cover
Contact Name
Achmad Zainal Arifin, Ph.D
Contact Email
achmad.arifin@uin-suka.ac.id
Phone
+6281578735880
Journal Mail Official
sosiologireflektif@uin-suka.ac.id
Editorial Address
Laboratorium Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora, UIN Sunan Kalijaga Jl. Adisucipto 1, Yogyakarta, Indonesia, 55281
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Sosiologi Reflektif
ISSN : 19780362     EISSN : 25284177     DOI : https://doi.org/10.14421/jsr.v15i1.1959
JSR focuses on disseminating researches on social and religious issues within Muslim community, especially related to issue of strengthening civil society in its various aspects. Besides, JSR also receive an article based on a library research, which aims to develop integrated sociological theories with Islamic studies, such as a discourse on Prophetic Social Science, Transformative Islam, and other perspectives.
Articles 9 Documents
Search results for , issue "Vol. 19 No. 2 (2025)" : 9 Documents clear
Fatwas and Figures: How NU and Muhammadiyah Shape Religious Authority on Indonesian Instagram Accounts Virga, Rika Lusri
Jurnal Sosiologi Reflektif Vol. 19 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/j4wpwh96

Abstract

Social media has significantly transformed how religious institutions communicate their teachings and assert authority among their followers. This shift became especially visible during the COVID-19 pandemic, when Islamic organizations in Indonesia were required to issue clear guidance on how to carry out religious practices at home. This study examines how the two largest Islamic organizations in Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU) and Muhammadiyah, employed public figures and authoritative religious references such as fatwas in their digital communication strategies related to home-based worship. Drawing on Postill and Pink’s netnographic method, the research focused on the official Instagram accounts of the two organizations (@nuonline_id and @lensamu) over a four-month period from March to June 2020. Data were gathered through the observation of both visual and textual content, including captions, posts, and audience responses. The findings indicate that NU relied on respected religious figures and inter-institutional coalitions to legitimize its messaging, while Muhammadiyah emphasized structured authority through formal, systematic, and rationally composed official statements. The implication of this research is the potential to encourage religious institutions to utilize social media as a strategic arena for asserting authority, shaping public perceptions, and adapting their institutional roles in response to the evolving dynamics of society in the digital era. Media sosial telah membentuk ulang cara institusi agama dalam menyampaikan panduan keagamaan sekaligus menegaskan otoritasnya di hadapan para pengikutnya. Transformasi ini menjadi semakin jelas selama pandemi COVID-19, ketika organisasi Islam di Indonesia dituntut untuk memberikan arahan yang jelas terkait pelaksanaan ibadah di rumah. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana dua organisasi Islam terbesar di Indonesia, yakni Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah dalam memanfaatkan figur publik dan rujukan otoritatif keagamaan (fatwa) di ruang digital, khususnya dengan pelaksanaan praktik ibadah di rumah. Penelitian dilakukan dengan metode netnografi dari Postill dan Pink terhadap akun Instagram resmi kedua organisasi tersebut (@nuonline_id dan @lensamu) selama empat bulan dari Maret hingga Juni 2020. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi konten visual dan tekstual, meliputi caption, unggahan, dan respons publik di kedua akun Instagram tersebut. Temuan menunjukkan bahwa NU menggunakan tokoh-tokoh agama yang dihormati serta membangun koalisi kelembagaan yang luas untuk melegitimasi panduan-panduan yang disampaikan, sedangkan Muhammadiyah menekankan otoritas yang terstruktur melalui pernyataan resmi yang sistematis, formal, dan disusun secara rasional. Implikasi temuan ini dapat mendorong lembaga keagamaan untuk memanfaatkan media sosial sebagai arena strategis dalam menegaskan otoritas, membentuk persepsi publik, dan menyesuaikan peran institusional menghadapi dinamika masyarakat di era digital yang terus berkembang.
Between Clicks and Convictions: Youth Political Participation on Facebook in Indonesia and Pakistan Hussain, Wafa; Gilani, Irum; Shaker, Thanaa
Jurnal Sosiologi Reflektif Vol. 19 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/tnz8a361

