cover
Contact Name
Achmad Zainal Arifin, Ph.D
Contact Email
achmad.arifin@uin-suka.ac.id
Phone
+6281578735880
Journal Mail Official
sosiologireflektif@uin-suka.ac.id
Editorial Address
Laboratorium Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora, UIN Sunan Kalijaga Jl. Adisucipto 1, Yogyakarta, Indonesia, 55281
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Sosiologi Reflektif
ISSN : 19780362     EISSN : 25284177     DOI : https://doi.org/10.14421/jsr.v15i1.1959
JSR focuses on disseminating researches on social and religious issues within Muslim community, especially related to issue of strengthening civil society in its various aspects. Besides, JSR also receive an article based on a library research, which aims to develop integrated sociological theories with Islamic studies, such as a discourse on Prophetic Social Science, Transformative Islam, and other perspectives.
Articles 14 Documents
Search results for , issue "Vol 12, No 2 (2018)" : 14 Documents clear
STRATEGI BERJARINGAN RADIO KOMUNITAS ISLAM MADU FM TULUNGAGUNG Redi Panuju
Jurnal Sosiologi Reflektif Vol 12, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jsr.v12i2.1320

Abstract

The purpose of this study to determine the strategy of community radio broadcasting in particular contestation Madu FM community radio in Tulungagung in East Java Indonesia. Madu FM community radio phenomenon is interesting to study because it is a community radio station that managed to grow in the midst contestation broadcasting. Community radio gets limitation restriction (restriction) of the state through the Broadcasting Act (Act No. 32 of 2002 on Broadcasting). Besides, the community radio still has to compete with the private radio and private television. Madu FM is able to adapt to circumstances without violating the rules. The result is a strategy of community radio broadcasting successfully innovate innovation so that it becomes exist. This research approach is qualitative approach with the method of observation and in-depth interviews. The study was conducted during the period from March to August, 2016.Tujuan penelitian ini untuk mengetahui strategi penyiaran radio komunitas khususnya dalam kontes radio komunitas Madu FM di Tulungagung di Jawa Timur Indonesia. Fenomena radio komunitas Madu FM sangat menarik untuk diteliti karena merupakan stasiun radio komunitas yang berhasil tumbuh di tengah penyiaran kontestasi. Radio komunitas mendapat pembatasan pembatasan (pembatasan) negara melalui Undang-Undang Penyiaran (UU No. 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran). Selain itu, radio komunitas masih harus bersaing dengan radio swasta dan televisi swasta. Madu FM mampu beradaptasi dengan keadaan tanpa melanggar peraturan. Hasilnya adalah strategi penyiaran radio komunitas berhasil berinovasi inovasi sehingga menjadi ada. Pendekatan penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan metode observasi dan wawancara mendalam. Penelitian dilakukan selama periode dari bulan Maret sampai Agustus 2016.Keywords: Community Radio, contestation, strategies, adaptation and rational choice.
PARTICIPATION OF MUSLIM COMMUNITY VILLAGE IN ENTERPRISE MANAGEMENT OF VILLAGE OWNED ENTERPRISE IN INDONESIA Heru Dian Setiawan
Jurnal Sosiologi Reflektif Vol 12, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jsr.v12i2.1304

