cover
Contact Name
Achmad Zainal Arifin, Ph.D
Contact Email
achmad.arifin@uin-suka.ac.id
Phone
+6281578735880
Journal Mail Official
sosiologireflektif@uin-suka.ac.id
Editorial Address
Laboratorium Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora, UIN Sunan Kalijaga Jl. Adisucipto 1, Yogyakarta, Indonesia, 55281
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Sosiologi Reflektif
ISSN : 19780362     EISSN : 25284177     DOI : https://doi.org/10.14421/jsr.v15i1.1959
JSR focuses on disseminating researches on social and religious issues within Muslim community, especially related to issue of strengthening civil society in its various aspects. Besides, JSR also receive an article based on a library research, which aims to develop integrated sociological theories with Islamic studies, such as a discourse on Prophetic Social Science, Transformative Islam, and other perspectives.
Articles 12 Documents
Search results for , issue "Vol. 17 No. 1 (2022)" : 12 Documents clear
SOCIO-ECONOMIC DIMENSIONS OF THE AL-IDRISIYAH TAREKAT IN INDONESIA: DOCTRINE AND PRACTICE Mursalat Mursalat; Siswoyo Aris Munandar
Jurnal Sosiologi Reflektif Vol. 17 No. 1 (2022)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jsr.v17i1.2543

Abstract

Tarekat or Sufi order is identical to various spiritual activities, often considered far from worldly life. This identification places Sufism as merely related to mystical and ascetic activities. This study intends to explain how the Al-Idrisiyah tarekat in Indonesia has primary concern on social and economic dimensions in all of their various empowerment programs in the community. The research uses qualitative methods, with data collection techniques of observation and documentation of tarekat activities on mixed social media. The study results show that the practice of the socio-economic dimension is an implementation of their belief that a true Sufi is a Sufi who works and empowers others. Their socio-economic activities have developed to resemble philanthropic activities and can help several community groups affected by the pandemic in 2020-2021.Tarekat atau sufi sering diidentikkan dengan kegiatan spiritual, yang dianggap menjauhi kehidupan duniawi. Identifikasi tersebut menyebabkan tasawuf dianggap dekat dengan hal-hal yang bersifat kebatinan dan asketik.  Penelitian ini bermaksud untuk menjelaskan bagaimana Tarekat Al-Idrisiyah di Indonesia memiliki dimensi sosial dan ekonomi yang diterapkan dalam berbagai program pemberdayaan mereka di masyarakat. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi dan dokumentasi kegiatan-kegiatan tarekat di berbagai sosial media. Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik dimensi sosial-ekonomi tersebut merupakan implementasi dari keyakinan mereka bahwa seorang sufi yang benar adalah sufi yang bekerja dan memberdayakan manusia lainnya yang lemah. Kegiatan sosial-ekonomi mereka tersebut berkembang menyerupaikan aktivitas filantropi dan mampu membantu beberapa kelompok masyarakat yang terdampak pandemi di tahun 2020-2021.   
LANGO ACTIVISM (LEGAL AID NGOS) ON THE RISE OF NEOLIBERAL GOVERNMENTALITY IN POST-AUTHORITARIAN INDONESIA: EXAMINING TWO DECADES OF STRUGGLE Andreas Budi Widyanta; Heru Nugroho; Arie Sujito
Jurnal Sosiologi Reflektif Vol. 17 No. 1 (2022)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jsr.v17i1.2506

