cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Inspirasi Manajemen Pendidikan
  • inspirasi-manajemen-pendidikan
  • Website
ISSN : -     EISSN : 22528253     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 381 Documents
PENGARUH KINERJA GURU TERHADAP MOTIVASI BELAJAR PADA SISWA KELAS VII DAN VIII MADRASAH TSANAWIYAH NURUL IMAN DEMPOK JOMBANG Amal, Irsan
Inspirasi Manajemen Pendidikan Vol 5, No 1 (2017): Inspirasi Manajemen Pendidikan
Publisher : Inspirasi Manajemen Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pengaruh Kinerja Guru Terhadap Motivasi Belajar Pada Siswa Kelas VII Dan VIII Madrasah Tsanawiyah Nurul Iman Dempok Jombang   Irsan Amal Jurusan Manajemen Pendidikan, FIP, UNESA  e-mail: irsanamal@gmail.com Nunuk Hariyati Jurusan Manajemen Pendidikan, FIP, UNESA e-mail: nunukhariyati@unesa.ac.id   Abstrak Sekolah merupakan sarana strategis untuk meningkatkan kualitas pendidikan bangsa. Guru dalam proses belajar sangat berperan penting dalam mempengaruhi motivasi dan membentuk perilaku siswa. Motivasi belajar memegang peran penting dalam memberi gairah, semangat, dan rasa senang dalam belajar. Proses belajar akan berlangsung dengan baik apabila didukung oleh guru yang memiliki kompetensi kinerja guru yg tinggi.  Motivasi belajar siswa timbul karena dua faktor, yaitu baik yang berasal dari dalam diri (faktor intrinsik) dan dari lingkungan (faktor ekstrinsik). Kinerja guru merupakan kemampuan yang mendasari sikap, dan motivasi dalam menghasilkan suatu pekerjaan. Kinerja guru adalah kemampuan yang ditunjukkan oleh guru dalam pelaksanaan tugas atau pekerjaannya, kinerja dikatakan baik dan memuaskan apabila tujuan yang dicapai sesuai yang ditetapkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kinerja guru terhadap motivasi berlajar pada siswa kelas VII dan VIII Madrasah Tsanawiyah Nurul Iman Dempok Jombang. Rancangan penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif. Data dikumpulkan  menggunakan angket dengan pengambilan sampel menggunakan teknik sampling jenuh sebanyak 110 siswa Madrasah Tsanawiyah Nurul Iman Dempok Jombang. Data dianalisis menggunakan uji asumsi. Sedangkan untuk uji hipotesisnya menggunakan uji regresi linier sederhana. Hasil analisis data menunjukkan bahwa nilai signifikansi kinerja guru terhadap motivasi belajar sebesar 0,000 (p<0.05) dengan nilai koefisien korelasi sebesar 0,460 dan data berdistrubusi normal. Berdasarkan hasil penelitian secara keseluruhan disimpulkan bahwa terdapat pengaruh kinerja guru terhadap motivasi belajar pada siswa Madrasah Tsanawiyah Nurul Iman Dempok Jombang. Kata Kunci: Kinerja Guru, Motivasi Belajar.   The Influence of Teacher’s Perfomance Towards Learning Motivation in Student 7th and 8th Grade of Madrasah Tsanawiyah Nurul Iman Dempok Jombang   Irsan Amal Jurusan Manajemen Pendidikan, FIP, UNESA  e-mail: irsanamal@gmail.com Nunuk Hariyati Jurusan Manajemen Pendidikan, FIP, UNESA e-mail: nunukhariyati@unesa.ac.id   Abstract Education is a strategic means in order to improve Indonesian’s quality. Teacher in this process have an important role in order to influence students motivation and behavior establishment. Learning motivation take a responsibility to students for give them desires, efforts, and joy in learning. The Learning process will be held well if it supported by teachers who have a good competences and high performances. Students learning motivation appear because of two factors, which it comes from inside them (called intrinsic factors) and come from their environments (called extrinsic factors). The teachers performance is an ability that be shown by them in implementation of work. The performance can be called ‘good’ and ‘satisfy’ if the aims of learning activity progress that be reached according what have been planned before.  This research has aim to knowing about the influence of teachers performance toward learning motivation of VII and VIII grade’s studens on Madrasah Tsanawiyah Nurul Iman Dempok Jombang. The method that be used in this research in quantitative method). The collecting data method in research used the saturation sampling technique and the subject was 110 students from Madrasah Tsanawiyah Nurul Iman Dempok Jombang. The data analyze in this research used simple liniear regression test. The result of analyze showed that significancy value the teacher’s performance toward learning motivation as 0,000 (p<0,05) with value coeficiency correlation 0,460 and distribution data normal. The result proves that there is an influence between teacher’s performances toward learning motivation significantly. Keywords: Teacher’s Performance, Learning Motivation. PENDAHULUAN Pendidikan merupakan sarana strategis untuk meningkatkan kualitas bangsa Indonesia. Kesempatan seseorang dalam mendapatkan pendidikan seharusnya dapat memperbaiki dan meningkatkan sumber daya manusia di Negara ini.  Pendidikan bisa ditempuh dengan cara sekolah, hal tersebut dikarenakan pendidikan merupakan segala usaha untuk membina kepandaian, menambah wawasan, keterampilan dan mengembangkan kesempurnaan manusia baik jasmani maupun rohani yang berlangsung seumur hidup baik di dalam maupun di luar sekolah. Menurut (UU Sisdiknas, 2003: 3) menjelaskan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadiannya, kecerdasannya, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat dan Negara. Seorang siswa akan berhasil dalam meraih prestasi belajarnya membutuhkan beberapa faktor dan komponen seperti tersedianya kurikulum yang memadai, adanya motivasi belajar peserta didik yang tinggi dalam menuntut ilmu. Proses belajar mengajar seorang siswa akan berhasil dalam belajar apabila dalam dirinya sendiri ada keinginan untuk belajar, keinginan atau dorongan untuk belajar inilah yang disebut dengan motivasi. Motivasi merupakan faktor penting dalam kegiatan belajar, adanya motivasi diharapkan dapat memperoleh hasil yang memuaskan dalam setiap kegiatan pembelajaran. Motivasi belajar siswa memiliki pengaruh yang cukup kuat terhadap keberhasilan proses belajar maupun hasil belajar. Menurut Ormod (2003: 368-369) mengemukakan bahwa motivasi memiliki pengaruh terhadap perilaku belajar siswa, yaitu motivasi mendorong meningkatnya semangat dan ketekunan dalam belajar. Motivasi belajar memegang peranan yang penting dalam memberi gairah, semangat, dan rasa senang dalam belajar. Sehingga siswa yang mempunyai motivasi tinggi, energi yang banyak untuk melaksanakan kegiatan belajar dan pada akhirnya akan mampu memperoleh prestasi yang lebih baik. Slameto (2003: 97) mengemukakan bahwa guru mempunyai tanggung jawab untuk melihat segala sesuatu yang terjadi dalam kelas untuk membantu proses perkembangan siswa. Proses pembelajaran akan berlangsung dengan baik apabila didukung oleh guru yang mempunyai kompetensi dan kinerja guru yang tinggi. Guru dalam proses pembelajaran membantu siswa untuk menerima maupun mengembangkan materi pelajaran yang sudah disampaikan, jika hal tersebut dapat terlaksana dengan baik, maka tugas dan kewajiban guru dapat dikatakan berhasil, dan salah satu keberhasilan tersebut bisa dilihat dari prestasi belajar siswa, permasalahan dalam peningkatan prestasi belajar siswa juga tergantung pada kinerja guru dalam mengajar. Depdiknas (2004: 11) mengemukakan bahwa kinerja guru merupakan suatu kemampuan guru untuk mendemonstrasikan berbagai kecakapan dan kompetensi yang dimilikinya, esensi dari kinerja guru tidak lain merupakan kemampuan guru dalam menunjukkan kecakapan atau kompetensi yang dimilikinya dalam dunia kerja yang sebenarnya. Guru yang mempunyai kinerja yang baik akan mampu menumbuhkan semangat dan motivasi belajar siswa yang lebih baik, yang pada akhirnya akan mampu meningkatkan kualitas pembelajaran, sedangkan guru yang mempunyai kinerja yang kurang baik, akan menurunkan semangat dan motivasi belajar siswa menjadi menurun. Guru dalam proses pembelajaran sangat berperan penting dalam mempengaruhi motivasi dan membentuk perilaku siswa.  Guru menetapkan harapan yang lebih jelas bagi siswa dengan menjelaskan tujuan, kekhasan, dan keunggulan masing-masing konteks pembelajaran (Sharpe, dkk. dalam Raisyifa & Sutarni: 95). Berdasarkan studi pendahuluan yang telah peneliti lakukan di MTs Nurul Iman Dempok Jombang, peneliti telah melakukan wawancara pada siswa kelas VII dan VIII. Hasil wawancara dengan ketiga partisipan dengan inisial DA, LF, dan IA (perempuan) yaitu pasrtisipan mengatakan bahwa ia tidak menyelesaikan tugas sekolah ketika ia pulang sekolah, ia lebih memilih untuk menunda untuk mengerjakan tugas tersebut, dan ketika besok ada pengumpulan tugas, DA, LF, dan IA mengerjakan tugas tersebut dimalam harinya. Siswa kelas VII yang berinisial AA dan VM (laki-laki), mengatakan bahwa terdapat guru dalam menyampaikan materi pelajaran dengan tidak menyenangkan, hal tersebut membuat siswa menjadi bosan dan memilih untuk tidur. Wawancara lain pada siswa kelas VIII yang berinisial NS dan FD (perempuan), mengatakan bahwa ketika pulang sekolah, ia tidak pernah mengulang materi yang telah diajarkan oleh guru, ia juga tidak melengkapi catatan sebagai bahan untuk belajar agar mendapat nilai yang baik Partisipan juga mengatakan ketika ada tugas rumah ia tidak mengerjakan tugas sendiri, melainkan ia meminta jawaban dari teman-temannya. Fenomena diatas, dapat disimpulkan bahwa subjek dalam penelitian ini menunjukkan bahwa siswa kelas VII dan VIII MTs Nurul Iman Dempok Jombang belum memiliki motivasi belajar yang cukup, padahal dalam pendidikan seorang siswa harus memiliki motivasi belajar yang tinggi untuk menambah pengetahuan, wawasan, keterampilan, mencapai cita-cita dan keinginannya di masa depan. Berdasarkan pemaparan latar belakang dan uraian tersebut, peneliti tertarik untuk meneliti “Pengaruh Kinerja Guru Terhadap Motivasi Belajar Pada Siswa Kelas VII dan VIII MTs Nurul Iman Dempok Jombang.   METODE Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis penelitian kuantitatif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya pengaruh kinerja guru terhadap motivasi belajar pada siswa MTs  Nurul Iman Dempok Jombang. Terdapat dua variabel dalam penelitian yang terangkum dalam rancangan penelitian sebagaimana digambarkan sebagai berikut :   Kinerja Guru   Motivasi Belajar                       X                                                             Y   Populasi dalam penelitian ini berjumlah 110 siswa . Penelitian ini menggunakan metode teknik sampling jenuh. Instrument dalam penelitian ini terdapat dua angket yaitu angket Kinerja Guru dan Motivasi Belajar. Angket tersebut akan diuji cobakan kepada 30 siswa kelas VII dan VIII Madrasah Tsanawiyah Tanjung Anom Jombang. Instrument penelitian yang digunakan adalah skala kinerja guru dan skala motivasi belajar. Skala kinerja guru disusun berdasarkan aspek-aspek yang dikemukakan oleh Direktorat Tenaga Kependidikan Ditjen PMPTK (2008:22-26) sedangkan skala motivasi belajar disusun berdasarkan aspek-aspek yang dikemukakan menurut Pintrich, dkk (1990). Penelitian ini menggunakan teknik analisis linier sederhana yang bertujuan untuk melihat sejauh mana arah dan hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat. Analisis yang digunakan sebelum melakukan uju regresi linier sederhana yaitu uji normalitas, uji linieritas, uji multikolinieritas, uji heterokedastisitas, dan uji hipotesis.   HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Hasil pengujian hipotesis dengan menggunakan teknik analisis regresi linier sederhana menunjukkan bahwa ada pengaruh kinerja guru terhadap motivasi belajar pada siswa MTs Nurul Iman Dempok Jombang. Nilai signifikansi sebesar 0,000 (p<0,05) artinya kedua variabel tersebut memiliki hubungan signifikan. Besaran hubungan antara kinerja guru dan motivasi belajar memiliki koefisien sebesar 37,733 yang artinya jika ada kenaikan 1 tingkat pada kinerja guru, maka dapat meningkatkan motivasi belajar sebesar 37,733, dan sebaliknya jika kinerja guru mengalami penurunan 1 tingkat, maka motivasi belajar akan mengalami penurunan sebesar 37,733. Besaran nilai koefisien determinasi (R2) yang diperoleh sebesar 0,328 artinya variabel kinerja guru (X)  memberikan kontribusi terhadap variabel motivasi belajar (Y) sebesar 33%, sedangkan sisanya 67% dipengaruhi oleh faktor-faktor lain yang tidak diukur oleh peneliti.   Pembahasan Hasil pengujian hipotesis menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan pada variabel kinerja guru dengan motivasi belajar. Persamaan regresi pada penelitian ini membuktikan bahwa hubungan antara kinerja guru dengan motivasi belajar bersifat positif, artinya semakin tinggi kinerja guru, maka semakin tinggi motivasi belajar siswa kelas VII dan VIII di MTs Nurul Iman Dempok Jombang begitupun sebaliknya. Semakin rendah kinerja guru, maka semakin rendah motivasi belajar siswa kelas VII dan VIII Madrasah Tsanawiyah Nurul Iman Dempok Jombang. Penelitian ini sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa mutu pendidikan yang dinilai dari prestasi belajar peserta didik sangat ditentukan oleh guru, permasalahan dalam prestasi belajar siswa juga tergantung pada kinerja guru dalam mengajar (menurut Supriadi dalam Supardi, 2013:7). Hasil penelitian ini senada dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Wardani (2013) yang menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif yang signifikan antara kinerja guru dengan motivasi belajar siswa, artinya semakin tinggi kinerja guru maka motivasi belajar juga akan semakin tinggi ataupun sebaliknya, semakin rendah kinerja guru maka motivasi belajar juga akan semakin menurun. Seorang guru wajib membantu siswa dalam menerima maupun mengembangkan materi pelajaran yang sudah disampaikan, karena semakin tinggi kualitas guru akan diikuti oleh peningkatan motivasi belajar siswa. Menurut Slameto (2010:132), ada tiga faktor yang dapat mempengaruhi kemampuan intelektual siswa diantaranya faktor fisik, faktor emosional, dan faktor motivasi. Faktor pendorong atau penyemangat belajarsetiap siswa tentunya berbeda satu dengan yang lainnya. Terdapat siswa yang sudah terbiasa harus belajar karena sudah menjadi kebutuhan, namun juga terdapat siswa yang harus mendapatkan motivasi belajar dari guru agar siswa tersebut mempunyai keinginan dalam belajar. kewajiban seorang guru untuk memastikan setiap siswanya memahami setiap materi yang diajarkan. Setiap siswa memiliki motivasi tersendiri dalam belajar, bahkan beberapa siswa tidak memiliki motivasi sehingga siswa tersebut tidak mempunyai keinginan untuk belajar. Hal tersebut, guru memiliki peran penting untuk membantu menumbuhkan motivasi pada siswa yang memiliki motivasi belajar yang rendah.          Menurut Rusman (2013:50) menjelaskan bahwa kinerja guru dalam proses pembelajaran yaitu bagaimana seorang guru merencanakan pembelajaran, melaksanakan kegiatan pembelajaran dan menilai hasil belajar. Pada penelitian ini kinerja guru memang berpengaruh terhadap motivasi belajar siswa MTs Nurul Iman Dempok Jombang, namun ada variabel lain yang juga dapat mempengaruhi motivasi belajar pada siswa tersebut. Adapun variabel lain yang dapat mempengaruhi motivasi belajar yaitu kondisi lingkungan siswa. Lingkungan dapat merubah motivasi belajar siswa, seperti lingkungan tempat tinggal bisa mempengaruhi pergaulan seseorang yang menyebabkan proses belajarnya terhambat. Selain itu, ancaman dari teman bisa bisa saja mengganggu proses belajar siswa.   PENUTUP Simpulan Berdasarkan hasil pembahasan yang telah diuraikan sebelumnya, maka ditarik kesimpulan bahwa nilai koefisien korelasi regresi sederhana yang ditunjukkan dalam penelitian ini sebesar 0,000 yang berarti bahwa kinerja guru memiliki nilai yang signifikan terhadap motivasi belajar. Hasil yang ditunjukkan dalam Penelitian ini bersifat positif, artinya semakin tinggi kinerja guru maka semakin tinggi motivasi belajar. Begitu pala sebaliknya, semakin rendah kinerja guru maka semakin rendah motivasi belajar.    Saran Kesimpulan beberapa hal untuk dijadikan saran bagi:  Kepala Sekolah Hendaknya selalu mengevaluasi kinerja para guru. Dengan melakukan evaluasi terhadap kinerja guru yang dilakukan oleh para guru tersebut, diharapkan guru menjadi lebih mampu dalam meningkatkan kinerja yang dimilikinya, serta dapat memperbaiki kekurangan yang ada dalam kegiatan proses belajar mengajar. Guru Hendaknya guru melakukan evaluasi terhadap kinerja yang dilakukannya. Dengan melakukan evaluasi terhadap hasil kerja yang dilakukannya tersebut, diharapkan guru menjadi lebih mampu dalam meningkatkan kinerja yang dimilikinya, serta dapat memperbaiki kekurangan yang ada dalam kegiatan proses belajar mengajar. Peneliti Selanjutnya Hendaknya dapat melakukan penelitian dengan menggunakan variabel-variabel lain yang dapat mempengaruhi motivasi belajar.   DAFTAR PUSTAKA Depdiknas. (2004). Pengembangan Perangkat Penilaian Kinerja Guru. Jakarta: Ditjen Dikti, Bagian Proyek P2TK. Direktorat Tenaga Kependidikan. (2008). Penilaian Kinerja Guru. Jakarta: Direktorat Tenaga Kependidikan. Ormod, J. E. (2003). Educational Psychology, Developing Learners. (4d ed.). Merrill: Pearson Education, Inc. Pintrich, R., & DeGroot, E. (1990). Motivational and Self-Regulated Learning Components of Classroom Academic Performance. Jurnal Of Education Psychology, 82 (1), 33-40. Raisyifa, D. N & Sutarni, N. (2016). Pengaruh Kinerja Mengajar Guru Terhadap Motivasi Belajar Siswa. Jurnal Pendidikan Manajemen Perkantoran, 1(1) 94-103. Rusman. (2013). Model-model pembelajaran: Mengembangkan Profesionalisme Guru. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada. Slameto. (2003). Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta. Supardi. (2013). Kinerja Guru. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada. Wardani, V. P. (2013). Pengaruh Kinerja Guru Terhadap Motivasi Belajar Anak Kelompok B Sekolah Taman Kanak-kanak Dharma Wanita Se Kecamatan Kedu Kabupaten Temanggung. Skripsi (online). (http://eprints.uny.ac.id/15165/PRISKILLA%20SKRIPSI.pdf, diakses pada 15 November 2016).        
PENGELOLAAN LABORATORIUM AL QURAN SEBAGAI SUMBER BELAJAR DI SMP AL FALAH KETINTANG SURABAYA Nur Amalina, Alifiani
Inspirasi Manajemen Pendidikan Vol 5, No 1 (2017): Inspirasi Manajemen Pendidikan
Publisher : Inspirasi Manajemen Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

PENGARUH PROFESIONALISME GURU DAN FASILITAS BELAJAR TERHADAP PRESTASI BELAJAR SISWA KELAS XI DI SMA NEGERI SE KOTA MOJOKERTO BERDIYANA, MARINDO
Inspirasi Manajemen Pendidikan Vol 5, No 1 (2017): Inspirasi Manajemen Pendidikan
Publisher : Inspirasi Manajemen Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

HUBUNGAN ANTARA MUTU SEKOLAH DAN PEMASARAN SEKOLAH DENGAN MINAT SISWA MEMILIH PENDIDIKAN DI  SD RADEN FATAH SURABAYA Ilyas, Mohammad
Inspirasi Manajemen Pendidikan Vol 5, No 1 (2017): Inspirasi Manajemen Pendidikan
Publisher : Inspirasi Manajemen Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Abstrak: Sekolah sebagai salah satu institusi pendidikan menjadikan sekolah yang bermutu agar meningkatkan minat siswa memilih sekolah tersebut yang tentunya diimbangi pemasaran sekolah yang baik juga. Terdapat salah satu sekolah dasar di Surabaya yang memiliki siswa banyak, yaitu mencapai 400 siswa. SD Raden Fatah adalah sekolah berstatus swasta namun memiliki peminat yang banyak, hal ini bisa dikarenakan mutu dan sekolah yang baik atau pemasaran sekolah yang baik. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara mutu sekolah dan pemasaran sekolah dengan minat siswa memilih pendidikan di SD Raden Fatah Surabaya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Sampel dalam penelitian ini adalah wali murid kelas I – IV dan tenaga pendidik serta kependidikan di SD Raden Fatah Surabaya sebanyak 104 orang. Penelitian ini menunjukkan kuatnya hubungan mutu sekolah dan pemasaran sekolah dengan minat siswa memilih pendidikan di SD Raden Fatah Surabaya sebesar 41,3% sedangkan sisanya dipengaruhi oleh faktor lain. Teknik analisis data yang digunakan yaitu analisis korelasi sederhana dan ganda dengan  product moment. Berdasarkan hasil analisis data product moment hubungan yang kuat pada variabel minat siswa memilih pendidikan memperoleh nilai signifikan 0,000 < 0,005, dengan demikian H0 ditolak dan Ha diterima, maka artinya terdapat hubungan yang signifikan antara mutu sekolah dan pemasaran sekolah dengan minat siswa memilih pendidikan. Kata kunci: mutu sekolah, pemasaran sekolah, minat siswa.   RELATIONSHIP BETWEEN QUALITY OF SCHOOL AND MARKETING OF SCHOOL WITH STUDENT INTERESTS CHOOSE EDUCATION IN SD RADEN FATAH SURABAYA   Mohammad Ilyas Jurusan Manajemen Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Surabaya ilyasjepret@gmail.com Nunuk Hariyati Jurusan Manajemen Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Surabaya nunukhariyati@unesa.ac.id    Abstract Abstract : School as one of educational institution that creates quality of school to increase students’ interest in choosing school that also balanced by good marketing of school. There is an elementary school in Surabaya that has many students, there are 400 students. SD Raden Fatah Surabaya is a private school but has many devotees, it caused by good quality school or good marketing of school. The purposes of this study was to determine the relationship between the quality of school and school marketing with student interest in choosing an education at SD Raden Fatah Surabaya. This research used quantitative approach with kind of research was descriptive research. The sample in this study were the guardian of students in I - IV grade and the educator also staff at SD Raden Fatah Surabaya that consist of 104 people. This study showed the strength of relationship of school quality and marketing of school with interest of student choosing education at SD Raden Fatah Surabaya with amount 41,3% while the residue is influenced by another factor. The data analysis technique used simple analysis of regression and double correlation with product moment. Based on the result of product moment in data analysis, the strong relation on variable of students’ interest in choosing education has significant values in number 0.000 <0,005, this H0 rejected and Ha accepted, that means there is significant relation between school quality and marketing of school with student interest choosing education. Key word: school quality, school marketing, student interest.
