cover
Contact Name
Gusti Ayu Made Suartika
Contact Email
ayusuartika@unud.ac.id
Phone
+6289685501932
Journal Mail Official
ruang-space@unud.ac.id
Editorial Address
R. 1.24 LT.1, Gedung Pascasarjana, Universitas Udayana, Kampus Sudirman Denpasar Jalan P.B. Sudirman, Denpasar 80232, Bali (Indonesia).
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
RUANG: JURNAL LINGKUNGAN BINAAN (SPACE: JOURNAL OF THE BUILT ENVIRONMENT)
Published by Universitas Udayana
ISSN : 23555718     EISSN : 2355570X     DOI : -
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal RUANG-SPACE mempublikasikan artikel-artikel yang telah melalui proses review. Jurnal ini memfokuskan publikasinya dalam bidang lingkungan binaan yang melingkup beragam topik, termasuk pembangunan dan perencanaan spasial, permukiman, pelestarian lingkungan binaan, perancangan kota, dan lingkungan binaan etnik. Artikel-artikel yang dipublikasikan merupakan dokumentasi dari hasil aktivitas penelitian, pembangunan teori-teori baru, kajian terhadap teori-teori yang ada, atau penerapan dari eksisting teori maupun konsep berkenaan lingkungan terbangun. Ruang-Space dipublikasi dua kali dalam setahun, setiap bulan April dan Oktober, oleh Program Studi Studi Magister Arsitektur Universitas Udayana yang membawahi Program Keahlian Perencanaan dan Pembangunan Desa/Kota; Konservasi Lingkungan Binaan; dan Kajian Lingkungan Binaan Etnik.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 199 Documents
POLA PERMUKIMAN KAMPUNG ADAT LEWOHALA DI KABUPATEN LEMBATA-FLORES PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR Yohannes Kapistranus Sasong Payong
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 3 No 2 (2016): Agustus 2016
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1450.519 KB) | DOI: 10.24843/JRS.2016.v03.i02.p08

Abstract

Kampung Adat Lewohala is a traditional settlement with distinctive representation of its historical development. Communal spaces and other elements have been constructed following conventions and belief with adaptation to the natural environment. So the main aim of the following qualitative research has been to identify and gain comprehension of the organizational elements composing the Lewohala settlement. This study primarily addresses the entry points of Bawa Lowe which are located in four different aspects of settlement; as well as the core called Lewu kepuhur. In addition, there exists a public open space (nawang) defined by the houses of lango adat. This core area also accommodates kako as a place to entertain and demonstrate hospitality; wule - a traditional market; and belinda nore – special storage to keep weapons. What emerges from this study is the suggestion that the human body is reflected by symbolic representation in the pattern of the whole settlement. Keywords: Kampung Adat Lewohala; settlement pattern; elements of settlement Abstrak Kampung Adat Lewohala merupakan desa tradisional yang merepresentasikan perkembangan kesejarahan yang berbeda dengan desa lainnya. Ruang-ruang komunal dan elemen lainnya dikonstruksikan mengikuti aturan adat dan sistem kepercayaan yang diadaptasikan pada lingkungan alamiah desa tersebut. Tujuan penulisan ini adalah untuk mengidentifikasi dan memperoleh gambaran lengkap tentang pengorganisasian elemen yang membentuk permukiman Lewohala. Studi ini terutama ditujukan kepada Bawa Lowe yang terletak di empat aspek berbeda dari permukiman tersebut, juga sebagai kawasan inti dari permukiman Lewu Kepuhur. Selain itu, keberadaan ruang terbuka (nawang) yang didefinisikan sebagai rumah lango adat. Kawasan inti ini juga mengakomodasi kako sebagai tempat untuk mempertunjukkan ikatan kekeluargaan mereka; wule – pasar tradisional; dan belinda nore – ruang penyimpanan khusus untuk senjata. Hasil studi ini memperlihatkan bahwa keseluruhan pola permukiman desa adat ini merupakan refleksi simbolik dari tubuh manusia.
Dinamika Fungsi Ruang di Bale Banjar Titih Denpasar, Bali Putu Ayu Hening Wagiswari; Nyoman Widya Paramadhyaksa; Gusti Ayu Made Suartika
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 6 No 2 (2019): Oktober 2019
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (827.661 KB) | DOI: 10.24843/JRS.2019.v06.i02.p04

