cover
Contact Name
Achmad Zainal Arifin, Ph.D
Contact Email
achmad.arifin@uin-suka.ac.id
Phone
+6281578735880
Journal Mail Official
sosiologireflektif@uin-suka.ac.id
Editorial Address
Laboratorium Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora, UIN Sunan Kalijaga Jl. Adisucipto 1, Yogyakarta, Indonesia, 55281
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Sosiologi Reflektif
ISSN : 19780362     EISSN : 25284177     DOI : https://doi.org/10.14421/jsr.v15i1.1959
JSR focuses on disseminating researches on social and religious issues within Muslim community, especially related to issue of strengthening civil society in its various aspects. Besides, JSR also receive an article based on a library research, which aims to develop integrated sociological theories with Islamic studies, such as a discourse on Prophetic Social Science, Transformative Islam, and other perspectives.
Articles 9 Documents
Search results for , issue "Vol. 19 No. 1 (2024)" : 9 Documents clear
Narratives, Symbols, and Rituals: Oral Tradition in Indigenous Resistance to Development Structuralism in West Papua, Indonesia Rupiassa, Dominggus Alexander Agusto; Lattu, Izak Y. M; Therik, Wilson M.A
Jurnal Sosiologi Reflektif Vol. 19 No. 1 (2024)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/z1s1th71

Abstract

Development projects that disregard Indigenous rights often provoke resistance, particularly in West Papua, Indonesia, where the Indigenous Kaimana people uniquely employ covert resistance through oral traditions to safeguard their rights. This study aims to understand how the Kaimana Indigenous community utilizes orality as a form of resistance against developmental structuralism. Employing a realist ethnographic method, this research directly observes the daily lives of the Indigenous community and documents forms of hidden resistance embedded in their oral traditions. Data were collected through in-depth interviews, focus group discussions (FGDs), observation, and documentary analysis of symbolic resistance activities. The findings reveal that Kaimana's Indigenous resistance is conveyed through three principal elements: storytelling, symbolism, and ritual. First, storytelling serves as a medium of resistance by recounting their spiritual connection to nature as a way of upholding ancestral rights. Second, symbols such as bamboo and sago leaves are used in road blockades, representing life and resistance. Third, traditional rituals involving everyday symbols are believed to possess mystical power and are used to protect Indigenous lands. These three elements illustrate that while the Kaimana community does not wholly oppose development, they demand that their customary rights be respected throughout the process. Pembangunan yang mengabaikan hak-hak masyarakat adat sering kali memicu resistensi, terutama di wilayah Papua Barat, Indonesia, di mana masyarakat adat Kaimana memiliki cara unik dalam mempertahankan hak mereka melalui resistensi tertutup berbasis Oral Traditions. Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana masyarakat adat Kaimana menggunakan kelisanan sebagai bentuk perlawanan terhadap strukturalisme pembangunan. Dengan menggunakan metode etnografi realis, penelitian ini mengamati langsung kehidupan sehari-hari masyarakat adat dan mendokumentasikan bentuk-bentuk perlawanan yang tersembunyi dalam tradisi lisan. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, diskusi kelompok terfokus (FGD), observasi, dan studi dokumentasi terkait aksi perlawanan simbolis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa resistensi masyarakat adat Kaimana dilakukan melalui tiga elemen utama: cerita, simbol, dan ritual. Pertama, cerita menjadi sarana perlawanan dengan mengisahkan hubungan spiritual mereka dengan alam sebagai cara mempertahankan hak leluhur. Kedua, simbol-simbol seperti bambu dan daun sagu digunakan dalam aksi pemalangan sebagai lambang kehidupan dan perlawanan. Ketiga, ritual adat yang melibatkan simbol-simbol sehari-hari dianggap memiliki kekuatan magis dan digunakan untuk melindungi wilayah adat. Ketiga elemen ini memperlihatkan bahwa masyarakat adat Kaimana tidak sepenuhnya menolak pembangunan, namun menuntut agar hak-hak adat mereka dihormati dalam proses tersebut.
Empowering Youth in Islamic Philanthropy: Addressing Challenges and Enhancing Sustainable Engagement Suryana, Yayan
Jurnal Sosiologi Reflektif Vol. 19 No. 1 (2024)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/46bq6768

