cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
EXPERIENTIA : Jurnal Psikologi Indonesia
ISSN : 22527702     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Social,
“Experientia” merupakan istilah dalam bahasa Latin yang artinya “pengetahuan yang diperoleh dari pengalaman”. Pemilihan nama ini selaras dengan metode transfer dan pengembangan ilmu pengetahuan yang dipraktikkan di Unika Widya Mandala Surabaya, yakni “experiential learning” (mahasiswa dan dosen belajar bersama melalui partisipasi aktif dalam pembelajaran akademik). Berkala ilmiah ini dipublikasikan oleh Fakultas Psikologi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya, terbit dua kali setahun, dan memuat kajian/analisis/telaah/tinjauan empirik dalam ranah psikologi; yang bisa berupa penelitian lapangan maupun kajian teoretik. Misi jurnal ini adalah “give psychology away”—mengutip kata-kata klasik Philip Zimbardo—yakni membantu pengembangan psikologi menjadi ilmu yang sungguh-sungguh bermanfaat bagi kemaslahatan manusia dalam tataran mikro (individual) dan makro (komunal).
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 12, No 1 (2024)" : 8 Documents clear
EFEKTIVITAS PELATIHAN SELF-AWARENESS UNTUK MENINGKATKAN HARGA DIRI REMAJA PANTI ASUHAN Nuke Elok Suhariyanto; Dicky Susilo; Detricia Tedjawidjaja
EXPERIENTIA : Jurnal Psikologi Indonesia Vol 12, No 1 (2024)
Publisher : Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/exp.v12i1.5355

Abstract

Remaja panti asuhan adalah remaja yang rentan dengan permasalahan psikologis, salah satunya harga diri yang rendah. Rendahnya harga diri berkaitan dengan kurangnya pemahaman terhadap diri sendiri sehingga pelatihan self awareness diduga efektif dapat meningkatkan harga diri. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perbedaan harga diri pada remaja panti asuhan yang diberikan pelatihan self-awareness dengan yang tidak diberi pelatihan. Desain penelitian ini adalah quasi experiment dengan pre test-post test control group design non randomized. Jumlah subjek 28 remaja panti asuhan dengan rentang usia 12-18 tahun yang dibagi ke dalam kelompok eksperimen dan kontrol dengan menggunakan matching method. Penelitian ini mengukur tiga aspek, yaitu aspek pengetahuan, sikap, dan perilaku. Pengukuran pengetahuan menggunakan soal pilihan ganda berdasarkan materi self-awareness. Pengetahuan sikap menggunakan Rosenberg Self-Esteem Scale yang diadaptasi dalam Bahasa Indonesia. Alat ukur aspek perilaku menggunakan indikator harga diri positif dan negatif dari Santrock (2007). Hasil dari penelitian ini adalah terdapat peningkatan pengetahuan dan sikap pada kelompok eksperimen, sedangkan tidak ada peningkatan pada kelompok kontrol. Pengukuran perilaku masing-masing kelompok mengalami peningkatan perilaku indikator positif dan mengalami penurunan indikator negatif. Analisis data menggunakan uji non parametrik Mann Whitney U-test dengan membandingkan nilai gain score pre-test dan post-test dengan signifikansi 0.000 < 0.05 artinya ada perbedaan harga diri antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Penelitian ini memiliki eta square sebesar ɳ2= 0,62. Artinya, pelatihan self-awareness memiliki efek yang besar terhadap harga diri remaja panti asuhan. Penelitian ini memberikan implikasi pentingnya pelatihan mengenal diri sendiri demi meningkatkan self-esteem.
SOCIAL ANXIETY DAN ONLINE SELF-DISCLOSURE PADA MAHASISWA PENGGUNA TWITTER/X Thierry Massaro; Ermida Simanjuntak
EXPERIENTIA : Jurnal Psikologi Indonesia Vol 12, No 1 (2024)
Publisher : Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/exp.v12i1.5546

