Edugama: Jurnal Kependidikan dan Sosial Keagamaan
Edugama: Jurnal Kependidikan dan Sosial Keagamaan, is published twice a year by the Graduate Program IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung. Focus and Scope This journal departs from philosophy of Religious Education, which aims at becoming contain ideas, research results in educational, social and religious.
Articles
142 Documents
Ziarah Makam Antara Tradisi dan Praktek Kemusyikan
Subri Subri
Edugama: Jurnal Kependidikan dan Sosial Keagamaan Vol. 3 No. 1 (2017): Edugama: Jurnal Kependidikan dan Sosial Keagamaan
Publisher : PASCASARJANA IAIN SYAIKH ABDURRAHMAN SIDDIK BANGKA BELITUNG
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.32923/edugama.v3i1.684
Abstract: Graves or tombs in the paradigm of belief are the final terminal of life after world life, even though the grave or tomb is considered as an inanimate object but it is one of the representations of socio-cultural phenomena in the Muslim community from the past until now, including people in Bangka Belitung. The tomb or tomb is a representation of the past and present patterns of thinking of the community in obtainingsolutions to various kinds of life problems both economic, social, political and cultural problems.Even more than that, he also as a representation of the attitude of religiosity of the community in interpreting the relationship between humans as beings with God as creator. The graves or tombs of the Kyai, Alim Ulama, the Habaibs and even the trustees have been interpreted as mediators between humans and God by means of a superstition. Tawassul is a way to utilize the mediator.Theoretically, Islam does emphasize the existence of mediators / wasilah between humans and God, but the cult of their tombs indicates that there has been a difference between theory and practice. Abstrak: Kuburan atau makam dalam paradigm keyakinan merupakan terminal akhir dari kehidupan setelah kehidupan dunia, meskipun kuburan atau makam itu dianggap sebagai benda mati namun ia salah satu representasi dari fenomena sosial budaya pada kalangan masyarakat muslim dari dulu hingga sekarang, termasuk masyarakat di Bangka Belitung. Kuburan atau makam tersebut merupakan representasi dari pola berpikir masyarakat yang lalu dan sekarang dalam memperoleh solusi dari macam ragam masalah kehidupan baik masalah perekonomian, sosial, politik dan budaya. Bahkan lebih dari itu, ia juga sebagai representasi sikap religiusitas masyarakat dalam memaknai hubungan antara manusia sebagai makhluk dengan Tuhan sebagai pencipta. Kuburan atau makam para Kyai, Alim Ulama, para Habaib bahkan para wali telah dimaknai sebagai mediator antara manusia dengan Tuhan dengan cara bertawassul. Tawassul adalah cara untuk memanfaatkan mediator itu. Secara teoritis, Islam memang menegaskan adanya mediator / wasilah antara manusia dengan Tuhan, tapi pengkultusan terhadap makam-makam mereka tersebut mengindikasikan bahwa telah terjadi perbedaan antara teori dan prakteknya.
