Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

Efektivitas Isolat-Isolat Bacillus sebagai Pengendali Penyakit Bulai dan Pemacu Pertumbuhan Tanaman Jagung pada Kondisi Terkontrol Khoiri, Syaiful; Badami, Kaswan; Pawana, Gita; Utami, Ciwuk Sri
Rekayasa Vol 14, No 2: Agustus 2021
Publisher : Universitas Trunojoyo Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/rekayasa.v14i2.10270

Abstract

The main disease in maize is downy mildew caused by the fungus Peronosclerospora spp.. This pathogen can cause yield losses of up to 100%. Therefore, efforts to control this disease are continuously carried out, including technical culture, assembly of resistant plants, and use of synthetic fungicides. At the farm level, the use of metalaxyl, synthetic fungicides is the most common practice. On the other hand, it has been reported that some Peronosclerospora groups are starting to become resistant to metalaxyl. These problems lead to the need for alternative controls, for example with biological agents. Biological agents from bacterial groups have been developed to control plant disease, but for downy mildew is still limited. The purpose of this study is to screen and test Bacillus spp. ability to suppress downy mildew and promote the growth of maize. The assay was carried out on seeds by invitro to investigate growth-promoting reactions and also testing under controlled conditions in greenhouses to investigate the suppression ability of downy mildew disease development. The results showed B. polymyxa strain BP18, Bacillus subtilis strain BS41, Bacillus sp. strain BT1, and Bacillus sp. strains can stimulate the growth of corn seedlings and suppress downy mildew. The best isolate in suppressing downy mildew was Bacillus sp. strain BT1 with the smallest AUDPC value (3.94) and the highest protection index (82.71%). It is hoped that these results will find potential isolates and have the potential to be developed into biopesticides and biofertilizers.
Karakter morfologi, heritabilitas dan indeks seleksi terboboti beberapa generasi F1 Melon (Cucumis melo L.) Achmad Amzeri; Kaswan Badami; Syaiful Khoiri; Ahmad Syaiful Umam; Nasirul Wahid; Siti Nurlaella
Jurnal Agro Vol 7, No 1 (2020)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/6244

Abstract

Perakitan varietas melon hibrida dengan karakter-karaker unggul merupakan suatu upaya untuk memenuhi kebutuhan benih melon dalam negeri dan mengurangi ketergantungan impor benih melon dari luar negeri. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi penampilan fenotipik 24 genotip tanaman melon hibrida (F1).  Penelitian ini dilakukan di Kebun Percobaan Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Trunojoyo Madura pada bulan Februari sampai Mei 2019. Bahan yang digunakan adalah 24 genotip melon hibrida (F1) hasil persilangan di antara galur-galur melon. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan satu perlakuan yaitu genotip dan diulang sebanyak 3 kali. Analisis data menggunakan analisis varians (Anova) yang dilanjutkan dengan uji Duncan pada taraf 5%. Nilai heritabilitas dalam arti luas dihitung menggunakan taksiran nilai kuadrat tengah pada analisis varians. Seleksi indeks digunakan untuk mendapatkan kandidat varietas tanaman melon hibrida. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 24 tanaman melon hibrida (F1) yang diuji memiliki perbedaan penampilan pada karakter umur berbunga, panjang buah, diameter buah, tebal daging buah, kadar gula, jumlah biji per buah, bobot buah per tanaman dan produksi per hektar. Nilai heritabilitas dalam arti luas tanaman melon hibrida (F1) pada karakter yang dievaluasi berkisar antara 0,15 – 0,71. Hasil  nilai seleksi indeks terboboti menunjukkan bahwa terdapat dua calon varietas tanaman melon hibrida yang memiliki seleksi indeks tertinggi yaitu G4 dan G5.  ABSTRACTAssembling hybrid melon varieties with superior characters is an effort to meet the needs of domestic melon seeds and reduce dependence on imported melon seeds. The purpose of this study was to evaluate the phenotypic appearance of 24 genotypes of hybrid melon plants (F1).  This research was conducted at the Agrotechnology Experimental Field at Faculty of Agriculture, Universitas Trunojoyo Madura from February to May 2019. The materials used
Studi Warna Biji Jagung Lokal Madura Menggunakan Teknologi Imaging Nurholis Nurholis; Mohammad Syafii; Syaiful Khoiri
Agrovigor Vol 13, No 1 (2020): Maret
Publisher : Universitas Trunojoyo Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (948.751 KB) | DOI: 10.21107/agrovigor.v13i1.6569

