cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota pontianak,
Kalimantan barat
INDONESIA
Jurnal Mahasiswa Farmasi Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UNTAN
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 382 Documents
Determinasi Metode Analisis Amlodipine Besylate dengan Metode Spektrofotometri UV ., Felix Chandra
Jurnal Mahasiswa Farmasi Fakultas Kedokteran UNTAN Vol 4, No 1 (2019): Jurnal Farmasi Kalbar
Publisher : Jurnal Mahasiswa Farmasi Fakultas Kedokteran UNTAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pengembangan metode analisis amlodipine besylate dilakukan dengan metodespektrofotometri UV. Pelarut yang digunakan yaitu metanol, dapar klorida pH 1,2, dan daparfosfat pH 6,8. Panjang gelombang maksimum pada medium metanol, dapar klorida pH 1,2,dan dapar fosfat pH 6,8 secara berturut-turut berada pada 237, 239, dan 238,5 nm.Determinasi analisis yang dilakukan adalah linearitas, presisi, batas deteksi, batas kuantifikasidan akurasi yang dilakukan sesuai ICH (International Conference on Harmonization)Guidelines. Metode spektrofotometri UV memberikan hasil analisa yang memenuhi linearitas,presisi (kecermatan) dan akurasi (ketepatan).Kata kunci : amlodipine besylate, metanol, dapar klorida pH 1,2, dapar fosfat pH 6,8
PROFIL PENGGUNAAN DIGOKSIN DAN DIURETIK PADA PASIEN GAGAL JANTUNG KONGESTIF DI INSTALASI RAWAT JALAN RSUD SULTAN SYARIF MOHAMMAD ALKADRIE KOTA PONTIANAK PERIODE TAHUN 2016 2018 ., Kornelia Elsi
Jurnal Mahasiswa Farmasi Fakultas Kedokteran UNTAN Vol 4, No 1 (2019): Jurnal Farmasi Kalbar
Publisher : Jurnal Mahasiswa Farmasi Fakultas Kedokteran UNTAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Congestive heart failure (CHF) adalah suatu keadaan dimana jantung tidak dapat memompa darah secara optimal. Penderita gagal jantung seringkali diresepkan obat-obatan dengan risiko terjadinya Drug Related Problems (DRPs) yang mungkin mempengaruhi kondisi pasien CHF. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil karakteristik pasien CHF meliputi usia, jenis kelamin, tekanan darah, komorbid, persentase penggunaan digoksin dan diuretik, dan persentase tingkat keparahan minor dan moderat dari interaksi obat digoksin dan diuretik pada pasien gagal jantung di Instalasi Rawat Jalan RSUD Sultan Syarif Mohamad Alkadrie Pontianak 20162018. Jenis penelitian ini termasuk penelitian observasional menggunakan rancangan studi potong lintang (cross sectional). Pengumpulan data dilakukan secara retrospektif menggunakan data rekam medis pasien rawat jalan gagal jantung kongestif (ICD I50.0). Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling. Penggunaan dan tingkat keparahan interaksi obat digoksin, furosemid dan spironolakton tergolong moderat dan oleh 68,4% pasien, tingkat keparahan obat digoksin dan furosemid tergolong moderat terjadi pada 31,6% pasien, tingkat keparahan interaksi obat digoksin dan spironolakton tergolong minor dan tidak dialami oleh pasien (0%). Kesimpulan dari penelitian ini yaitu penggunaan kombinasi obat digoksin dan diuretik pada pasien CHF tergolong moderat karena berisiko menimbulkan toksisitas digoksin, kondisi hypokalemia dan hipomagnesia, serta jantung tidak teratur (aritmia)