Abstract

The establishment of a Village Owned Enterprise (BUMDes) as stipulated in Law No.6 / 2014 on Village, is an effort to increase economic growth along with equitable distribution of assets to the people in order to be able to cope with various economic problems in rural areas. However, since the BUMDes policy was established (in 2004), the existence of BUMDes has not been fully satisfactory, as only about 9.09% of villages realize BUMDes program, even from the number of presentations there are only 21.68% BUMDes considered profitable. Many factors influence the development and development of BUMDes program. One of the most important factors is the lack of social capital development in rural areas. This implicitly indicates the lack of participation of the largest and most important social capital that Indonesia has in the village Muslim community in the management of BUMDes. Yet this village Muslim community as an important asset to further create opportunities to improve rural economic welfare through the utilization and management of BUMDes in Indonesia. Therefore, the qualitative descriptive qualitative study aims to analyze the factors that influence the participation of the village Muslim community in the development and management of BUMDes in Indonesia, using the opinion of Korten which suggests that the success or failure of participation is grouped into two categories namely internal factors and factors externalTerbentuknya BUMDes sebagaimana tertuang dalam UU No.6/2014 belum sepenuhnya mampu menanggulangi berbagai permasalahan ekonomi di pedesaan, karena hanya sekitar 9,09% desa yang dinilai mampu 396  merealisasikan program BUMDes, bahkan dari jumlah prosentase tersebut hanya terdapat sekitar 21,68% BUMDes yang dinilai menguntungkan. Banyak faktor yang mempengaruhi ketidakberhasilan pembangunan program BUMDes. Satu faktor paling penting adalah kurangnya pengembangan modal sosial di pedesaan. Secara implisit ini menandakan rendahnya partisipasi modal sosial terbesar dan terpenting yang dipunyai Indonesia yaitu komunitas muslim desa. Untuk itu, kajian yang berproses deskriptif kualitatif ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi partisipasi komunitas muslim desa dalam usaha pengelolaan BUMDes di Indonesia, dengan menggunakan pendapat Korten yang mengemukakan bahwa kesuksesan atau kegagalan partisipasi dikelompokkan dalam dua kategori yakni faktor internal dan faktor eksternal.Keywords: Participation, Muslim Village Community, Village Owned Enterprise Management, Village Owned Enterprise.
SOCIAL MEDIA IMPACT ON INDONESIAN MUSLIM WOMEN'S CONSUMPTION OF ISLAMIC FASHION Durrotul Mas'udah
Jurnal Sosiologi Reflektif Vol 12, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jsr.v12i2.1307

Abstract

This paper concerns on analyzing social media as a new means of consumption and its impact on Indonesian Muslim women's consumption of Islamicfashion. Several analytical frameworks such as consumption,identity construction, and postmodern society are used to analyzethe issue. The analysis is mostly basedon literature resources. The analysis concludes that social media, considered as a new means ofconsumption, impact the Indonesia Muslim women's consumption of Islamic fashion in twointerconnected ways: 1. it becomes a space for the construction of variousidealized standards of how a fashionable Muslim woman can look like, and 2. it influences the way Indonesian Muslim women construct and present theiridentity as fashionable Muslim women. Both of these form their consumption on Islamic fashion items. Tulisan ini memaparkan analisis tentang media sosial sebagai sebuah alat konsumsi baru dan pengaruhnya terhadap pola konsumsi fashion Islami oleh wanita Muslim di Indonesia. Beberapa kerangka teori seperti konsumsi, konstruksi identitas, and masyarakat post-modern digunakan untuk menganalisis isu ini. Analisis dalam tulisan ini sebagian besar didasarkan pada studi literatur. Hasil analisis menyimpulkan bahwa media sosial, yang dapat dilihat sebagai sebuah alat konsumsi baru, mempengaruhi pola konsumsi fashion Islami oleh wanita Muslim di Indonesia dalam dua cara yang saling berhubungan: (1) media sosial menjadi sebuah ruang konstruksi berbagai macam standar yang dianggap ideal tentang penampilan wanita Muslim yang fashionable dan (2) media sosial mempengaruhi cara-cara wanita Muslim di Indonesia dalam mengkonstruksi dan mempresentasikan identitasnya sebagai wanita Muslim yang fashionable. Kedua hal ini membentuk pola konsumsi mereka terhadap fashion Islami.
DEVELOPMENT AS FREEDOM DAN PENCAPAIAN PERUBAHAN SOSIAL Amril Maryolo
Jurnal Sosiologi Reflektif Vol 12, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jsr.v12i2.1323

