cover
Contact Name
Nungki Hapsari Suryaningtyas
Contact Email
nungkihapsari36@gmail.com
Phone
+62735322774
Journal Mail Official
buletin.spirakel@gmail.com
Editorial Address
Balai Litbangkes Baturaja Jalan Jenderal Ahmad Yani km. 7 Kemelak Baturaja, Sumatera Selatan
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Spirakel
ISSN : 20861346     EISSN : 23548819     DOI : https://doi.org/10.22435/spirakel
Core Subject : Health,
SPIRAKEL is a media for researchers / academics / students / practitioners of Health Office, Department of Health, Public Health Service Center, to obtain or disseminate scientific information on tropical infectious diseases.
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 10 No 2 (2018)" : 5 Documents clear
FAKTOR IKLIM BERPENGARUH TERHADAP KEJADIAN DEMAM BERDARAH DENGUE DI KOTA CIMAHI TAHUN 2004-2013 Mutiara Widawati; M. Ezza Azmi Fuadiyah
SPIRAKEL Vol 10 No 2 (2018)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Baturaja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1085.557 KB)

Abstract

Studi ekologi dilakukan untuk mengetahui hubungan antara variabilitas faktor iklim berupa suhu, kelembapan, kecepatan angin, curah hujan dan lama penyinaran matahari dengan kejadian Demam berdarah dengue (DBD) di Kota Cimahi. Analisis korelasi dilakukan dengan menggunakan data sekunder yaitu data bulanan kasus DBD dan faktor iklim pada periode tahun 2004-2013. Data kasus DBD merupakan data bulanan berbasis rumah sakit yang diperoleh dari Dinas Kesehatan Kota Cimahi sedangkan data bulanan faktor iklim pada periode yang sama diperoleh dari Stasiun Geofisika Kelas I Bandung. Uji korelasi menggunakan pearson’s product moment atau spearman’s rho tergantung dari hasil uji normalitas data dengan kolmogorov-smirnov test. Analisis dilakukan dengan menggunakan 4 skenario selang waktu antara kasus DBD dengan faktor iklim yaitu tanpa selang waktu (n=0), selang waktu 1 bulan (n-1), selang waktu 2 bulan (n-2) dan selang waktu 3 bulan (n-3). Hasil uji menunjukkan bahwa suhu dan curah hujan memiliki hubungan signifikan (p value = 0,000 dan 0,004) dengan koefisien korelasi terkuat (r = -0,390 dan 0,265) pada selang waktu 1 bulan dari waktu kemunculan kasus DBD, sedangkan kelembapan dan lama penyinaran matahari memiliki hubungan yang signifikan (p value = 0,000 dan 0,002) dengan koefisien korelasi terbesar (r = 0,398 dan -0,277) pada selang waktu dua bulan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa suhu, curah hujan, kelembapan dan lama penyinaran matahari berhubungan dengan korelasi terbesar dari waktu kemunculan kasus DBD.
UJI EFEKTIVITAS AIR KOTORAN SAPI DAN AIR KOTORAN AYAM SEBAGAI ATRAKTAN PADA OVITRAP TERHADAP JUMLAH TELUR Aedes aegypti EFEKTIFITAS AIR KOTORAN SAPI DAN AIR KOTORAN AYAM SEBAGAI ATRAKTAN PADA OVITRAP TERHADAP JUMLAH TELUR Aedes eegypti Yunita Budiman; Suwarja Suwarja; Robinson Pianaung; Steven Jacob Soenjono; Milana Salim
SPIRAKEL Vol 10 No 2 (2018)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Baturaja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penyakit berbasis lingkungan masih merupakan masalah kesehatan masyarakat sampai saat ini. Salah satu penyakit yang disebabkan oleh kondisi sanitasi yang tidak memenuhi syarat kesehatan adalah demam berdarah dengue yang ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti. Nyamuk ini mengalami siklus kehidupan di dua habitat yakni stadium pra dewasa (telur, larva dan pupa) hidup di lingkungan air sedangkan stadium dewasa (nyamuk) hidup di luar air. Pengendalian nyamuk Ae. aegypti memerlukan tindakan pengawasan oleh surveilans. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui efektifitas air kotoran sapi dan air kotoran ayam sebagai atraktan pada ovitrap terhadap jumlah telur Aedes aegypti yang tertangkap. Jenis penelitian ini adalah eksperimen dengan rancangan post test only control grup. Jumlah telur Aedes aegypti yang tertangkap berjumlah 429. Media air kotoran sapi kosentrasi 5 % menghasilkan 288 butir (67,1%,) rata-rata 72, air kotoran ayam kosentrasi 5 % menghasikan 52 butir (12,1%) rata-rata 13 dan pada air sumur 200 ml (kontrol) menghasilkan 89 butir (20,8%) rata-rata 22. Hasil hipotesis menunjukan nilai probabilitas signifikan 0,000 lebih kecil dari taraf signifikan (α) 0,05 maka ada hubungan jenis media air yang digunakan dengan jumlah telur Aedes aegypti yang tertangkap. Dan air kotoran sapi merupakan jenis media air yang paling disukai nyamuk Aedes aegyti untuk meletakan telurnya dari pada air kotoran ayam.
GAMBARAN DAERAH RESEPTIF MALARIA DI KECAMATAN SALAMAN KABUPATEN MAGELANG JAWA TENGAH Diana Andriyani Pratamawati; Lulus Susanti; Sidiq Setyo Nugroho; Mujiyono Mujiyono; Ika Martiningsih
SPIRAKEL Vol 10 No 2 (2018)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Baturaja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (741.145 KB)

