cover
Contact Name
Achmad Zainal Arifin, Ph.D
Contact Email
achmad.arifin@uin-suka.ac.id
Phone
+6281578735880
Journal Mail Official
sosiologireflektif@uin-suka.ac.id
Editorial Address
Laboratorium Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora, UIN Sunan Kalijaga Jl. Adisucipto 1, Yogyakarta, Indonesia, 55281
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Sosiologi Reflektif
ISSN : 19780362     EISSN : 25284177     DOI : https://doi.org/10.14421/jsr.v15i1.1959
JSR focuses on disseminating researches on social and religious issues within Muslim community, especially related to issue of strengthening civil society in its various aspects. Besides, JSR also receive an article based on a library research, which aims to develop integrated sociological theories with Islamic studies, such as a discourse on Prophetic Social Science, Transformative Islam, and other perspectives.
Articles 11 Documents
Search results for , issue "Vol 15, No 1 (2020)" : 11 Documents clear
BUDAYA PERILAKU BERSIH DI DESA PENGLIPURAN BALI Fathorrahman Fathorrahman
Jurnal Sosiologi Reflektif Vol 15, No 1 (2020)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jsr.v15i1.1960

Abstract

This paper outlines a role model for cleanliness preservation in community life in the Penglipuran village of Bali. Using a cultural approach, the Penglipuran village can raise the awareness of its citizens to participate in creating clean behavior. Along with the emergence of awareness of citizen participation, in the village of Penglipuran there are also local traditions that help guard the creation of clean behavior among its citizens. The existence of Penglipuran village which in 2018 has been named the third cleanest village in the world by bombastic magazine, is certainly interesting to study. To explore further roles of the Penglipuran village in preserving clean behavior, this research focuses on several questions: What is the cultural portrait of the Penglipuran community so that it is conducive to civilizing clean behavior? How do people participate in preserving cleanliness in the Penglipuran environment? What is the role of local actors in instilling a culture of clean behavior for their citizens? These three questions are analyzed with a sociological approach. As for the technique to obtain the data, this study uses empirical studies by observing and meeting several key informants and important informants to be interviewed. Tulisan ini menguraikan sebuah role model pelestarian kebersihan dalam kehidupan masyarakat yang ada di desa Penglipuran Bali. Dengan menggunakan pendekatan budaya, desa Penglipuran bisa membangkitkan kesadaran warganya untuk berpartisipasi dalam menciptakan perilaku bersih. Beririsan dengan munculnya kesadaran partisipasi warga, di desa Penglipuran juga terdapat tradisi lokal yang turut mengawal terciptanya perilaku bersih di kalangan warganya. Keberadaan desa Penglipuran yang pada tahun 2018 dinobatkan sebagai desa paling bersih ketiga di dunia oleh Bombastic Magazine, tentu menarik untuk diteliti. Untuk menelusuri lebih jauh bagaimana peran desa Penglipuran dalam melestarikan perilaku bersih, penelitian ini fokus pada beberapa pertanyaan: apa potret kultural masyarakat Penglipuran sehingga kondusif dalam membudayakan perilaku bersih? Bagaimana partisipasi warga dalam melestarikan kebersihan di lingkungan Penglipuran? Bagaimana peran aktor lokal dalam menanamkan budaya perilaku bersih bagi warganya? Ketiga pertanyaan ini dianalisis dengan pendekatan sosiologis. Adapun teknik untuk memperoleh datanya, penelitian ini menggunakan studi empiris dengan cara mengobservasi dan menemui beberapa informan kunci dan informan penting untuk diwawancarai. 
CREATIVE TOURISM COMMUNITY BASED PADA KAWASAN PANTAI SUNOR LESTARI, DESA PANGKAL NIUR, KABUPATEN BANGKA (Studi terhadap Pemberdayaan Masyarakat di Komunitas Pedesaan) Herdiyanti Herdiyanti; Bustami Rahman; Panggio Restu Wilujeng
Jurnal Sosiologi Reflektif Vol 15, No 1 (2020)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jsr.v15i1.2007

