cover
Contact Name
Fidrayani
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
psga@uinjkt.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota tangerang selatan,
Banten
INDONESIA
Jurnal Harkat : Media Komunikasi Gender
ISSN : 14122324     EISSN : 26557428     DOI : 10.15408/harkat
Jurnal Harkat : Media Komunikasi Gender is published by the Center for Gender and Child Studies (Pusat Studi Gender dan Anak) LP2M, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. the journal has been issued two times a year. Harkat invites scholarly articles on gender and child studies from multiple disciplines and perspectives, including religion, education, psychology, law, social studies, etc.
Arjuna Subject : -
Articles 156 Documents
KONSTRUKTIF MASA DEPAN: PEMULIHAN HAK PEREMPUAN DI AFGHANISTAN PASCA TALIBAN Pangaribuan, Nuraini
Jurnal Harkat : Media Komunikasi Gender JURNAL HARKAT : MEDIA KOMUNIKASI GENDER, 20(2), 2024
Publisher : Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA), Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/harkat.v20i2.39142

Abstract

Abstract. This article aims to describe the changes in women's rights in post-Taliban Afghanistan and the strategies used to promote gender equality and women's freedom in the new society. In this research, the author uses qualitative research methods with library research. The theory used in this research is the theory of liberal feminism. The result of this research is a constructive future for the restoration of women's rights in Afghanistan, must prepare strategies and steps that will be implemented into the system in all fields. The strategy that needs to be prepared is to improve all areas targeted by the Taliban regime's discrimination related to women's rights, namely equality to access education and health services, increased participation in the political and social world, gaining freedom to work and develop careers, supporting the gender equality movement, and also establishing good cooperation with the international community. Thus, women in Afghanistan can feel comfortable in their lives, and can express themselves without any fear. Abstrak. Artikel ini bertujuan untuk memaparkan perubahan-perubahan yang ada dalam hak kaum perempuan di Afghanistan pasca Taliban dan strategi yang dilakukan untuk menggalakkan kembali kesetaraan gender serta kebebasan kaum perempuan pada masyarakat yang baru. Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode penelitian kualitatif dengan jenis penelitian library research (studi pustaka). Adapun teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori feminisme liberal. Hasil dari penelitian ini adalah konstruktif masa depan untuk pemulihan hak perempuan di Afghanistan, harus menyiapkan strategi dan langkah-langkah yang akan diimplementasikan kedalam sistem di segala bidang. Adapun strategi yang perlu dipersiapkan adalah memperbaiki semua bidang yang menjadi target diskriminasi rezim Taliban yang terkait dengan hak perempuan, yaitu kesetaraan untuk mengakses layanan pendidikan dan kesehatan, peningkatan partisipasi dalam dunia politik dan sosial, memperoleh kebebasan untuk bekerja dan mengembangkan karir, mendukung gerakan kesetaraan gender, dan juga menjalin kerjasama yang baik dengan dunia internasional. Dengan demikian kaum perempuan di Afghanistan bisa merasakan kenyamanan dalam hidup mereka, serta bisa berekspresi tanpa ada rasa takut sedikitpun. 
KESETARAAN GENDER DAN REFORMASI HUKUM: PEMIKIRAN AMINA WADUD DAN SITI MUSDAH MULIA DALAM KONTEKS INDONESIA Rofiq, Mohammad Ainun; Rodiah, Ita
Jurnal Harkat : Media Komunikasi Gender JURNAL HARKAT : MEDIA KOMUNIKASI GENDER, 20(2), 2024
Publisher : Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA), Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/harkat.v20i2.39206

