cover
Contact Name
Matthew Hansel
Contact Email
matthew.hansel@uph.edu
Phone
+62215640901
Journal Mail Official
jurnalsenimusik@uph.edu
Editorial Address
Jurusan Seni Musik - Fakultas Ilmu Seni Universitas Pelita Harapan Lippo Karawaci, Tangerang 15811 Indonesia
Location
Kota tangerang,
Banten
INDONESIA
Jurnal SENI MUSIK
ISSN : 18298990     EISSN : 25805371     DOI : 10.19166
Core Subject :
Jurnal SENI MUSIK is a scholarly journal published by the Conservatory of Music, University of Pelita Harapan. This journal aims to accommodate any scientific articles about music, music performance and history, audio and recording, music industry, music composition analysis, music therapy, and music education. It is published in May and October.
Arjuna Subject : -
Articles 70 Documents
Designing The Grand Narrative Approach in Teaching Western Music History to Undergraduate Students in Indonesia Mario Santoso; Sara Lorin Hernadi
Jurnal SENI MUSIK Vol. 15 No. 2 (2023): Jurnal SENI MUSIK
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/jsm.v15i2.7486

Abstract

Learning the history of any course subject is an enormously complex quest since it keeps evolving and even shifting from its origin. The same case also applies to the study of Western music history, which itself is a historical invention due to its complexity that is simplified into “periodization” by scholars; therefore, the whole conception is still changing today. This condition should be perceived as an opportunity to continually explore this massively diverse body of music and hence apply it to student’s interpretation and performance to reshape their thoughts in approaching music that has been written years ago; indeed, the learning of music history opens limitless possibilities of exploring the emotional message behind the black notes on the score. However, the common pedagogical approach of Western music history has been discouraging to music students in general because of the “vertical” approach, which emphasizes the compartmentalized timeframe block time that seems irrelevant and disconnected to their performances today. This organization of teaching results in a lack of comprehension that learning music history should be conveyed in a chronologically sequential order into one single coherent story, in which musical styles change very gradually, often coexisting with the new style. The purpose of this writing is to provide a better pedagogical design in teaching Western music history to undergraduate students in Indonesia by understanding the course as a grand narrative - an acculturation from two ancient traditions (Europe and West Africa) that is cultivated in the United States. AbstrakMempelajari sejarah dalam berbagai bidang adalah pencarian yang sangat kompleks karena sejarah terus berkembang dan bahkan bergeser dari asalnya. Hal yang sama juga terjadi dalam studi sejarah musik Barat, yang merupakan penemuan sejarah karena kompleksitasnya yang disederhanakan dalam “periodisasi” oleh para ahli; oleh karena itu, seluruh konsep masih dapat berubah hingga hari ini. Kondisi ini harus dilihat sebagai kesempatan untuk terus mengeksplorasi musik yang sangat beragam dan menerapkannya pada interpretasi dan pertunjukan siswa untuk membentuk kembali pemikiran mereka dalam mendekati musik yang telah ditulis bertahun-tahun yang lalu. Pembelajaran sejarah musik membuka kemungkinan tak terbatas untuk mengeksplorasi pesan emosional di balik notasi pada partitur. Namun, pendekatan pedagogis umum dari sejarah musik Barat telah mengecewakan siswa pada umumnya karena pendekatan "vertikal", yang menekankan waktu blok kerangka waktu yang terkotak yang tampaknya tidak relevan dan tidak terhubung dengan pertunjukan mereka hari ini. Pengorganisasian pengajaran ini mengakibatkan kurangnya pemahaman bahwa pembelajaran sejarah musik harus disampaikan secara berurutan secara kronologis dalam satu cerita yang koheren, di mana gaya musik berubah secara sangat bertahap, dan sering kali berdampingan dengan gaya baru. Tujuan penulisan ini adalah untuk memberikan desain pedagogis yang lebih baik dalam mengajarkan sejarah musik Barat kepada mahasiswa di Indonesia dengan memahami mata kuliah sebagai naratif besar - akulturasi dari dua tradisi kuno (Eropa dan Afrika Barat) yang dibudidayakan di Amerika Serikat. 
Efektivitas Komunikasi Verbal dan Non-Verbal Antara Pianis dan Penyanyi Klasik Terhadap Kualitas Pertunjukkan [The Effectivity of Verbal and Non-Verbal Communication in a Classical Pianist-Vocalist Duo Performance] Sarita Marcellina Wurangian; Delicia Mandy Nugroho
Jurnal SENI MUSIK Vol. 15 No. 2 (2023): Jurnal SENI MUSIK
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/jsm.v15i2.7494

