cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota banda aceh,
Aceh
INDONESIA
Jurnal Mentari
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 286 Documents
RETORIKA SEBAGAI SENI BERBICARA Iskandar, Denny
Jurnal Mentari Vol 13, No 2 (2010)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini membahas urgensi Retorika sebagai salah satu bidang ilmu pengetahuan yang semakin hari semakin mendapat tempat strategis dalam Kurikulum Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Materi yang dibahas meliputi sejarah dan konsep Retorika. Sebagai seni berbicara, Retorika dapat dimanfaatkan pada proses pembelajaran di kelas. Pembelajaran yang tidak memanfaatkan Retorika dapat menimbulkan kebosanan sehingga perhatian anak didik tidak tercurah pada bahan yang disajikan. Pengajar yang cakap memanfaatkan Retorika dalam tugasnya akan disenangi anak didiknya.   Kata kunci: retorika, seni berbicara, pembelajaran bahasa PENDAHULUAN Retorika memegang peranan penting dalam kegiatan berbicara. Hal ini sudah lama disadari di belahan bumi bagian Barat. Berdasarkan peninggalan tertulis bangsa Yunani ternyata masalah ini sudah dikenal sejak abad ke-5 sebelum Masehi. Studi Retorika ini akhirnya mempengaruhi perkembangan kebudayaan Eropa dari zaman ke zaman sampai dengan abad ke-7 Masehi. Bertahun-tahun Retorika dianggap negatif oleh sebagian ilmuwan karena seolah-olah Retorika hanya seni propaganda saja, dengan kata-kata yang bagus bunyinya tetapi disangsikan kebenaran isinya. Padahal, arti asli dari Retorika jauh lebih mendalam, yakni pemekaran bakat-bakat tertinggi manusia, yakni rasio dan cita rasa lewat bahasa selaku kemampuan untuk berkomunikasi dalam medan pikiran (to be victorious lords in the battle of minds). Retorika menjadi mata ajar poros demi emansipasi manusia menjadi tuan dan puan (Rakhmat, 2007: v). Kemampuan bicara bisa merupakan bakat. Namun, kepandaian bicara yang baik memerlukan pengetahuan dan latihan. Orang sering memperhatikan cara dan bentuk pakaian yang dikenakannya, agar kelihatan pantas, tetapi ia sering lupa memperhatikan cara dan bentuk pembicaraan yang diucapkannya supaya kedengaran baik. Retorika sebagai “ilmu bicara” sebenarnya diperlukan semua orang. Menyadari penting dan manfaat retorika dalam keterampilan berbahasa, Retorika dimasukkan ke dalam Kurikulum Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) pada tahun ajaran 1994/1995. Sampai dengan sekarang mata kuliah ini masih eksis sebagai mata kuliah pokok yang wajib diikuti oleh mahasiswa. Melalui mata kuliah Retorika mahasiswa diharapkan dapat memahami; 1) konsep dasar Retorika; 2) hakikat, sejarah, klasifikasi, metode, dan pendidikan Retorika; 3) menjelaskan penggunaan bahasa sebagai seni secara lisan dan tulis; 4) mampu dan terampil menggunakan bahasa sebagai seni dalam wacana lisan dan tulis untuk berbagai kebutuhan praktis. PEMBAHASAN Sejarah Retorika Istilah Retorika muncul pertama kali di Yunani sekitar  abad ke-5 Sebelum Masehi. Saat itu merupakan masa kejayaan Yunani sebagai pusat kebudayaan barat dan para filsufnya saling berlomba untuk mencari apa yang mereka anggap sebagai kebenaran. Pengaruh kebudayaan Yunani ini menyebar sampai ke dunia timur seperti Mesir, India, Persia, Indonesia, dan lain-lain. Retorika mulai berkembang pada zaman Socrates, Plato, dan Aristoteles. Selanjutnya, Retorika berkembang menjadi suatu ilmu pengetahuan dan yang dianggap sebagai guru pertama dalam ilmu Retorika adalah Georgias (480–370 S.M.). Uraian sistematis Retorika yang pertama diletakkan oleh orang Syracuse, sebuah koloni Yunani di Pulau Sicilia. Bertahun-tahun koloni itu diperintah para tiran. Tiran, di mana pun dan pada zaman apa pun, senang menggusur tanah rakyat. Kira-kira tahun 465 S.M., rakyat melancarkan revolusi. Diktator ditumbangkan dan demokrasi ditegakkan. Pemerintah mengembalikan lagi tanah rakyat kepada pemiliknya yang sah. Untuk mengambil haknya, pemilik tanah harus sanggup meyakinkan dewan juri di pengadilan. Waktu itu, tidak ada pengacara dan tidak ada sertifikat tanah. Setiap orang harus meyakinkan mahkamah dengan pembicaraan saja. Sering orang tidak berhasil memperoleh kembali tanahnya, hanya karena ia tidak pandai bicara. Untuk membantu orang memenangkan haknya di pengadilan, Corax menulis makalah Retorika, yang diberi nama Techne Logon (seni kata-­kata). Walaupun makalah ini sudah tidak ada, dari para penulis se­zaman, kita mengetahui bahwa dalam makalah itu ia berbicara tentang teknik kemungkinan. Bila kita tidak dapat memastikan sesuatu, mulailah dari kemungkinan umum. Misalnya, seorang kaya mencuri dan dituntut di pengadilan untuk pertama kalinya. Dengan teknik kemungkinan kita bertanya, "Mungkinkah seorang yang berkecukupan mengorbankan kehormatannya dengan mencuri? Bukankah, sepanjang hidupnya, ia tidak pernah diajukan ke pengadilan karena mencuri." Contoh lain, seorang miskin mencuri dan diajukan ke pengadilan untuk kedua kalinya. Kita bertanya, "la pernah mencuri dan pernah dihukum. Mana mungkin ia berani melakukan lagi pekerjaan yang sama". Akhirnya, Retorika me­mang mirip “ilmu silat lidah". Tokoh-tokoh Retorika klasik yang menonjol antara lain adalah Gorgias, Lycias, Phidias, Protogoras, dan Isocrates. Kelompok ini menyebut aliran Retorika mereka sebagai kaum Sofis. Menurut aliran ini Retorika merupakan alat untuk memenangkan suatu kasus lewat bertutur seperti kepandaian memainkan ulasan, kefasihan berbahasa, pemanfaatan emosi penanggap tutur, dan keseluruhan tutur harus ditujukan untuk mencapai kemenangan. Aristoteles memberikan pengertian yang berbeda dan berlawanan dengan