Abstract

Social media has emerged as a pivotal arena for youth political participation, particularly within Muslim-majority societies where access to formal civic channels is often constrained. Despite growing interest in digital political engagement, comparative research remains limited in addressing how socio-cultural and political variables mediate online participation. This study investigates how Muslim youth in Indonesia and Pakistan utilize Facebook to articulate political ideologies, engage in civic discourse, and mobilize collective action. Employing a mixed-method approach, the study draws on both quantitative and qualitative data collected through an online survey administered to 30 purposively selected respondents (15 from each country), comprising Master's and PhD students active in digital political discussions. The survey incorporated both closed-ended items and open-ended questions to capture measurable patterns and nuanced perspectives. The researchers applied thematic and descriptive analyses to interpret trends and narratives emerging from the data. The findings reveal contrasting modes of engagement: Indonesian youth predominantly exhibit issue-oriented, personalized political expression, while the Pakistani youth counterparts demonstrate more ideologically aligned, affectively polarized participation linked to partisan narratives. The implication of these findings is that both policy design and theoretical models of youth political participation must account for cultural and structural specificities, as context-sensitive approaches are essential for effectively understanding and fostering civic engagement in diverse Muslim-majority societies. Media sosial telah muncul sebagai arena penting bagi partisipasi politik kaum muda, khususnya di masyarakat mayoritas Muslim, dimana akses terhadap saluran-saluran kewargaan formal seringkali terbatas. Meskipun minat terhadap keterlibatan politik digital terus meningkat, riset komparatif masih terbatas dalam mengkaji bagaimana variabel sosial, kultural, dan politik memediasi partisipasi daring. Penelitian ini menjelaskan bagaimana pemuda Muslim di Indonesia dan Pakistan memanfaatkan Facebook untuk mengartikulasikan ideologi politik, terlibat dalam diskursus kewargaan, dan memobilisasi aksi kolektif. Dengan menggunakan pendekatan mixed-method, melalui survei daring terhadap 30 responden terpilih secara purposif (masing-masing 15 dari Indonesia dan Pakistan), yang terdiri atas mahasiswa magister dan doktoral yang aktif dalam diskusi politik digital. Survei ini mencakup pertanyaan tertutup dan pertanyaan terbuka untuk menangkap pola-pola yang terukur sekaligus perspektif yang lebih mendalam. Analisis tematik dan deskriptif digunakan untuk menafsirkan tren serta narasi dari data yang telah dihimpun. Temuan menunjukkan adanya perbedaan pola partisipasi, yakni: pemuda Indonesia cenderung mengekspresikan politik secara personal dan berbasis isu, sedangkan pemuda Pakistan lebih menunjukkan keterlibatan yang terpolarisasi secara afektif dan berorientasi pada ideologi, yang terkait dengan narasi partisan. Implikasi dari temuan ini adalah bahwa baik dalam perencanaan kebijakan maupun pengembangan teoretis partisipasi politik pemuda harus mempertimbangkan kekhasan budaya dan struktur sosial, sebab hal ini sangat penting untuk memahami dan mendorong keterlibatan kewargaan di masyarakat dengan penduduk mayoritas Muslim.
Broken Bonds: How Capitalism, Globalization, and Technology Erode ‘Asabiyyah Hafis, Ade; Hisbullah, Muhammad Ali; Ibrahim, Malik; Yusrizal
Jurnal Sosiologi Reflektif Vol. 19 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/pa3sh156

