cover
Contact Name
Rokhani Hasbullah
Contact Email
rokhani.h@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnaltep@yahoo.com
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Keteknikan Pertanian
ISSN : 24070475     EISSN : 23388439     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Keteknikan Pertanian dengan No. ISSN 2338-8439, pada awalnya bernama Buletin Keteknikan Pertanian, merupakan publikasi resmi Perhimpunan Teknik Pertanian Indonesia (PERTETA) bekerjasama dengan Departemen Teknik Mesin dan Biosistem (TMB) IPB yang terbit pertama kali pada tahun 1984, berkiprah dalam pengembangan ilmu keteknikan untuk pertanian tropika dan lingkungan hayati. Jurnal ini diterbitkan dua kali setahun. Penulis makalah tidak dibatasi pada anggota PERTETA tetapi terbuka bagi masyarakat umum. Lingkup makalah, antara lain: teknik sumberdaya lahan dan air, alat dan mesin budidaya, lingkungan dan bangunan, energi alternatif dan elektrifikasi, ergonomika dan elektronika, teknik pengolahan pangan dan hasil pertanian, manajemen dan sistem informasi. Makalah dikelompokkan dalam invited paper yang menyajikan isu aktual nasional dan internasional, review perkembangan penelitian, atau penerpan ilmu dan teknologi, technical paper hasil penelitian, penerapan, atau diseminasi, serta research methodology berkaitan pengembangan modul, metode, prosedur, program aplikasi, dan lain sebagainya.
Arjuna Subject : -
Articles 632 Documents
Tinjauan Aplikasi Indikator Perubahan Hidrologi di DAS Wonorejo Indarto, Indarto,
Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 6 No. 3 (2018): JURNAL KETEKNIKAN PERTANIAN
Publisher : PERTETA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1659.916 KB) | DOI: 10.19028/jtep.06.3.241-248

Abstract

AbstractThis study use Indicator of Hydrological Alteration (IHA) method to evaluate statistically the flow characteristics between two periods of records. Existing daily discharge data from Wonorejo Watershed was separated in two periods called: pre-assesment (from 1990 to 2001), and post-assesment (from 2002 to 2013). All of 33 IHA parameters, which classified in five (5) class indicator, were used to measure the change or the level of alteration. IHA software version 7.1 was used for the analysis. The result shows that discharge in Wonorejo river has change to negative index. Result show that monthly, daily and extreme value of flow regime have decrease during the last 10 years (2002 – 2014) or post-assesment periods, compared to pre-assesment period (from 1990 - 2001). This study also calculate the environmental flow component of river flow to support sustainability of river ecology and surrounding environment.AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi terjadinya perubahan indikator karakteristik hidrologi pada suatu DAS. Penelitian dilakukan di DAS Wonorejo, di wilayah Kabupaten Lumajang. Input utama adalah data rentang waktu berupa debit dan hujan harian. Periode rekaman data lebih dari 20 tahun. Analisis dilakukan menggunakan Indicator of Hydrologycal Alteration (IHA). Data rentang waktu dibagi menjadi dua interval (periode pra-penilaian (1990 – 2001) dan periode paska-penilaian (2002 - 2014). Sejumlah, 33 parameter IHA yang terklasifikasi ke dalam 5 kategori digunakan untuk mengevaluasi perubahan tersebut. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan nilai parameter yang mengindikasikan perubahan hidrologi antara periode sebelum dan sesudah analisis. Selanjutnya, analisis menunjukkan adanya penurunan pada semua aspek aliran, yang mencakup: aliran bulanan, aliran esktrem (minimal dan maksimal), aliran tinggi/ rendah dan aliran dasar. Analisis statistik ini juga dapat menunjukkan adanya perubahan karakteristik aliran tinggi dan rendah yang berpotensi menyebabkan kejadian banjir dan kekeringan. 
Peningkatan Efektivitas Ekstraksi Oleoresin Pala Menggunakan Metode Ultrasonik Baihaqi Baihaqi; I Wayan Budiastra; Sedarnawati Yasni; Emmy Darmawati
Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 6 No. 3 (2018): JURNAL KETEKNIKAN PERTANIAN
Publisher : PERTETA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (753.434 KB) | DOI: 10.19028/jtep.06.3.249-254

