul beberapa hal yang berkaitan dengan pernyataan hasil penelitian: Sistem moving class di SMP Negeri Model Terpadu Bojonegoro dilatar belakangi oleh input siswa yang kurang baik. Sarana prasarana yang telah cukup dan menunjang untuk dilaksanakan sistem moving class, mulai dari jumlah kelas dan media pembelajaran yang lengkap di dalam kelas. Sistem moving class terlaksana dengan baik dan kondusif dan diharapkan dapat meningkatkan prestasi belajar siswa. Penciptaan suasana kelas yang kondusif dan bercirikan mata pelajaran terkait dilakukan oleh sekolah dan guru dengan menyediakan jumlah kelas yang cukup, sarana prasarana di dalam kelas yang lengkap sesuai dengan kebutuhan mata pelajaran terkait, guru berinovasi menggunakan metode pembelajaran dan media pembelajaran yang disesuaikan dengan materi. Dari hasil pengamatan dan pengolahan nilai dari guru dapat disimpulkan bahwa implementasi sistem moving class memberikan kontribusi terhadap hasil belajar siswa. Masih ditemukan adanya hambatan dalam implementasi sistem moving class untuk meningkatkan prestasi belajar siswa di SMP Negeri Model Terpadu Bojonegoro, diantaranya adalah kurangnya disiplin siswa saat memasuki kelas, sarana prasarana yang belum legkap, dan beberapa guru yang tidak standby di dalam kelas mata pelajaran. Upaya sekolah dan guru dilakukan untuk mengatasi hambatan dalam pelaksanaan sistem moving class dengan melakukan perencanaan sarana prasarana yang kurang dan membuat kontrak belajar dengan siswa di dalam kelas. B. Saran Berdasarkan  simpulan dari hasil penelitian yang telah dipaparkan, peneliti bermaksud memberikan beberapa saran yang dijadikan pertimbangan oleh seluruh stakeholder di SMP Negeri Model Terpadu Bojonegoro  maupun pihak yang terkait lainnya dalam penelitian ini. Beberapa saran tersebut sebagai berikut: Kepala SMP Negeri Model Terpadu Bojonegoro  Untuk meningkatkan implementasi sistem moving class agar prestasi belajar siswa lebih meningkat diharapkan melakukan evaluasi lebih mendalam terkait pelaksanaan sistem moving class baik dibidang kurikulum, sarana prasarana dan sumberdaya manusia Guru SMP Negeri Model Terpadu Bojonegoro Dengan adanya peranan yang besar dalam implementasi sistem moving class untuk meningkatkan prestasi belajar siswa, diharapkan guru lebih kreatif dan berinovasi dalam proses belajar mengajar di dalam kelas serta memberikan kontrak belajar yang jelas kepada peserta didik sehingga tidak ada hambatan dalam pelaksanaan sistem moving class. Bagian sarana prasarana  SMP Negeri Model Terpadu Bojonegoro Untuk meningkatkan implementasi sistem moving class di SMP Negeri Model Terpadu Bojonegoro diharapkan menambah sarana prasarana yang lengkap sehingga dapat membantu dalam pelaksanaan sistem moving class dengan demikian implementasi sistem moving class untuk meningkatkan prestasi belajar siswa  dapat terlaksana dengan lebih efisien. Peserta didik SMP Negeri Model Terpadu Bojonegoro Sebaiknya lebih tertib dan lebih meningkatkan kedisiplan dalam pelaksanaan sistem moving class agar proses pembelajaran dapat berkjalan dengan baik dan tujuan pembelajaran dapat tercapai. Bagi Sekolah Lain Diharapkan penelitian ini mampu menjadi contoh bagi sekolah lain agar dapat menerapkan sistem moving class untuk lebih meningkatkan prestasi belajar siswa. Bagi peneliti lain Semoga penelitian yang telah dilakukan ini menjeadi referensi dan informasi serta pengembangan yang lebih baik lagi dalam melakukan penelitian dibidang yang sama terkait sistem moving class.   Daftar Pustaka Agung. 2011. Pelaksanaan Moving Class di SMA Negeri 7 Yogyakarta Tahun Ajaran 2010/2011. Skripsi tidak diterbitkan. Yogayakarta: Universitas Negeri Yogyakarta Alwi, H. 2002. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka Darsono. 2000. Belajar dan Pembelajaran. Semarang: IKIP Press Departemen Pendidikan Nasional. 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama Miles, Mattew, et al.2014.Qualitatife Data Analysis A Methods Sourcebook.Amerika:The United States Amerika Mulyasa. 2003. Kurikulum Berbasis Kompetensi: Konsep, Karakterisitik dan Implementasi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya Olelewe, C.J and Agomuo, E.E. 2016. “Effects of B-Learning and F2F Learning Environments on Students’s Achievement in QBASIC Programming”. Journal of Vocational and Technical Education. Vol. 103: pp 76-86 Permendiknas Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi Beban Belajar Permendiknas Nomor 20 Tahun 2007 tentang Standar Penilaian Pendidikan. Petunjuk Teknis, Tahun 2010 tentang Pelaksanaan Sistem Moving Class di SMA Sugiyono. 2012. Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfabeta Sumindar, A. 2012. Model Pembelajaran Moving Class Mata Pelajaran Seni Budaya dan Implikasinya Terhadap Kemandirian Siswa di SMA Karanguri Semarang. Tesis tidak diterbitkan. Semarang: PPs Universitas Negeri Semarang Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah Suparman. 2010. Gaya Mengajar Yang Menyenangkan Siswa. Yogyakarta: Pinus Book Publisher Yin, Robert K. 2013. Studi Kasus Desain dan Metode. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
IMPLEMENTASI PROGRAM ADIWIYATA MELALUI KEGIATAN LINGKUNGAN BERBASIS PARTISIPATIF DI SMP NEGERI 1 PANDAAN Hidayatullah, Fitranda
Inspirasi Manajemen Pendidikan Vol 5, No 1 (2017): Inspirasi Manajemen Pendidikan
Publisher : Inspirasi Manajemen Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

IMPLEMENTASI PROGRAM ADIWIYATA MELALUI KEGIATAN LINGKUNGAN BERBASIS PARTISIPATIF DI SMP NEGERI 1 PANDAAN  Fitranda Hidayatullah Jurusan Manajemen Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Surabaya E-mail : fitrandahidayatullah@gmail.com Mudjito Jurusan Manajemen Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Surabaya E-mail : Ak.mudjito@gmail.com   Abstrak Abstrak: adiwiyata merupakan pendidikan berkelanjutan bagi instansi, sekolah maupun masyarakat untuk menjaga lingkungan sekitar. Program adiwiyata akan lebih baik jika dijalankan denggan partisipatif semua elemen, khususnya di sekolah yakni, kepala sekolah, siswa hingga perangkat sekolah lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan Implementasi Program Adiwiyata Melalui Kegiatan Lingkungan Berbasis Partisipatif di SMP Negeri 1 Pandaan yang memiliki program khusus dengan menggunakan metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data wawancara, observasi dan studi dokumentasi. Teknik analisis data dalam penelitian ini dengan  menggunakan kondensasi data, penyajian data dan veifikasi data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) sekolah sudah memiliki strategi sendiri dalam mencapai  sekolah adiwiyata diantaranya adanya rencana jangka panjang, menengah dan pendek, pelaksanaan yang dilakukan sekolah melalui kegiatan partisipatif. (2) implementasi kegiatang lingkungan berbasis partisipatif di sekolah sudah dilaksanakan dengan baik dengan mengacu rencana strategi sebelumnya, program kegiatan lingkungan berbasis partisipatif yang dilakukan sekolah meliputi, Jum’at Beriman, Jum’at Berseri, Jum’at Sehat, Jum’at Bersih dan Jum’at Inovatif. (3) Program kegiatan lingkungan berbasis partisipatif bagi warga sekolah sudah terlaksana dengan melaksanakan program yang dibuat oleh sekolah yakni program jum’at tersebut. (4) Kegiatan lingkungan berbasis partisipatif bersama warga sekolah dengan mengundang wali murid dalam kegiatan pembelajaran baik untuk kegiatan inovatif maupun kewirausahaan, relasi perusahaan juga berpartisipatif. Kesimpulan bahwa sekolah SMP Negeri 1 Pandaan sudah melakukan berbagai kegiatan termasuk strategi, implementasi sampai program tersendiri untuk menunjang dan mendapatkan sekolah adiwiyata.   Kata Kunci: Implementasi, Adiwiyata dan Partsisipatif     IMPLEMENTATION OF ADIWIYATA PROGRAM THROUGH PARTICIPATIVE BASED ENVIRONMENTAL ACTIVITIES IN SMP NEGERI 1 PANDAAN Abstract Abstract: Adiwiyata is a continuous education for the institution, school and community to maintain the environment. Adiwiyata program will be better if run with participative of all elements, especially in schools that principals, students to other school devices. This study aims to describe Implementation of Adiwiyata Program through Participatory Based Environmental Activity in SMP Negeri 1 Pandaan which has a special program using qualitative method with data collection technique of interview, observation and documentation study. Data analysis techniques in this study by using condensation data, data presentation and data verification. The results showed that: (1) schools already have their own strategies in achieving adiwiyata schools such as long-term, medium and short-term plans, implementation of schools through participatory activities. (2) implementation of participatory participatory environmental activities in schools has been well implemented by referring to previous strategy plans, participatory school-based environmental programs conducted by schools include, Friday to clean, Friday religion, Friday to health, Friday to green, and Friday Innovative. (3) Participatory activity-based environmental programs for school members have been implemented by implementing a program created by the school, the Friday program. (4) Participatory based environmental activities with the school community by inviting guardians in learning activities for both innovative and entrepreneurial activities, also participating company relations. The conclusion that SMP Negeri 1 Pandaan school has been doing various activities including strategy, implementation to individual program to support and accept school of adiwiyata.   Key Words : Implementation, Adiwiyata and Participative         PENDAHULUAN                 Banyaknya kerusakan lingkungan tidak lepas dari campur tangan manusia itu sendiri yang mengakibatkan terjadinya berbagai bencana alam seperti halnya tanah longsor, diakibatkan oleh penggundulan hutan, global warming karena banyaknya polusi udara yang banyak dibuat oleh perusahaan maupun asap kendaraan manusia sehingga mengakibatkan kekeringan, banjir ketika musim hujan di karenakan penumpukan sampah ataupun limbah rumahan. Adanya kebakasran hutan yang akhir-akhir ini sering di sorot terjadi karena eksploitasi yang sangat berlebihan tetapi tidak di imbangi dengan tindakan pemeliharaan kembali, seperti daur ulang dan reboisasi. Maka dari itu adanya tindakan pencegahan dengan cara berpartisipasi dalam pelestarian lingkungan yang harus diterapkan sejak dini dan terlebih lagi di bidang pendidikan baik formal, informal maupun non formal. Berdasarkan Pasal 65 poin keempat Undang-undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, disebutkan bahwa : “Setiap orang berhak dan berperan dalam pengelolaan lingkungan hidup.Dalam hal ini institusi pendidikan juga diharapkan mampu untuk turut serta mengambil peran dalam pengelolaan lingkungan berbasis partispatif.”                 Kementerian Negara Lingkungan Hidup pada tahun 2006 mencanangkan Program Adiwiyata sebagai tindak lanjut dari MoU Nomor: Kep.07/MENLH/06/2005 dan Nomor : 05/VI/KB/2005 tentang pembinaan dan pengembangan lingkungan hidup pada tanggal 3 Juni 2005 antara Menteri Negara Lingkungan Hidup dan Menteri Pendidikan Nasional.                 Menurut Woolley dalam bukunya Tackling Controversial Issue in the Primary School (2010) menjelaskan bahwa:           “School have a special role to play in securing the future for young people. As place of learning, they can help pupils understand our impact on the planet. And as models of good practice, they can be            place where suistanable living and working is demonstrade to young people and community. Tomorrow’s solution to the world’s problem       may be found by the children in our classroom today”. (DfES 2006a:2) Pendapat di atas mengindikasikan sekolah sebagai salah satu sarana pengembangan dalam melakukan meningkatkan kesadaran siswa dalam menjaga lingkungan untuk sekarang dan generasi yang akan datang.                  Perjalanan menuju Sekolah Adiwiyata secara ideal kemungkinan membutuhkan waktu relatif panjang, sehingga butuh kepeloporan dan perencanaan matang serta kesinambungan upaya kerja keras segenap warga sekolah. Langkah awal ke arah ini ialah penataan komponen program-program yang menjadi satu kesatuan utuh dalam mencapai sekolah Adiwiyata dan perlunya dibangun rasa kepedulian warga sekolah untuk menyelamatkan lingkungan sekolah dengan menciptakan perilaku warga sekolah yang  berbudaya terhadap lingkungan dan ikut partisipatif dalam pelestarian lingkungan hidup. Kegiatan lingkungan berbasis partisipatif yang telah dilaksanakan oleh SMP Negeri 1 Pandaan saling mendukung untuk mewujudkan program sekolah Adiwiyata, diantara program tersebut adalah setiap hari jum’at memiliki karakteristik tersendiri diantaranya ada jum’at bersih, jumat berseri, jum’at inovatif dan jum’at rindang. Hal tersebut dinilai sudah baik karena tidak ada program yang telah dilaksanakan tidak sesuai dengan visi ataupun misi SMP Negeri 1 Pandaan sebagai sekolah berwawasan lingkungan, dengan demikian sekolah tersebut sudah menjadi sekolah adiwiyata mandiri. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui, menganalisis dan mendeskripsikan: Strategi sekolah dalam mencapai sekolah adiwiyata Implementasi program adiwiyata kegiatan lingkungan berbasis partisipatif di SMP Negeri 1 Pandaan. Bagaimana Program kegiatan lingkungan berbasis partispatif yang dilakukan oleh warga sekolah dalam menujag sekolah adiwiyata. Bagaimana Program kegiatan lingkungan berbasis partisipatif yang dilakukan bersama masyarakat dalam mendukung sekolah adiwiyata.   