Abstract

Abstract. This study discusses the thoughts of Amina Wadud and Siti Musdah Mulia on gender equality and legal reform in the context of Islam, particularly in Indonesia. This topic is significant because gender equality in Islamic law remains a challenge in Indonesia. The aim of this research is to analyze how the progressive ideas of these two figures can be applied in public policy to promote gender equality in Indonesia. This research uses a literature study method that includes description, interpretation, critical analysis, and a comparative approach to the thoughts of Wadud and Musdah Mulia. The findings reveal that Wadud’s ideas provide a theological foundation for more equitable legal reform, while Musdah Mulia’s ideas offer practical guidance for family law reform in Indonesia. The novelty of this research lies in combining theological and practical approaches to promote more inclusive and gender-just policies in Indonesia. Abstrak. Penelitian ini membahas pemikiran Amina Wadud dan Siti Musdah Mulia terkait kesetaraan gender dan reformasi hukum dalam konteks Islam, khususnya di Indonesia. Topik ini penting karena kesetaraan gender dalam hukum Islam masih menjadi tantangan di Indonesia. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis bagaimana pemikiran progresif kedua tokoh tersebut dapat diterapkan dalam kebijakan publik di Indonesia untuk mendukung kesetaraan gender. Penelitian ini menggunakan metode studi literatur yang mencakup deskripsi, interpretasi, analisis kritis, dan pendekatan komparatif terhadap pemikiran Wadud dan Musdah Mulia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemikiran Wadud dapat memberikan landasan teologis untuk reformasi hukum yang lebih adil, sementara pemikiran Musdah Mulia memberikan arah praktis untuk reformasi hukum keluarga Islam di Indonesia. Kebaruan penelitian ini terletak pada penggabungan pendekatan teologis dan praktis untuk mendorong kebijakan yang lebih inklusif dan berkeadilan gender di Indonesia. 
KEKERASAN SEMIOTIK DAN PERAN KOMUNIKASI KELUARGA DALAM MENANGANI KEKERASAN VIRTUAL PADA ANAK Sudarto, Aye; Mustofa, Muhamad Bisri; Ermawati, Erda
Jurnal Harkat : Media Komunikasi Gender JURNAL HARKAT : MEDIA KOMUNIKASI GENDER, 20(2), 2024
Publisher : Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA), Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/harkat.v20i2.38114

Abstract

Abstract. A child's world can be turned into a world of play that is full of joy and pleasure. Children are not the same as adults, everything related to their world is seen as far as possible from the child's perception. Unique individuals with different potentials are children's perceptions. Children's development is not only physical but also psychological, parental guidance is important in encouraging these qualities which become the foundation of life as the child grows. This research is qualitative. The research stages are carried out by selecting materials, focusing, simplifying, abstracting, and organizing so that conclusions can be drawn from the materials. Violence against children occurs virtually in the digital world. Relationships in the digital environment need to be managed wisely and carefully, and must be careful of incorrect assumptions. Increased awareness regarding internet use and violence in partner relationships highlights how important it is for parents to communicate better with their family members. Abstrak. Dunia anak dapat dijadikan dunia bermain yang penuh kegembiraan dan kesenangan. Anak-anak tidak sama dengan orang dewasa, segala sesuatu yang berkaitan dengan dunianya dipandang sejauh mungkin dari persepsi anak. Individu yang unik dengan potensi yang berbeda-beda merupakan persepsi anak. Perkembangan anak tidak hanya secara fisik, tetapi juga psikis, bimbingan orang tua penting dalam mendorong sifat-sifat tersebut yang menjadi landasan kehidupan seiring pertumbuhan anak. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Tahapan penelitian dilakukan dengan pemilihan bahan, pemfokusan, penyederhanaan, pengabstraksiandan pengorganisasian sehingga dapat diambil kesimpulan dari bahan tersebut. Kekerasan terhadap anak terjadi secara virtual di dunia digital. Hubungan di lingkungan digital perlu dikelola dengan bijaksana dan hati-hati, serta harus berhati-hati terhadap asumsi yang tidak benar. Peningkatan kesadaran mengenai penggunaan internet dan kekerasan dalam hubungan pasangan menegaskan betapa pentingnya orang tua untuk berkomunikasi dengan anggota keluarganya secara lebih baik. 
STRATEGI POLA KOMUNIKASI DALAM PEMBENTUKAN DISIPLIN HAFALAN AL-QUR'AN PADA ANAK ASUH Nur Rahman, Wildian Fajrin; Hady, Yazid; Hermansah, Tantan; Fanshoby, M.; Ismail, Muhammad
Jurnal Harkat : Media Komunikasi Gender JURNAL HARKAT : MEDIA KOMUNIKASI GENDER, 20(2), 2024
Publisher : Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA), Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/harkat.v20i2.42140

