cover
Contact Name
Dr. Wilda Hafni Lubis, drg., M.Si
Contact Email
wilda.hafny@usu.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
dentika_journal@usu.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota medan,
Sumatera utara
INDONESIA
Dentika Dental Journal
ISSN : 1693671X     EISSN : 2615854X     DOI : -
Core Subject : Health,
d e n t i k a DENTAL JOURNAL is one of the journals managed by TALENTA Universitas Sumatera Utara which first published in 2015. This is an online scientific journal that publishes articles and scientific work from Researches, Case Reports and Literature Reviews in Dentistry and Dental Science. The scopes are varied from Dental Surgery, Dental Forensics, Oral Biology, Oral Medicine, Dental Public Health and Preventive Dentistry, Paediatric Dentistry, Dental Materials and Technology, Conservative Dentistry, Orthodontics, Periodontics, Prosthodontics, to Dental Radiology.
Arjuna Subject : -
Articles 390 Documents
Age Estimation Using Schour-Massler Method Compared to the Demirjian Method: Estimasi Usia Menggunakan Metode Schour-Massler Dibandingkan dengan Metode Demirjian Boel, Trelia; Bahri, Tiara Ayustin
Dentika: Dental Journal Vol. 22 No. 1 (2019): Dentika Dental Journal
Publisher : TALENTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (337.427 KB) | DOI: 10.32734/dentika.v22i1.1713

Abstract

Schour-Massler and Demirjian are methods used to estimate chronological age in dental radiographs by looking at the development of permanent teeth and the maturity of the dental age. Chronological age is based on date of birth. Dental age is the age based on the maturity of the teeth. Both of these methods have been widely used in previous studies, but have never been compared. The purpose of this study was to determine whether there are differences in age estimation using the Schour-Massler and Demirjian methods. This study was an observational analytic study with a cross sectional design. The research sample was 46 patients who came to USU General Hospital at the age of 10-16 years. This research was consist at the Radiology Unit of the Faculty of Dentistry, University of North Sumatra. The results of this study indicate the p value of the Wilcoxon test results with the p value for Schour-Massler p=0.090 > 0.05 and Demirjian p=1,000. Both p values> 0.05, there is no significant difference in assessing the estimated age using both methods, so Ha is accepted. In conclusion, the Schour-Massler and Demirjian methods provide estimates of age that are close to actual age, so there is no significant difference between the two methods.
PENGARUH PENAMBAHAN FIBER GLASS REINFORCED TERHADAP PENYERAPAN AIR DAN STABILITAS WARNA BAHAN BASIS GIGI TIRUAN NILON TERMOPLASTIK : EFFECT OF FIBER GLASS REINFORCED ADDITION TO WATER SORPTION AND COLOR STABILITY THERMOPLASTIC NYLON DENTURE BASE MATERIAL Ariyani; Haslinda Tamin; Muhammad Indra
Dentika: Dental Journal Vol. 17 No. 3 (2013): Dentika Dental Journal
Publisher : TALENTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (415.495 KB) | DOI: 10.32734/dentika.v17i3.1714