UJI EFEK PENYEMBUHAN LUKA GEL KOMBINASI EKSTRAK ETANOL DAUN SIRIH HIJAU (Piper betle L.) DAN MINYAK CENGKEH (Syzygium aromaticum L.) KONSENTRASI 5% PADA TIKUS PUTIH JANTAN GALUR WISTAR METODE DRESSING NON-DEBRIDEMENT ., Ahlan Zulpiansyah
Jurnal Mahasiswa Farmasi Fakultas Kedokteran UNTAN Vol 4, No 1 (2019): Jurnal Farmasi Kalbar
Publisher : Jurnal Mahasiswa Farmasi Fakultas Kedokteran UNTAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Luka adalah kerusakan pada jaringan yang mengganggu proses selular normal tubuh khususnya pada kulit. Tubuh memiliki mekanisme untuk mengembalikan kompenen-komponen jaringan yang rusak dengan membentuk struktur baru dan fungsional. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas penyembuhan luka sediaan gel kombinasi ekstrak etanol daun sirih hijau (Piper betle L.) dan minyak cengkeh (Syzgium aromaticum L.) konsentrasi 5% dalam mempercepat proses penyembuhan luka tikus stadium II metode dressing non-debridement. Sediaan gel dibuat dengan perbandingan ekstrak daun sirih hijau dan minyak cengkeh, yaitu F1(25:75), F2(50:50), F3(75:25) dan kontrol positif (gel Bioplasenton). Diukur luas area luka menggunakan program Macbiophotonic Image J untuk memperoleh nilai Area Under Curve (AUC) dan dianalisis statistik menggunakan One Way ANOVA. Hasil analisis nilai AUC dari kontrol positif memiliki perbedaan signifikan terhadap kelompok F1, F2, dan F3 (P<0,05), Hal ini mengindikasikan bahwa kelompok F1, F2 dan F3 tidak memiliki efek penyembuhan luka. Sifat fisik sediaan gel kombinasi pada F1, F2 dan F3 menunjukkan hasil organoleptik yang baik dan semua sediaan homogen. Daya sebar sediaan gel yaitu F1, F2 dan F3 masing-masiing memiliki daya sebar 5.12, 3.70 dan 3.44 cm. Daya lekat sediaan gel yaitu F1, F2 dan F3 masing-masing 47.00, 51.67, dan 59.67 detik. Ketiga formula dari analisis statistik diketahui tidak memiliki efek penyembuhan luka dengan daya sebar yang memenuhi syarat pada F1 (5-7 cm) dan daya lekat pada ketiga formula telah memenuhi syarat (>4 detik).
Profil Penderita Penyakit Tuberkulosis Paru BTA Positif di UPT Pelayanan Penyakit Paru Pontianak periode Januari 2017 sampai September 2018 ., Muhamad Ridwan Septiawan
Jurnal Mahasiswa Farmasi Fakultas Kedokteran UNTAN Vol 4, No 1 (2019): Jurnal Farmasi Kalbar
Publisher : Jurnal Mahasiswa Farmasi Fakultas Kedokteran UNTAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tuberkulosis masih menjadi masalah kesehatan di Indonesia. Penyakit ini diestimasikan menyebabkan kematian 1,3 juta jiwa pada tahun 2017. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui profil penderita tuberkulosis BTA positif yang berada di UPT Pelayanan Penyakit Paru Pontianak. Penelitian ini bersifat deskriptif retrospektif dengan menggunakan data rekam medik periode Januari 2017 sampai September 2018. Sampel yang memenuhi kriteria inklusi berjumlah 79 sampel. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sebanyak 64,56% berjenis kelamin laki-laki. Usia yang rentan yaitu usia kategori lansia awal (27,85%). Penderita TB Paru cenderung memiliki berat badan rendah yaitu sekitar 39-54kg (63,29%). Diabetes melitus merupakan penyakit penyerta yang paling banyak yaitu sebesar 52%. Pasien TB Paru diberikan obat tambahan berupa suplemen dan vitamin yaitu sebesar 23,97%.
