cover
Contact Name
Achmad Zainal Arifin, Ph.D
Contact Email
achmad.arifin@uin-suka.ac.id
Phone
+6281578735880
Journal Mail Official
sosiologireflektif@uin-suka.ac.id
Editorial Address
Laboratorium Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora, UIN Sunan Kalijaga Jl. Adisucipto 1, Yogyakarta, Indonesia, 55281
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Sosiologi Reflektif
ISSN : 19780362     EISSN : 25284177     DOI : https://doi.org/10.14421/jsr.v15i1.1959
JSR focuses on disseminating researches on social and religious issues within Muslim community, especially related to issue of strengthening civil society in its various aspects. Besides, JSR also receive an article based on a library research, which aims to develop integrated sociological theories with Islamic studies, such as a discourse on Prophetic Social Science, Transformative Islam, and other perspectives.
Articles 14 Documents
Search results for , issue "Vol 14, No 2 (2020)" : 14 Documents clear
THE UTILISATION OF FACEBOOK GROUP IN BUILDING SOCIAL MEDIA-BASED BRAND COMMUNITY BY A SMALL MEDIUM ENTERPRISE IN YOGYAKARTA Ambar Sari Dewi
Jurnal Sosiologi Reflektif Vol 14, No 2 (2020)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jsr.v14i2.1869

Abstract

Internet and social media play important role in fostering both the creation of identities and the development of brand community. Brand community is a community of consumers of a specific brand that are socially constructed and shaped. However, research on this topic are mostly investigated at large enterprises context, leaving some gaps at small-medium enterprises (SMEs) context. SMEs, particularly in developing countries such as Indonesia, hold important role to the country’s economic development. Therefore, this study aims to examine how SMEs build social media-based brand community by using qualitative research as its approach and applied a case study research method to investigate a Yogyakarta-based SME, AB. Findings show that AB build social media-based brand community on Facebook group with the help of its loyal customers. Strong relationship and intense interaction formed between the AB’s owner and some loyal customers are characteristics of social media-based brand community found in this research.
RAMAI-RAMAI MENOLAK WISATA HALAL: Kontestasi Politik Identitas dalam Perkembangan Wisata Halal di Indonesia Ghifari Yuristiadhi Masyhari Makhasi; Muhammad Thohir Yudha Rahimmadhi
Jurnal Sosiologi Reflektif Vol 14, No 2 (2020)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jsr.v14i2.1767

Abstract

MasterCard Crescent Rating 2019 data shows Indonesia is the most popular halal tourist destination together with Malaysia. But on the other hand, in 2019 there was a rejection of Halal Tourism in several regions in Indonesia, namely Bali, South Sulawesi, North Sumatra and East Nusa Tenggara. This article tries to analyze why there is a rejection of halal tourism amid the growth of halal tourism in Indonesia. Is it more because of the recent strengthening of the wave of Islamism that has been mounted by practical political interests so that it presents its antithesis namely phobia as a form of cons of hegemony. So that the great potential of halal tourism itself is no longer seen as a great potential that can prosper anyone as a form of the universality of halal tourism. This analytical descriptive research with secondary data uses discourse analysis to answer the problem formulation with the concept of hegemony and identity politics. The conclusion of this article is that the rejection of halal tourism is significantly influenced by identity politics associated with political friction at the national and local level.Data MasterCard Crescent Rating 2019 menunjukkan Indonesia menjadi destinasi wisata halal terpopuler bersama Malaysia. Namun di sisi lain, pada kurun 2019 terjadi penolakan atas Wisata Halal di beberapa wilayah di Indonesia sebut saja Bali, Sulawesi Selatan, Sumatera Utara, dan Nusa Tenggara Timur. Artikel ini mencoba menganalisis mengapa terjadi penolakan wisata halal di tengah pertumbuhan wisata halal di Indonesia. Apakah lebih karena menguatnya gelombang Islamisme akhir-akhir ini yang tertunggangi kepentingan politik praktis sebagai wujud hegemoni sehingga menghadirkan antitesisnya yakni fobia sebagai wujud konter hegemoni, sehingga potensi besar dari wisata halal itu sendiri tidak lagi dilihat sebagai potensi besar yang bisa menyejahterakan siapapun sebagai wujud universalitasitas wisata halal. Penelitian deskriptif analitis dengan data sekunder ini menggunakan analisis wacana untuk menjawab rumusan masalah dengan pisau iris konsep hegemoni dan politik identitas. Hasil penelitian menunjukan bahwa penolakan wisata halal secara signifikan dipengaruhi oleh politik identitas yang terkait dengan friksi politik di level nasional dan lokal. 
KOTA YANG SELALU BERDINAMIKA Nur Hadi Prabawa
Jurnal Sosiologi Reflektif Vol 14, No 2 (2020)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jsr.v14i2.1881

Abstract

Artikel ini merupakan resensi dari kumpulan jurnal yang di muat di dalam buku berjudul Bunga Rampai Sosiologi Perkotaan. Buku ini merupakan salah satu terobosan baru di bidang kajian sosiologi perkotaan yang mengkombinasikan hasil penelitian baik dari dosen maupun mahasiswa. Buku ini juga merupakan kerjasama dari Prodi Sosiologi UIN Sunan Kalijaga dengan Prodi Sosiologi Universitas Trunojoyo. Selain itu pula, buku ini terlaksana berkat kedatatang Prof. Gottfried Zantke dari Bremen University Jerman yang merupakan seorang senior expert dalam kajian arsitektur dab tata kota.Keyword : Resensi, Buku, Sosiologi Perkotaan
DAMPAK SOSIAL PARIWISATA TERHADAP MASYARAKAT DESA EKOWISATA PAMPANG GUNUNG KIDUL MENUJU DESA EKOWISATA BERKELANJUTAN Elisa Dwi Rohani; Yitno Purwoko
Jurnal Sosiologi Reflektif Vol 14, No 2 (2020)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jsr.v14i2.1853

Abstract

Changes in tourism that are currently developing from mass tourism to form a special interest tourism encourage one of the villages in Paliyan District, Pampang to become an Ecotourism village by carrying out the concepts of conservation and education. In this study will discuss how the response and community involvement in the development of the village of Papang to become an ecotourism village, as well as social impacts for the community that emerged after tourism activities developed in the village of Pampang Ecotourism, both positive and negative impacts. To be able to produce findings and an adequate description of the social impacts that occur in Pampang Ecotourism Village, this research uses a descriptive method with the aim of being able to provide a description of the phenomena of social change obtained through interviews with community leaders and village activists and observations. From this research, it can be seen that the development of tourism in Pampang has more positive impacts on the community compared to the negative impacts including the growing spirit of togetherness, strengthening community organizations, increasing public awareness of preserving and protecting the environment through tourism and Ecotourism villages to become pilot villages in environmental innovation and management.Perubahan pariwisata yang saat ini berkembang dari pariwisata massal ke bentuk pariwisata minat khusus, mendorong salah satu desa di Kecamatan Paliyan yaitu Pampang untuk menjadi desa Ekowisata dengan  mengusung konsep konservasi dan edukasi. Dalam penelitian ini membahas bagaimana respon dan keterlibatan masyarakat dalam pengembangan Desa Papang untuk menjadi desa ekowisata, serta dampak sosial bagi masyarakat yang muncul pasca aktivitas pariwiata berkembang di Desa Ekowisata Pampang. Penelitian ini mengunakan metode deskriptif dengan tujuan untuk dapat memberikan gambaran fenomena-fenomena perubahan sosial yang diperoleh melalui wawancara tokoh masyarakat dan penggerak desa Ekowisata maupun observasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa perkembangan pariwisata di Pampang lebih banyak berdampak positif bagi masyarakat dibandingkan dampak negative, diantaraya tumbuhnya semangat kebersamaan, penguatan organisasi masyarakat, peningkatan wawasan masyarakat, kesadaran melestarikan dan menjaga lingkungan melalui pariwisata dan desa Ekowisata menjadi desa pecontohan dalam inovasi dan pengelolaan lingkungan.
PERAN OMOTENASHI DALAM MENINGKATKAN MAKANAN HALAL DI JEPANG Ilma Sawindra Janti
Jurnal Sosiologi Reflektif Vol 14, No 2 (2020)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jsr.v14i2.1772

Abstract

This paper observed the Japanese unique culture that is called omotenashi. It is translated as hospitality. Omotenashi treated toward guests or tourist who visited Japan, it includes treatment to the guests with different cultural and belief background such as Moslem. The Japanese studied for their consumer needs, and finally they want to do omotenashi, by starting to sell halal food not only in a certain shop but also some restaurants which serve halal food and made certification for it. The aim of this paper is to find, why nowadays halal food in Japan can be found easier than before 2010. Japan as a non Moslem country realize that nowadays Moslem tourist are increasing and they has some specification for example in food, thus to do some hospitality or omotenashi, Japanese started to welcoming Moslem tourist by serving halal food. The theory used here are the consumer behavior from Etta Mamang Sangadji and Sopiah. While the theory of omotenashi is from Sato Yoshinobu and Abdulelah Al-alsheikh. This paper was based on limited literatures such as books, online articles from the internet, scientific discourses, including author’s empirical journey when living in Japan (1989-1994, 2007-2017) and faced difficulties in finding halal food. The finding of this paper is that the serving of halal food in some restaurants are increasing in Japan nowadays, because of omotenashi from the Japanese for their Moslem consumer. Omotenashi which Japanese do to all their guests has a big influence for the Moslem tourist.Tulisan ini berisi tentang keunikan omotenashi yang khas Jepang. Secara harafiah omotenashi berarti hospitality atau keramah-tamahan bangsa Jepang. Omotenashi yang diperlakukan terhadap para tamu atau wisatawan yang berkunjung ke Jepang tidak terkecuali terhadap wisatawan dengan latar belakang kepercayaan dan budaya yang berbeda seperti kaum muslim. Bangsa Jepang mempelajari kebutuhan dari konsumen mereka dan akhirnya mereka menerapkan omotenashi dengan mulai menjual makanan halal dan membuatkan sertifikasi untuk itu. Tujuan dari tulisan ini adalah untuk mendapatkan hasil, mengapa akhir-akhir ini makanan halal dapat lebih mudah ditemukan dibandingkan sebelum tahun 2010an. Jepang sebagai negara non muslim menyadari bahwa akhir-akhir ini wisatawan muslim meningkat dan mereka memiliki beberapa keistimewaan antara lain dalam makanan; oleh sebab itu untuk menyambut tamunya, orang Jepang melakukan omotenashi atau keramah-tamahan dengan cara mulai menyediakan makanan halal bagi wisatawan muslim. Teori yang digunakan adalah consumer behavior dari Etta Mamang Sangadji dan Sopiah. Sementara teori untuk omotenashi dari Sato Yoshinobu dan Abdulelah Al-alsheikh. Tulisan ini berdasarkan pada literature review dari buku, artikel online, scientific discourses, termasuk pengalaman penulis ketika tinggal di Jepang (1989-1994, 2007-2017) dan menemui kesulitan dalam mendapatkan makanan halal. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa meningkatnya penyediaan makanan halal di beberapa restoran di Jepang dewasa ini karena omotenashi dari bangsa Jepang terhadap konsumen muslim mereka. Omotenashi yang diberikan kepada semua tamu yang datang ke Jepang memberikan pengaruh yang besar dalam meningkatkan makanan halal bagi wisatawan muslim.
SARASO ADO DI KAMPUANG: Studi Etnografi Persaudaraan Perantau Minang di Rumah Makan Padang di Yogyakarta Arif Budi Darmawan; Azinuddin Ikram Hakim
Jurnal Sosiologi Reflektif Vol 14, No 2 (2020)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jsr.v14i2.1756

Abstract

The Minang tribe is one of the tribes in Indonesia who have ‘migrated customs’ (merantau). The word 'merantau' itself is a manifestation of leaving the original territory and occupying new territory. For Minangnese migrants in Yogyakarta, Rumah Makan Padang (Padang Restaurant) not only a place to eat but also it has function a warm place among Minangnese. In using ethnographic approach, this research  try to explain how the interaction among Minangnese in Rumah Makan Padang. The finding shows, first: This fraternal interaction only emerge in Rumah Makan Padang owned by Minangnese. This fraternal interaction sucas having conversation with Minang Language and telling stories about their hometown. Second, Rumah Makan Padang is a place to remedy the taste of Minang Food.Suku Minang merupakan salah satu suku di Indonesia yang  memiliki adat merantau. Kata ‘merantau’ sendiri merupakan bentuk manifestasi dari meninggalkan teritorial asal dan menempati teritorial baru. Secara khusus dengan menggunakan pendekatan etnografi penelitian ini berupaya untuk menjelaskan bagaimana persaudaraan antar perantau Minang terjadi di rumah makan padang. Temuan menunjukkan, Pertama,  interaksi persaudaraan terjadi berupa saling mengobrol dengan menggunakan Bahasa Minang dan bercerita perihal kampung halaman. Kelekatan persaudaraan ini membuat perantau Minang merasa sedang makan di kampung halaman sendiri. Kedua, bagi perantau Minang, Rumah Makan Padang merupakan pengobat rindu tentang makanan di kampung halaman. 
DAYA TARIK MENJAMURNYA RESTORAN KOREA DI YOGYAKARTA Ummul - Hasanah; Theresia Avila Rencidiptya
Jurnal Sosiologi Reflektif Vol 14, No 2 (2020)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jsr.v14i2.1762