PERAN HUBUNGAN MASYARAKAT DALAM MENINGKATKAN KUALITAS KERJASAMA SEKOLAH DENGAN DUNIA USAHA DAN DUNIA INDUSTRI (DUDI) DI SMK NEGERI 5 SURABAYA DWI KIS PP, ANDY
Inspirasi Manajemen Pendidikan Vol 5, No 1 (2017): Inspirasi Manajemen Pendidikan
Publisher : Inspirasi Manajemen Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Peran Hubungan Masyarakat Dalam Meningkatkan Kualitas Kerjasama Sekolah Dengan Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI) di SMK Negeri 5 Surabaya Andy Dwi Kis Permana Putra Jurusan Manajemen Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Surabaya andy.dk04@gmail.com Nunuk Hariyati Jurusan Manajemen Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Surabaya nunukhariyati@unesa.ac.id                                                                                         Abstrak Kerjasama yang terjalin antara SMK dengan dunia usaha dan dunia industri (DUDI) tidak terlepas dari adanya peranan hubungan masyarakat (humas) di sekolah. Untuk itu humas sekolah memegang peranan penting dalam mendukung terwujudnya hubungan kerjasama tersebut. Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan upaya hubungan masyarakat dalam membangun, memelihara, dan mengevaluasi kerjasama dengan dunia usaha dan dunia industri (DUDI) di SMK Negeri 5 Surabaya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dan rancangan penelitian studi kasus. Teknik pengumpulan data yaitu dengan wawancara, observasi dan dokumentasi. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan kondensasi, penyajian data, dan verifikasi data. Hasil penelitian (1) upaya humas dalam membangun kerjasama efektif dengan komunikatifnya humas menjalankan peranan sebagai ujung tombak dalam menyelaraskan berbagai informasi (2) upaya humas dalam memelihara kerjasama efektif apabila kegiatan monitoring didukung dengan strategi serta penggunaan prinsip yang tepat (3) upaya humas dalam mengevaluasi kerjasama efektif jika didukung sinergi peran kedua belah pihak dalam penggunaan angket monitoring dalam penentuan keberhasilan kerjasama. Berdasarkan hal tersebut humas sekolah di SMK Negeri 5 Surabaya telah menjalankan peranannya dengan sangat baik. Saran yang dapat di buat yaitu lebih pro aktif dalam menjalankan peranannya di sekolah sehingga tercipta kerjasama berkualitas yang berdampak signifikan terhadap peningkatan kualitas sumber daya manusia, baik guru maupun peserta didik yang ada di SMK Negeri 5 Surabaya. Kata Kunci: Hubungan Masyarakat, Kualitas Kerjasama, Dunia Usaha dan Dunia Industri.    THE ROLE OF PUBLIC RELATIONS IN IMPROVING THE QUALITY OF COOPERATION WITH THE BUSINESS AND INDUSTRY IN SMK NEGERI 5 SURABAYA  Andy Dwi Kis Permana Putra Jurusan Manajemen Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Surabaya andy.dk04@gmail.com Nunuk Hariyati Jurusan Manajemen Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Surabaya nunukhariyati@unesa.ac.id Abstract The cooperation established between the SMK with the business world and the world of industry (DUDI) is inseparable from the existence of the role of public relations (public relations) at school. For that school of public relations play an important role in support of the attainment of such partnerships. The purpose of this research was to describe the public relations efforts in building, maintaining, and evaluating cooperation with the business world and the world of industry (DUDI) at SMK Negeri 5 Surabaya. This research uses descriptive qualitative approach and draft research case studies. The data collection techniques interviews, observation and documentation. Data analysis in this study uses the condensation, the presentation of data, and verify the data. Results of the study are (1) public relations efforts in establishing effective cooperation with komunikatifnya publicist running role as spearhead in harmonizing various information (2) the public relations effort in maintaining effective cooperation in monitoring activities supported by the strategy as well as the use of proper principles (3) public relations efforts in evaluating effective cooperation if the synergy supported the role of the parties in the use of the now monitoring in determining the success of cooperation. Based on this public relations school in SMK Negeri 5 Surabaya has run its role very well. Suggestions can be made a more pro active in carrying out its role in school so created significant impact-quality cooperation towards improving the quality of human resources, good teachers as well as learners who are in SMK Negeri 5 Surabaya. Keywords: Public Relations, Quality of Cooperation, The Business and The World of Industry.     PENDAHULUAN Salah satu jalur pendidikan sekolah yang di jadikan alternatif untuk mengatasi angka pengangguran adalah pendidikan kejuruan. Sekolah menengah kejuruan (SMK) memiliki tujuan mencetak peserta didik untuk siap kerja, dalam Peraturan Pemerintah Nomor 17 tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan Pasal 76 yang menjelaskan bahwa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) merupakan pendidikan menengah yang bertujuan untuk membekali peserta didik dengan kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kecakapan kejuruan para profesi agar dapat bekerja pada bidang tertentu. Sebagai jenjang pendidikan yang menyiapkan lulusan dalam memasuki lapangan kerja maka dibutuhkan peran serta masyarakat. Masyarakat sebagai salah satu pemilik sekolah mendukung dan berpartisipasi dalam meningkatkan pendidikan di sekolah. Untuk menciptakan situasi dan kondisi yang harmonis antara pihak pengelola sekolah dan masyarakat, maka sangat dibutuhkan kerja sama dan kontak dari kedua pihak secara kontinyu. Seluruh kegiatan yang ada di sekolah dibutuhkan penyelarasan dengan kebutuhan dunia usaha dan dunia industri (DUDI). Melalui sosialisasi dan musyawarah program sekolah dengan pihak DUDI inilah yang nantinya akan membentuk hubungan saling menguntungkan antara kedua belah pihak yang akan berujung pada Memorandum of Understanding (MoU). Untuk mencapai hal tersebut sekolah membutuhkan peranan dari hubungan masyarakat (humas) sekolah. Amirin, dkk (2013: 95) menyatakan bahwa hubungan masyarakat adalah suatu kegiatan yang dilakukan bersama-sama antara lembaga dan masyarakat dengan tujuan memperoleh pengertian, kepercayaan, penghargaan, hubungan harmonis, serta dukungan (goodwill) secara sadar dan sukarela. Lebih lanjut, Nasution (2010: 39) menyatakan bahwa hubungan masyarakat merupakan pengembangan dan pemeliharaan kerjasama yang efisien untuk menyampaikan saluran informasi dua arah. Bertujuan memberikan pemahaman antara pihak sekolah (pimpinan), komunitas sekolah (guru, karyawan dan siswa) dan masyarakat (orang tua, masyarakat sekitar dan lembaga lain di luar sekolah). Hubungan masyarakat (humas) berperan penting dalam proses penyelenggaraan pendidikan. Dalam hal ini, humas berfungsi di dalam mendukung hubungan baik kepada masyarakat sehingga dengan adanya hubungan yang harmonis tersebut dapat membantu untuk memperoleh dukungan publik dalam menyiapkan lulusan-lulusan yang memiliki keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja ataupun siap bersaing dalam melanjutkan studi di perguruan tinggi terkemuka, baik di dalam negeri maupun luar negeri. Untuk itu dibutuhkan peran humas dalam menjembatani antara sekolah dengan masyarakat. Humas berkomunikasi langsung dengan masyarakat dan untuk mengetahui keadaan sebenarnya di lapangan, pihak humas memerlukan bantuan dari pihak internal maupun pihak eksternal sekolah. Penyelenggaraan sekolah menengah kejuruan sangat dibutuhkan adanya jalinan kerjasama yang baik dengan dunia usaha dan dunia industri (DUDI) terutama dalam proses pembelajaran. Hubungan kerjasama yang baik tentunya tidak dapat tercipta dengan begitu saja tanpa adanya proses komunikasai yang berkelanjutan. Bagi pendidikan SMK untuk mendapatkan mitra kerja bukan merupakan hal yang mudah. Untuk dapat menjalin kerjasama dengan DUDI diperlukan adanya keterampilan dari pihak sekolah. Dalam kaitannya peranan humas dibutuhkan guna menarik minat DUDI agar terjalin kerjasama dengan sekolah. SMK Negeri 5 Surabaya merupakan salah satu contoh sekolah yang menjalankan peranan humasnya dengan sangat baik dalam meningkatkan kualitas kerjasama dengan dunia usaha dan dunia industri (DUDI). Pihak sekolah menyadari bahwa SMK Negeri 5 Surabaya tidak akan menciptakan lulusan yang berkualitas tanpa adanya kerjasama dengan pihak eksternal, yakni dunia usaha dan dunia industri (DUDI). Untuk itu program-program humas, khususnya yang berkaitan dengan hubungan dengan pihak eksternal dilaksanakan dengan sangat baik. Program-program hubungan masyarakat yang ada di SMK Negeri 5 Surabaya diantaranya, 1) Hubungan dengan dunia usaha dan dunia  industri (DUDI) meliputi praktek kerja industri (prakerin) dan rekrutmen tenaga kerja, 2) Dengan institusi meliputi pelatihan (workshop), dan 3) Sekolah lain meliputi peningkatan kompetensi guru dan pelatihan siswa. Dalam melakukan kerjasama, pihak sekolah memperhatikan terlebih dahulu dengan melihat kebutuhan sekolah, perkembangan industri serta kesesuaian industri pasangan dengan program studi yang ada di SMK Negeri 5 Surabaya.  Berdasarkan paparan latar belakang diatas, maka fokus dalam penelitian ini adalah sebagai berikut  : Upaya hubungan masyarakat dalam membangun kerjasama dengan dunia usaha dan dunia industri (DUDI) di SMK Negeri 5 Surabaya. Upaya hubungan masyarakat dalam memelihara kerjasama dengan dunia usaha dan dunia industri (DUDI) di SMK Negeri 5 Surabaya. Upaya hubungan masyarakat dalam mengevaluasi kerjasama dengan dunia usaha dan dunia industri (DUDI) di SMK Negeri 5 Surabaya.   METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif  dengan rancangan penelitian studi kasus yang bertujuan untuk mendeskripsikan dan memperoleh secara jelas gambaran mengenai peran hubungan masyarakat dalam meningkatkan kualitas kerjasama sekolah dengan dunia usaha dan dunia industri (DUDI). Lokasi pada penelitian ini dilakukan di SMK Negeri 5 Surabaya yang terletak di Jalan Mayjend Prof. Dr. Moestopo 167-169, Surabaya. Sedangkan subjek penelitian ini yaitu: bapak Rinoto selaku kepala sekolah SMK Negeri 5 Surabaya, bapak Eko Budi Purnomo selaku waka humas, bapak Mujini selaku ketua jurusan teknik listrik, ibu Ratna Wahyuni selaku ketua jurusan teknik kimia analis, ibu Nikmatul Azizah selaku ketua bursa kerja khusus (BKK), bapak Ari Junaidi selaku pihak DUDI, Erlanda dan Dio selaku siswa dan alumni SMK Negeri 5 Surabaya. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu menggunakan teknik wawancara semi terstruktur, observasi, dan studi dokumentasi, sesuai dengan fokus penelitian. Teknik analisis data dengan melakukan beberapa langkah yaitu: Pengumpulan Data, Kondensasi Data, Penyajian Data dan Verifikasi Data. Selanjutnya, untuk menguji keabsahan data yang diperoleh di lapangan, penelitian ini menggunakan uji Kredibilitas, Tranferabilitas, Konfirmabilitas, dan Dependabilitas. HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan temuan data di SMK Negeri 5 Surabaya, sesuai dengan fokus penelitian  menunjukkan bahwa 1) Upaya hubungan masyarakat dalam membangun kerjasama dengan dunia usaha dan dunia industri (DUDI) di SMK Negeri 5 Surabaya. 2) Upaya hubungan masyarakat dalam memelihara kerjasama dengan dunia usaha dan dunia industri (DUDI) di SMK Negeri 5 Surabaya. 3) Upaya hubungan masyarakat dalam mengevaluasi kerjasama dengan dunia usaha dan dunia industri (DUDI) di SMK Negeri 5 Surabaya. HASIL PENELITIAN Upaya hubungan masyarakat dalam membangun kerjasama dengan dunia usaha dan dunia industri (DUDI) di SMK Negeri 5 Surabaya. Peranan humas sangat vital sebagai ujung tombak sekolah dalam menyebarluaskan informasi, sehingga humas dituntut komunikatif dalam proses analisis kerjasama dengan pihak internal dan pihak eksternal di sekolah. Keterlibatan seluruh elemen sekolah akan membantu humas dalam menentukan mekanisme kerjasama. Strategi yang digunakan humas dalam upaya membangun kerjasama lebih menggunakan cara pendekatan awal serta adanya keterlibatan alumni sebagai link ke industri. Standar yang diusung oleh humas yakni kesesuaian kompetensi yang diberikan oleh industri kepada sekolah serta komitmen terhadap pengembangan peserta didik. Bentuk kerjasama yang dibangun meliputi praktek kerja industri (prakerin), rekrutmen, CSR atau biasa dikenal bantuan-bantuan dari perusahaan atau industri, serta sinkronisasi kurikulum dengan penetapan kerjasama menggunakan Memorandum of Understanding. Upaya hubungan masyarakat dalam memelihara kerjasama dengan dunia usaha dan dunia industri (DUDI) di SMK Negeri 5 Surabaya. Proses pemeliharaan yang dilakukan humas menggunakan cara kegiatan monitoring demi menjaga komunikasi yang terjalin antara sekolah dengan pihak dunia usaha dan dunia industri (DUDI). Humas menggunakan strategi dalam pemeliharaan yang meliputi komunikasi berkelanjutan, mengundang industri ke sekolah, memanfaatkan DUDI sebagai guru tamu, dan pro aktif dalam pembahasan sinkronisasi kurikulum. Humas juga menerapkan prinsip dalam memelihara kerjasama yakni dengan tidak ikut campur urusan industri apabila tidak memiliki wewenang dan memenuhi kebutuhan industri. Upaya hubungan masyarakat dalam mengevaluasi kerjasama dengan dunia usaha dan dunia industri (DUDI) di SMK Negeri 5 Surabaya. Proses evaluasi yang dilakukan humas sekolah dalam kerjasama lebih mengandalkan angket monitoring yang dititipkan kepada pembimbing saat melakukan kunjungan ke industri. Evaluasi kerjasama yang dilakukan untuk memberikan masukan atas kekurangan saat proses kerjasama sehingga sekolah dapat memetakan perbaikan kualitas dalam memenuhi hak dan kewajiban kepada pihak industri. Ruang lingkup evaluasi meliputi sikap dan kemampuan siswa, kompetensi yang diperoleh, pekerjaan yang diterima, serta kegiatan siswa selama prakerin di industri. Penentuan keberhasilan kerjasama berdasarkan keterserapan lulusan SMK, semakin tinggi nilai keterserapan peserta didik, maka kerjasama dengan DUDI dikatakan berhasil.   PEMBAHASAN Upaya hubungan masyarakat dalam membangun kerjasama dengan dunia usaha dan dunia industri (DUDI) di SMK Negeri 5 Surabaya. Penyelenggaraan sekolah menengah kejuruan (SMK) sangat dibutuhkan adanya jalinan kerjasama yang baik dengan dunia usaha dan dunia industri (DUDI) terutama dalam proses pembelajaran. Hal tersebut dikarenakan dalam penyelenggaraan pendidikan di SMK menerapkan Pendidikan Sistem Ganda (PSG) dimana dalam pelaksanaannya siswa tidak hanya menerima pembelajaran di sekolah saja, akan tetapi ada praktek di lingkungan industri. Bukit (2014: 43) mengatakan PSG merupakan sistem pendidikan kejuruan yang melaksanakan pembelajaran di sekolah dan di industri dimana pembelajaran di sekolah dan pelatihan di industri merupakan dua komponen yang berasal dari program yang tidak terpisahkan. Penerapan Pendidikan Sistem Ganda (PSG) di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) diperlukan adanya jalinan kerjasama yang baik dengan dunia usaha dan dunia industri (DUDI) agar tujuan yang ditetapkan dapat tercapai secara efektif dan efisien. Hubungan kerjasama yang baik tentunya tidak dapat tercipta dengan begitu saja tanpa adanya proses komunikasi yang berkelanjutan. Bagi pendidikan SMK untuk mendapatkan mitra kerja bukan merupakan hal yang mudah. Untuk dapat menjalin kerjasama dengan DUDI diperlukan adanya keterampilan dari pihak sekolah. Dalam kaitannya peranan humas dibutuhkan guna menarik minat DUDI agar terjalin kerjasama dengan sekolah. Hubungan masyarakat (humas) sekolah memiliki kedudukan strategis dalam penyelenggaraan kerjasama dengan pihak eksternal, khususnya di SMK Negeri 5 Surabaya, dimana humas memiliki peranan sangat vital sebagai ujung tombak sekolah dalam menyebarluaskan informasi yang didapat kepada publiknya. Hal ini sejalan dengan pendapat Ruslan (2010:10) yang menyatakan bahwa peranan humas sebagai penghubung antara organisasi atau lembaga yang diwakili dengan publiknya. Peranan sebagai ujung tombak dari humas diharapkan dapat membantu dalam upaya membangun kerjasama dengan dunia usaha dan dunia industri (DUDI) secara efektif dan efisien. Dalam membangun kerjasama, humas di SMK Negeri 5 Surabaya sangat komunikatif dalam menindaklanjuti informasi-informasi yang diperoleh dalam proses analisis kerjasama dengan internal dan eksternal sekolah.  Hal ini sesuai dengan pendapat Ruslan (2012:23) yang menyatakan bahwa humas dalam membina hubungan ke dalam atau hubungan ke luar harus dipelihara guna menciptakan kerukunan bersama antara masing-masing pihak. Komunikatifnya humas dalam menyelaraskan berbagai informasi ini diharapkan dapat berjalan efektif sehingga menciptakan adanya sinergitas peran antara kedua belah pihak. Pihak-pihak yang terlibat dalam membangun kerjasama di SMK Negeri 5 Surabaya meliputi kepala sekolah, waka humas, ketua jurusan, guru, serta alumni yang sudah bekerja di berbagai industri. Seluruh elemen sekolah diharapkan dapat berkontribusi maksimal sehingga tujuan yang hendak dicapai oleh sekolah dalam membangun kerjasama dengan dunia usaha dan dunia industri (DUDI) dapat berjalan sesuai harapan dan maksimal dengan dibantu oleh alumni. Penetapan mekanisme dalam membangun kerjasama yang dilakukan humas SMK Negeri 5 Surabaya melalui dua cara, yakni sekolah yang menawarkan draf kerjasama atau industri yang datang ke sekolah menawarkan draf kerjasama. Hal ini sesuai dengan pendapat Azizah, dkk (2015:156) yang menyatakan bahwa mekanisme yang dipilih merupakan langkah komprehensif yang akan ditempuh dalam pencapaian misi dan tujuan organisasi. Dimana humas diharapkan dapat menentukan pemilihan mekanisme yang menciptakan kerjasama efektif dan efisien bagi sekolah. Membangun kerjasama dengan dunia usaha dan dunia industri (DUDI) pihak humas SMK Negeri 5 Surabaya memiliki strategi –strategi yang diterapkan, antara lain 1) melakukan pendekatan awal jika industri tersebut belum bekerjasama dengan sekolah; dan 2) mencari alumni-alumni yang sudah bekerja dan tersebar di berbagai industri untuk meminta rekomendasi kerjasama antara sekolah dengan industri yang ditempati alumni. Hal ini sesuai dengan pendapat Tim LPM UNJ (2014:3) dimana tahap penjajakan merupakan tahap awal untuk menjajaki kemungkinan terjadinya kerjasama antara kedua belah pihak. Penjajakan ini dapat dimulai dengan pertukaran informasi tentang profil instansi masing-masing dan presentasi dari usulan kerjasama yang ditawarkan. Adanya keterlibatan aktif dari alumni dalam merekomendasikan industri merupakan langkah yang efektif dimana alumni dapat memberikan kontribusinya membantu sekolah dalam menyeleksi atau memilah industri yang akan dijadikan sebagai mitra kerjasama oleh sekolah. Alumni merupakan lini depan yang paling efektif. Kinerja alumni akan menjadi referensi industri untuk menilai sekolah. Oleh karena itu jaringan alumni harus diperkuat. Standar yang diusung sekolah adalah kesesuaian kompetensi yang diberikan oleh industri kepada sekolah serta komitmen terhadap pengembangan peserta didik. Hal ini sesuai dengan pendapat Raharjo (Syaraswati, 2016:95) yang menyatakan bahwa dalam pemilihan industri, sekolah terlebih dahulu melakukan pengkajian berbagai industri dan lembaga yang potensial yang ada di sekitar wilayahnya, melakukan pengkajian terhadap semua keterampilan yang sesuai dan dapat diperoleh di setiap industri, serta sekolah merintis kerjasama dengan industri