Abstract

This paper analyzes the dynamics and challenges of the movement of a Legal Aid NGO (LANGO) in Indonesia in advocating for the rights of the weak, poor, and marginalized to gain access to justice during two decades of reform. Through historical, sociological, and political insights, this paper reveals the discursive narrative of neoliberal governmentality for the last twenty years. This study uses a qualitative method, with data collection techniques of observation, documentation, and in-depth interviews with three informants from Legal Aid NGO. Using the Foucaultian analytical framework, this study finds that neoliberal governance has shaped LANGO as a managerial subject that implicitly and obediently promotes the discourse and practice of neoliberal rationality. But on the other hand, LANGO becomes an administrative subject resistant to neoliberal rationality by performing several maneuvers and tactics: promotion, contextual adaptation, avoidance/avoidance, and rejection. This contradiction and ambivalence become a severe challenge for LANGO in realizing equal access to justice for the marginalized and vulnerable in Indonesia.Paper ini akan menganalisis secara kritis dinamika dan tantangan gerakan dari sebuah Legal Aid NGO (LANGO) di Indonesia dalam mengadvokasi hak-hak kaum lemah, miskin, dan terpinggirkan untuk mendapatkan akses keadilan selama dua dekade reformasi. Melalui tilikan historis, sosiologis, dan politis, paper ini akan mengungkap narasi diskursif governmentality neoliberal yang berlangsung selama dua puluh tahun terakhir. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi, dokumentasi, dan wawancara mendalam terhadap tiga informan dari Legal Aid NGO. Dengan menggunakan kerangka analisis Foucaultian, studi ini menemukan bahwa pemerintahan neoliberal telah membentuk LANGO sebagai subjek manajerial yang secara implisit dan patuh mempromosikan wacana dan praktik rasionalitas neoliberal. Namun di sisi lain, LANGO menjadi subjek manajerial yang resisten terhadap rasionalitas neoliberal dengan melakukan sejumlah manuver dan taktik: promosi, adaptasi kontekstual, penghindaran, dan penolakan. Kontradiksi dan ambivalensi ini merupakan tantangan serius bagi LANGO dalam mewujudkan kesetaraan akses keadilan bagi kaum marginal dan rentan di Indonesia.
UNDERSTANDING SOCIAL-INTERACTION BETWEEN NYAI AND FEMALE SANTRI IN PESANTREN ANNUQAYAH, EAST JAVA Mohammad Takdir; Lusiyana Lusiyana; Zahratul Jannah; Min Umniyatil Maimunah
Jurnal Sosiologi Reflektif Vol. 17 No. 1 (2022)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jsr.v17i1.2548

Abstract

This article explains the model of social interaction between Nyai (female pesantren leader) and santri (female students) at Pesantren Annuqayah, East Java. Nyai is seen as having the authority to participate in developing education in pesantren. This view has implications for the model of social relationship between Nyai and her students, not only in the learning process but also in their daily life at the pesantren. This research uses qualitative methods through a phenomenological approach. Data were collected through observation, documentation, and in-depth interviews with Nyai and several students at the pesantren of Annuqayah. The results showed that the relationship between Nyai and santri tends to be in patron-client and associative models. These two models of interactions arise naturally as a tradition, as well as a form of application of the teachings they learn in classical books in pesantren. This relationship model aims to shape Islamic personality and teach the students morality and intellect.Artikel ini bertujuan untuk menjelaskan model interaksi sosial antara Nyai dan santri perempuan di Pesantren Annuqayah, Jawa Timur. Nyai, sebuah sebutan untuk istri pemimpin pesantren di Indonesia, dipandang memiliki otoritas untuk ikut serta mengembangan pendidikan di pesantren. Hal ini berimplikasi pada jenis relasi sosial diantara Nyai dengan murid-muridnya, tidak hanya dalam proses pembelajaran namun juga dalam keseharian mereka di pesantren. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif melalui pendekatan fenomenologi. Data dikumpulkan melalui teknik observasi, dokumentasi, dan wawancara mendalam terhadap Nyai dan beberapa santri di Pesantren Annuqayah Jawa Timur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hubungan Nyai dan santri cenderung bersifat patron-klien dan asosiatif. Kedua jenis interaksi ini terjadi secara alamiah sebagai sebuah tradisi, sekaligus bentuk penerapan dari ajaran-ajaran yang mereka pelajari dalam kitab-kitab klasik di pesantren. Model hubungan ini bertujuan untuk membentuk kepribadian Islami, penanaman moralitas, dan intelektualitas pada diri para santri.
THE PARENTS' PREFERENCE IN CHOOSING AN ALTERNATIVE SCHOOL OF SANGGAR ANAK ALAM (SALAM) IN BANTUL DIY: A ‘PROJECT’ TO INHERIT WISDOM VALUES Nurliana Ulfa
Jurnal Sosiologi Reflektif Vol. 17 No. 1 (2022)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jsr.v17i1.2464

