cover
Contact Name
Fadhlur Rahman
Contact Email
fadhlur.rahman@uinsuna.ac.id
Phone
+6285314740511
Journal Mail Official
jurnalsaree@uinsuna.ac.id
Editorial Address
Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, IAIN Lhokseumawe Jl. Medan-B.Aceh, Km. 275, No.1 Alue Awe, Kota Lhokseumawe, Aceh. 24352
Location
Kota lhokseumawe,
Aceh
INDONESIA
Saree: Research in Gender Studies
ISSN : -     EISSN : 27464466     DOI : https://doi.org/10.47766/saree
Core Subject :
Saree dalam bahasa Aceh artinya rata, sejajar, dan setingkat. Kata Saree secara filosofis menggambarkan keseimbangan antara laki-laki dan perempuan. Keseimbangan mengacu kepada kolaborasi peran antara laki-laki dan perempuan yang menekankan pada konsep keharmonisan dalam hubungan antara laki-laki dan perempuan, tanpa perbedaan kedudukan, kekayaan, keturunan, suku, ras dan golongan. Ruang lingkup kajian fokus kepada gender dan anak berbasis keIslaman. Jurnal ini menerima tulisan tentang isu-isu gender dan anak dari berbagai perspektif, termasuk agama, ekonomi, budaya, sejarah, pendidikan, hukum, seni, komunikasi, dan politik. Jurnal Saree berada di bawah Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe dan terbit dua kali dalam setahun di bulan Juni dan Desember. e-ISSN: 2746-4466 Saree in Acehnese means even, equal, and level. The word Saree philosophically describes the balance between men and women. Balance refers to the collaboration of roles between men and women that emphasizes the concept of harmony in the relationship between men and women, without differences in position, wealth, descent, ethnicity, race and class. The scope of the study focuses on Islamic-based gender and children. It welcomes submissions on gender and child issues from any perspective, including religion, economics, culture, history, education, law, art, communication, and politics. Saree : Research in Gender Studies with e-ISSN: 2746-4466 is under the Institute for Community Service and Research (LP2M) UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe and published twice a year in June and December. e-ISSN: 2746-4466
Arjuna Subject : -
Articles 80 Documents
Pendidikan Politik bagi Perempuan Syarifah Rahmah
Saree: Research in Gender Studies Vol. 3 No. 1 (2021): Saree : Research in Gender Studies
Publisher : Pusat Studi Gender dan Anak - PSGA (Center for Gender and Child Studies) Institut Agama Islam Negeri Lhokseumawe, Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47766/saree.v3i1.633

Abstract

Women who are represented in the Regency/City DPRD have not yet reached the 30% quota as mandated by the law. The number of women's representation proves that the mandate of the law has not been carried out as it should. The aspirations of women in their political activities are still not respected, there are still many policies that are made that are still biased, women are considered not capable of entering the political sphere, men who should be included in the political arena are men. Many political parties in Indonesia have not accommodated women's rights, especially providing political education to women. Whereas the mandate of the law requires every political party, both national political parties and local parties in several provinces in Indonesia. However, the next obstacle that arises is the understanding of culture that is difficult to overhaul in the social order, some people still hold the principle of patriarchy in which the subordination of men is more dominant than women, so that the capacity of women who want to exist in the political field is hindered. Weaknesses and responsibilities of women in the family sphere are used as reasons to marginalize women's political rights. The biggest homework for the Indonesian people is to raise awareness to the people who are still bound by the cultural system that men and women have the same qualities to assume positions as leaders.
Signifikansi Metodologi dalam Pengembangan Sosial Ekonomi Islam Angga Syahputra; Nurhayati Nurhayati
Saree: Research in Gender Studies Vol. 4 No. 1 (2022): Saree: Research in Gender Studies
Publisher : Pusat Studi Gender dan Anak - PSGA (Center for Gender and Child Studies) Institut Agama Islam Negeri Lhokseumawe, Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47766/saree.v4i1.777