Abstract

Kebutuhan akan seorang pengiring yang baik sangat penting, tetapi hanya sedikit pianis profesional yang dapat bekerja sama dan mengiringi penyanyi dengan efektif. Ketika penyanyi mengambil peran sebagai pemimpin dalam pertunjukan duo dan bertemu dengan pengiring yang kesulitan berkolaborasi, terjadi gangguan dalam berkomunikasi, sehingga dapat mempengaruhi kualitas pertunjukan duo tersebut. Sebaliknya, masalah komunikasi verbal dan non verbal yang kurang baik juga dapat mempengaruhi seorang pengiring dalam mempersiapkan pertunjukkan. Komunikasi non-verbal berfungsi sebagai sarana penting bagi baik pianis maupun penyanyi untuk berkomunikasi, mencakup aspek-aspek seperti bentuk napas dan gerakan tubuh. Sebagai bentuk komunikasi verbal, kedua belah pihak dapan memulai upaya kolaboratif mereka, untuk saling menganalisis interpretasi dan elemen musik dari karya yang ingin mereka tampilkan. Baik pianis maupun penyanyi harus sejalan dalam perspektif mereka untuk memastikan pemahaman mutual dan kesesuaian dalam hal interpretasi dan elemen musik. Dengan menggunakan penelitian tindakan sebagai metode penelitian yang dipilih dengan satu siklus dan dua variabel, perbedaan signifikan menjadi jelas dalam penggunaan komunikasi verbal dan non-verbal, sejalan dengan perspektif selama proses dan pertunjukan akhir antara kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Penelitian ini bertujuan untuk menjelajahi persiapan yang diperlukan dan keterampilan komunikasi non-verbal yang diperlukan bagi pianis untuk dapat mengiringi dan berkolaborasi secara efektif dengan penyanyi, dengan tujuan akhir pengembangan modul pembelajaran untuk tujuan pendidikan. Abstract [English]The need for a good accompanist is significant, but few professional pianists can effectively collaborate and accompany singers. When the singer takes on the role of leader in a duo performance and encounters an accompanist who struggles to collaborate, a breakdown in communication occurs, which in turn affects the quality of the duo performance. Conversely, this issue can also impact the accompanist. Non-verbal communication serves as a vital means for both the pianist and singer to communicate, encompassing aspects such as breathing gesture and body gestures. Prior to embarking on their collaborative efforts, as a form of verbal communication, both parties can initiate their collaborative efforts to mutually analyze the interpretation and musical elements of the piece they intend to perform. By employing action research as the chosen research method with one cycle and two variables, significant differences become evident in the use of verbal and non-verbal communication and the alignment of perspectives during the progress and final performance between the control group and the experiment group. This research aims to explore the necessary preparation and non-verbal communication skills required for pianists to effectively accompany and collaborate with singers, with the ultimate goal of developing a learning module for educational purposes. 
Perancangan Aplikasi Game Piano “Fable Music Children” [Designing a Piano Game Application "Fable Music Children"] Desti Yustianingsih
Jurnal SENI MUSIK Vol. 16 No. 1 (2024): Jurnal SENI MUSIK
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/jsm.v16i1.7968