KAJIAN TEORI              Strategi merupakan sebuah penentuan tujuan dan sasaran usaha jangka panjang,dan upaya pelaksanaan serta alokasi sumber daya yang diperlukan untuk mencapai tujuan tersebut. Defenisi tersebut jugasejalan dengan yang dikemukakan oleh Griffin (Sule dan Saefullah, 2010:132) bahwa “Statregyis a comprehensive plan for accomplishing an organization’s goals” yang artinya bahwa strategi sebagai rencana kemperhensif untuk mencapai tujuan organisasi. Sehingga bisa dikataka strategi adalah suau cara yang digunakan untuk memnfaatkan semaksimal mungkin segala sumber yang ada untuk mecapai tujuan. Sehingga bisa dikatakan straegi adalah suatu cara yang digunakan untukmemanfaatkan semaksimalmungkin segala sumber daya yang ada untuk mencapai tujuan. Sedangkan menurut Gaffar (Sagala, 2011:137)              Strategi adalah rencana yang mengandung cara komperhensif dan integrative yang dapat dijadikan pegangan untuk bekerja, berjuang dan berbuat guna memenangkan kompetisi serta menumbuh kembangkan organisasi.                 Berdasarkan uraian di atas dapat dinyatakan bahwa strategi adalah sebuah alat yang berupa perencanaan yang bersifat besar, luas dan terintregasi serta berorientasi pencapaian tujuan sehingga sangat berpengaruh bagi kemajuan organisasi dengan mempertimbangkan berbagai faktor baik eksternal maupun internal serta memanfaatkan semua sumber daya yang dimiliki untuk meraih tujuan yang diharapkan. Sedangkan untuk pengertian strategi di organisasi sekolah, Mulyasa (2011: 216) menyimpulkan “inti dari strategi yakni usaha sistematis dan terkoordinasi untuk secara terus menerus memeperbaiki kualitas pelayanan sehingga fokusnya diarahkan ke pelanggan yakni siswa, orang tua siswa, lulusan guru, karyawan, pemerintah dan masyarkat. Sehingga dapat disimpulkan bahwa strategi sekolah adalah sebuah alat yang berupa perencanaan yang digunakan untuk mencapai tujuan sekolah yang berupa peningkatan kualitas mutu sekolah.                 Strategi sebagai suatu kesatuan tentang sebuah perencanaan memiliki beberapa komponen-komponen penting untuk dipertimbangkan. Menurut Sule dan Saefullah (2010:133)                 Secara umum sebuah strategi yang senantiasa dipertimbangkan dalam menentukan strategiyang akan dilaksanakan: (a) kompetensi yang berbeda; (b) ruang lingkup; (c) distribusi sumber daya.       Kompetensi yang berbeda adalah sesuatu yang dimiliki oleh perusahaan dimana perusahaan dimana perusahaan melakukan kompetensi tersebut dengan baik dibandingkan dengan perusahaan lainnya. Bisa juga dikatakan bahwa kompetensi yang berbeda adalah kelebihan yang dimiliki perusahaan tersebut dibandingkan dengan perusahaan lainnya. jika diartikan dalam lingkup sekolahmungkin kompetensi yang dimaksud adalah keunggulan yang dimiliki suatu sekolah dibandingkan dengan sekolah lain. Ruang lingkup adalah lingkungan dimana organisasi atau perusahaan tersebut beraktivitas. Bisa juga diartikan bahwa ruang lingkupadalah lingkungan tempat dimana, perusahaan tersebut berada. Jika perusahaannya adlaah sekolah maka ruang lingkup adalah kawasan dimana sekolah tersebut berada sehingga sekolah dalam membuat strategi juga perlu melakukan pemetaan sekolah pesaing yang berbeda di kawasan atau ruang lingkup yang sama.                 Sedangkan yang dimaksud distribsusi sumber daya adalah bagaimana sbuah perusahaan memanfaatkan dan mendistribusikan seumber daya yang dimilikinya dalam menerapkan strategi perusahaan. Berarti bahwa untuk membuat sebuah strategi, sekolah harus memanfaatkan sumbe daya yang ada semaksimal mungkin agar mampu bersaing.                 Dari ketiga komponen tersebut maka dapat disimpulkan bahwa dari komponen-komponen tersebut saling berkaitan atau saling mendukung satu sama lain, maka untuk itu merumuskan sebuah strategi ketiga komponen tersebut harus dipertimbangkan secara matang.                 Banyak ahli yang telah menjelaskan tentang pengertian implementasi/pelaksanaan, namum pada hakikatnya implementasi adalah suatu proses berupaya untuk mensukseskan program yang telah direncanakan agar mencapai tujuan. Lebih jelas lagi akan di paparkan beberapa pengertian implementasi menurut para ahli. Menurut Mulyasa (2003: 93) implementasi yakni : “Merupakan suatu proses penerapan ide, konsep,kebijakan atau inovasi dalam suatu tindakan praktis sehingga memberikan dampak, baik berupa perubahan pengetahuan, keterampilan maupun nilai dan sikap”.                    Pengertian implementasi sejalan dengan pengertian pelaksanaan yang dikemukakan oleh Budi (2009: 12) bahwa “pelaksanaan adalah aktifitas menjalankan perencanaan yang sudah ditetapkan sebelumnya”.                 Secara etimologis juga pengertian implementasi menurut Kamus Webster yang dikutip oleh Solichin Abdul Wahab adalah “Konsep implementasi berasal dari bahasa inggris yaitu to implement. Dalam kamus besar webster, to implement (mengimplementasikan) berati to provide the means for carrying out (menyediakan sarana untuk melaksanakan sesuatu); dan to give practical effect to (untuk menimbulkan dampak/akibat terhadap sesuatu)”. (Wahab, 2004:64). Implementasi berasal dari Bahasa Inggris yaitu to implement yang berarti mengimplementasikan. Implementasi merupakan penyediaan sarana untuk melaksanakan sesuatu yang menimbulkan dampak atau akibat terhadap sesuatu. Sesuatu tersebut dilakukan untuk menimbulkan dampak atau akibat itu dapat berupa undang-undang, Peraturan Pemerintah, keputusan peradilan dan kebijakan yang dibuat oleh lembaga-lembaga pemerintah dalam kehidupan kenegaraan.                 Dalam konteks kebijakan publik Implementasi diartikan sebagai suatu proses tindakan Administrasi dan Politik. Pandangan ini sejalan dengan pendapat Peter S. Cleaves dalam bukunya Solichin Abdul Wahab (2008;187), yang secara tegas menyebutkan bahwa: “Implementasi itu mencakup a process of moving toward a policy objective by means of administrative and political steps” (Cleaves, 1980).                   Secara garis besar, beliau mengatakan bahwa fungsi implementasi itu ialah untuk membentuk suatu hubungan yang memungkinkan tujuan-tujuan ataupun sasaran-sasaran kebijakan publik diwujudkan sebagai outcome hasil akhir kegiatan yang dilakukan oleh pemerintah.      Sedangkan Van Meter dan Van Horn (1975), dalam bukunya Leo Agustino (2006;139), mendefinisikan implementasi sebagai:                 “Tindakan-tindakan yang dilakukan baik oleh individu-individu atau pejabat-pejabat atau kelompok-kelompok pemerintah atau swasta yang diarahkan pada tercapainya tujuan-tujuan yang telah digariskan dalam keputusan kebijaksanaan”. Pada tahun 2004 dikeluarkan kebijakan Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) oleh 4 (empat), yaitu : Departemen Dalam Negeri, Departemen Agama, Departemen Pendidikan Nasonal dan Kementrian Lingkungan Hidup. Adiwiyata adalah salah satu program Kementrian Negara Lingkungan Hidup dalam rangka penerapan kesepakatan bersama atara Menteri Negara Lingkungan Hidup dengan Menteri Pendidikan Nasional Nomor: 03/MENLH/02/2010. Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia No. 05 Tahun 2013 tentang Pedoman Pelaksanaan Program Adiwiyata pada Pasal 1 juga menyebutkan bahwa “Sekolah Adiwiyata adalah sekolah yang peduli dan berbudaya lingkungan”. Pada pasal itu juga menyebutkan bahwa “Program Adiwiyata adalah program untuk mewujudkan sekolah yang peduli dan berbudaya lingkungan”. Berdasarkan Tim Adiwiyata Tingkat Nasional (2010) menjelaskan pengertian adiwiyata sebagai berikut:                 “Adiwiyata mempunyai pengertian atau makna sebagai tempat yang baik dan ideal dimana dapat diperoleh segala ilmu pengetahuan dan berbagai norma serta etika yang dapat menjadi dasar manusia menuju terciptanya kesejahteraan hidup kita dan menuju kepada cita-cita pembangunan berkelanjutan.”             Tim Adiwiyata Tingkat Nasional (2012) juga menjelaskan mengenai tujuan dari program adiwiyata itu sendiri yaitu mewujudkan warga sekolah yang bertanggung jawab dalam upaya perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup melalui tata kelola sekolah yang baik untuk mendukung pembangunan berkelanjutan.                 Kegiatan lingkungan berbasis partisipatif adalah merupakan gerakan kesadaran berbudaya dan peduli lingkungan bagi seluruh warga sekolah  Menurut Sylvia Almeida & Amy Cutter-Mackenzie (2011 : 122). “The historical, Present and Future ness of Environmental Education                 in India”: Environmentalism in India in the Aryan ages was away of     life, integrated into the everyday lives of citizens through culture and             religion.                 Pendidikan lingkungan di India diintegrasikan dalam kehidupan sehari-hari oleh setiap warga melalui kebudayaan dan agama.                 Dari pendapat diatas diketahui bahwa pelaksanaan kegiatan lingkungan berbasis partisipatif selain terintegrasi dalam pembelajaran dilaksanakan dengan pembiasaan. Kegiatan tersebut dilaksanakan secara terprogram maupun tidak terprogram. Kegiatan terprogram yaitu dalam kegiatan kurikuler, sedangkan yang tidak terprogram melalui kegiatan ekstra kurikuler dan pembiasaan.   METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif. Digunakannya metode kualitatif ini bertujuan untuk menggambarkan mengenai implementasi program adiwiyata di SMP Negeri 1 Pandaan melalui kegiatan lingkungan berbasis partisipatif. Oleh karena itu penelitian ini membutuhkan kajian secara mendalam untuk memperoleh data-data yang lengkap dan terpercaya.Menurut Moleong (2012:6) penelitian kualitatif adalah “Penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subyek penelitian misalnya prilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dan lain-lain, secara holistik dan dengan cara mendeskripsikan dalam bentuk kata-kata dan bahasa dalam suatu konteks ilmiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode ilmiah”. Rancangan yang digunakan peneliti dalam penelitian ini adalah studi kasus. Hal itu dilakukan kerena peneliti berusaha menunjukkan keunikan yang ada di sekolah dan bisa dijadikan sebagai salah satu alasan untuk dilakukan penelitian serta dapat membahas secara rinci dan mendalam perilaku pada sebuah organisasi yang terkait langsung dengan kegiatan lingkungan berbasis partisipatif di sekolah. Sebagai mana tahapan desain studi kasus yang dikemukakan oleh Johnson dan Cristensen (Ulfatin, 2013:158) menyatakan bahwa ada delapan langkah yang dilakukan dalam penelitian studi kasus yakni menyeleksi topik, menentukan masalah, mendesain rancangan, mengumpulkan data, menganalisis data, menggeneralisasikan temuan, memvalidasi temuan dan menulis laporan. Lokasi penelitian adalah tempat dimana peneliti melakukan penelitian untuk mendapatkan segala informasi yang berhubungan dengan fokus penelitian. Lokasi penelitian ini dilakukan di SMP Negeri 1 Pandaan yang terletak di Jl. Kebonwaris No. 7 Kecamatan Pandaan Desa/Kel Kebonwaris. Sugiyono (2013:309) mengemukakan bahwa teknik pengumpulan dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu dengan melakukan observasi (pengamatan), interview (wawancara), dokumentasi. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan teknik pengumpulan data melalui observasi partisipan dan non partisipan, wawancara semi terstruktur, dan analisis dokumentasi. Dalam melakukan penelitian sumber data yang di observasi adalah kegiatan lingkungan berbasis partisipatif yang ada di sekolah dalam menunjang program adiwiyata, kemudian narasumber dalam penelitian ini adalah kepala sekolah, ketua coordinator adiwiyata, guru, siswa, dan relasi. Dokumentasi yang diambil dalam penelitian ini merupakan semua kegiatan yang berhubungan dengan lingkungan berbasis partisipatif dan mendukung adiwiyata.                                                             Dalam penelitian ini dimulai dengan mengumpulkan data yang ada di lapangan dengan menggunakan observasi, wawancara, dan studi dokumentasi, setelah melakukan tahap pertama kemudian melakukan kondensasi. kondensasi dilakukan oleh peneliti dengan memilah data dan menarik kesimpulan, kemudian barulah melakukan verifikasi data dan akhirnya menarik kesimpulan. Aktivitas dalam analisis data, yaitu data Condentation, data display, dan conclusion drawing/verification.                 Dalam menetapkan keabsahan data diperlukan teknik pemeriksaan. Dimana menurut Sugiyono (2013:366) uji keabsahan data dalam penelitian kualitatif meliputi uji credibility (validitas internal), transferability (validitas eksternal), dependability (realiabilitas), dan confirmability (obyektivitas). HASIL DAN PEMBAHASAN                   Setelah peneiti melakukan peelitian di sekolah kurang ebih 1-2 bulan beberapa paparan data dan hasil yang diperoleh peneliti mengenai strategi, implementasi dan program-program kegiatan lingkungan berbasis partisipatif di sekolah adalah sebagai berikut. Startegi sekolah dalam mencapai adiwiyata di sekolah SMP Negeri 1 Pandaan dapat disimpulkan bahwa terlaksananya program adiwiyata dilakukan oleh kepala sekolah dibantu oleh TIM adiwiyata yang dibentuk untuk melaksanakan indikator-indikator dari pemenuhan standar adiwiyata. Sekolah SMP Negeri 1 Pandaan sudah menerapkan semua peraturan dan keinginan dari Mentri Pendidikan Lingkungan Hidup dalam mencapai adiwiyata mandiri di sekolah. Hal ini di dukung oleh beberapa stategi sekolah yang sudah menerapkan empat komponen indikator sehingga sekolah tersebut mendapat predikat adiwiyata mandiri, dimana diantaranya kebijakan kepala sekolah yang menginginkan untuk adiwiyata, kemudian kurikulum yang terintegrasi oleh lingkungan, kegiatan lingkungan berbasis partisipatif dengan didukung beberapa program di dalamnya dan juga sarana ramah lingkungan. Hal itu tidak terlepas dari pelaksanaan yang baik dari pihak sekolah melalui partisipatif dan gotong royong warga sekolah maupun pihak luar.        