Abstract

The existence of public space has an important role in city development. In Bali, bale banjar (bale: a hall; banjar: a neighborhood association) is known as a place for various socio-cultural activities. Every member of a banjar is tied up by certain moral values, consensus, codes, and traditions which are all contained in a set of banjar awig-awig (rules). Bale banjar is one of many unique traditions in built form that remains intact in Bali. This article explains the dynamic functions of spaces available in a bale banjar. Two main research problems discussed within are the dynamic functions of spaces in a bale banjar throughout different periods in history and also the determining factors affecting this dynamic. In its process of unveiling both of these phenomenons, this research uses qualitative method with a phenomenology approach and selects Banjar Titih as a case study. The study result finds that the dynamic functions of a bale banjar demonstrate that as times go by, there is a tendency for the bale Banjar Titih to have more complex types and uses of spaces. This is due to mainly to the following factors, including the growing number of the banjar members; the shifting view from that which sees bale banjar as a socio-cultural center of the community into a view that sees bale banjar as a space to bring in financial profits/contribution; and change in people's people way of interactions. To date members of the Banjar Titih cope well with this shift as to how the spaces in their bale banjar have been modified from time to time to suit changes in many determining factors. Keywords: dynamic, functions of space, bale banjar Abstrak Keberadaan ruang publik memiliki peran penting dalam perkembangan sebuah kota dalam mewadahi kegiatan masyarakat. Di Pulau Bali dikenal dengan adanya bale banjar sebagai wadah masyarakat dalam melakukan kegiatan sosio kultural. Setiap kegiatan yang dilakukan oleh warga banjar terikat oleh nilai moral, hukum dan kebudayaan yang diatur dalam awig-awig banjar. Bale banjar merupakan wujud budaya yang telah mempertahankan eksistensi masyarakat Bali hingga saat ini. Artikel ini membahas tentang dinamika fungsi ruang bale banjar. Fokus permasalahan yang diangkat adalah bagaimana proses terjadinya dinamika fungsi ruang bale banjar dari periode awal hingga periode modern serta faktor-faktor yang mempengaruhi. Dalam mengungkap fenomena ini digunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Hasil survey lapangan ditemukan bahwa Banjar Titih merupakan salah satu banjar yang mengalami dinamika fungsi ruang. Adapun hasil temuan menunjukkan adanya kecenderungan merubah fungsi ruang bale banjar dari bentuk yang sederhana menjadi modern karena disebabkan oleh faktor pertumbuhan penduduk, faktor ekonomi dan faktor pola pikir masyarakat. Fenomena dinamika fungsi ruang bale Banjar Titih merupakan topik yang menarik untuk diteliti karena relevan dengan dasar ilmu planologi. Warga Banjar Titih mampu mengelola fungsi ruang bersinergi dengan fungi utamanya sebagai ruang publik sehingga dinamika fungsi ruang yang terjadi dapat bermanfaat bagi warga banjar. Kata kunci: dinamika, fungsi ruang, bale banjar
KAJIAN PROPORSI CANDI TEBING GUNUNG KAWI, TAMPAKSIRING-GIANYAR Anak Agung Gede Raka Gunawarman
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 2 No 1 (2015): April 2015
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (677.88 KB) | DOI: 10.24843/JRS.2015.v02.i01.p05

