cover
Contact Name
Matthew Hansel
Contact Email
matthew.hansel@uph.edu
Phone
+62215640901
Journal Mail Official
jurnalsenimusik@uph.edu
Editorial Address
Jurusan Seni Musik - Fakultas Ilmu Seni Universitas Pelita Harapan Lippo Karawaci, Tangerang 15811 Indonesia
Location
Kota tangerang,
Banten
INDONESIA
Jurnal SENI MUSIK
ISSN : 18298990     EISSN : 25805371     DOI : 10.19166
Core Subject :
Jurnal SENI MUSIK is a scholarly journal published by the Conservatory of Music, University of Pelita Harapan. This journal aims to accommodate any scientific articles about music, music performance and history, audio and recording, music industry, music composition analysis, music therapy, and music education. It is published in May and October.
Arjuna Subject : -
Articles 70 Documents
The Implementation of Voice Exercises for the Occupational Voice Users in Indonesia [Penerapan Latihan Vokal untuk Pengguna Suara Okupasi di Indonesia] Josephine Polim
Jurnal SENI MUSIK Vol. 12 No. 2 (2020): Jurnal SENI MUSIK
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/jsm.v12i2.4796

Abstract

Latihan vokal adalah salah satu komponen penting didalam pelatihan vokal sebagai pegguna suara profesional. Latihan suara bermanfaat untuk memperkuat suara serta membentuk produksi vokal dengan baik. Namun sebagai pengguna suara okupasi atau non profesional, informasi mengenai teknik dan pelatihan vokal sangat jarang sekali di dapatkan khususnya di Indonesia. Artikel ini akan mengupas tentang pentingnya akan latihan vokal dan penerapan latihan vokal untuk pengguna suara non profesional serta beberapa contoh latihan vokal untuk menghindari hilangnya suara pada saat bekerja. Voice exercises are part of important training for the professional voice users. The voice exercises are meant for conditioning and to achieve good voice production. The occupational voice users especially in Indonesia however, hardly received any training concerning voice and speech production to avoid the risk of voice loss in their occupation. This paper will elaborate the importance and benefit of the Implementation of voice exercises for the occupational voice users with some elaborate example of voice exercises.
Meningkatkan Kualitas Musik Ibadah Melalui Pemahaman dan Pelatihan Pemandu Pujian Komisi Remaja GKI Kayu Putih [Developing the Quality of Church Music through Increased Understanding and Training Singers in Youth Group GKI Kayu Putih] Delicia Mandy Nugroho; Yemima Charista
Jurnal SENI MUSIK Vol. 12 No. 2 (2020): Jurnal SENI MUSIK
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/jsm.v12i2.4797

Abstract

Music plays an important role in church, as it affects the mind of the congregation during worship. As a result, singers, worship leaders, and musicians play an important part in the liturgy. GKI Kayu Putih has youth singers that are still new to the service, worship, and concept of ministry. The goal of this paper is to enhance the quality of singers through knowledge of who God is and what is worship, while also giving them practical advice on how to develop their singing technique. The singers were asked to fill out a questionnaire before and after the research was done. After two sessions, the singers are able to have a better concept of worship, ministry, and demonstrate a higher ability in singing with emotion and correct interpretation for different genres of songs. Musik memiliki peran yang penting dalam gereja karena memengaruhi pikiran jemaat ketika beribadah. Hasilnya, para penyanyi, liturgos, dan musisi memainkan posisi yang penting dalam liturgi. GKI Kayu Putih memiliki pemandu pujian di komisi remaja yang masih baru terhadap gereja, arti penyembahan, dan konsep pelayanan yang benar. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk meningkatkan kualitas musik ibadah melalui pemahaman yang tepat mengenai Allah dan arti dari penyembahan yang benar serta saran praktis dalam memperbaiki kualitas mereka bernyanyi. Jumlah responded adalah 14 pemandu pujian, yang mengikuti pemaparan mengenai arti penyembahan dan workshop cara memandu nyanyian yang benar. Hasil eksperimen menunjukkan bahwa setelah dua sesi, para pemandu pujian mampu memperlihatkan konsep yang benar mengenai penyembahan, pelayanan, dan kemampuan yang baik dalam bernyanyi dengan emosi dan interpretasi yang benar.
Evaluasi Efektivitas Penggunaan Teknik Perekaman Engaged Filming dalam Sesi Terapi Musik dengan Lansia di Universitas Pelita Harapan [Evaluation of the Effectiveness of Using Engaged Filming Recording Technique in Music Therapy Sessions with the Elderly at Universitas Pelita Harapan] Theresia Dorothy; Olivia Evelin Sundari
Jurnal SENI MUSIK Vol. 12 No. 2 (2020): Jurnal SENI MUSIK
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/jsm.v12i2.4798

