cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. aceh besar,
Aceh
INDONESIA
Jurnal Manajemen Sumberdaya Lahan
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Arjuna Subject : -
Articles 60 Documents
Efektivitas Penggunaan Kotoran Ternak untuk Memperbaiki Sifat Kimia Tanah dan Kualitas Rumput Brachiaria humidicola pada Lahan Penggembalaan Herawati Latif; Sufardi Sufardi; M. Yunus
Jurnal Manajemen Sumberdaya Lahan Vol 1, No 1 (2012): Volume 1, Nomor 1, Juni 2012
Publisher : Program Studi Magister Konservasi Sumberdaya Lahan, Pascasarjana, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (440.476 KB)

Abstract

ABSTRAK. Penelitian dilaksanakan di lahan penggembalaan Desa Leupon Kecamatan Blang Bintang Kabupaten Aceh Besar pada tanggal 20 Januari sampai 12 Mei 2011. Penelitian bertujuan untuk mengetahui efektivitas penggunaan jenis dan dosis kotoran ternak terhadap perbaikan sifat kimia tanah dan kualitas rumput Brachiaria humidicola  pada lahan penggembalaan. Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok  (RAK) pola faktorial, yaitu faktor jenis kotoran ternak dan dosis kotoran ternak. Parameter yang diamati yaitu : (1) sifat kimia tanah  dan (2) kualitas rumput Brachiaria humidicola (Bh). Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis dan dosis kotoran ternak terdapat interaksi terhadap pH H2O, P-tersedia, K-dd, KTK tanah dan C-organik tanah. Faktor tunggal jenis kotoran ternak berpengaruh terhadap P-tersedia, K-dd dan KTK tanah. Dosis kotoran ternak berpengaruh terhadap pH H2O dan KCl, C-organik, N-total, P-tersedia, K-dd dan KTK tanah. Jenis dan dosis kotoran ternak secara interaksi berpengaruh terhadap protein kasar dan serat kasar serta kadar abu. Faktor tunggal jenis kotoran ternak berpengaruh terhadap bahan kering dan serat kasar rumput Brachiaria humidicola. Dosis kotoran ternak berpengaruh terhadap protein kasar dan serat kasar serta memberikan hasil terbaik pada dosis 15 ton/ha.The Use of Animal Manure Effectivity to Improve Some Soil Chemical Properties and Quality of Brachiaria humidicola Grass on Grazing LandABSTRACT. The research was conducted on grazing land of Leupon Village in  Blang Bintang Sub District,  Aceh Besar on January 20 to May 12, 2011. This study was aimed at determining effectiveness of types and doses of  animal manure to improve soil chemical characteristics and quality of Brachiaria humidicola grass on grazing land. The experiment used a randomized complete block design (RCBD) in factorial pattern.  Factors evaluated were manure types and manure doses. Variables observed were (1) soil chemical characteristics and (2) Brachiaria humidicola grass quality. The results showed that there was significant interaction between types and doses of animal manure on  pH-H2O, available P, exchangeable K, soil CEC, and soil organic C. As a single factor, manure types exerted significant effects on available P, exchangeable K, and soil CEC. Manure doses also exerted significant effects on pH- H2O and KCl, soil organic C, total N, available P, exchangeable K,  and soil CEC. There were significant interactions between types and doses of manure on crude protein, crude fiber, and ash content. A single factor, types of animal manure exerted significant effects on dry matter and crude fiber of Brachiaria humidicola grass. Doses of animal manure also exerted significant effects on crude protein and crude fiber. The best result was chicken manure  at dose of 15 tons per ha.
Kebutuhan Ruang Terbuka Hijau Kota Banda Aceh Saiful Bahri; Darusman Darusman; Syamaun A. Ali
Jurnal Manajemen Sumberdaya Lahan Vol 1, No 1 (2012): Volume 1, Nomor 1, Juni 2012
Publisher : Program Studi Magister Konservasi Sumberdaya Lahan, Pascasarjana, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (208.002 KB)