Abstract

Ibn Khaldun, in his Muqaddimah, explained that the cycle of civilizational rise and decline is determined by the strength of ‘asabiyyah. Although various studies have examined the relevance of ‘asabiyyah, particularly within contemporary Muslim societies, the relationship between modernization processes and civilizational collapse within the framework of ‘asabiyyah remains largely underexplored. This study aims to analyze the relevance of ‘asabiyyah in understanding the dynamics of modern civilizations, specifically investigating the impact of capitalism, globalization, and technological advancement on the potential for civilizational decline, using the historical cases of the Soviet Union and Nazi Germany. The research adopts a descriptive qualitative approach through a literature review of books and national and international journal articles focusing on ‘asabiyyah. Data were collected through systematic and selective searches across leading databases such as Google Scholar, PubMed, and Scopus. Data analysis was conducted using meta-analysis techniques to identify major themes, compare arguments, and construct a theoretical synthesis from various sources. The findings of this study indicate that the erosion of ‘asabiyyah can accelerate the internal vulnerabilities of a civilization, as reflected in the historical cases of the Soviet Union and Nazi Germany. The findings of this study underscore the critical importance of strengthening collective identity and social solidarity as prerequisites for the resilience of modern civilizations, while also encouraging comparative studies that integrate Ibn Khaldun’s classical theory with contemporary theories of social solidarity, globalization, and cultural identity. Ibn Khaldun dalam Muqaddimah menjelaskan siklus kemajuan dan kemunduran peradaban ditentukan oleh kekuatan ‘asabiyyah. Meskipun berbagai penelitian telah mengkaji relevansi ‘asabiyyah khususnya di masyarakat Muslim kontemporer, namun keterkaitan antara proses modernisasi dan keruntuhan peradaban dalam kerangka ‘asabiyyah masih jarang dibahas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis relevansi ‘asabiyyah dalam memahami dinamika peradaban modern, khususnya pengaruh kapitalisme, globalisasi, dan kemajuan teknologi terhadap potensi kemunduran peradaban dengan mengambil kasus historis Uni Soviet dan Nazi German. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan studi pustaka terhadap buku-buku dan artikel jurnal nasional dan internasional yang berfokus pada ‘asabiyyah. Data dikumpulkan melalui pencarian sistematis dan selektif dari berbagai database terkemuka seperti Google Scholar, PubMed, dan Scopus. Analisis data dilakukan dengan teknik meta-analisis untuk mengidentifikasi tema-tema utama, membandingkan argumentasi, dan menyusun sintesis teoritis dari berbagai sumber. Temuan penelitian menunjukkan bahwa erosi ‘asabiyyah dapat mempercepat kerentanan suatu peradaban, sebagaimana tercermin pada kasus Uni Soviet dan Nazi Jerman. Implikasi penelitian ini menegaskan pentingnya memperkuat identitas kolektif dan solidaritas sosial sebagai prasyarat ketahanan peradaban modern, serta mendorong kajian komparatif yang mengintegrasikan teori klasik Ibn Khaldun dengan teori-teori kontemporer mengenai solidaritas sosial, globalisasi, dan identitas budaya.
Routinizing Charisma: The Rise of Gus and the Transformation of Pesantren in Jepara, Indonesia Amaliyah, Efa Ida
Jurnal Sosiologi Reflektif Vol. 19 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/b5dv2478

Abstract

Islamic boarding schools (pesantren) in Indonesia serve as influential socio-religious institutions deeply rooted in tradition and community life. Central to their continuity is the figure of the kiai, whose charismatic authority historically shapes both religious practice and institutional governance. This study aims to examine the sociological consequences of leadership transmission from kiai to gus, particularly how this transmission of charisma drives institutional transformation in response to global challenges. Employing a qualitative case study design, the research was conducted at Pesantren Al-Mustaqim in Jepara, Central Java. Data were collected through semi-structured interviews, participant observation, and documentation. Four informants were selected using purposive sampling, consisting of one gus (as the key informant), one alumni, and two members of the local community. Data analysis followed Miles and Huberman’s interactive model, encompassing data condensation, data display, and conclusion verification. The findings reveal that the hereditary transmission of leadership functions as a mechanism for both preserving charismatic legitimacy and introducing adaptive educational reforms. The gus emerges not merely as a successor, but as a transformative agent who bridges traditional Islamic pedagogy with institutional modernisation. The implication of this study is the importance of the routinization of charismatic authority from kiai to gus, which not only strengthens the cultural foundations of the pesantren but also enables for the adaptation of Islamic education to meet the demands of global challenges. Pesantren merupakan lembaga sosial-keagamaan yang berpengaruh dan berakar kuat dalam tradisi dan kehidupan masyarakat Indonesia. Keberlanjutan pesantren bertumpu pada peran sentral kiai, yang secara historis memiliki otoritas karismatik dalam membentuk praktik keagamaan dan struktur kelembagaannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji konsekuensi sosiologis dari proses transmisi kepemimpinan dari kiai ke gus, khususnya bagaimana transmisi kharisma ini mendorong transformasi kelembagaan dalam merespon tantangan global. Dengan menggunakan metode kualitatif berupa studi kasus, penelitian ini dilakukan di Pesantren Al-Mustaqim di Jepara, Jawa Tengah. Data dikumpulkan melalui: wawancara semi-terstruktur, observasi partisipan, dan dokumentasi. Empat informan dipilih dengan menggunakan teknik purposive sampling, yang terdiri dari satu gus (sebagai informan kunci), satu alumni, dan dua anggota masyarakat setempat. Analisis data mengikuti model interaktif Miles dan Huberman, yang mencakup kondensasi data, tampilan data, dan verifikasi kesimpulan. Temuan penelitian mengungkapkan bahwa transmisi kepemimpinan yang berlangsung secara turun-temurun berfungsi sebagai mekanisme untuk melestarikan legitimasi kharismatik dan mengawali proses pendidikan yang lebih adaptif. Gus muncul bukan hanya sebagai penerus, tetapi sebagai agen transformatif yang menjembatani pedagogi Islam tradisional dengan modernisasi kelembagaan. Implikasi dari penelitian ini adalah pentingnya  proses rutinisasi kharisma dari kiai ke gus yang tidak hanya akan semakin memperkuat akar budaya pesantren, tetapi juga membuka ruang adaptasi proses pendidikan Islam yang lebih adaptif terhadap tantangan global.
Faith-Based Environmentalism: Sahal Mahfudz and the Ecological Transformation of Pesantren Ma'rufah, Hafidhoh
Jurnal Sosiologi Reflektif Vol. 19 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/tt7nkc43

