cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
elharakahjurnal@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
El-HARAKAH : Jurnal Budaya Islam
ISSN : 18584357     EISSN : 23561734     DOI : -
Core Subject : Health,
EL HARAKAH (ISSN 1858-4357 and E-ISSN 2356-1734) is peer-reviewed journal published biannually by Maulana Malik Ibrahim State Islamic University (UIN) of Malang. The journal is accredited based on the decree No. 36a E. KPT 2016 on 23 May 2016 by the Directorate General of Higher Education of Indonesia, for the period August 2016 to August 2021 (SINTA 2). The journal emphasizes on aspects related to Islamic Culture in Indonesia and Southeast Asia. We welcome contributions from scholars in the field, papers maybe written in Bahasa Indonesia, English, or Arabic.
Arjuna Subject : -
Articles 791 Documents
Dinasti Mamalik di Mesir Wahyudin Darmalaksana
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 11, No 2 (2009): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (910.455 KB) | DOI: 10.18860/el.v11i2.5210

Abstract

This paper intends to explore the historical aspect of Mamalik dynasty. It was associated with Daulah Islamiyah in Mesir which lead by slave group (Mamalik) from 13th century up to 16th A.D that became one of unique Islamic political faces. At that time, civil society can form themselves as military power driven by slavers. Retired slavers emerged as political elite and bodyguard of Sultan. Mamalik group divided into two groups. First, Mamalik Bahriyah coming from middle Asia, especially Turkey Qipsaq. Second, Mamalik Burjiyah coming from Sirkasia race in·Kaukasus (East Europe). Historically, Mamalik Dynasty in Mesir classified into three periods. First, the period of Mamalik government formation which was "oligarchy". Second, the period of development in which Mamalik group cooperated with Mogol and Europe country. Third, the period of saturation or the decrease of Mamalik dynasty in Mesir which was caused by the attack of Turkey Utsmani, disease epidemic, and corruption. Makalah ini bermaksud untuk mengeksplorasi aspek historis dinasti Mamalik. Itu terkait dengan Daulah Islamiyah di Mesir yang dipimpin oleh kelompok budak (Mamalik) dari abad ke-13 hingga 16. yang menjadi salah satu wajah politik Islam yang unik. Saat itu, masyarakat dapat membentuk diri mereka sebagai kekuatan militer yang dikendalikan oleh budak. Mantan budak muncul sebagai elit politik dan pengawal Sultan. Kelompok Mamalik dibagi menjadi dua kelompok. Pertama, Mamalik Bahriyah yang berasal dari Asia tengah, terutama Turki Qipsaq. Kedua, Mamalik Burjiyah berasal dari ras Sirkasia di Kaukasia (Timur Eropa). Secara historis, Dinasti Mamalik di Mesir digolongkan ke dalam tiga periode. Pertama, periode pembentukan pemerintahan Mamalik yang merupakan "oligarki". Kedua, periode perkembangan di mana Kelompok Mamalik bekerja sama dengan Mongolia dan negara Eropa. Ketiga, periode kejenuhan atau penurunan dinasti Mamalik di Mesir yang disebabkan oleh serangan Turki Utsmani, epidemi penyakit, dan korupsi.
Islam Posmodernisme Muslim Abdurrahman
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 9, No 3 (2007): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (416.849 KB) | DOI: 10.18860/el.v9i3.4641