Abstract

Abstrak - Mahasiswa berada dalam tahapan usia emerging adulthood yang memiliki tugas perkembangan untuk menjalin relasi. Dalam usahanya menjalin relasi, mahasiswa menggunakan aplikasi media sosial seperti Twitter/X. Selain untuk menjalin relasi, mahasiswa juga melakukan pengungkapan diri berupa curhatan, mengungkapkan emosi dan opini yang ada pada dirinya di Twitter/X. Perilaku pengungkapan diri mahasiswa di media sosial disebut online self-disclosure. Mahasiswa menggunakan Twitter/X dikarenakan terdapat fitur untuk mengunggah tulisan, foto atau video, maka penggunaannya oleh mahasiswa juga dapat memfasilitasi proses keterbukaan dirinya. Seseorang melakukan SD dapat dipengaruhi rasa cemas dan takut ketika mendapat evaluasi negatif dari orang lain yang disebut sebagai social anxiety. Perasaan takut ditolak akan muncul ketika hal yang diungkapkan tidak disukai oleh orang lain yang merupakan gambaran dari social anxiety. Penelitian ini bertujuan untuk menguji hubungan antara social anxiety dengan online self-disclosure pada mahasiswa pengguna Twitter/X. Pengambilan data menggunakan metode incidental sampling dan didapatkan sebanyak 165 mahasiswa pengguna Twitter/X. Variabel online self-disclosure diukur menggunakan General Disclosiveness Scale milik Gibbs et al. (2006) dan variabel social anxiety diukur menggunakan Interaction Anxiousness Scale milik Leary (1983). Hasil uji hipotesis menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara social anxiety dengan online self-disclosure pada mahasiswa pengguna Twitter/X (r = 0.035; p = 0.519; p > 0.05). Sebagian besar responden memiliki tingkat online self-disclosure pada kategori sedang (51.5%) sedangkan pada variabel social anxiety sebagian besar responden berada pada kategori sedang-tinggi (40.6%). Kata Kunci: online self-disclosure, social anxiety, mahasiswa, Twitter/X, emerging adulthoodAbstract – University students who are in the emerging adulthood stage is a critical period where individuals focus on developing social connections and forming significant relationships. In their effort to establish relationships, students use social media platforms like Twitter/X. Students engage in self-disclosure by sharing personal stories, expressing emotions, and sharing opinions on Twitter/X. This behavior of students disclosing personal information on social media is known as online self-disclosure. Students use Twitter/X because it has features that allow users to upload text, photos, or videos, which can facilitate their self-expression. The act of self-disclosure can be influenced by feelings of anxiety and fear of negative evaluation from others, known as social anxiety. The fear of rejection may arise when the content shared is not well-received by others, indicating the presence of social anxiety. This study aims to examine the relationship between social anxiety and online self-disclosure among students who use Twitter/X. Data was collected using incidental sampling and there were 165 respondents who use Twitter/X. The online self-disclosure variable was measured using the General Disclosiveness Scale by Gibbs et al. (2006), while the social anxiety variable was measured using the Interaction Anxiousness Scale by Leary (1983). The results revealed no significant correlation between social anxiety and online self-disclosure among college students using Twitter/X (r = 0.035; p = 0.519; p > 0.05). Most respondents had a moderate level of online self-disclosure (51.5%), while for the social anxiety variable, most respondents were in the moderate-high category (40.6%).Keywords: online self-disclosure, social anxiety, university student, Twitter/X, emerging adulthood
PENGARUH OCCUPATIONAL SELF-EFFICACY TERHADAP EMOTIONAL LABOR PADA PRAMUSAJI RESTORAN DI SURABAYA Stephanie Michelle Anastasia Tahalele; Desak Nyoman Arista Retno Dewi
EXPERIENTIA : Jurnal Psikologi Indonesia Vol 12, No 1 (2024)
Publisher : Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/exp.v12i1.5360