Abstract

In the midst of a crisis that often occurs, Economic Methodology has become an object of study that is highly sought after or in demand by scientists. Every time the world experiences an economic crisis, it will encourage scientists to review matters relating to economic disciplines, be it in theory, science, or methodological science itself. As a new science, leading scientists began their activities to examine the appropriate methodology to produce Islamic economic theories where it was in accordance with the concept of Islamic epistemology, as well as to strengthen this methodological science to develop Islamic economics as a knowledge as well as to ensure scientific dynamics in the field of science. Islamic economics is going well and smoothly. For this reason, it is important to do this research through studies of the existing literature. This study resulted that the Islamic economic methodology was created based on an Islamic worldview where economic reality in a comprehensive perspective consists of spiritual, material, and moral dimensions. The discourse on Islamic economics methodology must be developed from only providing an Islamic perspective on the theories and structures of conventional economics (in other words, the Islamization of science), to something purer and giving birth to theories and developing Islamic scientific and economic structures themselves. AbstrakDi tengah krisis yang sering terjadi, Metodologi Ekonomi menjadi objek kajian yang sangat dicari atau diminati oleh para ilmuwan. Setiap kali dunia mengalami krisis ekonomi, maka akan mendorong para ilmuwan untuk mengkaji kembali hal-hal yang berkaitan dengan disiplin ilmu ekonomi, baik itu secara teori, ilmu pengetahuan, maupun metodologi ilmu itu sendiri. Sebagai ilmu yang masih baru, para ilmuwan terkemuka memulai aktivitasnya untuk mengkaji metodologi yang tepat untuk menghasilkan teori-teori ekonomi Islam di mana hal tersebut sesuai dengan konsep epistemologi Islam, serta memperkuat metodologi ilmu ini untuk mengembangkan ekonomi Islam sebagai sebuah ilmu pengetahuan sekaligus untuk menjamin dinamika keilmuan dalam bidang ilmu tersebut. Ekonomi Islam berjalan dengan baik dan lancar. Untuk itu, penelitian ini penting untuk dilakukan melalui kajian-kajian terhadap literatur yang ada. Penelitian ini menghasilkan bahwa metodologi ekonomi Islam diciptakan berdasarkan pandangan dunia Islam dimana realitas ekonomi dalam perspektif yang komprehensif terdiri dari dimensi spiritual, material, dan moral. Wacana metodologi ekonomi Islam harus dikembangkan dari hanya memberikan perspektif Islam terhadap teori dan struktur ekonomi konvensional (dengan kata lain, Islamisasi ilmu pengetahuan), menjadi sesuatu yang lebih murni dan melahirkan teori-teori serta mengembangkan struktur keilmuan dan ekonomi Islam itu sendiri.
Improving Children's Social Emotionality by Applying Social Interaction in Learning: Gender-Based at MIS YPI Batang Kuis Ahmad Mukhlasin
Saree: Research in Gender Studies Vol. 5 No. 1 (2023): Saree: Research in Gender Studies
Publisher : Pusat Studi Gender dan Anak - PSGA (Center for Gender and Child Studies) Institut Agama Islam Negeri Lhokseumawe, Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47766/saree.v5i1.914