Abstract

In this modem era, Islam, in fact, has a significant influence in politics and culture. Western people regard this as a symptom of the emergence of Islamic fundamentalism. It is a reaction of Islam to modernism and capitalism. Even though the term is not purely from Islamic terminology, for Western academicians it virtually represents Islam. Even, they relate it to terrorist movements. It takes us back to remarkable phenomena of secularism embedding that happened in Europe two decades ago. Modernism and capitalism have effects not only on Islam but also on other non-Islamic countries. Therefore, it is not surprising if then in this era of global capitalism Western academicians try to eliminate the thesis of secularism in their fundamentalism project. In the third millennium, after the fall of communism in Russia and Western Europe, Western is interested in studying Islam, if truth to be told, it is more intense. They are afraid of the influence of Islam for which the fundamentalists struggle to realize Islam as the grand narrative, a blue print of universal ideology that often impedes Western hegemony with its liberal democracy. Pada zaman modern ini, nyatanya Islam memiliki pengaruh signifikan dalam Politik dan budaya. Orang Barat menganggap ini sebagai pertanda kemunculan fundamentalis Islam. Hal itu adalah reaksi Islam terhadap modernisme dan kapitalisme. Meskipun begitu, istilah tersebut tidak berasal dari istilah Islam, hanya saja menurut akademis Barat, istilah tersebut merepresentasikan Islam secara virtual. Bahkan, mereka mengaitkannya dengan gerakan teroris. Hal ini membawa kita kembali pada fenomena dahsyat sekularisme yang terjadi di Eropa dua dekade lalu. Modernisme dan kapitalisme berefek tak hanya pada Islam tapi juga pada negara-negara non-Islam. Maka dari itum tidak mengejutkan jika dalam era kapitalisme global, akademisi Barat mencoba menyingkirkan hipotesis sekularisme dalam proyek fundamentalismenya. Pada milenium ketiga, pasca runtuhnya komunisme di Rusia dan Eropa Barat, negara Barat mulai tertarik mempelajari Islam. Karena jika kebenaran diungkapkan, maka akan lebih hebat. Mereka takut akan pengaruh Islam bagi para fundamentalis yang berjuang untuk menyadarkan Islam sebagai narasi besar, sebuah blue print ideologi universal yang sering mengahalangi hegemoni Barat dengan demokrasi liberalnya.
Pengaruh Sistem Perkawinan Islam terhadap Sistem Hukum Perkawinan Masyarakat Sugiatminingsih Sugiatminingsih
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 7, No 1 (2005): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (902.875 KB) | DOI: 10.18860/el.v7i2.4661

Abstract

Islamic marriage law before being legalized as Marriage Constitution, the norms related to marriage system (marriage procedures) in Islam has actually been long applied in Moslem society. Even, since Islam first came and established Moslem community. Pancasila is the basic principles of Indonesia and the majority of Indonesian people are Moslem. So, in order to develop national constitution, Islamic law has a huge chance to be the only main source needed in that development of the national constitution. This article states the history of law constitution in the first era of Islam in Indonesia and also the influence of culture and mazhab. Furthermore, Islamic marriage system is also presented. The compilation of Islamic law in aiming for uniformity in religious court becomes the guidance for the judges in taking decisions. Therefore, the guarantee on the equality of unity and law certainty can be realized. Hukum Perkawinan Islam sebelum disahkan sebagai Undang-Undang Perkawinan, norma yang berhubungan dengan system perkawinan (tata cara perkawinan) secara Islam sebenarnya telah lama berlaku dalam masyarakat Islam. Bahkan sejak pertama kali agama Islam masuk dan membentuk komunitas Islam. Pancasila ialah dasar negara Indonesia dan sebagian besar penduduk Indonesia beragama Islam. Maka, dalam rangka pembinaan Hukum Nasional, hukum Islam mempunyai peluang yang sangat besar untuk masuk sebagai salah satu bahan pokok yang sangat diperlukan dalam pembinaan hukum nasional tersebut. Artikel ini memaparkan sejarah undang-undang di awal masuknya Islam ke Indonesia serta budaya dan mazhab yang mempengaruhinya. Lebih khusus lagi, sistem perkawinan Islam juga menjadi pembahasan. Adanya kompilasi hukum Islam yang bertujuan untuk keseragaman dalam peradilan agama, menjadi acuan para hakim dalam menentukan keputusan. Sehingga, jaminan akan adanya persamaan kesatuan dan kepastian hukum bisa terwujud.
Sosialisasi Nilai-Nilai Agama pada Anak dalam Keluarga Muslim Djazuli Djazuli
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 6, No 2 (2004): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (732.021 KB) | DOI: 10.18860/el.v6i2.4675