Abstract

Abstrak. Dampak negatif dari sub-optimalisasi ruang terbuka hijau berupa menurunnya kenyamanan kota, penurunan kapasitas dan daya dukung wilayah yang dicirikan dengan meningkatnya pencemaran, menurunnya kualitas air tanah, meningkatkan suhu kota, serta menurunnya kualitas oksigen atau udara bersih di perkotaan. Dalam rangka memelihara dan meningkatkan kualitas lingkungan di Kota Banda Aceh, maka perlu mempertahankan dan mengembangkan RTH. Penelitian diskriptif ini bertujuan untuk menentukan standar luas minimal dan kecukupan RTH yang dibutuhkan di Kota Banda Aceh berdasarkan pendekatan luas wilayah dan kebutuhan oksigen. Data Primer diperoleh melalui pengamatan, survei lapangan, wawancara dan analisis Peta Kota Banda Aceh sedangkan data sekunder diperoleh melalui studi kepustakaan dan dari berbagai instansi terkait yang berhubungan dengan analisis ini. Analisis data kebutuhan RTH berdasarkan luas wilayah dilakukan menurut Undang-Undang No, 26 Tahun 2007 dan berdasarkan kebutuhan oksigen menggunakan formula Gerakis yang dimodifikasi oleh Wisesa (1998). Hasil penelitian menunjukkan bahwa standar luas minimal RTH yang dibutuhkan di Kota Banda Aceh berdasarkan luas wilayah  seluas 1.840,77 ha terdiri dari 1.227,2 ha RTH publik dan 613,6 ha RTH privat, sedangkan berdasarkan kebutuhan oksigen penduduk, kendaraan bermotor dan ternak dibutuhkan RTH seluas 1.605,82 ha tahun 2011, 1.838,31 ha tahun 2014 dan  2.148,58  ha  tahun 2018. Kondisi eksisting RTH yang ada di Kota Banda Aceh seluas 1.474,79 ha yang terdiri dari 676.27 ha RTH Publik dan 798,52 ha RTH Privat, sehingga belum memenuhi standar kecukupan minimal kebutuhan RTH ditinjau berdasarkan luas wilayah dan kebutuhan oksigen.Green Open Space Needs Area in the City of Banda AcehAbstract. The negative impact of sub-optimization of green open space in the form of declining urban comfort, reduced capacity and carrying capacity of the region which is characterized by the increasing pollution, declining water quality of the soil, increasing the temperature of the city, as well as the decrease in oxygen or air quality in urban areas clean. In order to maintain and improve environmental quality in the city of Banda Aceh, it is necessary to maintain and develop the green space. This descriptive study aimed to determine the broad minimum standards and the adequacy of the required green space in the city of Banda Aceh area based approach and the need for oxygen. Primary data obtained through observation, field surveys, interviews and analysis of maps of Banda Aceh, while the secondary data obtained through the study of literature and of the various agencies associated with this analysis. Data analysis was based on an area of green open space needs be done according to Law No. 26 Year 2007 and based on the need for oxygen using a modified formula Gerakis by Wisesa (1998). The results showed that the standard minimum area needed green space in the city of Banda Aceh based on an area of 1840.77 ha area consists of 1227.2 ha and 613.6 ha of public green space private green space, while based on the oxygen demand of the population, motor vehicles and livestock needed green space an area of 1605.82 ha in 2011, 1838.31 ha 2148.58 ha in 2014 and 2018. Existing condition of existing green space in the city of Banda Aceh area of 1474.79 ha consisting of 676.27 ha and 798.52 ha of Public RTH RTH Privat, so do not meet minimum adequacy standards are reviewed based on the needs of an area of green space and the need for oxygen.
Kesuburan Tanah pada Sistem Budidaya Konvensional dan SRI di Kabupaten Aceh Besar Nurhasanah Nurhasanah; Sufardi Sufardi; Syakur Syakur
Jurnal Manajemen Sumberdaya Lahan Vol 1, No 2 (2012): Volume 1, Nomor 2, Desember 2012
Publisher : Program Studi Magister Konservasi Sumberdaya Lahan, Pascasarjana, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (265.467 KB)