kaum Sofis. Menurut filsuf terkenal ini, Retorika adalah ilmu yang mengajarkan orang keterampilan menemukan secara persuasif dan objektif. Aliran pertama Retorika dalam masa modern, yang menekankan proses psikologis, dikenal sebagai aliran epistemologis. Epistemologi membahas "teori pengetahuan"; asal-usul, sifat, metode, dan batas-batas pengetahuan manusia. Para pemikir epistemologis berusaha mengkaji Retorika klasik dalam sorotan perkembangan psikologi kognitif (yakni, yang membahas proses mental). George Campbell (1719-1796), dalam bukunya The Philosophy of Rhetoric, menelaah tulisan Aristoteles, Cicero, dan Quintillianus dengan pendekatan psikologi fakultas (bukan fakultas psikologi). Psikologi fakultas berusaha menjelaskan sebab-musabab perilaku manusia pada kemampuan jiwa manusia: pemahaman, memori, imajinasi, perasaan dan kemauan. Retorika, menurut definisi Campbell, haruslah diarahkan kepada upaya "mencerahkan pemahaman, menyenangkan imajinasi, menggerakkan perasaan, dan mempengaruhi kemauan". Aliran Retorika modern kedua dikenal sebagai gerakan belles lettres (bahasa Prancis: tulisan yang indah). Retorika belletris sangat meng­utamakan keindahan bahasa, segi-segi estetis pesan, kadang-kadang dengan mengabaikan segi informatifnya. Hugh Blair (1718-1800) me­nulis Lectures on Rhetoric and Belles Lettres. Di sini ia menjelaskan hu­bungan antara Retorika, sastra, dan kritik. Ia memperkenalkan fakultas citarasa (taste), yaitu kemampuan untuk memperoleh kenikmatan dari pertemuan dengan apa pun yang indah. Karena memiliki fakultas cita­rasa, Anda senang mendengarkan musik yang indah, membaca tulisan yang indah, melihat pemandangan yang indah, atau mencamkan pidato yang indah. Citarasa, kata Blair, mencapai kesempurnaan ketika kenikmatan inderawi dipadukan dengan rasio dan ketika rasio dapat menjelaskan sumber-sumber kenikmatan. Pada abad kedua puluh, Retorika mengambil manfaat dari perkem­bangan ilmu pengetahuan modern,  khususnya ilmu-ilmu perilaku seperti psikologi dan sosiologi. Istilah Retorika pun mulai digeser oleh speech, speech communication, atau oral communication, atau public speak­ing. Konsep Retorika Retorika adalah suatu gaya atau seni berbicara, baik yang dicapai berdasarkan bakat alami (talenta) maupun melalui keterampilan teknis. Seni berbicara ini bukan hanya berarti berbicara secara lancar tanpa jalan pikiran yang jelas dan tanpa isi, melainkan suatu kemampuan untuk berbicara dan berpidato secara singkat, jelas, padat dan mengesankan. Retorika modern mencakup ingatan yang kuat, daya kreasi dan fantasi yang tinggi, teknik pengungkapan yang tepat dan daya pembuktian serta penilaian yang tepat. Beretorika juga harus dapat dipertanggungjawabkan disertai pemilihan kata dan nada bicara yang sesuai dengan tujuan, ruang, waktu, situasi, dan siapa lawan bicara yang dihadapi. Retorika dapat diartikan secara “etimologi” dan “terminologi”. Secara etimologi (asal kata), Retorika berasal dari bahasa latin (Yunani kuno) yaitu Rhetorica yang artinya seni berbicara dan dari bahasa Inggris Rhetoric yang berarti kepandaian berpidato atau berbicara. Secara terminologi (istilah) dalam bahasa Inggris Retorika dikenal dengan istilah “the art of speaking” yang artinya seni di dalam berbicara atau bercakap. Dengan demikian, secara sederhana dapat dikemukakan Retorika adalah suatu bidang ilmu yang mempelajari atau mempersoalkan tentang bagaimana cara berbicara yang mempunyai daya tarik yang mempesona, sehingga orang yang mendengarkannya dapat mengerti dan tergugah  perasaannya. Berikut ini definisi yang dikemukakan oleh beberapa pakar di bidang Retorika: 1)   Richard mengatakan bahwa Retorika adalah ilmu yang mengajarkan bagaimana kita menggarap wicara-tutur kata secara epistomologi untuk membina saling pengertian dan kerja sama; 2)      Socrates mengemukakan bahwa Retorika mempersoalkan tentang bagaimana mencari kebenaran dengan dialog sebagai tekniknya, karena dengan dialog kebenaran dapat timbul dengan sendirinya; 3)      Plato mengungkapkan bahwa Retorika adalah kemampuan di dalam mengaplikasikan bahasa lisan yang merupakan jalan bagi seseorang untuk memperoleh pengetahuan yang luas dan sempurna; 4)      Kertapati mengartikan Retorika sebagai kemampuan seseorang untuk menyatakan pikiran dan perasaannya dengan menggunakan lambang-lambang bahasa (Agung, 1989:3). Dari beberapa definisi yang dikemukakan para ahli terlihat semuanya mengacu dan memberi penekanan kepada kemampuan menggunakan bahasa lisan (berbicara) yang baik dengan memberikan sentuhan gaya (seni) didalam penyampaiannya dengan tujuan untuk memikat/menggugah hati pendengarnya dan mengerti dan memahami pesan yang disampaikannya. Salah satu yang dipelajari dalam Retorika adalah bagaimanana seseorang memahami persepsi.  