Untuk perencanaan Program tersebut dibagi menjadi dua antara program jangka panjang dan juga program jangka pendek, dimana program perencanaan jangka pendek di buat untuk satu tahun dan kemudian untuk program jangka panjang mencakup hingga jangka waktu lima tahun kedepan.                   Selain itu peneliti juga melakukan pengamatan atau observasi bahwa dalam implementasi kegiatannya sudah melakukan program-program yang telah direncanakan oleh sekolah dan tentunya semua warga sekolah terlibat dalam menyukseskan tujuan dari perencanaan sebelumnya. Dalam hal ini pihak internal sekolah adalah warga sekolah yang didalamnya ada kepala sekolah sampai siswa dan pihak eksternalnya sendiri ada masyarakat yang terbagi oleh sekolah binaan, orang tua siswa dan juga relasi perusahaan, diharapkan program tersebut untuk mencapai tujuan dari program yang sudah di rencanakan sebelumnya dan sesuai dengan visi misi SMP Negeri 1 Pandaan tentang sekolah Peduli lingkungan.                 Dapat disimpulkan dari beberapa pernyataan diatas bahwa implementasi yang dilakukan oleh sekolah adalah dengan membuat program dan juga melaksanakan program yang sudah di buat misalnya saja program jum’at, kemudian pelaksanaan rencananya dilakukan oleh semua elemen termasuk dari pihak lingkungan eksternal dan internal dimana internalnya sendiri ada kepala sekolah, guru, staff sampai siswa dan pihak eksternalnya sendiri ada orang tua siswa dan juga relasi perusahaan sehingga tujuan yang sebelumnya direncanakan dapat tercapai secara maksimal sesuai dengan visi misi Sekolah.   Program kegiatan lingkungan berbasis partisipatif yang diberikan kepada siswa meliputi : Program kegiatan lingkungan berbasis partisipatif yang diberikan sekolah kepada siswa yaitu 5 program jum’at. Pembelajaran yang mengintegrasikan Lingkungan dilakukan oleh guru Kegiatan Ekstrakurikuler terintegrasi lingkungan dilakukan oleh siswa.   Program kegiatan lingkungan berbasis partisipatif yang dilakukan bersama masyarakat meliputi : Kegiatan lingkungan berbasis partisipatif yang dilakukan bersama masyarakat yang pertama adalah dengan orang tua, Kegiatan lingkungan berbasis partisipatif yang dilakukan bersama masyarakat yang kedua adalah dengan menggandeng mitra yakni relasi perusahaan. PEMBAHASAN Strategi sekolah mencapai adiwiyata                 Sekolah menerapkan beberapa strategi dalam mencapai sekolah adiwiyata yang di dalamnya mengandung sebuah rencana komperhensif agar dapat dijalankan dengan baik sehingga tujuan sekolah tersebut tercapai di antaranya adalah menerapkan empat indikator adiwiyata, membuat program jum’at, partisipatif gotong royong dan tentunya perencanaan jangka panjang dan pendek yang matang. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Gaffar ( Sagala, 2011:137 ) yang menyatakan bahwa “Strategi adalah rencana yang mengandung cara komperhensif dan integratif yang dapat dijadikan pegangan untuk bekerja, berjuang dan berbuat guna memenangkan kompetisi serta menumbuh kembangkan organisasi”.                 Sekolah juga mempunyai program khusus sendiri yakni program jum’at yang memiliki kegiatan partisipatif dalam mendukung tercapainya adiwiyata, tidak hanya melibatkan kondisi internal melainkan juga eksternal. Hal ini sama halnya pendapat yang dikemukakan oleh TIM Adiwiyata, (2013:5) yang menyatakan bahwa “Sekolah harus memiliki program yang sendiri khususnya untuk merawat gedung, lingkungan dan prasarana ramah lingkungan yang ada di sekolah, guna mencapai program adiwiyata”.                 Dari pembahasan mengenai strategi sekolah dalam mencapai adiwiyata di atas, dapat diketahui bahwa dalam penelitian ini ditemukan beberapa persamaan dengan penelitian yang dilakukan penelitian sebelumnya yakni dari segi perencanaan yang digunakan oleh sekolah adalah perencanaan jangka pendek dan jangka menengah dan juga penerapan empat indikator yang merupakan komponen pokok dapat dijalankan dengan baik, tetapi dalam penelitian ini yang berbeda adalah sekolah SMP Negeri 1 Pandaan memiliki program yang unik dan tidak dimiliki oleh sekolah lain dalam hal kegiatan lingkungan berbasis partisipatifnya dan gotong royong partisipatif di hari libur.   Implementasi program kegiatan lingkungan berbasis partisipatif di sekolah                  Pengimplementasian program adiwiyata melalui kegiatan lingkungan partisipatif yakni dengan Implementasi pertama dalam kegiatan lingkungan berbasis partisipatif adalah memiliki dan melaksanakan Program Hari jum’at. sependapat dengan Mulyasa (2003:93) yang menyatakan bahwa “Implementasi merupakan suatu proses penerapan ide, konsep, kebijakan atau inovasi dalam suatu tindakan praktis sehingga memberikan dampak, baik berupa perubahan pengetahuan, keterampilan maupun nilai dan sikap”.                   Implementasi ke dua merupakan salah satu pelaksanaan dilakukan dengan cara menggandeng dua pihak tertentu, yakni pihak internal dan eksternal Pihak internal terbagi dari semua warga sekolah, kepala sekolah, guru, staff, siswa, kantin sampai tukang kebun sekolah. Pihak eksternal dalam hal ini adalah orang tua siswa dan juga mitra sekolah yakni relasi perusahaan. Tujuan dari terciptanya hubungan antara 2 pihak tersebut adalah menjalankan program sesuai dengan planning untuk mewujudkan keinginan atau tujuan bersama yang telah ditentukan sebelumnya. Hal tersebut sependapat dengan pernyataan Hunger ( 2001: 224 ) yang menyatakan “bahwa untuk memulai proses implementasi, pihak manajemen harus memperhatikan tiga pernyataan berikut (a) siapa yang akan melaksanakan rencana strategi yang telah diformulasikan; (b) apa yang harus dilakukan; (c) keterlibatan pihak internal dan eksternal”.               Pembahasan di atas dirasa baru, bahwa peneliti menemukan hal yang unik dimana belum ditemukannya penelitian yang sama mengenai temuan penelitian tentang program khusus yang di jalankan oleh sekolah, baik itu program jum’at maupun kegiatan ekstrakurikuler inovatif yang di lakukan oleh sekolah itu sendiri dalam mendukung program adiwiyata di sekolah. Program kegiatan lingkungan berbasis partisipatif diberikan kepada warga sekolah Implementasi program jum’at. Kebijakan pembelajaran berbasis lingkungan. Kegiatan ekstakurikuler berbasis lingkungan.        Program kegiatan lingkungan berbasis partisipatif yang dilakukan sekolah kepada warga sekolah di SMP Negeri 1 Pandaan merupakan salah satu terobosan inovasi yang dimiliki sekolah untuk mencapai sekolah adiwiyata, program yang dimiliki sekolah belum terdapat penelitian yang sama terutama pada program jum’at dan juga gotong royong partisipatif tersebut.   Program kegiatan lingkungan berbasis partisipatif dilakukan bersama masyarakat Menggandeng orang tua siswa Menggandeng relasi perusahaan Yang keduanya berpartisipatif aktif dalam pembelajaran baik indoor maupun Outdoor. Menggandeng orang tua siswa dan juga mitra atau relasi perusahaan dalam kegiatan lingkungan berbasis partisipatif di sekolah menjadi hal yang wajib di lakukan oleh sekolah untuk membantu menyukseskan sekolah adiwiyata. Dalam temuan penelitian yang di lakukan oleh peneliti ini sama halnya dengan penelitian yang  dilakukan oleh Angga Swasdita Fridantara dari Universitas Negeri Yogyakarta dengan judul Impementasi program adiwiyata di SMA Negeri 2 Klaten, dimana dalam penelitian tersebut terdapat temuan penelitian menggandeng orang tua siswa dan juga relasi perusahaan dalam menyukseskan adiwiyata. Dalam penelitian ini terdapat hal yang berbeda dalam pemberian program yang dilakukan oleh sekolah yakni mitra sebagai narasumber bahkan bergerak aktif dalam prosesnya tidak hanya sebagai pelengkap saja, hal ini yang membedakan penelitian ini dengan penelitian yang lain.   PENUTUP   Simpulan Berdasarkan temuan penelitian yang telah dipaparkan di bab sebelumnya, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut : Startegi dalam  mencapai adiwiyata di SMP Negeri 1 Pandaan adalah dengan menerapkan empat indikator dan dijalankan sesuai pedoman dengan baik, kemudian memiliki program tersendiri dalam menunjang ketercapaian adiwiyata, adanya perencanaan jangka panjang maupun pendek yang mendukung tercapainya tujuan sekolah adiwiyata, dan yang terkahir dengan cara pelaksanaan dilakukan secara partisipatif serta gotong royong semua elemen, baik dalam lingkungan warga sekolah maupun melibatkan masyarakatat. Implementasi Program adiwiyata melalui kegiatan lingkungan berbasis partisipatif di SMP Negeri 1 Pandaan adalah dengan cara menjalankan program Jum’at yang dimiliki sekolah, Jum’at tersebut meliputi; (a) Jum’at Beriman; (b) Jum’at Bersih; (c) Jum’at Berseri; (d) Jum’at Sehat dan (e) Jum’at Inovatif. Kelima program jum’at tersebut dapat dilaksanakan dengan baik oleh sekolah untuk mendukung tercapainya adiwiyata di sekolah. Dalam pelaksanaannya pihak sekolah mengikutsertakan dua elemen yakni pihak internal dan pihak eksternal. Pihak Internal meliputi Warga sekolah dan Pihak Eksternal Meliputi Masyarakat sekitar termasuk relasi perusahaan. Program kegiatan lingkungan berbasis partisipatif yang dilakukan warga sekolah di SMP Negeri 1 Pandaan adalah memiliki berbagai program yakni penerapan program 5 jum’at yang sudah diatur oleh sekolah, kemudian kegiatan pembelajaran yang terintegrasi oleh lingkungan dilakukan oleh dewan guru dalam pemberian materi kepada siswa, meskipun dengan catatan tidak semua mata pelajaran terintegrasi oleh lingkungan hidup, dan yang terakhir adalah dengan ekstrakurikuler berbasis lingkungan, yakni seperti pramuka dimana kegiatannya meliputi Kemah Hijau bertujuan untuk menjaga dan peduli terhadap lingkungan, kemudian PMR dengan memanfaatkan Tanaman Toga, kesenian sanggar tari dll yang bertujuan untuk melestarikan budaya lokal. Program Kegiatan lingkungan berbasis partisipatif yang dilakukan bersama masyarakat di SMP Negeri 1 Pandaan dengan cara yang pertama dari partisipatif orang tua melalui pemberian bantuan tanaman dan poster, terkadang juga di undang di jadikan narasumber dan turut partisipatif dalam penyuluhan tentang adwiyata. Relasi perusahaan yang digandeng pihak sekolah memberikan partisipatifnya melalui Narasumber yang di sediakan untuk membantu pembelajaran baik dari segi inovatif maupun kreatif bagi siswa, adapun juga relasi perusahaan memberikan sumber daya berupa bahan pangan yang sehat misalnya saja susu botol UHT dari salah satu mitra sekolah.   Saran Berdasarkan paparan data, temuan penelitian, pembahasan, dan kesimpulan, maka peneliti memberikan saran sebagai berikut: Bagi sekolah dalam melakukan perencanaan sebaiknya lebih di rincikan lagi tentang program-program apa saja yang akan dilakukan termasuk dalam satu semester itu sendiri dan di buatkan dokumen sendiri untuk setiap perencanaan Kegiatan lingkungan berbasis partisipatifnya, sehingga perencanaan yang dibuat dapat dilaksanakan sesuai aturan-aturan dari perencanaan tersebut yang akan berdampak nantinya untuk menjadikan sekolah menjadi lebih baik lagi. Bagi sekolah dan kepala sekolah dalam pengimplementasian untuk penanggulangan hambatan sebaiknya lebih ditekankan dengan memberikan program-program yang inovasi, sehingga kreatifitas anak lebih terjaga meskipun di tuangkan dalam karya tulis dan juga turut memberikan himbauan maupun treatment untuk lebih menjaga kebersihan misalnya sebelum pembelajaran berakhir di berikan motivasi untuk selalu menjaga lingkungan sekitar. Program kegiatan yang diberikan sekolah sudah sangat mendukung kepada siswa dalam rencananya untuk menciptakan sekolah adiwiyata, tetapi masih ada hambatan dalam pelaksanaanya yakni berupa kesadaran siswa, maka dari itu sebaiknya sekolah memberikan suatu kebijakan dan beberapa tindakan untuk meminimalisir terjadinya hambatan untuk mencapai sekolah adiwiyata, baik dari partisipatif program sampai partisipatif dalam menjaga lingkungan. Bagi siswa diharapkan mampu mengikuti dan menjalankan peraturan dan program yang sudah di  berikan sekolah agar semua tujuan sekolah dapat terwujud dengan baik. Menjalin kerjasama dengan mitra merupakan langkah yang bagus dilakukan oleh sekolah, maka dari itu sekolah lebih membuat program khusus untuk relasi perusahaan sebagai mitra sekolah, tidak hanya dari partisipatif sebagai narasumber maupun bantuan-bantuan melainkan juga mitra di manfaatkan sebagai sarana sekolah dalam pengembangan produk sekolah, baik dari siswa maupun pencitraan sekolah lebih baik dari sebelum-sebelumnya.   Daftar Pustaka Abdul Wahab, Solichin. 2008. Analisis  Kebijaksanaan Dari formulasi Implementasi        Kebijakan Negara. Edisi Kedua. Jakarta: PT. Bumi Aksara. Agustino, Leo. 2006. Dasar-Dasar Kebijakan Publik. Bandung: CV. Alfabeta. Almeida Sylvia &Amy Mackenzie,2011.The Historical,Present and Futureness of Environmental Education in India.environmental education, Volume 27 (1). (Online). http://journalenvirontmenteducation.net/journal,          diakses 05 Januari 2017. Amos Neolaka. 2008. Kesadaran Lingkungan. Jakarta: PT. Rineka Cipta. Arikunto, Suharsimi. 2010. Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktek.      Jakarta:Rineka Cipta. Bahrudin Supardi. 2009. Berbakti Untuk Bumi. Bandung: Rosdakarya. Budi, Rai. 2009. Dasar-Dasar Manejemen Pendidikan. Surabaya. FIP UNESA. Dowaki, Kiyoshi. 2013. Community Empowerment Throught Appropiete Technology:       Suistaining the Suistanable Development. Volume 17. (Online).           http://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S1878029613001229,                diakses 07 Maret 2017 Edward III. 1980. Implementation Public Policy. Washington DC : Congresional               Quarter Press. (Online).                 http://repository.usu.ac.id.implementingprogramme.net.journal, diakses 07         Februari 2017 Fasli Djalal dan Dedi Supriadi. 2001. Reformasi Pendidikan dalam Konteks Otonomi Daerah. Jakarta: Depdiknas Bapenas Adicita karyanusa.   H. A. R Tilaar. 2009. Kekuasaan Pendidikan: Kajian Manajemen Pendidikan Nasional dalam Pusaran Kekuasaan. Jakarta: Rineka Cipta.   Hashim,Rugayah. 2015. The Praxis of Langkawi’s Suistanable Regeneration Strategy Trhough Eco-Tourism. Volume 170. (Online). http://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S1877042815000294, diakses 08 Maret 2017   Ibrahim, Noor Akma. 2003. Review Of Air Pollution and Health Impacts in Malaysia. Volume 92, No 2. (Online). http://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0013935102000592, diakses 09 Maret 2017              
