cover
Contact Name
Matthew Hansel
Contact Email
matthew.hansel@uph.edu
Phone
+62215640901
Journal Mail Official
jurnalsenimusik@uph.edu
Editorial Address
Jurusan Seni Musik - Fakultas Ilmu Seni Universitas Pelita Harapan Lippo Karawaci, Tangerang 15811 Indonesia
Location
Kota tangerang,
Banten
INDONESIA
Jurnal SENI MUSIK
ISSN : 18298990     EISSN : 25805371     DOI : 10.19166
Core Subject :
Jurnal SENI MUSIK is a scholarly journal published by the Conservatory of Music, University of Pelita Harapan. This journal aims to accommodate any scientific articles about music, music performance and history, audio and recording, music industry, music composition analysis, music therapy, and music education. It is published in May and October.
Arjuna Subject : -
Articles 70 Documents
Implementasi Media Pembelajaran MuseScore untuk Meningkatkan Kemampuan Membaca Notasi Balok Siswa Kelas VII di SMP Strada Santa Anna [The Implementation of Musescore as Instructional Media to Improve Seventh-Grade Students’ Music Notation Reading Skills at SMP Strada Santa Anna] Esther Febiola; Jane Andreas Djie
Jurnal SENI MUSIK Vol. 14 No. 1 (2022): Jurnal SENI MUSIK
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/jsm.v14i1.5310

Abstract

In contemporary music teaching, music teachers utilize instructional media to heighten students’ musical abilities, such as the students’ ability to read music notation. In learning music notation itself, there are various music notation software applied to optimize students’ music learning - one of them is MuseScore. MuseScore is a free music notation software that is implemented in various contexts, such as in schools, music courses, choirs, orchestras, and others. Unfortunately, there were limited studies in Indonesia that have already examined MuseScore as a music instructional media in the classroom. This research aims to analyze MuseScore's implementation as instructional media and its capability to improve music notation reading skills of seventh-grade students at SMP Strada Santa Anna. This research method is classroom action research. The researcher conducted pre-test and post-test on the variable and control classes. The classroom research was carried out in three meetings, with a duration of 90 minutes for each meeting. After conducting pre-test and post-test, the two results were analyzed and investigated to determine the average scores of both classes, the score improvements, and their percentages. The data analysis results showed that the implementation of MuseScore as a music instructional media could improve the music notation reading skills of seventh-grade students. These results indicated that the increase in average score percentage is higher on the variable class students, which is 18.07% compared to 10.02% for the control class students. Bahasa Indonesia Abstract:Pada pengajaran musik era kontemporer, guru seni musik memanfaatkan media pembelajaran guna meningkatkan kemampuan bermusik pada siswa, seperti kemampuan membaca notasi balok. Dalam pembelajaran notasi balok sendiri, terdapat berbagai media pembelajaran dengan perangkat lunak notasi musik yang dapat mengoptimalkan pembelajaran musik - salah satunya adalah MuseScore. MuseScore adalah perangkat lunak notasi balok yang gratis dan dapat digunakan di berbagai konteks seperti sekolah, kursus musik, paduan suara, orkestra, dan lain-lain. Sayangnya, masih sedikit penelitian yang mengkaji MuseScore sebagai media pembelajaran musik di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan media pembelajaran MuseScore dan dampaknya terhadap perubahan kemampuan membaca notasi balok siswa kelas VII di SMP Strada Santa Anna. Metode penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Peneliti melakukan pre-test dan post-test pada kelas variabel dan kontrol. Tindakan dilakukan sebanyak tiga kali pertemuan, dengan durasi 90 menit pada setiap pertemuannya. Setelah melaksanakan pre-test dan post-test, kedua hasil tersebut dianalisis dan diselidiki untuk mengetahui nilai rata-rata yang didapat pada kedua kelas, peningkatan nilai, dan persentase peningkatan nilai. Berdasarkan hasil analisis data, penerapan media pembelajaran MuseScore dapat meningkatkan kemampuan membaca notasi balok siswa kelas VII. Hasil tersebut menunjukkan bahwa persentase peningkatan nilai rata-rata siswa kelas variabel lebih tinggi daripada kelas kontrol, yaitu 18,07% untuk kelas variabel dan 10,02% untuk kelas kontrol.In contemporary music teaching, music teachers utilize instructional media to heighten students’ musical abilities, such as the students’ ability to read music notation. In learning music notation itself, there are various music notation software applied to optimize students’ music learning - one of them is MuseScore. MuseScore is a free music notation software that is implemented in various contexts, such as in schools, music courses, choirs, orchestras, and others. Unfortunately, there were limited studies in Indonesia that have already examined MuseScore as a music instructional media in the classroom. This research aims to analyze MuseScore's implementation as instructional media and its capability to improve music notation reading skills of seventh-grade students at SMP Strada Santa Anna. This research method is classroom action research. The researcher conducted pre-test and post-test on the variable and control classes. The classroom research was carried out in three meetings, with a duration of 90 minutes for each meeting. After conducting pre-test and post-test, the two results were analyzed and investigated to determine the average scores of both classes, the score improvements, and their percentages. The data analysis results showed that the implementation of MuseScore as a music instructional media could improve the music notation reading skills of seventh-grade students. These results indicated that the increase in average score percentage is higher on the variable class students, which is 18.07% compared to 10.02% for the control class students.
An Overview of Schubert's 21 Piano Sonatas [Sekilas akan 21 Piano Sonata oleh Schubert] Mario Santoso
Jurnal SENI MUSIK Vol. 12 No. 2 (2020): Jurnal SENI MUSIK
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/jsm.v12i2.5317