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan fiber glass reinforced terhadap penyerapan air dan stabilitas warna serta korelasi antara penyerapan air dan stabilitas warna pada bahan basis nilon termoplastik. Jenis penelitian ini merupakan eksperimental laboratoris, dengan sampel nilon termoplastik berbentuk silindris berukuran diameter 15 + 1 mm dan ketebalan 0,5 + 0,1 mm. Jumlah sampel adalah 27 dengan 9 sampel untuk setiap kelompok. Sampel dilakukan pengujian nilai penyerapan air dan stabilitas warna. Untuk mengetahui pengaruh penambahan fiber glass reinforced terhadap penyerapan air dan stabilitas warna dilakukan uji statistik Anova dan Uji-Pearson untuk melihat korelasi antara penyerapan air dan stabilitas warna pada setiap kelompok. Hasil penelitian menunjukkan terdapat pengaruh penambahan fiber glass reinforced pada bahan basis nilon termoplastik terhadap penyerapan air (p= 0,005) dan terhadap stabilitas warna (p= 0,042). Berdasarkan uji Pearson tidak ada korelasi antara penyerapan air dan stabilitas warna untuk setiap kelompok, kelompok tanpa fiber dengan r= 0,241; p= 0,532, kelompok fiber 1% dengan r= -0,170; p= 0,965 dan pada kelompok fiber 1,5% dengan r= -0,591; p= 0,094. Nilai koefisien korelasi (r) pada kelompok fiber 1% dan fiber 1,5% adalah negatif, artinya ada kecenderungan hubungan yang berlawanan antara penyerapan air dan stabilitas warna. Sebagai kesimpulan, penambahan fiber glass reinforced 1% dan 1,5%, dapat menurunkan nilai penyerapan air dan meningkatkan stabilitas warna bahan basis gigi tiruan nilon termoplastik.
PENGARUH LAMA DESINFEKSI DENGAN ENERGI MICROWAVE TERHADAP PERUBAHAN DIMENSI DAN JUMLAH CANDIDA ALBICANS BASIS GIGI TIRUAN RESIN AKRILIK POLIMERISASI PANAS: DISINFECTION DURATION EFFECT OF MICROWAVE ENERGY TO DIMENSIONAL CHANGE AND QUANTITY OF CANDIDA ALBICANS ON HEAT POLYMERIZATION ACRYLIC RESIN DENTURE BASE Putri Welda Utami Ritonga; Haslinda Tamin; Dwi Suryanto
Dentika: Dental Journal Vol. 17 No. 3 (2013): Dentika Dental Journal
Publisher : TALENTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (158.965 KB) | DOI: 10.32734/dentika.v17i3.1716

Abstract

Metode desinfeksi dengan energi microwave merupakan metode yang efektif karena dapat membunuh beberapa mikroorganisme. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh lama desinfeksi dengan energi microwave terhadap perubahan dimensi dan jumlah Candida albicans basis gigi tiruan resin akrilik polimerisasi panas serta korelasi antara perubahan dimensi dan jumlah Candida albicans basis gigi tiruan resin akrilik polimerisasi panas terhadap lama desinfeksi dengan energi microwave. 64 sampel resin akrilik polimerisasi panas berbentuk batang uji berukuran 65 mm x 10 mm x 2,5 mm digunakan pada penelitian ini, dan dibagi menjadi 4 kelompok untuk pengukuran perubahan dimensi dan 4 kelompok untuk penghitungan jumlah Candida albicans, yaitu masing-masing 8 sampel didesinfeksi dengan microwave berdaya 800 watt selama 2, 3, 4 menit dan kontrol. Data dianalisis dengan uji Anova satu arah dan Pearson. Hasil penelitian menunjukkan ada pengaruh lama desinfeksi dengan energi microwave terhadap perubahan dimensi basis gigi tiruan resin akrilik polimerisasi panas dengan nilai p= 0,001, dan terhadap jumlah Candida albicans pada basis gigi tiruan resin akrilik polimerisasi panas dengan nilai p= 0,001, namun tidak ada korelasi antara perubahan dimensi dan jumlah Candida albicans untuk setiap kelompok. Sebagai kesimpulan, desinfeksi dengan energi microwave dapat dilakukan dalam 3 menit dengan daya 800 watt, karena efektif mendesinfeksi basis gigi tiruan resin akrilik polimerisasi panas dan perubahan dimensi yang terjadi masih termasuk dalam batas toleransi.
FAKTOR RISIKO KEPARAHAN GINGIVAL LEAD LINE PADA PETUGAS SPBU DI MEDAN : RISK FACTORS OF GINGIVAL LEAD LINE SEVERITY OF GAS STATION EMPLOYEE IN MEDAN Siska Ella Natassa; Rika Mayasari Alamsyah; Raja Arief Rahman Siregar
Dentika: Dental Journal Vol. 17 No. 3 (2013): Dentika Dental Journal
Publisher : TALENTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (180.951 KB) | DOI: 10.32734/dentika.v17i3.1723