Abstract

Soil Fertility of Rice Land Management of Conventional Farming and SRI in Aceh Besar.Abstract: The purpose of this study was to assess the characteristics of wetland soil fertility levels in the conventional cultivation system and System of Rice Intensification. This research used descriptive and comparative surveys conducted by soil sampling in the field at two wetland sites under study. The results showed that the characteristics of soil chemical properties such as pH, C-organic, total N, the ratio C/N, available P, P2O5, K2O, Ca-exch, Mg-exch, K-exch, Na-exch, Cation Exchange Capacity and Base Saturation between conventional cultivation and System of Rice Intensification no different that the fertility status did not change significantly (p 0,05) except Al-exch is experiencing significant changes (p ≤ 0,05). Soil fertility levels in the conventional cultivation system and System of Rice Intensification nonsignificant.Abstrak: Tujuan penelitian adalah untuk mengkaji karakteristik tingkat kesuburan tanah sawah pada sistem budidaya konvensional dan System of Rice Intensification. Penelitian ini menggunakan metode survei dengan pendekatan deskriptif dan komparatif yang dilakukan dengan pengambilan contoh tanah di lapangan pada dua lokasi lahan sawah yang diteliti. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik sifat-sifat kimia tanah seperti pH, C organik, N total, nisbah C/N, P tersedia, P2O5, K2O, Ca dd, Mg dd, K dd, Na dd, KTK dan KB antar budidaya konvensional dan System of Rice Intensification tidak berbeda sehingga status kesuburan juga tidak berbeda secara signifikan (p0,05) kecuali Al dd yang mengalami perubahan signifikan (p≤0,05), dengan lain perkataan tingkat kesuburan tanah pada sistem budidaya konvensional dan System of Rice Intensification secara keseluruhan tergolong sama.
Analisis Citarasa Kopi Arabika Organik pada Beberapa Ketinggian Tempat dan Cara Pengolahannya di Datararan Tinggi Gayo Eka Wahyuni; Abubakar Karim; Ashabul Anhar
Jurnal Manajemen Sumberdaya Lahan Vol 2, No 3 (2013): Volume 2, Nomor 3, Juni 2013
Publisher : Program Studi Magister Konservasi Sumberdaya Lahan, Pascasarjana, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (435.471 KB)

Abstract

Analysis of Taste Quality of Organic Arabica Coffee in Several Altitudes and Processing Techniques in Gayo HighlandsAbstract. In general several varieties of Arabica are cultivated at the same altitude, which cause loss of their unique flavor of Arabica Gayo Highlands. This research was aimed to find out of superior varieties of Arabica coffee with a unique flavor score at a certain altitude and specific processing technique in the Gayo Highlands. There were five varieties of Arabica coffee observed. (Borbor, Bergendal, Ateng Super, Tim-Tim and Lini-S), in four altitudes: (1. 1.000 m; 2. 1.000 -1.200 m; 3. 1.200 1.400 m; and 4. 1.400 m above sea level). A survey method with descriptive analysis was used, based on altitude and land use maps on 20 observation sites. Ideal altitude of varieties were identified as nell as soil and barriers samples were analyzed. Arabica coffee varieties was determined by cluster analysis, correlations, followed by multiple regression. Evaluation scores of flavor varieties of Arabica coffee and altitude showed that Borbor variety was suitable at altitude 1.400 above sea level, Tim-Tim 1.200 m, and Ateng super at altitude 1.200 -1.400 m above sea level. Processing method of organic Arabica coffee which produced high flavor quality (taste) was a semi wash processing. Result of multiple regression analysis showed a very close relationship between land characteristics and score flavor criteria, R2 was 0.894. Determinants of the best and unique flavor is the altitude, climate and processing of organic Arabica coffee beansAbstrak. Beberapa varietas kopi Arabika umumnya dibudidayakan dan dikembangkan pada ketinggian tempat yang sama yang menyebabkan mulai hilangnya citarasa khas (unik) kopi Arabika dataran tinggi Gayo. Penelitian ini bertujuan menetapkan varietas unggul kopi Arabika organik yang mempunyai citarasa unik pada berbagai ketinggian tempat dan cara pengolahannya. Ada lima varietas kopi Arabika, yaitu: Borbor, Bergendal, Ateng Super, Tim-Tim dan Lini-S yang diamati pada masing-masing ketinggian tempat; (1. 1.000 m, 2. 1.000 -1.200 m, 3. 1.200 -1.400 m dan 4. 1.400 m di atas permukaan laut). Metode yang digunakan adalah metode survei dengan analisis deskriptif. Berdasarkan peta ketinggian tempat, penggunaan lahan dan varietas kopi yang ditemui maka diperoleh 20 tapak pengamatan. Pada setiap tapak pengamatan dilakukan identifikasi varietas, pengambilan contoh gelondong buah kopi matang dan contoh tanah. Untuk menentukan ketinggian tempat yang ideal serta masing-masing varietas-varietas kopi Arabika dilakukan analisis gerombol, analisis korelasi antar karakteristik lahan yang dilanjutkan dengan regresi berganda. Berdasarkan hasil menunjukkan varietas Borbor sesuai pada ketinggian tempat 1.400 m, varietas Tim-Tim 1.200 m, dan Ateng Super pada semua ketinggian 1.200 -1.400 m diatas permukaan laut. Pengolahan biji kopi Arabika organik yang menghasilkan mutu kualitas citarasa yang terbaik dan khas (unik) adalah pengolahan basah cara basah. Hasil analisis regresi berganda antara karakteristik lahan dengan kriteria citarasa kopi Arabika pengolahan basah cara basah diperoleh hubungan yang sangat erat (R2) adalah 0,894. Penentu citarasa yang terbaik dan unik adalah Ketinggian tempat, iklim dan pengolahan biji kopi Arabika organik.
Evaluasi Kriteria Kesesuaian Lahan Kopi Arabika Gayo 2 di Dataran Tinggi Gayo Reza Salima; Abubakar Karim; Sugianto Sugianto
Jurnal Manajemen Sumberdaya Lahan Vol 1, No 2 (2012): Volume 1, Nomor 2, Desember 2012
Publisher : Program Studi Magister Konservasi Sumberdaya Lahan, Pascasarjana, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (655.392 KB)