Abstract

Parents' awareness of choosing the best school for their children is vital and not a simple task. In selecting this school, the aspects of knowledge, life experience, and parents' ideology play an essential role. This study aims to reveal the rational choice of parents who send their children to the alternative school of Sanggar Anak Alam (SALAM) Bantul, Yogyakarta. This research is descriptive-qualitative, using a phenomenological approach. Data were collected through observation and in-depth interviews with 5 (five) informants who send their children to school in SALAM. The researcher uses James S. Coleman's Rational choice theory to explain this phenomenon by looking at the aspects of resources, rewards, costs, values , and preferences. The results of this study indicate that life experiences and the need for life wisdom values than the need for material selections influenced the rational choice of parents.Kesadaran orangtua untuk memilihkan sekolah terbaik bagi anaknya merupakan hal vital dan tidak sederhana. Dalam proses pemilihan sekolah ini, aspek pengetahuan, pengalaman hidup dan ideologi orang tua memainkan peran penting. Penelitian ini bertujuan mengungkap pilihan rasional orang tua yang menyekolahkan anaknya di sekolah alternatif Sanggar Anak Alam (SALAM) Bantul, Yogyakarta. Desain penelitian berupa kualitatif interpretatif dengan pendekatan fenomenologi. Data dikumpulkan melalui observasi dan wawancara mendalam terhadap 5 (lima) orang informan yang menyekolahkan anaknya di di SALAM. Peneliti menggunakan teori pilihan Rasional James S. Coleman untuk menjelaskan fenomena ini dengan melihat pada aspek sumber daya, reward, cost, nilai dan preferensi. Teknik pengolahan data menggunakan metode analisis data fenomenologi Van Kaam yakni horizonalisasi, reduksi & eliminasi, pengelompokan tema, identifikasi final data, mengonstruksi deskripsi tekstural - struktural, lalu menggabungkan keduanya untuk menghasilkan makna dan esensi dari permasalahan penelitian. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa pilihan rasional orang tua yang menyekolahkan anaknya di SALAM lebih dipengaruhi oleh pengalaman hidup dan kebutuhan akan nilai-nilai kearifan hidup daripada kebutuhan akan preferensi materi.
THE IMPACT OF TEACHING-SCHOOL STUDENTS WITH A PESANTREN EDUCATION BACKGROUND AS FUNDS OF IDENTITY: A SOCIOLOGICAL ANALYSIS Tomy Kartika Putra; Rohmad Arkam
Jurnal Sosiologi Reflektif Vol. 17 No. 1 (2022)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jsr.v17i1.2551

Abstract

Teaching-school students with a pesantren education background have a source of identity with rich Islamic values. Research-based on their identity formation is essential. They need to consider their experiences to help them when entering college. This study aims to determine the components of the identity sources of new students in the Department of English education at one of universities in East Java. By referring to the fund's identity framework, this study analyzes self-portraits of teaching-school students to find the origins of student identity formation. This research employs observation techniques and in-depth interviews with four teaching school students with pesantren educational backgrounds. The study results indicate that teaching-school students with pesantren backgrounds have sources of identity formation with social, valuative, practical, institutional, and disciplinary categories. From a sociological perspective, identity formation's origins are part of positive social capital with pedagogical and methodological implications in the teaching process.Mahasiswa keguruan yang mempunyai latar belakang pendidikan pesantren membawa sumber identitas yang kaya nilai Islam. Penelitian mengenai sumber pembentuk identitas yang mereka miliki penting dilakukan. Pengalaman yang mereka bawa perlu dirangkul sebagai upaya untuk membantu mereka ketika masuk dalam perguruan tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komponen-komponen sumber identitas mahasiswa baru Pendidikan Bahasa Inggris. Dengan mengacu pada kerangka funds of identity, penelitian ini menganalisis self-portrait mahasiswa-keguruan untuk mengetahui sumber pembentuk identitas mahasiswa. Data dikumpulkan melalui teknik observasi dan wawancara mendalam terhadap 4 orang mahasiswa-keguruan dengan latar belakang pendidikan pesantren. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa keguruan berlatar belakang pendidikan pesantren mempunyai sumber pembentuk identitas, yakni social, valuative, practical, institutional, and disciplinary. Secara Sosiologis, sumber pembentuk identitas tersebut merupakan bagian dari modal sosial yang positif dan memiliki implikasi pedagogi dan metodologi dalam proses pengajaran. 
BOOK REVIEW: CRITICAL NOTES ON IMAJINASI SOSIOLOGI: PEMBANGUNAN SOSIETAL B.J. Sujibto
Jurnal Sosiologi Reflektif Vol. 17 No. 1 (2022)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jsr.v17i1.2610