Abstract

Video recording of music therapy sessions holds an important role in helping music therapists evaluate their sessions. The purpose of this research is to evaluate the effectivity of engaged filming in recording music therapy sessions, especially during the evaluation process. This research compares two video recorded sessions using engaged filming on the fourth sessions, and unmanned camera on the fifth sessions. Three UPH Music Therapy students participate in this research, in which all participants work with senior clients.  Questionnaires are distributed to participants in order to analyze their perspectives on the effectiveness of both recording techniques. By comparing both videos, this research analyzes the strengths and weaknesses of each recording technique. This research uncovers that engaged filming is able to capture details of the clients' facial expressions and body movements compared to unmanned camera. However, this research also discovers the inflexibility use of engaged filming, especially in recording psychoanalysis-based sessions. Rekaman video sesi terapi musik memiliki peran penting dalam proses terapi musik. Tujuan dari penelitian ini adalah mengevaluasi peran teknik perekaman video engaged filming, khususnya dalam proses evaluasi sesi terapi musik. Untuk mendapat gambaran yang luas mengenai teknik engaged filming, penelitian membandingkan penggunaan teknik engaged filming dengan teknik unmanned camera terhadap tiga partisipan yang merupakan mahasiswa Terapi Musik di UPH. Penelitian dilaksanakan dengan cara merekam praktik sesi terapi musik partisipan, yakni sesi keempat dengan menggunakan teknik engaged filming dan sesi kelima dengan menggunakan teknik unmanned camera. Setelah membandingkan kedua teknik perekaman video, peneliti menganalisis kelebihan dan kekurangan dari dua teknik perekaman tersebut. Melalui pendekatan kualitatif, penelitian ini bertujuan untuk membuktikan efektivitas dari pengaplikasian teknik perekaman video engaged filming dalam praktik terapi musik dengan lansia, khususnya dari aspek detail ekspresi dan gerakan klien. Penelitian ini menemukan bahwa teknik engaged filming unggul dalam menangkap detail ekspresi dan gerakan klien pada saat sesi terapi musik. Namun, teknik engaged filming hanya efektif digunakan dalam sesi terapi musik dengan pendekatan dan objektif tertentu saja.
A Study of Colin McPhee’s Balinese Ceremonial Music [Studi Karya Balinese Ceremonial Music oleh Colin McPhee ] Teddy Purnama; Olivia Evelin Sundari
Jurnal SENI MUSIK Vol. 12 No. 2 (2020): Jurnal SENI MUSIK
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/jsm.v12i2.4799