Abstract

Abstract The term ''candi'' in Indonesia generally refers to sacred buildings, legacies of Hindu-Budha Kingdoms. Candi is often considered a masterpiece erected based on certain architectural guidelines including those pertaining to site selection and proportion. Rock cut candi is one among many forms of structure found in certain areas across the Nusantara. In its objective to study the proportion of a rock cut candi, this article takes Gunung Kawi of Gianyar Regency-Bali, as a case study. The study analyzes the proportion of its physical elements, which are classified into three groups: leg; body; and head elements. Each category is constructed of lower, body and upper frame. This research implements Manasara-Silpasastra principles in regard to proportion of sacred structures. Manasara-Silpasastra proposes five categories of ratio of width to height, which are santika, paushtika, parshnika/jayada, adbhuta, and sarvakamika (Acharya, 1927). The research finds that the proportion between width and height at Gunung Kawi Rock Cut Candi falls into the category of paushtika. This is reflected in the ratio of its height to the width of its foot, which is 2:1. Keywords: Rock cut candi, physical elements of candi, proportion, Manasara-Silpasastra Abstrak Istilah 'candi' di Indonesia diartikan sebagai bangunan suci, peninggalan kerajaan Hindu-Budha. Candi seringkali dipandang sebagai peninggalan yang dibangun berdasarkan prinsip-prinsip kearsitekturan, termasuk yang berkenaan dengan pemilihan site, rasio, dan proporsi. Dalam tujuannya untuk mengkaji proporsi dari sebuah candi, artikel ini  mengambil Candi Tebing Gunung Kawi (Kabpaten Gianyar) sebagai studi kasus. Candi tebing merupakan salah  satu struktur yang hanya ditemukan di beberapa lokasi tertentu di Nusantara. Studi ini mengkaji elemen fisik candi yang dibagi dalam tiga kelompok elemen, yaitu kaki, badan, dan kepala. Masing-masing kelompok terdiri dari bagian badan dan bagian atas. Dalam penghitungan proporsi candi, penelitian ini mengimplementasikan prinsip-prinsip Manasara-Silpasastra, khususnya yang berkenaan dengan bangunan suci. Manasara-Silpasastra menawarkan lima kategori proporsi lebar terhadap tinggi dari sebuah candi, yaitu: santika, paushtika, parshnika/jayada, adbhuta, dan sarvakamika (Acharya, 1927). Untuk kasus Candi Gunung Kawi ditemukan bahwa rasio antara tinggi dan lebar dasar candi mengikuti prinsip paushtika: 2:1. Kata kunci: Candi tebing, elemen pembentuk candi, proporsi, Manasara-Silpasastra
Perubahan Fungsi Spasial sebagai Akibat Perkembangan Pariwisata di Banjar Kedungu, Desa Belalang Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan I Putu Edy Rapiana
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 4 No 1 (2017): April 2017
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1403.148 KB) | DOI: 10.24843/JRS.2017.v04.i01.p02

Abstract

Tourism has largely contributed to the development of Bali Island. To mention a few, it creates job opportunities; increases income per capita; encourages migration, and is also a powerful stimulant for land use change. Taken the latter as a context to its focus and spatial developments taken place in Banjar Kedungu, Belalang Village, Kediri District of Tabanan Regency as its case study, this article addresses three issues, including 1) forms of land use changes; 2) how each land use change occurred; and 3) determining factors that influence land use changes. This study applied a cross-disciplinary conceptual framework composed by the theory of change, a series of concepts in regard to spatial development, and the theory of commodification. It also implemented a combined qualitative-quantitative research approach. Data presented within was collected by conducting physical observation and in depth interview with potential informants. Main study findings show there is a tendency for land use change to move to the southern part of Kedungu. It is mainly due to change in legal land ownership. Many landowners decided to sell their agricultural land either for economic reason or having to migrate to a different part of the neighborhood or to new places outside their community. Further reasons for land use changes is explained in detail within, which are categorized in two major groups of internal and external factors. Keywords: change, function, spatial, tourism, Banjar Kedungu
Taman Indonesia Kaya sebagai Ruang Terbuka Publik di Semarang Berdasarkan Kebutuhan Pengguna Astari Wulandari
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 7 No 2 (2020): Oktober 2020
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1179.961 KB) | DOI: 10.24843/JRS.2020.v07.i02.p05

