cover
Contact Name
Rendy Anggriawan
Contact Email
bipfapertaunej@gmail.com
Phone
+6285946410007
Journal Mail Official
bipfapertaunej@gmail.com
Editorial Address
Jl. Kalimantan, Sumbersari, Universitas Jember.
Location
Kab. jember,
Jawa timur
INDONESIA
Berkala Ilmiah Pertanian
Published by Universitas Jember
ISSN : -     EISSN : 23388331     DOI : https://doi.org/10.19184
Berkala Ilmiah PERTANIAN (BIP) is an electronic journal (e-journal) that established in August 2013 and publishes scientific articles, especially research results of students in the University of Jember in agriculture in general which includes Agriculture (Fields of Cultivation, Soil and Pests and Plant Diseases), Agricultural Technology (Agricultural Engineering and Technology) and Agricultural Socio-Economics. In addition, BIP also receives manuscript of research-based articles from outside the University of Jember through the OJS acceptance system (Open Journal System). The submitted article should not been submitted or published in any other scientific journals or is being review by a reviewer. This e-journal (BIP) publishes quarterly for August, November, February, and May.
Articles 215 Documents
Pengaruh Volume Metil Eugenol terhadap Lalat Buah (Bactrocera spp.) pada Tanaman Jeruk Manis (Citrus sinensis L. Osbeck) di Desa Plampangrejo Kabupaten Banyuwangi Ivananda, Dhea
Berkala Ilmiah Pertanian Vol 7 No 4 (2024): November 2024
Publisher : Jember University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19184/bip.v7i4.53696

Abstract

Lalat buah (Bactrocera spp.) merupakan hama yang sangat merugikan karena dapat menyebabkan kerusakan secara langsung pada buah jeruk. Pengendalian dengan insektisida kimia yang mana dapat menimbulkan efek residu bagi lingkungan dan gangguan kesehatan. Alternatif lain dalam mengendalikan hama lalat buah yaitu dengan menggunakan Metil eugenol sebagai atraktan dalam perangkap lalat buah. Feromon dapat digunakan dalam hal pemantauan serangga hama (monitoring), perangkap massal, pengganggu perkawinan (matting distruption). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Metil eugenol terhadap spesies lalat buah dan jumlah populasinya pada pertanaman jeruk manis Desa Plampangrejo. Penelitian dilakukan dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan yaitu A= control, B= 0,5 ml, C= 1 ml, D= 1,5 ml, E= 2 ml. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Lalat buah Bactrocera spp. yang terperangkap terdapat dua spesiesyaitu B. dorsalis dan B. umbrosa. Masing- masing spesies lalat buah sebanyak 83,84 ekor dari spesies B. dorsalis, sedangkan B. umbrosa sebanyak 7,6 ekor. Volume Metil Eugenol yang paling banyak menarik lalat buah pada pertanaman jeruk manis di Desa Plampangrejo yaitu pada perlakuan E (2 ml) dengan nilai 154,0 ekor, sedangkan volume Metil Eugenol yang paling sedikit menarik lalat buah yaitu pada perlakuan B (0,5 ml) dengan nilai 92,4 ekor.
Modifikasi dan Uji Kinerja Mesin Pemasak Semi Otomatis Gula Semut Puspita Yuliandari; Erdi Suroso; Latifa Indraningtyas; Sugiharto, Ribut; Elhamida Rizkiea Amin; Supiatun; Tawarina Br. Siregar
Berkala Ilmiah Pertanian Vol. 8 No. 2 (2025): Mei 2025
Publisher : Jember University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19184/bip.v8i2.53701