Abstract

Emotional labor adalah keadaan dimana individu mengelola emosi sebagai respon terhadap tuntutan pekerjaan untuk menghasilkan atau membangkitkan emosi demi mencapai tujuan organisasi. Pramusaji merupakan profesi yang sebaiknya mengaplikasikan emotional labor. Nyatanya, masih terdapat pramusaji yang kurang mampu mengaplikasikan emotional labor. Faktor yang mempengaruhi hal ini adalah occupational self-efficacy, yaitu keyakinan atas kompetensi diri untuk berhasil menyelesaikan tugas yang berhubungan dengan pekerjaan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh occupational self-efficacy terhadap emotional labor pada pramusaji restoran di Surabaya. Penelitian ini adalah kuantitatif dengan teknik analisis regresi sederhana dan purposive sampling sebagai teknik pengambilan sampelnya dan mengumpulkan 202 responden. Hasil penelitian menunjukkan ada pengaruh positif occupational self-efficacy terhadap emotional labor, berarti apabila individu memiliki keyakinan tinggi terhadap kemampuan dirinya dalam bekerja, maka kemampuan untuk mengaplikasikan emotional labor juga akan tinggi karena individu memaksimalkan skill yang dimiliki diikuti dengan emosi positif sehingga tidak merasa terbebani. Uji pengaruh menunjukkan sumbangan efektif sebesar 44,3% dengan nilai sig sebesar 0,000 dan nilai persamaan Y=20,260+1,528x. Hal ini berarti emotional labor akan mengalami peningkatan skor sebanyak 1,528 setiap terjadi kenaikan 1 skor dari occupational self-efficacy. Kesimpulannya, pramusaji diharapkan meningkatkan occupational self-efficacy agar kemampuan mengaplikasikan emotional labor juga tinggi.
HUBUNGAN MOTIVASI KERJA DENGAN RESILIENSI PADA MAHASISWA GEN Z YANG MENGIKUTI PROGRAM MAGANG INDUSTRI Virginia Arielle Ghazaly; Abigail Ayumi Christy; Winen Chianesen; Ellena Kristy Sudrajat; Jessica Chandhika
EXPERIENTIA : Jurnal Psikologi Indonesia Vol 12, No 1 (2024)
Publisher : Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/exp.v12i1.5578

Abstract

Beberapa anggota Generasi Z (generasi yang lahir antara tahun 1997 hingga 2012), saat ini sudah menjadi mahasiswa sarjana tingkat akhir dan sedang menjalani program magang. Mengikuti perkuliahan dan magang sekaligus merupakan tantangan tersendiri bagi Gen Z yang telah menjadi mahasiswa sarjana tingkat akhir ini, terlebih Gen Z sering dijuluki sebagai “Strawberry Generation”. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa resiliensi generasi ini lebih rendah dibandingkan Gen X yang lahir pada tahun 1965 hingga 1980. Meskipun begitu, penelitian sebelumnya menemukan bahwa beberapa faktor mampu memotivasi Gen Z dalam bekerja jika lingkungan kerjanya mendukung. Penelitian ini bertujuan untuk menguji keberadaan hubungan antara motivasi kerja dengan resiliensi pada mahasiswa magang Gen Z. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan metode korelasional. Sejumlah 147 sampel berpartisipasi pada penelitian ini. Hasil uji korelasi Spearman antara kedua variabel membuktikan adanya hubungan positif yang signifikan antara motivasi kerja dengan resiliensi pada mahasiswa Gen Z di Indonesia yang mengikuti magang industri (rs (147) = 0,464 dengan p = 0,000 < 0,01). Dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi tingkat motivasi kerja pada mahasiswa Gen Z di Indonesia yang mengikuti magang industri, semakin tinggi juga tingkat resiliensinya. Sebaliknya, semakin rendah tingkat motivasi kerja mereka, semakin rendah juga tingkat resiliensinya.Kata kunci: mahasiswa sarjana; magang industri; Generasi Z; resiliensi; motivasi kerja Abstract—Some Generation Z or Gen Z members (a generation who were born in 1997 until 2012) are currently final-year undergraduate university students working as interns. Juggling between college and internship is a challenge for these Gen Zs, especially with how Gen Zs are oftenly known as a “Strawberry Generation''. A few studies have found that Gen Zs are less resilient than Gen X who were born in 1965 until 1980. However, previous study has found that some factors are able to encourage Gen Zs’ work motivation. This research aims to find out if there is a correlation between work motivation and resilience in Gen Z university students who are working as interns. This is quantitative research using the correlational method. A total of 147 samples participated in this research. Data analysis using Spearman correlation found a positive and significant relationship between work motivation and resilience in Gen Z university students who are working as interns. As the level of work motivation among Gen Z university students who are working as interns gets higher, their level of resilience becomes higher as well. Meanwhile, as the level of their work motivation becomes lower, their level of resilience becomes lower as well.Keywords: undergraduate university students; industrial internship; Generation Z; resilience; work motivation
LITERATURE REVIEW: EFEK MENULIS EKSPRESIF TERHADAP PASIEN KANKER Kadek Dwi Jayanti
EXPERIENTIA : Jurnal Psikologi Indonesia Vol 12, No 1 (2024)
Publisher : Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/exp.v12i1.5327

