cover
Contact Name
Wilarso
Contact Email
wilarso@umci.ac.id
Phone
+628119202134
Journal Mail Official
wilarso@umci.ac.id
Editorial Address
Universitas Muhammadiyah Cileungsi, Jl. Anggrek, No. 25, Perum PTSC, Cileungsi, Bogor, Jawa Barat, Indonesia
Location
Kab. bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Hukum
ISSN : -     EISSN : 31247342     DOI : https://doi.org/10.37373/juril.v2i1
Core Subject :
Jurnal hukum sought to be a reputable source of information on legal and judicial research as well as a peer-reviewed platform. Juril covers material that is analytical, objective, empirical, and contributes to the growth and dynamics of legal studies, particularly in Indonesia-Universitas Muhammadiyah Cileungsi Civil law, criminal law, administrative law, military law, constitutional law, international law, judicial case management, and judicial apparatus management are among the legal and judicial topics that Junal hukum concentrates on. Jurnal hukum, however, gives greater weight to articles that concentrate on the sociology of law, living law, legal philosophy, history of national law, customary law, literature studies, international law, interdisciplinary studies, and empirical research out of that broad range of subjects. sought to be a reliable source of information on legal and judicial studies as well as a peer-reviewed platform. JHP covers material that is analytical, objective, empirical, and contributes to the growth and dynamics of legal studies, particularly in Indonesia.
Arjuna Subject : -
Articles 16 Documents
Dilema inovator di perusahaan milik negara Indonesia: Mendamaikan ambisi disruptif dengan risiko kriminal dalam kapitalisme negara yang berlandaskan hukum Bagus Satrio Utomo Prawiraharjo
Jurnal Hukum Vol 2 No 1 (2026): Jurnal Hukum
Publisher : LPPMPK - Universitas Muhammadiyah Cileungsi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37373/jh.v2i1.2592

Abstract

Artikel ini mengkaji konflik yuridik struktural yang secara sistematis menghambat inovasi disruptif dalam BUMN Indonesia melalui teori institusional dan analisis hukum perilaku. Meskipun mandat undang-undang berdasarkan UU No. 19 Tahun 2003 menempatkan entitas-entitas ini sebagai agen perintis pembangunan nasional, para direktur beroperasi dalam lingkungan hukum yang mencampuradukkan kerugian bisnis yang sah dengan kerugian keuangan negara yang bersifat kriminal berdasarkan UU No. 31 Tahun 1999 dan UU No. 17 Tahun 2003. Kontradiksi normatif antara hukum korporasi dan hukum pidana publik ini menciptakan efek penghambatan sistemik yang mendorong keengganan risiko yang ekstrem. Melalui analisis yuridis-normatif dan studi kasus komparatif penuntutan LNG Karen Agustiawan dan pembebasan investasi BMG, penelitian ini menunjukkan bagaimana ambiguitas hukum berfungsi sebagai penghalang inovasi berisiko tinggi. Penelitian ini menggunakan metodologi bifurkasi yang menggabungkan analisis hukum doktrinal dengan pemeriksaan kasus empiris untuk mengungkap mekanisme dimana ketidakpastian hukum menghasilkan penghindaran kerugian yang didorong oleh teori prospek. Sembari menunggu reformasi legislatif, Badan Usaha Milik Negara dapat mengadopsi strategi defensif termasuk pemisahan perusahaan, lengan modal ventura, dan sistem manajemen inovasi ISO 56002. Artikel ini diakhiri dengan rekomendasi untuk kodifikasi legislatif dari Aturan Pertimbangan Bisnis, standardisasi peradilan melalui Surat Edaran Mahkamah Agung, dan pelembagaan kerangka kerja tata kelola inovasi perusahaan yang memenuhi praktik terbaik perusahaan dan persyaratan pembuktian untuk pembelaan pidana.
The dual-edged sword: A juridical analysis of internal governance documents as a basis for criminal liability in Indonesian State-owned enterprises Bagus Satrio Utomo Prawiraharjo
Jurnal Hukum Vol 2 No 1 (2026): Jurnal Hukum
Publisher : LPPMPK - Universitas Muhammadiyah Cileungsi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37373/jh.v2i1.2593