PERAN KOMITE SEKOLAH DALAM MENINGKATKAN LAYANAN JASA PENDIDIKAN DI SMP NEGERI 12 SURABAYA Afrizal Noris, Iqbal
Inspirasi Manajemen Pendidikan Vol 5, No 1 (2017): Inspirasi Manajemen Pendidikan
Publisher : Inspirasi Manajemen Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

PERAN KOMITE SEKOLAH DALAM MENINGKATKAN LAYANAN JASA PENDIDIKAN DI SMP NEGERI 12 SURABAYA Iqbal Afrizal Noris Jurusan Manajemen Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Surabaya E-mail: iqbalafrizal4@gmail.com   Rochmawati Jurusan Manajemen Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Surabaya E-mail: rara_pinkiesty@yahoo.com                                                                                         Abstrak Penyelenggaraan pendidikan perlu adanya partisipasi dari seluruh stakeholder pendidikan, baik warga sekolah, orang tua, masyarakat, dan pemerintah. Oleh sebab itu perlu adanya keterlibatan masyarakat di sekolah dengan membentuk komite sekolah. Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan: (1) Peran komite sekolah sebagai pemberi pertimbangan dalam meningkatkan layanan jasa pendidikan di SMP Negeri 12 Surabaya, (2) Peran komite sekolah sebagai pendukung dalam meningkatkan layanan jasa pendidikan di SMP Negeri 12 Surabaya, (3) Peran komite sekolah sebagai pengontrol dalam meningkatkan layanan jasa pendidikan di SMP Negeri 12 Surabaya, (4) Peran komite sekolah sebagai mediator dalam meningkatkan layanan jasa pendidikan di SMP Negeri 12 Surabaya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan rancangan penelitian studi kasus. Pengumpulan data menggunakan teknik wawancara, observasi, dan studi dokumentasi. Analisis data menggunakan kondensasi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Keabsahan data dalam penelitian ini dilakukan uji kredibilitas, uji transferabilitas, uji dependebilitas, dan uji konfirmabilitas. Hasil penelitian (1) komite sekolah sebagai pemberi pertimbangan dengan ikut serta memberikan mengenai perumusan anggaran, pengelolaan pendidikan, pembelajaran, ketenagaan, dan sarana prasarana; (2) komite sekolah sebagai pendukung dengan mengadakan program yang selalu sinergi dengan sekolah; (3) komite sekolah sebagai pengontrol dilakukan dengan melakukan kontrol dengan cara datang ke sekolah atau melalui laporan sekolah; (4) komite sekolah sebagai mediator dengan membangun hubungan harmonis, menampung aspirasi dan keluhan melalui Commite Room. Berdasarkan hal tersebut komite sekolah di SMP Negeri 12 Surabaya telah menjalankan dengan peran dan fungsinya dengan baik. saran yang dapat di buat yaitu lebih ditingkatkan dan di berdayakan kembali peran serta komite sekolah dalam penyelenggaraan pendidikan baik dari segi peran maupun keterlibatan masyarakat untuk meningkatkan mutu sekolah.   Kata Kunci: Peran Komite Sekolah, Layanan Jasa Pendidikan      THE ROLE OF THE SCHOOL COMMITTEE IN INCREASE SERVICE EDUCATION IN JUNIOR HIGH SCHOOLS 12 SURABAYA  Abstract The implementation of education also needs participation from all stakeholders education, both the school, parents, the community, and the government. Therefore need of community involvement at schools with create the committee of school. The purpose of this research to described: (1) the role of school committees to consideration in increase service education in Junior High Schools 12 Surabaya, (2) the role of school committees as a supporter in improving service education in Junior High Schools 12 Surabaya, (3) the role of school committees as control in improving service education in Junior High Schools 12 Surabaya, (4) the role of school committees as a mediator in improving service education in Junior High Schools 12 Surabaya. This research in a qualitative design study cases .Data collection using a technique interview , observation , and study documentation .Analysis data using condensation data , presentation of data , and the withdrawal of conclusion .The validity of data in this research undergone a Credibility , Transferability, Dependability, and Confirmability. The results of the study (1) the school committee to consideration by joining and give about the formulation budget, education institutions, learning, energy purposes will be, and infrastructure; (2) the school committee as a supporter with a program that always synergies with school; (3) the committee of schools as control done by implementing control by a way coming to school or through report school; (4) the school committee as a mediator to rapport building harmonious, accommodate the aspiration and complaints from through Commite Room. Based on it school committees in Junior High Schools 12 Surabaya has run with a role and functions well . Advice that can be made of more be improved and in empower back the role of the school committee in the implementation of education both in terms of the role and community involvement to improve the quality of school .   Keywords: The Role Of School Committees, Education Services     PENDAHULUAN Kualitas pendidikan berkaitan dengan proses pelayanan pendidikan. Tanpa proses pelayanan pendidikan yang baik tidak mungkin di peroleh kualitas layanan yang bermutu. Banyak faktor yang menyebabkan rendahnya pelayanan pendidikan, salah satunya adalah proses pemberian layanan pendidikan yang masih jauh dari harapan. Di satu pihak pemberian layanan pendidikan belum menemukan cara yang paling tepat, di pihak lain pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta semakin tingginya kehidupan masyarakat dan tuntutan kebutuhan hidup sosial masyarakat sebagai pelanggan pendidikan. Pelayanan pendidikan yang bermutu adalah pemberian layanan jasa pendidikan di sekolah yang dapat memberikan kepuasan kepada siswa dan masyarakat atau orang tua siswa. Pelayanan pendidikan di sekolah adalah menjadi tanggungjawab stakeholder sekolah. Semua itu dapat terselenggara dengan baik tidak terlepas dari adanya keterlibatan dari semua stakeholder sekolah.  Hal ini sesuai dengan pernyataan Hadist dan Nurhayati (2012:78), yang menyatakan bahwa dalam penyelenggaraan pendidikan yang bermutu setiap komponen stakeholder pendidikan, baik orang tua, masyarakat, dunia kerja, maupun pemerintah, masing-masing memiliki kepentingan dalam berperan dan kapasitasnya. Tidak di pungkiri adanya keterbatasan sekolah untuk melakukan interaksi dengan masyarakat sebagai stakeholder pendidikan karena masyarakat sangat kompleks. Maka dari itu lembaga sekolah menjalankan kiat-kiat sebagai upaya mewujudkan pendidikan yang memberikan pelayanan bermutu yang berfokus pada pelanggan, adanya keterlibatan total dari semua warga sekolah. Hal ini sebagai upaya dalam membantu meningkatkan layanan pendidikan di tiap lembaga penyelenggara pendidikan dangan mengikut sertakan masyarakat di dalamnya, dengan membentuk komite sekolah di tingkat satuan pendidikan. Adapun dasar hukum utama pembentukan komite sekolah untuk pertama kalinya adalah Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2000 tentang Program Pembangunan Nasional (Propenas), rumusan propenas tentang pembentukan komite sekolah kemudian dijabarkan dalam keputusan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 044/U/2002 Lampiran II yang merupakan acuan utama pembentukan komite sekolah. Komite sekolah adalah badan mandiri yang mewadahi peran serta masyarakat dalam rangka meningkatkan mutu, pemerataan, dan efisiensi pengelolaan pra sekolah, jalur pendidikan sekolah maupun jalur pendidikan luar sekolah. SMP Negeri 12 Surabaya merupakan salah satu contoh sekolah yang menerapkan komite sekolah sebagai bentuk peran serta masyarakat dalam upaya meningkatkan mutu pelayanan pendidikan di sekolah. Pihak sekolah menyadari bahwa SMP Negeri 12 Surabaya tidak akan ada tanpa dukungan dari masyarakat luas, khususnya komite sekolah. Komite sekolah menunjukkan adanya partisipasi aktif yang diberikan untuk meningkatkan kualitas pendidikan di SMP Negeri 12 Surabaya. Semua itu itu terlihat dengan adanya perkembangan dan kemajuan yang ditunjukkan oleh komite sekolah sebagai lembaga mandiri yang membantu sekolah baik dalam bentuk materi maupun tenaga dan pemikiran. Bentuk partisipasi yang ditunjukkan oleh komite sekolah SMP Negeri 12 surabaya antara lain sesuai dengan peran komite yaitu dengan memberikan pertimbangan merumuskan perencanaan sekolah, pelaksanaan program. Dukungan berupa pengelolaan sumber daya, sarana dan prasarana , anggaran. Pengontrolan dengan ikut  mengontrol perencanaan pendidikan di sekolah, memantau pelaksanaan program  sekolah, dan mediator dengan menjadi penghubung antara komite sekolah dengan masyarakat, komite sekolah dengan sekolah, dan komite sekolah dengan dewan pendidikan. Semua hal tersebut dilakukan untuk ikut berperan membantu sekolah dalam mengembangkan dan meningkatkan mutu pelayanan pendidikan dan menyusun rencana strategis pengembangan sekolah Berdasarkan paparan latar belakang diatas, maka fokus dalam penelitian ini adalah sebagai berikut  : Peran komite sekolah sebagai pemberi pertimbangan dalam meningkatkan layanan jasa pendidikan di SMP Negeri 12 Surabaya. Peran komite sekolah sebagai pendukung dalam meningkatkan layanan jasa pendidikan di SMP Negeri 12 Surabaya. Peran komite sekolah sebagai pengontrol dalam meningkatkan layanan jasa pendidikan di SMP Negeri 12 Surabaya. Peran komite sekolah sebagai mediator  dalam meningkatkan layanan jasa pendidikan di SMP Negeri 12 Surabaya.   METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan Kualitatif  dengan rancangan penelitian studi kasus yang bertujuan untuk mendeskripsikan dan memperoleh secara jelas gambaran mengenai peran komite sekolah dalam meningktkan layanan jasa pendidikan. Lokasi peneliti pada penelitian ini dilakukan di SMP Negeri 12 Surabaya yang terletak di Jalan Ngagel Kebon Sari I Surabaya Kecamatan Wonokromo Desa/Kel Ngagel Rejo. Sedangkan subjek penelitian ini yaitu: ibu Libiah Mufidah selaku kepala sekolah SMP Negeri 12 Surabaya, bapak Nurkunaryadi selaku waka humas, bapak Nanang Hermanto selaku ketua komite sekolah, bapak Agoes Tjondro selaku staf, David dan Juan selaku siswa SMP Negeri 12 Surabaya, ibu Nur Aini selaku salah satu orang tua murid, dan bapak Agus Hariyadi selaku masyarakat sekitar SMP Negeri 12 Surabaya.. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu menggunakan teknik wawancara semi terstruktur, observasi, dan studi dokumentasi, sesuai dengan fokus penelitian. Teknik analisis data dengan melakukan beberapa langkah yaitu: Pengumpulan Data, Kondensasi Data, Penyajian Data Dan Verfikasi Data. Selanjutnya, untuk menguji keabsahan data yang diperoleh di lapangan, penelitian ini menggunakan uji Kredibilitas, Tranferabilitas, Konfirmabilitas, dan Dependabilitas. HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan temuan data di SMPN 12 Surabaya, sesuai dengan fokus penelitian  menunjukkan bahwa 1) Peran komite sekolah sebagai pemberi pertimbangan dalam meningkatkan layanan jasa pendidikan di SMP Negeri 12 Surabaya. 2) Peran komite sekolah sebagai pendukung dalam meningkatkan layanan jasa pendidikan di SMP Negeri 12 Surabaya. 3) Peran komite sekolah sebagai pengontrol dalam meningkatkan layanan jasa pendidikan di SMP Negeri 12 Surabaya. 3) Peran komite sekolah sebagai mediator  dalam meningkatkan layanan jasa pendidikan di SMP Negeri 12 Surabaya sudah dilakukan dengan baik ole komite sekolah. HASIL PENELITIAN Peran komite sekolah sebagai pemberi pertimbangan dalam meningkatkan layanan jasa pendidikan di SMP Negeri 12 Surabaya. Adapun berbagai masukan atau pertimbangan yang diberikan oleh komite kepada sekolah mulai dari komite memberikan masukan mengenai perumusan anggaran sekolah, komite juga memberikan masukan kepada sekolah dalam menyelenggarakan pendidikan yang menyenangkan, komite juga ikut serta memberikan masukan mengenai keadaan tenaga pendidikan maupun tenaga kependidikan bila dianggap oleh mereka kurang bauk, serta komite juga memberikan masukan mengenai sarana prasarana karena mereka menganggap sarana prasarana salah satu hal yang perlu diperhatikan untuk menyelenggarakan pendidikan berkualitas. Masukan-masukan yang diberikan oleh komite pada sekolah dilakukan melalui rapat-rapat baik yang diselenggarakan oleh sekolah maupun komite sendiri Peran komite sekolah sebagai pendukung dalam meningkatkan layanan jasa pendidikan di SMP Negeri 12 Surabaya. Komite sekolah memberikan dukungan berupa masukan dalam hal kepegawaian baik tenaga pendidik maupun kependidikan. Komite sekolah lebih terlihat dalam dukungan tenaga dan pemikiran  hal tersebut terlihat dengan adanya program-program komite yang selalu di sinergikan dengan program sekolah. Komite sekolah dalam mengoordinasi kegiatan dari program-program tersebut dilakukan melalui rapat yang dilakukan dengan pihak sekolah dan pertemuan yang dilakukan dengan mengundang wali murid. Sedangkan dukungan lainnya yang dilakukan oleh komite sekolah lebih kepada memberikan masukan kepada sekolah,  baik mengenai sarana prasarana sekolah dan mobilisasi anggaran sekolah Peran komite sekolah sebagai pengontrol dalam meningkatkan layanan jasa pendidikan di SMP Negeri 12 Surabaya. komite melakukan pengontrolan pengontrolan pelaksanaan pendidikan melalui hasil belajar siswa, pengontrolan penjadwalan program dan anggaran. Komite sekolah dalam hal ini juga mengontrol partisipasi stakeholder pendidikan dalam pelaksanaan program. Pengontrolan yang dilakukan komite dilakukan melalui laporan sekolah kepada komite atau dengan komite datang ke sekolah langsung,  sehingga bila ada yang tidak sesuai atau dianggap kurang tepat maka pihak komite akan memberikan saran atau kritikan pada sekolah untuk di musyawarahkan bersama melalui rapat-rapat yang diselenggarakan di sekolah Peran komite sekolah sebagai mediator  dalam meningkatkan layanan jasa pendidikan di SMP Negeri 12 Surabaya. Komite sekolah menjalin silaturrahmi dan kerjasama dengan pihak sekolah dengan melalui komunikasi dan mengadakan kunjungan langsung ke sekolah.  