Abstract

Timbal/Plumbum (Pb) adalah salah satu hasil emisi gas buang kendaraan bermotor yang dapat terhirup manusia. Keracunan timbal kronis pada rongga mulut dapat diamati dengan terbentuknya gingival lead line. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan oral higiene dan masa kerja dengan terjadinya gingival lead line pada pegawai SPBU di Medan. Rancangan penelitian adalah cross sectional. Untuk mengetahui hubungan skor OHIS dan masa kerja dengan keparahan gingival lead line digunakan uji chi-square. Sampel berjumlah 57 orang yang diambil secara purposif. Hasil penelitian menunjukkan prevalensi derajat gingival lead line ringan 40,4%, sedang 14%, dan keparahan berat 8,8%. Petugas SPBU yang mempunyai skor indeks Oral Hygiene Simplified (OHIS) baik menderita gingival lead line ringan 25% dan selebihnya normal 75%. Petugas SPBU yang mempunyai skor OHIS sedang mengalami gingival lead line ringan 47,2%, sedang 22,2%, dan berat 5,56%. Petugas SPBU yang mempunyai skor OHIS buruk mengalami gingival lead line berat 60% dan ringan 40%. Petugas SPBU dengan masa kerja singkat mengalami derajat gingival lead line ringan 45%, sedang 15%, berat 5%, dan tidak mengalami 35%. Petugas SPBU dengan masa kerja lama mengalami gingival lead line ringan 27%, sedang 43,2%, berat 16,2%, dan tidak mengalami gingival lead line 13,5%. Ada hubungan yang signifikan antara skor OHIS dengan derajat keparahan gingival lead line (p= 0,000). Demikian juga ada hubungan masa kerja dengan derajat keparahan gingival lead line (p= 0,036). Sebagai kesimpulan, oral higiene dan masa kerja memperparah gingival lead line pada petugas SPBU.
EFEK PENAMBAHAN KITOSAN MOLEKUL TINGGI NANOPARTIKEL PADA SEMEN IONOMER KACA NANOPARTIKEL TERHADAP KEMAMPUAN BERTAHAN HIDUP SEL PULPA: EFFECT OF HIGH MOLECULAR CHITOSAN NANOPARTICLE ADDITION IN GIC NANOPARTICLE TO VIABILITY OF PULP CELLS Henny Sutrisman; Trimurni Abidin; Harry Agusnar
Dentika: Dental Journal Vol. 17 No. 3 (2013): Dentika Dental Journal
Publisher : TALENTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (244.048 KB) | DOI: 10.32734/dentika.v17i3.1725

Abstract

Beberapa penelitian menyarankan penggunaan SIKMR untuk teknik ART dengan tujuan untuk mencapai tingkat kesuksesan restorasi yang lebih tinggi. Pada saat ini dengan perkembangan teknologi nano, material ini juga tersedia dalam bentuk partikel nano yang disebut semen ionomer kaca modifikasi resin nanopartikel (SIKMRn). Penggunaan produk alam di dalam dunia kedokteran gigi juga meningkat, kitosan merupakan salah satu produk alam yang digunakan untuk meningkatkan bioaktivitas dari SIK. Penelitian menunjukkan kitosan dapat menstimulasi proses proliferasi sel. Penelitian ini bertujuan untuk melihat efek penambahankitosan molekul tinggi nanopartikel pada semen ionomer kaca nanopartikel untuk meningkatkan viabilitas sel pulpa. Bahan restorasi yang ditambahkan kitosan nanopartikel melalui spesimen berukuran 4x3 mm dipaparkan pada kultur mouse dental pulp cell lines selama 72 jam dengan keadaan in vitro. Kalsium hidroksida digunakan sebagai kontrol. Viabilitas sel dihitung dengan menggunakan MTT (3-[4,5dimethylthiazol-2-yl]-2,5 diphenyl-tetrazoliumbromide) assay. Data diuji dengan uji Anova dan diikuti uji LSD dengan nilai yang signifikan p< 0,05. Hasil penelitian menunjukkan penambahan kitosan dapat meningkatkan kemampuan bertahan hidup sel baik pada SIKMR dan SIKMRn (p< 0,05). Sebagai kesimpulan, adanya penambahan kitosan molekul tinggi nanopartikel dengan 0,015% berat pada semen ionomer kaca modifikasi resin nanopartikel dapat meningkatkan viabilitas sel pulpa secara in vitro.
PERBEDAAN PENURUNAN SKOR PLAK ANTARA MENGUNYAH BUAH APEL DAN JAMBU BIJI PADA SISWA SMP NEGERI: DIFFERENCE OF PLAQUE SCORE DECREASING BETWEEN CHEWING APPLE AND GUAVA IN GOVERNMENT JUNIOR HIGH SCHOOL Lina Natamiharja; Evawati Sitorus
Dentika: Dental Journal Vol. 17 No. 3 (2013): Dentika Dental Journal
Publisher : TALENTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (76.064 KB) | DOI: 10.32734/dentika.v17i3.1730