Abstract

Abstract. This study investigates the communication patterns used by caregivers at Pondok Yatim and Dhu'afa Amal Sholeh Sejahtera Foundation, a non-profit organization focused on religious social outreach, to cultivate discipline in foster children's Qur'an memorization. Using Josep A. Devito's communication pattern theory, this research examines the effectiveness and challenges of various communication models in this context. Employing a qualitative, descriptive approach, data were gathered through direct observation, interviews, and documentation. Results reveal that caregivers predominantly use the "wheel" and "star" patterns of communication, facilitating both interpersonal and group interactions. These patterns, alongside specific memorization techniques—Bin-Nazhar, Tahfidzh, Talaqqi, Takrir, and Tasmi'—support foster children in building diligent, disciplined habits in Qur'an memorization. Identified challenges include fluctuating levels of engagement among foster children and the need for adaptable communication strategies to sustain motivation and consistency in their practice. This study contributes insights into effective communication methods in Islamic education and highlights factors critical to fostering religious discipline among youth.  Abstrak. Penelitian ini mengkaji pola komunikasi yang digunakan oleh pengasuh di Pondok Yatim dan Dhu'afa Yayasan Amal Sholeh Sejahtera, sebuah organisasi non-profit yang bergerak dalam dakwah sosial keagamaan, untuk menumbuhkan kedisiplinan dalam hafalan Al-Qur'an anak asuh. Menggunakan teori pola komunikasi Josep A. Devito, penelitian ini menelaah efektivitas dan tantangan dari berbagai model komunikasi dalam konteks ini. Dengan pendekatan deskriptif kualitatif, data dikumpulkan melalui observasi langsung, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengasuh umumnya menggunakan pola komunikasi "roda" dan "bintang," yang memfasilitasi interaksi interpersonal dan kelompok. Pola-pola ini, bersama dengan teknik hafalan spesifik—Bin-Nazhar, Tahfidzh, Talaqqi, Takrir, dan Tasmi'—mendukung anak asuh dalam membangun kebiasaan rajin dan disiplin dalam menghafal Al-Qur'an. Tantangan yang diidentifikasi mencakup tingkat keterlibatan anak asuh yang fluktuatif serta perlunya strategi komunikasi yang adaptif untuk menjaga motivasi dan konsistensi dalam praktik mereka. penelitian ini memberikan wawasan tentang metode komunikasi yang efektif dalam pendidikan Islam dan menyoroti faktor-faktor penting dalam menumbuhkan disiplin religius di kalangan remaja. 
SELF DISCLOSURE DAN KEBEBASAN BEREKSPRESI LAKI-LAKI FEMININ DI MEDIA SOSIAL DALAM STEREOTIPE GENDER Hidayah, Septia Nurul; Gumelar, Rangga Galur
Jurnal Harkat : Media Komunikasi Gender JURNAL HARKAT : MEDIA KOMUNIKASI GENDER, 20(2), 2024
Publisher : Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA), Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/harkat.v20i2.36994

