cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
jap.anestesi@gmail.com
Editorial Address
Departemen Anestesiologi dan Terapi Intensif Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran/Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung Jalan Pasteur No. 38 Bandung 40161, Indonesia
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Anestesi Perioperatif
ISSN : 23377909     EISSN : 23388463     DOI : 10.15851/jap
Core Subject : Health, Education,
Jurnal Anestesi Perioperatif (JAP)/Perioperative Anesthesia Journal is to publish peer-reviewed original articles in clinical research relevant to anesthesia, critical care, case report, and others. This journal is published every 4 months with 9 articles (April, August, and December) by Department of Anesthesiology and Intensive Care Faculty of Medicine Universitas Padjadjaran/Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung.
Arjuna Subject : -
Articles 484 Documents
Perbandingan Morfin Dosis 0,05 Mg dengan 0,1 Mg Sebagai Adjuvan Bupivakain 0,5% 10 Mg Intratekal Terhadap Skala Nyeri dan Durasi Analgesia Pascaseksio Sesarea Putri Citra Barliana; Ardi Zulfariansyah; Ruli Herman Sitanggang
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 11, No 2 (2023)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15851/jap.v11n2.3395

Abstract

Masalah pascaoperasi yang paling dikeluhkan oleh pasien yang menjalani seksio sesarea adalah nyeri akut pascaoperasi. Salah satu metode yang direkomendasikan dalam protokol Enhanced Recovery After Cesarean Section (ERACS) untuk mencegah nyeri akut pascaoperasi adalah penggunaan opioid long-acting intratekal dengan morfin intratekal sebagai baku standar. Penelitian dilakukan di RSUP Dr. Hasan Sadikin selama bulan Juli–Oktober 2022 Penelitian ini bertujuan menilai perbandingan intensitas nyeri dan durasi analgesia antara pemberian morfin 0,05 mg dan 0,1 mg sebagai adjuvan bupivakain 0,5% 10 mg intratekal pada pasien yang menjalani prosedur seksio sesarea. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan rancangan double blind randomized controlled trial. Penilaian intensitas nyeri dan durasi analgesia pada pasien dihitung setiap 1 jam sejak operasi selesai (T0) hingga jam ke-24 (T24) pascaoperasi. Analisis statistik data numerik menggunakan uji t tidak berpasangan pada data berdistribusi normal serta uji Mann Whitney pada data tidak berdistribusi normal. Analisis statistik data kategorik menggunakan uji chi-square dan alternatif uji Eksak Fisher. Intensitas nyeri NRS jam ke-2, -3, -4, -5, - 6, dan -7 pada kelompok morfin 0,1 mg lebih rendah dibanding dengan kelompok morfin 0,05 mg dengan perbedaan yang bermakna secara statistik (p<0,05). Simpulan. durasi analgesia pascaseksio sesarea pada pemberian morfin secara intratekal dosis 0,1 mg lebih lama dibanding dengan dosis 0,05 mg. 
Tatalaksana Pasien Syok Sepsis dengan Peritonitis Diffusa ec. Abses Hepar Post Laparatomi Eksplorasi Faisal Rachman; Tinni T. Maskoen
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 12, No 1 (2024)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15851/jap.v12n1.3491