Persepsi adalah  proses  yang terintegrasi dalam  individu yang terjadi sebagai reaksi atas stimulus yang diterimanya. Sebuah konsensus (kesamaan persepsi kolektif pada satu isu tertentu) yang tercapai melalui diskusi sosial akan menimbulkan opini publik, sedangkan pada diri individu sendiri, opini bisa bersifat laten atau manifes. Opini yang bersifat laten disebut sikap. Sikap adalah  suatu predisposisi terhadap sesuatu objek, yang di dalamnya termasuk sistem kepercayaan, perasaan, dan kecenderungan perilaku terhadap obyek tersebut. Sikap bisa dipelajari, bersifat stabil, melibatkan aspek kognisi dan afeksi, dan  menunjukkan kecenderungan perilaku. Asal  konsep Retorika adalah persuasi. Definisi persuasi adalah; (1) Tindakan untuk mengubah sikap dan perilaku seseorang dengan menggunakan kata-kata lisan/tertulis, (2) suatu usaha untuk menanamkan opini baru, dan (3) Suatu usaha yang dilakukan secara sadar, untuk mengubah sikap, kepercayaan, dan perilaku orang dengan transmisi pesan. Titik tolak Retorika adalah berbicara. Berbicara berarti mengucapkan kata atau kalimat kepada seseorang atau sekelompok orang, untuk mencapai suatu tujuan tertentu (misalnya memberikan informasi atau memberi informasi). Berbicara adalah salah satu kemampuan khusus pada manusia. Oleh karena itu, pembicaraan setua umur bangsa manusia. Bahasa dan pembicaraan ini muncul, ketika manusia mengucapkan dan menyampaikan pikirannya kepada manusia lain. Retorika modern adalah gabungan yang serasi antara pengetahuan, pikiran, kesenian, dan berbicara. Dalam bahasa percakapan atau bahasa populer, Retorika berarti pada tempat yang tepat, pada waktu yang tepat, atas cara yang lebih efektif, mengucapkan kata-kata yang tepat, benar dan mengesankan. Ini berarti orang harus dapat berbicara jelas, singkat dan efektif, jelas supaya mudah dimengerti, singkat untuk menghemat waktu dan sebagai tanda kepintaran,  dan efektif karena apa gunanya berbicara kalau tidak membawa efek. Dalam konteks ini sebuah pepatah cina mengatakan”, orang yang menembak banyak, belum tentu seorang penembak yang baik. Orang yang berbicara banyak tidak selalu berarti seorang yang pandai bicara” (Hendrikus, 1999:7). Keterampilan dan kesanggupan untuk menguasai seni berbicara ini dapat dicapai dengan mencontoh para atau tokoh-tokoh yang terkenal dengan mempelajari dan mempergunakan hukum-hukum Retorika dan dengan melakukan latihan yang teratur. Hal tersebut dapat dilakukan dengan memperhatikan tahapan berikut.   1) Inventio (penemuan) Pada tahap ini, pembicara menggali topik dan meneliti khalayak untuk mengetahui metode persuasi yang paling tepat. Bagi Aristoteles, Retorika tidak lain merupakan "kemampuan untuk menentukan, dalam kejadian tertentu dan situasi tertentu, metode persuasi yang ada". Dalam tahap ini juga, pembicara merumuskan tujuan dan mengumpulkan bahan (argumen) yang sesuai dengan kebutuhan khalayak. Aristoteles menyebut tiga cara untuk mempengaruhi manusia. Pertama, Anda harus sanggup menunjukkan kepada khalayak bahwa Anda memiliki pengetahuan yang luas, kepribadian yang terpercaya, dan status yang terhormat (ethos). Kedua, Anda harus menyentuh hati khalayak perasaan, emosi, harapan, kebencian dan kasih sayang mereka (pathos). Kelak, para ahli Retorika modern menyebutnya imbauan emotional (emotional appeals). Ketiga, Anda meyakinkan khalayak dengan mengajukan bukti atau yang kelihatan sebagai bukti. Di sini Anda mendekati khalayak lewat otaknya (logos). Di samping ethos, pathos, dan logos, Aristoteles menyebutkan dua cara lagi yang efektif untuk mempengaruhi pendengar yaitu entimem dan contoh. Entimem (Bahasa Yunani: "en" di dalam dan "thymos" pikiran) adalah sejenis silogisme yang tidak lengkap (sebagian premis dihilangkan), tidak untuk menghasilkan pembuktian ilmiah, tetapi untuk menimbulkan keyakinan.   2) Dispositio (penyusunan) Pada tahap ini, pembicara menyusun pidato atau mengorganisasikan pesan. Aristoteles menyebutnya taxis, yang berarti pembagian. Pesan harus dibagi ke dalam beberapa bagian yang berkaitan secara logis. Susunan berikut ini mengikuti kebiasaan berpikir manusia: pengantar, pernyataan, argumen, dan epilog. Menurut Aristoteles, pengantar berfungsi menarik perhatian, menumbuhkan kredibilitas (ethos), dan menjelaskan tujuan.   3) Elocutio (gaya) Pada tahap ini, pembicara memilih kata-kata dan menggunakan bahasa yang tepat untuk "mengemas" pesannya. Aristo­teles memberikan nasihat, “gunakan bahasa yang tepat, benar, dan dapat diterima; pilih kata-kata yang jelas dan langsung; sampaikan kalimat yang indah, mulia, dan hidup; dan sesuaikan bahasa dengan pe­san, khalayak, dan pembicara.” 4) Pronuntiatio (penyampaian) Pada tahap ini, pembicara menyampai­kan pesannya secara lisan. Di sini, akting sangat berperan. Demos­thenes menyebutnya hypocrisis (boleh jadi dari sini muncul kata hipo­krit). Pembicara harus memperhatikan olah suara (vocis) dan gerakan­-gerakan, anggota badan (gestus moderatio cum venustate).     PENUTUP Objek studi Retorika sudah berusia setua kehidupan manusia. Setiap orang tentu memanfaatkan Retorika menurut kemampuannya masing-masing. Khusus dalam bidang pendidikan, para pendidik dalam tugasnya sadar atau tidak telah memanfaatkan Retorika. Pemanfaatan tersebut di antaranya tampak dari usaha-usaha memberikan jawaban terhadap sejumlah pertanyaan. Misalnya, bahan pelajaran yang bagaimanakah yang diperlukan anak didik? Bagaimanakah cara penyajian pembelajaran yang menarik dan menyenangkan? Bagaimanakah cara merangsang anak didik agar terdorong untuk berpikir, merasa, dan berbuat secara efektif? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini merupakan bentuk nyata aplikasi ilmu Retorika. DAFTAR PUSTAKA   Agung, Arman. 1989. Laporan Program Pembelajaran Pendidikan Kader (Materi Retorika). IKIP Gunung Sari Baru: Ujung Pandang. Arsjad, Maidar G. dan Mukti US. 1993. Pembinaan Kemampuan Berbicara Bahasa Indonesia. Jakarta: Erlangga. Bettinghaus, Erwin P. 1980. Persuasive Communication. New York: Holt, Rinehart and Winston. Hendrikus, Dori Wuwur. 1999. Retorika (Terampil berpidato, Berdiskusi, Berargumentasi, Bernegosiasi). Kanisius. Yogyakarta. Rakhmat, Jalaluddin. 1992. Psikologi Komunikasi. Bandung:  PT. Remaja Rosda Karya. Rakhmat, Jalaluddin. 2007. Retorika Modern Pendekatan Praktis. Bandung:  PT. Remaja Rosda Karya. Smith, Donald K. 1969. Man Speaking: A Rhetoric of Public Speech. New Jersey: Dodd Mead.