Abstract

This study aims to explain how the community empowerment strategy carried out by the people of Pangkal Niur Village in managing and developing the Sunor Tourism area as community-based creative tourism (community-based creative tourism). The people of Pangkal Niur Village have high social capital, as manifested through their social activities and movements in building and developing the Sunor Beach area as a creative tourism. Therefore, it is interesting to make this village as a reference for the local government to be actively involved in the activities of the community as a form of preserving the environment through tourism by refusing the operation of tin mining in the area. This research uses qualitative research methods, which includes research that uses data collection techniques conducted by purposive sampling. The results of this study can be used as a basis for the village and regional governments to respond to the occurrence of illegal mining activities carried out in the Sunor Beach area. The social capital  of the community is an access that can be used by the community in empowering the villagers through the management and development of Sunor Beach tourism. In addition, it is a motivation for village officials to be alert in providing assistance and facilities for people who have a high ethos in developing Sunor Beach tourism. Community empowerment is inseparable from the creativity of the community, as a form of community economic development. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan bagaimana strategi pemberdayaan masyarakat yang dilakukan oleh masyarakat Desa Pangkal Niur dalam mengelola dan mengembangkan kawasan Wisata Sunor sebagai wisata kreatif berbasis masyarakat (creative tourism community based). Masyarakat Desa Pangkal Niur memiliki modal sosial yang cukup tinggi ini terbukti dari aktivitas dan gerakan sosial yang dibangun melalui pengembangan kawasan Pantai Sunor sebagai wisata kreatif (creative tourism).  Oleh karenanya kajian ini sangat menarik untuk diteliti sebagai rujukan nantinya untuk pemerintah desa dan daerah untuk terlibat atas gerakan dilakukan oleh masyarakat sebagai suatu perwujudan untuk melestarikan lingkungan melalui wisata dengan menolak beroperasinya tambang timah di kawasan tersebut. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif, penelitian ini termasuk penelitian yang menggunakan teknik pengumpulan data yang dilakukan secara purposive sampling. Hasil penelitian ini menjadi basis bagi pemerintah desa dan daerah untuk dapat mengambil sikap terjadinya aktivitas tambang ilegal yang dilakukan di daerah kawasan Pantai Sunor. Modal sosial yang dimiliki masyarakat menjadi akses yang bisa dimanfaatkan oleh masyarakat dalam melakukan pemberdayaan melalui pengelolaan dan pengembangan wisata Pantai Sunor. Selain itu, menjadi motivasi bagi aparatur desa untuk sigap dalam memberikan bantuan dan fasilitas bagi masyarakat yang memiliki etos tinggi dalam pengembangan wisata Pantai Sunor. Pemberdayaan masyarakat yang dilakukan tentunya tidak terlepas dari kreativitas yang dilakukan oleh masyarakat sebagai wujud pembangunan ekonomi masyarakat.
MODEL GERAKAN DAKWA KEAGAMAAN MUHAMMADIYAH: Studi Etnografi di Kabupaten Sidoarjo Jawa Timur Puspita Handayani, Ima Faizah, dan Mocham
Jurnal Sosiologi Reflektif Vol 15, No 1 (2020)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jsr.v15i1.1967