Abstract

Evaluation Criteria of Land Suitability to Arabica Gayo 2 coffee in the Gayo HighlandsAbstract. Nowadays, coffee development policy is directed at production increasing and physical quality of coffee bean. To reach the best production and physical quality of Arabica coffee bean, the cultivation should be conducted on suitable land and follow the requirement for each variety of Arabica coffee. This research is conducted to evaluate the criteria of the land suitability for Arabica Gayo 2 coffee, and to define the land characteristic based on climate and soil that can affect the physical quality of Arabica Gayo 2 coffee bean. This research is treated by using survey method with descriptive analysis and soil sample analysis in the laboratory that taken from each observation site. The observation sites are examined based on altitude and slope of the land. Soil samples were analyzed about the physical and chemical characteristic of the soil. Characteristic and quality of the land from each observation sites were compared with criteria of Arabica coffee land suitability. Meanwhile, to observe the relationship between land characteristic and Arabica Gayo 2 is conducted by multiple linear correlation analysis. The results show that all of the observation sites have actual land suitability class S3 (represented marginally) and S2 (represented enough) with factors of land altitude limiting, land slope, and soil chemical properties. Potential land suitability class of S2 is represented enough with factors of land altitude limiting, land slope, rooting media (effective depth), soil texture, stone surface, and nutrient availability. Potential land suitability class of S3 is represented marginally with land limiting altitude factor. The highest of production average is obtained at Potential land suitability class of S2 with the highest production at land altitude 1400 meters above sea level and slope 40%.Abstrak. Saat ini kebijaksanaan pengembangan kopi diarahkan pada peningkatan produksi dan  kualitas fisik biji kopi. Untuk mendapatkan produksi dan kualitas fisik biji yang baik maka penanaman kopi Arabika harus dilakukan pada lahan-lahan yang sesuai dan memenuhi persyaratan bagi masing-masing varietas kopi Arabika. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kriteria kesesuaian lahan kopi Arabika Gayo 2 serta menetapkan karakteristik lahan berdasarkan iklim dan tanah yang menentukan kualitas fisik biji kopi Arabika Gayo 2. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode survei dengan analisis deskriptif serta analisis contoh tanah di laboratorium yang diambil dari masing-masing tapak pengamatan. Tapak pengamatan yang diperiksa dibuat berdasarkan ketinggian tempat dan kemiringan lereng. Sampel tanah yang dianalisis adalah fisik dan kimia tanahnya. Karakteristik dan kualitas lahan dari masing-masing tapak pengamatan dibandingkan dengan kriteria kesesuaian lahan kopi Arabika. Sedangkan untuk melihat hubungan antar karakteristik lahan dan antara karakteristik lahan dengan produksi kopi Arabika Gayo 2 dilakukan analisis korelasi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua satuan lahan pengamatan mempunyai kelas kesesuaian lahan aktual S3 (sesuai marginal) dan S2 (cukup sesuai) dengan faktor pembatas ketinggian tempat, lereng dan sifat kimia tanah. Kelas kesesuaian lahan potensial adalah S2 (cukup sesuai) dengan faktor pembatas ketinggian tempat, lereng, media perakaran (kedalaman efektif), tekstur tanah, batu permukaan serta ketersediaan hara dan S3 (sesuai marginal) dengan faktor pembatas ketinggian tempat. Rata-rata produksi tertinggi diperoleh pada kelas kesesuaian lahan potensial S2 (sesuai) dengan produksi paling tinggi pada ketinggian tempat 1.400 m dpl dan lereng 40 %. 
Perbedaan Jarak Tanam dan Dosis pupuk Kandang Terhadap Sifat Kimia Tanah dan Hasil Padi Sawah Abdul Azis; Muyassir Muyassir; Bakhtiar Bakhtiar
Jurnal Manajemen Sumberdaya Lahan Vol 1, No 2 (2012): Volume 1, Nomor 2, Desember 2012
Publisher : Program Studi Magister Konservasi Sumberdaya Lahan, Pascasarjana, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (186.316 KB)