Abstract

The aim of this study is to investigate the effects of implementing gender-based social interaction in learning to enhance children's socio-emotional development at MIS YPI Batang Kuis. This qualitative research involved six participants from Class I, consisting of four boys and two girls. The findings suggest that children's socio-emotional development aligns with parental expectations. Gender-based social interactions at MIS YPI Batang Kuis, located in Bintang Meriah Village, Deli Serdang Regency, contribute to: 1) encouraging sharing among children of both genders; 2) reinforcing adherence to game rules; 3) promoting inclusive play regardless of gender; and 4) exhibiting manners and behavior consistent with local socio-cultural norms. However, certain behavioral deviations, such as hitting, pushing, mocking, and kicking, were noted among both boys and girls. These deviations can be effectively managed with the appropriate guidance from teachers. Notably, such deviant behaviors are more common among younger children. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui dampak dari penerapan interaksi sosial berbasis gender dalam pembelajaran untuk meningkatkan perkembangan sosial-emosional anak di MIS YPI Batang Kuis. Penelitian kualitatif ini melibatkan enam partisipan dari Kelas I, yang terdiri dari empat anak laki-laki dan dua anak perempuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perkembangan sosial-emosional anak sesuai dengan harapan orang tua. Interaksi sosial berbasis gender di MIS YPI Batang Kuis, yang terletak di Desa Bintang Meriah, Kabupaten Deli Serdang, berkontribusi pada: 1) mendorong berbagi di antara anak-anak dari kedua jenis kelamin; 2) memperkuat kepatuhan terhadap aturan permainan; 3) mempromosikan permainan inklusif tanpa memandang jenis kelamin; dan 4) menunjukkan sopan santun dan perilaku yang sesuai dengan norma sosial budaya setempat. Namun, penyimpangan perilaku tertentu, seperti memukul, mendorong, mengejek, dan menendang, ditemukan di antara anak laki-laki dan perempuan. Penyimpangan-penyimpangan ini dapat ditangani secara efektif dengan bimbingan yang tepat dari para guru. Khususnya, perilaku menyimpang seperti itu lebih sering terjadi pada anak-anak yang lebih muda.
Studi Gender: Partisipasi Publik dan Penguatan Individu Rumah Tangga Eni Ria Yusriani; Selamah Rabia Qistina
Saree: Research in Gender Studies Vol. 5 No. 2 (2023): Saree: Research in Gender Studies
Publisher : Pusat Studi Gender dan Anak - PSGA (Center for Gender and Child Studies) Institut Agama Islam Negeri Lhokseumawe, Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47766/saree.v5i2.917

Abstract

The conservative paradigm prevalent in society perceives the role of women as suboptimal both in domestic life and in the public sphere. Therefore, this research aims to thoroughly examine the contributions of women in household and societal contexts. The research is conducted in the form of a literature review. Data is gathered from 40 research journals using keywords such as gender, public policy, household, and Islamic values. The data is then processed using data reduction to generate a comparative analytical model. The research findings indicate that the contributions of women in domestic life can be observed through the formation of character values in children. Character values are categorized into terminal and instrumental values. On the other hand, in the public sphere, when facilitated by the government or supported by the family, women are able to contribute to economic strengthening and other social movements. The indication towards these categories of women's values is based on Islamic ethics, which states that women have equal value and position as men. The findings also determine the "oughtness" or obligation from both categories of values. The research results show that generally, both adolescents and parents exhibit good instrumental and terminal values.   Abstrak Paradigma konservatif yang berkembang di masyarakat menganggap peran perempuan kurang optimal baik di dalam kehidupan rumah tangga maupun ranah publik. Oleh sebab itu penelitian bertujuan mengkaji secara mendalam kontribusi perempuan di dalam rumah tangga dan masyarakat. Penelitian berjenis studi pustaka. Data diambil dari 40 jurnal penelitian menggunakan kata kunci gender, kebijakan publik, rumah tangga, dan nilai KeIslaman. Data kemudian diolah menggunakan reduksi data sehingga mampu menghasilkan konstruk model yang dianalisis secara komparatif. Hasil penelitian menunjukkan kontribusi perempuan di dalam kehidupan rumah tangga dapat diamati melalui pembentukan nilai-nilai karakter anak. Nilai karakter dikategorikan menjadi nilai terminal dan instrumental. Sedangkan di dalam ranah publik apabila difasilitasi oleh pemerintah maupun dukungan keluarga perempuan mampu berkontribusi dalam hal penguatan ekonomi dan gerakan sosial lainnya. Indikasi terhadap kategori nilai perempuan ini didasarkan  dengan etika Islam bahwa peran dan kedudukan wanita dengan laki-laki sama secara nilai. Hasil juga menentukan 'oughtness' atau 'kewajiban' dari kedua kategori nilai tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum, baik remaja maupun orang tua memiliki nilai instrumental dan terminal yang baik.
Mekanisme Kelembagaan untuk Kemajuan Perempuan di Daerah Pedesaan Faizal Luqman; Anantasya Hasim Sulaikhan
Saree: Research in Gender Studies Vol. 5 No. 1 (2023): Saree: Research in Gender Studies
Publisher : Pusat Studi Gender dan Anak - PSGA (Center for Gender and Child Studies) Institut Agama Islam Negeri Lhokseumawe, Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47766/saree.v5i1.920