Abstract

Open space is an important element of an urban area as well as to its urban community. It is often a public space whose inherent functions are to accommodate both recreation and relaxation related activities. The provision of public open space is fundamental, not only for these roles but also as part of significant deed in the development of urban character. Taking Taman Indonesia Kaya of Kota Semarang of Java Island in Indonesia, as its case study, this paper goes back to 47 years ago, when this public space was re-made up. Prior to its make-over, this park had been named after Taman Minister Supeno. The park was often associated with negative images which were rather unfortunate, considering its location in the heart of Semarang’s Town Centre. This study aims to examine in depth the basic elements of Taman Indonesia Kaya as a public space. This research implements a qualitative research method supported by field observation and literature review. The transformation of Taman Indonesia Kaya has indeed provided a significant change in its physical quality, which in turn has brought continuous improvement to its capacity to serve public needs. This includes the provision of spatial elements of public space that deliver comfort, relaxation, passive and active engagements, as well as discovery. Although each of these attributes may not be endowed with an individual physical element, the overall functions associated with Taman Indonesia Kaya as a public space is maintained. Keywords: Taman Indonesia Kaya; open space; public space AbstrakRuang terbuka sebagai salah satu elemen perancangan kota menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat dalam perannya sebagai ruang rekreasi dan relaksasi. Dengan demikian pemenuhan persyaratan utama sebuah ruang terbuka publik menjadi satu hal yang harus terpenuhi agar ruang tersebut mampu mewadahi aktivitas masyarakat, berkarakter dan berfungsi sebagaimana mestinya. Sejak awal pembangunannya 47 tahun silam, sebelum nama Taman Indonesia Kaya disematkan, Taman Menteri Supeno merupakan salah satu taman kota yang identik dengan citra negatif. Kondisi tersebut sangat disayangkan mengingat lokasinya berada pada jantung Kota Semarang. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kriteria ruang terbuka publik berdasarkan kebutuhan pengguna Taman Indonesia Kaya. Dengan demikian, penelitian ini akan memberikan manfaat berupa gagasan baru dalam peningkatan kualitas Taman Indonesia Kaya melalui pemenuhan kebutuhan dasar pengguna taman. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang mendeskripsikan fenomena pada lokasi studi berdasarkan observasi langsung dan studi literatur. Transformasi Taman Menteri Supeno menjadi Taman Indonesia Kaya memberikan perubahan signifikan bagi kualitas fisik ruang terbuka publik yang berdampak pada peningkatan image taman. Kriteria dasar kebutuhan pengguna di ruang terbuka publik; comfort, relaxation, passive engagement, active engagement, dan discovery secara umum telah terpenuhi pada Taman Indonesia Kaya. Meskipun pada area tertentu ditemukan adanya overlapping dua hingga tiga kriteria, kondisi tersebut tidak merubah fungsi utama taman sebagai ruang terbuka publik.Kata kunci: Taman Indonesia Kaya; ruang terbuka; ruang publik
PEMANFAATAN HUNIAN UNTUK FUNGSI KOMERSIAL DI LINGKUNGAN PADANGTEGAL TENGAH, UBUD I Dewa Gede Putra; Ida Ayu Armeli; Ngakan Putu Sueca
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 1 No 2 (2014): October 2014
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (349.655 KB) | DOI: 10.24843/JRS.2014.v01.i02.p08