Abstract

Muhammadiyah is one of the two biggest Islamic organizations in Indonesia. Since it was founded on November 18, 1912 in Yogjakarta by K.H. Ahmad Dahlan, Muhammadiyah is known as the Islamic missionary movement of 'Amar ma'ruf nahi munkar (invite to do good and prevent evil deeds) to broadcast Islamic teachings from a humanist point of view and return to the Al-Qur'an and Hadith. Because of this model, Muhammadiyah becomes less attractive for most Muslim community, due to the religious patterns of the Javanese people that are heavily influenced by Hindu and Buddhist traditions that are mixed within Islamic practices of Javanese Muslims. The purpose of this study is to determine the model of the Muhammadiyah religious da'wah movement in Sidoarjo Regency. By using a qualitative approach through ethnographic model, this paper aims to describe the conditions of the Muhammadiyah religious missionary movement. This research is limited to understand how the model of the Muhammadiyah religious da'wah movement at the Muhammadiyah regency and district branches in Sidoarjo Regency. The results show that the model of the religious da'wah movement of Muhammadiyah in the regency of Sidoarjo is originated come from a social movement, namely taking real actions to help the surrounding community. Muhammadiyah  merupakan salah satu dari dua organisasi Islam besar di Indonesia. Sejak didirikan pada 18 Nopember 1912 di Yogjakarta oleh K.H. Ahmad Dahlan Muhammadiyah dikenal dengan Gerakan dakwah Islam ‘Amar Ma’ruf Nahi Munkar (mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran) untuk menyiarkan ajaran Islam dari sudut pandang yang humanis dan kembali kepada Al-Qur’an dan Hadits, karena model gerakan ini membuat Muhammadiyah kurang diminati oleh masyarakat muslim pada umumnya, disebabkan pola keagamaan masyarakat Jawa yang kental dengan tradisi-tradisi peninggalan Hindu dan Budha dikolaborasi dalam nilai-nilai kerohanian Islam. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui model gerakan dakwah keagamaan Muhammadiyah di Kabupaten Sidoarjo. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif model etnografi, bertujuan untuk mendiskripsikan kondisi gerakan dakwah keagamaan Muhammadiyah. Penelitian ini dibatasi pada bagaimana model gerakan dakwah keagamaan Muhammadiyah di tingkat ranting dan cabang Muhammadiyah di Kabupaten Sidoarjo. Ternyata dari hasil penelitian bisa ditemukan model gerakan dakwah keagamaan Muhammadiyah di tingkat ranting dan Cabang berawal dari gerakan sosial, yaitu melakukan aksi-aksi nyata membantu masyarakat sekitar.
EKSISTENSI MEGONO SEBAGAI IDENTITAS KULTURAL: Sebuah Kajian Antropologi Kuliner dalam Dinamika Variasi Makanan Global M. Ali Sofyan
Jurnal Sosiologi Reflektif Vol 15, No 1 (2020)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jsr.v15i1.1751

Abstract

Megono is one of the typical foods for the Batang and Pekalongan people, which is made from young jackfruit. Every tourist from outside the area, usually looking for a megono as a sign of having visited and take it as a gift. This study is the result of deepening data about the megono and its existence as a cultural identity for the Batang people in the midst of globalization. This research was conducted using a qualitative method with an open interview approach. Traders and consumers are the main informants for this study. This research employs Baudrillard concept of habitus. The results showed that every morning, the people of Batang seemed obliged to consume sego megono sambel. According to the results of data analysis, megono Batang has different characteristics compare to megono from other places, namely its distinctive aroma. As a traditional food, megono can still exist and become a cultural symbol in the midst of the many variations of modern food. For consumers, this food can deconstruct the social class created by capitalism. Megono does not belong to any classes. This means that megono can be a symbol of equality for society.Megono adalah salah satu makanan khas bagi masyarakat Batang dan Pekalongan yang terbuat dari bahan baku nangka muda. Setiap pengunjung dari luar daerah, biasanya mencari megono sebagai tanda telah berkunjung dan barang bawaaan. Kajian ini merupakan hasil dari pendalaman data tentang megono dan eksistensinya sebagai identitas kultural masyarakat Batang di tengah globalisasi. Penelitian ini dilakukan dengan metode kualtitatif dengan pendekatan wawancara terbuka. Pedagang dan konsumen menjadi informan utama dalam menjelaskan kajian ini. Menurut Baudrillard, arena konsumsi pada globalisme adalah kehiduapan sehari-hari yang merupakan sistem interpretasi. Hasil penelitian menunjukkan setiap pagi, masyarakat Batang seolah wajib untuk mengkonsumsi sego megono sambel. Menurut hasil analisa data, megono Batang memiliki karakteristik daripada megono dari tempat lain yaitu aromanya yang khas. Sebagai makanan tradisional, megono tetap dapat hadir dan menjadi simbol kultural di tengah banyaknya variasi makanan modern. Bagi konsumen, makanan ini dapat mendekonstruksi kelas sosial yang diciptakan kapitalisme. Megono tidak mengenal kelas. Artinya megono adalah simbol kesetaraan bagi masyarakat.  
DILEMA KEBIJAKAN WISATA HALAL DI PULAU LOMBOK Lukman Santoso; Yutisa Tri Cahyani; Suryani Suryani
Jurnal Sosiologi Reflektif Vol 15, No 1 (2020)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jsr.v15i1.1968