Abstract

Social studies have many variations because society is not a single object. Social change is a phenomenon of community construction that has a variety of variations. Development is a word used to describe processes and efforts to enhance economic, political, cultural, social, and so on. With such an understanding "development" is aligned with the word "social change." Along with development theory there are other social change theories such as socialism, dependensia, or other theories. Therefore, many people call developmental theory as developmentism. Thus such theories reject theories, such as the theory of community-based development, or even sustainable development and are alternatives to developmentism, but other variations of the ideology of developmentism.Kajian sosial memiliki macam variasi karena masyarakat bukanlah objek yang tunggal. Perubahan sosial merupakan fenomena konstruksi masyarakat yang memiliki ragam yang bervariasi. Pembangunan merupakan suatu kata yang digunakan untuk menjelaskan proses dan usaha untuk menimgkatkan kehidupan ekonomi, politik, budaya, sosial, dan sebagainya. Dengan pemahaman seperti itu “pembangunan” disejajarkan dengan kata “perubahan sosial”. Bersamaan dengan teori pembangunan terdapat teori-teori perubahan sosial lainnya seperti sosialisme, dependensia, ataupun teori lain. Oleh karena itu banyak orang menamakan teori pembangunan sebagai pembangunanisme (developmentalism). Dengan demikian teori-teori seperti ini menolak teori-teori, seperti teori pembangunan berbasis masyarakat, atau bahkan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) dan merupakan alternatif dari pembangunanisme, melainkan variasi-variasi lain dari ideologi pembangunanisme. 
EKSISTENSI PUBLIC SPHERE DALAM MEDIA MAINSTREAM: Studi pada Rubrik Citizen Journalism Tribun Yogyakarta Yanti Dwi Astuti
Jurnal Sosiologi Reflektif Vol 12, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jsr.v12i2.1235

Abstract

Citizen Journalism phenomenon became a trend in the world of journalism and became a new public space for society. One of the mainstream media that is Tribun Jogja newspaper adopted the trend into its rubric called Citizen Journalism rubric. In practice, however, there is an enormous amount of preaching incompatible with the essential meaning of citizen journalism and the public space itself. Where it tends to be very flat and descriptive does not touch on the essence of the meaning of public space is the discussion process that prioritizes rational and critical debate and still apply the process of screening and editing by editors. This is in stark contrast to the spirit of the presence of citizen journalism that is free from any intervention, freely voicing opinions, interactivity, unlimited space, no competition between authors, and no strict detection of news content. Based on this assumption, this research will try to uncover how the existence of public space through Citizen Journalism rubric of Tribun Jogja in the period of one year since its presence which is from 2011 to 2012. Data obtained through in-depth interviews and documentation in the form of Citizen Journalism rubric in Tribun Jogja. Data analysis using three stages of discourse analysis on the news consisting of text analysis, social cognition, and social context. This study reinforces the fact that mainstream media is not a free and neutral channel, but a tool of dominant groups and also produces dominant ideologies. So put the rubric named citizen journalism into utopia. Recommendations for editors Citizen Journalism and Koran Tribun Jogja, should provide more news coverage space both in print and online editions, and submit the management of Citizen Journalism rubric to outsiders who have no direct ties with the media concerned, so that the dimension of independence can Achieved.Fenomena Citizen Journalism menjadi trend dalam dunia jurnalisme dan menjadi ruang publik baru bagi masyarakat. Salah satu media mainstream yaitu koran Tribun Jogja mengadopsi tren tersebut ke dalam rubriknya yang dinamakan rubrik Citizen journalism. Namun dalam prakteknya, terdapat banyak sekali kecenderungan pemberitaan yang tidak sesuai dengan makna hakiki dari citizen journalism dan ruang publik itu sendiri. Dimana cenderung sangat datar dan deskriptif tidak menyentuh pada esensi dari makna ruang publik yaitu pada proses diskusi yang megedepankan debat rasional dan kritis serta masih diberlakukannya proses penseleksian dan editing oleh redakturnya. Hal ini sangat kontras dengan semangat hadirnya citizen journalism yang bersifat bebas dari intervensi siapapun, menyuarakan pendapat secara leluasa, interaktifitas, tidak terbatasi oleh halaman (unlimited space), tidak ada persaingan antar penulis, dan tidak adanya penseleksian ketat terhadap konten beritanya. Berdasarkan asumsi tersebut penelitian ini akan mencoba membongkar dan menggambarkan bagaimana eksistensi ruang publik melalui rubrik Citizen Journalism Tribun Jogja dalam kurun waktu tiga tahun sejak kehadirannya yaitu mulai 2011 hingga 2012. Penelitian ini menguatkan fakta bahwa media mainstream bukanlah saluran yang bebas dan netral, melainkan sebuah alat dari kelompok dominan dan juga memproduksi ideologi dominan. Sehingga menempatkan rubrik yang bernama citizen journalism menjadi utopia. Rekomendasi bagi redaktur rubrik Citizen Journalism dan Koran Tribun Jogja, sebaiknya memberikan space pemberitaan rubrik ini lebih banyak lagi baik pada edisi cetak maupun online, dan menyerahkan pengelolaan rubrik Citizen Journalism pada pihak luar yang tidak memiliki ikatan langsung dengan media yang bersangkutan, sehingga dimensi independensi dapat tercapai. 
PERAN AKTOR DALAM SOSIOLOGI PEMBANGUNAN: Analisis PERGUB No.16 Tahun 2017 tentang Jaringan Trayek Perkotaan Trans Jogja Mohammad Wildan Azmi
Jurnal Sosiologi Reflektif Vol 12, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jsr.v12i2.1324