Abstract

The essay is to examine a book entitled Imajinasi Sosiologi: Pembangunan Sosietal by underlining two significant elements to critically read and debate some problematic theories and other explanations. Firstly, concerning sociological theories and social theories in general in which the author paid attention; secondly, the author’s discipline of implementing the theories based on the data and contextual basis of Indonesian society. I am concerned a lot with the theoretical problems of the book and how the author explained sociological theories since they are used as a tool to analyse current topics particularly of ‘societal’ development (with an apostrophe to indicate a new term for Indonesian society of either academic or popular usage). Apart from many typos and lack of references, the review found at least two problems to argue: first is about conceptual and theoretical problems and lexical inconsistencies including the major theory of sociological imagination used as a title of the book, and second is a failure to exercise the care that reference and citation must be rigorously taken into consideration.Esai ini mengkaji buku berjudul Imajinasi Sosiologi: Pembangunan Sosietal dengan menggarisbawahi dua hal penting yang bisa dievaluasi dan dikritik. Pertama, tentang teori-teori sosiologi dan teori-teori sosial lainnya yang menjadi fokus penulis; kedua, kedisiplinan penulis dalam menerapkan teori berdasarkan data dan landasan kontekstual masyarakat Indonesia. Saya menaruh perhatian serius dalam masalah teori dalam buku ini dan bagaimana penulis menjelaskan teori sosiologi karena teori-teori tersebut digunakan sebagai alat untuk menganalisis topik khususnya tentang pembangunan ‘sosietal’ (dengan apostrof untuk menunjukkan istilah baru untuk masyarakat Indonesia baik penggunaan akademik atau populer). Terlepas dari banyak kesalahan ketik dan kurangnya penyediaan sitasi dan referensi, ulasan ini menemukan setidaknya dua masalah untuk diperdebatkan: pertama tentang masalah konsep dan teori dan inkonsistensi leksikal termasuk teori utama imajinasi sosiologis yang digunakan sebagai judul buku, dan kedua adalah kegagalan untuk berhati-hati bahwa referensi dan kutipan harus benar-benar dipertimbangkan dalam karya akademik.
IMPLEMENTATION OF PARTICIPATORY ACTION RESEARCH (PAR) IN THE DISASTER RESILIENT TOURISM VILLAGE EMPOWERMENT PROGRAM Vina Salviana Darvina Soedarwo; Muhammad Hayat; Ratih Juliati
Jurnal Sosiologi Reflektif Vol. 17 No. 1 (2022)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jsr.v17i1.2462

Abstract

The COVID-19 pandemic has impacted many segments of society, including tourist villages in Indonesia. This condition encourages various higher education institutions to help tourism villages recover after the pandemic. UMM (University of Muhammadiyah Malang), through the MBKM (Merdeka Belajar Kampus Merdeka) Program has also participated by carrying out a series of empowerment activities to restore the economic aspects of tourist villages in Pujon, East Java. This village, during the pandemic, experienced a decrease in the number of visitors and the motivation of the managers as well. PAR (Participatory Action Research) has been chosen as an empowerment model in which researchers and informants could join in mapping the problems, finding the solutions, and formulating the joint programs. The findings showed that the PAR model used are proven to be successful in helping empower residents by increasing the motivation of village managers, using technology in marketing various products of residents, and increasing the availability of infrastructure that can improve the quality of services of tourism village managers.Pandemi Covid-19 selama dua tahun ini telah membawa dampak penurunan ekonomi pada banyak segmen masyarakat, termasuk diantaranya adalah desa wisata di Indonesia. Kondisi ini mendorong berbagai institusi pendidikan tinggi untuk membantu desa wisata pulih kembali pasca pandemi. UMM (Universitas Muhammadiyah Malang) melalui Program MBKM (Merdeka Belajar Kampus Merdeka) turut berpartisipasi dengan melakukan serangkaian kegiatan pemberdayaan dalam rangka memulihkan ekonomi desa wisata di Pujon, Jawa Timur. Desa ini selama pandemi mengalami penurunan jumlah pengunjung dan motivasi para pengelola. PAR (Participatory Action Research) telah dipilih sebagai model pemberdayaan, dimana peneliti dan subjek penelitian bersama-sama memetakan persoalan, mencari solusi, dan merumuskan program bersama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model PAR yang digunakan terbukti berhasil membantu memberdayakan warga, diantaranya adalah meningkatnya motivasi para pengelola desa, penggunaan teknologi untuk dapat beradaptasi dalam memasarkan berbagai produk warga, dan ketersediaan sarana prasarana yang dapat meningkatkan kualitas pelayanan dari pengelola desa wisata.
SOCIO-CATASTROPHISM IN THE RISK SOCIETY: CONCEPTS, CRITICISMS, AND PRAXIS Rangga Kala Mahaswa
Jurnal Sosiologi Reflektif Vol. 17 No. 1 (2022)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jsr.v17i1.2514