Abstract

The study aims to explore the policy of halal tourism as an instrument for regional development on the island of Lombok. The main problem of halal tourism policy, in addition to the inadequacy of the legal basis for tourism, is an unclear institutional position of halal tourism. This creates a further question on how to manage halal tourism to maximize its contributions. By using policy theory and a qualitative-interpretative approach, this study finds that halal tourism policy is a strategic policy in supporting the regional economy, as well as being able to accelerate sustainable regional development. However, at a practical level, halal tourism as a policy still experiences various obstacles and challenges. In principle, halal tourism is a universal service product because it can be used by all people, including non-Muslim tourists, but on the island of Lombok, it has not been well understood by all stakeholders. As a strategic policy, the halal tourism policy is a multi-sector and multi-regional policy. So it is necessary that Lombok halal tourism policy is integrally formulated with the vision of sustainable development. Kajian ini bertujuan mengeksplorasi kebijakan wisata halal sebagai instrumen pembangunan daerah di pulau Lombok. Sebagaimana dipahami, problem mendasar kebijakan wisata halal, selain belum memadainya dasar hukum pariwisata halal, juga secara kelembagaan masih terdapat problem. Sehingga yang menjadi pertanyaan bagaimana sebaiknya pariwisata dikelola agar mampu berkontribusi bagi kesejahteraan rakyat. Dengan menggunakan teori kebijakan dan pendekatan kualitatif-interpretatif, kajian ini menghasilkan temuan bahwa kebijakan wisata halal merupakan kebijakan yang strategis dalam menunjang perekonomian daerah sekaligus mampu mengakselerasi pembangunan daerah yang berkelanjutan. Namun, dalam praktiknya wisata halal sebagai sebuah kebijakan masih mengalami berbagai hambatan dan tantangan. Wisata halal pada prinsipnya merupakan produk jasa yang universal karena dapat dimanfaatkan semua orang, termasuk wisatawan non-Muslim namun di Pulau Lombok belum dipahami secara baik oleh semua stakeholders. Sebagai kebijakan yang strategis, kebijakan pariwisata halal merupakan kebijakan yang multisektor sekaligus multi-regional. Sehingga dibutuhkan rumusan kebijakan wisata halal Lombok yang terintegrasi dengan visi sustainable development (pembangunan berkelanjutan).
PEMIKIRAN HERMENEUTIK RAIMUNDO PANIKKAR DAN KONTEKSTUALISASINYA PADA TETE MANIS DAN TARIAN BAMBU GILA BAGI PEMAHAMAN IMAN DAN KEPERCAYAAN ORANG MALUKU Yuni Feni Labobar, Hotliong Verawaty, Juanda Manullang dan Alon Mandimpu Nainggolan
Jurnal Sosiologi Reflektif Vol 15, No 1 (2020)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jsr.v15i1.1928