Abstract

Banyak komposer di Eropa tertarik dalam menulis piano sonata antara tahun 1750 sampai dengan 1850, dari Johann Christian Bach sampai ke Wolfgang Amadeus Mozart, dimana mereka menulis dengan jumlah sangat banyak. Tetapi, Joseph Haydn semakin tidak tertarik dalam menulis piano sonata dalam 20 tahun terakhir hidupnya, dan mengalihkan perhatiannya ke penulisan piano trio; hal serupa dengan Mozart dalam penulisan piano konserto; begitu juga Beethoven, dimana ia tidak menulis piano sonata pada tujuh tahun terakhir hidupnya. Franz Schubert (1797-1828), yang sering kali kurang mendapatkan penghargaan serupa), menulis jumlah karya vokal dan instrumental yang hampir seimbang, walaupun kecepatan menulisnya lebih lambat pada karya instrumentalnya. 21 piano sonatanya ditulis dengan proses eksperimentasi luar biasa, yang menggambarkan kehidupannya yang penuh perjuangan melawan sipilis dan kesulitan lainnya, seperti yang ia tuliskan ke temannya Leopold Kupelwieser pada tahun 1824, bahwa ia merasa sebagai makhluk yang paling tidak senang dan malang di dunia. Banyak dari karya piano sonata ini bahkan tidak selesai untuk berbgaai macam alasan. Penulis menilai 21 karya ini sebagai komposisi yang sangat luar biasa, yang menggambarkan perjalanan hidup Schubert yang singkat, namun luar biasa. Tujuan dari penulisan ini adalah untuk mempresetasikan gambaran keseluruhan akan piano sonata dari Schubert, yang ditulis antara tahun 1815-1828. The history of piano sonatas between 1750s-1850s is of particularly interest for composers during the time. Composers from Johann Christian Bach to Wolfgang Amadeus Mozart wrote several magnificent sonatas which are commonly performed in recitals. Nevertheless, Joseph Haydn became increasingly preoccupied with the piano trio; Mozart with piano concerto; Ludwig van Beethoven with no piano sonatas written during the last seven years of his life. On the other hand, Franz Schubert (1797-1828) wrote vocal and instrumental music that were almost equal, although the pace was more slowly in instrumental writing. Schubert’s piano sonatas, written with so much value of experimentation, reveal constant struggles and difficulties with his illness for many years, as he lamented to his long friend Leopold Kupelwieser in 1824 to be the most “unhappy” and “wretched” creature in the world. Many of these numbers are not even complete for various reasons. I value the writing of the 21 piano sonatas to be powerfully and extraordinarily personal that describes his rather short life journeys, yet splendidly. The purpose of this writing is to present an overview of Schubert’s complete piano sonatas written during 1815-1828.
Analisis Kebutuhan Pelatihan Organis Gereja dalam Mengiringi Misa di Gereja Katolik XYZ [Analysis of Church Organists Training Needs in Accompanying Mass at XYZ Catholic Church] Sara Lorin Hernadi
Jurnal SENI MUSIK Vol. 14 No. 1 (2022): Jurnal SENI MUSIK
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/jsm.v14i1.5327