Abstract

Korean restaurants in Yogyakarta are flourishing in the past ten years.  A lot of Korean restaurants, either in small or big scale, are not only attracting people living in Yogyakarta but also attracting the tourists coming to Yogyakarta. This paper is the result of quantitative and qualitative research with the research object students of Diploma Korean Language Program, Vocational College, Gadjah Mada University. The respondents were selested because those students are millenial generation who follow the fast growing of Korean restaurants in Yogyakarta while at the same time the main customers of those restaurants. As result of the research, the reasons why Korean restaurats exist in Yogyakarta because they need to expand their market outside of Korea and many people are interested coming to Korean restaurants because it is the easiest way to taste Korean cuisine as part of Korean culture without coming to South Korea. Moreover, the difficulties experienced by customers when eating in Korean restaurants are questioning whether the food or drink served is halal (because pork and alcohol are the common dishes in Korea) and the price which is more expensive than the price of Indonesian local foods .Tulisan ini membahas mengenai fenomena menjamurnya berbagai restoran Korea di Yogyakarta dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir.  Berbagai restoran Korea, baik dalam skala kecil maupun besar tersebut tidak hanya menarik bagi warga yang tinggal di Yogyakarta tetapi juga turis yang datang ke Yogyakarta. Tulisan ini merupakan hasil penelitian kuantitatif dan kualitatif dengan objek penelitian mahasiswa Prodi D3 Bahasa Korea, Sekolah Vokasi, Universitas Gadjah Mada. Objek tersebut dipilih karena mereka merupakan generasi millenial yang mengikuti perkembangan pesat tumbuhnya restoran Korea di Yogyakarta sekaligus penikmat utama dari restoran-restoran tersebut. Tulisan ini juga membahas mengapa restoran Korea tersebut banyak muncul di Yogyakarta dan mengapa banyak orang tertarik untuk pergi ke restoran Korea di Yogyakarta. Selain itu juga dibahas mengenai hambatan saat berkunjung ke restoran Korea, diantaranya adalah makanan yang disajikan belum tentu halal (karena daging babi dan alkohol adalah menu yang sangat wajar di makanan Korea) dan harga yang lebih mahal dari makanan Indonesia.
PENGARUH KUALITAS PELAYANAN DAN PENGEMASAN DAYA TARIK WISATA TERHADAP KEPUASAN WISATAWAN DI NGEBEL PONOROGO Kaukabilla A.P; Abdul Kholiq
Jurnal Sosiologi Reflektif Vol 14, No 2 (2020)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jsr.v14i2.1836

Abstract

Ngebel Lake is a superior nature tourism in Ponorogo Regency. The lack of tourist attractions in this district made the local government strongly asked to increase tourism potential in the village of Ngebel. Facilities development and service improvement continue to be carried out in order to attract tourists. This study discusses the quality of service and the packaging of tourist attractions towards the decision of a visit as well as its consideration of tourist satisfaction. The number of samples used was 100 respondents taken from the number of tourists. From the data obtained from observations, documentation, direct interviews and filling out questionnaires. Multiple regression analysis was performed to determine the effect of the independent variables on the dependent variable. The results showed that there were positive and significant differences between the variables of service quality and tourist attraction packaging towards the decision of the visit and its consideration on tourist satisfaction.Telaga Ngebel merupakan tempat wisata alam unggulan di Kabupaten Ponorogo. Minimnya tempat wisata di kabupaten ini, menjadikan pemerintah daerah berupaya untuk meningkatkan potensi wisata di telaga Ngebel. Pengembangan fasilitas dan peningkatan pelayanan dilakukan demi menarik minat wisatawan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kualitas pelayanan dan pengemasan daya tarik wisata terhadap kepuasan wisatawan. Pendekatan yang digunakan yaitu deksriptif kuantitatif dengan sampel yang digunakan sebanyak 100 responden yang diambil dari populasi wisatawan. Adapun data diperoleh dari observasi, dokumentasi, wawancara langsung dan pengisian kuisioner. Analisis multipel regresi dilakukan untuk menentukan pengaruh independent variable terhadap dependen variable. Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat pengaruh yang positif dan signifikan antara variable kualitas pelayanan dan pengemasan daya tarik wisata terhadap kepuasan wisatawan. 
IJEN CAR FREE DAY: Gelanggang Olahraga Imajiner di Kota Malang Indhar Wahyu Wira Harjo
Jurnal Sosiologi Reflektif Vol 14, No 2 (2020)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jsr.v14i2.1758