Abstract

Abstract. Self-expression creates a position where the feminine is always associated with women, while men are always synonymous with masculine. However, the phenomenon of feminine men appears to be a differentiator among most men in general, giving rise to gender discrimination or discrimination in perspective in social reality. The purpose of this study is to find out, and understand the factors that cause men to become feminine, how men's self-disclosure on social media and its impact. This research uses a descriptive qualitative approach with data collection techniques in the form of direct observation and in-depth interviews and testing data through source triangulation. The results of this study show that the factors that cause men to become feminine are internal and external factors, especially the environment, the implications of the presence of social media provide a breath of fresh air for them to Self disclosure which confirms that they are feminine men. The reality that is built is actually reversed due to the impact of the freedom of expression of feminine men where one side is seen as effeminate, but the reality actually raises them as influencers. Abstrak. Pengekspresian diri menciptakan suatu kedudukan posisi di mana feminin itu selalu berhubungan dengan perempuan, sedangkan laki-laki selalu identik dengan maskulin. Namun, fenomena laki-laki feminin muncul menjadi pembeda di antara kebanyakan laki-laki umumnya, sehingga menimbulkan diskriminasi gender atau diskriminasi cara pandang dalam realitas sosial. Tujuan dari penelitian ini adalah Untuk mengetahui, dan memahami faktor yang menyebabkan laki-laki menjadi feminin, bagaimana self-disclosure laki-laki di media sosial dan dampaknya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi langsung serta wawancara mendalam serta melakukan uji  data melalui triangulasi sumber. Adapun hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa faktor  penyebab laki-laki menjadi feminin adalah faktor internal dan eksternal terutama lingkungan, Implikasi hadirnya media sosial memberikan angin segar bagi mereka untuk Self disclosure yang menegaskan bahwa mereka adalah laki-laki feminin. Realitas yang terbangun justru terbalik dikarenakan dampak dari kebebasan berekspresi laki-laki feminin dimana satu sisi dipandang banci, akan tetapi realitasnya malah memunculkan mereka sebagai influencer. 
REKONSTRUKSI HUKUM KELUARGA MELALUI PENDIDIKAN PRA-NIKAH: ANALISIS PERBANDINGAN KERANGKA HUKUM INDONESIA DAN MALAYSIA Aripin, Jaenal; Hakim, Maman Rahman; Kamarusdiana, Kamarusdiana; Ilahi, M. Ridho
Jurnal Harkat : Media Komunikasi Gender JURNAL HARKAT : MEDIA KOMUNIKASI GENDER, 21(1), 2025
Publisher : Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA), Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/harkat.v21i1.45090

Abstract

Abstract. The regulation of premarital education in Indonesia has not succeeded in reducing the divorce rate in Indonesia. Weak regulations, unclear standardization, and the nature of the program that is recommended and only required in 2024 which tends to be formalistic are the main factors. This study aims to analyze the regulation of pre-marital education and its effect on divorce in Indonesia and Malaysia. The researcher used a qualitative method by reviewing various literatures and data obtained from journal articles, books, and news. The results show the need to reconstruct the law to tighten the provisions, centralize management at the Ministry of Religious Affairs through BP4, and make premarital education a mandatory requirement that is not just a formalistic implementation. Malaysia's experience, which has successfully reduced the divorce rate, can be emulated even though it is still constrained in its implementation, which needs to be addressed by conducting socialization related to the importance of the program, evaluating the duration of the program, and evaluating the resource persons or presenters. Thus, future Indonesian and Malaysian pre-marital education regulations are expected to be able to prepare couples to form a socially, emotionally and spiritually healthy family to prevent long-term social dysfunction, one of which is divorce. Abstrak. Regulasi pendidikan pranikah belum berhasil menekan angka perceraian di Indonesia. Lemahnya regulasi, ketidakjelasan standarisasi, serta program yang bersifat anjuran dan baru diwajibkan pada 2024 yang cenderung formalistik menjadi faktor utama. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan analisis terhadap regulasi mengenai pendidikan pra nikah dan pengaruhnya terhadap perceraian di Indonesia dan Malaysia. Peneliti menggunakan metode kualitatif dengan wawancara dan mengkaji berbagai literatur serta data yang diperoleh dari artikel jurnal, buku, berita, dan data statistik. Hasil penelitian menunjukkan perlunya melakukan rekonstruksi ke tingkat undang-undang guna memperketat ketentuan, memusatkan pengelolaan pada Kementrian Agama Melalui BP4, serta menjadikan pendidikan pranikah sebagai syarat wajib yang tidak hanya sekedar pelaksanaan yang formalistik. Pengalaman Malaysia, yang sukses menekan angka perceraian dapat dicontoh meski masih terkendala dalam implementasinya yang perlu untuk dibenahi dengan melakukan sosialisasi terkait pentingnya program, evaluasi durasi program, serta evaluasi bagi para narasumber atau pemateri. Dengan demikian regulasi pendidikan pra nikah Indonesia dan Malaysia di masa mendatang diharapkan mampu menyiapkan pasangan yang sehat secara sosial, emosional, dan spiritual untuk mencegah disfungsi sosial jangka panjang yang salah satunya adalah perceraian. 
KONTRIBUSI WANITA KARIER MUSLIM DALAM PEMBERIAN AIR SUSU IBU EKSKLUSIF TERHADAP KESEHATAN DAN KESETARAAN GENDER DALAM KERANGKA TUJUAN PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN Maziyati, Nailil; Luthfiyah, Luthfiyah
Jurnal Harkat : Media Komunikasi Gender JURNAL HARKAT : MEDIA KOMUNIKASI GENDER, 21(1), 2025
Publisher : Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA), Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/harkat.v21i1.45747