Abstract

Saat ini, perangkat teknologi telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat, termasuk di kalangan anak-anak. Namun, ironisnya, banyak dari mereka yang mengalami dampak negatif karena kurangnya penggunaan yang bijak dan minimnya pengawasan dari orangtua. Padahal, masa perkembangan anak seharusnya dipenuhi dengan pembelajaran yang terintegrasi dengan kegiatan bermain. Untuk menjembatani ketidakseimbangan tersebut, diperlukan terobosan yang mampu memanfaatkan teknologi ini demi mendukung pertumbuhan anak. Oleh karena itu, kami menciptakan Fable Music Children, sebuah aplikasi game yang berbeda dari aplikasi piano konvensional. Aplikasi ini tidak hanya melatih keterampilan motorik melalui permainan piano, tetapi juga menyajikan kisah fabel, pengetahuan umum, sosial, dan moral, serta kuis-kuis sederhana dengan antarmuka yang menarik dan mudah dipahami oleh anak-anak. Proyek ini melibatkan metode 4D dari R&D (Research & Development) yang menggabungkan pendekatan Learning by Playing, melalui tahapan define, design, development, dan disseminate. Dalam pembuatannya, kami menggunakan berbagai alat seperti sketsa kasar, yakni aplikasi Figma, Adobe Illustrator, Construct Editor, dan Sibelius. Dengan harapan agar inovasi pendidikan digital ini dapat memberikan manfaat bagi anak-anak, kami berencana untuk menyebarkannya melalui Google Playstore serta platform lainnya guna mencapai jangkauan yang lebih luas. AbstractAt present, technology devices have become an inseparable part of society's life, including among children. However, ironically, many of them experience negative impacts due to the lack of wise usage and inadequate parental supervision. Yet, a child's developmental stage should ideally be filled with integrated learning through play activities. To bridge this imbalance, an innovation capable of harnessing this technology to support children's growth is needed. Hence, we created Fable Music Children, a gaming application different from conventional piano apps. This application not only hones motor skills through piano gameplay but also offers fables, general knowledge, social and moral lessons, as well as simple quizzes with an engaging and child-friendly interface. This project involved the 4D method from Research & Development (R&D), combining the Learning by Playing approach through defining, designing, developing, and disseminating stages. In its creation, we utilized various tools such as rough sketches, namely Figma, Adobe Illustrator, Construct Editor, and Sibelius. With the hope that this digital educational innovation will benefit children, we plan to distribute it via Google Playstore and other platforms to achieve a broader reach.
Analisis Tingkat Kepuasan Mahasiswa Program Studi Musik terhadap Pembelajaran Blended Learning pada kelas Instrumen Piano Klasik, Universitas Pelita Harapan [The Analysis of Music Students' Satisfaction Level Towards Blended Learning in Classical Piano Instrument Class, Pelita Harapan University] Thalia Tamara; Jane Andreas Djie
Jurnal SENI MUSIK Vol. 16 No. 1 (2024): Jurnal SENI MUSIK
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/jsm.v16i1.8010

Abstract

AbstrakBlended learning merupakan metode pembelajaran yang menggabungkan metode luring dan daring. Selama dan setelah pandemi COVID-19, metode blended learning mulai diterapkan di dalam pengajaran musik, salah satunya pada kelas Instrumen Piano Klasik di Conservatory of Music, Universitas Pelita Harapan. Namun, beberapa pihak masih meragukan apakah metode blended learning cocok untuk diterapkan di pembelajaran piano klasik yang berbasis praktik, Selain itu, masih banyak mahasiswa dan dosen yang kurang terampil dan masih sulit beradaptasi dengan metode ini. Akibatnya, hal ini mempengaruhi tingkat kepuasan mahasiswa terhadap pembelajaran yang dialaminya. Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk menganalisis tingkat kepuasan mahasiswa terhadap blended learning pada kelas Instrumen Piano Klasik serta mengeksplorasi faktor-faktor yang mempengaruhinya. Metode yang digunakan adalah metode kuantitatif. Peneliti memberikan kuesioner kepada para responden. Setelah kuesioner diisi, peneliti menganalisis data dengan menggunakan validitas, reliabilitas, rumus rata-rata dan persentase, statistik inferensial, serta statistik deskriptif. Berdasarkan hasil penelitian, faktor-faktor yang paling berpengaruh terhadap kepuasan mahasiswa pada kelas Instrumen Piano Klasik I di Conservatory of Music adalah Keandalan, Organisasi Kelas & Kualitas Teknologi sebanyak 60,1%, disusul dengan Jaminan sebesar 53,1% serta Bukti Fisik & Kehadiran Pendidik sebanyak 46,0%. Kesimpulan dari penelitian ini adalah secara mayoritas 55,6% mahasiswa Program Studi Musik puas dengan pembelajaran secara blended learning. Abstract (English)Blended learning is a learning method that combines offline and online. During and after the pandemic COVID-19, blended learning began to be applied in teaching music, such as in Classical Piano Instrument Class at the Conservatory of Music, Pelita Harapan University. However, some stakeholders still doubt whether blended learning is a suitable approach in Classical Piano Instrument Class, as the lesson is heavily based on practical and hands-on learning. Besides, there are still many university students and lecturers who are less skilled and difficult to adapt to this new method. Consequently, it can influence the music students’ satisfaction level regarding the learning that they experience. Therefore, the authors were interested in analyzing the students’ satisfaction with blended learning in Classical Piano Instrument Classes and explored factors that influenced it. This research employs a quantitative approach using a questionnaire. The authors analyzed the data using descriptive and inferential statistics. Based on the research result, the factors that have the most influence on student satisfaction in the Classical Piano Instrument I class at the Conservatory of Music are (a) Reliability, Class Organization, and Technology Quality at 60,1%, followed by (b) Assurance at 53,1%, and (c) Evidence & Technology Quality with 46,0%. Moreover, the findings of this research conclude that the majority 55,6% of the music students were satisfied with blended learning.
The implementation of Musical Speech Stimulation“‡ in regaining automatic speech in communication rehabilitation after stroke: A single case study Renata Audia Kuswanto
Jurnal SENI MUSIK Vol. 18 No. 1 (2026): Jurnal SENI MUSIK
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/jsm.v18i1.8067