Persepsi Birokrat Pendidikan di Bangka Belitung Terhadap Peraturan Menteri PAN dan RB RI Tentang Izin Belajar
Soleha Soleha
Edugama: Jurnal Kependidikan dan Sosial Keagamaan Vol. 4 No. 2 (2018): Edugama: Jurnal Kependidikan dan Sosial Keagamaan
Publisher : PASCASARJANA IAIN SYAIKH ABDURRAHMAN SIDDIK BANGKA BELITUNG
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.32923/edugama.v4i2.687
AbstrakTujuan penelitian ini untuk mengetahui persepsi birokrat pendidikan, terkait pemberian izin belajar bagi calon mahasiswa khususnya PNS yang melanjutkan pendidikan ke program pascasarjana IAIN SAS Babel. Penelitian ini menjadi penting karena banyaknya persepsi birokrat pendidikan dalam mengintepretasikan dari Permen PAN dan RB, sehingga proses pemberian izin belajar banyak terkendala. Jenis Penelitian menggunakan penelitian lapangan (field research) dengan pendekatan yuridis empiris, yaitu menganalisa permasalahan dengan cara memadukan bahan-bahan hukum (yang merupakan data skunder) dengan data primer yang diperoleh di lapangan. Hasil penelitian persepsi birokrat pendidikan tentang izin belajar memiliki kesamaan. Namun, dalam mengintepretasikan Permen PAN dan RB tentang proses izin belajar yang dilakukan mahasiswa dengan status PNS baik dari kementrian agama dan pendidikan memikili hasil yang berbeda. Keyword: persepsi, izin belajar, Program PascasarjanaAbstractThe purpose of this study was to determineeducationbureaucrat’s perception, in giving the study permits for students candidates, especially civil servants who continued their education in graduate programIAIN SAS Bangka Belitung. This research is important because there are many education bureaucrats’s perception in interpreting the regulation of State Minister of Administrative and Bureaucratic Reform , so that the study permits is not easy to be issued. This research used field study with an empirical juridical approach, namely analyzing problems by integrating legal materials (which are secondary data) with primary data obtained in the field. The results of the study reveals that education bureaucrats’s perceptions about study permits are not different. However, there weredifferent results in interpreting the regulation of State Minister of Administrative and Bureaucratic Reform related to the process of study permits conducted by students who work as civil servant in the Ministry of Religious Affairs and Ministry of Education.Keyword: perception, study permit, Postgraduate Program
Humanistic Education in Abdurrahman Wahid’s
Supriyanto Supriyanto
Edugama: Jurnal Kependidikan dan Sosial Keagamaan Vol. 4 No. 2 (2018): Edugama: Jurnal Kependidikan dan Sosial Keagamaan
Publisher : PASCASARJANA IAIN SYAIKH ABDURRAHMAN SIDDIK BANGKA BELITUNG
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.32923/edugama.v4i2.688
Human values are one of the main components of concern in the education field. One of the Muslim scholars who had very high concern for issues related to humanity was Abdurrahman Wahid or who was familiarly called Gus Dur. For Gus Dur, appreciation of human values is at the core of the teachings of Islam. The emphasis on understanding humanity provides a basis for the humanistic attitude that Gus Dur wanted to build. Humanistic education in the concept of Gus Dur is a discussion of human values voiced by Gus Dur which includes universal humanity, human rights and justice. Therefore, this paper intends to discuss humanistic education in Gus Dur's perspective. Keywords: Nilaihumanistic education, human right, justice, Abdur Abstrak rahman Wahid nilai kemanusiaan adalah salah satu komponen utama yang menjadi perhatian di bidang pendidikan. Salah satu cendekiawan Muslim yang memiliki kepedulian yang sangat tinggi terhadap masalah yang berkaitan dengan kemanusiaan adalah Abdurrahman Wahid atau yang akrab disapa Gus Dur. Bagi Gus Dur, penghargaan terhadap nilainilai kemanusiaan adalah inti dari ajaran Islam. Penekanan pada memahami kemanusiaan memberikan dasar bagi sikap humanistik yang ingin dibangun oleh Gus Dur. Pendidi kan humanistik dalam konsep Gus Dur adalah diskusi tentang nilainilai kemanusiaan yang disuarakan oleh Gus Dur yang mencakup kemanusiaan universal, hak asasi manusia dan keadilan. Oleh karena itu, makalah ini bermaksud membahas pendidikan humanistik dalam perspektif Gus Dur.