Abstract

AbstractApplication of ultrasonic-assisted extraction (UAE) is widely used to extract active compounds of certain product due to its lower energy consumption and shorter operating times than conventional method. However, proper configuration of UAE in improving extraction efficiency in spices, particularly nutmeg, remains unknown. Therefore, the aim of this research is to study the effect of particle size and amplitudes of UAE on the oleoresin extraction effectiveness in nutmeg. Experiments were carried out under the following conditions: the mass ratio of dry meat nutmeg to solvent of 1:5, therespective particle size of the material 20, 40, and 60 mesh and the ultrasonic amplitudo were 20 and 40% with extraction time 30 minutes. Maceration method at 350C for 7 hour was used as control. The result shows that particle size had a significant effect on yield of oleoresin, while the amplitude had no effect. The best UAE configuration based on the highest yield (31.33%) was held on 60 mesh by amplitude of 40%. The application of UAE can improve oleoresin extraction efficiency in nutmeg by increasing yield and shorten extraction time.AbstrakAplikasi ekstraksi berbantukan ultrasonik (UAE) banyak digunakan untuk mengekstrak senyawa aktifproduk tertentu karena konsumsi energinya lebih rendah dan waktu operasi yang lebih singkat dari pada metode konvensional. Namun, konfigurasi yang tepat dari UAE dalam meningkatkan efektivitas ekstraksidalam rempah-rempah, terutama pala, belum diketahui. Oleh karena itu, tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari pengaruh ukuran partikel dan amplitudo UAE terhadap efektivitas ekstraksi oleoresin pada pala. Penelitian dilakukan dengan kondisi sebagai berikut: rasio bahan dan pelarut yaitu 1:5, ukuranbahan 20, 40, dan 60 mesh dan amplitudo ultrasonik adalah 20% dan 40% dengan waktu ekstraksi 30 menit. Metoda Maserasi pada suhu 350C selama 7 jam digunakan sebagai kontrol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ukuran partikel berpengaruh nyata terhadap hasil oleoresin, sedangkan amplitudo tidak berpengaruh. Konfigurasi UAE terbaik berdasarkan hasil tertinggi (31.33%) dilakukan pada 60 mesh dengan amplitudo 40%. Penerapan UAE dapat meningkatkan efisiensi ekstraksi oleoresin pada pala dengan meningkatkan rendemen dan mempersingkat waktu ekstraksi.
Eksplorasi Airtanah untuk Mengetahui Letak dan Sebaran Akuifer dengan Menggunakan Metode Geolistrik di Desa Kertasari dan Meraran, Kec. Taliwang, Kabupaten Sumbawa Besar Roh Santoso Budi Waspodo
Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 6 No. 3 (2018): JURNAL KETEKNIKAN PERTANIAN
Publisher : PERTETA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3046.614 KB) | DOI: 10.19028/jtep.06.3.255-262

Abstract

AbstractDevelopment in water resource is an effort to give water access equitably to the community. Profound study of geology – hydrogeology analysis for springwater and groundwater which will be used to support various activity in society is required. The intention of this geo-electric study was to understand the hydrogeological conditions through aquifer distribution characteristic based on rock resistivity in Kertasari and Meraran Village, Taliwang Sub-district, Sumbawa Besar District. The goal of this study was to provide fundamental data of groundwater resource for seaweed industry needs in Kertasari and Meraran Village, Taliwang Sub-district, Sumbawa Besar District. Kertasari village located at coordinate 116⁰ 47' 20.9" E dan 8⁰ 42' 17.2" S. Kertasari village directly adjacent with Selat Alas and Pulau Sarang (Gili Sarang). The east side is steep hills with elevation up to 179 m and sloping toward the west to the beach. Kertasari village dominated with coconuts plantation and shrubbery. The result of hydrogeological conditions that obtained is shallow aquifer and deep aquifer in Meraran and Kertasari village. Average thickness of shallow aquifer and deep aquifer is on 5 – 15 meter and 30 – 75 meter below soil surfaceAbstrakPembangunan di bidang sumber daya air adalah upaya untuk memberikan akses air secara adil kepada seluruh masyarakat. Diperlukan kajian mendalam analisis geologi – hidrogeologi sumber mata air dan airtanah yang akan digunakan untuk menunjang berbagai kegiatan masyarakat. Maksud dari kajian geolistrik ini adalah untuk mengetahui kondisi hidrogeologi melalui sifat sebaran akuifer berdasarkan tahanan jenis batuan di Desa Kertasari dan Meraran, Kecamatan Taliwang Kabupaten Sumbawa Besar. Tujuan dari penyelidikan ini adalah penyediaan data dasar keberadaan sumber air tanah untuk keperluan industri rumput laut di Desa Kertasari dan Meraran, Kecamatan Taliwang, Kabupaten Sumbawa Besar. Desa Kertasari terletak di koordinat 116⁰ 47' 20.9" BT dan 8⁰ 42' 17.2" LS. Desa Kertasari berbatasan langsung dengan Selat Alas dan Pulau Sarang (Gili Sarang). Sebelah timur berupa perbukitan yang terjal dengan ketinggian mencapai 179 m dan landai ke arah barat sampai ke pantai. Desa Kertasari didominasi oleh perkebunan kelapa dan semak belukar. Hasil kondisi hidrologi yang didapatkan adalah akuifer dangkal dan akuifer dalam terdapat pada Desa Meraran dan Kertasari. Ketebalan rata-rata akuifer dangkal terdapat pada kedalaman 5 – 15 meter di bawah muka tanah setempat dan Akuifer dalam terdapat pada kedalaman 30 – 75 meter di bawah muka tanah setempat.
Uji Performansi Prototipe Alat Pengering Kopra Memanfaatkan Panas Buang PLTU Berbahan Bakar Arang Tempurung Kelapa Dedi Suntoro; Subhan Nafis; Hablinur Al-Kindi
Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 6 No. 3 (2018): JURNAL KETEKNIKAN PERTANIAN
Publisher : PERTETA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1605.39 KB) | DOI: 10.19028/jtep.06.3.263-270