Abstract

Religion generally considers that family is an eternal and sacred institution. The institution is regarded as part of the divine nature for every man, whether male or female. In sociological perspective, religion is set on a very basic area. Because religion is the principle of all principles. This paper explains the socialization of religious values that shape the personality of child. How religious values color the interaction in Muslim families between children and parents. Through the explorative approach, this study found that the value of religion can be reflected from various aspects such as structuring the condition of the house, the establishment of an environment that builds the character of the child and the effort to socialize the religious values from an early age. The socialization is reflected through the life cycle of Muslims and the pattern of formal and informal education of children. Agama pada umumnya memandang bahwa lembaga keluarga merupakan lembaga yang abadi dan suci. Lembaga tersebut dianggap sebagai bagian dari kodrat Ilahi bagi setiap manusia baik laki-laki ataupun perempuan. Dalam perspektif sosiologis, religi ditempatkan pada kawasan yang sangat mendasar. Karena religi dalam pengertian agama merupakan prinsip dari segala prinsip dan azas dari segala azas. Tulisan ini menjelaskan sosialisasi nilai agama yang membentuk kepribadian anak. Bagaimana nilai agama mewarnai interaksi dalam keluarga muslim antara anak dan orang tua. Melalui pendekatan eksploratif, kajian ini menemukan bahwa nilai agama dapat direfleksikan dari berbagai aspek seperti penataan kondisi rumah, pembentukan lingkungan yang membangun karakter anak dan upaya sosialisasi nilai agama sejak dini. Sosialisasi tersebut tercermin melalui siklus kehidupan muslim dan pola pendidikan anak baik formal maupun informal.
Islam sebagai Ideologi Alternatif di Abad ke Dua Puluh Satu Muhammadiyah Dja'far
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 1, No 3 (1999): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (977.647 KB) | DOI: 10.18860/el.v1i3.4698

Abstract

Islam is the only divine religion that is passed down to all humanity, regardless of nationality, color, language, origin, and age. Islam is a message that contains the meaning of natural mission. Nature is a sentence that has a deep, beautiful, and great meaning. The existence of a natural Islam, showing without doubt to the universality of this treatise, and its flexibility, and its absolute ability to understand all the changing times, and the development of life, as well as the human view of itself in this life in all circumstances and conditions. The mission of Islam is capable of making breakthroughs and spreads in every time and place, for he is the only religion that carries the seeds of the ultimate and noble life for mankind. Indeed Islam is the religion of human nature and in fact faith is the milestone of Islamic life. It is therefore impossible to erect the palace of true Islamic life unless it is sustained above the milestone of acknowledgment of monotheism, for it is the essential acknowledgment for man to color his life, in accordance with God's will for him. Islam adalah satu-satunya agama samawi yang diturunkan ke segenap umat manusia, tanpa memandang jenis kebangsaan, warna kulit, bahasa, asal-usul, dan zamannya. Islam adalah risalah yang bermuatan makna misi alamiah. Alamiah adalah suatu kalimat yang mempunyai arti yang dalam, indah, dan agung. Adanya Islam yang alamiah, menunjukkan tanpa keraguan kepada kesemestaan risalah ini, dan fleksibilitasnya, serta kemampuannya yang mutlak memahami segala perubahan zaman, dan perkembangan kehidupan, maupun pandangan manusia itu sendiri terhadap kehidupan ini dalam segala situasi dan kondisinya. Misi Islam mampu melakukan terobosan dan tersebar dalam setiap waktu dan tempat, karena dia adalah satu-satunya agama yang membawa benih-benih kehidupan hakiki dan mulia bagi umat manusia. Sesungguhnya Islam adalah agama fitrah kemanusiaan dan sesungguhnya iman adalah tonggak kehidupan Islam. Karena itulah tidak mungkin akan tegak istana kehidupan Islam yang benar kecuali jika ditopang di atas tonggak pengakuan tauhid, karena ia adalah pengakuan yang sangat esensial bagi manusia untuk mewarnai kehidupannya, sesuai dengan kehendak Tuhan baginya.
Pandangan Islam tentang Kedudukan HAM bagi Non-Muslim: Pendekatan Fiqh Politik Akhmad Muzakki
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 2, No 1 (2000): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (441.582 KB) | DOI: 10.18860/el.v2i1.4727