Abstract

The Sociology of Risk is one of the concepts used to analyze the current state of a global society. The development of risk theory has changed in recent decades. However, there is room for sociological criticism in which the concept of risk society must open up to the opportunities and possibilities of discursive debates after long period of industrial revolution to the recent issues of Anthropocene. Based on qualitative research through literature studies and conceptual-philosophical approaches, this article argues that risk governance is one of the challenges to developing the sociological discourse, especially when the community faces ecological disasters. In a later stage, it can realize the possibility of the world of many worlds, and praxis develops into a way of looking at the future of world which is increasingly eroded by the challenges of ecological crisis.Sosiologi Risiko menjadi salah satu konsep yang digunakan untuk menganalisis kondisi masyarakat global saat ini. Perkembangan dan pemikiran teori risiko sendiri telah mengalami perubahan dalam beberapa dekade terakhir. Akan tetapi, terdapat ruang kritik sosiologis bahwa konsep masyarakat risiko harus membuka peluang terhadap risiko yang sejatinya telah berkelindan bahkan sebelum revolusi industri sekalipun dengan cara melibatkan diskursus Antroposen. Berbasis pada penelitian kualitatif melalui studi kepustakaan dan pendekatan konseptual-filosofis, artikel ini berargumen bahwa tata kelola sosial risiko menjadi salah satu tantangan tersendiri bagi perkembangan diskursus Sosiologi. Terutama ketika masyarakat dunia menghadapi krisis risiko ekologi global. Sehingga pada tahap selanjutnya dapat mewujudkan kemungkinan the world of many worlds dan secara praksis berkembang menjadi cara pandang untuk masa depan dunia yang semakin tererosi dengan tantangan krisis ekologi.
THE SPIRITUAL-ECOLOGICAL APPROACHES OF INDIGENOUS COMMUNITIES OF TIDORE TOWARDS ENVIRONMENTAL CONSERVATION David Efendi; Arifin Muhammad Ade; Alam Mahadika
Jurnal Sosiologi Reflektif Vol. 17 No. 1 (2022)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jsr.v17i1.2552