Abstract

Abses hepar didefinisikan sebagai benjolan yang berisi pus pada hepar yang dapat berkembang dari cedera pada hepar atau infeksi intra-abdominal yang menyebar dari sirkulasi portal. Tingkat kejadian tahunan abses hepar adalah sekitar 2,3 kasus per 100.000 orang. Abses hepar dapat pecah yang menyebar sehingga menyebabkan peritonitis dan syok. Komplikasi penularan ke organ lain termasuk endoftalmitis atau emboli septik sistem saraf pusat yang berakibat fatal pada pasien yang dapat menyebabkan kematian. Laporan kasus ini menjelaskan pasien laki-laki 18 tahun dengan syok sepsis dan abses hepar. Prinsip tata laksana pasien abses hepar adalah insisi dan debridement. Pada kasus ini pasien sudah mengalami syok septik tata laksananya meliputi resusitasi cairan, optimalisasi penggunaan vasopresor-inotropik, pengendalian sumber infeksi (source control), dan pemberian antibiotik intravena dini, sebaiknya dalam waktu satu jam setelah diagnosis sepsis dan syok septik ditegakkan. Selain itu, perawatan pasien kritis di ICU juga merupakan tantangan tersendiri terutama pasien dengan syok septik. Manajemen cairan, nutrisi, serta pemberian analgesia dan sedasi sesuai dengan kebutuhan. Penatalaksanaan tepat pasien dengan syok sepsis karena abses hepar, luaran pasien yang baik dengan length of stay (LOS) yang singkat di ruangan ICU merupakan target dokter anestesi dan intensivis. Penatalaksanaan yang tepat akan memberikan prognosis pasien yang lebih baik; pada kasus ini pasien ditatalaksana dengan baik sehingga pasien mendapatkan perbaikan keadaan umum dan kesadaran pasien kompos mentis setelah diterapi.
¬¬Perbandingan Efek Pemberian Deksmedetomidin 0,5 µg/kgBB Intravena dengan Fentanil 2 µg/kgBB Intravena Terhadap Respons Perubahan Tekanan Darah dan Laju Nadi Selama Tindakan Laringoskopi dan Intubasi Endotrakeal Tia Astriana; Budiana Rismawan; Ardi Zulfariansyah
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 11, No 3 (2023)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15851/jap.v11n3.3629

Abstract

Tindakan laringoskopi dan intubasi endotrakeal dapat menyebabkan hipertensi dan takikardia yang berbahaya bagi penderita dengan faktor risiko kelainan serebrovaskular, kardiovaskular, dan tirotoksikosis. Tujuan penelitian ini membandingkan efektivitas dosis bolus deksmedetomidin dan fentanil dalam melemahkan hemodinamik respons stres setelah laringoskopi dan intubasi. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan rancangan double blind randomized controlled trial yang dilakukan di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung (RSHS) sejak tanggal 1 April 2023 hingga 31 Mei 2023. Penelitian ini melibatkan 42 pasien yang menjalani operasi elektif dengan anestesi umum yang dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok D menerima 0,5 µg/kgBB deksmedetomidin dan kelompok F menerima fentanil 2 µg/kgBB sebelum tindakan laringoskopi dan intubasi endotrakeal. Pengamatan dilakukan pada tekanan darah sistole, tekanan darah diastole, mean arterial pressure, dan laju nadi sesaat setelah tindakan intubasi dilanjutkan tiap menit hingga 5 menit setelah tindakan intubasi. Hasil menunjukkan bahwa perubahan tekanan darah sistole, diastole, MAP, dan laju nadi antara kelompol deksmedetomidin dan kelompok fentanil tidak terdapat perbedaan bermakna (p<0,05). Simpulan, pemberian deksmedetomidin menghasilkan respons perubahan tekanan darah dan laju nadi yang sebanding dengan pemberian fentanil.
Perbandingan Vasopressin dan Norephinephrine sebagai Vasopressor pada Pasien Syok Sepsis Andrio Farel Edward Gultom; Rommy F. Nadeak; Tasrif Hamdi; Yuki Yunanda
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 12, No 2 (2024)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15851/jap.v12n2.3739