Abstract

Loss of communication function or known as aphasia commonly occurs after a cerebrovascular accident (CVA). Music therapy has been slowly used as a resort in supplement to speech therapy for communication rehabilitation in stroke, but scientific evidence is still limited. In severe cases of aphasia, automatic speech has been primarily targeted before working on other aspects of communication, such as oral motor training, constructing phrases, making choices, and reading. This single case-study specifically reviews the use of Neurologic Music Therapy“‡ technique, named Musical Speech Stimulation“‡ to regain automatic speech in a patient experiencing a mix of expressive and receptive aphasia. Method The subject of this study is a 64 years old Caucasian female who has experienced a stroke and followed by severe chronic aphasia in 2022. Subject has attended concurrent music therapy sessions for communication rehabilitation since April 2023. Result the therapy outcomes showed that there was significant increase in verbal automatic speech responses, including intentional terminal phrases. Conclusion Musical Speech Stimulation“‡ technique is a feasible non-invasive resort for treatment of post-stroke aphasia to regain communication function, particularly in severe cases of loss of expressive and receptive communication. AbstrakAfasia atau yang diketahui sebagai kehilangan kemampuan bicara dan menggunakan bahasa umumnya terjadi setelah Stroke. Terapi musik sudah secara perlahan digunakan sebagai tambahan terapi wicara untuk rehabilitasi komunikasi pada pasien Stroke, namun bukti saintifik masih sangat terbatas. Pada kasus afasia berat, automatic speech atau bahasa otomatis seringkali ditargetkan sebagai pada proses penyembuhan sebelum menargetkan aspek lain yang lebih kompleks dalam komunikasi, seperti latihan otot oral, menyusun kalimat, menentukan pilihan, dan membaca. Pada studi kasus tunggal ini, peneliti secara khusus akan membahas penggunaan salah satu teknik Neurologic Music Therapy“‡ yang disebut Musical Speech Stimulation“‡ untuk mengembalikan kemampuan bahasa otomatis pada pasien yang mengalami afasia ekspresif dan reseptif. Metode Subjek penelitian adalah seorang perempuan Kaukasia berumur 64 tahun yang menderita Stroke pada tahun 2022. Subjek telah menjalanin program terapis musik untuk rehabilitasi komunikasi dari April 2023 hingga saat ini. Hasil Hasil dari program terapi menunjukkan bahwa terdapat pertambahan signifikan pada bahas otomatis yang diucapkan secara verbal, termasuk frasa yang dimaksudkan. Conclusion Teknik Musical Speech Stimulation“‡ bisa menjadi salah satu opsi perawatan  yang non-invasif bagi penderita afasia post-stroke untuk mengembalikan fungsi komunikasi, terutama pada kasus dimana pasien kehilangan kemampuan berekspresi dan mengerti bahasa.
Studi Fenomenologi: Kualitas Suara Dialog (ADR & VO) Pada Film Yang Diproduksi Oleh Jakarta FourMix Studio Violeta Sharlene Honggowidjojo; Jack Simanjuntak
Jurnal SENI MUSIK Vol. 16 No. 1 (2024): Jurnal SENI MUSIK
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/jsm.v16i1.8162