Abstract

Youth play a vital role in the sustainability of Islamic philanthropic organizations in Indonesia, serving as drivers, influencers, and beneficiaries. However, challenges such as career instability and limited understanding of Islamic philanthropy often hinder their long-term involvement in philanthropic activism. This study aims to analyze the strategic role of youth in Islamic philanthropic activism in Indonesia, identify the challenges they face, and explore solutions to enhance their sustainable engagement. The research employs a qualitative descriptive approach, examining three Islamic philanthropic organizations in Indonesia: Daarut Tauhiid (DT) Peduli, Dompet Dhuafa, and Rumah Amal Salman. Data were collected through observations and document analysis. The findings reveal that youth are significant in managing technology and social media-based philanthropic programs. They also act as influencers, encouraging other young people to participate in philanthropic activities. However, their status as volunteers, without stable career prospects, often results in temporary involvement. To promote more sustainable participation, institutional reforms are needed to provide professional development opportunities for youth in philanthropy. Kaum muda memiliki peran penting dalam keberlanjutan lembaga filantropi Islam di Indonesia, baik sebagai penggerak, influencer, maupun penerima manfaat. Namun, tantangan yang dihadapi kaum muda dalam aktivisme filantropi, seperti kurangnya stabilitas karier dan keterbatasan pemahaman tentang filantropi Islam, sering kali menghambat keterlibatan jangka panjang mereka. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran strategis kaum muda dalam aktivisme filantropi Islam di Indonesia dan mengidentifikasi tantangan yang dihadapi, serta solusi yang dapat diterapkan untuk meningkatkan keterlibatan mereka secara berkelanjutan. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan mengkaji tiga lembaga filantropi Islam di Indonesia: Daarut Tauhiid (DT) Peduli, Dompet Dhuafa, dan Rumah Amal Salman. Data dikumpulkan melalui observasi dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kaum muda memiliki peran signifikan dalam pengelolaan program filantropi berbasis teknologi dan media sosial. Mereka juga berfungsi sebagai influencer untuk menarik generasi muda lainnya agar berpartisipasi dalam kegiatan filantropi. Namun, status mereka sebagai volunteer tanpa jaminan karier yang stabil membuat keterlibatan mereka dalam lembaga filantropi sering bersifat sementara. Untuk meningkatkan partisipasi yang lebih berkelanjutan, diperlukan reformasi sistem kelembagaan yang memungkinkan kaum muda berkembang secara profesional di dalam dunia filantropi.
One Village, Three Houses of Worship: Exploring the Dynamics of Religious Tolerance in Indonesia Maryono, Maryono; Nur Anna, Dian; Musthofa, Muhammad Wakhid
Jurnal Sosiologi Reflektif Vol. 19 No. 1 (2024)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/qmhr0v26

Abstract

Indonesia has a long history of religious tolerance, yet the recent increase in incidents of intolerance reflects that this value requires renewed attention from scholars. This study aims to explore how the people of Sayidan interpret and practice tolerance in their daily lives, examining the mechanisms and social structures that have allowed this harmony to persist. Understanding how tolerance is embedded in the life of the Sayidan community is crucial for uncovering broader strategies to sustain religious tolerance in Indonesia.This research employs a phenomenological approach to uncover the meaning and structure of lived experiences related to religious tolerance. The Interpretative Phenomenological Analysis (IPA) method was applied to analyze data gathered from interviews with community leaders, RT/RW heads, religious figures, and youth representatives. The analysis involved several stages, including data familiarization, initial coding, theme development, and interpretative analysis. The findings reveal that tolerance in Sayidan is shaped by strong social and religious elements, further reinforced by economic interactions and a shared political struggle. While the study is limited in terms of generalizing to other contexts, the insights from Sayidan offer important lessons on how religious harmony can be maintained. Indonesia memiliki sejarah panjang toleransi beragama, peningkatan insiden intoleransi dalam beberapa tahun terakhir merefleksikan bahwa hal ini perlu mendapatkan perhatian dari akademisi. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi bagaimana masyarakat Sayidan menafsirkan dan mempraktikkan toleransi dalam kehidupan sehari-hari, dengan menelaah mekanisme dan struktur sosial yang memungkinkan kerukunan tersebut bertahan. Memahami bagaimana toleransi tertanam dalam kehidupan komunitas Sayidan penting untuk mengungkap strategi yang lebih luas dalam mempertahankan toleransi beragama di Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode fenomenologis untuk mengungkap makna dan struktur pengalaman hidup yang terkait dengan toleransi beragama. Metode Interpretative Phenomenological Analysis (IPA) diterapkan untuk menganalisis data yang diperoleh dari wawancara dengan tokoh masyarakat, kepala RT/RW, pemimpin agama, dan perwakilan pemuda. Analisis dilakukan melalui tahapan pengenalan data, pengkodean awal, pengembangan tema, dan analisis interpretatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa toleransi di Sayidan terbentuk melalui elemen-elemen sosial dan agama, serta didukung oleh interaksi ekonomi dan perjuangan politik bersama. Meskipun studi ini memiliki keterbatasan dalam hal generalisasi ke konteks lain, temuan dari Sayidan memberikan wawasan penting tentang bagaimana kerukunan beragama dapat dipertahankan.
Religious Commodification in Branding: A Semiotic Analysis of Instaperfect’s Instagram Content Tridifa, Meira
Jurnal Sosiologi Reflektif Vol. 19 No. 1 (2024)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/r0sp0a35

Abstract

The commodification of religion in branding practices has become a prominent phenomenon in contemporary consumer culture, particularly in how religious symbols promote commercial products. Brands have increasingly adopted religious imagery and values to appeal to specific market segments, especially in Muslim-majority regions. This study examines how Instaperfect, a beauty brand, commodifies Islamic elements in its branding on Instagram, focusing on integrating of religious symbols with commercial ideals. The research employs a descriptive qualitative method with a content analysis approach, using John Fiske’s semiotic framework to analyze eight Instagram posts from Instaperfect, published between January and April 2023. Data was collected through a literature review and visual-textual analysis of the selected posts. The results reveal that Instaperfect blends religious symbols with luxury branding to construct an aspirational identity for Muslim women, thereby commodifying religious values. The study highlights how Islamic values such as halal and modesty are reframed to align with capitalist ideologies, turning religious devotion into a commercialized identity. These findings emphasize the growing intersection of religion and consumerism in digital branding. Komodifikasi agama dalam branding semakin banyak ditemui dalam budaya konsumerisme saat ini, terutama dengan penggunaan simbol-simbol agama untuk menarik perhatian konsumen. Banyak merek yang kini memanfaatkan citra agama untuk menjangkau pasar tertentu, khususnya di negara-negara dengan mayoritas Muslim. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap bagaimana Instaperfect, sebuah merek kosmetik, mengkomodifikasi elemen-elemen Islam dalam strategi branding mereka di Instagram, dengan fokus pada cara mereka menggabungkan simbol-simbol agama dengan nilai komersial. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan analisis konten, serta kerangka semiotika John Fiske untuk menganalisis delapan unggahan Instagram Instaperfect yang dipublikasikan antara Januari hingga April 2023. Data dikumpulkan melalui studi literatur dan analisis visual-teks dari unggahan yang terpilih. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Instaperfect memadukan simbol agama dengan branding mewah untuk membangun citra aspiratif bagi perempuan Muslim, yang pada gilirannya mengkomodifikasi nilai-nilai agama. Penelitian ini juga mengungkap bagaimana nilai-nilai Islam seperti halal dan kesederhanaan diposisikan ulang untuk sejalan dengan ideologi kapitalisme, menjadikan religiusitas sebagai identitas komersial.
Transforming Heritage: Analyzing Cultural Capital and Value Shifts in Indonesia's Ngunjung Buyut Tradition Arief, Dwi; Komariah, Siti; Wulandari, Puspita
Jurnal Sosiologi Reflektif Vol. 19 No. 1 (2024)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/z10ewc27