INTEGRASI NILAI-NILAI AGAMA DALAM PSIKOLOGI Andriyani, Juli
Jurnal Mentari Vol 13, No 2 (2010)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Manusia adalah makhluk yang mempunyai motif untuk beragama dan berinteraksi dengan orang lain.  Karena agama merupakan fitrah dan dijadikan pandangan hidup manusia dan manusia merupakan makhluk sosial. Agama dijadikan rujukan dalam setiap perilaku dan setiap aktivitas manusia. Penerapan nilai-nilai psikologi dalam proses keberagamaan  bertujuan untuk menempatkan manusia  sebagai makhluk Tuhan dengan segala kemuliaannya, karena agama berperan dalam pembentukan sikap, keyakinan, dan perasaan, yang akan melahirkan bentuk-bentuk perilaku yang bermanfaat untuk mengadakan interaksi dengan individu lain. Agama dapat berperan sebagai terapi  (penyembuhan)  bagi gangguan  mental, sehingga manusia dapat  terbebas dari berbagai persoalan batin. Proses terapi melalui pendekatan agama dan pendekatan psikologis akan menyelesaikan persoalan-persoalan yang dihadapi oleh setiap individu baik  dari persoalan yang berasal dari  aspek  diri yang paling dalam atau persoalan yang berasal dari interaksi dengan individu lain. Kata Kunci:  agama,  psikologi     DAFTAR PUSTAKA   Bastamam, Hanna Djumhana, 1995, Integrasi Psikologi dalam Islam Menuju Psikologi Islami. Yogyakarta:  Pustaka Pelajar dan Insan Kamil. Daradjat, Z, 1982, Peranan Agama dalam Kesehatan Mental Jakarta: Bulan Bintang.   Dadang Hawari, 1999, Al Quran: Ilmu Jiwa dan Kesehatan Jiwa. Jakarta: Dana Bhakti Prima Yasa. Departemen  Agama, 1999, Al Quran dan Terjemahan. Gunarsa, Y, Singgih, 1989, Psikologi Untuk Membimbing. Jakarta: Gunung Mulia. Jalaluddin R, 1997, Psikologi Agama. Jakarta: Raja Grafindo Persada. Nawawi, R.S, 2000, Metodologi Psikologi Islami. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Syafrilsyah, 2004, Psikologi Agama Suatu Pengantar. Banda Aceh: Yayasan Pena: Yusuf Syamsu dan Juntika Nurihsan, 2006, Landasan Bimbingan dan Konseling. Bandung: Remaja Rosda Karya.
SUMBER DAYA MANUSIA YANG TANGGUH DALAM MEMBANGUN KOPERASI (Sebuah Tinjauan Praktis) Jamil, TM
Jurnal Mentari Vol 13, No 2 (2010)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Unability of cooperative to be the solution of the mainstay institution of SMEs empowerment was not because of the wrong basic concept of cooperative institution but it was because of development approach which is directly influenced by political policy and economy of the world. Globalization is one of the factor which should encourage cooperative development (it is a challenge so that SMEs group to be united in the frame of enhancing the scale of business and efficiency), nevertheless its tendency becomes a constraint to the sustainability of cooperative development. Solution which is needed to empower cooperative is a strong and real commitment by revitalizing cooperative activities and enforcement of financing. Alternative in purifying cooperative institution could be done by way of: 1) Improving and completing cooperative law (accelerate the ratification of cooperative bill); 2) Giving extention, training and education to cooperative board of directors, managers and method so as they could really know and understand about cooperative completely and genuinely:                       3) Appropriate, directed, planned and sustainable socialization/ promotion through media; 4) Preparing appropriate standard and method of cooperative subject to support cooperative cadres forming on the basic, medium and high education; and 5) Giving most of promotion and responsibility on cooperative development to cooperative movement itself.  DAFTAR  PUSTAKA Anonimus, (2006). Kumpulan hasil-hasil Workshop Pemberdayaan Koperasi dan UMKM. Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya Koperasi dan UMKM (laporan sementara belum diterbitkan). Surya Dharma Ali, (2007). Komitmen Pemberdayaan UMKM dan Koperasi. Disampaikan pada Seminar Prospek Usaha Kecil dan `Menengah, Lembaga Usaha Pengembangan Masyarakat Jakarta. Nasution Muslimin, (2001). Koperasi, Konsepsi Pemikiran dan Peluang Pembangunan Masa Depan Bangsa. -------------- , (1996). Membangun Koperasi Sebagai Wahana Efektif Untuk Memberdayakan Perekonomian Rakyat. Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Jakarta. Ibnu Soedjono. Et.al, (1996). koperasi Di Tengah Arus Liberalisasi Ekonomi. FORMASI, Jakarta.