Abstract

AbstractThe exhaust heat of steam power plant has considerable energy potential that can be recovered for various processes, one of which is for the drying of materials. The purpose of this research is to know the performance of a copra dryer by utilizing exhaust heat from coconut shell charcoal fired power plant which has been developed by P3TKEBTKE. Copra dyers consisting of a fan, heat exchangers, and a drying chamber are installed on the boiler combustion flue gas duct as the heat source. This research was conducted by varying fan speed at 2.2 m/s and 3.7 m/s. The results show the drying room temperature between 36-130°C, are not equally distributed. The test results with the air flow rate of 4.14 m3/m shows the average temperature of 72.18°C drying copra final moisture content 17.72%, the drying rate of 4.72%, energy consumed 55.97 MJ/kg, thermal efficiency 20,90% and drying efficiency of 4.83%. While the test results with an air floe rate of 6.97 m3/m shows better results with an average temperature of 68.13°C drying copra final moisture content 16.05%, the drying rate of 5.1%, energy consumed 32.47 MJ/kg, thermal efficiency 55.57% and drying efficiency of 8,25%..AbstrakPanas buang PLTU memiliki potensi energi yang cukup tinggi yang dapat dimanfaatkan kembali untuk berbagai proses, salah satunya untuk pengeringan bahan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui unjuk kerja alat pengering dengan memanfaatkan panas buang dari PLTU berbahan bakararang tempurung kelapa yang telah dikembangkan oleh P3TKEBTKE. Alat pengering tipe rak yang terdiri dari komponen kipas, heat exchanger, dan ruang pengering dipasang pada saluran gas buang pembakaran boiler sebagai sumber panasnya. Pada penelitian ini dilakukan pengujian dengan variasi laju alir udara4.14 m3/m dan 6.97 m3/m. Hasil pengujian dengan laju alir udara 4,14 m3/m menunjukkan rata-rata suhu pengeringan 72.18°C kadar air kopra akhir 17.72%, laju pengeringan 4.72%, kebutuhan energi untuk menguapkan air dari produk kopra adalah 55.97 MJ/kg, efisiensi termal pengering 20.90%, dan efisiensi sistem pengeringan 4.83%. Sedangkan hasil pengujian dengan kecepatan 3.7 m/s menunjukkan hasil lebih baik dengan rata-rata suhu pengeringan 68.13°C kadar air kopra akhir 16.05%, laju pengeringan 5.1%, kebutuhan energi untuk menguapkan air dari produk kopra adalah 32.47 MJ/kg, efisiensi termal pengering 55.57%, dan efisiensi sistem pengeringan 8.25%.
Pendugaan Umur Simpan Saus Buah Merah Pedas (Pandanus conoideus Lamk) dengan Metode Accelerated Shelf Life Test Raden Haryo Bimo Setiarto; Nunuk Widhyastuti; Nety Agustin; Rahmawati Rahmawati; Albert Husein Wawo
Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 6 No. 3 (2018): JURNAL KETEKNIKAN PERTANIAN
Publisher : PERTETA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (866.3 KB) | DOI: 10.19028/jtep.06.3.279-286