Abstract

Sepsis menyebabkan kematian terbesar, tingkat mortalitas sepsis tinggi dan dapat mencapai 50% pada syok sepsis. Tatalaksana resusitasi pada syok sepsis menggunakan vasopresor. norepinephrine saat ini adalah rekomendasi utama pada syok sepsis, vasopressin digunakan sebagai obat lini kedua untuk mengurangi efek samping yang disebabkan oleh obat seperti norephinephrine, dan juga membantu pada keadaan syok resisten-katekolamin. Penelitian ini merupakan penelitian uji klinis dengan metode acak tersamar ganda. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan penggunaan vasopressin dan norephinephrine sebagai vasopresor pada pasien syok sepsis di ICU RSUP H. Adam Malik Medan. Pencatatan hasil dilakukan setelah diberikan intervensi (T0), 6 jam (T1), dan 24 jam (T2). Sampel yang diperoleh pada penelitian ini berjumlah 36 pasien dengan 13 pasien dalam kelompok vasopressin dan 13 pasien dalam kelompok norepinephrine. Rerata TDS, TDD dan Mean Arterial Pressure (MAP) T0, T1, dan T2 kelompok norepinephrine lebih tinggi bila dibanding dengan dengan kelompok vasopressin. pH pada kelompok norepinephrine lebih rendah bila dibanding dengan dengan kelompok vasopressin. Simpulan, terdapat perbedaan yang signifikan antara norepinephrine dengan vasopressin sebagai vasopressor, dimana MAP dan kadar laktat, pada kelompok Norepinephrine lebih tinggi bila dibanding dengan dengan vasopressin. Sedangkan pH didapatkan lebih rendah pada kelompok norepinpehrine pada jam ke-24 dibanding dengan kelompok vasopressin.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pemanjangan Lama Rawat Intensif Pasien Atresia Bilier Pediatrik yang Menjalani Operasi Kasai di RSUP Dr Sardjito Muhammad Brian Ristianto; Yunita Widyastuti; Djayanti Sari
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 12, No 1 (2024)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15851/jap.v12n1.3411

Abstract

Atresia bilier merupakan kelainan pada neonatus yang menyebabkan gagal hepar progresif dan kematian bila tidak ditangani. Operasi Kasai merupakan penanganan atresia bilier melalui pembuatan anastomosis untuk drainase empedu. Pemanjangan lama rawat pascaoperasi Kasai meningkatkan morbiditas dan mortalitas. Penelitian ini bertujuan menemukan faktor-faktor yang memengaruhi pemanjangan lama rawat intensif pascaoperasi Kasai. Penelitian ini merupakan studi observasional kohort retrospektif pada pemanjangan lama rawat intensif pasien atresia bilier pediatrik yang menjalani operasi Kasai di RSUP Dr. Sardjito dari 1 Januari 2017 hingga 31 Desember 2021. Terdapat 33 dari 52 sampel (64%) mengalami pemanjangan lama rawat intensif. Uji statistik dilakukan dengan uji regresi logistik univariat dan uji regresi logistik multivariat bagi parameter yang signifikan pada uji sebelumnya (p<0,25). Didapatkan sepsis (OR=39,2) dan malnutrisi (OR=7,55) signifikan memengaruhi pemanjangan lama rawat intensif pascaoperasi Kasai. Simpulan, Sepsis dan malnutrisi signifikan memengaruhi pemanjangan lama rawat intensif pasien atresia bilier pediatrik yang menjalani operasi Kasai masing-masing sebanyak 39 dan 7,5 kali. 
Perbedaan Nilai Near Infrared Spectroscopic Terhadap Posisi Head Up 15° Dan Head Up 30° Pada Pasien Yang Dirawat Di Ruang Intensive Care Unit Syahrir Supratman Hutabarat; Andriamuri Primaputra Lubis; Dadik Wahyu Wijaya
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 11, No 3 (2023)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15851/jap.v11n3.3554

Abstract

Oksigenasi serebral sangat dipengaruhi oleh autoregulasi serebri yang dapat mengatur aliran darah ke otak sehingga menyebabkan masuknya oksigen dapat bertambah maupun berkurang. Perubahan postur selama anestesi memiliki efek kompleks pada sirkulasi sistemik dan serebral yang berpotensi menurunkan aliran darah otak dan oksigenasi. Penelitian ini bertujuan meneliti perbandingan nilai near-infrared spectroscopy (NIRS) dengan posisi head up 15o dan 30o. Penelitian ini dilakukan di ICU RSUP H. Adam Malik Medan mulai bulan Agustus sampai Oktober 2022. Desain penelitian eksperimental dengan rancangan single blind randomized controlled trial. Analisis statistik variabel numerik menggunakan uji T-independen pada data berdistribusi normal dan uji Mann Whitney pada data tidak berdistribusi normal. Analisis statistik untuk data kategorik dengan uji chi-square atau uji Fisher Exact. Rerata nilai NIRS baik kanan maupun kiri pada kelompok Head Up 15o lebih rendah dibanding dengan kelompok Head Up 30o dengan perbedaan yang signifikan (p<0,05). Kesimpulan, nilai rerata near-infrared spectroscopy (NIRS) pada posisi Head Up 15° lebih rendah dibanding dengan posisi head up 30°.Kata kunci:  
Manajemen Perioperatif Pasien Atrial Septal Defect (ASD) dengan Hipertensi Pulmonal yang Menjalani Operasi Tutup Defek Rifdhani Fakhrudin Nur; Juni Kurniawaty; Bhirowo Yudo Pratomo
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 12, No 2 (2024)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15851/jap.v12n2.3354

Abstract

Atrial septal defect (ASD) kompleks yang tidak didiagnosis dan dikoreksi hingga usia dewasa dapat menyebabkan hipertensi pulmonal. Manajemen perioperatif operasi penutupan defek pasien ASD dewasa dengan hipertensi pulmonal memberikan tantangan tersendiri karena dikaitkan dengan tingginya komplikasi perioperatif serta peningkatan morbiditas dan mortalitas. Kami melaporkan seorang wanita berusia 23 tahun dengan ASD dan hipertensi pulmonal yang menjalani operasi tutup defek. Pemeriksaan ekokardiografi praoperasi menunjukkan ASD sekundum right-to-left shunt dengan diameter 25–30 mm dan kateterisasi jantung kanan yang menunjukkan rerata tekanan arteri pulmonal 58 mmHg dan pulmonary vascular resistance 8,1 WU. Induksi anestesi dilakukan dengan balanced opioid, dosis kecil agen induksi, dan pelumpuh otot. Hemodinamik selama operasi stabil, dan periode penyapihan cardiopulmonary bypass berjalan lancar dengan topangan dobutamin dan norepinefrin. Pascaoperasi, pasien dirawat di Intensive Care Unit dengan keadaan umum baik, hemodinamik stabil, nyeri pascaoperasi terkontrol dan tanpa kejadian komplikasi. Penilaian praoperatif yang tepat, manajemen intraoperatif yang berhasil menjaga stabilitas hemodinamik, dan manajemen pascaoperatif yang dapat mencegah dan mengatasi komplikasi pascaoperasi dapat menghasilkan luaran yang baik pada pasien ini.
Terapi Substitusi Ginjal pada Sindrom HELLP ( Hemolysis, Elevated Liver Enzymes and Low Platelets) dan Cedera Ginjal Akut Dedi Tanto; Nurita Dian Kestriani
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 12, No 1 (2024)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15851/jap.v12n1.3631

Abstract

Renal replacement therapy (RRT)/terapi substitusi ginjal untuk pasien cedera ginjal akut di unit perawatan intensif menghadirkan masalah unik dalam menyediakan pembuangan biokimia dan cairan pada pasien dengan instabilitas sirkulasi, inotropik, dan peningkatan permeabilitas kapiler. Pasien pre-eklamsia dengan insufisiensi ginjal dapat ditegakkan diagnosisnya jika kadar kreatinin serum lebih atau sama dengan 1,1 mg/dL. Pasien hamil dengan pre-eklamsia berat (PEB) dan sindrom hemolysis, elevated liver enzymes levels and low platelet levels (HELLP) merupakan salah satu faktor risiko cedera ginjal akut pada kehamilan. Peningkatan kreatinin juga dilaporkan meningkatkan progresivitas terjadi strok iskemik Seorang perempuan berusia 21 tahun dengan pascaoperasi sectio caesaria dengan indikasi gawat janin pada pre-eklamsia berat disertai cerebrovascular disease infarct, acute kidney injury dd/acute on chronic kidney disease, asidosis metabolik, elektrolit imbalans, masuk di rawat di ruang rawat intensif RSUP Dr. Hasan Sadikin, Bandung. Pascaoperasi pasien masih dalam keadaan tersedasi dan terintubasi, untuk kemudian dikontrol pernapasannya. Karena terjadi peningkatan kadar kreatinin dan terjadi hiperkalemia refrakter maka pada pasien dilakukan continuous renal replacement therapy. (CRRT). Tujuan CRRT pada pasien ini adalah menekan progresivitas cedera ginjal akut serta hiperkalemia, menghindari fluktuasi hemodinamika, serta menghindari progresivitas cerebrovascular disease (CVD) iskemik.
Awake Tracheal Intubation sebagai Pendekatan Anestesi pada Pasien dengan Predictive Difficult Airway: Laporan Kasus dari Perspektif Frontliner Rani Pradnya Swari; Dewa Ngakan Gde Dwija Sanjaya
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 11, No 3 (2023)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15851/jap.v11n3.3480

Abstract

Laporan kasus ini bertujuan meningkatkan kesadaran tentang tantangan risiko dan pengelolaan masalah jalan napas yang sulit di daerah pedesaan dengan kekurangan fasilitas di ruang operasi. Kami melaporkan kasus laki-laki 31 tahun dengan karsinoma sel skuamosa masif di sisi kiri leher yang dikirim untuk eksisi dan drainase tumor. Pasien dinilai dengan status fisik ASA III karena prediksi jalan napas sulit dan suspek septik. Kami mengalami kesulitan untuk meraba sendi temporomandibular dan kekakuan pada leher. Pasien kami intubasi dalam kondisi sadar sepenuhnya dengan beberapa kesulitan karena kekurangan obat dan alat di rumah sakit kami. Pasien diekstubasi dalam kondisi sadar dengan aman setelah proses operasi dan dipindahkan ke ICU.
Pengaruh Derajat Keparahan Penyakit (Skor APACHE II) terhadap Utilisasi Sumber Daya (Skor TISS-28) dan Biaya Perawatan Pasien di ICU Muhammad Ikhwan Nur; Reza Widianto Sudjud; Osmond Muftilov Pison
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 12, No 2 (2024)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15851/jap.v12n2.3740

Abstract

ICU merupakan unit perawatan di rumah sakit yang membutuhkan biaya tinggi. Oleh karena itu, penting untuk mengevaluasi faktor-faktor yang mempengaruhi utilisasi sumber daya biaya perawatan pasien ICU. Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi utilisasi sumber daya dan biaya perawatan ICU adalah keparahan penyakit. Penelitian ini menggunakan desain analitik observasional dengan desain kohort prospektif Subjek penelitian ini adalah pasien ICU RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung yang dirawat pada bulan Maret–Mei 2023. Derajat keparahan penyakit dinilai dengan skor APACHE II, sementara utilisasi sumber daya ICU dinilai dengan skor TISS-28. Uji Pearson Product Moment digunakan untuk mendapatkan nilai koefisien korelasi (r) dan koefisien determinasi (r2) skor APACHE II terhadap skor TISS-28 dan biaya perawatan pasien ICU. Sebanyak 113 pasien ICU disertakan sebagai subjek penelitian. Rata-rata skor TISS-28  harian 25,6 dan biaya perawatan harian pasien ICU Rp6.657.925,00. Dari analisis skor APACHE II terhadap skor TISS-28 harian didapatkan nilai r=0,538; r2=0,289; p ≤0,001. Sedangkan dari analisis skor APACHE II dan biaya perawatan harian pasien ICU didapatkan r=0,502;r2=0,253; p≤0,001. Derajat keparahan berdasarkan skor APACHE II berpengaruh terhadap skor TISS-28 dan biaya perawatan pasien di ICU dengan korelasi positif. Hasil studi ini diharapkan dapat membantu meningkatkan efektivitas dan efisiensi perawatan pasien di ICU.