Abstract

Islamic boarding schools (pesantren) in Indonesia, as part of civil society, have played a significant role in addressing various contemporary social issues, including environmental challenges. While several studies have explored pesantren engagement with ecological issues, the environmental thought of Sahal Mahfudz, particularly its connection to his concept of fiqh sosial and Islamic eco-theology remains underexplored. This study aims to examine the sociological ideas of Sahal Mahfudz in responding to environmental challenges through the institution of pesantren. This study employs a qualitative method with a literature review approach, collecting data from Sahal Mahfudz’s works related to environmental issues, as well as secondary data from various scholarly literature, articles, and other media sources. Data analysis was conducted using thematic and interpretive analysis techniques. The findings reveal that Sahal Mahfudz integrates Islamic theological principles, such as khalifah (stewardship) and ibadatullah (worship) with social responsibility, positioning pesantren as transformative agents for ecological preservation through tradition, dialogue, and community-based action. The implications of this study highlight the importance of strengthening pesantren capacity to foster ecological consciousness and practices, and suggest that fiqh sosial can be further developed into an interdisciplinary framework bridging theology, sociology, and environmental studies. Pesantren di Indonesia sebagai bagian dari civil society telah berperan dalam menghadapi berbagai isu sosial kontemporer, termasuk masalah lingkungan hidup. Meskipun sejumlah studi telah membahas keterlibatan pesantren dalam isu-isu ekologi, pemikiran Sahal Mahfudz mengenai lingkungan, terutama keterkaitannya dengan konsep fiqh sosial dan praktik ekoteologi Islam, masih jarang dieksplorasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji ide-ide sosiologis Sahal Mahfudz dalam merespons tantangan lingkungan melalui peran pesantren. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi pustaka, data dikumpulkan dari karya-karya Sahal Mahfudz yang berkaitan dengan lingkungan hidup, serta data sekunder dari berbagai literatur ilmiah, artikel, dan media lainnya. Teknik analisis data menggunakan analisis tematik dan interpretif. Temuan penelitian menunjukkan bahwa Sahal Mahfudz mengintegrasikan nilai-nilai teologis Islam, seperti konsep khalifah dan ibadatullah dengan tanggung jawab sosial, membentuk pesantren sebagai agen transformasi ekologi berbasis tradisi, dialog, dan aksi komunitas. Implikasi penelitian ini menekankan pentingnya memperkuat kapasitas pesantren dalam membangun kesadaran dan praksis ekologis, serta mendorong pengembangan fiqh sosial sebagai kerangka interdisipliner yang menghubungkan teologi, sosiologi, dan studi lingkungan.
Negotiating Liminal Identity and Women’s Empowerment in Pesantren Salaf Nadhifah, Ayu Maun; Pramono, Muhamad Sidik
Jurnal Sosiologi Reflektif Vol. 19 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/h6f33e86