Abstract

This article examines the juridical tension arising from the treatment of internal governance documents, such as Standard Operating Procedures (SOPs), as evidentiary bases for criminal liability in Indonesian State-Owned Enterprises (BUMNs). Under the dual legal regime governing BUMNs, corporate decisions are subject both to commercial principles under Law No. 40 of 2007 and to anti-corruption statutes under Law No. 31 of 1999 as amended. This duality creates a normative conflict wherein deviations from internal procedural documents are increasingly construed by law enforcement as “unlawful acts” (perbuatan melawan hukum), thereby satisfying a key element for corruption charges under Articles 2 and 3 of the Anti-Corruption Law. Such an approach effectively circumvents the Business Judgment Rule (BJR), a doctrine codified in Article 97(5) of Law No. 40 of 2007, which is designed to protect directors acting in good faith and with due care. Through juridical-normative analysis and case law review, including the Supreme Court’s acquittal of Karen Agustiawan, the study demonstrates that conflating administrative non-compliance with criminal conduct undermines corporate autonomy and deters strategic risk-taking. The article further analyzes the ambiguity surrounding the legal status of BUMN assets, rooted in the conflicting definitions in Law No. 17 of 2003 on State Finance and Law No. 19 of 2003 on BUMNs, which facilitates the mischaracterization of business losses as state financial losses. Comparative insights from Temasek Holdings and Mubadala highlight the importance of clear legal separation between state ownership and corporate management. The paper concludes with recommendations for legislative clarification, judicial guidance through a Supreme Court circular, and the adoption of principle-based internal governance frameworks to align BUMN operations with corporate law doctrine and protect legitimate business judgment.
The classification of change orders in EPC Turnkey projects by Indonesian state-owned enterprises: Navigating between business risk and state financial loss Bagus Satrio Utomo Prawiraharjo
Jurnal Hukum Vol 2 No 1 (2026): Jurnal Hukum
Publisher : LPPMPK - Universitas Muhammadiyah Cileungsi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37373/jh.v2i1.2594

Abstract

State-owned enterprises in Indonesia extensively utilize Engineering, Procurement, and Construction turnkey contracts for strategic infrastructure development, inherently requiring contractual flexibility through change order mechanisms to accommodate project complexity and uncertainty. However, stringent oversight of state finances creates significant legal ambiguity regarding whether cost increases resulting from legitimate project variations automatically constitute state financial loss under Indonesian anti-corruption legislation. This study employs normative legal research with doctrinal analysis to examine the juridical construction of state financial loss within the context of contract variations, analyzing constitutional court jurisprudence, audit board methodologies, and corporate governance principles. The research develops a tripartite classification framework distinguishing change orders as ordinary business risks requiring documentation, valid technical justifications necessitating cost-benefit analysis, or potential state financial losses involving unlawful acts. Findings indicate that the Constitutional Court's interpretation requiring actual and definite losses as material elements of corruption offenses creates substantial evidentiary burdens for auditors and law enforcement, while the Business Judgment Rule offers limited protection for directors due to inconsistent application. The study concludes that regulatory harmonization between project management paradigms and criminal law frameworks is essential to provide legal certainty for decision-makers while safeguarding public funds against fraudulent contract modifications.
Penguatan kompetensi dan ketertelusuran pekerjaan teknisi pesawat angkat dan pesawat angkut berdasarkan permenaker nomor 8 Tahun 2020 Wilarso Wilarso Arso
Jurnal Hukum Vol 2 No 1 (2026): Jurnal Hukum
Publisher : LPPMPK - Universitas Muhammadiyah Cileungsi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37373/jh.v2i1.2674

Abstract

Pesawat angkat dan pesawat angkut memiliki risiko tinggi sehingga pemasangan, pemeliharaan, perbaikan, modifikasi, dan pemeriksaan teknis harus dilakukan oleh teknisi yang kompeten dan berwenang. Penelitian ini bertujuan menganalisis kedudukan, kewenangan, dan tanggung jawab teknisi berdasarkan Permenaker Nomor 8 Tahun 2020, mengidentifikasi kesenjangan penerapannya, serta merumuskan model pengendalian pekerjaan teknisi. Penelitian menggunakan metode yuridis-normatif dengan pendekatan peraturan perundang-undangan dan konseptual. Data diperoleh melalui studi dokumentasi terhadap regulasi K3, standar, literatur ilmiah, prosedur pemeliharaan, buku kerja, dan manual pabrikan. Data dianalisis secara deskriptif-kualitatif melalui regulatory mapping, gap analysis, interpretasi berbasis risiko, dan pengembangan model. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teknisi wajib memenuhi persyaratan pendidikan, pengalaman, kesehatan kerja, sertifikat kompetensi, dan Lisensi K3. Namun, analisis menemukan kesenjangan pada verifikasi kemampuan aktual, pembatasan kewenangan berdasarkan jenis peralatan, ketertelusuran pekerjaan, kriteria penghentian operasi, dan verifikasi pascaperbaikan. Penelitian ini menghasilkan Technical Integrity and Traceability Model (TITM) yang mengintegrasikan verifikasi kompetensi, otorisasi pekerjaan berbasis risiko, pemeliharaan berbasis kondisi, ketertelusuran komponen, verifikasi pascaperbaikan, dan evaluasi kinerja. Model tersebut dapat memperkuat penerapan regulasi dari sekadar pemenuhan administratif menuju pengendalian integritas teknis yang terukur dan dapat ditelusuri
Kebijakan Hukum Terbuka Pembentuk Undang-Undang dalam Persyaratan Usia Calon Presiden dan Calon Wakil Presiden Muh. Arafah; Laila Yasir; Zahra Abella
Jurnal Hukum Vol 2 No 1 (2026): Jurnal Hukum
Publisher : LPPMPK - Universitas Muhammadiyah Cileungsi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37373/jh.v2i1.2718