Abstract

Gereja Katolik memelihara tradisi musik gereja dengan menggunakan organ sebagai alat musik dalam mengiringi misa. Hal tercantum dalam berbagai dokumen resmi Gereja Katolik. Gereja Katolik XYZ sebagai bagian dari Gereja Katolik di Keuskupan Agung Jakarta ikut memelihara tradisi musik gereja tersebut. Pelatihan organis dilakukan untuk meningkatkan kompetensi para organis di Gereja Katolik XYZ dalam mengiringi misa. Agar dapat mengetahui program pelatihan yang tepat dan sesuai sasaran, dibutuhkan suatu penilaian akan kebutuhan pelatihan.  Penelitian ini hanya terbatas kepada pengkajian masalah berdasarkan analisis penilaian kebutuhan pelatihan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik wawancara, angket (kuesioner) dan dokumentasi. Wawancara dilakukan bersama dengan anggota sub-sie musik liturgi, dokumentasi didapatkan dari buku-buku dan dokumen-dokumen gereja, dan angket (kuesioner) kepada dirigen paduan suara dan organis. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa data-data yang diperoleh baik dari sub-sie musik liturgi, dirigen paduan suara, dan organis memiliki hasil yang tidak berbeda. Organis di Gereja Katolik XYZ sebagai petugas liturgi sudah mengetahui dan dapat mendefinisikan kompetensi dan keterampilan yang dituntut untuk dimiliki sebagai organis. The Catholic Church maintains the tradition of church music by using the organ as a musical instrument to accompany mass. It is stated in various official documents of the Catholic Church. XYZ Catholic Church as part of the Catholic Church in the Archdiocese of Jakarta participates in maintaining the church's musical tradition. The organist training was conducted to improve the competence of the organists at the XYZ Catholic Church in accompanying the mass. In order to find out which training program is right and on target, an assessment of training needs is needed. This research is limited to problem assessment based on training needs assessment analysis. This study uses a descriptive qualitative approach. Data was collected using interview techniques, questionnaires, and documentation. Interviews were conducted with members of the liturgical music department, documentation was obtained from church books and documents, and a questionnaire to the choir director and organist. The results of the study revealed that the data obtained from the liturgical music department, choir directors, and organists had no different results. Organists at XYZ Catholic Church as liturgical officers already know and can define the competencies and skills required to be possessed as an organist.
Penerapan Pendekatan Orff-Schulwerk untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa dengan Autism Spectrum Disorder (ASD) dalam Pembelajaran Instrumen Ritmis Sederhana [The Implementation of Orff-Schulwerk Approach to Enhance Students with Autism Spectrum Disorder (ASD) Learning Outcomes in Simple Rhythmic Instrument Learning] Arnold Niclats Katilik; Jane Andreas Djie
Jurnal SENI MUSIK Vol. 18 No. 1 (2026): Jurnal SENI MUSIK
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/jsm.v18i1.5335