Abstract

AbstractRed fruit sauce was sauce that made from mixing red fruit paste and mikmak sweet potato flour. This reserach aimed to study the shelf life red fruit sauce with ASLT method using Arrhenius equation. The parameters of shelf life were viscosity, water content, pH, total mold, total bacteria, and organoleptic. From the six parameters, itwas known that water content has the lowest activation energy (10,401.08 cal/mol) and appearance paramater of organoleptic has the highest activation energy (28,623.36 cal/mol). The lowest activation energy was used to determine product shelf life. The shelf life reaction was following ordo 1. The linier regretion was y = -703.663(1/T) + 8.4649. The result of shelf life calculation was based on water content parameter in temperature 27°C is 25 months, in 37°C is 14 months, and in 47°C is 8 months.AbstrakSaus buah merah pedas merupakan saus yang dibuat dengan menggunakan pasta buah merah dan tepung ubi jalar mikmak sebagai bahan bakunya. Penelitan ini bertjuan melakukan pendugaan umur simpan produk saus buah merah pedas dengan metode Accelerated Shelf-Life Testing (ASLT) menggunakan persamaan Arrhenius. Parameter pendugaan umur simpan produk saus buah merah pedas diantaranya viskositas, kadar air, pH, total kapang, total bakteri, dan sifat organoleptik. Dari keenam parameter tersebut diketahui bahwa kadar air menghasilkan energi aktivasi yang paling rendah (10,401.08 kal/mol) dan parameter kenampakan tekstur organoleptik menghasilkan energi aktivasi tertinggi yaitu 28,623.36 kal/mol. Energi aktivasi terendah digunakan untuk menentukan umur simpan produk saus buah merah pedas. Reaksi penurunan mutu produk saus buah merah pedas mengikuti ordo reaksi 1, dengan persamaan regresi linier y = -703.663(1/T) + 8.4649. Hasil perhitungan umur simpan saus buah merah pedas berdasarkan parameter kadar air pada penyimpanan suhu 27°C selama 25 bulan, 37°C selama 14 bulan dan 47°C selama 8 bulan.
Kajian Efikasi Asap Cair dan Karakterisasi Film Lilin Lebah dan Asap Cair untuk Mencegah Serangan Cendawan pada Buah Salak Pondoh Baskara Edi Nugraha; Usman Ahmad; Lilik Eko Pujantoro Nugroho
Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 6 No. 3 (2018): JURNAL KETEKNIKAN PERTANIAN
Publisher : PERTETA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (785.356 KB) | DOI: 10.19028/jtep.06.3.287-294

Abstract

AbstractSalak pondoh (Salacca edulis Reinw) is one of the export fruit commodities in Indonesia that is easily exposed to fruit base rot diseases. Coating treatment can be used to prevent the deseases . This research aims to analyze and determine the best composition of beeswax and liquid smoke as coating material. The study consisted of several stages, the first stage was testing of liquid smoke antifungal activity, second was making of film solution, the third was film making with the concentration of beeswax (3%; 5% and 8%) and liquid smoke (1; 2.5 and 5%) using casting or printing techniques, fourth stage was selection of the best beeswax and liquid smoke combination in the solution. Three parameters of the films was evaluated. The results showed that the concentration of 5% liquid smoke was able to inhibit the growth of Thielaviopsis sp. up to 7 days after iniculation. The films had a ΔE film values ranging from 2.21-5.93, thicknesses values were from 0.07-0.16 mm, and WVTR values were from 3.05-4.63 g/m2.24jam. The combination 5% liquid smoke and 8% produces a film formulation that has good characteristics that can be applied as a fruit coating to prevent fruit base desease on salak pondoh.AbstrakSalak pondoh (Salacca edulis Reinw) merupakan salah satu komoditas ekspor penting di Indonesia. yang mudah rusak dan mudah terserang penyakit busuk buah pada bagian pangkalnya. Metode pelapisan lilin dan asap cair dapat digunakan untuk mengatasi masalah tersebut. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis dan menentukan karakteristik dan komposisi lilin lebah dan asap cair terbaik sebagai pelapis buah salak pondoh. Penelitian terdiri dari beberapa tahap yaitu tahap pertama uji aktivitas anti cendawan asap cair, tahap kedua pembuatan larutan film tahap ketiga pembuatan film dengan konsentrasi beeswax (3%, 5% dan 8%) dan asap cair (1; 2.5 dan 50%) menggunakan teknik casting atau cetak, tahap pemilihan larutan film lilin lebah dan asap cair terbaik. Ketebalan, WVTR, dan warna film dievaluasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi asap cair 5% mampu menghambat pertumbuhan cendawan Thielaviopsis sp. hingga 7 HSI. Film lilin lebah dan asap cair yang dibuat memiliki nilai kekeruhan film berkisar 2.21-5.93, ketebalan berkisar 0.07–0.16 mm, dan nilai WVTR berkisar 3.05-4.63 g/m2.24jam. Kombinasi asap cair 5% dan beeswax 8% menghasilkan formulasi film yang memiliki permeabilitas uap air dan sifat anti cendawan yang baik sehingga berpotensi digunakan sebagai pelapis buah salak pondoh untuk mencegah serangan penyakit busuk pangkal buah.
Variasi Intersepsi Cahaya dan Model Pendugaan Biomassa Tanaman Bayam Merah (Amaranthus gangeticus) dalam Sistem Plant-Factory Ardiansyah Ardiansyah; Eni Sumarni Sumarni; Sidharta Sahirman
Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 6 No. 3 (2018): JURNAL KETEKNIKAN PERTANIAN
Publisher : PERTETA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1341.519 KB) | DOI: 10.19028/jtep.06.3.295-302