Abstract

Plant Spacing Differences and  Dose of Manure on Soil Chemical Properties and Yield of  Lowland PaddiesAbstract: Objectives of the study were to determine the best plant spacing differences, the dose of manure on soil chemical properties and yield of lowland paddies. Experimental design used was a factorial randomized block design with three replications. The treatments consisted of plant spacing (30 x 15, 30 x 30 and 30 cm x 45 cm) and manure doses (0, 10 and 20 tons manure ha-1). The results showed that a mixture of manure and urea significantly affect the C-organic, N-total and P-available in the soil. The average increase in soil organic C classified as low categories, medium N-total and low P-available. There was significant interaction effect between plant spacing and mixture of manure and urea on Cation Exchange Capacity (CEC) in the soil, so it rises to very high category. Mixture of manure and urea significantly affect grain yield. The average grain yield 6.26 tonnes ha-1 which gained in doses of 10 tons ha-1 manure and urea mixture.Abstrak: Tujuan penelitian untuk mengetahui perbedaan jarak tanam yang terbaik, dosis pupuk kandang terhadap sifat kimia tanah dan hasil padi sawah. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok faktorial dengan tiga ulangan. Perlakuan terdiri atas jarak tanam (30 x 15, 30 x 30 dan 30 cm x 45 cm) dan dosis pupuk kandang (0, 10 dan 20  ton  pupuk kandang ha-1). Hasil penelitian menunjukkan bahwa campuran pupuk kandang dan urea berpengaruh nyata terhadap C-organik, N-total dan P-tersedia tanah. Rata-rata peningkatan C-organik tanah tergolong kategori rendah, N-total sedang, dan P-tersedia tanah rendah. Terjadi pengaruh interaksi yang nyata antara jarak tanam dan campuran pupuk kandang dan urea terhadap Kapasitas Tukar Kation (KTK) tanah, sehingga meningkat sampai kategori sangat tinggi. Campuran pupuk kandang dan urea nyata mempengaruhi hasil gabah. Rata-rata hasil gabah 6,26 ton ha-1 yang terjadi pada takaran 10 ton ha-1 pupuk kandang dan campuran urea.
Degradasi Lahan Akibat Erosi pada Areal Pertanian di Kecamatan Lembah Seulawah Kabupaten Aceh Besar Rusdi Rusdi; M. Rusli Alibasyah; Abubakar Karim
Jurnal Manajemen Sumberdaya Lahan Vol 2, No 3 (2013): Volume 2, Nomor 3, Juni 2013
Publisher : Program Studi Magister Konservasi Sumberdaya Lahan, Pascasarjana, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (273.424 KB)