Abstract

Komisi Pemilihan Umum Republik Indonesia memiliki kewenangan pemerintahan secara atribusi dalam membuat suatu Peraturan Komisi Pemilihan Umum, termasuk membuat Peraturan Komisi Pemilihan Umum yang mengatur tentang persyaratan usia calon kepala daerah dan calon wakil kepala daerah. Namun, adanya putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia No. 23 P/HUM/2024, Mahkamah Agung Republik Indonesia telah mengambil alih kewenangan Komisi Pemilihan Umum Republik Indonesia dalam mengatur persyaratan usia calon kepala daerah dan calon wakil kepala daerah. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis apakah putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia No. 23 P/HUM/2024 telah sesuai dengan konsep kewenangan pemerintahan. Metode penelitian ini adalah metode penelitian hukum normatif. Hasil penelitian ini adalah putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia No. 23 P/HUM/2024 tidak sesuai dengan konsep kewenangan pemerintahan karena kewenangan Komisi Pemilihan Umum Republik Indonesia dalam membuat Peraturan Komisi Pemilihan Umum Republik Indonesia No. 9 Tahun 2020 diperoleh melalui kewenangan pemerintahan secara atribusi, Komisi Pemilihan Umum Republik Indonesia merupakan lembaga penyelenggara pemilihan umum yang mengatur mengenai penyelenggaraan pemilihan umum, diberikan tugas dan wewenang dalam penyelenggaraan pemilihan umum berdasarkan ketentuan yang diatur dalam undang-undang, mengatur lebih lanjut mengenai rincian tahapan persiapan dan penyelenggaraan pemilihan umum yang diatur dengan peraturan Komisi Pemilihan Umum Republik Indonesia.
Kewenangan Pemerintahan dalam Persyaratan Usia Calon Kepala Daerah dan Calon Wakil Kepala Daerah Muh. Arafah; Taupik Padilah; Mutiara Farida
Jurnal Hukum Vol 2 No 1 (2026): Jurnal Hukum
Publisher : LPPMPK - Universitas Muhammadiyah Cileungsi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37373/jh.v2i1.2719

Abstract

Komisi Pemilihan Umum Republik Indonesia memiliki kewenangan pemerintahan secara atribusi dalam membuat suatu Peraturan Komisi Pemilihan Umum, termasuk membuat Peraturan Komisi Pemilihan Umum yang mengatur tentang persyaratan usia calon kepala daerah dan calon wakil kepala daerah. Namun, adanya putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia No. 23 P/HUM/2024, Mahkamah Agung Republik Indonesia telah mengambil alih kewenangan Komisi Pemilihan Umum Republik Indonesia dalam mengatur persyaratan usia calon kepala daerah dan calon wakil kepala daerah. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis apakah putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia No. 23 P/HUM/2024 telah sesuai dengan konsep kewenangan pemerintahan. Metode penelitian ini adalah metode penelitian hukum normatif. Hasil penelitian ini adalah putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia No. 23 P/HUM/2024 tidak sesuai dengan konsep kewenangan pemerintahan karena kewenangan Komisi Pemilihan Umum Republik Indonesia dalam membuat Peraturan Komisi Pemilihan Umum Republik Indonesia No. 9 Tahun 2020 diperoleh melalui kewenangan pemerintahan secara atribusi, Komisi Pemilihan Umum Republik Indonesia merupakan lembaga penyelenggara pemilihan umum yang mengatur mengenai penyelenggaraan pemilihan umum, diberikan tugas dan wewenang dalam penyelenggaraan pemilihan umum berdasarkan ketentuan yang diatur dalam undang-undang, mengatur lebih lanjut mengenai rincian tahapan persiapan dan penyelenggaraan pemilihan umum yang diatur dengan peraturan Komisi Pemilihan Umum Republik Indonesia.

Page 2 of 2 | Total Record : 16