Abstract

AbstractArtificial lighting given in plant-factory planting system is inseparable from uniformity problem. Spatial variation in the catch of light (radiation) will occur due to the position of the plant against the lamp. The purpose of this research was; a) to determine the relationship between biomass growth and the intensity of artificial irradiation in plant-factory systems, and b) to apply the mechanical model of plant growth basedon radiation interception and temperature. Six boxes containing red spinach plants were placed on plant factory system in the form of two racks (each rack is placed 3 boxes). In each box, intercepted light was measured and then converted to radiation value. The air temperature in plant-factory space was measured during growth to harvest. Observations showed that there was a difference in light interception in plantfactorygrowing spaces that caused variations in plant biomass growth. Mathematical models were used to predict the relationship between light interception and biomass growth. This research concludes that the variation of light occurring in plant-factory planting cannot be ignored, as this leads to markedly different plant-end biomass differences. Modeling can be applied to design optimal lighting to improve plant biomass.AbstrakPencahayaan buatan yang diberikan dalam sistem penanaman dalam ruang (plant factory) tidak terlepas dari masalah keseragaman. Variasi spasial dalam tangkapan cahaya (radiasi) akan terjadi karena posisi tanaman terhadap lampu. Tujuan dari penelitian ini adalah; a) untuk mengetahui hubungan antara pertumbuhan biomassa dan intensitas penyinaran buatan dalam sistem plant-factory, dan b) menerapkanmodel mekanik pertumbuhan tanaman berdasarkan intersepsi radiasi dan temperatur. Enam buah kotak berisi tanaman bayam merah diletakkan pada sistem plant factory berupa dua buah rak (masing-masing rak ditempatkan 3 buah kotak). Pada masing-masing kotak diukur cahaya terintersepsi yang kemudiandikonversi menjadi nilai radiasi. Suhu udara dalam ruang plant-factory diukur selama pertumbuhan hingga panen. Pengamatan menunjukkan bahwa dalam ruang tumbuh plant-factory terdapat perbedaan intersepsi cahaya yang menyebabkan adanya variasi pada pertumbuhan biomassa tanaman. Model matematikadigunakan untuk memprediksi hubungan antara intersepsi cahaya dan pertumbuhan biomassa. Kesimpulan menunjukkan bahwa variasi cahaya yang terjadi dalam penanaman sistem plant-factory tidak dapat diabaikan, karena menyebabkan terjadinya perbedaan biomassa akhir tanaman yang cukup tajam. Permodelan dapat diterapkan untuk merancang pemberian cahaya yang optimal untuk meningkatkanbiomassa tanaman.
Investigasi Penyakit Busuk Ujung Lancip Buah Salak pada Rantai Pasok Jamaludin Jamaludin; Lilik Pujantoro Eko Nugroho; Emmy Darmawati
Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 6 No. 3 (2018): JURNAL KETEKNIKAN PERTANIAN
Publisher : PERTETA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1453.651 KB) | DOI: 10.19028/jtep.06.3.303-310