Abstract

This research aims to analyze the role of institutional mechanisms in supporting the advancement of women in rural areas. The focus of this study is to strengthen institutions that empower women and promote gender equality, as well as improve the well-being of women in rural areas. The research methods used include literature analysis and case studies. The findings of the research indicate that strong institutional mechanisms facilitate rural women's access to resources, education, and economic opportunities. A comprehensive approach that includes skills enhancement, organizational management support, and fair division of labor contributes to the empowerment of women in rural areas. The implementation of these solutions is expected to enhance women's empowerment, promote inclusive rural development, improve family welfare, and achieve better gender equality. This research has policy implications for strengthening institutional mechanisms to enhance the role of women in rural development. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran kelembagaan dalam mendukung kemajuan perempuan di daerah pedesaan. Fokus dari penelitian ini adalah untuk memperkuat kelembagaan yang memberdayakan perempuan dan mendorong kesetaraan gender, serta meningkatkan kesejahteraan perempuan di perdesaan. Metode penelitian yang digunakan meliputi analisis literatur dan studi kasus. Temuan penelitian menunjukkan bahwa mekanisme kelembagaan yang kuat dapat memfasilitasi akses perempuan pedesaan terhadap sumber daya, pendidikan, dan peluang ekonomi. Pendekatan komprehensif yang mencakup peningkatan keterampilan, dukungan manajemen organisasi, dan pembagian kerja yang adil berkontribusi pada pemberdayaan perempuan di daerah pedesaan. Penerapan solusi-solusi ini diharapkan dapat meningkatkan pemberdayaan perempuan, mendorong pembangunan perdesaan yang inklusif, meningkatkan kesejahteraan keluarga, dan mencapai kesetaraan gender yang lebih baik. Penelitian ini memiliki implikasi kebijakan untuk memperkuat mekanisme kelembagaan guna meningkatkan peran perempuan dalam pembangunan perdesaan.  
Interpreting Women's Emancipation in the Context of Islamic Multiperspectivism: An Analytical Approach Dewi Widiyanti; Muammar Firdaus
Saree: Research in Gender Studies Vol. 5 No. 1 (2023): Saree: Research in Gender Studies
Publisher : Pusat Studi Gender dan Anak - PSGA (Center for Gender and Child Studies) Institut Agama Islam Negeri Lhokseumawe, Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47766/saree.v5i1.1003