Abstract

This study aims to describe a melting process of  Christianity faith and local beliefs of the Moluccas’, namely Tete Manis and the crazy bamboo dance. Tete Manis is a local term for God in the context of the Moluccas, while Crazy Bamboo is a local dance, which contains mystical aspect within its performance. In combining these two terms, we uses Raimundo Panikkar's thoughts of diatopic hermeneutics because with this model we can understand something else, find an alternative way to overcome some embedded boundaries, and bring together some different horizons, either in a tradition or in a different culture. This research is a library research, using a qualitative analysis of Panikkar's thoughts and also the context of faith and belief of the Moluccas’, namely Tete Manis and the crazy bamboo dance. The findings show that the faith and belief in God, the ancestors and the rulers of bamboo is Faith owned by Moluccas’, and the rituals carried out are the beliefs of the Moluccas’. The relationship between Moluccas’ and ancestors (Tete nene moyang) is not a relationship based on a belief, but rather, it is a relationship based of respect or appreciation.  Penelitian ini bertujuan untuk melakukan perjumpaan antara iman dan kepercayan orang Maluku yakni Tete Manis dan tarian bambu gila. Tete Manis merupakan penyebutan Tuhan dalam konteks orang Maluku dan Bambu gila adalah tarian yang memiliki nuansa mistik dalam atraksinya. Dalam menjembatani akan kedua perbedaan ini penulis menggunakan pemikiran Raimundo Panikkar dengan hermeneutik  diatopical karena dengan model ini kita dapat memahami sesuatu yang lain, dapat mencari jalan keluar dari batas-batas yang diciptakan, mempertemukan cakrawala yang berbeda secara radikal, baik itu dalam tradisi atau dalam budaya yang berbeda. Jenis penelitian yang digunakan adalah library research atau penelitian kepustakaan dan metode yang digunakan adalah analisis kualitatif terhadap pemikiran Panikkar dan juga Konteks iman dan kepercayaan orang Maluku yaitu Tete Manis dan Tarian bambu gila. Temuan dalam penelitian ini adalah iman dan kepercayaan pada Tuhan, leluhur dan penguasa bambu adalah Faith dimiliki oleh orang Maluku, dan ritual-ritual yang dilakukan merupakan Belief masyarakat Maluku. Hubungan manusia Maluku dan leluhur (Tete-nene moyang) bukanlah relasi kepercayaan, melainkan relasi penghormatan atau penghargaan.  
CAPAIAN UNGGAHAN KONTEN AKUN INSTAGRAM GEMBIRA LOKA ZOO (GLZOO) YOGYAKARTA TERHADAP ONLINE ENGAGEMENT PADA MASA PANDEMI COVID-19 Dwi Nur Laela Fithriya
Jurnal Sosiologi Reflektif Vol 15, No 1 (2020)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jsr.v15i1.1980