Abstract

Plak merupakan faktor etiologi utama terjadinya karies dan penyakit periodontal. Beberapa buah segar, setengah matang, berair, dan berserat dapat menurunkan indeks plak, seperti buah apel dan jambu biji. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan penurunan skor plak setelah mengunyah buah apel dan jambu biji dibandingkan dengan menyikat gigi. Rancangan penelitian adalah pre and post test group design. Jumlah sampel adalah 60 siswa dan dibagi menjadi 3 kelompok secara random yaitu kelompok mengunyah buah apel, mengunyah buah jambu biji dan menyikat gigi (sebagai kontrol). Yang mana masing-masing kelompok terdiri atas 20 siswa. Analisis data menggunakan uji Anova. Hasil penelitian menunjukkan rerata skor plak sebelum mengunyah buah apel adalah 1,21 ± 0,33, sesudah mengunyah buah apel 0,95 ± 0,30. Rerata skor plak sebelum mengunyah buah jambu biji adalah 1,69 ± 0,31, sesudah mengunyah buah jambu biji 1,11 ± 0,33. Rerata skor plak sebelum menyikat gigi adalah 1,92 ± 0,34, sesudah menyikat gigi 1,01 ± 0,35. Ada perbedaan yang bermakna rerata skor plak sebelum dan sesudah mengunyah buah apel, mengunyah buah jambu biji dan menyikat gigi (p< 0,05). Selisih rerata skor plak sebelum dan sesudah mengunyah buah apel adalah 0,25 ± 0,10, mengunyah buah jambu biji 0,57 ± 0,14 dan menyikat gigi 0,90 ± 0,21. Secara statistik ada perbedaan yang bermakna (p< 0,001). Sebagai kesimpulan, mengunyah jambu biji lebih baik dalam menurunkan skor plak dibandingkan dengan mengunyah buah apel, tetapi menyikat gigi paling efektif dalam menurunkan skor plak.
ANALISIS KARIOGRAM DALAM PENGUKURAN RISIKO KARIES PADA SISWA SMP MEDAN : CARIOGRAM ANALYSIS IN CARIES RISK ASSESSMENT OF JUNIOR HIGH SCHOOL STUDENT IN MEDAN
Dentika: Dental Journal Vol. 17 No. 3 (2013): Dentika Dental Journal
Publisher : TALENTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (184.955 KB) | DOI: 10.32734/dentika.v17i3.1732