Abstract

This study aims to investigate, analyze, and establish a model for the study of women's emancipation from an Islamic perspective. The research methodology employs a qualitative interpretive paradigm, utilizing literature-based techniques. Data for the research was sourced from 50 different materials, including books, research findings, and digital news. The data search incorporated keywords such as women's emancipation, gender, and Islamic views. The results indicate that emancipation studies are conducted through a multi-perspective approach encompassing historical perspectives, Islamic law perspectives, and Al-Qur'an perspectives. From these three perspectives, it is evident that Islam has elevated the status of women, leading to equality between women and men. This study implies a shift in societal paradigms, recognizing that women deserve opportunities to contribute in all aspects of society. Such functionalization is implemented with consideration for religious norms, social conditions, and individual competencies. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menyelidiki, menganalisis, dan membangun model studi emansipasi wanita dari perspektif Islam. Metodologi penelitian ini menggunakan paradigma interpretatif kualitatif, dengan menggunakan teknik-teknik berbasis literatur. Data untuk penelitian ini bersumber dari 50 bahan yang berbeda, termasuk buku, temuan penelitian, dan berita digital. Pencarian data menggunakan kata kunci seperti emansipasi wanita, gender, dan pandangan Islam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa studi emansipasi dilakukan melalui pendekatan multi-perspektif yang mencakup perspektif sejarah, perspektif hukum Islam, dan perspektif Al-Qur'an. Dari ketiga perspektif tersebut, terbukti bahwa Islam telah mengangkat derajat perempuan, yang mengarah pada kesetaraan antara perempuan dan laki-laki. Penelitian ini mengimplikasikan adanya pergeseran paradigma masyarakat yang mengakui bahwa perempuan berhak mendapatkan kesempatan untuk berkontribusi dalam segala aspek kehidupan. Fungsionalisasi tersebut diimplementasikan dengan mempertimbangkan norma-norma agama, kondisi sosial, dan kompetensi individu.
Kesetaraan Gender, Hierarki dan Jabatan Struktural dalam Budaya Akademik Perguruan Tinggi Didi Sartika; Ayu Rahma Nengsi
Saree: Research in Gender Studies Vol. 4 No. 2 (2022): Saree: Research in Gender Studies
Publisher : Pusat Studi Gender dan Anak - PSGA (Center for Gender and Child Studies) Institut Agama Islam Negeri Lhokseumawe, Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47766/saree.v4i2.1007

Abstract

This study aims to reveal the phenomenon of gender equality in campus academic culture, the gender ratio in higher position holders, institutional patterns that are common in academic culture and classification based on symbolic power. The research was conducted using a mixed method, data was collected by distributing questionnaires to employees, for the sake of entering the data interviews were also conducted with selected informants. The collected data is analyzed by reducing, displaying data in tables and patterns, ending with drawing conclusions. The research findings show that in general there is no difference in treatment between men and women in their respective work departments based on the average recognition of 65% of male and female employees. The gender ratio in higher positions is dominated by men at 57.6% but this occurs naturally due to selection factors based on potential, programs carried out, leadership quality of the elected candidates. Gender inequality can be seen from the social conditions in the work environment based on the symbolic power of senior juniors where junior women get pressure from senior women in the academic culture in the work environment, especially in social communication and delegation of workload. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengungkap fenomena kesetaraan gender dalam budaya akademik kampus, rasio gender pada pemegang jabatan tinggi, pola-pola kelembagaan yang umum terjadi dalam budaya akademik dan klasifikasi berdasarkan kekuasaan simbolik. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode campuran, data dikumpulkan dengan menyebarkan kuesioner kepada karyawan, untuk kepentingan pemasukan data juga dilakukan wawancara dengan informan terpilih. Data yang terkumpul dianalisis dengan mereduksi, menampilkan data dalam bentuk tabel dan pola, diakhiri dengan penarikan kesimpulan. Temuan penelitian menunjukkan bahwa secara umum tidak ada perbedaan perlakuan antara pria dan wanita di departemen kerja masing-masing berdasarkan pengakuan rata-rata 65% karyawan pria dan wanita. Rasio gender pada jabatan yang lebih tinggi didominasi oleh laki-laki sebesar 57,6% namun hal ini terjadi secara alamiah karena faktor seleksi berdasarkan potensi, program yang dijalankan, kualitas kepemimpinan dari kandidat yang terpilih. Ketidaksetaraan gender dapat dilihat dari kondisi sosial di lingkungan kerja yang didasarkan pada kekuatan simbolik senior junior dimana perempuan junior mendapatkan tekanan dari perempuan senior dalam budaya akademik di lingkungan kerja terutama dalam komunikasi sosial dan pendelegasian beban kerja.
Nikah Mut'ah dalam Perspektif Hukum Islam Faizal Luqman
Saree: Research in Gender Studies Vol. 4 No. 2 (2022): Saree: Research in Gender Studies
Publisher : Pusat Studi Gender dan Anak - PSGA (Center for Gender and Child Studies) Institut Agama Islam Negeri Lhokseumawe, Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47766/saree.v4i2.1018