Abstract

Social change and modernization have impacted various traditions in Indonesia, including Ngunjung Buyut, an ancestral homage tradition that holds significant meaning for the Indramayu community, West Java. In the context of changing times, this tradition has undergone a shift in values. This research employs a qualitative approach with a case study method conducted in Penganjang Village, Indramayu Regency. Data collection was carried out through in-depth interviews and participatory observation involving informants from both older and younger generations. Data analysis focuses on identifying forms of cultural capital that have emerged within the Ngunjung Buyut tradition in the contemporary era. Findings indicate that objectified cultural capital, such as ngarak processions and artistic performances, has become the primary attraction for younger participants, shifting the focus away from religious activities like communal prayer. While these supporting activities have successfully increased youth engagement, this shift poses a risk to the internalization of religious values. Additionally, this transformation has created a new dynamic in social solidarity, where recreational aspects now overshadow the tradition’s original spiritual significance. Perubahan sosial dan modernisasi telah memengaruhi berbagai tradisi di Indonesia, termasuk Ngunjung Buyut, tradisi penghormatan leluhur yang penting bagi masyarakat Indramayu, Jawa Barat. Dalam konteks perkembangan zaman, tradisi ini mengalami pergeseran nilai. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus di Desa Penganjang, Kabupaten Indramayu. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam dan observasi partisipatif yang melibatkan informan dari golongan tua dan muda. Analisis data berfokus pada identifikasi bentuk modal budaya yang terbentuk dalam tradisi Ngunjung Buyut di era sekarang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa objectified cultural capital, seperti kegiatan ngarak dan pertunjukan seni, kini menjadi daya tarik utama bagi generasi muda, menggeser fokus dari kegiatan religius seperti doa bersama. Meskipun kegiatan pendukung berhasil meningkatkan partisipasi generasi muda, pergeseran ini menimbulkan risiko berkurangnya internalisasi nilai keagamaan. Selain itu, perubahan ini juga menciptakan dinamika baru dalam solidaritas sosial, di mana aspek rekreatif lebih menonjol dibandingkan dengan makna spiritual awal tradisi.
Culinary Service Adaptation Strategies for Muslim Tourists: A Case Study of Hotel Yamamoto, Japan Karisma Amalinda Putri; Susmono Widagdo
Jurnal Sosiologi Reflektif Vol. 19 No. 1 (2024)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/rezxka59