Abstract

Kasus malaria baru masih ditemukan di Kabupaten Magelang sepanjang tahun 2017. Kabupaten Magelang termasuk kawasan perbukitan Menoreh yang pada tahun 2014 telah menerima sertifikat bebas malaria, namun pada tahun 2015 kasus malaria meningkat hingga ditemukannya kembali kasus indigenous yaitu kasus yang penderitanya tidak pergi keluar desa/keluar pulau sebelum sakit. Sepanjang tahun 2015 hingga 2017 terus menerus ditemukan kasus positif malaria di Kabupaten Magelang baik kasus impor maupun indigenous. Tujuan penelitian untuk mendeskripsikan kendala survailans migrasi dalam peningkatan kasus malaria di Kabupaten Magelang tahun 2017. Penelitian ini menggunakan disain cross-sectional, lokasi penelitian di Kecamatan Salaman Kabupaten Magelang sebagai wilayah dengan kasus tertinggi malaria. Sampel yang diambil secara purposive dari semua pasien suspek malaria yang diperiksa Juru Malaria Desa pada bulan Januari-November 2017. Sampel terdiri dari kasus positif Plasmodium malaria dan sampel kontrol yang tidak sakit malaria serta sebanding umurnya dengan sampel kasus. Jumlah kasus dan kontrol dalam penelitian ini sebanyak 14 orang. Hasil penelitian menunjukkan kasus malaria di Kabupaten Magelang merupakan perpaduan kasus impor dan kasus indigenous. Sebagian besar penderita malaria berjenis kelamin laki-laki dengan umur < 45 tahun, serta pekerjaan paling banyak sebagai buruh di daerah Kalimantan Tengah. Wilayah Kabupaten Magelang dapat digolongkan sebagai daerah reseptif malaria dengan ditemukan berbagai spesies vektor malaria seperti Anopheles maculatus, An. balabacensis, An. vagus di sekitar kandang ternak di Desa Paripurno dan Desa Kalirejo. Keberadaan Juru malaria desa (JMD) dalam keberhasilan survailans migrasi di Kecamatan Salaman Kabupaten Magelang sangatlah penting, namun adanya keterbatasan jumlah JMD sementara daerah yang sulit dijangkau cukup luas menyebabkan kegiatan surveilans migrasi menjadi tidak optimal.
PERILAKU MASYARAKAT MUARO JAMBI DALAM PENCEGAHAN FILARIASIS LIMFATIK Maya Arisanti; Rizki Nurmaliani
SPIRAKEL Vol 10 No 2 (2018)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Baturaja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (318.834 KB)