Komite sekolah menampung aspirasi dan keluhan dari wali murid melalui commite room yang ada di sekolah dan melalui contact person yang diberikan oleh komite. Hal tersebut dapat membantu komite sekolah dalam menganalisis kebutuhan dari masyarakat, sebelum dibicarakan dengan pihak sekolah. Adapun usulan aspirasi tersebut disampaikan pada sekolah melalui rapat. Sedangkan untuk melakukan sosialisasi mengenai program-program komite sekolah dilakukan malalui pertemuan yang dilakukan oleh sekolah. PEMBAHASAN Peran komite sekolah sebagai pemberi pertimbangan dalam meningkatkan layanan jasa pendidikan di SMP Negeri 12 Surabaya. Peran komite sekolah sebagai pemberi pertimbangan dalam meningkatkan layanan jasa pendidikan di SMP Negeri 12 Surabaya, dilakukan dengan cara memberi pertimbangan kepada sekolah dalam rangka  memperbaiki atau meningkatkan pengelolaan pendidikan yang telah diterapkan. Pertimbangan yang diberikan oleh komite sekolah baik berupa pertimbangan mengenai RKAS, mengenai pengelolaan pendidikan, mengenai ketenagaan yang kurang baik, dan pertimbangan mengenai sarana prasarana yang ada di sekolah. Pemberian masukan dalam penyusunan RKAS di SMP Negeri 12 Surabaya oleh komite dilakukan melalui pertemuan atau rapat-rapat yang dilakukan di sekolah. Adanya hasil penelitian komite sekolah tersebut sesuai dengan teori menurut Sagala (2009:257), antara lain: (1) memberi pertimbangan mengenai program dan kegiatan yang disusun dalam rencana pembangunan pendidikan tingkat kabupaten/kota dan RKS serta RKT tingkat satuan pendidikan; (2) memberikan pertimbangan untuk guru dalam pelaksanaan tugas supaya tidak sewenang-wenang dalam menangani siswa; (3) memberikan pertimbangan dalam disiplin guru dalam memberi solusi bagi kesulitan-kesulitan yang dihadapi guru; (4) memberi pertimbangan dalam mengembangkan minat dan bakat siswa. Adapun yang dilakukan komite sekolah sebagai pemberi pertimbangan kepada sekolah sesuai dengan teori di atas dalam memberikan masukan mengenai proses pengelolaan pendidikan, khususnya dalam hal pembelajaran. Pemberian pertimbangan yang diberikan komite adalah dengan memberikan masukan-masukan saja jika memang ditemukan proses pembelajaran yang kurang efektif karena pihak komite menyadari bahwa otoritas penuh untuk proses pembelajaran di pegang oleh sekolah, serta memberikan masukan bagi ketenagaan yang kurang baik dalam menjalankan tugasnya. Hal tersebut juga dilakukan komite sekolah dalam memberikan pertimbangan atau masukan kepada sekolah mengenai tenaga pendidik maupun kependidikan yang dianggap kurang baik dalam menjalankan tugasnya. Komite sekolah memberikan masukan kepada pihah mengenai tenaga pendidik jika ditemukan guru yang kurang berkompeten, komite memberikan saran kepada sekolah agar guru tersebut mengikuti pelatihan-pelatihan peningkatan kualitas sumber daya manusia Dengan adanya pertimbangan yang dilakukan oleh komite sekolah terhadap pengelolaan pendidikan tersebut sesuai dengan teori Suryadi dan budimansyah (Hasbullah, 2006:96) yang mengemukakan peran komite sekolah sebagai pemberi pertimbangan atau melaksanakan program memiliki indikator  berdasarkan pelaksanaan program adalah sebagai berikut:  (1) memberikan masukan terhadap proses pengelolaan pendidikan di sekolah, (2)  memberikan masukan terhadap proses pembelajaran kepada guru. Komite sekolah di SMP Negeri 12 Surabaya juga memberikan masukan mengenai sarana prasarana yang ada di sekolah. Adapun yang dilakukan komite sekolah dalam memberikan masukan atau pertimbangan pada sekolah mengenai sarana prasarana dapat secara langsung  di sampaikan kepada pihak sekolah atau langsung menghubungi bagian sarpras. Hal tersebut sesuai dengan indikator dari Suryadi dan Budimansyah (Hasbullah. 2006:96) mengemukakan beberapa indikator dari berdasarkan pengadaan Sumber Daya Pendidikan adalah (a) mengidentifikasi  potensi sumber daya pendidikan dalam masyarakat; (b) memberikan pertimbangan tentang kependidikan yang dapat di perbentukan di sekolah; (c) memberikan pertimbangan tantang sarana dan prasarana yang dapat diadakan di sekolah; (d) memberikan pertimbangan tentang anggaran yang dapat di manfaatkan di sekolah. Peran komite sekolah sebagai pendukung dalam meningkatkan layanan jasa pendidikan di SMP Negeri 12 Surabaya. Dalam rangka meningkatkan peran komite sekolah mendukung berbagai usaha meningkatkan mutu layanan pendidikan di SMP Negeri 12 Surabaya, dengan melakukan koordinasi dengan sekolah. Koordinasi yang dilakukan oleh komite sekolah khususnya dalam mengoordinasi program-program dengan pihak sekolah  dilakukan melalui pertemuan rutin atau yang dilakukan oleh sekolah dengan komite melalui kesepakatan yang telah di buat bersama di awal tahun ajaran baru agar terjalin satu pemikiran yang sama dan terkoordinasi dengan. Adapun peran komite sekolah sebagai pemberi dukungan di SMP Negeri 12 Surabaya adalah dengan melakukan pemantauan atau koordinasi dengan pihak sekolah terhadap kondisi ketenagaan yang ada di sekolah melalui pemberian masukan bila diperoleh  hasil yang kurang baik. Dukungan lainnya yang dilakukan komite sekolah dalam bidang sarana prasarana. Komite sekolah di SMP Negeri 12 Surabaya dalam memberikan dukungan dapat dilakukan dengan memberikan masukan. Komite sekolah memberikan dukungan sarana prasarana dilakukan dengan adanya laporan atau pemantau sendiri dari komite ke sekolah mengenai kondisi sarana prasarana yang ada di sekolah.  Dimana pemantauan mengenai kondisi sarana dan prasarana yang ada di sekolah dilakukan melalui kepala sekolah atau langsung menanyakan ke bidang sarana prasarana sekolah. Beberapa penjelasan paparan data penelitian mengenai berbagai hal yang dilakukan oleh komite sekolah dalam perannya sebagai badan pendukung, diperkuat oleh teori yang dikemukakan Suryadi dan Budimansyah (Hasbullah. 2006:97)  yang menjelaskan beberapa indikator dalam peran komite sekolah sebagai pendukung,  antara lain dalam fungsi manajemen sumber daya yang memiliki  sub indikator sumber daya di dalamnya meliputi: (a) pemantauan terhadap kondisi ketenagaan pendidikan di sekolah; (b) mobilisasi guru sukarelawan di sekolah; (c) mobilisasi tenaga kependidikan non guru di sekolah; (d) memantau kondisi sarana dan prasarana di sekolah. komite sekolah sebagai badan pendukung yang dilakukan dengan berbagai cara baik dengan memberikan masukan pada sekolah dan juga menyelenggarakan program-program yang selalu di sinergikan dengan sekolah untuk membantu dan mendukung sekolah dalam mencapai tujuannya, melakukan kegiatan inovatif, melakukan koordinasi dengan pihak sekolah, dan melakukan dukungan dalam memantau sarana prasarana yang ada di sekolah. Peran komite sekolah sebagai pengontrol dalam meningkatkan layanan jasa pendidikan di SMP Negeri 12 Surabaya. Peran komite sekolah sebagai badan pengontrol dapat dilaksanakan dengan terlebih dahulu melakukan hubungan baik dengan sekolah. Adapun yang dilakukan komite sekolah di SMP Negeri 12 Surabaya adalah dengan melakukan kunjungan maupun silaturrahmi dan dengan mengadakan pertemuan atau rapat rutin dengan pihak sekolah. Pengontrolan mengenai pelaksanaan pendidikan yang dilakukan komite sekolah di SMP Negeri 12 Surabaya dengan cara melihat hasil belajar siswa.  Adapun hal tersebut dapat dilihat dari kegiatan yang dilakukan oleh pihak sekolah, yaitu: (a) Komite sekolah melakukan kontrol mengenai pengambilan keputusan tetapi tidak mengintervensi sekolah, (2) Komite sekolah mengadakan silaturrahmi dengan berkunjung ke sekolah, (3) Pengontrolan mengenai proses pelaksanaan pendidikan dilakukan, dan program sekolah dilakukan komite memberikan masukan bila dianggap kurang baik, (4) juga mengontrol partisipasi stakeholder pendidikan dalam pelaksanaan program dengan melakukan koordinasi dan komunikasi. Peran komite sekolah sebagai mediator  dalam meningkatkan layanan jasa pendidikan di SMP Negeri 12 Surabaya.                Peran komite sekolah di SMP Negeri 12 Surabaya sebagai badan mediator dalam meningkatkan layanan pendidikan dengan berupaya untuk berbagai aspirasi masyarakat, khususnya wali murid untuk dapat disampaikan kepada sekolah. Hal itu dilakukan komite sekolah dengan cara dengan memberikan contac person kepada wali murid agar dapat menghubungi langsung bila ingin menyampaikan aspirasi mereka untuk sekolah. Hal tersebut dilakukan oleh komite sekolah untuk dapat mengetahui berbagai kiritikan, keluhan, masukan, maupun ide yang diberikan oleh wali murid untuk sekolah dalam penyelenggaraan pendidikan sehingga sekolah dapat mengetahui keinginan atau harapan dari wali murid.                 Adanya peran komite sekolah sebagai badan penghubung dapat membantu sekolah untuk mengetahui beberapa hal yang diinginkan oleh wali murid yang kemudian dijadikan pertimbangan oleh sekolah. Komite sekolah membantu sekolah dalam menciptakan hubungan/kerjasama, serta komite sekolah menjadi penghubung untuk mengidentifikasi aspirasi dan keluhan wali murid agar dapat meningkatkan keterlibatan orang tua dalam memajukan sekolah. Hal tersebut sejalan dengan adanya pernyataan yang disampaikan Zajda (2009:9) yang menjelaskan lebih jauh lagi tentang komite sekolah sebagai badan penghubung, dalam pernyataannya tersebut komite sekolah sebagai badan penghubung meningkatkan keterlibatan orang tua, wali dan masyarakat dalam pendidikan, termasuk masyarakat dan perusahaan mitra sekolah atau DU/DI. Untuk memaksilamalkan peran komite sekolah sebagai badan mediator pihak sekolah membuat commite room yang ada di sekolah dengan  tujuan memberikan layanan kepada masyarakat untuk menampung pengaduan dari orang tua atau masyarakat tentang proses pendidikan yang ada di sekolah. Commite room di sekolah tidak hanya menampung pengaduan dari masyarakat tetapi juga menampung segala sesuatu yang berkaitan dengan keluhan, aspirasi, dan ide yang muncul di kalangan masyarakat guna menciptakan pendidikan yang berkualitas. Dari berbagai hasil penelitian di atas maka dapat diketahui beberapa hal yang dilakukan oleh komite sekolah sebagai badan mediator di SMP Negeri 12 Surabaya  antara lain seperti yang telah dijelaskan oleh Suryadi dan Budimansyah (Hasbulloh, 2006:98-99) mengemukakan beberapa indikator dari peran komite sekolah sebagai badan mediator dalam sub perencanaan adalah Adapun indikator kerja yang dimiliki oleh komite sekolah adalah (a) menjadi penghubung antara kepala sekolah dengan masyarakat, serta kepala sekolah dengan sekolah; (b) identifikasi aspirasi pendidikan dalam masyarakat; (c) membuat usulan kebijakan dan program pendidikan kepala sekolah. Adupun yang ada pada sub pelaksanaan program dalam badan mediator adalah (a) sosialisasi kebijakan dan program pendidikan dalam masyarakat; (b) memfasilitasi berbagai masukan terhadap kebijakan program sekolah; (c) menampung pengaduan dan keluhan terhadap kebijakan dana program pendidikan; (d) mengkomunikasikan pengaduan dan keluhan masyarakat terhadap instansi terkait dalam bidang pendidikan di sekolah. Dengan adanya keterlibatan dari komite sekolah tersebut diharapkan dapat membantu sekolah dalam merumuskan, menyelenggarakan kegiatan-kegiatan sekolah yang dapat meningkatkan layanan kepada siswa di SMP Negeri 12 Surabaya sesuai dengan harapan sekolah, orang tua, dan masyarakat sekitar. Maka dari itu SMP Negeri 12 Surabaya sangat terbuka dengan adanya masukan, kritikan maupun dukungan yang diberikan oleh komite sekolah agar dapat meningkatkan layanan pendidikan kepada siswa, dan menghasilkan siswa yang berkualitas.   PENUTUP Berdasarkan hasil pembahasan yang telah diuraikan pada bab sebemulnya maka dapat ditarik simpulan sebagai berikut:  Peran komite sekolah sebagai badan pemberi pertimbangan dalam meningkatkan layanan jasa pendidikan di SMP Negeri 12 Surabaya adalah dengan memberi pertimbangan mengenai anggaran, pembelajaran, kondisi ketenagaan, dan sarana prasarana. Pemberian pertimbangan dari komite apabila diketahui terdapat beberapa hal yang kurang baik. Pemberian pertimbangan oleh komite sekolah dilakukan melalui rapat-rapat atau pertemuan bersama antara komite dan pihak sekolah. Peran komite sekolah sebagai  badan pendukung dalam meningkatkan layanan jasa pendidikan di SMP Negeri 12 Surabaya dengan mengadakan program yang selalu di sinergikan dengan program sekolah. Dukungan lain yang diberikan komite sekolah adalah dengan memberikan masukan mengenai tenaga pendidik yang dianggap kurang baik dalam proses pembelajaran.  Dukungan mengenai sarana prasarana adalah dilakukan dengan cara melihat langsung keadaan sekolah untuk memantau kondisi sarana prasarana yang ada di sekolah dan melalui laporan-laporan oleh pihak sekolah kepada komite sekolah. Peran komite sekolah sebagai badan pengontrol dalam meningkatkan layanan jasa pendidikan di SMP Negeri 12 Surabaya dilakukan melalui silaturrahmi dengan kunjungan langsung ke sekolah. Adapun pengontrolan yang dilakukan oleh komite sekolah dilakukan dengan melihat laporan-laporan dari sekolah. Pengontrolan yang dilakukan oleh komite sekolah untuk memantau hal-hal yang mendesak dan sangat dibutuhkan oleh sekolah. Peran komite sekolah sebagai mediator dalam meningkatkan layanan jasa pendidikan di SMP Negeri 12 Surabaya dilakukan dengan membantu sekolah dalam menampung aspirasi, baik berupa masukan maupun aduan dari wali murid melalui contact person yang diberikan ole komite sekolah. Komite sekolah menyampaikan berbagai usulan kepada sekolah melalui rapat dan pertemuan bersama yang diadakan oleh komite sekolah dengan pihak sekolah. Sedangkan untuk melakukan sosialisasi mengenai program-program dari komite sekolah kepada stakeholder  adalah melalui pertemuan bersama yang diselenggarakan oleh sekolah             DAFTAR PUSTAKA Hadits, A, & Nurhayati. 2012. Manajemen Mutu Pendidikan. Bandung: Alfabeta.   Hasbullah. 2006. Otonomi Pendidikan. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.   Kepmendiknas Nomor 044/U/2002. Tentang Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah.   Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2000 tentang Program Pembangunan Nasional. (Online). Diakses pada tanggal 04 Januari 2016.   Sagala, S. 2009. Kemampuan Profesional Guru Dan Tenaga Kependidikan. Bandung: Alfabeta.   Zajda, J. 2009. Decentralisation, School Based Management, And Quality. New York: Springer. (online) (http://.springer.com/book/10.1007/978-90-481-2703). Diakses pada tanggal 14 Januari 2016