Abstract

The concept of human rights is the result of cultural ingredients that are not based on the principle of religion, so it is anthropocentric, that is focused only on the human itself. Even in the secular West's view, human rights are the expression of human freedom irrespective of God's provisions, religion, morals or metaphysical obligations. In contrast to the Islamic view, that human rights and even human beings are God's grace and will come back later. Based on this, human rights in Islam are theocentric, that is aimed at and sourced from God. Islam places human rights as a consequence of the obligation to God. Externally, the Islamic state is totally separate from other non-Islamic communities. Internally, the Islamic state is an ummah and a group of people united with one another by the ties of Islamic (Islamic) equality. States can not impose restrictive measures and diminish their rights altogether. Konsep HAM adalah hasil ramuan budaya yang tidak berpijak pada prinsip agama, maka ia bersifat antroposentris, yakni terfokus hanya pada manusia itu sendiri. Bahkan dalam pandangan Barat sekuler, HAM adalah ekspresi kebebasan manusia yang terlepas dari ketentuan Tuhan, agama, moral atau kewajiban metafisika. Berbeda dengan pandangan Islam, bahwa HAM bahkan wujud manusia sekalipun adalah anugerah Tuhan dan kepada-Nya kelak akan kembali. Berdasarkan ini, HAM dalam Islam bersifat teosentris, yakni bertujuan untuk dan bersumber dari Tuhan. Islam menempatkan HAM sebagai kosekuensi dari pelaksanaan kewajiban terhadap Allah. Secara eksternal, negara Islam sama sekali terpisah dari komunitas lain bukan Islam. Secara internal, negara Islam adalah suatu ummah dan sekumpulan orang-orang yang dipersatukan antara satu dengan yang lain oleh ikatan persamaan agama { Islam ). Negara tidak dapat mengadakan tindakan pembatasan dan pengurangan hak-hak mereka walau sedikitpun.  
Conflict and Harmony between Islam and Local Culture in Reyog Ponorogo Art Preservation M. Irfan Riyadi; Anwar Mujahidin; Muh. Tasrif
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 18, No 2 (2016): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (281.428 KB) | DOI: 10.18860/el.v18i2.3498