Abstract

Abstract The Ubud community residential units, especially in the Padangtegal Tengah environment have an important role as a place for shelter, socializing and performing religious rituals. Due to the modernization and development of tourism in the study area, residential units also developed into commercial functions resulting in changes in residential land use. The purpose of this study was to establish a study area, and (1) understand commercial typologies and management functions, (2) establish the occupancy use for commercial functions as well as its impact. Of the cases studied, an average of 19 percent of the floor area building capacity is used for commercial functions out of the residential land area. Consequently, spaces become functionally modified or adjusted to suit the present conditions, but some are retained. Commercial functions are able to support incomes, which increased well-being and housing consolidation. The function of traditional space in the residential core is retained, but the adaptations and modifications were carried out on land that has not been used previously, such as the area of the front and the back of the residential units. Due to modernization, the mindset of the people has changed, affecting residential land use. Hence economic rationality is changing both traditional attitudes and spatial functions in the area. Keywords: land use, traditional house, commercial function Abstrak Unit hunian masyarakat Ubud khususnya di Lingkungan Padangtegal Tengah memiliki peran penting sebagai tempat untuk bernaung, bersosialisasi dan melakukan ritual agama. Dengan adanya modernisasi dan perkembangan pariwisata pada wilayah studi, unit hunian turut berkembang menjadi fungsi komersial sehingga terjadi kecenderungan pergeseran dan perubahan pemanfataan lahan hunian. Tujuan dari penelitian ini untuk (1) mengetahui dan memahami jenis dan pengelolaan fungsi komersial, (2) memahami  pemanfaatan hunian untuk fungsi komersial serta dampaknya di wilayah studi. Rata-rata, 19 persen kapasitas luas lantai bangunan digunakan untuk fungsi komersial berbanding luas lahan hunian. Konsekuensinya, telah terjadi modifikasi keruangan berdasarkan fungsi untuk mengakomodasi kondisi kekinian. Fungsi komersial dapat menunjang pendapatan yang berdampak pada peningkatan kesejahteraan dan konsolidasi hunian. Fungsi ruang tradisional pada bagian inti hunian masih dipertahankan, namun adaptasi dan modifikasi dilakukan pada lahan yang belum dimanfataankan sebelumnya, seperti area depan dan belakang unit hunian. Modernisasi telah mempengaruhi cara pandang masyarakat dalam memanfaatkan lahan huniannya. Cara pikir secara ekonomis telah merubah tingkah lalu tradisional dan fungsi spasial pada area ini. Kata kunci: tata guna lahan, hunian tradisional, fungsi komersial
Nilai Signifikansi Cagar Budaya Hotel Inna Bali, Jalan Veteran Denpasar Ida Ayu Diah Paramitha; I Wayan Kastawan; - Widiastuti
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 4 No 2 (2017): October 2017
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (946.608 KB) | DOI: 10.24843/JRS.2017.v04.i02.p02

Abstract

This article explores the importance of Inna Bali Hotel, an historically significant colonial legacy of Denpasar city. In examining this Hotel as a built form for conservation, it discusses 3 main issues, namely: i) historical substantial meanings and values held by this hotel; ii) cross comparison between each meaning and values; and iii) the development of a conservation strategy for Inna Bali Hotel. The first issue was studied in terms of aesthetical, historical, social, and scientific aspects. Each aspect was measured in its accordance with the Indonesian Law Number 11, Year 2010 in regard to Cultural Heritage. When each of these four aspects were compared, the study indicated that historical aspect had been the most determining factor that leads to an urgent need to conserve the Inna Bali Hotel. This study subsequently developed a conservation strategy for every single built form exists on the Hotel's site. In implementing this strategy, this research further suggests that Inna Bali Hotel should indeed have relevant standard operating procedures governing every taken conservation activity. The whole study was carried out using qualitative research method, in which data collection was done by conducting on site observation and in depth interviews. Keywords: values, significance, cultural heritage, conservation
Kajian Fasad Bangunan terhadap Visual Connection di Koridor Jalan Teuku Umar, Denpasar A. A. Gede Trisna Gamana Pratama
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 6 No 1 (2019): April 2019
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2168.446 KB) | DOI: 10.24843/JRS.2019.v06.i01.p05