PENDIDIKAN KARAKTER BERBASIS BUDAYA DISIPLIN DI SMK NEGERI 1 GEGER MADIUN RAHMAWATI, ELY
Inspirasi Manajemen Pendidikan Vol 5, No 1 (2017): Inspirasi Manajemen Pendidikan
Publisher : Inspirasi Manajemen Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendidikan Karakter Berbasis Budaya Disiplin Di Smk Negeri 1 Geger Madiun Ely Rahmawati 13010714080   Jurusan Manajemen Pendidikan, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Surabaya e-mail: elyrahmawati0@gmail.com Murtadlo Jurusan Manajemen Pendidikan, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Surabaya e-mail: ali_murtadlo35@yahoo.com   ABSTRAK Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kurangnya sikap disiplin peserta didik yang dapat mengakibatkan kecenderungan untuk melakukan pelanggaran, baik di sekolah maupun di luar sekolah. Selain itu, dalam dunia industri para pekerja dituntut untuk mempunyai karakter disiplin yang tinggi. Maka dari itu, lembaga pendidikan khususnya Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dituntut untuk menyiapkan lulusan yang berdisiplin tinggi, agar lulusan tersebut dapat menghadapi budaya disiplin dalam dunia kerja nantinya.  Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan dan menganalisis: (1) pelaksanaan pendidikan karakter berbasis budaya disiplin; (2) strategi pendidikan karakter berbasis budaya disiplin; dan (3) peran warga dalam pendidikan karakter berbasis budaya disiplin. Penelitian ini dilakukan di SMK Negeri 1 Geger Madiun. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan rancangan penelitian studi kasus. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara, observasi, dan dokumentasi. Data yang diperoleh dianalisis dengan teknik kondensasi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Untuk menguji keabsahan data tersebut menggunakan teknik-teknik meliputi: uji kredibilitas, uji transfermabilitas, uji dependabilitas, dan uji konfirmabilitas. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) Pelaksanaan Pendidikan Karakter Berbasis Budaya Disiplin di SMK Negeri 1 Geger Madiun melalui tata tertib sekolah; (2) Strategi Pendidikan Karakter Berbasis Budaya Disiplin di SMK Negeri 1 Geger Madiun melalui: kegiatan rutin, kegiatan spontan, keteladanan, pengkondisian; (3) Peran Warga Sekolah dalam Pendidikan Karakter Berbasis Budaya Disiplin di SMK Negeri 1 Geger Madiun terdiri dari: peran kepala sekolah, peran guru, peran orang tua, dan peran masyarakat. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan pendidikan karakter berbasis budaya disiplin di SMK Negeri 1 Geger Madiun berjalan dengan baik dengan adanya strategi yang telah diterapkan dan peran dari masing-masing komponen sekolah.  Kata Kunci: pendidikan karakter, budaya disiplin.    Character Building Based on Discipline Culture in SMK Negeri 1 Geger Madiun   Ely Rahmawati 13010714080 Jurusan Manajemen Pendidikan, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Surabaya e-mail: elyrahmawati0@gmail.com Murtadlo Jurusan Manajemen Pendidikan, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Surabaya e-mail: ali_murtadlo35@yahoo.com   ABSTRACT This study was motivated by lack of students discipline which affect to a tendency to commit violation both at school and outside school. Besides that, in industry of the workers are required having high discipline character. So, educational institution especially vocational high schools are required to prepare graduates who are highly disciplined, so that graduates can face the discipline culture of the workplace later.The purposes of this study are to describe and analyze: (1) the implementation of character building based on discipline culture; (2) character building strategy based based on discipline culture; and (3) citizen participations in the character building based by discipline culture. This study is done at SMK Negeri 1 Geger Madiun. The approach used in this study is qualitative approach with research design case study. Data collecting technique uses interview, observation, and documentation. The data obtained were analyzed by data condensation technique, data presentation, and conclusion. To test the validity of the using data techniques include: credibility test, transfermability test, dependability test, and confirmability test. The result of this study indicates that: (1) the implementation of character building based on discipline culture in SMK Negeri 1 Geger Madiun through rules; (2) character buiding strategy based on discipline culture in SMK Negeri 1 Geger Madiun through: routine activity, spontaneous activity, exemplary, conditioning; (3) the role of school citizens in character building based on discipline culture in SMK Negeri 1 Geger Madiun consist of: the role of principal, teacher, parent, and citizens. Therefore, can be concluded that the implementation of character building based on discipline culture in SMK Negeri 1 Geger Madiun works well with the existing strategies and the role of each components. Keyword: Character buiding, discipline culture. PENDAHULUAN SMK adalah jenjang pendidikan menengah yang diarahkan guna mempersiapkan peserta didik untuk dapat bekerja dalam bidang tertentu dan siap untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Bukit (2014: 37), menyatakan bahwa ciri-ciri SMK adalah: (1) pendidikan kejuruan lebih berorientasi pada praktik; (2) pendidikan kejuruan lebih menggambarkan sebagai pendidikan dan pelatihan bagi pencari kerja; (3) pendidikan kejuruan menggambarkan pelatihan di luar sekolah; (4) pendidikan kejuruan sebagai progam pendidikan untuk mempersiapkan sebelum kerja. Hal tersebut memberi isyarat bahwa SMK merupakan sumber utama penghasil tenaga kerja jenjang pendidikan menengah yang mempunyai peranan dalam mempersiapkan tenaga kerja di Indonesia. Pada dunia industri, para pekerja dituntut untuk mempunyai sikap disiplin yang tinggi. Maka dari itu, khususnya lembaga pendidikan SMK harus menyiapkan lulusan untuk mempunyai karakter disiplin, sehingga lulusan tersebut siap untuk menghadapi dunia kerja setelah lulus nanti. Sekolah merupakan lembaga pendidikan formal yang bertujuan untuk mengembangkan seluruh kompetensi yang dimiliki peserta didik. Agar proses tersebut dapat berjalan dengan lancar, maka seluruh siswa harus mematuhi tata tertib dengan rasa disiplin yang tinggi. Jadi, disiplin adalah serangkaian peraturan yang berlaku guna untuk meciptakan suasana pembelajaran yang efektif. Namun, realita yang sering kita jumpai saat ini adalah kurangnya sikap disiplin peserta didik yang dapat mengakibatkan kecenderungan untuk melakukan pelanggaran baik di sekolah maupun di luar sekolah. Hal tersebut disebabkan karena peraturan sekolah yang kurang mengikat atau peserta didik yang memang tidak terbiasa untuk berdisiplin. Maka, tidak heran jika peserta didik melakukan bolos sekolah, terlambat sekolah, tidak mengerjakan tugas rumah, tidak memakai seragam sesuai dengan peraturan yang ditetapkan, hingga terjadinya tawuran antar pelajar. Berdasarkan hasil studi pendahuluan di SMK Negeri 1 Geger Madiun, sekolah ini menerapkan pendidikan karakter berbasis budaya disiplin sekolah. Pelaksanaan budaya disiplin di sekolah diterapkan melalui buku tata tertib peserta didik dengan sistem reward dan punishment. Peserta didik yang melanggar tata tertib akan diberi poin punishment,  kemudian direkap di buku tata tertibnya tersebut dengan disertai tanda tangan guru yang memberi poin, guru BK, orang tua, wali kelas, dan kesiswaan. Poin punishment yang sudah melampuai batas peraturan tata tertib yang ditetapkan sekolah akan dikenakan sanksi. Poin 30, 60, dan 90 akan ada panggilan orang tua, lebih dari poin 90 anak akan direkomendasikan pindah ke sekolah lain. Sedangkan peserta didik yang mempunyai loyalitas dan integritas dalam kegiatan belajar, membantu guru, dan mengharumkan nama baik sekolah juga akan mendapatkan poin  reward, kemudian akan direkap di buku tata tertibnya tersebut. Peserta didik yang mencapai poin reward terbanyak akan diberikan beasiswa pendidikan oleh sekolah selama tiga bulan untuk juara satu, dua bulan untuk juara dua, dan satu bulan untuk juara tiga. Bentuk budaya disiplin yang dilaksanakan diantaranya adalah: (1) datang ke sekolah tepat waktu sebelum pukul 06.45 WIB dan harus memakai seragam lengkap pada hari tersebut, dalam hal ini peserta didik yang terlambat datang ke sekolah harus menunggu di luar gerbang, karena saat sirine berbunyi, gerbang sekolah ditutup. Setelah mendapat izin dari guru piket peserta didik dapat memasuki sekolah namun sebelum masuk kelas akan diberi pembinaan, bisa berupa push up atau lari lapangan dan poin punishment. (2) Apel pagi sebelum kegiatan belajar mengajar dimulai dan (3) apel siang saat kegiatan belajar mengajar telah usai. (4) upacara bendera setiap hari senin. (5) progam ketarunaan, progam ini bertujuan untuk mempersiapkan mental dan karakter peserta didik agar siap memasuki dunia kerja setelah lulus dari sekolah. Ketarunaan  ini dilaksanakan satu hari dalam satu minggu dari pagi hingga selesai, karena termasuk dalam kegiatan belajar mengajar. Progam ini diwajibkan dari kelas satu hingga kelas tiga, dengan kegiatan sholat dhuha, kebugaran jasmani, bimbingan konseling, Persiapan Baris Berbaris, dan karate. (6) ektrakulikuler pramuka yang diwajibkan untuk kelas satu yang dilaksanakan setiap hari jumat. (7) sholat jumat berjamaah yang sudah terjadwal, sholat dhuhur, dan kegiatan membaca al-quran sebelum memulai pelajaran dengan dipandu oleh satu orang siswa dari pengeras suara. (8)  ketika akan keluar area kelas atau sekolah saat jam pelajaran peserta didik wajib menggunakan kartu keluar lingkungan sekolah, dimana ada tiga kartu yang disediakan dalam satu kelas. Berdasarkan latar belakang masalah yang telah penulis paparkan, maka fokus dalam penelitian ini adalah: Pelaksanaan pendidikan karakter berbasis budaya disiplin di SMK Negeri 1 Geger Madiun Strategi pendidikan karakter berbasis budaya disiplin di SMK Negeri 1 Geger Madiun Peran warga sekolah dalam pelaksanaan pendidikan karakter berbasis budaya disiplin di SMK Negeri 1 Geger Madiun   METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan rancangan penelitian studi kasus. Penelitian ini dilaksanakan di SMK Negeri 1 Geger Madiun yang terletak di Jalan Raya Ngelandung, Desa Ngelandung, Kecamatan Geger, Kabupaten Madiun. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan dan menganalisis: pelaksanaan pendidikan karakter berbasis budaya disiplin; (2) strategi pendidikan karakter berbasis budaya disiplin; dan (3) peran warga dalam pendidikan karakter berbasis budaya disiplin. Penelitian ini dilakukan di SMK Negeri 1 Geger Madiun. Informan dalam penelitian ini adalah: kepala sekolah, waka kesiswaan, guru, peserta didik, orang tua, dan masyarakat. Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah: wawancara, observasi dan dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan tahap analisis data menurut Miles, dkk (2014: 12). yaitu “ kondensasi data (data condensation), penyajian data (data display), dan penarikan kesimpulan (conclusion drawing/verifications). Selanjutnya, menurut Sugiyono (2014:270)  untuk menguji keabsahan data dalam penelitian ini meliputi: uji credibility (validitas internal), transfermability (validitas eksternal), dependability (reliabilitas), confirmability (objektivitas)”.   HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan temuan penelitian di SMK Negeri 1 Geger Madiun, sesuai dengan fokus penelitian, yaitu: (1) Pelaksanaan pendidikan karakter berbasis budaya disiplin di SMK Negeri 1 Geger Madiun, (2)Strategi pendidikan karakter berbasis budaya disiplin di SMK Negeri 1 Geger Madiun, (3) Peran warga sekolah dalam pelaksanaan pendidikan karakter berbasis budaya disiplin di SMK Negeri 1 Geger Madiun. HASIL PENELITIAN Pelaksanaan pendidikan karakter berbasis budaya disiplin di SMK Negeri 1 Geger Madiun. Tata tertib sekolah menggunakan sistem reward dan punishment. Dalam rangka mendisiplinkan anak sekolah membuat tata tertib dan membiasakan peserta didik untuk mematuhi dan melaksanan tata tertib tersebut. Peserta didik yang melakukan pelanggaran akan diberi poin punishment dan peserta didik yang melakukan kebaikan akan diberi poin reward oleh guru. Peserta didik yang memperoleh poin punishment mencapai 30, 60, dan 90 akan di diberi surat peringatan dam panggilan orang tua. Apabila poin punishment melebihi 90 maka peserta didik tersebut direkomendasikan untuk pindah ke sekolah lain. Sedangkan peserta didik yang mendapatkan poin reward terbanyak akan mendapatkan beasiswa prestasi di sekolah selama periode waktu tertentu. Dampak adanya tata tertib ini, peserta didik jadi mudah untuk dikondisikan dan setelah lulus sekolah dapat terbiasa akan disiplin kerja saat di dunia industri.  Evaluasi tata tertib menggunakan rekap poin dan grafik punishment serta reward setiap bulan. Dengan begitu sekolah dapat memantau dan melakukan perbaikan dalam penyusunan tata tertib dikemudian hari.   Strategi pendidikan karakter berbasis budaya disiplin di SMK Negeri 1 Geger Madiun melalui: Kegiatan Rutin Kegiatan rutin yang dilaksanakan dalam pendidikan karakter berbasis budaya disiplin di sekolah ini adalah: (1) apel pagi; (2) apel siang; (3) upacara bendera; (4) kegiatan taruna; (5) ekstrakulikuler pramuka; (6) sholat jumat. Serangkaian kegiatan rutin tersebut jika peserta didik tidak mengikuti tanpa alasan akan mendapat poin punishment dari guru. Kegiatan spontan Kegiatan spontan yang dilaksanakan dalam pendidikan karakter berbasis budaya disiplin di sekolah ini adalah (1) ketika guru mengetahui peserta didik melakukan kesalahan langsung di tegur atau diberi poin punishment; (2) kegiatan razia atribut sekolah; (3) razia rambut untuk peserta didik laki-laki. Keteladanan Keteladanan yang diberikan pendidik dan tenaga kependidikan dalam pendidikan karakter berbasis budaya disiplin di sekolah ini adalah memberi contoh tepat waktu dalam berangkat sekolah maupun beribadah. Selain itu berpakaian yang sesuai dan rapi. Pengkondisian Pengkondisian dalam pendidikan karakter berbasis budaya disiplin di sekolah ini adalah dengan menjalankan tata tertib dengan konsisten, konsisten untuk tidak melakukan pelanggaran sehingga dapat menciptakan suasana sekolah dan kelas yang kondusif. Serta guru dapat menjalankan peran masing-masing.   Peran warga sekolah dalam pendidikan karakter berbasis budaya disiplin di SMK Negeri 1 Geger Madiun meliputi: Peran Kepala Sekolah Peran kepala sekolah adalah memberi motivasi dan arahan tentang kedisiplinan kepada peserta didik saat menjadi Pembina upacara setiap hari senin atau masuk ke kelas-kelas. Selain itu kepala sekolah juga memberi contoh mengenai disiplin waktu, misalnya tepat waktu dalam beribadah dan tepat waktu dalam berangkat sekolah. Peran Guru Peran guru adalah mengontrol peserta didik melalui sistem reward dan punishment. Ketika guru mengetahui peserta didik melakukan pelanggaran, guru dapat memberi poin punishment peserta didik tersebut, dan ketika guru mengetahui peserta didik melakukan kebaikan, guru dapat memberi poin reward kepada peserta didik tersebut.  Selain itu guru juga memberi contoh serta mengingatkan tentang kedisiplinan kepada peserta didik. Peran Orang Tua Peran orang tua adalah mengontrol anaknya dengan mengingatkan agar selalu mematuhi tata tertib sekolah, karena di awal sebelum anaknya menjadi siswa di SMK Negeri 1 Geger Madiun, orang tua sudah di sosialisasikan mengenai aturan-aturan sekolah tersebut. Selain itu keterlibatan orang tua adalah ketika anaknya melakukan pelanggaran, orang tua akan mendapat pemberitahuan melalui sms dari sekolah serta adanya panggilan orang tua pertama sampai ketiga, jika anaknya tersebut mencapai poin punishment 30, 60, sampai 90. Dengan adanya panggilan orang tua tersebut diharapkan keterlibatannya dapat menyelesaikan dan mencari solusi mengenai pelanggaran yang telah dilakukan oleh anaknya tersebut. Peran Masyarakat Peran masyarakat sekitar atau tukang parkir adalah keikutsertaan dalam mendisiplinkan peserta didik dengan mengingatkan untuk segera bergegas ke sekolah setelah memarkir motornya. Selain itu, masyarakat juga sering melapor ke sekolah jika melihat peserta didik yang melakukan pelanggaran di luar sekolah.   PEMBAHASAN Pelaksanaan Pendidikan Karakter Berbasis Budaya Disiplin di SMK Negeri 1 Geger Madiun. Pelaksanaan pendidikan karakter berbasis budaya disiplin di SMK Negeri 1 Geger Madiun menggunakan tata tertib dengan sistem reward dan punishment. Reward diberikan untuk peserta didik yang melakukan kebaikan sedangkan punishment diberikan untuk peserta didik yang melakukan pelanggaran. Peserta didik yang mencapai poin reward tertinggi akan mendapat beasiswa pendidikan. Sedangkan peserta didik yang mencapai poin punishment 30, 60, dan 90 akan mendapat SP atau surat peringatan dan panggilan orang tua, jika poin punishment lebih dari 90 maka peserta didik tersebut direkomendasikan untuk pindah ke sekolah lain. Poin reward peserta didik dapat menghapus poin punishment yang diperoleh. Tata tertib dirumuskan dengan tujuan untuk mengontrol dan mengawasi tindak tunduk peserta didik di dalam sekolah, agar kegiatan belajar mengajar dapat berjalan dengan kondusif. Temuan tersebut sesuai dengan yang dikemukakan oleh Wiyani (2013: 162), yang menyatakan “Fungsi utama disiplin adalah untuk mengajar mengendalikan diri dengan mudah, menghormati, dan mematuhi otoritas”. Selain itu tata tertib ditegakkan untuk membekali karakter disiplin peserta didik yang sesuai dengan kebutuhan DU/DI dengan mengkolaborasikan aturan-aturan yang ada di sekolah dengan aturan-aturan yang ada di DU/DI tersebut.   Strategi Pendidikan Karakter Berbasis Budaya Disiplin di SMK Negeri 1 Geger Madiun. Strategi pendidikan karakter berbasis budaya disiplin merupakan suatu cara yang digunakan sekolah untuk menjalankan budaya disiplin di sekolah. Berdasarkan temuan penelitian, stategi pendidikan karakter berbasis budaya disiplin di SMK Negeri 1 Geger Madiun menggunakan: (1) kegiatan rutin; (2) kegiatan spontan; (3) keteladanan; (4) pengkondisian. Kegiatan Rutin Berdasarkan temuan penelitian, kegiatan rutin dalam pendidikan karakter berbasis budaya disiplin di SMK Negeri 1 Geger Madiun adalah: (a) apel pagi; (b) apel siang; (c) upacara bendera; (d) kegiatan taruna; (e) ekstrakulikuler pramuka; (f) sholat jumat. 1)       Apel Pagi Apel pagi dilaksanakan pada pukul 06.45 WIB, sebelum proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) dimulai. Apel pagi bertujuan untuk membiasakan semua warga sekolah terutama peserta didik dalam hal disiplin waktu berangkat sekolah dan mempersiapkan peserta didik dalam menerima pelajaran. Karena waktu masuk SMK Negeri 1 Geger Madiun adalah pukul 06.45 WIB setelah itu dilaksanakan apel pagi, melebihi jam tersebut maka gerbang sekolah akan di tutup. Bagi peserta didik yang datang terlambat, maka akan mendapat poin punishment dan hukuman kebugaran, yaitu lari keliling lapangan atau push up. Apel pagi dikoordinasi Tim Tata tertib (Tatib) selaku tim yang menangani tata tertib sekolah dan dibantu oleh guru piket serta senior taruna yang bertugas.  Dalam dunia kerja kesiapan para pekerja sangat penting dalam memulai pekerjaan, maka dari itu sekolah ini membiasakan anak untuk siap menghadapi itu dengan mengadakan apel pagi. Kondisi tertib dimana seluruh siswa mengikuti apel dan siap untuk menerima pelajaran. 2)       Apel Siang Apel siang dilaksanakan pada pukul 14.45 WIB setelah KBM telah usai. Ketika selesai KBM atau setelah mendengar bunyi sirine, peserta didik harus menuju ke lapangan upacara untuk melaksanakan apel siang ini. Seperti apel pagi, apel siang bertujuan untuk membentuk karakter disiplin peserta didik. Apel siang diadakan untuk mengajarkan bagaimana tentang kondisi yang tertib setelah selesai KBM, bahwa semuanya harus rapi. Pelaksanaan apel siang di koordinir oleh tim tatib dan dibantu oleh guru piket serta senior taruna yang bertugas. 3)       Upacara Bendera Upacara bendera dilaksanakan setiap hari senin pada pukul 06.45 WIB. Upacara bendera dilaksanakan untuk membentuk karakter disiplin peserta didik. Upacara bendera mengajarkan tentang bagaimana caranya berangkat tepat waktu, disiplin dalam baris berbaris, dan beratribut rapi. Persiapan upacara bendera dipersiapkan oleh tim khusus, yaitu Petugas Penyelenggara Upacara (PPU). Dimana tugas PPU adalah mempersiapkan segala hal sebelum upacara bendera di mulai. Seperti kegiatan apel, bagi peserta didik yang tidak mengikuti upacara bendera tanpa alasan atau karena datang terlambat maka akan dikenakan poin punishment dan hukuman kebugaran. Melalui upacara bendera ini, kepala sekolah maupun guru yang bertugas menjadi Pembina upacara dapat menyampaikan pesan-pesan dan motivasi kepada peserta didik, salah satunya hal tentang kedisiplinan. Karena SMK adalah basicnya untuk bekerja, maka kedisiplinan sangat diperlukan dalam dunia kerja nantinya. 4)       Kegiatan Taruna Kegiatan taruna dilaksanakan setiap satu minggu sekali oleh masing-masing kelas. Dalam kegiatan taruna ini yang bertanggung jawab adalah pelatih dan senior taruna yang membantu. Tujuan dilaksanakan kegiatan taruna ini adalah untuk membentuk karakter disiplin peserta didik dalam mempersiapkan lulusan yang siap kerja. Dimana dalam kegiatan taruna ini juga ada kegiatan rohani, jadi selain karakter disiplin yang baik, rohani peserta didik juga didik agar nanti dapat dipergunakan di kehidupan masa depannya. Serangkaian kegiatan taruna di SMK Negeri 1 Geger Madiun antara lain: (1) sholat dhuha; (2) bimbingan jasmani; (3) bimbingan dan konseling; (4) Persiapan Baris Berbaris (PBB); (5) karate. Seperti kegiatan-kegiatan yang lain, bagi peserta didik yang tanpa alasan meninggalkan kegiatan taruna ini akan diberi poin punishment oleh pelatih taruna. Karena pada dasarnya semua yang dilaksanakan kembali pada aturan atau tata tertib yang telah ditegakkan. 5)       Ekstrakulikuler Pramuka Ekstrakulikuler pramuka dilaksanakan setiap hari jumat pada pukul 13.30 WIB sampai 16.30 WIB. Penanggung jawab ekstra ini adalah Pembina dan senior pramuka atau disebut Dewan Ambalan Penegak (DAP). Ekstrakulikuler pramuka bertujuan untuk membentuk karakter disiplin peserta didik, seperti kegiatan rutin yang lainnya. Dimana dalam ekstrakulikuler pramuka, peserta didik dilatih untuk disiplin waktu, misalnya saat menerima panggilan, saat itu juga peserta didik harus segera menuju ke sumber suara, disiplin waktu untuk sholat, disiplin waktu dalam upacara pembukaan dan penutupan serta disiplin saat kegiatan dimulai dan berlangsung. 6)       Sholat Jumat Sholat jumat dilaksanakan setiap hari jumat di masjid Ar-rasyid SMK Negeri 1 Geger Madiun. Sholat jumat dilaksanakan dengan cara terjadwal. Karena kapasitas masjid tidak mencukupi jika menampung semua peserta didik. Peserta didik yang tidak mengikuti sholat jumat dalam jadwalnya, maka akan dikenakan poin punishment. Sholat jumat, selain bertujuan untuk mempertebal keimanan atau kerohanian juga untuk membentuk karakter disiplin peserta didik. Disiplin melaksanakan sholat jumat secara terjadwal, disiplin ketika masuk, disiplin dalam meluruskan shaff, dan lain-lain. Kegiatan Spontan Kegiatan spontan adalah kegiatan yang dilakukan saat itu juga, tanpa ada rencana. Berdasarkan temuan penelitian, kegiatan spontan dalam pendidikan karakter berbasis budaya disiplin di SMK Negeri 1 Geger Madiun dilaksanakan ketika guru mengetahui peserta didik yang melakukan pelanggaran maka secara spontan guru akan memberi poin punishment kepada peserta didik tersebut. Selain itu, kegiatan spontan yang dilaksanakan adalah razia atribut dan razia rambut. Razia atribut dilaksanakan saat berada di depan gerbang sekolah saat peserta didik akan memasuki sekolah dan setelah selesai upacara bendera atau apel pagi. Razia atribut dilaksanakan untuk mengontrol dan mengecek peserta didik yang belum ber-atribut secara lengkap. Sedangkan razia rambut dilaksanakan untuk mengontrol dan mengecek potongan rambut yang sudah panjang bagi peserta didik laki-laki. Pihak sekolah biasanya mendatangkan tukang cukur setiap tiga bulan sekali. Jadi peserta didik yang terjaring razia, rambutnya akan di pangkas oleh tukang cukur yang sudah disediakan sekolah. Kegiatan spontan tersebut dilaksanakan untuk membiasakan peserta didik untuk mematuhi aturan atau hidup disiplin. Karena kedisiplinan sangat penting dalam seluruh aspek kehidupan. Keteladanan Keteladanan adalah perilaku pendidik atau tenaga kependidikan dalam memberikan contoh yang baik kepada peserta didik, agar ditiru oleh peserta didik tersebut. Berdasarkan temuan penelitian, keteladanan yang diberikan kepala sekolah, guru, maupun karyawan dalam pendidikan karakter berbasis budaya disiplin di SMK Negeri 1 Geger Madiun adalah dalam hal disiplin waktu. Disiplin waktu dalam berangkat sekolah dan disiplin waktu dalam beribadah. Selain itu, guru memberi keteladanan yang lain yaitu berpakaian yang sesuai dan rapi. Semua keteladanan yang diberikan tersebut untuk memotifasi peserta didik agar dapat mencontoh, atau setidaknya tidak membuat pelanggaran. Pengkondisian Pengkondisian adalah menciptakan suasana yang baik agar pelaksananaan pendidikan karakter berbasis budaya disiplin dapat berjalan dengan lancar. Dalam pendidikan karakter berbasis budaya disiplin di SMK Negeri 1 Geger Madiun, pengondisian yang dilakukan oleh sekolah agar menjaga suasana sekolah tetap baik adalah dengan menjalankan tata tertib sekolah dengan konsisten, konsisten untuk tidak melakukan pelanggaran sehingga dapat menciptakan suasana kelas dan sekolah yang kondusif. Dengan adanya aturan atau tata tertib, jika peserta didik melakukan pelanggaran akan diberi sanksi berupa poin punishment. Saat kegiatan KBM berlangsung, peserta didik dilarang untuk meninggalkan kelas meskipun dalam keadaan jam kosong. Karena ketika KBM berlangsung, kelas memiliki 3 kartu keluar masuk. Jika memang ada urusan yang urgent, peserta didik dapat menggunakan kartu tersebut untuk ijin ke guru piket. Selain konsisten dalam menjalankan aturan, dalam menciptakan pengkondisian sekolah guru dapat menjalankan perannya masing-masing. Dengan dua cara tersebut dan benar-benar dilakukan, maka suasana kondusif di sekolah akan terwujud.   