Abstract

Kemajuan yang pesat terhadap industri film Indonesia menarik perhatian peneliti untuk melakukan eksplorasi terhadap Jakarta FourMix Studio, laboratorium suara bersertifikasi Dolby Atmos pertama di Indonesia, yang melakukan produksi suara dialog untuk film layar lebar di Indonesia. Film-film yang menjadi fokus dalam penelitian ini adalah film Habibie & Ainun 3, Nona Manis Sayange, dan Anchika. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi pola pendekatan dalam produksi suara dialog pada film yang diproduksi di studio ini. Penelitian ini menggunakan pendekatan fenomenologi untuk mendalami pandangan ahli audio-visual yang melibatkan sutradara, perekam suara film set (sound recordist), editor dialog, dan operator automated dialogue replacement (ADR) & voice-over (VO). Metode penelitian ini menggunakan observasi pasif perekaman ADR dan juga wawancara semi-terstruktur dengan para ahli audio-visual pada ketiga film tersebut. Hasil penelitian diharapkan memberikan pengetahuan baru mengenai faktor-faktor yang memengaruhi kualitas suara dialog dari tahap produksi hingga pascaproduksi film. Implikasi dalam penelitian ini adalah pemahaman yang lebih baik tentang peran suara dialog dalam pengalaman menonton film, sementara para akademisi dan praktisi audio-visual mendapatkan wawasan baru terkait pendekatan mengatasi kendala dalam kualitas audio di tahap produksi hingga pascaproduksi film.
STUDI ORGANOLOGI ALAT MUSIK TRADISIONAL SATO PADA MASYARAKAT DESA WATURAKA KECAMATAN KELIMUTU KABUPATEN ENDE Marianus Manurak Wudy
Jurnal SENI MUSIK Vol. 16 No. 1 (2024): Jurnal SENI MUSIK
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/jsm.v16i1.8168

Abstract

Sato merupakan alat musik petik yang berasal dari Desa Waturaka, Kecamatan Kelimutu, Kabupaten Ende. Umumnya sato dimainkan dengan cara digesek, menggunakan busur yang terbuat dari ijuk dari pohon palem. Alat musik Sato awalnya terbuat dari buah maja atau jangkar hutan yang dalam bahasa daerah Ende disebut mbambu. Eksistensi alat musik sato mulai hilang karena faktor perkembangan dan modernisasi. Maka penelitian ini bertujuan untuk mengetahui orgonologi alat musik tradisional Sato pada masyarakat Desa Waturaka Kecamatan Kelimutu Kabupaten Ende. Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif yaitu mendeskripsikan latar belakang terciptanya alat musik sato, meliputi lokasi penelitian, pemilihan alat dan bahan, proses demi proses pengolahan bahan, struktur bentuk alat musik sato, serta proses perakitan hingga finishing. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi, dokumentasi dan wawancara dengan melibatkan Bapak Marsehelinus Satu sendiri sebagai sumber utama dalam penelitian. Sedangkan teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis data kualitatif yang meliputi analisis isi, analisis wacana, dan analisis naratif yang bertujuan untuk mendeskripsikan dan menjelaskan data penelitian agar dapat dipahami orang lain. Hasil dari penelitian ini adalah terciptanya alat musik Sato yang dimainkan dengan cara memukul senar sehingga menghasilkan nada-nada Do, RE, Mi, Fa, dan Sol. Proses penelitian meliputi proses penentuan bahan, pengambilan bahan, proses pembuatan, proses perakitan, proses finishing hingga alat musik Sato menghasilkan suara. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa alat musik Sato merupakan alat musik melodis karena alat musik ini hanya memainkan tangga nada.
ANALYSIS OF TONAL EXPANSION IN LISZT’S LA LUGUBRE GONDOLA Mario Santoso; Claudia Budiman
Jurnal SENI MUSIK Vol. 16 No. 1 (2024): Jurnal SENI MUSIK
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/jsm.v16i1.8181

Abstract

The last 15 piano works of Franz Liszt, written during the last five years of his life (1881-1886), have fascinated musicians for their harmonic radical, often associated with prophetic harmonic procedures, including building the music on unresolved dissonant relationships, ambiguous chromatic harmonic progressions, slow-moving ostinato patterns without clear musical direction, lean and quiet textures, tremolos, many silences that interrupt the progress of the music, and monophonic recitatives. These 15 works illustrate Liszt’s experimental style at its most extreme associated with macabre/death, bizarre, and dreamlike. Historians have attributed to Liszt morbid obsession of death, starting from the passings of his two children in 1860s, and continuing with series of depressing events to his death. Specifically, four of them are related to the death of Richard Wagner (his son-in-law), including La lugubre gondola I and II, Am Grabe Richard Wagner, and R.W. - Venezia. Much of this music are articulated by various negative fantasy through within limited or lack tonal focus; hence, Liszt wrote these works clearly to the approaching exhaustion of tonality, foreshadowing sounds associated with the early twentieth century especially in the music of Debussy and Schoenberg. The purpose of this writing is to analyze the two numbers of La lugubre gondolas and evaluate the harmonic writings, in which Liszt pointed out the music to the approaching exhaustion of tonality.
Studi Kasus Pengaruh Intervensi Teknik Menulis Lagu terhadap Konsep Diri pada Anak yang Berkonflik dengan Hukum (ABH) Vanessa Majesty; Kezia Putri
Jurnal SENI MUSIK Vol. 16 No. 1 (2024): Jurnal SENI MUSIK
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/jsm.v16i1.8191