Abstract

Reyog as performing art procession already existing in Ponorogo since pre-Islamic era still grows today even expanding outside the region of Ponorogo both regionally, nationally, and internationally. Reyog at the present time is generally acknowledged as cultural identity of Indonesian nation. The case is different with other Javanese traditions such as kentrung, ludruk, and ketoprak that has collapsed over time. This fact raises interesting questions of how Reyog could withstand against the onslaught of various cultures that come to attack it from time to time. This study used anthropological approach by utilizing the theory of Robert Redfield on the interaction of great tradition and little tradition. The results of this study indicate that although Reyog has interacted with various cultures, particularly Islam, it is able to reform and reformulate its tradition and find cultural attitudes flexible with various cultures that come with it. The cultural attitudes embody in stage-modernization, transformation of mythologies and reforms of the symbols of social values. Reyog sebagai seni pentas arak-arakan yang telah ada di Ponorogo semenjak pra-Islam masih berkembang hingga saat ini bahkan terus mengalami perkembangan ke luar daerah Ponorogo baik secara regional, nasional, dan internasional. Reyog pada masa sekarang secara umum diakui sebagai identitas budaya bangsa Indonesia. Kenyataan itu berbeda dengan tradisi Jawa lain yang telah runtuh dan tinggal dalam arkeologi sejarah budaya seperti kentrung, ludruk, dan ketoprak. Keadaan ini menimbulkan pertanyaan menarik tentang bagaimana Reyog bertahan dari gempuran berbagai budaya yang datang menyerangnya dari zaman ke zaman. Penelitian ini menggunakan pendekatan antropologi dengan memanfaatkan teori Robert Redfield tentang pertemuan tradisi besar (great tradition) dan budaya kecil (little tradition). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa meskipun Reyog bertemu dengan berbagai budaya, khususnya Islam, Reyog mampu mereformasi dan mereformulasi tradisinya sehingga ditemukan sikap budaya yang lentur dan cocok dengan berbagai budaya yang datang bersamanya. Sikap budaya itu berbentuk modernisasi pentas, transformasi mitologi, dan reformasi melalui simbol-simbol nilai sosial-kemasyarakatan.
Keberhasilan Da'wah Nabi Muhammad: Perspektif Stoddard lsti'anah Abubakar
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 8, No 1 (2006): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (545.05 KB) | DOI: 10.18860/el.v8i1.4894

Abstract

The success of missionary endeavor is a phenomenal history. It is proven by many discussions about Islamic missionary endeavor, not only from Orientals but also our historian. This article tries to review the success of Muhammad's missionary endeavor from sociology perspectives, one of which is Stoddard’s perspective. The spread of Islam as a religion of rahmatan li al 'alamin is not as simple as turning the palm of the hand, but it also affirms that the spread of Islam is not because of the personal figure of Muhammad an sich, but more because of the Islamic teachings that are a necessity for the community. This is further evidenced by the changes made by Islam to Arab society at that time. We will not be able to understand the success of Islamic preaching if only partially understood. Stoddard viewed Islam objectively by pointing out several determinants of the success of Muhammad's da'wah. The teachings of Islam are said by Rodwell as a doctrine that has enormous energy, deep and extraordinary. Keberhasilan usaha misionaris adalah sejarah fenomal. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya pembahasan tentang usaha misionaris Islam, tidak hanya dari orang-orang Timur tetapi juga sejarawan kita. Artikel ini mencoba mengkaji keberhasilan usaha dakwah Muhammad dari perspektif sosiologi, salah satunya adalah perspektif Stoddard. Menyebarnya Islam sebagai agama yang rahmatan li al 'alamin bukanlah sesederhana membalikkan telapak tangan, selain itu juga semakin meneguhkan bahwa tersebarnya Islam bukan dikarenakan sosok pribadi Muhammad an sich, tapi lebih dikarenakan ajaran Islam yang merupakan kebutuhan bagi masyarakat tersebut. Ini semakin dibuktikan dengan adanya perubahan yang dilakukan Islam bagi masyarakat Arab pada waktu itu. Kita tidak akan bisa memahami keberhasilan da'wah Islam bila hanya dipahami secara parsial. Stoddard memandang Islam secara obyektif dengan mengemukakan beberapa faktor penentu keberhasilan da'wah Muhammad. Ajaran Islam dikatakan oleh Rodwell sebagai suatu ajaran yang memiliki energi yang sangat luas, dalam dan luar biasa.
Shapes of Javanese Keris as A Symbolic Sign: Transformation toward The Islamic Period Widodo Ariwibowo; Andrik Purwasito; Titis Srimuda Pitana
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 19, No 2 (2017): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (495.071 KB) | DOI: 10.18860/el.v19i2.4057