Berdasarkan kegiatan rutin yang dilaksanakan dalam pendidikan karakter berbasis budaya disiplin di SMK Negeri 1 Geger Madiun, hal tersebut sesuai dengan strategi yang dapat dilakukan dalam penanaman nilai-nilai karakter menurut Kemendiknas (2011:8), yang menjelaskan. Kegiatan Rutin Kegiatan rutin yaitu kegiatan yang dilakukan peserta didik secara terus menerus dan konsisten setiap saat. Misalnya kegiatan upacara hari senin, upacara besar kenegaraan, pemeriksaan kebersihan badan, piket kelas, sholat berjamaah, berbaris ketika masuk kelas, berdo’a sebelum pelajaran dimulai dan diakhiri, dan mengucapkan salam apabila bertemu guru, tenaga pendidik, dan teman. Kegiatan Spontan Kegiatan spontan dilakukan peserta didik secara spontan saat itu juga, misalnya mengumpulkan sumbangan ketika ada teman yang terkena musibah atau sumbangan untuk masyarakat ketika terjadi bencana. Keteladanan Merupakan perilaku dan sikap guru dan tenaga kependidikan dan peserta didik dalam memberikan contoh melalui tindakan-tindakan yang baik sehingga diharapkan menjadi panutan bagi peserta didik lain. misalnya nilai disiplin, kebersihan dan kerapian, kasih sayang, kesopanan, perhatian, jujur, dan kerja keras. Pengkondisian Pengkondisian yaitu penciptaan kondisi yang mendukung keterlaksanaan pendidikan karakter, misalnya kondisi toilet yang bersih, tempat sampah, halaman yang hijau dengan pepohonan, poster kata-kata bijak yang dipajang di lorong sekolah dan di dalam kelas.   Peran Warga dalam Pendidikan Karakter Berbasis Budaya Disiplin. Peran Kepala Sekolah Peran kepala sekolah dalam pendidikan karakter berbasis budaya disiplin di SMK Negeri 1 Geger Madiun adalah senantiasa memberikan motivasi tentang kedisiplinan kepada peserta didik melalui kegiatan upacara setiap hari senin saat menjadi pembina, maupun masuk ke kelas-kelas. Selain itu, sebagai vigur kepala sekolah juga memberikan contoh kedisiplinan kepada peserta didik maupun guru lainnya dalam hal tepat waktu dalam berangkat sekolah dan dalam beribadah. Kepala sekolah juga membangun kerjasama tim, memberikan dukungan terhadap semua progam yang berkaitan dengan kedisiplinan.Temuan penelitian tersebut sesuai dengan yang dikemukakan oleh Wuradji (Wibowo, 2013: 155), “Kepala sekolah memiliki tiga peran penting guna menunjang keberhasilan pendidikan karakter, yaitu: (a) peran kepemimpinan, (b) peran manajerial, (c) peran pengembangan kurikulum dan pembelajaran”.   Peran Guru Berdasarkan temuan di lapangan, peran guru dalam pendidikan karakter berbasis budaya disiplin di SMK Negeri 1 Geger Madiun adalah ikut serta menjalankan progam kedisiplinan dengan mempertahankan budaya disiplin siswa agar tetap terlaksana dengan baik, dan melanjutkan budaya disiplin siswa tersebut dalam kehidupan guru tersebut,  serta mengontrol peserta didik melalui sistem reward dan punishment. Temuan penelitian tersebut sesuai dengan peran guru menurut Zubaedi (2011:163-164), sebagai berikut. Para pendidik atau guru dalam konteks pendidikan karakter dapat menjalankan lima peran. Pertama, conservator (pemelihara). Kedua, innovator (pengembang) sistem nilai ilmu pengetahuan. Ketiga transmit (penerus) sistem-sistem nilai ini kepada peserta didik. keempat,  transformator (penerjemah) sistem-sistem nilai ini melalui penjelmaan dalam pribadinya dan perilakunya, dalam proses interaksi dengan sasaran didik. kelima, organisator (penyelenggara) terciptanya proses edukatif yang dapat dipertanggungjawabkan, baik secara formal (kepada pihak yang mengangkat dan menugaskannya) maupun secara moral (kepada sasaran didik, serta tuhan yang menciptakannya).   Selain itu, peran guru dalam pendidikan karakter berbasis budaya disiplin di SMK Negeri 1 Geger Madiun adalah memberi contoh tentang kedisiplinan kepada peserta didik. Contoh tersebut adalah berangkat sekolah tepat waktu, berpakaian rapi, dan tepat waktu dalam beribadah. Temuan penelitian tersebut sesuai dengan pendapat Mulyasa (2013:63) mengungkapkan “guru merupakan vigor utama, serta contoh dan teladan bagi peserta didik”.   Peran Orang Tua Peran orang tua yang dilakukan adalah mengontrol anaknya dengan memberi motivasi tentang kedisiplinan dan mengingatkan untuk selalu mematuhi peraturan sekolah. Temuan penelitian tersebut sesuai dengan yang diungkapkan oleh Rachman (1997:183), yang menyatakan “dalam  partisipasi yang dilakukan orang tua untuk anaknya adalah ikut membantu tegaknya disiplin sekolah, ikut mendorong putra putrinya dalam mematuhi tata tertib sekolah, serta mendorong putra-putrinya memelihara keamanan, ketertiban, keindahan, dan kekeluargaan serta kerapian baik di rumah maupun di sekolah”. Sebelum peserta didik menjadi peserta didik yang sah di SMK Negeri 1 Geger Madiun, sekolah mengadakan sosialisasi untuk calon wali murid. Sosialisasi tersebut berkenaan tentang profil sekolah serta peraturan-peraturan yang akan dijalankan. Tidak hanya sosialiasi pada tahun ajaran baru, SMK Negeri 1 Geger Madiun juga membuat komunitas yang melibatkan para orang tua dengan wali kelas anaknya masing-masing agar komunikasi dapat terjalin dengan baik. Temuan penelitian tersebut sesuai dengan ungkapan Rachman (1997:181-182), dengan adanya hubungan antara sekolah dengan masyarakat diharapkan memiliki manfaat sebagai berikut: (a) orangtua siswa mengetahui tentang kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan sekolah; (b) sekolah mengetahui semua kegiatan orangtua dan para siswa dirumah; (c) orangtua siswa mau memberi perhatian yang sangat besar dalam menunjang kegiatan-kegiatan sekolah. Keterlibatan orang tua selain itu adalah adanya panggilan orang tua ketika anaknya yang mencapai poin punishment 30, 60, sampai 90. Poin 30 panggilan orang tua pertama, poin 60 panggilan orang tua kedua, poin 90 panggilan orang tua ketiga. Tujuan adanya panggilan orang tua tersebut adalah agar orang tua mengetahui permasalahan atau pelanggaran yang dilakukan anak dan dapat sama-sama mencari alternatif penyelesaian dengan pihak sekolah. Dengan begitu, orang tua dapat terlibat secara langsung dalam upaya menyelesaikan masalah kedisiplinan anak. Temuan penelitian tersebut sesuai dengan yang diungkapkan oleh Nurkholis (2003:12) yang menyatakan “Orang tua siswa harus menyediakan waktu untuk berkunjung ke sekolah untuk mengontrol kegiatan pendidikan anaknya”.   Peran Masyarakat Temuan penelitian tentang peran masyarakat dalam pendidikan karakter berbasis budaya disiplin di SMK Negeri 1 Geger Madiun adalah ikut serta mendisiplinkan peserta didik dengan cara mengingatkan agar peserta didik segera bergegas menuju ke sekolah setelah memarkir sepeda motor di masyarakat sekitar sekolah. Hal tersebut dilakukan oleh masyarakat agar peserta didik tidak terlambat datang ke sekolah. Karena pada pukul 06.45 WIB sirine sudah dibunyikan, hal tersebut menandakan apel pagi segera di mulai dan gerbang akan segera ditutup. Temuan penelitian tersebut sesuai dengan yang diungkapkan oleh Subroto (2012: 69), yang menyatakan “hubungan sekolah dengan masyarakat serta hubungan sekolah dengan orang tua murid pada hakikatnya adalah suatu sarana yang cukup mempunyai peran menentukan dalam usaha pembinaan, penumbuhan, dan pengembangan murid-murid di sekolah”. Selain ikut serta mendisiplinkan peserta didik, masyarakat juga berperan dalam memberikan informasi kepada sekolah jika melihat peserta didik SMK Negeri 1 Geger Madiun melakukan pelanggaran di luar sekolah. Temuan penelitian tersebut sesuai dengan yang diungkapkan oleh Mulyasa (2005: 51), yang menyatakan hubungan yang harmonis antara sekolah dan masyarakat akan membentuk. Saling pengertian antara sekolah, orang tua, masyarakat, dan lembaga-lembaga lain yang ada di masyarakat, termasuk dunia kerja; Saling membantu antara sekolah dan masyarakat karena mengetahui manfaat, arti, dan pentingnya peranan masing-masing; Akan menumbuhkan rasa tanggung jawab atau suksesnya pendidkan sekolah.   PENUTUP Berdasarkan hasil pembahasan yang penulis uraikan di atas, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: Pelaksanaan pendidikan karakter berbasis budaya disiplin di SMK Negeri 1 Geger Madiun  menggunakan tata tertib dengan sistem reward dan punishment. Reward diberikan kepada peserta didik yang melakukan kebaikan, sedangkan punishment diberikan kepada peserta didik yang melakukan pelanggaran. Jumlah poin reward terbanyak diberikan beasiswa pendidikan oleh sekolah. Sedangkan jumlah poin punishment tertentu diberikan Surat Peringatan atau SP serta panggilan orang tua. Poin reward yang didapat peserta didik, dapat menghapus poin punishment yang diperoleh. Strategi Pendidikan Karakter Berbasis Budaya Disiplin di SMK Negeri 1 Geger Madiun melalui: (a) kegiatan rutin yang meliputi: apel pagi, apel siang, upacara bendera, kegiatan ketarunaan, ekstrakulikuler pramuka, dan sholat jumat; (b) kegiatan spontan ketika guru mengetahui peserta didik melakukan pelanggaran, guru langsung memberi poin punishment atau sanksi. Selain itu adalah razia atribut dan razia rambut; (c) keteladanan yang diberikan kepala sekolah dan guru adalah disiplin waktu serta berpakaian rapi; (d) pengkondisian yang diterapkan sekolah adalah dengan konsistensi dalam menjalankan aturan, konsisten untuk tidak melakukan pelanggaran sehingga akan menciptakan suasana kelas dan sekolah yang kondusif. Serta guru dapat berperan dalam tugasnya masing-masing. Peran Warga Sekolah dalam Pendidikan Karakter Berbasis Budaya Disiplin di SMK Negeri 1 Geger Madiun dijabarkan menjadi peran kepala sekolah; peran guru; peran orang tua; dan peran masyarakat. (a) peran kepala sekolah adalah mendukung dan mengesahkan progam kedisiplinan serta memotivasi para guru untuk terus konsisten menjalankan progam disiplin dan memberi contoh yang baik kepada peserta didik. Selain ke guru, kepala sekolah juga memberi motivasi kepada peserta didik terkait kedisiplinan, biasanya disampaikan melalui kegiatan upacara bendera setiap hari senin atau masuk ke kelas-kelas. Kepala sekolah juga memberi contoh disiplin waktu serta berpakaian yang rapi. (b) peran guru adalah menjalankan progam kedisiplinan dan mengontrol peserta didik melalui sistem reward dan punishment serta memberi contoh kedisiplinan kepada peserta didik. (c) peran orang tua adalah ikut serta mendukung progam sekolah, mengawasi anaknya ketika berada di rumah, dan mengingatkan agar senantiasa mematuhi peraturan sekolah, serta memenuhi panggilan orang tua ke sekolah. (d) peran masyarakat adalah ikut serta mendisiplinkan peserta didik ketika berada di luar sekolah, serta memberikan informasi kepada sekolah jika mengetahui peserta didik melakukan pelanggaran di luar sekolah.   DAFTAR PUSTAKA   Bukit, Masriam. 2014. Strategi dan Inovasi Pendidikan Kejuruan, Dari Kompetensi ke Kompetisi. Bandung: Alfabeta.   Kementerian Pendidikan Nasional, Badan Penelitian dan Pengembangan, Pusat Kurikulum dan Perbukuan. 2011. Pedoman Pelaksanaan Pendidikan Karakter (Berdasarkan Pengalaman di Satuan Pendidikan Rintisan). Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Kemendiknas.   Miles, Matthew B, A., at all. 2014. Qualitative Data Analysis, A Methods Sourcebook. Thirds Edition. Sage Publicatioons, Inc.   Mulyasa. 2005. Manajemen Berbasis Sekolah. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.   Mulyasa. 2013.  Manajemen Pendidikan Karakter (cetakan ke 3). Jakarta: bumi aksara.   Nurkolis. 2003. Manajemen Berbasis Sekolah. Jakarta: PT Grasindo.   Rachman, Maman. 1997. Manajemen Kelas. Semarang: IKIP   Subroto, Suryo. 2012. Hubungan Sekolah dengan Masyarakat. Jakarta: Rineka Cipta.   Sugiyono. 2014. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D (Cetakan ke-20). Bandung: Alfabeta.   Wibowo, Agus. 2013. Manajemen Pendidikan Karakter di Sekolah. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.   Wiyani, Novan Ardy. 2013. Manajemen Kelas: Teori dan Aplikasi untuk Menciptakan Kelas yang Kondusif (Cetakan ke-1). Yogjakarta: Ar-Ruzz Media.   Zubaedi. 2011. Desain Pendidikan Karakter: Konsepsi dan Aplikasinya dalam Lembaga Pendidikan (Cetakan ke- 1). Jakarta: Kencana Prenanda Media Group.
LATAR BELAKANG PENDIDIKAN TERHADAP PROFESIONALISME GURU DALAM MENERAPKAN KURIKULUM 2013 DI MTS DARUT TAUHID SURABAYA Rizky Rachmad Hasyim, Achmad
Inspirasi Manajemen Pendidikan Vol 5, No 1 (2017): Inspirasi Manajemen Pendidikan
Publisher : Inspirasi Manajemen Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

LATAR BELAKANG PENDIDIKAN TERHADAP PROFESIONALISME GURU DALAM MENERAPKAN KURIKULUM 2013 DI MTS DARUT TAUHID SURABAYA Rizky Rachmad Hasyim, Achmad
Inspirasi Manajemen Pendidikan Vol 5, No 1 (2017): Inspirasi Manajemen Pendidikan
Publisher : Inspirasi Manajemen Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

PROGRAM SMART PARENTING UNTUK MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR SISWA DI SDIT QURROTA A’YUN PONOROGO WACHIDATUT T P, SITI
Inspirasi Manajemen Pendidikan Vol 5, No 1 (2017): Inspirasi Manajemen Pendidikan
Publisher : Inspirasi Manajemen Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract