cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 293 Documents
Search results for , issue "Vol. 5 No. 2 (2017): November" : 293 Documents clear
The Use of ICT Based Teaching Media by English Teachers at Junior High Schools in Singaraja: Age and Gender Analysis ., I Kadek Febriandikayasa; ., I Putu Ngurah Wage Myartawan, S.Pd., M.P; ., I Nyoman Pasek Hadi Saputra, S.Pd., M.Pd
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol. 5 No. 2 (2017): November
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v5i2.14854

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis media yang digunakan oleh guru bahasa inggris SMP di singiraja. Penelitian ini adalah penelitian Mix-method dan self-checklist serta panduan interview adalah instrument yang digunakan. Total ada 39 guru terlibat dalam penelitian ini. 13 diantaranya laki-laki dan 26 adalah wanita, 23 diantara mereka dikategorikan sebagai Generation-X dan 16 Generation-Y. hasl dari penelitian ini adalah guru laki-laki mendominasi penggunaan media berbasis ICT dengan 100% menggunakan gambar sebagai media. sebagai alasannya 76.92% berpendapat bahwa media berbasis ICT dapat merangsang minat belajar mereka, membuat mereka lebih fokus dan juga dapat menarik perhatian mereka. Tetapi pada guru wanita, skor yang rendah terlihat dari point yang diperoleh dari penggunaan media berbasis ICT. hanya 10 guru (38.46%) menggunakannya dan alasan yang sama mereka tunjukan untuk penggunaannya. Selain itu, Generation-X juga menunjukan poin yang rendah dimana hanya ada 7 guru menggunakan media berbasis ICTsisanya setuju untuk tidak menggunakanya karena alasan kurangnya dukungan secara teknis, sedikitnya jam mengajar, dan juga tidak memiliki waktu untuk mempelajarinya. Tapi disisi lain, Generation-Y lebih memilih untuk menggunakan media berbasis ICT mereka juga percaya kalau ICT mampu memberi dampak positif terhadap siswa dan juga guru itu sendiri. Kata Kunci : Media pembelajaran berbasis ICT, jenis kelamin dan umur di dalam penggunaan ICT This study aimed to investigate the use of ICT based teaching media by English teachers at junior high schools in Singaraja in terms of age and gender, and their reasons for using and not using it in the English teaching and learning process. A mixed methods design was used on this study. Self-checklist and interview guide were used as the instruments. Totally there were 39 teachers who participated in this study. 13 teachers were males and 26 were females; 23 of them were categorized as Generation-X and 16 were Generation-Y. The result was that the male teachers took the domination in using ICT based media with 100% of them used pictures. In terms of the reasons of using ICT, 76.92% agreed that ICT based media can stimulate the students, make them more focused and get their attention during the lesson. But on the female teachers, lower point was shown in the types of ICT media used. Only 10 (38.64%) female teachers used media, and similar reasons to the male ones’ were expressed in using ICT-based media. On the other hand, Generation-X teachers also showed the low number with only 7 teachers used ICT based media, the rest of them agreed to not use it because of technical support, shortage class-time, and need time to learn it. But Generation-Y teachers preferred to use ICT based because they also believed that it can give positive impacts to the students in teaching and learning process. keyword : Age and Gender in ICT usage, ICT based Teaching media.
THE EFFECT OF MOVIE CLIPS ON STUDENTS’ DESCRIPTIVE WRITING ACHIEVEMENT OF THE SEVENTH GRADE STUDENTS AT SMP NEGERI 1 MENGWI IN ACADEMIC YEAR 2017/2018 ., DWI KESUMA SUSILA; ., Putu Eka Dambayana S., S.Pd., M.Pd.; ., Nyoman Karina Wedhanti, S.Pd., M.Pd.
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol. 5 No. 2 (2017): November
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v5i2.14863

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengivestigasi apakah ada perbedaan atau tidak terhadap prestasi belajar menulis deskriptif teks para siswa di kelas tujuh dengan menggunakan Movie Clips. Desain yang digunakan adalah Post-test Only Control Group Design. Populasi dalam penelitian ini adalah para siswa kelas tujuh di SMP Negeri 1 Mengwi. One intact group cluster random sampling technique digunakan untuk mendapatkan sampel. Terdapat dua kelompok sampel dalam penelitian ini yaitu kelompok eksperimen yang diajarkan menggunakan Movie Clips dan kelompok Kontrol yang tidak diajarkan menggunakan Movie Clips. Data dikumpulkan melalui post-test yang dimana dilaksanakan setelah kedua kelompok mendapatkan perlakuan berbeda sebanyak sembilan pertemuan. Setelah itu, data dianalisis menggunakan descriptive statistical analysis dan inferential analysis. Hasil dari descriptive statistical analysis menunjukkan bahwa kelompok eksperimen memperoleh hasil yang lebih baik dalam menulis dimana nilai rata-rata kelompok eksperimen adalah 79,26 sedangkan nilai kelompok kontrol adalah 76,02. Selanjutnya, berdasarkan pengujian hypothesis dalam inferential analysis, didapatkan nilai t hitung = 2.032 (tobs) lebih tinggi daripada nilai t tabel dengan nilai t tabel yaitu 1.996 (tcv) dengan standard alpha level (α = .05). Hal tersebut berarti hypothesis awal ditolak demi alternative hypothesis. Oleh karena itu, bisa dipastikan bahwa terdapat perbedaan signifikan terhadapt prestas belajar para siswa di kelas tujuh dalam menulis deskriptif teks berbantuan Movie Clips di SMP Negeri 1 Mengwi di tahun ajaran 2017/2018. Kata Kunci : menulis deskriptif, movie clips, prestasi menulis This study was aimed at investigating whether or not there was a significant effect on the seventh grade students’ descriptive writing achievement by using Movie Clips. The Post-test Only Control Group Design was used as the research design. The population for this study was seventh grade students in SMP Negeri 1 Mengwi. One intact group cluster random sampling technique was used in selecting the sample for the study. There were two groups of sample for this study, namely experimental group which was taught by using Movie Clips and control group which was not taught by using Movie Clips. The data for this study were gathered through the post-test which conducted after those two groups were given different treatment for nine meetings. After that, the research data were analyzed by using descriptive statistical analysis and inferential statistical analysis. The result of descriptive statistical analysis showed that the experimental group had better performance in writing where the experimental group’s mean score was 79.26 while the control group’s mean score was 76.02. Furthermore, based on the hypothesis testing in inferential statistical analysis, it was found that the t observed of 2.032 (tobs) was higher than the t critical value of 1.996 (tcv) at standard alpha level (α = .05). It means the null hypothesis was rejected in favor of the alternative hypothesis. Therefore, it could be confirmed that there was a significant effect on students’ descriptive writing achievement by using Movie Clips in seventh grade students at SMP Negeri 1 Mengwi in Academic Year 2017/2018.keyword : descriptive writing, movie clips, writing achievement
THE EFFECT OF TEACHING USING AUDIOVISUAL (VIDEO) MEDIA, ON SEVENTH GRADE STUDENTS’ LISTENING COMPREHENSION AT SMP NEGERI 1 MENGWI ACADEMIC YEAR 2017/2018 ., I Putu Fendy Cahya Kusuma Brian; ., I Nyoman Pasek Hadi Saputra, S.Pd., M.Pd; ., Nyoman Karina Wedhanti, S.Pd., M.Pd.
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol. 5 No. 2 (2017): November
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v5i2.14869

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan antara siswa kelas tujuh yang diajar dengan media audiovisual (video) dengan siswa yang diajar tanpa media audiovisual atau dengan media audio saja (cara konvensional dalam mengajar listening) di SMP Negeri 1 Mengwi, tahun ajaran 2017/2018. Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa kelas tujuh di SMP Negeri 1 Mengwi, tahun ajaran 2017/2018 yang dimana jumlah seluruhnya adalah 402 siswa. Sampel penelitian ini adalah kelas VII A dan VII B di SMP Negeri 1 Mengwi yang dimana tiap kelas terdapat 32 jumlah siswa. Data dikumpulkan dengan menggunakan tes pilihan ganda (multiple choice test), dengan total jumlah pertanyaan adalah sebanyak 20. Data yang dikumpulkan dianalisis menggunakan analisis statistik deskriptif dan statistik inferensial (uji-t). Berdasarkan hasil analisis, data menunjukkan bahwa thit > ttab yaitu 7.34 > 1.99. Jika dibandingkan akan terlihat bahwa thit > ttab. Sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan dari mengajar listening dengan menggunakan media audiovisual (video) daripada menggunakan cara yang konvensional dalam mengajar listening (dengan menggunakan media audio saja).Kata Kunci : Pemahaman Listening, Media Audiovisual, Media Audio (Cara yang biasa) The purpose of this study was to know the differences between the seventh-grade students who were taught by audiovisual (video) media and the students who were taught without audiovisual media or by audio media only (conventional way in teaching listening) at SMP Negeri 1 Mengwi, academic year 2017/2018. The population of this study was the whole students in class VII of SMP Negeri 1 Mengwi academic year 2017/2018 in which the total students were 402. The samples in this study were Class VII A and VII B in SMP Negeri 1 Mengwi in which each class consisted of 32 students. The data were collected by using a multiple-choice test, with the total number of the questions were 20 questions. The data collected were analyzed by using descriptive statistics analysis and inferential statistics analysis (t-test). Based on the result of the analysis, it showed t.obs > t.cv which was 7.34 > 1.99. If compared, it showed that t.obs > t.cv. Therefore, it can be concluded that there was a significant effect of teaching listening by using audiovisual media rather than using the conventional way in teaching listening (by using audio media only).keyword : Listening Comprehension, Audiovisual Media, Audio Media (Conventional Way)
DEVELOPING GENRE-BASED APPROACH INSTRUCTIONAL VIDEO ON TEACHING ENGLISH BASED ON CURRICULUM 2013 FOR SENIOR HIGH SCHOOL ENGLISH TEACHERS ., I Gede Alit Ardimayasa; ., I Putu Ngurah Wage Myartawan, S.Pd., M.P; ., Luh Diah Surya Adnyani, S.Pd., M.Pd.
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol. 5 No. 2 (2017): November
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v5i2.14896

Abstract

Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan sebuah video pembelajaran berbasis genre dan buku manualnya berdasarkan analisis kebutuhan yang dilakukan dalam penelitian ini. Dalam penelitian ini menggambarkan fitur serta kualitas video yang dikembangkan. Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah R & D yang mengadaptasi model Dick and Carey (2001). Selanjutnya, data yang diperoleh dianalisis secara kualitatif dan kuantitatif. Dalam mengunmpulkan data analisis kebutuhan, tiga guru SMA sebagai subjek sedangkan dua dosen pendidikan Pendidikan Bahasa Inggris UNDIKSHA merupakan subjek dalam mengumpulkan data terkait dengan kualitas video yang dikembangkan. Objek dalam penelitian ini adalah video pembelajaran berbasis genre. Data dalam penelitian ini dikumpulkan menggunakan lembar observasi, daftar periksa, catatan, pedoman wawancara, dan rubrik penilaian. Hasil penelitian ini menunjukan rata-rata dari kedua ahli adalah 4,5 itu mengindikasikan bahwa video yang dikembangkan masuk dalam kategori baik. Beberapa saran diberikan oleh ahli untuk meningkatkan kualitas video, diantaranya adalah penambahan pada introduction, mengedit warna dan font pada caption, memperkecil volume dari background musik. Itu semua sudah diperbaiki oleh peneliti dalam tahapan revisi produk ahir. Kata Kunci : Kurikulum 2013, Pembelajaran berbasis genre, Video pembelajaran The data was collected by using observation sheet, checklist, note, interview guide, and scoring rubric. The results of the study showed that the mean from both of expert judgment is 4.5 meaning that the instructional video belonged to the good category. Some suggestions were given by the experts in order to improve the quality of the video. Those were adding more information in the introduction sector, editing the color and fonts of the caption to differentiate the stages and sub stages, and reducing the volume of background music. In revising the final product phase, that issue has been fixed.keyword : Curriculum 2013, Genre-based approach, Instructional video
THE EFFECT OF GAMIFICATION ON LEARNING ENGAGEMENT OF ELEVENTH GRADE STUDENTS IN SMA N 1 SINGARAJA ., Ni Putu Dian Utami Dewi; ., Made Hery Santosa, S.Pd, M.Pd., Ph.D.; ., I Nyoman Pasek Hadi Saputra, S.Pd., M.Pd
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol. 5 No. 2 (2017): November
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v5i2.14897

Abstract

Penelitian ini memiliki tujuan, yaitu (1) melihat perbedaan level dari keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran dari siswa kelas XI SMA N 1 Singaraja setelah penerapan Gamified-based LMS dan mengetahui persepsi siswa terhadap penerapan gamified-based LMS. Desain penelitian yang digunakan adalah Experimental Research Design. Populasi dari penelitian ini adalah siswa kelas XI di SMA N 1 Singaraja. Hasil penelitian secara kuantitatif menunjukkan bahwa grup eksperimental menunjukkan hasil yang lebih baik daripada grup control. Hal ini dibuktikan dengan hasil analisis deskriptif yang menunjukkan rata rata level keterlibatan siswa dalam proses pembelajarn lebih besar (88.40) dibandingkan dengan grup control (79.60). Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai dari t-observed lebih tingi (5.309) dari nilai t-critical value (2.009). Maka dari itu, dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan yang signifikan dari level keterlibatan siswa yang diajarkan menggunakan Gamified-based LMS dan pembelajaran konvensional. Selain itu, peneliti juga menemukan bahwa kelas eksperimental dikategorikan sebagai engaged class sedangkan kelas kontrol dikategorikan sebagai well-manage class. Hal ini menunjukkan bahwa siswa membangun keterlibatannya di dalam kelas dengan tertarik terhadap pembelajaran, ikut berpartisipasi di dalam setiap kegiatan, dan mau mengerjakan tugas. Sebelum melakukan eksperimen, disarankan untuk mempersiapkan aktivitas yg baik, koneksi internet yg bagus dan sosialisasi mengenai teknologi yang digunakan.Kata Kunci : blended Learning, Learning Management System (LMS), gamification, gamified-LMS, keterlibatan dalam pembelajaran, persepsi This study had a purpose to determine whether there is a significant difference on learning engagement level of the eleventh-grade students in SMA N 1 Singaraja after the implementation of Gamified-based LMS. The research design used in this study was experimental research design. The population was the eleventh-grade students of SMA N 1 Singaraja. The result of the quantitative data analysis showed the experimental group performed better than the students in control group. It was proven by the result of a descriptive statistical analysis that showed the mean score of the experimental group was higher (88.40) control group (79.60). It is also proven by the value of t-observed was higher (5.309) than the value of t-critical value (2.009). It can be concluded that there was a significant difference on students’ level of learning engagement between students taught by using gamified-based LMS and students taught by using conventional media.Considerations are the well-planned activity, a good Internet connection and familiarity of technology suggested before starting the teaching and learning process.keyword : blended learning, gamification, learning engagement
AFFIXATION OF PELIATAN DIALECT: A Descriptive Study ., I Nym Dedy Rahland Krisna Hari; ., Dr. I Gede Budasi, M.Ed.; ., Nyoman Karina Wedhanti, S.Pd., M.Pd.
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol. 5 No. 2 (2017): November
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v5i2.14929

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan jumlah prefiks dan sufiks di Dialek Peliatan dan jenisnya dari Infleksi dan Derivasi. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif Qualitatif. Dua sampel informan dari Dialek Peliatan dipilih berdasarkan seperangkat kriteria. Data dikumpulkan menggunakan 3 tehnik, yakni: tehnik observasi, merekam, dan wawancara (mencatat dan mendengarkan). Hasil penelitian menunjukan bahwa ada enam jenis prefiks dan tiga jenis sufiks di Dialek Peliatan. Prefiks tersebut yakni prefiks {mə-}, {n-}, {ŋ-}, {ñ-}, {sa-} dan {pə-}. Sufiks tersebut yakni sufiks {-Λŋ}, {-Ιn} dan, {-ɔ}. Jenis prefiks dan sufiks yang tergolong derivasi adalah prefiks{mə-} dan {pə-} dan sufiks {-Λŋ} dan {-in}. Jenis prefiks dan sufiks yang tergolong infleksi adalah prefiks {mə-}, {n-}, {ŋ-}, {ñ-} dan {sa-}dan sufiks {-ang}, {an} dan {-in}. Kata Kunci : Kata kunci: prefiks dan sufiks derivasi, prefiks dan sufiks infleksi, dan Dialek Peliatan This study aimed at describing the number of prefixes and suffixes in Peliatan Dialect and its types of inflectional and derivational. This study is a descriptive qualitative research. Two informant samples of Peliatan Dialect were chosen based on a set of criteria. The data were collected based on three techniques, namely: observation, recording technique, and interview (listening and noting) technique. The results of the study show that there were five prefixes and five suffixes existing in Peliatan Dialect. The prefixes were {mə-}, {n-}, {ŋ-}, {ñ-}, {sa-} and {pə-}. The suffixes were {-Λŋ}, {-Ιn} and {-ɔ}. The prefixes and suffixes that belong to derivation are: prefix {mə-} and {pə-} and suffix {-Λŋ} and {-Ιn}. The prefixes and suffixes that belong to inflection are: prefixes {N-}, {ma-}, and {ka-} and suffix {-ang}, {an} dan {-in}.keyword : Key Words: derivational prefixes and suffixes, inflectional prefixes and suffixes, and Peliatan Dialect
AN ANALYSIS OF CODE MIXING USED IN INSTAGRAM BY STUDENTS OF ENGLISH LANGUAGE EDUCATION ., Mashita Amellia Kartika Sari; ., Drs. I Wayan Suarnajaya,MA., Ph.D.; ., Kadek Sintya Dewi, S.Pd., M.Pd.
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol. 5 No. 2 (2017): November
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v5i2.14930

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tipe-tipe dari campur bahasa terutama yang ditemukan pada media sosial seperti Instagram juga untuk menemukan alasan yang mendasari penggunaan campur bahasa yang digunakan oleh mahasiswa jurusan pendidikan Bahasa Inggris dalam keseharian. Model dari penelitian ini yaitu penelitian deskriptif kualitatif dimana penelitian ini difokuskan pada suatu kejadian campur bahasa. Berkaitan dengan hal itu, penelitian ini hanya fokus pada campur bahasa antara Bahasa Indonesia – Bahasa Inggris yang digunakan oleh mahasiswa. Selain itu, data diperoleh melalui observasi pada akun Instagram mahasiswa dan mewawancarai beberapa subjek terpilih dengan menggunakan sebuah panduan wawancara. Selanjutnya, data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan teory Ho (2007) dan Hoffman (1991). Berdasarkan analisis data, ditemukan bahwa tipe campur bahasa yang paling dominan yaitu lexical words dengan jumlah 54 (34.6%). Sedangkan, alasan yang mendasari penggunaan campur bahasa oleh siswa yang paling dominan yaitu talking about a particular topic dimana seluruh subjek terpilih memilih alasan tersebut. Meskipun begitu, peneliti menemukan tiga alasan tambahan diluar dari teory Hoffman (1991) seperti; keterbatasan kosa kata, gengsi, dan melatih penguasaan berbahasa Inggris.Kata Kunci : Campur bahasa antara bahasa Indonesia-bahasa Inggris dan Instagram. This study aimed at analyzing the types of code mixing, specifically found in the social media, especially in Instagram as well as to find out the reasons underlying the use of code mixing by the students of English Language Education in daily conversation. The design of this research is descriptive qualitative study since it focused on a single case of phenomenon of code mixing. Therefore, this study only focused on Indonesian-English code mixing used by the students. Moreover, the data were collected through observing on the students’ Instagram account and interviewing the selected subjects by using an interview guide. Furthermore, the collected data were analyzed by using Ho’s theory (2007) and Hoffman’s theory (1991). Based on the data analysis, the result of the study showed that the dominant type of code mixing used by the students was lexical word with the total number of 54 items (34.6%). Meanwhile, the dominant reason underlying the use of code mixing by the students was talking about a particular topic, where all of the selected subjects picked that reason. However, the researcher found three additional reasons out of Hoffman’s theory (1991), namely: vocabulary limitation, prestige, and practicing English mastery.keyword : Indonesian-English code mixing and Instagram.
AN ANALYSIS OF USING VIDEO ON TEACHING SPEAKING IN EFL CLASSROOM OF THE ELEVENTH-GRADE STUDENTS OF SMA N 4 SINGARAJA IN ACADEMIC YEAR 2017/2018 ., Gede Tegar Kriswinardi; ., Prof. Dr. Putu Kerti Nitiasih, M.A.; ., Putu Eka Dambayana S., S.Pd., M.Pd.
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol. 5 No. 2 (2017): November
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v5i2.14931

Abstract

Penelitian ini memiliki dua tujuan. Pertama adalah untuk menyelidiki keuntungan penggunaan video dalam mengajar berbicara Bahasa Inggris pada kelas EFL di kelas XI SMA N 4 Singaraja. Kedua adalah untuk mengetahui kerugian dalam penggunaan video dalam mengajar berbicara Bahasa Inggris pada kelas EFL di kelas XI SMA N 4 Singaraja. Metode penelitian yang digunakan adalah metode campuran. Penelitian ini menggunakan lembar observasi dan lembar kuisioner yang diberikan ke siswa sebagai instrument penelitian. Subjek yang dipilih dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI MIA 1 di SMA N 4 Singaraja dengan jumlah 30 siswa. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa salah satu keuntungan adalah 1) Video dapat mewakili situasi komunikatif yang nyata bagi siswa; 2) Video membantu siswa untuk mempelajari budaya baru berdasarkan apa yang mereka lihat dalam video; 3) Video membantu siswa melihat beberapa gerakan dalam video; 4) Video dapat memperkuat proses pembelajaran; 5) Video dapat menghibur siswa dalam proses pembelajaran; 6) Informasi dapat disajikan secara bersamaan pada saat yang bersamaan; 7) Video menyajikan suara dan juga gerakan saat ditampilkan oleh guru; 8) Video memungkinkan siswa untuk belajar materi secara mandiri; 9) Video dapat menampilkan fenomena yang sulit dilihat dalam istilah nyata; 10) Menggunakan media video dalam pembelajaran, dapat mengembangkan hasil belajar siswa; 11) Para siswa lebih suka belajar bahasa Inggris dengan menggunakan video daripada belajar bahasa Inggris hanya dengan mengajar dari guru; dan 12) Dengan menggunakan video, ini dapat meningkatkan motivasi siswa dalam belajar. Sedangkan kerugian yang ditemukan adalah 1) Video akan berfungsi jika kualitas videonya bagus; 2) Peralatan dibutuhkan dan juga disiapkan sebelum menggunakan video untuk menghemat waktu; 3) Video tidak akan membantu siswa jika bahasa yang digunakan dalam video sulit dimengerti; 4) Para siswa tidak dapat memahami materi dalam video jika konten dalam video tidak sesuai dengan materi. Hasil Ini menunjukkan bahwa terdapat keuntungan dan kerugian dalam proses penggunaan video sebagai media pembelajaran. Kata Kunci : video, berbicara Bahasa Inggris, EFL This study has two purposes. The first was to investigate the advantages of using video in teaching English speaking in EFL classes in grade XI SMA N 4 Singaraja. The second was to find out the disadvantages in using video in teaching English speaking in EFL class in grade XI SMA N 4 Singaraja. The research design was a Mixed Method Design. This study used observation sheet and questionnaire given to the students as the research instruments. The subjects were the students of class XI MIA 1 in SMA N 4 Singaraja with the number of 30 students. The result revealed that the advantages were 1) Video represents a real communicative situation to the students; 2) Video helps the students to learn a new culture based on what they see in the video; 3) Video helps the students to see some gestures in the video; 4) Video strengthens the learning process; 5) Video entertains the students in learning process; 6) The information in the video is presented simultaneously at the same time; 7) Video serves voices and also the movements while it is displayed by the teacher; 8) Video lets the students to learn a material independently; 9) Video displays a phenomenon that is difficult to see in real terms; 10) Using video media in learning, it increases students’ speaking achievement; 11) The students prefer learning English by using video rather than learning English by only lecturing from the teacher; and 12) By using video, it increases students’ motivation in learning. While the disadvantages were 1) Video will work if the quality of the video is good; 2) The equipment is needed and also well-prepared before using video; 3) Video will not help the students if the language used in the video is difficult to understand; and 4) The students cannot understand the material in the video if the content in the video does not match with the material. These results indicate that there are advantages and disadvantages in the process of using video as a media of learning.keyword : video, English Speaking, EFL
AN ANALYSIS OF AFFIXATION FOUND IN SASAK LANGUAGE IN MASBAGIK DIALECT ., Putu Dwitya Pranata; ., Drs. I Wayan Suarnajaya,MA., Ph.D.; ., I Wayan Swandana, S.S., M.Hum.
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol. 5 No. 2 (2017): November
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v5i2.14932

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki jenis afiks yang terjadi pada Dialek Masbagik. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif. Penelitian ini menggunakan beberapa instrumen, yaitu: peneliti, daftar kata dan panduan wawancara. Informan dipilih berdasarkan kriteria tertentu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada 9 macam prefiks yang terjadi dalam dialek Masbagik. Ada 5 kata dengan awalan {be-}, 5 kata dengan awalan {m-}, 5 kata dengan awalan {me-} seperti, 5 kata dengan awalan {ng-}, 5 kata dengan awalan {nge-}, 5 kata dengan awalan {pe-}, 5 kata dengan awalan {seper}, 5 kata dengan awalan {sem-}, 5 kata dengan awalan {sen-}, dan 5 kata dengan awalan {te-}. Selanjutnya, ada 4 jenis sufiks yang terjadi dalam dialek Masbagik. Ada 5 kata dengan akhiran {-ang}, 5 kata dengan akhiran {-in}, 5 kata dengan akhiran {-k}, dan 5 kata dengan sufiks {-ye}. Selain itu, ada 2 macam konfiks yang terjadi dalam dialek Masbagik. Ada 3 kata dengan awalan {ku-} dengan akhiran {-k} dan 3 kata dengan awalan {m-} dengan akhiran {-an}Kata Kunci : Afiksasi, Dialek, Desa Masbagik This study aimed at investigating the kinds of affixes occurring in Masbagik Dialect. This study is a descriptve qualitative study. This study used some instruments, namely: researcher, word list and interview guide. The informants were selected based on certain criteria. The result showed that there were 9 kinds of prefixes which occurred in Masbagik dialect. There were 5 words with prefix {be-}, 5 words with prefix {m-}, 5 words with prefix {me-} such, 5 words with prefix {ng-}, 5 words with prefix {nge-}, 5 words with prefix {pe-}, 5 words with prefix {se-}, 5 words with prefix {sem-}, 5 words with prefix {sen-}, and 5 words with prefix {te-}. Furthermore, there were 4 kinds of suffixes which occurred in Masbagik dialect. There were 5 words with suffix {-ang}, 5 words with suffix {-in}, 5 words with suffix {-k}, and 5 words with suffix {-ye}. , Furthermore, there were 2 kinds of confixes which occurred in Masbagik dialect. There were 3 words with prefix {ku-} with suffix {-k}and 3 words with prefix {m-} with suffix {-an}keyword : Affixation, Dialect, Masbagik Village
DEVELOPING DIGITAL GAME e-CALF AS SELF-DIRECTED LEARNING MEDIA FOR THE SECOND GRADE STUDENTS OF ELEMENTARY SCHOOL AT SD LAB UNDIKSHA SINGARAJA ., Ida Ayu Agung Ratih Pramesti; ., Ni Wayan Surya Mahayanti, S.Pd.,M.Pd.; ., Ida Ayu Made Istri Utami, S.Pd., M.Pd.
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol. 5 No. 2 (2017): November
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v5i2.14933

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan e-CALF sebagai media pembelajaran mandiri untuk mengajar bahasa Inggris di kelas dua siswa sekolah dasar di SD Lab Undiksha Singaraja. Penelitian dilakukan di SD Lab Undiksha Singaraja, di mana sasaran penelitian adalah siswa sekolah dasar kelas II A. Model pengembangan ADDIE digunakan sebagai prosedur penelitian saat ini. Karena masih berupa produk prototipe, hanya ada tiga prosedur yang digunakan yaitu Analisis, Desain, dan Pengembangan. Data dikumpulkan dengan menggunakan lembar observasi, panduan guru, rubrik penilaian ahli, kuesioner siswa, dan analisis silabus. Pada akhir penelitian ini, ada produk prototipe bernama e-CALF sebagai media pembelajaran mandiri dalam bentuk aplikasi. Hasil dari penelitian ini adalah media permainan digital yang dikembangkan berdasarkan analisis silabus dan kebutuhan siswa. Permainan digital e-CALF dikembangkan berdasarkan empat topik yaitu greetings, introducing, parts of body, dan numbers. Setiap topik terdiri dari enam lembar. Ada dua lembar tentang kosakata yang berhubungan dengan topik, dua lembar tentang mengisi teks kosong, dan sisanya tentang pemahaman teks dengan pertanyaannya Berdasarkan hasil penilaian ahli, ditemukan bahwa permainan digital e-CALF dikategorikan sebagai permainan digital yang sangat baik. Selain itu, game digital ini layak digunakan untuk belajar bahasa Inggris untuk siswa kelas dua. Kata kunci: permainan digital, e-CALF, produk prototipe, pembelajaran mandiri Kata Kunci : permainan digital, e-CALF, produk prototipe, pembelajaran mandiri ABSTRACT This study aimed at developing e-CALF as self-directed learning media for teaching English in the second grade of elementary school students at SD Lab Undiksha Singaraja. The study was conducted in SD Lab Undiksha Singaraja, in which the subject of the study was elementary school students of II A class. ADDIE model of development was used as the present research procedures. Since it is still a prototype media, there were only three procedures used namely Analyze, Design, and Development. The data were collected by using observation sheets, teacher’s interview guide, expert judgments rubric, students’ questionnaire, and syllabus analysis. In the end of this research, there was a prototype product named e-CALF as self-directed learning media in form of application. The result of this research is digital game media that were developed based on syllabus analysis and students’ need. The digital game e-CALF is developed based on four topics they were greetings, introducing, parts of body, and numbers. Each topic consists of six sheets. There are two sheets about the vocabulary related with the topic, two sheets about filling the blank text, and the rest about text comprehension with its questions. Based on the result of expert judgment rubrics it is found that digital game e-CALF are categorized as excellent digital game. Besides, this digital game was proper to use for learning English for second grade students. Keywords: digital game, e-CALF, prototype product, self –directed learning keyword : digital game, e-CALF, prototype product, self –directed learning