Abstract

The Evaluation of Land Degradation by Erosion in Agricultural Area at Lembah Seulawah Sub-distrik Aceh Besar Abstract: Land has a large potential in supporting human life activities. It can be used as agricultural areas or settlements; however, by the time it changed functionally. This research was aimed at finding out levels of agricultural land degradation treatment caused by erosion on agricultural land and defining the proper conservation measures for sustainable land utilization, and especially analyzing levels of land degradation caused by erosion in agricultural land on Lembah Seulawah, Aceh Besar District. Land mapping unit was developed based on land utilization map, soil type map, and topography map with scale 1 : 60.000, then overlaid to find out Land Utilization Type (LUT), based on uniformity of land-forming variables. Results showed that there were 4 classifications of erosion hazard levels, i.e. light hazard erosion level (L) found in LUT 5,6,7 and 8, medium hazard erosion level (M) found in LUT 4, heavy hazard erosion level (H) found in LUT 2 and 3, and very heavy hazard erosion level (VH) found in LUT 1. Land use referrals in maintaining preservation actions are by applying vegetative and mechanical methods of conservation. Selection and management of planting pattern, cover crop planting, and uses of plant waste as mulch are recommended on the L and M levels. Development of tree crops (estate and industrial crops) and no agricultural uses are recommended on H and VH levels, respectively.Abstrak: Lahan memiliki potensi besar dalam menunjang aktivitas hidup manusia. Lahan tersebut bisa dijadikan sebagai areal pertanian maupun pemukiman penduduk, sering kali dalam perkembangannya terjadi perubahan fungsi-fungsi lahan dimaksud. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat degradasi lahan akibat erosi pada lahan pertanian dan menentukan arahan korservasi yang tepat sehingga pemanfaatan lahan dapat berkelanjutan di Kecamatan Lembah Seulawah Kabupaten Aceh Besar. Satuan peta lahan ditetapkan berdasarkan peta penggunaan tanah, peta jenis tanah dan peta kelerengan dengan skala 1 : 60.000, kemudian dioverlay untuk mendapatkan peta Tipe Penggunaan Lahan (TPL) yang didasarkan pada keseragaman peubah pembentuk lahan. Hasil penelitian terdapat 4 klasifikasi tingkat bahaya erosi yaitu tingkat bahaya erosi ringan (R) masing-masing terdapat pada TPL 5, 6, 7 dan 8, erosi sedang (S) terdapat pada TPL 4, erosi berat (B) terdapat pada TPL 2 dan 3, sedangkan klasifikasi tingkat bahaya erosi yang sangat berat (SB) terdapat pada TPL 1. Arahan penggunaan lahan yang sesuai dalam menjaga kelestariannya adalah menerapkan tindakan konservasi metode vegetatif dan metode mekanis. Pada lahan dengan tingkat bahaya erosi ringan (R) dan sedang (S) pemilihan dan pengaturan pola tanam, penanaman penutup tanah, penggunaan sisa tanaman sebagai mulsa, pada lahan tingkat bahaya erosi berat (B) dengan cara mengembangkan usaha tani tanaman tahunan (tanaman perkebunan dan tanaman industri), sedangkan pada lahan dengan tingkat bahaya erosi sangat berat (SB) tidak digunakan untuk lahan pertanian. 
Serapan Hara dan Efisiensi Pemupukan Phosfat Serta Pertumbuhan Padi Varietas Lokal Bustami Bustami; Sufardi Sufardi; Bakhtiar Bakhtiar
Jurnal Manajemen Sumberdaya Lahan Vol 1, No 2 (2012): Volume 1, Nomor 2, Desember 2012
Publisher : Program Studi Magister Konservasi Sumberdaya Lahan, Pascasarjana, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (800.239 KB)