Abstract

The tourism sector is one of the sectors that was hardest hit when the Covid-19 pandemic hit Indonesia. Tourist visits during the Covid-19 pandemic decreased dramatically. To overcome this situation, serious efforts are needed to keep tourist destinations in demand by visitors, including the case study of Gembira Loka Zoo (GLZoo) Yogyakarta. One of the efforts taken by GLZoo managers is through social media, such as Instagram, in order to maintain the brand awareness of GLZoo as a tourist destination. Tourist destinations that are closely related to social media, in which there is a term that has an important meaning and role, namely online engagement which is a psychological response from social media users (Instagram). Online engagement aims to see how much the uploads on Instagram social media have achieved. This paper uses a qualitative descriptive research method, namely finding a fact with the correct interpretation. Hopefully, with marketing communication using Instagram, it is so that brand awareness in the minds of consumers is maintained, the final goal is of course the top of mind stage. In addition, to get maximum engagements, the GLZoo Instagram account manager seems to have to pay attention to several factors: 1). type of content, 2) upload time, 3) caption, and 4) hashtags. So, when tourists have thoughts of wanting to travel in a category that suits GLZoo, the first thing that tourists remember is GLZoo spontaneously without any assistance or stimulus. Sektor pariwisata merupakan salah satu sektor yang paling terpukul saat pandemi Covid-19 melanda Indonesia. Kunjungan wisatawan saat masa pandemi Covid-19 menurun drastis. Melihat kondisi tersebut, dibutuhkan upaya untuk tetap menjaga agar destinasi wisata tetap diminati oleh para pengunjung, yang dalam tulisan ini penulis mengambil studi kasus Gembira Loka Zoo (GLZoo) Yogyakarta. Salah satu upaya yang ditempuh oleh pengelola GLZoo agar para pengunjung tetap mengingatnya adalah melalui media sosial yang dalam tulisan ini adalah Instagram. Hal ini supaya brand awareness GLZoo sebagai destinasi wisata tetap terjaga, tetap mengenali dan teringat  dibenak masyakarat. Destinasi wisata yang erat kaitannya dengan media sosial, di dalam nya terdapat satu istilah yang memiliki makna dan peran penting yaitu Online engagement yang merupakan respon psikologis dari pengguna media sosial (Instagram) yang dikelompokkan sebagai tindakan interaktif, antara  pengguna media sosial dengan akun destinasi wisata. Online engagement bertujuan untuk melihat seberapa besar capaian dari unggahan-unggahan di media sosial Instagram. Tulisan ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif, yaitu pencarian suatu fakta dengan interpretasi yang tepat. Diharapkan, dengan komunikasi pemasaran menggunakan Instagram adalah supaya brand awareness di benak konsumen tetap terjaga, tujuan akhir tentunya adalah pada tahapan top of mind. Selain itu, untuk mendapatkan engagements yang maksimal, pengelola akun Instagram GLZoo nampaknya harus memperhatikan beberapa faktor: 1). jenis konten, 2) waktu upload, 3) caption, dan 4) hashtags. Sehingga ketika wisatawan mempunyai pikiran ingin berwisata dengan kategori yang sesuai dengan GLZoo maka yang pertama kali diingat dibenak wisatawan adalah GLZoo secara spontan tanpa harus diberikan bantuan atau stimulus.
FORMAT PEMILU SERENTAK PASCA PUTUSAN MK NO. 55/2019: Kajian dan Analisis Sosiologi Politik Syarifuddin Jurdi
Jurnal Sosiologi Reflektif Vol 15, No 1 (2020)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jsr.v15i1.1955

Abstract

In the practice of the Indonesian presidential system, the presidential elections held after the legislative elections do not strengthen the presidential system, checks and balances mechanism  between the government and the People’s Representative Council have not run according to the mandate of the constitution yet. By using hermeneutic and verstehen approaches, as well as political sociology perspective, this paper considers that strengthen checks and balances mechanism between the government and People’s Representative Council is by carrying out regional and national simultaneous elections. The merging of legislative elections (People’s Representative Council and Regional representative Council) and presidential elections at national level also merging legislative and executive elections at  regional level have several functions:  first, the merging will result an effective and efficient governance in running the government; second, an easier and lighter electoral unification model, both for organizers in preparing stages of elections or for voters in channeling their voting rights; third, political issues that are programmed by candidate pairs and legislative candidates will be more focused and directed so that the public is clearer in determining their political choices. Dalam praktik sistem presidensial Indonesia, pemilu presiden yang diselenggarakan setelah pemilu legislatif tidak memperkuat sistem presidensial, mekanisme saling mengawasi (checks and balances) antara pemerintah dan DPR belum berjalan sesuai konstitusi. Dengan menggunakan pendekatan hermeneutik dan verstehen serta perspektif sosiologi politik dan kelembagaan, tulisan ini memandang bahwa memperkuat checks and balances antara pemerintah dan parlemen melalui penyelenggaraan pemilu serentak nasional dan lokal. Penggabungan pemilu legislatif (DPR dan DPD) dan pemilu presiden pada level nasional serta penggabungan pemilu legislatif (DPRD Provinsi dan DPRD kabupaten/kota) dan eksekutif (gubernur, bupati, walikota) pada level daerah menjadi pilihan; pertama, penyatuan tersebut akan menghasilkan pemerintahan yang efektif dan efisien dalam menjalankan kekuasaannya; kedua, model penyatuan level pemilu lebih mudah dan ringan, baik bagi penyelenggara dalam menyiapkan tahapan maupun bagi pemilih dalam menyalurkan hak pilihnya; ketiga, isu politik yang diprogramkan pasangan calon maupun calon legislatif akan lebih fokus dan terarah sehingga masyarakat lebih jelas dalam menentukan pilihan politiknya.
URBAN CRISIS: Produk Kegagalan Urbanisasi di Indonesia Agus Saputro
Jurnal Sosiologi Reflektif Vol 15, No 1 (2020)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jsr.v15i1.2000