EVALUASI PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN PNEUMONIA RAWAT INAP DI RSUD dr. SOEDARSO PONTIANAK Ofisya, Laviesta Meitriana; Susanti, Ressi; Purwanti, Nera Umilia
Jurnal Mahasiswa Farmasi Fakultas Kedokteran UNTAN Vol 4, No 1 (2019): Jurnal Farmasi Kalbar
Publisher : Jurnal Mahasiswa Farmasi Fakultas Kedokteran UNTAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pneumonia merupakan infeksi di ujung bronkiol dan alveoli yang menyebabkan peradangan akut parenkim paru-paru yang disebabkan oleh berbagai patogen seperti bakteri, jamur, virus dan parasit, tetapi sebagian besar disebabkan oleh bakteri. Penanganan pneumonia biasanya diberikan antibiotik. Penggunaan antibiotik yang tidak tepat dapat mengakibatkan tidak tercapainya tujuan terapi dan meningkatkan resiko terjadinya resistensi antibiotik. Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik pasien pneumonia, pola penggunaan antibiotik serta kerasionalan dalam penggunaannya. Penelitian ini adalah penelitian observasional dengan pendekatan cross sectional yang bersifat deskriptif dengan teknik pengambilan sampel yaitu total sampling. Hasil penelitian diperoleh 61 pasien yang memenuhi kriteria inklusi. Data yang diperoleh kemudian dievaluasi berdasarkan pedoman yang digunakan yaitu Pedoman Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI 2003), Antibiotic Guidelines 2015-2016, dan British National Formularium (BNF) 2017-2018. Pasien pneumonia paling banyak terjadi pada laki-laki (62,29%) pada rentang usia 0-4 tahun (50,82%). Pola penggunaan antibiotik yang paling banyak digunakan adalah antibiotik terapi tunggal (52,46%) yaitu ceftriakson (29,51%), dengan evaluasi ketepatan yaitu tepat indikasi (100%), tepat obat (93,02%), tepat dosis (68,60%), dan tepat lama pemberian (62,79%).
Profil Antibiotik pada Pasien Intensive Care Unit (ICU) di Rumah Sakit Dr. Soedarso Pontianak Periode Januari Juni 2019 ., Septia Catur Putri
Jurnal Mahasiswa Farmasi Fakultas Kedokteran UNTAN Vol 4, No 1 (2019): Jurnal Farmasi Kalbar
Publisher : Jurnal Mahasiswa Farmasi Fakultas Kedokteran UNTAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Infeksi merupakan masalah yang se ring ditemui pada pasien yang dirawat di ruang perawatan intensif (Intensive Care Unit/ICU). Pasien-pasien yang dirawat di ICU mempunyai imunitas yang rendah, monitoring keadaan secara invasif, terpapar dengan berbagai jenis antibiotik, dan terjadi kolonisasi oleh bakteri resisten. Penggunaan antibiotika lebih dari satu jenis dan dalam waktu lama seringkali untuk penanganan komplikasi infeksi berat di rumah sakit yang merupakan salah satu faktor pemicu terjadinya resistensi bakteri. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pola penggunaan antibiotik dalam persentase dan juga secara kuantitatif dengan menggunakan metode DDD pada pasien ICU di Rumah Sakit Dr. Soedarso Pontianak. Penelitian ini merupakan jenis penelitian observasional dengan rancangan potong lintang yang bersifat deskriptif. Data diperoleh dari 77 rekam medik pasien ICU periode Januari-Juni 2019. Teknik yang digunakan adalah total sampling yang memenuhi kriteria inklusi. Hasil penelitian didapatkan, penggunaan antibiotik yang paling banyak digunakan adalah seftriakson tunggal (49,35%) dan kombinasi (15,59%). Penggunaan antibiotik secara kuantitatif menggunakan metode DDD menunjukkan bahwa antibiotik yang paling sering digunakan adalah seftriakson (76,15 DDD/100 pasien-hari). Kesimpulan dari penelitian ini, antibiotik golongan sefalosporin generasi ketiga khususnya seftriakson yang paling banyak digunakan pada pasien ICU di Rumah Sakit dr. Soedarso Pontianak.
UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI MINUMAN YOGHURT DENGAN STARTER LACTOBACILLUS CASEI TERHADAP BAKTERI STAPYLOCOCCUS AUREUS DAN ESCHERICHIA COLI ., Danu Purnomo
Jurnal Mahasiswa Farmasi Fakultas Kedokteran UNTAN Vol 4, No 1 (2019): Jurnal Farmasi Kalbar
Publisher : Jurnal Mahasiswa Farmasi Fakultas Kedokteran UNTAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Yoghurt merupakan minuman probiotik yang dapat meningkatkan kesehatan manusia. Manfaat dari yoghurt yaitu dapat mengatasi diare yang disebabkan adanya bakteri Stapylococcus aureus dan Escherichia coli yang berlebihan sehingga dapat membuat masalah pada saluran pencernaan. Komponen antibakteri yang penting pada yoghurt ialah bakteriosin yang dihasilkan oleh starter Lactobacillus casei. Bakteriosin dapat diproduksi optimum pada waktu inkubasi jam ke-24 dan jam ke-48, Sehingga dilakukan aktivitas antibakteri pada yoghurt saat inkubasi jam ke-24 dan 48. Metode aktivitas antibakteri pada bakteriosin dilakukan dilakukan dengan menggunakan metode difusi cakram yang sudah ditanamkan Stapylococcus aureus dan Escherichia coli. Hasil uji antibakteri bakteriosin terhadap Escherichia coli pada yoghurt fermentasi jam ke-24 dan 48 menghasilkan zona bening rata-rata sebesar 8,45 0,388 mm dan 6,77 0,999 mm sedangkan hasil uji antibakteri bakteriosin terhadap Stapylococcus aureus pada yoghurt fermentasi jam ke-24 dan 48 menghasilkan zona bening rata-rata sebesar 9,32 0,150 mm dan 7,82 1,205 mm. Dari hasil penelitian bahwa aktivitas antibakteri bakteriosin optimum terjadi pada yoghurt fermentasi 24 jam terhadap bakteri Stapylococcus aureus dan Escherichia coli
KEPATUHAN OBAT PADA PASIEN TUBERKULOSIS PARU FASE INTENSIF PADA PUSKESMAS DI WILAYAH SUNGAI RAYA ., Devia Afiani
Jurnal Mahasiswa Farmasi Fakultas Kedokteran UNTAN Vol 4, No 1 (2019): Jurnal Farmasi Kalbar
Publisher : Jurnal Mahasiswa Farmasi Fakultas Kedokteran UNTAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Kepatuhan pengobatan merupakan ketaatan responden dalam mengkonsumsiobat sesuai dengan yang telah ditentukan. Kepatuhan dalam mengkonsumsi obat tuberkulosismerupakan hal yang penting karena obat tuberkulosis merupakan golongan antibiotik, dimanajika tidak dikonsumsi secara teratur dapat menimbulkan resistensi. Tujuan: Penelitian inibertujuan untuk mengetahui tingkat kepatuhan pengobatan pasien tuberkulosis paru faseintensif pada Puskesmas di wilayah Sungai Raya Metode: Penelitian ini adalah penelitianobservasional dengan pendekatan cross sectional (potong lintang) yang bersifat analitik. Datakepatuhan minum OAT didapatkan dari kuesioner Morisky Medication Adherence Scale-8(MMAS-8) yang diisi oleh responden tuberkulosis. Hasil: Hasil penelitian didapatkan 45responden yang memenuhi kriteria inklusi. Tingkat kepatuhan dari 45 responden 26 responden(57,8%) memiliki kepatuhan yang tinggi, 11 responden (24,4%) memiliki kepatuhan sedangdan 8 responden memiliki kepatuhan rendah (17,8%). Responden dengan tingkat kepatuhanyang tinggi paling banyak diusia 26-35 (masa dewasa awal) yaitu sebanyak 11 responden(24%). Responden yang memiliki kepatuhan rendah paling banyak diusia 17-25 tahun (Masaremaja akhir) yaitu sebanyak 4 responden (9%). Kesimpulan: Pasien Tuberkulosis Paru Fase Intensif pada Pukesmas di wilayah Sungai Raya memiliki kepatuhan yang tinggi yaitu sebesar57,8 % paling banyak diusia 26-35 (masa dewasa awal) sebanyak 11 responden. Kata kunci: Tuberkulosis, Kepatuhan, Sungai Raya, fase intensif
KETEPATAN SWAMEDIKASI MAAG PADA PELAJAR SEKOLAH MENENGAH ATAS NEGERI NON KESEHATAN DI KECAMATAN PONTIANAK SELATAN PERIODE 2019 ., Lady Febrina
Jurnal Mahasiswa Farmasi Fakultas Kedokteran UNTAN Vol 4, No 1 (2019): Jurnal Farmasi Kalbar