Abstract

The availability of sports facilities and the number of residents in Malang shows a lack of balance in proportion. The government of Malang city has made some attempts to collaborate with any parties to allocate the proportional sports facilities for the residents. To deal with the problem, the government has designed a program called Ijen Car Free Day (ICFD) as one alternative of solutions. The Ijen Street, which mostly functions as the main street, has also served as a sport center. The present study aims at investigating the utilization of roads of Ijen Street as one of sports centers. The analysis is carried out to re-observe the use of public space that has experienced some transformations. The data collected are examined thoroughly by implementing the research method of descriptive qualitative. The result of the study indicates that the Ijen Street is a sterile road section of motor vehicles at 06:00 up to 10:00, and during the time, the road is used for some sports activities. The so-called elite region of Malang city has transformed into courts for morning gymnastics and jogging tracks along the way. In addition, the area is also used as a social, economic, and cultural spaces. The visitors of Ijen CFD often takes the chance to sell some products, join some communities, and perform some shows of art and culture. The comprehension of the models of space use is necessary to optimize the management of Ijen CFD in the future.  Proporsi ketersediaan fasilitas olahraga dengan jumlah penduduk di Kota Malang memperlihatkan ketimpangan. Pemerintah Kota Malang berupaya melakukan kerja sama dengan berbagai pihak untuk menyediakan fasilitas olahraga yang proporsional bagi warga. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, Pemerintah Kota Malang merancang Program Ijen Car Free Day (ICFD) sebagai alternatif solusi dengan mengalihfungsikan Jalan Besar Ijen sebagai wahana olahraga. Penelitian ini menelaah penggunaan ruas Jalan Besar Ijen sebagai gelanggang olahraga. Telaah tersebut untuk meninjau kembali penggunaan ruang publik yang mengalami transformasi pemanfaatan. Data diulas menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kawasan Jalan Ijen menjadi ruas jalan yang steril dari kendaraan bermotor sejak pukul 06.00 hingga 10.00. Di rentang waktu itu, jalan raya dimanfaatkan untuk ruang olahraga. Sepanjang kawasan itu berubah menjadi ‘lapangan’ untuk senam pagi, joging track, atau jalan santai. Selain itu, kawasan tersebut juga digunakan sebagai ruang sosial, ekonomi dan budaya. Para pengunjung ICFD acapkali menggunakan kesempatan itu untuk berjualan, berkumpul dengan komunitas, dan melakukan pertunjukan seni-budaya. Pemahaman terhadap model-model penggunaan ruang tersebut diperlukan untuk mengoptimalkan pengelolaan Ijen CFD.
POST BEFORE EATING: Motif Generasi Milenial Ponorogo dalam Fenomena Kuliner Kekinian Annisa Dwi Kurniawati
Jurnal Sosiologi Reflektif Vol 14, No 2 (2020)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jsr.v14i2.1745

Abstract

Contemporary cuisine still becomes a culinary destination that is loved by millennials. The generation which is connected with the use of social media often uploads every social activity, including culinary. Posting pictures before eating on social media becomes an activity that is usually done by millennials before enjoying culinary. This study aims to determine the motives of the Ponorogo millennial generation in the act of posting before eating when they enjoy a culinary dish. This type of research is descriptive qualitative research with a phenomenological approach. Interview, observation, and documentation triangulation techniques are used to collect data from 20 informants who actively use social media to post before eating. The results showed that the motives of the millennial generation to take pictures before eating are as a means to share fun or hobbies, share information about current culinary recommendations, and show self-existence.Kuliner kekinian masih menjadi tujuan kuliner yang digandrungi oleh generasi milenial. Generasi yang dalam kehidupannya erat dengan penggunaan media sosial ini sering kali mengunggah setiap aktivitas sosialnya termasuk dalam hal kuliner. Membagikan gambar yang hendak dimakan ke media sosial menjadi suatu aktivitas yang biasa dilakukan oleh generasi milenial sebelum menikmati sajian kuliner. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui motif generasi milenial Ponorogo dalam melakukan tindakan posting before eating ketika akanmenikmati sajian kuliner kekinian. Metode penelitian yang digunakan penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatan fenomenologi. Teknik triangulasi yaitu wawancara, observasi dan dokumentasi digunakan untuk mengumpulkan data dari 20 orang informan yang aktif menggunakan media sosial untuk melakukan tindakan posting before eating. Hasil penelitian menunjukkan bahwa motif generasi milenial melakukan tindakan posting before eating antara lain sebagai sarana untuk menyalurkan kesenangan atau hobi, membagikan informasi tentang rekomendasi tempat kuliner kekinian dan menunjukkan eksistensi diri.

Page 1 of 2 | Total Record : 14