Abstract

Nutrient Uptake and Efficiency Fertilizing to Growth Variety Local of RiceAbstract: The study was aimed to determine effects of phosphate fertilizer dosage and varieties on growth, nutrient uptake and fertilizing efficiency of landrace paddy. The research was conducted in Village Aneuk Glee, Indrapuri Sub District, Aceh Besar District. Analysis of phosphorus uptake of rice plants was performed at Laboratory of Soil Research Institute, Bogor. Experiment was arranged in a split plot design with three replications. Factor of phosphorus fertilizer dosage, consisting of three levels (0 kg/ha, 50 kg/ha and 100 kg/ha) was set as main plot and variety (50 varieties) as subplot. Variables observed were plant height, number of tillers, wet weight biomass, dry weight biomass and fertilizing efficiency. Results showed that phosphorus fertilizer dosage exerted highly significant effects on plant height, number of tillers at 20, 23 and 26 days after transplanting, dry weight biomass, nutrient uptake and fertilizing efficiency and exerted significant effects on number of tillers at 14 days after transplanting and wet weight biomass. Variety exerted highly significant effects on plant height, number of tillers, wet weight biomass and dry weight biomass. There were no significant interactions between phosphorus fertilizer dosage and variety on all the observed variables.Abstrak: Penelitian ini dilaksanakan untuk mengetahui pengaruh dosis pupuk fosfat dan varietas terhadap pertumbuhan, serapan hara dan efisiensi pemupukan tanaman padi lokal. Pelaksanaan penelitian lapangan dilakukan di Desa Aneuk Glee Kecamatan Indrapuri Kabupaten Aceh Besar dan analisis serapan fosfor tanaman dilaksanakan di Laboratorium Balai Penelitian Tanah, Bogor. Menggunakan rancangan percobaan petak terpisah (split plot design) dengan tiga ulangan. Perlakuan terdiri atas dosis pemupukan phosfat sebagai petak utama dan varietas (50 varietas) sebagai anak petak. Pengamatan dilakukan terhadap tinggi tanaman, jumlah anakan, serapan hara dan efisiensi pemupukan. Hasil penelitian menunjukkan dosis pupuk fosfat berpengaruh sangat nyata terhadap tinggi tanaman pada semua umur pengamatan, jumlah anakan umur 20, 23 dan 26 hari setelah tanam (HST), berat berangkasan kering, serapan hara dan efisiensi pemupukan serta berpengaruh nyata terhadap jumlah anakan umur 14 HST dan berat berangkasan basah. Varietas berpengaruh sangat nyata terhadap tinggi tanaman, jumlah anakan, berat berangkasan basah, dan berat berangkasan kering. Tidak terdapat interaksi yang nyata antara dosis pupuk fosfat dan varietas terhadap semua peubah yang diamati.
Analisis Kriteria Kesesuaian Lahan Terhadap Produksi Kakao Pada Tiga Klaster Pengembangan di Kabupaten Pidie Mizar Liyanda; Abubakar Karim; Yusya’ Abubakar
Jurnal Manajemen Sumberdaya Lahan Vol 2, No 3 (2013): Volume 2, Nomor 3, Juni 2013
Publisher : Program Studi Magister Konservasi Sumberdaya Lahan, Pascasarjana, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (441.344 KB)

Abstract

Analysis of Land Suitability Criteria for Cocoa Production of Three Cluster Development in Pidie DistrictAbstract. Development of cocoa in Pidie District is divided into three clusters, namely Cluster Padang Tiji, Cluster Keumala and Cluster Tangse. This study was aimed at the analysis of land suitability for cocoa in order to understand relationships between characteristics of the land and production and fat content of cocoa and factors that influence it. Method used was a survey method to obtain land characteristics, management and production levels of cocoa. Land Unit Map (LUM) of each cluster was formed by overlapping maps of soil type, slope, and land use. Evaluation of land suitability on each LUM was done by suitability classification method developed by FAO. Relationships between characteristics of land and production and fat levels were analyzed using correlation analysis. Multiple linear analyses were carried out for land characteristics that significantly affect production components and fat content. The results showed that clusters of Keumala and Padang Tiji had actual land suitability classes of marginal suitable (S3), while Tangse had those of adequately suitable (S2) and marginal suitable (S3). Potential land suitability classes of Padang Tiji cluster was S3, while clusters of Keumala and Tangse were S2 and S3. Results of multiple linear regression analyses showed that there was a very close relationship (R2=0.95) between characteristics of land and production, while a close relationship (R2=0.64) between characteristics of the land and fat content. Determinants of production were altitude, slope, sand fraction, clay fraction, pH H2O, pH KCl, organic C, total N, available P, Na, Al saturation, cation exchange capacity, base saturation and salinity, while determinants of fat content were altitude, organic C, total N, available P, Ca, and Mg.Abstrak. Pengembangan kakao di Kabupaten Pidie dibagi dalam tiga klaster yaitu Klaster Padang Tiji, Keumala dan Tangse. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kesesuaian lahan tanaman kakao sehingga diketahui hubungan antara karakteristik lahan dengan produksi dan kadar lemak kakao serta faktor-faktor yang mempengaruhinya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survai untuk mendapatkan karakteristik lahan, tingkat pengelolaan dan produksi tanaman kakao. Satuan peta lahan (SPL) masing-masing klaster dibentuk berdasarkan tumpang tindih peta jenis tanah, peta lereng dan peta penggunaan lahan. Evaluasi kesesuaian lahan pada setiap SPL menggunakan metode klasifikasi kesesuaian lahan yang dikembangkan oleh FAO. Untuk mengetahui hubungan antar karakteristik dilakukan analisis korelasi antara karakteristik lahan dengan karakteristik produksi serta kadar lemak. Analisis linier berganda dilakukan pada karakteristik lahan yang berpengaruh nyata terhadap komponen produksi dan kadar lemak. Hasil evaluasi lahan Klaster Padang Tiji dan Keumala memiliki kelas kesesuaian lahan aktual sesuai marginal (S3) sedangkan Tangse cukup sesuai (S2) dan sesuai marginal (S3). Kelas kesesuaian lahan potensial Klaster Padang Tiji S3, sedangkan Klaster Keumala dan Tangse S2 dan S3. Hasil analisis regresi linier berganda antara karakteristik lahan terhadap produksi diperoleh hubungan yang sangat erat (R2) 0,95, sedangkan karakteristik lahan terhadap kadar lemak diperoleh hubungan yang erat (R2) 0,64. Penentu produksi adalah ketinggian tempat, lereng, fraksi pasir, fraksi liat, pH H2O, pH KCl, C-organik, N total, P tersedia, Na, kejenuhan Al, kapasitas tukar kation, kejenuhan basa dan salinitas, sedangkan penentu kadar lemak adalah ketinggian tempat, C organik, N total, P tersedia, Ca dan Mg.
Efek Jarak Tanam, Umur dan Jumlah Bibit Terhadap Hasil Padi Sawah (Oryza sativa L.) Muyassir Muyassir
Jurnal Manajemen Sumberdaya Lahan Vol 1, No 2 (2012): Volume 1, Nomor 2, Desember 2012
Publisher : Program Studi Magister Konservasi Sumberdaya Lahan, Pascasarjana, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (337.813 KB)