Publisher : Jurnal Mahasiswa Farmasi Fakultas Kedokteran UNTAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Maag merupakan salah satu dari banyak penyakit ringan yang bisa ditangani dengan swamedikasi. Swamedikasi atau pengobatan sendiri adalah praktik umum yang sering dilakukan diseluruh dunia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ketepatan swamedikasi maag pada pelajar sekolah menengah atas negeri non kesehatan di Kecamatan Pontianak Selatan yang meliputi aspek 4T, yaitu tepat obat, tepat indikasi, tepat dosis, dan tepat diagnosis. Penelitian ini merupakan penelitian obsevasional dengan menggunakan metode potong lintang (cross sectional) yang bersifat deskriptif. Teknik pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan melakukan wawancara kepada 320 responden siswa sekolah menengah atas negeri non kesehatan di Kecamatan Pontianak Selatan. Obat yang paling banyak digunakan sebagai swamedikasi maag adalah golongan antasida. Persentase hasil penelitian ketepatan swamedikasi maag pada siswa sekolah menengah atas non kesehatan negeri di Kecamatan Pontianak Selatan adalah tepat obat 84,062%, tepat indikasi 84,062%, tepat dosis 94,062%, dan tepat diagnosis 84,062%. Kesimpulannya adalah sebesar 78,44% responden yang melakukan swamedikasi maag tepat berdasarkan 4T. Ulcer is one of the many minor ailments that can be treated self-medication. Self-medication is a common practice throughout the world. This research aims to determine the Self-madication accuracy of ulcer related the 4T aspects, such as the right medicine, indication, dose, and diagnosis, for non-health students of the state Senior High School at sub district of South Pontianak. This research is an observational study with a cross sectional method and it is descriptive. The sampling technique used purposive sampling method. Data collection was carried out by conducting interview with 320 respondents of non-health students. The research result was found that, the drugs most widely used as Self-medication of ulcer are antacids with the Percentage accuracy of ulcer, such as 84,062% for the right medicine, 84,062% for indication, 94,062% for dose, and 84,062% for Diagnosis. Form the research above, it is concluded that based on the 4T aspects, 78,44% of respondents who get the self-medication of ulcer are the right way of the aspects.
EVALUASI PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN PNUEMONIA KOMUNITI ANAK DAN BALITA DI RUMAH SAKIT UNIVERSITAS TANJUNGPURA PONTIANAK ., Erica Rohana
Jurnal Mahasiswa Farmasi Fakultas Kedokteran UNTAN Vol 4, No 1 (2019): Jurnal Farmasi Kalbar
Publisher : Jurnal Mahasiswa Farmasi Fakultas Kedokteran UNTAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pneumonia merupakan infeksi di ujung bronkhiol dan alveoli yang dapatdisebabkan oleh berbagai patogen seperti bakteri, jamur, virus dan parasit.Pneumonia merupakan infeksi saluran pernafasan akut bagian bawah. Pneumoniakomuniti/Community-Acquired Pneumonia` (CAP) adalah penyakit pneumoniayang dimulai di luar rumah sakit pada pasien yang tidak tinggal dalam fasilitaspeawatan jangka panjang selama 14 hari atau lebih sebelum onset gejala.Penelitian ini bertujuan mengetahui evaluasi penggunaan antibiotik berdasarkanpada ketepatan dalam pemilihan antibiotik, dosis antibiotik dan lama penggunaanantibiotik pada pasien pneumoni komuniti anak dan balita di Rumah SakitUniversitas Tanjungpura Pontianak yang dibandingkan dengan pedoman NSWGovernment Health, IDSA ( Infectious Diseases Society of America) dan Pediatric& Neonatal Dosage Handbook . Penelitian ini dilakukan dengan metodeobservasional menggunakan rancangan penelitian studi potong lintang (crosssectional study) yang bersifat deskriptif. Pengumpulan data dilakukan secararetrospektif berdasarkan pada data rekam medik pasien anak dan balita yangterdiagnosis pneumonia dengan kode (ICD) – 10, J.18.9. Hasil penelitianmenunjukan antibiotik yang paling banyak digunakan yaitu sefotaksim sebanyak21,43%. Ketepatan pemilihan antibiotik 92.15%, ketepatan pemilihan dosisantibiotik 90,20% dan ketepatan lama penggunaan antibiotik 66,67%. Kesimpulanpenelitian ini bahwa ketepatan penggunaan antibiotik meliputi pemilihanantibiotik, dosis dan lama penggunaan yaitu >50%.Kata kunci: Pneumonia Komuniti, Community-Acquired Pneumonia` (CAP),Antibiotik