Abstract

According to Lewis Mumford, "no one is satisfied with the current form of the city". This paper explains how crises occur in cities. The purpose of this study is to look at the crisis that is happening in urban areas using the method of study of literature. The theory used is the risk society of Ulrich Beck. The crisis that occurred in the city is not merely focus on economic problems, such as poverty, unemployment, homeless people and street children. Urban crises also include security, environmental, energy and social aspects. As for the factors causing the crisis, this paper sees it from an internal and external perspective. Internally, the urban crisis is caused by the developing of the city itself. A city that acts as a market has attracted producers and consumers to come. Producers approach the suburbs to reduce production costs because they are close to markets and human resources. Meanwhile, consumers come to the city because of the larger selection of goods and they also can get the best prices. Developing cities cause industrial estates to no longer be on the outskirts of cities, but many in the city center. Obviously, this causes problems and crises in the middle of a dense urban population. The crisis was also caused by external factors, namely relations with the village. The failure of development in the village caused by the choice of fragmented agricultural land due to the distribution of inheritance and agrarian violations so that land is owned by peasants. These conditions require villagers to urbanize. A city that has developed physically and has a population implicating in slum areas, squatters, green open space crises and low social sensitivity. Menurut Lewis Mumford, “tidak ada satu pun orang  yang puas dengan wujud kota saat ini”. Penulis setuju dengan pernyataan tersebut, sehingga tulisan ini berusaha menjelaskan bagaimana krisis terjadi di perkotaan. Daya tarik kota begitu menghipnotis masyarakat, hal tersebut tidak terlepas dari keberhasilan pembangunan kota. Akan tetapi, di sisi lain kota mengalami yang disebut krisis. Tujuan dari penelitian ini adalah ini melihat krisis yang terjadi di perkotaan dengan menggunakan metode studi literatur-literatur. Adapun teori yang dipakai adalah masyarakat resiko dari Ulrich Beck. Krisis yang terjadi diperkotaan tidak hanya berbicara terkait masalah ekonomi, misal; kemiskinan, pengangguran, gelandangan dan anak jalanan. Krisis perkotaan juga meliputi krisis  keamanan, lingkungan, energi dan sosial. Adapun faktor penyebab terjadinya krisis, dalam tulisan ini melihatnya pada sudut pandang internal dan eksternal. Pada faktor internal, krisis perkotaan disebabkan oleh kota itu sendiri yang berkembang. Kota yang berperan sebagai market, telah menarik produsen dan konsumen untuk datang. Produsen mendekat ke pinggiran kota untuk memperkecil biaya produksi karena dekat dengan pasar dan SDM. Sedangkan konsumen, datang ke kota karena banyak pilihan barang dan mendapatkan harga terbaik. Kota yang berkembang menyebabkan kawasan industri tidak lagi berada di pinggiran kota, akan tetapi banyak di pusat kota. Tentu ini menyebabkan masalah dan krisis di tengah penduduk kota yang padat. Krisis juga disebabkan oleh faktor eksternal, yakni relasi dengan desa. Kegagalan pembangunan di desa, kepemilihan lahan pertanian yang terfragmentasi akibat pembagian warisan dan pelanggaran-pelanggaran agrarian sehingga tanah dimiliki oleh petani berdasi. Kondisi tersebut menuntut penduduk desa untuk urbanisasi. Kota yang berkembang secara fisik dan jumlah penduduk berimplikasi slum area, penghuni-penghuni liar, krisis ruang terbuka hijau dan rendahnya kepekaan sosial.
REVEAL THE MYSTERY OF RITUAL SESAJEN (TOHO DORE) ON MBOJO TRIBE IN BIMA Nurnazmi Nurnazmi; Arifuddin Arifuddin; Nurhasanah Nurhasanah; Irfan Irfan; Ida Waluyati; ST Nurbayan; Syaifullah Syaifullah
Jurnal Sosiologi Reflektif Vol 15, No 1 (2020)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jsr.v15i1.1959