Pemikiran Filsuf Muslim di Wilayah Barat
Zaprulkan Zaprulkhan
Edugama: Jurnal Kependidikan dan Sosial Keagamaan Vol. 4 No. 2 (2018): Edugama: Jurnal Kependidikan dan Sosial Keagamaan
Publisher : PASCASARJANA IAIN SYAIKH ABDURRAHMAN SIDDIK BANGKA BELITUNG
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.32923/edugama.v4i2.721
Abstract Islamic philosophy is one part of the tradition of Islamic thought that has developed, both in the East and the West of Islam. In the western part of Islam, Islamic philosophy developed rapidly in the region of Cordova as our mother Andalusia, Spain. It was in the Western region of Islam that a number of well-known philosophers emerged, such as Ibn Bajjah, Ibn Thufail, and Ibn Rusyd. These three great philosophers are very eloquent in developing various philosophical discourses with their unique characteristics which differ from one another. This article tries to explore the philosophical thinking of the three philosophers, and at the end of the discussion is given a critical note on all three of their thoughts. Abstrak Filsafat Islam adalah salah satu bagian dari tradisi pemikiran Islam yang telah berkembang, baik di Timur maupun di Barat Islam. Di bagian barat Islam, filsafat Islam berkembang pesat di wilayah Cordova sebagai ibu kotaAndalusia, Spanyol. Di wilayah barat Islam inilah sejumlah filsuf terkenal muncul, seperti Ibn Bajjah, Ibn Thufail, dan Ibn Rusyd. Ketiga filsuf besar ini sangat fasih dalam mengembangkan berbagai wacana filosofis dengan karakteristik unik mereka yang berbeda satu sama lain. Artikel ini mencoba mengeksplorasi pemikiran filosofis dari tiga filsuf, dan pada akhir diskusi diberikan catatan kritis pada ketiga pemikiran mereka.
Dampak Perceraian Terhadap Kenakalan Remaja
Hendra Cipta
Edugama: Jurnal Kependidikan dan Sosial Keagamaan Vol. 3 No. 2 (2017): Edugama: Jurnal Kependidikan dan Sosial Keagamaan
Publisher : PASCASARJANA IAIN SYAIKH ABDURRAHMAN SIDDIK BANGKA BELITUNG
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.32923/edugama.v3i2.724
Abstract In General, factors causing the emergence of juvenile deliquency are a family reason caused by divorce, both parents and the next factor is the environmental factors influenced by playmates and the environment around the dwelling. The media also have a role to cause juvenile delinquency. To minimize this juvenile delinquency that needs to be done is to enforce the rules, listen to teenagers complaints, give attention to teenagers, provide motivation to the teenagers and accompany and play with teenagers' activities they enjoy. Abstrak Secara umum, faktor penyebab munculnya kenakalan remaja adalah alasan keluarga yang disebabkan oleh perceraian, kedua orang tua dan faktor berikutnya adalah faktor lingkungan yang dipengaruhi oleh teman bermain dan lingkungan di sekitar tempat tinggal. Media juga memiliki peran untuk menyebabkan kenakalan remaja. Untuk meminimalkan kenakalan remaja yang perlu dilakukan adalah menegakkan aturan, mendengarkan keluhan remaja, memberikan perhatian kepada remaja, memberikan motivasi kepada remaja dan menemani dan bermain dengan kegiatan remaja yang mereka nikmati.