Abstract

Anak yang berkonflik dengan hukum (ABH) merupakan anak yang belum berusia 18 tahun yang diduga melakukan tindakan pidana. Menurut UU Indonesia tentang Sistem Peradilan Pidana Anak, anak-anak di bawah umur yang melakukan tindak pidana harus diperlakukan secara manusiawi dan dipisahkan dari orang dewasa, sehingga ABH akan masuk ke dalam rehabilitasi sosial agar dapat berfungsi secara normal dalam lingkungan sosial. Dalam kasus ini, terapi musik dapat menjadi media agar ABH lebih mengenal dirinya sendiri dan peran apa yang dapat dilakukan setelah menjalani masa hukumannya. Konsep diri menjadi faktor penting dalam penelitian ini dalam konteks gambar diri. Jika anak memiliki pandangan positif terhadap diri mereka sendiri, mereka akan memiliki prinsip untuk tidak terlibat dalam kegiatan kriminal, bahkan jika lingkungan sekitar mereka terlibat dalam hal tersebut. Untuk meningkatkan konsep diri, intervensi yang digunakan adalah teknik menulis lagu. Hal ini bermanfaat bagi remaja untuk menemukan cara baru  mengartikulasikan pemikiran mereka, mengembangkan ide-ide secara kreatif, dan menyadari bahwa ungkapan mereka memiliki nilai dan makna yang penting. Jumlah partisipan dalam penelitian ini adalah 3 orang, yang berusia 12-20 tahun. Sesi dilakukan selama 12 kali, dengan frekuensi dua kali per minggu. Di awal dan akhir sesi, terdapat asesmen dengan alat ukur Robson SCQ kepada semua partisipan.
TEKNIK DINAMIKA-PADUAN SUARA UNISONO SISWA SMA KELAS XI SEMINARI St RAFAEL OEPOI KUPANG NUSA TENGGARA TIMUR: LAGU ORDINARIUM AGNUS DEI MISA STA, BEATRIX (KARYA ERNEST P. TANDAYU) DENGAN METODE DRILL Maria Emiliana Wonga Seto; Flora Ceunfin
Jurnal SENI MUSIK Vol. 16 No. 2 (2024): Jurnal SENI MUSIK
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/jsm.v16i2.8446

Abstract

Dalam bernyanyi paduan suara unisono diperlukan dinamika pada vocal untuk memberikan kekuatan secara emosional dalam sebuah komposisi seperti riang, sedih, atau datar. Secara praktis, siswa SMA Seminari St. Rafael Oepoi Kupang belum menerapkan teknik dinamika, sebab belum diajarkan secara praktikal oleh guru sehingga siswa belum memahami dan menguasai teknik dinamika. Pelatihan secara sistematis menjadi penting untuk dilakukan guna meningkatkan pemahaman dan penguasaan siswa dalam menerapkan Teknik dinamika ketika bernyanyi unisono. Lalu, bagaimana proses penerapan teknik dinamika paduan suara unisono dalam lagu Ordinarium Agnus Dei Misa Sta. Beatrix karya Ernest P. Tandayu pada siswa kelas XI SMA Seminari St. Rafael Oepoi Kupang Nusa Tenggara Timur menggunakan metode drill? Metode yang digunakan pada penelitian ialah deskriptif kualitatif, lokasi penelitian berada di SMA Seminari St. Rafael Oepoi Kupang. Jenis data penelitian yang dikumpulkan ialah data primer dan sekunder. Teknik pengumpulan data dengan studi pustaka dan studi lapangan melalui observasi, wawancara, serta dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan analisis domain dan analisis komponensial. Keabsahan data diverifikasi menggunakan teknik triangulasi data. Hasil penelitian memperoleh proses rancangan sistematis dalam memberikan pemahaman dan penguasaan bagi siswa saat menggunakan teknik dinamika yakni diawali dengan tahapan perekrutan untuk mengumpulkan siswa kelas XI, tahap inti dengan 10 pertemuan menggunakan metode drill, dan tahap penutup berupa evaluasi pelaksanaan. Model lagu yang dipilih adalah lagu Ordinarium Agnus Dei Misa Sta. Beatrix karya Ernest P. Tandayu.