Abstract

Proses pemasakan dan kristalisasi gula semut, selama ini masih dilakukan dengan metode konvensional. Metode tersebut memiliki kelemahan karena gula yang dihasilkan mengandung kadar air yang tinggi dan memerlukan waktu untuk proses pembuatan yang lama. Tujuan dari penelitian ini adalah memodifikasi dan menganalisis mesin semi otomatis gula semut untuk menghasilkan gula semut dengan kadar air yang lebih rendah. Alat yang digunakan adalah Mesin Pemasak Semi Otomatis Gula Semut. Perlakuan pada penelitian ini terdiri dari frekuensi dan kecepatan pengaduk. Perlakuan kontrol mesin meliputi kecepatan pengaduk dengan penambahan inverter, alat pengaduk, blower (pengganti kipas), dan alat penggerus dengan perlakuan pengaturan 3 (tiga) frekuensi yaitu 20 Hz, 30 Hz, dan 40 Hz dan kecepatan putaran alat pengaduk yaitu 12 rpm, 18 rpm dan 24 rpm. Kedua perlakuan dilakukan pengulangan sebanyak 3 (tiga) kali. Pengujian mesin menggunakan bahan baku nira kelapa sebanyak 20 l. Peubah dilakukan dengan memperhitungkan penurunan kadar air, kecepatan pengaduk, torsi, kecepatan bahan bakar (LPG), dan biaya listrik. Modifikasi mesin pemasak semi otomatis dengan perubahan kipas menjadi blower dan penambahan inverter menghasilkan durasi pemasakan yang lebih cepat dibanding mesin pemasak sebelum modifikasi. Waktu yang digunakan mesin pemasak setelah modifikasi adalah 119,7 menit pada proses evaporasi dan 12 menit pada proses kristalisasi, sedangkan sebelum modifikasi, waktu yang digunakan untuk proses evaporasi adalah 150 menit dan 40 menit pada proses kristalisasi. Kadar air yang dihasilkan setelah modifikasi berkisar 2,17 – 2,81 % sedangkan sebelum modifikasi 2,96 – 4,56 %. Selain itu, ukuran partikel gula semut yang dihasilkan jauh lebih seragam dimandingkan dengan mesin pemasak sebelum modifikasi (berbentuk bongkahan).
Pemanfaatan Tepung Ubi Ungu dan Pisang Raja dalam Inovasi Bolu dengan Pemanis Stevia Fitriyah Zulfa; Anisa Rahma Dian Pratiwi
Berkala Ilmiah Pertanian Vol. 8 No. 1 (2025): Februari
Publisher : Jember University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19184/bip.v8i1.53697

Abstract

Bolu kukus umumnya terbuat dari bahan utama seperti tepung terigu, gula pasir, telur dan margarin.Penggantian terigu dengan memanfaatkan tepung dari ubi ungu dapat mengurangi ketergantunganpada produk impor dan lebih sehat karena bebas gluten. Penelitian ini menurunkan kalori dari guladengan menggantinya menggunakan pemanis stevia dan pisang raja matang. Tujuan penelitian iniadalah menghasilkan inovasi bolu kukus bebas gluten dan gula, mengidentifikasi efek proporsi tepungubi ungu dan pure pisang raja pada karakteristik fisikokimia dan penerimaan organoleptik. Metodepenelitian secara deskriptif 3 perlakuan (% penambahan dari tepung ubi ungu) P1 (40%), P2 (50%), P3(60%). Bahan lain yaitu telur, margarin, dan pemanis stevia. Analisis kimia meliputi kadar air dan abu(oven thermogravimetri), aktivitas antioksidan (metode DPPH), dan kadar pati, analisis sifat fisik dayakembang, analisis organoleptik meliputi warna, aroma, rasa, dan tekstur. Berdasarkan hasil ujiorganoleptik rentang skor 1-5 didapatkan hasil skor tertinggi setiap parameter pada P2 : skor warna4,21a ± 0,641, aroma 3.35a ± 0,646, rasa 3.09ab ± 0,900, dan tekstur 3.68b ± 0,768. Produk yangmendapatkan skor analisis organoleptic tertinggi merupakan produk terbaik dan dilanjutkan analisiskimia, dengan hasil kadar air 36,35%,kadar abu 1,80%, aktivitas antioksidan 23,12%, kadar pati 15,24%,dan daya kembang sebesar 0,68%. Inovasi bolu kukus diterima secara sensory dengan nilai rata-ratadisukai pada semua parameter dan sesuai SNI 01-3840-1995 kukus kadar air maksimal 40%, kadar abu1%.
Pengaruh Macam dan Konsentrasi Auksin terhadap Pertumbuhan Awal Tanaman Tebu (Saccharum officinarum) Metode Bud Set Robby An Taghfironi; Gatot Subroto
Berkala Ilmiah Pertanian Vol. 8 No. 1 (2025): Februari
Publisher : Jember University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tebu adalah tanaman penghasil gula utama di Indonesia. Salah satu upaya untuk menghasilkan bibittebu unggul adalah dengan metode bud set. Untuk merangsang perakaran bud set perlu diaplikasianauksin. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui Pengaruh Macam dan Konsentrasi Auksinterhadap Pertumbuhan Awal Tanaman Tebu Metode Bud Set. Penelitian ini menggunakan rancanganacak lengkap pola faktorial. Faktor pertama adalah macam zat pengatur tumbuh yaitu NAA, IBA, danIAA. Faktor ke dua adalah konsentrasi zat pengatur tumbuh dengan taraf kontrol, 100 ml/l, 200 ml/l,dan 300 ml/l. Data dianalisis menggunakan analisis ragam Anova, kemudian diuji lanjut DMRT dengansignifikansi 5%. Hasil penelitian menunjukkan interaksi antara macam dan konsentrasi zat pengaturtumbuh berpengaruh nyata terhadap variabel jumlah daun dengan hasil terbaik IBA 200 ml/l. Pengaruhmacam zat pengatur tumbuh berpengaruh nyata terhadap variabel Jumlah akar dan volume akardengan hasil terbaik IBA. Pengaruh konsentrasi zat pengatur tumbuh berpengaruh terhadap variabelkecepatan berkecambah, jumlah anakan, jumlah akar, dan volume akar dengan hasil terbaik taraf 200ml/l.
Optimalisasi Slurry dan Baglog Terhadap Peningkatan Kualitas Bahan Baku Kompos Eka Setianingsih, Titin
Berkala Ilmiah Pertanian Vol. 7 No. 4 (2024): Volume 7 Nomor 4, November 2024
Publisher : Jember University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19184/bip.v7i4.53686

Abstract

Slurry can potentially be used as a basic material in composting. This is due to the high organic matter and nitrogen level of the slurry. Slurry has a low C/N ratio of 7.4, which might cause nitrogen loss via NH3 and NO2. Slurry handling requires management, such as the addition of baglog raw ingredients. Baglog is a waste media in mushroom production. Baglog has a C:N ratio of 35.21. Compost raw materials with a high C/N ratio smell because the primary bacteria are not present. As a result, composting raw materials with the lowest C/N ratio must be combined with materials with a high C/N ratio. The purpose of this research is to determine the combination of compost raw materials, such as baglog and slurry, to produce compost that satisfies quality standards. The composting research experiment consists of six treatments, including K1 (25 liters of slurry + 25 kg of baglog + 0 ml of decomposer), K2 (25 liters of slurry + 25 kg of baglog + 3 ml/1000 mL of decomposer), K3 (30 liters of slurry + 20 kg of baglog + 3 ml/1000 mL of decomposer), K4 (40 liters of slurry + 30 kg of baglog + 3 ml/1000 mL of decomposer), K5 (50 liters of slurry + 25 kg of baglog + 3 ml/1000 mL of decomposer), and K6 (25 liters of slurry + 50 kg of baglog + 3 ml/1000 mL of decomposer). The compost quality standards of Minister of Agriculture Regulation No. 01 (2019) are satisfied by treatments K1 until K4. Application K2 (slurry 25 liters + baglog 25 kg + decomposer 3 ml/1000 mL) a higher nitrogen value compared to other treatments.
Analisis Kandungan Nutrisi Pada Beras Galur Mutan M5 Padi (Oryza sativa L.) Lokal Sigupai Aceh Barat Daya Safrizal; Tambunan, Hardiansyah; Mey Ryan Sandi; Dela Arinda; Nurmalinda Siregar
Berkala Ilmiah Pertanian Vol. 7 No. 4 (2024): Volume 7 Nomor 4, November 2024
Publisher : Jember University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19184/bip.v7i4.53687

Abstract

Kebutuhan akan pangan yang aman dan sehat menjadi prioritas utama masyarakat, termasuk beras sebagai sumber karbohidrat utama. Varietas lokal padi Sigupai ABDYA memiliki keunggulan seperti aroma khas dan rasa enak, namun memiliki kelemahan seperti hasil panen rendah dan umur tanaman panjang. Upaya perbaikan varietas ini dilakukan melalui mutasi dengan iradiasi sinar gamma untuk meningkatkan potensi hasil dan kualitas tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kandungan protein, lemak, dan pati pada beras mutan M5 hasil iradiasi varietas Sigupai. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) non faktorial yang terdiri dari 5 perlakuan, masing-masing perlakuan dengan 3 ulangan, sehingga secara keseluruhan terdapat 15 unit satuan percobaan. Adapun yang menjadi faktor dalam penelitian ini adalah M1=Varietas Mustajab, M2= UM-14: M3= UM-69: M4= UM-8: M5= UM-89. Data yang diperoleh kemudian dianalisis menggunakan ANOVA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat variasi kandungan nutrisi (protein, lemak, dan pati) pada galur mutan generasi kelima (M5) padi lokal Sigupai Aceh Barat Daya (ABDYA). Berdasarkan hasil uji ANOVA, pengaruh perlakuan galur memiliki pengaruh yang signifikan hanya terhadap kadar protein saja. Temuan ini memberikan informasi penting mengenai potensi galur mutan M5 untuk pengembangan varietas unggul padi dengan kandungan nutrisi yang lebih optimal, khususnya pada kadar protein, guna mendukung pemenuhan kebutuhan pangan bergizi.
Pengaruh Volume Metil Eugenol terhadap Lalat Buah (Bactrocera spp.) pada Tanaman Jeruk Manis (Citrus sinensis L. Osbeck) di Desa Plampangrejo Kabupaten Banyuwangi Dhea Ivananda
Berkala Ilmiah Pertanian Vol. 7 No. 4 (2024): Volume 7 Nomor 4, November 2024
Publisher : Jember University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19184/bip.v7i4.53688

Abstract

Lalat buah (Bactrocera spp.) merupakan hama yang sangat merugikan karena dapat menyebabkan kerusakan secara langsung pada buah jeruk. Pengendalian dengan insektisida kimia yang mana dapat menimbulkan efek residu bagi lingkungan dan gangguan kesehatan. Alternatif lain dalam mengendalikan hama lalat buah yaitu dengan menggunakan Metil eugenol sebagai atraktan dalam perangkap lalat buah. Feromon dapat digunakan dalam hal pemantauan serangga hama (monitoring), perangkap massal, pengganggu perkawinan (matting distruption). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Metil eugenol terhadap spesies lalat buah dan jumlah populasinya pada pertanaman jeruk manis Desa Plampangrejo. Penelitian dilakukan dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan yaitu A= control, B= 0,5 ml, C= 1 ml, D= 1,5 ml, E= 2 ml. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Lalat buah Bactrocera spp. yang terperangkap terdapat dua spesies yaitu B. dorsalis dan B. umbrosa. Masing- masing spesies lalat buah sebanyak 83,84 ekor dari spesies B. dorsalis, sedangkan B. umbrosa sebanyak 7,6 ekor. Volume Metil Eugenol yang paling banyak menarik lalat buah pada pertanaman jeruk manis di Desa Plampangrejo yaitu pada perlakuan E (2 ml) dengan nilai 154,0 ekor, sedangkan volume Metil Eugenol yang paling sedikit menarik lalat buah yaitu pada perlakuan B (0,5 ml) dengan nilai 92,4 ekor.
Evaluasi Kesesuaian Lahan Tanaman Padi, Jagung dan Kedelai di Kabupaten Banyuwangi Mufti Satriya Prambudi
Berkala Ilmiah Pertanian Vol. 7 No. 4 (2024): Volume 7 Nomor 4, November 2024
Publisher : Jember University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Lalat buah (Bactrocera spp.) merupakan hama yang sangat merugikan karena dapat menyebabkan kerusakan secara langsung pada buah jeruk. Pengendalian dengan insektisida kimia yang mana dapat menimbulkan efek residu bagi lingkungan dan gangguan kesehatan. Alternatif lain dalam mengendalikan hama lalat buah yaitu dengan menggunakan Metil eugenol sebagai atraktan dalam perangkap lalat buah. Feromon dapat digunakan dalam hal pemantauan serangga hama (monitoring), perangkap massal, pengganggu perkawinan (matting distruption). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Metil eugenol terhadap spesies lalat buah dan jumlah populasinya pada pertanaman jeruk manis Desa Plampangrejo. Penelitian dilakukan dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan yaitu A= control, B= 0,5 ml, C= 1 ml, D= 1,5 ml, E= 2 ml. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Lalat buah Bactrocera spp. yang terperangkap terdapat dua spesies yaitu B. dorsalis dan B. umbrosa. Masing- masing spesies lalat buah sebanyak 83,84 ekor dari spesies B. dorsalis, sedangkan B. umbrosa sebanyak 7,6 ekor. Volume Metil Eugenol yang paling banyak menarik lalat buah pada pertanaman jeruk manis di Desa Plampangrejo yaitu pada perlakuan E (2 ml) dengan nilai 154,0 ekor, sedangkan volume Metil Eugenol yang paling sedikit menarik lalat buah yaitu pada perlakuan B (0,5 ml) dengan nilai 92,4 ekor.
Eksplorasi dan identifikasi bakteri endofit pereduksi nanosilver asal tanaman padi dan uji antibiosis terhadap Xanthomonas oryzae pv. oryzae Syaiful Khoiri
Berkala Ilmiah Pertanian Vol. 7 No. 4 (2024): Volume 7 Nomor 4, November 2024
Publisher : Jember University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Salah satu penyakit yang menyerang tanaman padi adalah hawar daun bakteri yang disebabkan Xanthomonas oryzae pv. oryzae (Xoo). Umumnya pengendalian hawar daun bakteri menggunakan bakterisida sintetik. Diperlukan alternatif pegendalian salah satunya dengan pemanfaatan nanoteknologi. Ketersediaan bakteri pereduksi nanopartikel perak masih terbatas. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi dan identifikasi bakteri endofit pada tanaman padi, mengkarakterisasi kemampuan bakteri endofit sebagai bioreduktor nanopartikel perak (AgNPs), dan menguji kemampuan antibiosis terhadap Xoo. Proses ini dimulai dengan eksplorasi dan identifkasi bakteri endofit tanaman padi, melakukan proses sintesis perak nitrat menggunakan isolat bakteri sebagai bioreduktor, mengkaraterisasi AgNPs dengan mengamati perubahan warna larutan serta spektrofotometer UV-Vis, uji antibiosis menggunakan metode difusi cakram, dan mengidentifikasi bakteri. Hasil ekplorasi diperoleh 15 isolat yang dominan (populasi lebih dari 107 cfu mL-1). Isolat bakteri endofit yang positif mampu mereduksi partikel perak nitrat (AgNO3) menjadi nanopartikel perak (AgNPs) hanya dua isolat yaitu isolat BI4 dan BI5. AgNP yang disintesis dengan reduktor bakteri endofit pada BI4 memiliki panjang gelombang maksimum 468 nm dengan nilai serapan 0,173 dan BI5 memiliki panjang gelombag maksimum 368 nm dengan nilai serapan 0,108. Hasil identifikasi berdasarkan 16S rRNA menunjukkan bahwa isolat BI4 adalah Pseudomonas aeruginosa dengan kemiripan 98% dan isolat BI5 adalah Hafnia psychrotolerant dengan kemiripan 87%. Pengujian AgNPs terhadap Xoo menunjukkan kemampuan antibiosis namun masih dalam kategori lemah.
The Effect of Starter Culture on Increasing Food Safety and Its Impact on Customer Preference Hillary Ellen Yapradinata; Alvin Chandra Wijaya; Tuhfah Wikaputra; Masdiana Cendrakasih Padaga; Oki Krisbianto
Berkala Ilmiah Pertanian Vol. 8 No. 1 (2025): Februari
Publisher : Jember University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Aron is a fermented white corn, a traditional product of the Tengger tribe, which is susceptible to contamination by pathogenic microorganisms during its production process. The addition of starter cultures obtained from the isolation of dominant lactic acid bacteria in the natural fermentation of white corn, namely Lactobacillus and Streptococcus, was expected to inhibit the growth of pathogenic microorganisms. The aim of this study was to evaluate the ability of different concentrations of starter culture, starting from 0%, 10%, 20%, and 30% to inhibit the growth of pathogenic microorganisms, under different fermentation conditions, which are traditional fermentation at a cold temperature around 13-18°C in Tengger and controlled fermentation at 28-32°C in a laboratory in Surabaya for 6 days, with analysis done on days 0, 3, and 6. Differences in sensory characteristics of aron with the addition of starter cultures, including aroma, taste, and color, were also evaluated. The indicator used to measure the growth of pathogenic microorganisms was Enterobacteriaceae, which quantity was analyzed to evaluate the inhibition of its growth by lactic acid bacteria under both conditions. Biochemical analyses such as TSIA test, catalase test, and motility test were performed to ensure that the dominant bacteria at the end of fermentation were lactic acid bacteria. Additionally, molds that grew during fermentation in both conditions were identified. Sensory analysis was done at the end of fermentation, including aroma, taste, and colour tests, which supported by Whiteness Index, DE2000, and Chroma analyses to evaluate the impact of starter culture and environmental conditions on the resulting aron. The addition of starter cultures was shown to affect the inhibition of Enterobacteriaceae growth under both conditions. Biochemical tests serve as supporting evidence that the dominant bacteria under both conditions after 6 days of fermentation were lactic acid bacteria. Aroma was identified as an attribute likely influenced by the addition of starter culture and environmental differences, caused by the compounds produced during fermentation. It was concluded that the addition of starter culture and environmental differences affect the microbiological characteristics and aroma of aron.