Gerhana dan Keharusan Kosmologis Manusia: Tinjauan Filsafat Wujud
Rusydi Sulaiman
Edugama: Jurnal Kependidikan dan Sosial Keagamaan Vol. 3 No. 2 (2017): Edugama: Jurnal Kependidikan dan Sosial Keagamaan
Publisher : PASCASARJANA IAIN SYAIKH ABDURRAHMAN SIDDIK BANGKA BELITUNG
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.32923/edugama.v3i2.725
Abstract Eclipse is a natural event that could not be avoided, Indeed it has become a part of life that merged into one in the solar system. His existence adorns and completes the universe. Eclipse is a natural phenomenon that quickly change the atmosphere, the weather becomes dark. This simple phenomenon is a natural event that periodically often occurs in the world. In addition, the natural phenomenon of the eclipse is a part of authority of God Allah, The almighty. So, this article firstly describes about kind of eclipse; the solar eclipse and lunar eclipse. Then the article describes philoshopically the connection of this eclipse with human\s cosmology. There was closely related between human and eclipse. Everyone is the Wali of God Allah (Khalifah fi al-Ardhi) which had been sent to guard and manage the universe. Cosmologically, human was called as micro cosmos of the cosmos existing in the whole solar system. So the relationship between humans and other creatures was very close. And a person as a servant of God Allah whose reason (logics) and heart (qalb) is expected to do self- reinforcement (rationalization and also mukasyafah) toward creatures, including the phenomenon of eclipse. In short, we khnow then the position of human toward God Allah. Abstrak Gerhana adalah peristiwa alam yang tidak bisa dihindari, memang sudah menjadi bagian kehidupan yang menyatu menjadi satu di tata surya. Keberadaannya menghiasi dan melengkapi alam semesta. Eclipse adalah fenomena alam yang dengan cepat mengubah atmosfer, cuaca menjadi gelap. Fenomena sederhana ini adalah peristiwa alam yang secara berkala sering terjadi di dunia. Selain itu, fenomena alam gerhana adalah bagian dari otoritas Allah Allah SWT. Jadi, artikel ini pertama kali menjelaskan tentang jenis gerhana; gerhana matahari dan gerhana bulan. Kemudian artikel tersebut menggambarkan secara filosofis hubungan gerhana ini dengan kosmologi manusia. Ada kaitan erat antara manusia dangerhana. Setiap orang adalah Wali Allah (Khalifah fi al-Ardhi) yang telah dikirim untuk menjaga dan mengelola alam semesta. Secara kosmologis, manusia disebut sebagai mikro kosmos dari kosmos yang ada di seluruh tata surya. Jadi hubungan antara manusia dan makhluk lain sangat dekat. Dan seseorang sebagai hamba Allah Allah yang alasannya (logika) dan hatinya (qalb) diharapkan untuk melakukan penguatan diri (rasionalisasi dan juga mukasyafah) terhadap makhluk, termasuk fenomena gerhana. Singkatnya, kita khnow maka posisi manusia terhadap Allah Allah. Kata kunci: Eclipse (Sun, Moon), Kosmologi dan Manusia.
Esensi HAM dalam Islam dan Relevansinya Dengan Demokrasi
Hatamar Hatamar
Edugama: Jurnal Kependidikan dan Sosial Keagamaan Vol. 3 No. 2 (2017): Edugama: Jurnal Kependidikan dan Sosial Keagamaan
Publisher : PASCASARJANA IAIN SYAIKH ABDURRAHMAN SIDDIK BANGKA BELITUNG
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.32923/edugama.v3i2.726
Some Islamic political figures and commentators provide a comprehensive explanation of the essence of Islamic teachings (al-Qur'an) which emphasizes the recognition and protection of human rights (HAM). Islam has a genuine concept of human rights, which has been formulated even since the 7th century AD, namely since the emergence of Islam brought by the Prophet Muhammd, SAW which was later declared as human rights in Islam. All the contents of the Islamic version of the declaration are formulated based on the Qur'an and Sunnah. The actual effect of human rights in Islam, what humans have is not the rights they have brought from birth, as they arise in the notion of human rights in the Western world, but prescriptions that are given to humans, obtained or derived from sources interpreted as divine commands which includes rights and obligations. Therefore, what is called HAM is basically a human obligation to God, or God's rights to humans. In addition to owning a unique doctrine that is unique to Islamic human rights, of course it has values and essences that are similar to modern human rights which are now defeated, and even have values that are also present in the modern democratic system. universal values that support democracy, namely human rights, also have a central and essential place in Islamic teachings. Key Word: Essence, human rights in Islam and democracy.