Abstract

Komposer musik barat mulai tertarik untuk mengeksplorasi ide eksotik pada abad ke-19, ide akan ketertarikan dengan tempat atau budaya yang asing. Salah satu komposer yang tertarik untuk mengeksplorasi exoticism adalah Colin McPhee, dikenal sebagai komposer barat pertama yang menulis tentang etnomusikologi, khususnya tentang musik Bali. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karya McPhee yang berjudul Balinese Ceremonial Music dengan menggunakan perspektif teori musik barat dan musik gamelan Bali (komposisi, teknik, tuning). Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yang didapatkan dari hasil studi pustaka, analisis musik, dan wawancara dengan spesialis gamelan Bali yang bernama I Wayan Sudiarsa. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa terdapat banyak elemen interlocking (ritmis dan melodis). Selain itu, McPhee mengimitasi tuning dan instrumentasi gamelan Bali di dalam komposisinya. Walaupun terdapat perbedaan yang sangat signifikan dari sisi organologi antara gamelan Bali dan instrumen piano, namun McPhee mengimitasi dan mengilustrasikan musik gamelan Bali ke dalam format piano duo dengan baik. Melalui karya ini, McPhee mempunyai keinginan untuk mengenalkan gamelan Bali kepada masyarakat yang lebih luas. In the late nineteenth century, many western composers became interested in exploring ideas from the exotic lands; one of them was Colin McPhee, whom was considered as the first western composer and ethnomusicologist specializing in Balinese music. He wrote a composition titled Balinese Ceremonial Music for two pianos in 1934-38, and it is my aim to analyze this work by combining the perspectives of both Western tonal harmony and concepts of Balinese gamelan music. The qualitative method is used in this research by collecting information from books, journals, websites, and interviews with I Wayan Sudiarsa, an expert in Balinese gamelan. The Balinese Ceremonial Music shows many gamelan features, such as rhythmic and melodic interlocking, along with the Balinese gamelan tuning (pelog). McPhee clearly showed his intention in introducing the Balinese gamelan music to a broader public. Although the piano and Balinese gamelan ensemble have different organology, the way McPhee imitates and illustrates the gamelan music into the piano is monumental.
Analisis Gaya Bahasa dan Penyiasatan Struktur Lirik Lagu Koes Plus - Sebuah Kajian Stilistika [Analysis of Language Style and the Strategy of Structuring the Song Lyrics by Koes Plus - A Stylistics Study] Abednego Tri Gumono
Jurnal SENI MUSIK Vol. 12 No. 1 (2020): Jurnal SENI MUSIK
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/jsm.v12i1.4847

Abstract

The song has the same characteristics, or similar to the literary works of poetry. In the song, there are elements that are also present in the poem such as sound, language aesthetics, metric, and the same purpose is to express ideas by laying down the language and aesthetics. Thus, the song has a literary element like the poem. In the song, the language aspect plays an important role as a means of presenting ideas and shaping aspects of aesthetics. Among the 953 Koes Plus songs, there are several songs that have language aesthetics and can be the object of the research study. The purpose of this research is to describe the various language styles and structure modification in Koes Plus song lyrics and to highlight the effects and purposes of using the style and structure analysis in Koes Plus song lyrics. The method used in this study is a qualitative research based on textual data with descriptive studies. To obtain data verification, a literature study was conducted that closely related to the research variables. The results show that from the 15 Koes Plus songs studied, the use of language style and structural modification is dominated by personification, metaphor, and hyperbole style. In addition, the lyrics of Koes Plus songs use the euphemism, parallelism, paradox, repetition, and inversion. The use of both aspects is a means for songwriters to achieve the aesthetic aspects and messages that they want to convey to the public. Lagu memiliki karakteristik yang sama atau mirip dengan karya sastra puisi. Di dalam lagu terdapat unsur yang juga terdapat di dalam puisi seperti bunyi, estetika bahasa, metrum, serta tujuan yang sama yaitu untuk mengekspresikan gagasan dengan mengedepankan pemadatan dan estetika bahasa. Dengan demikian, lagu memiliki unsur sastra sebagaimana puisi. Dalam lagu, aspek bahasa memiliki kedudukan penting sebagai sarana penyampaian gagasan dan pembentuk aspek keindahan. Di antara lagu Koes Plus yang berjumlah 953, terdapat sejumlah lagu yang memiliki segi estetika bahasa dan dapat menjadi objek kajian penelitian. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripikan berbagai gaya bahasa dan penyiasatan struktur dalam lirik lagu Koes Plus dan memaparkan efek dan tujuan penggunaan gaya bahasa dan penyiasatan struktur dalam lirik lagu Koes Plus. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif yang mendasarkan kepada data teks tulisan dengan kajian deskriptif.  Untuk memperoleh verifikasi data, dilakukan studi pustaka yang berhubungan erat dengan variabel penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 15 lagu Koes Plus yang diteliti menggunakan gaya bahasa dan penyiasatan struktur yang didominasi gaya personifikasi, metafora, dan hiperbola. Selain itu, lirik lagu-lagu Koes Plus menggunakan eufemisme, paralelisme, paradoks, repetisi, dan inversi. Penggunaan kedua segi tersebut menjadi sarana pencipta lagu dalam mencapai aspek estetika dan pesan yang ingin disampaikan kepada masyarakat.
Pemaparan Pendekatan Bermusik Gerald Situmorang dan Sri Hanuraga Pada Lagu “Hyperreality” [Exposure to Gerald Situmorang and Sri Hanuraga’s Musical Approach to the Song “Hyperreality”] Sri Hanuraga
Jurnal SENI MUSIK Vol. 12 No. 1 (2020): Jurnal SENI MUSIK
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/jsm.v12i1.4848