Abstract

This article describe about the role of actor concept sociology of development (Analysis PERGUB D.I. Yogyakarta No. 16 Tahun 2017 Tentang Jaringan Trayek Perkotaan Trans Jogja (Trans Jogja’s City Route)). Development is one of the way to raise social welfare, and do not related only by economic or politic, but social problem also. Transportation is part of development to care needs of people life’s. Actor’s policy become the main point of development, due the transportation sector using public transportation for people needs life’s. Furthermore, actor’s policy on sociology development from public transportation (Bus Trans Jogja) has important rule to gain people’s welfare (social welfare).Artikel ini menjelaskan peran aktor kebijakan dalam sosiologi pembangunan sebagai upaya memenuhi kebutuhan hidup masyarakat dan meningkatkan kesejahteraan sosial. PERGUB D.I. Yogyakarta No. 16 Tahun 2017 tentang Jaringan Trayek Perkotaan Trans Jogja adalah upaya pemerintah sebagai aktor dalam meningkatkan pelayanan publik melalui sektor transportasi publik (Bus Trans Jogja). Pembangungan bukan sekedar dari sektor ekonomi dan politik saja, melainkan sektor sosial juga memiliki peran penting dalam pembangunan mewujudkan kesejahteraan sosial. Dengan demikian aktor kebijakan dalam sosiologi pembangunan dari sektor transportasi publik (Bus Trans Jogja) memiliki peran penting dalam mewujudkan kesejahteraan rakyat.Keywords: Actor’s Policy, Sociology of Development, Transportation and Social Welfare
KONFLIK SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT PESISIR DI DESA SUNGSANG KECAMATAN BANYUASIN II KABUPATEN BANYUASIN SUMATERA SELATAN Yunin dyawati; Eva Lidya; Yusna ini; Rohim Pahrozi
Jurnal Sosiologi Reflektif Vol 12, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jsr.v12i2.1329

Abstract

Within the coastal communities, a conflict is one of a popular feature of society that we can easily found. This research discusses and dig  about the factors of conflict and how the fisherman resolve the conflict. This research employs a qualitative procedurs. Data collection methode used for this research are: participant observation, in-depth interviews, literature and documentation study. Data analysis was conducted by appliying some steps, such as: identification, classification, interpretation and conclusions. The result indicates that social conflict is in part caused by the catching fish  methods that are not mutually beneficial, overlapping the areas, destruction of a catch and other misbehavior attitudes, especially teenager. On conflict resolution in Sungsang village, it various parties also involved. If it is solved by deliberation consensus interpersonal, so it will continue with mediation by the village government. If it is not solved, it can be continues to the authorities department and even to the police.Dalam masyarakat pesisir, konflik adalah salah satu gejala sosial yang sering kita jumpai di sekitaran daerah mayoritas nelayan. Penelitian ini membahas dan menggali tentang konflik apa saja yang terjadi dan bagaimana masyarakat nelayan itu menyelesaikan konflik yang ada. Kemudian siapa saja berperan dalam penyelesaian konflik itu. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif. Pengumpulan datanya dilakukan dengan metode observasi langsung ke lapangan, wawancara mendalam, kajian literatur dan dokumentasi. Analisis data dalam penelitian ini dilakukan secara kualitatif deskriptif, yaitu dengan melakukan langkah-langkah antara lain: identifikasi, klasifikasi, interpretasi dan kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa konflik sosial yang terjadi antara lain konflik karena penggunaan alat tangkap yang merugikan, tumpang tindih lokasi penangkapan, pengrusakan alat tangkap dan kenakalan remaja. Penyelesaian konflik melibatkan berbagai pihak.   Jika secara musyawarah mufakat tidak bisa menyelesaikan masalah, maka akan dilanjutkan dengan mediasi oleh pihak pemerintah desa. Langkah selanjutnya yang ditempuh jika mediasi tidak berhasil maka berlanjut ke pihak berwenang seperti dinas terkait dan bahkan kepolisian. 
MASYARAKAT BADUY DALAM PERGULATAN TIGA JARINGAN MAKNA Efa Ida Amaliyah
Jurnal Sosiologi Reflektif Vol 12, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jsr.v12i2.1294