Abstract

AbstractSalak fruit (Salacca edulis Reinw.) which is not handled properly during distribution and marketing will be damaged. The biggest damage caused by rot disease on the taper tip of the fruit, which has an impact on postharvest losses and market rejection. The aims of this study were to examine supply chain pattern of salak pondoh, rot disease causative microorganisms on the salak's taper tip and the magnitude of postharvest losses due to the rot disease. Data were collected by survey method to obtain the pattern of supply chain and postharvest losses rate. Surveys (interviews and observations) were conducted in each of the supply chain actors at salak pondoh production centers, Sleman Regency, Yogyakarta. Laboratory observations to identify disease causative microorganisms were conducted using single spore isolation method on the PDA and fungi morphological observations. The results of the investigation of supply chain patterns in Sleman Regency, in general, there are three patterns, namely supply chain for the distribution of traditional markets, modern markets, and export markets. Total postharvest losses along those supply chains were 22.89%, 11.27%, and 6.26%, respectively. The results of isolation were obtained five fungus isolates, namely Thielaviopsis paradoxa (De Seynes) Honhel (58.4%) Colletotrichum gloeosporioides section (19.48%), Rhizopus stolonifer (Ehrenberg) Vuillemin (15.58%), Mucor sp. (3.90%), and Mycelia sterilia (2.60%). Based on the level of findings, the fungus Thielaviopsis paradoxa was the main causative microorganisms of rot disease on the salak pondoh's taper tip.AbstrakBuah salak (Salacca edulis Reinw.) yang tidak ditangani dengan baik selama distribusi dan pemasaran akan rusak. Kerusakan terbesar adalah karena penyakit busuk ujung lancip buah salak yang berdampak pada kehilangan pascapanen dan penolakan pasar. Tujuan penelitian ini ialah mengkaji pola rantai pasok salak pondoh, jenis mikroorganisme penyebab penyakit busuk ujung lancip buah salak, dan besarnya tingkat kehilangan pascapanen yang disebabkannya. Pengumpulan data dilakukan dengan metode survei untuk memperoleh pola rantai pasok salak pondoh dan tingkat kehilangan pascapanen. Survei (wawancara dan observasi) dilakukan di setiap pelaku rantai pasok di sentra produksi salak pondoh, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Pengamatan laboratorium untuk mengidentifikasi mikroorganisme penyebab penyakit dilakukan dengan metode isolasi spora tunggal pada PDA dan pengamatan morfologi cendawan. Hasil investigasi pola rantai pasok di Kabupaten Sleman secara umum terdapat tiga pola yaitu rantai pasok untuk distribusi pasar tradisional, pasar modern dan pasar ekspor. Total kehilangan pascapanen sepanjang rantai pasoknya masing-masing adalah 22.89%, 11.27%, dan 6.26%. Hasil isolasi diperoleh lima isolat cendawan yaitu Thielaviopsis paradoxa (De Seynes) Honhel (58.4%), Colletotrichum gloeosporioides section (19.48%), Rhizopus stolonifer (Ehrenberg) Vuillemin (15.58%), Mucor sp. (3.90%), dan Mycelia sterilia (2.60%). Berdasarkan besarnya tingkat temuan, cendawan Thielaviopsis paradoxa merupakan mikroorganisme penyebab utama busuk ujung lancip buah salak pondoh.
Teknik Pengemasan Jagung Pipil untuk Meminimumkan Kadar Aflatoksin Dede Risanda; Emmy Darmawati; Meity Suradji Sinaga
Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 6 No. 3 (2018): JURNAL KETEKNIKAN PERTANIAN
Publisher : PERTETA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1134.562 KB) | DOI: 10.19028/jtep.06.3.319-326