Abstract

The development and growth of Denpasar City is accompanied by the development of diverse architecture. Mainly at Teuku Umar streetas one of the commercial centers there. It will affect the image of a city if the building façade doesn’t directed according to how the government wants based on regional Regulation Number 27 of 2011 about Denpasar city layout project. This research uses descriptive qualitative research with rationalistic approach based on the facts at the field, with primary data observations and direct documentation of building facade. The results of this research indicate visual connection which formed in this corridor is dominated by commercial buildings, so it contributes the modern building architectural image which is dominated.This kind of thing is still outlyingfrom what was expected from the look of Denpasar city. Whereas Denpasar should be a cultural insightful city although Teuku Umar street is one of the commercial and services center in Denpasar city. Denpasar government who take the responsibility of the wisdom is expected to make the reference of using building façade more specific based on the function of the building itself and not to generalize them. So as the function of commercial calibrate the look of the building that can attract the interest of customers and also can appropriate to how Denpasar city wants the city look like. Keywords: building facade, visual connection, Teuku Umar street corridor Denpasar (Times New Roman 10t, Blank, Times New Roman 12pt, Single-before 0-after 6) Abstrak (Times New Roman 12pt, Bold, Multiple at 1.15-before 0-after 6) Perkembangan dan pertumbuhan Kota Denpasar diiringi dengan perkembangan arsitektur yang beragam.Terutama di koridor Jalan Teuku Umar sebagai salah satu pusat komersial di Kota Denpasar. Hal tersebut mempengaruhi image sebuah koridor kota melalui tampilan fasad bangunan yang ada, tidak diarahkan sesuai wajah kota yang dinginkan pemerintah berdasarkan Peraturan Daerah No 27 Tahun 2011 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Denpasar. Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatan rasionalistik berdasarkan kenyataan dilapangan, dengan data primer diperoleh dari hasil observasi, dokumentasi langsung berupa image fasad bangunan. Hasil penelitian menunjukkan visual connection yang terbentuk pada koridor ini didominasi bangunan komersial, sehingga memberikan image bangunan arsitektur modern yang mendominasi tampilan fasad bangunan. Hal ini masih sangat jauh dari apa yang diharapkan dari wajah kota Denpasar yang berwawasan budaya, namun dengan kondisi Koridor Jalan Teuku Umar yang merupakan salah satu pusat perdagangan dan jasa di Kota Denpasar. Diharapkan pada pengampu kebijakan yakni Pemerintah Kota Denpasar agar membuat acuan mengenai penggunaan fasad bangunan lebih khusus berdasarkan jenis fungsi bangunan dan tidak mengeneralisir sehingga pada fungsi bangunan komersial dapat menyesuaikan tampilan yang dapat menarik minat pengunjung dan juga sesuai dengan wajah kota yang diinginkan Kota Denpasar. Kata kunci: fasad bangunan, visual connection, Koridor Jalan Teuku Umar Denpasar
Menjaga Keberlanjutan Kampung Adat Melalui Pemberdayaan Penenun di Kampung Anajiaka, Kab. Sumba Tengah . Wiyatiningsih; Kristian Oentoro
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 7 No 1 (2020): April 2020
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (567.75 KB) | DOI: 10.24843/JRS.2020.v07.i01.p10

Abstract

The study discusses the effort to maintain the sustainability of a traditional kampung through empowering weavers in Kampung Anajiaka, Sumba Tengah Regency. The number of weavers is decreasing. This is in line with the lack of weaving skills which inhibits the development of weaving motifs as a local identity. Indeed, woven clothes have deep cultural meanings. They are not only used for everyday wear, but also for ritual ceremonies. With time, woven clothes making become a livelihood for the community of Kampung Anajiaka. This work replaces farming that is absolutely depending on the rain. Based on the problems, the study aims at mapping the potentials of weavers and their role in the sustainability of Kampung Anajiaka. The study applies a descriptive – qualitative research method collecting data through field observation and interviews with the weavers. The study was done in Kampung Anajiaka consisting of 14 Sumbanese traditional houses surrounding megalithic toms. The study result shows that empowering weavers improves living environment quality. This can be seen from the mutual relationship system in the development of weaving skills of the weavers and the providing of working space and types of equipment for weaving. The improvement of living environment quality will contribute to the sustainability of the traditional kampung. Keywords: empowering; Sumba Tengah Regency; sustainability; traditional kampung; the weaver Abstrak Studi ini membahas upaya untuk menjaga keberlanjutan kampung adat melalui pemberdayaan penenun di Kampung Anajiaka, Kabupaten Sumba Tengah. Jumlah penenun yang sebagian besar adalah ibu rumah tangga semakin menurun saat ini. Sedikitnya jumlah penenun seiring dengan minimnya ketrampilan menenun yang menghalangi pengembangan motif tenun sebagai identitas lokal. Padahal, tenun memiliki makna kultural yang dalam bagi masyarakat Sumba. Tenun merupakan bagian dari perlengkapan budaya yang tidak hanya dipergunakan untuk pakaian sehari-hari, namun juga untuk upacara-upacara adat. Pada perkembangannya, menenun dapat menjadi sumber pendapatan keluarga bagi masyarakat Kampung Anajiaka. Pekerjaan ini menggantikan pekerjaan bertani yang sangat tergantung pada hujan. Berdasarkan permasalahan tersebut, maka studi ini bertujuan untuk memetakan potensi penenun dan perannya terhadap keberlanjutan kampung adat Anajiaka. Studi ini menerapkan metode penelitian deskriptif – kualitatif yang mengumpulkan data melalui observasi lapangan dan wawancara terhadap penenun. Studi dilakukan di Kampung Adat Anajiaka yang terdiri dari 14 rumah tradisional yang diletakkan mengelilingi batu kubur megalitik. Hasil studi menunjukkan bahwa pemberdayaan penenun berdampak pada peningkatan kualitas lingkungan hunian. Hal ini terlihat melalui sistem gotong royong dalam peningkatan ketrampilan menenun dari penenun dan penyediaan ruang kerja dan peralatan menenun. Meningkatnya kualitas lingkungan hunian akan berkontribusi terhadap keberlanjutan kampung adat. Kata kunci: pemberdayaan; Kabupaten Sumba Tengah; keberlanjutan; kampung adat; penenun
RUANG KOTA SEBAGAI WADAH AKTIVITAS REMAJA DALAM MENGISI WAKTU LUANG DI KOTA DENPASAR Wayan Sutarman
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 2 No 2 (2015): Oktober 2015
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (534.885 KB) | DOI: 10.24843/JRS.2015.v02.i02.p08