Abstract

The modernization of pesantren in Indonesia has brought significant sociological impacts, particularly in reshaping female identity amid tensions between traditional norms and modern expectations. This transformation has created a liminal space for female students (santriwati), fostering identity negotiations between adherence to traditional pesantren values and emerging aspirations as educated Muslim women. This study aims to examine how modernization processes within pesantren salaf, particularly at Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an (PPTQ) Nurul Falah Magetan, shape santriwati identity and facilitate women's empowerment. Employing a qualitative method with an ethnographic approach, data were collected through participant observation, in-depth and structured interviews with 15 informants, and reflective fieldnotes over more than two years. Data analysis was conducted using a thematic and interpretive approach based on case study methodology, supplemented by Spradley’s domain analysis to capture cultural meanings embedded in everyday practices within the pesantren. The findings reveal that santriwati identities develop within a complex liminal space, enabling negotiations between traditional structures and modern aspirations, and fostering empowerment through negotiated agency rather than overt resistance. The study implies that social change within pesantren salaf should be understood through the dialectics of tradition and modernity as experienced in women's daily lives, and highlights the importance of developing Islamic education and gender transformation models grounded in local epistemologies. Modernisasi pesantren di Indonesia telah membawa dampak sosiologis yang signifikan, khususnya dalam membentuk kembali identitas perempuan di tengah ketegangan antara norma tradisional dan tuntutan modernitas. Perubahan ini menciptakan ruang liminal bagi santriwati, yang mendorong negosiasi identitas antara kepatuhan terhadap nilai-nilai pesantren tradisional dan aspirasi baru sebagai perempuan Muslim terdidik. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana proses modernisasi di pesantren salaf, khususnya di Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an (PPTQ) Nurul Falah Magetan, membentuk identitas santriwati dan memfasilitasi pemberdayaan perempuan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan etnografi, mengumpulkan data melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam dan terstruktur terhadap 15 informan, serta pencatatan lapangan reflektif selama lebih dari dua tahun. Analisis data dilakukan melalui pendekatan tematik dan interpretatif berbasis studi kasus, dengan menggunakan analisis domain Spradley untuk menangkap makna budaya yang melekat dalam praktik sehari-hari di pesantren. Temuan penelitian menunjukkan bahwa identitas santriwati berkembang dalam ruang liminal yang kompleks, memungkinkan negosiasi antara struktur tradisional dan aspirasi modern, serta membuka peluang pemberdayaan yang bertumpu pada agen negosiasi daripada resistensi terbuka. Implikasi penelitian ini menegaskan bahwa perubahan sosial dalam pesantren salaf harus dipahami melalui dialektika tradisi dan modernitas dalam pengalaman keseharian perempuan, serta pentingnya mengembangkan model pendidikan Islam dan transformasi gender yang berbasis pada epistemologi lokal.
Nurturing the Earth through Islamic Ethical Practices and Community-Based Permaculture in Indonesia Ummi Hanik Esaputri; Nada Nadhifa; Hanif Budiman; Putu Ayu Pramanasari Agustiananda
Jurnal Sosiologi Reflektif Vol. 19 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/5mjcq856

Abstract

The global environmental crisis, marked by climate change, deforestation, and ecosystem degradation, has brought widespread social impacts, including economic inequality, health crises, and food insecurity. In Indonesia, environmental pressures have intensified due to unsustainable agricultural practices, rapid urbanization, and extractive industries, necessitating new development models that prioritize environmental regeneration and social resilience. This study aims to explore how Islamic ecological principles are operationalized through permaculture practices at the Bumi Langit Institute and Kedai Teh Umran in Yogyakarta. This research employed a qualitative method with an interpretive approach. Data were collected through semi-structured interviews, participant observation, and document analysis conducted at both research sites. The data were then analyzed using thematic analysis techniques based on Groat and Wang’s six-phase framework. The findings reveal that the principles of khilafah (stewardship), barakah (blessing), and mizan (balance) have been effectively embodied in agroforestry systems, waste-to-resource cycles, and community development initiatives grounded in Islamic ethics. The study implies that faith-based and community actors play a vital role in addressing contemporary ecological crises and highlights the need for stronger partnerships between religious institutions, academic bodies, and environmental practitioners to advance spiritually grounded innovations in the Anthropocene era.  Krisis lingkungan global yang ditandai oleh perubahan iklim, deforestasi, dan degradasi ekosistem telah membawa dampak sosial yang luas, termasuk ketidaksetaraan ekonomi, krisis kesehatan, dan kerawanan pangan. Di Indonesia, tekanan lingkungan semakin meningkat akibat praktik pertanian tidak berkelanjutan, urbanisasi cepat, dan industri ekstraktif, sehingga diperlukan model pembangunan baru yang berfokus pada regenerasi lingkungan dan ketahanan sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi bagaimana prinsip-prinsip ekologi Islam dioperasionalkan melalui praktik permakultur di Bumi Langit Institute dan Kedai Teh Umran di Yogyakarta. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan interpretatif. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur, observasi partisipatif, dan analisis dokumen di Bumi Langit Institute dan Kedai Teh Umran. Analisis data dilakukan dengan teknik analisis tematik berdasarkan kerangka enam fase Groat dan Wang. Temuan penelitian menunjukkan bahwa prinsip khilafah, keberkahan (barakah), dan keseimbangan (mizan) telah berhasil diwujudkan dalam sistem agroforestri, siklus limbah, dan pengembangan komunitas berbasis etika Islam. Implikasi penelitian ini menegaskan bahwa aktor berbasis agama dan komunitas memiliki peran vital dalam mengatasi krisis ekologi kontemporer, serta mendorong perlunya kemitraan antara lembaga keagamaan, akademisi, dan praktisi lingkungan untuk memperkuat inovasi berbasis nilai spiritual di era Antroposen.
Faith Blocks Fiber: The Effect of Religiosity on Internet Adoption among Indonesia’s Digital Immigrants Yanti, Mery
Jurnal Sosiologi Reflektif Vol. 19 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/sns1dg53