Abstract

AbstractThe application of hermetic storage, which is a type of modified atmosphere, effectively reduced the growth of Aspergillus flavus during storage and therefore limit the aflatoxin production. However, its relatively high cost isa major obstacle for its adoption by smallholder farmers and traders. The preparation of two layers of HDPE and polypropylene plastic packaging that is expected to limit the aflatoxin production and prevent the mold growthduring storage. The experimental design used in this study was a completely randomized factorial design. The first factor consisted of three levels: plastic bag (J0), multi-layered plastic packaging composed of plastic bag and hermetic GrainPro bag (J1), and multi-layered plastic packaging composed of plastic bag, high density polyethylene (HDPE), and polypropylene bag (J2). Furthermore, the second factor comprised two levels: without inoculation (M0) and with inoculation (M1). The maize grains that had been stored for three months in J1 and J2packaging at 12-13% moisture levels has been able to maintain material moisture content remains low. In these two packaging, the percentage of aflatoxin infection was around 2% during three months. On the other hand, the maize grains that had been stored in J1 and J2 packaging at 17-18% moisture content showed that the material moisture content remains high during storage. The fungal infection percentage attain 3-17% in both two types of packaging. Storing the maize grains in J2 packaging with high moisture levels during three months at risk of being contaminated by aflatoxin and seed fermentation.AbstrakPenyimpanan jagung melalui modifikasi atmosfer yang terbentuk pada kemasan hermetik telah mampu menghambat pertumbuhan cendawan dan produksi aflatoksin. Namun, kemasan hermetik merupakan produk impor dan harganya relatif mahal untuk diterapkan di tingkat petani dan pedagang pengumpul. Penyusunan dualapis kemasan berbahan plastik HDPE dan polipropilen diharapkan mampu menekan produksi aflatoksin dan menghambat pertumbuhan cendawan selama penyimpanan. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap faktorial. Faktor pertama adalah jenis kemasan dengan 3 taraf, yaitu (J0) karung plastik, (J1) kemasan berlapis yang tersusun dari karung plastik+plastik hermetik GrainPro, dan (J2) kemasan berlapis yang tersusun dari karung plastik+plastik HDPE+plastik polipropilen. Faktor kedua adalah inokulasi sumber inokulum dengan 2 taraf, yaitu (M0) tanpa inokulasi sumber inokulum, dan (M1) dengan inokulasi sumberinokulum. Jagung pipil yang telah disimpan selama 3 bulan pada kemasan J1 dan J2 pada kadar air rendah (12-13%) telah mampu mempertahankan kadar air bahan tetap rendah. Di kedua jenis kemasan tersebut, persen infeksi cendawan masih sekitar 2% setelah disimpan selama 3 bulan. Sementara itu, penyimpanan jagung pipil pada kemasan J1 dan J2 pada kadar air tinggi (17-18%) menunjukkan bahwa kadar air bahan tetap tinggi selama penyimpanan. Persen infeksi cendawan mencapai 3-17% pada kedua jenis kemasan tersebut. Penyimpanan jagung pipil dengan kemasan J2 pada kadar air tinggi selama 3 bulan beresiko tercemar aflatoksin serta biji mengalami fermentasi.
Prediksi Tingkat Kematangan Buah Jeruk Siam Gunung Omeh (Citrus Nobilis Var. Microcarpa) dengan Pengolahan Citra Ifmalinda Ifmalinda; Khandra Fahmy; Elsa Fitria
Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 6 No. 3 (2018): JURNAL KETEKNIKAN PERTANIAN
Publisher : PERTETA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1285.671 KB) | DOI: 10.19028/jtep.06.3.335-342

Abstract

AbstractEvaluation of the quality of Gunung Omeh Citrus fruit based on the level of maturity or skin color of fruit and other physical properties are still done conventionally. Human assessment of maturity level is subjective and has different perceptions. Humans also have limitation in terms of labor and time. An alternative to increasework productivity on citrus fruit quality evaluation required a system that can help human to work automatically, quickly and objectively and consistently. Digital image is a technique that can process visual perception, in this case is color of the fruit skin surface or object, without direct contact to the object. This study aims to analyze the quality of parameters based on the level of maturity or color, and physical properties of Siam Omeh Citrus. Levels of maturity of citrus fruit used are at the age of picking 150 days before flower blossom, 180 days before flower blossom, 210 days before flower blossom and 240 days before flower blossom. By conventional method, the maturity can be indicated through measurement of diameter, hardness of fruit flesh and total dissolved solid, meanwhile by image processing method, it can be obtained through area parameter and color index (red, greenand blue). The area parameters of image processing do not show differences on various levels of maturity. Color index (red, green and blue) from image processing can be used as reference to identify the level of maturity.There is correlation on color index (red, green and blue) and total dissolved solid, fruit hardness of Gunug Omeh citrus. There is a correlation between the area of image processing and the weight of citrus.AbstrakEvaluasi mutu buah jeruk siam Gunung Omeh berdasarkan tingkat kematangan atau warna kulit buahdan sifat fisik lainnya masih dilakukan secara konvensional. Penilaian manusia terhadap tingkat kematangan bersifat subjektif dan mempunyai persepsi yang berbeda-beda. Manusia juga mempunyai keterbatasan dalam hal tenaga kerja dan waktu. Salah satu alternatif untuk meningkatkan produktifitas kerja seperti dalam evaluasi mutu buah jeruk diperlukan suatu sistem yang dapat membantu pekerjaan manusia secara otomatis, kerjanya relatif cepat dan hasilnya objeksif serta konsisten. Citra digital merupakan suatu teknik yang dapat mengolah persepsi visual dalam hal ini adalah warna dari permukaan kulit buah atau objek tanpa berhubungan langsung dengan objek tersebut. Penelitian ini bertujuan menganalisis parameter mutu berdasarkan tingkat kematangan atau warna, dan sifat fisik buah jeruk siam Gunung Omeh. Tingkat kematangan buah jeruk yang digunakan, yaitu pada umur petik 150 sbm, 180 sbm, 210 sbm dan 240 sbm. Metode konvensional didapatkan melalui pengukuran diameter, kekerasan daging buah dan total padatan terlarut sedangkan dengan metode pengolahan citra didapatkan parameter area dan indeks warna (red, green dan blue). Parameter area dari pengolahan citra tidak menunjukan perbedaan pada berbagai tingkat kematangan. Indeks warna (red, green dan blue) dari pengolahan citra menunjukan perbedaan pada berbagai tingkat kematangan sehingga dapat dijadikan acuan untuk mengidentifikasi tingkat kematangan. Terdapat korelasi indeks warna (red, green dan blue) dengan total padatan terlarut dan kekerasan buah jeruk siam Gunung Omeh. Terdapat korelasi antara area dari pengolahan citra dengan berat buah jeruk.