atau perusahaan yang sesuai dengan standar atau keterampilan tiap-tiap program studi. Pemilihan dunia usaha dan dunia industri (DUDI) sebagai mitra kerja yang tepat nantinya akan berpengaruh terhadap perkembangan siswa dan kompetensi yang dihasilkan. Sehingga dalam hal ini humas SMK Negeri 5 Surabaya harus selektif dalam pemilihan dunia usaha dan dunia industri (DUDI) yang akan dijadikan mitra kerjasama sehingga tujuan yang ingin dicapai dapat sesuai dengan tepat sasaran. Bentuk kerjasama antara SMK Negeri 5 Surabaya dengan dunia usaha dan dunia industri (DUDI) meliputi praktek kerja industri (prakerin), rekrutmen tenaga kerja, program Corporate Social Responsibility (CSR) dan sinkronisasi kurikulum. Kerjasama yang dijalankan oleh sekolah merupakan hal utama dan menjadi program pokok di bidang kehumasan yang bertujuan untuk menyalurkan peserta didik ke dunia industri yang sesuai dengan bidang keahliannya. Berdasarkan analisis peneliti, bentuk kerjasama yang dilakukan sekolah sesuai dengan pendapat Kemendikbud (2016:16) yang menyatakan ada beberapa variasi bentuk kerjasama lembaga pendidikan dan pelatihan kejuruan dengan industri meliputi, praktik kerja industri (Prakerin), kelas industri, training center / In-house training, program guru magang dan guru tamu kerja sama penelitian, sertifikasi siswa, rekrutmen (Bursa Kerja Khusus), dan production-based education training (PBET) serta teaching factory. Hal ini sependapat dengan teori dari Abuzar (Ixtiarto dan Sutrisno, 2016:65) yang mengatakan bahwa SMK dengan dunia usaha dan dunia industri melalui link and match sebagai bentuk kerjasama dapat memberi manfaat a) Peserta didik secara langsung dapat melihat bagaimana peranan teknologi dalam dunia usaha sehingga setelah lulus kelak tidak canggung lagi berinteraksi dengan proses teknologi dalam dunia usaha. b) Memotivasi peserta didik SMK untuk berkreasi lebih bagus lagi, dalam artian mereka bisa menemukan inovasi-inovasi baru karena sudah melihat secara langsung. c) Mampu meningkatkan mutu lulusan SMK karena dalam dunia usaha dan dunia industri itu yang paling utama adalah disiplin agar dapat secara terus menerus bertahan, misalnya hal kecil mengindikasikan bahwa mutu yang ada di sekolah adalah komitmen terhadap disiplin waktu dan belajar, etos kerja, budaya berkompetisi dan berprestasi. d) Lebih mudah mendesain kurikulum yang berbasis kompetensi karena langsung memenuhi tuntutan dunia usaha. e) Bentuk rekrutmen tenaga kerja tidak akan sulit lagi. Artinya, stakeholders SMK dapat merekomendasikan siapa saja peserta didik yang berprestasi untuk jadi tenaga kerja. Ditinjau dari proses Memorandum of Understanding (MoU) kerjasama, humas SMK Negeri 5 Surabaya terlebih dahulu melakukan pendekatan dengan mengirimkan draf ke industri guna bertemu jajaran manajemen ataupun pihak HRD, untuk selanjutnya diadakan pertemuan decision maker kedua belah pihak guna penandatangan MoU. Hal ini sesuai dengan pendapat Tim LPM UNJ (2014:3) yang menyatakan bahwa kegiatan kerjasama yang dilakukan dengan pihak lain hendaknya dituangkan dalam naskah kesepahaman yang dibuat antara kedua belah pihak mengenai peran dan tanggung jawab masing-masing pihak yang disebut dengan Memorandum of Understanding (MoU). Dengan demikian dapat diketahui bahwa upaya humas dalam membangun kerjasama dengan dunia usaha dan dunia industri (DUDI) di SMK Negeri 5 Surabaya menunjukkan bahwa humas komunikatif dalam menjalankan perannya sebagai ujung tombak sekolah menyelaraskan berbagai informasi sehingga dapat menentukan mekanisme kerjasama, strategi yang diterapkan, pihak-pihak yang terlibat, standar pemilihan mitra/partner, bentuk kerjasama, serta proses MoU dengan dunia usaha dan dunia industri (DUDI). Upaya hubungan masyarakat dalam memelihara kerjasama dengan dunia usaha dan dunia industri (DUDI) di SMK Negeri 5 Surabaya. Memelihara hubungan baik dengan partner merupakan prioritas utama sekolah dalam melakukan hubungan kerja sama. Dalam prakteknya di lapangan, kepuasan pihak dunia usaha dan dunia industri (DUDI) adalah penghargaan tertinggi bagi sekolah dalam suatu hubungan kerjasama, karena mitra akan melihat bahwa sekolah memiliki cara kerja yang baik, sumber daya manusia yang hebat, serta mampu memenuhi setiap keinginan dan kebutuhan yang diinginkan pihak DUDI. Banyak cara yang dilakukan oleh sekolah guna lebih mendekatkan diri dengan partner demi kelangsungan hubungan kerjasama ke depannya, seperti mencari tahu penilaian apa yang mereka cari, apa yang menjadi perhatian utama mereka, serta apa yang mereka harapkan dari kerja sama yang sedang berlangsung dengan sekolah. Untuk itulah pihak humas SMK Negeri 5 Surabaya perlu melakukan proses pemeliharaan dalam kerjasama sekolah dengan pihak dunia usaha dan dunia industri guna mengefektifkan hubungan baik antar kedua belah pihak. Proses pemeliharaan kerjasama yang dilakukan pihak humas SMK Negeri 5 Surabaya terhadap dunia usaha dan dunia industri (dudi) menggunakan cara mengedepankan komitmen pada kegiatan monitoring guna menjaga komunikasi yang terjalin bagi kedua belah pihak. Selama peserta didik melaksanakan praktek kerja industri (prakerin) di dunia usaha dan dunia industri (DUDI), pihak sekolah melakukan pengawasan atau monitoring terhadap peserta didik satu kali dalam tiga bulan. Kegiatan monitoring ini sangat efektif untuk melihat kemajuan belajar siswa, baik dari segi sikap maupun keterampilan. Monitoring yang dilaksanakan oleh guru meliputi monitoring kompetensi yang dilaksanakan siswa di DUDI, kemajuan belajar siswa, kehadiran, dan kendala-kendala yang ditemui di lapangan selama pelaksanaan prakerin. Monitoring kompetensi dilakukan untuk melihat kesesuaian materi atau bimbingan yang diberikan oleh pihak DUDI terhadap siswa dengan pembelajaran yang diperoleh siswa di sekolah. Monitoring kemajuan belajar siswa dilakukan untuk mengetahui kegiatan yang dilakukan siswa di DUDI dan mengetahui kemampuan yang telah diperolehi siswa selama di DUDI. Sedangkan monitoring kehadiran ditujukan bagi sikap siswa, termasuk kedisiplinan, sikap kerja selama di industri. Monitoring tentang kendala-kendala ditujukan untuk menerima masukan-masukan dari pihak DUDI terhadap permasalahan yang dihadapi peserta didik atau kendala yang ditemui pihak DUDI selama proses pelaksanaan prakerin. Monitoring yang dilakukan akan memiliki dampak positif terhadap upaya humas dalam memelihara kerjasama dengan pihak DUDI. Hal ini sesuai dengan pendapat Graha (2011: 12) bahwa dengan komitmen, keinginan kuat masing-masing pihak untuk menjalankan dengan sungguh-sungguh apa yang telah dijanjikan dan disepakati bersama akan mencerminkan integritas masing-masing pihak yang melakukan kerjasama. Melalui monitoring tersebut akan menciptakan komunikasi tatap muka yang dimana merupakan media interpersonal antara humas atau guru-guru SMK Negeri 5 Surabaya yang ditugaskan saat monitoring ke dunia usaha dan dunia industri (DUDI). Strategi yang dipilih humas SMK Negeri 5 Surabaya dalam proses pemeliharaan kerjasama dengan dunia usaha dan dunia industri (DUDI) meliputi komunikasi berkelanjutan, mengundang industri ke sekolah, memanfaatkan DUDI sebagai guru tamu, dan pro aktif dalam pembahasan sinkronisasi kurikulum. Berdasarkan analisis peneliti, komunikasi berkelanjutan dapat menguatkan hubungan kerjasama yang telah terjalin sehingga informasi dan pengetahuan dapat disampaikan dengan jelas, semua permasalahan akan segera tertangani dan tidak menumpuk atau tertunda. Selain dengan kontak utama, sekolah juga harus menjalin komunikasi dengan manajemen terkait aspek lainnya di perusahaan atau industri, seperti supervisor yang mensupervisi siswa prakerin. Sedangkan mengundang industri ke sekolah disini untuk melakukan diskusi langsung terkait kerjasama sehingga nantinya timbul hubungan saling membutuhkan antara kedua belah pihak. Pemanfaatan pihak DUDI sebagai guru tamu akan memiliki dampak positif terhadap pembelajaran di sekolah dikarenakan saat proses pembelajaran yang di mana saat itu guru juga belajar dari guru tamu tersebut. Adanya sinkronisasi kurikulum ini nantinya untuk melihat kesenjangan kompetensi terutama yang banyak ditemukan pada penguasaan teknologi terbaru serta pemahaman prosedur-prosedur Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3). Hal ini dilakukan guna menjawab tantangan yang akan dihadapi oleh sekolah dalam memenuhi perkembangan industri terkait kebutuhan yang mereka harapkan. Pemilihan strategi yang dilakukan sekolah pada mitra akan berdampak positif terhadap upaya pemeliharaan keberlangsungan kerjasama sehingga dapat mencapai tujuan yang diharapkan. Hal itu sesuai dengan pendapat Ixtiarto dan Sutrisno (2016:65) bahwa dengan strategi pemeliharaan yang telah direncanakan dengan matang maka pemenuhan tujuan akan berjalan efektif dan efisien bagi sekolah. Humas SMK Negeri 5 Surabaya diharapkan dapat bersinergi dan pro aktif dengan strategi yang dipilih dengan didukung oleh seluruh elemen sekolah. Prinsip-prinsip yang diperhatikan oleh humas SMK Negeri 5 Surabaya dalam pemeliharaan kerjasama dengan dunia usaha dan dunia industri adalah dengan memenuhi kebutuhan industri dan tidak ikut campur urusan industri. Hal ini sesuai dengan pendapat Graha (2011: 12) bahwa dalam pemeliharaan kerjasama harus memperhatikan komunikasi serta saling menghargai. Dimana hubungan kerjasama yang tidak dilandasi dengan rasa saling menghargai akan berakibat salah satu pihak merasa diabaikan atau diremehkan. Hal ini dapat memicu kesalahpahaman dan perselisihan serta mengubah hubungan yang baik menjadi hubungan yang buruk dan dingin antara kedua belah pihak. Dengan demikian dapat diketahui bahwa upaya humas dalam memelihara kerjasama dengan dunia usaha dan dunia industri (DUDI) di SMK Negeri 5 Surabaya menunjukkan bahwa dalam proses pemeliharaan menggunakan cara monitoring, strategi yang diterapkan meliputi komunikasi berkelanjutan, mengundang industri ke sekolah, memanfaatkan DUDI sebagai guru tamu, dan pro aktif dalam pembahasan sinkronisasi kurikulum serta prinsip tidak ikut campur urusan industri dan memenuhi kebutuhan industri yang dijunjung tinggi oleh humas SMK Negeri 5 Surabaya. Upaya hubungan masyarakat dalam mengevaluasi kerjasama dengan dunia usaha dan dunia industri (DUDI) di SMK Negeri 5 Surabaya. Kemendikbud (2016:16) menyatakan bahwa evaluasi merupakan bagian yang penting pada implementasi kerjasama antara lembaga sekolah/diklat kejuruan dengan industri. Evaluasi dalam kerjasama harus disusun dengan prosedur awal sebelum melakukan kegiatan sehingga didapatkan evaluasi yang efektif dan efisien dari apa yang diharapkan. Tim LPM UNJ (2014: 12) menyatakan bahwa dalam prosedur evaluasi kerjasama antara lain sebagai berikut: a) Membentuk tim monitoring dengan melibatkan pihak yang bekerja-sama/pihak terkait; b) Menetapkan ruang lingkup monitoring; c) Menentukan alat ukur evaluasi; d) Menetapkan waktu monitoring; dan e) Melakukan evaluasi. Evaluasi yang dilakukan dengan melihat sejauh mana keefektifan kerjasama yang sudah dilakukan berdasarkan kualitas lulusan yang dihasilkan, serapan peserta didik yang langsung dapat bekerja, serta ketercapaian perbaikan dan pengembangan proses pembelajaran. Hal ini sesuai dengan pendapat Tim LPM UNJ (2014: 12) yang menyatakan hasil evaluasi kerjasama dapat dijadikan sebagai acuan untuk mengkaji umpan balik hasil evaluasi dan memanfaatkan hasil evaluasi untuk menentukan apakah kerjasama dapat dilanjutkan atau dihentikan. Proses pengevaluasian kerjasama yang dilakukan oleh humas SMK Negeri 5 Surabaya terhadap kerjasama dengan dunia usaha dan dunia industri (dudi) adalah sekolah lebih mengandalkan angket monitoring yang dititipkan kepada pembimbing saat melakukan kunjungan ke industri. Dalam angket tersebut terdapat poin-poin meliputi sikap dan kemampuan siswa, kompetensi yang diperoleh di industri, pekerjaan yang diterima siswa saat di industri, serta kegiatan siswa selama prakerin di industri. Berdasarkan analisis peneliti, kegiatan evaluasi harus dilihat sebagai bagian dari pengembangan, baik oleh industri/perusahaan, sekolah, maupun siswa. Selain itu, prakerin juga diharapkan menjadi wadah penyampaian umpan balik. Oleh karena itu evaluasi sebaiknya dilakukan secara reguler, tidak hanya pada akhir periode prakerin, tapi misalnya dilakukan sebulan sekali. Hal itu bertujuan untuk menilai dan mendapatkan umpan balik (feedback) baik dari siswa ataupun pihak DUDI.  Tujuan dan fungsi dari pengevaluasian kerjasama yang dilakukan humas SMK Negeri 5 Surabaya adalah untuk memberikan masukan atau solusi atas kekurangan saat proses kerjasama sehingga dihasilkan perbaikan kualitas dalam memenuhi hak dan kewajiban masing-masing pihak. Hal ini sesuai dengan pendapat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (2013: 12) bahwa tujuan dan fungsi evaluasi kerjasama meliputi 1) Memperoleh masukan terhadap efektifitas dan efisiensi kerjasama; 2) Memetakan kinerja masing-masing pihak dalam mendukung dan melaksanakan berbagai program yang dirancang dalam proposal; dan 3) Menyusun rekomendasi sebagai bahan masukan untuk pengambil keputusan dalam kerangka pengembangan kerjasama. Pihak yang terlibat dalam proses evaluasi kerjasama antara sekolah dengan dunia usaha dan dunia industri (dudi) yakni seluruh elemen sekolah, baik pimpinan, waka humas, guru-guru, ketua jurusan, siswa, serta perwakilan dari dunia usaha dan dunia industri itu sendiri. Berdasar analisis peneliti, dengan adanya sinergi peran dari seluruh elemen sekolah dan pihak DUDI dalam mengevaluasi kerjasama akan dapat menentukan langkah-langkah selanjutnya dalam peningkatan kerjasama. Penentuan keberhasilan kerjasama berdasarkan keterserapan lulusan SMK, semakin tinggi nilai keterserapan peserta didik, maka kerjasama dengan DUDI dapat dikatakan berhasil. Hal ini sesuai dengan pendapat dari Kemendiknas (2010:64) yang menyatakan bahwa indikator keberhasilan sekolah dalam menjalin kerjasama dengan dunia usaha dan industri (DUDI) ditunjukkan: a) terbentuknya tim kerja kehumasan yang mampu menjalin kerjasama dengan dunia usaha dan industri, b) terlaksananya penjajagan kerjasama dengan mitra yang terkait untuk memperoleh masukan sebelum peklaksanaan program, c) terealisasinya kontrak kerjasama yang dituangkan dalam nota kesepahaman dengan pihak yang dijadikan mitra, dan d) terealisasinya berbagai kegiatan dalam kerangka mensukseskan pelaksanaan program seperti pertukaran pelajar, guru, kepala sekolah, serta pemagangan dalam upaya penambahan wawasan serta kompetensi. Hal ini dikarenakan pada dasarnya semakin tingginya kualitas yang dihasilkan dari proses kerjasama antara SMK dengan DUDI, maka semakin tinggi pula nilai keterserapan lulusan yang ada. Dengan demikian penyelenggaraan kerjasama dalam pendidikan akan efektif, ditunjukan dengan keberhasilan dalam mencapai indikator yang sudah ditentukan dalam kebijakan menjalin kerjasama, seperti peningkatan kualitas pembelajaran, kualitas keberhasilan siswa, keselarasan dan relevansi kurikulum dengan dunia kerja serta meningkatnya tingkat keterserapan lulusan di dunia kerja. Dengan demikian dapat diketahui bahwa upaya humas dalam mengevaluasi kerjasama dengan dunia usaha dan dunia industri (DUDI) di SMK Negeri 5 Surabaya menunjukkan proses evaluasi dilakukan dengan menggunakan angket yang di kirim saat kegiatan monitoring di industri. Dalam angket tersebut terdapat poin-poin meliputi sikap dan kemampuan peserta didik, kompetensi yang diperoleh, pekerjaan yang diterima peserta didik, serta kegiatan peserta didik selama prakerin di industri. Adanya sinergi peran dari kedua belah pihak dalam mengevaluasi akan membantu dalam penentuan keberhasilan kerjasama berdasarkan keterserapan lulusan SMK, semakin tinggi nilai keterserapan peserta didik, maka kerjasama dengan DUDI dapat dikatakan berhasil.   PENUTUP Berdasarkan hasil pembahasan yang telah diuraikan di atas, maka dapat ditarik simpulan sebagai berikut:  Upaya humas sekolah dalam membangun kerjasama dengan pihak dunia usaha dan dunia industri (DUDI) di SMK Negeri 5 Surabaya akan berjalan efektif apabila didukung dengan komunikatifnya humas dalam menjalankan peranan sebagai ujung tombak sekolah menyelaraskan berbagai informasi yang memberikan dampak positif terhadap pemilihan strategi kerjasama, penggunaan mekanisme kerjasama, penentuan bentuk kerjasama, ketepatan standar pemilihan dunia usaha dan dunia industri (DUDI), dan pelaksanaan proses Memorandum of Understanding (MoU) dengan dukungan seluruh elemen sekolah. Upaya humas sekolah dalam memelihara kerjasama dengan pihak dunia usaha dan dunia industri (DUDI) di SMK Negeri 5 Surabaya akan lebih efektif jika kegiatan monitoring didukung dengan penerapan komunikasi berkelanjutan, mengundang industri ke sekolah, memanfaatkan pihak dunia usaha dan dunia industri (DUDI) sebagai guru tamu, pro aktif dalam pembahasan sinkronisasi kurikulum serta prinsip tidak ikut campur urusan industri dengan memenuhi kebutuhan industri yang dijunjung tinggi oleh seluruh elemen di sekolah. Upaya humas sekolah dalam mengevaluasi kerjasama dengan pihak dunia usaha dan dunia industri (DUDI) di SMK Negeri 5 Surabaya akan efektif jika didukung sinergi peran kedua belah pihak dalam penggunaan angket monitoring yang meliputi sikap dan kemampuan peserta didik, kompetensi yang diperoleh, pekerjaan yang diterima peserta didik, serta kegiatan peserta didik selama prakerin di industri. Penentuan keberhasilan kerjasama yang berdasar keterserapan lulusan yang bekerja akan berjalan efektif dengan didukung peran pihak sekolah dalam menelusuri lulusan.   DAFTAR PUSTAKA Amirin, Tatang M., dkk. 2013. Manajemen Pendidikan. Yogyakarta: UNY Press.   Azizah, dkk. 2015. “Strategi Kerjasama Sekolah dengan Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI) dalam Meningkatkan Kompetensi Lulusan pada SMK Negeri 3 Banda Aceh”. Jurnal Administrasi Pendidikan. Vol. 3 (2): hal. 148-158. Bukit, Masriam. 2014. Strategi dan Inovasi Pendidikan Kejuruan: dari Kompetensi ke Kompetensi. Bandung: Alfabeta.   Graha, Andi Nu. 2011. “Peranan UKM Menjalin Kemitraan Guna Memperluas Jaringan, Pengembangan Media dan Sarana Berbisnis”. Modernisasi. Vol. 7 (1): hal. 1-23.   Ixtiarto, Bambang dan Sutrisno, Budi. 2016. “Kemitraan Sekolah Menengah Kejuruan dengan Dunia Usaha dan Dunia Industri (Kajian Aspek Pengelolaan pada SMK Muhammadiyah 2 Wuryantoro Kabupaten Wonogiri)”. Jurnal Pendidikan Ilmu Sosial. Vol. 26 (1): hal. 57-69.   Kemendiknas. 2010. Membangun Jaringan Kerja (Kemitraan). Direktorat Pembinaan Kursus dan Kelembagaan. Dirjen Pendidikan Nonformal dan Informal. Jakarta.   Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 2013. Pedoman Pengembangan Program Kemitraan. Jakarta.   Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 2016. Mengembangkan Kerja Sama yang Efektif antara Lembaga Diklat Kejuruan dan Industri Pedoman Pelaksanaan. Jakarta.   Nasution, Zulkarnain. 2010. Manajemen Humas di Lembaga Pendidikan. Malang: UMM Press.   Peraturan Pemerintah Nomor 17 tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan. Jakarta.   Ruslan, Rosady. 2012. Manajemen Public Relations & Media Komunikasi. Jakarta: Raja Grafindo Persada.   Syaraswati, Dian. 2016. Strategi Humas Dalam Menjalin Kerjasama Dengan Dunia Usaha/Dunia Industri (Du/Di) di SMKN 7 Yogyakarta, (Online), http://eprints.uny.ac.id/34676/, diakses 23 Januari 2017.   Tim LPM UNJ. 2014. Pedoman 3: Pola Kerjasama dengan Pihak Luar. Jakarta.  