Abstract

Abstract. This research analyzes the role of career women in exclusive breastfeeding from an Islamic perspective and its relevance to the Sustainable Development Goals (SDGs) program. Using a Systematic Literature Review (SLR) approach with the PRISMA protocol, this study reviewed 10 selected articles from 309 articles identified from various scientific databases. The analysis results show a harmonization between Islamic teachings on exclusive breastfeeding and SDGs related to maternal and child health. Integration of health technology, development of supportive infrastructure in the workplace, and the maqasid sharia approach are key aspects in facilitating Muslim career women to provide exclusive breastfeeding. This research recommends the development of integrated policies that consider the perspectives of fiqh schools and the socio-economic context of career women to achieve a balance between professional demands and the obligation to provide exclusive breastfeeding within the sustainable development framework. Abstrak. Penelitian ini menganalisis peran wanita karier dalam pemberian ASI eksklusif dari perspektif Islam dan relevansinya dengan program Sustainable Development Goals (SDGs). Menggunakan pendekatan Systematic Literature Review (SLR) dengan protokol PRISMA, penelitian ini mengkaji 10 artikel terpilih dari 309 artikel yang diidentifikasi dari berbagai database ilmiah. Hasil analisis menunjukkan adanya harmonisasi antara ajaran Islam tentang ASI eksklusif dan tujuan SDGs terkait kesehatan ibu dan anak. Integrasi teknologi kesehatan, pengembangan infrastruktur pendukung di tempat kerja, dan pendekatan maqasid syariah menjadi aspek kunci dalam memfasilitasi wanita karier Muslim untuk memberikan ASI eksklusif. Penelitian ini merekomendasikan pengembangan kebijakan terintegrasi yang mempertimbangkan perspektif madzhab fiqh dan konteks sosio-ekonomi wanita karier untuk mencapai keseimbangan antara tuntutan profesional dan kewajiban memberikan ASI eksklusif dalam kerangka pembangunan berkelanjutan. 
POLICY ON PREVENTION AND HANDLING OF SEXUAL VIOLENCE IN CAMPUS ENVIRONMENT: TREND AND THEMATIC ANALYSIS Fitriani, Fitriani; Erfina, Erfina; Hardianti, Hardianti
Jurnal Harkat : Media Komunikasi Gender JURNAL HARKAT : MEDIA KOMUNIKASI GENDER, 21(1), 2025
Publisher : Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA), Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/harkat.v21i1.45480