Filter by Year

1992 2026


Filter By Issues
All Issue Vol. 14 No. 1 (2026): Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 13 No. 4 (2025): Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 13 No. 3 (2025): Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 13 No. 2 (2025): Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 13 No. 1 (2025): Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 12 No. 3 (2024): Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 12 No. 2 (2024): Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 12 No. 1 (2024): Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 11 No. 3 (2023): Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 11 No. 2 (2023): Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 11 No. 1 (2023): Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 10 No. 3 (2022): Desember 2022 Vol. 10 No. 2 (2022): Agustus 2022 Vol. 10 No. 1 (2022): April 2022 Vol. 9 No. 3 (2021): Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 9 No. 2 (2021): Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 9 No. 1 (2021): Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 8 No. 3 (2020): Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 8 No. 2 (2020): Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 8 No. 1 (2020): Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 7 No. 3 (2019): JURNAL KETEKNIKAN PERTANIAN Vol. 7 No. 2 (2019): JURNAL KETEKNIKAN PERTANIAN Vol. 7 No. 1 (2019): JURNAL KETEKNIKAN PERTANIAN Vol. 6 No. 3 (2018): JURNAL KETEKNIKAN PERTANIAN Vol. 6 No. 2 (2018): JURNAL KETEKNIKAN PERTANIAN Vol. 6 No. 1 (2018): JURNAL KETEKNIKAN PERTANIAN Vol. 5 No. 3 (2017): JURNAL KETEKNIKAN PERTANIAN Vol. 5 No. 2 (2017): JURNAL KETEKNIKAN PERTANIAN Vol. 5 No. 1 (2017): JURNAL KETEKNIKAN PERTANIAN Vol. 4 No. 2 (2016): JURNAL KETEKNIKAN PERTANIAN Vol. 4 No. 1 (2016): JURNAL KETEKNIKAN PERTANIAN Vol. 3 No. 2 (2015): JURNAL KETEKNIKAN PERTANIAN Vol. 3 No. 1 (2015): Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 2 No. 2 (2014): Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 2 No. 1 (2014): Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 27 No. 1 (2013): Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 1 No. 1 (2013): Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 26 No. 2 (2012): Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 26 No. 1 (2012): Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 25 No. 2 (2011): Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 25 No. 1 (2011): Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 24 No. 2 (2010): Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 24 No. 1 (2010): Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 23 No. 2 (2009): Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 23 No. 1 (2009): Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 22 No. 2 (2008): Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 22 No. 1 (2008): Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 21 No. 4 (2007): Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 21 No. 3 (2007): Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 21 No. 2 (2007): Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 21 No. 1 (2007): Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 20 No. 3 (2006): Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 20 No. 2 (2006): Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 20 No. 1 (2006): Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 19 No. 3 (2005): Buletin Keteknikan Pertanian Vol. 19 No. 1 (2005): Buletin Keteknikan Pertanian Vol. 17 No. 2 (2003): Buletin Keteknikan Pertanian Vol. 17 No. 1 (2003): Buletin Keteknikan Pertanian Vol. 16 No. 1 (2002): Buletin Keteknikan Pertanian Vol. 15 No. 2 (2001): Buletin Keteknikan Pertanian Vol. 15 No. 1 (2001): Buletin Keteknikan Pertanian Vol. 14 No. 3 (2000): Buletin Keteknikan Pertanian Vol. 14 No. 2 (2000): Buletin Keteknikan Pertanian Vol. 14 No. 1 (2000): Buletin Keteknikan Pertanian Vol. 13 No. 3 (1999): Buletin Keteknikan Pertanian Vol. 13 No. 1 (1999): Buletin Keteknikan Pertanian Vol. 12 No. 2 (1998): Buletin Ketenikan Pertanian Vol. 12 No. 1 (1998): Buletin Ketenikan Pertanian Vol. 11 No. 1 (1997): Buletin Ketenikan Pertanian Vol. 6 No. 1 (1992): Buletin Ketenikan Pertanian More Issue