Abstract

Filariasis limfatik merupakan penyakit yang masih menjadi masalah kesehatan di Indonesia. Salah satu kabupaten yang masih mengalami masalah kesehatan filariasis limfatik adalah Kabupaten Muaro Jambi. Penularan filariasis limfatik disebabkan masih adanya cacing filaria. Mansonia uniformis merupakan vektor yang ditemukan di Kabupaten Muaro Jambi. Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui gambaran epidemiologi filariasis limfatik di Kabupaten Muaro Jambi dengan melihat beberapa aspek. Hasil penelusuran literatur menunjukkan bahwa hingga tahun 2014 ditemukan 130 kasus filariasis limfatik di Kabupaten Muaro Jambi, tiga diantaranya merupakan kasus baru. Berdasarkan beberapa penelitian menunjukkan bahwa faktor kovariat terjadinya filariasis limfatik adalah perilaku masyarakat yang tidak menggunakan pelindung diri dari gigitan nyamuk sewaktu tidur dan saat keluar rumah di malam hari. Faktor lain terkait lingkungan yaitu keberadaan genangan air, sawah dan rawa bisa menjadi tempat berkembangbiak vektor penyebab filariasis limfatik. Jadi jarak rumah yang dekat dengan sawah/rawa merupakan faktor risiko terjadinya filariasis limfatik. Kesimpulan yang diperoleh adalah masih ditemukannya kasus baru pada tahun 2014 mengindikasikan masih terjadinya penularan filariasis di kabupaten tersebut. Penularan terjadi karena masyarakat yang belum sepenuhnya melakukan tindakan pencegahan dari gigitan nyamuk khususnya Ma. uniformis sebagai vektor filariasis limfatik di Kabupaten Muaro Jambi.
DAYA BUNUH EKSTRAK KULIT KENTANG (Solanum tuberosum L.) TERHADAP JENTIK Aedes sp Stevie Mariany Pamikiran; Steven J. Soenjono; Suwarja Suwarja; Indah Margarethy; Milana Salim; Nungki Hapsari Suryaningtyas
SPIRAKEL Vol 10 No 2 (2018)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Baturaja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (193.492 KB)

Abstract

Pengendalian jentik Aedes sp dengan cara menggunakan insektisida alami dapat berfungsi sebagai upaya pencegahan timbulnya resistensi terhadap insektisida kimiawi. Senyawa yang terkandung dalam tumbuhan berpotensi sebagai insektisida yaitu golongan sianida, saponin, tanin, flavonoid, alkaloid, steroid dan minyak atsiri. Salah satunya ekstrak dari kulit kentang (Solanum tuberosum L.) mengandung senyawa flavonoid. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui efektivitas ekstrak kulit kentang (Solanum tuberosum L.) dalam membunuh jentik Aedes sp. Jenis penelitian ini bersifat eksperimen dengan desain penelitian post test only control group design untuk mengetahui konsentrasi letal ekstrak kulit kentang (Solanum tuberosum L.) terhadap jentik Aedes sp. Perlakuan dilakukan sebanyak 3 kali pengulangan dengan jumlah jentik Aedes sp masing-masing 10 jentik. Konsentrasi yang digunakan yaitu 0,25%, 0,5%, 0,75%, 1% dan kontrol menggunakan air sumur. Hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan bahwa konsentrasi 1% efektif dalam membunuh jentik Aedes sp sebesar 50%. dan nilai LC50 ekstrak kulit kentang pada konsentrasi 1,1%. Ekstrak kulit kentang (Solanum tuberosum L.) belum efektif digunakan sebagai larvasida Aedes sp.

Page 1 of 1 | Total Record : 5