Abstract

In general, piano and guitar duets in jazz focus on exploring the melody, harmony, rhythm, and interaction between players. It resulted in the duet jazz piano and guitar albums that tend to sound identical. To avoid this, Gerald Situmorang and Sri Hanuraga, in the song “Hyperreality” (from the META album) focused on the exploration of the timbre aspect to enrich their exploration of melody, harmony, and rhythm. This study discusses the musical approach of Gerald Situmorang and Sri Hanuraga in the song “Hyperreality” in terms of melody, harmonization, and rhythm of the song. Moreover, this study also describes the use of prepared piano, guitar effects, and DAW by Gerald Situmorang and Sri Hanuraga in the song “Hyperreality”. Permainan duet piano dan gitar dalam musik jazz umumnya berfokus pada eksplorasi melodi, harmoni, ritme dan interaksi antar pemain. Hal ini mengakibatkan album duet jazz piano dan gitar cenderung berbunyi identik. Untuk menghindari hal itu, Pada lagu “Hyperreality” dari album META Gerald Situmorang dan Sri Hanuraga, Sri Hanuraga dan Gerald Situmorang menitikberatkan eksplorasi mereka kepada aspek timbre untuk memperkaya eksplorasi melodi, harmoni dan ritme mereka. Penelitian ini membahas pendekatan bermusik Gerald Situmorang dan Sri Hanuraga pada lagu “Hyperreality” dalam aspek melodi, harmonisasi dan ritme dari lagu. Selain itu penelitian ini juga akan menjabarkan menjabarkan penggunaan prepared piano, efek gitar dan DAW oleh Gerald Situmorang dan Sri Hanuraga di lagu “Hyperreality”.
Penerapan Model ARCS untuk Meningkatkan Hasil Belajar Kognitif Pada Mata Pelajaran Musik Siswa Kelas VIII SMP XYZ Tangerang [Application of the ARCS Model to Improve Cognitive Learning Outcomes in Music Subjects Class VIII SMP XYZ Tangerang] David Gianfranco Rangga Latjandu
Jurnal SENI MUSIK Vol. 12 No. 1 (2020): Jurnal SENI MUSIK
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/jsm.v12i1.4849

Abstract

Music education in XYZ Junior High School emphasizes the psychomotor domain. As the result, the cognitive domain of student get lesser attention and falls behind. The cognitive learning outcomes of students have not reached their maximum potential, proven by the percentage of passing students that do not meet the standard of 85% of the class. This research aims to improve the cognitive learning outcomes of students by the use of the ARCS model to meet the minimum standard of passing students of the class. Classroom action research is used to solve the issue. The result shows that the use of ARCS in music learning improves the cognitive learning outcomes of grade VIII students in XYZ Junior High School Tangerang. The mean of students’ scores increases from 73,75 to 92,19 and the percentage of the passing student also increases from 66,7% to 96,7% and meets the minimum standard of passing students of the class. Pendidikan musik di SMP XYZ lebih menekankan pada ranah psikomotorik. Akibatnya, ranah kognitif siswa kurang mendapat perhatian dan tertinggal. Hasil belajar kognitif siswa belum mencapai potensi maksimalnya, dibuktikan dengan persentase ketuntasan siswa yang tidak memenuhi standar 85% kelas. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar kognitif siswa dengan menggunakan model ARCS untuk memenuhi standar ketuntasan minimal siswa kelas tersebut. Penelitian tindakan kelas digunakan untuk memecahkan masalah tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan ARCS dalam pembelajaran musik meningkatkan hasil belajar kognitif siswa kelas VIII SMP XYZ Tangerang. Rata-rata nilai siswa meningkat dari 73,75 menjadi 92,19 dan persentase ketuntasan siswa juga meningkat dari 66,7% menjadi 96,7% dan memenuhi standar ketuntasan minimal siswa.
Analisis Hubungan Hasil Belajar Kognitif dengan Hasil Belajar Psikomotor pada Mahasiswa Fakultas Ilmu Seni Program Studi Musik UPH [Analysis of the Relationship between Cognitive Learning Outcomes and Psychomotor Learning Outcomes for Students of the Faculty of Arts, Music Study Program, UPH] Dhany Yufisa Wibowo
Jurnal SENI MUSIK Vol. 12 No. 1 (2020): Jurnal SENI MUSIK
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/jsm.v12i1.4850