PERAN KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH DALAM MENINGKATKAN MOTIVASI KINERJA GURU DI TK TUNAS ADIPURA SURABAYA IRTIQO, NAJAHAN
Inspirasi Manajemen Pendidikan Vol 5, No 1 (2017): Inspirasi Manajemen Pendidikan
Publisher : Inspirasi Manajemen Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

PERAN KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH DALAM MENINGKATKAN MOTIVASI KINERJA GURU DI TK TUNAS ADIPURA SURABAYA    Najahan Irtiqok Jurusan Manajemen Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Surabaya najahanirtiqokunesa@gmail.com Karwanto Jurusan Manajemen Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Surabaya karwanto@unesa.ac.id   Abstrak Abstrak: Kepala sekolah sebagai pemimpin pendidikan harus bisa menjalin kerjasama yang baik dengan orang-orang yang menjadi rekan kerja atau bawahannya. Peran dari kepala sekolah dapat berupa pemberian motivasi  untuk menumbuhkan semangat kerja dalam diri guru sehingga dapat mencapai hasil pembelajaran yang maksimal. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan mendeskripsikan: (1) peran kepemimpinan kepala sekolah dalam pemberian motivasi kepada guru-guru di TK Tunas Adipura Surabaya; (2) strategi yang dilakukan kepala sekolah untuk meningkatkan motivasi kinerja guru di TK Tunas Adipura Surabaya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Teknik yang digunakan dalam pengumpulan data dengan cara wawancara, observasi, dan studi dokumentasi. Teknik untuk mengecek keabsahan data dengan menggunakan kredibilitas, transferabilitas, dependabilitas, dan konfirmabilitas. Sedangkan teknik analisis data menggunakan kondensasi data, penyajian data, dan verifikasi data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Peran kepemimpinan kepala sekolah dalam pemberian motivasi kepada guru-guru di TK Tunas Adipura Surabaya: (a) kualifikasi kepala sekolah sesuai dengan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional; (b) sistem perekrutan kepala sekolah ada dua tahapan yaitu seleksi administrasi dan seleksi wawancara; (c) memberikan konsultasi kepada guru, memberikan motivasi untuk guru dan staf, memberikan supervisi kinerja dan kelas. (2) strategi yang dilakukan kepala sekolah untuk meningkatkan motivasi kinerja guru di TK Tunas Adipura Surabaya meliputi: (a) pengadaan program kegiatan guru seperti diklat, seminar, dan gathering teacher; (b) kendala yang dihadapi dalam kegiatan peningkatan motivasi yaitu kedisiplinan guru masih kurang dalam mengikuti serangkaian kegiatan dari kepala sekolah; (c) kurangnya sarana prasarana penunjang pembelajaran. (3) efektivitas adanya program kegiatan dari kepala sekolah salah satunya yaitu salah satu dari guru menjadi guru teladan se kecamatan. Kata kunci: kepemimpinan kepala sekolah, motivasi guru.     THE ROLE OF LEADERSHIP IN MOTIVATE TEACHERS WORK IN KINDERGARTEN TUNAS ADIPURA SURABAYA Abstract Abstract : Principals as educational leaders should be able to establish good cooperation with people who become partners of subordinates, to be able to carry out the task. The role of the principal may be to provide motivation to foster morale within the teacher, so as to achieve maximum learning outcomes.This research aims were to know and describe: (1) The role oh headmaster leadership in giving motivating to teachers in kindergarten Tunas Adipura Surabaya; (2) The strategy headmaster to improve the quality of graduates in kindergarten Tunas Adipura Surabaya. This research used qualitative approach. Technique of data collection by using interview, observation, and documentation study. To check the validity of data by using credibility, transferability, dependability, and confirmability. Whereas, to analyze the data by using data reduction, data presentation, and data verification. The research result shown that: (1) The role of headmaster leadership in giving motivating to teachers in kindergarten Tunas Adipura Surabaya consist of: (a) qualification of the principal in accordance with the Minister of National Education Regulation; (b) the headmaster recruitment system there are two stages that is selection of administration and interview selection; (c) providing consultation to teachers, motivating teachers and staff, performance supervision and class supervision.(2) The strategy headmaster in giving motivating to teachers in kindergarten Tunas Adipura Surabaya consist of: (a) the procurement of teacher activity programs such as training, seminars, and gathering teacher; (b) obstacles encountered in motivation improvement activities the discipline of teachers is still lacking in following a series of events from the principa; (c) lack of supporting learning infrastructures; (c) the effectiveness of an activity program from the principal one of which is one the teachers became the mode teacher of a district. Keywords: principal leadership, teacher motivation   PENDAHULUAN Sekolah sebagai organisasi pendidikan, didalamnya terdapat unsur-unsur yang masing-masing memiliki peran penting. Baik secara perseorangan maupun kelompok dalam melakukan kerjasama untuk mencapai tujuan dilakukannya pendidikan. Unsur-unsur yang dimaksud adalah SDM, yang terdiri dari kepala sekolah, Guru, staf, anak didik atau anak didik serta orang tua anak didik. Tanpa memandang sebelah mata peran unsur-unsur lain dalam organisasi sekolah, kepala sekolah dan guru merupakan personil internal yang mempunyai peran penting dalam menentukan keberhasilan pendidikan di sekolah. Keberhasilan proses pembelajaran dan kualitas lulusan/Output, tidak lepas dari peran kepemimpinan kepala sekolah, karena kepala sekolah sebagai seorang yang mempunyai tugas dan tanggung jawab untuk memimpin sekolah, serta bertanggungjawab atas tercapainya tujuan pendidikan di sekolah. Kepala sekolah diharapkan mampu menjadi pemimpin serta motivator sehingga mampu memberikan inovasi-inovasi baru dalam mengembangkan penyelenggaraan proses pendidikan dan proses pembelajaran sebagai usaha untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Oleh karena itu, kepemimpinan kepala sekolah merupakan unsur yang sangat signifikan bagi keberhasilan pendidikan di sekolah. Kepala sekolah sebagai top manajer atau pemimpin pendidikan, diharapkan dapat melaksanakan tugasnya dengan baik untuk dapat mempengaruhi bawahannya, khususnya guru sebagai upaya untuk meningkatkan mutu pendidik. Peran yang harus dilakukan kepala sekolah sebagai seorang pemimpin terdiri dari: a. Sebagai pelaksana (Executive), b. Sebagai perencana (planner), c. Sebagai seorang ahli (expert), d. Sebagai pemberi motivasi (motivator), e. Sebagai pengawas hubungan antar hubungan antar anggota-anggota kelompok (controller of internal relationship), f. Bertindak sebagai wasit dan penengah (arbitrator and mediator), g. Bertugas sebagai konsultan, h. Pengambil keputusan, i. Penentu kebijakan, j. Melakukan supervisi (supervisor), k. Melakukan evaluasi (evaluator) dll. Setiap usaha perubahan pendidikan yang dilakukan kepala sekolah yang bertujuan untuk perbaikan kualitas atau mutu pendidikan, hendaknya dilakukan melalui perencanaan dan evaluasi kelompok. Kepala sekolah sebagai pemimpin pendidikan harus bisa menjalin kerjasama yang baik dengan orang-orang yang menjadi rekan kerja atau bawahannya, untuk dapat melaksanakan tugas tersebut. Salah satu upaya yang bisa dilakukan adalah melalui pemberian motivasi pada rekan kerja atau bawahannya. Sebagai seorang pimpinan, memotivasi bawahab merupakan salah satu tugas utama bagi seorang pemimpin. Kepala sekolah tidak hanya dituntut untuk mengetahui bagai mana caranya untuk menumbuhkan motivasi dari luar (ekstrinsik) pada guru, tetapi juga harus dapat mengajak guru untuk dapat menumbuhkan motivasi dalam diri sendiri (Intrinsik). Pemberian motivasi tersebut, bertujuan untuk menumbuhkan semangat kerja dalam diri guru, demi tercapai tujuan sekolah untuk dapat mencapai hasil pembelajaran yang maksimal. Guru merupakan salah satu komponen yang sangat penting dalam proses pembelajaran, karena guru sebagai fasilitator terselenggaranya proses pembelajaran. Oleh karena itu, motivasi dari dalam diri guru maupun dari luar sangat berpengaruh untuk meningkatkan kualitas lulusan, dikarenakan guru yang terlibat langsung dalam pembelajaran. Data dari humas Dinas Pendidikan kota Surabaya tahun 2013 pada saat melakukan sosialisasi program gugusan PAUD, Surabaya memiliki lembaga PAUD sebanyak 2.598 lembaga yang terdiri dari TK, KB, PPT dan TPA. Jumlah gugus PAUD yang ada di Surabaya mencapai 207 gugus. Salah satunya adalah TK Tunas Adipura. TK Tunas Adipura yang terletak di Jalan Wonorejo III No. 9 Kecamatan Tegalsari –Surabaya. Berdiri sejak tahun 2007. TK Tunas Adipura diasuh oleh orang-orang yang berpengalaman di dunia pendidikan, yaitu  ketua yayasan H. Saiful Askar, sekertaris yayasan , bendahara yayasan , sie pendidikan dan humas , serta sie sosial . Sejak TK Tunas Adipura berdiri hingga saat ini, yang menjadi Kepala sekolah adalah Ibu Tjahyu Wiwit, Sp.d, yang mengutamakan prinsip keikhlasan dari guru-guru di dalam mendidik dan membimbing anak didik, yang bertujuan agar semua hal yang dilakukan dalam proses pembelajaran tidak menjadi beban dan dapat memberi hasil yang maksimal. TK Tunas Adipura memiliki tenaga pengajar/guru yang berjumlah 13 orang. TK Tunas Adipura mengedepankan pendekatan keteladanan dan kasih sayang di dalam proses pembelajaran. Dengan pendekatan ini, diharapkan potensi anak didik dapat berkembang secara optimal. Model pembelajaran yang digunakan adalah pendekatan construktivistik dengan model pembelajaran yang aktif, kreatif, efisien dan menyenangkan. Serta “learning by doing” , anak didik diajak belajar mengenai kehidupan sehari-hari, mulai dari lingkungan rumah. Tempat belajar di TK Tunas Adipura dikontruksikan dalam bentuk rumah, yaitu ada kamar tidur, dapur, ruang belajar, ruang tamu, ruang bermain, dan kamar mandi. Dengan begitu diharapkan anak didik akan terbiasa belajar mengenali dan melakukan berbagai hal untuk melatih kemandirian dan tanggungjawab dalam dirinya. .Berdasarkan studi pendahuluan, menurut kepala sekolah Tunas Adipura anak didik lulusan dari TK Tunas Adipura, sebagian besar belum cukup umur, namun kemampuan membaca dan menulisnya tidak jauh berbeda dengan anak didik yang usianya berada diatanya. Hal ini dapat dilihat dari kemampuan anak didik untuk membaca dan menulis yang masuk dalam kategori baik, anak didik mampu membaca majalah atau koran.menurut kepala SD di lingkungan Wonorejo yang mempunyai anak didik yang berasal dari TK Tunas Adipura, sebagian besar anak didik lulusan dari TK Tunas Adipura memiliki persiapan untuk masuk sekolah dasar (SD). Hal ini menunjukkan bahwa lulusan TK Tunas Adipura mempunyai kualitas yang baik karena sudah sesuai dengan SKL (Standar Kompetensi Lulusan) pada jenjang pendidikan dasar yang bertujuan untuk meletakkan dasar kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut. Berdasarkan analisis dari deskripsi diatas, peneliti perlu melakukan penelitian mengenai “Peran Kepemimpinan Kepala sekolah Dalam Meningkatkan Motivasi Kinerja Guru Di TK Tunas Adipura Surabaya”.   METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan penelitian studi kasus. Rancangan studi kasus menurut Yin (2011:1) menyatakan bahwa: Secara umum studi kasus merupakan strategi yang lebih cocok bila pokok pertanyaan suatu penelitian berkenaan dengan how atau why, bila peneliti hanya memiliki sedikit peluang untuk mengontrol peristiwa-periatiwa yang akan diselidiki, dan bilamana fokus penelitiannya terletak pada fenomena kontemporer (masa kini) didalam konteks kehidupan nyata. Lokasi penelitian di TK Tunas Adipura Surabaya  dengan menggunakan teknik pengumpulan data observasi, wawancara dan dokumentasi. Analisis data dalam penelitian kualitatif dilakukan sejak sebelum memasuki lapangan, selama di lapangan dan setelah selesai di lapangan. Dalam pandangan ini analisis data kualitatif  berjalan secara terus menerus, berulang sampai data tersebut jenuh  (Miles, et al, 2014:33)selama dalam kurun waktu 2 bulan. Kehadiran seorang peneliti merupakan kunci utama dalam penelitian kualitatif. Dalam penelitian ini peneliti bertindak sebagai human instrument karena peneliti merupakan instrumen utama dalam penelitian  kualitatif. Uji keabsahan data pada penelitian ini menurut Moeloeng (2012:324) pengecekan keabsahan data dalam penelitian kualitatif meliputi uji kredibilitas, transferabilitas, dependebilitas, dan konfirmabilitas.   HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini menghasilkan terkait dua fokus utama yaitu peran kepemimpinan kepala sekolah dalam meningkatkan motivasi kinerja guru di TK Tunas Adipura  Surabaya dan strategi yang dilakukan kepala sekolah untuk meningkatkan motivasi kinerja guru di TK Tunas Adipura Surabaya. 1.    Peran Kepemimpinan Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Motivasi Kinerja Guru di TK Tunas Adipura Surabaya  Hasil temuan peneliti di TK Tunas Adipura Surabaya  terkait peran kepala sekolah dalam memotivasi kinerja guru yaitu Kualifikasi kepala sekolah di TK Tunas Adipura yaitu harus berstatus sebagai guru TK/RA, memiliki sertifikast pendidikan sebagai guru TK/RA, memiliki sertifikat kepala TK/RA yang telah diterbitkan, kemudian masa kerja lebih dari 5 tahun. Kemudian kemampuan dan kreativitas dalam mengajar. Hal tersebut sesuai dengan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 13 Tahun 2007 Tentang Standar Kepala Sekolah/Madrasah. Dalam melaksanakan perannya kepala sekolah TK Tunas Adipura Surabaya sudah memnuhi standar dalam kompetensi professional, kompetensi wawasan kependidikan dan manajemen, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial. Hal tersebut dibuktikan dengan serangkaian kegiatan kepala sekolah, diantaranya: Menyusun perencanaan sekolah Mengelola kelembagaan sekolah Menerapkan kepemimpinan dalam pekerjaan Mengelola tenaga kependidikan Mengelola sarana dan prasarana Mengelola hubungan sekolah/masyarakat Mengelola keanak didikan Mengelola perkembangan kurikulum dan kegiatan belajar mengajar Mengelola ketatausahaan dan keuangan sekolah Menerapkan prinsip-prinsip kewirausahaan Menciptakan budaya dan iklim kerja yang kondusif Melakukan supervisi Melakukan evaluasi dan pelaporan.   Kemudian untuk sistem perekrutan ada dua tahap seleksi, pertama, seleksi administrasi dimana dalam seleksi ini mengenai persyaratan yang harus dipenuhi kepala sekolah. Kedua, seleksi interview. Dalam tahap interview  ini guru akan ditanya oleh ketua yayasan bagaimana visi misi untuk sekolah ini dan juga unjuk kemampuan yang dimiliki.  Menurut Rosmiati dan Kurniady (2009:141), Fungsi utama kepala taman kanak-kana sebagai pemimpin pendidikan adalah menciptakan situasi belajar mengajar yang baik dan kondusif, sehingga proses pembelajaran menjadi maksimal. Berdasarkan definisi tersebut, kepala sekolah taman kanak-kanak sebagai pemimpin pendidikan mempunyai fungsi ganda dalam menjalankan tugasnya sebagai pemimpin pendidikan, yaitu sebagai pelaksana administrasi dan melakukan sepervisi, sehingga kemampuan guru-guru dalam proses pembelajaran meningkat. Selain memiliki kemampuan seorang vuru juga harus memiliki motivasi tersendiri untuk dapat meningkatkan kinerjanya. Sebagaimana menurut menurut para pakar pesikologi, Murphy & Alexander, Pintrich, Schunk dan Stipek dalam Mujito dan Satiningsih (2006:62) menyatakan bahwa: Motivasi adalah whats gets you going, keeps, anda berbuat, membuat anda tetap berbuat dan menentukan arah ke mana yang hendak anda perbuat.   Para pendidik di TK Tunas Adipura mayoritas sudah memiliki kemampuan yang memadai, namun juga masih ada pendidik yang tidak melakukan pengembangan untuk meningkatkan kreativitas dalam kinerjanya, misalnya guru hanya menggunakan media pembelajaran monoton sehingga dilihat dari sisi kreativitasnya masih kurang. Hal tersebut sejalan dengan pendapat Yunus (2007:45) mengemukakan bebrapa faktor dalam pekerjaan yang dapat mempengaruhi kerja individu sebagai berikut: a) rasa aman, yaitu adanya kepastian untuk memperoleh pekerjaan tetap; b) kesempatan untuk maju, yaitu adanya kemungkinan untuk maju, naik tingkat, memperoleh kedudukan dan keahlian; c) tipe pekerjaan, yaitu adanya pekerjaan sesuai dengan latar belakang pendidikan, pengalaman, bakat, dan minat; d) nama baik tempat kerja, yaitu sekolah yang memberikan kebanggaan karyawan bila bekerja di sekolah tersebut; e) rekan kerja, yaitu rekan kerja yang cocok untuk kerjasama; f) upah, yaitu penghasilan yang diterima, g) supervisor, yaitu pemimpin yang mempunyai hubungan baik dengan bawahannya, mengenal bawahannya, dan mempertimbnangkan pendapat yang dikemukakan oleh bawahannnya; h) jam kerja, yaitu jam kerja yang teratur atau tertentu dalam sehari; i) kondisi kerja, yaitu kebersihan tempat kerja, suhu, ruanagan  kerja, dan sebagainya; j) fasilitas, kesempatan cuti, jaminan kesehatan, pengobatan, dan sebagainya. Kemudian untuk mengatasi permasalahan tersebut, sangat diperlukan peran dari kepala sekolah. Menurut Rivai, Veithzal dan Deddy Mulyadi (2011:156-157) agar kepemimpinan tersebut dapat berperan perlu diperhatikan hal sebagai berikut: Bahwa yang menjadi dasar utama dalam efektivitas kepemimpinan seseorang bukan pengangkatan atau penunjukkannya selaku “kepala”, akan tetapi penerimaan terhadap kepemimpinan yang bersangkutan. Efektivitas kepemimpinan tercermin dari kemampuannya untuk tumbuh dan berkembang. Efektivitas kepemimpinan menuntut kemahiran untuk membaca situasi. Perilaku seseorang tidak terbentuk begitu saja melainkan melalui proses pertumbuhan dan perkembangan.   Begitu juga kepemimpinan di TK Tunas Adipura yang dipimpin oleh Ibu Tjahyu Wiwit, SP.d, yang mengutamakan prinsip keikhlasan dari guru-guru di dalam mendidik dan membimbing anak didik, yang bertujuan agar semua hal yang dilakukan dalam proses pembelajaran tidak menjadi beban dan dapat memberi hasil yang maksimal. Selain itu beliau juga memberikan konsultasi bagi guru-guru yang dapat membantu mereka memecahkan permasalahan mereka. Kemudian pengadaan program kegiatan untuk guru dalam rangka meningkatkan motivasi kinerja seperti workshop, diklat, dan gathering teacher. Hal tersebut dimaksudkan agar guru dapat berinovasi dan berkreasi dalam pembalajaran. Hal tersebut sesuai dengan fungsi utama kepala taman kanak-kanak sebagai pemimpin pendidikan adalah menciptakan situasi belajar mengajar yang baik dan kondusif, sehingga proses pembelajaran menjadi maksimal. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh Rosmiati dan Kurniady (2009:141). Berdasarkan pemaparan data diatas dapat disimpulkan bahwa kepala TK memiliki peran yang sangat penting dalam menjalankan dan mengelola pendidikan di sekolah. Selain itu, kepala taman kanak-kanak sebagai pemimpin pendidikan mempunyai fungsi ganda dalam menjalankan tugasnya sebagai pemimpin pendidikan, yaitu sebagai pelaksana administrasi dan melakukan sepervisi, sehingga kemampuan guru-guru dalam proses pembelajaran meningkat. Seorang akan berhasil dengan baik menjalankan tugasnya apabila ia memahami tugas-tugas yang harus dilaksanakannya.sebagai pemimpin, kepala taman kanak-kanak harus bisa membantu guru untuk menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan pendidikan, membantu guru dalam mengevaluasi program pendidikan dan penilaian hasil belajar anak didik. Mendorong guru untuk dapat mengembangkan metode pembelajaran serta menyertakan guru dalam kegiatan pelatihan untuk mengembangkan kemampuannya. TK Tunas Adipura Surabaya memiliki kualifikasi khusus untuk merekrut kepala sekolah yaitu harus berstatus sebagai guru TK/RA, memiliki sertifikast pendidikan sebagai guru TK/RA, memiliki sertifikat kepala TK/RA yang telah diterbitkan, kemudian masa kerja lebih dari 5 tahun. Kemudian kemampuan dan kreativitas dalam mengajar. Kemudian sistem perekrutannya ada dua tahap seleksi administrasi dan tahap wawancara. Kemudian dalam rangka meningkatkan motivasi kinerja guru, kepala taman kanak-kanak membuat beberapa program kegiatan untuk guru. Hal tersebut dimaksudkan untuk mengembangkan kualitas pendidik dan mencapai tujuan untuk keberhasilan pendidikan di TK Tunas Adipura Surabaya.   2. Strategi Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Motivasi Kinerja Guru di TK Tunas Adipura Surabaya Motivasi sangat penting dimiliki oleh seorang pengajar, karena dengan adanya motivasi dari dalam dirinya sendiri akan berpengaruh terhadap kinerja yang akan dilakukannya. Sehingga penting bagi kepala taman kanak-kanak untuk dapat membangkitkan motivasi intrinsik dalam diri guru. Kepala sekolah taman kanak-kanak harus berusaha agar guru merasa nyaman dan tidak merasa takut dengan pimpinannya. Sehingga apabila guru mengalami kesulitan dalampembelajaran, guru bisa berkonsultasi dengan kepala taman kanak-kanak sebagai manajer sekolah. Mujito dan Satiningsih (2006:97) mengungkapkan bahwa motivasi untuk membangkitkan prilaku terdiri dari dua macam, yaitu :  Motivasi intrik mempunyai sumber dorongan dari dalam diri individu yang bersangkutan. Motivasi ekstrinsik mempunyai sumber dorongan dari luar. Dari berbagai penelitian dalam Mujito dan Satiningsih (2006:97) menunjukkan bahwa motivasi intrisik lebih kuat dan lebih tahan lama bila dibandingkan dengan motivasi ekstrinsik, dikarenakan berasal dari dalam diri individu sendiri. Namun demikian, motivasi ekstrinsik juga bisa menjadi efektif karena tidak selalu bersifat ekstrinsik. Dalam peningkatan motivasi guru tersebut, kepala sekolah TK Tunas Adipura Surabaya mengadakan beberapa program penunjang untuk guru diantaranya diklat, seminar, dan gathering teacher. Setiap program dilaksanakan setiap satu bulan sekali.. Tujuannya agar guru saling share bagaimana cara mengajar serta permasalahan yang dihadapi agar guru lain juga memberikan masukan kepada guru tersebut. Adapun kendala yang dihadapi kadang ada guru yang tidak datang dalam seminar tersebut, kemudian supervisi dari kepala sekolah masih kurang yaitu hanya dua semester sekali. Setidaknya kan satu semester sekali diadakan supervisi untuk mengetahui bagaimana kinerja guru. Kepala sekolah  juga bisa memberi hadiah/reward bagi guru yang berprestasi, dan hukuman/ punishment bagi guru yang melanggar. Sehingga pendidik dengan lebih semangat dan maksimal, karena adanya hadiah/reward. Punishment diberikan apabila guru sering tidak hadir dalam kegiatan seminar ataupun diklat. Sehingga guru tersebut harus membuat artikel atau essay. Beberapa program yang diadakan kepala sekolah dimaksudkan untuk meningkatkan motivasi guru dalam kinerjanya sehingga anak-anak dapat memahami dan mengaplikasikan ilmu pengetahuan yang didapat dari sekolah. Menurut Ula (2013:48) mengungkapkan bahwa “pemimpin lembaga pendidikan harus mampu mengembangkan filsafat mutu dalam pencapaian tujuan, dan konsep tentang mutu pendidikan harus dipahami benar oleh seluruh staf dan komponen lembaga pendidikan. Dalam hal ini, peran pemimpin lembaga pendidikan sangatlah penting”. Sallis (2012:32) mengungkapkan bahwa “institusi pendidikan perlu mengembangkan sistem-sistem mutunya, agar dapat membuktikan kepada publik bahwa mereka dapat memberikan layanan yang bermutu”.  Kepala sekolah perlu meningkatkan kemampuan dan keterampilan para pelaksana pendidikan. Sebagai pemimpin dalam suatu lembaga pendidikan hendaknya kepala sekolah memiliki pengetahuan yang luas dan keterampilan kepemimpinan. Hal itu perlu dimiliki agar mampu mengendalikan, mempengaruhi dan mendorong bawahannya dalam menjalankan tugas dengan jujur, tanggung jawab, efektif dan efisien. Begitu juga kepala sekolah TK Tunas Adipura Surabaya menetapkan beberapa hal berikut: Menerapkan sistem manajemen terbuka Menerapkan pembagian tugas dan tanggungjawab dengan para guru Kepala sekolah jmelakukan pendekatan–pendekatan untuk meningkatkan daya kreasi, inisiatif yag tinggi untuk mendorong semangat bawahannya. Kepala sekolah melakukan pemetaan program-program kegiatan untuk meningkatkan motivasi kinerja guru, seperti kegiatan briefing, penghargaan bagi guru berprestasi, peningkatan kesejahteraan guru, memberikan pelatihan untuk guru, workshop, diklat, gathering teacher.. Kepala sekolah melakukan supervisi kinerja dan supervisi kelas.   PENUTUP A.  Simpulan Berdasarkan hasil pembahasan yang telah diuraikan sebelumnya, maka dapat disimpulkan sebagai berikut: 1.       Peran Kepemimpinan Kepala Sekolah Dalam Meningkatkan Motivasi Kinerja Guru di TK Tunas Adipura Surabaya Kualifikasi kepala sekolah di TK Tunas Adipura yaitu harus berstatus sebagai guru TK/RA, memiliki sertifikast pendidikan sebagai guru TK/RA, memiliki sertifikat kepala TK/RA yang telah diterbitkan, kemudian masa kerja lebih dari 5 tahun. Kemudian kemampuan dan kreativitas dalam mengajar. Sistem perekrutan ada dua tahap seleksi, pertama, seleksi administrasi dimana dalam seleksi ini mengenai persyaratan yang harus dipenuhi kepala sekolah. Kedua, seleksi interview. Dalam tahap interview  ini guru akan ditanya oleh ketua yayasan bagaimana visi misi untuk sekolah ini dan juga unjuk kemampuan yang dimiliki. Peran kepala sekolah itu sendiri melakukan pengajaran kepada guru, memberikan konsultasi kepada guru apabila memiliki permasalahan berkaitan dengan sekolah, memberikan motivasi untuk guru maupun staf agar semangat dalam kinerja, memberikan supervisi kinerja dan kelas.   2.        Strategi Kepala Sekolah Dalam Meningkatkan Motivasi Kinerja Guru di TK Tunas Adipura Surabaya Kepala sekolah menerapkan sistem manajemen terbuka,  pembagian tugas dan tanggungjawab dengan para guru, melakukan pendekatan–pendekatan untuk meningkatkan daya kreasi, inisiatif yag tinggi untuk mendorong semangat bawahannya, melakukan pemetaan program-program kegiatan untuk meningkatkan motivasi kinerja guru, seperti kegiatan briefing, penghargaan bagi guru berprestasi, peningkatan kesejahteraan guru, memberikan pelatihan untuk guru, workshop, diklat, gathering teacher, pelaksanaan supervisi kinerja dan supervisi kelas. Program kegiatan peningkatan motivasi guru diantaranya diklat, seminar, dan gathering teacher. Setiap program dilaksanakan setiap satu bulan sekali.. Tujuannya agar guru saling share bagaimana cara mengajar serta permasalahan yang dihadapi agar guru lain juga memberikan masukan kepada guru tersebut. Kendala yang dihadapi kadang ada guru yang tidak datang dalam seminar tersebut, kemudian supervisi dari kepala sekolah masih kurang yaitu hanya dua semester sekali. Setidaknya kan satu semester sekali diadakan supervisi untuk mengetahui bagaimana kinerja guru. Solusi mengatasi kendala tersebut yaitu dengan diberikan  reward dan punishment. Pemberian reward dan punishment dilihat dari segi absensi kedisiplinan kehadiran guru dalam setiap program kegiatan Kemudian efektivitas untuk saat ini dengan adanya program-program dari kepala sekolah tersebut salah satu guru kami ada yang menjadi guru teladan se-kecamatan. Guru juga lebih kreatif dalam mengajar didalam maupun diluar kelas. Selain itu dengan guru-guru yang semakin baik kinerjanya juga meningkatkan kualitas lulusan dari TK Tunas Adipura Surabaya   DAFTAR PUSTAKA Milles, Mathew B Huberman a. Michael. 2014. Qualitatives Data Analysis, A Sourcebookof New Methods. London: Sage Publications.   Moeloeng, Lexy J. 2012. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya   Mujito dan Satiningsih. 2006. Strategi Peningkatan Motivasi Kinerja Guru. Yogyakarta: Multi Presindo.   Rosmiati dan Kurniady. 2009. Strategi Kepemimpinan Kepala Sekolah. Bandung: Remaja Rosdakarya.   Peraturan Pemerintah Nomor 13 Tahun 2007 tentang Standar Kepala Sekolah/ Madrasah.   Rivai, dkk. 2011. Kepemimpinan Kekepala Sekolahan. Jakarta: Pustaka Rizki Putra.   Yin, Robert K. 2011. Qualitative Research from Start to Finish. London: The Guilford Press.   Yunus. 2007. Motivasi Kinerja Guru. Jakarta: PT Bumi Aksara.      