Abstract

Pengukuran risiko karies merupakan komponen penting yang diperlukan agar dapat melakukan tindakan pencegahan yang ditujukan langsung kepada orang yang mempunyai risiko tinggi terhadap karies. Penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi risiko karies pada siswa SMP Kalam Kudus di Medan berdasarkan analisis kariogram. Sampel dipilih secara purposif yaitu pada siswa kelas 1 dan 2 sebanyak 72 orang. Pengukuran risiko karies dilakukan dengan bantuan model Cariogram berbasis computer yang mencakup 7 parameter, yaitu pengalaman karies, skor plak, diet, frekuensi makan makanan ringan, penggunaan fluor, sekresi saliva dan kapasitas buffer. Hasil penelitian menunjukkan rerata skor pengalaman karies pada responden 1,65 ± 1, 61 dan skor plak (P1) 0,4-1,0 yang dikelompokkan dalam kariogram masing-masing sebagai skor 1. Sebanyak 36,1% responden sangat sering mengonsumsi jajanan dengan kandungan karbohidrat sedang. Hampir keseluruhan responden (91,6%) mengonsumsi makanan dengan frekuensi maksimal tiga kali dalam satu hari yang dikelompokkan dalam kariogram sebagai skor 0. Sebanyak 34,7 % responden mempunyai oral higiene yang baik, yaitu. Hampir keseluruhan responden menyatakan menggunakan pasta gigi yang mengandung fluoride. Sebanyak 41,7% responden mempunyai skor rata-rata sekresi saliva 0,5-0,9 ml/menit yang dikelompokkan dalam kariogram sebagai skor 2. Keseluruhan responden mempunyai kapasitas bufer dengan pH normal, yaitu pH ≥ 6,0 yang dikelompokkan dalam kariogram sebagai skor 0. Dari hasil analisis kariogram, terlihat bahwa sebanyak 58,33% siswa pada tingkat risiko karies sedang, dan 36,11% memiliki tingkat risiko karies rendah. Hanya 5,55% siswa yang memiliki tingkat risiko karies tinggi. Namun demikian, diharapkan agar siswa tetap menjaga pola makan dengan mengonsumsi jajanan yang mengandung karbohidrat rendah dan frekuensi maksimal 3 kali sehari. Selain itu, melakukan aplikasi fluor seperti topikal aplikasi fluor (TAF) secara rutin untuk mengurangi risiko terjadinya karies. Sebagai kesimpulan, kariogram cukup efektif untuk digunakan sebagai pengukuran risiko karies pada anak sekolah.
HUBUNGAN pufa DENGAN KUALITAS HIDUP PADA SISWA USIA 6-8 TAHUN DI SD NEGERI DI MEDAN : RELATIONSHIP BETWEEN pufa AND QUALITY OF LIFE OF 6-12 YEAR-OLD ELEMENTARY SCHOOL STUDENTS IN MEDAN Gema Nazri Yanti; Rika Mayasari Alamsyah; Karsa Rajagukguk
Dentika: Dental Journal Vol. 17 No. 3 (2013): Dentika Dental Journal
Publisher : TALENTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1957.882 KB) | DOI: 10.32734/dentika.v17i3.1735

Abstract

Kerusakan pada gigi atau karies merupakan penyakit yang paling umum terjadi pada anak-anak. Karies gigi yang tidak dirawat dapat mengakibatkan pulpitis, ulserasi, fistula dan abses (pufa) yang dapat berdampak terhadap kualitas hidup anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan skor pufa dengan kualitas hidup pada siswa usia 6-8 tahun di 2 SD Negeri kota Medan. Jenis penelitian adalah cross sectional study dengan populasi siswa usia 6-8 tahun di SD Negeri 060889 dan 060894 kota Medan. Seluruh populasi dijadikan sampel berjumlah 206 orang. Pengumpulan data akibat karies yang tidak dirawat menggunakan indeks pufa dan skor kualitas hidup menggunakan indeks Child Perceptions Questionnaire (CPQ). Hubungan skor pufa dengan kualitas hidup dianalisis menggunakan chi square test. Hasil penelitian menunjukkan rerata skor pufa 0,85 ± 0,93 dan sebagian besar responden memiliki kualitas hidup baik yaitu 62,8%, cukup 30,8% dan buruk 6,6%. Ada hubungan yang signifikan antara skor pufa dengan kualitas hidup pada anak SD Negeri di kota Medan (p= 0,000). Semakin meningkat skor pufa, persentase kualitas hidup baik semakin menurun, sebaliknya persentase kualitas hidup sedang dan buruk semakin meningkat. Sebagai kesimpulan, ada hubungan yang signifikan antara skor pufa dan kualitas hidup pada siswa SD.
IMPRESSION DIMENSIONAL CHANGE OF POLYVINYL SILOXANE LIGHT AND MEDIUM BODY MATERIAL BY USING PERFORATED TRAY : PERUBAHAN DIMENSI CETAKAN BAHAN CETAK POLYVINYL SILOXANE LIGHT DAN MEDIUM BODY DENGAN MENGGUNAKAN SENDOK CETAK BERLUBANG Sumadhi Sastrodihardjo; Dahliana Purba
Dentika: Dental Journal Vol. 17 No. 3 (2013): Dentika Dental Journal
Publisher : TALENTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1837.799 KB) | DOI: 10.32734/dentika.v17i3.1740