Peran Orang Tua Sebagai Pendidik Anak Dalam Keluarga
Adrian Adrian;
Muhammad Irfan Syaifuddin
Edugama: Jurnal Kependidikan dan Sosial Keagamaan Vol. 3 No. 2 (2017): Edugama: Jurnal Kependidikan dan Sosial Keagamaan
Publisher : PASCASARJANA IAIN SYAIKH ABDURRAHMAN SIDDIK BANGKA BELITUNG
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.32923/edugama.v3i2.727
Abstract This article discusses the role of parents as child educators in the household. Many Muslim scholars quoted quran verses and hadith as the basis for the importance of children's education in the family. The family is the smallest instrument in the community and is the basic platform as well as a place for early education for every child. The role of parents is very important in children's education. Parents who are able to position themselves as protectors, protectors, and educators of children will certainly be coherent in the hope that they will get good future generation candidates, because the nature of children is in need of love and attention from their parents. Will of Lukman al-Hakim in Q.S. Luqman verses 13-19 is a manifestation of the importance of children's education by parents in the family. Education in the family is not only limited to religious education, but also provides moral, personality and social education. Parents should be able to carry out holistic education to children in the family so that they can realize the goal of education, namely to make a complete person balanced between emotions, intellectuals, and spirituality Abstrak Artikel ini membahas tentang peran orang tua sebagai pendidik anak dalam rumah tangga. Para sarjana Muslim banyak menukil ayat-ayat qur’an dan hadis sebagai dasar petingnya pendidikan anak dalam keluarga. Keluarga sebagai instrumen terkecil dalam masyarakat dan sebagai peletak dasar sekaligus tempat pendidikan awal bagi setiap anak. Peran orang tua sangatlah pentingdalam pendidikan anak. Orang tua yang mampu memposisikan diri sebagai pelindung, pengayom, dan pendidik anak tentunya akan koheren dengan harapan agar mendapat calon generasi penerus yang baik, karena sifat dasar anak adalah membutuhkan kasih sayang dan rhatian dari orang tuanya. Wasiat Lukman al-Hakim dalam Q.S. Luqman ayat 13-19 merupakan manifestasi dari pentingnya pendidikan anak oleh orang tua dalam keluarga. Pendidikan dalam keluarga bukan hanya dibatasi dalam pendidikan agama saja, namun juga memberikan pendidikan akhlaq, kepribadian, dan sosial. Orang tua sepantasnya mampu melaksanakan pendidikan holistik kepada anak dalam keluarga sehingga mampu mewujudkan tujuan pendidikan yaitu menjadikan insan paripurna yang seimbang antara emosi, intelektual, dan spiritual.
Development of Learning Module STAIN SAS Babel
Cakrawala Cakrawala
Edugama: Jurnal Kependidikan dan Sosial Keagamaan Vol. 3 No. 2 (2017): Edugama: Jurnal Kependidikan dan Sosial Keagamaan
Publisher : PASCASARJANA IAIN SYAIKH ABDURRAHMAN SIDDIK BANGKA BELITUNG
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.32923/edugama.v3i2.728
Abstract This study uses a quantitative research. The aim to produce a product. The study consisted of three stages, namely: 1. Reconnaissance 2. 3. Procurement model development product. Questionnaire data were analyzed using simple statistics and interviews were analyzed with descriptive quantitative techniques. Children begin to recognize verbal communication with their environment called the children's language pemerolahan. The first language acquisition occurs when the child who from the beginning without language has now gained one language. At the time of child language acquisition, the child is more directed at the communications functions of the form language.In the field of sistaksis, children begin speaking by uttering a single word. This word for children is actually full sentences, but because he has not been able to say more than one word, he only took one word of the whole sentence.Learning module is needed to assist the student in the learning process diperkuliahan, learning modules for students are good, but need further improvements in order to improve this module book. Based on the research that learning modules for students can improve student learning. Abstrak Penelitian ini menggunakan penelitian kuantitatif. Tujuannya untuk menghasilkan suatu produk. Penelitian terdiri dari tiga tahap, yaitu: 1. Pengintaian 2. 3. Pengembangan produk model pengadaan. Data kuesioner dianalisis menggunakan statistik sederhana dan wawancara dianalisis dengan teknik kuantitatif deskriptif. Anak-anak mulai mengenali komunikasi verbal dengan lingkungan mereka yang disebut pemeriksa bahasa anak-anak. Perolehan bahasa pertama terjadi ketika anak yang sejak awal tanpa bahasa kini telah memperolehsatu bahasa. Pada saat penguasaan bahasa anak, anak lebih diarahkan pada fungsi komunikasi dari bentuk bahasa. Di bidang sistaksis, anak-anak mulai berbicara dengan mengucapkan satu kata. Kata ini untuk anak-anak sebenarnya adalah kalimat penuh, tetapi karena ia belum dapat mengatakan lebih dari satu kata, ia hanya mengambil satu kata dari seluruh kalimat. Modul pembelajaran diperlukan untuk membantu siswa dalam proses pembelajaran yang diperkuliahan, modul pembelajaran untuk siswa baik, tetapi perlu perbaikanlebih lanjut untuk meningkatkan buku modul ini. Berdasarkan penelitian bahwa modul pembelajaran untuk siswa dapat meningkatkan pembelajaran siswa.