Abstract

This article tries to explore about Bernard Adeney-Risakotta’ theory, that are agama (religion), modernitas (modernity), and budaya nenek moyang (culture of the ancestors), that relates with Baduy society (Baduy Dalam and Baduy Luar). This article uses library research. There are differences between Baduy Luar and Baduy Dalam, Baduy Luar tends to influenced by modernity, because they receive modernity product, such as technology, idea, and also institutions. In religiosity’ view, they are influenced by traditional religion. They accept modernity in technology form, such as transportation, television, the watch, clothes, etc.Tujuan tulisan ini mengeksplorasi tentang tiga jaringan makna yang menjadi teori Bernard Adeney-Risakotta, yaitu agama, modernitas, dan budaya nenek moyang pada masyarakat Baduy yang mempunyai pola sedikit berbeda, karena ada dua Baduy, yaitu Baduy Dalam dan Baduy Luar. Tulisan ini menggunakan analisa kepustakaan. Analisa didasarkan pengumpulan data sekunder berbasis kepustakaan yang dihimpun dari berbagai literatur yang mendukung. Masyarakat Baduy masih melaksanakan gotong royong, misalnya pada pembuatan rumah, panen, acara ritual atau berdo’a. Baduy Luar sudah terpengaruh pada modernitas, yaitu teknologi (televisi dan transportasi), institusi dan gagasan (ide). Tidak ada konfrontasi dari luar Baduy, karena mengedepankan kebersamaan dan saling menghormati. Baduy Luar masih memegang teguh budaya nenek moyang dengan patuh pada puun sebagai kepala suku. Mereka tetap memakai identitas sebagai masyarakat Baduy, yaitu pakaian yang merupakan ciri khas Baduy. Menurut Bernard, budaya nenek moyang bisa berupa kesetiaan pada nenek moyang, kepatuhan pada adat istiadat. Berbeda dengan Baduy Dalam dalam menerima tiga jaringan di atas. Baduy Dalam merupakan masyarakat yang menonjolkan budaya nenek moyang. Dalam hal modernitas, mereka sangat jauh dari yang telah didefinisikan oleh Bernard, baik dalam modernitas gagasan (ide) dan tehnologi.Keywords: Religion, cultural ancestors,Modernity,Baduy
MENETAS JALAN BARU PENGEMBANGAN MASYARAKAT: Sebuah Jawaban di Era Milenium Suraji Suraji; Muhammad Ali Embi
Jurnal Sosiologi Reflektif Vol 12, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jsr.v12i2.1376