Abstract

Indonesia has experienced a rapid increase in internet adoption over the past decade, including among older adults often labeled as digital immigrants. Despite this growth, limited research has explored how sociocultural factors, particularly religiosity, shape digital engagement among this demographic. This study investigates the extent to which religiosity affects internet adoption among digital immigrants in Indonesia, while controlling for welfare, happiness, education, gender, and employment status. Adopting a quantitative design, the research employs data from the fifth wave of the Indonesian Family Life Survey (IFLS 2014–2015), focusing on individuals aged 35 to 69. Core variables were operationalized using validated survey instruments and analyzed through binary logistic regression via STATA 15. The finding reveals a significant negative correlation between religiosity and internet use, indicating that higher levels of religious commitment may inhibit digital engagement. Conversely, education, welfare, and happiness exhibit positive associations, with formal education emerging as the most robust predictor. The implication of this finding is that digital inclusion initiatives must be attuned to cultural and religious contexts to promote equitable and meaningful access to digital technologies. Penggunaan internet di Indonesia meningkat pesat dalam satu dekade terakhir, termasuk di kalangan digital immigrant, yaitu orang dewasa yang mulai mengenal teknologi di usia lanjut. Meski jumlah pengguna dari kelompok usia ini terus bertambah, faktor-faktor sosial budaya yang memengaruhi keterlibatan mereka dalam dunia digital, khususnya aspek religiusitas masih jarang diteliti. Penelitian ini bertujuan untuk melihat sejauh mana religiusitas memengaruhi penggunaan internet di kalangan digital immigrants di Indonesia, dengan mempertimbangkan juga faktor kesejahteraan, kebahagiaan, pendidikan, jenis kelamin, dan status pekerjaan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan data dari Indonesian Family Life Survey (IFLS) tahun 2014–2015, yang mencakup responden berusia 35 hingga 69 tahun. Variabel-variabel kunci dianalisis menggunakan regresi logistik biner dengan bantuan STATA 15. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat religiusitas yang tinggi berkaitan dengan kemungkinan lebih rendah untuk menggunakan internet. Sebaliknya, pendidikan, kesejahteraan, dan kebahagiaan berhubungan positif dengan penggunaan internet, dengan pendidikan menjadi faktor paling kuat. Implikasi dari temuan ini adalah bahwa strategi perluasan akses digital sebaiknya mempertimbangkan nilai-nilai budaya dan agama sehingga dapat mendorong pemanfaatan teknologi yang lebih inklusif dan diterima masyarakat.
Proliferasi Pemikiran Sosial Kritis: A Review Essay Gunawan Wibisono
Jurnal Sosiologi Reflektif Vol. 19 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/46c6tz11

Abstract

Extract The genealogy of critical social thought finds its constitutive locus in the long-standing debates surrounding social science methodologies, from positivism to postmodernism and poststructuralism. This book delineates the framework of critical humanities knowledge while simultaneously engaging with a wide array of contemporary social issues. Although grounded in sociological reasoning, the book adopts an interdisciplinary perspective, addressing themes such as medical regimes, the political economy of higher education, and the vulnerabilities of digital subjects. These include challenges such as data concentration, surveillance capitalism, algorithmic power, and the logic of sharing economies within digital capitalism. The urgency of this publication lies in its potential to balance discourses of development with emancipatory and democratic ideals while also providing an academic impetus to strengthen civil supremacy in society. 

Page 1 of 1 | Total Record : 9