Abstract

Abstrak —Menulis ekspresif dapat dilakukan oleh pasien kanker dan memberikan manfaat dalam beberapa aspek penting. Terapi menulis ekspresif sebagai salah satu bentuk katarsis melalui kegiatan menulis pengalaman emosional yang dialami oleh individu. Terapi ini dilakukan sebagai teknik yang “berdiri sendiri” selain digunakan sebagai terapi pendukung pada terapi lainnya. Penerapan terapi ini dilakukan dengan mudah dan sederhana. Kajian literatur ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana efek menulis ekspresif terhadap pasien kanker. Pada hasil literatur yang dikaji, menulis ekspresif memberikan manfaat terkait penurunan gejala kanker dan gejala depresi, mengeksplorasi kondisi pengambilan keputusan, pengaruh keluarga, dan budaya, peningkatan kualitas hidup, penurunan gejala PTSD, dan kecemasan pada pasien kanker. Hal lainnya ditemukan mengenai efek variabel yang memoderasi dari keberhasilan terapi ini diantaranya dukungan sosial, rentang waktu diagnosis penyakit, pemrosesan kognitif, dan kendala sosial dari pasien kanker.Kata Kunci: kajian literatur; menulis ekspresif; pasien kanker Abstrak —Menulis ekspresif dapat dipraktekkan oleh pasien kanker dan memberikan manfaat dalam beberapa aspek penting. Terapi menulis ekspresif adalah bentuk katarsis melalui tulisan tentang pengalaman emosional yang dialami oleh individu. Ini dipraktekkan sebagai teknik "berdiri sendiri" selain digunakan sebagai terapi pendukung untuk terapi lain. Penerapan terapi ini mudah dan sederhana. Tinjauan literatur ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana efek penulisan ekspresif pada pasien kanker. Dalam hasil literature reviewed, tulisan ekspresif memberikan manfaat terkait penurunan gejala kanker dan gejala depresi, eksplorasi kondisi pengambilan keputusan, pengaruh dan budaya keluarga, peningkatan kualitas hidup, penurunan gejala PTSD, dan kecemasan pada pasien kanker. Juga ditemukan bahwa efek moderat dari variabel pada keberhasilan terapi ini termasuk dukungan sosial, rentang waktu diagnosis penyakit, pemrosesan kognitif, dan kendala sosial pasien kanker.Kata kunci: tinjauan pustaka; tulisan ekspresif; pasien kanker
DINAMIKA FORGIVENESS PADA WANITA EMERGING ADULTHOOD YANG FATHERLESS AKIBAT PERPISAHAN ORANG TUA Dita Lavienda; Gratianus Edwi Nugrohadi; Detricia Tedjawidjaja
EXPERIENTIA : Jurnal Psikologi Indonesia Vol 12, No 1 (2024)
Publisher : Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/exp.v12i1.5253

Abstract

Sebagian besar anak yang mengalami fenomena fatherless sejak masa kecil akan tumbuh dengan luka batin yang menyebabkan konflik intrapsikis dan interpersonal. Saat dewasa, wanita emerging adulthood yang mengalami fatherless cenderung mendendam dan menyimpan dampak negatif dari fatherless sendirian. Forgiveness merupakan salah satu cara untuk mengatasi konflik tersebut. Maka penelitian ini mengkaji mengenai dinamika forgiveness pada wanita emerging adulthood yang mengalami fatherless akibat perpisahan orang tua. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi dan melakukan wawancara pada dua informan wanita emerging adulthood (18-25 tahun) yang mengalami fatherless. Penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling dan teknik analisis data menggunakan induktif tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dinamika forgiveness wanita emerging adulthood yang fatherless berupa siklus yang berulang dan tidak linear. Terdapat enam fase, diawali dengan unforgiveness phase yang ditandai munculnya kondisi intrapsikis dan interpersonal negatif terhadap ayah. Dilanjutkan decision phase, yakni mempertimbangkan keputusan forgiveness melalui sebuah pemikiran akan suatu nilai agama/moral. Selanjutnya, work phase menandakan usaha forgiveness untuk mengubah keadaan menjadi positif. Ketika berada di forgiveness phase, terjadi perubahan positif secara intrapsikis dan interpersonal. Setelah itu, muncul hasil forgiveness berupa pemaknaan akan luka dan proses yang dilalui. Adapun relapse phase ditandai dengan hadirnya kembali keadaan negatif secara intrapsikis ataupun interpersonal dengan intensitas tidak begitu parah. Wanita emerging adulthood dapat berada di relapse phase kapanpun apabila dipicu oleh stimulus tertentu. Adapun faktor forgiveness antara lain usaha, kepercayaan ajaran agama, dukungan dari lingkungan, dan konten media sosial.
SELF REGULATED LEARNING DENGAN STUDENT ENGAGEMENT PADA SISWA SMA ST. CAROLUS SURABAYA Elisabet Widyaning Hapsari; Renaldy Sutedjo
EXPERIENTIA : Jurnal Psikologi Indonesia Vol 12, No 1 (2024)
Publisher : Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/exp.v12i1.4901