Abstract

Community development is a process of directing people toward a stage or condition which society becomes more competent to ptroblems and conditions of the community and environment. The increasing competence of community members is expected to generate development activities based on their own initiative. In the current context, community development are most in based on religious and cultural values, including local wisdome, in order to ovver come various problems within society. Relevant studies of community development should in line with higher educatin institutions throght the implementation of “Tridharma PT”, which consist of : education, research and service. Moreever, within this milleneal era, community development has significant influence on education, politics, economics, social, as well as on culturePengembangan masyarakat proses bergerak ke arah suatu tahap atau kondisi di mana masyarakat menjadi semakin kompeten terhadap permasalahan dan kondisi komunitas maupun lingkungannya. Kompetensi masyarakat yang semakin meningkat ini diharapkan dapat menimbulkan aktivitas pembangunan atas prakarsa masyarakat (komunitas) sendiri. Pengembangan masyarakat juga sebagai gerakan, yang berusaha melakukan reformasi terhadap kondisi yang dianggap kurang menguntungkan. Dalam konteks saat ini tentu pengembangan masyarakat (community development) didasarkan pada nilai-nilai agama, budaya dan kearifan masyarakat lokal menuju kemajuan dan kesempurnaan dalam menjawab permasalahan-permasalahan yang muncul di era globalisasi. Kajian yang relevan dalam community development adalah kajian pengembangan masyarakat yang sejalan dengan peran lembaga Perguruan Tinggi yaitu memfungsikan Tri Darma Perguruan Tinggi yang terdiri pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat. Orientasi tersebut tentu menjadi harapan apabila dilaksanakan secara sungguh-sungguh. Faktor lain, spesifikasi keilmuan sebagai besis intelektual dan keahlihan pengembangan masyarakat mendapat tempat penting dan strategis di era mellineum saat ini baik dari segi pendidikan, politik, ekonomi, sosial maupun budaya.
RADIKALISASI GERAKAN JAMAAH ANSHARUT TAUHID DAN PENGARUH ISIS DI INDONESIA Asman Abdullah
Jurnal Sosiologi Reflektif Vol 12, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jsr.v12i2.1295

Abstract

This research was a case study that observed the movement of Jamaah Anshorut Tauhid. JAT movement is a jihad movement with the aim of fighting for Islamic Sharia in Indonesia. This research uses qualitative deskriptif method in direct contact with the object under study. It gives a complete picture of the phenomenon of radical Islamic JAT movements that was religiously motivated and understand the process of dynamics and the purpose of the social change that they want. The radical changes that they expect was contradict with the regime in Indonesia. The government's refreshing action accompanies every step of the JAT jihadists. In fact, excessive force often carried out by the authorities to provide a deterrent effect. But such actions only lead to jihadist heroism and reinforce their beliefs. Two things should be explained in the JAT movement, firstly, JAT involvement in Aceh military training in 2010. This military training involved cross-tanzhim jihad in Indonesia. The alumnus of this training will form a new radical network affiliated with ISIS. Second, the influence of ISIS in Indonesia caused a split in JAT. For JAT jihadi that supports ISIS still survives under the leadership of Abu Bakar Ba'asyir and Aman Abdurrahman while those who refuse to join ISIS have to get out of tanzhim. Those who came out of JAT formed a new organisation with the name of Jamaah Anshorut Syariah (JAS) under the leadership of Muhammad Achwan.Penelitian ini merupakan studi kasus yang menyorot gerakan Jamaah Anshorut Tauhid. Gerakan JAT merupakan gerakan jihad dengan tujuan memperjuangkan 214 Syariat Islam di Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode deskriptik kualitatif yang bersentuhan langsung dengan obyek yang diteliti. Memberikan gambaran utuh fenomena gerakan radikal Islam JAT yang bermotif agama dan memahami proses dinamika dan tujuan dari perubahan sosial yang hendak mereka wujudkan. Perubahan radikal yang mereka harapkan bertentangan dengan rezim di Indonesia. Tindakan refresif pemerintah mengiringi setiap langkah para jihadis JAT. Bahkan kerapkali kekerasan berlebihan dilakukan aparat untuk memberikan efek jera. Tetapi tindakan seperti ini hanya menimbulkan sikap heroisme jihadis dan semakin meneguhkan keyakinan mereka. Dua hal yang patut disorot dari gerakan JAT pertama, keterlibatan JAT dalam pelatihan militer Aceh tahun 2010. Pelatihan militer ini melibatkan lintas tanzhim jihad di Indonesia. Alumni dari pelatihan ini kelak membentuk jaringan radikal baru yang berafiliasi dengan ISIS. Kedua, pengaruh ISIS di Indonesia melahirkan perpecahan bagi JAT. Bagi jihadi JAT yang mendukung ISIS tetap bertahan dibawah pimpinan Abu Bakar Ba’asyir dan Aman Abdurrahman sedangkan yang menolak bergabung dengan ISIS harus keluar dari tanzhim. Mereka yang keluar dari JAT membentuk jamaah baru dengan nama Jamaah Anshorut Syariah (JAS) dibawah pimpinan Muhammad Achwan. 

Page 1 of 2 | Total Record : 14