Abstract

Jagung merupakan komoditas penting yang merupakan pangan pokok ketiga yang paling bayak dikonsumsi penduduk dunia serta merupakan bahan pangan alternatif pengganti beras dalam rangka mendukung program diversifikasi pangan di Indonesia. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui keragaman plasma nutfah jagung terutama pada warna biji dan kuantifikasinya. Penelitian ini dilakukan pada bulan Agustus-Oktober 2018, kegiatan eksplorasi di lakukan di empat kabupaten yaitu Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep. Hasil dari kegiatan eksplorasi diperoleh 60 aksesi jagung lokal, 44 masih dalam bentuk tongkol dan 16 dalam bentuk jagung pipil populasi bulk. Berdasarkan hasil imaging menggunakan perangkat ImageJ untuk populasi studi betakaroten maupun antosianin menunjukkan hasil yang konsisten baik berdasarkan hasil 3D histogram maupun corrplot. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kuantifikasi warna biji jagung dapat dilakukan melalui pendekatan imaging menggunakan perangkat ImageJ.
Tingkat serangan ulat grayak tentara Spodoptera frugiperda J. E. Smith (Lepidoptera: Noctuidae) pada pertanaman jagung di Kabupaten Tuban, Jawa Timur, Indonesia Dita Megasari; Syaiful Khoiri
Agrovigor Vol 14, No 1 (2021): Maret
Publisher : Universitas Trunojoyo Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/agrovigor.v14i1.9492

Abstract

Spodoptera frugiperda atau ulat grayak tantara (fall army worm/FAW) adalah hama baru pada tanaman jagung di Indonesia. Laporan tentang serangan FAW masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah S. frugiperda telah menyerang pertanaman jagung di Kabupaten Tuban dan menentukan tingkat serangannya. Sampling dilakukan dengan metode  Scouting  seperti yang direkomendasikan Balitsereal, Maros.  Penelitian dilaksanakan di 7 kecamatan di Kabupaten Tuban, Jawa Timur. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh lokasi pengamatan pada lahan jagung ditemukan serangan S. frugiperda. Presentase serangan hama baru S. frugiperda di Kabupaten Tuban berkisar antara 58% hingga 100%. Presentase serangan tertinggi (yakni 100%) terdapat pada lahan di Kecamatan Bancar, Kabupaten. Intensitas serangan S. frugiperda di bawah 60%. Intensitas serangan tertinggi yaitu di Kecamatan Bancar dengan nilai intensitas serangan 55%.
Fermentasi Limbah Jagung dan Pengaruhnya terhadap Pertumbuhan Jagung Ungu Introduksi di Madura Syaiful Khoiri; Mualim Mualim
Agrovigor Vol 11, No 2 (2018): September
Publisher : Universitas Trunojoyo Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (463.375 KB) | DOI: 10.21107/agrovigor.v11i2.5024

Abstract

Peningkatan produksi jagung nasional telah dicapai pemerintah melalui upaya khusus selama 2 tahun terakhir (2016-2017). Keberhasilan ini ditandai dengan ditutupnya kran  impor pada tahun 2017. Selanjutnya, kebijakan pemerintah diarahkan pada pengembangan jagung fungsional atau jagung yang mempunyai kandungan bioaktif yang bermanfaat bagi kesehatan manusia.  Pulau Madura mempunyai luasan areal pertanaman jagung yang sangat luas. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari adaptasi jagung ungu introduksi dengan menambahkan pupuk organik dari limbah jagung di Madura.  Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan dan Laboratorium Sistem Manufaktur Fakultas Teknik Universitas Trunojoyo Madura. Metode pengujian yang dilakukan dengan cara aplikasi 3 hari sebelum tanam. Parameter pengamatan di lapangan meliputi: karakteristik bio-kompos, daya kecambah benih, tinggi tanaman, kandungan klorofil, dan bobot produksi pertanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pupuk organik hasil fermentasi dari limbah jagung berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman, serta kandungan klorofil tanaman jagung ungu. Perlakuan terbaik ditunjukkan oleh perlakuan S1 yang menunjukkan respon perkecambahan dan pertumbuhan paling tinggi, kandungan klorofil tinggi, umur berbunga pendek, serta memiliki bobot tongkol dan biji tertinggi dibandingkan dengan perlakuan yang lain.
Respon Bibit Tebu Akibat Komposisi Media Tanam yang Diaplikasikan Formulasi Dobel Inokulan Pseudomonad Pendarflor dan Azospirillum Gita Pawana; Achmad Djunaedy; Syaiful Khoiri
Agrovigor Vol 12, No 1 (2019): Maret
Publisher : Universitas Trunojoyo Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (284.139 KB) | DOI: 10.21107/agrovigor.v12i1.5287

Abstract

Untuk mendapatkan bibit berkualitas baik toleran terhadap cekaman biotik dan abiotik dengan perakaran baik dan efisien terhadap pemupukan pada media tanam diaplikasikan formulasi dobel inokulan pseudomonad pendarflor dan Azospirillum, namun demikian pada pembibitan tebu informasi tentang hal ini masih terbatas. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh komposisi media tanam yang diaplikasikan formulasi dobel inokulan pseudomonad pendarflor dan Azospirillum terhadap pertumbuhan bibit budchip tebu. Budchip ditumbuhkan pada nampan pembibitan dengan komposisi media tanam sebagai perlakuan yaitu M1: top soil dan bahan organik dengan komposisi 1:1, M2: top soil dan formulasi dobel inokulan pseudomonad pendarflor dan Azospirillum dengan komposisi 1:1, M3: top soil dan formulasi dobel inokulan pseudomonad pendarflor dan Azospirillum dengan komposisi 2:1, M4: top soil dan formulasi dobel inokulan pseudomonad pendarflor dan Azospirillum dengan komposisi 1:2. Digunakan rancangan acak lengkap. Pada parameter data dilakukan analisa varian, jika terdapat perbedaan yang siknifikan dilanjutkan dengan uji jarak berganda Duncan dengan taraf nyata (α) 5%. Parameter data yang diamati meliputi: tinggi tanaman, diameter batang, jumlah daun, bibit yang hidup, jumlah akar primer dan sekunder, dan biomassa tanaman. Kesimpulan yang diperoleh adalah  formulasi konsursium pseudomonad pendarfluor dan Azospirilum dapat meningkatkan pertumbuhan pembibitan tebu, dapat menstimulasi pertumbuhan akar sekunder.  Adapun media tanam dengan komposisi top soil dan formulasi dobel inokulan pseudomonad pendarflor dan Azospirillum 1:1 merupakan komposisi yang paling ideal.
Identification of Quorum Quenching Bacteria and Its Biocontrol Potential Against Soft Rot Disease Bacteria, Dickeya dadantii Syaiful Khoiri; Tri Asmira Damayanti; Giyanto Giyanto
AGRIVITA, Journal of Agricultural Science Vol 39, No 1 (2017): FEBRUARY
Publisher : Faculty of Agriculture University of Brawijaya in collaboration with PERAGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17503/agrivita.v39i1.633

Abstract

Dickeya dadantii is one of newly found bacteria causing soft rot on orchids in Indonesia. Infected plants showed severe rot rapidly only in few days. An effort to control the bacteria was conducted by utilizing selected quorum quenching (QQ) inducer bacteria which produce AHL-lactonase by aiiA gene. The aims of this research were to screen and identify of quorum quenching bacteria, and also assayed their biocontrol potential ability against D. dadantii in laboratory. The screening of QQ bacteria was achieved using the anti-QS test, anti-microbial activity, and detection of aiiA gene using specific primer. The determination of the ability against D. dadantii was done using the soft rot assay on potato and orchid. Among thirty one bacteria isolates screened, four isolates (in succession namely B37, BT2, GG3, and GG6) were selected to control D. dadantii. All of these bacteria showed QQ ability to suppress the virulence of D. dadantii infection on orchids, significantly. Based on nucleotide sequences of 16S ribosomal RNA, those of bacteria isolates had the highest identity with Brevibacillus brevis, Bacillus cereus ATCC14579, Bacillus cereus ATCC14579 and Bacillus thuringiensis ATCC 10792. Brevibacillus brevis was reported for the first time as QQ bacteria in this study.
The Incidence and Severity of Downy Mildew Disease on Local Madurese Maize Crops in Sumenep district, East Java, Indonesia Syaiful Khoiri; Abdiatun Abdiatun; Khairatul Muhlisa; Achmad Amzeri; Dita Megasari
Agrologia Vol 10, No 1 (2021): Agrologia: Jurnal Ilmu Budidaya Tanaman
Publisher : Faculty of Agriculture, Pattimura University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/ajibt.v10i1.1295

Abstract

In Madura island, corn is the main commodity that is widely planted with an area of 301,725 ha or about 30% of the area of maize in East Java. Madura Island has local cultivars, such as: Tambin, Talango, Guluk-guluk, Manding, and Kretek. Efforts to increase production are continuously being made, starting from improving varieties until managing plant pests. One of the main diseases in maize is downy mildew. However, information about the incidence, incidence, severity, and species that cause downy mildew in local cultivars has not been reported. So, this study aims to identify the causes of downy mildew in local cultivars of Madura and disease severity in the field. The research method is a survey on local maize centers. Sampling was done by using the diagonal sampling method. Each plant sample was observed for symptoms of disease and scoring to calculate the value of disease severity. Fungi identification was carried out by microscopic observation of the fungus. The results showed that the cause of downy mildew in Madura local maize in Sumenep Regency was P. maydis. The highest incidence, disease severity, and AUDPC value after 4 MST were found in Guluk-guluk cultivars in Padangdangan Village, but had the lowest disease progression rate values. Meanwhile, the highest rate of disease progression was found in the Manding cultivar in Mandala Village. Based on the resistance category, Talango cultivar had the best resistance when compared to other cultiva.Keywords: AUDPC, downy mildew, disease progress, Madurese maize, Peronosclerospora maydis
Evaluasi ketahanan galur melon madura (Cucumis melo L.) terhadap cucumber mosaic virus Eva Monica; Syaiful Khoiri; Achmad Amzeri
Agrovigor Vol 15, No 2 (2022): September
Publisher : Universitas Trunojoyo Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/agrovigor.v15i2.14886

Abstract

Tanaman melon (Cucumis melo L.) merupakan salah satu tanaman buah-buahan yang penting dan tanaman melon ini banyak ditanam di berbagai negara. Permintaan dan produksi buah melon yang meningkat harus seimbang dengan ketersediaan benih melon. Dalam budidaya terdapat beberapa kendala salah satunya ketersediaan benih pada waktu yang dibutuhkan. Budidaya tanaman melon tidak terlepas dari hambatan pertumbuhan salah satunya karena gangguan hama dan penyakit. Mengatasi permasalahan produksi diperlukan perakitan varietas unggul yang tahan. Varietas unggul diperoleh dari tetua yang tahan. Sehingga penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi galur-galur melon lokal Madura yang memiliki ketahanan terhadap Cucumber mosaic virus (CMV). Penelitian dilakukan di greenhouse untuk penanaman melon, Program Studi Agroekoteknologi Fakultas Pertanian Universitas Trunojoyo Madura. Sampel daun yang bergejala penyakit dibawa ke laboratorium untuk dilakukan ekstrak genom. Amplifikasi DNA dilakukan dengan RT-PCR menggunakan sepasang primer CMV-1F CMV-1R. Hasil konfirmasi menunjukkan sampel positif terinfeksi CMV. Berdasarkan hasil percobaan secara umum galur G16 memiliki tingkat ketahanan terbaik dibandingkan galur lain dan galur pembanding. Selain itu, galur G8 juga cukup tahan dibandingkan galur pembanding. galur G16 dan galur G8 berpotensi digunakan sebagai tetua yang tahan CMV.
Diversity Of Weed Species In Cocoa Plantations In Banyuwangi, East Java, Indonesia Syaiful Khoiri; Shafira Desty Adisa; Dheananda Fyora Hermansyah Azari; Dita Megasari
Jurnal Riset Perkebunan Vol. 4 No. 2 (2023): Jurnal Riset Perkebunan (JRP)
Publisher : Jurusan Budidaya Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jrp.4.2.65-71.2023

Abstract

Cocoa (Theobroma cacao L.) is one of the important plantation commodities in Indonesia. However, one of the factors that can affect productivity is weeds because weeds compete with cocoa in getting water, sunlight, nutrients, air, and space to grow. One of the largest cocoa plantation areas in East Java is the Banyuwangi district. Information about the types of cocoa weeds in Banyuwangi is unknown even though weeds in one area are different from another. Weed can reduce the production of cocoa. So, This study is important for determining appropriate control methods. This study aimed to determine the type, diversity, and abundance of weeds. The research method used in this study was a survey with a square-plot size. All weed samples were identified. The results showed that there were twelve types of broadleaf weeds, three types of grass weeds, one type of sedge, and one type of fern. The highest importance value index (IVI) was found in Ottochloa nodosa at 40.91%. The diversity of weeds was in a medium category. Weed diversity in cocoa plantations in Banyuwangi was different from other areas in Indonesia. The results of this research contribute to providing information on the diversity of weeds that can be used in determining weed control strategies in cocoa plantations.