Abstract

Adanya pandemi covid-19 memberikan perubahan yang mendalam terhadap sektor pendidikan terutama dalam metode pembelajaran. Pembelajaran tatap muka yang merupakan proses terencana antara pengajar dan siswa didalam kelas yang berkaitan dengan interaksi guru-siswa, materi pelajaran, guru, serta lingkungan menjadi tidak efektif. Student engagement yang merupakan indikator keberhasilan siswa dalam belajar, mengalami tantangan signifikan akibat perubahan metode pembelajaran yang dipengaruhi oleh pandemi covid-19. Self regulated learning yang merupakan faktor pendukung menjadi sangat penting ketika siswa dihadapkan dengan perubahan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara self regulated learning dan student engagement pada siswa SMA St. Carolus Surabaya. Responden dalam penelitian ini sebanyak 274 siswa aktif. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini yaitu total population sampling dengan metode penelitian kuantitatif. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan skala self regulated learning dan student engagement. Uji hipotesis yang digunakan yaitu uji non parametric Kendall Tau-B dengan nilai koefisien korelasi sebesar r = 0,372 dengan nilai signifikansi sebesar 0,000 (p < 0,05). Maka disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang positif antara self regulated learning dengan student engagement pada siswa SMA St. Carolus Surabaya. Penelitian ini menunjukkan bahwa semakin tinggi self regulated learning sisws, semakin tinggi juga student engagement yang dimiliki oleh siswa. Sebaliknya, semakin rendah self regulated learning pada siswa maka semakin rendah pula student engagement yang dimiliki oleh siswa SMA St. Carolus Surabaya.
GAMBARAN KONSEP DIRI PADA EMERGING ADULTHOOD YANG PERNAH MENGALAMI CHILD MALTREATMENT Jihan Syarifah Prijonggo; Happy Cahaya Mulya
EXPERIENTIA : Jurnal Psikologi Indonesia Vol 12, No 1 (2024)
Publisher : Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/exp.v12i1.5314

Abstract

Child maltreatment merupakan berbagai bentuk kekerasan oleh orang tua terhadap anak mereka terlebih yang berada pada usia di bawah 18 tahun, tindakan tersebut terdiri dari kekerasan secara fisik maupun emosional, kekerasan seksual, serta penelantaran secara fisik maupun penelantaran secara emosional. Tindakan maltreatment yang diberikan oleh orang tua ketika masa kecil menyebabkan terbentuknya gambaran konsep diri pada individu. Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran konsep diri pada emerging adulthood yang pernah mengalami child maltreatment. Konsep diri terbagi menjadi dua yaitu konsep diri positif dan negatif yang dapat dilihat melalui sudut pandang fisik, psikis, sosial, dan moral. Ketika individu memiliki konsep diri yang positif, ia akan selalu memiliki pandangan optimis terhadap kehidupan. Sebaliknya apabila individu memiliki konsep diri negatif dirinya akan cenderung memiliki pandangan yang pesimis. Metode kualitatif dipilih untuk menjelaskan fenomena secara lebih mendalam, yaitu wawancara kepada tiga perempuan emerging adulthood yang pernah mengalami child maltreatment. Peneliti mendapatkan informan dengan menyebar pertanyaan terbuka di sosial media. Teknik analisis data yang digunakan adalah secara deduktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tindakan child maltreatment yang dilakukan oleh orang tua dapat menghasilkan konsep diri yang berbeda-beda, yaitu positif dan negatif. Terdapat tindakan child maltreatment yang membentuk konsep diri positif pada salah satu informan penelitian, meskipun kedua informan lainnya mendapatkan tindakan yang serupa. Saran penelitian ini ditujukan bagi informan penelitian, orang tua, lembaga ranah anak, dan juga bagi penelitian selanjutnya.

Page 1 of 1 | Total Record : 8