Abstract

Abstract. Sexual violence in the campus environment is a serious problem that has a wide impact on students, especially women and other vulnerable groups. The Indonesian government has passed the Sexual Violence Crime Law (TPKS Law) as an effort to protect and enforce the law against cases of sexual violence, including in the university environment. This study aims to analyze the effectiveness of the implementation of policies to prevent and handle sexual violence on campus through the Systematic Literature Review (SLR) approach. By examining 500 scientific articles from Dimension, this study evaluates the implementation of the policy and identifies the factors that affect its effectiveness. The results of the study show that although the TPKS Law provides a strong legal basis, its implementation at the campus level still faces challenges such as social stigma, institutional cultural resistance, and limited resources in providing assistance services for victims. Some campuses have adopted reporting mechanisms and protection policies, but there are still gaps in their consistent implementation. This study recommends strengthening more inclusive campus policies, increasing the collective awareness of the academic community, and synergizing with government institutions and civil society organizations in dealing with sexual violence more comprehensively. The results of this research are expected to contribute to the development of more effective policies to create a safe and free academic environment from sexual violence. Abstrak. Kekerasan seksual di lingkungan kampus menjadi permasalahan serius yang berdampak luas terhadap mahasiswa, terutama perempuan dan kelompok rentan lainnya. Pemerintah Indonesia telah mengesahkan Undang-Undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (UU TPKS) sebagai upaya perlindungan dan penegakan hukum terhadap kasus-kasus kekerasan seksual, termasuk di lingkungan perguruan tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas implementasi kebijakan pencegahan dan penanganan kekerasan seksual di kampus melalui pendekatan Systematic Literature Review (SLR). Dengan menelaah 500 artikel ilmiah dari Dimension, penelitian ini mengevaluasi implementasi kebijakan serta mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi efektivitasnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun UU TPKS memberikan dasar hukum yang kuat, implementasi di tingkat kampus masih menghadapi tantangan seperti stigma sosial, resistensi budaya institusional, serta keterbatasan sumber daya dalam menyediakan layanan pendampingan bagi korban. Beberapa kampus telah mengadopsi mekanisme pelaporan dan kebijakan perlindungan, namun masih terdapat kesenjangan dalam penerapannya secara konsisten. Penelitian ini merekomendasikan penguatan kebijakan kampus yang lebih inklusif, peningkatan kesadaran kolektif civitas akademika, serta sinergi dengan lembaga pemerintah dan organisasi masyarakat sipil dalam menangani kekerasan seksual secara lebih komprehensif. Hasil penelitian ini diharapkan dapat berkontribusi pada pengembangan kebijakan yang lebih efektif guna menciptakan lingkungan akademik yang aman dan bebas dari kekerasan seksual. 
POLITIK PEREMPUAN DALAM LEGISLASI NASIONAL DALAM PERSPEKTIF RELASI SOSIAL DAN KEISLAMAN DI KABUPATEN CIREBON Syamsiyah, Nur; Hardiyana, Andri
Jurnal Harkat : Media Komunikasi Gender JURNAL HARKAT : MEDIA KOMUNIKASI GENDER, 21(1), 2025
Publisher : Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA), Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/harkat.v21i1.45106

Abstract

Abstract. The formal opening of women’s access to practical politics in Indonesia reflects the government’s commitment to fostering gender-sensitive public policy. However, women’s representation in parliament remains significantly below the expected threshold. In Cirebon Regency, only 13 out of 50 seats (26%) were held by women in the 2014 local election, increasing slightly to 28% in 2019, but declining to 12% in 2024. This study aims to explore women’s political representation in the Cirebon elections through the lens of social relations and Islamic perspectives. This research employs a literature study method, utilizing data from reputable national and international journals, books, media sources, and statistics from the Cirebon Regency Central Statistics Agency. Keywords include: Gender, Women’s Politics, National Legislation, Women’s Electability, Social and Islamic Relations.The findings indicate that the limited representation of women is rooted in two main factors: patriarchal social norms and religious interpretations of leadership. To address these challenges, the study proposes five strategic alternatives: (1) fostering women’s political awareness through direct service actions such as social assistance; (2) promoting political education via religious platforms; (3) transforming patriarchal mindsets through basic leadership training in schools and madrasahs; (4) strengthening female leadership in youth and civic organizations; and (5) embedding religious study groups (jamíyah) as a social subculture to foster public trust in female leadership. These strategies are designed to enhance women’s political electability while harmonizing Islamic values with inclusive democratic practices.Abstrak. Representasi perempuan dalam politik praktis secara formal telah dibuka dan diatur oleh pemerintah untuk mendorong pengambilan kebijakan publik yang sensitif gender. Namun, realitas menunjukkan bahwa keterwakilan perempuan di parlemen masih jauh dari harapan. Di Kabupaten Cirebon, hanya 13 dari 50 kursi (26%) ditempati perempuan pada Pilkada 2014, meningkat menjadi 28% pada 2019, namun turun drastis menjadi 12% pada 2024. Penelitian ini bertujuan menganalisis keterwakilan politik perempuan dalam Pilkada Cirebon melalui tinjauan relasi sosial dan nilai-nilai keislaman. Metode yang digunakan adalah studi literatur dengan sumber dari jurnal ilmiah, buku, media massa, dan data dari Badan Pusat Statistik Kabupaten Cirebon. Kata kunci mencakup: Gender, Politik Perempuan, Legislasi Nasional, Elektabilitas, serta Relasi Sosial dan Keislaman.Hasil penelitian menunjukkan bahwa rendahnya keterwakilan perempuan dipengaruhi oleh dua faktor utama: norma sosial yang mengakar dan pemahaman keislaman tentang kepemimpinan. Untuk mengatasinya, peneliti menawarkan lima alternatif strategis: (1) Membangkitkan kesadaran politik melalui layanan nyata seperti bantuan sosial; (2) Menguatkan pendidikan politik melalui forum keagamaan; (3) Mengubah pola pikir patriarkal lewat pelatihan dasar kepemimpinan di sekolah dan madrasah; (4) Mendorong kepemimpinan perempuan dalam organisasi pemuda dan masyarakat; dan (5) Membumikan pengajian sebagai subkultur sosial untuk membangun kepercayaan publik terhadap kepemimpinan perempuan. Strategi ini bertujuan memperkuat legitimasi dan elektabilitas politik perempuan secara berkelanjutan dalam bingkai nilai-nilai Islam 
CARING TOGETHER: GRASSROOTS CHILDCARE, URBAN INCLUSION, AND COLLECTIVE RESILIENCE Asrori, Saifudin; Ismai’il, Muhammad; Shabbir, Ahmad; Jamilah, Joharotul
Jurnal Harkat : Media Komunikasi Gender JURNAL HARKAT : MEDIA KOMUNIKASI GENDER, 21(1), 2025
Publisher : Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA), Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/harkat.v21i1.46977

Abstract

Abstract. As urbanization accelerates in Indonesia, access to affordable, inclusive, and culturally relevant childcare remains a persistent challenge for urban families, particularly among working-class and marginalized communities. This study investigates Rumah Anak, a community-led childcare initiative in an urban neighborhood of Indonesia, to understand how grassroots caregiving models foster social cohesion, reciprocal care, and resilience amidst institutional fragmentation and resource scarcity. Using a qualitative case study approach that includes semi-structured interviews, participant observation, and document analysis, the research identifies three interrelated dynamics: trust-building and social bonding, reciprocal caregiving as a local ethic, and grassroots navigation of institutional ambiguity. The findings illustrate that Rumah Anak functions not merely as a substitute for formal daycare, but as a form of relational social infrastructure that strengthens community ties, supports maternal employment, and enhances child development. The study concludes that community-based childcare systems, when adequately supported, hold transformative potential for inclusive urban development and call for policy frameworks that center care as a shared civic responsibility. Abstrak. Di tengah percepatan urbanisasi di Indonesia, akses terhadap layanan pengasuhan anak yang terjangkau, inklusif, dan sesuai dengan konteks budaya masih menjadi tantangan besar, terutama bagi keluarga kelas pekerja dan kelompok marjinal. Penelitian ini mengkaji Rumah Anak, sebuah inisiatif pengasuhan anak berbasis komunitas di kawasan urban Indonesia, untuk memahami bagaimana model pengasuhan akar rumput mampu membangun kohesi sosial, praktik perawatan timbal balik, dan ketahanan kolektif di tengah fragmentasi kelembagaan dan keterbatasan sumber daya. Dengan menggunakan pendekatan studi kasus kualitatif melalui wawancara semi-terstruktur, observasi partisipan, dan analisis dokumen, penelitian ini mengidentifikasi tiga dinamika utama: pembangunan kepercayaan dan ikatan sosial, etika lokal dalam perawatan timbal balik, serta adaptasi komunitas terhadap ambiguitas institusional. Temuan menunjukkan bahwa Rumah Anak bukan sekadar alternatif dari daycare formal, melainkan berfungsi sebagai infrastruktur sosial relasional yang memperkuat jaringan komunitas, mendukung partisipasi kerja perempuan, dan meningkatkan perkembangan anak. Studi ini menyimpulkan bahwa sistem pengasuhan berbasis komunitas, jika didukung secara memadai, memiliki potensi transformatif dalam pembangunan kota yang inklusif dan menuntut kerangka kebijakan yang menempatkan perawatan sebagai tanggung jawab sipil Bersama.