IDENTIFIKASI AKTIVITAS PEREMPUAN PENJUAL IKAN DI PASAR PEUNAYONG BANDA ACEH Ruaida, Ruaida
Jurnal Mentari Vol 13, No 2 (2010)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This research is studying the working hours of women who work as fish seller at fish market Peunayong Banda Aceh. The working hours included both productive activity and daily household work (reproductive). The study also investigated the problem of raising their income and their contribution to the economy of their family. Twenty five of them were interviewed and their daily activities were directly observed in their work station. The interviews were tape-recorded and analyzed as qualitative and quantitative data. It is found that they worked in average of 16,5 hours a day, which is 12 hours for productive activity (buying & selling fish) and 4,5 hours they spent for household work (reproductive activity). For widow women, their income could support 86,70% of the daily need (Rp82.800 per day) and they often were trapped in debt. The income of married women could support 70,81% of their family need, and their husbands only supported 29,19% of the needs. They also complained lack of capital, less strategic places to sell fish, low bargaining from buyer. They often feel pain in their hand and get sick due to their work condition. At home, they often lose temper if their family does not want to help them at home. Key words:  women, activity, and income     DAFTAR PUSTAKA   Abdullah, Irwan. 1997. Sangkan Paran Gender. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.   Al Yasa’ Abubakar. 2004. Antara Setia dan Durhaka, Ulasan Tentang Hak dan Kewajiban Suami Isteri. Nanggroe Aceh Darussalam : Biro Pemberdayaan Perempuan Sekda NAD   Gadis Arivia. 2003. Filsafat Berperspektif Feminis. Jakarta: Yayasan Jurnal Perempuan.   Herien Puspitawati, dan Ma’mun Sarma. 2007. “Analisis Gender Terhadap Penggunaan Dana Subsidi Langsung Tunai (SLT)- BBM Pada Keluarga Miskin Di Kota dan Kabupaten Bogor – Jawa Barat”, dalam  Jurnal Pemberdayaan Perempuan. 2007:2, halaman:10-25.   Kementerian Pemberdayaan Perempuan. 2004. Gender Dalam Perspektif Agama Islam. Jakarta: KPP   Kelompok Kerja Convention Watch Pusat Kajian Wanita dan Gender Universitas Indonesia. 2004. Hak Azasi Perempuan. Jakarta : Yayasan Obor Indonesia.   Marwansyah, dan Mukarram, 2000. Manajemen Sumber Daya Manusia. Bandung: Pusat Penerbit Administrasi Niaga Politeknik Negeri Bandung, Indonesia. Program Studi Kajian Wanita. 1999. Metodologi Penelitian Berperspektif Perempuan Dalam Riset Sosial. Jakarta: Program Pascasarjana Universitas Indonesia.   Ruaida. 2007. “ Profil Perempuan Pengrajin Batu Bata Di Kabupaten Aceh Besar (Kajian Tentang Permasalahan yang Dihadapi Kaum Perempuan dengan Peran Beban Ganda)”, dalam Potret Pengalaman Perempuan Di Aceh Pasca Tsunami. Darussalam Banda Aceh. Pusat Studi Gender Universitas Syiah Kuala.   Tapi Omas Ihromi. 2000. “Budaya dan Struktur yang Patriarkal : Reproduksi dan Resistensi?  Tinjauan Terhadap Beberapa Hasil Penelitian Perempuan Dalam Sejumlah Kebudayaan Etnik di Indonesia”, dalam Perempuan Indonesia Dalam Masyarakat yang Tengah Berubah. Jakarta: Program Studi Kajian Wanita, Program Pasca Sarjana Universitas Indonesia.   Tri Marhaeni P. Astuti. 2000. ”Gerakan Tandingan Perempuan, Kasus Migrasi Perempuan Kelas Bawah di Grobongan, Jawa Tengah”, dalam Perempuan Indonesia Dalam Masyarakat yang Tengah Berubah. Jakarta: Program Studi Kajian Wanita, Program Pasca Sarjana Universitas Indonesia.   Saptari,  Ratna, dan brigitte Holzner. 1997. Perempuan Kerja dan Perubahan Sosial. Jakarta: Grafiti  
THE SOCIOLINGUISTICS OF MOBILE PHONE SMS USAGE IN CAMEROON AND NIGERIA Heriansyah, Hendra
Jurnal Mentari Vol 13, No 2 (2010)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penggunaan teknologi dan informasi telah memberikan beberapa keuntungan dan mamfaat jika dalam hal penggunanan nya mampu digunakan dengan baik dan benar. Telepon genggam merupakan suatu peralatan elektronik yang komunikatif, efektif dan efesien karna telah memberikan banyak kemudahan bagi pengguna nya dimana saat ini banyak orang yang menggunakan alat komunikasi ini untuk berbagai tujuan atau keperluan yang berbeda-beda. Tujuan artikel ini untuk mendiskusikan dan memaparkan suatu hasil penelitian yang berhubungan dengan penulisan pesan atau teks dalam hal  penggunaan SMS (short message service) pada telepon genggam yang ditinjau dari sudut sosiolinguistik yang berkaitan dengan bahasa (linguistic) dan budaya (kultural).   Kata Kunci: Sosiolinguistik, penggunaan SMS pada telepon genggam (mobile phone)     REFERENCES   Bodomo, & Lee. (2002). Linguistic Features of SMS texts in Hong Kong. Australian Journal of Communication, 11, 63-85.   Crispin, T. (2003). Generation TXT? The Sociolinguistics of Young people’s text-messaging. Washington: Washington University Press. Ling, R. (1994). “A Taxonomy of Telephone Conversation based on the Callers: Preliminary Results of a Quantitative Examination.” Kjeller, Telenor fou (Fou Rapport 33/94). Online 24 March 2006. Available: http://archives/tele.com/ ling/ communication/ ut.html McTaggart, R. (1996). ‘Appraising reports of enquiry’, in D Caulley, H Moore, & J Orton (eds), Social science methodology for educational inquiry: a conceptual overview, Beijing Teachers College Press. Sala, B. M. (2006). Mobile Phone Usage in Cameroon. Paper presented at the international on Language, Literature and Education in Multicultural Societies. Yaounde, 11-14 May.   Spratt, P. 2000, ‘Social research method’, in R Jureidini & M Poole (eds), Sociology: Australian connection, 2nd edn, Allen & Unwin, St Leonards, N.SW; pp.215-39.  
KORELASI PRESTASI MAHASISWA DALAM MATA KULIAH MICROTEACHING DENGAN PROGRAM PENGALAMAN LAPANGAN (PPL) PADA PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN (PPKn) FKIP UNSYIAH Bintang, Sanusi
Jurnal Mentari Vol 13, No 2 (2010)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui prestasi mahasiswa dalam mata kuliah Microteaching dan prestasi rata-rata mata kuliah Praktek Pengalaman Lapangan (PPL) dan mengkorelasikan antara nilai mata kuliah Microteaching dengan mata kuliah PPL mahasiswa Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan FKIP Unsyiah.  Metode penelitian ini yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dalam bentuk korelasional antara mata kuliah Microteaching dengan mata kuliah PPL.  Populasi penelitian ini adalah seluruh mahasiswa Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan FKIP Unsyiah angkatan 2004, 2005, dan 2006 yang telah mengambil mata kuliah Microteaching dan mata kuliah PPL, yang berjumlah 131 orang mahasiswa. Jadi, sampel dalam penelitian ini diambil 45.8% dari total populasi yaitu 60 orang mahasiswa. Untuk mengumpulkan data digunakan metode observasi dan dokumentasi dan untuk mengolah data digunakan teknik korelasi product moment. Untuk menguji hipotesis digunakan tes statistik uji–t. Hasil penelitian ini menunjukkan besarnya koefisien korelasi antara variabel independen prestasi mata kuliah Microteaching (x) terhadap variabel dependen prestasi mata kuliah PPL (y) sangat kuat, ini terbukti dari R=0.94 dan R2=0.88.  Sedangkan untuk mengetahui koefisien regresi dengan menggunakan regresi untuk menguji hipotesis dalam penelitian ini dengan menggunakan uji–t.  Jika nilai thitung > ttabel dengan tingkat signifikansi sebesar α = 5%, maka hipotesis diterima. Nilai thitung sebesar 20.46 sedangkan ttabel 2.00 dengan tingkat signifikansi α = 5%, maka hipotesis dalam penelitian ini diterima dan dapat diuji coba pada mata kuliah yang lain dengan populasi yang lain. Kata Kunci:    prestasi, microteaching, praktik pengalaman lapangan     DAFTAR PUSTAKA Anonimous. 2009. “Rencana Strategis Jurusan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegraan 2010-2014.” Banda Aceh: FKIP Unsyiah. Arikunto, Suharsimi. 2005. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara. Depdiknas. 2005. Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Jakarta: Balai Pustaka. --------------. 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Keempat. Jakarta: Balai Pustaka. Djaramah, Syaipul Bahri. 1994. Prestasi Belajar dan Kompetensi Guru. Surabaya: Usaha Nasional. Hamalik, Oemar. 2008. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara. Mulyasa, E. 2004. Kurikulum Berbasis Kompetensi: Konsep, Karakteristik, dan Implementasi. Bandung: Remaja Rosda Karya. --------------. 2009. Standar Kompetensi dan Sertifikasi Guru. Bandung: Remaja Rosda Karya Muhibbinsyah, 2002. Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan Baru. Bandung: Remaja Rosda Karya Purnomo. 2010. “Hubungan Prestasi Belajar Mata Kuliah Strategi Belajar Mengajar dan Mata Kuliah Perencanaan Pengajaran dengan Mata Kuliah Pengajaran Mikro.” Banda Aceh: FKIP UNSYIAH. Purwanto, M. Ngalim. 2004. Psikologi Pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Republik Indonesia. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta: Tamita Utama Sardiman, A.M. 2001, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Raja Grafindo Persada. Sudiyono. 2004. Manajemen Perguruan Tinggi. Jakarta: Rineka Cipta. Sugiyono. 2006. Metode Penelitian Administrasi. Bandung: Alfabeta. Suryabrata, Sumadi. 2007. Pengembangan Alat Ukur Psikologis. Yogyakarta: Andi. Slameto. 2003. Belajar dan Faktor-faktor Yang Mempengaruhi. Jakarta: Rineka Cipta. Tim Pengajaran Mikro. 2009. Pengajaran Mikro. Banda Aceh: Micro Teaching Laboratory. Winkel. W.S. 1990, Psikologi Pendidikan dan Evaluasi Belajar. Jakarta: Gramedia. Zuriah, Nurul. 2006. Metodologi Penelitian Sosial dan Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.  
EUTHANASIA MENURUT PERSPEKTIF HUKUM ISLAM, HUKUM PIDANA, DAN ETIKA KEDOKTERAN Saiful, Saiful
Jurnal Mentari Vol 13, No 2 (2010)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Menurut perspektif hukum Islam, euthanasia merupakan tindakan yang diharamkan. Ada beberapa alasan euthanasia dilarang dalam Islam, yaitu: Pertama, eutanasia merupakan tindakan mendahului takdir Allah swt. Setiap manusia sudah ditentukan ajalnya masing-masing oleh Allah swt. yang pada saatnya tiba tidak akan bisa diajukan atau diundurkan sedikit pun. Kedua, karena euthanasia merupakan bentuk putus asa dari rahmat Allah. Ketiga, eutanasia termasuk pembunuhan yang dilarang oleh Allah swt. Pembunuhan itu termasuk dosa besar. Undang-undang hukum pidana yang berlaku sekarang di Indonesia memuat pasal-pasal yang mengancam dengan hukuman bagi orang yang menghilangkan nyawa orang lain dengan sengaja ataupun karena kurang hati-hati dengan 12 tahun penjara. Seorang dokter bisa dituntut oleh penegak hukum, apabila ia melakukan euthanasia, walaupun atas permintaan pasien dan keluarga yang bersangkutan, karena perbuatan tersebut merupakan perbuatan melawan hukum. Kedokteran Islam menilai praktik eutanasia (pembunuhan dengan belas kasihan) diharamkan, Islam sangat menghargai kehidupan dan tidak memberi hak bagi manusia untuk mencabut nyawa seseorang karena masalah nyawa itu adalah hak dan milik Allah. Kata kunci: euthanasia, perspektif Islam, hukum pidana, etika kedokteran     DAFTAR  PUSTAKA   Akh Fauzi Aeri, “Euthanasia: Suatu Tinjauan dari Segi Kedoktoran, Hukum Pidana, dan Hukum Islam”, dalam, Problematika Hukum Islam Kontemporer IV, Jakarta: Pustaka Firdaus, 2002. Masjfuk Zuhdi, Masail Fiqhiyah: Kapita Selekta Hukum Islam, (Jakarta: Gunung Agung, 1997. Majalah Tempo Interaktif, “Meneguhkan Khidmah, Membangun Khoiro Ummah". Jakarta: Musyawarah Nasional Majelis Ulama Indonesia, tanggal 29 Juli 2005. Muhlish Usman, Kaedah-kaedah Ushuliyah dan Fiqhiyah, Jakarta: RajaGrafindo Persada, 1996. Ruswanto Syamsuddin, “Euthanasia dalam Hukum Islam”. Dalam, http//www.redaksi@amanah.or.id.2004. Setiawan Budi Utomo, Fiqh Aktual: Jawaban Tuntas Masalah Kontemporer, Jakarta: Gema Insani Press, 2003. Tim Penyusun Ensiklopedi Hukum Islam,  Ensiklopedi Hukum Islam, (Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve, 1996. Yusuf Al-Qardhawi Fatawa Mu´ashirah, Jilid ke-dua.