Implementasi Manajemen Kepemimpinan Madrasah Aliyah di Bangka Belitung
Suparta Suparta
Edugama: Jurnal Kependidikan dan Sosial Keagamaan Vol. 4 No. 2 (2018): Edugama: Jurnal Kependidikan dan Sosial Keagamaan
Publisher : PASCASARJANA IAIN SYAIKH ABDURRAHMAN SIDDIK BANGKA BELITUNG
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.32923/edugama.v4i2.732
Abstract Based on the results of observations and interviews of researchers the implementation of leadership management in MAN I Tanjung Pandan can be categorized in two respects. The two categories are: First, leadership management seen from the aspect of leadership style. Second, leadership management is seen from the aspects they lead. The implementation of the first aspect which became the main actor was the Principal while in the second aspect the main actor was the deputy principals, teachers, staff and students of MAN I Tanjung Pandan The leadership style implemented in MAN I Tanjung Pandan is dominated by two leadership styles, namely democratic and charismatic leadership styles. However, from the two styles, the most dominant one carried out daily is the style of democratic leadershipIn other words, the leadership style is flexible based on the interests that must be implemented. Sometimes it uses a paternalistic management style and sometimes also uses open management. This is in accordance with Hasibuan stating that the management style can be divided into first management father (Paternalistic management), both closed management (closed management), third open management (open management), fourth democratic management (democratic management). Abstrak Berdasarkan hasil Observasi dan wawancara peneliti implementasi manajemen kepemimipinan di MAN I Tanjung Pandan dapat dikategorikan dalam dua hal. Adapun kedua kategori itu yaitu: Pertama, manajemen kepemimpinan yang dilihat dari aspek gaya memeimipinnya. Kedua, manajemen kepemimpinan yang dilihat dari aspek yang dipimpinnya. Implementasi pada aspek pertama yang menjadi aktor utamanya adalah Kepala Sekolahsedangkan pada aspek kedua yang menjadi aktor utamanya adalah para wakil kepala sekolah, para guru, para staf dan para siswa MAN I Tanjung Pandan. Gaya kepemimipinan yang dilaksanakan di MAN I Tanjung Pandan didominasi oleh dua gaya kepemimipinan yaitu gaya kepemimpinan demokratis dan kharismatis. Namun demikian dari kedua gaya tersebut yang paling dominan dilaksnakan sehari-hari adalah gaya kepemimpinan demokratis. Dengan kata lain, gaya kepemimipinannya fleksibel berdasarkan kepentingan yang harus dilaksanakan. Kadang-kadang menggunakan gaya paternalistik management dan terkadang juga menggunakan open managamant. Hal ini sesuai dengan Hasibuan menyatakan gaya menejemn dapat dibedakan atas: pertama manjemen bapak ( Paternalistik managamant), kedua manajemen tertutup ( closed managamant), ketiga manajemen terbuka (open managamant), keempat manajemen demokrasi ( democration managamant)