Abstract

In articulating the visual elements of Keris we will find the concept of symbols, each of which corresponds to the typology of signs. The relationships among the trichotomy signs associated with the codes represent the horizon of the Javanese society regarding the Keris culture. All the Keris signs establish the abstracts relationship model that never has any function before being associated with the code. Principally, people who become the message recipient can perform decoding act by associating the signs with certain conventions. The expression articulation through the Keris elements is a symbol in the typology of signs. The Javanese society’s response or appreciation concerning the invented conventions needs to be investigated to conversely understand the system of signs production. The word kris, as an example, is semiotically classified into other words; keris, dhuhung, dhuwung, curiga, wangkingan, duwung, curiga, and katga, all of which refers to the same sign, which is the tipped stabbing weapons and covered in scabbard. This study found the cultural event of the ideological masking which represents certain period i.e. the deconstructive meanings on the luk of keris (kemba and rengkol) illustrated the ideological transformation from Hinduism to Islamic era. Dalam mengartikulasikan unsur visual Keris kita dihadapkan dengan konsep simbol, di mana setiap simbol sesuai dengan tipologi tanda-tanda. Hubungan antara trikotomi tanda-tanda yang terkait dengan kode mewakili cakrawala masyarakat Jawa tentang budaya Keris. Semua tanda-tanda Keris membangun hubungan abstrak model yang tidak akan pernah memiliki fungsi apapun sebelum dikaitkan dengan kode. Pada prinsipnya orang yang menjadi sasaran penyampaian pesan bisa melakukan decoding dengan cara mengaitkan tanda-tanda pada keris dengan konvensi-konvensi tertentu. Artikulasi ekspresi melalui unsur-unsur dalam Keris memanfaatkan simbol-simbol dalam tipologi tanda. Respons maupun apresiasi orang Jawa terkait dengan konvensi-konvensi yang telah diciptakan para leluhur perlu diketahui untuk melihat secara terbalik dalam sistem produksi tanda. Pemaknaan kata kris misalnya, secara Semiotis dapat diklasifikasikan berdasarkan beberapa kata referensial di antaranya keris, dhuhung, dhuwung, curiga, wangkingan, duwung, curiga, dan katga semua menunjukkan petanda yang sama yaitu senjata tikam yang berhulu dan berwarangka. Penelitian ini menemukan terjadinya peristiwa budaya berupa penopengan (masking) ideologi yang mewakili zaman tertentu, misalnya dekonstruksi pemaknaan bentuk luk keris (kemba dan rengkol) menggambarkan transformasi ideologi zaman Hindhu menuju zaman Islam.
Manusia di Muka Cermin Ibn Arabi: Memahami Hakikat Manusia dengan Kacamata Ibn Arabi Ahmad Kholil
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 8, No 3 (2006): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (628.394 KB) | DOI: 10.18860/el.v8i3.4607

Abstract

Although the essence of human being has been questioned long times ago, there are many conceptual answers toward that question. Thus it is common if human beings, as social and individual creatures may try to question it to find new answers. The answer is mainly obtained by contemplating one's self based on the existing concept or reflecting one's self using an individual spiritual experience. The understanding to the essence of human beings described in this writing is based on the concept given by al-Syaikh al-Akbar ibn Arabi who is philosophical as well as sufistic. Who is a man? A man is "God" in its tajalli perfect form in the universe. Therefore, a man is not perfect when he cannot show God's characteristics. Ibn Arabi says, "one of this characteristics is to become a responsible leader either for himself or others". Meskipun esensi manusia telah dipertanyakan sejak lama, ada banyak jawaban konseptual untuk pertanyaan itu. Jadi, adalah hal yang biasa jika manusia, karena makhluk sosial dan individu dapat mencoba menanyainya untuk menemukan jawaban baru. Jawabannya terutama diperoleh dengan merenungkan diri seseorang berdasarkan konsep yang ada atau mencerminkan diri seseorang dengan menggunakan pengalaman spiritual individu. Pemahaman terhadap esensi manusia yang digambarkan dalam tulisan ini didasarkan pada konsep yang diberikan oleh al-Syaikh al-Akbar ibn Arabi yang filosofis sekaligus sufistik. Siapa pria Seorang pria adalah "Tuhan" dalam bentuk tajalli yang sempurna di alam semesta. Karena itu, seorang pria tidak sempurna saat dia tidak bisa menunjukkan sifat Tuhan. Ibn Arabi mengatakan, "salah satu karakteristik ini adalah menjadi pemimpin yang bertanggung jawab baik untuk dirinya sendiri maupun orang lain".