FAKTOR-FAKTOR RISIKO FISKAL DALAM PENGANGGARAN DAERAH (Studi pada Pemerintahan Aceh) Jalaluddin, Jalaluddin
Jurnal Mentari Vol 13, No 2 (2010)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This research was conducted with the objective of identifying risk actors in fiscal budgeting of the Government of Aceh. Theoretically, the results of this study are expected to provide inputs for the Government of Aceh to be able to do things that help to reduce fiscal risks in the Aceh government budgeting. The data used were obtained through field research through the deployment of a questionnaire to measure attitudes, opinions, and perceptions of a person or group of persons of a particular social phenomenon, which has been specifically defined by the researchers. The population in this study was all officials involved in financial processes, both constituting (SKPA) and the budget approval board (DPRA). The test results produced 11 (eleven) factor reduced from 32 items and has a value of variable loading ≥ 0.5 which consists of four sources of risk of regulatory factors and mechanisms in the budgeting area, namely: with KUA and budget documents synchronization factors, factors of risk management in government area, changes in regulatory systems of budgeting and fiscal stress associated with the consideration of budget surpluses and deficits; three sources of risk from political factors in the budgeting area, there are: superiority of power factor (discretionary power) and the opportunistic behavior of individual legislators as well as factors executive and legislative relations (related mechanism formulation and discussion of budget); and four sources of risk factors of opportunistic behavior and moral hazard in budgeting, consisted of opportunistic behavior of individual in formulating the budget, a factor of moral hazard and the proposed budget planners, management public organizations factor related to clarity of responsibility, authority and functions as well as the potential for fraud in the budgeting process. Keywords: factors, regulation and mechanisms, politics, opportunistic behavior,  moral hazard, budgeting     DAFTAR  PUSTAKA Abdullah, Syukriy, dan Jhon Andra Asmara, (2006). “Perilaku Oportunistik Legeslatif Dalam Penganggaran Daerah: Bukti Empiris Atas Aplikasi Agensi Theory di Sektor Publik”. Diakses dari http://swamandiri.org/2008/02/10.   Baswir, Revrisond (2000) Akuntansi Pemerintahan Indonesia. Edisi Ketiga. Yogyakarta: BPFE. Blondal, (2008). Fiscal Risk Management, IMF High-Level Seminar on Fiscal Risk Management, Paris, 28 October 2008. Diakses dari http://blog-pfm.imf.   Brixi, Hana Polackova dan Allen Schick, (2002), Government at Risk:Contingent Liabilities and Fiscal Risk, dalam Brixi andSchick (ed), 2002. Governmentat Risk: Contingent Liabilities and Fiscal Risk, a Copublication of The World Bank and Offord University Press. Hal: 1-58.   Brixi, Hana Polackova dan Ashoko Moody, (2002). Dealing With Government Fiscal Risk: an Overview dalam Brixi danSchick (ed), 2002. Government at Risk: Contingent Liabilities and Fiscal Risk, a Copublication of The World Bank and Offord University  Press. Hal: 21-58.   Ghozali, Imam, (2007). Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program SPSS, Badan Penerbit Universitas Diponegoro, Semarang.   Halim, Abdulah, (2008). Hubungan dan Masalah Keagenan di Pemerintahan Daerah: Sebuah Peluang Penelitian Anggaran dan Akuntansi. Diakses dari http://www.bppk.depkeu.go.id.   Hemming, Richard dan Murray Petrie, (2002). A Framework for Assesing Fiscal Vulnerability, dalam Government at Risk, dalam Brixi dan Schick (ed), 2002. Government at Risk: Contingent Liabilities and Fiscal Risk, a Copublication of The World Bank and Offord University Press. Hal: 159-178. Hair, Joseph F. Rolph E. Anderson, Ronal L. Tatham and William C. Black, 1998, Multivariate Data Analysis, Fith Edition, Prentice Hall Upper Saddle River New Jersey 07548.   International Monetary Funds (IMF), (2007). Increasing Fiscal Transparency-Brazil´s Budgetary Fiscal Risk Report. Diakses dari http://blogpfm.imforg/pfmblog/2007/11/increasing-fisc.html Mardiasmo  (2005). Akuntansi Sektor Publik. Yogyakarta: Penerbit Andi   Ma, Jun (2002), Monitoring Fiskal Risk of Subnational Goverment: Selected Country Experiences dalam Brixi dan Shick (ed), 2002. Government at Risk: Contingent Liabilities and Fiskal Risk, a Copublication of The World Bank and Offord University press. Hal 59-78   Pemerintah Republik Indonesia, (2006). Peraturan Menteri Dalam Negeri No.13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah.   Romarina, Arina dan ahmad Maqfatih (2010). Faktor-Faktor Risko Fiskal dalam Penganggaran Daerah, Jurnal BPPK vol 1 Schick, Allen, (2002). Budgeting for fiscal Risk dalam Brixi dan Schick (ed), 2002. Government at Risk: Contingent Liabilities and Fiscal Risk, a Copublication of The World Bank and Offord University Press. Hal: 79-97. --------- (2008). Budgeting for Fiscal Risk, Slide Presented to the Fiscal Affairs Division International Monetary Funds, 17 September 2008. Diakses dari http://blogpfm.imf.org/pfmblog/ files/ budgeting_for_fiscalrisk byshick.ppt   Sugiyono, (2008). Metode Penelitian Bisnis, Alfabeta, Bandung.   Sekaran, Uma (2006). Metodologi Penelitian Untuk Bisnis. Jakarta : Salemba Empat www.serambinews.com, diakses 21 Maret 2011  