Abstract

The ritual offering of “toho dore” is a religious tradition carried out by the ancestors based on animism concept of “ma kakamba” and dynamism concept of “ma kakimbi”, which are still believed and practiced by some Mbojo tribes. The purpose of this study is to describe the meaning of ritual offerings (toho dore) for the Mbojo tribe community in Bima Regency; and to describe the ritual mystery (toho ra dore) in the Mbojo tribe of Bima Regency. The research approach uses a qualitative approach, ethnographic methods. Data collection techniques used are interviews, observations and documentations. Data analysis techniques using data reduction, data display and data verification. Testing the authenticity of the data using time triangulation, data sources and data collection techniques. All of the data are interpreted using Symbolic Interactionalism theory of George Herbert Mead. The findings show that ritual offerings serve people of Mbojo for various purposes: (1) Ritual offerings (toho dore) to obtain offspring, (2) Ritual offerings (toho dore) as a means of obtaining abundant harvests, (3) Ritual offerings (toho dore) to obtain large livestock yields, such as cattle and buffalo, (4) Ritual offerings (toho dore) to get a lot of sustenance when trading, even though the products sold are not as good and as many products as other business partners, (5) Ritual offerings (toho dore) to keep rice in the rice container (tewu bongi), (6) Ritual offerings (toho dore) so that the child in the content is not lost, (7) Ritual offerings (toho dore) to get a mate. Ritual sesajen (toho dore) merupakan suatu perilaku yang dilakukan oleh para nenek moyang atas kepercayaan pada dinamisme (ma kakamba) dan animisme (ma kakimbi) yang masih dipercayai dan dilaksanakan oleh sebagian suku Mbojo yang mempercayai keajaiban ritual-ritual tersebut. Lokasi-lokasi tertentu yang dipercayai oleh masyarakat untuk meletakkan sesajen (toho dore) yang terdiri dari kelapa muda, pisang, nasi ketan (oha mina), daun sirih, pinang dan ayam kampung yang berwarna putih atau hitam semua bulunya. Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan makna ritual sesajen (toho dore) bagi masyarakat suku Mbojo di Kabupaten Bima; dan untuk mendeskripsikan misteri ritual (toho dore) di suku Mbojo Kabupaten Bima. Teori yang digunakan yakni teori interaksionalisme simbolis George Herbert Mead. Pendekatan penelitian menggunakan pendekatan kualitatif, metode etnografi. Informan utama sejumlah 11 orang dan informan pendukung 3 orang, teknik sampling yang digunakan yakni snowball sampling. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik interview, observasi dan dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan reduksi data, display data dan verifikasi data. Pengujian keabsahan data menggunakan triangulasi waktu, sumber data dan teknik pengumpulan data. Temuan hasil penelitian terdiri dari (1) Ritual sesajen (toho dore) untuk mendapatkan keturunan, (2) Ritual sesajen (toho dore) sebagai sarana mendapatkan hasil panen berlimpah, (3) Ritual sesajen (toho dore) untuk mendapatkan hasil ternak yang banyak, seperti sapi dan kerbau, (4) Ritual sesajen (toho dore) untuk mendapatkan rezeki yang banyak saat berdagang padahal produk yang dijual tidak sebagus dan sebanyak produk rekan bisnis lainnya, (5) Ritual sesajen (toho dore) untuk tetap memiliki beras dalam tempat beras (tewu bongi), (6) Ritual sesajen (toho dore) agar anak dalam kandungan tidak hilang, (7) Ritual sesajen (toho dore) untuk mendapatkan jodoh, (8) Ritual sesajen (toho dore) untuk menyembuhkan sakit jiwa.

Page 1 of 2 | Total Record : 11