Abstract

The recent surge in Muslim tourists visiting Japan has necessitated adaptations within the hospitality industry to cater to specific halal culinary requirements. This study explores the adaptive strategies implemented by Japan's hospitality sector, particularly examining how Hotel Yamamoto has responded to the demand for halal culinary options. This research employs a qualitative method, leveraging in-depth interviews with hotel management and observation of operational protocols. By applying Anthony Giddens’ Theory of Structuration, the analysis underscores how the agency of Muslim tourists has instigated structural changes at Hotel Yamamoto. The hotel's initiatives to secure halal certification and expand its halal menu offerings are viewed as a proactive response to this specific tourist demographic’s evolving preferences and demands. These modifications are progressively institutionalized through standardized practices, establishing new benchmarks for inclusivity and service diversity within the industry. Furthermore, the study reveals a dynamic interplay between the individual actions of tourists and the systemic adaptations by the hotel, illustrating the dual nature of structure as both enabling and constraining. While these adaptations have allowed Hotel Yamamoto to penetrate a new market segment, they also impose constraints related to the consistent delivery of services and the maintenance of halal standards. Lonjakan jumlah turis Muslim yang berkunjung ke Jepang telah mendorong industri perhotelan untuk menyesuaikan layanan mereka agar sesuai dengan kebutuhan kuliner halal. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi strategi adaptasi yang diimplementasikan oleh sektor perhotelan Jepang, dengan fokus khusus pada bagaimana Hotel Yamamoto merespons permintaan akan opsi kuliner halal. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan studi kasus pada Hotel Yamamoto, Jepang. Data didapatkan melalui wawancara mendalam dengan manajemen hotel dan observasi komprehensif terhadap praktik operasional hotel untuk memperoleh informasi tentang implementasi layanan halal. Melalui penerapan Teori Strukturasi Anthony Giddens, analisis ini menekankan bagaimana agensi dari turis Muslim telah memicu perubahan struktural di Hotel Yamamoto. Inisiatif hotel untuk mendapatkan sertifikasi halal dan memperluas penawaran menu halalnya dilihat sebagai respons proaktif terhadap preferensi dan tuntutan yang berkembang dari segmen turis ini. Modifikasi ini secara bertahap diinstitusionalisasikan melalui praktik yang distandarisasi, menetapkan standar baru untuk inklusivitas dan keragaman layanan dalam industri. Lebih lanjut, studi ini mengungkapkan interaksi dinamis antara tindakan individu dari turis dan adaptasi sistemik oleh hotel, mengilustrasikan sifat ganda struktur sebagai sesuatu yang memungkinkan sekaligus membatasi. Sementara adaptasi ini memungkinkan Hotel Yamamoto untuk menjangkau segmen pasar baru, mereka juga mengalami kendala terkait layanan yang konsisten dan pemeliharaan standar halal.  
Sosiofotografi Konsep, Desain, hingga Praktik: A Review Essay Tamba, Wahyu Pratama
Jurnal Sosiologi Reflektif Vol. 19 No. 1 (2024)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/bk4t3485

Abstract

Extract The concept of sociophotography offers an innovative approach to sociology education, particularly at the high school level. By combining photography and sociological theories, this book enables students to connect abstract sociological concepts with real-life social phenomena. It emphasizes active student engagement, where learners document, analyze, and interpret societal issues through photography projects. This approach fosters critical thinking, social awareness, and an appreciation for sociological concepts beyond rote memorization. The book outlines the application of sociophotography through three paradigms: positivistic, interpretative, and critical, each offering distinct methodologies to examine themes such as social equality, cultural change, and urban poverty. These paradigms enrich students' understanding of sociology while developing their practical skills. The book also underscores the pedagogical value of sociophotography in engaging students with sociological materials while stimulating interest in sociology as a discipline. By providing detailed explanations and case studies, it equips educators and students with the tools to explore sociology innovatively. The integration of this method into secondary education curricula can revitalize sociology learning and attract more students to the field. The potential of sociophotography as both an academic and practical tool ensures its relevance in addressing contemporary social challenges, making it a significant contribution to the advancement of sociology education.  
The Hijab Transformed: A Shifting Social Identity in Bauman's Liquid Modernity Merlins, Rety Reka
Jurnal Sosiologi Reflektif Vol. 19 No. 1 (2024)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ckhdtn58

Abstract

The hijab, traditionally seen as a religious symbol in Islam, has undergone significant transformations in modern society, shifting its role from a marker of religious modesty to a dynamic symbol of social identity. Global cultural shifts, media representations, and the tension between traditional values and contemporary aspirations influence this transformation. The study explores the evolving meanings and functions of the hijab as a social identity in the context of Bauman's theory of liquid modernity. This research employs a qualitative literature review methodology to examine 40 peer-reviewed articles from both international and national journals. A content analysis approach is utilized to identify recurring themes and patterns in the hijab’s depiction as a social symbol across diverse cultural and social landscapes. The findings indicate that in the era of liquid modernity, the hijab symbolizes a fragmentation of its traditional meanings, shaped by forces like globalization, consumerism, and individualization. Although it continues to signify religious identity, the hijab also represents modernity, resistance, and commodification. Social media plays a crucial role in this transformation, offering a platform for Muslim women to reinterpret the hijab as both a personal and communal statement. This study highlights the hijab’s transformation into a fluid and multifaceted symbol of identity in a rapidly evolving global context. Jilbab, yang secara tradisional dipandang sebagai simbol religius dalam Islam, telah mengalami transformasi yang signifikan dalam masyarakat modern, bergeser dari peran sebagai penanda religius menjadi simbol identitas sosial yang dinamis. Transformasi ini dipengaruhi oleh pergeseran budaya global, representasi media, serta ketegangan antara nilai-nilai tradisional dan aspirasi kontemporer. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi evolusi perubahan makna dan fungsi jilbab sebagai identitas sosial dalam konteks teori modernitas cair Bauman. Dengan menggunakan metode kualitatif berupa studi literatur, penelitian ini menganalisis 40 artikel jurnal bereputasi internasional dan nasional. Analisis konten digunakan untuk mengidentifikasi tema dan pola yang berulang terkait representasi jilbab sebagai identitas sosial di berbagai konteks budaya dan sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jilbab dalam era modernitas cair mencerminkan fragmentasi makna, yang dipengaruhi oleh globalisasi, konsumerisme, dan individualisasi. Meskipun tetap menjadi penanda identitas religius, jilbab kini juga berfungsi sebagai pernyataan modernitas, resistensi, dan komodifikasi. Media sosial memainkan peran penting dalam transformasi ini, menjadi platform bagi perempuan Muslim untuk mereformulasi jilbab sebagai ekspresi pribadi dan komunal. Studi ini menegaskan bahwa jilbab tidak lagi menjadi simbol yang statis, melainkan representasi identitas yang cair dan multifaset dalam dunia yang terus berubah.
Multicultural Education in Preventing Radicalism: Insights from Pesantren Tremas, Indonesia Wilis, Roro
Jurnal Sosiologi Reflektif Vol. 19 No. 1 (2024)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/6fcw9d20

Abstract

Religious radicalism remains a significant challenge in Indonesia, where extremism is rooted in a profound misunderstanding of diversity. Pesantren Tremas employs multicultural education to combat radicalism by integrating inclusive Islamic values into its curriculum. This study analyzes how Pesantren Tremas integrates Islamic education with multicultural values to promote tolerance and inclusivity. This research employs a qualitative case study method at Pesantren Tremas, gathering data through interviews, observations, and document analysis. The findings indicate that the multicultural education strategies at Pesantren Tremas, which include teaching ta’aruf, tasamuh, and the values of ta’awun, are effective efforts to counter radicalism by fostering tolerance and cooperation among students from diverse backgrounds. These strategies involve collaborative projects and group discussions integrating Islamic teachings into social activities, preparing students to manage cultural and religious conflicts and contribute constructively to an inclusive society. Radikalisme agama tetap menjadi tantangan utama di Indonesia, dimana ekstremisme berakar dalam ketidakpahaman mendalam tentang keberagaman. Pondok Pesantren Tremas menggunakan pendidikan multikultural sebagai alat untuk melawan radikalisme dengan mengintegrasikan nilai-nilai Islam yang inklusif dalam kurikulumnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis bagaimana Pondok Pesantren Tremas mengintegrasikan pendidikan Islam dengan nilai-nilai multikultural untuk mempromosikan toleransi dan inklusivitas. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan studi kasus di Pondok Pesantren Tremas, mengumpulkan data melalui wawancara, observasi, dan analisis dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi pendidikan multikultural di Pondok Pesantren Tremas, yang mencakup pengajaran ta’aruf, tasamuh, dan nilai ta’awun, menjadi salah satu upaya efektif untuk mengcounter radikalisme dengan menanamkan toleransi dan kerjasama di antara santri dari berbagai latar belakang. Strategi ini melibatkan proyek kolaboratif dan diskusi grup yang mengintegrasikan ajaran Islam dalam kegiatan sosial, mempersiapkan siswa untuk mengelola konflik budaya dan agama serta berkontribusi secara konstruktif dalam masyarakat yang inklusif.

Page 1 of 1 | Total Record : 9