PELAYANAN PRIMA DALAM BUDAYA ORGANISASI PADA LEMBAGA JASA PENDIDIKAN (STUDI KASUS DI KUALITA PENDIDIKAN INDONESIA SURABAYA) ARUM KUSUMA DEWI, MEDHA
Inspirasi Manajemen Pendidikan Vol 5, No 1 (2017): Inspirasi Manajemen Pendidikan
Publisher : Inspirasi Manajemen Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

PELAYANAN PRIMA DALAM BUDAYA ORGANISASI PADA LEMBAGA JASA PENDIDIKAN (STUDI KASUS DI KUALITA PENDIDIKAN INDONESIA SURABAYA)   Medha Arum Kusuma Dewi Jurusan Manajemen Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Surabaya medha.arum@ymail.com Nunuk Hariyati Jurusan Manajemen Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Surabaya nunukhariyati@unesa.ac.id     Abstrak Abstrak: Pelayanan prima dalam budaya organisasi pada lembaga jasa pendidikan adalah pelayanan optimal yang memiliki ciri khas kualitas dan berorientasi pada kepuasan pelanggan yang meliputi penyediaan program-program pendidikan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis tentang: 1) karakteristik; 2) komitmen organisasional; 3) mekanisme kontrol; 4) stabilitas sistem; dan 5) pelayanan prima dalam konsep lapisan budaya organisasi. Peneliti menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Pengambilan data menggunakan teknik wawancara, observasi partisipasi aktif dan observasi partisipasi pasif, dan dokumentasi. Analisis data yang digunakan adalah kondensasi data, display data, penarikan kesimpulan. Uji keabsahan dilakukan dengan triangulasi sumber, triangulasi teknik, dan membercheck. Hasil penelitian di lapangan dapat dijelaskan sebagai berikut, 1) Karakteristik lembaga: a) konsisten dalam memberikan penyegaran pendidikan dengan menjadi pusat peningkatan kualitas guru dan sekolah yag terbaik di Indonesia melalui program penelitian dan pengembangan, pelatihan, supervisi dan coaching; b) berkomitmen kuat memberikan pelayanan prima dengan mengutamakan kepuasan stakeholders dengan landasan budaya IMPROVE (Integrity, Maturity, Professional, Rarely, On Fre, Vastly, Ethics) yang didasarkan pada nilai-nilai agama Islam; 2) Komitmen organisasional diwujudkan dengan melakukan standarisasi SDM, standarisasi sistem, dan standarisasi pelayanan; 3) Mekanisme kontrol yang ada menerapkan keselarasan faktor-faktor sikap, perhatian, tindakan, kemampuan, penampilan, dan tanggungjawab; 4) Stabilitas sistem: a) terdapat dukungan dari seluruh sumber daya manusia yang ada di lembaga; b) terdapat penciptaan aktivitas-aktivitas yang mendukung pemberian pelayanan prima; 5) Pelayanan prima dalam konsep lapisan budaya organisasi: a) lapisan budaya keyakinan dan nilai, bahwa budaya lembaga dipandang sebagai suatu realitas; b) lapisan budaya asumsi, bahwa budaya lembaga telah merasuk secara mendalam.   Kata Kunci: pelayanan prima, budaya organisasi, lembaga jasa pendidikan   EXCELLENT SERVICE IN ORGANIZATIONAL CULTURE OF EDUCATION SERVICE INSTITUTION (CASE STUDY IN KUALITA PENDIDIKAN INDONESIA SURABAYA)   Abstract Abstract : Excellent service in organizational culture of education service institution is an optimal service which has a quality characteristic and oriented to customer satisfaction. This study aims to describe and examine about: 1) characteristics; 2) organizational commitment; 3)mechanism control; 4) system stability; and 5) excellent service of organization concept. Researcher use qualitative approach with case study method. Data collection using interview techniques, active participation observation and passive participation observation, and documentation. Data analysis that be used is condensation data, data display, conclusion. Validity test is done by triangulation source, triangulation technique, and membercheck. The results of the research in the field can be explained as follows, 1) Characteristics of the institution: a) consistent in providing refresher education by becoming the center of quality improvement of teachers and best schools in Indonesia through research and development programs, training, supervision and coaching; b) It strongly committed to providing excellent service by prioritizing stakeholders with a working culture base IMPROVE (Integrity, Maturity, Professional, Rarely, On Fre, Vastly, Ethics)  built on Islamic religious values; 2) Organizational commitment is manifested by standardizing human resources, standardizing the system, and standardizing services; 3) The existing control mechanism applies alignment of attitudinal, attention, action, ability, appearance, and responsibility factors; 4) The stability of existing system; a) there is support from all human resources from institution; b) there are activities that support the excellent service; 5) Excellent service concept of organizational culture: a) a layer of cultural beliefs and values that institutional culture is seen as a reality; b) the cultural layer of assumtion that the institutions culture has penetrated deeply.   Key word:  excellent service, organizational culture, education service institution     PENDAHULUAN Berkembangnya era pasar bebas yang telah berlangsung di kawasan ASEAN khususnya di Indonesia saat ini menjadikan seluruh sektor kelembagaan negeri maupun swasta harus mampu bersaing untuk meningkatkan kualitas pelayanan masing-masing lembaga. Hal ini tanpa terkecuali dialami oleh lembaga jasa yang ada di Indonesia. Terlebih lagi sektor jasa berperan signifikan dalam perekonomian dunia. Seperti yang diungkapkan oleh Kelly (Tjiptono, 2016:6) bahwa perekonomian negara maju didominasi sektor jasa ketimbang manufaktur. Secara rata-rata, jasa mencerminkan lebih dari dua pertiga produk domestik bruto dunia berdasar info dari World Trade Organization (WTO) pada tahun 2010. Sebagai lembaga jasa yang memiliki persaingan ketat dengan lembaga lain yang sejenis maka pelayanan merupakan faktor penting yang membedakan antar lembaga. Apalagi kemungkinan pelanggan untuk pindah ke lembaga pesaing lima kali lebih besar disebabkan karena masalah pelayanan. Selain itu dibutuhkan biaya lima kali lebih besar untuk mencari pelanggan baru dibandingkan mempertahankan pelanggan yang sudah ada (Rangkuti, 2013:115). Kondisi tersebut menuntut lembaga untuk dapat menciptakan kepuasan pelanggan dengan pelayanan terbaik yang dimiliki lembaga. Implikasinya ialah dengan pelayanan yang berkualitas atau pelayanan prima maka tercipta kepuasan pelanggan yang berdampak pada loyalitas pelanggan terhadap lembaga. Secara simultan keterkaitan ini menjadikan eksistensi suatu lembaga tetap terjaga dan bahkan berkembang pesat. Telah terdapat berbagai hasil penelitian membuktikan kebenaran dampak positif tersebut. Diantaranya yaitu penelitian yang dilakukan Dewi & Yasa (2014:273), bahwa kualitas pelayanan yang baik memberikan dampak hubungan positif dan signifikan, artinya tingkat kepuasan pelanggan untuk berlaku loyal meningkat. Prasetya & Gozali (2015:76), mengungkapkan pula bahwa kualitas pelayanan dalam hal ini yaitu pelayanan prima memberikan dampak positif terhadap kepercayaan pelanggan yang berpengaruh positif terhadap loyalitas pelanggan. Selanjutnya Pramana & Rastini (2016:706), dalam penelitiannya juga mengungkapkan dampak positif pelayanan prima terhadap loyalitas pelanggan pada latar yang berbeda dengan hasil semakin baik kualitas pelayanan maka kepercayaan pelanggan semakin tumbuh, sehingga kepercayaan pelanggan semakin meningkat. Fakta lainnya yang terjadi ialah terbentuknya loyalitas pelanggan yang disebabkan adanya pelayanan prima yang diberikan tidak terjadi dengan mudah apalagi secara instan. Sumber daya manusia merupakan kunci keberhasilan dalam pelayanan prima. Manusia merupakan bagian integral dari lembaga yang menjadi pelaksana pelayanan prima, yaitu melakukan aktivitas kinerja. Oleh karena itu kualitas kinerja sumber daya manusia yang ada ialah penentu pencapaian kesuksesan lembaga. Kualitas kinerja sumber daya manusia dibentuk melalui berbagai faktor yang mempengaruhinya. Mohamed & Abukar (2013:390), menemukan bahwa kinerja sumber daya manusia secara signifikan dipengaruhi oleh budaya organisasi yang terbentuk yang akan meningkatkan performa sumber daya manusia dalam lembaga. Joushan, Syamsun, dkk., (2015:702), mengungkapkan hal serupa pada latar yang berbeda dalam penelitianya bahwa budaya organisasi berpengaruh signifikan terhadap kinerja sumber daya manusia suatu lembaga. Tumbelaka, Alhabsji, dkk., (2016:106), juga menjelaskan secara lebih rinci bahwa adanya budaya organisasi yang kuat dan dapat diterima serta dijalankan dengan baik akan meningkatkan kepuasan kinerja. Kepuasan kinerja tersebut akan meningkatkan komitmen organisasional sumber daya manusia yang ada terhadap lembaga tempatnya bekerja. Ini artinya budaya organisasi berperan penting bagi keberlangsungan kinerja lembaga. Budaya organisasi tersebut merupakan faktor penting yang mampu menjadi kekuatan pendorong yang besar dalam suatu lembaga. Beberapa perusahaan terbesar sukses berkembang dan menjadi yang terdepan karena budaya yang kuat. Fakta ini diungkapkan dalam salah satu media surat kabar nasional di Indonesia pada akhir dekade lalu, bahwa perusahaan-perusahaan tersebut memilki laman khusus yang didedikasikan untuk menunjukkan “budaya” lembaga dalam situs korporat masing-masing. Hal tersebut mengindikasikan pentingnya budaya dalam kesuksesan suatu lembaga. (Sindooke, 2016:1). Konsepsi kesuksesan masing-masing budaya berkat budaya organisasi tersebut dapat diterapkan tentunya dengan menyesuaikan karakteristik masing-masing lembaga jasa. Pelayanan prima dapat diberikan jika sumber daya manusia memiliki kualitas kinerja yang baik. Kualitas kinerja tersebut dipengaruhi oleh budaya organisasi yang diterapkan oleh lembaga. Seperti apapun pelayanan prima yang diberikan oleh suatu lembaga akan dipengaruhi oleh karakteristik budaya organisasinya. Kualita Pendidikan Indonesia Surabaya sebagai lembaga jasa pendidikan yang berfokus pada peningkatan kualitas guru dan sekolah di Indonesia dalam menjawab tantangan kebutuhan pendidikan oleh pelanggan yang semakin kompleks serta untuk meningkatkan eksistensi lembaga selalu memberikan pelayanan terbaik yang berbeda dengan lembaga lain sejenis. Perbedaan tersebut ditunjukkan dengan memberikan penyegaran pendidikan tanpa mengesampingkan nilai-nilai keagamaan. Kualita Pendidikan Indonesia Surabaya berkomitmen kuat membentuk guru ahli yang memiliki kompetensi tutor tingkat kabupaten/kota, mengembangkan Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) di tiap kabupaten/kota menjadi sekolah model, serta memberikan pelayanan prima dengan mengutamakan kepuasan stakeholders. Sampai pada tahun 2017 ini Kualita Pendidikan Indonesia Surabaya telah menjadi lembaga jasa di bidang pendidikan yang terpercaya hingga telah memiliki pelanggan mitra dari lembaga pendidikan negeri dan swasta yang tersebar di 32 provinsi yang ada di Indonesia. Bahkan bukan hanya pada sektor lembaga jasa bidang pendidikan saja namun beberapa perusahaan swasta juga menjadi pelanggan yang bermitra dengan Kualita Pendidikan Indonesia Surabaya. Pencapaian tersebut sejalan dengan visi dan misi lembaga yang hendak menjangkau seluruh wilayah Indonesia yang di kelompokkan kedalam wilayah Indonesia bagian Timur dan Indonesia bagian Barat. Sedangkan hal yang unik dari Kualita Pendidikan Indonesia ialah pemberian pelayanan prima dilakukan dengan landasan nilai-nilai budaya organisasi “IMPROVE” yaitu  Integrity, Maturity, Professional, Rarely, On fire, Vastly, dan Ethic secara berkesinambungan sehingga mampu menguatkan citra lembaga sebagai konsultan pendidikan yang menjadi rujukan tingkat nasional. Landasan budaya organisasi tersebut bukan hanya dinilai dari sikap, tanggungjawab, dan profesionalitas dalam memenuhi tuntutan kerja kantor namun juga selaras dengan nilai-nilai keagamaan sehingga seimbang antara kerja dan beribadah. Keunikan tersebut sangat menarik karena kebanyakan lembaga sejenis berfokus pada orientasi provit yaitu bekerja untuk memperoleh keuntungan yang dinilai dengan pencapaian rupiah, namun Kualita Pendidikan Indonesia Surabaya menjadikan lembaganya berbeda dengan melakukan pengelolaan lembaga yang menyeimbangkan kebutuhan duniawi dengan kebutuhan rohani yaitu untuk beribadah dan melakukan segala aktivitas kerja yang berlandaskan nilai-nilai keagamaan. Melihat adanya hal yang unik dan menarik dalam penelitian ini, maka dapat disimpulkan bahwa letak urgensi dalam penelitian ini ialah sistem pelayanan prima dalam budaya organisasi di Kualita Pendidikan Indonesia Surabaya sebagai lembaga jasa bidang pendidikan dalam pengelolaan sumber daya manusia yaitu para karyawan serta pemberian pelayanan prima kepada pelanggan dalam menjawab tantangan kebutuhan pelanggan yang semakin kompleks. Pelayanan prima yang berlandaskan budaya organisasi lembaga bahkan dinilai efektif oleh lembaga mitra serta beberapa pemerhati layanan jasa pendidikan yang diberikan sehingga menjadikan Kualita Pendidikan Indonesia Surabaya memiliki keunikan yang tidak dapat ditemukan di lembaga lain sejenisnya. Beranjak dari latar belakang tersebut peneliti tertarik untuk melakukan penelitian di Kualita Pendidikan Indonesia dalam memberikan pelayanan prima dengan mengutamakan kepuasan stakeholders yang dilakukan dengan landasan nilai-nilai budaya organisasi yang ada untuk mewujudkan tujuan lembaga melakukan peningkatan kualitas guru dan sekolah di Indonesia dalam menjawab tantangan kebutuhan pendidikan oleh pelanggan yang semakin kompleks. Sehingga peneliti mengangkat judul penelitian yang berjudul “Pelayanan Prima dalam Budaya Organisasi Pada Lembaga Jasa Pendidikan (Studi Kasus di Kualita Pendidikan Indonesia Surabaya)”.   METODE Pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Adapun yang dimaksud dengan pendekatan kualitatif  Miles & Huberman, et al. (2014:9), menjelaskan bahwa penelitian kualitatif dilakukan melalui interaksi intens dan/atau lama dengan para peserta dalam latar alamiah untuk meneliti kehidupan luarbiasa sehari-hari dari individu, kelompok, masyarakat, dan organisasi. Adapun rancangan penelitian yang digunakan adalah studi kasus. Studi kasus merupakan metode penelitian yang dilakukan secara intensif dan mendetail terhadap suatu kasus yang memungkinkan untuk mengungkapkan atau memahami suatu hal (Prastowo, 2011:129). Penelitian ini dilakukan di Kualita Pendidikan Indonesia yang merupakan lembaga jasa peningkatan kualitas guru dan sekolah tingkat nasional yang beralamat di Jl. Gayungsari IV No. 33 Surabaya. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara mendalam, observasi partisipasi aktif dan observasi partisipasi pasif, serta studi dokumentasi. Kemudian dilakukan analisis data di lapangan menggunakan model Miles & Huberman, bahwa aktivitas dalam analisis data kualitatif dilakukan secara terus menerus sampai tuntas sehingga datanya menjadi data jenuh. Aktivitas analisis data tersebut meliputi, kondensasi data (data reduction), penyajian data (data display), verifikasi data (data vefification) (Sugiyono, 2015:246). Uji keabsahan data dalam penelitian ini menggunakan empat kriteria seperti yang telah dijelaskan Ulfatin (2014:277), terdapat empat kriteria keabsahan data dalam penelitian kualitatif dengan mengecek/menguji derajat kepercayaan atau kredibilitas (credibility), keteralihan (transferability), ketergantungan (dependability), dan kepastian (confirmability).   HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini menghasilkan terkait empat fokus penelitian yaitu karakteristik, komitmen organisasional, mekanisme kontrol, stabilitas sistem, dan pelayanan prima dalam konsep lapisan budaya organisasi pada lembaga jasa pendidikan        A.    Karakteristik Pelayanan Prima dalam Budaya Organisasi Pada Lembaga Jasa Pendidikan di Kualita Pendidikan Indonesia Surabaya Kualita Pendidikan Indonesia Surabaya berkomitmen kuat untuk memberikan pelayanan prima dengan mengutamakan kepuasan stakeholders dengan landasan budaya kerja IMPROVE yang merupakan kependekan dari integrity yaitu integritas yang merupakan tindakan konsisten sesuai nilai-nilai, kode etik profesi, dan kebijakan lembaga, maturity yaitu kematangan atau kemampuan untuk mengendalikan diri, professional yaitu memiliki keterampilan dankeahlian yang sesuai profesi, rarely yaitu memiliki kualitas yang unik dan sulit dicari bandingannya, on fire yaitu senantiasa bersemangat, vastly yaitu bergerak cepat dalam menangkap dan menciptakan peluang, dan ethics yaitu bertindak dan berperilaku sesuai norma-norma yang berlaku (agama, masyarakat, lembaga). c) Landasan nilai-nilai budaya IMPROVE untuk mewujudkan pelayanan prima menjadikan nilai-nilai agama Islam sebagai dasar dalam melakukan setiap tindakan, sikap, perilaku sehingga seimbang antara religion life dan work life.   Kualita Pendidikan Indonesia Surabaya sebagai lembaga jasa di bidang pendidikan hadir untuk memberikan penyegaran pendidikan yaitu untuk meningkatkan kualitas guru dan sekolah yang ada di Indonesia. Layanan lembaga sebagai konsultan pendidikan, terlebih dahulu akan mengadakan penelitian dalam bentuk observasi secara menyeluruh untuk menentukan permasalahan dan sistem pendampingan. Selanjutnya KPI memetakan skala prioritas untuk meningkatkan kinerja sekolah berdasarkan kondisi sekolah. Adapun pada dasarnya kegiatan umum dari Kualita Pendidikan Indonesia adalah penelitian dan pengembangan, pelatihan, supervisi dan coaching. Hal ini sesuai dengan pernyataan Saleh (2010:25) bahwa setiap pemberian jasa perlu meperhatikan kebutuhan serta keinginan pelanggan dan tanpa mengabaikan karakteristik suatu lembaga jasa. Karakterisrik tersebut mencerminkan identitas lembaga sebagai penyedia layanan jasa di bidang pendidikan. Sesuai dengan pernyataan Gronroos (Tjiptono & Chandra, 2016:13), bahwa jasa merupakkan suatu proses yang terdiri dari serangkaian aktivitas intangible dengan melibatkan interaksi antara pelanggan dan karyawan atau sumber daya fisik yang disediakan sebagai solusi atas masalah pelanggan. Dalam hal tersebut masalah pelanggan yaitu di bidang pendidikan. Kualita Pendidikan Indonesia Surabaya untuk mewujudkan tujuan keberadaan lembaga dalam memberikan penyegaran pendidikan senantiasa berkomitmen kuat untuk memberikan pelayanan prima dengan mengutamakan kepuasan stakeholders dengan landasan budaya kerja IMPROVE (integrity, maturity, professional, rarely, on fire, vastly, dan ethics). Hal tersebut sesuai dengan pernyataan Komar (2008:28) bahwa karakteristik pelayanan prima memenuhi standar kualitas berpenampilan rapi dan serasi, melayani tepat waktu dan tidak mengabaikan, memiliki pengetahuan yang luas, bersikap sopan dan ramah, memiliki kejujuran dan kepercayaan. Sesuai pula dengan pernyataan Saleh (2010:16), bahwa untuk memberikan pelayanan prima maka haruslah mengetahui dan mampu memenuhi dengan baik prinsip-prinsip pelayanan prima yang meliputi kecepatan, ketepatan, keramahan, kenyamanan, kesederhanaan, kejelasan, kepastian, keamanan, keterbukaan, efisiensi, ekonomis, keadilan yang merata dan ketepatan waktu. Seluruh unsur tersebut terdapat dalam karakteristik nilai-nilai budaya kerja IMPROVE. Selanjutnya dalam rangka mewujudkan pelayanan prima melalui budaya IMPROVE nilai-nilai agama Islam dijadikan sebagai dasar dalam melakukan setiap tindakan, sikap, perilaku sehingga seimbang antara religion life dan work life. Nuansa agama yang kental serta konsisten dalam memberikan penyegaran pendidikan menjadikan Kualita Pendidikan Indonesia Surabaya menjadi lembaga yang memiliki keunikan tersendiri. Hal ini sesuai dengan pernyataan Kreitner dan Kinicki (Wibowo, 2010:49-50) bahwa salah satu fungsi budaya organisasi adalah memberikan anggota identitas organisasional yang menunjukkan ciri khas yang membedakan dengan organisasi lain. Sesuai pula dengan pernyataan Qawasmeh, dkk (2013) bahwa budaya memainkan peran yang sangat penting dalam meningkatkan keunggulan organisasi. Hal tersebut ditunjukkan dengan adanya karakteristik budaya yang diunggulkan oleh Kualita Pendidikan Indonesia Surabaya. Berdasarkan temuan data tersebut dan kesesuaian antara temuan dan teori maka dapat disimpulkan bahwa  karakteristik pelayanan prima dalam budaya organisasi yang ada di Kualita Pendidikan Indonesia Surabaya adalah konsisten dalam memberikan penyegaran pendidikan dengan menjadi pusat peningkatan kualitas guru dan sekolah yag terbaik di Indonesia melalui program penelitian dan pengembangan, pelatihan, supervisi dan coaching. Berkomitmen kuat untuk memberikan pelayanan prima dengan mengutamakan kepuasan stakeholders dengan landasan budaya kerja IMPROVE (Integrity, Maturity, Professional, Rarely, On Fre, Vastly, Ethics) yang didasarkan pula pada nilai-nilai agama Islam untuk melakukan setiap tindakan, sikap, perilaku sehingga seimbang antara religion life dan work life.   