Abstract

The historical existence of mut'ah marriage during the time of the Prophet Muhammad is widely acknowledged among Muslims, documented in both Sunni and Shiite sources. While Shia Islam maintains the validity of mut'ah marriage indefinitely, it has been prohibited since the era of the Caliphate in Sunni tradition. This paper aims to elucidate the concept of mut’ah marriage, free from emotional bias or sectarian influences, by examining religious texts and rational arguments. Employing a qualitative research approach, this study conducts an in-depth exploration of scholarly literature and opinions, particularly focusing on the permissibility and prohibition of mut'ah marriages. The findings underscore the Shia school of thought's consistency in affirming the perpetual validity of mut'ah marriage, as no historical or Quranic evidence nullifies its legality. Conversely, the prohibition in Sunni tradition is based on hadith, consensus, and societal concerns, particularly regarding potential harm to women and children born from mut'ah unions. This research contributes to a nuanced understanding of mut'ah marriage within Islamic jurisprudence, emphasizing the importance of textual analysis and rational inquiry in interpreting religious laws. AbstrakEksistensi historis pernikahan mut'ah pada masa Nabi Muhammad diakui secara luas di kalangan umat Islam, yang didokumentasikan dalam sumber-sumber Sunni dan Syiah. Sementara Islam Syiah mempertahankan keabsahan pernikahan mut'ah tanpa batas waktu, pernikahan mut'ah telah dilarang sejak era kekhalifahan dalam tradisi Sunni. Makalah ini bertujuan untuk menjelaskan konsep pernikahan mut'ah, bebas dari bias emosional atau pengaruh sektarian, dengan mengkaji teks-teks agama dan argumen rasional. Dengan menggunakan pendekatan penelitian kualitatif, penelitian ini melakukan eksplorasi mendalam terhadap literatur dan pendapat para ulama, khususnya yang berfokus pada kebolehan dan pelarangan pernikahan mut'ah. Temuan penelitian ini menggarisbawahi konsistensi mazhab Syiah dalam menegaskan keabsahan pernikahan mut'ah, karena tidak ada bukti historis atau Alquran yang membatalkan keabsahannya. Sebaliknya, larangan dalam tradisi Sunni didasarkan pada hadis, konsensus, dan keprihatinan masyarakat, terutama mengenai potensi bahaya bagi perempuan dan anak-anak yang lahir dari pernikahan mut'ah. Penelitian ini berkontribusi pada pemahaman yang bernuansa tentang pernikahan mut'ah dalam yurisprudensi Islam, yang menekankan pentingnya analisis tekstual dan penyelidikan rasional dalam menafsirkan hukum agama.
Gender dan Problematika Ekonomi Perempuan Aceh Iskandar Iskandar
Saree: Research in Gender Studies Vol. 4 No. 2 (2022): Saree: Research in Gender Studies
Publisher : Pusat Studi Gender dan Anak - PSGA (Center for Gender and Child Studies) Institut Agama Islam Negeri Lhokseumawe, Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47766/saree.v4i2.1025