Abstract

G20 summit in August has established various strategies and issues focusing in environmental managements, especially climate change. It has prompted some parties to realize a better understanding of climate change amid their limitations. The roles of indigenous communities are considered by many social scientists as parties which are able to contribute significantly to environmental conservation which indirectly has an impact on corporate efforts as the G20 country aspires to. This study intends to explain how the spiritual beliefs and practices of indigenous peoples in Tidore, North Maluku, who have been acculturated with Islam, can catalyze natural preservation. This research was conducted through an ethnographic approach in Kalaodi village, Tidore, North Maluku. The data was collected through observations and in-depth interviews with 16 informants consisting of traditional leaders, heads of village, and ordinary civilians. The findings showed that the beliefs and eco-spiritual practices of the Kalaodi people, known as Paca Goya, have successful impacts in environmental issues in the region remaining sustainable and even become one of the protected forests in Indonesia. It is undoubtedly a positive approach of campaigning better understanding of climate change amid public confusion about the threat of global warming.Negara G20 pada KTT Agustus lalu telah memantapkan berbagai strategi dan fokus isu dalam pengelolaan lingkungan, khususnya perubahan iklim. Hal ini mendorong sejumlah pihak untuk bagaimana mewujudkan perubahan iklim yang lebih baik di tengah berbagai keterbatasan yang ada? Peran komunitas adat dewasa ini dilirik oleh banyak ilmuwan sosial telah berkontribusi signifikan dalam konservasi lingkungan yang secara tidak langsung tentu memiliki dampak pada upaya peruahan iklim seperti yang dicita-citakan Negara G20. Penelitian ini bermaksud untuk menjelaskan bagaimana keyakinan dan praktik spritual masyarakat adat di Tidore Maluku Utara yang telah berakulturasi dengan budaya Islam mampu menjadi katalisator dalam pelestarian alam. Penelitian ini dilakukan melalui pendekatan etnografi di desa Kalaodi, Tidore, Maluku Utara. Data dikumpulkan melalui observasi dan wawancara mendalam terhadap 16 informan yang terdiri dari tokoh adat, lurah, dan warga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keyakinan dan praktik eco-spiritual masyarakat Kalaodi yang dikenal dengan Paca Goya telah berhasil menjadikan kawasan lingkungan tersebut tetap lestari dan bahkan menjadi salah satu hutan lindung di Indonesia. Hal ini tentu menjadi indikasi positif bagi terwujudnya perubahan iklim yang lebih baik di tengah kebingungan masyarakat akan ancaman global warming dunia.
LEARNING ISLAM IN A MODERATE WAY: HOW PESANTREN TEACHES ISLAMIC VALUES AND NATIONHOOD TOWARD SANTRI? Suprapto Suprapto
Jurnal Sosiologi Reflektif Vol. 17 No. 1 (2022)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jsr.v17i1.2556

Abstract

The 9/11 tragedy has brought up negative stereotype to pesantren identified as a radical Islamic educational institution in Indonesia. In April 2022, BNPT (National Counterterrorism Agency) released 198 Islamic boarding schools which affiliated with radicalism. The increasing cases of intolerant acts in Indonesia have been exacerbating the relations among religious communities. This study intends to analyze the roles of two Islamic boarding schools, that are Al-Hikmah and Roudhotut Tholibin, in Indonesia, in producing moderate values of Islam to their students. This study employs a qualitative approach through a case study. Data were collected by observing various activities in the two Islamic boarding schools, FGD, and in-depth interviews with ten informants. The findings showed that Pesantren Al-Hikmah and Pesantren Roudhotut Tholibin taught moderate values of Islam, primarily through the teaching process of the classical book entitled Idhotun  Nasyi'in. It provides students with social aspects of interaction with non-Muslims and the values of differences. In doing so, students are also invited to participate in community activities to exercise the values of nationalism in Islamic boarding schools. This research further indicates that pesantren is not a place where radicalism grows but it has become an Islamic educational institution that can produce moderation and national values.Peristiwa terorisme 9/11 silam telah menyisakan stereotype negatif pada pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam yang radikal di Indonesia. Pada April 2022 lalu, BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme) telah merilis 198 pesantren yang terafiliasi dengan radikalisme. Hal ini diperburuk oleh data kasus intoleransi di Indonesia yang meningkat. Penelitian ini bermaksud untuk menganalisis dua pesantren yakni Al Hikmah dan Roudhotut Tholibin di Indonesia dalam peranannya memproduksi nilai-nilai moderat dalam berislam kepada para santri. Penelitian dilakukan dengan pendekatan kualitatif melalui studi kasus. Data dikumpulkan melalui observasi berbagai kegiatan di dua pesantren tersebut, FGD, dan wawancara mendalam terhadap 10 informan santri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pesantren Al Hikmah dan Pesanten Roudhotut Tholibin justru mengajarkan nilai-nilai moderat dalam berislam, khususnya melalui pengajaran kitab klasik Idhotun Nasyi’in. Kitab-kitab beserta dengan tafsir yang diajarkan kepada santri sarat dengan  ajaran-ajakan bagaimana berinteraksi secara baik dengan non-muslim dan kelompok yang berbeda. Santri juga diajak berpartisipasi dalam kegiatan di masyarakat sehingga mampu menumbuhkan benih-benih nasionalisme di pesantren. Penelitian ini selanjutnya menajdi indikasi kuat bahwa pesantren bukanlah tempat tumbuhnya radikalisme, namun justru telah menjadi lembaga pendidikan Islam yang mampu memproduksi nilai moderat dan nilai kebangsaan.

Page 1 of 2 | Total Record : 12