Abstract

Autism Spectrum Disorder (ASD) is a disorder that involves the cognitive, emotional, behavioral, social areas. This is caused by a gradual decline in cognitive abilities. The existence of children with ASD crucially requires special attention, instead of being shunned and even ostracized. In the learning of children with ASD, music learning can contribute significantly to their changes and development. This music learning can be learned through playing simple rhythmic instruments. In learning simple rhythmic instruments for children with ASD, one approach that can be used is the Orff-Schulwerk approach. The purpose of this study was to analyze the implementation of the Orff-Schulwerk approach to enhance students with ASD learning outcomes in simple rhythmic instruments lessons. This study uses a Classroom Action Research (CAR) approach, as it focuses on the analysis to determine whether the Orff approach can be the suitable approach in improving students with ASD learning outcomes through simple rhythmic instruments. This research was conducted for 8 weeks at the Special Education Special Service (PKLK) Growing Hope, Bandar Lampung. The results of this study were an increase in the development of students with ASD after being exposed to the Orff-Schulwerk approach. The analysis results of this study can provide insight to parents, teachers, and institutions that deal with children with ASD so they can provide the appropriate music lessons that suit their needs. Bahasa Indonesia Abstract:Autism Spectrum Disorder (ASD) merupakan gangguan yang meliputi area kognitif, emosi, perilaku, dan sosial. Hal tersebut disebabkan oleh terjadinya penurunan kemampuan kognisi secara bertahap. Keberadaan dari anak-anak dengan ASD ini sangat membutuhkan perhatian khusus, bukan dijauhi bahkan dikucilkan. Pelajaran yang sangat menunjang perubahan dan perkembangan anak-anak dengan ASD adalah pelajaran musik. Pelajaran musik yang diberikan dapat berupa memainkan instrumen ritmis sederhana. Dalam pembelajaran instrumen ritmis sederhana pada anak dengan ASD, salah satu pendekatan yang dapat digunakan adalah pendekatan Orff-Schulwerk. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis penerapan pendekatan Orff-Schulwerk untuk meningkatkan hasil belajar siswa dengan (ASD) dalam pembelajaran instrumen ritmis sederhana. Penelitian ini menggunakan pendekatan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) karena berfokus kepada analisis untuk mengetahui apakah pendekatan Orff dapat menjadi pendekatan yang tepat dalam meningkatkan hasil belajar siswa dengan ASD melalui instrumen ritmis sederhana. Penelitian ini berserta observasi dilakukan selama 8 minggu di Pendidikan Khusus Layanan Khusus (PKLK) Growing Hope. Hasil dari penelitian ini adalah terjadi peningkatan perkembangan pada siswa dengan ASD setelah diberi pembelajaran dengan pendekatan Orff-Schulwerk.
Studi Aspek Perseptual Pada Disain Ulang Bunyi Film Satria Heroes Jack Arthur Simanjuntak; Sandhya Widhinugraha
Jurnal SENI MUSIK Vol. 18 No. 1 (2026): Jurnal SENI MUSIK
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/jsm.v18i1.5336

Abstract

Studi ini bertujuan mengidentifikasi aspek perseptual partisipan terhadap disain ulang bunyi dan foley film Satria Heroes. Eksperimen dilakukan dengan mendisain ulang efek bunyi dan foley suatu cuplikan film yang pada studi awal penelitian ini ditemukan bahwa terdapat beberapa kekurangan disain bunyi terutama dalam hal bagaimana menghasilkan emosi pada skena tertentu. Unsur efek bunyi dan foley pada cuplikan film terpilih dibuat ulang dengan teknik disain orisinil maupun melalui perpustakaan bunyi untuk diujikan pada dua kelompok partisipan ahli dan non-ahli dengan total partisipan 32 orang. Pendekatan kualitatif dengan menggunakan kuesioner berskala Likert digunakan untuk mengukur opini, kesukaan personal, dan persepsi partisipan. Studi ini menunjukan bahwa pada adegan yang intens seperti peperangan, perkelahian dan adegan yang banyak menggunakan elemen sihir sangat memerlukan kualitas efek bunyi dan foley yang baik. Hal ini berdampak pada emosi yang dipersepsikan partisipan ketika menyaksikan skena film dengan tingkat intensitas yang tinggi. Temuan ini mengimplikasikan bahwa identifikasi bunyi khas karakter utama dan elemen musik penting untuk studi lebih lanjut penelitian serupa.
Analisis Perbandingan Konten Harmonik Perangkat Keras dan Perangkat Lunak Kompresor Tipe FET “1176" di Frekuensi Fundamental 100 Hz [Comparative Analysis of Hardware and Software Harmonic Content Compressor FET Type “1176” at Fundamental Frequency 100 Hz] Kevin Leonardo; Kevin Rosendo
Jurnal SENI MUSIK Vol. 14 No. 1 (2022): Jurnal SENI MUSIK
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/jsm.v14i1.5343

Abstract

Compressor is a tool used to reduce the dynamics of a sound. In its development, many types appeared and one of the most famous is the "1176" FET type. This type uses a transistor as a signal-reading sensor which produces fast attack and release times and rich harmonic content. The purpose of this study was to analyze the harmonic content produced by both hardware and software on the FET type "1176" audio compressor. The research method used is measurement-based quantitative. Warm Audio WA76 hardware was used as a reference, and the frequency content was compared against 13 “1176” FET-based software. The results of harmonic content are grouped into four groups. These groups are assigned based on the occurrence of the harmonics; (1) has odd-even harmonics such as the WA76 device at 100 Hz and 1000 Hz fundamental frequencies, (2) has odd-even harmonics such as the WA76 device only at 100 Hz fundamental frequency, (3) only odd harmonic frequencies appear, (4) content harmonics that are not the same as WA76. This study shows that no software contains the same harmonic content as hardware. It is hoped that this research can be a reference for sound engineers in choosing the “1176” compressor according to the context at hand. Bahasa Indonesia Abstract:Kompresor merupakan alat yang digunakan untuk mengurangi dinamika suatu bunyi. Dalam perkembangannya muncul banyak tipe dan salah satu yang paling terkenal adalah tipe FET “1176”. Tipe ini menggunakan transistor sebagai sensor pembaca sinyal yang menghasilkan waktu serang dan lepas yang cepat serta konten harmonik yang kaya. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis konten harmonik yang dihasilkan baik perangkat keras maupun lunak pada kompresor audio tipe FET “1176”. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif berbasis kepada pengukuran. Perangkat keras yang digunakan sebagai referensi adalah Warm Audio WA76, dan membandingkannya dengan 13 perangkat lunak berbasis FET “1176”. Hasil konten harmonik dikelompokkan menjadi empat kelompok. Kelompok ini diberikan berdasarkan kemunculan harmonik; (1) mirip dengan perangkat WA76 di frekuensi fundamental 100 Hz dan 1000 Hz, (2) mirip dengan perangkat WA76 di frekuensi fundamental 100 Hz, (3) mirip dengan perangkat WA76 di pada konten harmonik ganjil saja, (4) konten harmonik yang tidak mirip baik ganjil maupun genap. Meskipun demikian, pada penelitian ini dapat ditarik kesimpulan bahwa tidak ada yang memiliki konten harmonik yang sama baik perangkat keras maupun lunak. Hal diduga karena pengembangan yang dilakukan berbeda sesuai dengan keinginan dari pengembang.
Peran Media Sosial YouTube dan Pemanfaatannya Dalam Pembelajaran Musik [The Role of Social Media Through the Use of Youtube and Its Implementation in Music Learning] Febie Devina; Dhany Yufisa Wibowo
Jurnal SENI MUSIK Vol. 18 No. 1 (2026): Jurnal SENI MUSIK
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/jsm.v18i1.5380

Abstract

The purpose of this study is to understand the role of social media through the use of Youtube, which can be used in music learning. This study uses a descriptive qualitative method with data sources obtained from interviews. Interviews were conducted with four sources from different countries who use Youtube as a medium for sharing information and knowledge of music learning. Based on the data analysis conducted, it was found that music learning using Youtube can complement music learning in the classroom. Youtube still cannot replace the position of teachers as educators because the material and explanations are not necessarily factually correct. Music learning with teachers’ guidance is still more optimal to minimize student misunderstandings in learning a material. Learning music using Youtube can be done by anyone without any age limit. However, students with age of 12 years and over can feel more benefits of learning using Youtube because they are able to learn independently, according to Piaget's theory of cognitive development. Bahasa Indonesia AbstractPenelitian ini bertujuan untuk memahami peran media sosial melalui penggunaan YouTube yang dapat dimanfaatkan sebagai sarana pembelajaran musik. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan sumber data yang diperoleh dari hasil wawancara. Wawancara dilakukan terhadap empat narasumber dengan  asal negara berbeda yang menggunakan YouTube sebagai media dalam berbagi informasi dan pengetahuan pembelajaran musik. Berdasarkan analisis data yang dilakukan, ditemukan bahwa pembelajaran musik dengan pemanfaatan YouTube dapat menjadi pelengkap pembelajaran musik di dalam kelas. YouTube masih belum dapat menggantikan posisi guru sebagai tenaga pendidik, karena materi dan penjelasan belum tentu benar secara faktual. Pembelajaran musik dengan guru masih lebih optimal, agar dapat meminimalisir terjadinya kesalahpahaman murid dalam mempelajari sebuah materi. Belajar musik dengan pemanfaatan YouTube dapat dilakukan oleh siapa saja tanpa adanya batasan usia, namun usia 12 tahun ke atas akan lebih dapat merasakan manfaat belajar menggunakan YouTube karena mereka telah dapat belajar secara mandiri, sesuai dengan teori perkembangan kognitif Piaget.
Analisis Perbandingan Konten Harmonik Perangkat Keras dan Perangkat Lunak Kompresor Tipe FET “1176" di Frekuensi Fundamental 1000 Hz [Comparative Analysis of Hardware and Software Harmonic Content Compressor FET Type “1176” at Fundamental Frequency 1000 Hz] Kevin Leonardo; Kevin Rosendo
Jurnal SENI MUSIK Vol. 14 No. 1 (2022): Jurnal SENI MUSIK
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/jsm.v14i1.5391

Abstract

The compressor in the audio has a function to reduce the dynamics of the sound and add character through the addition of harmonics. One of the well-known audio compressors is the “1176” FET type which was re-engineered both software and hardware. This study aims to analyze the characteristics of the Warm Audio WA76 hardware and 13 software engineered from the "1176" FET. Its method is a measurement using a sinusoidal signal at 1000 Hz to see the characteristics of each device at a medium to high frequency. Each software is compared with hardware and the results are grouped into 4 groups; (1) similar to the WA76 device at 100 Hz and 1000 Hz fundamental frequencies, (2) similar to the WA76 device at 1000 Hz fundamental frequency but different at 100 Hz, (3) similar to the WA76 device in odd harmonic content only, and (4) unequal harmonic content is neither odd nor even. The study found that nothing is exactly the same on both devices and when compared to the WA76 hardware. This indicates that although it is said to have a “1176” FET topology, it requires further attention especially for sound engineers in selecting the device. Bahasa Indonesia Abstract:Kompresor pada audio memiliki fungsi untuk mengurangi dinamika bunyi dan menambahkan karakter lewat penambahan harmonik. Salah satu kompresor audio yang terkenal adalah tipe FET “1176” yang direkayasa ulang baik secara perangkat lunak dan perangkat keras. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik perangkat keras Warm Audio WA76 serta 13 perangkat lunak yang merupakan hasil rekayasa dari FET “1176”. Metode yang digunakan berupa pengukuran menggunakan sinyal sinusoidal pada 1000 Hz untuk melihat karakteristik tiap perangkat pada frekuensi menengah sampai frekuensi tinggi. Tiap perangkat lunak dibandingkan dengan perangkat keras dan hasilnya dikelompokkan menjadi 4 kelompok; (1) mirip dengan perangkat WA76 di frekuensi fundamental 100 Hz dan 1000 Hz, (2) mirip dengan perangkat WA76 di frekuensi fundamental 1000 Hz namun berbeda pada 100 Hz, (3) mirip dengan perangkat WA76 pada konten harmonik ganjil saja, dan (4) konten harmonik yang tidak mirip baik ganjil maupun genap. Namun hasil penelitian ini mengemukakan bahwa tidak ada yang benar-benar sama baik tiap-tiap perangkat maupun bila dibandingkan dengan perangkat keras WA76. Maka tiap-tiap perangkat memiliki keunikan sesuai dengan pengembangnya.
The Cross-Cultural Transmission of Martin Luther’s Ein feste Burg ist unser Gott into Indonesia Local Congregation Contexts [Transmisi Menyeberang Budaya Lagu Himne Ein feste Burg ist unser Gott karya Martin Luther ke dalam Konteks Gereja Lokal di Indonesia] Antonius Priyanto
Jurnal SENI MUSIK Vol. 13 No. 2 (2021): Jurnal SENI MUSIK
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/jsm.v13i2.5490

Abstract

Adopting hymns from their original language into the local language is a daunting and challenging process. One of the problems that need to be tackled is the different social and cultural contexts that give significance to the adopted hymn. Martin Luther’s hymn Ein feste Burg ist unser Gott is socially and politically rooted in the historic 16th-Century church Reformation. The hymn has been translated into countless languages and cultural contexts as the idea of reformation spread worldwide through Protestantism. Using an Ethnographic method through direct participation, this research aims to study the transmission of Martin Luther’s hymn Ein feste Burg ist unser Gott from the 16-Century Reformation context into current Indonesian local churches contexts. The analysis of text, contexts, and singing activity shows the shifting of nuance and contextual meaning as the song is sung in the Indonesian local churches. However, there is an unchanging, timeless truth the hymn carries even though it is embodied in a different local congregation context. Bahasa Indonesia Abstract:Pengadopsian lagu-lagu hymnal berbahasa asing ke dalam bahasa lokal merupakan proses yang pelik dan menantang. Salah satu permasalahan yang harus diatasi berakar pada perbedaan konteks sosial budaya yang berperan penting dalam membentuk pemaknaan dari lagu yang diadopsi. Lagu hymne karya Martin Luther Ein feste Burg ist unser Gott memiliki akar historis yang lekat dengan konteks sosial dan politik jaman reformasi gereja di abad ke-16. Lagu tersebut telah diterjemahkan ke dalam berbagai konteks gereja lokal di seluruh dunia sejalan dengan tersebarnya ide reformasi dan aliran Protestan. Dengan menggunakan metode Ethnography melalui partisipasi langsung, penelitian ini menyelidiki proses transmisi lagu Ein feste Burg ist unser Gott dari konteks Reformasi abad-16 ke dalam konteks gereja lokal di Indonesia saat ini. Melalui penelaahan teks, konteks, dan aktifitas bernyanyi ditemukan adanya pergeseran nuansa lagu dan pemaknaan kontekstual lagu dalam konteks kehidupan jemaat gereja lokal di Indonesia. Namun demikian, ditemukan adanya kebenaran hakiki yang tidak berubah walaupun lagu hymne Ein feste Burg ist unser Gott dihidupi dalam konteks jemaat yang berbeda-beda.
The Lack of Philosophy in Interpreting a Musical Score and Integrating It to a Creative Performance within Overall Indonesia’s Piano Education [Kurangnya Filosofi dalam Menginterpretasi Partitur Musik dan Mengintegrasikannya ke dalam Pertunjukan Kreatif dalam Pendidikan Piano di Indonesia Secara Keseluruhan] Mario Santoso
Jurnal SENI MUSIK Vol. 13 No. 1 (2021): Jurnal SENI MUSIK
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/jsm.v13i1.5873

Abstract

Abstract:Although piano education in Indonesia has grown significantly for the past 15 years, however, many students seem struggle with integrating philosophy as a mean of interpretation that causes lack of originality in their playing. Fundamentally, there are two problems: the focus on perfection of notes and the technical standards; and the mindset that a performance somewhat has an absolute truth, therefore, students are afraid of creatively surpassing or going beyond the vision of the composer. As a result, it is rare to see individual voices today in a performance; many good playing unfortunately become one-dimensional. Based on my 14-year university teaching, the cause to this uncreative performance is the lack of profound philosophical teaching that underlines the originality and authenticity of the students. The purpose of this writing is to describe the philosophical foundations that I summarize during my music studying and teaching career that are necessary to interpret a musical score; hence, the process of interpretation is different and the meaning we derive from the music will vary. The research methods include descriptions of the teaching from my previous professors regarding interpretation and performance; and discussion of my teaching experience with my selected students of various ages and backgrounds, whom I have worked closely for at least three years. Abstrak Bahasa Indonesia:Walaupun pendidikan piano di Indonesia telah berkembang pesat dalam 15 tahun terakhir, tetapi masih banyak murid yang masih belum sepenuhnya mengintegrasikan filosofi untuk menghasilkan interpretasi individual mereka, sehingga menyebabkan kurangnya orisinalitas dalam permainan mereka. Pada dasarnya terdapat dua masalah akan fenomena ini: fokus mereka pada kesempurnaan not dan teknik; dan pola pikir bahwa suatu pertunjukan hanya memiliki satu kebenaran mutlak; oleh karena itu, murid takut secara kreatif melampaui atau melampaui visi sang komposer. Akibatnya, jarang terlihat dan terdengar suara individu sang murid dalam sebuah pertunjukan; banyak permainan bagus sayangnya menjadi menjadi satu dimensi saja. Berdasarkan pengalaman mengajar penulis selama 14 tahun di level universitas, akar dari masalah ini adalah kurangnya filosofi berpikir dan mengajar yang mengutamakan interpretasi yang orisinal dan otentik dari seorang murid. Tujuan dari penulisan ini adalah untuk memberikan fondasi filosofis yang penulis pelajari selama karir studinya di Amerika untuk dapat menginterpretasi sebuah partitur musik; proses interpretasi dan pengertian bermusik dari setiap murid pasti berbeda. Metode penelitian meliputi deskripsi pengajaran dari profesor saya sebelumnya mengenai interpretasi dan pertunjukan musik; dan diskusi tentang pengalaman mengajar saya dengan murid pilihan saya dari berbagai usia dan latar belakang, yang telah bekerja sama dengan saya selama setidaknya tiga tahun.