Abstract

Abstract This article discusses urban spaces available to young people to spend their free time outside school in Denpasar City. Since such spaces are poorly provisioned, this article studies the types of spatial resources required by the young generation. It investigates the typology of activities employed by this group outside their domestic environment; the provision of urban spaces; and preferred functions for school holidays and ancillary spaces. The study implemented a combined research approach using both qualitative and quantitative techniques and a frequency method for data analysis. The study findings demonstrate that in their free time, young people tend to participate in activities that are both populer and relaxing, using  sports fields; malls and shopping centres; and 24 hours restaurant and outlets that allow free internet access. Other preferred public urban spaces include swimming pools, arenas for roller blading and skate boarding related activites, futsal; and tracks for motor bike competitions. Keywords: teenager’ activities, urban spaces Abstrak Tulisan ini mempertanyakan tentang ruang kota yang digunakan oleh remaja di Kota Denpasar, dalam mengisi waktu luang di luar jam sekolah. Dimana ruang-ruang tersebut yang ada selama ini penciptaanya kurang memperhatikan kebutuhan remaja di Kota Denpasar. Dengan kondisi ini munculah beberapa permasalahan-permasalahan ruang kota di Kota Denpasar. Untuk dapat memecahkan permasalahan tersebut dapat dilakukan pendekatan dengan mengetahui aktivitas-aktivitas yang telah dilakukan oleh remaja di Kota Denpasar dan ruang kota yang telah digunakan, aktivitas yang ingin dilakukan, serta ruang kota yang diinginkannya, sehingga mendapatkan ruang-ruang kota yang berpotensi ke depan untuk dapat dikembangkan. Untuk dapat memecahkan permasalahan tersebut penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Analisis data menggunakan metode frekuensi. Hasil studi menemukan bahwa, ada aktivitas remaja pelajar  pada waktu luang di Kota Denpasar, dipengaruhi oleh tingkat kepopuleran dari aktivitas itu sendiri serta aktivitas bersama yang tidak memerlukan pemikiran (aktivitas santai). Untuk mendukung aktivitas remaja pelajar di Kota Denpasar diperlukan ruang-ruang seperti: lapangan olah raga, mall/ pusat perbelanjaan, dan restaurant 24 jam. Serta mengusulkan ruang-ruang seperti: kolam renang, lintasan sepatu roda, lintasan skate board, lapangan futsal, dan lintasan lomba naik sepeda motor (trak-trakan). Kata Kunci: aktivitas remaja, ruang kota

Page 4 of 20 | Total Record : 199