Abstract

Spacing Effect of Plantation, Age and Number of Seeds on Yield of Rice (Oryza sativa L.)Abstract. The purpose of this research is to obtain the proper standard of seedling age, number of seeds, and spacing of plantation so as to provide growth and rice yield maximally. This research attempted to modify spacing of plantation and habits of farmer used 21-day-after-seedling and number of seeds as many 5 stems or more per planting hole. The spacing of plantation was tested in 20 cm x 20 cm, 25 cm x 25 cm, and 30 cm x 30 cm, the 8-16-day-seedling seeds of age and number of seeds as many 1, 2, and 3 stems per cluster. The design used in this research is Factorial Randomized Block Design (RBD) with 3 replications. The result of this research shows that the spacing of plantation was 30 cm x 30 cm, 8-day-after-seddling-aged seeds and 1 stem of seeds in one hole per cluster may show good results when compared with other treatments. The 30cm x 30cm spacing treatment can provide the slot 8.12 t , the treatment to 8-day-after-seedling result 8.01 t  of slot. The ideal number of seeds per cluster is one stem per cluster which can provide 8.09 t  of slot.Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan standar yang tepat tentang umur bibit, jumlah bibit dan jarak tanam yang tepat sehingga dapat memberikan hasil padi yang maksimal. Penelitian ini mencoba melakukan modifikasi terhadap jarak tanam dan kebiasaan petani selama ini menggunakan bibit umur 21 hari setelah semai dan jumlah bibit 5 batang per lubang tanam atau lebih. Jarak tanam yang diuji 20 cm x 20 cm, 25 cm x 25 cm dan 30 cm x 30 cm, umur bibit 8 dan 16 hari setelah semai dan jumlah bibit 1, 2 dan 3 batang per rumpun. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) Faktorial dengan menggunakan 3 ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jarak tanam 30 cm x 30 cm, umur bibit 8 hari setelah semai dan jumlah bibit satu batang per rumpun dapat memberikan hasil yang terbaik bila dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Perlakuan jarak tanam 30 cm x 30 cm dapat memberikan hasil ubinan 8,12 t ha-1, perlakuan umur bibit 8 HSS dapat hasil ubinan 8,01 t ha-1, demikian juga dengan jumlah bibit per rumpun yang baik adalah satu batang per rumpun dapat memberikan hasil ubinan 8,09 t ha-1.