Abstract

Globalization presents complex challenges for women worldwide, accentuating gender biases and prompting inquiries into their societal roles. In Aceh, women hold pivotal positions in fostering progress and maintaining social stability. This qualitative study employs descriptive survey techniques to investigate the status of women in Aceh. The research entails various stages, including data collection from diverse informants, subsequent data reduction, and analysis. Findings underscore the necessity of redefining perceptions of women in Aceh and restructuring their domestic and public rights with sensitivity. Empirical evidence highlights the significant contributions of Acehnese women to the region's social, cultural, and economic advancement. Therefore, it is imperative to recognize and appreciate their roles amidst globalization's dynamics, ensuring their equitable participation and acknowledgment in societal development. AbstrakGlobalisasi menghadirkan tantangan yang kompleks bagi perempuan di seluruh dunia, menonjolkan bias gender dan mendorong pertanyaan tentang peran sosial mereka. Di Aceh, perempuan memegang posisi penting dalam mendorong kemajuan dan menjaga stabilitas sosial. Penelitian kualitatif ini menggunakan teknik survei deskriptif untuk menyelidiki status perempuan di Aceh. Penelitian ini terdiri dari berbagai tahap, termasuk pengumpulan data dari beragam informan, reduksi data, dan analisis. Temuan penelitian menggarisbawahi pentingnya mendefinisikan ulang persepsi tentang perempuan di Aceh dan merestrukturisasi hak-hak domestik dan publik mereka dengan sensitivitas. Bukti empiris menyoroti kontribusi signifikan perempuan Aceh terhadap kemajuan sosial, budaya, dan ekonomi di wilayah tersebut. Oleh karena itu, sangat penting untuk mengakui dan menghargai peran mereka di tengah dinamika globalisasi, untuk memastikan partisipasi dan pengakuan yang adil dalam pembangunan masyarakat.
Perspektif Masyarakat Mandailing Perantau tentang Kesetaraan Gender Suheri Sahputra Rangkuti; Zainal Abidin
Saree: Research in Gender Studies Vol. 4 No. 2 (2022): Saree: Research in Gender Studies
Publisher : Pusat Studi Gender dan Anak - PSGA (Center for Gender and Child Studies) Institut Agama Islam Negeri Lhokseumawe, Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47766/saree.v4i2.1027

Abstract

This article aims to find out how the views of the overseas Mandailing community regarding gender equality. The Mandailing ethnic community is one of the tribes that is well known for strictly adhering to the patrilineal system. The selection of the Mandailing people who have migrated is nothing but to see whether there has been a change in perceptions and the factors that have caused these changes and shifts. The research applied descriptive qualitative research methods with interview, observation, and documentation data collection techniques. This research resulted in the following findings: the perspective of gender equality among the Mandailing people who migrate has begun to be applied even though they do not understand the meaning of gender equality comprehensively; There has been a shift and change in perspective on gender equality among the Mandailing people who migrate to Medan City and its surroundings due to (1) the factor of Islam as the dominant religion embraced by the overseas Mandailing people; (2) the educational factor obtained by the overseas Mandailing community; (3) democratic factors that demand women's participation and participation. AbstrakArtikel ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pandangan masyarakat Mandailing di perantauan mengenai kesetaraan gender. Masyarakat etnis Mandailing merupakan salah satu suku yang terkenal sangat memegang teguh sistem patrilineal. Pemilihan masyarakat Mandailing yang telah merantau tidak lain adalah untuk melihat apakah telah terjadi perubahan persepsi dan faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya perubahan dan pergeseran tersebut. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data wawancara, observasi, dan dokumentasi. Penelitian ini menghasilkan temuan-temuan sebagai berikut: perspektif kesetaraan gender di kalangan masyarakat Mandailing yang merantau sudah mulai diterapkan meskipun belum memahami makna kesetaraan gender secara komprehensif; telah terjadi pergeseran dan perubahan cara pandang terhadap kesetaraan gender di kalangan masyarakat Mandailing yang merantau di Kota Medan dan sekitarnya disebabkan oleh (1) faktor agama Islam sebagai agama dominan yang dianut oleh masyarakat Mandailing di perantauan; (2) faktor pendidikan yang diperoleh masyarakat Mandailing di perantauan; (3) faktor demokrasi yang menuntut keikutsertaan dan partisipasi kaum perempuan.