Abstract

Generally impression materials including elastomer impression materials show dimensional changes after impression taking. There are many investigations that show these dimensional changes with several causal factor possibilities proposed by the authors. The actual causal factor has not been elucidated yet. The aim of this study was to find out the behaviour and dimensional changes occured in two types of elastomeric impression consistency materials by using perforated tray. Light and medium body types of polyvinyl siloxane impression materials were used in this study. Impression consistency materials were tested with the method noted at the ANSI/ ADA specification no.19-2000. Design of study post-test only. Impression was taken by using perforated metal tray on frustum conical metal master die (n= 10 impressions/material). The dimensions of samples were measured by using digital calliper (Mitutoyo, Japan) at base, top area and height. The dimensional changes were calculated from master and stone die measurement. The results showed that there were dimensional changes occured in all of observed areas. Light body type showed dimensional changes at base, top area and height as many as (+) 0.032 ± 0.016 mm, (-) 0.136 ± 0.045 mm and (+) 0.112 ± 0.022 mm, respectively. Medium body type showed dimensional changes at base, top area and height as many as (+) 0.009 ± 0.013 mm, (-) 0.090 ± 0.016 mm and (+) 0.085 ± 0.010mm, respectively. In conclusion, there were significant differences between light and medium body types of polyvinyl siloxane impression materials caused the quantity of dimensional changes on impression (p< 0.05). Stress releasing passes through the holes on perforated tray may take a possible role to cause different direction of dimensional changes on impression.
HUBUNGAN DIMENSI VERTIKAL TULANG VERTEBRA SERVIKALIS DAN WAJAH PADA MAHASISWA KEDOKTERAN GIGI RAS DEUTRO-MELAYU: RELATIONSHIP BETWEEN VERTICAL DIMENSION OF CERVICAL VERTEBRA BONE AND FACIAL PATTERN IN UNDERGRADUATE OF DENTAL USU STUDENTS OF DEUTRO-MALAY RACE Siti Bahirrah; Dea Philia Swastika
Dentika: Dental Journal Vol. 17 No. 3 (2013): Dentika Dental Journal
Publisher : TALENTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2620.62 KB) | DOI: 10.32734/dentika.v17i3.1744

Abstract

Pertumbuhan tulang vertebra servikalis mempengaruhi tipe wajah individu. Penelitian menunjukkan pada individu dengan leher yang panjang memiliki tipe wajah yang panjang dan individu dengan leher yang pendek ditemukan tipe wajah yang pendek. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat hubungan antara dimensi tulang vertebra servikalis dan wajah pada mahasiswa FKG USU Ras Deutro-Melayu. Penelitian ini menggunakan 50 foto sefalometri lateral yang diperoleh dari mahasiswa FKG USU ras Deutro-Melayu. Metode yang digunakan dalam pengukuran adalah metode Karlsen. Hasil penelitian menunjukkan rerata dimensi vertikal tulang vertebra servikalis adalah 81,99 mm dan dimensi vertical wajah 33,22o. Sebagai kesimpulan, individu dengan leher yang panjang memiliki tipe wajah yang panjang dan individu dengan leher pendek memiliki tipe wajah yang pendek.

Page 10 of 39 | Total Record : 390


Filter by Year

2009 2025