Filter by Year

1999 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 2 (2025): EL HARAKAH Vol 27, No 1 (2025): EL HARAKAH Vol 26, No 2 (2024): EL HARAKAH Vol 26, No 1 (2024): EL HARAKAH Vol 25, No 2 (2023): EL HARAKAH Vol 25, No 1 (2023): EL HARAKAH Vol 24, No 2 (2022): EL HARAKAH Vol 24, No 1 (2022): EL HARAKAH Vol 23, No 2 (2021): EL HARAKAH Vol 23, No 1 (2021): EL HARAKAH Vol 22, No 2 (2020): EL HARAKAH Vol 22, No 1 (2020): EL HARAKAH Vol 21, No 2 (2019): EL HARAKAH Vol 21, No 1 (2019): EL HARAKAH Vol 20, No 2 (2018): EL HARAKAH Vol 20, No 1 (2018): EL HARAKAH Vol 19, No 2 (2017): EL HARAKAH Vol 19, No 1 (2017): EL HARAKAH Vol 18, No 2 (2016): EL HARAKAH Vol 18, No 1 (2016): EL HARAKAH Vol 17, No 2 (2015): EL HARAKAH Vol 17, No 1 (2015): EL HARAKAH Vol 16, No 2 (2014): EL HARAKAH Vol 16, No 1 (2014): EL HARAKAH Vol 15, No 2 (2013): EL HARAKAH Vol 15, No 1 (2013): EL HARAKAH Vol 14, No 2 (2012): EL HARAKAH Vol 14, No 1 (2012): EL HARAKAH E-Harakah (Vol 14, No 2 Vol 13, No 2 (2011): EL HARAKAH Vol 13, No 1 (2011): EL HARAKAH el-Harakah (Vol 13, No 1 Vol 12, No 3 (2010): EL HARAKAH Vol 12, No 2 (2010): EL HARAKAH Vol 12, No 1 (2010): EL HARAKAH el-Harakah (Vol 12, No 3 el-Harakah (Vol 12, No 2 el-Harakah (Vol 12, No 1 Vol 11, No 3 (2009): EL HARAKAH Vol 11, No 2 (2009): EL HARAKAH Vol 11, No 1 (2009): EL HARAKAH el-Harakah (Vol 11, No 2 el-Harakah (Vol 11, No 1 Vol 10, No 3 (2008): EL HARAKAH Vol 10, No 2 (2008): EL HARAKAH Vol 10, No 1 (2008): EL HARAKAH Vol 9, No 3 (2007): EL HARAKAH Vol 9, No 2 (2007): EL HARAKAH Vol 9, No 1 (2007): EL HARAKAH Vol 8, No 3 (2006): EL HARAKAH Vol 8, No 2 (2006): EL HARAKAH Vol 8, No 1 (2006): EL HARAKAH Vol 7, No 1 (2005): EL HARAKAH Vol 6, No 2 (2004): EL HARAKAH Vol 5, No 2 (2003): EL HARAKAH Vol 5, No 1 (2003): EL HARAKAH Vol 4, No 3 (2002): EL HARAKAH Vol 4, No 2 (2002): EL HARAKAH Vol 3, No 1 (2001): EL HARAKAH Vol 2, No 2 (2000): EL HARAKAH Vol 2, No 1 (2000): EL HARAKAH Vol 1, No 3 (1999): EL HARAKAH More Issue