B.    Komitmen Organisasional Pelayanan Prima dalam Budaya Organisasi Pada Lembaga Jasa Pendidikan di Kualita Pendidikan Indonesia Surabaya Komitmen Kualita Pendidikan Indonesia Surabaya untuk mewujudkan pelayanan prima dilakukan melalui tiga cara dengan melakukan standarisasi SDM, melakukan standarisasi sistem, dan melakukan standarisasi pelayanan. Hal tersebut sejalan dengan pemaparan Pusdiklat Pertamina (Komariah & Triatna, 2006:110), bahwa organisasi juga memiliki fungsi perekat komitmen anggota organisasi, perekat sosial, antar anggota, agar selangkah dalam melihat kepentingan lembaga agar tercapai sesuai standar kinerja lembaga. Sesuai pula dengan pernyataan Robbins (Wardiah, 2016:206) bahwa fungsi keberadaan suatu organisasi adalah untuk meningkatkan komitmen bersama. Selanjutnya komitmen yang berlangsung secara dua arah kepada sesama anggota internal lembaga dan kepada pelanggan eksternal. Hal ini sesuai dengan konsep pemenuhan kebutuhan pelanggan yang dijelaskan oleh Rahmayanty (2010:23-24), menjelaskan pelanggan meliputi pelanggan internal dan pelanggan eksternal. Pelanggan internal adalah orang-orang di dalam organisasi yang pelayanannya bergantung pada sesama rekan kerja yang memiliki sedikit pilihan atau tidak memiliki pilihan sama sekali untuk menerima pelayanan dari dalam organisasi. Sedangkan pelanggan eksternal adalah orang-orang di luar organisasi yang pelayanannya bergantung pada orang-orang dalam organisasi. Komitmen kolektif yang tebentuk juga dipengaruhi oleh perlakuan manajemen lembaga. Seperti adanya penghargaan, supporting pendidikan, pelatihan-pelatihan untuk karyawan, yang dapat menjadikan karyawan menjadi lebih bersemangat dalam bekerja karena merasa diperhatikan dan dihargai sehingga memiliki kenaikan jenjang yang bagus serta karyawan menjadi tumbuh dan berkembang potensi serta keahlianya. Hal ini sesuai dengan fungsi budaya organisasi yang dijelaskan oleh Kreitner dan Kinicki (Wibowo, 2010:49-50), yakni untuk memfasilitasi komitmen kolektif yang mampu membuat para pegawainya bangga menjadi bagian dari organisasi. Selain terkait dengan fungsi tersebut, adanya penghargaan yang diberikan kepada karyawan sehingga menjadikan karyawan lebih bersemangat dan merasa dihargai sesuai dengan pemaparan Rahmayanty (2010:21-22), bahwa dalam pemberian pelayanan prima untuk memahami pelanggan internal yaitu antar karyawan dan pelanggan eksternal terdapat dua jenis kebutuhan yang harus diperhatikan yaitu kebutuhan praktis dan kebutuhan emosional yang meliputi dihargai, dianggap penting, dipahami, keseluruhan nilai rasa yang berkaitan dengan sikap, tindakan dan perilaku. Berdasarkan temuan data tersebut dan kesesuaian antara temuan dan teori maka dapat disimpulkan bahwa Komitmen Kualita Pendidikan Indonesia Surabaya untuk memberikan pelayanan prima diwujudkan melalui tiga cara dengan melakukan standarisasi SDM, melakukan standarisasi sistem, dan melakukan standarisasi pelayanan.  Komitmen organisasional dibentuk secara dua arah yaitu dengan mengutamakan kebutuhan pelanggan baik pelanggan eksternal maupun pelanggan internal sehingga menjadikan komitmen kolektif setiap karyawan semakin kuat dan sejalan untuk mewujudkan pelayanan prima di Kualita Pendidikan Indonesia Surabaya.   C.   Mekanisme Kontrol Pelayanan Prima dalam Budaya Organisasi Pada Lembaga Jasa Pendidikan di Kualita Pendidikan Indonesia Surabaya Kualita Pendidikan Indonesia Surabaya memiliki lima jejaring kerja sebagai ranah jangkauan lembaga, yang menjadi tujuan adalah kepuasan dari pelanggan. Sehingga cara pandang yang digunakan cara pandang sebagai konsumen. Tentunya dengan memberikan pelayanan prima terhadap jasa pelayanan pendidikan misalnya, parenting, coaching, dan program-program lainnya. Tujuan yang berorientasi pada kepuasan pelanggan dengan melakukan cara pandang konsumen tersebut sesuai dengan konsep dasar pelayanan prima sebagai bentuk pemberian perhatian yang dijelaskan oleh Barata (2003:31), merupakan pemberian perhatian sebagai bentuk kepedulian kepada pelanggan, baik yang berkaitan dengan perhatian akan kebutuhan dan keinginan pelanggan. Mekanisme kontrol internal lembaga dilakukan dengan penerapan budaya kerja IMPROVE dan melalui pembinaan pagi bagi seluruh karyawan di kantor dengan wajib membaca al-qur’an bersama, tilawah bersama, kemudian muraja’ah bersama, harapannya dari pembinaan pagi ini ada nilai-nilai yang kita terapkan ke diri tiap individu secara rukiah juga. Hal ini sesuai dengan fungsi budaya organisasi sebagai pengendalian yang memandu dan membentuk sikap dan perilaku anggotanya yang dijelaskan oleh Robbins (Wardiah, 2016: 206). Sesuai pula dengan pernyataan Rahmayanty (2010:146-156), bahwa dalam pemberian pelayanan prima perlu memperhatikan pemberian motivasi dan dorongan serta mengadakan pendidikan dan pelatihan bagi peningkatan kualitas pegawai, memerhatikan kesejahteraan pegawai serta pengawasan dan pengendalian sistem. Mekanisme kontrol eksternal untuk pelanggan dilakukan dengan memperhatikan sikap, pakaian, bahasa yang santun, penjagaan nilai-nilai moral, include dengan etika moral. Trainer selalu all out memberikan pelatihan dalam kondisi sesulit apapun jika sudah praktek di lapangan harus fokus kepada peserta. Memberikan pelayanan yang terbaik. Berupaya secara individu dan secara tim untuk membuat pelatihan optimal. Hal tersebut sesuai dengan konsep dasar standar kualitas pemberian pelayanan prima yang dijelaskan oleh Barata (2003:31), bahwa pelayanan prima pada dasarnya memuat keselarasan faktor-faktor sikap (attitude), perhatian (attention), tindakan (action), kemampuan (ability), penampilan (appearance), dan tanggungjawab (accountability). Sesuai pula dengan pernyataan Rahmayanty (2010:8) bahwa konsep dasar yang meliputi enam faktor tersebut mencirikan perilaku yang harus diterapkan dalam pelayanan prima. Konsep tersebut selaras untuk memenuhi tujuan pelayanan prima yaitu membangun kesetiaan pelanggan. Kemudian mengenai penanganan komplain dilakukan dengan pendataan yang kemudian direkap, lalu dianalisis, baru muncul yang namanya temuan, dari temuan akan ada rekomendasi untuk pemecahan masalah. Hal tersebut sesuai dengan Rahmayanty (2010:21-22), menjelaskan bahwa untuk memahami kebutuhan pelanggan salah satunya meliputi penyelesaian komplain yang termasuk kedalam kebutuhan praktis. Selanjutnya serangkaian sistem evaluasi yang dilakukan mengacu pada budaya lembaga yaitu budaya kerja IMPROVE. Hal ini juga didukung dengan adanya angket budaya kerja KPI untuk pelanggan dan ada penilaian kinerja karyawan. Hal tersebut sesuai dengan budaya pemberian pelayanan prima yang dipaparkan oleh Rahmayanty (2010:146-156), bahwa evaluasi yaitu pelayanan yang telah diberikan harus selalu dievaluasi. Berdasarkan temuan data tersebut dan kesesuaian antara temuan dan teori maka dapat disimpulkan bahwa mekanisme kontrol yang berlangsung di Kualita Pendidikan Indonesia Surabaya meliputi pemberian perhatian sebagai bentuk kepedulian kepada pelanggan, baik yang berkaitan dengan perhatian akan kebutuhan dan keinginan pelanggan. Selalu mengadakan evaluasi rutin. Melakukan penerapan budaya IMPROVE melalui pembinaan pagi hari yang rutin dilakukan sebagai bentuk pengendalian yang memandu dan membentuk sikap dan perilaku anggotanya. Terdapat pula evaluasi yang rutin dilakukan. Sehingga mekanisme yang berlangsung dalam rangka mewujudkan pelayanan prima oleh lembaga telah menerapkan keselarasan faktor-faktor sikap (attitude), perhatian (attention), tindakan (action), kemampuan (ability), penampilan (appearance), dan tanggungjawab (accountability).   D.    Stabilitas Sistem Pelayanan Prima dalam Budaya Organisasi Pada Lembaga Jasa Pendidikan di Kualita Pendidikan Indonesia Surabaya Serangkaian kegiatan-kegiatan tersebut ditujukan untuk membentuk pelayanan prima karyawan yang lebih baik lagi. Hal tersebut sesuai dengan pernyataan Kreitner dan Kinicki (Wibowo, 2010:49-50), bahwa salah satu fungsi budaya organisasi yaitu meningkatkan stabilitas sistem sosial sehingga membuat lingkungan dan interaksi sosial berjalan dengan stabil dan tanpa gejolak. Pemeliharaan pelayanan prima dilakukan dengan adanya evaluasi rutin yang adakan oleh Kualita Pendidikan Indonesia telah sesuai dengan pemaparan Rahmayanty (2010:146-156), mengenai budaya pemberian pelayanan terdapat evaluasi yang harus selalu diadakan secara rutin. Sesuai pula dengan pernyataan Pusdiklat Pertamina (Komariah & Triatna, 2006:110), bahwa dalam suatu organisasi penting adanya penciptaan dan pemeliharaan kerja melalui aktivitas-aktivitas bersama yang dapat mengikat stabilitas sistem sosial. Seluruh sumber daya manusia yang ada di Kualita Pendidikan Indonesia Surabaya sangat mendukung terwujudnya pelayanan prima. Baik terhadap karyawan internal maupun pelanggan eksternal. Kepada pelanggan internal ditunjukkan dengan adanya apresiasi berupa penghargaan yang diberikan oleh pimpinan terhadap kinerja karyawan. Sehingga karyawan menjadi lebih diperhatikan dan lebih bersemangat dalam bekerja. Namun tidak hanya penghargaan tapi juga terdapat konsekuensi logis bagi karyawan yang melanggar aturan-aturan, norma-norma, budaya yang ada di lembaga. Hal tersebut sesuai dengan penjelasan Rahmayanty (2010:146-156), bahwa terdapat peranan tim pengarah dalam manajemen lembaga sebagai upaya pemberian pelayanan prima yang diantaranya memberikan motivasi dan dorongan, memberikan sistem reward atau penghargaan dan recognition bagi yang selalu mengedepankan mutu. Sesuai pula dengan pernyataan Jurman (2014) mengenai pemberian reward bahwa reward dalam bentuk langsung diantaranya dengan memberikan intensif yang sifatnya tidak mengikat, sedangkan reward tidak langsung dengan memberikan kesempatan mengikuti pelatihan (workshop), promosi jabatan, kesempatan untuk melanjutkan studi, dan sebagainya. Terdapat beberapa keluhan seperti masalah komunikasi, keterlambatan pengiriman administrasi, seperti sertifikat, laporan. Padahal aturan di dalam SOP laporan diserahkan maksimal dua minggu jika pelatihan, sedangkan supervisi satu bulan. Hal tersebut menjadikan stabilitas sistem pelayanan prima yang ada di lembaga harus lebih ditingkatkan. Karena hal ini bertolak belakang dengan fungsi adanya budaya organisasi sebagai Peningkat stabilitas sistem sosial, penciptaan dan pemeliharaan kerja melalui aktivitas-aktivitas bersama yang dapat mengikat stabilitas sistem sosial (Pusdiklat Pertamina dalam Komariah & Triatna, 2006:110). Sebagai solusi adanya keluhan atau komplain maka ada kegiatan-kegiatan yang diarahkan untuk tersebut meliputi PA, pola mutaba’ah, penilaian dengan instrumen, dan pembinaan. Diharapkan melalui kegiatan-kegiatan tersebut bisa menjadikan pelayanan prima karyawan lebih baik lagi. Hal ini sesuai dengan penjelasan Rahmayanty (2010:21-22), mengenai pemenuhan kebutuhan praktis pelanggan yang didalamnya termasuk penyelesaian komplain. Sesui pula dengan pernyataan Wambugu (2014), bahwa faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kinerja karyawan untuk meningkatkan bisnis juga harus diperhatikan karena nilai-nilai dalam organisasi memiliki efek yang lebih signifikan untuk kinerja karyawan. Berdasarkan temuan data tersebut dan kesesuaian antara temuan dan teori maka dapat disimpulkan bahwa stabilitas sistem yang berlangsung di Kualita Pendidikan Indonesia Surabaya senantiasa mendapat dukungan dari seluruh sumber daya manusia yang ada di lembaga, kemudan terdapat pula penciptaan aktivitas-aktivitas yang mendukung pemberian pelayanan prima seperti pembinaan rutin, terdapat pemenuhan fasilitas kerja, penghargaan dan konsekuensi logis bagi karyawan, terdapat penanganan komplain, serta pemeliharaan pelayanan prima dilakukan melalui evaluasi rutin.   E.    Pelayanan Prima dalam Konsep Lapisan Budaya Organisasi Pada Lembaga Jasa Pendidikan di Kualita Pendidikan Indonesia Surabaya Kualita Pendidikan Indonesia Surabaya memiliki serangkaian norma-norma yang berlaku, adapun norma-norma yang berlaku meliputi norma tertulis dan norma tidak tertulis. Norma tertulis meliputi aturan kepegawaian seperti etika disiplin dan lain sebagainya. Norma yang tidak tertulis berupa culture lembaga mulai dari pakaiannya, sopan santun, ibadah dan lain sebagainya. Hal tersebut sesuai dengan pernyataan Davis (Kurniadin & Machali, 2012:246), bahwa dalam suatu organisasi terdapat serangkaian norma-norma yang berlaku selain terdapat pula asumsi, kepercayaan, dan nilai-nilai yang berlangsung pada anggota organisasi. Kualita Pendidikan Indonesia Surabaya menerapkan budaya organisasi lembaga untuk mewujudkan pelayanan prima memiliki beberapa tahapan yang telah sampai pada terciptanya komitmen bersama dari seluruh karyawan. Hal ini ditunjukkan dengan para anggota organisasi yang sudah tidak lagi mempertanyakan keberadaan norma-norma yang harus diikuti, budaya kerja yang harus selalu diingatkan, namun telah secara nyaman diikuti dan dilaksankan sebagai suatu ibadah suatu kebutuhan oleh para karyawan. Hal tersebut sesuai dengan penjelasan Schein (2004:12), mengenai budaya organisasi, membagi lapisan budaya organisasi menjadi 3 tingkat yaitu: (1) Artefak; (2) Keyakinan dan Nilai; dan (3) Asumsi-asumsi. Artefak adalah seluruh fenomena yang dapat dilihat, didengar, dan bersifat nyata ketika seseorang memasuki suatu organisasi baru yang budayanya masih belum familiar baginya. Lapisan kedua ialah keyakinan dan nilai yaitu kecenderungan orang-orang di dalam organisasi untuk berhubungan satu sama lain dan menentukan pandangan para anggota atas realitas. Lapisan ketiga ialah asumsi yaitu kepercayaan yang diterima secara “taken-for-granted”, merasuk secara dalam dan para anggota organisasi tidak lagi mempertanyakannya. Sesuai pula dengan pernyataan Hatch (Sobirin dalan Wardiah, 2016:198), bahwa kategorisasi lapisan budaya organisasi yang pertama adalah artefak. Artefak dapat diamati  melalui 1) kategorisasi manifestasi fisik yaitu seni/design/logo, cara berpakaian/tampilan, bentuk bangunan/dekorasi, tata letak bangunan, desain organisasi; 2) manifestasu perilaku, yaitu upacara0upacara, cara berkomunikasi, tradisi/kebiasaan, sistem reward/bentuk hukuman; 3) manifestasi verbal yaitu jargon/cara menyapa, sejarah/cerita-cerita sukses, metafora yang digunakan. Berdasarkan temuan data tersebut dan kesesuaian antara temuan dan teori maka dapat disimpulkan bahwa pelayanan prima yang berlangsung di Kualita Pendidikan Indonesia Surabaya tergolong pada lapisan budaya pada tingkatan keyakinan dan nilai  bagi karyawan-karyawan baru yang memandang pekerjaannya sebagai suatu tanggungjawab dan tuntutan pekerjaan yang realistis sesuai jobdesknya. Kemudian termasuk kedalam lapisan budaya asumsi dengan para anggota organisasi yang sudah tidak lagi mempertanyakan keberadaan norma-norma yang harus diikuti, budaya kerja yang harus selalu diingatkan, namun telah secara nyaman diikuti dan dilaksankan sebagai suatu ibadah suatu kebutuhan oleh para karyawan.    PENUTUP A.    Simpulan Beberapa pernyataan sebagai simpulan hasil penelitian dapat diuraikan sebagai berikut. Karakteristik pelayanan prima dalam budaya organisasi pada lembaga jasa pendidikan di Kualita Pendidikan Indonesia Surabaya   Konsisten dalam memberikan penyegaran pendidikan dengan menjadi pusat peningkatan kualitas guru dan sekolah yag terbaik di Indonesia melalui program penelitian dan pengembangan, pelatihan, supervisi dan coaching   Berkomitmen kuat untuk memberikan pelayanan prima dengan mengutamakan kepuasan stakeholders dengan landasan budaya kerja IMPROVE (Integrity, Maturity, Professional, Rarely, On Fre, Vastly, Ethics) yang didasarkan pula pada nilai-nilai agama Islam untuk melakukan setiap tindakan, sikap, perilaku sehingga seimbang antara religion life dan work life. Komitmen organisasional pelayanan prima dalam budaya organisasi pada lembaga jasa pendidikan di Kualita Pendidikan Indonesia Surabaya    Komitmen Kualita Pendidikan Indonesia Surabaya untuk memberikan pelayanan prima diwujudkan melalui tiga cara dengan melakukan standarisasi SDM, melakukan standarisasi sistem, dan melakukan standarisasi pelayanan   Komitmen organisasional dibentuk secara dua arah yaitu dengan mengutamakan kebutuhan pelanggan baik pelanggan eksternal maupun pelanggan internal sehingga menjadikan komitmen kolektif setiap karyawan semakin kuat dan sejalan untuk mewujudkan pelayanan prima di Kualita Pendidikan Indonesia Surabaya. Mekanisme kontrol pelayanan prima dalam budaya organisasi pada lembaga jasa pendidikan di Kualita Pendidikan Indonesia Surabaya yang berlangsung dalam rangka mewujudkan pelayanan prima oleh lembaga menerapkan keselarasan faktor-faktor sikap (attitude), perhatian (attention), tindakan (action), kemampuan (ability), penampilan (appearance), dan tanggungjawab (accountability). Stabilitas sistem pelayanan prima dalam budaya organisasi pada lembaga jasa pendidikan di Kualita Pendidikan Indonesia Surabaya senantiasa mendapat dukungan dari seluruh sumber daya manusia yang ada di lembaga, kemudian terdapat pula penciptaan aktivitas-aktivitas yang mendukung pemberian pelayanan prima seperti pembinaan rutin, terdapat pemenuhan fasilitas kerja, penghargaan dan konsekuensi logis bagi karyawan, terdapat penanganan komplain, serta pemeliharaan pelayanan prima dilakukan melalui evaluasi rutin. Pelayanan prima dalam konsep lapisan budaya organisasi pada lembaga jasa pendidikan di Kualita Pendidikan Indonesia Surabaya tergolong pada lapisan budaya pada tingkatan keyakinan dan nilai  bagi karyawan-karyawan baru yang memandang pekerjaannya sebagai suatu tanggungjawab dan tuntutan pekerjaan yang realistis sesuai jobdesk. Kemudian termasuk kedalam lapisan budaya asumsi dengan para anggota organisasi yang sudah tidak lagi mempertanyakan keberadaan norma-norma yang harus diikuti, budaya kerja yang harus selalu diingatkan, namun telah secara nyaman diikuti dan dilaksanakan sebagai suatu ibadah suatu kebutuhan oleh para karyawan.    B. Saran  Berdasarkan paparan data, temuan penelitian, pembahasan, serta kesimpulan, maka peneliti dapat memberikan saran-saran yang ditujukan kepada: Pimpinan Kualita Pendidikan Indonesia Surabaya Pimpinan Kualita Pendidikan Indonesia Surabaya dharapakan dapat mempertahankan dan meningkatkan pelayanan prima dalam budaya organisasi, baik terhadap pelanggan eksternal maupun pelanggan internal yaitu karyawan. Karyawan Kualita Pendidikan Indonesia Karyawan Kualita Pendidikan Indonesia diharapkan dapat mengembangkan potensi yang telah dimiliki sesuai dengan komitmen lembaga untuk tumbuh dan berkembang. Sedangkan kepada beberapa karyawan yang memiliki koreksi sikap dan cara berkomunikasi yang belum sesuai dengan budaya organisasi yang berlangsung diharapkan dapat segera mengoreksi diri dan melakukan penyesuaian sehingga stabilitas lembaga dalam mewujudkan pelayanan prima terjaga dengan baik.  