SIBERNETIK DAN TEORI KONSTRUKTIVIS DALAM PENGAJARAN Asnawi, Asnawi
Jurnal Mentari Vol 13, No 2 (2010)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

A teacher should know a lot of theories that can be applied in teaching and learning process either English or other subjects. The current theories nowadays used by teachers are behaviorist theory, nativist approaches, computer-supported collaborative learning (CSCL) theories, cybernetics and constructivism theories. The focus of this article is to elaborate cybernetics and constructivism theories. The aim of this article is to briefly describe the cybernetics and constructivism theories in teaching and learning which covers the definition of cybernetics and constructivism, principles of constructivism learning, the characteristics of constructivism learning and teaching, the role of teachers and students, the challenging of teachers in constructivism classroom. Kew words: cybernetic, constructivism     REFERENCES Atkins, H., Moore, D., and Sharpe, S. 2000. ‘Learning Style Theory and Computer Mediated Communication’. Assicuation of the Advancement of Computing in Education. Available online at Bragg, W.P. 1999. Constructivist learning and Web-based computer conferencing: Qualitative analysis of online interaction among graduate students. Ph.D dissertation. Faifax, VA: George Mason University. Available on line at http://www.csun.edu/sociology/ virexp.htm Accessed on the 3.9.2004 Haythornthwaite, C. 2001. ‘Web-based Education’. Proceedings of the 34th HICSS. IEEE Computer Society Press. Hein, E.G. 1991. Constructivist Learning Theory, International Committee of Museum Educators. Lesley College, Massachusetts USA Lambert, L. et al. 1995. The Constructivist Leader. Teachers College Press. New York. Novak, J. 1998. Learning, Creating and Using Knowledge: Concept maps as tools to understand and facilitate the process in schools and corporations. Lawrence Erlbaum. New Jersey. Norbert Wiener, Cybernetics or Control and Communication in the Animal and the Machine, (Hermann Editions in Paris; Cambridge: MIT Press,Wiley & Sons in NY 1948), Runlee, S. and Daley, B.J. 2002. ‘Constructivist Learning Theory to Web-Based Course Design: an instructional Design Approach’. Australian Journal of Educational Technology. Vol 53(3). Schutte, J.G. (1997). Virtual teaching in higher education: The new intellectual superhighway or just another traffic jam? [verified 2 Nov 2001] http://www.csun.edu/sociology/virexp.htm http://oufcnt5.open.ac.uk/~Hilary_Atkins/emedia.htm Louis Couffignal´s photos & documents (http://histm2.free.fr/H.Couffign.htm)  
MAKNA RAGAM GERAK DAN NILAI-NILAI BUDAYA TARI RANUP LAMPUAN (Penelitian Mandiri pada Program Studi Sendratasik FKIP Unsyiah) Zuriana, Cut
Jurnal Mentari Vol 14, No 1 (2011)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Banyak ragam gerak dalam tari Ranup Lampuan tidak dilakukan dengan maksimal dan tidak sesuai dengan yang semestinya. Permasalahan ini terjadi karena tidak dipahaminya nilai-nilai budaya dalam tari Ranup Lampuan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan mendeskripsikan makna gerak dan nilai-nilai budaya tari Ranup Lampuan. Penelitian ini dilakukan pada mahasiswa Seni, Drama, Tari dan Musik (Sendratasik) FKIP Unsyiah, yang terdiri lima kelompok tari. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi, dan wawancara. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa kelompok-kelompok mahasiswa Sendratasik FKIP Unsyiah melakukan ragam gerak dan tingkat kemaksimalan gerak yang berbeda-beda, serta pemahaman yang berbeda pula terhadap makna ragam gerak. Hal tersebut terjadi karena tidak adanya pemahaman nilai-nilai budaya tari Ranup Lampuan. Kata kunci: Ranup Lampuan, teknik gerak     DAFTAR PUSTAKA Alamsyah, dkk. 1990. Pedoman Umum Adat Aceh. Banda Aceh: LAKA Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam.   Bahry, Rajab. 2006. Pemahaman Nilai Budaya Gayo Melalui Syair Saman : Jurnal Mon Mata Volume 8, No. 2, september 2006. Banda Aceh: Lemlit Unsyiah.   Djamaris, Edwar. 1993. Nilai Budaya dalam Beberapa Karya Nusantara: Satra Daerah di Sumatra. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa   Depdikbud. 1981. Kesenian Tradisional Aceh. (Hasil lokakarya 4 s.d. 8 Januari 1981 di Banda Aceh). Banda Aceh: Depdikbud.   Kesuma, Asli. 1991. Diskripsi Tari Seudati. Banda Aceh: Depdikbud.   Suhelmi, et,al. 2004. Apresiasi Seni Budaya Aceh. Banda Aceh: Ar-Raniry Press.   Sofyati, Lailisma, dkk. 2004. Tari-Tarian di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Suatu Dokumentasi. Banda Aceh: Sanggar Tari Cut Nyak Dhien Meuligoe NAD.   Ibrahim, Ihsan. 1992. Pelestarian Ranup Lampuan Sebaga Tari Persembahan di Daerah Istimewa Aceh. Banda Aceh: Sanggar Tari Cut Nyak Dhien Meuligoe NAD.   Yusmidar. 1999. Mengenal Tari Tradisional Aceh. Banda Aceh: Depdikbud.

Page 7 of 29 | Total Record : 286