Abstract

This research was conducted to see the relationship between cognitive learning outcomes with psychomotor learning outcomes in students at Fakultas Ilmu Seni, Program Studi Musik, Universitas Pelita Harapan. In music learning, cognitive and psychomotor domains are very influential to describe the competencies of students. This research is a quantitative study with a correlational approach. Data collection was obtained from the results of the Music Theory test scores and Major Instrument test scores. The study was conducted on 26 students who were taking Music Theory courses and also the Major Piano Instrument course. The results of this study stated that the relationship between cognitive and psychomotor learning is still relatively low and not significant. The magnitude of the contribution of cognitive learning outcomes was only 11.42% to psychomotor learning outcomes. The results of this conclusion are expected to be a reflection for developing the next curriculum design. Penelitian ini dilakukan untuk melihat hubungan antara hasil belajar kognitif dengan hasil belajar psikomotor pada mahasiswa Fakultas Ilmu Seni, Program Studi Musik Universitas Pelita Harapan. Dalam pembelajaran musik, ranah kognitif dan psikomotor sangat berpengaruh untuk menggambarkan kompetensi siswa. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan korelasional. Pengumpulan data diperoleh dari hasil ujian Teori Musik dan ujian Instrumen Mayor. Penelitian ini dilakukan pada 26 mahasiswa yang sedang mengambil mata kuliah Teori Musik dan juga mata kuliah Instrumen Mayor Piano. Hasil penelitian ini menyatakan bahwa hubungan antara pembelajaran kognitif dan psikomotor masih tergolong rendah dan tidak signifikan. Besarnya kontribusi hasil belajar kognitif hanya 11,42% terhadap hasil belajar psikomotor. Hasil dari kesimpulan ini diharapkan dapat menjadi refleksi untuk pengembangan desain kurikulum selanjutnya.
From Musik Seriosa to Tembang Puitik: A History of Indonesian Art Songs [Dari Musik Seriosa Menuju Tembang Puitik: Sejarah Perkembangan Art Song di Indonesia] Olivia Evelin Sundari
Jurnal SENI MUSIK Vol. 12 No. 1 (2020): Jurnal SENI MUSIK
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/jsm.v12i1.4851

Abstract

Kedatangan orang Eropa di kepulauan Indonesia pada abad ke-16 telah berdampak pada banyak aspek di Indonesia. Dalam aspek musik, kedatangan orang Portugis telah memberi dampak dalam kelahiran musik Keroncong, sedangkan orang Belanda telah membawa lagu dansa populer Eropa ke Indonesia. Pada awal abad ke-20, terbukanya akses terhadap sistem pendidikan bagi orang Indonesia telah berujung pada pergerakan atau perjuangan mencapai kemerdekaan dari pemerintah kolonial Belanda. Pada saat ini, lahirlah komposer Indonesia generasi pertama yang menciptakan karya musik yang bersifat patriotik. Setelah Indonesia merdeka, Radio Republik Indonesia (RRI, stasiun radio pertama di Indonesia) berdiri dan Bintang Radio menjadi salah satu acara terpopuler pada saat itu. Popularitas kontes Bintang Radio telah mendorong kelahiran komposer musik generasi kedua, yang pada umumnya banyak menciptakan lagu vokal yang disebut sebagai Musik Seriosa. Pada abad ke-21, istilah dari lagu vokal klasik (art song) bergeser menjadi Tembang Puitik, dan istilah Musik Seriosa mulai ditinggalkan. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan tentang sejarah umum dari art song di Indonesia, dari Musik Seriosa menuju Tembang Puitik. Penelitian ini pertama-tama menjelaskan tentang sejarah masuknya musik barat dan berdirinya sekolah/akademi musik di Indonesia, yang dilanjutkan dengan studi historis mengenai perkembangan musik modern di Indonesia. Kemudian, melalui studi literatur, karya tulis ini ditutup dengan analisis singkat mengenai istilah art song Indonesia yang telah bergeser, yakni Musik Seriosa dan Tembang Puitik. The arrival of the Europeans in the 16th century at the Indonesian archipelago has influenced many aspects of Indonesia. In music, the Portuguese have influenced the birth of Keroncong music, whereas the Dutch have brought European popular and dance songs to Indonesia. In the early 20th century, access to the education system has somehow led to the sparks of the independence movement. During this era, the first generation of Indonesian composers was born and patriotic songs were composed. After gaining independence, the first radio station in Indonesia, Radio Republik Indonesia (RRI), was established, and the Bintang Radio (Radio Star) became one of the most popular programs. The popularity of Bintang Radio contest has urged the birth of second-generation Indonesian composers, who mostly composed vocal songs, or then called Musik Seriosa. In the 21st century, the term for Indonesian art songs shifted to Tembang Puitik, and the term Musik Seriosa was not as familiar as before. This study aims to uncover the general history of Indonesian art songs, from Musik Seriosa to Tembang Puitik. The paper will firstly elaborate on western music dissemination and the establishments of music academies in Indonesia, followed by a historical study about the development of Indonesian modern music. Then, the paper will conclude with the analysis of the shifting terms, Musik Seriosa and Tembang Puitik, mainly through literature review.
The Use of Music Pattern Imitation Activity in Music Therapy to Improve Short-Term Memory in Patients with Stroke : A Case Study [Studi Kasus Penerapan Kegiatan Imitasi Pola Musik dalam Terapi Musik guna Meningkatkan Kemampuan Memori Jangka Pendek pada Pasien dengan Stroke] Alysia Widjaja; Kezia Karnila Putri
Jurnal SENI MUSIK Vol. 17 No. 2 (2025): Jurnal SENI MUSIK
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/jsm.v17i2.5239

Abstract

Stroke is a medical condition that develops rapidly due to a sudden loss of brain function that lasts for more than 24 hours or more and can cause death. Stroke can cause a decrease in several human functional area depends on the brain damage. One of the area is cognition. Cognitive impairment in patients with stroke can lead to short-term memory loss. In this study, music therapy will be given to stroke patients aged 55-70 years old, who have short-term memory loss. Imitation activities of melodic, rhythms, or combination of the two musical elements was used in sessions. Patients were asked to imitate the music pattern that played by the researcher. This study was conducted by observing the patient’s progress form session to session and comparing the initial and final of Montreal Cognitive Assessment and Digit Span Assessment. The results showed an improvement in short-term memory of the patients through the implementation of ten sessions of music therapy. At the end of session, the patients were able to play longer and more complex musical patterns.   Abstrak in Bahasa Indonesia: Stroke merupakan suatu kondisi yang berkembang pesat akibat adanya tanda- tanda gangguan pada fungsi otak yang berlangsung lebih dari 24 jam atau lebih dan dapat menyebabkan kematian. Stroke dapat menyebabkan penurunan terhadap beberapa area fungsional manusia tergantung dari kerusakan otak pasca stroke, salah satunya adalah area kognisi. Gangguan kognisi pada pasien dengan stroke dapat menyebabkan penurunan kemampuan memori jangka pendek. Dalam penelitian ini, terapi musik akan diberikan kepada pasien berusia 55-70 tahun dengan stroke, yang mempunyai gangguan pada kemampuan memori jangka pendek. Intervensi terapi musik yang diberikan berupa kegiatan imitasi pola melodi, ritme, atau gabungan dari kedua elemen musik tersebut. Pasien akan diminta untuk meniru pola musik yang dimainkan oleh peneliti. Penelitian ini dilakukan dengan mengobservasi perkembangan pasien dari sesi ke sesi dan melihat perbandingan hasil asesmen Montreal Cognitive Assessment dan Digit Span. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan kemampuan memori jangka pendek pada pasien dengan stroke melalui pelaksanaan sepuluh sesi terapi musik. Di akhir sesi, pasien mampu memainkan pola musik yang lebih panjang dan kompleks.