Lembaga lain Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan contoh yang baik dan dapat ditiru sesuai karkateristik lembaga serta dapat menambah wawasan terkait pemberian pelayanan prima dan budaya organisasi. Peneliti lain Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan bahan referensi serta informasi  untuk menambah dan mengembangkan khasanah ilmu pengetahun mengenai pelayanan prima yang termasuk kedalam manajemen sumber daya manusia dan manajemen hubungan masyarakat.   DAFTAR PUSTAKA Barata, Atep Adya. 2003. Dasar-Dasar Pelayanan Prima. Jakarta: PT Gramedia Pustaka. Dewi, Ratih Kusuma, Yasa, Kerti, dan Sukaatmadja. 2014. Pengaruh Kualitas Pelayanan Terhadap Kepuasan dan Loyalitas Nasabah PT BPR Hoki di Kabupaten Tabanan, (Online), (http://www.portalgaruda.org, diunduh 10 Maret 2017). Joushan, Shindie Aulia, Syamsun, Muhammad, dan Lindawati Kartika. 2015. Pengaruh Budaya Organisasi dan Employee Engagement Terhadap Kinerja Karyawan Pada PT PLN Area Bekasi, (Online), Vol 13, Nomor 4, (http://www.portalgaruda.org, diunduh 10 Maret 2017). Jurman. 2014. Budaya Organisasi Dalam Meningkatkan Kinerja Guru Pada SMA Negeri 1 Simeulue Timur, (Online), Vol 14 Nomor 2, (http://download.portalgaruda.org, diunduh 10 Maret 2017). Komariah, Aan, dan Triatna, Cepi. 2006. Visionary Leadership. Jakarta: PT Bumi Aksara. Kurniadin, Didin, dan Machali, Imam. 2012. Manajemen Pendidikan: Konsep dan Prinsip Pengelolaan Pendidikan. Jakarta: Ar-Ruzz Media. Miles, Mattew B., Huberman, A. Michael, and Johnny Saldana. 2014. Qualitative Data Analysis: A Methods Sourcebook. Third Edition. California: SAGE Publications, Inc. Mohamed, Ali Ibrahim, dan Abukar, Ahmed Ali Shiekh. 2013. The Impact of Organizational Culture on Employees Performance of Mogadishu Universities, (Online), Vol 4 Nomor 6, (http://www.savap.org. , diunduh 10 Maret 2017). Pramana, Yogi dan Rastini. 2016. Pengaruh Kualitas Pelayanan Terhadap Kepercayaan Nasabah dan Loyalitas Nasabah Bank Mandiri Cabang Veteran Denpasar Bali, (Online), Vol 5, Nomor 1, (http://portalgruda.org, diunduh 10 Maret 2017). Prasetya, Wibawa, dan Gozali, Mohammad Husein. 2015. Analisis Pengaruh Penerapan Pelayanan Prima Terhadap Kepuasan, Trust, dan Loyalitas Nasabah Bank Rakyat Indonesia, (Online), Vol 14 Nomor 2, (http://www.academia.edu, diunduh 10 Maret 2017) Prastowo, Andi. 2011. Memahami Metode-Metode Penelitian: Suatu Tinjauan Teoritis & Praktis. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media. Qawasmeh, Farid Mohammad, Darqal, Nadeen, dan Israa Farid Qawasmeh. 2013. The Role of Organization Culture in Achieving Organizational Excellence: Jadara University as a Case Study, (Online), Vol 2 Nomor 7, (http://www.omicsonline.com, diunduh 10 Maret 2017). Rangkuti, Freddy. 2013. Customer Service Satisfaction & Cell Center Berdasarkan ISO 9001. Jakarta: PT. Gramedia. Rahmayanty, Nina. 2010. Manajemen Pelayanan Prima: Mencegah Pembelotan dan Membangun Customer Loyality. Yogyakarta: Graha Ilmu. Saleh, Muwafik. 2010. Public Service Communication: Praktik Komunikasi dalam Pelayanan Publik Disertai Kisah-Kisah Pelayanan. Malang: UMM Press. Schein, Edgar H, 2004. Organizational Culture and Leadership, Third Edition. San Fransisco: John Wiley & Sons. Sindooke. 2016. Memaknai Pentingnya Budaya dalam Organisasi, (Online), Tanggal 2 November 2016, (https://ekbis.sindonews.com, diakses 10 Maret 2017). Sugiyono. 2015. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta. Tjiptono, Fandy, dan Chandra, Gregorius. 2016. Service, Quality, dan Satisfaction. Edisi Empat. Yogyakarta: CV Andi Offset. Tumbelaka, Stevan Set Xaverius, Alhabsji, Taher, dan Umar Nimran. 2016. Pengaruh Budaya Organisasi Terhadap Kepuasan Kerja, Komitmen Organisasional dan Intention To Leave, (Online), Vol 3 Nomor 1, (http://www.jurnal.umner.ac.id, diunduh 10 Maret 2017). Ulfatin, Nurul. 2014. Metode Penelitian Kualitatif di Bidang Pendidikan: Teori dan Aplikasinya. Malang: Bayumedia Publishing. Wambugu, Lydiah Wairimu. 2014. Effects of Organizational Culture on Employee Performance: Case Study of Wartsila-Kipevu Li Power Plant, (Online), Vol 6 Nomor 32, (http://citeseerx.ist.psu.edu, diunduh 10 Maret 2017). Wardiah, Mia Lasmi. 2016. Teori Perilaku dan Budaya Organisasi. Bandung: CV Pustaka Setia. Wibowo. 2011. Budaya Organisasi: Sebuah Kebutuhan Untuk Meningkatkan Kinerja Jangka Panjang. Jakarta: Rajawali Pers.      
PENCITRAAN SEKOLAH DALAM UPAYA MENINGKATKAN MINAT PESERTA DIDIK BARU (STUDI KASUS DI SMA MUHAMMADIYAH 2 SURABAYA) Hermawan Pradita, Denny
Inspirasi Manajemen Pendidikan Vol 5, No 1 (2017): Inspirasi Manajemen Pendidikan
Publisher : Inspirasi Manajemen Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Kondisi persaingan antar sekolah saat ini semakin atraktif, untuk itu sekolah selalu mengupayakan untuk meningkatkan citra sekolah sehingga dapat meningkatkan citranya. Pencitraan sekolah merupakan upaya yang dilakukan oleh sekolah untuk meningkatkan reputasi positif melalui peningkatan partisipasi aktif masyarakat sekitar di SMA Muhammadiyah 2 Surabaya. Pencitraan sekolah dilakukan melalui komunikasi interpersonal, komunikasi internal, komunikasi eksternal, keefektifan pencitraan sekolah, dan penggunaan media humas yang digunakan dalam pencitraan sekolah. Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan pencitraan sekolah melalui komunikasi interpersonal, komunikasi internal, komunikasi eksternal, keefektifan pencitraan sekolah, dan penggunaan media humas yang digunakan dalam pencitraan sekolah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif dan rancangan penelitian studi kasus. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara, observasi, dan studi dokumentasi. Data dianalisis dengan menggunakan reduksi data, penyajian data, dan verifikasi data. Pengecekan keabsahan data dilakukan dengan kredibilitas, transferabilitas, dependabilitas, dan konfirmabilitas. Hasil dari penelitian ini yaitu: (1) Upaya kerjasama dalam Pencitraan Sekolah dilakukan oleh SMA Muhammadiyah 2 Surabaya dalam rangka membangun citra serta meningkatkan partisipasi aktif masyarakat melalui kegiatan-kegiatan pencitraan sekolah, (2) Pihak humas SMA Muhammadiyah 2 Surabaya dalam melakukan kegiatan pencitraannya mempunyai beberapa program, Program tersebut dilaksanakan melalui 3 komunikasi yaitu komunikasi interpersonal, komunikasi internal, dan komunikasi eksternal, (3) Media yang digunakan humas SMA Muhammadiyah 2 Surabaya dalam melakukan pencitraannya meliputi Kata-kata yang tercetak (the printed word) kata-kata lisan (the spoken word). Kata Kunci: Pencitraan Sekolah, partisipasi aktif masyarakat, penggunaan media pencitraan.    THE SCHOOL IMAGING IN EFFORTS TO INCREASE THE INTEREST OF NEW STUDENTS (THE CASE STUDY IN SENIOR HIGH SCHOOL OF MUHAMMADIYAH 2 SURABAYA) Abstract The condition of competition among schools to day are  more attractive. Moreever  school always effort for increasing school image for increase the positive reputation through increasing the participation actively the school citizens in Senior High School of Muhammadiyah 2 Surabaya. School image is being implemented through interpersonal communications, internal communications, external communications, the school image effectiveness, and using the public relation’s media those be used in the school image. This research used a qualitative approach with descrpitive method and study case as its design. The collecting data techniques used interviews, observes, and documentation studies. The data was analyzed with using data reduction, data serving, and data verification. The data validity’s check  be used with credibility, transferbility, dependability, and confirmability. The results from this research are: (1) The efforts of cooperation in the School Image those be done by Senior High School of Muhammadiyah 2 Surabaya in order to develop the image, and increase the citizen outside school’s participation actively through school image activities.  (2) Senior High School of Muhammadiyah 2 Surabaya Public Relation Staff, in order to image programs, has some programs that be implemented through 3 communications, those are interpersonal communications, internal communications, external communications. (3) The media that be used by Senior High School of Muhammadiyah 2 Surabaya’s Public Relation Staff in order to implementation the School Image comprise in the printed words and the spoken words. Keywords: School Image, Citizen’s Participation Actively, Using a Image Media.
USAHA DAN PERAN KEPALA SEKOLAH DALAM MEWUJUDKAN PHBS DI SD HANG TUAH 10 SIDOARJO SINATRYO, YUGO
Inspirasi Manajemen Pendidikan Vol 5, No 1 (2017): Inspirasi Manajemen Pendidikan
Publisher : Inspirasi Manajemen Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

USAHA DAN PERAN KEPALA SEKOLAH DALAM MEWUJUDKAN PHBS DI SD HANG TUAH 10 SIDOARJO   Yugo Sinatryo Jurusan Manajemen Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Surabaya e-mail: yugorio@gmail.com Muhammad Syafiq Jurusan Psikologi Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Surabaya e-mail: muhammadsyafiq@unesa.com   Abstrak Abstrak: Adanya permasalahan kesehatan anak di Indonesia menjadi latarbelakang dilaksanakannya program Sekolah Dasar Bersih dan Sehat (SDBS) yang di laksanakan oleh Kemendikbud. Untuk merealisasikan program SDBS tersebut maka diperlukan adanya pelaksanaan Perilaku Hidup BersihdanS ehat (PHBS) yang dilakukan pada tatanan sekolah dasar (SD). Dalam rangka mewujudkan PHBS di tatanan sekolah Kepala Sekolah memiliki peran yang sangat penting dalam mewujudkan hal tersebut, kepala sekolah juga melakukan beberapa usaha untuk menjadikan sekolah yang dipimpinnya agar memenuhi indikator yang ada dalam indikator PHBS di sekolah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan mengenai: (1) Usaha kepala sekolah dalam mewujudkan PHBS di SD Hang Tuah 10 Sidoarjo. (2) Peran kepala sekolah dalam mewujudkan PHBS di SD Hang Tuah 10 Sidoarjo. (3) Faktor penghambat dan pendukung dalam mewujudkan PHBs di SD Hang Tuah 10 Sidoarjo. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan menggunakan rancangan penelitian studikasus. Teknik    pengumpulan data menggunakan teknik wawancara, observasi, dan dokumentasi. Teknik analisis data menggunakanan alisis deskriptif kualitatif melalui tiga langkah yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Pengecekan keabsahan data dengan menggunakan kredibilitas, transferabilitas, dependabilitas dan konfirmabilitas. Hasil penelitian menunjukan bahwa: (1) Usaha kepala sekolah dalam mewujudkan PHBS di SD Hang Tuah 10 Sidoarjo yaitu kepala sekolah melakukan usaha-usaha dalam tahap pembinaan PHBS di sekolah, kepala sekolah melakukan usaha-usaha dalam tahap penerapan PHBS di sekolah, kepala sekolah melakukan usaha-usaha dalam tahap evaluasi PHBS di sekolah dan kepala sekolah melakukan usaha-usahanya untuk memebuhi indikator PHBS di sekolah. (2) Peran kepalasekolah dalam mewujudkan PHBS di sekolah yakni kepala sekolah berperan sebagai innovator dalam mewujudkan PHBS di sekolah dan kepala sekolah berperan sebagai motivator dalam mewujudkan PHBS di sekolah. Dan (3) Faktor-Faktor yang menjadi penghambat dalam mewujudkan PHBS di sekolah adalah factor siswa yang masih belum seluruhnya termotivasi untuk ber-PHBS di sekolah dan faktor proses penganggaran dan, sedangkan factor pendukung dalam mewujudkan PHBS di sekolah adalah antusiasme guru dan stakeholder dalam melaksanakan program PHBS Kata kunci: usaha kepala sekolah, peran kepala sekolah, faktor penghambat, faktor pendukung.     HEADMASTER SCHOOL EFFORTS AND ROLES IN ORDER TO CREATE CLEAN AND HEALTHY BEHAVIOR IN SD HANG TUAH 10 SIDOARJO Abstract Abstract : Kemendikbud (Education and Culture Ministry) were doing a program called by Sekolah Dasar Bersih dan Sehat/SDBS (Healthy and Clean Elementary School ) based on the childrens health problems that occurs in Indonesia. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat/PHBS (Clean and Healthy Behavior) programs in elementary school (SD) level were needed to held in order to realized that SDBS program, in order to made that things happen, headmaster of school have a important roles and efforts to do in case to accomplished that purpose. Objective of this study is to describe about: (1) Headmaster efforts in order to create PHBS in SD Hang Tuah 10 Sidoarjo. (2) Headmaster roles in order to create PHBS in SD Hang Tuah 10 Sidoarjo.(3) Obstruction and supporting factor in order to create PHBS in SD Hang Tuah 10 Sidoarjo. This study used qualitative approach by using study design of case study. Technique of collecting data used interview technique, observation and documentation. Technique of analyzing data used analysis of qualitative descriptive by three steps which are data reduction, data serving and conclude conclusion. Checking data validity by using credibility, transferability, dependability and confirmabilty. Result of the study shows: (1)Headmaster efforts in order to create PHBS in SD Hang Tuah 10 were doing an efforts in founding phase, doing an efforts in implementation phase,doing an efforts in evaluation phaseand doing an efforts to accomplished all PHBS`s indicators. (2) The headmaster has two roles in order to create PHBS in  SD Hang Tuah 10 Sidoarjo, those was a role as invator and as motivator. (3) The obstruction factors in order to create PHBS in SD Hang Tuah 10 Sidoarjo were the students less likely motivated to do PHBS in school and problems in calculating phase, and the supporting factor was an enthusiasm of the theachers and stakeholders in doing PHBS programs. Keywords: Headmaster efforts, headmaster roles, obstruction factor, supporting factor   PENDAHULUAN Kemendikbud (2014:5) menjelaskan bahwa salah satu tolak ukur pengembangan pendidikan karakter adalah kebersihan dan kesehatan, terkait dengan fungsi pendidikan ini, sekolah sebagai tempat belajar memiliki lingkungan bersih dan sehat untuk mendukung berlangsungnya proses pembelajaran yang baik. Sekolah berperan membentuk peserta didik agar memiliki perilaku bersih dan sehat untuk meningkatkan derajat kesehatan dan mendukung pencapaian tujuan pendidikan, maka Kemendikbud suatu program yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan prestasi belajar peserta didik melalui penciptaan lingkungan sekolah dasar bersih dan sehat yang disebut dengan program Sekolah Dasar Bersih dan Sehat. Kemendikbud (2014:1) menjelaskan bahwa Sekolah Dasar Bersih Sehat (SDBS) adalah sekolah dasar yang warganya secara terus-menerus membudayakan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), dan memiliki lingkungan sekolah yang bersih, indah, sejuk, segar, rapih, tertib, dan aman. SDBS mengutamakan pentingnya pembangunan kesehatan melalui kegiatan yang bersifat promotif dan preventif, sehingga dapat mendorong kemandirian semua warga sekolah dan masyarakat di lingkungan sekolah untuk berperilaku hidup sehat, memelihara kesehatannya, dan meningkatkan kesehatannya. Untuk menciptakan SDBS, salah satu usaha yang harus dilakukan adalah dengan pembudayaan PHBS di Sekolah. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat adalah adalah sekumpulan perilaku yang dipraktikkan atas dasar kesadaran sebagai hasil pembelajaran, yang menjadikan seseorang, keluarga, kelompok atau masyarakat mampu menolong dirinya sendiri (mandiri) di bidang kesehatan dan berperan aktif dalam mewujudkan kesehatan masyarakat (Kemenkes RI, 2011:7). PHBS merupakan salah satu kebijakan nasional yang terdapat dalam Keputusan Menteri Kesehatan RI. NO.1193/MENKES/SK/2004. PHBS merupakan program pemerintah dalam rangka menciptakan suatu kondisi perorangan, kelompok, keluarga dan masyarakat untuk meningkatkan pengetahuan serta perilaku sadar sehingga mau dan mampu untuk mempraktekkan PHBS (Mutrowi, 2009:1) Pelaksanaan PHBS di Sekolah Dasar memiliki peran penting dalam menghadapi permasalahan kesehatan anak yang ada di Indonesia, World Health Organization (WHO) menyebutkan setiap tahunnya sekitar 2,2 juta orang di Negara berkembang terutama anak-anak meninggal dunia akibat dari berbagai penyakit yang disebabkan oleh kurangnya air minum yang bersih dan aman, masalah sanitasi dan kebersihan yang buruk. Selain itu, terdapat bukti bahwa pelayanan sanitasi yang memadai, persediaan air yang aman, sistem pembuangan sampah serta pendidikan kebersihan dapat menekan angka kematian akibat diare sampai 65%, serta penyakit lainnya sebanyak 26% (Tim Field Lab, 2013:1). Data yang telah dipaparkan oleh WHO berlaku juga kepada  Indonesia yang merupakan salah satu dari Negara berkembang, lebih terperinci lagi Menkes menjelaskan permasalahan terkait kesehatan anak di Indonesia yaitu bahwa jumlah anak-anak perokok di atas usia 10 tahun di Indonesia meningkat sejak tahun 2007-2011. Persoalan lainnya, anak-anak Indonesia ke depan cenderung memiliki karakter fisik yang kurang tinggi dan kelebihan berat badan. Ini terkait pola makan yang tidak teratur. Permasalahan ini harus lah ditanggapi dengan serius mengingat pada tahun 2016 jumlah anak usia 0-14 tahun diestimasikan mencapai 70,096 juta jiwa dan diperkirakan mencapai 70,295 juta pada tahun 2017 (BPS, 2015). Untuk menciptakan suatu lingkungan sekolah yang bersih dan sehat maka diperlukanlah pembiasan perilaku hidup bersih dan sehat di lingkungan sekolah tersebut. Untuk menciptakan kondisi tersebut Kepala sekolah yang memiliki peran sebagai edukator, motivator, administrator, supervisor, leader, innovator, dan manajer di dalam sekolah memiliki peran yang sangat dibutuhkan sesuai dengan penjelasan di dalam Mulyasa (2011:120). Berdasarkan hasil wawancara dengan ibu Dra. Ni Ketut Murniati selaku kepala seksi kesiswaan dalam bidang pendidikan dasar di dinas pendidikan kabupaten Sidoarjo menyatakan bahwa Sekolah Dasar yang memiliki predikat sebagai sekolah dasar bersih dan sehat terbaik se-Sidoarjo adalah SD Hang Tuah 10 Sidoarjo. Pernyataan tersebut berdasarkan fakta bahwa SD Hang Tuah 10 Sidoarjo memiliki prestasi sebagai UKS percontohan Nasional dan Sekolah Adiwiyata kategori Nasional, prestasi tersebut didapatkan tidak lepas dari peran kepala sekolah yang menciptakan budaya bersih dan sehat sejak tahun 1986. Ibu Wiwit S.Pd sebagai kepala sekolah SD Hang Tuah 10 menyatakan bahwa dalam menciptakan suatu budaya perilaku bersih dan sehat di sekolah memerlukan waktu yang tidak singkat dan dimulai secara bertahap. Dalam penanaman budaya bersih dan sehat tersebut harus didukung oleh prasarana dan juga tenaga kepagawaian baik guru maupun non guru. Salah satu contoh program yang diciptakan oleh Kepala Sekolah SD Hang Tuah 10 Sidoarjo dalam rangka menanamkan budaya perilaku bersih dan sehat adalah mengadakan kegiatan “Jumat bersih” adapun dalam hal sarana dan prasarana adalah pengadaan wastafel di depan setiap kelas yang ada dan pengadaan toilet sesuai dengan kapasitas standar yang ditentukan. Hal-hal yang telah disebutkan sebelumnya merupakan sebagian kecil contoh dari program yang ada di SD Hang Tuah 10 Sidoarjo.   Sesuai dengan penjelasan yang sebelumnya maka peneliti berinisiatif untuk melakukan penelitian tentang bagaimana implementasi PHBS dan bagaimana peran kepala  sekolah dalam implementasi PHBS di SD Hang Tuah 10 Sidoarjo, maka dari itu peneliti mengangkat judul “Usaha dan Peran Kepala Sekolah dalam Mewujudkan PHBS di SD Hang Tuah 10 Sidoarjo”.   METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan penelitian studi kasus. Rancangan studi kasus, merujuk pada pernyataan Yin (2012:1) yang menyatakan bahwa  studi kasus merupakan strategi yang lebih cocok bila pokok pertanyaan suatu penelitian berkenaan dengan how(bagaimana) atau why(mengapa), bila peneliti hanya memiliki sedikit peluang untuk mengontrol peristiwa-peristiwa yang akan diselidiki dan bilamana fokus penelitiannya terletak pada fenomena kontemporer (masa kini) di dalam konteks kehidupan nyata. Lokasi penelitian di SD Hang Tuah 10 Sidoarjo yang dilakukan pada tanggal 20 Desember – 30 Maret 2017  dengan menggunakan teknik pengumpulan data observasi, wawancara dan dokumentasi. Sedangkan subjek penelitian ini yaitu: Kepala Sekolah, Penanggungjawab UKS dan Manajer UKS. Teknik Analisis data dalam penelitian ini menggunakan data reduction, data display, dan conclusion drawing / verification merujuk pada pendapat Miles dan Huberman (Sugiyono, 2014:246), sedangkan Untuk menjamin keabsahan data peneliti mengikuti 4 macam kriteria seperti yang dikemukakan Licoln dan Guba (Riyanto,2007:17) yaitu kredibilitas, transferabilitas, dependabilitas, dan konfirmabilitas.    HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini menghasilkan temuan terkait tiga fokus utama yaitu usaha kepala sekolah dalam mewujudkan PHBS di SD Hang Tuah 10 Sidoarjo, peran kepala sekolah dalam mewujudkan PHBS di SD Hang Tuah 10 Sidoarjo dan faktor penghambat dan pendukung dalam mewujudkan PHBS di SD Hang Tuah 10 Sidoarjo. 1.    Usaha kepala sekolah dalam mewujudkan PHBS di SD Hang Tuah 10 Sidoarjo  Dalam temuan penelitian yang telah dilakukan, menunjukkan bahwa: 1) Usaha kepala sekolah dalam melaksanakan pembinaan PHBS di Sekolah meliputi melakukan tahap analisis situasi yang dilaksanakan pada tahun 2009; membentuk kelompok kerja khusus yang melibatkan seluruh guru dan stakeholder yang ada; pembuatan kebijakan PHBS bersama para guru dan stake holder; penyiapan pengadaan infrastruktur PHBS yang diawali dengan evaluasi, pengamatan, pembuatan program, kemudian dilakukan penganggaran dalam RAPBS; sosialisasi program PHBS di sekolah melalui rapat, penyebaran surat edaran, dan pemasangan banner dan pamflet tentang PHBS di sekitar area sekolah; 2) Usaha kepala sekolah dalam melaksanakan penerapan PHBS di sekolah meliputi menanamkan nilai-nilai PHBS melalui pembiasaan; menanamkan PHBS di luar jam pelajaran sekolah melalui pengadaan kegiatan-kegiatan kebersihan yang melibatkan siswa, lomba kebersihan kelas, event cuci tangan, penyebaran pesan-pesan PHBS di sekolah melalui pamflet dan banner yang di pasang di sekitar area sekolah, dan olah raga bersama pada hari Jum`at ; melakukan bimbingan PHBS kepada siswa melalui konseling dengan cara mengundang para ahli kesehatan dari staff puskesmas, dokter rumah sakit angkatan laut, dan staff angkatan laut untuk memberikan pengetahuan atau pengajaran mengenai PHBS,  dan melibatkan guru bimbingan dan konseling dalam menghadapi permasalahan terkait siswa yang melanggar peraturan PHBS di sekolah; dan mengadakan kegiatan penyuluhan dan keterampilan  yang dilakukan kepada  siswa dan wali murid, memasang pamflet dan banner PHBS di sekitar area sekolah, mengundang ahli kesehatan dan pihak puskesmas untuk mendidik kader UKS, membimbing para siswa untuk membuat mading PHBS; 3) Usaha kepala sekolah dalam melaksanakan evaluasi PHBS di sekolah meliputi evaluasi jangka waktu panjang yang dilakukan pada setiap semester dan akhir tahun dan evaluasi jangka pendek yang dilakukan setiap hari dan ketika sekolah akan mengikuti event;  4) Usaha kepala sekolah dalam memenuhi indikator PHBS di sekolah yang meliputi menyediakan tempat cuci tangan di depan kelas, mewajibkan siswa untuk mencuci tangan sebelum masuk kelas, dan mengadakan event cuci tangan bersama; mewajibkan kantin untuk menjual makanan yang memiliki gizi, teruji oleh BPOM, bebas dari 5P, dan melarang berjualan di depan sekolah, melarang siswa untuk jajan di luar sekolah; melibatkan penata sekolah dan piket siswa dalam pembersihan jamban dan menyediakan masing-masing jamban bagi laki-laki dan perempuan; mewajibkan siswa untuk berlahraga 2 kali dalam seminggu, sedangkan guru seklai dalam seminggu; melibatkan siswa dan penata sekolah untuk membersihkan jentik-jentik nyamuk pada saaat pembersihan jamban dengan memberikan abate; menciptakan sekolah yang bebas rokok dengan cara memasang cctv, melarang warga sekolah untuk merokok, mensosialisasikan larangan merokok dan memasang pamflet larangan untuk merokok; melakukan kegiatan penimbangan berat badan setiap semester sekali yang dilakukan oleh kader UKS dan guru; dan menyediakan 2 macam tempat sampah di depan setiap kelas dan sekitar area sekolah, membuat larangan membuang sampah sembarangan dan memperingatkan siswa yang membuang sampah sembarangan. Berdasarkan hasil temuan penelitian tersebut dapat dilihat bahwa kepala sekolah telah melakukan 3 pendekatan tersebut yakni pendekatan pimpinan dengan menjadikan perannya sebagai pemimpin di sekolah untuk mewujudkan PHBS di sekolah, bina suasana dengan cara menciptakan suasana sekolah yang kondusif untuk melaksanakan PHBS dengan  tidak hanya membuat lingkungan yang nyaman saja akan tetapi dengan menciptakan perilaku warga sekolah yang selalu ber-PHBS. Kemudian berdasarkan temuan diatas dapat diketahui bahwa usaha kepala sekolah dalam mewujudkan PHBS di SD Hang Tuah 10 Sidoarjo dimulai dalam 3 tahap yakni tahap pembinaan, tahap penerapan dan tahap evaluasi. Hal ini sesuai dengan apa yang dijelaskan Kemenkes RI (2011:7) bahwa langkah-langkah yang perlu dilakukan dalam implementasi PHBS di sekolah adalah pembinaan, penerapan dan evaluasi PHBS di sekolah. Selanjutnya dalam melaksanakan pembinaan PHBS di sekolah kepala sekolah melakukan beberapa tahapan kegiatan yakni analisis situasi, pembentukan kelompok kerja khusus, pembuatan kebijakan PHBS di sekolah, penyiapan infrastruktur dan sosialiasi penerapan PHBS di sekolah. Hal ini sesuai dengan penjelasan Kemenkes RI (2011:7-11) Kemudian menurut Kemenkes RI (2011:9-10) dijelaskan bahwa dalam menerapkan PHBS di sekolah ada langkah-langkah yang dilakukan secara bertahap antara lain: 1) menanamkan nilai-nilai untuk ber-PHBS kepada siswa sesuai kurikulum yang berlaku; 2) menanamkan nilai-nilai untuk ber-PHBS kepada siswa yang dilakukan diluar jam pelajaran biasa; 3) bimbingan hidup bersih dan sehat melalui konseling; dan 4) kegiatan penyuluhan dan latihan keterampilan dengan melibatkan peran aktif siswa, guru dan orang tua antara lain melalui penyuluhan kelompok, pemutaran kaset radio/fil, penempatan media poster, pemyebaran leaflet dna membuat majalah dinding. Hal ini sesuai dengan apa yang dilakukan oleh kepala sekolah pada tahap penerapan PHBS di sekolah, namun pada langkah pertama yaitu menanamkan nilai-nilai untuk ber-PHBS kepada siswa sesuai kurikulum yang berlaku, kepala sekolah tidak melakukannya melainkan kepala sekolah menanamkan nilai-nilai PHBS tersebut kepada siswa melalui pembiasaan. Adapun pada langkah kedua sampai keempat, apa yang dilakukan kepala sekolah sesuai dengan teori tersebut.. Tahap ketiga dari implementasi PHBS di sekolah adalah evaluasi, menurut Kemenkes RI (2011:11) dijelaskan bahwa hal yang dilakukan dalam dalam tahap pemantauan dan evaluasi adalah melakukan pemantuan dan evaluasi secara periodik dalam kurun waktu yang telah ditentukan tentang kebijakan-kebijakan PHBS yang telah dilaksanakan oleh kepala sekolah, serta meminta pendapat Pokja PHBS di sekolah dam melakukan kajian terhadap masalah yang ditemukan, kemudian memutuskan apakah perlu penyesuaian terhadap kebijakan. Penjelasan tersebut sesuai dengan apa yang dilakukan kepala sekolah dalam melaksanakan tahap evaluasi PHBS di sekolah, pada prakteknya kepala sekolah melakukan evaluasi secara periodik dalam kurun waktu yang telah ditentukan yaitu evaluasi jangka pendek yang dilakukan setiap hari dan ketika ada event dan evaluasi jangka panjang yang dilakukan setiap semester dan akhir tahun, selain itu kepala sekolah juga melibatkan kelompok kerja PHBS dalam melakukan evaluasi kebijakan PHBS di sekolah, kelompok kerja tersebut melakukan pengamatan tentang bagaimana program PHBS di sekolah berjalan. Berdasar hasil temuan yang telah peneliti paparkan sebelumnya didapati bahwa kepala sekolah telah melakukan usaha-usaha untuk memenuhi * indikator PHBS di sekolah, akan tetapi pada poin menimbang berat badan dan mengukur tinggi badan setiap bulan, kepala sekolah belum melakukan hal tersebut melainkan kepala sekolah hanya meleksanakan kegiatan menimbang berat dan mengukur tinggi badan setiap satu semester sekali.         2.    Peran kepala sekolah dalam mewujudkan PHBS di SD Hang Tuah 10 Sidoarjo Dalam temuan penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa: 1) Kepala sekolah menerapkan beberapa kebijakan yang inovatif dalam rangka menciptakan sekolah yang ber-PHBS. Kepala sekolah juga memberi kesempatan pada guru dan wali murid untuk menyampaikan inovasi mereka; 2) Peran kepala sekolah sebagai motivator dapat dilihat dari kegiatan yang dilakukan kepala sekolah meliputi kepala sekolah selalu memotivasi warga sekolah dengan memberikan pesan dan nasehat untuk ber-PHBS pada setiap apel pagi hari senin dan apel pagi harian untuk guru; kepala sekolah memberikan punishment kepada siswa yang tidak ber-PHBS di sekolah; kepala sekolah mengundang para ahli kesehatan untuk memberikan motivasi tentang PHBS kepada siswa; kepala sekolah memberikan apresiasi kepada siswa dan guru yang aktif ber-PHBS. Huberman (dalam Ibrahim, 1988:41) menyatakan bahwa “Innovation is the creative selection, organization and utilization of human and material resources in new and unique ways which will result in the attainment of a higher level of achievement for the defined goals and oblectives” yang artinya bahwa inovasi adalah pemilihan secara kreatif, pengorganisasian dan pemanfaatan dalam menggunakan sumber daya manusia dan materi dengan cara yang baru dan unik untuk mendapatkan hasil pencapaian yang lebih tinggi dalam tujuan dan objektif. Berdasarkan teori tersebut dan hasil temuan penelitian maka dapat dilihat bahwa kepala sekolah telah melakukan pemilihan secaara kreatif yakni ketika memilih kelompok kerja khusus PHBS, memilih stakeholder dan memilih kader UKS yang nantinya akan menjadi role model bagi temannya sendiri, kemudian kepala sekolah juga telah melakukan pengorganisasian dan pemanfaatan sumber daya materi dan manusia dengan baik hal itu dapat terlihat dengan antusiasme semua pihak yang terlibat dalam pelaksanaan PHBS di sekolah. Mulyasa (2011:118-119) menyatakan bahwa dalam rangka melakukan peran dan fungsinya sebagai inovator, kepala sekolah harus memiliki strategi yang tepat untuk menjalin hubungan yang harmonis dengan lingkungan, mencari gagasan baru, mengintegrasikan setiap kegiatan, memberikan teladan kepada seluruh tenaga kependidikan di sekolah, dan mengembangkan model-model pembelajaran yang inovatif. Kepala sekolah yang inovator akan tercermin dari cara-cara ia melakukan pekerjaannya secara konstruktif, kreatif, delegatif, integrative, rasional, objektif, pragmatis, keteladanan, disiplin, serta adaptable dan fleksibel, Kepala sekolah sebagai inovator harus mampu mencari, menemukan, dan melaksanakan berbagai pembaharuan di sekolah. Adapun dari hasil temuan penelitian yang peneliti paparkan, terlihat bahwa kepala sekolah telah memenuhi beberapa poin dari yang telah dipaparkan dalam teori tersebut. Poin-poin yang telah dipenuhi antara lain yakni melaksanakan berbagai pembaharuan dan mencari gagasan baru di sekolah dengan menciptakan beberapa kebijakan PHBS yang tidak terdapat di sekolah lainnya, memberikan teladan kepada seluruh tenaga kependidikan di sekolah dengan selalu datang ke sekolah lebih awal dan melakukan pengecekan kebersihan di sekitar area sekolah. Selain berperan sebagai inovator, kepala sekolah juga berperan sebagai motivator dalam mewujudkan PHBS di SD Hang Tuah 10 Sidoarjo. Menurut Effendi (dalam Manullang, 2004:193) menjelaskan bahwa motivasi adalah kegiatan memberikan dorongan pada seseorang atau diri sendiri untuk mengambil suatu tindakan yang dikehendaki. Kemudian menurut Sutrisno (2011:109) motivasi adalah suatu faktor yang mendorong seseorang untuk melakukan suatu aktifitas tertentu, oleh karena itu motivasi sering kali diartikan pula sebagai faktor pendorong perilaku seseorang. Hal tersebut sesuai dengan hasil temuan penelitian yang telah peneliti paparkan yaitu bahwa kepala sekolah telah melakukan kegiatan untuk memberikan suatu dorongan kepada warga sekolah untuk selalu melakukan PHBS di sekolah yakni memberikan mereka motivasi melalui pesan dan nasehat untuk ber-PHBS yang selalu disampaikan setiap hari pada apel guru dan pada apel senin pagi, selain itu kepala sekolah juga memberikan punishment kepala mereka yang melanggar peraturan PHBS dan memberikan reward kepada mereka yang aktif dalam ber-PHBS. Menurut Mulyasa (2011:120) menjelaskan bahwa sebagai motivator kepala sekolah harus memiliki strategi yang tepat untuk memberikan motivasi kepada para tenaga kependidikan dalam melakukan berbagai tugas dan fungsinya. Motivasi ini dapat ditumbuhkan melalui pengaturan lingkungan fisik, pengaturan suasana kerja, disiplin, dorongan, penghargaan secara efektif, dan penyediaan berbagai sumber belajar melalui pengembangan Pusat Sumber Belajar. Sedangkan Menurut Sutomo (2011:97-98) dijelaskan bahwa peran dan fungsi kepala sekolah sebagai motivator yaitu memberikan motivasi kepada semua warga sekolah agar mereka dapat melaksanakan tugas-tugas di sekolah secara baik dan benar. Kepala sekolah bertugas membentuk lingkungan kerja dan suasasan kerja yang kondusif, membangun prinsip penghargaan dan hukuman yang sistemik. .Berdasarkan hasil temuan yang telah peneliti paparkan, dapat terlihat bahwa kepala sekolah telah memenuhi beberapa poin tersebut yakni kepala sekolah memiliki strategi yang tepat untuk memberikan motivasi kepada tenaga kependidikan dengan cara selalu memberikan pesan dan nasehat mengenai PHBS pada setiap apel guru, pengaturan suasana sekolah yang bersih, rapi dan rindang menjadikan warga sekolah termotivasi untuk selalu menjaga kebersihan lingkungan sekolah, menerapkan disiplin mengenai peraturan-peraturan PHBS yang ada dengan memberikan peringatan kepada yang melanggarnya, dan memotivasi para siswa dan guru dengan memberikan apresisasi kepada mereka yang aktif dalam ber-PHBS di sekolah.   3.    Faktor penghambat dan pendukung dalam mewujudkan PHBS di SD Hang Tuah 10 Sidoarjo Dalam temuan penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa: 1).  Faktor yang menjadi penghambat dalam mewujudkan PHBS di SD Hang Tuah 10 Sidoarjo adalah karateristik perilaku siswa SD yang masih kekanak-kanakan dan system sekolah yang sudah menganut MBS, sehingga penganggaran hanya dilakukan pada RAPBS; 2). Faktor pendukung dalam mewujudkan PHBS di SD Hang Tuah 10 Sidoarjo adalah antusiasmu guru dan stakeholder dalam melaksanakan program PHBS di sekolah Dalam prosesnya untuk mewujudkan PHBS di SD Hang Tuah 10 Sidoarjo kepala sekolah menghadapi berbagai hambatan, pertama adalah faktor perilaku siswa yang masih kekanak-kanakan, untuk menerapkan peraturan PHBS kepada mereka sangatlah diperlukan usaha yang ekstra dan berulang-ulang karena dari perilaku siswa-siswa tersebut beberapa program PHBS ada yang berjalan tidak sempurna, contohnya tidak adanya sabun cuci tangan di setiap tempat cuci tangan, padahal sabun tersebut telah disediakan oleh guru, namun para siswa menggunakannya untuk bermain-main sehingga ada beberapa tempat cuci tangan yang tidak ada sabunnya, kemudian masih adanya beberapa siswa yang tidak sengaja membawa tempat makan dan minum sendiri sehingga ketika membeli jajan di kantin, mereka menggunakan pembungkus yang disediakan oleh pihak kantin dan membawanya ke area sekolah, kemudian membuangnya sembarangan, hal-hal seperti itulah yang menjadikan PHBS di SD Hang Tuah 10 belum sempuran seutuhnya. Kemudian Selain faktor siswa juga terdapat faktor penghambat lainnya, yaitu status sekolah yang telah MBS, sebelum berstatus MBS SD Hang Tuah 10 Sidoarjo mendapatkan dana dari yayasan Hang Tuah, namun setelah MBS sekolah mulai mengelola dana tersebut secara mandiri dan hal ini berdampak pada penganggaran infrastruktur PHBS yang bermasalah sebelum tiba waktunya RAPBS. Adapun faktor pendukung dalam mewujudkan PHBS di SD Hang Tuah 10 Sidoarjo adalah antusiasme guru dan stakeholder dalam melaksanakan program PHBS di SD Hang Tuah 10 Sidoarjo, stakeholder yang dimaksud adalah wali murid, puskesmas, PKK, dan warga sekitar, hal ini dikarenakan sekolah yang selalu mengajak para stakeholder untuk bekerjasama dalam mewujudkan PHBS di SD Hang Tuah 10 Sidoarjo.   PENUTUP Berdasarkan temuan penelitian yang dilakukan di SD Hang Tuah 10 Sidoarjo maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: Kepala sekolah telah melakukan usaha-usahanya dalam rangka mewujudkan PHBS di SD Hang Tuah 10 Sidoarjo dengan baik, hal tersebut dapat dilihat bahwa kepala sekolah telah melakukan tugas-tugasnya sesuai dengan buku teknis yang diterbitkan oleh Kemenkes RI, dan kepala sekolah telah melakukan usaha-usaha untuk memenuhi indikator PHBS di sekolah dan sebagian besar indikator tersebut telah terpenuhi di SD Hang Tuah 10 Sidoarjo, meskipun ada beberapa indikator yang masih belum terpenuhi. Dalam usahanya mewujudkan PHBS di SD Hang Tuah 10 Sidoarjo, kepala sekolah telah menjalankan perannya sebagai inovator dan motivator dengan baik, hal tersebut dapat terlihat dari adanya kebijakan-kebijakan unggulan dalam bidang kebersihan yang menjadikan SD Hang Tuah 10 Sidoarjo unggul dari sekolah lain, kemudian antusiasme para stakeholder PHBS yang tidak terlepas dari peran kepala sekolah sebagai motivator dalam memotivasi mereka setiap harinya untuk selalu menjalankan program PHBS di sekolah.   DAFTAR PUSTAKA   BPS. 2015. Kebutuhan Data Ketenagakerjaan Untuk Pembangunan Berkelanjutan (online:http://www.ilo.org/wcmsp5/groups/public/@asia/@ro-bangkok/@ilo-jakarta/documents/presentation/wcms_346599.pdf) diakses pada 14 November 2016.   Ibrahim. 1988. Inovasi Pendidikan. Jakarta: Depdikbud.   Kemendikbud. 2014. Panduan Pelaksanaan Pembinaan Sekolah Dasar Bersih dan Sehat (SD Bersih Sehat). Jakarta: Kemendikbud.   Kemenkes RI. 2011. Interaksi Suplemen. Jakarta: Pusat Promosi Kesehatan.   Kemenkes RI. 2011. Pedoman Pembinaan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat. Jakarta: Menteri Kesehatan RI.   Manullang,  M dan Marihot Manullang. 2004. Manajemen Kinerja Sumber Daya Manusia. Bogor: IPB Press.   Mulyasa, E. 2011. Menjadi Kepala Sekolah Profesional. BandungL PT Remaja Rosdakarya.   Riyanto, Yatim. 2007. Metodologi Penelitian Kualitatif dan Kuantitatif. Surabaya: UNESA University Press.   Sugiyono. 2014. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.   Sutomo. 2011. Manajemen Sekolah. Semarang: UPT MKK UNNES.   Sutrisno, Edy. 2011. Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta: Ghalia Indonesia.   Tim. 2013. Modul Field Lab Semester V Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Surakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret.   Yin, Robert, K. 2012. Studi Kasus; Desain dan Metode. Jakarta: Raja Grafindo Persada.                  
PENGELOLAAN BANK MINI SEBAGAI PENDUKUNG SUMBER PEMBELAJARAN DI SMK NEGERI 1 PONOROGO NURUL HIDAYATI, NINIK
Inspirasi Manajemen Pendidikan Vol 5, No 1 (2017): Inspirasi Manajemen Pendidikan
Publisher : Inspirasi Manajemen Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract