cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
jap.anestesi@gmail.com
Editorial Address
Departemen Anestesiologi dan Terapi Intensif Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran/Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung Jalan Pasteur No. 38 Bandung 40161, Indonesia
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Anestesi Perioperatif
ISSN : 23377909     EISSN : 23388463     DOI : 10.15851/jap
Core Subject : Health, Education,
Jurnal Anestesi Perioperatif (JAP)/Perioperative Anesthesia Journal is to publish peer-reviewed original articles in clinical research relevant to anesthesia, critical care, case report, and others. This journal is published every 4 months with 9 articles (April, August, and December) by Department of Anesthesiology and Intensive Care Faculty of Medicine Universitas Padjadjaran/Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung.
Arjuna Subject : -
Articles 484 Documents
Delirium Pasca Operasi sebagai Prediktor Mortalitas pada Geriatri yang Menjalani Operasi Non-Kardiak: Tinjauan Sistematis Aida Rosita Tantri; Muncieto Andreas; Clarissa Emiko Talitaputri; Saur Maruli Evan Johannes
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 10, No 3 (2022)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15851/jap.v10n3.2975

Abstract

Delirium postoperatif merupakan suatu bentuk delirium yang sering tidak disadari serta dapat meningkatkan morbiditas dan mortalitas. Studi yang telah dilakukan sebelumnya menunjukkan masih terdapat konflik terkait hubungan delirium pascaoperasi sebagai prediktor mortalitas, terutama pada pasien geriatri. Oleh karena itu, tinjauan sistematis ini bertujuan mengetahui hubungan delirium pascaoperasi sebagai prediktor mortalitas pada pasien geriatri yang menjalani anestesi pada pembedahan non-kardiak. Penelusuran dilakukan melalui database online seperti Medline®, ClinicalKey®, Science Direct®, EBSCO®, ProQuest®, dan Cochrane®. Telaah kritis terhadap artikel ilmiah yang memenuhi kriteria inklusi dan tidak termasuk eksklusi dilakukan berdasarkan Center of Evidence-Based Medicine, University of Oxford for prognosis study.Berdasarkan hasil penelusuran diperoleh tiga studi yang memenuhi kriteria inklusi dan tidak termasuk eksklusi. Hasil telaah kitis terhadap ketiga studi tersebut menunjukkan tidak terdapat cukup bukti kuat yang mendukung delirium pascaoperasi merupakan prediktor independen terhadap mortalitas pada pasien geriatri. Delirium pascaoperasi bukan merupakan prediktor independen, namun meningkatkan risiko mortalitas bersama faktor lain seperti frailty, usia, jenis operasi, urgensi operasi, dan komorbid, hingga terdapat studi yang cukup kuat untuk mendukung delirium pascaoperasi bukan sebagai prediktor mortalitas. Klinisi tetap harus berupaya mencegah kondisi delirium pascaoperasi agar tidak menjadi mediator yang meningkatkan risiko mortalitas. Postoperative Delirium as Mortality Predictor in Geriatrics Undergoing Non-Cardiac Surgery: A Systematic ReviewPostoperative delirium is a form of delirium that often goes unrecognized and can increase morbidity and mortality. However, there are still conflicts in previous studies regarding the relationship between postoperative delirium as a predictor of mortality, especially in geriatric patients. Therefore, this systematic review aimed to determine the relationship to postoperative delirium as a predictor of mortality in geriatric patients undergoing anesthesia for non-cardiac surgery. Searches were conducted through online databases such as Medline®, Clinical Key®, Science Direct®, EBSCO®, ProQuest®, and Cochrane®. A critical review of scientific articles that met the inclusion and exclusion criteria was carried out by the Center for Evidence-Based Medicine, University of Oxford, for prognostic studies. The search resulted in three studies that met the inclusion criteria. A clinical review of these three studies has shown insufficient evidence to support that postoperative delirium is an independent predictor of death in geriatric patients. Postoperative delirium is not an independent predictor but increases the risk of death and other factors such as frailty, age, type of surgery, urgency of surgery, and co-morbidities. Until there are sufficiently robust studies to support postoperative delirium rather than as a predictor of mortality, clinicians should continue to strive to prevent postoperative delirium from becoming a mediator that increases the risk of death.  
Kejadian Nyeri Kronis dan Kualitas Hidup Pascaoperasi Jantung Terbuka di Rumah Sakit DR. HAsan Sadikin Bandung Periode Januari 2019-Desember 2019 Andri Febriyanto Eka Putra; Budiana Rismawan; Ardi Zulfariansyah
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 10, No 3 (2022)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15851/jap.v10n3.2607

Abstract

Operasi merupakan salah satu penyebab tersering nyeri kronis, salah satu operasi yang paling sering menimbulkan nyeri kronis pascaoperasi adalah tindakan operasi di regio jantung (sebesar 55%). Nyeri kronis pascaoperasi dapat menyebabkan gangguan kesehatan mental dan menurunnya kualitas hidup yang signifikan. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui angka kejadian nyeri kronis dan kualitas hidup pascaoperasi jantung terbuka di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan melakukan studi potong lintang melalui pengisian kuesioner yang dilakukan melalui wawancara jarak jauh dengan telepon terhadap pasien pascaoperasi jantung terbuka di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung periode Januari sampai Desember 2019. Hasil penelitian menyatakan angka kejadian nyeri kronis pascaoperasi jantung terbuka di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung masih tinggi 78% (45 dari 58 orang) dengan nyeri intensitas ringan sebanyak 31 orang dan intensitas sedang sebanyak 14 orang, sedangkan kualitas hidup pasien pascaoperasi jantung terbuka pada 58 pasien secara keseluruhan baik. Skor SF-36 pada kelompok yang tidak mengalami nyeri kronis lebih tinggi dibanding dengan kelompok yang mengalami nyeri kronis, skor SF-36 pada kelompok yang mengalami nyeri intensitas ringan lebih tinggi dibanding dengan kelompok nyeri intensitas sedang. Simpulan penelitian ini adalah angka kejadian nyeri kronis pascaoperasi jantung terbuka di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung pada Januari sampai dengan Desember 2019 masih tinggi, namun memiliki kualitas hidup yang baik. Chronic Pain and Quality of Life Post Open Heart Surgery at Dr. Hasan Sadikin, General Hospital Bandung in January–December 2019Surgery is one of the most common causes of chronic pain, one of the operations that most often causes postoperative chronic pain is surgery in the heart region (55%). Postoperative chronic pain can lead to mental health problems and significantly reduced quality of life. This study aimed to determine the incidence of chronic pain and quality of life after open heart surgery at Dr. Hasan Sadikin, General Hospital Bandung. This descriptive study is conducting a cross-sectional study by filling out questionnaires through long-distance telephone interviews with patients after open heart surgery at Dr. Hasan Sadikin, General Hospital Bandung from January to December 2019. The study results stated that the incidence of chronic pain after open heart surgery at Dr. Hasan Sadikin Bandung was still high at 78% (45 out of 58 people), with mild-intensity pain in 31 people and moderate intensity in 14 people. At the same time, the overall quality of life for patients after open heart surgery in 58 patients was good. The SF-36 score in the group that did not experience chronic pain was higher than in the group that experienced chronic pain. The SF-36 score in the group that experienced mild-intensity pain was higher than the moderate-intensity pain group. This study concludes that the incidence of chronic pain after open heart surgery at Dr. Hasan Sadikin Bandung from January to December 2019 is still high; however, it has a good quality of life.
Perbandingan Efek Durasi Blokade Sensorik dan Motorik, Gejolak Hemodinamik, serta Efek Samping Deksmedetomidin dengan Fentanil sebagai Adjuvan pada Anestesi Spinal Heri Dwi Purnomo; Fitri Hapsari Dewi; Frans Kausario Muslihan
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 10, No 3 (2022)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15851/jap.v10n3.2465

Abstract

Fentanil dan deksmedetomidin merupakan agen yang berpotensi baik sebagai adjuvan anestesi spinal. Penelitian ini bertujuan menilai kecepatan mula kerja, pemanjangan lama kerja blokade sensorik dan motorik anestesi spinal, termasuk pengaruhnya terhadap gejolak hemodinamik serta efek samping. Penelitian ini merupakan single blind randomized control trial untuk membandingkan pengaruh penambahan deksmedetomidin 3 mcg dengan fentanil 25 mcg pada lidokain 75 mg hiperbarik yang diberikan sebagai anestesi spinal di kamar instalasi bedah sentral RSUD Dr. Moewardi Surakarta bulan Maret–Mei 2018. Subjek penelitian adalah pasien usia 19–64 tahun yang menjalani pembedahan abdomen bagian bawah dan ekstremitas bawah secara elektif dengan anestesi spinal dengan ASA I dan II. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh penambahan deksmedetomidin dan fentanil pada lidokain 5% yang diberikan sebagai anestesi spinal, dengan menilai perbedaan kecepatan onset dan pemanjangan durasi blokade sensorik dan motorik, yaitu penambahan deksmedetomidin 3 mcg (diencerkan dalam NaCl 0,9% 0,5 mL) pada 1,5 mL Lidokain 5% lebih efektif dalam pemanjangan durasi blokade sensorik dan motorik dibanding dengan penambahan fentani 25 mcg (0,5 mL) pada 1,5 mL lidokain 5% dan tidak berbeda pengaruhnya pada perubahan tanda vital dan juga tidak meningkatkan efek samping. Comparison of Effects of Sensory and Motor Blockade Duration, Hemodynamic Fluctuations, and Side Effects of Dexmedetomidine with Fentanyl as Adjuvant in Spinal AnesthesiaFentanyl and dexmedetomidine are potentially suitable adjuvants to spinal anesthesia. This study aimed to assess the initial onset of work and prolongation of the duration of sensory and motor blockade of spinal anesthesia, including the effect on hemodynamic turbulence that appears and the occurrence of adverse effects. This study was a single-blind randomized control trial, comparing the impact of adding 3 mcg of dexmedetomidine with 25 mcg fentanyl on hyperbaric lidocaine 75 mg given as spinal anesthesia in the operating room of the central surgical installation of RSUD Dr. Moewardi Surakarta from March–May 2018. The research subjects were patients aged 19–64 who underwent elective abdominal and lower extremity surgery under spinal anesthesia with ASA I and II physical status and obtained informed consent. Based on the results of the study, it found that there was an effect of adding dexmedetomidine and fentanyl to 5% lidocaine given as spinal anesthesia by assessing the difference in the speed of onset and the prolongation of the duration of sensory and motor blockade. The addition of dexmedetomidine 3 mcg (diluted in 0.9% NaCl 0.5 mL) to 1.5 mL lidocaine was 5% more effective in prolonging the duration of sensory and motor blockade compared to 25 mcg fentanyl (0.5 mL) at 1.5 mL 5% lidocaine and no difference in changes in vital signs. Moreover, it also did not increase the occurrence of side effects. 
GAMBARAN SKORING STS DAN EUROSCORE II SEBAGAI PREDIKTOR MORTALITAS PADA PASIEN BEDAH PINTAS ARTERI KORONER DI RSUP DR. HASAN SADIKIN BANDUNG PERIODE 2019–2020 Lusy Octavia Saputri; Rudi Kurniadi Kadarsah; Budiana Rismawan
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 10, No 3 (2022)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15851/jap.v10n3.2644

Abstract

Bedah pintas arteri koroner (BPAK) merupakan suatu prosedur pembedahan yang dilakukan pada pasien dengan penyakit arteri koroner. Skoring risiko seperti Society of Thoracic Surgeons (STS) dan European System for Cardiac Operative Risk Evaluation (EuroSCORE) banyak digunakan untuk memprediksi hasil luaran pascaoperasi jantung. Operasi jantung di RSUP Hasan Sadikin Bandung setiap tahun terus mengalami peningkatan dan masih terdapat mortalitas setiap tahun, sedangkan belum ada skoring resmi yang digunakan untuk memprediksi kejadian mortalitas maupun morbiditas pada pasien yang menjalani operasi bedah jantung di RSUP Hasan Sadikin Bandung saat ini. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan retrospektif menggunakan data dari rekam medis pasien yang menjalani BPAK di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung dari periode januari 2019 sampai desember 2020, sebanyak 82 data rekam medis dilakukan perhitungan STS skor, EuroSCORE II, dan kejadian mortalitasnya. Pada penelitian ini didapatkan hasil STS Skor dan EuroSCORE risiko rendah sebanyak 69 pasien (84%), risiko sedang 11 pasien (14%), dan risiko tinggi 2 pasien (2%). Angka mortalitas BPAK sebanyak 9 orang (11%) dengan stratifikasi skor terhadap mortalitas pada kelompok risiko rendah sebesar 0%, risiko sedang sebesar 7 dari 11 orang dan risiko tinggi 2 dari 2 orang. Hasil yang didapatkan baik pada STS skor maupun EuroSCORE II menunjukkan tingkat kesamaan prediksi yang sama. Profile of STS and EuroSCORE II Scoring as Mortality Predictor in Coronary Artery Bypass Surgery Patients at Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung, 2019–2020Coronary artery bypass graft surgery (CABG) is used to treat coronary artery disease patients. Risk scoring, such as the Society of Thoracic Surgeons (STS) and the European System for Cardiac Operative Risk Evaluation (EuroSCORE), have been commonly used to predict post-cardiac surgery outcomes. The number of cardiac surgeries at Dr. Hasan Sadikin General Hospital increases yearly, yet some mortalities persist. No official scoring system can be used to predict the mortality and morbidity incident in patients undergoing cardiac surgeries at Dr. Hasan Sadikin General Hospital. This study was a descriptive study with a retrospective approach using patients' medical record data who underwent Coronary artery bypass graft surgery at Dr. Hasan Sadikin Hospital from January 2019 to December 2020. The 82 medical record data were used to assess STS, EuroSCORE II, and mortality incidents. The result showed that STS score and EuroSCORE II with low risk were 69 patients (84%), moderate risk were 11 patients (14%), and high risk were two patients (2%). The number of CABG mortality was nine patients (11%), with a stratification score of mortality in the low-risk group was 0%, the moderate-risk group was seven people, and the high-risk group was 2 out of 2 patients. Both STS and EuroSCORE II showed similar results of prediction. 
Pengaruh Pemberian Ekstrak Ikan Gabus Terhadap Kreatinin Serum Dan Albumin Serum Pada Pasien Radioterapi Purwoko Purwoko; Muhammad Husni Thamrin; Rio Rusman
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 10, No 3 (2022)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15851/jap.v10n3.2486

Abstract

Sebagian besar pasien keganasan yang dilakukan radioterapi dengan atau tanpa kemoterapi disertai dengan hipoalbuminemia dan kerusakan ginjal, terutama keganasan regio pelvis. Human albumin telah dikenal memiliki efek nefroprotektif. Ekstrak ikan gabus, salah satu sumber albumin preparat oral dapat menjadi alternatif yang efektif dan lebih murah untuk mengurangi risiko kerusakan ginjal pada keganasan. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis pengaruh pemberian ekstrak ikan gabus terhadap kreatinin dan albumin serum pada pasien radioterapi. Penelitian ini dilakukan pada pasien yang menjalani radioterapi yang dibagi menjadi dua kelompok, kelompok kontrol diberikan plasebo dan kelompok perlakuan diberikan ekstrak ikan gabus. Penelitian dilakukan bulan Juli 2019 di Instalasi Radiologi RSUD Dr. Moewardi. Kadar albumin, ureum, dan kreatinin serum diperiksa sebelum dan sesudah perlakuan. Hasil penelitian pada kedua kelompok terjadi penurunan kadar albumin serum, walaupun penurunan pada kelompok perlakuan lebih banyak, tetapi perbedaan ini tidak bermakna. Kadar ureum dan kreatinin serum pada kelompok perlakuan terjadi penurunan, sedangkan pada kelompok kontrol terjadi peningkatan, tetapi perbedaan ini tidak bermakna. Kesimpulan, tidak terdapat pengaruh penggunaan ekstrak ikan gabus terhadap kadar albumin, ureum, dan kreatinin serum pada pasien yang menjalani radioterapi.Effect of Snakehead Fish Extract on Creatinine and Albumin Serum levels in Radiotherapy PatientsMost malignancy patients who undergo radiotherapy with or without chemotherapy are accompanied by hypoalbuminemia and kidney injury, especially malignancy of the pelvic region. Human albumin has been known to have nephroprotective effects. Snakehead fish extract, one of the oral albumin sources, can be an effective and cheaper alternative to reduce the risk of kidney injury in malignancies. This study aimed to analyze snakehead fish extract's effect on creatinine and albumin serum level in radiotherapy patients. This study was conducted on patients who underwent radiotherapy and were divided into two groups, the control group was given a placebo, and the experimental group was given snakehead fish extract. Albumin, urea, and creatinine serum levels were checked before and after treatment. Study results showed a decrease in serum albumin levels in both groups. However, the decrease in the treatment group was more than in the control group; this difference was insignificant. Urea and creatinine serum levels decreased in the experimental group, whereas in the control group, there was an increase, but this difference was not statistically significant. In conclusion, the administration of snakehead fish extract has no significant effect on albumin, urea, and creatinine serum level in patients undergoing radiotherapy.
Korelasi Kadar Limfosit dengan Nilai P/F Rasio Pada Pasien Covid-19 Derajat Berat Yazid Bustomi; Reza Widianto Sudjud; Ardi Zulfariansyah
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 11, No 1 (2023)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15851/jap.v11n1.2793

Abstract

Virus SARS-CoV-2 menyebabkan penyakit pernapasan akut yang disebut COVID-19 dan menyebabkan pandemi global. Limfopenia adalah salah satu kelainan laboratorium utama pada pasien COVID-19 derajat berat yang mengalami ARDS dengan penurunan P/F rasio. Penelitian ini bertujuan menganalisis korelasi kadar limfosit dengan P/F rasio pada pasien COVID-19 derajat berat. Penelitian dilakukan di ICU COVID-19 RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung dengan menelusuri rekam medik pada periode Januari hingga Juli 2021. Penelitian ini adalah penelitian observasional analitik dengan rancangan kohort retrospektif menggunakan model pendekatan waktu secara longitudinal atau time period approach. Penilaian dilakukan pada saat subjek dirawat pada hari ke-1, 3, dan ke-7 di ICU COVID-19 RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung. Uji normalitas data numerik menggunakan uji Shapiro Wilk didapatkan hasil data berdistribusi tidak normal. Selanjutnya, pada penelitian ini dilakukan uji korelasi Spearman. Tidak terdapat korelasi antara kadar limfosit dan P/F rasio pada pasien COVID-19 derajat berat (p=0,125; R=0,126). Didapatkan sebagian besar pasien COVID-19 derajat berat memiliki kadar limfosit <1.000 uL dan P/F rasio <150 mmHg (p<0,05). Simpulan, tidak terdapat korelasi antara kadar limfosit dan P/F rasio pada COVID-19 derajat berat, walaupun pada sebagian besar kasus COVID-19 derajat berat didapatkan penurunan limfosit dan P/F rasio. 
Perbandingan Terapi Albumin dari Ekstrak Channa Micropeltes Dan Channa Striata Terhadap Peningkatan Kadar Albumin pada Pasien Hipoalbuminemia Purwoko Purwoko; Bambang Novianto Putro; Prima Artya Kurniawan
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 11, No 1 (2023)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15851/jap.v11n1.2469

Abstract

Suplemen albumin yang selama ini sering digunakan adalah ekstrak ikan gabus (Channa striata). Ikan toman (channa micropeltes) diduga memiliki protein yang lebih tinggi dari pada ikan gabus. Tujuan penelitian ini adalah membandingkan peningkatan kadar albumin dari ekstrak ikan toman dan ikan gabus dengan peningkatan kadar albumin darah pada pasien hipoalbuminemia. Penelitian ini dilakukan di ICU RSUD Dr. Muwardi Surakarta pada bulan November 2019–Januari 2020. Penelitian menggunakan uji klinis acak tersamar tunggal pada 30 pasien yang menjalani perawatan intensif dengan hipoalbuminemia yang telah memenuhi kriteria inklusi dan tidak termasuk eksklusi. Sampel dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu kelompok dengan pemberian albumin ekstrak ikan toman (A) dan kelompok pemberian albumin ekstrak ikan gabus (B). Kedua kelompok diberikan albumin dengan dosis 5 gram tiap 12 jam selama tiga hari berturut-turut. Dilakukan pencatatan kadar albumin darah sebelum perlakuan dan tiga hari berturut-turut sejak pemberian ekstrak albumin. Penelitian menunjukan hasil bahwa selisih perubahan kadar albumin hari ke 1-baseline kelompok A mengalami peningkatan rerata 0,17+0,12, sedangkan kelompok B 0,11+0,08 (p=0,163). Pada hari ke-2 baseline kelompok A mengalami peningkatan rerata 0,41+0,15, sedangkan kelompok B 0,39+0,21 (p=0,785); pada hari ke-3 baseline kelompok A mengalami peningkatan rerata 0,74+0,35, sedangkan kelompok B 0,55+0,23 (p=0,785). Simpulan, ekstrak ikan toman memberikan peningkatan albumin yang lebih baik dibanding dengan ikan gabus, meskipun tidak berbeda secara statistik. 
Perbandingan Mula Kerja Ropivacaine 0,75% dengan Levobupivacaine 0,5% untuk Blokade Peribulbar pada Pasien yang Menjalani Operasi Vitrektomi Odih Fahruzi; Dedi Fitri Yadi; M. Andy Prihartono
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 11, No 1 (2023)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15851/jap.v11n1.3116

Abstract

Blokade peribulbar merupakan salah satu teknik anestesi regional yang dapat digunakan untuk operasi vitrektomi. Ropivakain dan levobupivakain merupakan anestetik lokal yang memiliki keunggulan durasi kerja yang lama dan tingkat komplikasi lebih rendah dibanding dengan bupivakain. Penelitian ini bertujuan membandingkan mula kerja antara ropivakain dan levobupivakain pada blokade peribulbar. Jenis penelitian ini berupa eksperimental prospektif yang menggunakan desain double blind randomized controlled trial dengan analisis statistik menggunakan uji Mann Whitney. Subjek terdiri dari 34 orang yang menjalani operasi vitrektomi dengan blokade peribulbar. Penelitian dilakukan bulan Maret–April 2022 di di Netra Klinik Spesialis Mata Bandung. Enam belas subjek dilakukan blokade peribulbar dengan ropivakain 0,75% dan 18 subjek mendapatkan levobupivakain 0,5%. Mula kerja rerata pada grup ropivakain 0,75% didapatkan 11,3 menit, sedangkan grup levobupivakain 0,5% rerata 7,78 menit dengan perbedaan bermakna (p<0,05). Volume rerata grup ropivakain 0,75% adalah 8,06±1,44 mL, sedangkan grup levobupivakain 0,5% mendapatkan volume rerata 7,00±1,79 mL. Mula kerja levobupivakain 0,5% lebih cepat dibanding dengan ropivakain 0,75%, hal tersebut kemungkinan berhubungan dengan perbedaan lipid solubilitas, ropivakain 10 kali lebih rendah lipid solubilitasnya dibanding dengan levobupivakain. Simpulan penelitian ini adalah mula kerja levobupivakain 0,5% pada blokade peribulbar lebih cepat dibanding dengan ropivakain 0,75%.  
Pola Bakteri dari Jam Tangan dan Kacamata yang Dibawa ke Instalasi Bedah Sentral Rumah Sakit Dr. Moewardi Surakarta Ardana Tri Arianto; Bambang Novianto Putro; Geovaldy Siregar
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 11, No 1 (2023)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15851/jap.v11n1.2490

Abstract

Ruang bedah berperan sebagai penyebab infeksi nosokomial terutama akibat luka bedah. Transmisi patogen oleh tenaga kesehatan berperan penting dalam rute infeksi silang. Penelitian ini bertujuan mengetahui pola bakteri jam tangan dan kacamata tenaga kesehatan yang dibawa ke kamar operasi di Rumah Sakit Dr. Moewardi Surakarta. Penelitian menggnakan metode kuantitatif dengan pendekatan deskriptif laboratorik di Instalasi Bedah Sentral RSUD Dr. Moewardi Surakarta pada Juni–Juli 2018. Sampel adalah seluruh hardware yang dibawa masuk ke ruang bedah umum dan memenuhi kriteria inklusi. Hasil penelitian terhadap 40 hardware, yaitu 19 jam tangan dan 21 kacamata yang dipakai dan dibawa ke kamar operasi Instalasi Bedah Sentral RSUD Dr. Moewardi Surakarta. Hardware yang dibawa dan mengandung bakteri patogen sebanyak 33 hardware (83%). Hardware yang terkontaminasi patogen paling banyak adalah kacamata. Jenis bakteri yang paling banyak ditemukan adalah Staphylococcus hominis sebanyak 16 hardware (40%). Staphylococcus haemolyticus ditemukan pada 7 hardware (17%). Staphylococcus epidermidis ditemukan pada 4 hardware (10%). Simpulan penelitian ini adalah hardware yang diteliti mayoritas terdapat patogen (83%).Jenis bakteri yang paling banyak ditemukan adalah staphylococcus hominis pada 40% hardware.
TOTAL INTRAVENOUS ANESTHESIA COMBINED WITH SUB-TENON BLOCK IN VITRECTOMY OPERATION WITH CHRONIC KIDNEY DISEASE ON REGULAR HEMODIALYSIS Andriamuri Primaputra Lubis; Alegra Rifani Masharto
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 11, No 1 (2023)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15851/jap.v11n1.2855

Abstract

Vitrektomi adalah operasi mata untuk mengangkat bagian vitreous body. Hingga saat ini berbagai teknik anestesi tengah dikembangkan untuk mencapai kondisi teknik anestesi ideal. Teknik anestesi kombinasi general anesthesia dengan blok subtenon pada operasi vitrektomi memiliki potensi yang bagus untuk mengurangi nyeri pascaoperasi, mengurangi insiden refleks okulokardiak dan mengurangi jumlah penggunaan analgesia. Pada laporan ini, dilaporkan pasien laki-laki berusia 40 tahun dengan keluhan penglihatan kabur pada mata kanan sejak tiga bulan yang lalu. Pasien memiliki riwayat hipertensi, diabetes melitus tipe II, dan memiliki riwayat penggunaan heparin. Pasien didiagnosis non-closing vitreous hemorrhage. Pasien direncanakan dilakukan vitrektomi dengan general anesthesia yang dikombinasikan dengan blok subtenon. Selama operasi tidak terjadi perubahan hemodinamik yang bermakna. Keberhasilan teknik anestesi kombinasi ini ditunjukkan oleh hemodinamik yang stabil selama operasi. Teknik anestesi kombinasi pada pasien dengan komorbid yang menjalani vitrektomi seperti pada kasus ini dapat dipertimbangkan sebagai pilihan pada pengelolaan kasus sejenis di masa yang akan datang.